Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG

Genetika disebut juga ilmu keturunan, berasal dari kata genos (bahasa latin), artinya suku
bangsa-bangsa atau asal-usul. Secara “Etimologi”kata genetika berasal dari kata genos dalam
bahasa latin, yang berarti asal mula kejadian. Namun, genetika bukanlah ilmu tentang asal mula
kejadian meskipun pada batas-batas tertentu memang ada kaitannya dengan hal itu juga. Oleh
karena cara berlangsungnya alih informasi hayati tersebut mendasari adanya perbedaan dan
persamaan sifat diantara individu organisme, maka dengan singkat dapat pula dikatakan bahwa
genetika adalah ilmu tentang pewarisan sifat .

Genitika perlu dipelajari, agar kita dapat mengetahui sifat-sifat keturunan kita sendiri
serta setiap makhuk hidup yang berada dilingkungan kita. kita sebagai manusia tidak hidup
autonom dan terinsolir dari makhuk lain sekitar kita tapi kita menjalin ekosistem dengan mereka.
karena itu selain kita harus mengetahui sifat-sifat menurun dalam tubuh kita, juga pada
tumbuhan dan hewan. Lagi pula prinsip-prinsep genetika itu dapat disebut sama saja bagi seluruh
makluk. Karena manusia sulit dipakai sebagai objek atau bahan percobaan genetis, kita
mempelajari hukum-hukumnya lewat sifat menurun yang terkandung dalam tubuh-tumbuhan dan
hewan sekitar. Genetika bisa sebagai ilmu pengetahuan murni, bisa pula sebagai ilmu
pengetahuan terapan. Sebagai ilmu pengetahuan murni ia harus ditunjang oleh ilmu pengetahuan
dasar lain seperti kimia, fisika dan metematika juga ilmu pengetahuan dasar dalam bidang
biologi sendiri seperti bioselluler, histologi, biokimia, fiosiologi, anatomi, embriologi, taksonomi
dan evolusi. Sebagai ilmu pengetahuan terapan ia menunjang banyak bidang kegiatan ilmiah dan
pelayanan kebutuhan masyarakat.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Bagaimana asal mula genetika?


2. Apakah pengertian dari genetika?
3. Apa hubungan ilmu genetika dengan ilmu keperawatan?
4. Apa saja kelainan genetika?
5. Apakah manfaat dari ilmu genetika?

C. TUJUAN

Untuk memahami hubungan antara ilmu genetika dengan ilmu keperawatan dan
mengaplikasikannya dalam bidang keperawatan.

BAB II
1
ISI
A. SEJARAH PERKEMBANGAN GENETIKA

Sejarah perkembangan genetika sebagai ilmu pengetahuan dimulai menjelang akhir abad
ke 19 ketika seorang biarawan austria bernama Gregor Johann Mendel berhasil melakukan
analisis yang cermat dengan interpretasi yang tepat atas hasil-hasil percobaan persilangannya
pada tanaman kacang ercis (Pisum satifum). Sebenarnya, Mendel bukanlah orang pertama yang
melakukan percobaan- percobaan persilangan. Akan tetapi, berbeda dengan para pendahulunya
yang melihat setiap individu dengan keseluruhan sifatnya yang kompleks, Mendel mengamati
pola pewarisan sifat demi sifat sehingga menjadi lebih mudah untuk diikuti. Deduksinya
mengenai pola pewarisan sifat ini kemudian menjadi landasan utama bagi perkembangan
genetika sebagai suatu cabang ilmu pengetahuan, dan Mendelpun di akui sebagai bapak genetika.
Karya Mendel tentang pola pewarisan sifat tersebut dipublikasikan pada tahun
1866 di Proceedings of the Brunn Society for Natural History. Namun, selama lebih dari 30
tahun tidak pernah ada peneliti lain yang memperhatikannya. Baru pada tahun 1900 tiga orang
ahli botani secara terpisah, yaitu Hugo de Vries di belanda, Carl Correns di jerman dan Eric von
Tschermak-Seysenegg di Austria, melihat bukti kebenaran prinsip-prinsip Mendel pada
penelitian mereka masing-masing. Semenjak saat itu hingga lebih kurang pertengahan abad ke-
20 berbagai percobaan persilangan atas dasar prinsip-prinsip Mendel sangat mendominasi
penelitian di bidang genetika. Hal ini menandai berlangsungnya suatu era yang dinamakan
genetika klasik.

