Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

“Pemanfaatan Bus MACYTO Sebagai Pembelajaran Karakter Lokal Lanskap


Perkotaan di Kota Malang Melalui Model Pembelajaran Living History”

Dosen Pengampu: Dr. Susanto, M.Hum.

Disusun oleh:

Mochamad Doni Akviansah (S862002011)

PASCASARJANA PENDIDIKAN SEJARAH

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2020
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pulau Jawa merupakan salah satu dari pulau-pulau terbesar pembentuk


Nusantara Timur yang wilayahnya cukup besar. Iklim tropis basah di Pulau Jawa
juga tergolong menguntungkan dan mendukung bagi kelangsungan hidup
masyarakat Jawa terutama dalam hal hasil alam dan keindahan Pulau Jawa. Pulau
Jawa memiliki berbagai kota-kota yang terdapat keindahan dan keunikan di setiap
wilayahnya, Stockdale dalam (Puspitorini & Ismanto, 2014:1-2). Hampir setiap
wilayah di Jawa mempunyai julukan berbeda-beda yang mengusung keindahan dan
keunikan. Salah satunya wilayah itu berada di Jawa bagian timur, tepatnya di Kota
Malang yang mempunyai julukan kota hunian dan peristirahatan.
Malang sebagai kota pedalaman (Inland City) yang dikembangkan sebagai
kota hunian dan peristirahatan. Malang juga mempunyai derajat pertumbuhan yang
lebih lambat namun terencana (lokasi geografisnya nyaman dan teduh). Kondisi
Malang semenjak adanya Undang-Undang Gula Tahun 1870, mendorong
pengembangan masuknya modal swasta asing ke Hindia sehingga menjadikan Kota
Malang sebagai kota pusat perkebunan yang cocok untuk kopi, kakao, dan teh
(Basundoro, 2009).
Malang sebagai Parijs van Oost-Java, Zwitserland van Java, Kota
Pendidikan, Kota Pelajar, dan Kota Bunga. Malang juga memiliki sebutan salah
satunya sebagai Kota Pariwisata. Istilah pariwisata berasal dari bahasa Sanksekerta
yang memiliki persamaan makna dengan tour, yang berarti berputar-putar dari satu
tempat ke tempat lain. Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa kata “Pariwisata”
terdiri dari dua suku kata yaitu “Pari” dan “Wisata”. Pari berarti banyak dan Wisata
berarti perjalanan atau bepergian. Kota Malang memiliki sebutan kota Pariwisata
karena memiliki daya tarik wisata tersendiri bagi para wisatawan yang berkunjung
ke Kota Malang. Malang menjadi sebuah kota Pariwisata dikarenakan memiliki
keunikan, keindahan, dan nilai yang berupa keanekaragaman, kekayaan alam,

1
2

budaya, serta hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau tujuan kunjungan
wisatawan (Suryadana & Octavia, 2015:30-31).
Kota Malang secara historis merupakan kawasan yang pernah dikuasai
Pemerintah Kolonial. Sejalan dengan ungkapan Handinoto (1996) bahwa kota
Malang sering disebut sebagai salah satu hasil perencanaan kota kolonial yang
terbaik di Hindia Belanda pada jamannya. Maka tak heran jika struktur kota dan
tatanan elemen perancangan kotanya kental dengan budaya Pemrintah Hindia
Belanda. Berdasarkan pemaparan tersebut, peranan sejarah lokal sangat penting
terhadap upaya pelestarian sejarah kota Malang. Akan tetapi, berbagai
permasalahan terkait sejarah lokal seringkali tidak menemui pemecahan masalah.
Sejarah Kota Malang kurang diminati oleh sebagian orang asli Malang. Akan
tetapi, para pendatang yang berwisata di Kota Malang juga terkadang kurang
mendapat informasi detail dan kurangnya pemahaman mengenai sejarah Malang.
Bahkan, mengenai karakter lokal lanskap kota Malang masih banyak yang belum
mengetahui. Sejarah lokal atau sejarah Malang sendiri hanya sekadar informasi saja
tanpa mengambil makna dari segala bentuk peninggalan bersejarah. Selama ini,
sejarah dianggap tidak penting dan dianggap hanya sebagai wisata hiburan saja.
Melihat kondisi dan situasi seperti ini, sudah seharusnya materi sejarah lokal
seharusnya sudah ditanamkan sebagai sebuah suplemen materi terhadap siswa.
Upaya seperti ini harus senantiasa dilakukan agar siswa mengetahui bahkan
mencintai daerah kawasan tempat tinggalnya. Upaya tersebut dapat dilakukan
dengan berbagai cara dan model pembelajaran. Oleh karena itu, penulis teratrik
untuk membahas lebih lanjut bagaimana memunculkan kembali karakter lokal
perkotaan di kota Malang dalam pendidikan sejarah di sekolah, dalam hal ini
penulis memfokuskan pada sekolah SMAN 4 Kota Malang.

