Anda di halaman 1dari 54

USULAN PENELITIAN

PERAN RETURN ON ASSET MEMEDIASI PENGARUH


INTELLECTUAL CAPITAL TERHADAP NILAI
PERUSAHAAN (Studi Pada Perusahaan Food and
Beverages yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia)

Usulan Penelitian ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk


menyusun skripsi S1 Program Studi Manajemen pada Sekolah
Tinggi Ilmu Manajemen Indonesia (STIMI) Handayani Denpasar

Diajukan oleh:

Nama : Febriyani Thesariana


NIM : 16.21.1.11103

SEKOLAH TINGGI ILMU MANAJEMEN INDONESIA


STIMI HANDAYANI DENPASAR
2020
USULAN PENELITIAN

PERAN RETURN ON ASSET MEMEDIASI PENGARUH


INTELLECTUAL CAPITAL TERHADAP NILAI
PERUSAHAAN (Studi pada Perusahaan Food and
Beverages yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia)

OLEH:
Nama: Febriyani Thesariana
NIM : 16.21.1.11103

Telah disetujui oleh Pembimbing


Mengetahui Tanggal………..
Ketua Program Studi Pembimbing

Wayan Arya Paramarta, S.E, M.M Gusti Ayu Mahanavami, S.E,


M.M
NIP: 19770326 200501 1 001 NIP: 19790526 200501 2 001
A. Judul : Peran Return On Assets Memediasi Pengaruh Intellectual Capital

Terhadap Nilai Perusahaan (Studi pada Perusahaan Food and

Beverages yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia)

B. Latar Belakang Masalah

Perkembangan dunia usaha di Indonesia semakin pesat dan banyaknya

pengusaha baru pada dunia bisnis serta adanya persaingan bisnis. Persaingan

bisnis perusahaan berusaha untuk menempatkan dirinya pada posisi yang stabil

serta siap untuk bersaing serta dapat bertahan dan berkembang. Perkembangan

bisnis yang semakin kompleks memerlukan stabilitas informasi yang memadai,

oleh karena itu perusahaan cendrung untuk lebih terbuka dalam menyampaikan

informasi perusahaannya. Perubahan teknologi yang kini semakin canggih dalam

persaingan bisnis membuat adanya keunggulan bisnis antar perusahaan.

Perubahan teknologi tersebut membuat para pelaku bisnis mengubah cara

menjalankan bisnisnya. Informasi dari suatu perusahaan dibutuhkan oleh para

investor dalam menginvestasikan dana kepada perusahaan tersebut.

Tujuan didirikannya suatu perusahaan adalah mengoptimalkan nilai

perusahaan tersebut. Nilai perusahaan merupakan persepsi investor terhadap

perusahaan yang sering dikaitkan dengan harga saham. Nilai perusahaan yang

tinggi menjadi keinginan para pemilik perusahaan, sebab dengan nilai yang

tinggi menunjukkan kemakmuran pemegang saham juga tinggi (Hemastuti,

2014). Nilai perusahaan dikaitkan dengan harga saham perusahaan. Semakin

tinggi harga saham maka akan semakin tinggi pula nilai perusahaan. Nilai

perusahaan yang tinggi dapat menandakan adanya kesejahteraan para pemegang


saham, sehingga para investor akan tertarik dalam menginvestasikan modalnya

kepada perusahaan yang diminati.

Keberhasilan perusahaan dalam mencapai tujuannya dapat dilihat dari nilai

perusahaan. Nilai perusahaan yang baik maka para investor akan

menginvestasikan sahamnya pada perusahaan tersebut. Penilaian perusahaan

dapat diperhitungkan dengan beberapa rasio yang ada pada nilai perusahaan.

Rasio penilain perusahaan terdiri dari, Price Earning Ratio (PER), Price to Book

Value (PBV) dan Tobin’s Q. Salah satu rasio yang digunakan untuk mengukur

nilai perusahaan, yaitu: Tobin’s Q. Tobin’s Q ini dikembangkan oleh Professor

Tobin (Weston dan Copelan, 2008:243).

Tobin’s Q memasukkan semua unsur utang dan modal saham perusahaan,

tidak hanya saham biasa saja dan tidak hanya ekuitas perusahaan yang

dimasukkan namun seluruh aset perusahaan. Dengan memasukkan seluruh aset

perusahaan berarti perusahaan tidak hanya terfokus pada satu tipe investor saja,

yaitu investor dalam bentuk saham namun juga untuk kreditur karena sumber

pembiayaan operasional perusahaan bukan hanya dari ekuitasnya saja tetapi juga

dari pinjaman yang diberikan oleh kreditur (Sukamulja, 2004 dalam

Permanasari, 2010). Semakin besar nilai Tobin’s Q menunjukkan bahwa

perusahaan memiliki prospek pertumbuhan yang baik. Hal ini dapat terjadi

karena semakin besar nilai pasar aset perusahaan dibandingkan dengan nilai

buku aset perusahaan maka semakin besar kerelaan investor untuk mengeluarkan

pengorbanan lebih untuk memiliki perusahaan tersebut (Sukamulja, 2004 dalam

Permanasari, 2010).
Subsektor food and beverage merupakan salah satu subsektor yang ada di

dalam sektor manufaktur di Bursa Efek Indonesia (BEI). Subsektor food and

beverage merupakan salah satu sektor yang bertahan saat terjadi kondisi krisis di

Indonesia karena sebagian produk makanan dan minuman merupakan kebutuhan

pokok dari masyarakat. Subsektor food and beverage memiliki peranan penting

dalam pembangunan sektor industri. Salah satu cara dengan menjaga laba

perusahaannya. Namun, karena biaya bahan baku semakin mahal juga tingginya

biaya produksi mengakibatkan harga jual produk semakin tinggi. Jika hal

tersebut terus berlanjut maka daya saing produk yang ada di subsektor food and

beverage akan semakin rendah dan terpuruk karena produk Indonesia cenderung

lebih mahal dibandingkan dengan produk asing sehingga dapat berdampak pada

laba perusahaan yang semakin menurun dan dapat berdampak pada nilai

perusahaan. Terdapat 26 perusahaan yang terdapat di perusahaan sektor food

and beverages yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Fenomena mengenai nilai perusahaan dapat dilihat dari naik turunnya

harga saham suatu perusahaan, dimana pergerakan harga saham tidak dapat

diprediksi secara pasti. Saham memang salah satu yang diminati oleh investor

untuk berinvestasi di salah satu perusahaan yang diminati karena keuntungan

yang diperoleh dari saham lebih besar. Harga saham yang berfluktuasi dapat

berimbas pada penurunan nilai perusahaan yang terjadi pada perusahaan sub

sektor makanan dan minuman antara lain: Pergerakan ekonomi yang melambat

ternyata berdampak terhadap industri makanan dan minuman.