Selanjutnya, pada awal abad ke-20 ketika biokimia mulai berkembang sebagai cabang
ilmu pengetahuan baru, para ahli genetika tertarik untuk mengetahui lebih dalam tentang hakekat
materi genetik, khususnya mengenai sifat biokimianya. Pada tahun 1920-an, dan kemudian tahun
1940-an, terungkap bahwa senyawa kimia materi genetika adalah asam dioksiribonekleat (DNA).
Dengan ditemukannya model struktur molekul DNA pada tahun1953 oleh J.D.Watson dan F.H.C.
Crick dimulailah era genetika yang baru, yaitu genetika molekuler.

Perkembangan penelitian genetika molekuler terjadi demikian pesatnya. Jika ilmu


pengetahuan pada umumnya mengalami perkembangan dua kali lipat (doubling time) dalam satu
dasa warsa, maka hal itu pada genetika molekuler hanyalah dua tahun. Bahkan, perkembangan
yang lebih revolusioner dapat disaksikan semenjak tahun 1970-an, yaitu pada saat dikenalnya
teknologi manipulasi molekul DNA atau teknologi DNA rekombinan atau dengan istilah yang
lebih populer disebut rekayasa genetika.

Saat ini sudah menjadi berita biasa apabila organisme- organisme seperti domba, babi dan
kera, didapatkan melalui teknik rekayasa genetika yang disebut kloning . sementara itu, pada
manusia telah di lakukan pemetaan seluruh genom atau dikenal sebagai proyek genom manusia
(human genom project), yang diluncurkan pada tahun 1990 dan diharapkan selesai pada tahun
2005. ternyata pelaksaan proyek ini berjalan justru lebih cepat dua tahun dari pada jadwal yang
2
telah ditentukan.

B. PENGERTIAN GENETIKA

Genetika adalah bagian dari Biologi  yang mempelajari masalah gen, keturunan, dan variasi
makhluk hidup. Juga mengenai bagaimana proses seseorang melanjutnkan gen-gen miliknya
kepada anak-anaknya. Struktur molekul dan fungsi dari gen.   Misalnya saja tinggi, warna
rambut, warna kulit dan warna mata.

C. PERKEMBANGAN ILMU GENETIKA DIBIDANG KEPERAWATAN

Di Indonesia saat ini tampaknya ilmu genetika belum  menyentuh dunia pendidikan
keperawatan maupun praktik perawatan di pelayanan kesehatan. Kurikulum yang digagas para
ahli pendidikan keperawatan belum memasukkan ilmu genetika ini dalam kompetensi yang harus
dikuasai oleh mahasiswa, baik di tingkat pendidikan diploma maupun sarjana. Dengan
berjalannya waktu dan pesatnya perkembangan ilmu dan teknologi genetika, sudah saatnya ilmu
genetika dikenalkan kepada calon-calon perawat dan para perawat professional agar dapat
memberikan pelayanan perawatan yang komprehensif bagi klien baik dalam tindakan mandiri
maupun kolaboratif. Di dalam pendidikan khususnya pendidikan keperawatan, pengenalan ilmu
genetika kepada peserta didiknya dapat dimulai dengan memasukkan kompetensi genetika ini
terintegrasi dengan ilmu-ilmu lain yang sudah ada. Sebagai contohnya adalah  dengan
mengintegrasikan ilmu genetika ini ke dalam ilmu keperawatan anak dan maternitas,
keperawatan dewasa, keperawatan jiwa maupun keperawatan komunitas. Dengan demikian maka
peserta didik akan mulai mengenal apa itu genetika dan apa pentingnya dalam praktik
keperawatan. Bagi perawat professional yang sudah ada di tataran layanan kesehatan dapat
meningkatkan pengetahuannya tentang genetika melalui kegiatan-kegiatan seminar maupun
pelatihan-pelatihan yang mulai banyak diselenggarakan. Pada akhirnya, dengan peningkatan
pengetahuan perawat akan ilmu genetika berdampak pada  meningkatkan kualitas pelayanan 
perawat terhadap masyarakat

