Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA DASAR 1
SENYAWA ORGANIK

OLEH:

NAMA : SABRINA ABEALLYA AFTHONI


NIM : B1A020006
KELOMPOK : 1A
HARI/TANGGAL : RABU, 16 DESEMBER 2020
ASISTEN : DYNDIE MAULIDIA MOESAW
SHIFT :A

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
JURUSAN BIOLOGI
LABORATORIUM KIMIA DASAR
PURWOKERTO
2020
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI............................................................................................................ii
SENYAWA ORGANIK..........................................................................................1
I. TUJUAN.......................................................................................................1
II. TINJAUAN PUSTAKA...............................................................................1
III. PROSEDUR PERCOBAAN.....................................................................4
3.1. Alat........................................................................................................4
3.2. Bahan.....................................................................................................4
3.3. Prosedur Kerja.......................................................................................4
3.4. Skema Kerja...........................................................................................6
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN.................................................................9
4.1. Data Pengamatan...................................................................................9
4.2. Pembahasan.........................................................................................12
V. PENUTUP...................................................................................................20
5.1. Kesimpulan..........................................................................................20
5.2. Saran....................................................................................................21
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................22

ii
SENYAWA ORGANIK

I. TUJUAN

1. Menguji sifat asam dan basa beberapa senyawa organik dengan


menggunakan kertas lakmus serta ukuran pH dengan pH-paper
universal.
2. Membuat etilasetat dari alkohol dan asam asetat dengan katalisator
asam sulfat.
3. Mengetahui adanya sifat mereduksi pada senyawa hidrokarbon,
khususnya gula yang mempunyai rantai terbuka.
4. Menunjukka adanya ikatan rangkap dalam asam lemak.
5. Mengidentifikasikan protein dengan reaksi warna biuret.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Senyawa organik merupakan senyawa yang mengandung karbon


(C) dan hidrogen (H), terkadang ada unsur-unsur lainnya seperti O, N, S,
dan halogen (Cl, Br, I, dan F). Atom karbon dan unsur lainnya dalam
senyawa organik terhubungkan oleh ikatan kovalen. Lebih dari 80%
senyawa di bumi merupakan senyawa organik. Senyawa organik bisa juga
disebut sebagai senyawa karbon atau senyawa berbasis hidrokarbon dan
turunannya. Namun tidak semua senyawa organik merupakan senyawa
karbon, misalnya CO₂, KCN, dan CaCO₃ yang merupakan senyawa
anorganik. Senyawa hidrokarbon merupakan senyawa yang tersusun dari
hidrogen dan karbon (Sardjono, 2014).
Hidrokarbon yang paling sederhana yaitu alkana yang hanya
mengandung ikatan kovalen tunggal. Molekul yang paling sederhana dari
alkana adalah metana. Metana merupakan komponen utama gas alam
(Wilbraham, 1992). Hidrokarbon dengan karbon-karbon yang mempunyai
satu ikatan disebut hidrokarbon jenuh. Sedangkan hidrokarbon dengan dua
atau lebih atom karbon berikatan rangkap dua atau tiga dinamakan
hidrokarbon tidak jenuh (Fessenden, 1997). Hidrokarbon dan senyawa
turunannya dibagi menjadi tiga, yaitu hidrokarbon alifatik, hidrokarbon
alisiklik, dan hidrokarbon aromatik (Wilbraham, 1992).

