Anda di halaman 1dari 17

KEUNIKAN GAGASAN DAN TEKNIK BERKARYA DALAM KARYA SENI

RUPA TERAPAN NUSANTARA

Pengertian Seni Rupa Terapan adalah suatu karya seni rupa yang diciptakan untuk tujuan
fungsional, yaitu sebagai alat atau perkakas dalam keperluan sehari-hari.

Seni rupa berdasarkan bentuk/wujudnya :


a. Seni rupa dua dimensi (dwimatra)
b. Seni rupa tiga dimensi (trimatra)

A. Perkembangan Seni Rupa Terapan Nusantara


Karya-karya seni kriya sangat mudah kita temukan di daerah-daerah terutama daerah-daerah
kawasan wisata, seperti Sumedang terkenal dengan wayang golek, Jepara terkenal dengan seni ukir
kayu, Kota Gede terkenal dengan kerajinan perak, Kasongan dengan kerajinan gerabah tempel,
Pekalongan dengan karya batiknya, Bali hampir dengan semua jenis kerajinan, Sumba dengan seni
tenun, Asmat dengan kerajinan patung kayu.

B. Keunikan Gagasan Karya Seni Rupa Terapan


Gagasan/ide di dalam seni rupa merupakan buah pikiran untuk menciptakan suatu karya seni
rupa. Gagasan untuk membuat suatu karya akan tercetus dapat disebabkan seperti misalnya karena
perlu akan suatu alat bantu dalam kehidupan sehari-hari, tersedianya bahan, kebutuhan ekonomi, daya
kreativitas, dsb. Seseorang yang kreatif akan selalu memanfaatkan segala sesuatu yang memungkinkan
untuk dijadikan sebagai benda yang berguna dalam kehidupan sehari-hari, contoh: pada zaman
prasejarah, untuk memperoleh binatang buruan diperlukan sebuat alat berburu sehingga muncullah ide
atau gagasan untuk membuat tombak atau anak panah sebagai alat untuk menangkap binatang, contoh
lain apabila terdapat sepotong kayu, maka akan muncul gagasan untuk membuat suatu karya seni
misalnya berupa topeng.
Keunikan gagasan berkarya seni rupa terapan Nusantara, yaitu dipengaruhi oleh kreativitas
seniman, budaya setempat, bahan yang digunakan, alat dan teknik pengerjaannya, fungsi atau
kegunaan, serta keindahannya, dan ragam hias/motif ornamen.

C. Teknik Berkarya Seni Rupa Terapan


1. Teknik Cor (Cetak Tuang)
Perkembangan zaman perunggu di Indonesia merupakan pengaruh dari kebudayaan Dongson.
Kebudayaan perunggu Dongson yang berasal dari Yunani Indochina masuk ke Indonesia bersama
datangnya bangsa Melayu-Muda, merekalah yang yang memperkenalkan teknik pengecoran dan
penuangan perunggu untuk membuat benda-benda seni dan benda-benda pakai sehari-hari.

1
Teknik cetak seni kriya pada waktu itu ada dua macam, yaitu:
a. Teknik Tuang Sekali Pakai (A Cire Perdue)
Teknik ini adalah cara menuang cairan perunggu sekali pakai, cara ini digunakan untuk
membuat bentuk yang sulit dan rumit. Untuk teknik ini, cetakan hanya dipakai sekali saja
karena untuk mengeluarkan hasil cor harus dilakukan dengan menghancurkan cetakan.
Cara kerjanya adalah sebagai berikut :
 Pertama model dibuat dari tanah liat
 Kedua model tersebut dilapisi dengan lilin tipis
 Ketiga model tersebut dibungkus dengan tanah liat dengan diberi lubang sedikit untuk
mengeluarkan lilin dan untuk memasukan cairan perunggu
 Keempat proses pembakaran untuk mengeluarkan lilin dari cetakan
 Kelima pengecoran dengan cairan perunggu
 Keenam pembukaan cetakan dengan cara merusak cetakan.

b. Teknik Tuang berulang (Bivalve)


