Anda di halaman 1dari 26

ANALISA PASAL KODE ETIK 73-80

MATA KULIAH KODE ETIK

Oleh :

Mattsania Ayu Sarah M 20.E3.0056


Rezkha Tiara 20.E3.0059

PROGRAM PASCASARJANA FAK. PSIKOLOGI (PIO)


UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA
SEMARANG
2020
PASAL 73
INFORMED CONSENT DALAM KONSELING DAN TERAPI
Pasal 73 : Informed Consent Dalam Konseling Dan Terapi
1. Kewajiban menyampaikan infomed consent
Konselor/Psikoterapis wajib menghargai hak pengguna layanan psikologi
untuk melibatkan diri atau tidak melibatkan diri dalam proses konseling
psikologi/psikoterapi sesuai dengan azas kesediaan. Oleh karena itu sebelum
konseling/psikoterapi dilaksanakan, konselor/psikoterapis perlu mendapatkan
persetujuan tertulis (Informed Consent) dari orang yang menjalani layanan
psikologis. Persetujuan tertulis ditandatangani oleh klien setelah mendapatkan
informasi yang perlu diketahui terlebih dahulu.

2. Kondisi yang harus dipenuhi bagi klien yang akan mengisi nformed
consent
Isi dari Informed Consent dapat bervariasi tergantung pada jenis tindakan
konseling psikologi atau terapi psikologi yang akan dilaksanakan, tetapi secara
umum menun-jukkan bahwa orang yang menjalani yang akan menandatangani
Informed Consent tersebut memenuhi persyaratan sebagai berikut:
 Mempunyai kemampuan untuk menyatakan persetujuan.
 Telah diberikan informasi yang signifikan mengenai konseling
 Persetujuan dinyatakan secara bebas tidak dipengaruhi orang sekitar

3. Hal yang perlu diinformasikan sebelum menjalani konseling


Informed Consent didokumentasikan sesuai prosedur yang tetap. Hal-hal yang
perlu diinfor-masikan sebelum persetujuan konseling/terapi ditandatangani oleh
orang yang akan menjalani Konseling Psikologi/Psikoterapi adalah sebagai
berikut:
 Proses Konseling Psikologi/Psikoterapi, 
 Tujuan yang akan dicapai,
 Biaya, 
 Keterlibatan pihak ketiga jika diperlukan, 
 Batasan kerahasiaan, 
 Memberi kesempatan pada orang yang akan menjalani
Konseling/Terapi untuk mendiskusikannya sejak awal
4. Penjelasan mengenai sifat dari konseling atau terapi
Hal-hal yang berkaitan dengan sifat konseling psikologi/psikoterapi seperti
kemungkinan ada-nya sifat tertentu yang dapat berkembang dari proses konseling
atau terapi, risiko yang potensial muncul, psikoterapi lain sebagai alter-natif dan
kerelaan untuk berpartisipasi dalam proses konseling psikologi/psikoterapi.

5. Memberikan informasi dalam informed consent jika konselor masih


dalam pelatihan
Jika Konselor/Terapis masih dalam pelatihan dan dibawah supervisi, hal ini
perlu diberitahukan kepada orang yang akan menjalani konseling dan hal ini harus
menjadi bagian dari prosedur informed consent.

Contoh kasus pasal 73 :


Dalam kasus http://asmianifawziah.blogspot.com/2012/11/kasus-pelanggaran-kode-
etik-psikologi.html

ANALISA KASUS
Informed Consent dalam Konseling dan Terapi
(1) Konselor/Psikoterapis wajib menghargai hak pengguna layanan psikologi untuk
melibatkan diri atau tidak melibatkan diri dalam proses konseling
psikologi/psikoterapi sesuai denganazas kesediaan. Oleh karena itu sebelum
konseling/psikoterapi dilaksanakan, konselor/psikoterapis perlu mendapatkan
persetujuan tertulis (Informed Consent) dari orang yang menjalani layanan
psikologis. Persetujuan tertulis ditandatangani oleh klien setelah mendapatkan
informasi yang perlu diketahui terlebih dahulu.
 Dalam kasus, tidak ada draft kontrak antara ibu anak tersebut dengan
psikolog sehingga ibu kesulitan untuk melaporkan kepada pihak yang
berwajib tentang persoalan ini.
 Selain melanggar pasal-pasal dalam kode etik tersebut, kasus diatas juga
tidak memiliki izin praktek dari HIMPSI.

