Anda di halaman 1dari 11

Ilmu Kalam

“Epistemologi Teologi Islam Harun Nasution dan H.M. Rasyidi”


Dosen Pengampu : Asep Maulana Rohimat, S.H.I, M.S.I.

Disusun Oleh :
1. Rahmadona Atik Indriasari (195211008)
2. Refalda Ayu Derdameza (195211014)
3. Syifa Aisyah Putri (195211021)
4. Ulfi Mufidhah (195211023)

Kelas 3A
Manajemen Bisnis Syariah
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam
Institut Agama Islam Negeri Surakarta
DAFTAR ISI

Daftar Isi
BAB I
Pendahuluan...........................................................................................................3
BAB II
Pembahasan
A. Harun Nasution
1. Riwayat Hidup Harun Nasution.............................................................4
2. Pemikiran Kalam Harun Nasution.........................................................5
a. Peranan Akal....................................................................................5
b. Pembaharuan Teologi.......................................................................5
c. Hubungan Akal dan Wahyu.............................................................6
B. H.M. Rasyidi
1. Riwayat Hidup H.M. Rasyidi.................................................................7
2. Pemikiran Kalam H.M. Rasyidi.............................................................8
a. Tentang Perbedaan Ilmu Kalam dan Teologi...................................8
b. Tema-tema Ilmu Kalam...................................................................8
c. Hakikat Iman....................................................................................9
BAB III
Simpulan...............................................................................................................10
Daftar Pustaka

2
BAB I
PENDAHULUAN
Ajaran Islam, yang sumber ajarannya berasal dari Al-Qur’an dan Sunnah pada
Nabi, yang diyakini oleh umat Islam dapat mengantisipasi segala kemungkinan yang
terjadi oleh perputaran zaman. Pada dasarnya Islam itu satu, tetapi pada kenyataannya
bahwa tampilan Islam itu sangat beranekaragam, karena lokasi penampilannya
mempunyai budaya yang beragam, perubahan jaman telah membawa budaya dan
teknologi yang berbeda-beda. Misalnya,ada komunitas yang senang menampilkan Islam
dengan pemerintahan kerajaan, atau yang senang dengan pemerintahan republik itu
sangatlah beragam. Bahkan ada juga yang ingin kembalike pemerintahan bentuk Khilafah
yang terikat dengan teks Al-Qur’an dan hadist dalam memahami ajaran Islam. Mereka
semua memiliki pemikiran yang benar dalam menampilkan Islam itu sendiri. Dan dari
sinilah ajaran Islam perlu diperhatikan dengan baik.
Dengan cara ini proses terselenggarakannya syariat Islam di masa nabi dan
generasi-generasi berikutnya dapat dipahami. Alasan kebijakan para tokoh Islam untuk
maksud ini pun dapat dimengerti. Dalam era sekarang adanya aktualisasi perdebatan
kalam di kalangan tokoh modernisasi. Diantara tokoh yang ada di era sekarang adalah
Harun Nasution dan HM Rasyidi.
Ilmu kalam atau teologi darimasa ke masa mengalami perkembangan yang cukup
pesat, banyak tokoh-tokoh ilmu kalam yang banyak bermunculan. Dan memiliki berbagai
macam argumentasi yang berbeda-beda, sehingga persoalan-persoalan yang mengenai
ilmu kalam atau teologi itu semakin serius untuk dibahas. Karena dari permasalahan
tersebut akan memunculkan timbulnya pemikiran-pemikiran yang baru dan tanggapan
dari berbagai macam tokoh ilmu kalam itu sendiri.
Banyaknya tokoh-tokoh yang memiliki latar belakang yang berbeda, maka
banyak pula pemikiran-pemikiran dari mereka yang berbeda tentang permasalahan ilmu
kalam ini. Sebagai contoh,di dalam maklah ini insaallah akan dibahas teologi atau ilmu
kalam yang mengacu pada dua tokoh yaitu Harun Nasution dan HM Rasyidi Hal ini
sebagai bahan diskusi, sehingga akan mendapatkan sebuah wawasan keilmuan yang luas
terkait dengan permasalahan ilmu kalam.