Teknik ini digunakan untuk membuat benda perunggu yang bentuknya sederhana dalam jumlah
yang banyak. Bentuk cetakannya terdiri dari dua keping dari bahan batu yang bisa disatukan dan
dilepas, hal inilah yang memungkinkan untuk mencetak benda dalam jumlah yang banyak dan
dalam bentuk yang sama.
2. Teknik Tempa
Teknik tempa digunakan untuk mengerjakan seni kriya dengan bahan logam (perunggu, tembaga,
kuningan, perak, dan emas. Teknik ini dilakukan dengan cara memanaskan plat logam yang
selanjutnya ditempa (dipukul) dengan hammer sambil membentuk sesuai jenis benda yang dibuat,
seperti keris, tombak, pisau, perhiasan, dsb.
3. Teknik pahat/ukir/sungging
Teknik ini dilakukan dengan cara mengurangi atau membuang bagian-bagian tertentu untuk
memunculkan keindahan suatu bentuk. Teknik ini dapat dilakukan pada bahan batu, kayu dan
termasuk juga kulit dengan menerapkan bentuk-bentuk motif hias. Teknik pahatan atau ukir
menghasilkan karya seperti topeng, relief bagunan candi, ukiran pada pintu rumah, pahatan atau
ukiran pada benda-benda furniture. Teknik sungging menghasilkan seni kriya berupa wayang kulit.
4. Teknik Batik
Seni kriya batik telah lama dikenal di wilayah nusantara. Batik merupakan karya seni kriya berupa
motif hias pada permukaan kain. Seni batik, hampir di seluruh wilayah Indonesia memiliki
kesamaan dari cara dan teknik pembuatannya. Hal yang membedakan terletak pada motif ragam
hias dan corak warna yang digunakan.
a. Media (alat dan bahan) yang digunakan membuat batik, yaitu :
1) Kain mori yang halus warna putih;
2) Malam (lilin atau parafin);
3) Kompor kecil;
4) Wajan kecil;
5) Canting;
6) Pewarna batik; dsb.

2
b. Teknik berkarya seni batik.
1) Teknik Tulis
2) Teknik Cap
3) Teknik cetak (sablon), penerapan motif ragam hias batik menggunakan
teknik sablon.
Proses Sablon antara lain:
1) Pembuatan desain
2) Proses Afdruk (klise)
3) Proses Pencetakan
5. Teknik Anyam
Teknik anyam diperlukan untuk mengolah bahan yang umumnya pipih dan tipis berupa bilahan
bambu, rotan, mending, ate, dll. Teknik ini merupakan teknik tumpang tindih (selang-seling)
bilahan lusi dan pakan untuk menampilkan bentuk dan motif anyaman. Benda kriya yang dapat
dihasilkan berupa keranjang, tikar, topi, keben, kipas, dsb.
6. Teknik Tenun
Penerapan teknik tenun pada prinsipnya mirip dengan teknik anyam. Perbedaannya hanya terletak
pada peralatan dan bahan yang diperlukan. Teknik anyam tidak memerlukan alat bantuk khusus,
cukup dengan keterampilan tangan secara manual. Sedangkan pada teknik tenun memerlukan
peralatan khusus menenun untuk merapatkan lusi dan pakan dari bahan benang dengan cara
dicagcag. Keindahan dari kriya tenun sangat tergantung dari warna dan bentuk motif tenun. Kriya
tenun yang dihasilkan berupa kain ndek dan songket.
7. Teknik Butsir
Teknik butsir adalah teknik membentuk benda kriya dengan cara mengurangi atau menambah
bagian dari suatu bentuk dengan yang lunak atau plastis. Teknik ini biasanya diperlukan untuk
membentuk benda kriya dengan bahan tanah liat. Karya yang dihasilkan umumnya disebut dengan
gerabah, tembikar, atau keramik. Keramik merupakan benda kriya dari tanah liat yang telah
mengalami proses pembakaran dengan media penggelasan (glasir). Glasir adalah lapisan yang
mengkilap pada benda keramik. Contoh benda keramik seperti cangkir, piring, mangkok, guci, teko,
dsb.
8. Teknik lukis atau gambar
Teknik ini khusus untuk mengerjakan karya seni rupa terapan dalam bentuk desain. Teknik lukis
atau gambar dikerjakan pada permukaan bidang datar, umumnya pada permukaan kertas. Alat
gambar yang diperlukan seperti alat tulis (pensil, drawing pen, rothring, dll.), mistar, dan warna.

