Anda di halaman 1dari 17

INTEGRASI FILSAFAT PENDIDIKAN PANCASILA PADA

PEMBELAJARAN IPS

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan IPS yang diampu oleh:
Prof. Dr. Sariyatun., M.Pd.

Disusun oleh:
Erisya Pebrianti Pratiwi S862002005
Mochammad Doni Akviansah S862002011

PASCASARJANA PENDIDIKAN SEJARAH


UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2020
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Setiap negara sudah dipastikan memiliki dasar negara yang dirumuskan
berdasarkan latar belakang dan kebudayaan bangsanya. Dasar negara nantinya
akan digunakan sebagai pedoman hidup bernegara. Seperti halnya Pancasila yang
digunakan sebagai pedoman hidup bernegara oleh masyarakat Indonesia.
Pedoman hidup maksudnya tolak ukur yang digunakan masyarakat dalam hidup
bernegara, sumber dari segala sumber hukum yang berlaku dalam suatu
masyarakat, bangsa, dan Negara.
Pedoman hidup bernegara bisa juga disebut filsafat Negara. Filsafat
Negara berakar dari filsafat masyarakat budaya bangsa yang telah dirumuskan
menjadi Pancasila. Pancasila sebagai dasar filsafat negara yang tercantum dalam
tertib hukum Indonesia, yaitu dalam Pembukaan UUD 1945. Pancasila sebagai
dasar filsafat negara telah tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 yang
merupakan suatu cita-cita hukum, yang menguasai hukum dasar, baik hukum
dasar tertulis maupun tidak tertulis.
Melihat peran Pancasila seperti demikian, tak heran bahwa pendidikan
Pancasila wajib senantiasa diajarkan sejak dini dalam lingkungan keluarga hingga
sekolah. Dalam sistem pendidikan di sekolah, pendidikan Pancasila telah di
integrasikan kedalam pelajaran-pelajaran di sekolah, seperti pelajaran Agama
Islam, pelajaran Pancasila dan Kewarganegaraan, serta pelajaran IPS. Mengingat
pentingnya peran pendidikan Pancasila, dalam makalah ini akan dibahas integrasi
filsafat pendidikan Pancasila dalam pembelajaran IPS.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah, peneliti merumuskan
masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana hakikat pancasila sebagai filsafat pendidikan?
2. Bagaimana aspek-aspek filsafat dalam pendidikan pancasila?
3. Bagaimana integrasi filsafat pancasila dalam pembelajaran IPS di sekolah?
C. Tujuan
Berdasarkan fokus penelitian dan rumusan masalah yang sudah
dipaparkan sebelumnya, peneliti menetapkan tujuan penulisan, diantaranya:
1. Untuk mengetahui dan memahami bentuk hakikat pancasila sebagai filsafat
pendidikan.
2. Untuk mengetahui aspek-aspek filsafat dalam pendidikan pancasila.
3. Untuk mengetahui integrasi filsafat pancasila dalam pembelajaran IPS di
sekolah

D. Manfaat
Dengan adanya tulisan makalah ini, maka manfaat yang didapatkan
yaitu:
1. Memahami lebih lanjut mengenai bentuk hakikat pancasila sebagai filsafat
pendidikan.
2. Memahami dan mengetahui aspek-aspek filsafat dalam pendidikan pancasila.
3. Dapat digunakan untuk memperoleh gambaran mengenai filsafat pendidikan
pancasila.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Hakikat Pancasila Sebagai Filsafat Pendidikan


