Anda di halaman 1dari 14

TEORI HUMANISTIK

Disusun untuk memenuhi tugas tengah semester mata kuliah Desain dan Model
Pembelajaran Sejarah yang diampu oleh:
Dr. Djono, M.Pd.

Disusun oleh:
Erisya Pebrianti Pratiwi S862002005
Mochammad Doni Akviansyah S862002011

PASCASARJANA PENDIDIKAN SEJARAH


UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2020
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Karakter, sikap, dan kemampuan berpikir seorang individu dibentuk dalam
lingkungan sekolah. Dimulai dari SD, SMP, hingga SMA, siswa berada dalam
pengawasan sekolah dan para guru. Setiap siswa diajarkan pengetahuan akademik
dan juga karakteristik tanpa terkecuali. Setiap materi pembelajaran yang diberikan
dalam proses belajar mengajar di dalam kelas berlaku untuk semua siswa dalam
porsi yang sama. Dalam sebuah pembelajaran, kita tidak dapat mengabaikan
karakteristik pembelajar dan prinsip-prinsip belajar.
Oleh karena itu guru dituntut untuk merumuskan tujuan, mengelola,
menganalisis, dan mengoptimalkan keaktifan dan optimalisasi keterlibatan siswa,
serta pengelolaan proses belajar sesuai dengan perbedaan individual siswa. Di
proses pembelajaran terjadi interaksi anatar guru dan siswa. Pemahaman terhadap
siswa adalah penting bagi guru agar dapat menciptakan situasi pembelajaran yang
tepat. Sehingga diperlukan persiapan yang matang sebelum pelaksanaan proses
pembelajaran. Proses pembelajaran tersebut perlu didukung oleh teori-teori
belajar, agar dalam proses pembelajaran bisa mencapai sesuatu yang diinginkan.
Guru memegang peran penting untuk menerapkan teori belajar dan
pembelajaran di dalam kelas, sehingga nantinya tujuan-tujuan dari teori yang
dikemukakan para ahli dapat terwujud dan diharapkan mampu memperbaiki
sistem pendidikan melalui peserta didiknya. Salah satunya yaitu teori humanistik,
dimana sikap saling menghargai dan tanpa prasangka sangat penting dalam poses
belajar mengajar. Dalam makalah ini akan dijelaskan mengenai teori humanistik
secara umum dan dari beberapa tokoh, dan juga penerapannya dalam kegiatan
belajar mengajar di kelas.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan teori humanistik?
2. Bagaimanakah penerapan teori humanistik dalam kegiatan belajar
mengajar di dalam kelas?
3. Apa saja kelebihan dan kekurangan dari teori humanistik?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui dan memahami seperti apa teori humanistik.
2. Untuk mengetahui penerapan teori humanistik dalam kegiatan belajar
mengajar di dalam kelas.
3. Untuk mengetahui dan memahami kelebihan dan kekurangan dari teori
humanistik

