Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA DASAR 1
IDENTIFIKASI ZAT KIMIA

OLEH:

NAMA : SABRINA ABEALLYA AFTHONI


NIM : B1A020006
KELOMPOK : 1A
HARI/TANGGAL : RABU, 02 DESEMBER 2020
ASISTEN : PITRIYANI
SHIFT :A

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
JURUSAN BIOLOGI
LABORATORIUM KIMIA DASAR
PURWOKERTO
2020
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ....................................................................................................... ii


IDENTIFIKASI ZAT KIMIA .............................................................................. 1
I. TUJUAN ................................................................................................... 1
II. TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................ 1
III. PROSEDUR PERCOBAAN .................................................................. 3
3.1. Alat .................................................................................................... 3
3.2. Bahan ................................................................................................. 3
3.3. Prosedur Kerja ................................................................................... 3
3.4. Skema Kerja ....................................................................................... 5
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................ 10
4.1. Data Pengamatan.............................................................................. 10
4.2. Pembahasan ..................................................................................... 12
V. KESIMPULAN ....................................................................................... 23
5.1. Kesimpulan ...................................................................................... 23
5.2. Saran ................................................................................................ 23
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 24

ii
IDENTIFIKASI ZAT KIMIA
ANION DAN KATION

I. TUJUAN

1. Mengidentifikasi adanya logam K, Na, dan Ca dalam 3 macam larutan bahan


dengan cara reaksi nyala api bunsen.
2. Melihat dan mengenal spektrum emisi dari K, Na, dan Ca.
3. Mengidentifikasi ion-ion logam 𝐴𝑔+ , 𝑃𝑏2+ , 𝐻𝑔2+ , 𝐹𝑒 2+ , 𝐵𝑎2+ , 𝑁𝑎2+
dalam larutan dengan menggunakan pereaksi pembentukkan endapan, warna,
gas, dan bau yang dapat diamati.
4. Mengidentifikasi anion-anion 𝐵𝑟 − , 𝑆𝑂4 2− , 𝐹𝑒(𝐶𝑁)6 4− , 𝐶𝑟4 2− , 𝑆𝑂3 2−
dengan pereaksi atas dasar perbedaan kelarutan garam perak dan barium.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Kimia analitik dibagi menjadi dua bidang yaitu analisis kulialitatif dan
analisis kuantitatif. Analisis kualitatif berkaitan dengan identifikasi zat -zat
kimia, mengenai unsur atau senyawa yang ada pada suatu sampel. Sedangkan,
analisis kuantitatif berkaitan dengan penetapan banyaknya suatu zat tertentu
dalam suatu sampel. Zat tersebut dinyatakan sebagai konstituen atau analit,
penyusun sebagian kecil atau sebagian besar suatu sampel yang dianalisis.
Urutan menguji suatu zat yang tidak diketahui yaitu dengan membuat sampel
atau contoh yang akan dianalisis. Sampel tersebut berupa cairan atau larutan.
Setelah itu, dilakukan pengujian ion pada larutan yang telah dihasilkan. Di
dalam pengidentifikasian berbagai konsentrasi pada suatu campuran ion,
terdapat beberapa tahap seperti pemisahan ion melalui proses pengendapan
dan pelarutan kembali endapan tersebut. Adanya pengujian spesifik untuk ion-
ion yang akan diidentifikasi dengan menambah reagen atau pereaksi yang
akan memberi warna pada endapan. Warna tersebut memberikan karakteristik
tertentu pada ion (Underwood, 1992).
Tahap terakhir dalam suatu analisis yaitu perhitungan analit pada sampel.
Metode analisis gravimetrik sering digunakan dalam metode analisis. Metode ini
merupakan salah satu bagiandari kimia analitik. Tahap pengukuran pada metode
gravimetrik yaitu penimbangan. Secara fisik, analit dipisahkan dari semua
komponen sampel maupun pelarutnya. Pengendapan merupakan teknik yang
paling sering digunakan untuk memisahkan analit dari komponen lain;

1
2

elektrolisis, ekstraksi pelarut, kromatografi, dan pengatsiran atau volatilisasi yang