3
D. Fungsi Seni Rupa Terapan Nusantara Berdasarkan Sosial Budaya
Seni merupakan bagian dari kehidupan manusia, sebagai kebutuhan jasmani dan rohani. Secara
umum fungsi seni rupa dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:
a. Seni Murni, yaitu seni yang lebih mementingkan nilai estetis yang berkaitan dengan kebutuhan
emosi/rohani. Contoh: lukisan, patung, dan seni kriya murni
b. Seni Terapan, yaitu seni yang memiliki nilai estetika dan lebih menekankan pada fungsional secara
fisik/jasmani. Contoh: furniture, kriya keramik, kriya batik, dsb.
Secara kuantitatif fungsi seni rupa dapat dikembangkan menjadi dua jenis, yaitu:
a. Fungsi individu, sebagai media ekspresi bagi senimannya dalam menyatakan atau mengungkapkan
jiwa dan perasaannya serta dapat berkomunikasi dengan orang lain.
b. Fungsi sosial budaya, sebagai sarana dalam kehidupan masyarakat. Fungsi ini dapat dikelompokkan
menjadi 4 jenis, yaitu:
a) Bidang rekreasi, sebagai hiburan atau media rekreasi. Contoh pameran lukisan dan pameran
karya seni kriya.
b) Bidang komunikasi, sebagai media komunikasi dalam bentuk pesan estetika dan fungsional.
Contoh karya lukisan, gambar poster, gambar reklame, dsb.
c) Bidang pendidikan, sebagai media untuk memudahkan dalam menerima informasi pendidikan.
Contoh: gambar poster, gambar ilustrasi, bentuk model/alat peraga, dsb.
d) Bidang keagamaan, sebagai sarana estetika dan religius pada tempat suci serta pada lambang-
lambang keagamaan. Contoh: hiasan/motif pada bangunan suci, tulisan kaligrafi, sarana upacara
dalam agama Hindu, dsb.

4
APRESIASI TERHADAP KARYA SENI RUPA TERAPAN NUSANTARA

A. Pengertian Apresiasi Karya Seni


Apresiasi berasal dari bahasa Inggris appreciation yang artinga penghargaan atau penilaian.
Apresiasi seni rupa adalah kegiatan dalam menilai atau memberi penghargaan terhadap kualitas karya
seni rupa. Penilaian atau penghargaan terhadap suatu karya seni dapat diungkapkan melalui proses
pengamatan dan penghayatan. Ada tiga tingkatan kegiatan apresiasi yang dapat dilakukan sesuai
dengan kemampuan pengamat dalam menghayati suatu karya, yaitu:
1. Apresiasi simpatik adalah merasakan tingkat keindahan suatu karya berdasarkan pengamatan
(kasat mata), seperti suka atau tidak suka.
2. Apresiasi empatik/estetik adalah merasakan secara mendalam nilai estetik yang tersirat dalam
suatu karya, seperti ada perasaan kagum atau terharu.
3. Apresiasi kritis adalah apresiasi yang disertai analisis terhadap suatu karya dengan
mempertimbangkan gagasan, teknik, unsur-unsur rupa, dan kaidah-kaidah komposisi seni rupa.
Terkait dengan tingkatan kegiatan apresiasi di atas, ada beberapa pendekatan atau metode yang
dapat diterapkan untuk mengungkapkan atau memaparkan hasil pengamatan terhadap karya seni rupa,
antara lain:
1. Deskriptif adalah paparan hasil pengamatan karya secara obyektif, seperti obyek gambar,
unsur rupa, komposisi rupa, tema karya, judul karya, dan senimannya.
2. Analitis adalah paparan hasil pengamatan karya berdasarkan kaidah-kaidah estetika yang
baku, seperti aspek tematik, teknik dan corak pengerjaan, penerapan kaidah-kaidah kesenirupaan,
dan nilai estetika yang terkandung di dalamnya.
3. Interpretatif adalah paparan suatu karya berdasarkan sudut pandang pengamat baik dari segi
pengalaman dalam aktivitas kesenirupaan maupun dari sisi pengetahuan kesenirupaan.
4. Penilaian adalah paparan karya dengan pengukuran nilai baik secara obyektif maupun
subyektif. Penilaian obyektif dilakukan dengan petimbangan teknis pengerjaan berdasarkan
kaidah-kaidah kesenirupaan dengan pengukuran bersifat kuantitatif, sedangkan penilaian subyektif
berdasarkan pada pertimbangan perasaan pengamat dengan pengukuran bersifat kualitatif, seperti
sangat baik, baik, cukup baik, dan kurang baik.
5. Interdisiplin adalah paparan karya berdasarkan berbagai disiplin keilmuan, misalnya
pandangan karya berdasarkan ilmu antropologi, psikologi, kebudayaan, filsafat, ekonomi, dsb.
Mengapresiasi seni rupa harus mampu membedakan seni rupa yang berfungsi sebagai seni
murni dan seni rupa yang memiliki fungsi praktis/terapan. Menghayati seni rupa murni tidaklah sesulit
menghayati seni rupa terapan. Seni rupa terapan murni hanya menekankan pada keindahan belaka yang
digunakan sebagai pajangan saja, berbeda dengan seni rupa terapan keindahannya harus mendukung
fungsi praktisnya sehingga memiliki kenyamanan dan keamanan fungsional.