D. Manfaat
1. Memahami lebih lanjut mengenai teori humanistik.
2. Dapat digunakan untuk memperoleh gambaran mengenai penerapan teori
humanistik dalam kegiatan belajar mengajar di dalam kelas.
3. Memahami dan mengerti mengenai kelebihan dan kekurangan dari
penerapan teori humanistik.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Teori Humanistik
Humanistik memiliki arti minat terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang
tidak bersifat ketuhanan. Sedangkan dalam tataran akademik, humanistik tertuju
pada pengetahuan mengenai budaya manusia, seperti studi-studi klasik tentang
kebudayaan Yunani dan Roma (Qodir, 2017:191). Teori humanistik muncul pada
abad ke-20 sebagai reaksi terhadap teori psikodinamik dan behavioristik, dimana
tingkah laku diyakini teoritikus humanistik sebagai hasil dari konflik-konflik yang
tidak disadari maupun sebagai hasil yang sederhana. Teori belajar humanisme
yang berkembang sekitar tahun 1950-an tidak terlepas dari psikologi humanisme
yang muncul akibat menantang teori psikoanalisa dan behavioristik. Para ahli
psikologi pendidikan menyatakan bahwa pada dasarnya pendidikan humanistik
bukan sebuah strategi belajar, melainkan sebagai filosofi belajar yang sangat
memperhatikan keunikah-keunikan yang dimiliki oleh siswa, bahwa setiap siswa
mempunyai cara sendiri dalam mengkonstruk pengetahuan yang dipelajarinya
(Baharuddin, 2010:143)
Teori humanistik fokus pada pentingnya pengalaman disadari yang
bersifat subyektif dan self direction (Solichin, 2018:4). Oleh sebab itu, teori
belajar humanistik sifatnya lebih abstrak dan lebih mendekati bidang kajian
filsafat, teori kepribadian dan psikoterapi, daripada bidang kajian psikologi
belajar. Teori humanistik sangat mementingkan isi yang dipelajari daripada proses
belajar itu sendiri. Pembahasannya lebih banyak mengenai konsep-konsep
pendidikan untuk membentuk manusia yang dicita-citakan, dan juga mengenai
poses belajar dalam bentuknya yang paling ideal. Karakteristik teori belajar
humanisme erat kaitannya dengan eksistensialisme, dengan ciri sebagai berikut
(Jahja, 2011:108):
1. Keberadaan manusia terdapat dua macam diantaranya, ada dalam diri
dan berada untuk diri
2. Kebebasan. Dalam hal ini kebebasan memilih yang akan dipelajari,
kebebasan mengembangkan potensi dan kebebasan menciptakan
sesuatu yang baru.
3. Kesadaran. Kesadaran membuat manusia mampu membayangkan
kemungkinan yang akan terjadi dan apa yang bisa ia lakukan.
Cukup banyak tokoh-tokoh yang mengemukakan mengenai teori
humanistik ini, namun Dale Schunk (2012:351) menyebutkan tokoh teori
humanistik yang terkenal yaitu Abraham Maslow dan Carl Rogers.
1. Abraham Maslow
