Anda di halaman 1dari 46

KETEPATAN ULTRASONOGRAFI DAN MAMMOGRAFI

DALAM MENDIAGNOSIS WANITA DENGAN KANKER

PAYUDARA DI BALI

Disusun Oleh :

COKORDA AGUNG ABI BARUNA (1102005032)

Pembimbing :

Prof. Dr. dr. I. B Tjakra Wibawa Manuaba, MPH, Sp B(K) Onk

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA

2015

1
Lembar Persetujuan Pembimbing

USULAN PENELITIAN ELECTIVE STUDY INI TELAH DISETUJUI

PADA TANGGAL ........................................

Pembimbing,

Prof. Dr. dr. I.B Tjakra Wibawa Manuaba, MPH, Sp B(K) Onk

Kata Pengantar
2
Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat

dan rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan tugas Proposal ini. Kami menyadari

sangatlah sulit bagi kami untuk menyelesaikan Tugas ini tanpa bantuan dan bimbingan

dari berbagai pihak sejak penyusunan proposal sampai dengan terselesaikannya laporan

Proposal Ilmiah ini. Bersama ini kami menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya

serta penghargaan yang setinggitingginya kepada:

1. Rektor Universitas Udayana yang telah memberi kesempatan kepada kami untuk

menimba ilmu di Universitas Udayana.

2. Dekan Fakultas Kedokteran Udayana yang telah memberikan sarana dan

prasarana kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini dengan baik

lancar.

3. Prof. Dr. dr. I. B Tjakra Wibawa Manuaba, MPH, Sp B(K) Onk selaku dosen

pembimbing yang telah menyediakan waktu, tenaga dan pikiran untuk

membimbing kami dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini.

4. Orang tua beserta keluarga kami yang senantiasa memberikan dukungan moral

maupun material.

5. Para sahabat yang selalu memberi dukungan dalam menyelesaikan Karya Tulis

Ilmiah Ini.

6. Serta pihak lain yang tidak mungkin kami sebutkan satu-persatu atas bantuannya

secara langsung maupun tidak langsung sehingga Proposal ini dapat

terselesaikan dengan baik.

Akhir kata, kami berharap Tuhan Yang Maha Esa berkenan membalas segala

kebaikan semua pihak yang telah membantu. Semoga Proposal Ilmiah ini dapat

bermanfaat bagi kita semua.

Bali,16 Februari 2014

DAFTAR ISI

3
HALAMAN JUDUL

KATA PENGANTAR…………………………………………………...… 3

DAFTAR ISI………………………………………………………………. 4

A. BAB I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Penelitian………..……………………………….. 6

1.2. Rumusan Masalah atau Identifikasi Masalah……………………...8

1.3. Tujuan Penelitian……………………………………………….….8

1.4. Manfaat Penelitian……………………………………………….... 8

B. BAB II. KAJIAN PUSTAKA

2.1. Definisi Kanker Payudara………………………………………... 9

2.2. Faktor yang berpengaruh pada Kanker Payudara………………. 9

2.3. Klasifikasi Kanker Payudara…………………………………….. 10

2.4. Diagnosis Kanker Payudara ……………………………………. 13

2.5. Tata Laksana Kanker Payudara ………………………………….. 17

C. BAB III. KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN

3.1 Kerangka Konsep………………………………………………….

19

3.2 Hipotesis Penelitian…………………………………….................

19

D. BAB IV. METODE PENELITIAN

3.3 Rancangan, Waktu, dan Tempat Penelitian…………………...…… 20

3.4 Populasi dan Sampel……………………………………………….. 21

3.5 Analisis Data………………………………………… …………….22

3.6 Variabel …………………………………….………………………24


4
3.7 Bahan dan Instrument Penelitian……………………………………26

E. BAB V. Hasil dan Pembahasan

5.1 Karakteristik pasien………………………………………………...27

5.2 Pengolahan Data …………………………………………………...27

5.3 Pembahasan………………………………………………………...42

F. BAB VI. Simpulan dan Saran

6.1 Kesimpulan…………………………………………………………45

6.2 Saran………………………………………………………………...45

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

5
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Penelitian

Angka kematian merupakan indikator umum dari kesehatan sebuah populasi

secara keseluruhan, indikator dari status perempuan dalam masyarakat, serta

bagaimana fungsi dari sistem pelayanan kesehatan yang ada. Tingginya angka

kematian wanita itu dianggap sebagai pertanda adanya masalah pada status

kesehatan dan pelayanan kesehatan di suatu negara. Oleh karena itu, angka

kematian wanita hanya berguna untuk tujuan advokasi, tanpa memberikan

informasi tentang apa yang menjadi penyebab kematian wanita atau intervensi

apa yang diperlukan untuk mengurangi jumlahnya (WHO, 2006).

Kanker Payudara adalah penyebab kematian Kedua akibat Kanker pada wanita

setelah kanker Rahim dan merupakan kanker yang paling banyak ditemui pada

wanita. Kanker payudara merupakan keganasan pada sel-sel yang terdapat

pada jaringan payudara, bisa berasal dari komponen kelenjarnya (epitel saluran

maupun lobulusnya) maupun komponen selain kelenjar seperti jaringan lemak,

pembuluh darah dan persarafan jaringan payudara. Secara umum angka

kejadian kanker payudara lebih rendah pada Negara yang berkembang

dibandingkan dengan Negara yang sudah maju. Para peneliti meyakini bahwa

keadaan sosioekonomi, perubahan gaya hidup serta perubahan pola menstruasi,

ternyata berkaitan dengan peningkatan risiko untuk terjadinya kanker

payudara.