Salah satu yang ikut merasakan dampaknya adalah PT Indofood Sukes

Makmur. Direktur PT Indofood (Anthoni Salim) mengatakan melemahnya nilai


tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ikut mempengaruhi kinerja

perusahaan sepanjang kuartal pertama 2015. Penjualan tertekan pada akhirnya

berdampak pada kinerja keuangan emiten-emiten sektor barang konsumsi,

termasuk yang berada pada sub sektor makanan dan minuman. Sepanjang

sembilan bulan pertama tahun 2017, tercatat tiga dari empat emiten terbesar di

sub sektor tersebut mencatatkan pelemahan pertumbuhan laba bersih. Keempat

emiten tersebut adalah PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT

Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Mayora Indah Tbk (MYOR), dan PT

Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ) (cnbcindonesia.com,

2018).

Nilai perusahaan merupakan sebuah cermin dari kemampuan suatu

perusahaan dalam mengelola pengetahuan dan sumber dayanya. Agar suatu

perusahaan terus bertahan, maka perusahaan tersebut harus mengubah

strateginya dari bisnis yang didasarkan pada tenaga kerja (laborbased business)

menuju bisnis yang didasarkan pada pengetahuan (knowledge based business),

sehingga karakteristik utama perusahaannya menjadi perusahaan berbasis ilmu

pengetahuan (Sawarjuwono dan Kadir, 2003). Prospek organisasi di masa depan

akan bergantung pada kemampuan manajemen dalam menggunakan nilai-nilai

yang tidak tampak dari aset tidak terwujud.

Aset tidak berwujud menunjukkan tuntutan hukum terhadap manfaat di

masa depan. Nilai yang dimilikinya tidak berhubungan dengan wujud fisiknya.

Aset tidak berwujud dalam hal ini adalah Intellectual Capital (IC) (Chen et.al,

2005). Intellectual capital adalah merupakan aset utama suatu perusahaan

disamping aset fisik dan finansial. Maka dalam mengelola aset fisik dan
finansial dibutuhkan kemampuan yang handal dari intellectual capital itu

sendiri, disamping dalam menghasilkan suatu produk yang bernilai diperlukan

kemampuan dan daya pikir dari karyawan, sekaligus bagaimana mengelola

organisasi dan menjalin hubungan dengan pihak eksternal (Kartika dan Hartane,

2013).

Informasi mengenai intellectual capital menjadi informasi yang bernilai

untuk diketahui investor karena di era globalisasi ini, adanya pengungkapan

intellectual capital di dalam laporan keuangan perusahaan memiliki peran yang

cukup besar dalam meningkatkan nilai perusahaan (Pulic, 1998; Bontis, 2001).

Kesadaran perusahaan terhadap pentingnya Intellectual capital merupakan

landasan bagi perusahaan untuk lebih unggul dan kompetitif. Keunggulan

perusahaan tersebut dengan sendirinya akan memberikan value added bagi

perusahaan (Solikhah, Rohman, dan Meiranto, 2010). Intellectual capital dibagi

menjadi tiga komponen, terdiri dari capital employed, human capital dan

structural capital.

Human capital merupakan kombinasi dari knowledge, skill,

innovativeness dan kemampuan individu dalam sebuah perusahaan. Menurut

Baroroh (2013) human capital yang tinggi akan dapat mendorong peningkatan

kinerja keuangan. Apabila kinerja sumber daya manusia di suatu perusahaan itu

baik maka dapat meningkatkan kesejahteraan perusahaan tersebut. Pengelolaan

aset perusahaan yang baik dapat meningkatkan keunggulan perusahaan dan

mampu bertahan dalam persaingan bisnis. Structural capital merupakan

kemampuan organisasi meliputi infrastruktur, sistem informasi, rutinitas,


prosedur dan budaya organisasi yang mendukung usaha karyawan untuk

menghasilkan intelektual yang optimal (Baroroh, 2013).

Capital employed merupakan kemampuan perusahaan dalam mengelola

sumber daya berupa capital asset yang apabila dikelola dengan baik akan

meningkatkan kinerja keuangan perusahaan. Intellectual capital yang diyakini

sebagai nilai yang tersembunyi yang diakui dan diyakini oleh pasar.

Penghargaan lebih atas saham perusahaan dari para investor tersebut disebabkan

oleh intellectual capital yang dimiliki perusahaan. Oleh karena itu, ada

peningkatan pengakuan dari peran intellectual capital dalam mendorong nilai

perusahaan (Chen et.al, 2005).

Structural capital merupakan kemampuan organisasi atau perusahaan

dalam memenuhi proses rutinitas perusahaan dan strukturnya yang mendukung

usaha karyawan untuk menghasilkan kinerja intelektual yang optimal serta

kinerja bisnis secara keseluruhaan, misalnya: sistem operasional perusahaan,

proses manufakturing, budaya organisasi, filosofi manajemen dan semua bentuk

intellectual property yang dimiliki perusahaan. Seorang individu dapat memiliki

tingkat intelektualitas yang tinggi, tetapi jika organisasi memiliki sistem dan

prosedur yang buruk maka intellectual capital tidak dapat mencapai kinerja

secara optimal dan potensi yang tidak dimanfaatkan secara maksimal dan hal

tersebut dapat berdampak pada menurunnya nilai perusahaan (Chen et.al, 2005).

Dasar pembuatan laporan keuangan yang biasa digunakan perusahaan

yakni akuntansi tradisional dirasakan gagal dalam memberikan informasi

mengenai intellectual capital (Sawarjuwono dan Kadir, 2003). Informasi

kuantitatif dan kualitatif yang biasa digunakan oleh pengguna laporan keuangan
sebagai evaluasi kinerja perusahaan serta informasi mengenai intellectual

capital yang dimiliki suatu perusahaan. Sebuah pengukuran tidak langsung

terhadap intellectual capital, yaitu dengan mengukur efisiensi dari nilai tambah

yang dihasilkan oleh kemampuan intelektual perusahaan yang dinamakan Value

Added Intellectual Capital Coefficient (VAICTM). VAIC merupakan instrumen

untuk mengukur kinerja intellectual capital perusahaan. Pendekatan ini relatif

mudah dan sangat mungkin untuk dilakukan, karena dikontruksikan dari akun-

akun dalam laporan keuangan (neraca, laba rugi) (Ulum, 2014:192).

Perkembangan fenomena intellectual capital mulai muncul di Indonesia

setelah adanya PSAK No. 19 (revisi 2000) mengenai aset tidak berwujud.

Menurut PSAK No. 19, aset tidak berwujud adalah aset non-moneter yang dapat

diidentifikasi dan tidak mempunyai wujud fisik serta dimiliki untuk digunakan

dalam menghasilkan atau menyerahkan barang atau jasa, disewakan kepada

pihak lainnya, atau untuk tujuan administratif. Namun kenyataannya intellectual

capital masih belum diterapkan secara luas di Indonesia. Sampai dengan saat ini,

perusahaan-perusahaan di Indonesia cenderung menggunakan conventional

based dalam membangun bisnisnya sehingga produk yang dihasilkan oleh

perusahan tersebut masih miskin kandungan teknologi. Di samping itu,

perusahaan tersebut belum memberikan perhatian lebih terhadap human capital,

structural capital, dan customer capital. Padahal, semua ini merupakan elemen

pembangun modal intelektual perusahaan sehingga di Indonesia masih kurang

informasi tentang intellectual capital (Abidin dalam Kuryanto, 2008).