1.2 Rumusan Masalah

(1) Bagaimana karakter lokal lanskap perkotaan di Kota Malang?


(2) Bagaimana peranan bus MACYTO sebagai upaya pelestarian sejarah lokal
Kota Malang?
(3) Bagaimana Model pembelajaran living history?
(4) Bagaimana pembelajaran karakter lokal lanskap perkotaan di Kota Malang
dengan bus MACITO melalui model pembelajaran living history?

1.3 Tujuan Penulisan

(1) Untuk mengetahui dan memahami secara lebih tentang karakter lokal
lanskap perkotaan di Kota Malang.
(2) Untuk mengetahui dan memahami secara lebih tentang peranan bus
MACYTO sebagai upaya pelestarian sejarah lokal Kota Malang.
(3) Untuk mengetahui dan memahami secara lebih tentang model pembelajaran
living history.
(4) Untuk mengetahui dan memahami secara lebih tentang pembelajaran
karakter lokal lanskap perkotaan di Kota Malang dengan bus MACITO
melalui model pembelajaran living history.

1.4 Manfaat Penulisan

(1) Memperoleh pengetahuan mengenai karakter lokal lanskap perkotaan di


Kota Malang.
(2) Memperoleh pengetahuan mengenai peranan bus MACYTO sebagai upaya
pelestarian sejarah lokal Kota Malang.
(3) Memperoleh pengetahuan mengenai model pembelajaran living history.
(4) Memperoleh pengetahuan mengenai pembelajaran karakter lokal lanskap
perkotaan di Kota Malang dengan bus MACITO melalui model
pembelajaran living history.

1
BAB II
PEMBAHASAN
Berdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan diatas, pada bab ini
dipaparkan mengenai:
2.1 Karakter Lokal Lanskap Perkotaan di Kota Malang
Kota malang telah dikenal sebagai salah satu hasil perencanaan kota
kolonial yang cukup indah. Hal ini dapat dibuktikkan dengan bangunan-
bangunan pada masa kolonial yang tetap bertahan hingga kini. Perkembangan
kota malang ini juga turut dijelaskan oleh Basundoro (2009) dalam bukunya
Dua Kota Tiga Zaman: surabaya dan Malang sejak Kolonial sampai
Kemerdekaan, yang mengatakan bahwa perkembangan Kota Malang dimulai
sejak Kota Malang menyandang status gemeente dan berkembang menjadi
stadsgemeente pada 1914. Pembangunan yang dilakukan terfokus pada tata
ruang dan sebagai ciri khas arsitektur kolonial yakni pemusatan pusat
pemerintahan satu wilayah dengan alun-alun Bunder pada saat itu.
Tak lupa juga peranan Thomas Karsten sebagai arsitek dari Kolonial yang
konsep perencanaan kota dan arsitekturnya lebih condong kearah kepentingan
umum atau sosial membuat Kota Malang menjadi sangat indah. Di Kota Malang
sendiri telah dibentuk dengan 8 rencana pembangunan atau yang biasa disebut
bouwplan. Karsten memasukkan beberapa elemen fisik kota di dalam
literaturnya (Indische Stedebouw), sebagai pengendali pembangunan kota,
seperti: Jalan, Taman-taman kota, Bangunan publik dan semi publik, titik-titik
penting sebagai pemandangan kota, dan Bangunan perumahan (Suryorini,
2010).
Karsten mengarahkan proyek perencanaan kota dan arsitekturnya kearah
realisasi pasca-kolonial atau imajinasinya kearah persatuan antara Timur dan
Barat. Maka tak heran jika ide-ide Karsten dalam membangun sebuah kota
selalu berusaha menggabungkan unsur kearifan lokal dan mengikuti tata ruang
kota yang sudah ada. Dalam membangun Kota Malang sendiri, Karsten
mengusung konsep city garden.
Dari sini, penulis dapat memahami bahwa karakter lanskap Kota Malang
sangatlah dipengaruhi sejarah pembentukan kotanya yang sempat menjadi