6
Kanker payudara ini sendiri merupakan salah satu masalah yang besar yang

dialami para penduduk di Indonesia. Contohkan saja di bali, masalah kanker

payudara masih sangat banyak terjadi, dan kebanyakan memiliki prognosis

yang buruk. Salah satu penyebab buruknya prognosis ini ialah pasien datang ke

rumah sakit untuk memeriksakan dirinya tersebut sudah terlambat atau

kankernya sudah mencapai stadium yang parah. Hal ini selain dapat

disebabkan oleh kehidupan social ekonomi, dapat juga disebabkan karena

kurangnya edukasi daripada masyarakat tentang pentingnya memeriksakan diri

ke rumah sakit untuk mencegah berlanjutnya kanker ke stadium lanjut. Selain

itu, khususnya di bali juga, kebanyakan masyarakat percaya akan pengobatan

pengobatan tradisional ataupun spiritualistic yang menyebabkan nantinya

ketika stadium sudah parah, barulah mereka memeriksakan ke dokter.Padahal

teknologi sendiri sudah berkembang sangat pesat, banyak alat alat penunjang

dan system diagnosis kanker yang selalu berkembang, namun tetap saja angka

kematian ini tetaplah terus bertambah. Salah satu modalitas utama untuk

deteksi dini ialah dengan alat screening yang dapat mendeteksi apakah ada

kelainan dari payudara seorang wanita tersebut. Seiring berkembangnya jaman,

terdapat banyak sekali alat penunjang yang dapat membantu mendiagnosis

kanker payudara pada seorang wanita. Mammografi, Ultrasonografi, MRI, dan

lainnya. Alat alat ini dapat digunakan untuk mendeteksi apakah seorang wanita

itu memiliki kelainan atau tidak dari payudaranya yang kemudian dapat pula

sebagai penunjang diagnosis untuk kanker payudara itu sendiri. Namun

manakah dari alat alat ini yang lebih baik untuk digunakan? Oleh karena

itu,saya mengangkat sebuah penlitian untuk membandingkan Antara 2 alat

penunjang dalam fungsinya dan ketepatannya untuk mendeteksi apakah

seorang wanita itu mengidap kanker atau tidak dengan judul

7
yaitu“KETEPATAN ULTRASONOGRAFI DAN MAMMOGRAFI

DALAM MENDIAGNOSIS WANITA DENGAN KANKER PAYUDARA

DI BALI”

1.2. Rumusan Masalah atau Identifikasi Masalah

Bagaimana persentase ketepatan dari alat USG dan Mammografi dalam

mendeteksi kanker payudara di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah,

Denpasar, Bali periode 2011 – 2013?

1.3. Tujuan Penelitian

a. Tujuan Umum

Untuk mengetahui bagaimana dan penggunaan alat diagnosis penunjang

untuk kanker payudara yang ada di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah dan

tingkat keberhasilannya dalam mendeteksi kanker.

b. Tujuan Khusus

 Untuk membandingkan ketepatan antara alat penunjang diagnosis

Ultrasonografi dan Mammografi dalam fungsinya untuk mendeteksi

kanker payudara.

1.4. Manfaat Penelitian

Diharapkan penelitian uji diagnostik ini dapat digunakan sebagai data awal

yang nantinya memadai untuk dianalisis dalam penelitian lainnya.

8
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Definisi Kanker Payudara

Kanker payudara merupakan keganasan pada sel-sel yang terdapat pada

jaringan payudara, bisa berasal dari komponen kelenjarnya (epitel saluran

maupun lobulusnya) maupun komponen selain kelenjar seperti jaringan

lemak, pembuluh darah dan persarafan jaringan payudara

2.2 Faktor yang Berpengaruh Pada Kanker Payudara

Kanker Payudara diketahui berkembang lebih pesat pada wanita yang :

a. Mendapat menstruasi pertama kali sebelum usia 12 tahun

b. Mencapai menopause lebih lambat (setelah usia 55 tahun)

c. Terlambat punya anak (contoh : terlambat punya anak pertama kali

sampai usia 30 tahun atau tidak punya anak sama sekali)

d. Tidak menyusui

e. Punya berat badan berlebih (30% atau lebih di atasberat badan

ideal)

Ada pula beberapa faktir resiko yang sampai sekarang beberapa masih

diteliti dan masih dianggap kontroversi seperti :

a. Biopsy yang abnormal

b. Paparan asap rokok

c. Penggunaan kontrasepsi oral

d. Aborsi yang disengaja

e. Tingkat olahraga

f. Paparan terhadap pestisida

9
2.3 Klasifikasi Kanker Payudara

Klasifikasi dari kanker payudara itu sendiri berdasarkan:

Pemeriksaan Histopatologi

1. Non invasive

 Intraductal carcinoma

 Lobular carcinoma

2. Invasive carcinoma

 Invasive ductal carcinoma

 Invasive ductal carcinoma with predominant intraductal component

 Invasive lobular carcinoma

 Mucinous carcinoma

 Medullary carcinoma

 Papillary carcinoma

 Tubular carcinoma

 Adenocystic carcinoma

 Juvenile carcinoma

 Apocrine carcinoma

 Carcinoma with metaplasia

 Carcinoma with squamous type

 Carcinoma with spindle cell type

 Carcinoma with cartilagues and osseous type

 Carcinoma mixed type

10
Stadium Klinis

Klasifikasi kanker payudara berdasarkan Sistem TNM (UICC/AJCC)