5
B. Kegiatan Apresiasi terhadap Seni rupa terapan Nusantara
Langkah-langkah mengapresiasi keunikan gagasan dan teknik seni rupa terapan nusantara,
diantaranya:
1. Mengamati dan tanggapan terhadap bentuk, estetika, dan fungsi karya.
2. Menunjukkan sikap empati melalui ungkapan kata-kata secara lisan tertulis.
3. Menyampaikan tanggapan atas keunikan gagasan karya seni rupa terapan.
4. Menyampaikan tanggapan atas keunikan teknik karya seni rupa terapan.

Pendalaman materi pelajaran:


Cari dua contoh replika karya seni rupa terapan Nusantara, tuliskan tentang jenis karya bentuk,
estetika, fungsi karya, keunikan gagasan dan keunikan tekniknya.

Contoh ulasan apresiasi terhadap karya seni rupa terapan Nusantara.

Jenis karya : Seni kriya kap lampu listrik


Bentuk : Tiga dimensi bentuk limas.
Estetika : Perpaduan warna natural bahan sebagai dasar dan warna ungu gelap
sebagai motif hias dengan teknik anyam serta ditata harmonis
dengan prinsip seni rupa (keseimbangan, kesatuan dan irama).
Gagasan : Pembuatan alat untuk memperindah kesan cahaya lampu dalam
suatu ruangan.
Bahan : Kayu, bambu, rotan, lem, dan pewarna/pernis/politur
Teknik : Serut, potong, dan sambung konstruksi untuk rangka kap lampu;
bilah, potong, anyam, dan tempel rekat untuk bagian dinding pada
rangka kap lampu; dan beri lapisan pernis/politer untuk memberi
kesan kilap.
Fungsi karya : Tempat lampu listik dan pelengkap dekorasi interior.

MERANCANG SENI KRIYA TERAPAN NUSANTARA


6
A. Jenis-Jenis Benda Kriya
Seni Kriya terdiri dari beberapa jenis, yaitu:
1. Seni kriya keramik adalah benda kriya yang terbuat dari tanah liat melalui proses pembentukan,
pembakaran, dan penggelasan.
2. Seni kriya batik adalah benda kriya berupa kain yang berisikan motif hias melalui proses penerapan
motif hias dengan malam pada kain mori sampai proses pewarnaan dengan cara pencelupan.
3. Seni kriya tenun adalah benda kriya berupa kain yang berisikan motif hias melalui proses
penenunan lusi dan pakan dari benang.
4. Seni kriya kain prada adalah benda kriya berupa kain yang berisikan motif hias melalui proses
penerapan cat prada. Kain prada banyak kita temukan di daerah Bali.
5. Seni kriya kulit adalah benda kriya yang terbuat dari bahan kulit binatang dengan berbagai proses
tergantung dari jenis kriya yang dibuat.
6. Seni kriya anyaman adalah benda kriya yang dihasilkan dengan proses menganyam bilahan bahan
secara selang-seling antara lusi dan pakan.
7. Seni kriya kayu adalah benda kriya yang dihasilkan dengan bahan kayu yang umumnya dikerjakan
dengan teknik pahat, sambung, dan ukir.
8. Seni kriya logam adalah benda kriya yang dibuat dengan bahan logam dan umumnya dikerjakan
dengan teknik cetak cor, tempa, ketok, dan las.

B. Merancang Benda Kriya


Dalam merancang benda kriya harus memperhatikan tiga hal yaitu:
1. bentuk dan estetika
2. Teknik berkarya
3. Fungsi praktis

MEMBUAT KARYA SENI KRIYA TERAPAN NUSANTARA

7
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam membuat karya seni kriya terapan
- Gagasan adalah ide kreatif atau buah pikiran untuk menciptakan suatu karya seni kriya terapan.
- Sketsa/Desain adalah rancangan untuk menemukan suatu bentuk benda kriya yang optimal.
- Bahan adalah menyediakan segala bahan yang diperlukan dalam mewujudkan gambar rancangan
menjadi benda kriya.
- Proses Berkarya adalah proses pengolahan bahan dengan menerapkan teknik yang tepat sesuai
dengan bentuk /gambar rancangan dan bahan yang digunakan membuat benda kriya.
- Hasil Karya adalah produk seni kriya terapan yang telah siap difungsikan sebagai benda pajangan
atau sebagai benda fungsional/praktis.

