Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA DASAR 1
KROMATOGRAFI

OLEH:

NAMA : SABRINA ABEALLYA AFTHONI


NIM : B1A020006
KELOMPOK : 1A
HARI/TANGGAL : RABU, 09 DESEMBER 2020
ASISTEN : NURUL HAYATI
SHIFT :A

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
JURUSAN BIOLOGI
LABORATORIUM KIMIA DASAR
PURWOKERTO
2020
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI............................................................................................................ii
KROMATOGRAFI.................................................................................................1
I. TUJUAN.......................................................................................................1
II. TINJAUAN PUSTAKA...............................................................................1
III. PROSEDUR PERCOBAAN.....................................................................4
3.1. Alat........................................................................................................4
3.2. Bahan.....................................................................................................4
3.3. Prosedur Kerja.......................................................................................4
3.4. Skema Kerja...........................................................................................6
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN.................................................................7
4.1. Data Pengamatan...................................................................................7
4.2. Data Perhitungan...................................................................................8
4.3. Pembahasan...........................................................................................9
V. KESIMPULAN...........................................................................................16
5.1. Kesimpulan..........................................................................................16
5.2. Saran....................................................................................................16
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................17

ii
KROMATOGRAFI
IDENTIFIKASI CAMPURAN LOGAM DALAM LARUTAN SAMPEL
DENGAN METODE KROMATOGRAFI KERTAS

I. TUJUAN

1. Membuat bercak sampel pada kertas kromatografi dengan diameter 4


mm.
2. Mengilusikan bercak sampel dalam ruang pemisah.
3. Mengidentifikasi komponen-komponen pada kertas kromatografi.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Kromatografi pertama kali dikembangkan oleh ahli botani dari Rusia,


M.S. Tswett (1872-1919) yang melakukan teknik pemisahan pigment
tanaman berwarna. Teknik ini dinamakan “chromatograhpy” yang
merupakan penggabungan dua kata dari bahasa Yunani, yaitu chroma yang
berarti warna dan graphein yang berarti menulis. Pada awalnya,
kromatografi berarti menulis dengan warna (Rubiyanto, 2016).
Kromatografi didefinisikan oleh IUPAC, merupakan suatu metode yang
khususnya digunakan dalam pemisahan komponen-komponen dalam suatu
sampel yang terdistribusi dalam dua fasa yaitu fasa diam dan fasa gerak.
Fasa diam dapat berupa padat, cairan yang diletakkan di atas padatan atau
gel. Fasa diam dapat dibuat dalam bentuk kolom, disebarkan sebagai suatu
lapisan tipis atau didistribusikan sebagai film. Fasa gerak dapat berupa gas
atau cairan. Teknik ini dapat diterapkan dengan baik pada skala mikro dan
makro (Rubiyanto, 2016).
Fase diam (fase stationer) dan fase gerak mempunyai arti masing-
masing. Fase diam merupakan salah satu komponen yang penting di mana

