Anda di halaman 1dari 12

ADMINISTRASI KEUANGAN NEGARA/DAERAAH

KONSEP DAN PRAKTEK KEUANGAN


PEMERINTAH DAERAH

DISUSUN OLEH :

ALVIANI WARDIANTY MUSU’


(E011191092)

ILMU ADMINISTRASI PUBLIK


FAKULTAS ILMU SOSIAL ILMU POLITIK
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2020

2
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami haturkan kehadirat Allah subhaanahu wa ta’ala, Tuhan Yang Maha
Kuasa, atas kasih, sayang, dan pertolongan-Nya yang tiada henti telah membantu dan
memudahkan kami dalam menyelesaikan salah satu tuntutan tugas pada mata kuliah
Administrasi Keuangan Negara, yakni pembuatan dan penyusunan makalah.
Makalah ini bertajuk pada pokok pembahasan utama yakni Konsep dan Praktek
Keuangan Pemerintah Daerah. Makalah ini dapat kami selesaikan dengan maksimal atas kerja
sama dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, kami sampaikan terima kasih kepada
semua pihak yang telah berkontribusi baik berupa materil, moril, maupun sumbangan pikiran
sehingga makalah ini dapat disusun dengan baik. Kami menyadari bahwa masih terdapat banyak
kekurangan dalam penulisan makalah ini.
Oleh sebab itu, kami selaku penyusun dari makalah ini memohon maaf atas segala
kekurangan yang ada. Kami juga berharap bahwa para pembaca dapat memberikan saran dan
kritik yang membangun sehingga di masa yang akan datang kami dapat menyusun makalah
dengan lebih baik lagi. Terimakasih.

Makassar, 16 Desember 2020

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latarbelakang :

Pengelolaan keuangan negara dan daerah adalah kegiatan secara keseluruhan yang
meliputi beberapa tahap dalam prosesnya, meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan,
penatausahaan, pertanggungjawaban, pelaporan hingga perihal pengawasan keuangan negara
atau pun daerah. Berdasarkan UU No. 25 tahun 2004, UU No. 32 tahun 2004, dan UU No. 17
Tahun 2003, rencana pembangunan yang harus dibuat berkaitan dengan tata kelola keuangan
negara dan daerah, di antaranya Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD),
Renstra SKPD (Rencana Strategis Satuan Kerja Perangkat Daerah), Rencana Kerja Pemerintah
Daerah (RKPD), hingga Renja SKPD (Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah)

Untuk Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), merupakan perencanaan


keuangan tahunan pemerintah yang telah mendapat persetujuan oleh Dewan Perwakilan Rakyat
(DPR). Ada pun struktur pelaporan atau pengelolaan APBN ini meliputi pelaporan terkait
belanja negara dan laporan pembiayaan yang meliputi pembiayaan dalam negeri dan pembiayaan
luar negeri, yang masing – masing terbagi atas beberapa poin penting seperti pembiayaan
perbankan, surat utang Negara, hingga penarikan dan pembayaran cicilan pokok hutang luar
negeri.Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang jelas ini berfungsi
sebagai pedoman bagi manajemen negara dalam melakukan perencanaan kegiatan di tahun
tersebut.

Pada dasarnya sistem pengelolaan keuangan negara dan daerah tak memiliki banyak
perbedaan. Hanya saja untuk Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), merupakan
bagian dari perencanaan tahunan pemerintah daerah yang disepakati dan disetujui bersama oleh
DPRD dan Pemerintah Daerah yang selanjutnya ditetapkan dengan peraturan daerah. Ada pun
untuk struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) ini terdiri atas pendapat
daerah, yang didapat dari pendapatan asli daerah (PAD), dana perimbangan dan pendapatan asli
daerah lainnya; belanja daerah yang terbagi atas belanja langsung dan belanja tidak langsung,
hingga pos pembiayaan daerah. pembiayaan daerah ini merupakan penghasilan yang perlu

4
dibayar kembali, atau pengeluaran yang banyak berkaitan dengan kekayaan daerah yang dipakai
untuk menutupi adanya defisit pemasukan daerah atau pun penggunaan surplus untuk
pembiayaan.