Beberapa penelitian terkait pengaruh intellectual capital terhadap nilai

perusahaan telah banyak dilakukan, seperti penelitian Juwita (2016) dan Suparno
(2017) menyatakan bahwa intellectual capital berpengaruh terhadap nilai

perusahaan; Luthfi, dkk. (2019) menyatakan bahwa intellectual capital yang

diproksikan dengan STVA berpengaruh terhadap nilai perusahaan; Sayyidah dan

Saifi (2017) menyatakan bahwa intellectual capital yang diproksikan dengan

VAHU berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Berbeda dengan hasil penelitian

yang diperoleh Kurniasari (2015) dan Lestari dkk (2016) yang menyatakan

bahwa intellectual capital tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Hal ini

dijelaskan bahwa investor kurang mempertimbangkan intellectual capital dalam

menilai atau mengukur kinerja perusahaan, mungkin investor lebih melibatkan

faktor lain dalam mengukur nilai perusahaan seperti harga saham perusahaan

(Lestari dkk, 2016).

Berbeda dengan hasil penelitian Madyan dan Fikir (2019) menyatakan

bahwa intellectual capital yang diproksikan dengan VAHU berpengaruh negatif

terhadap nilai perusahaan yang diproksikan dengan Tobins’Q. Sejalan dengan

penelitian Madyan dan Fikri (2019), hasil penelitian Forte, et.al (2019)

menyatakan bahwa intellectual capital berpengaruh negatif terhadap nilai

perusahaan.

Para investor dalam penilaian penanaman modalnya sering menjadikan

laba sebagai sebuah indikator keberhasilan suatu perusahaan. Kemampuan

perusahaan dalam menghasilkan laba diukur melalui rasio profitabilitas. Salah

satu pengukuran rasio profitabilitas adalah return on asset. Menurut Fatmawati

dan Rihardjo (2017) ROA adalah alat untuk mengukur kemampuan perusahaan

dalam memperoleh laba yang berhubungan dengan penjualan dan total aktiva.

Perusahaan yang mempunyai kinerja intellectual capital yang baik cenderung


akan mengungkapkan intellectual capital yang dimiliki oleh perusahaan dengan

lebih baik. Pemanfaatan dan pengelolaan intellectual capital yang baik, akan

semakin meningkatkan profitabilitas perusahaan. (Kuspinta dan Husaini, 2018).

Beberapa penelitian yang terkait pengaruh intellectual capital terhadap

return on asset, diantaranya: Kuspinta dan Husaini (2018) menyatakan

intellectual capital berpengaruh positif terhadap return on asset. Penelitian yang

dilakukan oleh Muhanik dan Septiarini (2017) menyatakan intellectual capital

yang diproksikan dengan VAHU berpengaruh positif terhadap return on asset

sedangkan VACA dan STVA tidak berpengaruh terhadap return on asset. Selain

itu, pada penelitian Yilmaz and Acar (2018) menyatakan bahwa intellectual

capital yang diproksikan dengan VACA dan VAHU berpengaruh positif

terhadap ROA sedangkan STVA tidak berpengaruh terhadap ROA. Berbeda

dengan hasil penelitian Madyan dan Fikir (2019) menyatakan bahwa Intellectual

capital yang diproksikan dengan VAHU berpengaruh negatif terhadap ROA

sedangkan VACA berpengaruh positif terhadap ROA namun STVA tidak

berpengaruh terhadap ROA.

Return on asset merupakan salah satu cara untuk memaksimalkan nilai

perusahaan. Nilai perusahaan berkaitan erat dengan peningkatan laba

perusahaan. Laba perusahaan selain merupakan indikator kemampuan

perusahaan memenuhi kewajiban bagi para penyandang dananya juga

merupakan elemen dalam penciptaan nilai perusahaan yang menunjukkan

prospek perusahaan dimasa yang akan datang. Semakin baik pertumbuhan

profitabilitas perusahaan berarti prospek perusahaan di masa depan dinilai

semakin baik, artinya nilai perusahaan dinilai semakin baik di mata investor.
Beberapa penelitian terkait pengaruh return on asset terhadap nilai

perusahaan diantaranya: Lutfia, dkk (2017) serta Halimah dan Komariah (2017)

menyatakan profitabilitas yang diproksikan dengan return on asset berpengaruh

positif terhadap nilai perusahaan. Penelitian yang dilakukan oleh Agustiani

(2016) dan Rahmantio, dkk (2018) menyatakan hal yang berbeda, yakni return

on asset tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan.

Adanya perbedaan hasil-hasil penelitian terdahulu tentang pengaruh

intellectual capital terhadap nilai perusahaan telah mendorong peneliti untuk

melakukan penelitian lanjutan ini. Penelitian yang akan dilakukan ini berbeda

dengan penelitian terdahulu karena penelitian ini menggunakan profitabilitas

sebagai variabel pemediasi. Hal ini disebabkan karena temuan peneliti terdahulu

yang tidak konsisten terhadap pengaruh dari pengungkapan intellectual capital

dan profitabilitas serta nilai pasar perusahaan.

Ketidakkonsistenan hasil-hasil penelitian diatas mengenai pengaruh

intellectual capital terhadap profitabilitas dan nilai perusahaan, serta kontribusi

intellectual capital yang berbeda untuk masing-masing industri, maka menarik

untuk mengkaji ulang pengaruh intellectual capital terhadap profitabiliitas dan

nilai perusahaan. Adanya inkonsistensi hasil penelitian sebelumnya, dapat

mengindikasikan bahwa terdapat variabel lain yang mampu memediasi pengaruh

intellectual capital terhadap nilai perusahaan yaitu profitabilitas yang

diproksikan dengan Return on Asset (ROA) (Jayanti dan Binastuti, 2017).

Begitupula yang diungkapkan Sunarsih dan Mendra (2012), ketidakkonsistenan

tersebut disebabkan adanya variabel lain yang memediasi hubungan intellectual

capital dengan nilai perusahaan yaitu profitabilitas.


Perusahaan yang mengungkapkan intellectual capital di dalam laporan

keuangan dan memiliki kemampuan yang baik dalam menghasilkan laba maka

perusahaan tersebut akan memiliki nilai perusahaan yang semakin tinggi di mata

para investor dan investor potensialnya. Hal tersebut sangat penting bagi

investor dalam menginvestasikan sahamnya pada perusahaan yang mempunyai

nilai perusahaan yang tinggi. Apabila laporan keuangan yang dilaporkan tidak

lengkap dan digunakan oleh investor maka akan menjadi sebuah pertimbangan

yang salah dalam pengambilan suatu keputusan.

Dari latar belakang diatas maka peneliti mengambil judul “Peran Return

On Asset Memediasi Pengaruh Intellectual Capital Terhadap Nilai Perusahaan

pada Perusahaan Food and Beverages yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia.”

C. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas maka dapat dirumuskan

pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Apakah intellectual capital berpengaruh terhadap return on asset?