1
2

terjadinya perbedaan kromatografi karena adanya interaksi dengan fase


diam yang menyebabkan terjadinya perbedaan waktu retensi (Rf) dan
terpisahnya komponen-komopnen senyawa. Sedangkan fase gerak
merupakan pembawa anlit yang dapat bersifat dan berinteraksi dengan
analitik tersebut. Fase gerak berupa cairan atau gas yang biasanya
digunakan sebagai senyawa yang mudah menguap. Fase diam juga
merupakan proses yang dilalui oleh fase gerak untuk mengetahui jarak
antara noda dengan pelarutnya (Basri, 2003). Kromatografi dibagi menjadi
dua, yaitu kromatografi preparatif dan kromatografi analitik. Kromatografi
dapat dilakukan dengan alat yang sederhana dan prosesnya cepat
(Sastrohamidjojo, 1985). Keuntungan dari kromatografi, yaitu pelaksaannya
lebih sederhana, hanya membutuhkan waktu yang singkat, dan mempunyai
kepekaan yang tinggi. Metode ini dapat dilakukan jika metode lain tidak
dapat atau sulit dilakukan (Chang, 2005).
Kegunaan kormatografi dalam bidang sains, yaitu untuk analisis atau
menguji suatu campuran, komponen, dan hubungan antar komponen,
identifikasikan atau menentukan campuran atau komponen yang
menggunakan senyawa standar, permurnian atau memisahkan senyawa
pengotor, kuantifikasi atau menentukan jumlah konsentrasi campuran atau
komponennya. Sedangkan dalam kehidupan sehari-hari, kromatografi
sangat berguna untuk perusahaan farmasi dalam menentukan jumlah beban
aktif produk, rumah sakit untuk mendeteksi adanya komponen dalam tubuh
pasien, penegakan hukum untuk pengujian barang bukti khusus pada TKP,
pabrik kimia dalam pemurnian bahan untuk pembuatan suatu produk, badan
lingkungan hidup untuk pengujian polutan, kualitas lingkungan, dan lain-
lain (Rubiyanto, 2016). Beberapa teknik kromatografi yaitu kromatografi
kertas (KK), kromatografi lapis tipis (KLT), kromatografi gas cair (KGC),
dan kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) (Harborne, 1987).
Kromatografi kertas merupakan contoh kromatografi partisi dalam
bentuk konvensional. Teknik ini sangat sederhana karena hanya
membutuhkan sepotong kertas, tinta warna, dan pelarut. Pada dasarnya,
3

kromatografi kertas mendasarkan proses pemisahan senyawa menurut


interaksi partisi atau distribusi senyawa pada fasa diam. Karakter fasa diam
meliputi cairan yang didukung dengan padatan inert, contohnya selulosa.
Sedangkan fasa gerak terdiri dari cairan, contohnya air, alkohol, dan lain-
lain (Rubiyanto, 2016).
Prinsip kerja kromatografi kertas yaitu senyawa terlarut dalam fasa
gerak akan melewati fasa diam yang terletak di suatu padatan
pendukungnya. Gerakan atau aliran senyawa terjadi karena efek kapilaritas
padatan pendukungnya. Kecepatan bergerak suatu komponen dalam
campuran senyawa tergantung pada kelarutannya dalam fasa diam.
Mekanisme pemisahan yang terjadi dibagi menjadi dua, yaitu peristiwa
kapilaritas dan solubilitas. Pemisahan dalam kertas bisa terjadi apabila ada
perbedaan kelarutan solut dalam solven dan adanya perbedaan afinitas solut
terhadap fasa diam dan fasa gerak (Rubiyanto, 2016).
Distribusi molekul-molekul komponen dalam dua fasa tersebut
ditentukan oleh tetapan kesetimbangan dengan koefisien distribusi K.
Cs
K=
Cm
Cs merupakan konsentrasi molekul dalam fase diam dan Cm merupakan
konsentrasi molekul komponen dalam fase gerak. Dengan prinsip, jika K
besar, maka populasi molekul komponen dalam fase diam lebih besar
daripada fase gerak, sehingga terjadi pemisahan.
Jarak yang ditempuh komponen larut
Rf =
Jarak yang ditempuh pelarut hingga garis front
Pada kromatografi kertas, perbedaan molekul komponen dapat
diidentifikasikan melalui teknik pewarnaan dan perhitungan Rf yang
dibandingkan dengan komponen standar. Rf disini merupakan Relatif
mobility of front atau jarak relatif yang ditempuh oleh molekul komponen
(Staf Departemen Kimia, 2020).
4

III. PROSEDUR PERCOBAAN

III.1. Alat
Alat-alat yang diperlukan untuk praktikum kromatografi, yaitu ruang
pemisah, pipet kapiler, pengering rambut, labu semprot, klip, dan lain-lain.

III.2. Bahan
Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk praktikum kromatografi antara
lain, eluen campuran dari HNO₃ dan Metanol 24:76, larutan sampel dari
sistein, larutan standar Pb(NO₃)₂, larutan standar Hg(NO₃)₂, larutan standar
Bi(NO₃)₂, dan larutan pewarna 0,5% KI.