Pancasila merupakan dasar pandangan hidup rakyat Indonesia, di mana di
dalamnya berisi lima dasar yang menjadi jati diri bangsa Indonesia. Sila-sila
dalam Pancasila menggambarkan pedoman hidup berbangsa dan bernegara bagi
seluruh warga Indonesia. Lahirnya Pancasila sebagai dasar negara Indonesia juga
berfungsi sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia, jiwa bangsa Indonesia,
kepribadian bangsa Indonesia, sumber dari segala sumber hukum/tertib hukum,
perjanjian luhur bangsa Indonesia pada waktu mendirikan negara, cita-cita dan
tujuan bangsa, dan sebagai falsafah hidup yang mempersatukan bangsa Indonesia.
Dengan proses yang panjang, Pancasila pun erat kaitannya dengan sejarah
perjuangan bangsa Indonesia dalam mendirikan sebuah negara yang berdaulat.
Pendidikan Pancasila dikaji melalui filsafat Pancasila dapat dimaknai
sebagai proses untuk menumbuhkan kemampuan cara hidup menghormati, tulus,
dan toleran terhadap keragaman budaya yang hidup di tengah-tengah masyarakat
plural. Pada prinsipnya, konsep filsafat menempatkan sesuatu kebenaran
berdasarkan kemampuan nalar manusia, yang merupakan tolok ukur suatu
peristiwa yang terjadi sebelum dan sesudahnya. Filsafat sangat berperan penting
dalam dunia pendidikan yaitu memberikan sebuah kerangka acuan bidang filsafat
pendidikan guna mewujudkan cita-cita pendidikan yang diharapkan oleh suatu
masyarakat atau bangsa.oleh karena itu, filsafat pendidikan sebuah negara
menjadi sebuah panutan.
Landasan filosofis pendidikan nasional yaitu Pancasila disebutkan dalam
Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, dengan asumsi sebagai berikut (Sutono,
666-667):
1. Segala sesuatu berasal dari Tuhan sbagai pencipta. Hakikat hidup bangsa
Indonesia adalah berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan perjuangan yang
didorong oleh keinginan luhur untuk mencapau dan mengisi kemerdekaan.
Selanjutnya, keinginan luhur yaitu (a) Negara Indonesia yang merdeka, bersatu,
berdaulat, adil, dan makmur; (b) Melindungi segenap bangsa Indonesia dan
seluruh tumpah darah Indonesia; (c) Memajukan kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa; (d) Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang
berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
2. Pancasila merupakan mazhab filsafat tersendiri yang dijasikan landasan
pendidikan, bagi bangsa Indonesia yang dtuangkan dalam Undang-Undang
Sistem Pendidikan Nasional dalam pasal 2, yang menyebutkan bahwa
pendidikan nasional berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
3. Manusia adalah ciptaan Tuhan, bersifat mono-dualisme dan monopluralisme.
Manusia yang dicita-citakan adalah manusia seutuhnya yang mencapai
keselarasan dan keserasian dalam kehidupan spiritual dan keduniawian,
individu dan sosial, fisik, dan kejiwaan.
4. Pengetahuan diperoleh melalui pengalaman, pemikiran, dan penghayatan.
5. Perbuatan manusia diatur oleh nilai-nilai yang bersumber dari Tuhan,
kepentingan umum dan hati nurani.
6. Pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan
mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman
dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur,
memiliki pengaetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani,
kepribadian yang mantab dan mandiri, serta rasa tanggung jawab
kemasyarakatan dan kebangsaan.
7. Kurikulum berisi pendidikan mum, pendidikan akademik, pendidikan kejuruan,
pendidikan luar biasa, pendidikan kedinasan, pendidikan keagamaan, dan
pendidikan profesional.
8. Mengutamakan cara belajar siswa aktif (CBSA) dan penghayatan. Berbagai
