Anda di halaman 1dari 28

STRATEGI PENGEMBANGAN SUB SEKTOR PERTANIAN

DALAM UPAYA PENINGKATAN PEREKONOMIAN


KABUPATEN MANGGARAI TIMUR

Disusun Oleh:
FEMILIA KASIHANI
1710010153

JURUSAN EKONOMI PEMBANGUNAN


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG
2019
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pertanian merupakan bagian dari pembangunan nasional yang bertujuan

untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat yang bergerak

di sektor pertanian. Pembangunan pertanian di Indonesia saat ini mempunyai

peranan yang sangat penting bagi kepentingan masyarakat terutama untuk

usaha pertanian yang meliputi tanaman pangan dan hortikultura, perkebunan,

peternakan serta perikanan (Faqih, 2010). Hal ini menunjukan bahwa sektor

pertanian telah membuktikan peranannya dalam perekonomian nasional

melalui pembentukan Produk Domestik Bruto(PDB).

Pertumbuhan ekonomi suatu daerah yang meningkat ditunjukkan dengan

melihat tingkat pertambahan Produk Domestik Regional Bruto(PDRB),

sehingga tingkat perkembangan PDRB per kapita yang dicapai masyarakat

seringkali sebagai ukuran kesuksesan suatu daerah dalam mencapai cita-cita

untuk menciptakan pembangunan ekonomi (Sukirno,2012).

Perkembangan laju pertumbuhan ekonomi dan peningkatan PDRB dari

tahun ke tahun merupakanindikator maupun tolok ukursuatu

keberhasilanpembangunandaerah yang dapat dikategorikan dalam berbagai

sektor ekonomi yaitusalahsatunyamerupakan sektor pertanian.Berikut ini

merupakan peranan atau kontribusi sektor pertanian terhadap PDB indonesia

serta laju pertumbuhan ekonomi yang dapat dilihatpada tabel 1.1 sebagai

berikut:
Tabel 1.1
PDB Sektor Pertanian Atas Harga Konstan 2020
dan Laju Pertumbuhan, Tahun 2016–2020
PDB
PDBAtas
AtasHarga
HargaKonstan
Konstan(Miliar)
(Miliar) Laju
LajuPertumbuhan
Pertumbuhan
No
No Uraian
Uraian 2016
2016 2017
2017 2018
2018 2019*
2019* 2020**
2020** 2017
2017 2018
2018 2019*
2019* 2020**
2020**
11 Tanaman
TanamanPangan
Pangan 287.216,50
287.216,50 293.858,00
293.858,00 298.027,30
298.027,30 292.883,00
292.883,00 303.247,40
303.247,40 0,02
0,02 0,01
0,01 (0,02)
(0,02) 0,04
0,04
22 Tanaman
TanamanHortikultura
Hortikultura 130.832,30
130.832,30 135.649,00
135.649,00 145.131,20
145.131,20 153.157,80
153.157,80 159.539,30
159.539,30 0,04 0,07 0,06
0,04 0,07 0,06 0,04 0,04
33 Tanaman
TanamanPerkebunan
Perkebunan 357.137,70
357.137,70 373.194,20
373.194,20 387.496,70
387.496,70 405.147,50
405.147,50 410.553,40
410.553,40 0,04
0,04 0,04
0,04 0,05
0,05 0,01
0,01
44 Peternakan
Peternakan 143.036,50
143.036,50 148.688,80
148.688,80 155.539,90
155.539,90 167.637,90
167.637,90 167.084,80
167.084,80 0,04
0,04 0,05
0,05 0,08
0,08 (0,00)
(0,00)
55 Jasa Pertanian dan Perburuhan
Jasa Pertanian dan Perburuhan 18.133,90
18.133,90 18.872,90
18.872,90 19.459,90
19.459,90 20.076,70
20.076,70 20.398,20
20.398,20 0,04
0,04 0,03
0,03 0,03
0,03 0,02
0,02
66 Kehutanan
Kehutanan 60.002,00
60.002,00 61.279,60
61.279,60 62.981,80
62.981,80 63.217,60
63.217,60 63.195,90
63.195,90 0,02
0,02 0,03
0,03 0,00
0,00 (0,00)
(0,00)
77 Perikanan
Perikanan 214.596,60
214.596,60 226.833,20
226.833,20 238.616,20
238.616,20 252.278,60
252.278,60 254.112,30
254.112,30 0,06
0,06 0,05
0,05 0,06
0,06 0,01
0,01
PDB
PDB 1.210.955,50
1.210.955,50 1.258.375,70
1.258.375,70 1.307.253,00
1.307.253,00 1.354.399,10
1.354.399,10 1.378.131,30
1.378.131,30 0,26 0,28 0,25
0,26 0,28 0,25 0,11 0,11
Sumber: Indikator Ekonomi Desember 2020 (Badan Pusat Statistik)
Keterangan : *) Angka Sementara
**) Angka Sangat Sementara

Berdasarkan Tabel 1.1 diatas, sektor pertanian secara sempit meliputi

tanaman pangan, tanaman hortikultura, tanaman perkebunan, peternakan serta

jasa pertanian dan perburuan. Total PDB tahun 2016 hingga 2020 meningkat

dengan nilai rata-rata peningkatan sebesar 0,23%. Peningkatan kontribusi

sektor pertanian diikuti dengan laju pertumbuhan ekonomi yang meningkat

pada tahun 2011 dan 2012 sebesar 0,60% namun menurun pada tahun 2013

sebesar 0,36% dan pada tahun 2014 menurun sebesar 0,06%.