Solusi yang disarankan untuk kasus ini adalah


 Melaporkannya kepada HIMPSI daerah dimana biro psikologi itu berdiri dan
akan ditindak lanjuti oleh majelis psikologi sesuai dengan pasal 3 ayat 2 kode
etik psikologi Indonesia
 Melaporkannya kepada pihak yang berwajib dengan membawa hasil tes anak
yang didiagnosa autis tersebut dan membandingkannya dengan hasil tes anak
yang didiagnosa slow learned.
 Melakukan tes ulang pada psikolog yang berbeda tentang hambatan
perkembangan yang dialami oleh anak, karena mungkin saja si anak
mengalami autis atau slow learned atau gangguan yang lainnya.
 Ketika mengunjungi psikolog atau suatu biro psikologi, harap memperhatikan
SIP dan No Praktek dari psikolog atau biro psikologi yang bersangkutan yang
dikeluarkan oleh HIMPSI pusat
 Harus meminta adanya informed consent jika klien harus melakukan terapi
agar memudahkan antara psikolog dank lien.
PASAL 74
KONSELING PSIKOLOGI/ PSIKOTERAPI YANG MELIBATKAN
PASANGAN ATAU KELUARGA

Pasal 74 : Memberikan Konseling dan Terapi untuk Keluarga dan Pasangan


Ketika psikolog memberikan jasa konseling psiko-logi/psikoterapi pada beberapa
orang yang memiliki hubungan keluarga atau pasangan (misal: suami istri, significant
others, atau orangtua dan anak) maka perlu diperhatikan beberapa prinsip dan
klarifikasi mengenai hal-hal sebagai berikut:
 Menetukan peran yang jelas dari awal
Siapa yang menjadi pengguna layanan psikologi tersebut, peran dan hubungan
psikolog bagi masing-masing orang yang terlibat dan/atau dilibatkan dalam
proses terapi.
 Ketentuan penggunaan dan informasi yang diperoleh bagi setiap orang yang
terlibat
Kemungkinan penggunaan layanan dan informasi yang diperoleh dari masing-
masing orang atau keluarga yang terlibat dalam proses terapi dengan
memperhatikan azas kerahasiaan. (lihat Bab V buku kode etik ini tentang
Kerahasiaan).
 Menghindari hubungan yang majemuk jika memberikan dampak buruk
Jika secara jelas psikolog harus bertindak dalam peran yang bertentangan
(misal sebagai terapis keluarga dan kemudian menjadi saksi untuk salah satu
pihak dalam kasus perceraian), psikolog perlu mengambil langkah dalam
menjelaskan atau memodifikasi, atau menarik diri dari peran-peran yang ada
secara tepat. (lihat pasal 16 tentang Hubungan Majemuk dan pasal 60 tentang
Peran Majemuk dalam Forensik buku Kode Etik ini).