metode dapat dipilih dan dipergunakan dalam rangka mencapai tujuan.
9. Pranan pendidik dan anak didik pada dasarnya berpegang pada prinsip
keteladanan ing ngarso sung tulado, ing madya mangun karso, dan tut wuri
handayani.
Lebih lanjut, jika dipandang dari sudut pandang filosofis, Pancasila
sebagai hakikat pancasila sebagai filsafat memiliki dasar ontologis, dasar
epistemologis, dan dasar aksiologis.
Dasar ontologis memandang bahwa Pancasila disini merupakan kesatuan
sistem filsafat yang memiliki hakikat mutlak sebagai dasar antropologis
(menyelidiki makna yang ada, sumber ada, jenis ada, hingga hakikat pun ada).
Dasar epistemologis Pancasila sebagai filsafat dapat dimaknai sebagai suatu
sistem filsafat yang pada hakikatnya adalah sistem pengetahuan (meliputi sumber
pengetahuan Pancasila dan susunan pengetahuan Pancasila). Sisi dasar aksiologis
menjelaskan bahwa hakikat Pancasila adalah nilai-nilai yang terkandung dalam
Pancasila (nilai material, nilai kebenaran, nilai keindahan, nilai kebaikan, atau
nilai moral). Jadi dasar aksiologis ini lebih ke nilai praksis suatu pengetahuan
tentang Pancasila.
Prinsip-prinsip Filsafat Pancasila bila ditinjau dari kausal Aristoteles,
dapat dijelaskan sebagai berikut (Semadi, 2019:84):
a. Kausa Materialis
Sebab yang berhubungan dengan materi/bahan, dalam hal ini Pancasila digali
dari nilai-nilai sosial budaya yang ada dalam bangsa Indonesia sendiri.
b. Kausa Formalis
Sebab yang berhubungan dengan bentuknya, Pancasila yang ada dalam
pembukaan UUD ’45 memenuhi syarat formal (kebenaran formal).
c. Kausa Efisiensi
Kegiatan BPUPKI dan PPKI dalam menyusun dan merumuskan Pancasila
menjadi dasar negara Indonesia merdeka.
d. Kausa Finalis
Berhubungan dengan tujuannya, tujuan diusulkannya Pancasila sebagai dasar
negara Indonesia merdeka.
Inti atau esensi dari sila-sila di Pancasila, yaitu:
a. Ke-Tuhanan, sebagai kausa prima;
b. Kemanusiaan, yaitu makhluk individu dan makhluk sosial
c. Kesatuan, yaitu kesatuan memiliki kepribadian sendiri
d. Kerakyatan, yaitu unsur mutlak negara, harus bekerja sama dan gotong
royong
e. Keadilan, yaitu memberikan keadilan kepada diri sendiri dan orang lain yang
menjadi haknya.
B. Aspek Ontologis Filsafat Pendidikan Pancasila
Sebagai salah satu cabang dari filsafat, ontologi membicarakan prinsip
yang paling dasar atau paling dalam dari segala sesuatu yang ada (Bakhtiar, 2012:
135). Ontologi lebih cenderung membahas tentang hakikat yang ada karena
merupakan sebuah fakta nyata. Jadi, ontologi disini berdasar pada logika, bukan
pada alam nyata. Ontologi bertujuan memberikan klasifikasi yang definitif dan
lengkap dari entitas di semua bidang (Suaedi, 2016: 82). Sehingga ontologi akan
berupaya mendapatkan inti yang termuat dalam setiap kenyataan atau dalam
rumusan.
Pemahaman mengenai ontologi sebagai salah satu cabang filsafat dapat
digunakan untuk memahami Pancasila sebagai filsafat. Seperti yang diketahui
bersama, dalam Pancasila terdapat sila-sila yang memiliki kandungan yang
abstrak, definitif, umum, dan lengkap dalam kehidupan. Maka dari itu, Pancasila
sendiri dijadikan pandangan hidup bernegara. Bahkan, sistem pendidikan di
Indonesia pun berjiwa Pancasila. Maksudnya, Pancasila dijadikan dasar sistem
pendidikan di Indonesia. Hal ini dikarenakan perumusan Pancasila melihat fakta-
fakta kehidupan nyata di Indonesia.
Pendidikan Pancasila sendiri lebih banyak membahas prinsip dasar atau
makna dasar dari setiap sila-sila yang ada pada Pancasila. Hal ini ditujukan untuk
memberi wawasan kepada peserta didik sehingga peserta didik dapat menjiwai