Kondisi pertumbuhan sektor pertanian yang menurundisebabkan

karenamundurnya periode tanam, gagal panen serta hasil produksi yang

menurun. Penurunan pertumbuhan sektor pertanian tidak hanya dirasakan di

Indonesia, namun juga dirasakan di daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur

(NTT).

Provinsi NTTmemiliki struktur perekonomian yang masih didominasi

oleh sektor pertanian. Perekonomian ProvinsiNTT pada dasarnya merupakan


perekonomian agraris yang dicirikan dengan besarnya peranan sektor

pertanian(Indikator Ekonomi Provinsi Nusa Tenggara Timur, 2015).

Tabel 1.2
Laju Pertumbuhan Ekonomi Per Tahun
Nusa Tenggara Timur dan Indonesia (persen) Tahun 2011-2015
Periode Nusa Tenggara Timur Indonesia
2011 5,67 6,98
2012 5,46 6,03
2013 5,42 5,58
2014*) 5,04 5,02
2015**) 5,02 4,79
Sumber: Indikator Ekonomi NTT 2015
Keterangan : *)Angka Sementara
**)Angka Sangat Sementara

BerdasarkanTabel 1.2dapat dilihat bahwa perbandingan antara

pertumbuhan ekonomi Indonesia dan Provinsi NTT periode 2011-2015 yang

mengalami penurunan tingkat pertumbuhan ekonomi.Laju pertumbuhan

ekonomi ProvinsiNTT menurun selama lima tahun dengan niai rata-rata

penurunan sebesar 0,16%.Sedangkanuntuk laju pertumbuhan

ekonomiIndonesiamenurun dengan nilai rata-rata penurunan sebesar 0,55%

selama lima tahun.Pertumbuhan ekonomiyang menurun setiap tahun

disebabkan oleh kondisi perkenomian yang kurang mendukung seperti

rendahnya harga komoditas dan melemahnya pertumbuhan investasi terus

menekan sehingga pertumbuhan ekonomi bergerak lamban.

Kondisi pertumbuhan ekonomi di Provinsi NTTmenunjukkan seberapa

besar ukuran pertumbuhan ekonomi pada wilayah tersebut.Besarnya

kontribusi PDRB tiap kabupaten/kota di NTTdapatdilihat pada tabel 1.3.

Tabel 1.3
PDRB Menurut Kabupaten/Kota
Atas Dasar Harga Konstan 2010 (miliar rupiah) dan
Kontribusinya Terhadap Provinsi Nusa Tenggara Timur Tahun 2015
Kontribusi
No Kabupaten/Kota PDRB
(%)
1 Sumba Barat 1.129,10 2,09
2 Sumba Timur 3.117,97 5,76
3 Kupang 3.574,32 6,61
4 Timor Tengah Selatan 3.764,97 6,96
5 Timor Tengah Utara 2.282,73 4,22
6 Belu 2.258,12 4,17
7 Alor 1.583,25 2,93
8 Lembata 915,54 1,69
9 Flores Timur 2.792,86 5,16
10 Sikka 2.601,43 4,81
11 Ende 3.238,37 5,98
12 Ngada 1.809,10 3,34
13 Manggarai 2.358,94 4,36
14 Rote ndao 1.492,27 2,76
15 Mangarai Barat 1.752,25 3,24
16 Sumba Barat Daya 590,68 1,09
17 Sumba Tengah 1.812,23 3,35
18 Nagakeo 1.095,30 2,02
19 Manggarai Timur 1.583,56 2,93
20 Sabu Raijua 614,21 1,14
21 Malaka 1.462,31 2,70
22 Kota Kupang 12.167,33 22,49
Nusa Tenggara Timur 54.108,48 100.00
Sumber:NTT Dalam Angka 2015

Peranan sektor pertanian merupakan sektor yang besar kontribusinya

terhadap PDRB, baik itu di tingkat nasional maupun di daerah namun

pertumbuhan setiap tahun mengalami penurunan atau perlambatan. Oleh

karena itu perlu adanya intervensi pemerintah dalam membuat strategi

pengembangan pada sektor pertanian yang berorientasi pada tingkat pusat

maupun daerah.

Kabupaten Manggarai Timur merupakan daerah yang memiliki jumlah

kecamatan rata-rata di Provinsi NTT yaitu sebanyak 9 Kecamatan.Kabupaten

Manggarai Timur merupakan salah satu kabupaten penghasil pangan, oleh

karena itu produktivitas tanaman pangan perlu ditingkatkan guna menopang

kebutuhan pangan di Kabupaten Manggarai Timur (ttskab.go.id).Dalam


upaya untuk meningkatkan perekonomian Kabupaten Manggarai Timur dapat

dilakukan suatu strategi pengembangan perekonomian yang berbasis sektor

pertanian.

subsektor tanaman pangan merupakan salah satu sub sektor pertanian

yang mempunyai nilai kontribusi besar terhadap PDRB sektor pertanian di

Kabupaten Manggarai Timur, oleh karena itu langkah yang diambil dalam

pengembangan perekonomian Kabupaten Manggarai Timur dapat dilakukan

dengan pengembangan sektor pertanian khususnya untuk subsektor tanaman

pangan.

Pemanfaatan sub sektor tanaman pangan yang belum optimal di

Kabupaten Manggarai Timur, disebabkan karena belum terkonsentrasinya

sentra-sentra pengembangan komoditas pada subsektor tanaman pangan di

setiap kecamatan di Kabupaten Manggarai Timur.Pengelolaan yang baik dan

berdasarkan strategi perencanaaan yang baik maka subsektor tanaman pangan

akan memberikan kontribusi yang maksimal bagi PDRB sektor pertanian

Kabupaten Manggarai Timur.