T – Tumor Primer

 Tx : Tumor primer belum dapat dievaluasi

 T0 : Tidak ditemukan tumor primer

 Tis : Karsinoma in situ

 T1 : Tumor dengan ukuran diameter terbesar ≤2 cm

 T2 : Tumor dengan ukuran diameter terbesar 2-5 cm

 T3 : Tumor dengan ukuran diameter terbesar >5 cm

 T4 : Tumor telah menginvasi jaringan di luar mamma

 T4a : dinding dada

 T4b : kulit mamma

 T4c : dinding dada dan kulit

 T4d : tumor dengan inflamasi

N – Kelenjar getah bening regional

 Nx : Kelenjar getah bening regional belum dapat dievaluasi

 N0 : Tidak terdapat metastasis kelenjar getah bening regional

 N1 : Terdapat metastasis kelenjar getah bening axilla yang mobile

 N2 : Terdapat metastase KGB axilla yang melekat

 N3 : Metastase KGB mammaria interna

 N4 : metastase axilla tidak dapat dievaluasi

M – Metastasis jauh
11
 Mx : Metastasis jauh belum dapat dievaluasi

 M0 : Tidak ada metastasis jauh

 M1 : Terdapat metastasis jauh

STADIUM T N M

0 Tis N0 M0

I T1 N0 M0

IIA T0 N1 M0

T1 N1 M0

T2 N0 M0

IIB T2 N1 M0

T3 N0 M0

IIIA T0 N2 M0

T1 N2 M0

T2 N2 M0

T3 N1-N2 M0

IIIB T4 N0 M0

T4 N1 M0

T4 N2 M0

IIIC Tiap T N3 M0

IV Tiap T Tiap N M1

2.4 Diagnosis Kanker Payudara

12
Triple diagnosis merupakan kombinasi Antara anamnesis,pemeriksaan fisik

dan pemeriksaan imaging pada kanker payudara. Dengan menggunakan

anamnesis dan pemeriksaan fisik kita dapat mengetahui apakah pasien ini

memiliki sejarah dari kanker payudara di dalam keluarganya dan untuk

menemukan apakah ada kelainan yang tampak dari payudaranya. Yang

ketiga ialah pemeriksaan imaging untuk mendeteksi adanya kanker payudara.

Cara ini dapa dilakukan dengan digital screening maupuun melalui biopsy.

Biopsy dibagi menjadi 2 yaitu Fine needle aspiration (FNA) dan core needle

biopsy. Dan pemeriksaan lainnya ialah dengan digital screening yaitu

menggunakan alat seperti ultrasonografi, mammografi, MRI yang akan

dibahas lebih lanjut.

Mammografi

Mammogram dalah pemeriksaan Xray dari kanker payudara yang

digunakan untuk mendeteksi adanya perubahan pada payudara.Xray

telah digunakan pertama kali digunakan untuk mendeteksi jaringan

payudara hampir 100 tahun lalu, dilakukan oleh dokter jerman, Albert

Salomon. Namun mammografi yang modern baru ditemukan pada tahun

1960, saat mesin special xray telah ditemukan digunakan untuk

mendeteksi kanker payudara. Sejak saat itu, teknologi telah berkembang

pesat, dan mamografi pada saat ini sangatlah berbeda dengan yang ada

pada tahun 1980 maupun 1990an. Mammografui pada saat ini

menggunakan sinyal x-ray yang lebih rendah energy. X-ry ini tidaklah

dapat melewati jaringan tubuh secara mudah seperti x-ray pada

pemeriksaan foto dan ini dapat meningkiatkan kualitas dari gambar hasil.

Mammogram pada saat ini juga telah mengurangi jumlah paparan radiasi

13
pada payudara lebih banyak daripada mammogram pada zaman dahulu.

(Wendie A. Berg, MD, PhD.2010)

Prosedur untuk melakukan mammografi ialah sebagai berikut:

1. Payudara ditempatkan pada pelat logam

2. pelat kompresi diterapkan untuk mengompres payudara hingga

ketebalannya mencapai beberapa sentimeter (hal ini juga akan

mengurangi gerakan dan meningkatkan kontras)

3. film berkualitas tinggi ditempatkan ke dalam kaset yang mengandung

banyak layar intensifikasi

4. kaset dimasukkan ke dalam nampan logam

5. kemudian, payudara terkena sinar X-ray dan gambar akan terekam

pada film, yang kemudian diproses.

Payudara perlu diposisikan dalam 2 cara yang berbeda untuk mamografi.

Posisi pengambilan gambar yang paling sering digunakan ialah posisi

mediolateral dan pandangan craniocaudal pada masing-masing payudara.

Ini akan mencakup proyeksi lateral dan pandangan diperpanjang lebih

lateral atau medialy pada bidang caniocaudal. mammografer atau

operator harus terampil dalam memperoleh tampilan yang sesuai untuk

membantu ahli radiologi. Untuk itu, pelat kompresi kecil dibutuhkan

dalam menentukan apakah lesi nyata atau murni hanya bayangan jaringan

kelenjar. Gambar perbesaran untuk daerah Mikrokalsifikasi diperlukan

juga dalam membedakan keduanya,dan untuk determinasi lesi

membutuhkan biopsi atau tidak.

Ultrasonografi

14
Ultrasonografi Telah menjadi alat yang sangat pentiing dalam

pemeriksaaan untuk mendeteksi kanker payudara. Ultrasonografi pertama

kali dikenalkan pada tahun 1950 menggunakan teknik radar yang

diadaptasi dari angkatan laut Amerika. Dalam beberapa decade

berikutnya, ultrasonografi menjadi alat utama dalam mendeteksi kanker

payudara. Namun dalm kerjanya, ultrasonografi masih tidak dapat

mendeteksi kista yang paling solid dan masih memerlukan biopsy untuk

itu, karena ultrasonografi masih tidak dapat membedakan Antara tumor

jinak dan tumor ganas. Namun beberapa perkembangan teknologi

berikutnya, ultrasonografi sudah dapat meningkatkan kualitas dalam

mendeteksi tumor yang solid. ( Regina J. Hooley, MD.2013)

Prosedur untuk melakukan pemeriksaan dengan ultrasonografi ialah,

pasien harus berbaring di sofa dengan kepala terangkat sedikit

menggunakan bantal. Posisi lesi payudara mempengaruhi posisi pasien.

