Anda di halaman 1dari 36

LAPORAN TUTORIAL

BLOK 10 MODUL 3

“EPIDEMIOLOGI KESEHATAN”

Tutor : Dr. drg.Lendrawati M. D.Sc


Ketua : Diella Anjaenny (1911412015)
Sekretaris Papan : Tharania El Subekti (1911412004)
Sekretaris Meja : Fitty Novrida Akmal (1911412008)

Intan Tiara Parameswari (1911412001)


Rossyqoh Durrotul Hikmah (1911412019)
Mifthahul Khoir (1911412023)
Naura Mazaya Oriza (1911413001)
Cisya Zanuha Arivah (1911411009)
Maitsa Anvini Putri (1911412018)

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS ANDALAS
2020/2021
Kata Pengantar

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Alhamdulillahirabbil ‘alamin, sungguh banyak nikmat yang Allah berikan kepada


kita, tetapi sedikit sekali yang kita ingat. Segala puji bagi Allah atas segala berkat, rahmat,
taufik, serta Hidayah- Nya yang tiada terkira besarnya, sehingga kami dapat menyelesaikan
tugas hasil laporan Tutorial Skenario modul 3 ini.

Dalam penyusunannya kami mengucapkan terimakasih kepada dokter tutor kita


drg.Lendrawati yang telah memberikan dukungan, kasih dan kepercayaan yang begitu besar.
Dari sanalah semua kesuksesan ini berawal, semoga laporan ini bisa bermanfaat dan
menuntun pada langkah yang lebih baik lagi bagi kami.

Meskipun kami berharap isi dari laporan tutor kami ini bebas dari kekurangan dan
kesalahan, namun pasti selalu ada yang kurang. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik
dan saran yang membangun agar laporan tutorial ini dapat lebih baik lagi.

Akhir kata kami mengucapkan terimakasih, semoga hasil laporan tutorial kami ini
dapat bermanfaat.

Wassalam

Padang , 4 Februari 2021

Penyusun
MODUL III

EPIDEMIOLOGI KESEHATAN

Skenario 3
Prevalensi karies meningkat…

Drg. Bagus adalah seorang kepala dinas kesehatan di Kabupaten Mantul.


Drg. Bagus mengundang seluruh kepala puskesmas di wilayah kerjanya untuk
mengadakan Raker tahunan untuk menindaklanjuti hasil survey epidemiologi secara
nasional yang menunjukkan data peningkatan prevalensi beberapa penyakit termasuk
penyakit gigi dan mulut
Setelah dianalisa ternyata juga terjadi perubahan demografi penduduk sehingga
terjadi perubahan pola penyakit akibat interaksi faktor2 sosiodemografi. Oleh karena itu
untuk menurunkan prevalensi penyakit pada masa yang akan datang dilakukan
survailence dan screening agar dapat segera ditangani. Selain itu Drg. Bagus menunjuk
kepala bidang pelayanan kesehatan untuk melaksanakan rapid survey agar dapat
diketahui penyebabnya.
TERMINOLOGI:

1. Epidemiologi :
 epi=tentang, demi=penduduk, logia= ilmu. Ilmu yang mempelajari tentang
frekuensi mslah penyebaran masyarakat dan factor penyebabnya.
 Usaha untuk mendeteksi secara dini perubahan insidensi/prevalensi melalui
penumuan klinik/laboratoris pada awal timbulnya penyakit baru.
 Untuk membuat kebijakan kesehatan masyarakat
2. Prevalensi
 Jumlah angka kejadian suatu penyakit pada periode tertentu di suatu wilayah
 Menunjukan masalah kesehatan lainnya ataupun kondisi tertentu

3. Sosiodemogragfi:
 Social=kejadian tentang manusia. Gambaran yang berkaitan dengan ilmu
kependudukan
 Karakterisktik/ciri individuyang menunjukan kondisi social penduduk seperti
umur, jenis kelamin dll

4. Demografi
 Ilmu kependudukan yang meliputi stuktur, perubahan penduduk karna kelhiran
dan kematian dan penuaan
5. Survailence
 Pemantauan terus menuerus ttg kejadian dan kecenderungan ppenyakit,
memprediksi outbreak pada prinsip dan factor penyakit tersebut.
 Kegiatan yang dilakukan terus menerus berupa pengumpulan data secara
sitematik, analisis, dan interpretasi data mengenai suatu peristiwa yang terkait
masalah kesehatan untuk mengurangi angka kesakitan dan kematian serta
meningkatkan status kesehatan.
6. Screening
 Strategi yang digunakan secara dini untuk penanda resiko yang belum diketahui
 Deteksi dini suatu penyakit dengan mengguanakn test, pemeriksaan dan proteksi
tertentu
 Penyelidikn epidemiologi saat wabah untuk mencegah pertambahan kasus, sifat
pengamatan hanya pada periode waktu tertentu
7. Rapid survey
 Metode survey untuk memperoleh Informasi dalam suatu masalah dengan biaya
murah dan hasil yang optimal, dalam jangka waktu yang realtif pendek
Langkah 2 : Menentukan Masalah

RUMUSAH MASALAH

1. Apa tindakan untuk menindaklanjuti prevalensi penyakit (penyakit penyakit gigi dan
mulut)?
2. Apa saja ruanglingkup dari epidemiologi?
3. Apa jenis epidemiologi kesehatan?
4. Apa tujuan dilakukannya survey epidemiologi?
5. Apa saja factor yang mempengaruhi epideimologi?
6. Bagaimana prosedur dari survey epidemiologi?
7. Apa saja prinsip epidemiologi?
8. Darimana data epidemiologgi dapat diperoleh?
9. Setelah dilakukan survey, kapan seseorang dikatakan sehat dan sakit?
10. Factor apa saja yang menyebabkan terjadinya suatu penyakit?
11. Apa saja contoh factor sosiodemografi yang memperngaruhi epidemiologi?
12. Apa saja indicator yang digunakkan untuk memngukur derajat kesehatan
komunitas(penduduk)?
13. Apa hubungan antara terjadinya peubahan demografi dengan peubahan pola penyakit?
14. Apa tujuan dari screening dan survelence pada epidemiologi kesehtan?
15. Apasaja jenis screening?
16. Apa saja tahap dari suervailence dan screening?
17. Bagaiamna karakteristik test sceening yang baik?
18. Apa saja jenis dari survailance?
19. Bagaimana tahap pelaksanaan rapid survey?

Langkah 3 : menganalisis masalah dengan Brain Stroming

ANALISIS MASALAH

1. Dilakukan pengumpulan data baik pasif (dari rs dan puskesmas) maupun aktif (dari
KLB), pengolahan data, analisis data

2. - Etiologi:mengidentifikasi penyebab penyakit, etifaksi,efektifitas;besarnya hasil yang


diperoleh dari suatu tindakan, efesiensi; konsep ekonomi yang dapat melihat pengaruh
dari segi biaya, evalusia, edukasi; peningkatan pengetahuan masyarakat dari upaya
pencegahan penyakit.
-Epidemiologi penyakit menular, epidemiologi penyakit tidak menular, epidemiologi
kesehatan jiwa dan kesehatan lain.
-adanya frekuensi masalah kesehatan, distribusi dari masalah kesehatan, factor penyebab
suatu penyakit dan masalah kesehatan

3. epidemiologi deskriptif bertujuan mempelajari frekuensi masalah kesehatan tanpa


memandang perlu menemukan jawaban masalah kesehatan, epidemiologi analitik
epidemiologi yang menekankan pencarian jawaban pada masalah kesehatan,
epidemiologi eksperimen dilakukan dengan mengadakan eksperimen pada kelompok
subjek dan dibandingkan pada kelompok yang tidak dikenakan percobaan

4. –menemukan factor yang mempengaruhi kesehatan


-untuk mengidentifikasi elompok resiko tinggi pada penduduk sehingga pelru dilakukan
tindakan segera
-Mengevaluasi masalah kesehatan
-membantu menyediakan data yang diperlukan
-membantu analis penyakit untuk menanggulangi suatu masalah
-agar suatu penyakit dapat ditangani dengan ceepat, sisematis, dan efektif
-agar penyakit tidak menyebar secara luas

5. –faktor mutasi
-faktor perkembangan zaman
-faktor perkembangan ilmu pengetahuan
-faktor pertumbuhan ekonomi
-faktor era globalisasi