Kabupaten Manggarai Timur adalah kabupaten yang memiliki sektor

potensial yaitu sektor pertanian yang memberikan kontribusi besar terhadap

PDRB khususnya untuk sub sektor tanaman pangan. Namun tidak didukung

dengan adanya sarana prasarana,modal dan teknologi yang memadai, tidak

adanya fasilitas penunjang dalam hal sistem keuangan lembaga

(asuransi/koperasi), hal ini tentunya akan menurunkan kualitas pertanian di

Kabupaten Manggarai Timur. Untuk itu dibutuhkan strategi yang tepat dalam
pengembangan sektor pertanian agar dapat meningkatkan

pendapatan/perekonomian masyarakat.

Peranan sektor pertanian dalam pembangunan ekonomi sangat penting,

karena sebagian besar anggota masyarakat di Kabupaten Manggarai Timur

menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian. Perencanaan pembangunan

daerah dianggap sebagai perencanaan untuk memperbaiki sumber daya publik

yang tersedia di daerah tersebut. Berdasarkan latar belakang diatas membuat

penulis tertarik untuk meneliti tentang “STRATEGI PENGEMBANGAN

SEKTOR PERTANIAN DALAM UPAYA PENINGKATAN

PEREKONOMIAN KABUPATEN MANGGARAI TIMUR”

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka masalah di dalam

penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

1. Apa saja yang menjadi sub sektor basis pada sektor pertanian di

Kabupaten Manggarai timur?

2. Apa saja yang menjadi strategi pengembangansub sektor tanaman pangan

padasub sektor pertanian di Kabupaten Manggarai Timur?

3. Apa saja yang menjadi prioritas pengembangan komoditas tanaman

pangan pada sub sektor pertanian di Kabupaten Manggarai Timur?

1.3. Tujuan Penelitian

Adapun yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Menentukan sub sektor basis pada sektor pertanian Kabupaten

Manggarai Timur

2. Menentukan strategi pengembangansub sektor tanaman pangan padasub


sektor pertanian Kabupaten Manggarai Timur.

3. Menentukan prioritas pengembangan komoditas tanamanpangan pada

sub sektor pertanianKabupaten Manggarai Timur.

1.4. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini adalah:

1. Manfaat Umum, meliputi:

Memberikan bahan informasi untuk Badan Perencanaan Pembangunan

Daerah (BAPPEDA) dalam mengambil kebijakan.

2. Manfaat Khusus, meliputi:

1) Sebagai masukan bagi pemerintah daerah khususnya Dinas Pertanian,

dalam pengambilan kebijakan yang berkaitan dengan peran pemerintah

serta upaya meningkatkan kesehjateraan masyarakat pada umumnya.

2) Untuk pengembangan ilmu pengetahuan di bidang ekonomi

pembangunan.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Kajian Teoritis

2.1.1. Strategi

Strategi adalah rencana berskala besar yang berorintas jangkauan masa

depan yang jauh serta ditetapkan sedemikian rupa sehingga memungkinkan

organisasi berinteraksi secara efektif dengan lingkungannya dalam kondisi

persaingan yang semuanya diarahkan pada optimalisasi pencapaian tujuan

dengan berbagai sasaran organisasi yang bersangkutan.

Strategi menurut pendapat Rangkuti (2013) adalah perencanaan induk

yang komprehensif menjelaskan bagaimana perusahaan akan mencapai

semua tujuan yang telah di tetapkan berdasarkan misi yang telah di tetapkan

sebelumnya.Dalam buku Analisis SWOT, Teknis Membedah Kasus Bisnis

yang dikemukakan oleh Rangkuti, mengutip pendapat dari beberapa ahli

mengenai strategi, yaitu:


1. Chandler, Strategi merupakan alat untuk mencapai tujuan perusahaan

dalam kaitannya dengan tujuan jangka panjang, program tindak lanjut,

serta prioritas alokasi sumber daya.

2. Learned, Christensen, Andrews, dan Guth, Strategi merupakan alat

untuk menciptakan keunggulan bersaing. Dengan demikian salah satu

fokus strategi adalah memutuskan apakah bisnis tersebut harus ada atau

tidak.

3. Argyris, Mintzberg, Steiner dan Miner, Strategi merupakan respon

secara terus-menerus maupun adaptif terhadap peluang dan ancaman

eksternal serta kekuatan dan kelemahan internal yang dapat

memengaruhi organisasi.

4. Porter, Strategi adalah alat yang sangat penting untuk mencapai

keunggulan bersaing.

5. Andrews, Chaffe, Strategi adalah kekuatan motivasiuntuk stakeholders,

seperti stakeholders, debtholders, manajer, karyawan, konsumen,

komunitas, pemerintah, dan sebagainya, yang baik secara langsung

maupun tidak langsung menerima keuntungan atau biaya yang

ditimbulkan oleh semua tindakan yang dilakukan oleh perusahaan.

6. Hamel dan Prahalad, Strategi merupakan tindakan yang bersifat

incremental (senantiasa meningkat) dan terus menerus dan dilakukan

berdasarkan sudut pandang tentang apa yang diharapkan pelanggan di

masa depan.

Strategi pembangunan pertanian dapat dikatakan berhasil apabila

mampu berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan masyarakat, sehingga


tidak semata berorientasi pada peningkatan produksi fisik sekian macam

komoditas pertanian tanaman pangan dan hortikultura, perkebunan,

peternakan, dan perikanan. Kriteria keberhasilan itu seharusnya dapat

diukur dari perbaikan tingkat pendapatan usahatani (dan pelaku di sektor

lain), peningkatan produktivitas tenaga kerja, serta perbaikan indikator

makro seperti pengurangan angka kemiskinan dan pengangguran (Arifin,

2005).