1
2

Alkana, alkena, dan alkuna merupakan senyawa hidrokarbon


alifatik. Alkana merupakan senyawa hidrokarbon jenuh, sedangkan alkena
dan alkuna merupakan senyawa hidrokarbon tak jenuh (Day dan
Underwood, 2002). Baik alkana, alkena, maupun alkuna sangat
bermanfaat untuk manusia, misalnya bensin, solar, LPG, aspal, dan parafin
(lilin). Sedangkan alkena dan alkuna biasanya digunakan untuk pereaksi
awal dalam sintesis senyawa (Riswiyantoro, 2009). Hidrokarbon jenuh
(alkana) tidak rekatif terhadap sebagian besar pereaksi. Berbeda dengan
hidrokarbon tak jenuh (alkena dan alkuna) mengalami reaksi adisi pada
ikatan rangkap dua atau tiga. Sedangkan senyawa aromatik mengalami
reaksi substitusi.
Alkohol merupakan senyawa yang mempunyai gugus hidroksi pada
atom jenuh. Alkohol mempunyai rumus ROH, R adalah alkil yang
tersubstitusi hidrokarbonsiklik. Alkohol diklasifikasikan menjadi 3
kelompok, yaitu alkohol primer, sekunder, dan tersier (Bailey dkk, 1978).
Alkohol dapat bereaksi dengan logam reaktif untuk melepaskan gas
hidrogen, sedangkan eter tidak dapat bereaksi. Contoh logam reaktif yaitu
natrium (Safrizal, 2011). Asam Karboksilat merupakan senyawa organik
yang mengandung gugus karboksil, COOH. Gugus Karboksil sendiri
mengandung gugus karbonil dan hidroksil. Sifat-sifat yang dimiliki oleh
asam karboksil antara lain, reaksi pembentukkan garam (penetralan),
reaksi esterifikasi, reaksi oksidasi, dan pembentukkan asam karboksilat.
Asam karboksilat dapat bereaksi dengan alkohol akan menghasilkan ester
yang dapat diidentifikasikan dari baunya, dinamakan esterifikasi
(Fessenden, 1997).
Asam dan basa merupakan zat merupakan dua senyawa kimia yang
penting. Zat yang bersifat masam didefinisikan sebagai asam, seperti pada
jeruk atau asam cuka. Sedangkan basa biasanya bersifat pahit dan licin,
seperti sabun. Asam basa dapat diketahui dengan menggunakan kertas
lakmus. Pada larutan asam, kertas lakmus biru akan berubah menjadi
merah, sedangkan pada larutan basa kertas lakmus merah akan berubah
menjadi biru. Larutan asam dan basa merupakan larutan elektrolit,
sehingga jika di dalam air akan terurai ion-ion. Setiap zat sembarang (ion
atau molekul) yang mendonor proton H+ disebut sebagai asam, sedangkan
zat sembarang (ion atau molekul) yang menerima proton disebut basa
(Vogel, 1982).
Senyawa organik yang bersifat asam memiliki pH < 7. Sedangkan
yang bersifat basa memiliki pH > 7, dan yang bersifat netral memiliki pH
7. Penggunaan pH meter untuk mengukur ketelitian nilai pH terkecil.
Sedangkan pH-paper universal penggunaanya untuk menyamakan warna
3

pada kertas lakmus dengan warna pada pH-paper universal, sehingga


diketahui pH bahan sesuai standar yang telah ditentukan (Sykes, 1989).
Ada bebrapa teori asam basa, yaitu teori asam basa Arrhenius, teori asam
basa Brownsted Lowry, dan teori asam basa Lewis (Fessenden, 1986).
Reaksi substitusi pada senyawa hidrokarbon merupakan reaksi
penggantian gugus fungsi (atom atau molekul) yang terikat pada atom C
suatu senyawa hidrokarbon. Reaksi adisi senyawa hidrokarbon terjadi jika
senyawa hidrokarbon memiliki ikatan rangkap dua (alkena) atau rangkap
tiga (alkuna) dan pada atom kurang ikatan rangkapnya, kemudian
digantikan dengan gugus fungsi (Rahayu, 2009). Ester merupakan asam
karboksilat yang mengandung gugus COOH. Pada sebuah ester
hidrogen, gugus ini digantikan dengan gugus hidrokarbon dari berbagai
jenis. Gugus ini bisa berupa gugus alkil seperti metil atau etil, bisa juga
mengandung benzena seperti fenil. Ester merupakan senyawa organik
yang bersifat netral. Ester termasuk salah satu turunan asam karboksilat
dari reaksi asam dengan alkohol atau phenol. Dengan rumus RCOOR, R
merupakan gugus organik (Fessenden, 1997). Proses esterifikasi
merupakan reaksi reversible antara asam karboksilat dengan alkohol.
Produk yang dihasilkan sangat khas bau harumnya. Biasanya proses ini
digunakan untuk pembuatan pengharum (essence).
RCOOH + ROH  RCOOR + H₂O
(Asam karboksilat) (Alkohol) (Ester)
(Fessenden, 1989)
Metode esterifikasi dibagi menjadi lima, yaitu esterifikasi cara fischer,
esterifikasi dengan asil halida, esterifikasi antara asam karboksilat dengan
conjugated diene, mereaksi alkohol dengan anhidrida asam, dan mereaksi
alkohol dengan asil klorida (asam klorida) (Lim, 2012). Adapun faktor-
faktor yang memengaruhi kecepatan esterifikasi seperti suhu, waktu reaksi,
katalis, pengadukan, dan perbandingan reaktan (Kirk dan Othmer, 1982).
4
III. PROSEDUR PERCOBAAN

III.1. Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum senyawa organik yaitu
tabung reaksi, cawan petri, pH meter, dan penangas air.

III.2. Bahan
Bahan yang dibutuhkan untuk uji sifat asam dan basa beberapa
senyawa organik yaitu 1 mL alkohol/etanol, 1 mL glukosa, 1 mL fenol, 1
mL fruktosa, 1 mL asam asetat, 1 mL anilin, 1 mL asam benzoat, 1 mL
asam piridin, kertas lakmus, dan pH-paper universal. Bahan yang
dibutuhkan untuk reaksi esterifikasi yaitu asam cuka pekat, 1 mL alkohol,
asam sulfat pekat, dan gabus. Bahan yang dibutuhkan untuk mereduksi
aldehida dan keton yaitu 2 mL 0,02 M fruktosa, 2 mL 0,02 M glukosa, 2
mL 0,02 M laktosa, 2 mL 0,02 M sakarosa, 2 mL 0,7% larutan pati, dan 1
mL larutan luff encer. Bahan yang dibutuhkan untuk uji sifat senyawa tak
jenuh yaitu 10 mL kloroform, pereaksi Hubl, minyak zaitun (olive oil),
minyak kacang, minyak jarak, dan minyak kelapa. Bahan yang dibutuhkan
untuk uji reaksi warna untuk menunjukkan protein yaitu 2 mL larutan
protein (putih telur), 2 mL 10% KOH atau 1 mL 40% NaOH, dan 0,1 M
larutan CuSO₄.