6. –melakukan survey: mengidentifikasi kasus, masalah, perekaman data, analisis data, studi
epidemiologi, penyebaran informasi pada unit yang membutuhkan,feedback
-merumuskan hipotesa yang mencakup uraian tentang factor yang diperkiran berperan
sebagai penyebab masalah kesehatan
-menguji hipotesi, dengan melakukan penelitian dan observasi
-menarik kesimpulan

7. –mempelajari kelompok masnusia yangmengalami maslah kesehatan


–menunjukan maslah kesehatan yang ditemukan dan dinyatakan dalam rasio
–menunjukan masalah kesehatan yang diperinci dalam keadaan tertentu
-Sebagai rangkaian kegiatan tertentu untuk mengakaji masalah kesehatan tertentu

8. – data kesakitan dari unit pelayanan kesehatan dn masyarakat


Data kematian
Data demografi
Data georafi
Data kondisi lingkungan data yang didapatkan dari kondisi pangan
Data kependudukan dari hasil survey dan sensus penduduk
Data kelahiran dan kematian ddari pencatatan akte kelahiran dan surat kematian yang
berasal dari klinik ataupun rumah bersalin

9. Dikatakan sehat apabila seseorang sehat secara fisik, mental dan intelektual, dikatakan
sakit jika adanya gangguan pada fisik, mental maupun intelektual sehingga tidak mampu
melakukan aktifitas sehari hari

10. Agen: organisme penyebab penyakit,


sumber penularan, jamur, virus, jamur, karbohidrat, air, radiasi ionisasi, terang cahaya
cara penularan
host, dari diri manusia, contohnya umur, kebiasaan
bibit penyakit
factor lingkungan, seperti perubahan iklim dan keadan geografis
ras, ekonomi
musim,cuaca
hewan tumbuhan dapat beerfungsi sebagai agen
social tingkat pendidikan

11. –jenis kelamin, ekonomi, tingkat pendidikan, social dan budaya

12. Nilai mortalitas, nilai morbiditas, gizi, potensi masyarakat sehat, indikatoee kepuasan
masyarakat, indicator tatanan masyarakat sehat, indicator indeks pembangunan manusia,

13. Perubahan epidemiologi dipengaruhi oleh pperubahan demografi dan pola stuktu
masyarakat yang banyak memberikan perubahan pada feertilitas, ekonomi yang nantinya
akan mempengarui pola perubahan penyakit

14. Screening: untuk mengetahui apakah seseorang beresiko lebih tinggi pada penyakit,
mendeteksi penyakit sedinimungkin agar dapat dilakukan pengobatan secara efektif dan
efesien, mencegah meluasnya suatu penyakit, memberikan keterangan epidemiologis
mengenai sifat suatu penyakit, mendidik masyarakat memerriksakan diri secara teratur.
surveilence: memonitor kecwnderungan penyakit, memantau kesehtan populasi,
menentukan kebutuhan kesehtana proritas, mengevaluasi cakupan efektifitas ksehatan,
mengidentifikasi kebutuhan riset

15. –screening massal,


-screening selective
-Multiple screening
-Single screening

16. Screening
– menentukan penyakit yang akan dicari, efektifitas pengobatan, bban penderitaan,
akurasi
-Anamnesis, uji labor
Survailence
-pengumpulan data
-pengolahan dan penyajian data
-Analisis data
-penyebarluasan informasi
-umpan balik

17. –pnyakit harus penyakit masyarakat yang penting


–test harus cocok
-Diterima masyarakat
-Adanya kebijakan yang jelas
18. surveilence individu, penyakit, sindroma, terpadu, masyarakat global, khusus (terhadap
situasi khusus), studi epidemiologi.surveilence aktif (mendatangi sumber data)dan
pasif(dari masyarakat)

19. – menentukan masalah dan tujuan survey secara jelas dan ringkas
- menentukan besae metode pengambilan sample
-mengembangkan instrument survey
-Pengorganisasian dan pelaksaan survey
-analisis interpretasi dan laporan

Skema
Drg bagus

Rapat kerja

Surveilence dan
screening
Prevalensi meningkat

Rapid survey
Epidemiologi
kesehatan

Epidemiologi
kesehatan

Konsep terjadinya Ukra data Demografi dan


Konsep epidemiologi epidemiologi sosiodemografi
penyakit
kesehatan

Ruang lingkup, Konsep sehat sakit,


macam macam, factor factor
prinsip, tujuan dll penyebab

Langkah 5 : Memformulasikan Tujuan Pembelajaran


Lo

1. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan Konsep epidemiologi (ruang lingkup,


macam macam, prinsip tujuan dll)
2. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan Konsep terjadinya penyakit dan factor
penjamu
3. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan Ukuran dan data epidemiologi
kesehatan
4. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan Survelance dan screening
5. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan Rapid survey
6. Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan demografi dan sosiodemografi

Langkah 6 : mengumpulkan informasi

Langkah 7 : sintesa dan uji informasi yang telah diperoleh

1. Konsep Epidemiologi

DEFINISI EPIDEMIOLOGI

Epidemiologi berasal dari kata yunani yaitu (epi=pada, demos=penduduk, logos=ilmu) dengan
demikian epidemiologi adalah ilmu yang mempelajari hal-hal yang terjadi pada rakyat.

Beberapa definisi epidemiologi sebagai berikut:

 W.H. Welch

Epidemiologi adalah Suatu ilmu yang mempelajari tentang timbulnya perjalanan dan pencegahan
penyakit terutama penyakit infeksi menular.

 Mac Mahon dan Pugh

Ilmu yang mempelajari tentang penyebaran penyakit dan faktor-faktor yang menentukan
terjadinya penyakit pada manusia

 Last, Beagehole et al, (1993)

Studi tentang distribusi dan faktor-faktor yang menentukan keadaan yang berhubungan dengan
kesehatan atau kejadian-kejadian pada kelompok penduduk tertentu

 W.H. Frost
Ilmu yang mempelajari timbulnya distribusi dan jenis penyakit pada manusia menurut waktu

dan tempat

 Azrul azwar: Ilmu yang mempelajari tentang frekuensi dan penyebaran masalah kesehatan
pada sekelompok manusia/masyarakat serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.

MACAM-MACAM EPIDEMIOLOGI

Epidemiologi dibagi menjadi tiga macam, yaitu:

1. Epidemiologi Deskriptif (Diskriptive Epidemiology)

Adalah mempelajari tentang frekuensi dan penyebaran suatu masalah kesehatan tanpa
memandang perlu mencari jawaban terhadap faktor-faktor penyebab timbulnya masalah
kesehatan tersebut.

Pada epidemiologi deskriptif, informasi dikumpulkan untuk “menandai” atau merangkum


kejadian atau masalah kesehatan. Epidemiologi deskriptif mengevaluasi semua keadaan yang
berada di sekitar seseorang yang dapat mempengaruhi sebuah kejadian kesehatan. Yang menjadi
fokus dalam epidemiologi deskriptif ini adalah frekuensi dan pola (Ellis Christensen, 2012),
frekuensi digunakan untuk menilai tingkat kejadian, sedangkan pola dapat digunakan untuk
membantu epidemiologi analitik menunjukkan faktor risiko.

Penelitian deskriptif ini juga berfokus pada pertanyaan who (siapa saja yang
terkena/terpengaruhi), when (kapan mereka terpengaruhi), dan where (di mana mereka
terpengaruhi).

a. Pada who (orang), epidemiologi deskriptif meneliti faktor-faktor antara lain:

1) Variabel Demografi, sebagai contoh: usia, jenis kelamin, ras, penghasilan, pendidikan,
pekerjaan, status pernikahan, agama, dan lain-lain.

2) Variabel Keluarga, sebagai contoh: jumlah anggota keluarga, usia melahirkan,


pendidikan ibu, pengaturan jarak kehamilan, dan lain-lain.

3) Perilaku, misalnya penyalahgunaan narkoba, shift kerja, makan dan pola olahraga.

4) Variabel lain, seperti: Golongan darah, paparan factor lingkungan tertentu, status
kekebalan, status imunisasi, status gizi.