2. Apakah intellectual capital berpengaruh terhadap nilai perusahaan?

3. Apakah return on asset berpengaruh terhadap nilai perusahaan?

4. Apakah return on asset memediasi pengaruh intellectual capital terhadap

nilai perusahaan?
D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah sebelumnya, maka yang

menjadi tujuan penelitian adalah:

1. Menganalisis pengaruh intellectual capital terhadap return on asset.

2. Menganalisis pengaruh intellectual capital terhadap nilai perusahaan.

3. Menganalisis pengaruh return on asset terhadap nilai perusahaan.

4. Menganalisis return on asset memediasi pengaruh intellectual capital


terhadap nilai perusahaan.

E. Kegunaan Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Manfaat Teoritis

Secara teoritis penelitian ini dapat menambah pengetahuan mengenai

teori stakeholder dan teori sinyal yang berkaitan dengan pengaruh

intellectual capital terhadap nilai perusahaan dengan return on asset sebagai

variabel mediasi. Penelitian ini juga diharapkan dapat digunakan sebagai

referensi bagi penelitian selanjutnya dalam menghadapi permasalahan yang

sejenis.

2. Manfaat Praktis

Penelitian ini dapat memberikan kontribusi praktis berupa informasi,

bahan pertimbangan, dan sumbangan pemikiran bagi perusahaan dan para


investor dalam pengambilan keputusan yang terkait dengan intellectual

capital, nilai perusahaan dan return on asset.

F. Tinjauan Pustaka

1. Landasan Teori dan Konsep

a. Stakeholder Theory

Teori stakeholder lebih mempertimbangkan posisi para

stakeholder yang dianggap lebih powerfull. Kelompok stakeholder

inilah yang menjadi pertimbangan utama bagi perusahaan dalam

mengungkapkan dan/tidak mengungkapkan suatu informasi dalam

laporan keuangan (Belkaoui, 2003 dalam Ajilaksana, 2011).

Perusahaan harus menjaga hubungan dengan stakeholdernya guna

mengakomodasi keinginan dan kebutuhan stakeholdernya, terutama

stakeholder yang mempunyai power terhadap ketersediaan sumber

daya yang digunakan untuk aktivitas operasional perusahaan, misal

tenaga kerja, pasar atas produk perusahaan dan lain-lain (Chariri dan

Ghozali, 2007). Stakeholder memegang peranan penting bagi suatu

perusahaan.

Tujuan utama teori stakeholder yakni untuk membantu seorang

manajer tentang mengerti lingkungan stakeholder dan melakukan

pengelolaan lebih efektif antara hubungan yang berada di sekitar

lingkungannya. Ketika manajer mampu mengelola organisasi secara

maksimal dalam upaya penciptaan nilai bagi perusahaan, maka dari itu
manajer telah mampu memenuhi aspek etika pada teori ini. Penciptaan

nilai (value creation) adalah dengan memanfaatkan seluruh potensi

yang ada pada suatu perusahaan, seperti karyawan (human capital),

aset fisik (physical capital), maupun structural capital.

Manajemen pada sebuah perusahaan diharapkan melakukan

aktifitas sesuai yang dianggap penting oleh stakeholder yang nantinya

akan dilaporkan aktivitas tersebut kepada para stakeholder.

Stakeholder berhak dalam memiliki ketersediaan informasi tentang

aktivitas perusahaan yang akan mempengaruhinya. Bagi manajemen

perusahaan kelompok stakeholder ini menjadi bahan pertimbangan

dalam mengungkapkan atau tidaknya informasi laporan keuangan

perusahaan. Kelompok stakeholder tersebut terdiri dari pemegang

saham, kreditor, pemerintah, pemasok dan pelanggan.

b. Signalling Theory

Teori Sinyal menurut Brigham dan Houston (2001) adalah

tindakan perusahaan dalam memberi sinyal kepada investor tentang

bagaimana manajemen memandang perusahaan. Teori sinyal

membahas bagaimana seharusnya sinyal-sinyal keberhasilan atau

kegagalan manajemen (agen) disampaikan kepada pemilik (principal).

Dorongan dalam memberikan sinyal timbul karena adanya informasi

asimetris antara perusahaan (manajemen) dengan pihak luar, dimana

investor mengetahui informasi internal perusahaan yang relatif lebih

sedikit dan lebih lambat dibandingkan pihak manajemen.


Informasi yang ada untuk mempengaruhi nilai perusahaan

tersebut tidak sepenuhnya diungkapkan oleh pihak internal kepada

pasar modal. Informasi bagi pelaku bisnis dan investor merupakan hal

yang penting karena berisikan sebuah gambaran dan pencatatan

mengenai nilai suatu perusahaan. Nilai perusahaan dapat ditingkatkan

dengan mengurangi informasi asimetris, caranya dengan memberikan

sinyal kepada pihak luar berupa informasi keuangan yang dapat

dipercaya sehingga dapat mengurangi ketidakpastian mengenai

prospek pertumbuhan perusahaan pada masa yang akan datang.

Laporan keuangan yang baik akan meningkatkan nilai

perusahaan. Manajemen berharap dapat memberikan sinyal

kemakmuran kepada pemilik ataupun pemegang saham dalam

menyajikan informasi keuangan seperti informasi terkait laba dan juga

intellectual capital. Publikasi laporan keuangan tahunan yang

disajikan oleh perusahaan akan dapat memberikan sinyal

perkembangan harga saham perusahaan sebagai indikator pengukur

nilai perusahaan.

c. Intellectual Capital

Intellectual capital sangat berperan penting dalam peningkatan

nilai perusahaan, dimana perusahaan mampu dalam memanfaatkan

modal intelektualnya secara efisien. Intellectual capital adalah aset

tidak berwujud (intangible asset) yang mampu memberikan nilai

kepada perusahaan dan masyarakat yang meliputi paten, hak atas

kekayaan intelektual, hak cipta dan waralaba (Mavridis, 2004). Dalam


meningkatkan profitabilitas perusahaan, manajemen perusahaan

intellectual capital memegang peranan yang sangat penting dalam

persaingan perusahaan dimana intellectual capital merupakan bagian

dari aset tidak terwujud. Menurut Sawarjuwono dan Kadir (2003)

intellectual capital terdiri dari 3 komponen utama yaitu:

1) Human Capital

Human capital merupakan lifeblood dalam intellectual

capital. Disinilah sumber innovation dan improvement, tetapi

merupakan komponen yang sulit untuk diukur. Human capital

juga merupakan tempat bersumbernya pengetahuan yang sangat

berguna, keterampilan dan kompensasi dalam suatu organisasi

atau perusahaan. Human capital mencerminkan kemampuan

kolektif perusahaan untuk menghasilkan solusi terbaik

berdasarkan pengetahuan yang dimiliki oleh orang-orang yang

ada dalam perusahaan tersebut. Human Capital akan meningkat

jika perusahaan mampu menggunakan pengetahuan yang dimiliki

oleh karyawannya. (Brinker, 2000 dalam Sawarjuwono dan

Kadir, 2003) memberikan beberapa karakteristik dasar yang dapat

diukur dalam modal ini, yaitu training programs, credential,

experience, competence, recruitment, mentoring, learning

programs, individual potential and personality.