3
BAB II
PEMBAHASAN
A. Harun Nasution
1. Riwayat Hidup Harun Nasution
Harun Nasution lahir di Pematang Siantar, Sumatra Utara pada tanggal
23 September 1919. Beliau menempuh pendidikan dasar di sekolah Belanda
yaitu Hollandsh-Inlandsche School (HIS), kemudian meneruskan ke tingkat
menengah yang berbasis Islam yaitu Moderne Islamietische Kweekschool
(MIK) di Bukittinggi pada tahun 1934. Pendidikannya diteruskan ke
Universitas Al-Azhar, Mesir. Sembari kuliah di Al-Azhar, beliau kuliah juga
di Universitas Amerika di Kairo, Mesir. Di Kairo ini, beliau mendapatkan
gelar B.A dalam bidang ilmu pendidikan dan ilmu sosial. Beliau pernah
menjadi konsulat Indonesia di Kairo, dari Mesir beliau dicabut ke Jakarta dan
kemudian menjadi sekretaris di kedutaan besar Indonesia di Brussel. Lalu
pendidikannya dilanjutkan ke McGill, Kanada, pada tahun 1962. [ CITATION
Ars20 \l 1057 ]
Sesampainya di tanah air pada tahun 1969, Harun Nasution langsung
bergabung dalam bidang akademis sebagai dosen di IAIN Jakarta, IKIP
Jakarta, dan Universitas Nasional. Kegiatan akademis digabungnya dengan
kegiatan administrasi, ketika beliau memimpin IAIN, Ketua Lembaga
Pembinaan Pendidikan Agama IKIP Jakarta, dan terakhir pimpinan Fakultas
Pascasarjana IAIN Jakarta. [ CITATION Anw16 \l 1057 ]
Harun Nasution wafat pada tanggal 18 September 1998 di Jakarta. Harun
Nasution dikenal sebagai tokoh yang menyanjung aliran Muktazilah
(rasionalis), yang berlandas pada peran akal dalam kehidupan beragama.
Dalam orasinya, Harun selalu menekankan agar kaum Muslim Indonesia
berpikir secara rasional. Ketika ramai diperbincangkan tentang hubungan
antar agama pada tahun 1975, Harun Nasution dikenal sebagai tokoh yang
berpandangan luwes kemudian menyarankan untuk membentukan wadah
musyawarah antar agama, yang bertujuan untuk menghilangkan rasa saling
curiga dan agar bersatu. [ CITATION Ano15 \l 1057 ]
2. Pemikiran Kalam Harun Nasution
a. Peranan Akal

4
Dalam kajian disertasinya di Universitas McGill,Kanada, yang secara
kebetulan Harun Nasution mengkaji permasalahan akal dalam sistem
teologi Muhammad Abduh. Ukuran peranan akal dalam sistem teologi
suatu aliran sangat memutuskan dinamis atau tidaknya pemahaman
seseorang tentang ajaran Islam. Bertepatan dengan daya pikir ini, Harun
Nasution menuliskan bahwa akal melambangkan kekuatan manusia.
Karena akal manusia memiliki kemampuan untuk mengalahkan kekuatan
makhluk lain disekitarnya. Bertambah tinggi akal manusia, bertambah
tinggi pula kemampuan untuk mengalahkan makhluk lain. Bertambah
lemah kekuatan akal manusia, bertambah lemah juga kemampuannya
untuk menghadapi kekuatan-kekuatan lain. [ CITATION Anw16 \l 1057 ]
Dalam sejarah Islam, akal memiliki derajat tinggi dan banyak
digunakan, bukan dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan
kebudayaan saja, akan tetapi juga dalam perkembangan ajaran-ajaran
keagamaan Islam. Pemikiran akal dalam Islam diperintahkan Al-Qur’an.
Bukanlah tidak ada dasarnya apabila ada penulis-penulis, baik di
kalangan Islam sendiri maupun di kalangan non-Islam, yang berpendapat
bahwa Islam adalah agama rasional.[ CITATION Sya13 \l 1057 ]
b. Pembaharuan Teologi
Teologi merupakan ilmu yang mengkaji tentang ajaran-ajaran dasar
suatu agama. Dalam Islam, teologi disebut sebagai ‘ilm al-kalam. Secara
umum, pemikiran Harun tentang teologi rasional maksudnya adalah
bahwa kita harus memanfaatkan rasio atau nalar akal kita dalam
menyikapi suatu masalah. Namun bukan berarti mengabaikan wahyu.
Karena menurutnya, di dalam Al-Qur’an hanya memuat sebagian kecil
ayat ketentuan-ketentuan tentang iman, ibadah, hidup bermasyarakat,
serta hal-hal mengenai ilmu pengetahuan dan fenomena alam.
Menurutnya, di dalam Al-Qur’an ada dua bentuk kandungan yaitu
qath’iy al dalalah dan zhanniy al-dalalah. Qath’iy al dalalah adalah
kandungan yang sudah jelas sehingga tidak lagi dibutuhkan interprestasi
atau tafsiran. Zhanniy al-dalalah adalah kandungan di dalam Al-Qur’an
yang masih belum jelas sehingga menimbulkan tafsiran yang berbeda.
Dari sinilah diperlukan akal yang dapat berpikir tentang semua hal