Contoh: penelitian epidemiologi deskriptif yang menganalisis faktor orang antara lain

tekanan darah tinggi pada orang yang bekerja shift malam, obesitas pada remaja siswi
SMA, Diabetes Mellitus pada lansia Desa Z, dan lain-lain.

b. Hal penting lain yang dapat diamati pada epidemiologi deskriptif adalah Where (tempat).
Tempat disini dapat berupa:

1) Tempat tinggal

2) Tempat bekerja

3) Sekolah

4) Rumah Makan

5) Tempat Rekreasi

Contoh penelitian: Peningkatan Kejadian Demam Berdarah Dengue di Daerah yang


berdekatan dengan stasiun atau kuburan, karena di tempat tersebut pengendalian jentik
nyamuk relatif kurang diperhatikan daripada rumah tinggal.

c. Hal ketiga yang penting dan sering dievaluasi dalam epidemiologi deskriptif adalah factor
when (waktu). Yang dimaksud dengan waktu disini bias merupakan waktu tahun, atau hal yang
terjadi pada waktu tertentu setiap hari atau setiap jam. Sebagai contoh, penyakit demam berdarah
lebih sering muncul di musim hujan, demikian halnya dengan penyakit leptospirosis atau bahkan
flu, dan kecelakaan lebih sering terjadi di masa liburan. Pengukuran prevalensi pada periode
waktu tertentu akan dapat membantu upaya pencegahan.

Berikut ini contoh-contoh lain penelitian epidemiologi deskriptif:

1) Penilaian aktifitas fisik dan pengeluaran energi pada lansia penderita penyakit kronis
di Desa Sukamakmur.

2) Tren angka kejadian stroke di Kecamatan Kondang dari tahun 1990-2010

3) Perilaku merokok pada kelahiran preterm di Kecamatan Sanden

4) Perbedaan jenis kelamin pada gangguan lemak di Padang dan di Yogyakarta

5) Tren angka harapan hidup berdasarkan kelompok latar belakang pendidikan di


Yogjakarta

2. Epidemiologi Analitik (Analytic Edemiology)

Adalah epidemiologi yang menekankan pada pencarian jawaban terhadap penyebab Terjadinya
frekuensi, penyebaran serta munculnya suatu masalah kesehatan. Dalam Epidemiologi analitik
diupayakan untuk mencari jawaban mengapa (why), kemudian Dianalisa hubungannya dengan
akibat yang ditimbulkan. Faktor penyebab diarahkan kepada Faktor-faktor yang mempengaruhi,
sedangkan akibat menunjuk kepada frekuensi, Penyebaran, serta adanya suatu masalah
kesehatan.

Oleh karena itu perlu dirumuskan Hipotesa yang berkaitan dengan masalah yang timbul, lalu
dilanjutkan dengan menguji Hipotesa melalui suatu penelitian yang selanjutnya ditarik suatu
kesimpulan tentang sebab akibat dari timbulnya suatu penyakit.Pendekatan atau studi ini
dipergunakan untuk menguji data serta informasi-informasi Yang diperoleh melalui studi
epidemiologi deskriptif.

Ada dua studi tentang epidemiologi ini:

 Studi riwayat kasus (case history studies).


Dalam studi ini akan dibandingkan antara dua kelompok orang, yakni kelompok
yang terkena penyebab penyakit (kelompok kasus) dengan kelompok orang tidak terkena
penyakit (kelompok kontorl)
 Studi Kohort (Kohort Studies)
Dalam studi ini sekelompok orang dipaparkan (exsposed) pada suatu penyebab
penyakit (agent). Kemudian diambil sekelompok orang lagi yang mempunyai ciri-ciri
yang sama dengan kelompok pertama, tetapi tidak dipaparkan atau dikenakan pada
penyebab penyakit. Kelompok kedua ini disebut kelompok kontrol. Setelah beberapa saat
yang telah ditentukan kedua kelompok tersebut dibandingkan, dicari perbedaan antara
kedua kelompok tersebut bermakna atau tidak.

3. Epidemiologi Eksperimen

Studi ini dilakukan dengan mengadakan eksperimen (percobaan) kepada kelompok subjek,
kemudian dibandingkan dengan kelompok kontrol (yang tidak dikenakan percobaan)

Contoh: untuk menguji keampuhan suatu vaksin, dapat diambil suatu kelompok anak kemudian
diberikan vaksin tersebut.

Sementara itu diambil sekelompok anak pula sebagai kontrol yang hanya diberikan placebo.
Setelah beberapa tahun kemudian dilihat kemungkinan-kemungkinan timbulnya penyakit yang
dapat dicegah dengan vaksin tersebut, kemudian dibandingkan antara kelompok percobaan dan
kelompok kontrol.
2. Konsep terjadinya penyakit dan factor penjamu

I. Definisi Riwayat Alamiah Penyakit:

1) Perkembangan proses penyakit pada individu sepanjang waktu tertentu, tanpa Intervensi.

2) Riwayat alamiah penyakit adalah proses perjalanan penyakit mulai dari terpapar sampai
penyakit selesai (sembuh, cacat, atau mati) tanpa pengobatan.

II. Proses penyakit:

Proses penyakit bermula dengan pemajan suatu faktor atau akumulasi faktor yang mampu
menyebabkan penyakit.Proses timbulnya penyakit karena adanya Stimulus dapat terjadi jauh
sebelum terjadinya interaksi antara stimulus dan manusia. Interaksi awal antara faktor-faktor
“host”,

“agent” dan “environment” disebut periode prepathogenesis. Pada fase ini penyakit belum
berkembang, tapi kondisi yang melatarbelakangi untuk terjadinya penyakit telah ada misalnya:
kelelahan, alkoholik merupakan kondisi yang suseptibel untuk terjadinya hepatitis kadar
kolesterol meningkat mmenjadi penyakit jantung koroner. Bagan terjadinya penyakit seperti
berikut ini.

Keterangan:

1. Stimulus penyakit adalah interaksi antara inang, agen penyakit dan lingkungan yang memicu
proses penyakit

2. Periode pre-patogenesis:

1) Periode saat terjadinya stimulus penyakit sampai terjadinya respons dari tubuh

2) Pada pre-patogenesis merupakan Tingkat pencegahan primer dilakukan


• Promosi kesehatan tentang:

Ø Pendidikan kesehatan

Ø Gizi yang cukup sesuai dengan perkembangan

Ø Perumahan, rekreasi, tempat kerja

Ø Konseling perkawinan

Ø Genetika

Ø Pemeriksaan kesehatan berkala

• Perlindungan khusus.

Ø Imunisasi

Ø Kebersihan perorangan

Ø Sanitasi lingkungan

Ø Perlindungan kecelakaan akibat kerja

Ø Perlindungan terhadap kecelakaan secara umum

Ø Penggunaan nutrisi khusus

Ø Perlindungan terhadap bahan-bahan karsinogen

• Menghindari zat-zat allergen

Ø Penggunaan gizi tertentu

Ø Perlindungan terhadap zat yang dapat menimbulkan kanker

Ø Menghindari zat-zat alergenik

3. Periode patogenesis: Periode dari mulainya respons sampai proses berhenti karena sembuh,
atau mati

1) Periode pathogenesis adalah reaksi pejamu terhadap factor stimulasi penyakit seperti pada
patogenesis awal terjadi kerusakan awal jaringan kemudian penyakit lanjut dan terjadi

konvalesen (masa pemulihan).

2) Periode pathogenesis dijelaskan juga mulai saat terjadinya kelainan/gangguan pada tubuh
manusia akibat interaksi antara stimulus penyakit dengan manusia sampai terjadinya
kesembuhan, kematian, kelainan yang menetap, cacat.
3) Periode pathogenesis dapat dibagi menjadi tiga fase sebagai berikut:

(a) Fase subklinis disebut juga fase presimptomatik penyakit belum bermanifestasi
dengan nyata,tanda dan gejala masih negatiftapi telah terjadi perubahan-perubahan
dalam jaringan tubuh (struktur ataupun fungsi) Kondisi seperti diatas dikatakan dalam
kondisi di bawah garis horizontal.

(b) Fase klinis pada fase ini perubahan-perubahan yang terjadi pada jaringan tubuh
telah cukup untuk memunculkan gejala-gejala dan tanda-tanda penyakit Fase ini dapat
dibagi menjadi fase akut dan fase kronis. Akhir dari fase klinis dapat berupa:

• fase konvalesens (penyembuhan)

• meninggal

(3) Fase konvalesens (stage of convalescence) dapat berkembang menjadi:

• sembuh total

• sembuh dengan cacat atau gejala sisa(disabilitas atau sekuele)

• penyakit menjadi kronis

• disabilitas (kecacatan/ketidakmampuan) terjadi penurunan fungsi sebagian atau


keseluruhan daristruktur/organ tubuh tertentu dapat menurunkan fungsi aktivitas
seseorang secara keseluruhan dapat bersifat; sementara (akut), kronis, menetap.

