Anda di halaman 1dari 35

BAB 1

ZAKAT

A. Pengertian Zakat
Secara bahasa, zakat berarti tumbuh (numuww) dan bertambah (Ziyadah). Jika diucapkan,
zaka al-zar’, adalah tanaman tumbuh dan bertambah jika diberkati.1[1] Kata ini juga sering
dikemukakan untuk makna thaharah (suci) Allah SWT. berfirman:
‫قَ ْد اَ ْفلَ َح َم ْن زَ َّكهَا‬
Artinya:
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu.” (QS. Asy Syams [91]: 9).
Sedangkan arti zakat menurut istilah syari’at Islam ialah sebagian harta benda yang wajib
diberikan orang-orang yang tertentu dengan beberapa syarat, atau kadar harta tertentu yang
diberikan kepada orang-orang yang berhak menerimanya dengan syarat-syarat tertentu pula.2[2]
Adapun tentang zakat telah dijelaskan dalam al-Qur’an firman Allah Surah at-Taubah
ayat 103 yang artinya:
“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan
mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka . . .” (QS. at-Taubah [9]: 103).
Maksud dari ayat diatas adalah dengan zakat itu mereka menjadi bersih dari kekikiran
dan dari berlebih-lebihan dalam mencintai harta benda atau zakat itu akan menyucikan orang
yang mengeluarkannya dan akan menumbuhkan pahalanya.
Adapun dalan hadits diantaranya adalah:
ٍ ‫ك تَأْ تِى قَوْ ًمااَ ْه َل ِكتَا‬
‫ب فَا ْد ُعهُ ْم أِلَى َشهَا َد ِةأَ ْن‬ َ َّ‫ إِن‬:‫ض َى هللا َع ْنهُ إِلَى اليَ َم ِن قَا َل‬ ِ ‫صلَّى هللاُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم اَ َّما بَ َعا َذا ْبنَ َجبَ ٍل َر‬
َ ‫ى‬َّ ِ‫إِ َّن النَّب‬
‫ فَإ ِ ْن هُ ْم‬. ‫ت فِى يَوْ ٍم َولَ ْيلَ ٍة‬
ٍ ‫صلَ َوا‬
َ ‫س‬ َ ‫ض َعلَ ْي ِه ْم خَ ْم‬َ ‫ك فَا َعلِ ْمهُ ْم أَنَ هللاَ َع َز َو َج َّل اِ ْفتَ َر‬
َ ِ‫ فَإ ِ ْن هُ ْم اَطَا ُعوْ الِ َذ ل‬. ِ‫الَإِلَهَ إِالَّهللاُ َوأَنِّى َرسُوْ ُل هللا‬
َ ِ‫ فَإ ِ ْن هُ ْم أَطَا ُعوْ ا لِ َذ ل‬, ‫ص َد قَةً فِى أَ ْم َوالِ ِه ْم ت َْؤ َخ ُذ ِم ْن أَ ْغنِيَا ىِ ِه ْم َوتُ َر ُّد إِلَى فُقَ َرا ىِ ِه ْم‬
‫ك‬ َ ‫أَطَا ُعوْ الِ َذ لِكَ فَا ْعلِ ْمهُ ْم اَ َّن هللاَ اِ ْفتض َر‬
َ ‫ض َعلَ ْي ِه ْم‬
)‫ْس بَ ْينَهَا َوبَ ْينَ هللاِ ِح َجا بٌ (رواه الجاعه ابن عباس‬ ْ ‫َق َد ْع َوةَ ْال َم‬
َ ‫ظلُوْ ِم فَإِنَهُ لَي‬ ِ ‫ َوات‬, ‫َو َك َرا ىِ َم أَ ْم َوالِ ِه ْم‬
Artinya:
“Rasulullah sewaktu mengutus Sahabat Mu’adz bin Jabal ke negeri Yaman (yang telah
ditaklukkan oleh umat Islam) bersabda: Engkau datang kepada kaum ahli kitab ajaklah mereka

1
kepada syahadat, bersaksi, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan selain Allah dan
sesungguhnya Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Jika mereka telah taat untuk itu,
beritahulah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan mereka melakukan sholat lima waktu
dalam sehari semalam. Jika mereka telah taat untuk itu, beritahukanlah kepada mereka, bahwa
Allah mewajibkan mereka menzakati kekayaan mereka. Yang zakat itu diambil dari yang kaya
dan dibagi-bagikan kepada yang fakir-fakir. Jika mereka telah taat untuk itu, maka hati-hatilah
(janganlah) yang mengambil yang baik-baik saja (bila kekayaan itu bernilai tinggi, sedang dan
rendah, maka zakatnya harus meliputi nilai-nilai itu) hindari do’anya orang yang madhlum
(teraniaya) karena diantara do’a itu dengan Allah tidak terdinding (pasti dikabulkan).”3[3]
Dalam pengertian istilah syara’, zakat mempunyai banyak pemahaman, diantaranya:
1.      Menurut Yusuf al-Qardhawi, zakat adalah sejumlah harta tertentu yang diwajibkan oleh Allah
diserahkan kepada orang-orang yang berhak.
2.      Abdurrahman al-Jaziri berpendapat bahwa zakat adalah penyerahan pemilikan tertentu kepada
orang yang berhak menerimanya dengan syarat-syarat tertentu pula.
3.      Muhammad al-Jarjani dalam bukunya al-Ta’rifat mendefinisikan zakat sebagai suatu
kewajiban yang telah ditentukan oleh Allah bagi orang-orang Islam untuk mengeluarkan
sejumlah harta yag dimiliki.
4.      Wahbah Zuhaili dalam karyanya al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu mendefinisikan dari sudut
empat mazhab, yaitu:
-          Madzhab Maliki, zakat adalah mengeluarkan sebagian yang tertentu dari harta yang tertentu
pula yang sudah mencapai nishab (batas jumlah yang mewajibkan zakat) kepada orang yang
berhak menerimanya, manakala kepemilikan itu penuh dan sudah mencapai haul (setahun) selain
barang tambang dan pertanian.
-          Madzhab Hanafi, zakat adalah menjadikan kadar tertentu dari harta tertentu pula sebagai hak
milik, yang sudah ditentukan oleh pembuat syari’at senata-mata karena Allah SWT.
-          Madzhab Syafei, zakat adalah nama untuk kadar yang dikeluarkan dari harta atau benda
dengan cara-cara tertentu.
-          Madzhab Hambali, memberikan definisi zakat sebagai hak (kadar tertentu) yang diwajibkan
untuk dikeluarkan dari harta tertentu untuk golongan yang tertentu dalam waktu tertentu pula.

2
Dari beberapa pendapat diatas dapat dipahami bahwa zakat adalah penyerahan atau
penunaian hak yang wajib yang terdapat di dalam harta untuk diberikan kepada orang-orang
yang berhak seperti tertulis dalam Surat at-Taubah ayat 60 yang artinya:
Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, “
pengurus-pengurus zakat, Para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak,
orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam
perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi
.Maha Bijaksana.” (QS. at-taubah [9]: 60)

B.     Macam-Macam Zakat


Zakat terbagi atas dua tipe yakni:
·         Zakat Fitrah,
Adalah zakat yang wajib dikeluarkan Muslim menjelang Idul Fitri pada bulan Ramadhan.
Besar Zakat ini setara dengan 2,5 kilogram makanan pokok yang ada di daerah bersangkutan. 
·         Zakat Maal (Zakat Harta )
Adalah zakat kekayaan yang harus dikeluarkan dalam jangka satu tahun sekali yang
sudah memenuhi nishab mencakup hasil perniagaan, pertanian, pertambangan, hasil laut, hasil
ternak, harta temuan, emas dan perak serta hasil kerja (profesi). Masing-masing tipe memiliki
perhitungannya sendiri-sendiri. 

C.    Harta benda yang wajib dikeluarkan zakatnya 


Harta benda yang wajib dikeluarkan zakatnya yaitu :
·         Zakat Maal (Zakat Harta)
1.      Emas, perak dan mata uang 
Zakat emas dan perak wajib dikeluarkan zakatnya berdasarkan firman Allah yang
artinya: 
”Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak (tidak dikeluarkan zakatnya) dan tidak
membelanjakanya di jalan Allah, Maka beritakanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan
mendapat) ’azab yang pedih.”(QS. at-Taubah [9]: 34 ).
Syarat- syarat wajib zakat emas dan perak sebagai berikut:
-          Milik orang Islam 

3
-          Yang memiliki adalah orang yang merdeka 
-          Milik penuh( dimiliki dan menjadi hak penuh )
-          Sampai nishabnya
-          Genap satu tahun
-          Nisab dan zakat emas 
Nishab emas bersih adalah 20 dinar (mitsqal) = 12,5 pound sterling (96 gram ) zakatnya
2,5% atau seperempat puluhnya. Jadi seorang Islam yang memiliki 96 gram atau lebih dari emas
yang bersih dan telah cukup setahun dimilikinya maka wajiblah ia mengeluarkan zakatnya 2,5%
atau seperempat puluhnya. Seperti yang tercantum dalam hadits yang diterima dari Ali r.a bahwa
Rasulullah Saw. pernah bersabda :
َ ‫ك ِع ْشرُوْ نَ ِد ْينَار‬
‫ًاو َحا َل َعلَ ْيهَاالَ َحوْ ُل فَفِ ْيهَا‬ ْ ‫ فَإ ِ َذا َكا ن‬,‫ك ِع ْشرُوْ نَ ِد ْينَارًا‬
َ َ‫َت ل‬ َ َ‫ َحتَّى يَ ُكوْ نَ ل‬,‫ب‬ِ َ‫ك َشى ٌء – يَ ْعنِى فِى ال ِّذ ه‬ َ ‫ْس َعلَ ْي‬
َ ‫لَي‬
‫ (رواه أحمد وابودا ود والبيهقى و صحح‬.ُ‫ْس فِى َما ٍل زَ َكا ةٌ َحتَّى يُ َحوْ َل َغلَ ْي ِه ْال َحوْ ل‬ َ ‫ك َولَي‬
َ َ‫ب َذ ل‬
ِ ‫ فَ َما زَ ا َد فَبِ ِح َسا‬.‫َار‬
ٍ ‫نِصْ فُ ِد ْين‬
)‫البخاري وحسن الحا فظ‬.

