Anda di halaman 1dari 5

BUSINESS ETHICS

Zuni Barokah, M.Comm., Ph.D

CASE 1 :
SLAVERY IN CHOCOLATE FACTORY

Disusun oleh:
Kelompok 3

Amal Fitria Iriansah 464989

Donny Wahyu Niagara 465025

Nabilla Sekarsari 465092

MAGISTER MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2021
Summary case:

Kasus perbudakan anak-anak berusia 12-16 tahun, bahkan kadang ada yang berusia 9
tahun di pertanian ​cocoa beans ​Pantai Gading, Ghana, dan Afrika Barat merupakan contoh
pelanggaran etika. Perbudakan merupakan hal yang ilegal di Pantai Gading, namun masih
terjadi, dikarenakan penegakan hukum yang lemah. Perbatasan yang terbuka karena
rendahnya integritas para penegak hukum serta mudahnya pejabat-pejabat lokal
untuk disuap membuat pelaku perdagangan manusia dapat dengan mudah melakukan
kegiatannya. Harga biji kakao yang berfluktuasi membuat harga biji kakao menjadi sangat
murah dan mengakibatkan petani-petani kakao menggunakan anak di bawah umur untuk
bekerja dari mulai matahari terbit hingga terbenam untuk dapat mengurangi biaya tenaga
kerja.

Para petani coklat yang telah melakukan perbudakan kepada anak tidak menerapkan
prinsip utilitarianisme dimana tindakan yang dilakukannya tidak memberikan manfaat bagi
pekerja (anak), karena mereka dibayar dengan upah yang sangat minim dan disuruh bekerja
dalam waktu yang tidak manusiawi yaitu mulai matahari terbit sampai matahari terbenam.
Selain itu, para petani coklat ini telah melanggar teori hak, dimana pekerja yang masih
anak-anak diperlakukan layaknya budak, mengalami paksaan dan siksaan bahkan sampai
banyak yang meninggal dunia akibat sistem perbudakan tersebut. Prinsip ​care rules ​pun
tidak dipenuhi oleh para petani coklat, yaitu mereka tidak menyediakan tempat tinggal yang
layak bagi pekerja (anak-anak) dan juga terisolir di pedalaman. Dalam kasus ini juga
terdapat pelanggaran terhadap prinsip keadilan yaitu anak dibawah umur dieksploitasi
sebagai sumber tenaga kerja oleh para petani coklat di Pantai Gading.

Pembahasan:

1. Isu sistemik, perusahaan, dan individu apa yang terjadi pada kasus ini?

Isu sistemik ​yang diangkat pada kasus ini adalah pada tahun 1996 dan 2000, harga biji
kakao dunia mengalami penurunan. Demi kelangsungan hidup mereka dalam bisnis ini
akhirnya para petani di Pantai Gading menggunakan pekerja anak-anak dan berupa
perbudakan untuk menekan biaya produksi coklat yaitu dengan memotong biaya tenaga
kerja. Masalah sistemik yang berkaitan dengan hukum ialah sebenarnya perbudakan di
Pantai Gading merupakan tindakan yang ilegal, namun penegakan hukum di sana masih
sangat rendah dan kurangnya aparat penegak serta sikap para pejabat yang mudah disuap
membuat semuanya berkontribusi menjadi satu masalah secara sistematis.

Isu korporasi adalah masalah perbudakan anak di Pantai Gading sudah disadari namun
tidak bisa melakukan apa-apa ketika perantara yang membeli, menggiling, dan
memproses biji kakao yang diperoleh dari Pantai Gading dan dijual ke seluruh
perusahaan. Bahkan, perusahaan-perusahaan coklat cenderung untuk tidak ingin ikut
campur karena adanya ketakutan apabila terjadi kenaikan harga yang terjadi.
Etika individu dalam kasus ini adalah para petani kakao melakukan tindakan ilegal
berupa menggunakan tenaga kerja anak (perbudakan). Perbuatan para petani coklat ini
tidak bermoral sebab telah bersekongkol dengan ​trafficking agent ​dengan menculik
anak-anak dari keluarganya dan dijual kepada petani coklat. Isu selanjutnya adalah
konsumen yang mengetahui masalah ini dan terus mengkonsumsi produk mereka tidak
boleh mengabaikannya, karena setiap coklat yang mereka beli sebenarnya secara tidak
langsung mereka telah berkontribusi berkelanjutan untuk perbudakan di industri coklat.