(4) Tingkat pencegahan sekunder

• Diagnosis dini dan pengobatan segera

• Pembatasan ketidakmampuan (disability)

• Dilaksanakan pada periode pathogenesis

Segera sesudah penyakit terdeteksi dapat dilakukan usaha preventif sekunder dengan:

Ø diagnose dini (early diagnosis) dan

Ø pengobatan yang akurat (prompt treatment)

Ø Diagnose dini dan pengobatan yang akurat

Ø penemuan kasus (individu atau massa)

Ø skrining survei

Ø pemeriksaan selektif
• Untuk mengobati dan mencegah penyakit agar tidak berlanjut

Ø Mencegah penyebaran penyakit menular

Ø Mencegah terjadinya komplikasi dan sekuele

Ø mempersingkat periode “disability”

Ø Pengobatan yang adekuat untuk mencegah/ menghentikan berlanjutnya proses


penyakit Mencegah komplikasi dan sekuele yang lebih parah. Pengadaan fasilitas
khusus untuk mencegah/mengurangi disabilitas dan kematian.

Ø Terdiri dari:

- Early diagnosis & prompt treatment


- Diagnosis dini dan pengobatan segera
- Penemuan kasus, individu dan masal
- Skrining

Pemeriksaan khusus dengan tujuan :

- Menyembuhkan dan mencegah penyakit berlanjut-


- Mencegah penyebaran penyakit menular
- Mencegah komplikasi dan akibat lanjutan
- Memperpendek masa ketidakmampuan

Pembatasan ketidakmampuan

o Pengobatan yang cukup untuk menghentikan proses penyakit dan mencegah komplikasi.

o Penyediaan fasilitas untuk membatasi ketidakmampuan dan mencegah kematian

(5) Tingkat pencegahan tersier

• Bila telah terjadi defect /kerusakan struktural ataupun disabilitas: maka untuk mencegah
semakin buruknya kondisi atau menetapnya disabilitas dilakukan usaha preventif tertier dengan
rehabilitasi

• Rehabilitasi

Ø Penyediaan fasilitas untuk pelatihan hingga fungsi tubuh dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya

Ø Pendidikan pada masyarakat dan industriawan agar menggunakan mereka yang telah
direhabilitasi

Segitiga/Triad Epidemiologi
Dalam pandangan Epidemiologi Klasik dikenal segitiga epidemiologi (epidemiologic triangle)
yang digunakan untuk menganalisis terjadinya penyakit. Segitiga ini terdiri atas pejamu (host),
agen (agent), dan lingkungan (environment).

Segitiga epidemiologi: pejamu, agen, dan lingkungan

Interaksi ketiga kelompok tersebut di atas harus seimbang. Bila terjadi gangguan kesimbangan
maka timbul penyakit atau masalah kesehatan.John Gordon bapak epidemiologi yang
menjelaskan terjadinya penyakit karena adanya interaksi antara host, agent & environment.

Terjadinya penyakit menular konsep “Biologic Laws”:

1. Penyakit timbul karena terjadi ketidak seimbangan antara agent penyakit dengan manusia.

2. Keadaan keseimbangan tergantung dari sifat alami & karakteristik dari agent dan pejamu
secara individual maupun kelompok.

3. Karakteristik agent tergantung pejamu dan lingkungan social, fisik dan ekonomi dan
lingkungan biologis.

Konsep ini bermula dari upaya untuk menjelaskan proses timbulnya penyakit menular dengan
unsur-unsur mikrobiologi yang infeksius sebagai agen, namun selanjutnya dapat pula digunakan
untuk menjelaskan proses timbulnya penyakit tidak menular dengan memperluas pengertian
‘agen’.

Dalam konsep ini faktor-faktor yang menentukan terjadinya penyakit diklasifikasikan sebagai
berikut:

1. Agen penyakit (faktor etiologi)


(a) Zat nutrisi: ekses (kolesterol) / defisiensi (protein)

(b) Agen kimiawi: zat toksik (CO) / alergen (obat)

(c) Agen fisik (radiasi, trauma)

(d) Agen infeksius:

- parasit (skistosomiasis)

- protozoa (amuba)

- bakteri (tuberkulosis)

- jamur (kandidiasis)

- riketsia (tifus)

- virus (poliomielitis)

(e) Agen psikis: trauma psikologis

2. Faktor pejamu (faktor intrinsik): mempengaruhi pajanan, kerentanan, respons terhadap agen.

(a) Genetik (buta warna)

(b) Usia

(c) Jenis kelamin

(d) Ras

(e) Status fisiologis (kehamilan)

(f) Status imunologis (hipersensitivitas)

(g) Penyakit lain yang sudah ada sebelumnya

(h) Perilaku manusia (diet)

3. Faktor lingkungan (faktor ekstrinsik): mempengaruhi keberadaan agen, pajanan, atau


kerentanan terhadap agen

(a) Lingkungan fisik (iklim)

(b) Lingkungan biologis:

- Populasi manusia (kepadatan penduduk)


- Flora (sumber makanan)

- Fauna (vektor artropoda)

(c) Lingkungan sosial-ekonomi:

- Pekerjaan (pajanan terhadap zat kimia)

- Urbanisasi dan perkembangan ekonomi (kehidupan perkotaan, atmosfer, crowding)

- Bencana dan musibah (banjir)

(d) Modus komunikasi: fenomena dalam lingkungan yang mempertemukan pejamu dengan
agen, seperti vektor, media, dan reservoir.

- Vektor adalah organisme hidup yang berperan pada penyakit menular, seperti nyamuk dan
arthropoda lainnya.

- Media (vehicle) adalah benda mati yang berperan pada penyakit menular, seperti air minum
yang mengandung mikroba, kain lap yang kotor, dan sebagainya.

- Reservoir adalah lokasi yang berperan sebagai sumber penyakit secara berkelanjutan, seperti
menara air (sumber penularan infeksi legionella), tanah sebagai sumber penyebaran tetanus, dan
sebagainya.

KESEIMBANGAN ANTARA HOST, AGENT & ENVIRONMENT

1. Periode Prepatogenesa pada saat timbangan dalam keadaan seimbang (Keadaan Sehat)

2. Periode patogenesa. Kemampuan agent bertambah untuk menginfeksi host, sehingga


menyebabkan timbulnya penyakit

3. Perubahan pada faktor Host, bertambah banyaknya orang yang rentan terhadap suatu
agent
4. Perubahan pada faktor lingkungan:
1) Perubabahan lingkungan mudahnya penyebaran agent: kasus DBD

2) Perubahan lingkungan yang menyebabkan kerentanan host, misal infeksi saluran


pernapasan bertambah bersamaan dengan meningkatnya polusi udara.

3. demografi dan sosiodemografi

Demografi menurut Hauser dan Duncan (1995) Demografi adalah ilmu yang mempelajari
jumlah, persebaran, teritorial, dan komposisi penduduk serta perubahan-perubahannya dan
sebab-sebab perubahan itu, yang biasanya timbul karenanatalitas (fertilitas), mortalitas, gerak
teritorial (migrasi) dan mobilitas sosial (dalam Adioetomo & Samosir, 2013).

Demografi adalah studi kependudukan dan mencangkup berbagai hal seperti jumlah, persentase
kanaikan, jenis kelamin, umur, pekerjaan, kesehatan, angka kelahiran, gaya hidup, perkawinan
dan lain-lain hal tentang pendudukan menurut Hardywinoto dan Setiabudhi (2005).

Sedangkan sosiodemografi berasal dari dua kata utama, yaitu sosio (kajian tentang manusia) dan
demografi (gambaran tentang kependudukan). Sosiodemografi berarti sebuah gambaran manusia
yang terkait dengan tujuan kajian, diutamakan pada gambaran bersifat kuantitatif yang nantinya
dapat menggambar sifat kualitatif. Sosiodemografi diperlukan karena penduduk dan lingkungan
saling berinteraksi, manusia dapat bertindak sebagai subjek dan objek, jumlah manusia akan
bertambah dan kondisi lingkungan cendrung berkurang (dalam Rohma, 2016).