D. HUKUM MENDEL I DAN II

Hukum Mendel pertama di sebut juga Hukum Pemisahan atau Hukum Segregasi
(Segregation). Hukum Mendel I  menyatakan: ‘pembentukan gamet (sel kelamin), kedua gen
induk (Parent) yang merupakan pasangan alel akan memisah sehingga tiap-tiap gamet menerima
satu gen dari induknya.

Contoh dari terapan Hukum Mendell I adalah persilangan monohibrid


dengan dominansi. Persilangan dengan dominansi adalah persilangan
suatu sifat beda dimana satu sifat lebih kuat daripada sifat yang lain. Sifat
yang kuat disebut sifat dominan dan bersifat rlaku untuk persilangan
monohibrid (persilangan dengan satu sifat beda). menutupi, sedangkan

3
yang lemah/tertutup disebut sifat resesif. Sedangkan Sifat intermediet adalah sifat yang sama
kuat, jadi tidak ada yang dominan ataupun resesif.

Secara garis besar, hukum ini mencakup tiga pokok:

1. Gen memiliki bentuk-bentuk alternatif yang mengatur variasi pada karakter turunannya.
Ini adalah konsep mengenai dua macam alel; alel ressif (tidak selalu nampak dari luar,
dinyatakan dengan huruf kecil, misal w) dan alel dominan (nampak dari luar, dinyatakan
dengan huruf besar, misal R).
2. Setiap individu membawa sepasang gen, satu dari tetua jantan (misalnya ww dalam
gambar di sebelah) dan satu dari tetua betina (misalnya RR dalam gambar di sebelah).
3. Jika sepasang gen ini merupakan dua alel yang berbeda (Rr dan Ww), alel dominan (R
atau S) akan selalu terekspresikan (nampak secara visual dari luar). Alel resesif (r atau w)
yang tidak selalu terekspresikan, tetap akan diwariskan pada gamet yang dibentuk pada
turunannya.

Hukum Mendel pertama inilah yang memungkinkan kita mendapatkan bibit unggul dari
suatu tanaman setelah dilakukan beberapa kali penyilangan tanaman. Hukum Mendel kedua (2)
disebut juga Hukum  berpasangan bebas atau Hukum Asortasi bebas atau Hukum Independent
Assortment.  Jika hukum mendel 1 didasarkan pada pemisahan gen (Segregasi) maka hukum
mendel 2 ini berdasarkan pada berpasanga bebas. Yang maksudnya adalah: “bila dua individu
mempunyai dua pasang atau lebih sifat, maka diturunkannya sepasang sifat secara bebas, tidak
bergantung pada pasangan sifat yang lain. Dengan kata lain, alel dengan gen sifat yang berbeda
tidak saling memengaruhi. Hal ini menjelaskan bahwa gen yang menentukan e.g. tinggi tanaman
dengan warna bunga suatu tanaman, tidak saling memengaruhi.

Hukum Mendel 2 atau Hukum Berpasangan bebas mempunyai tiga konsep dasar, yaitu:

1. Konsep Backcross dan Testcross


Backcross (silang balik) adalah langkah silang antara F1 dengan salah satu induknya.
2. F1     x    salah satu induk (P)
Testcros (uji silang) adalah persilangan antara suatu individu yang genotifnya belum
diketahui dengan individu yang telah diketahui bergenotif homozigot resesif. Gunanya
untuk mengetahui apakah genotif suatu individu tersebut homozigot ataukah heterozigot.
3. x    homozigot resesif
Persilangan Resiprok
Persilangan resiprok adalah suatu persilangan dimana sifat induk jantan dan betina bila
dibolak-balik/dipertukarkan tetapi tetap menghasilkan keturunan yang sama.