III.3. Prosedur Kerja


III.3.1. Uji Sifat Asam Basa Beberapa Senyawa Organik
1. Ambil sejumlah tabung reaksi dan cawan petri.
2. Diisi masing-masing tabung reaksi dengan 1 mL
alkohol/etanol, 1 mL anilin, 1 mL asam benzoat, 1 mL
asam piridin, 1 mL glukosa, 1 mL fenol, 1 mL fruktosa,
dan 1 mL asam asetat,.
3. Lalu, diuji dengan kertas lakmus dan ukurlah kekuatan
asam dan basanya dengan pH-paper universal atau pH
meter.
4. Catat hasilnya.

III.3.2. Reaksi Esterifikasi


1. Campurkan 1 mL alkohol dengan 5 tetes asam sulfat
pekat.
2. Tambahkan 5 tetes asam cuka pada campuran alkohol
dan H₂SO₄
3. Setelah itu, dipanaskan dengan hati-hati.

5
6

4. Tabung reaksi ditutup dengan gabus agar bau harum


dari etil asetat tercium jelas
5. Lalu didinginkan dan diencerkan dengan banyak air.

III.3.3. Daya Mereduksi Aldehida dan Keton


1. Diisi 5 tabung reaksi dengan masing-masing 2 mL 0,02
M fruktosa, 2 mL 0,02 M glukosa, 2 mL 0,02 M laktosa,
2 mL 0,02 M sakarosa, dan 2 mL 0,7% larutan pati.
2. Ditambahkan 1 mL larutan luff encer ke masing-masing
tabung reaksi.
3. Dicampurkan dan dicelupkan ke dalam penangas air
mendidih selama 15 menit.
4. Amati dan catat kecepatan perubahannya.

III.3.4. Sifat Senyawa Tak Jenuh


1. Sebanyak 10 mL kloroform dicampurkan dengan 10
tetes pereaksi Hubl.
2. Campuran tersebut dituangkan ke dalam 4 tabung reaksi
yang sudah diberi masing-masing satu tetes minyak
zaitun (olive oil), minyak kacang, minyak jarak, dan
minyak kelapa, beri nomor pada tabung reaksi agar
tidak tertukar.
3. Dikocok dan diamati perubahan warnanya.
4. Apabila warna merah muda belum hilang, ditambahkan
setetes demi setetes minyak tersebut.
5. Catat berapa tetes minyak yang dibutuhkan untuk
menghilangkan warna tersebut.

III.3.5. Reaksi Warna untuk Menunjukkan Protein


1. Sebanyak 2 mL larutan protein (putih telur)
ditambahkan ke dalam tabung reaksi.
2. Kemudian ditambahkan 2 mL 10% KOH atau 1 mL
40% NaOH.
3. Beberapa tetes 0,1 M larutan CuSO₄ ditambahkan ke
dalam campuran tadi.
4. Dikocok hingga tercampur rata, amati dan catatlah
perubahan warnanya.
7

III.4. Skema Kerja

III.4.1. Uji Sifat Asam Basa Beberapa Senyawa Organik

Sebanyak 1 mL alkohol/etanol, 1 mL glukosa, 1 mL


fenol, 1 mL fruktosa, 1 mL asam asetat, 1 mL anilin,
1 mL asam benzoat, 1 mL asam piridin

 Dimasukkan ke dalam tabung


reaksi dan cawan petri.
 Diuji dengan kertas lakmus.
 Diukur kekuatan asam dan basanya
dengan pH-paper universal atau
pH meter.
 Dicatat hasilnya

Hasil Pengamatan

III.4.2. Reaksi Esterifikasi


Sebanyak 5 tetes
CH₃COOH +
C₂H₅OH
 Ditambah 5 tetes asam sulfat pekat.
 Dipanaskan.
 Ditutup dengan gabus dan didinginkan.
 Diencerkan dengan H₂O.

Hasil Pengamatan
8

III.4.3. Daya Mereduksi Aldehida dan Keton


Sebanyak 2 mL 0,02 M fruktosa, 2 mL
0,02 M glukosa, 2 mL 0,02 M laktosa,
2 mL 0,02 M sakarosa, dan 2 mL 0,7%
larutan pati

 Dicampur 1 mL larutan luff encer.