Pancasila sekaligus mengamalkannya. Berikut dijelaskan mengenai kandungan
defintif sila-sila dari Pancasila.
a. Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa
Sila pertama Pancasila ini menjiwai sila-sila yang lainnya. Seperti yang kita
ketahui, dalam sistem pendidikan nasional dijelaskan bahwa pendidikan
nasional adalah pendidikan yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berakar pada nilai-nilai
agama, kebudayaan nasional Indonesia dan tanggap terhadap tuntutan
perubahan zaman. Dengan sila pertama ini, maka hasil proses pendidikan
diharapkan dapat menjadi manusia yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa, yang juga merupakan tujuan dari sistem pendidikan nasional. Dalam
aspek praksis maka dikembangkan sejumlah mata pelajaran yang menunjang
pencapaian tujuan pada bagian ini yaitu melalui pelajaran Agama, serta
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Mata pelajaran ini harus mampu
tercerminkan dari sikap anak didik yang harus memiliki kepercayaan kepada
Tuhan, menghormati antar pemeluk agama, yang semuanya harus tercermin
dalam kehidupan sehari-hari.
b. Sila kedua, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
Kandungan definitif pada sila kedua ini berdasar pada manusia diciptakan di
muka bumi ini sebagai makhluk yang sempurna dibanding makhluk lain dan
telah mempunyai harkat dan martabat serta derajat sama.Terlebih lagi untuk
memperoleh kehidupan yang layak, pendidikan yang layak, semua manusia
berhak mendapatkan perlakuan yang sama. Oleh karena itu, sila kedua ini
berusaha mewakili makna-makna tersebut dalam kehidupan sehari-hari
sehingga disini peran pendidikan harus dijiwai Pancasila sehingga terbentuk
manusia yang bisa menghargai sesama manusia dan memiliki statement
bahwa semua manusia memiliki derajat yang sama.
c. Sila ketiga, Persatuan Indonesia
Kandungan definitif dari sila ketiga memuat nilai dasar yang penting dalam
menunjang eksistensi bangsa Indonesia. Dengan adanya persatuan
kebangsaan, akan berdampak pada pemantik semangat kedaerahan atau
kelompok sehingga akan timbul rasa nasionalosme serta akan dapat
menghapus perasaanprimodialisme yang sempit dan merugikan bangsa.
Selain itu, nilai yang terkandung pada sila ini juga tidak membatasi golongan
tertentu untuk memperoleh pendidikan yang sama dan setinggi-tingginya
sebagaimana terjamin dalam UUD 1945 pasal 31 ayat 1.
d. Sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin Oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan Perwakilan
Pada sila keempat ini, tercerminkan sebuah semangat demokrasi yang telah
menjadi ciri dari kehidupan masyarakat Indonesia. Maka tak heran jika
selama mengenyam dunia pendidikan, kita selalu diajarkan demokrasi
melalui kegiatan belajar-mengajar di sekolah, seperti saat kita diharuskan
menghargai pendapat dan pikiran orang lain. Selain itu, terdapat juga
kebebasan untuk berpendapat yang telah sejalan dengan UUD 1945 pasal 28.
e. Sila kelima, Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Kandungan defintif pada sila kelima ini menitikberatkan pada keadilan pada
semua aspek pendidikan, sehingga seluruh warga negara mendapatkan
kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan yang sama. Alhasil,
faktor-faktor pemicu pecahnya nasionalisme karena sebab diskriminasi
apapun akan diminimalisir. Sebagai contoh konkret, kita tidak boleh
membeda-bedakan siswa atau teman. Hal ini merupakan hal kecil yang dapat
berefek pada keadilan sosial dan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia.