2) Structural Capital
Structural capital merupakan kemampuan organisasi atau

perusahaan dalam memenuhi proses rutinitas perusahaan dan

strukturnya yang mendukung usaha karyawan untuk

menghasilkan kinerja intelektual yang optimal serta kinerja bisnis

secara keseluruhaan, misalnya: sistem operasional perusahaan,

proses manufakturing, budaya organisasi, filosofi manajemen dan

semua bentuk intellectual property yang dimiliki perusahaan.

Seorang individu dapat memiliki tingkat intelektualitas yang

tinggi, tetapi jika organisasi memiliki sistem dan prosedur yang

buruk maka intellectual capital tidak dapat mencapai kinerja

secara optimal dan potensi yang tidak dimanfaatkan secara

maksimal.

3) Capital Employed

Elemen ini merupakan komponen intellectual capital yang

memberikan nilai secara nyata. Rational capital merupakan

hubungan yang harmonis/ association network yang dimiliki oleh

perusahaan dengan para mitranya, baik yang berasal dari para

pemasok yang andal dan berkualitas, berasal dari hubungan

perusahaan dengan pemerintah maupun dengan masyarakat

sekitar. Relation capital dapat muncul dari berbagai bagian diluar

lingkungan perusahan yang dapat menambah nilai bagi

perusahaan tersebut.

Value Added Intellectual Coefficient (VAIC) adalah sebuah

metode yang dikembangkan oleh Pulic (1998), untuk menyajikan


informasi tentang value creation efficieny dari aset berwujud (tangible

assets) dan aset tak berwujud (intangible asset) yang dimiliki oleh

perusahaan. VAIC merupakan alat untuk mengukur kinerja

intellectual capital perusahaan. Pendekatan ini relatif mudah dan

sangat mungkin untuk dilakukan, karena dikonstruksi dari akun-akun

dalam laporan keuangan perusahaan (neraca, laba rugi) (Ulum,

2017:120).

Berikut ini merupakan tahapan dalam menghitung intellectual capital

menurut Ulum (2009:88), sebagai berikut:

a) Menghitung Value Added (VA)

Value Added merupakan indikator paling objektif untuk menilai

keberhasilan bisnis dan menunjukkan kemampuan perusahaan dalam

penciptaan nilai (value creation)

VA = OUTPUT – INPUT

Dimana:

1. Output : Total penjualan dan pendapatan lain

2. Input : Beban penjualan dan biaya-biaya lain (selain beban

karyawan)

b) Menghitung Value Added Capital Employed (VACA)

VACA merupakan indikator untuk VA diciptakan oleh satu unit

dari physical capital. Rasio ini menunjukkan kontribusi yang dibuat

oleh setiap unit dari CE terhadap value added organisasi.


VA
VACA=
CE

Dimana:

1. VA : Value Added

2. CE : Capital Employed: Dana yang tersedia (ekuitas, laba

bersih)

3. VACA : Value Added Capital Employed

c) Menghitung Value Added Human Capital (VAHU)

VAHU menunjukkan berapa banyak VA yang dapat dihasilkan

dengan dana yang dikeluarkan untuk tenaga kerja. Rasio ini

menunjukkan kontribusi yang dibuat oleh setiap rupiah yang

diinvestasikan dalam HC terhadap value added organisasi.

VA
VAHU =
HC

Dimana:

1) VAHU : Value Added Human Capital

2) VA : Value Added

3) HC : Human Capital (beban karyawan)

d) Menghitung Structural Capital Value Added (STVA)

Rasio ini mengukur jumlah Structural Capital untuk

menghasilkan 1 rupiah dari VA dan merupakan indikasi bagaimana

keberhasilan SC dalam penciptaan nilai.


SC
STVA=
VA

Dimana:

1) STVA : Structural Capital Value Added

2) SC : Structural Capital (VA-HC)

3) VA : Value Added

e) Menghitung Value Added Intellectual Capital (VAIC)

VAIC mengindikasi kemampuan intelektual organisasi yang dapat

dianggap sebagai BPI (Business Performance Indicator). VAIC

mempunyai penjumlahan dari 3 komponen di dalamnya seperti

VACA, VAHU, dan STVA.

VAIC = VACA + VAHU + STVA

Dimana:

1) VACA : Value Added Capital Employed

2) VAHU : Value Added Human Capital

3) STVA : Structural Capital Value Added

d. Nilai Perusahaan

Perusahaan adalah suatu organisasi yang mengkombinasikan

dan mengorganisasikan berbagai sumber daya dengan tujuan untuk

memproduksi barang atau jasa untuk dijual (Hermuningsih,

2013:131). Tujuan utama perusahaan adalah memaksimumkan

kekayaan dan nilai perusahaannya. Nilai perusahaan memegang

peranan penting bagi investor yang ingin berinvestasi. Nilai

perusahaan yang tinggi menjadi keinginan para pemilik perusahaan,


sebab dengan nilai yang tinggi menunjukkan kemakmuran pemegang

saham juga tinggi (Hemastuti, 2014:3). Jika nilai perusahaan pada

suatu perusahaan tersebut memiliki nilai yang tinggi maka dapat

memberikan kemakmuran bagi pemegang sahamnya dan publik atau

masyarakat atau investor akan menilai perusahaan tersebut memiliki

nilai yang tinggi dari harga sahamnya. Nilai perusahaan diproksikan

dengan Tobins’Q.

Tobins’Q pertama kali diperkenalkan oleh James Tobin pada

tahun 1969. Tobin’s Q memasukkan semua unsur utang dan modal

saham perusahaan, tidak hanya saham biasa saja dan tidak hanya

ekuitas perusahaan yang dimasukkan namun seluruh aset perusahaan.

Dengan memasukkan seluruh aset perusahaan berarti perusahaan tidak

hanya terfokus pada satu tipe investor saja, yaitu investor dalam

bentuk saham namun juga untuk kreditur karena sumber pembiayaan

operasional perusahaan bukan hanya dari ekuitasnya saja tetapi juga

dari pinjaman yang diberikan oleh kreditur (Sukamulja, 2004 dalam

Permanasari, 2010).

Semakin besar nilai Tobin’s Q menunjukkan bahwa perusahaan

memiliki prospek pertumbuhan yang baik. Hal ini dapat terjadi karena

semakin besar nilai pasar aset perusahaan dibandingkan dengan nilai

buku aset perusahaan maka semakin besar kerelaan investor untuk

mengeluarkan pengorbanan lebih untuk memiliki perusahaan tersebut

(Sukamulja, 2004 dalam Permanasari, 2010).


Berikut ini merupakan rumus perhitungan nilai perusahaan yang

diproksikan dengan Tobins’Q (Weston dan Copelan, 2010:244):

( EMV + D )
Q=
( EBV + D )

Keterangan:
Q = Nilai Perusahaan

EMV = P (Closing Price) x Qshares (Jumlah saham yang beredar)

D (Debt) = Nilai buku dari total hutang

EBV = Nilai buku dari total aktiva

e. Return On Assets

Return On Asset merupakan salah satu rasio pada Profitabilitas.