Artinya:
“Tak ada kewajibanmu- yakni mengenai emas sampai kamu memiliki dua puluh dinar. Jika
milikmu sudah sampai dua puluh dinar, dan cukup masa satu tahun, maka zakatnya setengah
dinar. Dan kelebihannya diperhitungkan seperti itu. Dan tidak wajib zakat pada suatu harta
sampai menjalani sampai satu tahun.” (HR. Ahmad, Abu Daud, Baihaqi, dinyatakan sah oleh
Bukhari dan sebagai hadits hasan oleh Hafizh).
-          Nishab dan zakat perak
Nishab perak bersih 200 dirham ( sama dengan 672 gram), zakatnya 2,5 % apabila telah
dimiliki cukup satu tahun .Emas dan perak yang dipakai untuk perhiasan oleh orang perempuan
dan tidak berlebih- lebihan dan bukan simpanan, tidak wajib dikelurkan zakatnya.
Beberapa pendapat tentang emas yang telah dijadikan perhiasan pakaian:
·         Pendapat imam Abu Hanifah : Berpendapat bahwa emas dan perak yang telah dijadikan
perhiasan dikeluarkan zakatnya pula.
·         Pendapat imam Malik : Jika perhiasan itu kepunyaan perempuan untuk dipakai sendiri atau
disewakan,atau kepunyaan lelaki untuk dipakai isterinya,maka tidak wajib dikeluarkan zakatnya.

4
Tetapi jika seorang lelaki memilkinya untuk disimpan atau untuk perbekalan dimana perlu,maka
wajiblah dikeluarkan zakatnya.
·         Pendapat Imam Syafi’i : Tak ada zakat pada perhiasan emas dan perak,menurut satu riwayat
yang lain dari padanya,wajib zakat perhiasan emas dan perak.
-          Nishab dan zakat uang 
Peredaran uang pada dasarnya berstandar emas, karena peredaran uang itu berdasar emas,
maka nishab dan zakatnya 2,5 % atau seperempat.
2.      Zakat harta perniagaan 
Barang (harta) perniagaan wajib dikeluarkan zakatnya mengingat firman Allah yang
artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu
yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. dan
janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, Padahal kamu
sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya.” (QS. al-
Baqarah [2]: 267).
Dan Sabda Rasulullah saw:
َّ ‫ أَ ْن نُ ْخ ِر َج ال‬,‫صلَّى هللاُ َعلَي ِه َو سلّ َم يَأْ ُم ُرنَا‬
)‫ (رواه ابوداود‬.‫ص َد قَةَ ِمنَ الَّ ِذيْ نُ ِع ُدهُ لِ ْلبَي ِْع‬ ٍ ‫ع َْن َس ُم ِر ْب ِن ُج ْن ُد‬.
َ ِ‫ َكانَ َرسُوْ ُل هللا‬:‫ب قَا َل‬
Artinya:
“Dari samurah bin Jundub, ia berkata : Sesungguhnya Rasulullah Saw. memerintahkan kepada
kami agar mengeluarkan zakat dari barang yang disediakan untuk di jual .” ( HR. Abu Dawud).
Syarat wajibnya zakat perniagaan ialah:
-          Yang memiilki orang Islam
-          Milik orang yang merdeka
-          Milik penuh
-          Sampai nishabnya 
-          Genap setahun
Setiap tahun pedagang harus membuat neraca atau perhitungan harta benda
dagangan.tahun perniagaan di hitung dari mulai berniaga. Yang dihitung bukan hanya labanya
saja tetapi seluruh barang yang diperdagangkan itu apabila sudah cukup nishab,maka wajiblah
dikeluarkan zakatnya seperti zakat emas yaitu 2,5 %. Harta dagangan yang mencapai jumlah
seharga 96 gram emas, wajib dikeluarkan zakatnya sebanyak 2,5% . Kalau sekiranya harga emas

5
1gram Rp 100,maka barang dagangan yang seharga 96x RP 100 = RP.9600, wajib dikeluarkan
zakatnya 2,5% = RP 240. Harta benda perdagangan perseroan, Firma, CV atau perkongsian dan
sebagainya, tegasnya harta benda yang dimilki oleh beberapa orang dan menjadi satu maka
hukumnya sebagai suatu perniagaan.
3.      Zakat binatang ternak 
Dasar wajib mengeluarkan zakat binatang ternak ialah: Diberitahukan oleh Bukhari dan
muslim dari Abu Dzarr, bahwasanya Nabi Saw, bersabda sebagai berikut:
, ‫ َوتَطَ ْؤهُ بِأَخَ فَا فِهَا‬. ‫ تَ ْن ِط ُحهُ بِقُرُوْ نِهَا‬. ُ‫ َوأَ ْس َمن‬. ‫َت‬
ْ ‫ت يَوْ ُم ْالقِيَا َم ِة أَ ْعظَ ُم َما َكا ن‬ْ ‫ب إِبِ ٍل َوآلَ َغن ٍَم الَتُ ْؤدِّيْ زَ َكاتَهَا إِالَّ َجا َء‬
ِ ‫صا ِح‬َ ‫َما ِم ْن‬
ِ ‫ضى بَ ْينَ النَّا‬
‫س‬ َ ‫ َحتَّى يَ ْق‬, ‫ت َعا َ ْي ِه أُوْ اَل هَا‬
ْ ‫ عَاد‬, ‫ت أُ ْخ َراهَا‬ ْ ‫ُكلَّ َما نَفَ ِد‬

Artinya:
”Tidaklah pemilik unta,sapi, dan kambing yang tidak mengeluarkan zakatnya maka binatang –
binatang itu nanti pada hari Qiyamat akan datang dengan keadaan yang lebih besar dan gemuk
dan lebih besar dari pada didunia,lalu hewan –hewan itu menginjak-nginjak pemilik dengan
kaki- kakinya. Setiap selesai mengerjakan yang demikian, bintang- binatang itu kembali
mengulangi pekerjaan itu sebagaimana semula:dan demikianlah terus menerus sehingga sampai
selesai Allah menghukum para manusia. ” ( HR. Abu Dzarr ).
Binatang ternak yang wajib dikeluarkan zakatnya ialah : unta, lembu dan kerbau,
kambing dan biri-biri .4[8]
Syarat-syarat wajibnya zakat binatang ternak sebagai berikut:
-          Pemiliknya orang Islam 
-          Pemiliknya merdeka
-          Miliknya sendiri
-          Sampai senishab
-          Cukup setahun 
-          Makannya dengan penggembalaan,bukan dengan rumput belian 
-          Binatang itu bukan digunakan untuk bekerja seperti angkutan dan sebagainya

a.       Nishab dan zakat unta 

6
Orang yang memilki unta 5 ekor keatas wajib dikeluarkan zakatnya. Tentang pengeluaran
zakat ini diatur sebagai berikut:
-          5 ekor unta zakatnya 1ekor kambing 
-          10 ekor unta zakatnya 2 ekor kambing 
-          15 ekor unta zakatnya 3 ekor kambing 
-          20 ekor unta zakatnya 4 ekor kambing 
-          25 ekor unta zakatnya 1ekor unta betina umur 1 tahun masuk tahun kedua kalau tidak ada
boleh dengan seekor unta jantan berumur 2 tahun masuk tahun ketiga 
-          36 ekor unta zakatnya 1ekor unta betina umur 2 tahun masuk tahun ketiga 
-          46 ekor unta zakatnya seekor unta betina umur 3 tahun masuk tahun keempat 
-          61 ekor unta zakatnya 1ekor unta betina umur 4 tahun masuk tahun kelima 
-          76 ekor unta zakatnya 2 ekor unta betina umur 2 tahun masuk tahun ketiga 91ekor unta
sampai 121ekor zakatnya 2 ekor unta betina umur 3 tahun masuk tahun keempat 
Tiap- tiap bertambah 40 ekor unta zakatnya 1 ekor unta betina umur dua tahun masuk
tahun ketiga dan tiap-tiap tambah 50 ekor unta, zakatnya seekor unta umur 3 tahun masuk
keempat.
b.      Nishab dan zakat lembu/kerbau
Orang yang memiliki lembu/kerbau 30ekor keatas wajib mengeluarkan zakatnya sebagai
berikut:
-          30 s/d 39 lembu/kerbau zakatnya 1ekor anak sapi/kerbau
-          40 s/d 59 lembu /kerbau zakatnya 1ekor sapi/kerbau betina yang berumur 2tahun 
-          60 s/d 69 lembu /kerbau zakatnya 2 ekor anak sapi/kerbau (ta-’bi)
-          70 s/d 79 lembu/kerbau zakatnya 1ekor anak sapi/kerbau (ta’-bi) dan 1ekor musinnah 
-          80 s/d 89 lembu/kerbau zakatnya 2 ekor musinah 
-          90 s/d 99 lembu/kerbau zakatnya 3 ekor ta-bi
-          100s/d 109 lembu /kerbau zakatnya 2 ekor ta-bi dan 1 ekor musinnah 
Zakat kerbau sama dengan zakat lembu, baik nishab maupun zakatnya
c.       Nishab dan zakat kambing
Orang yang memilki kambing 40 ekor wajibmengeluarkan zakatnya sebagai berikut:
-          40 sampai 120 ekor kambing zakatnya 1ekor
-          121 sampai 200 ekor kambing zakatnya 2ekor

7
-          201 sampai 300 ekor kambing zakatnya 3ekor
-          301 sampai 400 ekor kambing zakatnya 4ekor 
-          401 sampai 500 ekor kambing zakatnya 5ekor dan seterusnya tiap- tiap 100 ekor kambing
zakatnya 1ekor.
4.      Zakat hasil bumi 
Hasil bumi yang wajib dikeluarkan zakatnya yaitu yang dapat dijadikan makanan pokok
seperti: padi, jagung,gandum, dan sebagainya.Sedangkan buah- buahan yang wajib dikeluarkan
zakatnya ialah :gandum, Sya’r zabib dan kurma. Buah-buahan yang wajib dikeluarkan zakatnya
sebagaimana sabda Rasulullah Saw sebagai berikut:
ٍ ‫ص َدقَةٌ َحتَّى تَ ْبلَ َغ خَ ْم َسةَ أَوْ ُس‬
) ‫ (رواه مسلم‬. ‫ق‬ َ ‫لَي‬
َ ‫ْس فِى َحبٍّ َواَل تَ ُم ٍر‬
Artinya:
” Tidak ada sedekah(zakat ) pada biji dan kurma kecuali apabila mencapai lima
wasaq( 700kg).” (HR. Muslim)
Syarat-syarat wajib mengeluarkan zakat hasi bumi sebagai berikut:
-          Pemiliknya orang Islam 
-          Pemiliknya orang Islam yang merdeka
-          Milik sendiri
-          Sampai senishab 
Tidak disyaratkan setahun memilki tetapi wajib dikeluarkan zakatnya pada tiap-tiap
menuai/panen.
Nishab zakat hasil bumi ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw.:
. ‫ت ااْل َ ْنهَا ُر َوالَ ْغيَ ُم ْال ُع ُشوْ ُر فِ ْي َما ُسقِ َي بِا لسَّا نِيَ ِه نِصْ فُ ْال ُع ُش ِر‬
ِ َ‫ فِ ْي َما َسق‬: ‫صلَّى هللاُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم قَا َل‬
َ ‫ع َْن َجا بِ ٍر َع ِن النَّب ِِّي‬
)‫(رواه احمد ومسلم والناسى‬.
Artinya:
“Dari Jabir dari Nabi saw.: Beliau berkata: Pada biji yang dialiri dengan air sungai dan hujan,
zakatnya sepersepuluh, dan yang dialiri dengan kincir ditarik oleh binatang, zakatnya seperdua
puluh.” (HR. Ahmad Muslim dan Nasa’i).
Nishab hasil bumi yang sudah dibersihkan ialah 5 wasaq yaitu kira- kira 700 kg,sedang
yang masih berkulit nishabnya 10 wasaq= 1400 kg Zakatnya 10% (sepersepuluh ) jika diairi
dengan air hujan, air sungai, siraman air yang tidak dengan pembelian (perongkosan ). Jika diari
dengan air yanng diperoleh dengan pembelian maka zakatnya 5% (seperdua puluh ). Semua hasil