C. Aspek Epistemologis Filsafat Pendidikan Pancasila


Epistemologis berasal dari bahasa Yunani, asal katanya yaitu episteme
atau pengetahuan dan logos atau teori. Epistemologi adalah kajian atau teori
filsafat mengenai esensi atau hakikat dari pengetahuan (Djamaluddin, 2014: 134).
Epistemologis berfokus pada sumber, syarat, dan proses terjadinya ilmu
pengetahuan, batas validasi, juga hakikat ilmu pengetahuan (Sutono, 2015: 674).
Menurut Koestenbaum, epistemologi secara umum berusaha untuk mencari
jawaban atas pertanyaan “apakah pengetahuan?”. Epistemologi berusaha menguji
masalah-masalah yang kompleks seperti: hubungan antara pengetahuan dengan
kepercayaan pribadi, status pengetahuan yang melampaui panca indera, status
ontologi dari teori ilmiah, hubungan antara konsep-konsep atau kata-kata yang
bersifat umum dengan objek-objek yang ditunjuk oleh konsep atau kata-kata
tersebut, dan analisis atas tindakan mengenai atas itu (Djamaluddin, 2014: 134).
Secara epistemologis, kajian Pancasila sebagai filsafat dimaksudkan
sebagai cara untuk mencari hakikat Pancasila sebagai suatu sistem pengetahuan.
Pancasila sebagai sistem filsafat pada hakikatnya juga merupakan sistem
pengetahuan, atau menjadi suatu belief system, sistem cita-cita, menjadi ideologi.
Maka Pancasila harus diperoleh maknanya melalui pengalaman dan akal sehat.
Sebagai pengetahuan empiris, Pancasila dapat salah akibat keterbatasan
kemampuan indera manusia. Fakta yang diperoleh tentang Pancasila tidak dapat
digneralisasi dan fakta itu seringkali hanya berupa kumpulan fakta saja. Sehingga
penggunaan rasio dapat menyebabkan pengetahuan tentang Pancasila dapat
bersifat subyektif, kebenaran dari Pancasila itu sendiri dapat dipandang dari sudut
pandang orang yang menyatakannya. (Lesilollo, 2019: 79).
Menurut Kaelan dalam Sutono (2015: 674) disebutkan, sumber
pengetahuan Pancasila adalah nilai-nilai yang ada pada bangsa Indonesia yang
ditemukan dalam adat istiadat serta kebudayaan dan nilai religius. Berikut aspek-
aspek epistemologi Pancasila:
a. Sila Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa
Cara memperoleh pemikiran mengenai apa dan bagaimana akan sumber
pengetahuan, yaitu dengan melalui akal atau panca indera dan dari ide atau
Tuhan. Berbeda dengan Pancasila, ide keluar melalui proses yang panjang
dan dimatangkan dengan perjuangan. Pancasila digali dari bumi Indonesia
yang merupakan dasar negara, pandangan hidup, kepribadian bangsa, tujuan
atau arah untuk mencapai cita-cita dan perjanjian luhur rakyat Indonesia.
Oleh karenanya, Pancasila bersumber dari bangsa Indonesia yang prosesnya
melalui perjuangan rakyat yang bersumber pada nilai-nilai keutamaan hidup
yang telah lama dijiwai dan hidup dalam diri masyarakat Indonesia.
b. Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Manusia adalah subjek yang secara potensial dan aktif berkesadaran tahu atas
eksistensi diri, dunia, bahkan juga sadar dan tahu bila di suatu ruang dan
waktu itu tidak ada apa-apa, kecuali ruang dan waktu itu sendiri. Menusia
memiliki potensi atau basis yang dapat dikembangkan. Dengan memiliki ilmu
moral, diharapkan tidak ada segala bentuk kekerasan dan kesewenang-
wenangan manusia terhadap lainnya. Tingkat kedalaman pengetahuan
merupakan perwujudan dari potensi rasio dan intelegensi yang tinggi. Dalam
proses pembentukan pengetahuan melalui lembaga pendidikan secara teknis
edukatif lebih sederhana. Tidak boleh ada monopoli kebenaran.
c. Sila ketiga, Persatuan Indonesia
Pengetahuan manusia terbentuk dari hasil dari kerja sama atau produk
hubungan dengan lingkungannya. Potensi dasar dengan aktor kondisi
lingkungan yang memadai akan membentuk pengetahuan. Dalam hal ini,
pendidikan secara jelas mencontohkan bagaimana interaksi sosial adalah
bagian kodrat manusia. Hubungan atau interaksi inilah yang memerlukan
pedoman yaitu salah satunya Pancasila.
d. Sila Keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam
Permusyawaratan/Perwakilan
Pendidikan memiliki peran yang besar dalam sistem pendidikan nasional,
tetapi harus diperlukan kesadaran yang lebih tinggi bahwa ada institusi-
institusi di luar pendidikan formal yang juga berperan bagi keberhasilan
sebuah pendidikan, yaitu keluarga dan masyarakat. Dengan melibatkan
keluarga dan masyarakat, tujuan pendidikan nasional dapat tercapai dan
smakin mampu mendorong setiap manusia memiliki kebebasan dalam
mengemukakan pendapat dengan melalui lembaga pendidikan atau saluran
informal lainnya. Mampu mewujudkan ruang dialog sebagai cerminan nilai-
nilai demokrasi secara luas namun bertanggung jawab.
e. Sila kelima, Keadilan Sosisal bagi Selurug Rakyat Indonesia
Semua proses pendidikan dan tujuan pendidikan harus diarahkan pada
tercapainya keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Keadilan menjadi rujukan
penting untuk diwujudkan. Pendidikan yang dikembangkan dapat bersumber
dari pendidikan yang bersifat informal, formal maupun non formal.