termasuk metode penting dalam suatu pemisahan (Underwood, 2002).
Metode analisis kualitatif dilakukan secara konvensional dengan memakai
visualisasi berdasarkan larutan. Pengujian larutan dilakukan dengan
mengelompokkan ion yang bersifat mirip satu sama lain. Pengelompokkan yang
dimaksudkan yaitu pengendapan kelompok ion. Dengan ini didapatkan enam
kelompok endapan ion. Kelompok tersebut yaitu golongan klorida (I), golongan
sulfide (II), Golongan hidroksida (III), golongan sulfide (IV), golongan karbonat
(V), dan golongan sisa (VI). Metode ini menggunakan pereaksi golongan dan
pereaksi yang spesifik, gunanya untuk mengetahui jenis anion atau kation (Wiro,
2009). Cara memisahkan ion menggunakan metode analisis kualitatif ini harus
mengikutin prosedur kerja. Zat yang akan diamati harus disiapkan dan diubah ke
dalam bentuk larutan. Caranya dengan mengendapkan ion logam pada golongan
satu-persatu, endapan lalu dipisahkan dari larutannya dengan cara disaring atau
diputar dengan setrifugasi. Endapan tadi dicuci untuk membersihkan dari larutan
pokok atau filtrat dan setiap logamnya harus dipisahkan (Cokrosarjiwanto, 1977).
Ada dua uji yang digunakan dalam analisis kualitatif yaitu reaksi kering dan
reaksi basah. Reaksi kering digunakan untuk zat yang bersifat padatan dan
dilakukan dalam keadaan kering tanpa larutan. Sedangkan reaksi basah digunakan
untuk zat yang bersifat larutan. Petujuk ini dilakukan dengan pemanasan, uji pipa
tiup, uji nyala, uji spektroskopi, dan uji manik. Suatu reaksi dapat diketahui
sedang berlangsung yaitu dengan terbentuknya endapan pembebasan gas dan
pembebasan warna (Svehla, 1985).
Uji nyala yang terdapat pada uji spektroskopi disebut spektra nyala. Cara
memanfaatkannya dengan memisahkan cahaya dari rona-rona komponen dan
mengidentifikasikan kation yang ada menggunakan perangkat rona tertentu.
Contohnya yaitu uji manik boraks, menggunakan sehelai kawat platinum yang
serupa dengan uji nyala untuk uji manik boraks. Sedangkan cara menguji manik
fosfat pada umumnya sama dengan uji manik boraks. Uji manik fosfat diisi
dengan garam mikrosmotik. Uji manik karbonat disiapkan dengan melelehkan
sedikit natrium karbonat di lingkungan kawat platinum pada nyala bunsen,
sehingga diperoleh pantulan putih yang tidak tembus cahaya (Soemanto, 2000).
Sedangkan reaksi basah dibuat dari zat-zat berupa larutan. Dari reaksi ini
akan terbentuk endapan, pembebasan gas dan perubahan warna. Reaksi analisis
kualitatif dilakukan dengan cara basah dan terperinci. Metode ini sangat
bermanfaat dan sering diguanakan, oleh karena itu harus memperhatikan langkah-
langkahnya. Alat yang digunakan yaitu tabung reaksi, gelas piala, labu
Erlenmeyer, batang pengaduk, botol cuci, pengendapan dengan reagen berlebih,
pengendapan hidrogen sulfat, penyaringan, penyaringan pelepasan endapan dari
kertas saring, penguapan, dan pengeringan endapan (Retno, 2012).
3

III. PROSEDUR PERCOBAAN

3.1. Alat
Alat yang diganakan dalam Praktikum Identifikasi Anion dan
Kation, yaitu kawat platina, pembakar bunsen, jarum osche, pipet tetes,
tabung reaksi, dan panci perebusan.

3.2. Bahan
Bahan yang digunakan dalam Praktikum Identifikasi Anion dan
Kation, yaitu larutan HCl pekat, KCl 5%, NaCl 5%, dan CaCl₂ 5%, AgNO₃
1%, HCl 1%, NH₄OH 1%, Pb(NO₃)₂ 1%, KI 1%, HgCl₂ 1%, FeSO₄ 1%,
NaOH 1%, BaCl₂ 1%, (NH₄)₂CO₃ 1%, NH₄Cl 1%, dan kertas lakmus
merah. Sedangkan, bahan untuk identifikasi anion dengan reaksi basah
yaitu KBr 1%, Na₂SO₄ 1%, K₄Fe(CN)₆ 1%, H₂SO₄ pekat, H₃PO₄ 1%,
(NH₄)₂MoO₄ 1%, HNO₃ 1%, Na₂C₂O₄ 1%, dan Na₂S₂O₃ 1%.

3.3. Prosedur Kerja


3.3.1. Struktur Nyala Bunsen
1. Kran gas ditutup, pengatur aliran gas dibuka dengan cara
diputar ke kiri (berlawanan dengan arah jarum jam).
2. Keping udara ditutup rapat.
3. Korek api dinyalakan.
4. Kran gas dibuka dan batang api didekatkan ke mulut cerobong.
5. Keping udara diatur hingga warna nyala tidak kuning kembali.
Amati nyala api bunsen dan gambarkan.

3.3.2. Identifikasi Logam Alkali dengan Reaksi Kering


1. Bagian ujung kawat platina dicuci dengan cara dicelupkan ke
dalam HCl pekat.
2. Ujung kawat dipanaskan di daerah fusi api bunsen hingga tidak
mucul warna apapun.
3. Ujung kawat dicelupkan kembali ke dalam HCl pekat dan KCl.
4. Ujung kawat dibakar pada api bunsen di daerah oksidasi dan
catat warna yang muncul.
5. Ulangi langkah satu dan empat menggunakan masing-masing
larutan NaCl 5% dan CaCl₂ 5%.
4

3.3.3. Identifikasi Kation dengan Reaksi Basah


1. Sebanyak 0,1 mL larutan AgNO₃ 1% ditambahkan ke 0,1 mL
larutan HCl 1%. Amati yang terjadi, tambahkna larutan
NH₄OH. Amati juga perubahan yang terjadi.
2. Sebanyak 1 mL larutan Pb(NO₃)₂ 1% ditambahkan ke 0,1 mL
larutan KI 1%. Amati yang terjadi, kemudian didihkan. Setelah
dingin, amati perubahan yang terjadi.
3. Sebanyak 1 mL larutan HgCl₂ 1% ditambahkan ke 0,1 mL KI
1%. Amati yang terjadi, kemudian tambahkan larutan KI 1%.
Amati kembali perubahan yang terjadi.
4. Sebanyak 1 mL larutan FeSO₄ 1% ditambahkan ke 1 mL
larutan NaOH 1%. Amati perubahan yang terjadi, kemudia
kocok. Amati kembali perubahannya.
5. Sebanyak 1 mL larutan BaCl₂ 1% ditambahkan ke 1 mL
(NH₄)₂CO₃ 1%. Amati yang terjadi, kemudian tambahkan 1
mL larutan HNO₃ 1%. Amati kembali perubahannya.
6. Sebanyak 1 mL larutan NaOH 1 % ditambahkan ke 1 mL
larutan NH₄Cl 1%. Amati yang terjadi jika lakmus merah
basah ditempatkan pada bibir tabung, kemudian panaskan, dan
amati yang terjadi dan baunya.