Skema proses penciptaan karya seni kriya terapan

KEUNIKAN GAGASAN DAN TEKNIK BERKARYA DALAM KARYA SENI RUPA


TERAPAN NUSANTARA

8
Hal yang harus dipertimbangkan di dalam membuat karya seni kriya terapan, yaitu:
a. Memiliki fungsi praktis
b. Bentuk selaras dengan kegunaannya
c. Bentuk indah dan nyaman
d. Komposisi proporsi benda harmonis
e. Memenuhi selera masyarakat
f. Harga jual terjangkau masyarakat.

A. Keunikan Karya Seni Rupa Terapan (Seni Kriya)


Keunikan karya seni rupa terapan bisa berasal dari beberapa hal, seperti:
a. Ragam obyek alam: obyek alam dapat menginspirasikan bentuk yang menjadi gagasan dalam
berkarya seni rupa terapan.
b. Ragam bahan: keragaman bahan yang tersedia juga dapat menginspirasikan bentuk karya seni rupa
terapan. Setiap bahan memiliki karaketristik tersendiri yang dapat menjadi gagasan dalam berkaya
seni rupa terapan.
c. Ragam teknik: keterampilan mengolah bahan dalam berkarya seni rupa terapan. Kreativitas dalam
mengolah bahan juga dapat menimbulkan keunikan hasil karya.
d. Ragam budaya: kebudayaan daerah setempat akan mempengaruhi pembuatan karya seni rupa
terapan daerah tersebut, hal ini akan menjadi unik bagi daerah-daerah lain atau negara-negara lain
yang menikmati atau menggunakan karya daerah lain tersebut.

B. Keunikan Gagasan Karya Seni Rupa Terapan Nusantara


Keunikan gagasan seni rupa terapan dipengaruhi oleh kreativitas, budaya daerah, bahan yang
digunakan, alat dan teknik pengerjaannya, fungsi atau kegunaan, motif, serta keindahannya.

C. Fungsi Seni Rupa Terapan Nusantara

Fungsi sosial seni yaitu:


a) Bidang rekreasi, sebagai hiburan atau media rekreasi. Keindahan suatu karya dapat memberikan
hiburan atau kepuasan rasa/rohani.
b) Bidang komunikasi, sebagai media komunikasi dalam bentuk pesan estetika dan fungsional.
Motif hias pada karya dapat menjadi sarana komunikasi, demikian juga fungsi praktis karya
tersebut menimbulkan komunikasi atas kenyaman fungsi praktisnya.
c) Bidang pendidikan, sebagai media untuk memudahkan dalam menerima informasi pendidikan.
Karya seni rupa terapan dapat membantu memvisualisasi sesuatu yang bersifat verbal.
d) Bidang keagamaan/kepercayaan, sebagai sarana estetika dan religius pada tempat suci serta pada
lambang-lambang keagamaan. Contoh: hiasan/motif pada bangunan suci, tulisan kaligrafi, sarana
upacara dalam agama Hindu, dsb.
D. Mengidentifikasi Keunikan Gagasan dan Teknik Karya Seni Rupa Terapan Nusantara
Langkah-langkah mengidentifikasi keunikan gagasan teknik seni rupa terapan Nusantara, diantaranya:

9
1. Identifikasi dan tulis nama/judul dari karya seni rupa terapan yang sedang diamati.
2. Identifikasi dan tulis keunikan gagasan dari karya seni rupa terapan yang sedang diamati
berdasarkan bentuk, bahan, serta fungsi sosial budaya dari karya tersebut.
3. Identifikasi dan tulis teknik pengerjaan dari karya seni rupa terapan yang sedang diamati
berdasarkan bentuk, bahan, serta fungsi sosial budaya dari karya tersebut.