 Dicelupkan ke dalam penangas air
mendidih selama 15 menit.
 Diamati dan dicatat kecepatan
perubahannya.

Hasil Pengamatan

III.4.4. Sifat Senyawa Tak Jenuh


Sebanyak 10 mL kloroform
dan 10 tetes pereaksi Hubl

 Dicampur 1 mL larutan luff encer.


 Dituang ke dalam 4 tabung reaksi.
 Diberi masing-masing satu tetes minyak
zaitun (olive oil), minyak kacang, minyak
jarak, dan minyak kelapa.
 Dikocoklah dan diamati perubahan
warnanya.
 Ditambahkan setetes demi setetes minyak
tersebut, jika warna merah muda belum
hilang.
 Dicatat berapa tetes minyak yang
dibutuhkan untuk menghilangkan warna
tersebut.
Hasil Pengamatan
9

III.4.5. Reaksi Warna untuk Menunjukkan Protein


Sebanyak 2 mL larutan protein
(putih telur)

 Dimasukkan ke dalam tabung reaksi.


 Dituang 2 mL 10% KOH atau 1 mL 40%
NaOH.
 Ditambahkan beberapa tetes 0,1 M
larutan CuSO₄.
 Dikocok.
 Diamati dan dicatat perubahannya.

Hasil Pengamatan
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1. Data Pengamatan

Kelompok 1 
A. Uji Sifat Asam dan Basa Beberapa Senyawa Organik 

No.  Perlakuan  Pengamatan

1.  Larutan alkohol/etanol, anilin,


asam benzoat,  piridin,
glukosa, fenol, fruktosa, asam
asetat dipipet  masing-masing
sebanyak 1 ml dan
dipindahkan ke  beberapa
tabung reaksi.

2.  Masing-masing larutan diuji pH yang di dapat: 


pH menggunakan  kertas - Etanol = warna lakmus 
lakmus dan pH-paper merah, pH 5 
universal. - Anilin = warna lakmus 
biru, pH 6 
- Asam benzoat = warna
lakmus merah, pH 7
- Piridin = warna lakmus
biru, pH 8
- Glukosa = warna lakmus
biru, pH 6
- Fenol = warna lakmus
merah, pH 5
- Fruktosa = warna lakmus
biru, pH 8
- Asam asetat = warna
lakmus merah, pH 5

10
11

B. Reaksi Esterifikasi

No.  Perlakuan  Pengamatan

1.  Sebanyak 1 ml alkohol


dicampurkan dengan 5 tetes 
asam sulfat pekat.

2.  Sebanyak 5 tetes asam cuka


ditambahkan pada campuran
alkohol dan H2SO4 pekat.

3.  Tabung reaksi ditutup, lalu di Timbul bau harum setelah


panaskan hingga  timbul bau dipanaskan selama 5 menit.
harum.

C. Sifat Senyawa Tak Jenuh 

No.  Perlakuan  Pengamatan

1.  Campuran 10 ml kloroform


dan 10 tetes pereaksi Hubl
dibuat di dalam gelas kimia.

2.  Campuran tersebut dituangkan


ke dalam 4 tabung reaksi
berbeda.

3.  Pada tabung reaksi tersebut


ditambahkan tetes demi tetes: 
- Minyak zaitun ke tabung 1 
- Minyak kacang ke tabung 2 
- Minyak jarak ke tabung 3 
- Minyak kelapa ke tabung 4

4.  Campuran dikocok dan


diamati perubahan warnanya.

5.  Banyaknya tetes minyak yang Banyaknya tetesan


digunakan untuk minyak:
12

menghilangkan warna tadi - Tabung 1 = 4 tetes 


dicatat. - Tabung 2 = 3 tetes 
- Tabung 3 = 1 tetes 
- Tabung 4 = 3 tetes

D. Reaksi Warna untuk Menunjukkan Protein

No.  Perlakuan  Pengamatan

1.  Sebanyak 2 ml larutan protein


(putih telur) ditambahkan
dengan 2 ml 10 % KOH.

2.  Beberapa tetes larutan 0,1 %


CuSO4 ditambahkan ke dalam
campuran tadi.

3.  Campuran tersebut dikocok, Tidak adanya perubahan


lalu diamati warnanya.  warna pada larutan.