D. Aspek Aksiologis Filsafat Pendidikan Pancasila


Istilah aksiologi berasal dari bahasa Yunani yaitu axios yang berarti nilai,
manfaat; dan logos yang memiliki arti pikiran, ilmu atau teori. Bidang yang
diselidiki adalah hakikat nilai, kriteria nilai, dan kedudukan metafisika suatu nilai.
Nilai atau value berasal dari bahasa latin valere yang berarti kuat, baik, berharga.
Dalam kajian filsafat merujuk pada sesuatu yang bersifat abstrak dan dapat
diartikan sebagai “keberhargaan” atau worth dan “kebaikan” atau goodness. Nilai
juga mengandung harapan akan sesuatu yang diinginkan. Sedangkan Pancasila
memiliki nilai berbentuk esensi logis yang diketahui melalui akal, tidak terdapat
dalam ruang dan waktu. Ada nilai yang sudah melekat dengan Pancasila, tetapi di
sisi lain Pancasila adalah sesuatu yang diberi nilai buatan karena dapat dipakai
sebagai sarana mencapai tujuan (Lesilollo, 2015: 80). Nilai-nilai yang terkandung
dalam Pancasila memiliki tingkatan dan bobot yang berebeda, namun tidak saling
bertentangan. Pancasila merupakan substansi utuh atau sebuah kesatuan organik
(Kaelan, 2013: 162-163).
Sedangkan menurut Djamaluddin (2014: 134) aksiologi merupakan studi
tentang nilai sesuatu yang berharga, yang dinamakan oleh setiap orang. Nilai yang
dimaksudkan yaitu:
a. Nilai jasmani, nilai yang terdiri dari hidup, nilai nikmat, dan nilai guna.
b. Nilai rohani, nilai yang terdiri dari nilai intelek, nilai estetika, nilai
etika, dan nilai religi.
Manurut Jalaludin dalam Sutono (2015: 676) Pancasila sebagai pandangan
hidup bangsa memiliki nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan,
dan keadilan. Nilai ideal, material, spiritual, dan nilai positif dan juga nilai logis,
estetika, etis, sosial, dan religius.
a. Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa
Hal utama dalam setiap ajaran agama yaitu kepercayaan terhadap
Tuhan yang mencerminkan sikap religiusitas manusia. Oleh karena itu
pendidikan harus mampu mendorong manusia untuk semakin
meningkatkan tingkat religiusitasnya dengan baik. Pendidikan dari
semua tingkatan harus menjadi ladang persemaian yang baik dalam
menumbuhkan ketakwaan kepada Tuhan, sehingga kurikulum
pendidikan pun harus memastikan bidang-bidang yang berkaitan
dengan keagamaan masuk di dalamnya.
b. Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Kunci keberhasilan dalam mewujudkan harkat dan martabat manusia
yang sesungguhnya yaitu dengan kedamaian dan kerukunan.
Keberadaban hanya bisa digunakan ketika suasana persaudaraan
tumbuh dalam lingkungan manusia. Pendidikan dalam hal ini harus
mampu mendorong semangat kedamaian, kerukunan dan persaudaraan
untuk dapat mewujudkan nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan
beradab, sebab hal ini merupakan nilai luhur yang dicita-citakan.
c. Sila ketiga, Persatuan Indonesia
Nilai persatuan berdasar pada kerukunan, sehingga tingkatan harus
bisa dan mampu menumbuhkembangkan jiwa kerukunan, sebab
kerukunan adalah salah satu dari jiwa Pancasila. Kerukunan juga
mengandaikan semangat rela berkorban untuk memantabkan perasaan
akan pentingnya persatuan dalam menjadi kehidupan berbangsa dan
bernegara.
d. Sila Keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan
dalam Permusyawaratan/Perwakilan
Pendidikan diharuskan mampu mewujudkan semangat demokrasi
yang egaliter sebagai sebuah prinsip yang penting dalam
penyelenggaraan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Cita-cita yang harus diwujudkan melalui pendidikan yaitu dengan
adanya kesediaan orang lain untuk mendengarkan pendapat orang lain
serta menghargainya. Tanpa adanya semangat dari nilai ini maka
pendidikan akan kehilangan roh yang sesungguhnya. Kebebasan
dalam pendidikan akan mampu memberikan pembebasan bagi
manusia untuk bisa memahami siapa dirinya dan harus dengan cara
yang bagaimana ia menempatkan orang lain. Inilah yang menjadi nilai
dasar Pancasila yang harus ada dalam sistem pendidikan nasional
Indonesia.
e. Sila kelima, Keadilan Sosisal bagi Selurug Rakyat Indonesia
Hak dan kewajiban haruslah seimbang sehingga terwujud keadilan.
Dalam hal pendidikan, adil itu seimbang antara ilmu yang berkaitan
dengan pembentukan ketakwaan manusia dengan ilmu yang
berorientasi pada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Mengembangkan perbuatan luhur, menghormati hak orang lain,
memberi pertolongan, bersikap benar, serta menghargai hasil karya
orang lain merupakan nilai-nilai yang harus terus dihidupkan.