MERANCANG DAN MEMBUAT KARYA SENI RUPA TERAPAN

10
A. Prinsip-Prinsip Mengolah Unsur Dasar
Kaidah-kaidah komposisi sangat diperlukan dalam menata, mengatur, menyusun, menciptakan,
atau merancang unsur-unsur rupa agar menjadi sesuatu yang dapat menimbulkan persepsi bagi
pengamat. Kaidah-kaidah komposisi tersebut antara lain:
1. Keseimbangan
Keseimbangan artinya tidak berat sebelah, dalam hal ini seimbang berdasarkan nilai rasa. Keseimbangan
dalam komposisi dibedakan menjadi tiga macam, yaitu : Simetris, Asimetris dan Memusat. Keseimbangan
simetris, unsur bagian kiri dan kanan sama persis. Sebagai contoh, hiasan kepala kala yang terdapat pada
pintu masuk Candi, motif hias kain tenun atau kain ikat, topeng, dsb. Keseimbangan asimetris, unsur
bagian kiri dan kanan tidak sama, namun memiliki kesan rasa seimbang. Sedangkan keseimbangan
memusat, penyusunan unsur-unsur rupa secara terpusat atau fokus pada tengah-tengah bidang.
2. Irama
Irama merupakan penyusunan unsur-unsur rupa secara teratur dari pengulangan suatu unsur rupa. Ini
maksudnya untuk menimbulkan kesan gerak pada suatu bentuk. Macam-macam tipe dalam irama, yaitu
tipe repetitive (pengulangan unsur-unsur yang sama), tipe alternative (pengulangan unsur-unsur secara
selang-seling antara unsur-unsur yang berbeda), tipe progresif (pengulangan dengan perubahan ukuran atau
perubahan bentuk dari suatu unsur, dsb.).
3. Kesatuan
Kesatuan dapat digolongkan menjadi tiga tipe, yaitu: statis, dinamis, dan metastatis. Statis memiliki sifat
tenang dan stabil, dinamis memiliki sifat fleksibel dan mudah menyesuaikan, dan metastatis memiliki sifat
campuran antara statis dan dinamis.
4. Harmoni
Harmoni adalah suatu pola rupa yang ditempatkan dalam satu bidang dan mengutamakan aspek
keserasian antar unsur rupa di dalamnya. Harmoni dalam seni rupa terbentuk karena adanya
keseimbangan, kesatuan, dan irama yang saling melengkapi.
5. Aksentuasi atau fokus
Aksentuasi atau fokus adalah penyajian unsur pembeda pada satu ungkapan bentuk atau rupa agar
tidak terkesan monoton dan membosankan. Aksentuasi dapat dibuat dengan warna kontras, bentuk
yang berbeda atau irama yang berbeda untuk memusatkan perhatian pengamat.
6. Struktur
Struktur adalah bentuk konstruksi yang menjadi tumpuan bentuk berwujud atau tiga dimensi.
Kekuatan struktur dapat dibentuk dengan cara melipat, menekuk, atau menyambung untuk
membangun ruang yang kuat.

D. Proses Berkarya Seni Kriya Terapan


Dalam membuat karya seni kriya terapan tidak terlepas dari proses penciptaan, yang terdiri dari:
- Gagasan adalah ide kreatif atau buah pikiran untuk menciptakan suatu karya seni rupa terapan.
- Sketsa/Desain adalah pola gambar atau rancangan untuk menemukan suatu bentuk benda terapan
yang optimal.
- Persiapan Bahan adalah menyediakan segala bahan yang diperlukan dalam mewujudkan gambar
GAGASAN
rancangan menjadi benda kriya.
- Proses Berkarya adalah proses pengolahan bahan dengan menerapkan teknik yang tepat sesuai
dengan bentuk /gambar rancangan MERANCANG
dan bahan yang digunakan membuat benda terapan.
- Hasil Karya adalah produk seni rupa terapan yang telah siap difungsikan sebagai benda pajangan
atau sebagai benda fungsional/praktis.
ALAT BAHAN TEKNIK

Skema proses penciptaan karya seni rupa terapan


PROSES
BERKARYA
11

HASIL KARYA
MENYIAPKAN DAN MENATA KARYA SENI RUPA
UNTUK PAMERAN DI SEKOLAH
12
Pameran merupakan suatu kegiatan dalam rangka mempertunjukan atau memperkenalkan
suatu produk, jasa, karya, atau prestasi kepada kepada masyarakat atau publik. Penyelenggaraan
pameran bukanlah sekedar sebagai penyampaian informasi atau alat komunikasi, tetapi dari itu karena
pameran dapat membangkitkan motivasi atau memberikan dorongan kepada masyarakat pengunjung
untuk mengambil manfaat yang tersirat dalam pameran tersebut. Jadi pengertian pameran seni kriya
adalah suatu kegiatan akhir seni kriya dari hasil berolah/berkarya seni yang disajikan dalam suatu
ruangan untuk dikomunikasikan kepada masyarakat luas sehingga dapat diapresiasi.
Dalam kegiatan pameran sudah pasti akan melibatkan banyak orang atau kelompok yang
mempunyai tugas dan tanggung jawab masing-masing dalam satu koordinasi, sehingga
penyelenggaraan pameran dapat berlangsung dengan dengan baik. Untuk mencapai keberhasilan dalam
berpameran diperlukan suatu perencanaan yang matang baik dari segi teknis maupun non teknis,
dengan program kerja yang cermat, teliti, dan terarah sesuai dengan tujuan dan tema pameran.