IV.2. Pembahasan
13

Senyawa organik merupakan senyawa yang mengandung karbon


(C) dan hidrogen (H), terkadang ada unsur-unsur lainnya seperti O, N, S,
dan halogen (Cl, Br, I, dan F). Lebih dari 80% senyawa di bumi
merupakan senyawa organik. Senyawa organik bisa juga disebut sebagai
senyawa karbon atau senyawa berbasis hidrokarbon dan turunannya.
Namun tidak semua senyawa organik merupakan senyawa karbon,
misalnya CO₂, KCN, dan CaCO₃ yang merupakan senyawa anorganik.
(Sardjono, 2014). Hidrokarbon dengan karbon-karbon yang mempunyai
satu ikatan disebut hidrokarbon jenuh. Sedangkan hidrokarbon dengan dua
atau lebih atom karbon berikatan rangkap dua atau tiga dinamakan
hidrokarbon tidak jenuh (Fessenden, 1997). Senyawa hidrokarbon menurut
Prasojo (2011) dibagi menjadi dua, yaitu hidrokarbon jenuh yang
mengandung ikatan kovalen tunggal dan hidrokarbon tak jenuh. Sifat fisik
dari senyawa organik seperti titik didih, titik leleh, gugus fungsi, berat
molekul, dan kelarutan tergantung pada sturkturnya (Vogel, 1985).
Gugus fungsi merupakan unsur selain karbon dan hidrogen di
dalam senyawa organik. Pengelompokkan ini terjadi karena beberapa atom
H atau C digantikan. Pengelompokkan atom-atom ini dinamankan gugus
fungsi dan molekul lainnya dinamakan R (Petrucci, 1992). Gugus fungsi
adalah atom atau kelompok atom dengan susunan tertentu yang
menentukan struktur dan sifat-sifat dari suatu senyawa. Senyawa yang
memiliki gugus fungsi yang sama dikelompokkan ke dalam golongan yang
sama (Sutresna, 2007). Gugus fungsional adalah atom atau kelompok atom
yang reaktif (Syukri, 2004).
Menurut teori Arrhenius, asam merupakan zat di dalam air yang
menghasilkan ion H +¿¿ , sedangkan basa merupakan zat di dalam air yang
terionisasi dan menghasilkan ion OH −¿¿. Kloroform atau triklorometan
mempunyai struktur CHCl₃. Senyawa kloroform merupakan senyawa
haloalkana yang mengikat tiga atom halogen klor (Cl) pada rantai C-nya.
Senyawa kloroform dapat dibuat dari bahan dasar senyawa organik yang
memiliki gugus metil CH₃ yang terikat padaatom C karbonil atau
hidroksilyang direaksikan dengan halogen (Carey, 1993).
Ester merupakan asam karboksilat yang mengandung gugus
COOH. Pada sebuah ester hidrogen, gugus ini digantikan dengan gugus
hidrokarbon dari berbagai jenis. Gugus ini bisa berupa gugus alkil seperti
metil atau etil, bisa juga mengandung benzena seperti fenil. Ester
merupakan senyawa organik yang bersifat netral. Ester termasuk salah satu
turunan asam karboksilat dari reaksi asam dengan alkohol atau phenol.
Dengan rumus RCOOR, R merupakan gugus organik (Fessenden, 1997).
Proses esterifikasi merupakan reaksi reversible antara asam karboksilat
14

dengan alkohol. Produk yang dihasilkan sangat khas bau harumnya.


Biasanya proses ini digunakan untuk pembuatan pengharum (essence).
RCOOH + ROH  RCOOR + H₂O
(Asam karboksilat) (Alkohol) (Ester)
(Fessenden, 1989).
Maka, berdasarkan praktikum “Senyawa Organik”, hasil
pengamatan yang didapatkan adalah sebagai berikut:
A. Uji Sifat Asam dan Basa Beberapa Senyawa Organik

Gambar 4.3.1 Pengisian Tabung reaksi dan cawan petri dengan


beberapa senyawa organik
Langkah pertama, mengisi masing-masing tabung reaksi dengan 1 mL
alkohol/etanol, 1 mL anilin, 1 mL asam benzoat, 1 mL asam piridin, 1 mL
glukosa, 1 mL fenol, 1 mL fruktosa, dan 1 mL asam asetat.

Gambar 4.3.2 Pengujian asam dan basa bahan dengan pH-paper


universal
Langkah kedua, menguji masing-masing dari bahan tadi dengan kertas
lakmus dan ukurlah kekuatan asam dan basanya dengan pH-paper
universal. Lalu, catat hasilnya. Didapatkan hasil pH dari percobaan uji
sifat asam dan basa beberapa senyawa organik, seperti berikut.
- Etanol: warna lakmus merah, pH 5 (asam)
15

- Anilin: warna lakmus biru, pH 6 (asam)


- Asam benzoat: warna lakmus merah, pH 7 (netral)
- Piridin: warna lakmus biru, pH 8 (basa)
- Glukosa: warna lakmus biru, pH 6 (asam)
- Fenol: warna lakmus merah, pH 5 (asam)
- Fruktosa: warna lakmus biru, pH 8 (basa)
- Asam asetat: warna lakmus merah, pH 5 (asam)
Percobaan ini telah sesuai dengan referensi (Sykes, Peter. 1989)
dimana senyawa organik yang bersifat asam memiliki pH < 7. Sedangkan
yang bersifat basa memiliki pH > 7, dan yang bersifat netral memiliki pH
7. Selain itu, penggunaan pH paper universal disini hanya untuk
menyamakan warna pada kertas lakmus dengan warna pada pH paper
universal, sehingga diketahui pH bahan sesuai dengan standar yang ada.
Namun pada percobaan asam benzoat, ada kekeliruan pada pH asam
benzoat. Menurut (Winarno, 1980), benzoat dan turunannya ini bekerja
efektif pada pH 2,5 – 4, dan banyak digunakan pada makanan dan
minuman yang bersifat asam.