Hukum mendel 2 atau hukum bebas berpasangan (berpasangan bebas ) atau Hukum Segregation
memberi kesempatan pada kita untuk mendapatkan tanaman yang bersifat unggul.

4
E. GANGGUAN GENETIKA

Gangguan genetik disebabkan oleh perubahan mutasi DNA yang dapat diturunkan karena
mutasi terjadi di sel ovum atau sel sperma.

Secara umum gangguan ini dikelompokan menjadi tiga kategori:

a. Gangguan Gen Tunggal

Gangguan genetik yang dapat dengan mudah dilacak dari generasi ke generasi, biasanya
adalah gangguan gen tunggal,yaitu hanya satu gen yang tidak berfungsi dengan baik.

b. Gangguan Multifaktorial

Seiring dengan pemahaman mengenai genetika dan gangguan terkait genetik, makin
disadari bahwa banyak penyakit pada manusia disebabkan oleh kombinasi faktor-faktor
lingkungan dan sejumlah gen. Risiko terjadinya penyakit multifaktorial ini sulit
diprediksi dibandingkan gangguan gen tunggal.

Kepentingan realtif dari kontribusi genetik terhadap kejadian penyakit dibandingkan


faktor lingkungan disebut heritabilitas, misalnya Skizofrenia memiliki heritabilitas 85%
yang berarti saudara atau keluarga dari seorang penderita Skizofrenia memiliki
kemungkinan tinggi untuk terkena Skizofrenia.

Gen tunggal
Multifaktorial

Risikonya sama pada saat lahir dan Risiko meningkat sepanjang hidup.
pada kehidupan selanjutnya.

Fenotipe dapat diprediksi. Fenotipe bervariasi.


Adanya genotipe muatan Adanya kadar ambang gen muatan
menyebabkan penyakit . diperlukan agar penyakit
bermanifestasi.

~Tabel heritabilitas gen tunggal dan gangguan multifaktorial.

c. Abnormalitas kromosom

Abnormalitas kromosom menyebabkan banyak penyakit genetik dan meliputi perubahan


jumlah kromosom dan struktur kromosom tersebut.

5
Perubahan jumlah kromosom disebabkan oleh kromosom yang tidak terpisah dengan
benar saat meiosis atau mitosis, misalnya Sindrom Down, Sindrow Fragil, Korea
Huntington, Sindrom Turner.

Penyakit Penyebab Insidensi

Sindrom Down Trisomi 21 1 pada 650 kelahiran, insidensi


meningkat sesuai usia ibu
Sindrom X fragil Kodon berulang pada kromosom 1 pada 2000 pria
X
Korea huntington Kodon berulang pada kromosom 1 pada 10.000
4
Sindrom Turner Tidak ada kromosom Y 1 pad 2500 wanita

Mutasi

Selama proses replikasi DNA, kadang-kadang terjadi kesalahan dalam polimerisasi untai
kedua. Kesalahan ini, yang disebut mutasi, dapat memiliki dampak pada fenotipe organisme,
terutama jika mereka terjadi dalam urutan pengkode protein dari gen. Tingkat kesalahan biasanya
kesalahan yang sangat rendah-1 di setiap 10-100 juta basis-karena kemampuan "proofreading"
dari DNA polimerase. (Tanpa proofreading tingkat kesalahan seribu kali lipat lebih tinggi, karena
banyak virus bergantung pada polimerase DNA dan RNA yang kekurangan kemampuan
proofreading, mereka mengalami tingkat mutasi yang lebih tinggi.) Proses yang meningkatkan
laju perubahan dalam DNA disebut mutagenik: bahan kimia mutagenik mempromosikan
kesalahan dalam replikasi DNA, sering dengan mengganggu struktur dasar-pasangan, sedangkan
radiasi UV menginduksi mutasi dengan menyebabkan kerusakan pada struktur DNA. Kimia
kerusakan DNA terjadi secara alami juga, dan sel-sel menggunakan mekanisme perbaikan DNA
untuk memperbaiki ketidaksesuaian dan istirahat dalam DNA-bagaimanapun, perbaikan kadang-
kadang gagal untuk kembali DNA untuk urutan aslinya.