Jika lesi pada paruh medial payudara maka pasien berbaring terlentang,

jika lesi berada dalam setengah lateral payudara, kemudian, terutama jika

payudara besar, pasien mungkin lebih baik diposisikan di miring anterior

sehingga payudara jatuh ke medial. Lengan pasien ditempatkan di

belakang kepalanya dan pemeriksaan dimulai. Tujuannya adalah untuk

memfiksasi payudara, mengurangi gerakan dan menyebarkan jaringan

sekitarnya. Daerah yang dicurigai harus diraba terlebih dahulu, yang

yang berguna untuk memberikan pasien kesempatan untuk mengetahui

lokasi kelainan nya. Hal ini memberikan operator informasi tambahan

yang diperoleh dengan meraba daerah sebelum memulai scan.

a. Biopsi (pemeriksaan histo-patologi)


15
Konsep dari pemeriksaan biopsy pada pasien kanker sangatlah simple,

dengan semakin berkembangnya teknik dan prosedur perlakuan dari

biopsy itu sendiri. Teknik biopsy dapat dibagi 2 yaitu : (J. Bonnema.

2009)

1. Aspirasi Jarum Halus/ Fine Needle aspiration (FNA) menghasilkan

sel aspire yang dioleskan ke slide, terikat dan disajikan kepada

phatologist. dokter memperoleh inti kecil jaringan yang

menggunakan jarum cutting, baik menggunakan jarum sekali pakai

dengan mekanisme pegas atau jarum dimasukkan ke dalam

perangkat senapan pegas. Jaringan ini ditempatkan dalam formalin

dan dikirim ke histophatologist tersebut. FNA sebagian besar telah

digantikan oleh teknik histologis tapi masih berguna dalam

memberikan jawaban yang cepat dalam situasi klinik dan pada

pasien yang memakai antikoagulan. Jaringan diambil dengan

menggunakan metode lain membutuhkan persiapan yang lebih

panjang sebelum hasil definitif yang tersedia, tetapi informasi yang

lebih berguna tentang jaringan diperoleh.

2. Core needle biopsy (CNB), Diperkenalkan pada tahun 1990 , core

needle biopsy telah menjadi alternatif untuk biopsi eksisi karena

lebih murah , menghasilkan lebih sedikit morbiditas dan minimal

tidak ada bekas luka . CNB dilakukan dengan jarum yang besar

dengan menggunakan bantuan imaging untuk mencari sampel dari

abnormalitas maupun keganasan. Bantuan imaging ini biasa

menggunakan USG atau mamografi ( stereotactic ) . pilihan dari

ultrasonografi melawan stereoticaly CNB dengan bantuan imaging

16
berdasarkan modalitas yang mendemonstrasi abnormalitas dan

menunjukkan posisi kelainan dengan tepat di payudara namun,

ultrasonografibiasanya lebih disukai karena lebih cepat dan lebih

memberikan rasa nyaman kepada pasien. Abnormalitas yang

terlokasi tepat di bawah kulit atau areola atau terletak di dalam

dinding dada mungkin tidak akan dapat di access. Pasien yang tidak

bisa bekerja sama, pasien yang memiliki kelainan perdarahan, atau

yang sedang berada pada terapi anti koagulan mungkin tidak akan

pas untuk menjadi kandidatnya.

2.5 Tata Laksana Kanker Payudara

Terapi kanker Payudara invasive biasanya multimodalitas, namun sangat

bergantung pada tahap penyaki saat didiagnosis. Pilihan operasi meliputi

mastektomi radikal yang dimodifikasi atau lumpektomi dengan radiasi local.

Diseksi kelenjar limfe aksila ipsilateral juga umum dilakukan. Wanita dengan

kelenjar limfe positif biasanya mendapatkan tambahan kemoterapi antineoplastic.

Mereka dengan kelenjar limfe negatif akan mendapatkan kemoterapi ajuvan jika

memiliki tumor proimer yang besar atau terdapat LVI, karena keduanya

menandakan adanya resiko rekurensi tumor yang tinggi. Tamiksifen merupakan

obat dengan sifat estrogenic dan antiestrogenik. Obat ini merupakan terapi

endokrin yang paling banyak digunakan untuk kanker payudara. Sebelum

melakukan terapi endokrin, penting untuk mengetahui status reseptor estrogen dan

progesterone pada tumor karena hanya tumor dengan reseptor yang positif yang

diperkirakan dapat merespons obat obatan seperti tamoksifen.

17
BAB III

KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN

3.1.Kerangka Konsep

Data pemeriksaan Data pemeriksaan


Ultrasonografi Mammografi

18
True positive True Negative True positive True Negative

False positive False Negative False positive False Negative

Analisis Data

Data pemeriksaan
histo-patologi

Hasil persentase ketepatan


ultrasonografi dan mammografi

3.2.Hipotesis Penelitian

Karena penelitian ini merupakan uji diagnostic, maka tidak memiliki hipotesis

BAB IV

METODE PENELITIAN

4.1.Rancangan, Waktu, dan Tempat Penelitian.

Rancangan atau design penelitian ini adalah uji diagnostik. Jenis penelitian ini

ialah membandingkan data hasil pemeriksaan terhadap suatu penyakit yang

pada penelitian ini merupakan kanker payudara sebagaimana mungkin untuk

didapatkan alat mana yang lebih bagus dan akurat dalam mendiagnosisnya.

19
Penelitian ini merupakan noneksperimen karen tidak melakukan kontrol dan

manipulasi variabel penelitian dan hanya melakukan pengambilan data dalam

satu waktu. Dengan metode ini, hasil penelitian memungkinkan untuk

digunakan sebagai data awal analisis dan pengembangan teori yang memiliki

validitas universal.