CONTOH KASUS PASAL 74


Kudus-Belakangan ini muncul seorang psikolog yang melakukan praktik
kepada keluarganya sendiri. A adalah seorang psikolog ternama dan terhandal. Dia
mempunyai seorang bapak yang bermasalah dengan kejiwaan (szikofernia). lalu
bapak tersebut di bawa oleh ibu ke biro psikologi si A karena ibunya percaya dan ia
berharap di tangani sendiri oleh anaknya yang terhandal tersebut bisa pulih kembali.
Setelah di bawa ke si A, untuk menenangkan hati seorang ibu dia mengatakan bahwa
bapaknya tidak sampai ke tahap sakit jiwa. Si bapak diberi terapis dan layanan dari
pengalaman yang dia dapat serta memberi obat-obatan untuk mengatasi penyakit
yang di derita dengan sekuat tenaga tanpa meminta bantuan atau alih psikolog lainya
demi menyembuhkan orang tuanya sendiri. Tetapi setelah lama menjalankan
pengobatan sampai sembuh kembali ternyata hasil yang di lakukan A tidak valid.
Karena dia melakukan pelayanan hanya berdasarkan hubungan dan pengalaman.
Sebagai seorang psikolog kita harus bisa bekerja secara profesional dan tetap menjaga
peraturan yang berlaku dalam kode etik,dalam melakukan konseling, psikolog harus
memiliki kompetensi dan kualifikasi untuk menjalankan terapis, bagaimanpun juga
kita sebagai orang yang dipercayai untuk dapat membantu menyelesaikan masalah
klien dan sebagai seorang psikolog maka kita pun mempunyai keharusan untuk
berhati-hati. Kalau belum berkompeten di bidang tersebut seharusya jangan
melakukannya, karena kita sudah di beri kepercayaan dari si klien, dan kita sebaiknya
menjaga kepercayaan tersebut, dan dalam melayani konseling seorang konselor harus
profesional dan tidak berat sebelah (subyektif) tapi harus apa adanya (objektif) dalam
memberikan pelayanan meskipun dengan keluarga sendiri.
Jika kasus di atas si A di katakan seorang psikolog maka bisa dipastikan
bahwa A bersalah dan bisa dikatakan pelanggaran kode etik, dimana A yang seorang
psikolog telah memberikan informasi kepada klien dengan informasi yang subyektif
karena hanya suatu hubungan kekeluargaan dan dalam penanganannya si A ini telah
melenceng dari ranahnya sebagai seorang psikolog yang seharusnya seharusnya si
klien sudah di layani oleh dokter jiwa, dari kasus itu banyak akibat yang di timbulkan
jika pelanggaran kode etik itu terus di lakukan, akan membuat si klien mendapat
dampak yang buruk dan akan membuat nama psikologi menjadi kotor di mata banyak
pihak.
https://choirulalfa.blogspot.com/2019/03/contoh-menterapis-dikalangan-
keluarga.html

ANALISA KASUS
Psikolog dan atau Ilmuwan Psikologi wajib memperhatikan prinsip-prinsip
yang ada dalam kode etik. Pemberian informaasi mengenai pengguna layanan
psikologi atau orang yang menjalani pemeriksaan psikologi yang diperoleh Psikolog
dan atau Ilmuwan Psikologi dalam rangka pemberian layanan Psikologi, hendaknya
mematuhi hal-hal sebagai berikut; (a) dapat memberi layanan kepada seseorang yang
mempunyai hubungan dengan mematuhi prinsip-prinsip yang ada, (b) memberi
informasi kepada klien secara objektive walaupun dengan klien yang mempunyai
hubungan (c) jika mendapat kien yang sudah tidak dalam ranah psikologi seharusnya
tidak di layani.
Memberikan informasi yang subyektif hanya karena ada hubungan
kekeluargaan dan memberikan pelayanan yang seharusnya tidak di berikan, sehingga
menimbulkan pelanggaran Kode Etik Psikologi pada Bab XIV Pasal 72 dan 74,
mengenai kualifikasi konselor psikoterapis dan konseling yang melibatkan keluarga.

JENIS PELANGGARAN
Kasus ini termasuk pelanggaran berat, tindakan yang dilakukan oleh seorang
Psikolog dan/ atau Ilmuan Psikologi yang secara sengaja memberikan inforrmasi
yang subjektiv dan memberikan pelayanan yang salah,proses maupun hasil yang
mengakibatkan kerugian bagi salah satu antara lain; (a) ilmu psikologi, (b) profesi
psikologi, (c) pengguna jasa layanan psikologi, (d) individu yang menjalani
pemeriksaan psikologi, dan (e) pihak-pihak yang terkait dan masyarakat
umumnya. Pelanggaran tentang jenis pelanggaran dan sanksi akan diatur dalam
aturan tersendiri.
Didalam kasus ini psikolog memberikan inforrmasi yang subjektiv dan
memberikan pelayanan yang tidak seharusnya dia berikan.