3
4

tempat singgah Pemerintah Belanda. Mulai dari tatanan kota, struktur


bangunannya, tatanan ruang terbukanya sangat kental dengan perpaduan Eropa.
Tentu saja kondisi alam dan warisan kolonialisme telah menjadi ciri khas yang
menjadikan Kota Malang memiliki karakter lokal.
Lebih lanjut, penulis disini memahami lanskap sebagai susunan representasi
visual pada daerah tanah atau bentang alam. Sehingga penulis ingin fokus
mengangkat materi sejarah sosial yang tampak secara visual hingga kini, yang
dalam hal ini adalah representasi visual Kota Malang. Menarik untuk dibahas
karena Kota Malang memiliki representasi visual yang unik nan indah. Karakter
lokal lanskap perkotaan Kota Malang juga akan menjadikannya sebuah identitas
kota yang akan mengadirkan ruang pandang pada kawasan padat penduduk.
Keberadaan identitas kota biasanya juga selalu berkaitan dengan relasinya
antara lingkungan dengan masyarakatnya karena dalam hal ini yang menjadikan
sebagai identitas kota biasanya ulah masyarakatnya sendiri.
Saat ini, kita bisa melihat struktur tatanan massa dan bangunan yang khas
menjadi karakter kota Malang dari wilayah sekitar alun-alun Merdeka. Tak
hanya itu, dengan ditetapkannya wilayah sekitar perempatan Kayutangan
sebagai kawasan kota tua, tentu saja hal ini menjadi sebuah identitas karakter
Kota Malang. Memang sejak dulu tahun 1935-1936 bangunan sekitar
perempatan Kayutangan dikatakan Kusdiwanggo (2004) dirancang fungsi
bangunan komersial, seperti ruko-ruko yang kita lihat saat ini dan perhotelan.
Apalagi baru-baru ini telah ditemukan jalur trem di kawasan perempatan
Kayutangan.
2.2 Peranan Bus MACYTO Sebagai Upaya Pelestarian Sejarah Lokal Kota
Malang
Perkembangan Kota Malang sebagai Kota Pariwisata kini semakin pesat
dan ada inovasi terbaru yaitu pemanfaatan bus Malang City Tour (MACYTO).
Bus ini merupakan wahana transportasi wisata sejarah yang ada di Kota
Malang. Bus Malang City Tour (MACYTO) ada mulai dari tahun 2015. Bus
Malang City Tour (MACYTO) menetap awal di depan gedung DPRD Kota
Malang. Mini keliling ini membuat warga Malang dan wisatawan luar kota
Malang bisa belajar sejarah dengan rute yang dilewatinya. Jadwal MACYTO
5