A. Tujuan dan Fungsi Pameran


Pameran bagi seniman merupakan suatu alat untuk mengkomunikasikan karya-karyanya
kepada masyarakat. Sedangkan bagi masyarakat, pameran merupakan media apresiasi terhadap karya-
karya seniman. Kegiatan pameran akan menunjukan terjadinya hubungan timbal balik atau interaksi
antara seniman dengan masyarakat. Dalam interaksi tersebut akan muncul berbagai tanggapan dari
masyarakat baik yang berupa kritik, saran, atau pun kekaguman. Kritik dan saran merupakan masukan
yang amat berharga bagi seniman dan akan berpengaruh pada hasil karya berikutnya.
Secara umum pameran seni kriya murni dan terapan, baik dua dimensi maupun tiga dimensi,
memiliki fungsi sosial sebagai sarana pembelajaran dalam hal apresiasi, edukasi, rekreasi, dan prestasi.
Apresiasi merupakan penghargaan terhadap karya seni. Penghargaan dalam proses apresiasi yang
timbul dapat digolongkan menjadi dua, yaitu apresiasi aktif dan apresiasi pasif. Apresiasi aktif muncul
setelah seorang melihat pameran, lalu timbul rangsangan untuk berbuat kreatif dalam berkarya.
Sedangkan apresiasi pasif, pengamat karya hanya menangkap karya lewat perasaan, seperti karya itu
bagus, atau karya itu jelek tanpa memberikan alas an yang jelas.
Edukasi merupakan penanaman nilai-nilai. Melalui pameran dapat menumbuhkan kesadaran akan
nilai-nilai keindahan (estetika) dalam lingkup yang lebih luas. Pameran dapat medidik siswa atau
masyarakat betapa pentingnya pengalaman batin atau rasa sebagai keseimbangan kegiatan akal atau
pikiran manusia.
Rekreasi merupakan hiburan yang berhubungan dengan batin. Pameran dapat menghibur batin
seseorang. Kondisi zaman sekarang yang penuh dengan kesibukan demi tuntutan hidup, belajar untuk
masa depan, sering menimbulkan ketegangan fisik maupun psikis, sehingga melalui pameran dapat
diharapkan menjadi media penyeimbang.
Prestasi merupakan hasil yang dicapai dalam melakukan suatu kegiatan. Pameran merupakan ajang
prestasi unjuk kebolehan berolah seni. Melalui pameran dapat diamati keaktifan dan kreatifitas siswa,
sehingga muncul pemikiran untuk berbuat dan berkarya yang lebih.

13
Tujuan diselenggarakannya pameran di kelas atau di sekolah adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan apresiasi seni siswa dan kecintaannya pada karya seni kriya;
2. Meningkatkan prestasi siswa;
3. Sebagai evaluasi dan obesrvasi pada pelajaran seni kriya secara obyektif;
4. Untuk mendidik siswa berorganisasi, bekerja sama, dan belajar bertanggung jawab;
5. Untuk melatih siswa untuk membuat rencana atau usaha pelaksanaan suatu pekerjaan.