8
bumi yang sudah masuk, wajib dikeluarkan zakatnya, termasuk yang dikeluarkan untuk ongkos
menuai dan angkutan.
5.      Zakat barang tambang dan barang temuan
Hasil tambang yang wajib dikeluarkan zakatnya ialah emas dan perak yang diperoleh dari
hasil pertambangan. Rikaz ialah harta benda orang –orang purbakala yang berharga yang
ditemukan oleh orang –orang pada masa sekarang,wajib dikelurkan zakatnya. Barang rikaz itu
umumnya berupa emas dan perak atau benda logam lainnya yang berharga. 
Sabda Rasulullah saw.:
)‫از ْال ُخ ُمسُ (رواه لبخاري و مسلم‬ َ ِ‫ع َْن أَبِى هُ َر ْي َرةَ اَ َّن َرسُوْ َل هللا‬
ِ ‫ َو فِى ال ِّر َك‬: ‫صلَّى هللاُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم قَا َل‬
Artinya:
“Dari Abi Hurairah bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: “Dan pada rikaz simpanan orang-
orang zaman dahulu di dalam bumi itu, zakatnya seperlima.” (HR. Bukhari dan Muslim).5[9]
Syarat-syaratnya mengeluarkan zakat rikaz:
-          Orang Islam 
-          Orang merdeka
-          Milik Sendiri
-          Sampai nishabnya
Tidak perlu persyaratan harus dimilki selama 1 tahun. Nishab zakat barang tambang dan
barang temuan, dengan nishab emas dan perak yakni 20 mitsqa l = 96 gram untuk emas dan 200
dirham (672 gram ) untuk perak. Zakatnya masing-masing 2,5% atau seperempat puluh
·         Zakat fitrah 
Zakat fitrah dilihat dari komposisi kalimat yang membentuknya terdiri dari kata “zakat”
dan “fitrah”. Zakat secara umum sebagaimana dirumuskan oleh banyak ulama’ bahwa dia
merupakan hak tertentu yang diwajibkan oleh Allah terhadap harta kaum muslimin menurut
ukuran-ukuran tertentu (nishab dan khaul) yang diperuntukkan bagi fakir miskin dan para
mustahiq lainnya sebagai tanda syukur atas nikmat Allah swt. Dan untuk mendekatkan diri
kepada-Nya, serta untuk membersihkan diri dan hartanya. Dengan kata lain, zakat merupakan
kewajiban bagi seorang muslim yang berkelebihan rizki untuk menyisihkan sebagian dari
padanya untuk diberikan kepada saudara-saudara mereka yang sedang kekurangan. 
Sabda Rasulullah saw,:

9
َّ ‫ص َد قَةٌ ِكنَ ال‬
ِ ‫ص َد قَا‬
.‫ت‬ َّ ‫صالَ ِة فَهَ َى َز َكا ةٌ َم ْقبُوْ لَةٌ َو َم ْن أَ َّد هَا بَ ْع َد ال‬
َ ‫صالَ ِة فَهَ َى‬ َّ ‫َم ْن اَ َّدا هَا قَ ْب َل ال‬
Artinya:
“Barang siapa membayar fitrah sebelum shalat, maka itu adalah zakat yang makbul, akan tetapi
barang siapa membayarnya sesudah shalat Id maka merupakan shadaqah biasa.”
Sementara itu, fitrah dapat diartikan dengan suci sebagaimana hadits Rasul “kullu
mauludin yuladu ala al fitrah” (setiap anak Adam terlahir dalam keadaan suci) dan bisa juga
diartikan juga dengan ciptaan atau asal kejadian manusia.
Dari pengertian di atas dapat ditarik dua pengertian tentang zakat fitrah. Pertama, zakat
fitrah adalah zakat untuk kesucian. Artinya, zakat ini dikeluarkan untuk mensucikan orang yang
berpuasa dari ucapan atau perilaku yang tidak ada manfaatnya. Kedua, zakat fitrah adalah zakat
karena sebab ciptaan. Artinya bahwa zakat fitrah adalah zakat yang diwajibkan kepada setiap
orang yang dilahirkan ke dunia ini. Oleh karenanya zakat ini bisa juga disebut dengan zakat
badan atau pribadi.
Zakat fitrah ialah zakat pribadi yang harus dikeluarkan pada hari raya fitrah.
Seperti hadits Nabi saw.:
‫ث َوطُ ْع َمةً لِ ْل َم َسا ِك ْي ِن‬ ْ ِ‫صلَّى هللاُ َعلَ ْي ِه َو َسلَ ّم َم َز َكا ةَ ْالف‬
ِ َ‫ط ِر طُ ْه َرةً لِلصَّا ىِ ِم ِمنَ اللَّ ْغ ِو َوال َّر ف‬ َ ‫فَ َر‬
َ ِ‫ض َرسُوْ ُل هللا‬
Artinya:
“Rasulullah saw. mewajibkan zakat fitrah guna menyucikan orang yang berpuasa dari ucapan
dan perbuatan yang tidak baik dan guna makanan bagi para miskin.”6[10]
Yang wajib dizakati :
-          Untuk dirinya sendiri; tua,muda,baik laki- laki maupun perempuan 
-          Orang-orang yang hidup dibawah tanggungannya 
”Dari ibnu Umar ra,berkata ia: telah bersabda Rasulullah saw: Bayarlah zakat fithrah orang –
orang yang menjadi tanggunganmu.” (HR.Daruquthni dan Baihaqi).
Syarat-syarat wajib zakat fithrah :
-          Islam
-          Mempunyai kelebihan makanan untuk sehari semalam bagi seluruh keluarga pada waktu
terbenam matahari dari penghabisan bulan ramadhan 
-          Orang-orang yang bersangkutan hidup dikala matahari terbenam pada akhir bulan Ramadhan 
Zakat yang perlu dikeluarkan :

10
-          Zakat fithrah untuk tiap- tiap jiwa 1sha = 2,305 kg dibulatkan menjadi 2,5 kg dari beras atau
lainnya yang menjadi makanan pokok bagi penduduk negeri.Lebih utama dikeluarkan sebelum
shalat ’Idul Fithri. Boleh juga dikeluarkan semenjak permulaan bulan Ramadhan sebagai ta’jil 
Seperti yang tercantum dalam hadits nabi yaitu:
Dari Ibnu Umar ra, ia berkata: Rasulullah Saw telah mewajibkan zakat fithrah dengan kurma
satu sha atau dengan sya’ir satu sha atas hamba sahaya, orang merdeka, laki-laki,perempuan,
anak-anak, orang tua, dari golongan kaum muslimin dan beliau menyuruh zakat fithrah itu
ditunaikan sebelum orang-oranng keluar(selesai) shalat ’Ied Muttafaq ’alaih Dan dalam riwayat
Ibnu ’Ady dan Daraquthni dengan sanad yang lemah: ” Cukuplah mereka (orang –orang miskin)
jangan sampai berkeliling (mencari nafkah) pada hari itu (hari raya).
Untuk zakat fithrah dari seorang yang makanan pokoknya beras tidak boleh dikeluarkan
zakat dari jagung ,walaupun jagung termasuk makanan pokok tetapi, jagung nilainya lebih
rendah dari pada beras.
Dilihat dari aspek dasar penentuan kewajiban antara zakat fitrah dan zakat yang lain ada
perbedaan yang sangat mendasar. Zakat fitrah merupakan kewajiban yang bersumber pada
keberadaan pribadi-pribadi (badan), sementara zakat-zakat selain zakat fitrah adalah kewajiban
yang diperuntukkan karena keberadaan harta. Meskipun dalam hal pendistribusian zakat fitrah
terdapat perbedaan pendapat, yakni antara yang memperbolehkan dibagikan kepada seluruh
ashnaf yang delapan dan antara yang hanya memperbolehkan kepada fakir dan miskin, akan
tetapi apabila dilihat dari maqashid al syari’ah atau berbagai pertimbangan logis disyariatkannya
zakat fitrah, maka tampak bahwa yang paling mendekati ke arah sana adalah pendapat yang
hanya mengkhususkan zakat fitrah kepada fakir dan miskin. 
Amil zakat fitrah sebagaimana lazim disebut orang tidak bisa dikategorikan ke dalam
amil zakat. Sebab, panitia zakat fitrah hanya bersifat temporer, sementara amil bersifat jangka
panjang. Paniti zakat fitrah tidak bisa dijadikan sebagai sumber mata pencaharian sementara amil
diorientasikan sebagai lapangan pekerjaan yang sekaligus menjadi mata pencaharian bagi mereka
yang berkecimpung di sana.