ROA sebagai metode tidak langsung, mudah untuk dihitung dan

menerapkan prinsip transparansi serta merefleksikan keuntungan

bisnis dan efisiensi perusahaan dalam pemanfaatan total aset (Chen

et.al, 2015). Analisis laporan keuangan, rasio ini paling sering

disoroti, karena mampu menunjukkan keberhasilan perusahaan

menghasilkan keuntungan. ROA mampu mengukur kemampuan

perusahaan manghasilkan keuntungan pada masa lampau untuk

kemudian diproyeksikan di masa yang akan datang.

Aset atau aktiva yang dimaksud adalah keseluruhan harta

perusahaan, yang diperoleh dari modal sendiri maupun dari modal

asing yang telah diubah perusahaan menjadi aktiva-aktiva perusahaan


yang digunakan untuk kelangsungan hidup perusahaan. Semakin besar

ROA suatu perusahaan, semakin besar pula tingkat keuntungan yang

dicapai perusahaan dan semakin baik pula posisi perusahaan tersebut

dari segi penggunaan aset.

Berikut ini merupakan perhitungan dari return on assets

(Kasmir, 2014:202):

laba Bersih Setelah Pajak


ROA= X 100 %
Total AktivaUsaha

2. Hipotesis Penelitian

a. Pengaruh Intellectual Capital terhadap Return On Assets

Perusahaan yang mempunyai kinerja intellectual capital yang

baik cenderung akan mengungkapkan intellectual capital yang dimiliki

oleh perusahaan dengan lebih baik. Semakin tinggi kinerja intellectual

capital perusahaan, maka semakin baik tingkat pengungkapannya,

karena pengungkapan mengenai intellectual capital dapat

meningkatkan kepercayaan para stakeholder terhadap perusahaan.

Dengan pemanfaatan dan pengelolaan intellectual capital yang baik,

maka tingkat profitabilitas perusahaan juga semakin meningkat

(Kuspinta dan Husaini, 2018).

Return On Asset (ROA) adalah salah satu bentuk dari rasio

profitabilitas yang dimaksudkan untuk dapat mengukur kemampuan


perusahaan dengan keseluruhan dana yang digunakan untuk operasinya

perusahaan dalam menghasilkan laba (Munawir, 2010:89). ROA

merupakan suatu ukuran tentang efektivitas manajemen dalam

mengolah investasinya. Seperti pada penelitian Sayyidah dkk (2017)

serta Kuspinta dan Husaini (2018) menyatakan bahwa intellectual

capital berpengaruh positif terhadap return on asset. Sejalan dengan

penelitian tersebut, hasil penelitian Oztruck and Demirgunes (2005)

juga menyatakan bahwa intellectual capital berpengaruh positif

terhadap return on asset.

Berdasarkan penjelasan pengaruh intellectual capital terhadap

return on asset, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

H1: Intellectual Capital berpengaruh signifikan terhadap Return On

Asset pada Perusahaan Food and Beverages.

b. Pengaruh Intellectual Capital terhadap Nilai Perusahaan

Intellectual capital sangat berperan penting dalam peningkatan

nilai perusahaan. Dengan nilai perusahaan yang baik maka akan dapat

mengundang investor dalam berinvestasi. Terdapat hubungan positif

antara Intellectual Capital dengan nilai pasar perusahaan (Chen et.al,

2015). Para investor lebih memperhatikan perusahaan yang memiliki

sumber daya intelektual yang lebih. Itu dikarenakan jika intellectual

capital yang dimiliki perusahaan baik maka penilaian terhadap

perusahaan tersebut meningkat perusahaan tersebut dikelola dengan

baik dan dapat meningkatkan persepsi pasar.


Menurut stakeholder theory dijelaskan bahwa seluruh aktivitas

pada perushaaan terdapat penciptaan nilai (value creation).

Memanfaatkan seluruh potensi yang ada pada perusahaan seperti

karyawan (human capital), structural capital dan aset fisik (physical

capital) dapat meningkatkan value added tersebut maka dapat

menciptakan nilai perusahaan yang tercermin baik bagi para

stakeholder. Intellectual capital yang unggul akan dapat membantu

perusahaan untuk memenuhi kepentingan stakeholder. Hasil penelitian

Juwita (2016) dan Suparno (2017) menyatakan bahwa intellectual

capital berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Sejalan dengan

penelitian tersebut, hasil penelitian Ahmed, et.al (2019) juga

menyatakan bahwa intellectual capital berpengaruh positif terhadap

nilai perusahaan.

Berdasarkan penjelasan pengaruh intellectual capital terhadap

nilai perusahaan, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

H2: Intellectual Capital berpengaruh signifikan terhadap Nilai

Perusahaan pada Perusahaan Food and Beverages.

c. Pengaruh Return On Assets terhadap Nilai Perusahaan

Para investor melakukan overview suatu perusahaan dengan

melihat rasio keuangan sebagai alat evaluasi investasi, karena rasio

keuangan mencerminkan tinggi rendahnya nilai perusahaan. Jika

investor ingin melihat seberapa besar perusahaan menghasilkan return


atas investasi yang akan mereka tanamkan, yang akan dilihat pertama

kali adalah rasio profitabilitas.

Salah satu rasio profitabilitas yang digunakan adalah Return on

asset. Return on asset menunjukkan kemampuan perusahaan dalam

menghasilkan laba dalam memanfaatkan total aset yang dimiliki

perusahaan. Laba dapat mempengaruhi minat investor karena

perusahaan yang berhasil akan menghasilkan laba yang stabil. Dengan

laba yang tinggi maka tingkat kepercayaan investor akan meningkat,

sehingga hal tersebut akan berdampak terhadap nilai perusahaan

(Dwipayana dan Agung, 2016)

Penelitian yang dilakukan oleh Jayanti dan Binastuti (2017),

Pratama dan Wiksuana (2016) menemukan hasil bahwa ROA

berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Berdasarkan penjelasan

pengaruh return on asset terhadap nilai perusahaan, maka dapat

dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

H3: Return On Asset berpengaruh signifikan terhadap Nilai Perusahaan

pada Perusahaan Food and Beverages.

d. Pengaruh Intellectual Capital terhadap Nilai Perusahaan yang di

Mediasi oleh Return On Assets

Nilai perusahaan dapat ditingkatkan dengan mengurangi

informasi asimetris, caranya dengan memberikan sinyal kepada pihak

luar berupa informasi keuangan yang dapat dipercaya sehingga dapat

mengurangi ketidakpastian mengenai prospek pertumbuhan perusahaan


pada masa yang akan datang. Laporan keuangan yang baik akan

meningkatkan nilai perusahaan. Manajemen berharap dapat

memberikan sinyal kemakmuran kepada pemilik ataupun pemegang

saham dalam menyajikan informasi keuangan seperti informasi terkait

laba dan juga intellectual capital.