pada hari Senin hingga Jum’at khusus untuk para wisatawan dari luar Kota
Malang, sementara Sabtu dan Minggu khusus untuk warga Kota Malang.
Jadwal keberangkatan mulai pukul 09.00 WIB kecuali Hari Minggu berangkat
pukul 09.30 WIB.
Bus Malang City Tour (MACYTO) memiliki fasilitas unik yaitu bus dengan
posisi bertingkat yaitu atas dan bawah. Bus ini terdapat fasilitas pemandu
wisata yang akan memberikan beberapa informasi terkait sejarah Kota Malang.
Tour Guide menurut Kamus Bahasa Inggris adalah pemandu wisata. Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tour guide disebut pramuwisata yang
bertugas memberi petunjuk dan informasi yang diperlukan oleh wisatawan.
Pramuwisata adalah seseorang yang bertugas memberikan bimbingan,
penjelasan, dan petunjuk tentang objek wisata serta membantu keperluan
wisata lainnya (Wikipedia).
Tentu saja keunikan bus MACYTO akan menarik para wisatawan lokal
maupun pendatang dari luar Kota Malang. Lebih lanjut, dengan berkeliling
menggunakan bus ini, para penumpang akan diajak mengetahui sejarah lokal
kota malang, tepatnya karakter lokal lanskap perkotaan di Kota Malang.
Malang yang mempunyai karakter lanskap dengan ciri khas tatanan Eropa ini
sangat sayang jika dilewatkan begitu saja. Dengan adanya bus ini, karakter
lokal lanskap Kota Malang akan bisa dipahami banyak orang dengan sangat
menyenangkan. Tak jarang para tour guide juga mengajak bernyanyi para
penumpang. Jadi, peranan bus MACYTO ini menurut penulis cukup efektif
dalam mengenalkan sejarah lokal Kota Malang sendiri.
2.3 Model Pembelajaran Living History
Model pembelajaran living history merupakan model pembelajaran yang
memanfaatkan lingkungan sekitar dijadikan sebagai sumber belajar. Model ini
membimbing peserta didik untuk melakukan penelusuran peristiwa sejarah di
lingkungan sekitar tempat peserta didik menjalani kesehariannya. Model
pembelajaran Living history juga merupakan model pembelajaran kontruktivis
yang sesuai dengan kurikulum 2013 yang menekankan pada siswa sebagai
pusat. Diungkapkan oleh Mulyana dan Gunawan (2007: 243-244) bahwa
model pembelajaran living history ini erat kaitannya dengan studi sejarah lokal.
6

Dalam hal ini, keberlanjutan dari isu-isu materi sejarah di lingkungan sekitar
peserta didik menjadi konten daripada model pembelajaran living history ini.
Dilihat dari pengertian model pembelajaran ini, tampaknya akan terjadi
sebuah aktivitas dan suasana belajar yang menyenangkan karena peserta didik
dalam hal ini tidak hanya sebagai pengamat di luar cerita sejarah yang
dipelajari, namun bisa juga sebagai pelaku dan pengamat sejarah sekaligus.
Tentu hal ini akan cocok jika digunakan untuk mengajarkan materi sejarah
lokal yang ada di sekitar lingkungan peserta didik. Sehingga peserta didik akan
mempunyai gambaran bahwa kejadian-kejadian sejarah terjadi di lingkungan
sekitarnya.
Lebih lanjut, menurut Lévesque (2008) orientasi menyajikan sejarah lokal
ke peserta didik berguna untuk memposisikan peserta didik pada “situasi
kesejarahan” karena peristiwa yang disajikan adalah peristiwa yang berada di
lingkungan sekitar mereka. Selain itu, kehadiran sejarah lokal akan
menghadirkan sebuah diskursus baru dalam kegiatan pembelajaran sehingga
perspektif yang dibangun melalui sajian sejarah lokal dapat di internalisasi ke
dalam diri masing-masing peserta (Coffin, 2006). Tentu saja hal ini perlu
dikembangkan karena akan membuat peserta didik mempunyai keterikatan
emosional dengan materi yang sedang mereka pelajari.
Maka dari itu, model pembelajaran living history ini sangat cocok digunakan
untuk pembelajaran sejarah lokal. Berdasarkan sudut pandang sosiologis,
model pembelajaran ini dapat membawa peserta didik mengenal secara
langsung dan menghayati lingkungan masyarakatnya. Tentu saja hal ini akan
membuat peserta didik lebih peka terhadap lingkungannya.
Kegiatan lawatan ke tempat-tempat bersejarah merupakan salah satu wujud
dari model pembelajaran living history ini. Kegiatan lawatan sejarah seperti
yang kita ketahui secara tidak langsung akan membuat peserta didik senang
dikarenakan tidak hanya pengetahuan saja yang didapat. Peserta didik juga
akan merasakan rekreasi sekaligus dan akan terbangun juga inspirasi peserta
didik. Apalagi jika pembelajaran sejarah lokal disampaikan dengan
menggunakan model pembelajaran living history, tentu akan dapat
7