B. Reaksi Esterifikasi
16

Reaksi esterifikasi adalah reaksi perubahan dari asam karboksilat


dan alkohol menjadi suatu ester dengan menggunakan katalisator. Reaksi
esterifikasi termasuk ke dalam reaksi subtitusi, yang merupakan suatu
reaksi penggantian gugus fungsinal dan senyawa kimia tertentu dengan
gugus fungsional yang lain. Pada reaksi esterifikasi, gugus fungsional yang
digantikan yaitu gugus H +¿¿ pada asam karbosilat akan digantikan oleh
C₂H₅ pada alkohol, sehingga membentuk etil astetat atau CH₃COOC₂H₅
dan H +¿¿ pada asam karbosilat akan berikatan dengan OH −¿¿ yang berasal
dari alkohol dan membentuk H₂O. Lalu, cara kerja percobaan ini,

Gambar 4.3.3 Penambahan asam cuka dan asam sulfat pekat ke dalam
alkohol
Langkah yang pertama, campurkan 1 mL alkohol dengan 5 tetes asam
sulfat pekat. Setelah itu, tambahkan 5 tetes asam cuka pada campuran
alkohol dan H₂SO₄.

Gambar 4.3.4 Proses pendinginan tabung reaksi


Setelah kedua, panaskan tabung reaksi dengan hati-hati. Sebelumnya,
tabung reaksi ditutup dengan gabus agar bau harum dari etil asetat tercium
jelas. Jika selama percobaan timbul bau-bau harum, tandanya senyawa
ester sudah terbentuk. Lalu, dinginkan dan encerkan dengan banyak air.
17

Pada pengamatan yang dilakukan, tercium bau harum yang timbul


setelah dipanaskan selama 5 menit. Dapat disimpulkan, percobaan ini telah
sesuai dengan referensi dari Fessenden (1989) yang menyatakan bahwa
proses esterifikasi merupakan reaksi reversible antara asam karboksilat
dengan alkohol. Produk yang dihasilkan sangat khas bau harumnya.
Biasanya proses ini digunakan untuk pembuatan pengharum (essence).

C. Sifat Senyawa Tak Jenuh 


Ikatan pada struktur senyawa tak jenuh merupakan ikatan rangkap.
Percobaan ini bertujuan untuk menunjukkan adanya ikatan rangkap dalam
asam lemak. Asam lemak yang akan ditentukan ikatan rnagkapnya yaitu
minyak zaitun, minyak kacang, minyak jarak, dan minyak kelapa. Proses
penentuan ikatan rangkap ini termasuk ke dalam reaksi adisi, ialah reaksi
penggabungan dua atau lebih molekul membentuk suatu produk tunggal
yang ditandai hilangnya ikatan rangkap. Untuk mengetahui banyaknya
ikatan rangkap pada minyak, dilakukan pengukuran bilangan iodine, yang
merupakan massa iodine dalam gram yang terserap pada 100 gram suatu
zat kimia pada kondisi penguncian yang digunakan. Cara kerja dari
percobaan ini, antara lain.

Gambar 4.3.5 Proses pencampuran kloroform dan pereaksi Hubl


Campurkan sebanyak 10 mL kloroform dengan 10 tetes pereaksi Hubl.
Kloroform disini berfungsi agar minyak yang akan diuji dapat larut dengan
sempurna dalam larutan dengan pereaksi Hubl. Pereaksi Hubl yang
digunakan dalam percobaan ini yaitu I₂. Laurtan I₂ bersifat polar,
sementara senyawa pada minyak bersifat non-polar. Jika dicampurkan
tidak akan bersatu, disinilah fungsi kloroform yang bersifat semi-polar
digunakan untuk menyatukan keduanya. Sedangkan fungsi dari pereaksi
Hubl atau larutan I₂ yaitu untuk mengadisi asam lemak.
18

Gambar 4.3.6 Proses penuangan campuran kloroform dan Hubl ke


dalam 4 tabung reaksi
Tuang campuran tersebut ke dalam 4 tabung reaksi yang berbeda. Pada
tiap-tiap tabung reaksi diteteskan setetes demi tetes minyak yang akan
diuji.