Maslow percaya bahwa manusia tergerak untuk memahami dan menerima
dirinya sebisa mungkin. Teorinya yang terkenal hingga saat ini adalah teori
Hierarchy of Needs (Hirarki kebutuhan). Menurut Maslow, manusia
termotivasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Kebutuhan-
kebutuhan tersebut memiliki tingkatan atau hirarki, mulai dari yang paling
rendah (bersifat dasar/fisiologis) hingga yang paling tinggi (aktualisasi diri).
Tingkatan kebutuhan seseorang menurut Maslow dapat digambarkan sebagai
berikut (Schunk, 2012:351):

Kebutuhan tingkat rendah harus dipenuhi secara memadai sebelum


kebutuhan tingkat tinggi dapat memengaruhi perilaku. Kebutuhan fisiologis,
yang terendah pada hierarki, menyangkut kebutuhan seperti makanan, udara,
dan air. Kebutuhan-kebutuhan ini terpuaskan bagi sebagian besar orang sejauh
ini, tetapi mereka menjadi keras ketika mereka merasa tidak puas. Pada
gambar tersebut dari yang terendah hingga puncak, yaitu kebutuhan fisiologis,
kebutuhan akan rasa aman dan keselamatan, kebutuhan untuk diterima dan
dicintai, kebutuhan akan penghargaan, dan yang paling puncak adalah
kebutuhan akan aktualisasi diri. Self actualization menurut istilah Maslow
ialah pemenuhan dirinya sendiri dan realisasi dari potensi pribadi. Aktualisasi
diri didefinisikan sebagai “the desire to become everything that one is cacable
of becoming” (keinginan untuk menjadi apa pun yang ingin dia lakukan).
Dengan kata lain, aktualisasi diri sebagai hasrat individu untuk menjadi
orang yang sesuai dengan keinginan dan realisasi dari potensi yang
dimilikinya. Maslow berpendapat bahwa guru dalam mengajar, mendidik anak
harus dapat memberikan pemuasan terhadap needs (kebutuhan-kebutuhan)
anak. Motivasi dan perhatian belajar anak akan tumbuh jika yang ia pelajari
sesuai dengan kebutuhannya . Proses belajar harus dimulai dan ditunjukkan
untuk kepentingan memanusiakan manusia, yaitu mencapai aktualisasi diri,
pemahaman diri, dan realisasi diri peserta didik yang belajar secara optimal.
Proses belajar dikatakan berhasil apabila peserta didik telah memahami
lingkungannya dan dirinya sendiri (Solichin, 2018:7).
Namun teori tersebut juga memiliki kelemahan. Salah satunya adalah
ketidak jelasan konseptual; apa yang menjadi kekurangan tidak jelas. Apa
yang orang anggap sebagai kekurangan di beberapa hal, mungkin tidak akan
menjadi masalah untuk orang lain. Masalah lainnya adalah bahwa kebutuhan
tingkat rendah tidak selalu lebih kuat daripada kebutuhan tingkat tinggi.
Terlepas dari masalah ini, gagasan bahwa orang berusaha untuk merasa
kompeten dan menjalani kehidupan yang memuaskan diri sendiri adalah
gagasan sentral dalam banyak teori motivasi (Schunk, 2012:354).