menggerakkan sikap dan perilaku peserta didik yang cinta tanah air, rela
berkorban, dan solidaritas tinggi.
Lebih lanjut, diungkapkan oleh Mulyana dan Gunawan (207: 1) bahwa
kedekatan emosional peserta didik dengan lingkungannya merupakan sumber
belajar yang berharga bagi terjadinya proses pembelajaran di kelas. Memang
jika di renungkan, pembelajaran sejarah akan lebih cepat dipahami dengan
melihat langsung kehidupan yang nyata daripada materi pelajaran yang
abstrak. Mengenai implementasi model pembelajaran living history sendiri
menurut Wawan Darmawan (dalam Agus M. dan Restu G, 2007:245) yang
mengutip pendapat Douch (1967) menawarkan 3 cara dalam
pengaplikasiannya, yakni; (1) mengambil contoh-contoh peristiwa lokal
sebagai ilustrasi yang lebih hidup dari uraian sejarah Nasional maupun sejarah
dunia yang diajarkan, (2) mengadakan kegiatan penjelajahan lingkungan
sehingga peserta didik mengamati secara langsung sumber-sumber sejarah
lokal disekitar lingkungannya, (3) studi khusus yang mendalam mengenai
berbagai aspek kesejarahan di lingkungan sekitar tempat tinggal peserta didik
seperti studi khusus mengenai perkembangan dan perubahan sosial dalam
kelompok masyarakat. Disini peserta didik akan belajar mengikuti prosedur
pnelitian seperti yang dilakukan para peneliti professional. Biasanya, dalam
studi khusus yang mendalam ini peserta didik berkelompok untuk melakukan
investivigasi terhadap objek sejarah.
Selain pengaplikasian oleh peserta didik, guru dalam model pembelajaran
ini juga harus memperhatikan beberapa tindakan, antara lain:
1. Saat pemilihan topik, guru wajib membimbing dalam memilih topik
yang sesuai dengan minat dan kemampuan peserta didik,
2. Membimbing peserta didik saat melakukan persiapan yang akan
dikerjakan di lapangan,
3. Membimbing peserta didik dalam penyusunan pedoman observasi dan
wawancara,
4. Membimbing peserta didik saat pelaksanaan penelusuran peristiwa
sejarah,
8

5. Membangun situasi kompetitif antar kelompok dan kekompakan antar


anggota kelompok,
6. Mengadakan diskusi kelompok untuk membahas mengenai pelaksanaan
model pembelajaran living history di lapangan,
7. Monitoring dan membantu, serta membimbing peserta didik jika ada
kesulitan dalam penelitian seperti dalam menginterpretasikan data yang
diperoleh di lapangan,
8. Membimbing peserta didik dala menyusung laporan hasil penelitian di
lapangan,
9. Memfasilitasi adanya diskusi kelas mengenai hasil penelitian.

