Anda di halaman 1dari 4

STRATEGIC MANAGEMENT

CASE STUDY :

“AIRBNB IN 2018”

DISUSUN OLEH :

Amal Fitra Iriansah [464989]

Carlita Lestari [465009]

Giffar Masabih [465049]

Irwan Prasetyawan [465063]

MAGISTER MANAJEMEN

FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS

UNIVERSITAS GADJAH MADA

2021
DESKRIPSI KASUS :

AirBnB merupakan perusahaan yang dibangun oleh Brian Chesky dan rekannya Joe
Gebbia melalui ide sederhana yaitu mencari uang untuk membayar sewa apartemen mereka.
Suatu ketika di tahun 2008, kedua sahabat tersebut tidak mempunyai biaya untuk membayar
sewa apartemen mereka. Berawal dari hal tersebut, keduanya mencetuskan ide dan gagasan
untuk menyulap sebagian ruang apartemen mereka menjadi tempat menginap yang bisa
disewakan ke orang lain. Selama perkembangannya mereka pun membuat situs sederhana untuk
menawarkan "penginapan" mereka.

Setelah mendapatkan keuntungan, sebuah perusahaan inkubator bisnis Y Combinator


tertarik berinvestasi di Airbnb. Pada 2009, nama Airbedandbreakfast.com berubah menjadi
Airbnb.com dan layanannya berkembang dari sekadar menyewakan kamar kosong menjadi
bisnis penyewaan rumah, apartemen, kastil, hingga rumah pohon

Kini, Airbnb menjadi perusahaan teknologi yang paling diperhitungkan. Meski tidak
memiliki latar belakang teknologi, di bawah kepemimpinan Brian, Airbnb telah digunakan lebih
dari 60 juta orang. Konsep yang ditawarkan oleh Airbnb ini semakin ramai dibicarakan oleh
orang-orang sebagai apa yang disebut sebagai ​sharing economy​. Bagaimana pendekatan
ekonomi berbagi bisa dilakukan secara komunal sementara dari sisi bisnis tetap bisa
menghasilkan keuntungan, yang melibatkan pemilik Aset dengan pengguna.

Perkembangan bisnis AirBnB yang pesat ini tentunya mengancam eksistensi bisnis
penginapan seperti Hotel dan Motel. Hal ini dikarenakan AirBnB mempunyai kelebihan untuk
tidak membayar beberapa kewajibannya seperti membayar pajak karena dipasarkan melalui
platform marketplace yang belum diatur UU perpajakannya. Sehingga jika dilakukan
perbandingan secara expense AirBnB, biaya yang dikeluarkan AirBnB jauh lebih kecil dibanding
Hotel dan Motel dan tentu berimplikasi ke Profit Margin yang diperoleh. Terlepas dari itu semua,
AirBnB juga memiliki sejumlah permasalahan karena bisnis ini dijalankan dengan tata cara yang
jauh lebih sederhana dibanding Hotel dan Motel, seperti back up legalnya, administrasi maupun
aturan-aturan operasionalnya. Sehingga baru-baru ini banyak juga permasalahan yang
diberitakan baik terkait operasional dengan pelanggan sampai dengan digunakan untuk modus
penipuan. Di era yang serba digital ini kemudahan dan simplifikasi proses merupakan nilai
unggul yang akan membedakan dalam kompetisi bisnis. Hal inilah yang dimiliki AirBnB
sehingga bisnis ini bisa berkembang dengan sangat pesat. Oleh karena itu dalam kesempatan ini
kita akan membedah Visi, Misi, Objectives AirBnB, sehingga kita bisa mengetahui strategic
Planning bisnis AirBnB agar mampu bertahan dalam kompetisi bisnis dalam industri, terlebih
semenjak 2020 dunia dilanda Pandemi COVID 19 yang menyebabkan Industri ini terdampak
paling parah.
ANALISA KASUS :