2.1.2. Sektor dan Sub Sektor Pertanian

Pertanian dalam arti luas, yaitu suatu bidang usaha yang mencakup

bidang tanaman, bidang peternakan, dan bidang perikanan. Kelebihan dari

definisi tersebut yaitu, pertanian di sini tidak hanya membahas arti pertanian

yang sebenarnya, yaitu yang berhubungan dengan tanaman saja, tetapi juga

membahas bahwa pertanian juga mencakup tentang hewan-hewan yang juga

dibudidayakan. Pertanian dalam arti sempit, yaitu suatu usaha hanya di

bidang tanaman. Pertanian di sini hanya mengutamakan budidaya tanaman,

tidak dikemukakan faktor-faktor apa saja yang mendukung, terkait atau

merupakan pengembangan dari kegiatan budidaya tersebut (Fatah, 2007).

Menurut Soemitro (2012), pertanian adalah satu sistemyang mentrasfer

energi matahari ke dalam bentuk energi yang bermanfaat bagi manusia, baik

dalam bentuk serat-seratan maupun dalam bentuk pangan (beras, daging,

telur, ikan) atau bahkan pangan lainnya.

Pertanian merupakan suatu macam produksi khusus yang didasarkan

atas proses pertumbuhan tanaman dan ternak. Dapat dikatakan bahwa

pertanian merupakan suatu industri biologi, oleh karena pertanian


berproduksi dengan menggunakan sumber daya alam secara langsung,

pertanian juga disebut industri primer. Tanaman merupakan pabrik primer

pertanian, sedangkan ternak merupakan pabrik sekunder pertanian Pertanian

juga adalah suatu kegiatan biologis untuk menghasilkan berbagai kebutuhan

manusia termasuk sandang, pangan, papan. Produksi tersebut dapat

dikonsumsi langsung maupun jadi bahan antara untuk proses lebih lanjut.

Sub sektor pertanian yaitu semua kegiatan yang meliputi penyediaan

komoditi tanaman pangan, perkebunan, peternakan, kehutanan, dan

perikanan. Semua kegiatan penyediaan bahan makanan,perkebunan,

peternakan, kehutanan, dan perikanan (Statistik Pertanian, 2009). Sub

sektor dari sektor pertanian mencangkup:

1. Tanaman pangan ialah tanaman yang menjadi bahan pokok atau utama

dalam pola konsumsi manusia seperti beras, jagung, gandum.

2. Tanaman perkebunan seperti tanaman sayur-sayuran dan buah-buahan

sebagai pelengkap dari pola konsumsi manusia.

3. Kehutanan adalah usaha tani dengan subjek tumbuhan (biasanya pohon)

dan diusahakan pada lahan yang setengah liar atau liar (hutan).

4. Peternakan menggunakan subjek hewan darat kering (khususnya semua

hewan vertebrata kecuali ikan dan amfibi) atau serangga (misalnya

lebah).

5. Perikanan memiliki subjek hewan perairan (termasuk amfibi dan semua

non-vertebrata air).

2.1.3. Peran Sektor Pertanian Terhadap Perekonomian

Sektor pertanian menjadi sebuah sektor penting dalam sebuah negara


yang dapat menjadi sektor penyumbang perekonomian, terutama pada

sebuah negara agraris yang sebagian besar penduduknya menggantungkan

hidup pada sektor pertanian. Sektor pertanian mendapatkan perhatian

dominan dinegara-negara yang sebagian besar penduduknya

menggantungkan hidup pada sektor ini. Diperlukan setidaknya tiga unsur

pelengkap untuk membentuk suatu strategi pembangunan ekonomi

berlandaskan prioritas pertanian dan ketenagakerjaan (Todaro, 2006):

1. Percepatan pertumbuhan output melalui serangkaian penyesuaian

teknologi, institusional, dan insentif harga yang khusus dirancang untuk

meningkatkan produktivitas para petani kecil.

2. Peningkatan permintaan domestik terhadap output pertanian yang

dihasilkan dari strategi pembangunan perkotaan yang berorientasikan

pada upaya pembinaan ketenagakerjaan.

3. Diversifikasi kegiatan pembangunan daerah pedesaan yang bersifat

padat karya, yaitu nonpertanian, yang secara langsung dan tidak

langsung akan menunjang dan ditunjang oleh masyarakat pertanian.

Negara berkembang pertanian merupakan suatu sektor ekonomi yang

sangat potensional kontribusinya terhadap pertumbuhan dan perkembangan

ekonomi nasional (Tambunan, 2001), yaitu:

1. Perluasan dari sektor-sektor ekonomi nonpertanian sangat tergantung

pada produk-produk dari sektor pertanian, bukan saja untuk

kelangsungan pertumbuhan suplai makanan, tetapi juga untuk

penyediaan bahan-bahan baku untuk keperluan kegiatan produksi

disektor-sektor non pertanian tersebut, terutama industri pengolahan.


Seperti industri-industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian

jadi, barang-barang dari kulit, dan farmasi. Hal ini disebut sebagai

kontribusi produk.

2. Sektor pertanian yang kuat dari segi ekonomi selama tahap-tahap awal

pembangunan, maka populasi di sektor pertanian (daerah pedesaan)

membentuk suatu bagian yang sangat besar dari pasar (permintaan)

domestik terhadap produk-produk dari industri dan sektor-sektor lain di

dalam negeri, baik untuk barang-barang produsen maupun barang-

barang konsumen. Hal ini disebut kontribusi pasar.