5
tersebut. Dalam hal ini, kemutlakan wahyu sering diperdebatkan dengan
kerelatifan akal. [ CITATION Ars20 \l 1057 ]
Pembaharuan teologi yang menjadi sebutan Harun Nasution, pada
dasarnya diawali atas dugaan bahwa keterbelakangan dan kemunduran
umat Islam Indonesia dikarenakan terdapat kesalahan dalam teologi yang
mereka gunakan. Pemikiran itu, sama seperti dengan pendapat kaum
modernis lain pendahuluannya (Muhammad Abduh, Rasyid Ridho, Al
Afghani, Said Amer dan lainnya) yang berpendapat bahwa perlu untuk
kembali kepada teologi Islam sejati. Bujukan tersebut memuat arti bahwa
umat Islam dengan teologi fatalistik, irasional, pre-deteminisme serta
penyerahan nasib telah membawa nasib mereka menuju kesengsaraan
dan keterbelakangan.[ CITATION Anw16 \l 1057 ]
Dengan begitu, jika ingin mengubah nasib umat Islam, menurut
Harun Nasution, umat Islam harusnya mengubah teologi mereka menuju
teologi yang bersifat bebas untuk berkehendak, rasional serta mandiri.
Tidak heran jika teori moderenisasi ini selanjutnya menciptakan teologi
dalam khasanah Islam klasik yakni teologi Mu’tazilah. [ CITATION
Ars20 \l 1057 ]
c. Hubungan Akal dan Wahyu
Salah satu pusat pemikiran Harun Nasution adalah hubungan akal
dan wahyu. Beliau menjabarkan bahwa hubungan akal dan wahyu
memang mengundang pertanyaan, tetapi keduanya tidak bertentangan.
Akal memiliki kedudukan yang tinggi dalam Al-Qur’an. Orang yang
beriman tidak perlu menerima bahwa wahyu sudah mengandung segala-
galanya. Wahyu bahkan tidak menerangkanq semua permasalahan
keagamaan.
Dalam pemikiran Islam, baik di bidang filsafat dan ilmu kalam, atau
di bidang ilmu fiqih, akal tidak pernah meninggalkan wahyu. Akal
tetap tunduk kepada naskah wahyu. Naskah dalam wahyu tetap dianggap
benar. Akal digunakan untuk memahami naskah wahyu dan tidak untuk
menentang wahyu. Akal hanya memberi interpretasi atau tafsiran
terhadap naskah wahyu sesuai dengan kecenderungan dan kemampuan
pemberi interpretasi. Yang dipertentangkan dalam sejarah pemikiran

6
Islam sebenarnya bukan akal dan wahyu, tetapi penafsiran tertentu dari
naskah wahyu dengan lain dari naskah wahyu itu juga. Jadi, yang
bertentangan sebetulnya dalam Islam adalah pendapat akal ulama tertentu
dengan pendapat akal ulama lain.[ CITATION Sya13 \l 1057 ]
B. H.M. Rasyidi
1. Riwayat Hidup H.M. Rasyidi
Riwayat Hidup Singkat H.M.Rasyidi (H.M.Rasyidi lahir di kotagede,
Yogyakarta, pada 20 Mei 1951 atau di dalam kalender islam 4 Rajab 1333
dan wafat pada 30 januari 2001. Beliau adalah intelektual muslim yang
berbasis akademik, yang dulu juga pernah menjabat sebagai diplomat
pejuang kemerdekaan Republik Indonesia serta Menteri Agama yang
multidimensi yang banyak menghasilkan karya tulis. Beliau juga merupakan
pengkritik tajam, yang sangat senaitif dengan permasalahan keagamaan.
Salah satunya Rasyidi tidak setuju yang pada saat itu dengan keadaan
pemerintah yang tidak ramah dan kembali menulis buku Islam Indonesia di
Zaman modern. Sensitif beliau pada masalah kegamaan apalagi agama islam
sudah tertanam sejak kecil.
Beliau dilahirkan dalam lingkungan keluarga yang sangat kental dengan
budaya jawa namun juga kental dengan nuansa islami. Bahkan beliau juga
mengakui bahwa dirinya berasal dari "keluarga abangan", yaitu orang yang
menganut agama islam namun tidak melkukan ibadah islam seperti
umumnya. Beliau juga tinggal dirumah jogjo yang dimana pada hari- hari
tertentu kerap membuat sesajen serta ada peraturan bahwa saat tidur tidak
boleh menhadap barat dan kaki di sebelah timur karena dianggap mengarah
pada makam keramat. Tidak jauh dari rumah Rasyidi terdapat sebuah masjid
dan makan Panembahan Senopati dan Ki Ageng Pemanahan serta beberapa
sumber air pemandian yang tidak sepi pengunjung bertujuan untuk
melakukan ritual kejawen. [ CITATION Din19 \l 1057 ]
Banyak dijumpai masyarakat yang memberikan sesajen kepada penunggu
atau penguasa tempat tersebut untuk berharap diberikan kekayaan,
mendapatkan jodoh, keberuntungan. walaupun hidup dalam lingkungan yang
demikian, pada akhirnya Rasyidi menyadari bahwa ia membutuhkan ilmu
agama yang lebih mendalam. Dari kesadarannya tersebut kemudian terbentuk
menjadi pandangan hidup. dalam konteks pertumbuhan kajian akademik