III.3. Prosedur Kerja


Prosedur kerja pada percobaan praktikum mengenai kromatografi,
antara lain:
1. Pada kertas kromatografi Whatman No. 1 dengan ukuran 15 × 15
cm, buatlah garis start setinggi 2,5 cm dari tepi bawah dengan
pensil. Di atas garis start setinggi 20 cm, buatlah garis front.
2. Pada garis start, buatlah empat buah titik dengan pensil pada jarak
3 cm dari tepi kiri kertas dengan interval 3 cm.
3. Pada keempat titik yang ada di tengah garis, buatlah bercak
berturut-turut dari larutan standar Pb, Hg, Bi dan larutan sampel
dengan diameter bercak maksimal 4 mm. Cara membuat bercak
satu persatu dengan pipet kapiler yang berbeda. Setiap bercak
ditetesi 3 kali, kemudian keringkan dengan pengering rambut atau
hair dryer.
5

4. Masukkan kertas kromatografi ke dalam ruang pemisah yang sudah


berisi eluen dan dijenuhi dengan uap eluen dengan arah elusi naik.
Tinggi permukaan eluen tidak boleh melebihi tinggi garis start.
5. Lalu, tutuplah ruang pemisah dengan rapat dan biarkan eluen naik
sampai garis front.
6. Setelah eluen sampai pada garis front, angkatlah kertas
kromatografi dan keringkan dengan pengering rambut.
7. Setelah itu, semprotlah kertas kromatografi yang sudah kering
dengan larutan pewarna 0,5% KI dengan kabut halus, hingga
timbul warna kuning. Kemudian, hentikan penyemprotan agar
warna yang timbul tidak hilang atau hancur.
8. Kertas kromatografi lalu keringkan lagi dengan pengering rambut.
9. Ukurlah jarak masing-masing bercak komponen sampel dan bercak
standard. Hitunglah Rf masing-masing bercak.
10. Sesuai dengan dasar Rf standard dan warna bercak, tetapkan
macam logam dan masing-masing bercak komponen dari sampel.
Lalu, ditarik kesimpulannya.
6

III.4. Skema Kerja

Kertas Kromatografi
Whatman No. 1
(15 × 15 cm)

 Dibuat garis start, tinggi 2,5 cm dari tepi bawah


 Dibuat garis front, tinggi 10 cm di atas garis start
 Dibuat empat titik, jarak 3 cm dari tepi kiri kertas
interval 3 cm
 Dibuat bercak berturut-berturut dari larutan standar dan
larutan sampel di keempat titik yang ada di tengah,
dibuat dengan pipet kapiler berbeda
 Ditetesi 3 kali, dikeringkan
 Dimasukkan ke dalam ruang pemisah berisi eluen dan
dijenuhi uap eluen
 Ditutup rapat, dibiarkan eluen naik sampai front
 Diangkat dan dikeringkan
 Disemprot dengan larutan pewarna 0,5% KI
 Dikeringkan lagi
 Diukur jarak masing-masing bercak, dihitung Rf-nya
 Ditetapkan macam logam, diambil kesimpulan

Hasil Pengamatan
7

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1. Data Pengamatan


Data Pengamatan Percobaan 3: Kromatografi

No
Perlakuan Pengamatan
.
Dibuat garis start setinggi 2,5 cm dari
tepi bawah kertas kromatografi Garis start dan front
1 Whatman No. 1 dengan ukuran 15 × 15 telah dibuat pada
cm, dengan pensil. Dibuat garis front di kertas kromatografi
atas garis start setinggi 20 cm.
Dibuat empat buah titik pada garis start
Sebanyak 4 titik telah
2 dengan pensil pada jarak 3 cm dari tepi
dibuat di tengah garis
kiri kertas dengan interval 3 cm.
Dibuat bercak berturut-turut dari larutan
standar Pb, Hg, Bi dan larutan sampel
dengan diameter bercak maksimal 4 Dikeempat titik telah
mm di keempat titik yang ada di tengah dibuat bercak
3 garis. Cara membuat bercak satu menggunakan tiga
persatu dengan pipet kapiler yang larutan standar, Pb,
berbeda. Setiap bercak ditetesi 3 kali, Hg, dan Bi
kemudian keringkan dengan pengering
rambut atau hair dryer.
Dimasukkan kertas kromatografi ke
Kertas kromatografi
dalam ruang pemisah yang sudah berisi
telah dimasukkan ke
eluen dan dijenuhi dengan uap eluen
4 dalam toples atau
dengan arah elusi naik. Tinggi
ruang pemisah yang
permukaan eluen tidak boleh melebihi
telah diberi eluen
tinggi garis start.
Ruang pemisah ditutup rapat dan Toples telah tertutup
5
dibiarkan eluen naik sampai garis front. rapat
Setelah eluen sampai pada garis front,
Kertas kromatografi
6 kertas kromatografi diangkat dan
telah dikeringkan
dikeringkan dengan pengering rambut.
8