3. Sektor pertanian relatif penting (dilihat dari sumbangan outputnya

terhadap pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) dan andilnya

terhadap penyerapan tenaga kerja) tanpa bisa dihindari menurun dengan

pertumbuhan atau semakin tingginya tingkat pembangunan ekonomi,

sektor ini dilihat sebagai suatu sumber modal untuk investasi di dalam

perekonomian. Jadi, pembangunan ekonomi melibatkan transfer surplus

modal dari sektor pertanian ke sektor-sektor nonpertanian. Dalam

proses pembangunan ekonomi jangka panjang terjadi perpindahan

surplus tenaga kerja dari pertanian (pedesaan) ke industri dan sektor-

sektor nonpertanian lainnya (perkotaan). Hal ini disebut kontribusi

faktor-faktor produksi.

4. Sektor pertanian mampu berperan sebagai salah satu sumber penting

bagi surplus neraca perdagangan atau neraca pembayaran (sumber

devisa), baik lewat ekspor hasil-hasil pertanian atau peningkatan


produksi komoditas-komoditas pertanian menggantikan impor

(substitusi impor). Hal ini disebut kontribusi devisa.

Secara konseptual maupun empiris sektor pertanian cukup layak untuk

dijadikan sebagai sektor andalan dalam perekonomian terutama sebagai

sektor andalan dalam pemerataan tingkat pendapatan masyarakat yang

sebagian besar bekerja pada sektor pertanian, hal ini dikarenakan sektor

pertanian mempunyai keunggulan kompetitif yang terbukti mampu

menghadapi gangguan dari luar. Keunggulan kompetitifnya didapat dari

input yang berbasis sumber daya lokal.

2.1.4. Pembangunan Ekonomi Daerah

Pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses, yaitu proses yang

mencakup pembentukan institusi-institusi baru, pembangunan industri-

industri alternatif, dimana pemerintah daerah dan masyarakat mengelolah

sumber daya yang ada dan membentuk suatu pola kemitraan antara daerah

dengan sektor swasta. Masalah pokok dalam pembangunan daerah terletak

pada penekanannya terhadap kebijakan-kebijakan pembangunan yang

didasarkan pada ciri khas (unique value) dari daerah yang bersangkutan

dengan menggunakan potensi sumber daya manusia, kelembagaan, dan

sumber daya fisik secara lokal (daerah), (Arsyad, 1999).

Pembangunan daerah memiliki tujuan utama untuk menigkatkan jumlah

dan jenis peluang kerja untuk masyarakat daerah. Dalam upaya untuk

mencapai tujuan tersebut, pemerintah dan masyarakatnya harus secara

bersama-sama mengambil inisiatif pembangunan daerah. Pembangunan

darah dapat dilihat dari berbagai segi. Pertama, dari segi pembangunan
sektoral, pencapaian sasaran pembangunan nasional dilakukan melalui

kegiatan sektoral yang di lakukan didaerah. Pembagunan sektoral

disesuaikan dengan kondisi dan potensi daerah. Kedua, dari segi

pembangunan wilayah yang meliputi perkotaan dan pedesaan sebagai pusat

dan lokasi kegiatan sosial ekonomi dari wilayah tersebut. Ketiga,

pembagunan daerah dilihat dari segi pemerintahan. Tujuan pembangunan

daerah hanya dicapai apabila pemerintahan daerah dapat berjalan dengan

baik. Pembangunan daerah merupakan suatu usaha mengembangkan dan

memperkuat pemerintahan daerah dalam rangka makin mantapnya otonomi

daerah yang nyata, dinamis serasi dan bertanggung jawab.

Pembangunan ekonomi oleh beberapa ekonomi dibedakan

pengertiannya dengan pertumbuhan ekonomi. Pembangunan ekonomi

diartikan sebagai:

1. Peningkatan pendapatan perkapita masyarakat, yaitu tingkat

pertambahan PDRB pada suatu tingkat tertentu adalah melebihi tingkat

pertambahan penduduk.

2. Perkembangan PDRB yang berlaku dalam suatu daerah/negara diikuti

oleh perombakan dan modernisasi struktur ekonominya.

2.1.5. Teori Lokasi

Menurut Tarigan (2012) teori lokasi adalah ilmu yang menyelidiki tata

ruang (spatial order) kegiatan ekonomi, atau ilmu yang menyelidiki alokasi

geografis dari sumber-sumber yang potensial serta hubungan atau

pengaruhnya terhadap keberadaan berbagai macam usaha atau kegiatan lain

baik ekonomi maupun sosial. Lokasi berbagai kegiatan seperti rumah


tangga, pertokoan, pabrik, pertanian, pertambangan, sekolah,dan tempat

ibadah tidaklah asal saja/acak berada di lokasi tersebut, melainkan

menunjukkan pola dan susunan (mekanisme) yang dapat diselidiki dan

dapat dimengerti. Ketika mempelajari lokasi berbagai kegiatan, ahli

ekonomi regional/geografi terlebih dahulu membuat asumsi bahwa ruang

yang dianalisis adalah datar dan kondisinya di semua arah adalah sama.

Dalam kondisi seperti ini, bagaimana manusia mengatur kegiatannya dalam

ruang, baru kemudian asumsi ini dilonggarkan secara bertahap sehingga

ditemukan kondisi dalam dunia nyata.

Kondisi dan potensi setiap wilayah adalah berbeda dalam dunia nyata.