PENYELESAIAN MASLAH
            Jika seseorang sudah di katakan sebagai psikolog, dia harus bisa mentaati
peraturan yang ada pada profesi yang di geutinya,dalam hal ini yaitu  KODE
ETIK,walaupun niatnya baik dalam kasus di atas tapi efek yang di timbulkan akan
lebih menambah masalah,jadi jika ada kasus yang seperti di atas sebaiknya seorang
psikolog harus menjalankan apa yang ada dalam kode etik, walaupun pelanggarannya
di lakukan dengan tujuan untuk kebaikan
PASAL 75
KONSELING KELOMPOK DAN TERAPI KELOMPOK

Pasal 75 : Konseling Kelompok Dan Terapi Kelompok


Psikolog memberikan konseling psikologi/psikoterapi pada beberapa orang dalam
satu kelompok, psikolog harus mempertimbangkan beberapa hal:
 Kondisi klien dalam kaitannya dengan konseling/
 Jenis terapi kelompok yang akan dilaksanakan
 Menjelaskan peran dan tanggungjawab semua pihak serta batas
kerahasiaannya.
PASAL 76
PEMBERIAN KONSELING PSIKOLOGI/ PSIKOTERAPI BAGI YANG
MENJALANI KONSELING PSIKOLOGI/ PSIKOTERAPI SEBELUMNYA

Pasal 76 : Pemberian Konseling / Psikoterapi Bagi yang Pernah Mendapatkan


Konseling / Terapi Sebelumnya
Psikolog saat memutuskan untuk menawarkan atau memberikan layanan kepada
orang yang akan menjalani konseling psikologi/psikoterapi yang sudah pernah
mendapatkan konseling psikologi/psikoterapi dari sejawat psikolog lain, harus
mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:
a) Menghindari potensi adanya konflik dengan terapi terdahulu
Psikolog tersebut perlu berhati-hati dalam mempertimbangkan keberpihakan
kepada kesejahteraan orang yang menjalani proses konseling/psikoterapi serta
menghindari potensi konflik dengan psikolog yang sebelumnya telah
memberikan layanan yang sama.
b) Mendiskusikan konseling yang dijalani dengan orang lain yang mewakili
klien untuk menghindari kebingungan
Psikolog perlu mendiskusikan isu perawatan atau konseling psikologi
/psikoterapi dan kesejahteraan orang yang menjalani kon-seling
psikologi/psikoterapi dengan pihak lain yang mewakili orang yang menjalani
konseling psikologi/psikoterapi tersebut dalam rangka meminimalkan risiko
kebi-ngungan dan konflik.
c) Mendiskusikan dengan psikolog yang memberikan terapi sebelumnya
Jika memungkinkan, psikolog mengkomu-nikasikan kepada psikolog pemberi
layanan praktik sebelumnya kemudian melanjutkan secara hati-hati serta peka
pada isu-isu terapeutik.
PASAL 77
PEMBERIAN KONSELING PSIKOLOGI/ PSIKOTERAPI KEPADA
MEREKA YANG PERNAH TERLIBAT KEINTIMAN/ KEAKRABAN
SEKSUAL
Pasal 77 : Pemberian Konseling Psikologi/ Psikoterapi Kepada Mereka Yang
Pernah Terlibat Keintiman/ Keakraban Seksual
1) Psikolog tidak terlibat keintiman/keakraban seksual dengan orang yang
sedang menjalani pelayanan konseling psikologi/psikoterapi.
2) Psikolog tidak terlibat dalam keintiman sek-sual dengan orang yang diketahui
memiliki hubungan saudara, keluarga atau significant others dari orang yang
akan diberi konseling psikologi/psikoterapi dan psikolog juga tidak
diperkenankan mengakhiri konseling psikologi/psikoterapi untuk alasan agar
dapat terlibat dalam keintiman/keakraban dengan keluarga dan/atau orang-
orang signifikan lainnya.
3) Psikolog tidak menerima dan/atau memberikan konseling
psikologi/psikoterapi bagi orang yang pernah terlibat keintiman/keakraban
seksual dengannya.
4) Psikolog tidak terlibat keintiman/keakraban seksual dengan mantan orang
yang pernah diberi konseling psikologi/psikoterapi. Setidaknya 2 (dua) tahun
dari penghentian dan atau pengakhiran konseling psikologi/psikoterapi kecuali
dalam situasi yang sangat tidak lazim. Ketidaklaziman tersebut harus dapat
dipertanggungjawabkan sebagai hal yang tidak bersifat eksploitasi terhadap
faktor-faktor yang relevan, termasuk hal-hal sebagai berikut:
 Sejumlah waktu telah berlalu sejak peng-hentian atau pengakhiran
terapi
 Sifat, jangka waktu dan intensitas terapi.
 Situasi kondisi penghentian atau pengakhiran. Riwayat pribadi orang
yang menjalani terapi.
 Status mental klien pada saat ini.
 Kemungkinan yang lebih buruk pada klien.
 Adanya kecerobohan pernyataan atau tindakan psikolog selama
berjalannya terapi yang mengundang kemungkinan terjadinya
hubungan romantik atau seksual dengan orang yang sedang menjalani
terapi.