Gambar 4.3.7 Penambahan minyak zaitun, minyak kacang, minyak


jarak, dan minyak kelapa ke masing-masing tabung reaksi
Masing-masing tabung reaksi tadi diteteskan satu tetes minyak zaitun
(olive oil), minyak kacang, minyak jarak, dan minyak kelapa, beri nomor
pada tabung reaksi agar tidak tertukar. Lalu, kocok dan amati perubahan
warnanya. Mula-mula larutan berwarna merah muda, sedangkan yang
tujuan percobaan ini untuk menghilangkan warna merah muda.
19

Gambar 4.3.8 Penambahan kembali minyak apabila diperlukan


Jadi, apabila warna merah muda belum hilang, tambahkan setetes demi
setetes minyak tersebut. Catat berapa tetes minyak yang dibutuhkan untuk
menghilangkan warna tersebut.
Banyaknya tetesan yang diperlukan untuk menghilangkan warna
merah muda sebanding dengan banyaknya jumlah ikatan rangkap yang
terkandung dalam minyak yang diuji. Semakin banyak ikatan rangkap,
senyawanya semakin tidak jenuh. Banyaknya tetesan minyak pada masing-
masing tabung didapatkan, utnuk tabung 1 sebanyak 4 tetes, tabung 2
sebanyak 3 tetes, tabung 3 sebanyak 1 tetes, tabung 4 sebanyak 3 tetes.

D. Reaksi Warna untuk Menunjukkan Protein


Percobaan ini bertujuan untuk menguji ada atau tidaknya suatu sampel.
Oleh karena itu diperlukan uji biuret, ialah metode pengujian yang terjadi
reaksi antara reagen dengan senyawa CuSO₄ pada suasana basa, sehingga
menghasilkan warna violet. Prinsip kerja dari biuret ialah ion Cu2+¿ ¿
merupakan hasil ionisasi dari CuSO₄ akan bereaksi dengan ikatan peptida
pada protein. Sehingga cara kerja pada percobaan ini yaitu antara lain.

Gambar 4.3.9 Pemberian larutan protein dan 10% KOH


Langkah pertama, Sebanyak 2 mL larutan protein (putih telur)
ditambahkan ke dalam tabung reaksi. Kemudian tambahkan 2 mL 10%
20

KOH. Fungsi dari KOH disini sebagai penambah suasana basa, sedangkan
CuSO₄ sebagai sumber Cu2+¿ .¿

Gambar 4.3.10 Penambahan larutan CuSO₄ ke dalam campuran larutan


Selanjutnya, tambahkan beberapa tetes 0,1 M larutan CuSO₄ ke dalam
campuran tadi.

Gambar 4.3.11 Proses pengocokkan dan terlihat perubahan warna


Lalu kocok hingga tercampur rata, amati dan catatlah perubahan
warnanya. Apabila larutan berubah menjadi berwarna violet, maka larutan
ini mengandung protein. Pada percobaan ini didapatkan tidak adanya
perubahan warna pada larutan. Percobaan ini tidak sesuai dengan referensi.
V. PENUTUP

V.1. Kesimpulan
1. Didapatkan hasil pH dari percobaan uji sifat asam dan basa
beberapa senyawa organik, seperti berikut.
- Etanol: warna lakmus merah, pH 5 (asam)
- Anilin: warna lakmus biru, pH 6 (asam)
- Asam benzoat: warna lakmus merah, pH 7 (netral)
- Piridin: warna lakmus biru, pH 8 (basa)
- Glukosa: warna lakmus biru, pH 6 (asam)
- Fenol: warna lakmus merah, pH 5 (asam)
- Fruktosa: warna lakmus biru, pH 8 (basa)
- Asam asetat: warna lakmus merah, pH 5 (asam)
Percobaan ini telah sesuai dengan referensi (Sykes, Peter. 1989)
dimana senyawa organik yang bersifat asam memiliki pH < 7.
Sedangkan yang bersifat basa memiliki pH > 7, dan yang bersifat
netral memiliki pH 7. Selain itu, penggunaan pH paper universal
disini hanya untuk menyamakan warna pada kertas lakmus dengan
warna pada pH paper universal, sehingga diketahui pH bahan
sesuai dengan standar yang ada.
Namun pada percobaan asam benzoat, ada kekeliruan pada pH
asam benzoat. Menurut (Winarno, 1980), benzoat dan turunannya
ini bekerja efektif pada pH 2,5 – 4, dan banyak digunakan pada
makanan dan minuman yang bersifat asam.
2. Pada reaksi esterifikasi, gugus fungsional yang digantikan yaitu
gugus H +¿¿ pada asam karbosilat akan digantikan oleh C₂H₅ pada
alkohol, sehingga membentuk etil astetat atau CH₃COOC₂H₅ dan
H +¿¿ pada asam karbosilat akan berikatan dengan OH −¿¿ yang
berasal dari alkohol dan membentuk H₂OMengetahui adanya sifat
mereduksi pada senyawa hidrokarbon, khususnya gula yang
mempunyai rantai terbuka.
CH3COOH + C2H5OH ⇌ CH3COOC2H5 + H2O
Asam asetat Etanol Etil asetat Air
3. Uji kuantitatif kandungan glukosa menggunakan metode Luff
Schroorl yang didasarkan pada peristiwa tereduksinya kupri-oksida
menjadi kupro-oksida karena adanya gula pereduksi (Ratnawati,
2007).
4. Asam lemak pembentuk lemak dapat dibedakan berdasarkan
jumlah atom C (karbon), ada atau tidaknya ikatan rangkap, jumlah