2. Faktor-Faktor Sosiodemografi

Menurut Hardywinoto dan Setiabudhi (2009) sosiodemografi pada meliputi beberapa faktor
diantaranya yaitu:

a. Jenis Kelamin

Konsep jenis kelamin (sex roles concept), adalah perbedaan biologis dan fisiologis antara pria
dan wanita, dengan perbedaan yang menyolok pada perbedaan anatomi tentang sistem
reproduksi dari pria dan wanita. Jenis kelamin adalah perbedaan antara laki-laki dan perempuan,
Perbedaan ini dapat digunakan atau dimanfaatkan untuk data kependudukan diwilayah, yang
nantinya akan menghasilkan informasi tentang perbandingan antara banyaknya jumlah laki-laki
dan jumlah perempuan disuatu wilayah (Adioetomo & Samosir, 2013).

b. Usia

Usia merupakan ciri demografi yang utama, dalam demografi struktur usia penduduk dibedakan
menjadi tiga kelompok yaitu, usia muda berkisar antara usia 0-14 tahun, usia produktif berkisar
antara usia 15-59 tahun, dan usia lanjut dimulai usia 60 sampai ke atas (Adioetomo & Samosir,
2013). Usia mempunyai peran yang penting didalam demografi, yang nantinya dapat
menggambarkan sebuah perkembangan penduduk dimasa lalu dan masa sekarang, ini bermanfaat
untuk meningkatkan kesejahteraan bangsa (Adioetomo & Samosir, 2013).

c. Pekerjaan

Karakteristik pekerjaan seseorang dapat mencerminkan pendapatan, status sosial, pendidikan,


status sosial ekonomi, risiko cedera atau masalah kesehatan dalam suatu kelompok populasi.
Pekerjaan akan menimbulkan sebuah kepuasaan dalam bekerja, kesejahteraan dan menciptakan
kebahagiaan Sirojammuniro (2015). Pekerjaan yang produktif akan memicu pertumbuhan
ekonomi serta meningkatkan kesejahteraan bangsa (Adioetomo & Samosir, 2013).

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa sosiodemografi bersifat data dasar penduduk yang
meliputi jenis kelamin, dan usia. Kemudian ciri ekonomi seperti pekerjaan. Secara singkat hal-
hal dasar seperti ini akan memperoleh sebuah data yang nantinya dapat dimanfaatkan untuk
meningkatkan kesejahteraan dan kemajuan bangsa.

4. Ukuran dan data epidemiologi kesehatan


1. Data epidemiologi
Tujuan dari data epidemiologi adalah untuk mendapatkan informasi epidemiologi
tentang masalah kesehatan.
Sumber data epidemiologi dapat diperoleh dari beberapa sumber antara lain :
a. Data kependudukan
 Sensus penduduk
 Survei
b. Kelahiran dan kematian
 Pencatatan akte kelahiran dan surat keterangan meninggal.
 Klinik atau rumah bersalin dan tempat pelayanan kesehatan lainnya.
c. Data kesakitan
 Rekam medik dari rumah sakit
 Praktek dokter swasta
 Pendataan atau penelitian khusus
d. Data lainnya
 Penelitian/data sanitasi dan lingkungan
 Catatan imunisasi
 Pencatatan dan pelaporan keluarga berencana
Ada 10 sumber data untuk sistem surveilen sesuai anjuran WHO, yaitu :
a. Registrasi mortalitas
b. Laporan morbiditas
c. Laporan epidemic
d. Investigasi laboratorium
e. Investigasi kasus individu
f. Investigasi lapangan epidemic
g. Survei
h. Studi reservoir binatang dan distribusi vektor
i. Penggunaan biologic dan obat
j. Pengetahuan populasi dan lingkungan
Sumber data yang dikumpulkan dapat berupa data primer (data yang dikumpulakn
oleh peneliti secara langsung melalui objek penelitian) dan data sekunder (data yang
sudah dikumpulkan oleh pihak lain).
Untuk pengumpulan data primer, sumber data terletak di masyarakat yang dapat
dilakukan dengan cara :
a. Survei epidemiologi
b. Pengamatan epidemiologi
c. Penyaringan

Untuk dpengumpulan data sekunder, sumber data dapat diperoleh melalui :

a. Sarana pelayanan kesehatan, misal : rumah sakit, puskesmas.


b. Instansi yang berhubungan dengan kesehatan, misal : DepKes, DinKes.
c. Absensi, misal :absensi sekolah, perusahaan, kantor.
d. Secara internasional dapat diperoleh melalui WHO. Seperti, population bulletin,
epidemiologi report, population and vital statistic report.

Cara pengumpulan data epidemiologi :

a. Wawancara
b. Pemeriksaan
c. Pengamatan
d. Peran serta langsung

Cara pengolahan data epidemiologi :

a. Editing (perbaikan)
b. Coding (pengkodean)
c. Entry data (memasukkan data)
d. Cleaning (pembersihan)
e. Analysis (analisa)

Cara penyajian data :

a. Textular
b. Tabular
c. Grafikal
2. Ukuran-ukuran masalah kesehatan
Ukuran masalah kesehatan adalah adanya keterangan tentang besarnya masalah
kesehatan yang ditemukan dalam kelompok masyarakat.
Ukuran yang dapat digunakan dalam mengukur frekuensi masalah kesehatan yaitu :
a. Morbiditas (angka kesakitan)
 Insidensi
Yaitu gambaran tentang frekuensi penderita baru suatu penyakit yang
ditemukan pada suatu waktu tertentu di satu kelompok masyarakat.
Secara umum angka insiden ini dapat dibedakan menjadi 3 macam, yaitu :
 Incidensi Rate
Yaitu Jumlah penderita baru suatu penyakit yang ditemukan pada
suatu jangka waktu tertentu(umumnya 1 tahun) dibandingkan
dengan jumlah penduduk yang mungkin terkena penyakit baru
tersebut pada pertengahan jangka waktu yang bersangkutan.
Manfaat Incidensi Rate adalah :
- Mengetahui masalah kesehatan yang dihadapi
- Mengetahui Resiko untuk terkena masalah kesehatan yang
dihadapi
- Mengetahui beban tugas yang harus diselenggarakan oleh suatu
fasilitas pelayanan kesehatan.
 Attack Rate
Yaitu Jumlah penderita baru suatu penyakit yang ditemukan pada
suatu saat dibandingkan dengan jumlah penduduk yang mungkin
terkena penyakit tersebut pada saat yang sama.
Manfaat Attack Rate adalah untuk memperkirakan derajat
serangan atau penularan suatu penyakit.
 Secondary Attack Rate
Yaitu jumlah penderita baru suatu penyakit yang terjangkit pada
serangan kedua dibandingkan dengan jumlah penduduk dikurangi
orang/penduduk yang pernah terkena penyakit pada serangan
pertama. Digunakan menghitung suatu panyakit menular dan
dalam suatu populasi yang kecil.
 Prevalensi
Yaitu gambaran tentang frekwensi penderita lama dan baru yang
ditemukan pada suatu jangka waktu tertentu di sekelompok masyarakat
tertentu. Pada perhitungan angka Prevalensi, digunakan jumlah seluruh
penduduk tanpa memperhitungkan orang/penduduk yang Kebal atau
Pendeuduk dengan Resiko (Population at Risk).
Secara umum nilai prevalen dibedakan menjadi 2, yaitu :
 Period Prevalen Rate
Yaitu jumlah penderita lama dan baru suatu penyakit yang
ditemukan pada suatu jangka waktu tertentu dibagi dengan jumlah
penduduk pada pertengahan jangka waktu yang bersangkutan.
Digunakan untuk penyakit yang sulit diketahui saat munculnya,
misalnya pada penyakit Kanker dan Kelainan Jiwa.
 Point Prevalen Rate
Yaitu jumlah penderita lama dan baru suatu penyakit pada suatu
saat dibagi dengan jumlah penduduk pada saat itu. Digunakan
untuk mengetahui mutu pelayanan kesehatan yang
diselenggarakan.
b. Mortalitas (angka kematian)
 Angka Kematian Kasar ( Crude Death Rate )
Yaitu jumlah semua kematian yang ditemukan pada satu jangka waktu
( umumnya 1 tahun ) dibandingkan dengan jumlah penduduk pada
pertengahan waktu yang bersangkutan.
 Angka Kematian Perinatal ( Perinatal Mortality Rate )
Yaitu umlah kematian janin yang dilahirkan pada usia kehamilan 28
minggu atau lebih ditambah dengan jumlah kematian bayi yang berumur
kurang dari 7 hariyang dicatat selama 1 tahun per 1000 kelahiran hidup
pada tahun yang sama.
 Angka Kematian Bayi Baru Lahir ( Neonatal Mortality Rate )
Yaitu jumlah kematian bayi berumur kurang dari 28 hari yang dicatat
selama 1 tahun per 1000 kelahiran hidup pada tahun yang sama.
 Angka Kematian Bayi ( Infant Mortalaity Rate )
Yaitu jumlah seluruh kematian bayi berumur kurang dari 1 tahun yang
dicatat selama 1 tahun per 1000 kelahiran hidup pada tahun yang sama.
 Angka Kematian Balita ( Under Five Mortalaty Rate )
Yaitu jumlah kematian balita yang dicatat selama 1 tahun per 1000
penduduk balita pada tahun yang sama.
 Angka Kematian Pasca-Neonatal (Postneonatal Mortality Rate)
Yaitu jumlah kematian yang terjadi pada bayi usia 28 hari sampai 1 tahun
per 1000 kelahiran hidup dalam satu tahun.
 Angka Lahir Mati / Angka Kematian Janin(Fetal Death Rate )
Uaitu proporsi jumlah kematian janin yang dikaitkan dengan jumlah
kelahiran pada periode waktu tertentu, biasanya 1 tahun.
 Angka Kematian Ibu ( Maternal Mortality Rate )
Yaitu jumlah kematian ibu sebagai akibat dari komplikasi kehamilan,
persalinan dan masa nifas dalam 1 tahun per 1000 kelahiran hidup pada
tahun yang sama.
 Angka Kematian Spesifik Menurut Umur (Age Specific Death Rate)
Manfaatnya adalah :
 Untuk mengetahui dan menggambarkan derajat kesehatan
masyarakat dengan melihat kematian tertinggi pada golongan
umur.
 Untuk membandingkan taraf kesehatan masyarakat di berbagai
wilayah.
 Untuk menghitung rata – rata harapan hidup.
 Cause Spesific Mortality Rate ( CSMR )
Yaitu Jumlah seluruh kematian karena satu sebab penyakit dalam satu
jangka waktu tertentu ( 1 tahun ) dibagi dengan jumlah penduduk yang
mungkin terkena penyakit tersebut.
 Case Fatality rate ( CFR )
Yaitu perbandingan antara jumlah seluruh kematian karena satu penyebab
penyakit tertentu dalam 1 tahun dengan jumlah penderita penyakit tersebut
pada tahun yang sama.
Dalam mengukur frekwensi masalah kesehatan dapat terjadi kesalahan – kesalahan yang
berasal dari 2 sumber yaitu :
a. Kesalahan akibat penggunaan data yang tidak sesuai.
b. Kesalahan karena adanya factor bias yaitu adanya perbedaan antara hasil
pengukuran dengan nilai sebenarnya.