2. Menurut pandangan Anda, apakah perbudakan anak pada kasus ini sudah pasti salah
apapun alasannya, atau kesalahan ini bersifat relatif? Jelaskan pendapat Anda.

Menurut kami, tidak ada toleransi untuk melakukan perbudakan anak. Anak-anak
diculik, dijual kemudian dipaksa dan disiksa oleh petani coklat untuk bekerja dari pagi
hingga petang. Kemudian anak-anak tidak boleh digunakan sebagai tenaga kerja
karena usianya belum memasuki usia produktif. Apapun alasannya, perbudakan
terhadap anak adalah salah dan tidak ada pembenaran untuk melakukan perbudakan
terhadap anak. Selain tidak tepatnya mempekerjakan anak di bawah umur, kasus ini
juga melanggar HAM anak karena mereka tidak dibayar dan dibiarkan bekerja terlalu
berat sampai terjadi insiden kematian. Kalaupun kondisi masyarakat pada saat itu
memang sangat miskin dan memungkinkan pekerja anak dilakukan, hendaknya
anak-anak lelaki dapat dipekerjakan dengan sistem yang baik dan syarat tertentu,
sebagai contoh pekerjaan dilakukan setelah pulang sekolah dan selesai berkewajiban
sebagai siswa, hanya melakukan pekerjaan ringan, memberi batasan jam kerja dan
diberi upah yang layak. Dengan cara seperti itu, perusahaan akan tetap bertahan,
perekonomian keluarga terbantu, tidak terjadi pelanggaran dan ada rasa kemerdekaan
diri oleh anak anak karena terlepas dari perbudakan.

3. Siapa yang ikut bertanggung jawab secara moral atas tindakan perbudakan anak di
industri coklat?

Banyak pihak yang baik langsung maupun tidak terkait dengan kasus pekerja di bawah
umur pada perkebunan coklat di Ivory Coast. Namun, menurut Velasquez pada buku
Business Ethics 7th edition halaman 56, tidak semua pihak yang berkaitan dengan bisnis
memiliki tanggung jawab moral atas apa yang terjadi Ivory Coast. Maka, berdasarkan
kriteria ​4 moral responsibility and blame, ​yang turut andil pada kasus ini adalah:

a. Pemerintah lokal Ivory Coast

Pemerintah memiliki tanggung jawab moral untuk mencegah terjadinya


permasalahan etika sistemik. Kasus ini menjabarkan bahwa petugas lokal justru
menerima suap dari pihak yang melakukan perdagangan budak. Hal ini semakin
menguatkan betapa lemahnya hukum yang berlaku di sana sehingga kegiatan
melawan etika dan hukum terus berlanjut selama bertahun-tahun. Pemerintah juga
memenuhi ketiga kriteria seseorang dianggap bertanggung jawab secara moral
(Velasquez, halaman 57):

- Tidak bisa mencegah terjadinya suatu peristiwa

Pemerintah lokal dianggap gagal dalam mencegah terjadinya perbudakan


di bawah umur dan melakukan perubahan meskipun sudah banyak pihak
yang menyorot permasalahan ini. Tanpa ada bantuan pemerintah akan
sangat sulit menghentikan isu yang ada pada industri pertanian coklat di
Ivory Coast.

- Mengetahui apa yang sedang berjalan

Meskipun media internasional, asosiasi, hingga Interpol sudah berusaha


menghentikan perbudakan di bawah umur, tapi tidak ada dukungan serupa
dari regulator setempat.