3.3.4. Identifikasi Anion dengan Reaksi Basah


1. Sebanyak 1 mL larutan KBr 1% ditambahkan ke 0,1 mL
larutan AgNO₃ 1%, kemudian amati yang terjadi.
2. Sebanyak 1 mL larutan Na₂SO₄ 1% ditambahkan ke 1 mL
laruutan BaCl₂ 1%, amati yang terjadi.
3. Sebanyak 1 mL K₄Fe(CN)₆ 1% ditambahkan 0,1 mL larutan
H₂SO₄ pekat, amati yang terjadi.
4. Sebanyak 1 mL larutan H₃PO₄ 1% ditambahkan ke 1 mL
larutan (NH₄)₂MoO₄ 1% dan 1 mL larutan HNO 1%, kemudian
panaskan sebentar lalu dinginkan, dan amati perubahannya.
5. Sebanyak 1 mL Na₂C₂O₄ 1% ditambahkan ke 1 mL larutan
H₂SO₄ pekat, amati yang terjadi.
6. Sebanyak 0,1 mL larutan Na₂S₂O₄ 1% ditambahkan 1 mL
larutan AgNO₃ 1%, amati yang terjadi.
5

3.4. Skema Kerja


3.4.1. Struktur Nyala Bunsen

Bunsen

 Kran gas ditutup, pengatur aliran gas dibuka.


 Keping udara ditutup rapat.
 Korek api dinyalakan.
 Dibuka kran gas dan di dekatkan batang api ke mulut
corong.
 Diatur keping udara hingga warna nyala tidak kuning.
 Diamati dan digambar struktur nyala api.

Hasil
Pengamatan

3.4.2. Identifikasi Logam Alkali pada Reaksi Kering

Kawat Platina

 Dicuci bagian ujungnya dengan dicelupkan ke HCl


pekat.
 Dipanaskan ujung kawat di daerah fusi api bunsen.
 Dicelupkan ujung kawat ke HCl pekat, kemudian
kelarutan KCl 5%.
 Dibakar ujung kawat didaerah oksidasi dan diamati
serta dicatat warna yang timbul.
 Dicelupkan ujung kawat ke HCl pekat, kemudian
kelarutan NaCl 5% dan dibakar.
 Dicelupkan ujung kawat ke HCl pekat, kemudian
kelarutan CaCl₂ 5% dan dibakar.

Hasil
Pengamatan
6

3.4.3. Identifikasi Kation pada Reaksi Basah

1. 0,1 mL larutan
AgNO₃ 1%

 Ditambahkan 0,1 mL larutan HCl 1%.


 Diamati.
 Ditambahkan larutan NH4OH berlebih.
 Diamati perubahannya.

Hasil
Pengamatan

2. 1 mL larutan
Pb(NO₃)₂ 1%

 Ditambahkan 0,1 mL larutan KI 1%.


 Diamati.
 Didihkan.
 Diamati perubahannya.

Hasil
Pengamatan

3. 1 mL larutan
HgCl₂ 1%

 Ditambahkan 0,1 mL larutan KI 1%.


 Diamati.
 Ditambahkan larutan KI berlebih.
 Diamati perubahannya.

Hasil
Pengamatan
7

4. 1 mL larutan
FeSO₄ 1%

 Ditambahkan 1 mL larutan NaOH 1%.


 Diamati.
 Dikocok.
 Diamati perubahannya.

Hasil
Pengamatan

5. 1 mL larutan
BaCl₂ 1%

 Ditambahkan 1 mL larutan (NH₄)₂CO₃ 1%.


 Diamati.
 Ditambahkan 1 mL larutan HNO₃ 1%.
 Diamati perubahan.

Hasil
Pengamatan

6. 1 mL larutan
NaOH 1%

 Ditambahkan 1 mL larutan NH₄Cl 1%.


 Diamati.
 Dipanaskan.
 Diamati perubahan dan baunya.

Hasil
Pengamatan
8

3.4.4. Identifikasi Anion dengan Reaksi Basah

1. 1 mL larutan
KBr 1%

 Ditambahkan 0,1 mL larutan AgNO₃ 1%.


 Diamati.

Hasil
Pengamatan

2. 1 mL larutan
NaSO₄ 1%

 Ditambahkan 0,1 mL larutan BaCl₂ 1%.


 Diamati.

Hasil
Pengamatan

3. 1 mL larutan
K₄Fe(CN)₆ 1%

 Ditambahkan 0,1 mL larutan H₂SO₄ pekat.


 Diamati.

Hasil
Pengamatan
9

4. 1 mL larutan
H₃PO₄ 1%

 Ditambahkan 1 mL larutan (NH₄)₂MoO₄


1% dan 1 mL larutan HNO₃ 1%.
 Dipanaskan.
 Didinginkan.
 Diamati perubahannya.

Hasil
Pengamatan

5. 1 mL larutan
NaC₂O₄ 1%

 Ditambahkan 1 mL larutan H₂SO₄ 1%.