5. Survelance dan screening


Surveilans kesehatan masyarakat adalah pengumpulan, analisis, dan analisis data secara
terusmenerus dan sistematis yang kemudian didiseminasikan (disebarluaskan) kepada pihak-
pihak yang bertanggungjawab dalam pencegahan penyakit dan masalah kesehatan. Surveilans
memantau terus-menerus kejadian dan kecenderungan penyakit, mendeteksi dan memprediksi
outbreak pada populasi, mengamati faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit, seperti
perubahan-perubahan biologis pada agen, vektor, dan reservoir. Selanjutnya surveilans
menghubungkan informasi tersebut kepada pembuat keputusan agar dapat dilakukan langkah-
langkah pencegahan dan pengendalian penyakit (Last, 2001). Kadang digunakan istilah
surveilans epidemiologi. Baik surveilans kesehatan masyarakat maupun surveilans epidemiologi
hakikatnya sama saja, sebab menggunakan metode yang sama, dan tujuan epidemiologi adalah
untuk mengendalikan masalah kesehatan masyarakat, sehingga epidemiologi dikenal sebagai
sains inti kesehatan masyarakat (core science of public health).

Surveilans memungkinkan pengambil keeputusan untuk memimpin dan mengelola


dengan efektif. Surveilans kesehatan masyarakat memberikan informasi kewaspadaan dini bagi
pengambil keputusan dan manajer tentang masalah-masalah kesehatan yang perlu diperhatikan
pada suatu populasi.
Surveilans kesehatan masyarakat merupakan instrumen penting untuk mencegah outbreak
penyakit dan mengembangkan respons segera ketika penyakit mulai menyebar. Informasi dari
surveilans juga penting bagi kementerian kesehatan, kementerian keuangan, dan donor, untuk
memonitor sejauh mana populasi telah terlayani dengan baik.

TUJUAN SURVEILANS

Surveilans bertujuan memberikan informasi tepat waktu tentang masalah kesehatan populasi,
sehingga penyakit dan faktor risiko dapat dideteksi dini dan dapat dilakukan respons pelayanan
kesehatan dengan lebih efektif. Tujuan khusus surveilans:
(1) Memonitor kecenderungan (trends) penyakit
(2) Mendeteksi perubahan mendadak insidensi penyakit, untuk mendeteksi dini outbreak
(3) Memantau kesehatan populasi, menaksir besarnya beban penyakit (disease burden) pada
populasi
(4) Menentukan kebutuhan kesehatan prioritas, membantu perencanaan, implementasi,
monitoring, dan evaluasi program kesehatan;
(5) Mengevaluasi cakupan dan efektivitas program kesehatan;
(6) Mengidentifikasi kebutuhan riset

JENIS SURVEILANS

1. Surveilans Individu

Surveilans individu (individual surveillance) mendeteksi dan memonitor individu-


individu yang mengalami kontak dengan penyakit serius, misalnya pes, cacar, tuberkulosis, tifus,
demam kuning, sifilis. Surveilans individu memungkinkan dilakukannya isolasi institusional
segera terhadap kontak, sehingga penyakit yang dicurigai dapat dikendalikan. Sebagai contoh,
karantina merupakan isolasi institusional yang membatasi gerak dan aktivitas orang-orang atau
binatang yang sehat tetapi telah terpapar oleh suatu kasus penyakit menular selama periode
menular. Tujuan karantina adalah mencegah transmisi penyakit selama masa inkubasi
seandainya terjadi infeksi (Last, 2001). Isolasi institusional pernah digunakan kembali ketika
timbul AIDS 1980an dan SARS. Dikenal dua jenis karantina: (1) Karantina total; (2) Karantina
parsial. Karantina total membatasi kebebasan gerak semua orang yang terpapar penyakit menular
selama masa inkubasi, untuk mencegah kontak dengan orang yang tak terpapar. Karantina parsial
membatasi kebebasan gerak kontak secara selektif, berdasarkan perbedaan tingkat kerawanan
dan tingkat bahaya transmisi penyakit. Contoh, anak sekolah diliburkan untuk mencegah
penularan penyakit campak, sedang orang dewasa diperkenankan terus bekerja. Satuan tentara
yang ditugaskan pada pos tertentu dicutikan, sedang di pospos lainnya tetap bekerja.
Dewasa ini karantina diterapkan secara terbatas, sehubungan dengan masalah legal,
politis, etika, moral, dan filosofi tentang legitimasi, akseptabilitas, dan efektivitas langkah-
langkah pembatasan tersebut untuk mencapai tujuan kesehatan masyarakat

2. Surveilans Penyakit

Surveilans penyakit (disease surveillance) melakukan pengawasan terus-menerus


terhadap distribusi dan kecenderungan insidensi penyakit, melalui pengumpulan sistematis,
konsolidasi, evaluasi terhadap laporan-laporan penyakit dan kematian, serta data relevan lainnya.
Jadi fokus perhatian surveilans penyakit adalah penyakit, bukan individu.
Di banyak negara, pendekatan surveilans penyakit biasanya didukung melalui program
vertikal (pusat-daerah). Contoh, program surveilans tuberkulosis, program surveilans malaria.
Beberapa dari sistem surveilans vertikal dapat berfungsi efektif, tetapi tidak sedikit yang tidak
terpelihara dengan baik dan akhirnya kolaps, karena pemerintah kekurangan biaya. Banyak
program surveilans penyakit vertikal yang berlangsung paralel antara satu penyakit dengan
penyakit lainnya, menggunakan fungsi penunjang masing-masing, mengeluarkan biaya untuk
sumberdaya masingmasing, dan memberikan informasi duplikatif, sehingga mengakibatkan
inefisiensi.