Dampaknya menjadi lebih mudah dianalisis karena tingkah laku manusia

dalam kondisi potensi ruang sama, sudah diketahui. Salah satu unsur ruang

adalah jarak. Jarak menciptakan “gangguan” ketika manusia

berhubungan/bepergian dari satu tempat ke tempat lainnya karena

dibutuhkan waktu dan tenaga (biaya) untuk mencapai lokasi yang satu dari

lokasi lainnya. Makin jauh jarak yang ditempuh, makin menurun minat

orang untuk bepergian dengan asumsi faktor lain semuanya sama. Salah satu

hal yang banyak dibahas dalam teori lokasi adalah pengaruh jarak terhadap

intensitas orang bepergian dari satu lokasi ke lokasi lainnya. Analisis ini

dapat dikembangkan untuk melihat bagaimana suatu lokasi yang memiliki

potensi/daya tarik terhadap batas wilayah pengaruhnya dimana orang masih

ingin mendatangi pusat yang memiliki potensi tersebut. Hal ini terkait

dengan besarnya daya tarik pada pusat tersebut dan jarak antara lokasi

dengan pusat tersebut (Tarigan, 2012).


2.1.6. Teori BasisEksporRichardson

Kegiatanbasisadalahkegiatanyang bersifatexogenous artinyatidak

terikatpadakondisiinternalperekonomian wilayahdansekaligusberfungsi

mendorong tumbuhnyajenispekerjaanlainnya.Sedangkan pekerjaan

service(nonbasis)merupakankegiatan yang dilakukan untuk memenuhi

kebutuhan masyarakatdaerah itu sendiri sehingga pertumbuhannya

bergantung pada kondisi umum perekonomian wilayah tersebut yang

sektornya ini bersifat endogenous.Teoribasis ekspor membagi kegiatan

produksi atau jenis pekerjaan yang terdapatdidalam suatu wilayah yang

terdiri atas pekerjaan basis (dasar) dan pekerjaan service (pelayanan).Teori

basisekspo rmerupakan teori yang sederhana dalam membicarakan unsur-

unsure pendapatan daerah, serta dapat memberikan kerangka teoritis bagi

banyak studi empiris tentang multiplier regional. Kegiatan local yang

melayani sektor pertanian adalah pekerjaan basis karena mendatangkan

uangdari luar daerah(Tarigan,2012).

Sektor basis dan non basis ekonomi suatu wilayah dapat diketahui

dengan menggunakan analisisLocation Quotient(LQ). LQdigunakan untuk

mengetahui seberapa besar tingkat spesialisasi sektorbasis atau unggulan

dengan cara membanding perannya dalam perekonomian daerah tersebut

dengan peranan kegiatan atau industry sejenis dalam perekonomian regional

(Tarigan, 2012).

2.1.7. Analisis Strength, Weakness, Opportunity, Threat(SWOT)

Analisis SWOT mencakup upaya-upaya untuk mengenali kekuatan,

kelemahan, peluang, dan ancaman yang menentukan kinerja perusahaan.


Informasi eksternal mengenai peluang dan ancaman dapat diperoleh dari

banyak sumber, termasuk pelanggan, dokumen pemerintah, pemasok,

kalangan perbankan, rekan diperusahaan lain. Banyak perusahaan

menggunakan jasa lembaga pemindaian untuk memperoleh keliping surat

kabar, riset di internet, dan analisis tren-tren domestik dan global yang

relevan (Rangkuti, 2013).

Menurut Freddy Rangkuti (2013), menjelaskan bahwa Analisis SWOT

adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan

strategi perusahaan. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat

memaksimalkan kekuatan (strength) dan peluang (opportunity), namun

secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weakness) dan ancaman

(threats). Analisis SWOT adalah proses analisis faktor-faktor strategis

perusahaan (kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman) dalam kondisi saat

ini.

Pengambilan keputusan strategi selalu berkaitan dengan pengembangan

misi, tujuan, strategi dan kebijakan perusahaan. Sehingga perencanaan

strategi harus menganalisa faktor-faktor strategi perusahaan (kekuatan,

kelemahan, peluang dan ancaman) dalam kondisi yang saat ini. Matriks

SWOT tersaji dalam tabel sebagai berikut:

Tabel 2.1
Matriks SWOT
Internal Strengths (S) Weaknesses (W)
Tentukan faktor-faktor Tentukan faktor-faktor
External kekuatan internal kelemahan internal
Opportunities (O) Strategi S-O Strategi W-O
Tentukan faktor- Ciptakan strategi yang Ciptakan strategi yang
faktor peluang menggunakan kekuatan untuk meminimalkan kelemahan
untuk memanfaatkan
eksternal memanfaatkan peluang
peluang
Threats (T) Strategi S-T Strategi W-T
Tentukan faktor- Ciptakan strategi yang Ciptakan strategi yang
faktor ancaman menggunakan kekuatan untuk meminimalkan kelemahan
eksternal mengatasi ancaman dan menghindari ancaman
Sumber: Rangkuti 2013

Analisis SWOT membandingkan antara faktor eksternal peluang

(opportunity) dan ancaman (threats) dengan faktor internal kekuatan

(strength) dan kelemahan (weakness). Faktor eksternal dan internal menurut

Rangkuti (2013) untuk menganalisis secara lebih dalam tentang SWOT,

maka perlu dilihat faktor eksternal dan internal sebagai bagian penting

dalam analisis SWOT, yaitu:

1. Faktor eksternal ini mempengaruhi terbentuknya opportunitiesand

threats (O dan T), dimana faktor ini menyangkut dengan kondisi-

kondisi yang terjadi di luar perusahaan yang mempengaruhi dalam

pembuatan keputusan perusahaan. Faktor ini mencakup lingkungan

industri dan lingkungan bisnis makro, ekonomi, politik, hukum,

teknologi, kependudukan, dan sosial budaya dan mempengaruhi

terbentuknya strengthsandweaknesses (S dan W).