7
islam di indonesia, orang akan sulit ngesampingkan arti kehadiran
H.M.Rasyidi, yang memeiliki pengalaman sebgai lulusan dari lembaga
pendididkan tinggi islam di Mesir yang melanjutkan ke Paris dan kemudian
mengajar di Kanada. Lepas dari persuasi anti_baratnya, orang tidak akan
luput mendapatkan bahwa hampir seluruh kontruksi akademiknya dibangun
dari unsur- unsur barat. Rasyidi adalah seorang diantara intelektual indonesia
yang paling banyak memperoleh perkenalan, bahkan penyerapan ilmu
intelektual didapatnya dari gudang orientalisme. Beliau memiliki pengaruh
besar dalam usaha mengirim para lulusan IAIN ke Monteral.[ CITATION
Anw16 \l 1057 ]
2. Pemikiran Kalam H.M. Rasyidi
Pemikiran kalam H.M.Rasyidi dapat ditelusuri dari kritikannya kepada
Harun Nasution dan Nurcholis Majid. ada beberapa pemikiran kalam yang
dikemukakan oleh H.M.Rasyidi:
a. Tentang perbedaan ilmu kalam dan teologi
H.M.Rasyidi tidak menyetujui pandangan yang dikemukakan
oleh Harun Nasution yang menyamakan penjelasan tentang ilmu
kalam dan teologi. Untuk itu, Rasyidi mengatakan, " ada kesan
bahwa ilmu kalam adalah teologi islam dan teologi adalah ilmu
kristen." Rasyidi menelusuri sejarah penjelasan tentang teologi.
menurut Rasyidi biasanya orang barat menggunakan istilah teologi
sebagai pentunjuk tauhid atau kalam karena tidak ada istilah lain.
Teologi sendiri berasal dari dua kata, yaitu Teo (theos) artinya
Tuhan, dan Logos yang berarti Ilmu. jadi dapat disimpulkan bahwa
teologi adalah ilmu ketuhanan. Sebab timbulnya teologi dalam
agama kristen karena pokok dalam agama kristen adalah ketuhanan
nabi Isa, yang menjadi salah satu Tritunggal dan Trinitas. kata
teologi dalam agama kristen memiliki beberapa aspek, yang diluar
kepercayaan, sehingga teologi di dalam agama kristen tidak dapat
disamakan dengan ilmu kalam.[ CITATION Anw16 \l 1057 ]
b. Tema- tema ilmu Kalam
Salah satu tema ilmu kalam Hrun Nasution yang dikritik oleh
H.M.Rasyidi yang mnejelaskan tentang deskripsi aliran-aliran kalam
yang dianggap tidak sejalan dengan kondisi umat islam sekarang,