Dalam organisme yang menggunakan DNA kromosom silang pertukaran dan gen
bergabung kembali, kesalahan dalam keselarasan selama meiosis juga dapat menyebabkan
mutasi. Kesalahan dalam pindah silang terutama mungkin ketika urutan yang sama menyebabkan
kromosom mitra untuk mengadopsi keselarasan salah; ini membuat beberapa daerah dalam
genom lebih rentan untuk bermutasi dengan cara ini. Kesalahan ini membuat perubahan
struktural besar dalam urutan DNA-duplikasi, inversi atau penghapusan seluruh daerah, atau
disengaja bertukar seluruh bagian antara kromosom yang berbeda (disebut translokasi).
6
F. MANFAAT GENETIKA

Sebagai ilmu pengetahuan dasar, genetika dengan konsep-konsep di dalamnya dapat


berinteraksi dengan berbagai bidang lain untuk memberikan kontribusi terapannya.

1. Pertanian

Di antara kontribusinya pada berbagai bidang, kontribusi genetika di bidang


pertanian, khususnya pemuliaan tanaman dan ternak, boleh dikatakan paling tua.
Persilangan-persilangan konvensional yang dilanjutkan dengan seleksi untuk merakit
bibit unggul, baik tanaman maupun ternak, menjadi jauh lebih efisien berkat bantuan
pengetahuan genetika. Demikian pula, teknik-teknik khusus pemulian seperti mutasi,
kultur jaringan, dan fusi protoplasma kemajuannya banyak dicapai dengan pengetahuan
genetika. Dewasa ini beberapa produk pertanian, terutama pangan, yang berasal dari
organisme hasil rekayasa genetika atau genetically modified organism (GMO) telah
dipasarkan cukup luas meskipun masih sering mengundang kontroversi tentang
keamanan.

Contoh lain dari perkembangan ilmu genetika dibidang pertanian adalah di


temukanya cara baru dalam mengatasi serangga hama yaitu dengan cara perakitan
tanaman tahan serangga hama melalui teknik rekayasa genetik. Salah satu kendala dalam
produksi suatu komoditas tanaman di negara yang beriklim tropis dan lembab adalah
serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) seperti serangga hama dan patogen
tumbuhan. Bahkan pada tanaman tertentu seperti padi.

Serangga hama masih merupakan kendala utama dan menjadi masalah serius,
misalnya wereng coklat dan peng-gerek batang. Di negara tertentu se-perti Amerika
Serikat (AS), kerugian akibat kerusakan yang ditimbulkan serangga hama seperti
penggerek jagung dan penggerek buah kapas bisa mencapai jutaan dolar AS. Usaha
pengendalian yang biasa dilakukan petani adalah menggunakan cara bercocok tanam
yang tepat yang meliputi varietas tahan dan pergiliran tanaman, serta penyemprotan
insektisida.

2. Kesehatan

Salah satu contoh klasik kontrubusi genetika di bidang kesehatan adalah diagnosis
dan perawatan penyakit fenilketonurani (PKU). Penyakit ini merupakan penyakit
menurun yang disebabkan oleh mutasi gen pengatur katabolisme fenilalanin sehingga
timbunan kelebihan fenilalanin akan dijumpai di dalam aliran darah sebagai derivat-
derivat yang meracuni sistem syaraf pusat. Dengan diet fenilalanin yang sangat ketat,
dapat terhindar dari penyakit PKU.