2. Faktor internal ini meliputi semua macam manajemen fungsional:

pemasaran, keuangan, operasi, sumberdaya manusia, penelitian dan

pengembangan, sistem informasi manajemen dan budaya perusahaan

(corporate culture).

2.1.8. Analisis Analytical Hierarchy Process (AHP)

Analytical Hierarchy Process(AHP) adalah teknik terstruktur untuk

mengorganisir dan menganalisa keputusan yang kompleks,


berdasarkanmatematika dan psikologi.Analisis AHP dikembangkan oleh

Thomas L. Saaty pada tahun 1970 dan telah diteliti secara luas dan

disempurnakan sejak saat itu, (Wikipedia.org). Struktur sebuah model AHP

adalah model dari sebuah pohon terbaik. Ada suatu tujuan tunggal di puncak

pohon yang mewakili tujuan dari masalah pengambilan keputusan. Seratus

persen bobot keputusan ada dititik ini. Tepat dibawah tujuan adalah titik

daun yang menunjukan kriteria, baik kualitatif maupun kuantitatif.

Bobottujuan harus dibagi diantara titik-titik kriteria berdasarkan rating,

(Firmansyah, 2013).

Pemecahan masalah dalam AHP menggunakan prinsip utama menurut

Saaty, yaituDecompositiot, Comparative Judgement, dan Logical

Concistency. Secara garis besar prosedur AHP meliputi tahapan sebagai

berikut:

1. Dekomposisi masalah, langkah dimana suatu tujuan (Goal) yang telah

ditetapkan selanjutnya diuraikan secara sistematis kedalam struktur

yang menyusun rangkaian system hingga tujuan dapat dicapai secara

rasional.

2. Penilaian atau pembobotan untuk membandingkan elemen-elemen,

penilaian perbandingan berpasangan (pembobotan) pada tiap-tiap

hirarki berdasarkan tingkat kepentingan relatifnya.

3. Penyusunan matriks dan ujikonsistensi, penyusunan matriks

berpasangan untuk melakukan normalisasi bobot tingkat kepentingan

pada tiap-tiap elemen pada hirarkinya masing-masing.


4. Penetapan prioritas pada masing-masing hirarki, dilakukan melalui

proses Iterasi (perkalian matriks).Pengambilan atau penetapan

keputusan, dilakukan dengan mengakumulasi nilai atau bobot yang

merupakan nilai sensitivitas masing-masing elemen.

II.2. Kajian Empirik

Penelitian mengenai strategi pengembangan sektor pertanian telah

dilakukan oleh beberapa peneliti di berbagai daerah. Keseluruhan hasil-hasil

penelitian yang pernah dilakukan oleh peneliti terdahulu dijadikan

sebagailandasan dalam penelitian ini dan benar bahwa penelitian yang telah

dibuat berbeda dengan penelitian sebelumnya. Terdapat dua penelitian

sebelumnya sebagai landasan dalam penulisan yang dibuat agar mengarah

pada strategi pengembangan yang baik. Penelitian yang dimaksud yaitu

sebagai berikut:

Penelitian yang dilakuan oleh Hindar Wibowo tentang Penentuan

Strategi Pengembangan Sub Sektor Ekonomi Unggulan Di Kabupaten

Jombang Dengan Pendekatan Metode LocatioSTRATEGI PENGEMBANGAN

SUB SEKTOR PERTANIAN DALAM UPAYA PENINGKATAN

PEREKONOMIAN KABUPATEN MANGGARAI TIMURigunakan adalah

Location Quotient(LQ), Analytical Hierarchy Process(AHP) dan Analisis

SWOT. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh maka dapat disimpulkan

sebagai berikut:

1. Sektor ekonomi basis terdiri dari Sektor Pertanian dengan nilai LQ


sebesar 1,81, Sektor Perdagangan Hotel dan Restoran dengan nilai LQ

sebesar 1,17 dan Sektor Jasa Lainnya sebesar 1,36. Sektor pertanian

mempunyai nilai LQ yang paling besar sehingga dalam penelitian ini

dipilih sebagai sektor basis yang akan dicari sub sektor pertanian untuk

dikembangkan di Kabupaten Jombang.

2. Sub sektor pertanian yang dipilih atau diprioritaskan untuk bisa

dikembangkan adalah Sub Sektor Tanaman Bahan Makanan.

3. Strategi pengembangan sub sektor tanaman bahan makanan yaitu sebagai

berikut:

1) Menggunakan luas lahan yang tersedia dengan menanam komoditi

strategis

2) Menggunakan keanekaragaman dan penyerapan tenaga kerja

3) Menggunakan saprodi serta lahan subur dengan memanfaatkan

kebutuhan dan harga komoditi yang semakin meningkat.

4) Memanfaatkan surplus produksi tanaman bahan makanan agar

investor bidang agrobisnis bisa tertarik untuk masuk.

5) Memanfaatkan dan menggunakan sumber daya lokal serta

memanfaatkan tenaga kerja.

6) Memanfaatkan ketentraman serta mengakses informasi dan

memanfaatkan Kabupaten Jombang sebagai simpul distribusi.