Perusahaan yang mengungkapkan intellectual capital di dalam

laporan keuangan dan memiliki kemampuan yang baik dalam

menghasilkan laba maka perusahaan tersebut akan memiliki nilai

perusahaan yang semakin tinggi di mata para investor dan investor

potensialnya. Penelitian Jayanti dan Binastuti (2017) menemukan

bahwa ROA mampu memediasi pengaruh intellectual capital terhadap

nilai perusahaan. Berdasarkan penjelasan pengaruh peran return on

asset memediasi pengaruh intellectual capital terhadap nilai

perusahaan, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:

H4: Return On Asset memediasi pengaruh Intellectual Capital terhadap

Nilai Perusahaan pada Perusahaan Food and Beverages.

3. Kerangka Pemikiran

Berdasarkan landasan teori serta penelitian terdahulu yang sudah

dijelaskan, maka terbentuklah kerangka penelitian. Penelitian ini

menggambarkan hubungan antara variabel independen (X) terhadap variabel

dependen (Y) dengan variabel mediasi (Z). Variabel independen pada

penelitian ini adalah intellectual capital, variabel dependen, yakni nilai

perusahaan serta variabel mediasinya return on asset.


Suatu perusahaan membutuhkan kemampuan yang handal dalam

mengelola aset fisik dan finansial. Mengelola aset fisik dan finansial

diperlukan kemampuan yang handal dan sumber daya dari karyawan. Hal

tersebut diperlukan untuk mengelola suatu organisasi agar dapat

meningkatkan persepsi pasar terhadap nilai perusahaan. Nilai perusahaan

yang tinggi menjadi keinginan para pemilik perusahaan, sebab dengan nilai

yang tinggi menunjukkan kemakmuran pemegang saham juga tinggi

(Hemastuti, 2014).

Teori stakeholder mempertimbangkan posisi dari suatu pihak yang

dianggap memiliki kepentingan bagi perusahaan, dalam mengendalikan

sumber daya suatu organisasi diperlakukan secara maksimal oleh organisasi

untuk menciptakan nilai tambah dan meningkatkan kesejahteraan.

Semakin tinggi intellectual capital maka akan menaikkan nilai

perusahaan. Dari penelitian terdahulu mengenai intellectual capital

berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan di dukung oleh Fitriasari

(2019) dan Juwita (2016) mengatakan hal tersebut.

Perusahaan yang mampu dalam mengelola sumber daya dan

pengetahuan intelektual diyakini mampu dalam menciptakan value added

dan mampu menciptakan suatu inovasi yang akan bermuara pada

peningkatan menghasilkan suatu laba. Kemampuan suatu perusahaan dalam

menghasilkan laba diukur dengan rasio profitabilitas. Salah satu rasio

profitabilitas yang digunakan adalah return on asset. Semakin tinggi nilai

ROA menunjukkan semakin tinggi tingkat efisiensi perusahaan dalam

memanfaatkan asetnya, baik aset fisik maupun aset non fisik (intellectual
capital) yang menghasilkan keuntungan bagi perusahaan (Dewi, 2011). Dari

penelitian terdahulu mengenai intellectual capital berpengaruh positif

terhadap return on asset didukung oleh Sayyidah dkk (2017) serta Kuspinta

dan Husaini (2018) mengatakan intellectual capital berpengaruh positif

terhadap return on asset.

Teori sinyal menyatakan terdapat kandungan informasi khusus pada

pengungkapan suatu informasi yang dapat menjadi sinyal bagi investor dan

para stakeholder lainnya dalam mengambil keputusan ekonomi. Sinyal yang

mendapat kepercayaan dari stakeholder dapat meningkatkan harga pasar

dari saham merupakan sinyal positif (Godfrey et al., 2010).

Berikut ini merupakan gambaran dari kerangka penelitian:

Return on
Asset
(M)

Intellectual Nilai
Capital Perusahaan

Gambar II.1. Kerangka Pemikiran

G. Metode Penelitian

1. Obyek dan Subyek Penelitian


Obyek penelitian merupakan suatu atribut atau sifat atau nilai dari

orang, objek atau kegiatan yang mempunyai variabel tertentu yang

ditetapkan untuk dipelajari dan ditarik kesimpulan (Sugiyono, 2016:39).

Obyek penelitian terdiri dari Intellectual Capital, Nilai Perusahaan, dan

Return On Asset. Subyek penelitian, yaitu Perusahaan Food and Beverages

yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).

2. Definisi Operasional Variabel

a. Variabel Bebas (Independent Variable)

Variabel bebas merupakan variabel yang mempengaruhi atau

yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel

dependen/terikat (Sugiyono, 2016:36).

Variabel bebas pada penelitian ini adalah intellectual capital.

Intellectual Capital adalah aset tidak berwujud (intangible asset) yang

mampu memberikan nilai kepada perusahaan dan masyarakat yang

meliputi paten, hak atas kekayaan intelektual, hak cipta dan waralaba

(Mavridis, 2004). Intellectual capital mencakup keseluruhan

pengetahuan organisasi, karyawan, dan kemampuan untuk menciptakan

suatu nilai tambah bagi perusahaan. Intellectual capital terdiri dari tiga

komponen indikator, yaitu: human capital, structural capital dan

capital employed. Metode pengukuran intellectual capital diukur

dengan Value Added Intellectual Capital (VAIC). Pendekatan ini relatif

mudah dan sangat mungkin untuk dilakukan, karena dikonstruksi dari

akun-akun dalam laporan keuangan perusahaan (neraca, laba rugi)

(Ulum, 2017:120).
Berikut ini merupakan tahapan dalam menghitung intellectual

capital menurut Ulum (2009:88), sebagai berikut:

1) Menghitung Value Added (VA)

Value Added merupakan indikator paling objektif untuk

menilai keberhasilan bisnis dan menunjukkan kemampuan

perusahaan dalam penciptaan nilai (value creation)

VA = OUTPUT – INPUT

Dimana:

a) Output : total penjualan dan pendapatan lain

b) Input : beban penjualan dan biaya-biaya lain (selain beban

karyawan)

2) Menghitung Value Added Capital Employed (VACA)

VACA merupakan indikator untuk VA diciptakan oleh satu

unit dari physical capital. Rasio ini menunjukkan kontribusi yang

dibuat oleh setiap unit dari CE terhadap value added organisasi.

VA
VACA=
CE

Dimana:

a) VA : Value Added

b) CE : Capital Employed: Dana yang tersedia (ekuitas, laba

bersih)
c) VACA : Value Added Capital Employed

3) Menghitung Value Added Human Capital (VAHU)

VAHU menunjukkan berapa banyak VA yang dapat dihasilkan

dengan dana yang dikeluarkan untuk tenaga kerja. Rasio ini

menunjukkan kontribusi yang dibuat oleh setiap rupiah yang

diinvestasikan dalam HC terhadap value added organisasi.

VA
VAHU =
HC

Dimana:

a) VAHU : Value Added Human Capital

b) VA : Value Added

c) HC : Human Capital (beban karyawan)

4) Menghitung Structural Capital Value Added (STVA)

Rasio ini mengukur jumlah Structural Capital untuk

menghasilkan 1 rupiah dari VA dan merupakan indikasi bagaimana

keberhasilan SC dalam penciptaan nilai.