- Melakukannya atas kesadaran

Tindakan suap yang diterima petugas justru semakin mendukung


terjadinya perbudakan di Ivory Coast.

b. The Chocolate Manufacturers Association and the World Chocolate Foundation

Sebuah asosiasi bertanggung jawab menjaga pemain dalam industri berjalan


sesuai dengan hukum dan etika. Meskipun di tahun 2001 pihak asosiasi sudah
berusaha membuat sertifikasi dan mengadakan pendanaan, tapi hingga 2011
rencana ini tidak berjalan dengan baik. Ketidakseriusan asosiasi juga terlihat dari
banyaknya staf, hanya satu orang, yang bekerja pada projek ini.

c. Chocolate companies

Serupa dengan kasus Nike yang merasa tidak bertanggung jawab dengan apa yang
terjadi pada pabrik supplier. Sesuai dengan perjanjian, Nike tidak terkait dengan
eksploitasi pekerja dan permasalahan apapun yang terjadi di pabrik. Namun,
perusahaan coklat yang menjadi pelanggan Ivory Coast turut andil dalam kasus
ini karena mereka secara terang-terangan menolak ajak Eliot Engel untuk
membuat label “slavefree”. Meskipun pada akhirnya mereka menyetujui usulan
asosiasi dan mengucurkan dana untuk pelatihan bagi petani coklat, tapi tidak ada
tindakan nyata lanjutan yang dilakukan. Perusahaan coklat seperti Hershey’s
milk, M&M, maupun Kitkat lebih mementingkan penjualan dan harga
dibandingkan menghentikan perbudakan (utilitarian).

Seharusnya perusahaan coklat tersebut dapat berkaca dari kasus Disney yang
dijabarkan Velasquez pada halaman 97 yang meminta supplier untuk membuat
perjanjian untuk mempekerjakan buruh secara adil. Secara ​justice ​dan ​right, a​ pa
yang dilakukan oleh perusahaan coklat telah melanggar etika. Mereka tidak
memastikan bahwa ​stakeholders m​ erasakan keadilan yang sama dan mereka pun
tidak memiliki kebebasan untuk bertindak.

d. Pihak yang terkait pada perkebunan coklat

Semua orang yang terlibat atau bekerja di perkebunan coklat memiliki tanggung
jawab moral terhadap kasus ini. Para petani seharusnya dapat ikut bersuara dan
melapor adanya tindakan tidak ilegal pada pekerja perkebunan, orang tua yang
terpaksa anaknya bekerja dapat memilihkan tempat bekerja yang lebih sehat, dan
pemilik perkebunan seharusnya menciptakan sistem yang menguntungkan semua
pihak baik itu pemilik maupun pekerja.

4. Usulan undang-undang terkait perbudakan yang diusung Representative Engle dan


Senator Harkin tidak terwujud karena adanya lobi dari perusahaan coklat. Apakah
tindakan ini termasuk dalam “tindakan etis bagi pebisnis cukup dengan menaati hukum”?

Menurut kami apa yang dilakukan oleh pelobi perusahaan coklat menjadi salah satu bukti
bahwa masih banyak yang menganggap menaati hukum sudah menjadi tindakan beretika.
Pada kasus ini, perusahaan coklat merasa bahwa tidak ada pelanggaran jual beli yang
dilakukan oleh kedua belah pihak dan apa yang terjadi di Ivory Coast di luar kendali
perusahaan. Sehingga, bagi mereka tidak ada etika yang dilanggar. Meskipun begitu,
pada buku Business Ethics 7th edition halaman 20, Velasquez mengatakan jika menaati
hukum tidak sepenuhnya bisa dianggap beretika karena ada beberapa hal yang tidak
secara legal ada pada peraturan.

Tindakan perbudakan anak di bawah umur secara universal tidak dibenarkan. Semua
pihak menganggap anak-anak harus mendapatkan hak bermain dan mendapat fasilitas
yang memadai. Di Ivory Coast, pekerja di bawah umur tidak hanya dipekerjakan, tapi
juga diperjualbelikan dan tidak mendapat fasilitas yang layak. Tindakan ini tentu
melawan etika dan moral yang dianut banyak orang. Maka, dapat disimpulkan meskipun
tidak ada pelanggaran hukum jual beli yang dilakukan, tapi secara tidak langsung
perusahaan coklat yang menjadi pelanggan melanggar etika karena tidak mendukung
secara penuh berbagai usaha penghentian perbudakan.