1.2 TUJUAN

1. Untuk mendeskripsikan Konsep Keuangan Negara


2. Untuk mendeskripsikan Konsep Keuangan Pemerintah Daerah
3. Untuk mendeskripsikan Praktek Pengelolaan Keuangan Pemerintah Daerah
4. Untuk mendeskripsikan Permasalahan dalam Pengelolaan Keuangan Pemerintah Daerah

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 KONSEP KEUANGAN NEGARA

Pengertian keuangan negara menurut para ahli adalah sebagai berikut:

1. M. Ichwan Keuangan negara adalah rencana kegiatan secara kuantitatif (dengan


angkaangka di antaranya diwujudkan dalam jumlah mata uang), yang akan dijalankan
untuk masa mendatang lazimnya satu tahun mendatang.

5
2. Geodhart Keuangan negara merupakan keseluruhan undang- undang yang ditetapkan
secara periodik yang memberikan kekuasaan pemerintah untuk melaksanakan
pengeluaran mengenai periode tertentu dan menunjukkan alat pembiayaaan yang
diperlukan untuk menutup pengeluaran tersebut.

3. Arifin P. Soeria Atmadja Pengertian keuangan negara dalam arti luas yang dimaksud
adalah keuangan yang berasal dari APBN, APBD, Keuangan Unit-unit Usaha Negara
atau perusahaan-perusahaan milik negara dan pada hakikatnya seluruh kekayaan .

Ruang lingkup yang telah diatur dalam pasal 2 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003
tentang Keuangan Negara dapat dikategorikan dalam beberapa sub bidang, yaitu:

1. Pengelolaan Moneter Hal ini dilakukan melalui serangkaian kebijakan di bidang


moneter. Kebijakan moneter adalah kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah agar ada
keseimbangan yang dinamis antara jumlah uang yang beredar dengan barang dan jasa
yang tersedia di masyarakat.

2. Pengelolaan Fiskal Pengelolaan fiskal meliputi fungsi-fungsi pengelolaan kebijakan


fiskal dan kerangka ekonomi makro, penganggaran, administrasi perpajakan, administrasi
kepabean, perbendaharaan, dan pengawasan keuangan. Kebijakan fiskal adalah kebijakan
yang dilakukan pemerintah berkaitan dengan APBN.

3. Pengelolaan Kekayaan Negara Khusus untuk proses pengadaan barang kekayaan


negara, yang termasuk pengeluaran negara telah diatur secara khusus dalam Peraturan
Presiden Nomor 16 Tahun 2018 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, di samping
itu terdapat pula kekayaan negara/daerah yang dipisahkan yang berupa Badan Usaha
Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah. Asas Pengelolaan Keuangan Negara Pada
penjelasan umum Undang-Undang Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara
disebutkan bahwa untuk mewujudkan suatu good governance dalam penyelenggaraan
negara, pengelolaan keuangan negara perlu diselenggarakan 753 secara profesional,
terbuka, dan bertanggung jawab sesuai dengan aturan pokok yang telah ditetapkan dalam
Undang-Undang Dasar.

6
2.2 KONSEP KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH

Berikut ini adalah tingkat pendanaan daerah:

1. Hak daerah untuk memungut pajak dan bea daerah

2. Komitmen daerah untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan daerah

3. Pendapatan daerah dan belanja daerah

4. Kekayaan daerah yang dikelola oleh pemerintah daerah sendiri atau pihak lain. Aset
daerah dapat berupa uang, surat berharga, klaim, dan hak lainnya yang dapat dinilai
dengan uang.

5. Milik pihak lain dikuasai oleh pemerintah daerah sebagai bagian dari pelaksanaan
kepentingan umum.

Berbagai prinsip harus diperhatikan dalam pengelolaan keuangan daerah. Prinsip-prinsip


pengelolaan keuangan daerah meliputi:

1. Transparansi

Transparansi merupakan keterbukaan pemerintah daerah dalam pengambilan kebijakan


keuangan daerah. Transparansi dapat memberikan kebebasan kepada masyarakat untuk
mendapatkan informasi tentang penggunaan dana dalam pembangunan daerah.

2. Efisien

Artinya setiap belanja APBD didasarkan pada proporsi kebutuhan program dan kegiatan
daerah untuk menghasilkan output atau pendapatan tanpa mengurangi pelayanan yang
maksimal kepada masyarakat.

3. Efektif

Efektif di sini berarti kebijakan keuangan harus dilaksanakan sesuai dengan tujuan dan
kebutuhan masyarakat serta anggaran yang terealisasi.