2. Carl Rogers
Menurut Rogers (1963), Belajar membutuhkan partisipasi aktif yang
dikombinasikan dengan kritik diri dan evaluasi diri oleh peserta didik dan
keyakinan bahwa belajar itu penting. Rogers merasa bahwa belajar yang dapat
diajarkan kepada orang lain tidak banyak artinya. Daripada memberikan
pembelajaran, tugas utama guru adalah bertindak sebagai fasilitator yang
membangun iklim kelas yang berorientasi pada pembelajaran yang signifikan
dan membantu siswa menjelaskan tujuan mereka. Fasilitator mengatur sumber
daya sehingga pembelajaran dapat terjadi dan, karena mereka adalah sumber
daya, berbagi perasaan dan pikiran mereka dengan siswa (Schunk, 2012:355).
Namun, ada beberapa aspek pendidikan humanistik yang tidak
dikembangkan Rogers. Pendidikan humanistik dapat dipahami sebagai dua
aspek utama, yaitu kondisi psikologis umum untuk semua siswa dan
pendidikan yang efektif atau sesuai dengan perkembangan afektif siswa, serta
perkembangan kognitif siswa. Dalam memberikan pemahaman empatik,
penerimaan, penghargaan atau penghormatan, guru mendorong perkembangan
pembelajaran afektif, atau perubahan kepribadian, sikap dan nilai-nilai.
Modeling adalah metode yang sangat efektif untuk mengajarkan perilaku
kompleks. Siswa belajar dari apa yang guru lakukan daripada apa yang guru
katakan. Jika guru tersebut bukanlah tipe orang yang ia coba ajarkan kepada
siswa, guru tersebut tidak akan berhasil mengajarkan ini, walaupun siswa
diberi tahu untuk melakukan apa yang guru tersebut katakan, bukan seperti
apa yang guru lakukan (Harper, 1977:38).
Ini menjadi prinsip penting karena tidak peduli berapa banyak sekolah
dapat mengklaim bahwa mereka tidak mengajarkan sikap dan nilai-nilai,
mereka tidak dapat menghindari jika sedang melakukannya. Karena itu
penting bagi kita untuk mengetahui sikap dan nilai apa yang sebenarnya
diajarkan dan memutuskan apakah itu yang ingin diajarkan. Selain itu,
pendekatan pengalaman pun dapat dilakukan sebagai pendidikan afektif.
Pembelajaran eksperimental sangat relevan dalam pendidikan afektif yang
melibatkan hubungan manusia atau interpersonal. Rogers mengembangkan
pendekatan pertemuan kelompok, belajar untuk hidup dengan orang lain
dengan cara yang paling efektif. Tidak hanya berguna mendidik guru dan
mengubah sistem pendidikan, hal tersebut mungkin merupakan pendekatan
yang paling penting dan efektif untuk mendidik siswa dalam hubungan
interpersonal. Pengalaman kelompok kecil harus menjadi bagian berkelanjutan
dari pendidikan pengalaman (Harper, 1977:39-40).
3. Arthur Combs
Combs memberikan lukisan persepsi diri dan dunia seseorang seperti dua
lingkaran besar dan kecil yang bertitik pusat pada satu. Lingkaran kecil adalah
gambaran dan persepsi diri dan lingkungan, sedangkan lingkaran besar adalah
persepsi dunia. Semakin jauh peristiwa itu dari persepsi diri semakin
berkurang pengaruhnya terhadap perilaku. Jadi, hal-hal yang mempunyai
sedikit hubungan dengan diri semakin mudah. Comb memberi banyak
perhatian pada dunia pendidikan. Meaning adalah konsep dasar yang sering
digunakan. Belajar terjadi bila mempunyai arti bagi individu .
Guru tidak bisa memaksakan materi yang tidak disukai atau tidak relevan
dengan kehidupan mereka. Anak tidak bisa matematika atau sejarah bukan
karena bodoh, melainkan karena mereka terpaksa dan merasa jika tidak ada
lasan penting untuk mereka harus mempelajarinya. Oleh karena itu, guru harus
memahami perilaku siswa dengan mencoba memahami dunia persepsi siswa
tersebut sehingga apabila ingin merubah perilakunya, guru harus berusaha
merubah pandangan siswa yang sudah ada di pikiran mereka (Solichin,
2018:5-6).
Agung dan Latifatul Choir dalam Solichin (2018:7) menyebutkan strategi
yang bisa dilakukan oleh guru dalam menerapkan pembelajaran humanistik,
yaitu:
a. Merumuskan tujuan belajar yang jelas.
b. Mengusahakan partisipasi aktif siswa melalui kontrak belajar yang
bersifat jelas, jujur, dan positif.
c. Mendorong siswa untuk mengembangkan kesanggupan siswa untuk
belajar dan inisiatif sendiri.
d. Mendorong siswa untuk peka berpikir kritis, memaknai proses
pembelajaran secara mandiri.
e. Siswa diberi keleluasaan mengemukakan pendapat, memilih
pilihannya sendiri, melakukan apa yang diinginkan dan menanggung
resiko dari perilaku yang ditunjukkan.
f. Guru menerima keadaan masing-masing siswa apa adanya, dengan
tidak memihak, memahami karakter pemikiran siswa, dan menilai
siswa dengan cara memberikan pandangan dua sis dalam hal moral dan
etika berkomunikasi.
g. Menawarkan kesempatan kepada siswa untuk maju.
h. Evaluasi yang diberikan secara individual berdasarkan perolehan
prestasi masing-masing siswa.