3. Surveilans Sindromik
Syndromic surveillance (multiple disease surveillance) melakukan pengawasan terus-menerus
terhadap sindroma (kumpulan gejala) penyakit, bukan masing-masing penyakit. Surveilans
sindromik mengandalkan deteksi indikator-indikator kesehatan individual maupun populasi yang
bisa diamati sebelum konfirmasi diagnosis. Surveilans sindromik mengamati indikator-indikator
individu sakit, seperti pola perilaku, gejala-gejala, tanda, atau temuan laboratorium, yang dapat
ditelusuri dari aneka sumber, sebelum diperoleh konfirmasi laboratorium tentang suatu penyakit.
Surveilans sindromik dapat dikembangkan pada level lokal, regional, maupun nasional.
Sebagai contoh, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menerapkan kegiatan
surveilans sindromik berskala nasional terhadap penyakit-penyakit yang mirip influenza (flu-like
illnesses) berdasarkan laporan berkala praktik dokter di AS. Dalam surveilans tersebut, para
dokter yang berpartisipasi melakukan skrining pasien berdasarkan definisi kasus sederhana
(demam dan batuk atau sakit tenggorok) dan membuat laporan mingguan tentang jumlah kasus,
jumlah kunjungan menurut kelompok umur dan jenis kelamin, dan jumlah total kasus yang
teramati. Surveilans tersebut berguna untuk memonitor aneka penyakit yang menyerupai
influenza, termasuk flu burung, dan antraks, sehingga dapat memberikan peringatan dini dan
dapat digunakan sebagai instrumen untuk memonitor krisis yang tengah berlangsung

4. Surveilans Berbasis Laboratorium

Surveilans berbasis laboartorium digunakan untuk mendeteksi dan menonitor penyakit infeksi.
Sebagai contoh, pada penyakit yang ditularkan melalui makanan seperti salmonellosis,
penggunaan sebuah laboratorium sentral untuk mendeteksi strain bakteri tertentu memungkinkan
deteksi outbreak penyakit dengan lebih segera dan lengkap daripada sistem yang mengandalkan
pelaporan sindroma dari klinik-klinik

5. Surveilans Terpadu

Surveilans terpadu (integrated surveillance) menata dan memadukan semua kegiatan surveilans
di suatu wilayah yurisdiksi (negara/ provinsi/ kabupaten/ kota) sebagai sebuah pelayanan publik
bersama. Surveilans terpadu menggunakan struktur, proses, dan personalia yang sama,
melakukan fungsi mengumpulkan informasi yang diperlukan untuk tujuan pengendalian
penyakit. Kendatipun pendekatan surveilans terpadu tetap memperhatikan perbedaan kebutuhan
data khusus penyakitpenyakit tertentu (WHO, 2001, 2002; Sloan et al., 2006).

Karakteristik pendekatan surveilans terpadu:


(1) Memandang surveilans sebagai pelayanan bersama (common services)
(2) Menggunakan pendekatan solusi majemuk;
(3) Menggunakan pendekatan fungsional, bukan struktural;
(4) Melakukan sinergi antara fungsi inti surveilans (yakni, pengumpulan, pelaporan,
analisis data, tanggapan) dan fungsi pendukung surveilans (yakni, pelatihan dan supervisi,
penguatan laboratorium, komunikasi, manajemen sumber daya);
(5) Mendekatkan fungsi surveilans dengan pengendalian penyakit. Meskipun
menggunakan pendekatan terpadu, surveilans terpadu tetap memandang penyakit yang berbeda
memiliki kebutuhan surveilans yang berbeda
6. Surveilans Kesehatan Masyarakat Global

Perdagangan dan perjalanan internasional di abad modern, migrasi manusia dan binatang serta
organisme, memudahkan transmisi penyakit infeksi lintas negara. Konsekunsinya, masalah-
masalah yang dihadapi negara-negara berkembang dan negara maju di dunia makin serupa dan
bergayut. Timbulnya epidemi global (pandemi) khususnya menuntut dikembangkannya jejaring
yang terpadu di seluruh dunia, yang manyatukan para praktisi kesehatan, peneliti, pemerintah,
dan organisasi internasional untuk memperhatikan kebutuhan-kebutuhan surveilans yang
melintasi batas-batas negara. Ancaman aneka penyakit menular merebak pada skala global, baik
penyakit-penyakit lama yang muncul kembali (re-emerging diseases), maupun penyakit-penyakit
yang baru muncul (newemerging diseases), seperti HIV/AIDS, flu burung, dan SARS. Agenda
surveilans global yang komprehensif melibatkan aktor-aktor baru, termasuk pemangku
kepentingan pertahanan keamanan dan ekonomi

MANAJEMEN SURVEILANS

Surveilans mencakup dua fungsi manajemen:


1. Fungsi inti (core activities) mencakup kegiatan surveilans dan langkah-langkah intervensi
kesehatan masyarakat. Kegiatan surveilans mencakup deteksi, pencatatan, pelaporan data,
analisis data, konfirmasi epidemiologis maupun laboratoris, umpan-balik (feedback).
Langkah intervensi kesehatan masyarakat mencakup respons segera (epidemic type
response) dan respons terencana (management type response).
2. Fungsi pendukung (support activities) mencakup pelatihan, supervisi, penyediaan sumber daya
manusia dan laboratorium, manajemen sumber daya, dan komunikasi

Hakikatnya tujuan surveilans adalah memandu intervensi kesehatan. Karena itu sifat dari
masalah kesehatan masyarakat menentukan desain dan implementasi sistem surveilans. Sebagai
contoh, jika tujuannya mencegah penyebaran penyakit infeksi akut, misalnya SARS, maka
manajer program kesehatan perlu melakukan intervensi kesehatan dengan segera. Karena itu
dibutuhkan suatu sistem surveilans yang dapat memberikan informasi peringatan dini dari klinik
dan laboratorium. Sebaliknya penyakit kronis dan perilaku terkait kesehatan, seperti kebiasaan
merokok, berubah dengan lebih lambat. Para manajer program kesehatan hanya perlu memonitor
perubahanperubahan sekali setahun atau lebih jarang dari itu. Sebagai contoh, sistem surveilans
yang menilai dampak program pengendalian tuberkulosis mungkin hanya perlu memberikan
informasi sekali setahun atau lima tahun, tergantung prevalensi. Informasi yang diperlukan bisa
diperoleh dari survei rumah tangga.

PENDEKATAN SURVEILANS

Pendekatan surveilans dapat dibagi menjadi dua jenis: (1) Surveilans pasif; (2) Surveilans aktif
(Gordis, 2000).
Surveilans pasif memantau penyakit secara pasif, dengan menggunakan data penyakit
yang harus dilaporkan (reportable diseases) yang tersedia di fasilitas pelayanan kesehatan.
Kelebihan surveilans pasif, relatif murah dan mudah untuk dilakukan. Negara-negara
anggota WHO diwajibkan melaporkan sejumlah penyakit infeksi yang harus dilaporkan,
sehingga dengan surveilans pasif dapat dilakukan analisis perbandingan penyakit internasional.
Kekurangan surveilans pasif adalah kurang sensitif dalam mendeteksi kecenderungan penyakit.
Data yang dihasilkan cenderung under-reported, karena tidak semua kasus datang ke fasilitas
pelayanan kesehatan formal. Selain itu, tingkat pelaporan dan kelengkapan laporan biasanya
rendah, karena waktu petugas terbagi dengan tanggungjawab utama memberikan pelayanan
kesehatan di fasilitas kesehatan masing-masing. Untuk mengatasi problem tersebut, instrumen
pelaporan perlu dibuat sederhana dan ringkas.

Surveilans aktif menggunakan petugas khusus surveilans untuk kunjungan berkala ke


lapangan, desa-desa, tempat praktik pribadi dokter dan tenaga medis lainnya, puskesmas, klinik,
dan rumah sakit, dengan tujuan mengidentifikasi kasus baru penyakit atau kematian, disebut
penemuan kasus (case finding), dan konfirmasi laporan kasus indeks.
Kelebihan surveilans aktif, lebih akurat daripada surveilans pasif, sebab dilakukan oleh
petugas yang memang dipekerjakan untuk menjalankan tanggungjawab itu. Selain itu, surveilans
aktif dapat mengidentifikasi outbreak lokal. Kelemahan surveilans aktif, lebih mahal dan lebih
sulit untuk dilakukan daripada surveilans pasif.
Sistem surveilans dapat diperluas pada level komunitas, disebut community surveilance.
Dalam community surveilance, informasi dikumpulkan langsung dari komunitas oleh kader
kesehatan, sehingga memerlukan pelatihan diagnosis kasus bagi kader kesehatan. Definisi kasus
yang sensitif dapat membantu para kader kesehatan mengenali dan merujuk kasus mungkin
(probable cases) ke fasilitas kesehatan tingkat pertama. Petugas kesehatan di tingkat lebih tinggi
dilatih menggunakan definsi kasus lebih spesifik, yang memerlukan konfirmasi laboratorium.
Community surveilans mengurangi kemungkinan negatif palsu (JHU, 2006)

Skrining
Adalah upaya menemukan penderita penyakit tanpa gejala dalam suatu masyarakat
tertentu melalui suatu pemeriksaan yang bertujuan untuk memisahkan orang-orang yang
benar-benar sehat terhadap orang-orang yang mungkin menderita.