Beberapa penyakit genetika lainnya telah dapat diatasi dampaknya dengan cara

7
seperti itu. Meskipun demikian, hingga sekarang masih banyak penyakit yang menjadi
tantangan para peneliti dari kalangan kedokteran dan genetika untuk menanganinya
seperti perkembangannya resistensi bakteri patogen terhadap antibiotok, penyakit-
penyakit kanker, dan sindrom hilangnya kekebalan bawaan atau acquired
immunodeficiency syndrome (AIDS) Contoh lain dari perkembangan ilmu genetika
dibidang kesehatan adalah proyek genom manusia yang dipelopori oleh amerika serikat
dimana proyek ini akan menguraikan 100.000 gen manusia. Diperkirakan pada abad 21
mendatang akan muncul bidang kedokteran baru yang disebut ilmu kedokteran prediktif
(predictive medicine). Munculnya ilmu kedokteran tersebut di mungkinkan karena pada
abad 21 mendatang, diperkirakan seluruh informasi dari genom manusia yang
mengandung 100.000 gen akan teridentifikasi. Dengan diketahuinya genom manusia
dapat digunakan memprediksi berbagai penyakit, artinya dengan ilmu kedoktran prediktif
dapat diketahui kemungkinan seseorang mengalami kanker payudara atau kanker calon
rental dengan melakukan analisa terhadap kombinasi gen-gen yang dipunyai orang
tersebut.

3. Industri farmasi

Teknik rekayasa genetika memungkinkan dilakukannya pemotongan molekul


DNA tertentu. Selanjutnya, fragmen-fragmen DNA hasil pemotongan ini disambungkan
dengan molekul DNAlain sehingga terbentuk molekul DNA rekombinan. Apabila
molekul DNA rekombinan dimasukkan kedalam suatu sel bakteri yang sangat cepat
pertumbuhannya, misalnya Escherichia coli, maka dengan mudah akan diperoleh salinan
molekul DNA rekombinan dalam jumlah besar dan waktu yang singkat. Jika molekul
DNA rekombinan tersebut membawa gen yang bermanfaat bagi kepentingan manusia,
maka berarti gen ini telah diperbanyak dengan cara yang mudah dan cepat. Prinsip kerja
semacam ini telah banyak di terapkan diberbagai industri yang memproduksi biomolekul
penting seperti insulin, interferon, dan beberapa hormon pertumbuhan.

4. Hukum

Sengketa dipengadilan untuk menentukan ayah kandung bagi seorang anak secara
klasik sering diatasi melalui pengujian golongan darah. Pada kasus-kasus tertentu cara ini
dapat menyelesaikan masalah dengan cukup memuaskan, tetapi tidak jarang hasil yang
diperoleh kurang meyakinkan. Belakangan ini dikenal cara yang jauh lebih canggih, yaitu
uji DNA. Dengan membandingkan pola restriksi pada molekul DNA anak,ibu, dan orang
yang dicurigai sebagai ayah kandung anak, maka dapat diketahui benar tidaknya
kecurigaan tersebut.

Dalam kasus-kasus kejahatan seperti pembunuhan, pemerkosaan, dan bahkan


teror pengeboman, teknik rekayasa genetika dapat diterapkan untuk memastikan benar
tidaknya tersangka sebagai pelaku. Jika tersangka masih hidup pengujian dilakukan

8
dengan membandingkan DNA tersangka dengan DNA objek yang tertinggal di tempat
kejadian, misalnya rambut atau sperma. Cara ini dikenal sebagai sebagia sidik jari DNA
(DNA finger printing). Akan tetapi, jika tersangka mati dan tubuhnya hancur, maka DNA
dari bagian-bagian tubuh tersangka dicocokkan pola restruksinya dengan DNA kedua
orang tuanya atau saudara-saudaranya yang masih hidup.

5. Kemasyarakatan dan kemanusiaan

Di negara-negara maju, terutama di kota-kata besarnya, dewasa ini dapat dijumpai


klinik konsultasi genetik yang antara lain berperan dalm memberikan pelayanan
konsultasi perkawinan. Berdasarkan atas data sifat-sifat genetik, khususnya penyakit
genetik, pada kedua belah pihak yang akan menikah, dapat dijelaskan berbagai
kemungkinan penyakit genetik yang akan diderita oleh anak mereka, dan juga besar
kecilnya kemungkinan tersebut.