Waktu Penelitian : Pengambilan data dilakukan sekitar akhir Bulan September

2014, yang kemudian akan dikaji selama satu bulan

(September 2014 – Oktober 2014)

Tempat : Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah

4.2.Populasi dan Sampel

a. Populasi

Populasi penelitian ini adalah semua pasien yang terdiagnosis positif

kanker payudara di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah, Denpasar, Bali

b. Kriteria Sampel

Sampel dapat dilihat dari data rekam medis dimana merupakan pasien yang

didiagnosis menggunakan ultrasonografi dan mammografi di Rumah Sakit

Umum Pusat Sanglah

20
c. Besaran Sampel

Sensitifitas Ultrasonografi yang diharapkan adalah 90%. Bila dapat diterima

penyimpangan (d) untuk sensitifitas sebesar 10%. Interval kepercayaan 95%

(a=0,05; zα=1,96). Untuk uji sensitifitas diperlukan jumlah sampel minimal:

N = besar subjek yang didiagnosis positif oleh gold standard

P = sensitifitas alat yang diinginkan, yaitu 90% Q = 1-P, yaitu 0,1 d =

presisi penelitian, yaitu 10%

Zα = deviat baku alpha, yaitu 1,96 sehingga,

21
d. Teknik Penentuan Sampel

Populasi yang dapat dijadikan sampel ialah pasien yang memeriksakan

payudara menggunakan ultrasonografi dan mammografi yang tercatat

dalam rekam medis dan laporan dari bidang Lab Radiologi

e. Teknik Pengambilan Data

Data penelitian ini diperoleh dengan mengkaji secara langsung data rekam

medis dan Radiologi RSUP Sanglah Denpasar- Bali periode 2012 -2013

4.3 Analisis Data

Data yang terkumpul dilakukan tabulasi dan koding untuk kemudian di

analisa. Analisa data menggunakan rumus untuk menghitung sensivifitas,

spesifitas, nilai ramal positif, dan nilai ramal negatif hasil pemeriksaan

imaging dan biopsi patologi anatomi.

22
Tabel pengolahan data :

Pemeriksaan histopatologi

biopsi histologi patologi


Positif Negatif
Jumlah
Karsinoma Karsinoma

Payudara Payudara
Positif

Karsinoma A B A+B
Data
Payudara
Negatif
Imaging
Karsinoma C D C+D

Payudara

Keterangan : A = Positif

B = Positif Palsu

C = Negatif Palsu

D = Negatif

a. Sensitivitas dihitung dengan rumus :

23
b. Spesifisitas dihitung dengan rumus :

c. Nilai ramal hasil positif dihitung dengan rumus :

d. Nilai ramal hasil negatif dihitung dengan rumus :

4.4.Variabel

a. Variabel Prediktor

Variabel prediktor pada penelitan ini adalah hasil Imaging

menggunakan ultrasonografi dan mammografi.

b. Definisi Operasional Variabel

24
No Variabel Skala
Karsinoma Payudara Nominal
1
Kanker payudara merupakan keganasan

pada sel-sel yang terdapat pada jaringan

payudara yang sudah ditegakkan

diagnosisnya oleh imaging maupun hasil

pemeriksaan biopsi
2 Ultrasonografi Nominal

Merupakan salah satu alat imaging yang

digunakan dalam mendeteksi kanker

payudara yang masih digunakan sampai

sekarang. Pemeriksaan ini dilakukan dengan

cara menggunakan lat ultrasonografi untuk

melihat apakah ada gambaran kista maupun

tumor pada payudara seorang wanita.

Dikelompokkan menjadi:

1. Karsinoma payudara positif

2. Karsinoma payudara negatif


3 Biopsi Patologi Anatomi dan mammografi Nominal

Baku emas yang merupakan standar dalam

mendiagnosis karsinoma payudara.

Pemeriksaan ini dilakukan dengan

mengambil sebagian jaringan dari nodul

tiroid kemudian diperiksa menggunakan

mikroskop ahli patologi anatomi, Adapula

mammografi yang dilakukan dengan cara

25
memberikan penggambaran imaging

berkualitas tinggi untuk mendeteksi apakah

ada massa tumor atau tidak pada payudara

wanita

Dikelompokkan menjadi:

1. Karsinoma payudara positif

2. Karsinoma payudara negatif

4.5.Bahan dan Instrumen Penelitian

a. Data rekam medis di IGD RSUP Sanglah Denpasar tahun 2012 dan 2013.

b. Data pemeriksaan Radiologi onkologi khususnya payudara

c. Alat tulis

d. Buku panduan penulisan usulan penelitian

e. Laptop

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Karakteristik Subyek (Pasien)

Penelitian ini dilakukan pada 45 pasien dengan kanker payudara yang

memeriksakan diri dengan menggunakan Ultrasonografi dan Mammografi

dan memiliki data rekam medis dari bulan Januari 2012 sampai November

26
2013 di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah. Adapun karakteristik subjek

yang akan dijelaskan pada tabel table di bawah ini.

Tabel 5.1 Tabel distribusi pasien dengan kanker payudara


berdasarkan umur
umur asli

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid 21-30 2 3.3 3.3 3.3
31-40 15 25.0 25.0 28.3
41-50 24 40.0 40.0 68.3
51-60 13 21.7 21.7 90.0
61-70 6 10.0 10.0 100.0
Total 60 100.0 100.0

Berdasarkan tabel 5.1 dapat diketahui bahwa pasien wanita dengan kanker

payudara `cenderung untuk muncul pada kategori umur 41-50 tahun sejumlah 24

orang (39.3%), diikuti dengan kategori umur 31-40 tahun sejumlah 15 orang

(24.6%) , dan 51-60 tahun sejumlah 13 orang (21.7%) . perbedaan jumlah kasus

yang tidak jauh ini menunjukkan bahwa resiko kanker payudara tidak terlalu

terpaku pada suatu kelompok umur tertentu.