8
yang khusunya di Indonesia. maka dari itu, H.M.Rasyidi berpendapat
bahwa menonjolkan perbedaan pendapat antara Asy'ariah dan
Mu'tazilah sebagaimana penjelasan dari Harun Nasution dapat
menyebabkan lemahnya iman para mahasiswa. islam agama yang
mengagungkan akal tetapi dengan menggambarkan bahwa dengan
akal kita dapat mengetahui baik dan buru, sedangkan wahyu sebagai
nilai yang menghasilakan pikiran manusia bersifat absolute-
universal, yang berarti menganggap sepi ayat-ayat Al-Qur'an, seperti
"Wallahu ya'lamu wa antum la ta'lamun" ayang artinya "Allahlah
Yang Maha Mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui" (Q.S.
Al-Baqarah [2]: 232). Rasyidi menegaskan bahwa di Barat, akal
tidak mampu mengetahui baik dan buruk.
Rasyidi mengakui bahwa hal ini sudah diperbincangkan pada dua
belas abad yang lalu, jika digunakan pada zaman sekarang tidak
semua relevan. Rasyidi juga menjelaskan pada masa sekarang yang
masih disarakan umata islam adalah keberadaan syi'ah.[ CITATION
Anw16 \l 1057 ]
c. Hakikat Iman
Kritikan Rasyidi terhadap deskripsi iman yang dipaparkan oleh
Nurcholis Madjid, yaitu "percaya dan menaruh kepercayaan kepada
Tuhan. Sikap apresiatif kepada Tuhan merupakan inti pengalaman
keagamaan seseorang. Sikap ini disebut takwa. Takwa diperkuat
dengan kontak yang kontinu dengan Tuhan." Menanggapi pernyataan
tersebut, Rasyidi berpendapat bahwa Iman bukan hanya bersatunya
Tuhan dengan manusia, namun juga hubungan manusia dengan
manusia dalam lingkungan sosial bermasyarakat. Perlu dijelaskan
bahwa bersatunya manusia atau seseorang dengan tuhan bukan
merupakan aspek yang mudah dicapai. Maka yang lebih penting dari
aspek penyatuan yaitu ibadah kepercayaan, dan kemasyarakatan.
[ CITATION Anw16 \l 1057 ]

9
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Dari uraian di atas bisa disimpulkan kalau H. Meter. Rasyidi berpandangan kalau
ilmu kalam sama sekali berbeda dengan teologi. Dia tidak sependapat dengan Harun yang
sangat mengagungkan ide yang bisa mengenali baik serta kurang baik dilihat dari
pertumbuhan era. Tentang iman, Rasyidi berkata kalau iman bukan hanya bersatunya
manusia dengan Tuhan, namun bisa dilihat dalam ukuran konsekuensial ataupun ikatan
manusia dengan manusia, ialah hidup dalam warga. Jadi, yang lebih berarti dari aspek
penyatuan itu merupakan keyakinan, ibadah, serta kemasyarakatan.
Sedangkan, Harun Nasution merupakan seseorang tokoh pemikir ilmu kalam/
teologi di mana dia memilki sebagian pemikiran- pemikiran terpaut dengan permasalahan
ini, di antara lain ialah: dia sempat menulis kalau Ide Melambangkan Kekuatan Manusia,
perihal ini mengartikan kalau dengan ide lah manusia bisa melaksanakan bermacam
kegiatan yang berkaitan dengan keperluan hidupnya. Dengan ide manusia bisa
mengalahkan makhluk lain, serta meningkat tingginya ide manusia hingga meningkat
besar pula kesanggupannya buat mengalahkan makhluk lain. Meningkat lemah kekuatan
ide manusia, meningkat lemah pulalah kesanggupannya buat mengalami kekuatan-
kekuatan lain tersebut.
Dia pula berkomentar kalau keterbelakangan serta kemunduran umat Islam
Indonesia( pula di mana saja) merupakan diakibatkan“ terdapat yang salah” dalam teologi
mereka, hingga dari itu dia mempunyai pemikiran tentang update teologi. Beliaupun
berkomentar kalau terdapat ikatan antara ide serta wahyu. Ide memiliki peran yang besar
dalam Al- Qur’ an, orang yang beriman tidak butuh menerima kalau wahyu telah
memiliki segala- galanya. Wahyu apalagi tidak menarangkan seluruh kasus keagamaan.

10
DAFTAR PUSTAKA
Anonymous. (2015). Makalah Ilmu Kalam Masa Kini.
(http://kummakalah.blogspot.com, diakses 7 September 2020).
Anwar, A. R. (2016). Ilmu Kalam (Edisi Revisi). Bandung: CV Pustaka Setia.
Nachrudin, I. (2015). Pemikiran Teologi Harun Nasution.
(http://arsyadiyah.blogspot.com, diakses 7 September 2020).
Rohimah, D. S. (2019). Biografi dan Pemikiran HM Rasjidi (1965-2001).
(http://digilib.uinsgd.ac.id/, diakses 9 September 2020).
Syafieh. (2013). HM Rasyidi dan Harun Nasution:Tokoh Kalam Kontemporer
Indonesia.(http://syafieh.blogspot.com, diakses 7 September 2020).

11