Kertas kromatografi yang sudah kering


disemprot dengan larutan pewarna 0,5%
Kertas kromatografi
KI dengan kabut halus, hingga timbul
7 telah disemprot
warna kuning. Kemudian,
larutan pewarna KI
penyemprotan dihentikan agar warna
yang timbul tidak hilang atau hancur.
Kertas kromatografi
Dikeringkan lagi dengan pengering
8 telah dikeringkan
rambut.
kembali
Jarak masing-masing
Diukurlah jarak masing-masing bercak
bercak telah diukur
9 komponen sampel dan bercak standard
dan telah dihitung Rf-
dan dihitung Rf masing-masing bercak.
nya
Ditetapkan macam logam dan masing- Masing-masing bercak
masing bercak komponen dari sampel di ditetapkan logamnya
10
atas dasar Rf standard dan warna dan ditarik
bercak. Lalu, ditarik kesimpulannya. kesimpulan

IV.2. Data Perhitungan


Data Perhitungan Percobaan 3 Kelompok 1 Data ke-5: Kromatografi
Jarak yang ditempuh komponen larut
Rf =
Jarak yang ditempuh pelarut hingga garis front

a. Sistein
4,4 cm
Rf = =0,44 cm
10 cm

b. Pb(NO₃)₂
1,2cm
Rf = =0,12 cm
10 cm

c. Hg(NO₃)₂
5,9 cm
Rf = =0,59 cm
10 cm

d. Bi(NO₃)₂
4,3 cm
Rf = =0,43 cm
10 cm
9

IV.3. Pembahasan
Kromatografi merupakan cara pemisahan campuran menjadi
komponen dengan bantuan perbedaan fisik masing-masing komponennya
(Takeuchi, 2009). Pada kromatografi terdapat fase gerak dan fase diam.
Fase gerak dan fase diam (fase stationer) mempunyai arti masing-masing.
Fase diam merupakan komponen terjadinya perbedaan kromatografi karena
interaksi yang menyebabkan terjadinya perbedaan waktu retensi (Rf) dan
terpisahnya komponen-komponen senyawa. Sedangkan fase gerak
merupakan pembawa anlit yang bersifat dan berinteraksi dengan analitik
tersebut. Fase gerak berupa cairan atau gas yang mudah menguap. Fase
diam juga merupakan proses yang dilalui oleh fase gerak untuk mengetahui
jarak antara noda dengan pelarutnya (Basri, 2003). Kromatografi dibagi ke
dalam beberapa jenis antara lain, kromatografi kertas, kromatografi kolom,
kromatografi lapis tipis, dan kromatografi gas.
Kromatografi kertas adalah contoh kromatografi partisi yang sangat
sederhana dan mudah. Kromatografi ini hanya membutuhkan sepotong
kertas, tinta warna, dan pelarut saja. Kromatografi kertas mengacu pada
prinsip pemisahan senyawa-senyawa interaksi partisi atau distribusi
senyawa pada fasa diam. Fasa diam dalam jenis kromatografi ini berupa
cairan yang didukung dengan padatan inert, seperti selulosa. Sedangkan ,
fasa geraknya berupa zat cair, seperti air, alkohol, dan lainnya (Rubiyanto,
2016).
Kromatografi kolom merupakan teknik pemisahan senyawa dengan
mekanisme perbedaan gaya antar molekul dalam sampel dengan fasa gerak
dan fasa diam. Kromatografi kolom bisa disebut juga kromatografi adsorpsi.
Karakteristik fasa diam pada kromatografi kolom berupa padatan, seperti
silika gel, alumina, karbon aktif, dan lainnya. Sedangkan, karakteristik fasa
geraknya berupa larutan yang bersifat cair, seperti aston, etanol, dan lain-
lain. Prinsip kerja dalam kromatografi kolom yaitu zat cair (fasa gerak)
membawa senyawa menuju fasa diam dan akan terjadi adsorpsi senyawa
oleh padatan pada kolom. Selanjutnya akan diperoleh hasil berupa fraksi
senyawa (eluat) yang ditampung di bawah kolom (Rubiyanto, 2016).
10