Contoh kasus :
JG adalah seorang psikologi senior di bidang ketergantungan obat. Ia
mengembangkan terapi penanganan klien ketergantungan obat di sebuah Rumah
Sakit Jiwa. Untuk beberapa waktu kegiatan terapinya berjalan lancar. Hingga suatu
hari JG mendapatkan klien, seorang wanita cantik yang mengalami kelainan mental.
Karena terpikat oleh kecantikan dan bentuk tubuh klien yang cantik, JG menerima
untuk menangani klien tersebut. Dalam prakteknya JG memanfaatkan klien untuk
memuaskan Hasrat biologisnya. Akhirnya klien tersebut tidak mendapatkan
penanganan yang tepat bahkan kondisinya semakin memburuk.

Analisis kasus :
Psikolog tidak terlibat keintiman/keakraban seksual dengan mantan orang
yang pernah diberi konseling psikologi/psikoterapi. Setidaknya 2 (dua) tahun dari
penghentian dan atau pengakhiran konseling psikologi/psikoterapi kecuali dalam
situasi yang sangat tidak lazim. Ketidaklaziman tersebut harus dapat
dipertanggungjawabkan sebagai hal yang tidak bersifat eksploitasi terhadap faktor-
faktor yang relevan, termasuk hal-hal sebagai berikut:
 Sejumlah waktu telah berlalu sejak penghentian atau pengakhiran
terapi
 Sifat, jangka waktu dan intensitas terapi.
 Situasi kondisi penghentian atau pengakhiran. Riwayat pribadi orang
yang menjalani terapi.
 Status mental klien pada saat ini.
 Kemungkinan yang lebih buruk pada klien.
 Adanya kecerobohan pernyataan atau tindakan psikolog selama
berjalannya terapi yang mengundang kemungkinan terjadinya
hubungan romantik atau seksual dengan orang yang sedang menjalani
terapi.
Di dalam kasus klien mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan
sehigga merugikan atau menghambatnya dalam pengobatan klien, bahkan membuat
kondisinya semakin memburuk.
Penyelesaian Masalah :
Ketika psikolog sedang menangani klien seharusnya psikolog dapat membina
hubungan baik antar pribadi (rapport) secara sehat, etos kerja dan komitment
professional. Karena dalam psikologi terdapat kompetensi yang harus dimiliki
konselor (Furqon, 2001) yaitu Kompetensi Pribadi (Personal Competencies) yang
merujuk pada kualitas pribadi konselor yang berkenaan dengan kemampuan untuk
membina hubungan baik antar pribadi (rapport) secara sehat, etos kerja dan
komitment profesional, landasan etik dan moral dalam berperilaku, dorongan dan
semangat untuk mengembangkan diri, serta berkaitan dengan kemampuan untuk
melakukan pemecahan masalah.
Dalam psikologi terdapat pertimbangan kode etik ketidakpantasan seksual
yaitu melanggar ACA code of Ethics (2005, P.5) ACA / American Counseling
Association code of ethics Secara spesifik mengatakan “ interaksi / hubungan
romantis akan mempengaruhi keputusannya dan kompetensinya untuk membahyakan
orang ain / klien, ACA, 2005, p.9) : “konselor harus siaga terhadap tanda-tanda
perusakan atau pelanggaran yg berasal dari masalah fisik, mental dan emosi dari diri
konselor dan menahan diri dari menawarkan atau menyediakan pelayanan yang
sekiranya membahayakan klien atau orang lain.
PASAL 78
PENJELASAN SINGKAT/DEBRIEFING SETELAH KONSELING
PSIKOLOGI/ PSIKOTERAPI