 Diamati.

Hasil
Pengamatan

6. 1 mL larutan
NaS₂O₄ 1%

 Ditambahkan 1 mL larutan AgNO₃ 1%.


 Diamati.

Hasil
Pengamatan
10

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Data Pengamatan


4.1.1. Struktur Nyala Bunsen

No. Perlakuan Pengamatan

Keran gas ditutup dan


1
pengatur aliran dibuka.
2 Keping udara ditutup.
3 Korek api dinyalakan.
Keran gas dibuka dan
4 didekatkan batang api ke
mulut cerobong.
Keping udara diatur sampai
5
warna tidak kuning.
Gambar struktur nyala api
6 (https://id.wikipedia.org/wiki/Natrium)
bunsen diamati

4.1.2. Identifikasi Logam Alkali pada Reaksi Kering

No. Perlakuan Pengamatan


Kawat platina dicuci bagian ujungnya
1 dengan cara mencelupkan ke dalam HCl
pekat.
Ujung kawat dipanaskan di daerah fusi api
2
bunsen
Ujung kawat dicelupkan lagi ke dalam HCl
Berwarna
3 pekat, kemudian dicelupkan ke larutan KCl
ungu
5%
Ujung kawat dibakar di daerah oksidasi dan
4
diamati warna yang ditimbulkan.
Ujung kawat dicelupkan ke dalam HCl
Berwarna
5 pekat, kemudian dicelupkan ke larutan NaCl
kuning
lalu dibakar.
Ujung kawat dicelupkan ke dalam HCl pekat Berwarna
6 kemudia dicelupkan ke larutan CaCl₂, lalu jingga
dibakar. (orange)
11

4.1.3. Identifikasi Kation pada Reaksi Basah

No. Perlakuan Pengamatan


Sebanyak 0,1 mL larutan AgNO₃
Berwarna putih
1% ditambah 0,1 mL larutan HCl
keruh
1 1% dan perubahan diamati.
Larutan NH₄OH ditambahkan, Berwarna putih
perubahan diamati. keruh
Sebanyak 1 mL larutan Pb(NO₃)₂
Berwarna
1% ditambah 0,1 mL larutan KI 1%
kuning pekat
dan perubahan diamati.
2 Berwarna
Larutan dididihkan dan perubahan kuning cerah
diamati. atau kuning
bening
Sebanyak 1 mL larutan HgCl₂ 1%
ditambah 0,1 mL larutan KI 1% dan Tidak berwarna
3 perubahan diamati.
Larutan KI 1% ditambahkan dan
Tidak berwarna
perubahan diamati.
Sebanyak 1 mL larutan FeSO₄ 1%
ditambah 1 mL larutan NaOH 1%
dan perubahan diamati. Berwarna agak
4
kuning
Larutan dikocok dan perubahan
diamati.
Sebanyak 1 mL larutan BaCl₂ 1%
ditambah 1 mL larutan (NH₄)₂CO₃ Tidak berwarna
5 1% dan perubahan diamati.
Larutan HNO₃ encer ditambah kan
Tidak berwarna
dan perubahan diamati.
Sebanyak 1 mL larutan NaOH 1%
ditambah 1 mL larutan NH₄Cl 1%
Tidak berwarna
dan perubahan diamati saat diberi
6 kertas lakmus merah.
Kertas lakmus
Tabung dipanaskan dan perubahan
menjadi
diamati.
berwarna biru
12

4.1.4. Identifikasi Anion pada Reaksi Basah

No. Perlakuan Pengamatan


Sebanyak 1 mL larutan KBr 1 %
Berwarna putih
1 ditambah 0,1 mL larutan AgNO₃ 1%
keruh
dan perubahan diamati.
Sebanyak 1 mL larutan Na₂SO₄ 1%
Berwarna putih
2 ditambah 1 mL larutan larutan BaCl₂
keruh
1% dan perubahan diamati.
Berwarna
Sebanyak 1 mL larutan K₄Fe(CN)₆ 1%
kuning cerah
3 ditambah 0,1 mL larutan H₂SO₄ pekat
atau kuning
dan perubahan diamati.
bening
Sebanyak 1 mL larutan H₃PO₄ 1%
ditambah 1 mL larutan (NH₄)₂MoO₄ 1%
4 Tidak berwarna
dan 1 mL larutan HNO₃ 1%, serta
perubahan diamati.
Sebanyak 1 mL larutan Na₂C₂O₄ 1%
5 ditambah 1 mL larutan H₂SO₄ pekat dan Tidak berwarna
perubahan diamati.
Sebanyak 0,1 mL larutan Na₂S₂O₃ 1%
6 ditambah 1 mL larutan AgNO₃ 1% dan Tidak berwarna
perubahan diamati.

4.2. Pembahasan

Identifikasi merupakan tanda pengenal diri, penentu atau penetapan


identitas seseorang dan pengenalan tanda-tanda atau karakteristik suatu hal
berdasarkan pada tanda pengenal (Hardawinati, 2003). Identifikasi disini
dinyatakan sebagai salah satu analisis kualitatif yang dilakukan dengan
dua cara, yaitu kimia dan fisiokimia. Suatu zat dapat direaksikan dan
diidentifikasikan apabila zat tersebut direaksikan dengan zat lain dan
membentuk senyawa baru. Inilah yang disebut reaksi kimia. Sedangkan,
zat perubah tersebut disebut reagen atau pereaksi.
Kimia analitik dibagi menjadi dua bidang yaitu analisis
kulialitatif dan analisis kuantitatif. Analisis kualitatif berkaitan
dengan identifikasi zat-zat kimia, mengenai unsur atau senyawa yang
ada pada suatu sampel. Sedangkan, analisis kuantitatif berkaitan
13

dengan penetapan banyaknya suatu zat tertentu dalam suatu sampel.