Kromatografi lapis tipis (KLT) merupakan kromatografi planar. Jenis


kromatografi ini sederhana sehingga banyak digunakan. Alat dan bahan
yang digunakan juga sederhana yaitu bejana yang tertutup (chamber),
pelarut, dan lempeng KLT. Optimasi metode dan instrumen yang kuat,
menghasilkan pemisahan yang efisien dan akurat. Kromatografi planar
dapat digunakan untuk pemisahan skala preparatif, namun dengan
menggunakan lempeng, perlatan dan teknik khusus (Wulandari, 2011).
Kromatografi gas (KG) adalah metode pemisahan campuran menjadi
komponen berdasarkan interaksi fasa gerak dan diam. Cuplikan yang dapat
dipisahkan harus yang mudah menguap. Prinsip kerja kromatografi gas
yaitu cuplikan (uap) dibawa aliran gas ke kolom pemisah, hasil pemisahan
tersebut lalu dianalisis dengan kromatogram (Sholihah, 2018).
Hasil pengamatan “Identifikasi Campuran Logam dalam Larutan
Sampel dengan Metode Kromatografi Kertas” sebagai berikut:

Gambar 4.3.1 Pembuatan garis start dan garis front


Langkah pertama, buat garis start setinggi 2,5 cm dari tepi bawah kertas
kromatografi Whatman No. 1 dengan ukuran 15 × 15 cm, dengan pensil,
lalu buat garis front di atas garis start setinggi 20 cm. Pengggunaan pensil
bertujuan disini agar pensil tidak ikut bereaksi dengan eluen. Karena pada
dasarnya pensil berasal dari bahan karbon yang bersifat inert. Berbeda jika
memakai bolpoint, tinta bolpoint bisa tercampur dengan noda eluen.
11

Gambar 4.3.2 Pembuatan empat titik pada garis start


Langkah kedua, dibuat empat buah titik pada garis start dengan pensil pada
jarak 3 cm dari tepi kiri kertas dengan interval 3 cm.

Gambar 4.3.3 Pembuatan bercak dengan larutan standar (Pb, Hg, Bi) dan
larutan sampel sistein
Langkah ketiga, dibuat bercak berturut-turut dari larutan standar Pb, Hg, Bi
dan larutan sampel dengan diameter bercak maksimal 4 mm di keempat titik
yang ada di tengah garis. Agar nantinya jalannya eluen lurus, tidak melebar
kemana-mana, dan terlihat lebih rapih. Lalu, cara membuat bercak satu
persatu dengan pipet kapiler yang berbeda. Setiap bercak ditetesi 3 kali,
kemudian keringkan dengan pengering rambut atau hair dryer. Cara
menotolkannya menggunakan pipa kapiler harus tegak lurus 90°, agar
turunnya eluen tepat dibawah dan bentuk noda sempurna.
12

Gambar 4.3.4 Proses memasukkan kertas kromatografi ke dalam toples atau


ruang pemisah
Langkah keempat, kertas kromatografi dimasukkan ke dalam ruang pemisah
yang sudah berisi eluen dan dijenuhi dengan uap eluen dengan arah elusi
naik. Tinggi permukaan eluen tidak boleh melebihi tinggi garis start. Lalu,
ruang pemisah ditutup rapat dan dibiarkan eluen naik sampai garis front.
Kertas kromatografi yang akan dimasukkan ke dalam toples atau ruang
pemisah harus digulung terlebih dahulu, agar tetap tegak lurus dan tidak
memengaruhi jalannya elusi. Tempat atau wadah yang digunakan harus
yang tertutup agar eluen tidak terpengaruh udara uap air dari luar. Karena
kertas kromatografi terbuat dari selulosa murni yang sifatnya mudah
mengikat air. Uap air juga akan mengganggu jalannya elusi.