B. Penerapan Teori Humanistik Dalam Kegiatan Belajar-Mengajar di


Kelas
Berbicara mengenai humanistik, mungkin sudah tidak asing di telinga
kita. Namun, siapa sangka teori yang mudah dipahami secara istilah ini
ternyata dalam penerapannya dianggap sukar diterapkan dalam konteks yang
lebih praktis. Secara istilah, humanistik diartikan ‘memanusiakan
manusia’. Memanusiakan manusia disini sering dianggap lebih dekat
dengan bidang filsafat dan teori kepribadian daripada bidang pendidikan.
Maka tak heran jika teori ini sukar diterjemahkan ke dalam langkah-
langkah yang lebih praktis dan konkret.
Disamping itu, teori humanistik ini cenderung bersifat elektik, artinya
teori ini dapat dimanfaatkan pada teori belajar apapun asal tujuannya tetap
untuk memanusiakan manusia. Selain itu, teori humanistik juga bersifat
ideal yang berarti teori humanistik dapat memberikan arah terhadap semua
komponen pendidikan untuk mendukung tujuan tersebut. Arah teori
humanistik ini tentu saja pada terbentuknya manusia yang ideal, manusia
yang di cita-citakan dan manusia yang mampu mencapai aktualisasi diri.
Oleh karena itu, proses pengaktualisasian diri peserta didik hendaknya
diperhatikan oleh guru, terutama pengalaman emosional dan karakteristik
individu dalam merencanakan pembelajaran. Berdasarkan pengalaman
salah satu pemakalah mengajar ekstrakurikuler drumband, peserta didik
akan dapat mengikuti dan belajar dengan baik saat dia mempunyai rasa
percaya diri dan dia dapat membuat pilihan-pilihan secara bebas ke arah
mana ia akan berkembang (dalam memilih alat/instrumen). Dengan
demikian, secara tidak langsung humanistik ini mampu menjelaskan
bagaimana tujuan yang ideal tersebut dapat dicapai.
Beberapa pernyataan diatas menunjukkan bahwa sebenarnya teori
humanistik ini sangat membantu para guru dalam memahami arah belajar
dengan dimensi yang luas. Alhasil, upaya pembelajaran yang dilakukan
oleh guru akan selalu diarahkan untuk mencapai tujuannya. Jadi disini
guru harus dapat menerjemahkan tujuan peserta didik tersebut. Namun,
pada praktekknya, teori ini masih dirasa sukar untuk diterjemahkan ke
dalam langkah-langkah pembelajaran yang praktis dan operasional
meskipun teori ini sangat luar biasa sumbangsihnya dalam bidang
pendidikan. Perumusan ide-ide, konsep, taksonomi akan membantu guru
dalam menentukan komponen-komponen pembelajaran seperti perumusan,
tujuan, penentuan materi, pemilihan strategi pembelajaran, serta
pengembangan alat evaluasi, ke arah pembentukan manusia yang di cita-
citakan.
Lebih lanjut, teori humanistik juga menuntut adanya pembelajaran bermakna
bagi siswa dengan diperlukan insiatif dan keterlibatan penuh dari siswa sendiri.
Pada prakteknya sendiri, penerapan teori humanistik dalam pembelajaran
cenderung mendorong peserta didik untuk berpikir induktif, mementingkan
pengalaman, serta membutuhkan keterlibatan aktif dalam proses
pembelajaran. Menurut Suciati dan Irawan dalam (Baharuddin, 2010: 77-
78) langkah-langkah pembelajaran dengan teori humanistik adalah sebagai
berikut.
1. Menentukan tujuan pembelajaran secara jelas dan kemana arah nantinya
2. Mengindentifikasi kemampuan awal yang dimiliki oleh setiap siswa
3. Mengidentifikasi topik-topik mata pelajaran.
4. Merancang dan menyediakan media dan fasilitas pembelajaran.
5. Membimbing para siswa agar mereka belajar secara aktif.
6. Membimbing siswa agar memahami makna dari pengalaman belajarnya
7. Membimbing siswa agar membuat konseptualisasi dari hasil
pengalamannya belajar.
8. Membimbing siswa agar menerapkan konsepnya tadi pada dunia nyata.
9. Membimbing siswa agar mengevaluasi proses dan hasil belajarnya
sendiri.
Adanya langkah-langkah ini akan memudahkan guru dalam menerapkan
teori ini dalam pembelajaran. Guru seharusnya sudah tidak boleh merasa
sukar untuk menerapkan teori ini. Guru hanya mengikuti langkah-langkah
pembelajaran diatas dan memahami cara berfikir peserta didik satu persatu
agar peserta didik dapat dengan mudah menerima dan memahami
pembelajaran yang diberikan oleh guru pada pelajaran itu. Jika pada
prakteknya guru menemukan peserta didik yang mengalami kesulitan
memahami dalam pembelajaran, maka tugas guru disini adalah mendekati
peserta didik tersebut dan memberi motivasi.
Disinilah peran guru dalam penerapan teori ini atau dapat dikatakan
guru disini sebagai fasilitator. Jadi guru disini dituntut lebih aktif lagi dalam
pengelolaan siswa dikelas karena guru adalah fasilitator untuk siswa dan
mengenali setiap siswa serta keterbatasan-keterbatasan yang dimiliki siswa.
Bahkan, lebih sederhana dari itu, guru sebagai fasilitator juga harus selalu
tersenyum kepada peserta didik (Syaodih, 2007: 152).