Table.5.2 Tabel distribusi pasien dengan kanker payudara berdasarkan


alamat tempat tinggal

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid Denpasar 14 23.3 24.6 24.6
Karangasem 4 6.7 7.0 31.6
Klungkung 1 1.7 1.8 33.3

27
Bangli 3 5.0 5.3 38.6
Gianyar 4 6.7 7.0 45.6
Tabanan 4 6.7 7.0 52.6
Negara 2 3.3 3.5 56.1
Singaraja 4 6.7 7.0 63.2
Luar Bali 14 23.3 24.6 87.7
Badung 7 11.7 12.3 100.0
Total 57 95.0 100.0
Missing System 3 5.0
Total 60 100.0

Berdasarkan table 5.2 di atas diketahui bahwa Letak tempat tinggal subjek

penelitian sebanyak 14 orang (23,3%) berada di Denpasar, sebanyak empat orang

(6,6%) di Karangasem, sebanyak satu orang (2,2%) di Klungkung, sebanyak tiga

orang (5,0%) di Bangli, sebanyak empat orang (6,7%) di Gianyar, sebanyak

empat orang (6,7%) di Tabanan, sebanyak dua orang (3,3%) di Negara, sebanyak

empat orang (6,7%) yang berasal dari Singaraja , sebanyak 14 orang (23,3%) yang

berasal dari Luar Bali, dan sebanyak tujuh orang (11,7%) yang berasal dari

Badung serta tiga orang pasien yang tidak tercantum alamatnya.

Table.5.4 Tabel distribusi pasien dengan kanker payudara berdasarkan Jenis


pemeriksaan Ultrasonografi beserta pemeriksaan patologi yang dilakukan

Pemeriksaan histopatologi

biopsi histologi patologi


Positif Negatif
Jumlah
Karsinoma Karsinoma

Payudara Payudara

28
Positif

Karsinoma 21 3 24
Data Payudara
Negatif
Ultrasonografi
Karsinoma 8 4 12

Payudara

29 7 36
Jumlah
Berdasarkan 60 sampel yang sudah diambil, sebanyak 36 orang diketahui telah

menggunakan Ultrasonografi. Hasil dari pengolahan data pemeriksaan

menunjukkan bahwa 21 orang telah memberikan hasil yang positif kanker

payudara, dan delapan orang yang memberikan hasil negatif. Namun untuk

mengetahui ketepatan dari ultrasonografi itu sendiri, perlu adanya cross

pemeriksaan dengan pemeriksaan definitive yaitu pemeriksaan Histopatologi yang

juga telah tercantum pada tabel di atas. Maka dari itu hasil pengolahan untuk

mengetahui ketepatan dari alat ultrasonografi adalah sebagai berikut :

 Sensitivitas Ultrasonografi :

(21 / 29) x 100% = 72.413 %

 Spesifisitas Ultrasonografi :

( 4 / 7 )x100% = 57.142 %

 Nilai ramal hasil positif ultrasonografi :

(21 / 24) x100% = 87.500 %

 Nilai ramal hasil negatif ultrasonografi :

29
(4 / 12) x100% = 33.333 %

 Likelihood ratio (+) :

0.72413 : (1-0.57142) = 1.689

 Likelihood ratio (-) :

(1-0.72413) : (0.57142) = 0.482

Table.5.5 Tabel distribusi pasien dengan kanker payudara berdasarkan Jenis


pemeriksaan Mammografi beserta pemeriksaan patologi yang dilakukan

Pemeriksaan histopatologi Jumlah

biopsi histologi patologi

30
Positif Negatif

Karsinoma Karsinoma

Payudara Payudara
Positif

Karsinoma 19 5 24
Data
Payudara
Negatif
Mammografi
Karsinoma 6 6 12

Payudara

25 11 36
Jumlah

berdasarkan tabel 5.4 di atas, pasien yang memeriksakan diri menggunakan

mammografi berjumlah 36 orang, dengan 19 orang dinyatakan positif memiliki

kanker payudara, dan 6 orang tidak. Namun untuk mengetahui ketepatan dari alat

mammografi ini, diperlukan cross pemeriksaan dengan pemeriksaan definitive

yaitu pemeriksaan Histopatologi yang juga telah tercantum pada tabel di atas.

Maka dari itu hasil pengolahan untuk mengetahui ketepatan dari alat

ultrasonografi adalah sebagai berikut :

 Sensitivitas Mammografi :

(19 / 25) x 100% = 76 %

 Spesifisitas Mammografi:

( 6/ 11 )x100% = 54.545 %

 Nilai ramal hasil positif Mammografi :

31
(19 / 24) x100% = 79.166 %

 Nilai ramal hasil negatif Mammografi :

(6 / 12) x100% = 50 %

 Likelihood ratio (+)

0.76 : (1-0.54545) = 1.671

 Likelihood ratio (-)

(1-0.76) : (0.54545) = 0.440

Table.5.6 Tabel distribusi pasien dengan kanker payudara berdasarkan


kategori umur pasien

Cumulative
Frequency Percent Valid Percent Percent
Valid <40 tahun 15 25.0 25.0 25.0
>40 tahun 45 75.0 75.0 100.0
Total 60 100.0 100.0

Berdasarkan tabel diatas, tercatat bahwa 15 pasien (25%) dengan kanker


payudara berusia di bawah 40 tahun dan 45 pasien (75%) dengan kanker payudara
yang berusia di atas 40 tahun. Dari tabel ini juga menunjukkan bahwa kanker
payudara lebih rentan terjadi pada golongan usia tua. Hal ini dapat dijadikan
acuan untuk dilakukan penelitian untuk membuktikan nilai ketepatan alat
ultrasonografi dan mammografi sesuai dengan teori di mana ultrasonografi
merupakan alat yang lebih tepat apabila digunakan pada pasien pasien kanker
payudara dengan usia muda, sedangkan mammografi lebih tepat digunakan pada

32
pasien pasien dengan kanker payudara pada kelompok usia tua. Maka dari itu,
berdasarkan tabel di atas, akan dikelompokkan pula menjadi kelompok usia di
bawah 40 tahun, dan kelompok usia di atas 40 tahun untuk kembali dilakukan
cross test pemeriksaan ultasonografi dan mammografi dengan pemeriksaan
patologi.