Gambar 4.3.5 Proses mengelurkan kertas kromatografi dari toples atau


ruang pemisah
Setelah eluen sampai pada garis front, kertas kromatografi diangkat dan
dikeringkan dengan pengering rambut.
13

Gambar 4.3.6 Proses penyemprotan kertas kromatografi dengan larutan


pewarna 0,5% KI
Kertas kromatografi yang sudah kering disemprot dengan larutan pewarna
0,5% KI dengan kabut halus, hingga timbul warna kuning. Kemudian,
penyemprotan dihentikan agar warna yang timbul tidak hilang atau hancur.
Larutan KI disini berfungsi sebagai pewarna logam. Pada awalnya logam
yang digunakan pada praktikum kali ini tidak berwarna, namun setelah
disemprotkan larutan KI logam tersebut menjadi berwarna kuning. Hal ini
karena larutan KI bereaksi dengan larutan standar dan sistein.

Gambar 4.3.7 Proses pengeringan kembali kertas kromatografi dengan


hairdryer
Fungsi hairdryer disini untuk mengeringkan kertas. Kertas dikeringkan agar
eluen menguap dan mempermudah dalam pengukuran jarak nanti, jika
kertas masih basah akan sulit untuk diukur. Pengeringan kertas disini agar
mempermudah dalam pengukuran.
14

Gambar 4.3.8 Bercak berwarna kuning dapat terlihat pada kertas


kromatografi
Hasil akhir terlihat noda bercak berwarna kekuningan, hasil dari noda yang
dieluenkan atau dielusikan yaitu logam Pb, Hg, Bi, dan sistein.

Gambar 4.3.9 Pengukuran jarak masing-masing bercak dengan garis start


dan front
Ukurlah jarak masing-masing bercak komponen sampel dan bercak standard
dan dihitung Rf masing-masing bercak. Ditetapkan macam logam dan
masing-masing bercak komponen dari sampel di atas dasar Rf standard dan
warna bercak. Lalu, ditarik kesimpulannya.
Percobaan kromatografi selalu berkaitan dengan nilai Rf. Besarnya
jarak tempuh tergantung kelarutan antara noda dan pelarutnya. Jika noda
dan pelarutnya memiliki prinsip saling melarut karena sifatnya sama, maka
noda tersebut akan mudah bergerak. Jika kemampuan pelarut bergerak
merambat pada kertas kromatografi tinggi, maka nilai Rf-nya akan rendah.
Cara mengitung Rf yaitu dengan rumus:
Jarak yang ditempuh komponen larut
Rf =
Jarak yang ditempuh pelarut hingga garis front
15