D.    Orang yang berhak menerima zakat dan yang tidak berhak menerima zakat

11
Orang –orang yang berhak menerima zakat,telah ditentukan oleh Allah, sebagaimana
tersebut dalam Al-Qur’an yang artinya: 
“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin,
pengurus-pengurus zakat, Para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak,
orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam
perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi
Maha Bijaksana.” (QS. at-Taubah [9]: 60)
Dengan ayat Al-Qur’an tersebut dapat dijelaskan bahwa orang yang berhak menerima
zakat itu ialah sebagai berikut:
-          Fakir yaitu orang yaang tidak mempunyai harta atau usaha yang dapat menjamin 50%
kebutuhan hidupnya untuk sehari-hari.
-          Miskin yaitu orang yang mempunyai harta dan usaha yang dapat menghasilkanlebih dari 50%
untuk kebutuhan hidupnya tetapi tidak mencukupi.
-          ’Amil yaitu panitia zakat yang dapat dipercayakan untukmengumpulkan dan membagi-
bagikannya kepada yang berhak menerimanya sesuai dengan hukum Islam .
-          Muallaf yaitu orang yang baru masuk Islam dan belum kuat imannya dan jiwanya perlu
dibina agar bertambah kuat imannya supaya dapat meneruskan imannya.
-          Hamba sahaya yaitu yang mempunyai perjanjian akan dimerdekakan oleh tuan nya dengan
jalan menebus dirinya.
-          Gharimin yaitu orangyang berhutang untuksesuatu kepentingan yanng bukan maksiat dan ia
tidak sanggup untuk melunasinya.
-          Sabilillah yaitu orang yang berjuang dengan suka rela untuk menegakkan agama Allah.
-          Musafir yaitu orang yang kekurangan perbekalan dalam perjalanan dengan maksud baik,
seperti menuntut ilmu, menyiarkan agama dan sebagainya. 
Yang tidak berhak menerima zakat :
-          Orang kaya. Rasulullah bersabda, "Tidak halal mengambil sedekah (zakat) bagi orang yang
kaya dan orang yang mempunyai kekuatan tenaga." (HR Bukhari). 
-          Hamba sahaya, karena masih mendapat nafkah atau tanggungan dari tuannya. 
-          Keturunan Rasulullah. Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya tidak halal bagi kami (ahlul bait)
mengambil sedekah (zakat)." (HR Muslim).
-          Orang yang dalam tanggungan yang berzakat, misalnya anak dan istri. 

12
-          Orang kafir. 
E.       Hikmah Zakat
Adapun hikmah zakat itu adalah sebagai berikut:
1.      Zakat menjaga dan memelihara harta dari incaran mata dan tangan para pendosa dan pencuri.
Nabi saw bersabda:
‫ َواَ ِع ُّدوْ الِ ْلبَاَل ِءال ُّدعَا َء‬, ‫ص َد قَ ِة‬ َ ْ‫ َودَاوُوْ ا َمر‬. ‫صنُوْ ا أَلَ ُك ْم بِال َّز َكا ِة‬
َّ َ‫ضا ُك ْم بِال‬ ِّ ‫َح‬
Artinya:
“Peliharalah harta-harta kalian dengan zakat. Obatilah orang-orang sakit kalian dengan
sedekah. Dan persiapkanlah doa untuk (menghadapi) malapetaka.”
2.      Zakat merupakan pertolongan bagi orang-orang fakir dan orang-orang yang sangat
memerlukan bantuan.
Dalam sebuah hadits diriwayatkan sebagai berikut:
‫ا ُؤهُ ْم‬ººَ‫نَ ُع أَ ْغنِي‬º ‫ص‬
ْ َ‫ َولَ ْن يَ َجهَدَالفُقَ َرا ُءإِ َذا َجا ُعوْ اأَوْ َعرُوْ اإِاَّل بِ َما ي‬, ‫َرالَ ِذيْ يَ َس ُع فُقَ َرا َءهُ ْم‬ ْ
ِ ‫ض َعلَى أَ ْغنِيَا ِءأل ُم ْسلِ ِم ْينَ فَ ْي أَ ْم َوالِه ِْم بِقَد‬ َ ‫إِ َّن هللاَ فَ َر‬
‫أَاَل َوإِ َّن هللاَ يُ َحا ِسبُهُ ْم ِح َسابًا َش َد ْيدًا َويُ َع ِّذ بَهُ ْم َع َذابًاأَلِ ْي ًما‬

Artinya:
“Sesungguhnya Allah Swt. mewajibkan orang-orang Muslim yangkaya untuk (menafkahkan)
harta-harta mereka dengan kadar yang mencukupi orang-orang Muslim yang fakir. Sungguh,
orang-orang fakir sekali-kali tidak akan lapar atau bertelanjang kecuali karena perbuatan
orang-orang yang kaya. Ketahuilah. Sesungguhnya Allah wt. akan menghisab mereka dengan
hisab yang keras dan menyiksa mereka dengan siksaan pedih.”
3.      Zakat menyucikan jiwa dari penyakit kikir dan bakhil.
4.      Zakat diwajibkan sebagai ungkapan syukur atas nikmat harta yang telah dititipkan kepada
seseorang.

13
BAB II
ADAB MENJENGUK ORANG SAKIT

Berkunjung kepada orang yang sedang sakit mempunyai keutamaan, seperti yang
dijelaskan oleh Rasulullah SAW:

‫َم ْن عَا َد َم ِر ْيضًا لَ ْم يَ َزلْ فِي ُخرْ فَ ِة ْال َجنَّ ِة َحتَّى يَرْ ِج َع‬

"Barangsiapa yang menjenguk orang yang sedang sakit, maka dia senantiasa berada
pada petikan buah kurma di dalam surga sampai dia pulang"

14
‫ أَ َما َعلِ ْمتَ أَ َّن‬:‫ال‬َ َ‫ َربِّي َك ْيفَ أَ ُعوْ ُدكَ َوأَ ْنتَ َربُّ ْال َعالَ ِم ْينَ ؟ ق‬:‫ قَا َل‬.‫ت فَلَ ْم تَ ُع ْدنِي‬
ُ ْ‫ يَا ا ْبنَ آ َد َم َم ِرض‬:‫إِ َّن هللاَ َع َّز َو َج َّل يَقُوْ ُل يَوْ َم ْالقِيَا َم ِة‬
ُ‫ض فَلَ ْم تَ ُع ْدهُ أَ َما إِنَّك َلَوْ ُع ْدتَهُ لَ َو َج ْدتَنِي ِع ْن َده‬
َ ‫ َع ْب ِدي فُالَنًا َم ِر‬...

"Sesungguhnya Allah SWT berkata pada hari kiamat: Wahai anak Adam! Aku telah
sakit namun kamu tidak menjengukKu. Anak Adam bertanya: "Bagaimanakah aku
menjengukMu karena Engkau adalah Tuhan semesta alam". Allah menegaskan: Tidakkah
engkau mengetahui bahwa hambaKu fulan sedang sakit namun engkau tidak menjenguknya,
Seandainya engkau menjenguknya niscaya engkau akan mendapatkan Aku padanya…".7

Dari Ali RA berkata: Aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda:

‫ك َحتَّى‬ ٍ َ‫ى َعلَ ْي ِه َس ْبعُوْ نَ أَ ْلفَ َمل‬ َ ً‫س َغ َم َر ْتهُ الرَّحْ َمةُ فَإ ِ َذا َكانَ ُغ ْد َوة‬
َّ ‫صل‬ َ ِ‫َم ْن أَتَى أَخَاهُ عَائِدًا َم َشى فَي ُخ َرافَ ِة ْال َجنَّ ِة َحتَّى يَجْ ل‬
َ َ‫س فَإ ِ َذا َجل‬
ٍ َ‫ى َعلَ ْي ِه َس ْبعُوْ نَ أَ ْلفَ َمل‬
‫ك َحتَّى يُصْ بِ َح‬ َّ ‫صل‬ َ ‫يُ ْم ِس َي َوإِ ْن َكانَ َم َسا ًء‬

"Barangsiapa yang menjenguk saudaranya, maka dia senantiasa berjalan pada petikan
buah surga sampai dia duduk, apabila dia sudah duduk maka rahmat akan tercurah baginya,
dan jika berkunjungnya pada saat pagi tujupuluh ribu malaikat berdo'a baginya sampai sore,
dan jika berkunjungnya pada waktu sore maka tujuhpuluh ribu malaikat berdo'a baginya
sampai waktu pagi".

A. ADAPUN ADAB-ADAB MENJEGUK ORANG SAKIT

Adapun adab-adab menjeguk orang sakit adalah Sebagai berikut:


1. Hendaknya dalam mengunjungi orang yang sakit diiringi dengan niat yang ikhlas dan tujuan
yang baik. Seperti misalnya yang dikunjunginya adalah seorang ulama atau teman yang
shalih, atau engkau mengunjunginya dalam rangka untuk beramar ma’ruf atau mencegah
kemunkaran yang dilakukan dengan lemah lembut atau dengan tujuan memenuhi hajatnya
atau untuk melunasi hutangnya, atau untuk meluruskan agamanya atau untuk mengetahui
tentang keadaannya. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‫ا َد‬ºَ‫َم ْن ع‬
ْ
ِ ‫وَّأتَ ِمنَ ْال َجنَّ ِة َم ْن‬ºººَ‫اكَ َوتَب‬ººº‫اب َم ْم َش‬ººº
ً‫زال‬ººº َ َ‫أ َ ْن ِطبْتَ َوط‬ºººِ‫ا ٍد ب‬ºººَ‫ادَاهُ ُمن‬ºººَ‫بِ ْي ِل هللاِ ن‬ººº‫هُ فِي هللاِ أَيْ فِ ْي َس‬ºººَ‫ا ً ل‬ººº‫ا ً أَوْ زَ ا َر أَخ‬ººº‫َم ِريْض‬

“Barangsiapa mengunjungi orang yang sakit atau mengunjungi saudaranya karena Allah atau
di jalan Allah, akan ada yang menyeru kepadanya, ‘Engkau telah berlaku mulia dan mulia
pula langkahmu (dalam mengunjunginya), serta akan kau tempati rumah di Surga.” [HR. At-
Tirmidzi no. 2008, Ibnu Majah no. 1433, hasan. Lihat Misykaatul Mashaabih no. 5015 oleh
Imam al-Albani]

15
2. Hendaknya memperhatikan situasi dan kondisi yang sesuai ketika hendak menjenguk.
Janganlah memberatkan orang yang dijenguk dan pilihlah waktu yang tepat. Jika orang yang
sakit dirawat di rumah hendaknya meminta izin terlebih dahulu sebelum menjenguknya,
mengetuk pintu rumahnya dengan pelan, menundukkan pandangannya, menyebutkan perihal
dirinya, dan tidak berlama-lama karena bisa jadi itu dapat membuatnya lelah.

3. Hendaknya orang yang menjenguk mendo’akan orang yang sakit dengan kesembuhan dan
kesehatan. Hal ini berdasarkan hadits berikut ini:

َ ْ‫ الَ بَأ‬:‫إِ َذا َدخَ َل َعلَى َم ْن يَعُوْ ُد قَا َل‬.