Tujuan Skrining :
 Mendeteksi penderita sedini mungkin agar dapat diberikan pengobatan
 Mencegah meluasnya penyakit
 Memberikan keterangan epidemiologis tentang sifat penyakit ( frekwensi , natural history of
disease )
 Mendidik masyarakat memeriksakan diri secara teratur

Macam Skrining :
 Mass screening
Adalah skrining yang dilakukan pada seluruh populasi
mis : X ray massal
 Multiphasic screening
Skrining yang menggunakan berbagai uji penyaringan yang diterapkan pada saat yang
sama .
mis : pemeriksaan kesehatan pegawai sebelum bekerja
 Single sccrening
Skrining yang hanya ditujukan pada satu jenis penyakit
mis; skrining malaria
 Selective screening
Skrining yang dilakukan pada kelompok tertentu
mis; skrining pada wanita usia > 40 tahun untuk deteksi ca cervix

Kriteria untuk melaksanakan program :

1. Penyakit : - serius
- prevalensi tinggi
- Riwayat penyakit dimengerti
- Periode antara tanda pertama dan timbul
gejala penyakit adalah panjang

2. Uji diagnostik : - sensitif dan spesifik


- sederhana dan murah
- reliabel
- aman dan dapat diterima

3. Diagnosis dan pengobatan


- fasilitas adekwat
- efektif, dapat diterima dan pengobatan
aman telah tersedia

Beberapa metode epidemiolopgi untuk menilai skrining :


 Validitas adalah Kemampuan suatu pemeriksaan untuk menentukan individu yang
mempunyai penyakit (tidak normal ) dan individu yang tidak mempunyai penyakit
( normal ).
 Reliabilitas adalah kemampuan suatu pemeriksaan untuk memberikan hasil yang sama
( konsisten ) bila diterapkan lebih dari satu kali pada orang yang sama dan
waktu yang sama

Ada 2 faktor yang mempengaruhi konsistensi hasil :


Variasi pada metode pemeriksaan dan subjek
- stabilitas reagen yang dipakai
- waktu pemeriksaan

variasi pada peneliti baik internal peneliti , maupun inter peneliti


- Perbedaan membaca hasil pada waktu yang berbeda
- Perbedaan interpretasi hasil antara 2 orang ahli
 Sensitivitas : kemampuan suatu pemeriksaan untuk mengidentifikasi secara benar orang
yang mempunyai penyakit.
 Spesifisitas : kemampuan suatu pemeriksaan untuk mengidentifikasi secara benar orang
yang tidak mempunyai penyakit.

Karakteristik test skrining yang baik :


 Sederhana
test harus mudah dipelajari dan dilakukan .
 Cepat
Test tidak memerlukan waktu yang lama dan hasil dapat segera diperoleh .
 Tidak mahal
 Aman
 Dapat diterima

6. Rapid survey
Metode Survei Cepat (Rapid Survey Method) saat ini memainkan peran yang sangat
besar pada Ilmu Kesehatan Masyarakat, khususnya Epidemiologi.

Dalam perjalanannya, survei biasa digunakan untuk mengevaluasi berbagai program


kesehatan (Depkes, 1998) maupun menginvestigasi berbagai status kesehatan dan penyakit yang
aktual di masyarakat (Frerichs & Shaheen, 2001).

Penelitian survei merupakan perangkat penelitian yang murah dan cepat sehingga
informasi yang dibutuhkan dapat dihasilkan secara akurat dan tepat waktu. Bentuk kuesionernya
pun sederhana dan relatif mudah sehingga tidak memerlukan pelatihan secara khusus (Stone,
1993). Selain murah dan cepat, keunggulan lainnya adalah penelitian survei dapat digunakan
untuk mengumpulkan informasi secara sistematis mengenai berbagai hal, misalnya: insidensi
penyakit, identifikasi faktor-faktor etiologi penyakit, investigasi kualitas hidup manusia dan
perilaku masyarakat Agar dapat memberikan data yang lebih akurat, pengembangan kuesioner
perlu memperhatikan faktor validitas dan reliabilitas World Health Organization (WHO) telah
mengembangkan satu teknik survei yang cepat dan murah untuk mengevaluasi keberhasilan
program imunisasi dan program kesehatan lainnya. Teknik survei ini dikenal sebagai metode
survei cepat (Rapid Survey Method). 

Gagasan metode survei cepat pertama kali muncul pada tahun 1965. Metode ini
digunakan untuk membantu dinas kesehatan daerah mempelajari status imunisasi balita di
wilayahnya (Serfling & Sherman, 1965). Selanjutnya program pengembangan imunisasi
(Expanded Program of Immunization/EPI) WHO menggunakan dan mengembangkan metode
survei cepat lebih lanjut. Hasil pengembangannya adalah metode survei cepat dengan rancangan
sampel klaster dua tahap (two-stage cluster survey). 

Tahap pertama dilakukan pemilihan 30 klaster secara probability proportionate to size


(PPS) atau menggunakan teknik probabilitas yang proporsional terhadap besar klaster. Tahap
kedua dilakukan pemilihan sampel 7 anak dari setiap klaster sehingga dapat ditentukan besar
sampel sejumlah 210 anak. Anak pertama dari tujuh anak tersebut dipilih secara acak sederhana
(simple random) dan selanjutnya enam anak lainnya dipilih dari rumah terdekat. Survei
sederhana ini selanjutnya dikenal sebagai survei "30 x 7" (Depkes, 1998). 
Bennett dkk. (1991), mempublikasikan artikel mengenai survei klaster dua tahap sebagai
pengembangan dari publikasi Frerichs (1989) yang menguraikan estimasi rasio sebagai landasan
statistik metode survei cepat. 

Sebagai metode pengumpulan informasi yang berasal dari masyarakat (population based
information), metode survei cepat memiliki beberapa ciri khas, yaitu: 

1. Dipergunakan untuk mengukur kejadian yang sering terjadi di masyarakat.


2. Pengambilan sampel secara klaster dua tahap, dimana untuk tiap wilayah diambil
sebanyak 30 klaster dan pada masing-masing klaster diambil sebanyak 7 dan dengan 10
responden.
3. Jumlah pertanyaan hanya dibatasi 20 sampai dengan 30 item pertanyaan saja.
4. Rancangan sampel, pemasukan, pengolahan dan analisis data dilakukan dengan bantuan
komputer (program CSURVEY dan CSAMPLE yang menggunakan asumsi klaster dua
tahap).
5. Waktu pelaksanaan sampai dengan penyusunan laporan hanya berkisar 2-3 minggu saja.
6. Hasil survei disajikan dengan menggunakan teknik statistik yang sederhana dengan tetap
memperhatikan kaidah statistik yang berlaku.

Daftar pustaka

Prihastuti dan Djutaharta. Dipublikasikan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan KB &
KR BKKBN. Jakarta 2004. Kecenderungan Preferensi fertilitas, Unmetneed, dan
Kehamilan Yang Tidak Diharapkan: Analisis Lanjut SDKI 2002-2003.
Ismah,Zata. 2018. Dasar Epidemiologi. Fakutas Kesehatan Masyarakat UIN Medan:
Sumatera utara

Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Dasar-Dasar Demografi.

http://repository.uinsu.ac.id/5523/1/DIKTAT%20DASAR%20EPID.pdf

http://repositorii.urindo.ac.id/repository2/files/original/4d0206a2d9c23adfc09b20e02da1
54b2940ec8d7.pdf

https://www.kemkes.go.id/resources/download/puskes-haji/2-Pedoman-surveilan-dan-
respon-kesiapsiagaan-menghadapi-mers-cov.pdf

http://repository.uin-suska.ac.id/13456/7/7.%20BAB%20II_201835PSI.pdf

http://journal.fkm.ui.ac.id/epid/issue/download/135/pdf_1