Tabel 2.2
Penelitian Terdahulu
N
Judul Peneliti Metode Hasil
o
1 Perencanaan Fafurida Alat analisis yang Nilai indeks pusat dan
Pengembangan (2009) digunakan adalah PDRB per kapita
Sektor Pertanian Shift Share, Kabupaten
Sub Sektor Location Quotient Kulonprogo dapat
Tanaman dan Analisis ditentukan melalui
Pangan di Indeks Pusat arah pengembangan
Kabupaten masing-masing
Kulonprogo produksi komoditas
tanaman pangan
sehingga
meningkatkan
perekonomian pada
kabupaten tersebut.
2 Analisis Fachrurrazy Alat analisis yang Hasil analisis per
Penentuan (2009) digunakan adalah sektor berdasarkan
Sektor Unggulan Klassen Typology, ketiga alat analisis
Perekonomian Location Quotient, menunjukan bahwa
Wilayah Shift Share sektor yang
Kabupaten Aceh merupakan sektor
Utara Dengan unggulan di
Pendekatan Kabupaten Aceh
Sektor Utara dengan kriteria
Pembentuk maju dan tumbuh
PDRB pesat, sektor basis,
dan kompetitif adalah
sektor pertanian.
3 Penentuan Hindar Alat analisis yang Berdasarkan hasil
Strategi Wibowo, Udi digunakan adalah analisis yaitu,Sektor
Pengembangan Subakti Location Pertanian mempunyai
Sub Sektor Ciptomulyono Quotient,Analytica nilai LQ terbesar
Ekonomi , dan Moses l Hierarchy sehingga dalam
Unggulan di Laksono Process, Analisis penelitian ini dipilih
Kabupaten Singgih SWOT sebagai sektor basis
Jombang (2010) yang akan dicari sub
Dengan sektor pertanian untuk
Pendekatan di kembangkan di
Metode Kabupaten Jombang,
Locatien dan
Quotien Dan Sub sektor Pertanian
Anlytical yang dipilih atau
Hirarchy diprioritaskan untuk
Process bisa dikembangkan
adalah Sub Sektor
Tanaman Bahan
makanan.
N
Judul Peneliti Metode Hasil
o
4 Peran Sektor Bagus Alat analisis Hasil penelitian
Pertanian Dalam Sugiarto Putro yang digunakan menunjukan
Perekonomian di (2011) adalah Location bahwa terdapat empat
Kabupaten Quaoient, Shift sektor dan satu sub
Wonogiri Share sektor pertanian yang
merupakan sektor
basis di Kabupaten
Wonogiri, yaitu
sektor pertanian,
sektor pengangkutan
dan komunikasi,
sektor keuangan,
persewaan, jasa
perusahaan, sektor
jasa- jasa.
5 Strategi Ndia Toli Vali Alat analisis yang Hasil dari penelitian
Perencanaan Menno digunakan adalah ini dapat disimpulkan
Pembangunan (2016) Location Quotien, bahwa terdapat sektor
Agrowisata di Shift kurang maju yang
Desa Oelbubuk ShareKlassen, tumbuh lambat dari
Kabupaten Typology, Analisis keseluruhan ekonomi
Timor Tengah SWOT yang memerlukan
Selatan tindakan atau
kebijakan agar
mendorong sektor-
sektor tersebut
menjadi sektor yang
maju dan tumbuh
cepat.
II.3. Kerangka Pemikiran

Strategi Pengembangan Sub


Sektor Pertanian

Sub Sektor Tanaman


Pangan

Strategi Pengembangan Prioritas Pengembangan


Sub Sektor Basis Sub Sektor Tanaman Komoditas Tanaman
Pangan Pangan

Analisis Location Analytical Hierarchy


Analisis SWOT
Quotient (LQ) Process (AHP)

Sub Sektor Tanaman 10 Strategi 1. Komoditas Tanaman


Sarealia
PanganBasis Pengembangan
2. Komoditas Tanaman
Umbi-umbian
3. Komoditas Tanaman
Biji-bijian

Peningkatan Perekonomian
Kabupaten Manggarai Timur
Gambar 2.1
Kerangka Pemikiran

Strategi pengembangan sub sektor pertanian dalam penelitian ini lebih di

fokuskan pada sub sekor tanaman pangan. Sub sektor tanaman pangan memiliki

nilai kontribusi besar dibandingkan dengan sub sektor lainnya yang ada dalam

sektor pertanian, namun mengalami penurunan nilai kontribusi pada tahun 2011

hingga 2015.

Berdasarkan permasalahan tersebut pengembangan terhadap sub sektor

tanaman pangan ditentukan dengan tiga tahap yaitu,sub sektor tanaman pangan

tergolong sub sektor basis atau dapat memenuhi kebutuhan di Kabupaten

Manggarai Timur bahkan dapat di distribusikan ke luar daerah menggunakan alat

Analisis LQ. Menggunakan Analisis SWOT untuk melihatkebijakan dalam sub

sektor tanaman pangan yang menghasilkan suatu strategi pengembangan pada sub

sektor tanaman pangan. Membuat alternatif kebijakan untuk melihat prioritas

pengembangan komoditas tanamanpangan dari sub sektor pertanian menggunakan

Analisis AHP.

Pertumbuhan ekonomi yang meningkat melalui indikator PDRB,maka akan

meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Dalam upaya meningkatkan

pertumbuhan ekonomi di daerah peran pemerintah sangat diperlukan yaitu dalam

pembuatan strategi dan perencanaan pembangunan daerah serta kebijakan, dengan

memperhatikan pergeseran sektor ekonomi dari tahun ke tahun. Pengembangan


sub sektor tanaman pangan memang harus dilakukan, mengingat peranan dan

kontribusinya dalam peningkatan perekonomian Kabupaten Manggarai Timur.