Contoh kontribusi pengetahuan genetika di bidang kemanusiaan antara lain dapat


di lihat pada gerakan yang dinamakan eugenika, yaitu gerakan yang berupaya untuk
memperbaiki kualitas genetika manusia. Jadi, dengan gerakan ini sifat-sifat positif
manusia akan di kembangkan, sedangkan sifat-sifat negatifnya ditekan. Di berbagai
negara, terutama di negara-negara berkembang, gerakan eugenika masih sering dianggap
tabu. Selain itu, ada tantangan yang cukup besar bagi keberhasilan gerakan ini karena
pada kenyataannya orang yang tingkat kecerdasannya tinggi dengan status sosial
ekonomi yang tinggi pula biasanya hanya mempunyai anak sedikit. Sebaliknya, orang
dengan tingkat kecerdasan dan status sosial-ekonomi rendah umumnya justru akan
beranak banyak.

BAB III
PENUTUP

9
KESIMPULAN
Genetika disebut juga ilmu keturunan, berasal dari kata genos (bahasa latin), artinya suku
bangsa-bangsa atau asal-usul. Secara “Etimologi”kata genetika berasal dari kata genos dalam
bahasa latin, yang berarti asal mula kejadian. Genitika adalah ilmu yang mempelajari seluk beluk
alih informasi hayati dari generasi kegenerasi. Oleh karena cara berlangsungnya alih informasi
hayati tersebut mendasari adanya perbedaan dan persamaan sifat diantara individu organisme,
maka dengan singkat dapat pula dikatakan bahwa genetika adalah ilmu tentang pewarisan sifat.

Karya Mendel tentang pola pewarisan sifat tersebut dipublikasikan pada tahun 1866 di
Proceedings of the Brunn Society for Natural History. Namun, selama lebih dari 30 tahun tidak
pernah ada peneliti lain yang memperhatikannya. Baru pada tahun 1900 tiga orang ahli botani
secara terpisah, yaitu Hugo de Vries di belanda, Carl Correns di jerman dan Eric von Tschermak-
Seysenegg di Austria, melihat bukti kebenaran prinsip-prinsip Mendel pada penelitian mereka
masing-masing. Semenjak saat itu hingga lebih kurang pertengahan abad ke-20 berbagai
percobaan persilangan atas dasar prinsip-prinsip Mendel sangat mendominasi penelitian di
bidang genetika. Hal ini menandai berlangsungnya suatu era yang dinamakan genetika klasik.

Seiring berkembangnya jaman, ilmu genetika semakin mengalami perkembangan bahkan


ilmu genetika sudah banyak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dalam berbagai bidang
diantaranya pertanian, kesehatan, industri farmasi, hukum serta kemasyarakatan dan
kemanusiaan.

DAFTAR PUSTAKA
Anonymous.2002. Genetika dasar. http www.Buletin AgroBio.co.id.

Anonymous.2009. Genetika.http.wikipedia.com.

Anonymous.2009. Sejarah Genetika. http://open door.com. di askes tanggal 13 maret 2009.

10
Anonymous.2009. Faktor Genetika Pada Skizofrenia. www. Skizofrenia.com. Aminullah, Erman.
20009. Perkembangan Penerapan Bioteknologi dan Rekayasa Genetika Dalam Kesehatan.
www.portalkable/files/cdk/html.diakses pada tanggal 12 Maret 2009.

Moeljopawiro, Sugiono. 2001. Paradigma Baru Pemanfaatkan Sumberdaya Genetika Untuk


Pembangunan Genetika Pertaniaan. www.bioteknologi untuk indonesia abad 21. di akses pada 10
Maret 2009

Neil Campbell. 2002. Biologi. Erlangga: Jakarta

Suryo.1992.Genetika Strata 1. Universitas Gajah Mada: Jogjakarta

http://id.shvoong.com/exact-sciences/zoology/2099364-definisi-genetika/#ixzz26QNgHS5a

James, Joyce dkk.2008. Prinsip-Prinsip Sains untuk Keperawatan. Jakarta : Erlangga.

Afifahnurul113@yahoo.co.id

Afifahnurulzahra@hotmail.com

11