Table.5.7 Tabel distribusi pasien dengan kanker payudara berdasarkan Jenis


pemeriksaan Ultrasonografi beserta pemeriksaan patologi yang dilakukan
pada pasien di bawah 40 tahun

Pemeriksaan histopatologi Jumlah

biopsi histologi patologi

33
Positif Negatif

Karsinoma Karsinoma

Payudara Payudara
Positif

Karsinoma 6 0 6
Data
Payudara
Negatif
ultrasonografi
Karsinoma 1 7 8

Payudara

7 7 14
Jumlah

 Sensitivitas Ultrasonografi :

(6 / 7) x 100% = 85.714 %

 Spesifisitas Ultrasonografi :

( 7/ 7 )x100% = 100 %

 Nilai ramal hasil positif ultrasonografi :

34
(6 / 6) x100% = 100 %

 Nilai ramal hasil negatif ultrasonografi :

(7 / 8) x100% = 87.5 %

 Likelihood ratio (+)

0.85714 : (1-1) = ∞

 Likelihood ratio (-)

(1-0.85714) : (1) = 0.14286

Table.5.8 Tabel distribusi pasien dengan kanker payudara berdasarkan Jenis


pemeriksaan Mammografi beserta pemeriksaan patologi yang dilakukan
pada pasien di bawah 40 tahun

Pemeriksaan histopatologi

biopsi histologi patologi


Positif Negatif
Jumlah
Karsinoma Karsinoma

Payudara Payudara
Data Positif 1 0 1

mammografi Karsinoma

Payudara

35
Negatif

Karsinoma 2 1 3

Payudara

3 1 4
Jumlah

 Sensitivitas Mammografi :

(1 / 3) x 100% = 33.333 %

 Spesifisitas Mammografi:

( 1/ 1 )x100% = 100 %

 Nilai ramal hasil positif Mammografi :

(1 / 1) x100% = 100 %

 Nilai ramal hasil negatif Mammografi :

(1 / 3) x100% = 33.333 %

 Likelihood ratio (+)

0.33333 : (1-1) = ∞

36
 Likelihood ratio (-)

(1-0.33333) : (1) = 0.667

Table.5.9 Tabel distribusi pasien dengan kanker payudara berdasarkan Jenis


pemeriksaan Ultrasonografi beserta pemeriksaan patologi yang dilakukan
pada pasien di atas 40 tahun

Pemeriksaan histopatologi

biopsi histologi patologi


Positif Negatif
Jumlah
Karsinoma Karsinoma

Payudara Payudara
Positif

Karsinoma 8 5 13
Data
Payudara
Negatif
Ultrasonografi
Karsinoma 3 6 9

Payudara
11 11 22

37
Jumlah

 Sensitivitas Ultrasonografi :

(8 / 11) x 100% = 72.727 %

 Spesifisitas Ultrasonografi:

( 6/ 11 )x100% = 54.545 %

 Nilai ramal hasil positif Ultrasonografi :

(8 / 13) x100% = 61.538 %

 Nilai ramal hasil negatif Ultrasonografi :

(6 / 9) x100% = 66.667 %

 Likelihood ratio (+)

0.72727 : (1-0.54545) = 1.599

 Likelihood ratio (-)

(1-0.72727) : (0.54545) = 0.5

38
Table.5.8 Tabel distribusi pasien dengan kanker payudara berdasarkan Jenis
pemeriksaan Mammografi beserta pemeriksaan patologi yang dilakukan
pada pasien di atas 40 tahun

Pemeriksaan histopatologi

biopsi histologi patologi


Positif Negatif
Jumlah
Karsinoma Karsinoma

Payudara Payudara
Positif

Karsinoma 12 2 14
Data
Payudara
Negatif
mammografi
Karsinoma 2 10 12

Payudara

14 12 26
Jumlah

39
 Sensitivitas Mammografi :

(12 / 14) x 100% = 85.714 %

 Spesifisitas Mammografi:

( 10/ 12 )x100% = 83.333 %

 Nilai ramal hasil positif Mammografi :

(12 / 13) x100% = 92.307 %

 Nilai ramal hasil negatif Mammografi :

(10 / 13) x100% = 76.923 %

 Likelihood ratio (+)

0.85714 : (1-0.83333) = 5.142

 Likelihood ratio (-)

(1-0.85714) : (0.83333) = 0.171

40
5.2 Pembahasan

Selama kurun waktu Oktober 2012 sampai November 2013

didapatkan 60 sampel yang memenuhi kriteria inklusi, yaitu pasien dengan

kanker payudara yang datang ke RSUP Sanglah dan memeriksakan diri

menggunakan Ultrasonografi, Mammografi, maupun menggunakan kedua

alat tersebut. Kelompok umur terbesar berkisar antara 41 – 50 tahun

(40.0%).

Berdasarkan data penelitian ini, didapatkan bahwa Ultrasonografi

memiliki angka sensitivitas sebesar 72.4%, spesifisitas 57.1%, nilai hasil

ramal positif 87.5%, nilai hasil ramal negatif 33.3%, likelihood ratio +

sebesar 1.689, dan likelihood – sebesar 0.482. untuk Mammografi sendiri

memiliki angka sensitivitas 76%, spesifisitas 54.5%, nilai hasil ramal

positif 79.166%, nilai hasil ramal negative 50%, likelihood ratio + sebesar

1.671, dan likelihood ratio – sebesar 0.440

Berdasarkan angka sensivitas, mammografi memiliki kemampuan

untuk mendeteksi kanker payudara daripada ultrasonografi. Menurut

angka specifisitas, ultrasonografi memiliki kemampuan lebih baik untuk

menyingkirkan diagnosis kanker payudara daripada mammografi.