E. Integrasi Filsafat Pancasila dalam Pembelajaran IPS


Tugas dari seorang pendidik ialah mengembangkan pendidkan nilai dalam
kehidupan peserta didik, untuk ditanamkan di sekolah supaya menjadi bekal
generasi masa depan dalam hidup dan memecahkan permasalahan dalam
bermasyarakat dan bernegara. Tugas pendidik dan orang tua adalah membantu
sistem nilai dan lingkungan sosial anak. Sistem nilai di dalam suatu masyarakat
adalah refleksi kepercayaan, harapan, penerimaan, persetujuan yang menjadi
dasar semua aktivitasnya (Al-Lamri, 2006: 67). Sistem nilai sebagai sebuah
kepercayaan yang melekat pada masyarakat berbeda ciri atau sama karakteristik
dalam beberapa hal dengan suatu masyarakat di tempat lainnya. Sebagai bangsa
Indonesia, sudah jelas bahwa Pancasila adalah pedoman hidup bagi rakyatnya.
Semua yang diajarkan di sekolah harus selaras dengan ideologi bangsa, yaitu
Pancasila. Sistem nilai ini terbentuk bersama format kebudayaannya, yang
diaktualisasikan dalam bentuk hormat, ramah, sopan santun, dan disiplin (Muslich,
2019: 168).
Pendidikan nilai pancasila dapat dibentuk melalui pembentukan perilaku
anak, baik di keluarga maupun di sekolah. Di sekolah, pendidikan nilai sudah
terstruktur dalam kegiatan ko-kulrikuler, kurikuler, dan ekstrakurikuler dalam
semua proses pembelajaran pada semua mata pelajaran. Dengan harapan apapun
yang diajarkan di sekolah akan menjadi dasar bagi arah dalam proses
kehidupannya di masyarakat dan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara
(Muslich, 2019: 169). Di dalam KTSP dirumuskan bahwa Ilmu Pengetahuan
Sosial (IPS) merupakan salah satu mata peajaran yang diberikan mulai dari SD
sampai SMP. IPS mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi
yang berkaitan dengan isu sosial. Melalui mata pelajaran IPS, peserta didik
diarahkan untuk dapat menjadi warga negara Indonesia yang demokratis, dan
bertanggung jawab, serta warga dunia yang cinta damai (Depdiknas RI, 2006).
Tujuan dari mata pelajaran IPS di SD itu sendiri ditetapkan seperti berikut:
a. Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan
masyarakat dan lingkungannya
b. Memilki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin
tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam
kehidupan sosial
c. Memiliki komitmen dan kesadarana terhadap nilai-nilai sosial dan
kemanusiaan
d. Memilki kemampuan berkomunikasi, bekerjama dan berkompetisi
dalam masyarakat yang majemuk, di tingkat lokal, nasional, dan
global
Sapriya (2008) dalam Afandi (2011: 85) menjelaskan, secara konseptual
peserta didik diarahkan untuk menjadi warga negara yang demokratis dan
bertanggung jawab, serta menjadi warga dunia yang cinta damai melalui mata
pelajaran IPS. Dari pendapat ini dapat pula dimasukkan nilai-nilai yang ada dalam
pendidikan karakter. Karena tujuan dari pembelajaran IPS adalah peserta didik
dapat bertanggung jawab terhadap masyarakat, berbangsa dan bernegara.
Pembelajaran IPS terdapat unsur-unsur nilai yang harus ditanamkan kepada
peserta didik. Nilai-nilai yang harus ditanamkan ini adalah nilai-nilai yang
terdapat dalam sila pada Pancasila, di mana terdapat nilai Ke-Tuhanan, nilai
edukatif, nilai praktis, nilai filsafat dan nilai teoritis (Sumaatmadja, 2007: 23).
Sehingga melalui pembelajaran IPS ini, seorang guru harus bisa dalam
menanamkan unsur-unsur nilai pendidikan karakter dalam pembelajaran IPS.
Bahkan lebih dari itu, pembelajaran IPS hendaknya mengarahkan kepada siswa
sebagai makhluk sosial untuk berelasi dengan sesama secara baik dan benar dalam
kehidupan masyarakat, bangsa dan Negara.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Filsafat adalah sebuah metode cara berpikir dan cara mengadakan analisis
yang dapat dipertanggungjawabkan untuk menjabarkan ideologi Pancasila.
Pancasila sebagai filsafat dapat dipahami bahwa telah terkandung pandangan,
pemikiran, dan nilai yang dapat menjadi substansi dan isi pembentukan ideologi
Pancasila. Lebih lanjut, jika dipandang dari sudut pandang filosofis, Pancasila
sebagai hakikat filsafat memiliki dasar ontologis (menyelidiki makna yang ada,
sumber ada, jenis ada, hingga hakikat pun ada), dasar epistemologis (meliputi
sumber pengetahuan Pancasila dan susunan pengetahuan Pancasila), dan dasar
aksiologis (ke nilai praksis suatu pengetahuan tentang Pancasila).
Pembelajaran IPS merupakan salah satu mata pelajaran yang memuat
integrasi pendidikan nilai Pancasila. Hal ini dikarenakan dalam pembelajaran IPS
banyak memuat nilai-nilai karakter dimana nilai-nilai tersebut berpedoman dalam
sila pada Pancasila. Identifikasi ini juga didasarkan pada tujuan dari pembelajaran
IPS, yakni peserta didik dapat bertanggung jawab terhadap masyarakat, berbangsa
dan bernegara. Selain itu, pembelajaran IPS juga mengarahkan kepada siswa
sebagai makhluk sosial untuk berelasi dengan sesama secara baik dan benar dalam
kehidupan masyarakat, bangsa dan Negara.