ُ‫س طَهُوْ ٌر إِ ْن َشا َء هللا‬

“Apabila beliau mengunjungi orang yang sakit, beliau berkata, ‘laa ba’-sa thahuurun insyaa
Allaah (tidak mengapa semoga sakitmu ini membuat dosamu bersih, insya Allah).’” [HR. Al-
Bukhari no. 5656]

4. Mengusap bagian yang sakit dengan tangan kanan dan mengucapkan:

ً ‫ف أَ ْنتَ ال َّشافِ ْي الَ ِشفَا َء إِالَّ ِشفَا ُؤكَ ِشفَا ًء الَ يُغَا ِد ُر َسقَما‬ َ ْ‫ب ْالبَأ‬
ِ ‫س َوا ْش‬ ِ ‫اس أَ ْذ ِه‬
ِ َّ‫اللَّهُ َّم َربَّ الن‬.

“Ya Allah, Rabb pemelihara manusia, hilangkanlah penyakit ini dan sembuhkanlah, Engkau-
lah Yang Mahamenyembuhkan, tidak ada kesembuhan melainkan hanya kesembuhan dari-
Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan sedikitpun penyakit.” [HR. Al-Bukhari no. 5743
dan Muslim no. 2191 (46). Dan lafazh seperti ini berdasarkan riwayat Muslim]
5. Hendaknya menundukkan pandangan (tidak menatap dengan tajam), sedikit bertanya,
menunjukkan belas kasih kepada yang sakit, menasehatinya untuk senantiasa bersabar
terhadap penderitaan sakitnya karena hal itu mengandung pahala yang besar dan
mengingatkan agar tidak berkeluh kesah karena hal tersebut hanya akan menimbulkan dosa
dan menghilangkan pahala.
6. Apabila melihat orang yang tertimpa cobaan musibah dan penyakit hendaklah berdo’a dengan
suara yang pelan untuk keselamatan dirinya, do’a tersebut adalah:

ِ ‫ق تَ ْف‬
ً‫ ْيال‬º‫ض‬ َ ºَ‫ر ِم َّم ْن َخل‬º َّ َ‫ ِه َوف‬ºِ‫انِ ْي ِم َّما ا ْبتَالَكَ ب‬ººَ‫ ُد ِهللِ الَّ ِذيْ عَاف‬º‫اَ ْل َح ْم‬. “Segala puji bagi Allah Yang
ٍ º‫لَنِ ْي َعلَى َكثِ ْي‬º‫ض‬
menyelamatkan aku dari musibah yang Allah timpakan kepadamu. Dan Allah telah
memberikan kemuliaan kepadaku melebihi orang banyak.” [HR. At-Tirmidzi no. 3431 dan
Ibnu Majah no. 3892. Lihat Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah no. 602]

B. Adab-Adab Bagi Orang Sakit

16
1. Selayaknya bagi yang terkena musibah baik yang terkena itu dirinya, anaknya atau selainnya
untuk mengganti ucapan mengaduh pada saat sakit dengan berdzikir, istighfar dan ta’abbud
(beribadah) kepada Allah, karena sesungguhnya generasi Salaf -semoga Allah memberikan
rahmat kepada mereka- tidak suka mengeluh kepada manusia, karena meskipun mengeluh itu
membuat sedikit nyaman, namun mencerminkan kelemahan dan ketidakberdayaan
sedangkan bila mampu bersabar dalam menghadapi kondisi sakit tersebut, maka hal itu
menunjukkan pada kekuatan pengharapan pada Allah dan kemuliaan.
2. Bagi orang yang sakit boleh untuk mengadu kepada dokter atau orang yang dapat dipercaya
tentang sakit dan derita yang dialaminya, selama itu bukan karena kesal maupun keluh kesah.
3. Hendaknya meletakkan tangannya pada bagian yang sakit kemudian mengucapkan do’a dari
hadits (yang shahih) seperti: ِ‫بِس ِْم هللا‬. “Dengan menyebut Nama Allah (tiga kali).” Kemudian
mengucapkan sebanyak tujuh kali: ‫أَ ُعوْ ُذ بِاهللِ َوقُ ْد َرتِ ِه ِم ْن َشرِّ َما أَ ِج ُد َوأُ َحا ِذ ُر‬. “Aku berlindung kepada
Allah dan kepada kekuasaan-Nya dari keburukan apa yang aku temui dan aku hindari.” [HR.
Muslim no. 2022 (67)]
4. Berusaha untuk meminta kehalalan atas barang-barang yang masih menjadi tanggungannya,
barang yang menjadi hutangnya atau yang pernah dirampas dari pemiliknya, menuliskan
wasiat dengan menjelaskan apa-apa yang merupakan miliknya, hak-hak manusia yang harus
dipenuhinya, juga wajib baginya untuk mewasiatkan harta-harta yang bukan merupakan
bagian dari warisannya, tanpa merugikan hak-hak warisnya.
5. Tidak boleh menggantungkan jampi-jampi, jimat-jimat, dan semua yang mengandung
kesyirikan. Namun disyari’atkan baginya untuk mengobati sakitnya dengan ruqyah dan do’a-
do’a yang disyari’atkan (do’a dari al-Qur-an dan as-Sunnah).
6. Hendaknya bersegera untuk bertaubat secara sungguh-sungguh dengan memenuhi syarat-
syaratnya[4] dan senantiasa memperbanyak amalan shalih.
7. Bagi orang yang sakit hendaknya berhusnuzhzhan (berprasangka baik) kepada Allah dan
berusaha mendekatkan diri kepada-Nya dengan menggabungkan antara takut dan
pengharapan, serta disertai amalan yang ikhlas. Hal ini berda-sarkan sabda Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam: ِ‫الَ يَ ُموْ ت ََّن أَ َح ُد ُك ْم إِالَّ َوهُ َو يُحْ ِسنُ الظَّنَ بِاهلل‬. “Janganlah seorang di antara
(menginginkan) kematian kecuali dalam keadaan berprasangka baik kepada Allah.” [HR.
Muslim no. 2877, Abu Dawud no. 3113]

17
BAB III
FARDU KIFAH

A. PENGURUSAN JENAZAH
Pengurusan jenazah hendaknya dilakukan secepatnya,karena sesungguhnya dalam
pengurusan jenazah tidak boleh ditunda-tunda. Sebagaimana sabda Rasullah saw:

Dari Abu Hurairah,berkata Nabi saw: “Hak seorang Islam atas orang islam yang lain
adalah lima, yaitu: 1) Menjawab salam, 2) menengok orang sakit, 3) mengantarkan jenazah,
4) mengabulkan undangan, 5) mendo’akan orang yang bersin.” ( Riwayat Bukhari Muslim )

18
Apabila seorang muslim meninggal,maka fardhu kifayah ( kewajiban ditujukan kepada orang
banyak,apabila sebagian dari mereka telah mengejarkannya maka terlepaslah yang lain dari
kewajibannya itu,akan tetapi jika tak ada seorang pun yang mengerjakannya,maka mereka
berdosa semuanya ) atas orang hidup menyelenggarakan 4 perkara,diantaranya:

1. Memandikan Jenazah
2. Mengafani Jenazah
3. Menyalatkan Jenazah
4. Menguburkan jenazah

B. MEMANDIKAN JENAZAH

Syarat wajib bagi jenazah yang dimandikan:

 Orang islam
 Didapatinya tubuhnya walaupun sedikit
 Mayat itu bukan mayat mati syahid

Cara memandikan jenazah:
 Diletakkannya mayat di tempat yang tinggi ( seperti balai-balai, di tempat yang
sunyi,tidak ada orang selain orang yang memandikan )
 Pakainnya diganti dengan kain basahan (kain mandi ), sebaiknya memakai kain
sarung supaya auratnya tidak mudah terlihat.
 Sesudah diletakkan di atas balai-balai, kemudian didudukkan dan disandarkan
punggungnya pada sesuatu
 Kemudian disapu perut dengan tangannya, dan ditekankan sedikit supaya keluar
kotorannya.
 Dibasuh dengan air dan haruman agar menghilangkan bau kotoran yang keluar
 Lalu mayat ditelentangkan,lantas duburnya dibersihkan dengan tangan kiri yang
memakai sarung tangan
 Setelah itu dimasukkan anak jari kiri ke mulutnya,digosok giginya, dibersihkan
mulutnya,dan di wudhu’kan
 Selanjutnya,dibasuh kepala,janggut dan disisir rambut dan janggutnya perlahan-
lahan. ( jika rambutnya tercabut,hendaklah dicampurkan kembali ketika
mengafani )
 Lantas dibasuh sebelah kanannya, kemudian sebelah kirinya,kemudian
dibaringkan sebelah kirinya,dan sebaliknya. Sebanyak satu kali,tetapi disunahkan
tiga kali
 Kemudian mayat diwudhukan.

Adapun air yang digunakan untuk memandikan jenazah adalah air dingin, kecuali jika
berhajat pada air panas atu karena sulit menghilangkan kotoran,memakai sabun selain pembasuh
penghabisan,dan air basuhan penghabisan sebaiknya dicampur dengan kapur barus sedikit atau
harum-haruman yang lain.

19
Sebagaimana sabda Rasullah saw:

Dari Ibnu Abbas, ia berkata: Tatkala seorang laki-laki jatuh dari kendaraannya lalu ia
meninggal, sabda beliau: “Mandikanlah dia dengan air serta daun bidara ( atau dengan
sesuatu yang menghilangkan daki seperti sabun )” ( Riwayat Bukhari dan Muslim )

Berikut ini yang berhak memandikan jenazah:

1. mayat laki-laki,dimandikan oleh laki-laki dan sebaliknya. Terkecuali suami atau


muhrimnya
2. bila meninggal seorang perempuan,dan ditempat itu tidak ada perempuan
suami,atau muhrimnya pun tidak ada,maka mayat itu hendaklah “ ditayamumkan
“ saja,dan sebaliknya
3. keluarga terdekat kepada mayat kalau mengetahui akan kewajiban mandi serta
dipercayai

C. MENGKAFANI JENAZAH

Hukum mengafani mayat adalah “ fardhu kifayah “ atas orang hidup. Kain

Kafan sekurang-kurangnya selapis kain yang menutupi sekalian badan mayat,baik mayat laki-
laki maupun perempuan. Sebaiknya untuk laki-laki tiga lapis, sedangkan untuk perempuan lima
lapis.

Cara mengafani jenazah:

1. Dihamparkan sehelai-helai dan ditaburkan diatas tiap-tiap lapis itu harum-haruman

seperti kapur barus dan sebagainya

2. Kedua tangannya diletakkan di atas dadanya,tangan kanan di atas tangan kiri, atau kedua

tangan itu diluruskan menurut lambungnya ( rusuknya )

Diriwayatkan:

Dari ‘Aisyah: “ Rasullah saw, dikafani dengan tiga lapis kain putih bersih yang
terbuat dari kapas,tidak ada dalamnya baju dan tiada pula serban.” ( sepakat para
ahli hadist )

Adapun mayat perempuan sebaiknya dikafani dengan lima lembar basahan ( kain
bawah ), baju, tutup kepala, kerudung ( cadar ) dan kain yang menutupi sekalian
badannya.