Pada analisis kualitatif terdapat dua macam uji, yaitu uji reaksi kering dan
uji reaksi basah. Reaksi kering diterapkan untuk zat-zat yang bersifat padat
dan dilakukan dalam keadaan kering dengan tanpa melarutkan contoh,
seperti pemanasan, uji pipa tiup, uji nyala, uji spektroskopi, dan uji manik.
Zat yang dapat diidentifikasi dalam reaksi ini harus memiliki sifat berikut,
yaitu dapat melebur, dapat menghasilkan warna berbeda pada nyala
bunsen, mudah menguap (volatile), dan redoks. Sedangkan reaksi basah
diterapkan untuk zat-zat yang bersifat larutan atau cairan. Suatu reaksi
dapat berlangsung dengan terbentuknya endapan, pembebasan gas, dan
perubahan warna. Sebagian besar analisis kualitatif dilakukan dengan cara
reaksi basah (Svehla, 1985).

4.2.1. Sumber Nyala Bunsen


Diperlukan pemahaman tentang uji warna nyala pada struktur
bunsen sebagai sumber gas pembakar (Vogel, 1985). Uji nyala ini
dilakukan menggunakan nyala api berwarna kebiruan. (Dewa, dkk, 2001).
Nyala bunsen dapat digambarkan sebagai berikut:
Keterangan:
a = daerah suhu rendah
b = daerah fusi (nyala
terpanas)
c = daerah nyala oksidasi
bawah
d = daerah nyala oksidasi atas
e = daerah nyala reduksi atas
f = daerah nyala reduksi
bawah
Nyala api bunsen terdiri dari tiga bagian, antara lain:
1) Kerucut dalam ADB berwarna biru, di dalam kerucut sebagian besar
terdiri dari gas yang tidak terbakar.
2) Ujung D (terang), akan terlihat jika lubang udara sedikit tertutup.
3) Kerucut luar ACBD, tempat terjadinya pembakaran sempurna.
Bagian dari nyala api bunsen:
1) Daerah suhu rendah, untuk mengidentifikasikan zat yang mudah
menguap, menguji pewarnaan pada zat yang ada.
2) Daerah nyala reduksi bawah, untuk mereduksi lelehan boraks.
3) Daerah nyala oksidasi bawah, utnuk mengoksidasi zat yang terlarut
dalam boraks, natrium, dan karbonat.
14

4) Daerah fusi (daerah nyala terpanas), untuk menguji adanya lelehan zat
dan menguji kebasahan suatu zat.
5) Daerah nyala reduksi atas, untuk mereduksi oksida kerak menjadi
logam padat, banyak karbon memijar.
6) Daerah nyala oksidasi atas, untuk mengoksidasi zat yang membutuhkan
suhu tinggi, ada oksigen berlebih, tidak sepanas oksidasi bawah.

4.2.2. Identifikasi Logam Alkali dengan Reaksi Kering


Reaksi kering merupakan uji pada analisis kualitatif. Uji ini
dilakukan dalam keadaan kering. Dapat dilakukan dengan cara
pemanasan, uji nyala bunsen, dan uji manik boraks. Uji ini biasanya
dipakai untuk pengujian awal terhadap kemurnian endapan dan mineral
suatu bahan (Azharman, 2017). Zat yang akan diidentifikasi harus
mempunyai sifat dapat melebur, dapat menghasilkan warna yang berbeda
dengan nyala bunsen, mudah menguap (volatil), dan bersifat redoks
(Kartka dan Vaulina, 2017).
Pada praktikum kali ini menggunakan kawat platina yang
sebelumnya dicelupkan ke dalam HCl, kemudian dicelupkan ke masing-
masing larutan, seperti KCl, NaCl, dan CaCl₂. Larutan HCl berfungsi
untuk membersihkan kawat platina dari sisa-sisa kotoran yang masih
menempel, sehingga sampel akan menjadi lebih kental dan mudah
menepel pada kawat platina. Pembakaran HCl tidak memberi efek tertentu
pada logam alkali dan alkali tanah (Suchio, 1985). Langkah awal dengan
mencelupkan kawat platina ke dalam larutan HCl. Kemudian dibakar di
atas nyala api bunsen, lalu dicelupkan kembali ke dalam larutan HCl.
Dihasilkan data hasil percobaan sesuai dengan referensi, ion 𝐾 + berwarna
ungu. Kalium yang merupakan golongan IA pada golongan kation ketiga
yang berarti golongan sisa atau kation larut (Vogel, 1985).
Percobaan kedua yang diidentifikasi yaitu NaCl, dihasilkan
4𝐻𝐶𝑙 + 4𝑁𝑎𝐶𝑙 + 𝑂2  4𝑁𝑎+ + 2𝐻2 𝑂 + 4𝐶𝑙 − (Svehla, 1985).
Dengan warna api yang dihasilkan adalah kuning. Langkah awal dengan
mencelupkan kawat platina ke dalam larutan HCl pekat. Kemudian
dibakar di atas nyala api bunsen, lalu dicelupkan kembali ke dalam larutan
HCl dan NaCl secara bergantian. Maka, dihasilkan data hasil percobaan
sesuai dengan referensi, ion natrium berwarna kuning. Natrium yang
merupakan golongan IA dann termasuk golongan kation yang kelima
(Vogel, 1985).
Percobaan ketiga yang diidentifikasi yaitu CaCl₂., dihasilkan
4𝐻𝐶𝑙 + 2CaCl₂ + 𝑂2  4𝐶𝑎2+ + 2𝐻2 𝑂 + 4𝐶𝑙 − (Svehla, 1985).
15