4. Akuntabilitas

7
Akuntabilitas adalah pertanggungjawaban pengelolaan keuangan daerah kepada seluruh
komponen masyarakat. Akuntabilitas ini secara konstitusional diberikan kepada Badan
Legislatif (DVRD) sebagai wakil masyarakat, yang dapat menilai kinerja Pelaksana
(PEMDA) terhadap seperangkat kriteria dan tolok ukur komprehensif yang dapat
mencakup aspek kebijakan dan penggunaan anggaran.

5. Berpartisipasi

Partisipatif adalah masyarakat secara langsung atau tidak langsung terlibat dalam
melakukan kajian, koreksi, kritik, dan saran yang membangun untuk sistem pengelolaan
keuangan daerah yang profesional dan akuntabel.

Selain itu, kebijakan pembangunan dalam APBD juga dapat berkeadilan terhadap aspirasi
masyarakat dan masyarakat dapat berperan besar dalam memberdayakan masyarakat
untuk berpartisipasi dalam pembangunan daerah melalui berbagai proyek pembangunan.

2.3 Praktek Pengelolaan Keuangan Pemerintah Daerah

Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan


Daerah dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah, Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007
tentang Perubahan Tahun 2007 tentang Perubahan Peraturan Menteri Tahun 2013
meliputi ruang lingkup pelaksanaan keuangan daerah 2 kegiatan dimulai dengan
penyusunan dokumen pelaksanaan anggaran untuk satuan kerja perangkat daerah (DPA-
SKPD) dan dokumen pelaksanaan anggaran untuk pengelola keuangan Anggara
Kasunanert ssa-PP. Dalam pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
(APBD) untuk pelaksanaan belanja daerah, pihak-pihak yang terlibat di dalamnya harus
berpegang pada prinsip-prinsip umum pelaksanaan rencana pendapatan dan anggaran
belanja dan

1. Semua pendapatan dan belanja daerah dikelola dalam Anggaran Pendapatan


dan Belanja Daerah (APBD). Artinya, tidak ada pendapatan yang dapat dikelola di luar
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
8
2. Setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah (SCPD) yang bertugas menghimpun dan
/ atau menerima pendapatan daerah wajib memungut dan / atau menerima penghasilan
berdasarkan ketentuan yang diatur dalam aturan untuk memperoleh kewajiban. untuk
mengumpulkan dan / atau menerima pesanan untuk pengolahan / pemindahan perangkat
daerah (SKPD) ditetapkan. Ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab seluruh satuan kerja
perangkat daerah (SKPD) yang penghasilannya diperoleh berdasarkan peraturan
perundang-undangan.

3. Jumlah belanja yang dianggarkan berada dalam batas maksimal untuk setiap
belanja belanja. Artinya jika belanja tidak tersedia atau tidak ada pencatatan masing-
masing APdapuan (tidak signifikan dan tersedia dalam hal ketersediaan) dan SKPD tidak
tersedia untuk dibelanjakan pada APBD untuk keperluan lain, seperti pada APBD.
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) ditetapkan.

4. Belanja mewah pada belanja daerah didasarkan pada prinsip hemat, tidak
efektif, tidak efisien dan memenuhi persyaratan hukum.

2.4 Permasalahan dalam pengelolaan keuangan pemerintah daerah

Ada beberapa masalah pengelolaan keuangan di pemerintah daerah, seperti berikut ini:
1. Struktur birokrasi
Kendala struktural birokrasi yang terdapat dalam pengelolaan keuangan daerah di
Pemerintah Kabupaten Kepulauan Talaud seringkali pagu anggaran sudah tersedia di
APBD, namun juknis seringkali terlambat ditetapkan oleh pemerintah pusat yang menjadi
salah satu kendala. pelaksanaan pengelolaan keuangan daerah.

2. Sumberdaya
Sumber daya manusia Terdapat keterbatasan dalam hal sumber daya manusia sehingga
staf yang dibutuhkan seringkali tidak tersedia. Dikarenakan minimnya SDM yang ada
sehingga SDM yang ada dapat melakukan lebih dari satu pekerjaan, kendala SDM
tersebut terkait dengan latar belakang pendidikan. Sarana dan Prasarana Kendala sumber
daya kedua adalah prasarana, kurangnya data dari departemen perencanaan, sarana dan

9
prasarana yang tidak mencukupi karena masalah jaringan Internet untuk melaksanakan
program perencanaan elektronik yang dimandatkan oleh pemerintah pusat.