2.4 Pembelajaran Karakter Lokal Lanskap Perkotaan di Kota Malang


dengan Bus MACITO Melalui Model Pembelajaran Living History
Seperti yang dijelaskan pada poin sebelumnya, model pembelajaran Living History
juga dapat dilakukan dengan cara mengajak peserta didik untuk melakukan kegiatan
lawatan sejarah. Dalam hal ini, akan sangat tepat jika kegiatan lawatan bersejarah ini
dilakukan di Kota Malang dengan memanfaatkan Bus MACYTO. Apalagi di Kota
Malang telah terdapat kawasan-kawasan bersejarah peninggalan colonial seperti yang
telah dijelaskan pada poin sebelumnya. Alhasil, materi mengenai sejarah lokal Kota
Malang akan mudah tersampaikan dan dipahami karena pembelajarannya
disampaikan melalui rekreasi yang edukatif.
Pembelajaran mengenai sejarah lokal Kota Malang, tepatnya yakni karakter lokal
lanskap perkotaan di Kota Malang ini diperlukan karena banyak wisatawan atau
pendatang, bahkan warga malang sendiri kurang tahu. Sehingga, pembelajaran ini
sangat diperlukan, terutama jika diajarkan pada generasi penerus agar mencintai Kota
Malang, dalam hal ini yakni peserta didik. Adanya pembelajaran seperti ini akan dapat
menggerakkan sikap dan perilaku peserta didik yang bertitik tekan pada nilai sejarah
(cinta tanah air, rela berkorban, sikap menghargai satu sama lain, dll).
Materi sejarah lokal mengenai karakter lokal lanskap perkotaan di Kota Malang ini
akan dapat dimasukkan dalam KD 3.7 Sejarah Peminatan kelas IX yakni tentang
respon bangsa Indonesia terhadap kolonialisme dan imperialisme. Nantinya,akan
dijelaskan terlebih dahulu mengenai konsep sejarah lokal. Lalu, materi karakter lokal
lanskap perkotaan di Kota Malang akan dibahas dengan apresepsi kedatangan Belanda
di Kota Malang. Selanjutnya, peserta didik disuruh menghimpun informasi mengenai
9

kedatangan bangsa Belanda di Kota Malang. Lalu berlanjut pada kegiatan lawatan
sejarah dengan Bus MACYTO, nantinya di tunjukkan bekas-bekas hunian dan
peninggalan kolonialisme di Kota Malang. Tour guide atau dalam hal ini guru nanti
yang akan memandu dan menjelaskan mengenai materi karakter lokal lanskap
perkotaan di Kota Malang sepanjang perjalanan dalam Bus MACYTO.
Selama kegiatan lawatan sejarah, peran guru selain memandu selama perjalanan,
guru juga harus mengawasi peserta didik dan mengarahkannya untuk mengumpulkan,
mengolah, dan menuliskan informasi. Dengan model pembelajaran yang seperti ini
yang dikolaborasikan dengan Bus MACYTO, materi akan cepat dimengerti oleh
peserta didik. Setelah kegiatan berlangsung, siswa diberi waktu untuk berdiskusi
dengan teman sebaya. Output yang dihasilkan nantinya adalah guru membimbing
peserta didik untuk mengolah informasi yang dapat menjadi sebuah makalah dan
meminta siswa untuk memaparkan kesimpulan dari pembelajaran tersebut. Guru
hendaknya juga melakukan refleksi. Lebih sederhananya, dapat diperhatikan dalam
bagan berikut ini.

Memberikan Mengakses
instruksi kepada informasi dari
siswa untuk internet
mengumpulkan, dan
mengolah, dan
seputar
menuliskan Kegiatan Inti peristiwa lokal
informasi dari di Kota Malang
kegiatan Lawatan
Sejaah dengan Bus
MACYTO di Kota
Malang

Membaca dan
menganalisis
sumber yang telah
Memberikan didapatkan dan
bimbingan kepada menuliskan hasil
siswa dalam analisis
melakukan diskusi
dengan teman sebaya
dan mengolah
informasi yang di
dapat menjadi sebuah Melakukan diskusi
makalah dengan teman
sebaya untuk
menambah
perspektif

Meminta siswa Memaparkan


untuk memaparkan kesimpulan dengan
Kegiatan Penutup serta membangun
kesimpulan dari
hasil analisisnya diskursus dari hasil
analisis teman
sebayanya
10