Dengan warna api yang dihasilkan adalah orange. Langkah awal dengan
mencelupkan kawat platina ke dalam larutan HCl pekat. Kemudian
dibakar di atas nyala api bunsen, lalu dicelupkan kembali ke dalam larutan
HCl dan CaCl secara bergantian. Namun, data yang dihasilkan belum
sesuai dengan referensi. Senyawa kalsium mudah menguap sehingga
memberi warna merah. Kalsium termasuk golongan IIA dan golongan
kation keempat (Vogel, 1985).

4.2.3. Identifikasi Kation dengan Reaksi Basah


Reaksi kering merupakan uji pada analisis kualitatif. Uji ini
dilakukan dengan cara, zat yang akan dianalisis dilarutkan terlebih dahulu
dalam suatu zat pelarut. Keuntungan dari reaksi ini yaitu percobaan kimia
kan lebih mudah dilihat dari segi perubahan warna maupun endapan yang
terbentuk. Bau gas yang ditimbulkan juga membantu dalam
mengidentifikasinya. Selain itu, reaksi basah mudah dilakukan dan
memberi efek perubahan yang spesifik (Kartika dan Vaulina, 2017).

Percobaan ke-1
Dalam percobaan ini dilakukan dengan mereaksikan 0,1 mL 𝐴𝑔𝑁𝑂3
1% ditambah 0,1 mL larutan HCl 1%. Dihasilkan larutan berwarna putih
keruh dan terbentuk endapan AgCl. Penambahan HCl berfungsi untuk
mempercepat adanya endapan atau gumpalan yang terbentuk.

Gambar 4.2.1. Gambar 4.2.2.


𝐴𝑔𝑁𝑂3 dan HCl 𝐴𝑔𝑁𝑂3 , HCl, 𝑁𝐻4 𝑂𝐻

𝐴𝑔𝑁𝑂3 + 𝑁𝐻4 𝑂𝐻  AgCl + 𝐻𝑁𝑂4 (Svehla,1985)

Endapan AgCl ditambahkan 𝑁𝐻4 𝑂𝐻 menjadi warna putih keruh,


membentuk endapan kompleks.

𝐴𝑔𝐶𝑙 + 𝑁𝐻4 𝑂𝐻  Ag(𝑁𝐻3 )2 + 2𝐻2 𝑂 (Svehla,1985)


Hasil dari percobaan ke-1 yang dilakukan sesuai referensi, dihasilkan
larutan berwarna putih dan endapan berwarna putih (Svehla, 1985).
16

Percobaan ke-2
Dalam percobaan ini dilakukan dengan mereaksikan 1 mL
Pb(𝑁𝑂3 )2 1% ditambah 0,1 mL larutan KI 1%. Dihasilkan larutan
berwarna kuning pekat. Setelah dididihkan larutan menjadi berwarna
kuning cerah. Namun, hasil percobaan kali ini tidak sesuai dengan
referensi, yang mana 𝑃𝑏2+ sebagai kation dan 𝑃𝑏𝐼2 sebagai endapan, yang
berwarna kuning menjadi tidak berwarna (Svehla,1985).

𝑃𝑏(𝑁𝑂3 )2 + 2𝐾𝐼  𝑃𝑏𝐼2 + 2𝐾𝑁𝑂3 (Svehla,1985).

Gambar 4.2.3. Gambar 4.2.4.


𝑃𝑏(𝑁𝑂3 )2 𝑑𝑎𝑛 𝐾𝐼 𝑃𝑏(𝑁𝑂3 )2 𝑑𝑎𝑛 𝐾𝐼, dididihkan

Percobaan ke-3
Dalam percobaan ini dilakukan dengan mereaksikan 1 mL 𝐻𝑔𝐶𝑙2
1% ditambah 0,1 mL larutan KI 1%. Dihasilkan larutan tak berwarna atau
bening.

𝐻𝑔𝐶𝑙2 + 2𝐾𝐼  𝐻𝑔𝐼2 + 𝐾𝐶𝑙 (Svehla, 1985).


Setelah penambahan KI berlebih, warna larutan tetap tidak berwarna
atau bening. Penambahan KI pada larutan berfungsi untuk membentuk
tetraioso agar memperkuat dua persamaan reaksi setelah penambahan KI
berlebih. Maka, hasil percobaan ketiga ini sudah sesuai referensi.

𝐻𝑔𝐶𝑙2 + 2𝐾𝐼  𝐻𝑔𝐼2 + 𝐾𝐶𝑙 (Svehla, 1985).

Gambar 4.2.5. Gambar 4.2.6.


𝐻𝑔𝐼2 𝑑𝑎𝑛 𝐾𝐼 𝐻𝑔𝐼2 , 𝐾𝐼, 𝑑𝑎𝑛 𝐾𝐼 berlebih
17

Percobaan ke-4
Dalam percobaan ini dilakukan dengan mereaksikan 1 mL 𝐹𝑒𝑆𝑂4
1% ditambah 1 mL larutan NaOH 1%. Dihasilkan larutan berwarna
kekuningan. Namun, ternyata percobaan ini tidak sesuai dengan referensi,
yang seharusnya larutan berubah warna menjadi kecoklatan (Dini, 2016).