Pasal 78 : Penjelasan Singkat/Debriefing Setelah Konseling Psikologi/


Psikoterapi
1. Tujuan Debriefing
Psikolog memberikan penjelasan singkat segera setelah selesai pemberian
konseling/terapi, da-lam bahasa yang sederhana dan istilah-istilah yang dipahami
masyarakat, agar klien mem-peroleh informasi yang tepat tentang sifat, hasil, dan
kesimpulan konseling/terapi.
2. Psikolog mengambil langkah-langkah yang tepat untuk mengurangi risiko
atau bahaya jika dilakukan penundaan atau penahanan informasi tersebut.
3. Pengecualian Debriefing
Debriefing dalam konseling psikologi/terapi dapat ditiadakan jika pada saat
awal layanan telah dilakukan penjelasan tentang sifat dan kemungkinan hasil,
sehingga Psikolog dapat mengambil langkah tepat untuk meluruskan persepsi atau
konsepsi keliru yang mungkin dimiliki klien.
4. Meminimalkan Dampak Buruk
Jika Psikolog menemukan bahwa prosedur konseling/terapi telah memberikan
dampak yang negatif pada klien; Psikolog mengambil langkah tepat untuk
meminimalkan dampak tersebut.
PASAL 79
PENGHENTIAN SEMENTARA KONSELING PSIKOLOGI/ PSIKOTERAPI

Pasal 79 : Penghentian Sementara Konseling Psikologi/ Psikoterapi


Psikolog saat menyepakati kontrak terapi dengan orang yang menjalani
pemeriksaan psikologi sehingga terjadi hubungan profesional yang bersifat
terapeutik, maka psikolog tersebut senantiasa berusaha menyiapkan langkah-langkah
demi kesejahteraan orang yang menjalani terapi termasuk apabila terjadi hal-hal yang
terpaksa mengakibatkan terjadinya penghentian terapi dan/atau pengalihan kepada
sejawat psikolog lain sebagai rujukan. (lihat pasal 22 buku Kode Etik ini tentang
Pengalihan dan Penghentian Layanan Psikologi).

Contoh Kasus :
Seorang Psikolog bidang perkembangan anak memutuskan untuk menutup praktek
pribadinya dan pindah ke kota lain yang jaraknya cukup jauh. Dia memberikan
pemberitahuan dalam jangka waktu satu minggu sebelum menutup prakteknya.
Psikolog tersebut terkesan terburu-buru untuk segera memulai hidupnya di tempat
yang baru. Dia bahkan tidak sempat mengatur agar orang tua dari klien-kliennya
dapat melanjutkan proses terapi dengan kolega atau rekan yang lain. Dia berpendapat
bahwa orang tua dari klien-kliennya cukup pintar dan cukup banyak akal untuk
menemukan psikolog lain untuk melanjutkan terapi. Psikolog tersebut hanya memberikan
daftar dan alamat Psikolog-Psikolog yang ada di kota tersebut.