B. Saran
Makalah ini dapat dijadikan sebagai penambah wawasan atau
pengetahuan tentang integrasi filsafat pendidikan Pancasila dalam pembelajaran
IPS.
DAFTAR PUSTAKA

Afandi, Rifki. 2011. Integrasi Pendidikan Karakter dalam Pembelajaran IPS di Sekolah
Dasar. Pedagogia, vol. 1 (1) hlm. 85-98.

Al-Lamri, S.Ichas, T. Istianti. 2006. Pengembangan Pendidikan Nilai dalam


Pembelajaran Pengetahuan Sosial di Sekolah. Jakarta: Depsiknas.

Bakhtiar, Amsal. 2006. Filsafat Ilmu. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

Djamaluddin, Ahdar. 2014. Filsafat Pendidikan. ISTIQRA’, Vol. 1 (2), hal. 129-135.

Kaelan. 2013. Negara Kebangsaan Pancasila Kultural, Historis, Filosofis, Yuridis dan
Aktualisasinya. Yogyakarta: Paradigma.

Lesilollo, Herly Jenet. 2019. Kajian Filsafat Pancasila dalam Pendidikan Multikultural
di Indonesia. KENOSIS, Vol. 1 (1), hal. 74-88.

Muslich, Ahmad. 2019. Pendidikan Nilai dalam Pembelajaran IPS Madrasah Ibtidaiyah
di Era Milenial. Al-Asasiyya: Journal Basic of Education, vol. 03 (2), hlm. 161-
170.

Semadi, Yoga Putra. 2019. Filsafat Pancasila dalam Pendidikan di Indonesia Menuju
Bangsa Berkarakter. Jurnal Filsafat Indonesia, Vol. 2 (2), hal. 82-89.

Suaedi. 2016. Pengantar Filsafat Ilmu. Bogor: IPB Press

Sumaatmadja, Nursid. 2007. Konsep Dasar IPS. Modul 1-2. Jakarta: Universitas
Terbuka.

Sutono, Agus. 2015. Meneguhkan Pancasila sebagai Filsafat Pendidikan Nasional.


Jurnal Ilmiah CIVIS, Vol. 5 (1), hal. 666-678.