Berdasarkan data pengamatan, didapatkan jarak tempuh larutan sistein


yaitu 4,4 cm, larutan Pb(NO₃)₂ yaitu 1,2 cm, larutan Hg(NO₃)₂ yaitu 5,9
cm, dan larutan Bi(NO₃)₂ yaitu 4,3 cm. Dibagi dengan jarak tempuh pelarut
yang merupakan jarak dari garis start sampai garis front yaitu 10 cm.
Dihasilkan data nilai Rf larutan sistein, Pb(NO₃)₂, Hg(NO₃)₂, dan
Bi(NO₃)₂ berturut-turut yaitu 0,44 , 0,12 , 0,59 , dan 0,43. Hal ini sesuai
dengan referensi, menurut Harborne (1987:11) hasil dari nilai Rf selalu
berupa pecahan yang berada diantara 0,01 dan 0,99.
Karena larutan sistein ini mempunyai struktur gugus sulfihidril, yang
artinya mempunyai tingkat afinitas yang tinggi terhadap logam, maka sangat
memungkinkan gugus sulfihidril dalam sistein ini mampu mengikat logam
(Pb, Hg, dan Bi). Jadi ketika nilai Rf larutan standar ada yang mendekati
atau mirip dengan nilai Rf larutan sistein, maka sistein bisa mengikat salah
satu larutan standar yang terdekat. Pada praktikum kali ini nilai Rf larutan
Bi(NO₃)₂ yaitu 0,43 cm mendekati nilai Rf larutan sistein yaitu 0,44, cm.
Maka, artinya larutan sistein mengikat logam Bi.
Reaksi yang dihasilkan oleh larutan Pb(NO₃)₂, Hg(NO₃)₂, dan
Bi(NO₃)₂ ketika disemprotkan dengan larutan KI (Sutresna, 2007), sebagai
berikut:
Pb( NO ₃)₂(aq) +2 KI (aq)  2 KNO₃ (aq )+ PbI ₂(s)
Hg( NO ₃)₂(aq) + KI (aq)  KNO ₃(aq )+ Hg I ₂(s)
Bi( NO ₃) ₂(aq) + KI (aq)  2 KNO₃ (aq )+ Bi I ₂(s)
16

V. KESIMPULAN

V.1. Kesimpulan
Bercak pada larutan sampel dibuat masing-masing berukuran
maksimal 4 mm. Tujuannya agar nantinya jalannya eluen lurus, tidak
melebar, dan terlihat lebih rapih. Kertas kromatografi dimasukkan ke dalam
ruang pemisah yang sudah berisi eluen dan dijenuhi dengan uap eluen
dengan arah elusi naik. Tinggi permukaan eluen tidak boleh melebihi tinggi
garis start. Lalu, ruang pemisah ditutup rapat dan dibiarkan eluen naik
sampai garis front. Kertas kromatografi yang akan dimasukkan ke dalam
toples atau ruang pemisah harus digulung terlebih dahulu, agar tetap tegak
lurus dan tidak memengaruhi jalannya elusi. Tempat atau wadah yang
digunakan harus yang tertutup agar eluen tidak terpengaruh udara uap air
dari luar. Karena kertas kromatografi terbuat dari selulosa murni yang
sifatnya mudah mengikat air. Uap air juga akan mengganggu jalannya elusi.
Komponen-komponen yang ada pada kertas kromatografi yaitu larutan
sampel (sistein) dan larutan standar (Pb(NO₃)₂, Hg(NO₃)₂, dan Bi(NO₃)₂).

V.2. Saran
Diperukan ketepatan bahan dan cara saat menotolkan larutan ke kertas
kromatografi, juga ketelitian saat mengukur dan mengitung jarak eluen,
jarak start, dan jarak bercak,
17
DAFTAR PUSTAKA

Basri, S. 2003. Kamus Kimia. Jakarta: Kineka Cipta.

Chang, R. 2005. Kimia Dasar Jilid 2. Jakarta: Erlangga.

Harborne, J.B. 1987. Phytochemical methods, terjemahan Kosasih Padmawinata,


Metode Fitokimia. Bandung: ITB

Sastrohamidjojo, Hardjono. 1985. Kromatografi. Yogyakarta: Liberty.

Sholihah, Atti. 2018. Analisis Kromatografi Gas. Artikel Ilmiah. Laman Resmi
Badan Pusat Teknologi Sumber Daya Energi dan Industri Kimia.
https://ptseik.bppt.go.id/artikel-ilmiah/128-analisis-kromatografi-gas
(Diakses pada 15 Desember 2020)

Staf Departemen Kimia. 2020. Penuntun Praktikum Dasar. Purwokerto: Unsoed


Press.

Sutresna, Nana. 2007. Kimia untuk SMA kelas XI. Bandung: Grafindo.

Rubiyanto, Dwiarso. 2016. Teknik Dasar Kromatografi. Yogyakarta: Deepublish.

Takeuchi, Yashito. 2009. Kromatografi. Tokyo:Iwanami Shoten Publishers.

Wulandari, Lestyo. 2011. Kromatografi Lapis Tipis. Jember: PT. Taman Kampus
Presindo.

18

Anda mungkin juga menyukai