20
3. Dipakaikan kain basahan,baju, tutup kepala, lalu kerudung

4. Kemudian dimasukkan ke dalam kain yang menutupi sekalian badannya,di antara

beberapa lapisan kain tadi sebaiknya diberi harum-haruman sperti kapur barus. Kecuali
itu, orang yang mati sedang dalam ihram haji atau umrah, tidak boleh diberi harum-
haruman dan jangan ditutup pula kepalanya.

5. Setelah kain kafan dibungkuskan, lalu diikat simpul hidup dibagian ujung kepala, di

dada, pinggang dan ujung kaki.

D. MENYALATKAN JENAZAH

Sabda Rasullah saw :

“ Shalatkanlah olehmu akan orang-orang yang mati “ ( Riwayat Ibnu Majah )

Syarat menyalatkan jenazah:

1. Syarat-syarat shalat yang juga menjadi shalat jenazah,


seperti meutup aurat, suci badan dan pikiran, dan menghadap ke kiblat.

2. Sesudah mayat dimandikan dan dikafani.


3. Letak jenazah mayat itu di sebelah kiblat orang yang menyalatkan (disunahkan
bagi imam dan orang yang shalat sendiri, berdiri di arah kepala mayat jika mayat
itu laki-laki atau di arah tengah (pinggang) jika mayat itu mayat perempuan),
kecuali kalau shalat itu di atas kubur atau shalat ghaib.

Cara shalat jenazah:

1. Niat, sebagaimana shalat yang lain.


2. Takbir empat kali dengan takbiratul-ihram
3. Membaca Al-Fatihah sesudah takbiratul-ihram.
4. Membaca shalawat atas Nabi saw, sesudah takbir kedua
5. Mendo’akan jenazah sesudah takbir ketiga.

Allaahummaghfir lahu(ha) warhamhu(ha) wa’aafihii(haa) wa’fu ‘anhu(ha)


wa akrim nuzulahu(ha) wawassi’ madkhalahu(ha) waghsilhu bimaain, wa tsaljin,
wa baradin, wa naqqihi minal khataayaa kamaa yunaqqat saubul abyadhu(ha)
minad danasi wa adilhu(ha) daaran khairan min daarihii wa ahlan khairan min
ahlihii waqihii fitnatal qabri wa ‘adzaabannaari.

21
( Dari ‘Auf bin Malik, katanya: “ Nabi saw. telah menyalatkan jenazah, saya dengar
beliau membaca: Ya Allah, ampunilah ia, dan kasihanilah ia, sejahterakanlah ia,dan
maafkanlah kesalahannya, hormatilah kedatangannya, dan luaskan tempat diamnya,
bersihkanlah ia dengan air, es, dan embun, bersihkanlah ia dari dosa sebagaimana kain
putih dibersihkan dari kotoran, gantilah rumahnya dengan rumah yang lebih baik dari
rumahnya yang dulu, dan gantilah ahli keluarganya yang lebih daripada ahli
keluarganya yang dahulu, dan peliharalah ia dari huru-hara kubur dan siksaan api
neraka” ( Riwayat Muslim) )

Do’a sesudah takbir keempat:


Allaahumma laa tahrimnaa ajrahu(ha) walaa taftinaa ba’dahu(ha) waghfir lanaa
walahu(ha).

6. Berdiri jika kuasa.


7. Memberi salam.

Beberapa sunah shalat jenazah:


1. Mengangkat tangan pada saat mengucapkan takbir-takbir tersebut ( takbir empat
kali )
2. Israr ( merendahkan suara bacaan )
3. Membaca ta’awudz.

E. MENGUBUR JENAZAH

Sesudah mayat dimandikan, dikafani, dan disalatkan lalu dibawa ke kubur, dipikul pada
empat penjuru; berjalan membawajenazah itu dengan segera.

Kewajiban yang keempat terhadap jenazah adalah menguburkan jenazah. Hukum


menanamkan jenazah adalah fardhu kifayah atas yang hidup. Dalamnya kubur sekurang-
kurangnya kira-kira tidak tercium bau busuk jenazah itu dari atas kubur dan tidak dapat digali
oleh binatang buas, karena maksud menguburkan jenazah adalah menjaga kehormatan jenazah
itu dan menjaga kesehatan orang-orang yang ada disekitar tempat itu.

Lubang kubur disunahkan memakai lubang lahad ( relung di lubang kubur tempat
meletakkan jenazah, kemudian ditutup dengan papan, bamboo, atau sebagaimanya). Kalau tanah
pekuburan itu keras; tetapi jika tanah pekuburan tidak keras,mudah runtuh, seperti yang
bercampur dengan pasir, maka lebih baik dibuatkan lubang tanah( lubang kecil di tengah-tengah
kubur kira-kira cukup untuk jenazah saja, kemudian ditutup dengan papan atau sebagaimana ).

22
Sesampainya jenazah di kubur, hendaklah diletakkan kepalanya disisi kaki kubur, lalu
diangkat ke dalam lahad atau lubang tengah, dimiringkan ke sebelah kanannya menghadap
kiblat. Ketika meletakkan jenazah ke dalam kubur, disunahkan membaca:

Bismillaahi wa-‘alaa millati Rasuulillaah.

( Dengan nama Allah dan atas agama Rasullah.( Riwayat Tirmidzi dan Abu Daud ) )

Beberapa sunah yang bersangkutan dengan kubur:

1. Ketika memasukkan jenazah ke kubur, sunah menutup di atasnya kain atau sebagainya
kalau jenazah itu perempuan
2. Kubur itu sunah ditinggikan dari tanah biasa, sekedar sejengkal agar diketahui.
3. Kubur lebih baik didatarkan daripada dimuncungkan
4. Menandai kubur dengan batu atau sebagainya disebelah kepalanya.
5. Menaruh kerikil di atas kubur
6. Menaruh pelepah basah di atas kubur
7. Menyiram kubur dengan air.
8. Sesudah mayat dikuburkan,disunahkan bagi yang mengantarkannya berhenti sebentar
untuk mendo’akannya ( memintakan ampun supaya ia mempunyai keteguhan dalam
penjawaban-penjawabannya ).

Larangan yang bersangkutan dengan kubur:

1. Menembok kubur
2. Duduk diatasnya
3. Membuat rumah diatasnya ( kecuali jika sudah dipindahkan kuburannya )

BAB IV
DOA BERKAITAN DENGAN MAYAT

1. NIAT MEMANDIKAN JENAZAH

a. Untuk jenazah laki-laki

‫ت ِهللِ تَ َعالَى‬ ْ ‫ْت ْال ُغ ْس َل اَدَا ًء ع َْن ه َذ‬


ِ ِّ‫اال َمي‬ ُ ‫نَ َوي‬

23
Arab latin: Nawaitul ghusla adaa'an haa-dzal mayyiti lillahi ta'aala

Artinya: "Saya niat memandikan untuk memenuhi kewajiban dari mayit (laki-laki) ini karena
Allah Ta'ala."

b. Untuk jenazah perempuan

‫ْت ْال ُغ ْس َل اَدَا ًء ع َْن ه ِذ ِه ْال َميِّتَ ِة ِهللِ تَ َعالَى‬


ُ ‫نَ َوي‬

Arab latin: Nawaitul ghusla adaa'an 'an haadzihil mayyitati lillaahi ta'aala

Artinya: "Saya niat memandikan untuk memenuhi kewajiban dari mayit (perempuan) ini di
karenakan Allah Ta'ala."

2. DOA SETELAH MENGAFANI JENAZAH

Sebelum jenazah dishalati, ia wajib dimandikan dan dikafani terlebih dahulu. Ketika kita sudah
selesai mengafani jenazah, dan semuanya sudah terlihat rapi, maka kita dianjurkan memanjatkan
doa sebagai berikut;

ُ ‫ َو َج ِّم ْلهُ بِ ُدفَا ٍن َما َدفَ ْن‬,‫اس التَقَوى‬


‫ت إِلَ ْي ِه‬ ِ َ‫طهَ َر هَ َذا ال ُد ْفنُ َو أَ ْلبِ ْسهُ بِلِب‬
َ ‫اللَّهُ َّم طَهِّرْ هُ َك َما‬

Allohumma thohhirhu kama thoharo  hazad dufnu wa albishu bi libasit taqwa wa jammilhu bi
dufanin ma dafantu ilaihi.

“Ya Allah, sucikanlah jenazah ini dari dosa sebagaimana sucinya kain kafan ini, dan berilah ia
pakaian dengan pakaian taqwa, dan indahkan dia dengan pakaian yang aku pakaikan
kepadanya.”

3. DOA MENYOLATKAN JENAZAH

24
25
26
27
28
4. DOA MENGUBURKAN JENAZAH

Doa adalah sesuatu yang kita panjatkan kepada Allah SWT dan berharap Allah SWT
mengabulkannya. Saat memakamkan jenazah ke liang kuburnya dan juga sebelum dan
sesusahnya, seorang muslim hendaknya membacakan doa untuknya. Sebagaimana yang
disebutkan dalam hadits berikut ini mengenai doa menguburkan jenazah (baca juga keutamaan
doa khanzul arasyi dan keutamaan doa nurbuat yang luar biasa)

“Mohonkanlah ampun untuk saudara kalian dan mintalah kekuatan untuknya karena
sesungguhnya dia sekarang sedang ditanya.” (HR. Abu Dawud, dari ‘Utsman bin Affan, dan
dishahihkan Al-Albani)

 Doa Setelah Shalat Jenazah

Sebelum dimakamkan, jenazah terlebih dahulu dishalatkan dan setelah shalat jenazah selesai


dibacakan doa sebagai berikut

َ‫ َونَقِّ ِه ِمنَ ْالخَ طَايَا َك َما نَقَّيْت‬،‫ج َو ْالبَ َر ِد‬


ِ ‫ َوا ْغ ِس ْلهُ بِ ْال َما ِء َوالثَّ ْل‬،ُ‫ َو َو ِّس ْع َم ْد َخلَه‬،ُ‫ َوأَ ْك ِر ْم نُ ُزلَه‬،ُ‫اَللَّهُ َّم ا ْغفِرْ لَهُ َوارْ َح ْمهُ َوعَافِ ِه َواعْفُ َع ْنه‬
‫ َوأ ِعذهُ ِم ْن‬،َ‫ َوأ ْد ِخلهُ ال َجنة‬،‫ َوزَ وْ جًا َخ ْيرًا ِم ْن زَ وْ ِج ِه‬،‫ َوأَ ْهالً َخ ْيرًا ِم ْن أَ ْهلِ ِه‬،‫َار ِه‬
ْ َ َّ ْ ْ َ ِ ‫ َوأَ ْب ِد ْلهُ دَارًا خَ ْيرًا ِم ْن د‬،‫َس‬
ِ ‫ض ِمنَ ال َّدن‬ َ َ‫ب ْاألَ ْبي‬
َ ْ‫الثَّو‬
ِ َّ‫ب الن‬
]‫ار‬ َ ‫ب ْالقَب ِْر‬
ِ ‫[و َع َذا‬ ِ ‫ َع َذا‬ 