𝐹𝑒𝑆𝑂4 + 2𝑁𝑎𝑂𝐻  𝐹𝑒(𝐶𝐻)2 + 𝑁𝑎2 𝑆𝑂4 (Harjadi, 1990).

Gambar 4.2.7.
𝐹𝑒𝑆𝑂4 𝑑𝑎𝑛 𝑁𝑎𝑂𝐻, dikocok

Percobaan ke-5
Dalam percobaan ini dilakukan dengan mereaksikan 1 mL 𝐵𝑎𝐶𝑙2
1% ditambah 0,1 mL larutan (𝑁𝐻4 )2 𝐶𝑂3 1%. Dihasilkan larutan tidak
berwarna atau bening.

𝐵𝑎𝐶𝑙2 + (𝑁𝐻4 )2 𝐶𝑂3  𝐵𝑎𝐶𝑂3 + 2𝑁𝐻4 𝑂 (Svehla, 1985).


Setelah ditambah larutan 𝐻𝑁𝑂3 1% larutan tetap tidak berwarna.
Percampuran 𝐵𝑎𝐶𝑙2 + (𝑁𝐻4 )2 𝐶𝑂3 menghasilkan larutan yang larut dan
homogen.

𝐵𝑎𝐶𝑂3 + 2𝐻𝑁𝑂3  Ba(𝑁𝑂3 )2 + 𝐻2 𝑂 + 𝐶𝑂2 (Svehla, 1985).


Namun, ternyata percobaan ini tidak sesuai dengan referensi, yang
seharusnya larutan berubah warna menjadi putih keruh (Svehla, 1985).

Gambar 4.2.8.
𝐵𝑎𝐶𝑙2 , (𝑁𝐻4 )2 𝐶𝑂3 , 𝑑𝑎𝑛 𝐻𝑁𝑂3
18

Percobaan ke-6
Dalam percobaan ini dilakukan dengan mereaksikan 1 mL 𝑁𝑎𝑂𝐻
1% ditambah 1 mL larutan 𝑁𝐻4 𝐶𝑙 1%. Dihasilkan larutan tidak berwarna
atau bening. Lalu, dipanaskan bersama kertas lakmus merah, diperoleh
perubahan lakmus menjadi warna kemerahan. Larutan ini kemudian
ditambahkan NaOH, lalu dipasnaskan kembali. Menghasilkan larutan
tanpa endapan. Percobaan ini juga tidak sesuai dengan referensi, yang
seharusnya didapatkan perubahan lakmus merah menjadi biru.

NaOH + 𝑁𝐻4 𝐶𝑙  NaCl + 𝑁𝐻4 𝑂𝐻 (Svehla, 1985).

Gambar 4.2.9. Gambar 4.2.10.


𝑁𝑎𝑂𝐻 𝑑𝑎𝑛 𝑁𝐻4 𝐶𝑙 Lakmus menjadi kemerahan
19

4.2.4. Identifikasi Kation dengan Reaksi Basah


Anion dibagi menjadi dua golongan, yaitu golongan yang apabila
direaksikan dengan HCl encer akan mengeluarkan gas atau uap dan anion
yang apabila direaksikan dengan larutan tertentu akan menghasilkan
endapan. Reaksi basah dapat digunakan untuk analisis makro, semimakro,
dan mikro (Harjadi, 1990). Reaksi basah merupakan pengujian dengan
proses pelarutan. Teknik uji ini melibatkan pelarut yang sesuai. Oleh
karena itu, teknik ini disebut juga teknik uji kelarutan (Svehla, 1985).

Percobaan ke-1
Dalam percobaan ini dilakukan dengan mereaksikan 1 mL 𝐾𝐵𝑟 1%
ditambah 0,1 mL larutan 𝐴𝑔𝑁𝑂3 1%. Dihasilkan larutan seperti didih
berwarna kuning pekat (Harjadi, 1990). Dari hasil percobaan ini didapat
larutan berwana putih keruh.

𝐾𝐵𝑟 + 𝐴𝑔𝑁𝑂3  𝐾𝑁𝑂3 + 𝐴𝑔𝐵𝑟 (Harjadi, 1990).


Namun, data hasil percobaan tidak sesuai dengan referensi.

Gambar 4.2.11.
𝐾𝐵𝑟 𝑑𝑎𝑛 𝐴𝑔𝑁𝑂3
20

Percobaan ke-2
Dalam percobaan ini dilakukan dengan mereaksikan 1 mL 𝑁𝑎2 𝑆𝑂4
1% ditambah 0,1 mL larutan 𝐵𝑎𝐶𝑙2 1%. Dihasilkan endapan 𝐵𝑎𝑆𝑂4 warna
larutan putih keruh (Harjadi, 1990).

𝑁𝑎2 𝑆𝑂4 + 𝐵𝑎𝐶𝑙2  2𝑁𝑎𝐶𝑙 + 𝐵𝑎𝑆𝑂4


Dari hasil percobaan ini didapat larutan berwana putih keruh.

Gambar 4.2.12.
𝑁𝑎2 𝑆𝑂4 𝑑𝑎𝑛 𝐵𝑎𝐶𝑙2

Percobaan ke-3
Dalam percobaan ini dilakukan dengan mereaksikan 1 mL
𝐾4 𝐹𝑒(𝐶𝑁)6 1% ditambah 0,1 mL larutan 𝐻2 𝑆𝑂4 1%. Tidak terjadi
perubahan warba, larutan tetap berwarna kuning jernih. Data hasil
percobaan ini sudah sesuai dengan referensi (Eka, 2010).