B. Perencanaan dan Persiapan Pameran


Untuk perencanaan pameran harus memperhatikan syarat-syarat utama yang merupakan hal
yang sangat penting dalam penyelenggaraan suatu pameran agar pelaksanaannya berhasil sesuai yang
diinginkan. Syarat-syarat yang dimaksud antara lain:
1) Karya seni kriya yang akan dipamerkan
2) Panitia penyelenggara pameran
3) Sarana dan prasarana pameran
4) Pengunjung pameran
Perencanaan pameran meliputi beberapa kegiatan, yaitu menyusun jadwal rencana kegiatan,
penyusunan program kerja, dan menentukan tempat pameran. Pameran yang diselenggarakan di
sekolah mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap apresiasi seni siswa. Pameran karya dapat
dilakukan pada akhir semester, akhir tahun pelajaran, atau pada hari ulang tahun sekolah. Karya yang
dipamerkan dapat diambil dari dari tugas-tugas harian atau tugas-tugas ekstrakurikuler.
Dalam persiapan dan perencanaan pameran, peranan guru mata pelajaran adalah sebagai
motivator atau pembimbing anak didik baik secara individual atau kelompok agar mereka memiliki
sikap mandiri dan tanggung jawab. Karya yang akan dipamerkan dapat dipajang atau ditempatkan pada
dinding, panel, box, dan meja yang disesuaikan dengan tempat yang strategis.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melaksanakan pameran di kelas atau di lingkungan
sekolah adalah sebagai berikut :
1. Persiapan, meliputi persiapan materi pameran dan sarananya. Materi pameran menyangkut
hasil karya-karya siswa yang dipamerkan seperti karya seni kriya murni dan seni kriya terapan.
Sedangkan sarana yang diperlukan seperti panel, box, meja, lighting, sound system, catalog, buku
tamu dan buku pesan/kesan.
2. Tempat, ruangan yang diperlukan untuk menyelenggarakan pameran seperti aula sekolah,
ruang perpustakaan, ruang kelas, atau teras lingkungan sekolah.
3. Penjaga pameran, petugas yang menjaga pameran yang akan menerima dan memberikan
keterangan kepada pengunjung.
Dalam kegiatan persiapan yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Menyeleksi hasil karya seni kriya;
2. Mengatur ruang pameran, menata karya, termasuk juga sirkulasi pengunjung agar lancar;
3. Publikasi pameran;
4. Pembuatan catalog atau folder karya;

14
5. Penerangan ruang pameran;
6. Sound system.
Pengunjung pameran yang diharapkan datang atau hadir adalah :
1. Siswa sekolah yang bersangkutan;
2. Guru dan karyawan sekolah;
3. Orang tua atau wali murid.

Pengunjung dapat mengenal jenis karya seni kriya dan teknik penggunaan aneka media melalui
peengamatan dan penghayatan karya-karya siswa. Pameran merupakan sarana dalam menumbuhkan
kecintaan dan kepekaan terhadap nilai-nilai seni kriya, dengan demikian dapat menambah dan
meningkatkan apresiasi seni. Lebih dari itu, dari sekian banyak yang berperan sebagai apresiasi akan
dapat mengembangkan dirinya menjadi seorang seniman.
Secara garis besar hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyelenggaraan pameran adalah
maksud dan tujuan pameran, syarat-syarat penyelenggaraan pameran, perencanaan jadwal kegiatan,
persiapan pelaksanaan, evaluasi, dan laporan penyelenggaraan pameran. Oleh karena itu agar
pelaksanaan pameran berjalan dengan lancar, pelimpahan tugas dan tanggung jawab kepada siswa
terkoordinir lewat kepanitiaan penyelenggaraan pameran.
Supaya pameran berjalan dengan efektif dan efesien, dalam penyusunan panitia harus
menyesuaikan dengan tugas dan kegiatan yang diperlukan dalam pameran serta tanggung jawab.
Contoh format susunan panitia :
1. Penanggung jawab
2. Pembina
3. Ketua
4. Wakil ketua
5. Sekretaris
6. Bendahara
7. Seksi-seksi:
a. Publikasi
b. Akomodasi
c. Dekorasi dan dokumentasi
d. Operasional, dll.
(Susunan kepanitian dapat ditambah atau dikurangi sesuai dengan kondisi pameran yang
diselenggarakan).
Penataan karya dua dimensi

Tepat Kurang

tepat

15

Tepat Kurang
tepat
Penataan karya tiga dimesi

Kurang tepat Tepat


C. Jenis-jenis Pameran
1. Pameran Tunggal (Single Exhibition): karya yang dipamerkan berasal dari seorang
seniman/pengerajin
2. Pameran Kelompok (Group Exhibition): karya yang dipamerkan berasal dari beberapa
seniman/ pengerajin
3. Pameran Homogen (Homogen Exhibition): pameran karya sejenis
4. Pameran Heterogen (Heterogen Exhibition): pameran berbagai karya seni kriya
5. Pameran Tetap (Permanent Exhibition): pameran yang dapat dikunjungi setiap saat tanpa ada
batasan jumlah hari.
6. Pameran Temporer (Temporary Exhibition): Pameran Temporer berlangsung minimal selama
10 hari, maksimal berlangsung selama 30 hari.
7. Pameran Keliling (Traveling Exhibition): Waktu penyelenggaraan Pameran Keliling minimal
berlangsung selama 10 hari.

Contoh penataan karya seni rupa dalam ruang pameran

16
Latihan/Tugas:
1. Buat sebuah karya seni rupa untuk persiapan pameran seni rupa karya senidiri di kelas
2. Tatalah hasil karya seni rupamu dalam bentuk pameran bersama kelompok kelas di kelasmu
sendiri.

17