“Ya Allah! Ampunilah dia (mayat) berilah rahmat kepadanya, selamatkanlah dia (dari beberapa
hal yang tidak disukai), maafkanlah dia dan tempatkanlah di tempat yang mulia (Surga),
luaskan kuburannya, mandikan dia dengan air salju dan air es. Bersihkan dia dari segala
kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan baju yang putih dari kotoran, berilah rumah
yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah keluarga (atau istri di Surga) yang lebih baik
daripada keluarganya (di dunia), istri (atau suami) yang lebih baik daripada istrinya (atau
suaminya), dan masukkan dia ke Surga, jagalah dia dari siksa kubur dan Neraka.” [HR. Muslim
2/663]

 Doa Apabila jenazah adalah anak kecil

Saat menguburkan jenazah yang masih anak-anak ada doa yang bisa dibaca dan dipanjatkan
setelah shalat jenazah maupun sebelum memasukkannya dalam liang kubur. (baca juga cara
mendidik anak yang baik dalam islam dan mendidik anak  dalam islam sejak dini).  Adapun doa
tersebut berbunyi

ً‫ َوأَ ْهال‬،‫َار ِه‬


ِ ‫ َوأَ ْب ِد ْلهُ دَارًا َخ ْيرًا ِم ْن د‬،‫اب ْال َج ِحي ِْم‬
َ ‫ َوقِ ِه بِ َرحْ َمتِكَ َع َذ‬،‫ َواجْ َع ْلهُ فِ ْي َكفَالَ ِة إِب َْرا ِه ْي َم‬º، َ‫ح ْال ُم ْؤ ِمنِ ْين‬ َ ِ‫ َوأَ ْل ِح ْقهُ ب‬،‫أُجُوْ َرهُ َما‬
ِ ِ‫صال‬
‫اطنَا َو َم ْن َسبَقَنَا بِاْ ِإل ْي َما ِن‬ِ ‫ َوأَ ْف َر‬،‫ اَللَّهُ َّم ا ْغفِرْ ألَ ْسالَفِنَا‬،‫خَ ْيرًا ِم ْن أَ ْهلِ ِه‬. 

Ya Allah! Jadikanlah kematian anak ini sebagai pahala pendahulu dan simpanan bagi kedua
orang tuanya dan pemberi syafaat yang dikabulkan doanya. Ya Allah! Dengan musibah ini,
beratkanlah timbangan perbuatan mereka dan berilah pahala yang agung. Anak ini kumpulkan

29
dengan orang-orang yang shalih dan jadikanlah dia dipelihara oleh Nabi Ibrahim. Peliharalah
dia dengan rahmatMu dari siksaan Neraka Jahim. Berilah rumah yang lebih baik dari
rumahnya (di dunia), berilah keluarga (di Surga) yang lebih baik daripada keluarganya (di
dunia). Ya Allah, ampunilah pendahulu-pendahulu kami, anak-anak kami, dan orang-orang
yang mendahului kami dalam keimanan” [Lihat Al-Mughni, karya Ibnu Qudamah 3/416 dan Ad-
Durusul Muhimmah li ‘Aammatil Ummah, oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz,
halaman 15.

 Doa saat memasukkan jenazah keliang kubur

Saat memasukkan jenazah kedalam kubur ada doa yang disunahkan untuk dibaca terutama bagi
yang meletakkan jenazah dalam lianglahatnya. Bacaan doa tersebut adalah sebagai berikut 
ِ‫بِس ِْم هللاِ َو َعلَى ُسنَّ ِة َرسُوْ ِل هللا‬. 
Bismillaahi wa ‘alaa sunnati Rasulillaah. artinya, “Dengan nama Allah dan di atas petunjuk
Rasulullah” [HR. Abu Dawud 3/314 dengan sanad yang shahih. Untuk Imam Ahmad
meriwayatkan sebagai berikut: “Bismillaah wa ‘alaa millati Rasulillaah”, sedang sanadnya
shahih.]

 Doa setelah jenazah dimakamkan

Setelah jenazah dimakamkan maka pengiring atau orang-orang yang ikut mengantarkan jenazah
ke pemakaman sebaiknya juga membaca doa berikut ini

ُ‫اَللَّهُ َّم ا ْغفِرْ لَهُ اَللَّهُ َّم ثَبِّ ْته‬.

Ya Allah, ampunilah dia, ya Allah teguhkanlah dia. [Adalah Nabi Shallallahu’alaihi wasallam


apabila selesai memakamkan mayat, beliau berdiri di atasnya lalu bersabda: “Mintalah ampun
kepada Allah untuk saudaramu, dan mohonkan agar dia teguh dan tahan hati (ketika ditanya oleh
dua malaikat), sesungguhnya dia sekarang ditanya.” HR. Abu Dawud 3/315 dan Al- Hakim, ia
menshahihkannya dan disepakati oleh Adz-Dzahabi 1/370.]

30
BAB V
HAID DAN NIFAS

A. HAID

Haidh atau haid (dalam ejaan bahasa Indonesia) adalah darah yang keluar dari rahim seorang
wanita pada waktu-waktu tertentu yang bukan karena disebabkan oleh suatu penyakit atau karena
adanya proses persalinan, dimana keluarnya darah itu merupakan sunnatullah yang telah
ditetapkan oleh Allah kepada seorang wanita. Sifat darah ini berwarna merah kehitaman yang
kental, keluar dalam jangka waktu tertentu, bersifat panas, dan memiliki bau yang khas atau
tidak sedap.

Haid adalah sesuatu yang normal terjadi pada seorang wanita, dan pada setiap wanita
kebiasaannya pun berbeda-beda. Ada yang ketika keluar haid ini disertai dengan rasa sakit pada
bagian pinggul, namun ada yang tidak merasakan sakit. Ada yang lama haidnya 3 hari, ada pula
yang lebih dari 10 hari. Ada yang ketika keluar didahului dengan lendir kuning kecoklatan, ada
pula yang langsung berupa darah merah yang kental. Dan pada setiap kondisi inilah yang harus
dikenali oleh setiap wanita, karena dengan mengenali masa dan karakteristik darah haid inilah
akar dimana seorang wanita dapat membedakannya dengan darah-darah lain yang keluar
kemudian.

Wanita yang haid tidak dibolehkan untuk shalat, puasa, thawaf, menyentuh mushaf, dan
berhubungan intim dengan suami pada kemaluannya. Namun ia diperbolehkan membaca Al-
Qur’an dengan tanpa menyentuh mushaf langsung (boleh dengan pembatas atau dengan
menggunakan media elektronik seperti komputer, ponsel, ipad, dll), berdzikir, dan boleh
melayani atau bermesraan dengan suaminya kecuali pada kemaluannya.

Allah Ta’ala berfirman:

ُ ‫أْتُوه َُّن ِم ْن َحي‬ººَ‫إ ِ َذا تَطَهَّرْ نَ ف‬ºَ‫رْ نَ ف‬ººُ‫طه‬


‫ْث‬ ْ َ‫وه َُّن َحتَّ َى ي‬ººُ‫يض َوالَ تَ ْق َرب‬
ِ ‫اء فِي ْال َم ِح‬º‫وا النِّ َس‬
ْ ُ‫ا ْعت َِزل‬ººَ‫ َو أَ ًذى ف‬ºُ‫لْ ه‬ººُ‫يض ق‬
ِ ‫ك ع َِن ْال َم ِح‬
َ َ‫أَلُون‬º‫َويَ ْس‬
‫هّللا‬ َ
ُ ‫أ َم َر ُك ُم‬

“Mereka bertanya kepadamu tentang (darah) haid. Katakanlah, “Dia itu adalah suatu kotoran
(najis)”. Oleh sebab itu hendaklah kalian menjauhkan diri dari wanita di tempat haidnya
(kemaluan). Dan janganlah kalian mendekati mereka, sebelum mereka suci (dari haid). Apabila
mereka telah bersuci (mandi bersih), maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan
Allah kepada kalian.” (QS. Al-Baqarah: 222)
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:
‫صاَل ِة‬ َ َ‫ضا ِء الصَّوْ ِم َواَل نُ ْؤ َم ُر بِق‬
َّ ‫ضا ِء ال‬ َ َ‫ك فَنُ ْؤ َم ُر بِق‬
َ ِ‫صيبُنَا َذل‬
ِ ُ‫َكانَ ي‬

“Kami dahulu juga mengalami haid, maka kami diperintahkan untuk mengqadha puasa dan
tidak diperintahkan untuk mengqadha shalat.” (HR. Al-Bukhari No. 321 dan Muslim No. 335)

31
Batasan Haid :
 Menurut Ulama Syafi’iyyah batas minimal masa haid adalah sehari semalam, dan batas
maksimalnya adalah 15 hari. Jika lebih dari 15 hari maka darah itu darah Istihadhah dan wajib
bagi wanita tersebut untuk mandi dan shalat.
 Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Majmu’ Fatawa mengatakan bahwa tidak ada
batasan yang pasti mengenai minimal dan maksimal masa haid itu. Dan pendapat inilah yang
paling kuat dan paling masuk akal, dan disepakati oleh sebagian besar ulama, termasuk juga
Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah juga mengambil pendapat ini. Dalil tidak adanya batasan
minimal dan maksimal masa haid :
Firman Allah Ta’ala.

ْ َ‫يض ۖ َواَل تَ ْق َربُوه َُّن َحتَّ ٰى ي‬


َ‫طهُرْ ن‬ ِ ‫يض ۖ قُلْ هُ َو أَ ًذى فَا ْعت َِزلُوا النِّ َسا َء فِي ْال َم ِح‬
ِ ‫َويَسْأَلُونَكَ َع ِن ْال َم ِح‬

“Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah : “Haid itu adalah suatu kotoran”. Oleh
sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid, dan janganlah kamu
mendekatkan mereka, sebelum mereka suci…” [QS. Al-Baqarah : 222]

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah memberikan petunjuk tentang masa haid itu berakhir
setelah suci, yakni setelah kering dan terhentinya darah tersebut. Bukan tergantung pada jumlah
hari tertentu. Sehingga yang dijadikan dasar hukum atau patokannya adalah keberadaan darah
haid itu sendiri. Jika ada darah dan sifatnya dalah darah haid, maka berlaku hukum haid. Namun
jika tidak dijumpai darah, atau sifatnya bukanlah darah haid, maka tidak berlaku hukum haid
padanya. Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menambahkan bahwa sekiranya memang ada
batasan hari tertentu dalam masa haid, tentulah ada nash syar’i dari Al-Qur’an dan Sunnah yang
menjelaskan tentang hal ini.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan : “Pada prinsipnya, setiap darah yang
keluar dari rahim adalah haid. Kecuali jika ada bukti yang menunjukkan bahwa darah itu
istihadhah.”