21
ikatan rangkap serta letak ikatan rangkap. Asam lemak yang
memiliki

22
23

ikatan rangkap disebut sebagai asam lemak tidak jenuh


(unsaturated fatty acids), dibedakan menjadi Mono Unsaturated
Fatty Acid (MUFA) memiliki 1 (satu) ikatan rangkap, dan Poly
Unsaturated Fatty Acid (PUFA) dengan 1 atau lebih ikatan
rangkap.
5. Larutan protein ditambahkan larutan CuSO4 encer untuk
menunjukan adanya senyawa-senyawa yang mengandung gugus
amida asam yang berada bersama gugus amida yang lain. Uji ini
memberikan reaksi positif yaitu ditandai dengan timbulnya warna
merah violet atau biru violet. Namun, pada hasil pengamatan
tertulis tidak adanya perubahan warna pada larutan, sedangkan
pada video yang telah ditonton terjadi perubahan warna menjadi
violet pada larutan, yang menandakan larutan tersebut mengandung
protein.

V.2. Saran
Karena kondisi praktikum saat ini daring, diharapkan
kedepannya lebih mengutamakan ketepatan dalam menghitung dan
menentukan perhitungan, agar para praktikan tidak bingung dalam
membuat laporan praktikum.
24
DAFTAR PUSTAKA

Bailey, dkk. 1978. Organic Chemistry. Boston: Atlantic Inc.


Carey, F. 1993. Advanced Organic Chemistry Part B: Reaction a Syntesis.
London: Plenum Press.
Chang, Raymond. 2009. Chemistry. USA: Random House.
Day, R.A. dan A.L. Underwood. 2002. Analisis Kimia Kualitatif Edisi Keenam.
Jakarta: Erlangga.
Fennema OR. Food chemistry. 3 ed. USA: Marcel Dekker. Inc; 1996.p.9- 22
Fessenden, R.J. and J.S. Fessenden. 1986. Kimia Organik Jilid 2, Alih Bahasa
A.H. Pudjaatmaka. Jakarta: Erlangga.
Fessenden. 1989. Kimia Organik, edisi ke 3. Jakarta: Erlangga.
Fessenden, R.J., Fessenden J.S. 1997. Dasar-dasar Kimia Organik. Jakarta: Bina
Aksara
Hart, Harold. 1998. Kimia Organik. Jakarta: Erlangga.
Kirk, R.E., Othmer, D.F. 1982. “Encyclopedia of Chemical Technology”, vol.1,
2nd edition. A Willey Interscience Publication, John Wiley and Sons Co.
Petrucci, Ralph H. 1992. General Chemistry. Jakarta: Erlangga.
Prasojo, Lantip Diat, Riyanto. 2011. Teknologi Informasi Pendidikan.
Yogyakarta: Gava Media.
Rahayu, Iman. 2009. Praktis Belajar Kimia 1. Jakarta: Penerbit Departemen
Pendidikan Nasional.
Ratnawati, Devi. 2007. Kajian Variasi Kadar Glukosa dan Derajat Keasaman (pH)
pada Pembuatan Nata De Citrus dari Jeruk Asam (Citrus Limon, L).
Jurnal Gradien Vol.3. Universitas Bengkulu.
Riswayanto. 2009. Kimia Organik. Jakarta: Erlangga.
Safrizal, Rino. 2011. Reaksi Identifikasi Alkohol dan Eter. (Online).
http://www.jejaringkimia.web.id/2011/03/reaksi-identifikasi-alkohol-
alkanol-dan.html. Diakses 14 Desember 2020.
Sardjono, dkk. 2014. Kimia Organik 1: Konsep-konsep Dasar Kimia Organik.
Jakarta: Universitas Terbuka.
Sudarmadji, Slamet, Haryono, Bambang dan Suhardi., 2010. Analisa Bahan
Makanan dan Pertanian. Yogyakarta: Liberty Yogyakarta.
Sutresna, Nana. 2007. Kimia untuk SMA Kelas XI. Grafindo: Bnadung.
Sykes, Peter. 1989. Penuntun Mekanisme Reaksi Kimia Organik. Jakarta:
Gramedia.
Syukri, S. 2004. Kimia Dasar. Bandung: Yrama Widya.
Wilbraham, A. C. dan Michael S, Matta. 1992. Pengantar Kimia Organik dan
Hayati. Bnadung: ITB.
Vogel. 1982. Analisa Anorganik Kualitatif. Jakarta: PT. Kalman Media Pusaka.
Vogel. 1985. Buku Teks Analisa Anorganik Kualitatif Makro dan Semi Makro.
Jakarta: PT. Kalman Pusaka.

25

Anda mungkin juga menyukai