Strength : Weakness :
1. Tidak banyak mengeluarkan 1. Keamanan konsumen tidak terjamin.
kewajiban/biaya karena pemasaran 2. Tidak ada standarisasi pelayanan antar
melalui digital market place. Hal ini provider properti.
memudahkan pemilik properti BnB 3. Model bisnis mudah ditiru.
dalam memasarkan propertinya. 4. Perilaku konsumen yang terkadang
2. AirBnB Lebih mudah diakses oleh tidak terkontrol mengganggu
calon konsumen dibanding hotel lingkungan sekitar.
konvensional karena memiliki 5. Berkonfrontasi dan berkompetisi
jaringan aplikasi digital. langsung dengan industri yang sudah
3. Harga jasanya lebih terjangkau mapan.
dibandingkan hotel konvensional. 6. Partner dapat dengan bebas
4. Lebih mudah dalam mengembangkan menyediakan properti ilegal di dalam
jaringan hotel karena tidak perlu aplikasi AirBNB.
memiliki propertinya, cukup dengan 7. Customer Experience sangat
bekerjasama dengan properti yang bergantung pada tingkat pelayanan
sudah ada. masing-masing provider yang belum
5. Customer journey yang lebih “homey” terstandarisasi dan dapat merusak
dibandingkan hotel konvensional. nama baik AirBNB.
6. Belum ada regulasi yang secara ketat
mengatur industri digital marketplace
penginapan.

Opportunity Threat
1. Banyak pasar sasaran di berbagai 1. Munculnya isu diskriminasi terhadap
negara masih dapat dikembangkan. konsumen dari ras tertentu.
2. Banyaknya destinasi wisata di daerah 2. Rancangan regulasi yang mulai
rural yang belum banyak provider diterapkan pemerintah setempat akan
penginapan konvensional. membatasi ruang gerak AirBNB.
3. Mudah bekerjasama dengan pengelola 3. Melawan bisnis konglomerasi industri
destinasi wisata yang terpencil. perhotelan yang sudah mapan..
4. Memanfaatkan teknologi untuk 4. Pesaing dari hotel konvensional mulai
memasarkan jasa layanan akomodasi. mengikuti pemasaran via aplikasi
5. Biaya pemasaran cenderung lebih digital.
murah. 5. Mulai banyak pesaing yang meniru
6. Target pasar yang lebih besar. model bisnis AirBNB.
7. Range diferensiasi kelas properti yang 6. Older Generation sulit menerima
lebih beragam. metode digital yang lebih modern.
7. Buruknya jaringan internet akan
berpengaruh buruk terhadap proses
transaksi dan proses bisnis
keseluruhan.
Rekomendasi Kelompok 7 :

Dari hasil analisis SWOT di atas, kami merekomendasikan beberapa strategi dalam
mengembangkan bisnis AirBNB:
1. Menambah partner dan mengembangkan jaringan provider properti melalui penetrasi
terhadap wilayah yang belum terekspos namun memiliki potensi wisata.
2. Membuat SOP internal untuk standarisasi provider yang layak bekerjasama dengan
AirBNB.
3. Membuat sistem jaminan keamanan konsumen dan partner.
4. Melakukan lobby terhadap pemerintah untuk menetapkan regulasi yang sederhana yang
memungkinkan setiap orang mendapatkan manfaat untuk dapat menjadi partner penyedia
layanan AirBNB.
5. Membuat program pengalaman unik untuk para wisatawan di berbagai negara dan
destinasi wisata.

Kesimpulan:

AirBNB memiliki keunggulan yang sangat jelas melalui model bisnisnya pada ranah
digital yang membuat AirBNB jauh lebih ​agile dalam pengembangan bisnis dan jangkauan
layanannya. Meskipun mendapatkan perlawanan dari komunitas industri penginapan yang sudah
established​, selagi regulasi belum terlampau membatasi ruang gerak, AirBNB masih dapat
memanfaatkan momen ini untuk terus mengembangkan bisnisnya dan meningkatkan jumlah
partner dan provider untuk menjangkau wilayah yang berpotensi memiliki nilai pariwisata.
Model ​economic sharing yang mulai banyak diadopsi oleh unit bisnis lain memang
merubah lanskap industri dan berpotensi memunculkan disrupsi pada industri yang sudah mapan.
AirBNB sebagai penggerak disrupsi ini memiliki keunggulan sebagai pionir yang dapat
mengeksploitasi peluang bisnis ini. Meskipun AirBNB tidak terlepas dari ancaman baik dari
sesama pesaing di industri penginapan maupun regulator di wilayah tempat AirBNB beroperasi
(polisi virtual), sulit bagi pesaing di industri yang sama yang masih menggunakan model bisnis
lama (​owning)​ untuk meniru apa yang sudah dicapai oleh AirBNB. Fokus utama dari AirBNB
untuk sekarang haruslah memperluas jangkauan wilayah operasi dan peningkatan jumlah partner.
Sembari mengembangkan standar mutu agar dapat diterapkan oleh seluruh properti yang
bekerjasama dengan AirBNB untuk memastikan terciptanya kepuasan konsumen.