Gambar 4.2.13.
𝐾4 𝐹𝑒(𝐶𝑁)6 𝑑𝑎𝑛 𝐻2 𝑆𝑂4
21

Percobaan ke-4
Dalam percobaan ini dilakukan dengan mereaksikan 1 mL 𝐻3 𝑃𝑂4
1% ditambah 1 mL larutan (NH₄)₂MoO₄ 1% serta 1 mL larutan 𝐻𝑁𝑂3 1%.
Dihasilkan perubahan warna menjadi kuning jernih (Wahyuni, 2011).

𝐻3 𝑃𝑂4 + 12(NH₄)₂MoO₄ + 21𝐻𝑁𝑂3 (𝑁𝐻4 )3 𝑃𝑂4 + 12MoO4 +


12𝑁𝐻4 𝑂 + 12𝐻2 𝑂 (Svehla, 1985).
Dari data hasil percobaan ini diperoleh larutan tidak berwarna. Oleh karena
itu, data hasil percobaan ini tidak sesuai dengan referensi (Harjadi, 1990).

Gambar 4.2.14.
𝐻3 𝑃𝑂4 , (NH₄)₂MoO₄, 𝑑𝑎𝑛 𝐻𝑁𝑂3

Percobaan ke-5
Dalam percobaan ini dilakukan dengan mereaksikan 1 mL Na₂C₂O₄
1% ditambah 1 mL larutan 𝐻2 𝑆𝑂4 pekat. Dihasilkan perubahan warna
menjadi putih keruh (Svehla, 1985).

Na₂C₂O₄ + 𝐻2 𝑆𝑂4  𝑁𝑎2 𝑆𝑂4 + H₂C₂O₄ (Svehla, 1985).


Dari data percobaan ini didapatkan larutan tidak berwarna. Oleh karena
itu, data hasil percobaan tidak sesuai dengan referensi (Svehla, 1985).

Gambar 4.2.15.
Na₂C₂O₄ dan 𝐻2 𝑆𝑂4
22

Percobaan ke-6
Dalam percobaan ini dilakukan dengan mereaksikan 0,1 mL
𝑁𝑎2 𝑆𝑂4 1% ditambah 1 mL larutan 𝐴𝑔𝑁𝑂3 1%. Dihasilkan larutan tidak
berwarna. Ini menyatakan, data hasil percobaan sudah sesuai dengan
referensi (Svehla, 1985).

𝑁𝑎2 𝑆𝑂4 + 𝐴𝑔𝑁𝑂3  2𝑁𝑎𝑁𝑂3 + 𝐴𝑔2 𝑆𝑂4 (Svehla, 1985).

Gambar 4.2.16.
𝑁𝑎2 𝑆𝑂4 dan 𝐴𝑔𝑁𝑂3
23

V. KESIMPULAN

5.1. Kesimpulan
Kesimpulan dari praktikum kali ini tentang “Identifikasi Zat Kimia
Anion dan Kation”, antara lain:
1. Idetifikasi logam alkali dengan reaksi kering mernghasilkan warna
yang berbeda pada setiap larutan yang diujikan. Untuk larutan KCl
menghasilkan warna ungu, NaCl menghasilkan warna kuning, dan
CaCl menghasilkan warna orange melalui pembakaran bunsen.
2. Identifikasi kation dengan reaksi basah menghasilkan beberapa warna
dan endapan yang dapat diamati pada setiap percampuran larutan.
3. Identifikasi anion dengan rekasi basah menghasilkan beberapa warna
dan endapan yang dapat diamati pada setiap percampuran larutan,
penanda ada atau tidaknya anion dalam larutan yang diujikan

5.2. Saran
Pada setiap percobaan yang dilakukan perlu memerhatikan
kelengkapan alat yang akan dipakai, keselamatan kerja pada laboratorium,
kebersihan alat dan laboratorium, kadar kemurnian bahan, dan kepekaan
indra penglihatan dan penciuman dalam mengidentifikasikan suatu larutan
atau perubahan reagen.
DAFTAR PUSTAKA

Azharman. 2010. Kimia Dasar I. Jakarta: Erlangga.

Cokrosarjiwanto. 1997. Kimia Analitik Kualitatif. Yogyakarta: UNY Press.

Hardawinati, Y. 2003. Mengenal Identifikasi, Individualisasi, dan Evaluasi.


Jakarta: Repository.

Harjadi. 1990. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Jakarta: Gramedia.

JR., R.A. Day dan Underwood, A.L. 2002. Analisis Kimia Kuantitatif Edisi
Keenam. Jakarta: Erlangga.

Kartika, Dwi dan Eva Vaulina. 2017. Modul Praktikum Kimia Dasar I
Unsoed. Purwokerto.

Retno. 2012. Partikel Zat Kimia. Jakarta: Erlangga.

Soemanto. 2000. Ilmu Kimia Universitas. Jakarta: Erlangga.

Suchio. 1985. Chemistry. London: CC Health and Comp.

Svehla. 1985. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan


Semimikro. Jakarta: PT. Kalman Media Pusaka.

Underwood. 1992. Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta: Erlangga.

Wiro. 2009. Analisis Kualitatif Kation dan Anion. Jakarta: EGO.

24

Anda mungkin juga menyukai