Berdasarkan angka nilai hasil ramal positif, ultrasonografi memiliki

41
peluang lebih besar untuk subjek menderita kanker payudara apabila hasil

tes menunjukkan positif. Berdasarkan nilai hasil ramal negatif,

mammografi memiliki peluang lebih besar untuk subjek tidak memiliki

kanker payudara apabila hasil tes menandakan negatif.

Berdasarkan hasil yang didapatkan pada pasien yang berusia di

bawah 40tahun, didapatkan 15 orang yang melakukan pemeriksaan

dengan pembagian yaitu 14 orang tercatat menggunakan ultrasonografi,

dan 4 orang menggunakan mammografi. Berdasarkan data yang

didapatkan, dapat diketahui bahwa ultrasonografi memiliki sensitivitas

sebesar 85.714%, spesifisitas sebesar 100%, nilai hasil ramal + sebesar

100%, nilai hasil ramal – sebesar 87.5%, likelihood positif yang tidak

terhingga (∞), dan likelihood negatif sebesar 0.14286.

Untuk mammografi telah didapatkan data sebagai berikut. Pada

pasien di bawah 40 tahun, didapatkan angka sensitivitas sebesar 33.333%,

spesifisitas sebesar 100%, nilai hasil ramal positif sebesar 100%, nilai

hasil ramal negatif sebesar 33.333%, likelihood ratio positif tidak

terhingga (∞), dan likelihood ratio negatif sebesar 0.667.

Berdasarkan data di atas, didapatkan ultrasonografi memiliki nilai

sensitifitas dan nilai hasil ramal negatif yang lebih tinggi daripada

mammografi, hal ini menunjukkan bahwa ultrasonografi memiliki

kemampuan untuk menyatakan seseorang mengidap kanker payudara

lebih besar daripada mammografi, selain itu juga nilai hasil ramal negatif

yang tinggi menandakan bahwa apabila ultrasonografi menunjukkan hasil

42
negatif,maka sebesar 87.5% pasien tersebut tidak memiliki kanker

payudara.

Pada pasien yang berusia di atas 40 tahun telah didapatkan data

yaitu 45 orang tercatat melakukan pemeriksaan dan memberikan hasil

positif mengidap kanker payudara dengan 22 orang tercatat melakukan

ultrasonografi dan 26 orang menjalani mammografi. Dari data tersebut

dapat terlihat bahwa kanker payudara lebih banyak terdeteksi pada tingkat

usia tua dibandingkan usia muda.

Data Ultrasonografi yang tercatat pada pasien di atas 40

tahun memiliki sensitivitas sebesar 72.727 %, spesifisitas sebsar 54.545

%, nilai hasil ramal positif sebesar 61.538 %, nilai hasil ramal negatif

sebesar 66.667 %, likelihood positif sebesar 1.599, dan likelihood negatif

sebesar 0.5. untuk mammografi didapatkan sensitivitas sebesar 85.714%,

spesifisitas 83.333 %, nilai hasil ramal positif sebesar 92.307 %, nilai

hasil ramal negatif sebesar 76.923 %, likelihood ratio positif sebesar

5.142, dan likelihood negatif sebesar 0.171.

Berdasarkan hasil di atas, dapat diketahui bahwa mammografi

memiliki angka sensitivitas, spesifisitas, nilai hasil ramal positif, nilai

hasil ramal negatif, dan likelihood ratio positif yang lebih besar dari pada

ultrasonografi. Hal ini menunjukan bahwa mammografi memiliki

keuntungan yang jauh lebih besar daripada ultrasonografi pada pasien

dengan usia di atas 40 tahun.

43
BAB VI

SIMPULAN DAN SARAN

6.1 Simpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan pada penelitian ini, maka dapat ditarik

kesimpulan bahwa secara umum ultrasonografi dan mammografi memiliki

ketepatan yang hampir sama unggul, namun ultasonografi cenderung memberikan

ketepatan yang lebih bagus pada kelompok usia di bawah 40 tahun, sebaliknya

mammografi yang menunjukkan ketepatan yang jauh lebih baik pada kelompok

usia di atas 40 tahun.

Saran

Dari hasil pembahasan dan simpulan dapat disarankan beberapa hal

sebagai berikut :

1. Bagi instansi kesehatan dan tenaga medis didalamnya khususnya di

Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah agar meningkatkan proses pencatatan

rekam medis karena data sekunder yang baik dan lengkap sehingga dapat

dijadikan evaluasi untuk menghadapi masalah kesehatan di masa

mendatang.

44
2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan jumlah sampel yang lebih

besar dan waktu yang lebih lama sehingga dapat mewakili populasi pada

daerah tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Basset W. Lawrence.Breast Imaging.Ch 9 in: I. Jatoi, Kaufmann.Management of Breast

Diseases.Springer-Verlag Berlin Heidelberg.2010: 149-167

J. Bonnema.2009. Sentinel lymph node biopsy in breast cancer. Leids Universitair

Medisch Centrum, Leiden, The Netherlands

Noriaki Ohuchi, Takanori, Masaaki Kawai dkk.2010. Randomized Controlled Trial on

Effectiveness of Ultrasonography Screening for Breast Cancer in Women Aged 40–49 (J-

START). Department of Surgical Oncology, Graduate School of Medicine, Tohoku

University, Miyagi and Cancer Center, Tokyo, Japan.

Regina J. Hooley, MD, Leslie M. Scoutt, MD.2013. Breast Ultrasonography: State of art.

www.rsna.org/education/ry_cme.html <diakses pada 13 februari 2014>

Wendie A. Berg, MD, PhD,Lorena Gutierrez, Accuracy of Mammography, Clinical

Examination, US, and MR Imaging in Preoperative Assessment of Breast Cancer.

Department of Surgical Oncology, Moffitt Cancer Center, Tampa, Fla.

45
World Health Organization. 2006. Reproductive Health Indicators. “Guidelines for Their

Generation, Interpretation, and Analysis for Global Monitoring”, hlm 18 – 19.

Switzerland : WHO Press.

46