3. Komunikasi
Penelitian menemukan hambatan komunikasi, yaitu kurangnya koordinasi antar bidang
bahkan antar SKPD. Menurut Edward (1980: 9), implementasi akan efektif apabila
ukuran dan tujuan kebijakan dipahami oleh mereka yang bertanggung jawab untuk
mencapai tujuan kebijakan tersebut. Oleh karena itu, kejelasan ukuran dan tujuan
kebijakan harus dikomunikasikan secara memadai kepada pelaksana. Koherensi atau
konsistensi tindakan dan tujuan dasar perlu dikomunikasikan agar pelaksana memiliki
pemahaman yang jelas tentang ukuran dan tujuan kebijakan. Komunikasi dalam
organisasi merupakan proses yang sangat kompleks dan kompleks. Sumber informasi
yang berbeda dapat menyebabkan interpretasi yang berbeda. Agar implementasi menjadi
efektif, orang yang bertanggung jawab untuk menerapkan keputusan perlu mengetahui
apakah implementasi dapat dilakukan.

4. Disposisi atau perekrutan


Hambatan disposisi atau sikap yang ditemukan dalam studi ini antara lain pedoman
kepemimpinan, pertanyaan kebijakan masyarakat untuk alasan lain yang mempengaruhi
perencanaan dan pelaksanaan anggaran, dan bahkan proses konsultasi APBD.

5. Batasan anggaran
Menurut Didit Herlianto (2014: 1), anggaran dapat memberikan informasi yang jelas
tentang tujuan, sasaran, hasil dan manfaat dari suatu kegiatan. Karena pada dasarnya
anggaran merupakan rencana kerja yang dihasilkan secara kuantitatif dari aktivitas suatu
organisasi. Adi Saputro dan Asri dalam Didit Herlianto (2014: 2) menyatakan bahwa
anggaran lebih pada pendekatan formal dan sistematis daripada pelaksanaan tanggung
jawab manajemen dalam perencanaan, koordinasi dan pemantauan. Pada prinsipnya,
anggaran yang berguna dan realistis tidak hanya dapat membantu memperkuat kerjasama
antar karyawan, memperjelas pedoman dan melaksanakan rencana. Namun penyelarasan
yang lebih baik di perusahaan juga dapat menciptakan keselarasan tujuan antara manajer

10
dan bawahan. Perencanaan dan penganggaran serta pelaksanaan program / kegiatan harus
didukung dengan ketersediaan anggaran. Hal ini untuk memastikan proses pelaksanaan
kegiatan yang bersumber dari APBD berjalan efektif, tepat sasaran, dan akuntabel.

BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Ruang lingkup keuangan daerah yaitu hak daerah untuk memungut pajak daerah
serta retribusi daerah, kewajiban daerah untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan
daerah, penerimaan daerah dan pengeluaran daerah, kekayaan daerah yang dikelola oleh
Pemerintah Daerah itu sendiri atau pihak lain. Kekayaan daerah bisa berupa uang, surat
berharga, piutang, serta hak-hak lain yang dapat dinilai dengan uang dan kekayaan pihak
lain yang dikuasai oleh pemerintah daerah dalam rangka penyelenggaraan kepentingan
umum.
Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan
Daerah dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah, Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 59 Tahun 2007
tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang
Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, lingkup pelaksanaan keuangan daerah
mencakup 2 kegiatan yaitu mulai dari penyusunan Dokumen Pelaksanaan Anggaran
Satuan Kerja Perangkat Daerah (DPA-SKPD) dan Dokumen Pelaksanaan Anggaran
Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (DPA-PPKD) serta penyusunan anggaran kas.

11
Adapun masalah yang terjadi dalam proses pengelolaan keuangan pemerintah
daerah yaitu antara lain masalah struktur birokrasi, sumber daya, komunikasi, desposisi
atau sikap, dan keterbatasan anggaran.

DAFTAR PUSTAKA

Nia K. Winayanti, 2015 Hand-out Pengertian Keuangan Negara. Jurist-Diction Vol. 3 (2)
Mulyana, Budi, 2010. Modul Perencanaan dan Penganggaran Daerah Kementerian
Keuangan Republik Indonesia Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan, Jakarta.
Republik Indonesia. Undang-Undang No. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.
Jakarta.
Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem
Perencanaan Pembangunan Nasional. Jakarta.
Republik Indonesia. Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
Jakarta.

12

Anda mungkin juga menyukai