C. Kelebihan dan Kekurangan Teori Humanistik


Tiada teori yang sempurna dalam penerapannya, dan semua teori sudah
pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Sudah menjadi tugas guru untuk
dapat memilih teori mana yang tepat untuk tujuan tertentu, karakteristik
materi pelajaran tertentu, dengan ciri-ciri siswa yang dihadapi, dan dengan
kondisi lingkungan serta sarana dan prasarana yang tersedia di sekolah
tertentu. Seperti pada teori humanistik ini, meskipun mempunyai tujuan untuk
memanusiakan manusia, tapi pada prakteknya sering ditemui kelebihan dan
kekurangan dari teori humanistik ini. Berdasarkan pemahaman dan penerapan
diatas mengenai teori humanisti, maka dapat juga diketahui kelebihan dan
kekurangan dari teori humanistik. Berikut beberapa kelebihan dari teori
humanistik.
1. Output dari penerapan teori humanistik ini adalah siswa akan menjadi
manusia yang bebas dan mengatur dirinya sendiri dengan bertanggung
jawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain ataupun melanggar norma
disiplin atau etika yang berlaku;
2. Peserta didik merasa senang, bergairah, berinisiatif dalam belajar dan
terjadi perubahan pola pikir, perilaku dan sikap atas kemauan sendiri;
3. Teori ini cocok untuk diterapkan dalam materi pembelajaran yang
bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap dan
analisis terhadap fenomena sosial.

Disamping kelebihan-kelebihan tersebut, teori ini juga memiliki


kekurangan. Kekurangan dari penerapan teori ini yakni terjadi pada peserta
didik jika dalam proses pembelajaran peserta didik malas dan kurang aktif,
serta tidak mau memahami potensi dirinya akan ketinggalan proses
pembelajaran. Hal ini dikarenakan dalam penerapan teori ini, peserta didik
dituntut aktif sedangkan guru hanya sebagai fasilitator.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Teori humanistik muncul pada abad ke-20 sebagai reaksi terhadap teori
psikodinamik dan behavioristik, dimana tingkah laku diyakini teoritikus
humanistik sebagai hasil dari konflik-konflik yang tidak disadari maupun
sebagai hasil yang sederhana. Teori humanistik mempunyai tujuan untuk
memanusiakan manusia. Cukup banyak tokoh-tokoh yang mengemukakan
mengenai teori humanistik ini, seperti Abraham Maslow yang terkenal
dengan teorinya tentang Hierarchy of Needs (Hirarki kebutuhan) dan Carl
Rogers yang berpendapat bahwa “belajar itu penting”.
Dalam penerapannya, teori humanistik ini cenderung bersifat elektik,
artinya teori ini dapat dimanfaatkan pada teori belajar apapun asal
tujuannya tetap untuk memanusiakan manusia. Penerapan teori humanistik
dalam pembelajaran juga cenderung mendorong peserta didik untuk berpikir
induktif, mementingkan pengalaman, serta membutuhkan keterlibatan aktif
dalam proses pembelajaran, sehingga peran peserta didik dalam pembelajaran
sangat aktif dan peran guru sebagai fasilitator.
Kelebihan dari teori ini secara garis besar akan menjadikan peserta didik
lebih senang, bergairah dan berinisiatif dalam pembelajaran sehingga terjadi
perubahan pola pikir, perilaku, dan sikap atas kemauannya sendiri. Output
dari penerapan teori ini akan menghasilkan manusia yang bebas dan mengatur
dirinya sendiri dengan bertanggung jawab tanpa mengurangi hak-hak orang
lain ataupun melanggar norma disiplin atau etika yang berlaku. Namun jika
peserta didik kurang aktif, malas, dan tidak mau memahami potensi dirinya
akan ketinggalan proses pembelajaran.
Referensi:

Baharuddin & Esa Nur W. 2010. Teori Belajar dan Pembelajaran. Yogyakarta:
Ar-Ruzz Media

Harper & Row. 1977. Carl Rogers and Humanistic Education. Patterson, C.H.
Foundations for a Theory of Instruction and Educational Psychology,
Chapter 5.

Jahja, Yudrik. 2011. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Kencana.

Nana Syaodih dkk. 2007. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung:


Remaja Rosdakarya.

Qodir, Abd. 2017. Teori Belajar Humanistik dalam Meningkatkan Prestasi


Belajar Siswa. Jurnal Pedagogik, Vol. 04 (2), 188-202.

Schunk, Dale H. 2012. Learning Theories an Educational Perspective. Boston:


PEARSON

Solichin, Mohammad Muchlis. 2018. Teori Belajar Humanistik dan Aplikasinya


dalam Pendidikan Agama Islam. ISLAMUNA: Jurnal Studi Islam.
Vol. 5 (1), 1-12.

Zuchdi, Darmiyati. Humanisasi Pendidikan. Jakarta: PT Bumi Aksara.