Untuk menghindarkan peserta didik pada saat lawatan kurang berkonsentrasi, guru
dan asisten tour guide harus senantiasa mengawasi dan selama kegiatan lawatan
sejarah, peserta didik tidak boleh memegang hp sama sekali. Jadi tindakan tegas harus
dilakukan oleh guru dan asisten tour guide untuk menghindari kejadian-kejadian
peserta didik yang kurang fokus. Alhasil, pembelajaran lebih efektif dan
menyenangkan, serta materi dapat tersampaikan dengan baik.
BAB III

PENUTUP

Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, berikut

dipaparkan (1) simpulan (2) saran.

3.1 Kesimpulan

Karakter lanskap Kota Malang sangatlah dipengaruhi sejarah pembentukan


kotanya yang sempat menjadi tempat singgah Pemerintah Belanda. Mulai dari
tatanan kota, struktur bangunannya, tatanan ruang terbukanya sangat kental
dengan perpaduan Eropa. Tentu saja kondisi alam dan warisan kolonialisme
telah menjadi ciri khas yang menjadikan Kota Malang memiliki karakter lokal.
Kini, untuk mengetahui sejarah lokal Kota Malang dapat memanfaatkan
Bus Malang City Tour (MACYTO). Bus MACYTO merupakan wahana
transportasi wisata sejarah yang ada di Kota Malang. Bus MACYTO ada mulai
dari tahun 2015. Mini keliling ini membuat warga Malang dan wisatawan luar
kota Malang bisa belajar sejarah dengan rute yang dilewatinya. Bus MACYTO
memiliki fasilitas unik yaitu bus dengan posisi bertingkat yaitu atas dan bawah.
Bus ini terdapat fasilitas pemandu wisata yang akan memberikan beberapa
informasi terkait sejarah Kota Malang.
Pembelajaran seperti ini dapat memanfaatkan model pembelajaran living
history. Model pembelajaran living history merupakan model pembelajaran
yang memanfaatkan lingkungan sekitar dijadikan sebagai sumber belajar.
Model ini membimbing peserta didik untuk melakukan penelusuran peristiwa
sejarah di lingkungan sekitar tempat peserta didik menjalani kesehariannya.
Model pembelajaran Living history juga merupakan model pembelajaran
kontruktivis yang sesuai dengan kurikulum 2013 yang menekankan pada siswa
sebagai pusat. Model pembelajaran living history ini sangat cocok digunakan
untuk pembelajaran sejarah lokal.

14
15

3.2 Saran

Makalah ini dapat dijadikan sebagai penambah wawasan atau pengetahuan


tentang Pemanfaatan Bus MACYTO Sebagai Pembelajaran Karakter Lokal
Lanskap Perkotaan di Kota Malang Melalui Model Pembelajaran Living History.
DAFTAR RUJUKAN

Agus Mulyana & Restu Gunawan. 2007. Sejarah Lokal, Penulisan dan
Pembelajaran di Sekolah. Bandung: Salamina.

Basundoro, Purnawan. 2009. Dua Kota Tiga Zaman Surabaya dan Malang Sejak
Kolonial sampai Kemerdekaan. Penerbit Ombak. Yogyakarta.

Coffin, C. 2006. Historical Discourse: The Language of Time, Cause, and


Evaluation. Continuum.

Kusdiwanggo, Susilo. 2004. Membaca Konfigurasi Gerak Ruang Urban pada


Perempatan Kayutangan Malang melalui Sifat Kegerbangan. Journal
RUAS, Volume 2 No.2.

Lévesque, S. 2008. Thinking Historically: Educating Students for The Twenty-


First Century. Buffalo : University of Toronto Press.

Robert Douch. 1967. Local History and the Teacher. London : Routledge and
Kegan. 1967.

Suryorini, A. C. 2010. Karsten dalam Perencanaan Kota dan Pemukiman di Kota


Malang. NALARs. Volume 9 No 2 , 117-138.

16