Analisa Kasus :
Psikolog saat menyepakati kontrak terapi dengan orang yang menjalani
pemeriksaan psikologi sehingga terjadi hubungan profesional yang bersifat
terapeutik, maka psikolog tersebut senantiasa berusaha menyiapkan langkah-langkah
demi kesejahteraan orang yang menjalani terapi termasuk apabila terjadi hal-hal yang
terpaksa mengakibatkan terjadinya penghentian terapi dan/atau pengalihan kepada
sejawat psikolog lain sebagai rujukan.
Di dalam kasus di atas apabila psikolog tersebut ingin menutup praktek
pribadinya dan pindah ke kota lain, seharusnya psikolog tersebut harus sudah mempersiapkan
untuk mengatur ulang proses terapi klien-kliennya dengan kolega atau rekan yang lain
dan dapat dibahas terlebih dahulu bersama antara Psikolog dan/atau Ilmuwan
Psikologi dengan penerima layanan psikologi kecuali kondisinya tidak
memungkinkan.
PASAL 80
PENGHENTIAN KONSELING PSIKOLOGI/ PSIKOTERAPI

Pasal 80 : Penghentian Konseling Psikologi/ Psikoterapi


1. Menghentikan Terapi Bagi Yang Sudah Tidak Memerlukannya
Psikolog wajib mengakhiri konseling psikologi/psikoterapi ketika orang yang
menjalani terapi sangat jelas sudah tidak membutuhkan lagi dan/atau tidak
memperoleh keuntungan lagi dari terapi tersebut dan/atau bahkan akan dirugikan
jika terapi tetap berlangsung.
2. Mengakhiri Terapi Jika Membahayakan Klien
Psikolog dapat mengakhiri konseling psikologi/psikoterapi jika mengancam
dan/atau mem-bahayakan bagi orang yang menjalani konse-ling
psikologi/psikoterapi dan/atau orang lain yang memiliki hubungan dengan orang
yang menjalani konseling psikologi/ psikoterapi.

3. Memberikan saran untuk alternative terapi sebelum mengakhiri terapi


Sebelum pengakhiran pemberian konseling psikologi/psikoterapi, Psikolog
memberikan konseling pendahuluan dan/atau menyarankan pemberi layanan
alternatif lainnya yang sesuai kebutuhan orang yang menjalani terapi, kecuali jika
kondisi ini tidak memungkinkan.
Daftar Pustaka
Alfa, C. (2012). Contoh Menterapis di Kalangan Keluarga. Retrieved 10 04, 2020,
from https://choirulalfa.blogspot.com/2019/03/contoh-menterapis-dikalangan-
keluarga.html
Benu, M. D., & Mitayani, S. F. (n.d.). Kode Etik Psikologi Indonesia- Bab XIV.
Retrieved from https://fdokumen.com/document/kode-etik-psikologi-
indonesia-bab-xiv.html
Fawziah, A. (2012). Kasus Pelanggaran Kode Etik Psikologi. Retrieved from
http://asmianifawziah.blogspot.com/2012/11/kasus-pelanggaran-kode-etik-
psikologi.html
Kode Etik Psikologi Indonesia. (2010). Jakarta: Pengurus Pusat Himpunan Psikologi
Indonesia. Retrieved from https://himpsi.or.id/organisasi/kode-etik-psikologi-
indonesia
YS, R. I. (2016). Kiat Melakukan Konseling Seksualitas terhadap Klien yang
Bermasalah dengan Pasangannya. Surabaya. Retrieved from
https://ipekajatim.files.wordpress.com/2016/02/konseling-seksualitas.pdf