Berhentinya haid :
Indikator selesainya masa haid adalah dengan adanya gumpalan atau lendir putih (seperti
keputihan) yang keluar dari jalan rahim. Namun, bila tidak menjumpai adanya lendir putih ini,
maka bisa dengan mengeceknya menggunakan kapas putih yang dimasukkan ke dalam vagina.
Jika kapas itu tidak terdapat bercak sedikit pun, dan benar-benar bersih, maka wajib mandi dan
shalat.

Sebagaimana disebutkan bahwa dahulu para wanita mendatangi Aisyah radhiyallahu


‘anha dengan menunjukkan kapas yang terdapat cairan kuning, dan kemudian Aisyah
mengatakan :
َّ َ‫الَ تَ ْع َج ْلنَ َحتَّى تَ َر ْينَ الق‬
َ ‫صةَ البَ ْي‬
‫ضا َء‬

“Janganlah kalian terburu-buru sampai kalian melihat gumpalan putih.” (Atsar ini terdapat
dalam Shahih Bukhari).

32
B. NIFAS
Nifas adalah darah yang keluar dari rahim wanita setelah seorang wanita melahirkan. Darah
ini tentu saja paling mudah untuk dikenali, karena penyebabnya sudah pasti, yaitu karena adanya
proses persalinan. Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan bahwa darah nifas itu adalah
darah yang keluar karena persalinan, baik itu bersamaan dengan proses persalinan ataupun
sebelum dan sesudah persalinan tersebut yang umumnya disertai rasa sakit. Pendapat ini senada
dengan pendapat Imam Ibnu Taimiyah yang mengemukakan bahwa darah yang keluar dengan
rasa sakit dan disertai oleh proses persalinan adalah darah nifas, sedangkan bila tidak ada proses
persalinan, maka itu bukan nifas.

Batasan nifas : 
Tidak ada batas minimal masa nifas, jika kurang dari 40 hari darah tersebut berhenti
maka seorang wanita wajib mandi dan bersuci, kemudian shalat dan dihalalkan atasnya apa-apa
yang dihalalkan bagi wanita yang suci. Adapun batasan maksimalnya, para ulama berbeda
pendapat tentangnya.

 Ulama Syafi’iyyah mayoritas berpendapat bahwa umumnya masa nifas adalah 40 hari
sesuai dengan kebiasaan wanita pada umumnya, namun batas maksimalnya adalah 60 hari.
 Mayoritas Sahabat seperti Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib, Ibnu Abbas, Aisyah,
Ummu Salamah radhiyallahu ‘anhum dan para Ulama seperti Abu Hanifah, Imam Malik, Imam
Ahmad, At-Tirmizi, Ibnu Taimiyah rahimahumullah bersepakat bahwa batas maksimal
keluarnya darah nifas adalah 40 hari, berdasarkan hadits Ummu Salamah dia berkata, “Para
wanita yang nifas di zaman Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam-, mereka duduk (tidak
shalat) setelah nifas mereka selama 40 hari atau 40 malam.” (HR. Abu Daud no. 307, At-
Tirmizi no. 139 dan Ibnu Majah no. 648). Hadits ini diperselisihkan derajat kehasanannya.
Namun, Syaikh Albani rahimahullah menilai hadits ini Hasan Shahih. Wallahu a’lam.
 Ada beberapa ulama yang berpendapat bahwa tidak ada batasan maksimal masa nifas,
bahkan jika lebih dari 50 atau 60 hari pun masih dihukumi nifas. Namun, pendapat ini tidak
masyhur dan tidak didasari oleh dalil yang shahih dan jelas.
Wanita yang nifas juga tidak boleh melakukan hal-hal yang dilakukan oleh wanita haid,
yaitu tidak boleh shalat, puasa, thawaf, menyentuh mushaf, dan berhubungan intim dengan
suaminya pada kemaluannya. Namun ia juga diperbolehkan membaca Al-Qur’an dengan tanpa
menyentuh mushaf langsung (boleh dengan pembatas atau dengan menggunakan media
elektronik seperti komputer, ponsel, ipad, dll), berdzikir, dan boleh melayani atau bermesraan
dengan suaminya kecuali pada kemaluannya.

Tidak banyak catatan yang membahas perbedaan sifat darah nifas dengan darah haid.
Namun, berdasarkan pengalaman dan pengakuan beberapa responden, umumnya darah nifas ini
lebih banyak dan lebih deras keluarnya daripada darah haid, warnanya tidak terlalu hitam,
kekentalan hampir sama dengan darah haid, namun baunya lebih kuat daripada darah haid.

ISTIHADHAH
Istihadhah adalah darah yang keluar di luar kebiasaan, yaitu tidak pada masa haid dan
bukan pula karena melahirkan, dan umumnya darah ini keluar ketika sakit, sehingga sering
disebut sebagai darah penyakit. Imam Nawawi rahimahullah dalam Syarah Muslim mengatakan

33
bahwa istihadhah adalah darah yang mengalir dari kemaluan wanita yang bukan pada waktunya
dan keluarnya dari urat.
Sifat darah istihadhah ini umumnya berwarna merah segar seperti darah pada umumnya, encer,
dan tidak berbau. Darah ini tidak diketahui batasannya, dan ia hanya akan berhenti setelah
keadaan normal atau darahnya mengering.

Wanita yang mengalami istihadhah ini dihukumi sama seperti wanita suci, sehingga ia tetap
harus shalat, puasa, dan boleh berhubungan intim dengan suami.

Imam Bukhari dan Imam Muslim telah meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha :


 ‫الَةَ؟‬º‫الص‬َّ ‫ع‬ ُ ‫ا َ َد‬ºَ‫ اَف‬،ُ‫ر‬ºُ‫طه‬ ْ َ‫ت ََحاضُ فَالَ ا‬º‫ت يا َ َرسُوْ ُل هللاِ اِنِّى ا ْم َراَةٌ اُ ْس‬ ْ َ‫صلَّى هللاُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم َوقَل‬ َ ‫ش اِلَى النَّبِ ُّي‬ ُ ‫َجا َءتَ فا َ ِط َمةُ بِ ْن‬
ٍ ‫ت اَبِى ُحبَ ْي‬
َ ‫ا ِ َذا َذه‬ºَ‫ ف‬،َ‫الَة‬º‫الص‬
‫ ْد ُرهَا‬ºَ‫َب ق‬ ْ ُ
َّ ‫ات ُر ِكى‬ººَ‫ة ف‬º‫ْض‬ َ ‫ت ال َحي‬ ْ ْ
ِ َ‫ْض ِة فَا ِ َذااَقبَل‬ ْ
َ ‫ْس بِال َحي‬َ ‫ق َولَي‬ ٌ ْ‫ك ِعر‬ َّ َّ َّ
َ ِ‫ اِن َما َذل‬،َ‫ ال‬:‫صلى هللاُ َعلَ ْي ِه َو َسل َم‬ َ ِ‫فَقَا َل يا َ َرسُوْ ُل هللا‬
‫صلِّى‬ ‫و‬
َ َ َ ِ ‫م‬ َّ
‫د‬ ‫ال‬ ‫ك‬ ْ
‫ن‬ ‫ع‬
َ ‫ى‬ ‫ل‬‫س‬
ِِ ْ
‫غ‬ َ ‫ا‬ ‫ف‬
Fatimah binti Abi Hubaisy telah datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata:
“Ya Rasulullah, sesungguhnya aku adalah seorang wania yang mengalami istihadhah, sehingga
aku tidak bisa suci. Haruskah aku meninggalkan shalat?” Maka jawab Rasulullah SAW:
“Tidak, sesungguhnya itu (berasal  dari) sebuah otot, dan bukan haid. Jadi, apabila haid itu
datang, maka tinggalkanlah shalat. Lalu apabila ukuran waktunya telah habis, maka cucilah
darah dari tubuhmu lalu shalatlah.”
Wallahu a’lam. 
Sumber / Maraji’ :
 Fiqhus Sunnah lin Nisaa’ – Kamal bin As-Sayyid Salim
 Fatawa Al-Mar’ah Muslimah
 Majmu’ Fatawa Arkanil Islam – Syaikh Ibnu Utsaimin
 Ahkamuth Thaharah ‘inda An-Nisaa’ ‘ala Madzhab Imam Asy-Syafi’i – Munir bin
Husain

34
DAFTAR PUSTAKA

Referensi: https://almanhaj.or.id/4011-adab-adab-bagi-orang-sakit-dan-yang-menjenguknya.html

Al-Zuhayly, Wahbah. 1997. Zakat Kajian Berbagai Mazhab. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya

Moh. Rowi Latief & A. Shomad Robith. 1987. Tuntunan Zakat Praktis. Surabaya: Indah, 1987

K.H.M. Syukri Ghozali, dkk. 1997. Pedoman Zakat 9 Seri. Jakarta: Proyeksi Peningkatan Sarana
Keagamaan Islam, Zakat dan Wakaf
Dr. H. Amiruddin Inoed, dkk. 2005. Anatomi Fiqh Zakat (Potret & Pemahaman Badan Amil Zakat
Sumatera Selatan). Sumatera Selatan: Pustaka Pelajar
Dr. Abdul Al-Hamid Mahmud Al-Ba’ly. 2006. Ekonomi Zakat : Sebuah Kajian Moneter dan
Keuangan Syariah. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
http://alimudinmakalah.blogspot.com/2009/04/zakat.html
Asy-Syeikh M. Arsyad Al-Banjari, Sabilal Muhtadin, Juz II. Indonesia : AlHaramain, t.th.
K.H. Muhammad Sholikhin, Panduan lengkap perawatan Jenazah. Yogyakarta : Mutiara Media,
2009.
______________________, Ritual dan tradisi Islam Jawa, Yogyakarta: Narasi, 2010
Dr. Marzuki, M.Ag., Perawatan Jenazah, http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/ pengabdian/dr-
marzuki-mag/dr-marzuki-mag-perawatan-jenazah.pdf

35