SC
STVA=
VA

Dimana:

a) STVA : Structural Capital Value Added

b) SC : Structural Capital (VA-HC)

c) VA : Value Added
5) Menghitung Value Added Intellectual Capital (VAIC)

VAIC mengindikasi kemampuan intelektual organisasi yang dapat

dianggap sebagai BPI (Business Performance Indicator). VAIC

mempunyai penjumlahan dari 3 komponen di dalamnya seperti

VACA, VAHU, dan STVA.

VAIC = VACA + VAHU + STVA

Dimana:

a) VACA : Value Added Capital Employed

b) VAHU : Value Added Human Capital

c) STVA : Structural Capital Value Added

b. Variabel Terikat (Dependen Variable)

Variabel terikat (dependen variable) adalah variabel yang

dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas

(Sugiyono, 2016:39). Variabel terikat pada penelitian ini, yaitu: Nilai

perusahaan (Y).

Nilai perusahaan merupakan hal yang sangat penting dalam

kelangsungan aktivitas dari suatu perusahaan. Nilai perusahaan adalah

nilai jual sebuah perusahaan sebagai suatu bisnis yang sedang

beroperasi. Adanya kelebihan nilai jual diatas nilai likuidasi adalah nilai

dari organisasi manajemen yang menjalankan perusahaan itu (Agus

Sartono, 2010:487). Pengukuran nilai perusahaan diproksikan dengan

Tobins’Q. Tobin’s Q memasukkan semua unsur utang dan modal saham


perusahaan, tidak hanya saham biasa saja dan tidak hanya ekuitas

perusahaan yang dimasukkan namun seluruh asset perusahaan.

Berikut ini merupakan rumus perhitungan nilai perusahaan yang

diproksikan dengan Tobins’Q (Smithers dan Wirght, 2007):

( EMV + D)
Q=
( EBV + D)
Keterangan:
Q = Nilai Perusahaan
EMV = P (Closing Price) x Qshares (Jumlah saham yang beredar)
D (Debt) = Nilai buku dari total hutang
EBV = Nilai buku dari total aktiva

c. Variabel Mediasi (Intervening Variable)


Variabel yang secara teoritis mempengaruhi hubungan antara

variabel independen dengan dependen menjadi hubungan yang tidak

langsung dan tidak dapat diamati dan diukur. Variabel ini merupakan

variabel penyela/antara yang terletak di antara variabel independen dan

dependen, sehingga variabel independen tidak langsung mempengaruhi

berubahnya atau timbul variabel dependen (Sugiyono, 2016:39).

Variabel mediasi pada penelitian ini adalah Return On Asset

(ROA). Return on asset adalah salah satu bentuk dari ratio profitabilitas

yang dimaksudkan untuk dapat mengukur kemampuan perusahaan

dengan keseluruhan dana yang digunakan untuk operasinya perusahaan

untuk menghasilkan laba (Munawir, 2010:89).

Berikut ini merupakan perhitungan dari return on assets (Kasmir,

2014:106):
laba Bersih Setelah Pajak
ROA= X 100 %
Total AktivaUsaha

3. Populasi dan Sampel

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau

subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan

oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya

(Sugiyono, 2016:80). Populasi penelitian ini adalah 26 perusahaan pada

Perusahaan sub sektor Food and Beverages yang terdaftar di Bursa Efek

Indonesia (BEI).

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh

populasi tersebut. Pengukuran sampel merupakan suatu langkah untuk

menentukan besarnya sampel yang diambil dalam melaksanakan penelitian

suatu objek. Untuk menentukan besarnya sampel bisa dilakukan dengan

statistic atau berdasarkan estimasi penelitian. Pengambilan sampel ini harus

dilakukan sedemikian rupa sehingga diperoleh sampel yang benar-benar

dapat berfungsi atau dapat menggambarkan keadaan populasi yang

sebenarnya, dengan istilah lain harus representative (mewakili) (Sugiyono,

2016:81). Sampel dari penelitian ini berjumlah 10 perusahaan.

Penarikan sampel pada penelitian ini dengan metode purposive

sampling. Metode purposive sampling adalah teknik penentuan sampel

dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2016:85). Penelitan ini yang

dijadikan sampel yaitu perusahaan yang memenuhi dari kriteria tertentu.

Adapun kriteria yang dijadikan sampel penelitian, yaitu:


a. Perusahaan food and beverages yang terdaftar di Bursa Efek secara

berturut-turut selama periode tahun 2017-2019

b. Perusahaan food and beverages yang menyediakan laporan keuangan

secara berturut-turut selama periode tahun 2017-2019

c. Perusahaan food and beverages menyediakan data laporan keuangan

berupa aset, pendapatan, biaya, karyawan, ekuitas dan laba.

d. Laporan keuangan yang diterbitkan dalam mata uang rupiah.

Tabel 3.1
Penentuan kriteria pemilihan sampel

Kriteria Pemilihan Sampel Jumlah


Populasi perusahaan sub sektor Food and Beverages 26
Perusahaan food and beverages yang tidak terdaftar di Bursa Efek secara (10)
berturut-turut selama periode tahun 2016-2018
Perusahaan food and beverages yang tidak menyediakan laporan (4)
keuangan secara berturut-turut selama periode tahun 2016-2018
Perusahaan food and beverages yang tidak menyediakan data laporan (2)
keuangan berupa aset, pendapatan, biaya, karyawan, ekuitas dan
laba.
Laporan keuangan yang diterbitkan tidak menggunakan mata uang rupiah 0
Total perusahaan sub sektor food and beverages yang menjadi sampel 10
Total pengamatan (Selama 3tahun) 30

4. Teknik Pengumpulan Data

Studi dokumentasi dilakukan dengan cara mengumpulkan, menganalisis

dokumen dan catatan yang berhubungan dan dapat memberikan data-data

untuk memecahkan permasalahan dalam penelitian. Menurut Sugiyono,

2016:240 dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu.

Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental

dari seseorang. Dokumen yang berbentuk tulisan, misalnya catatan harian,

sejarah kehidupan (life histories), cerita, biografi, peraturan kebijakan.

Studi dokumentasi pada penelitian ini diantaranya, laporan keuangan

perusahaan food and beverages yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia

yang terpilih sampel 10 perusahaan serta sejarah dari perusahaan sub

sektor food and beverages.

5. Teknik Analisis Data

a. Analisis Jalur (Path Analysis)

Pengujian hipotesis penelitian dilakukan dengan menggunakan

model analisis jalur (path analysis) dan pengolahan data menggunakan

program aplikasi Product and Service Solutions (SPSS) versi 22. Model

analisis jalur digunakan untuk menganalisis pola hubungan

antarvariabel dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh langsung

maupun tidak langsung seperangkat variabel bebas pada variabel

terikat. Adapun alasan mengapa analisis jalur lebih tepat digunakan


adalah: analisis jalur mampu menguji suatu hubungan berantai yang

membentuk model yang besar, seperangkap prinsip dasar, atau suatu

teori secara keseluruhan (Utama, 2014:122).

Langkah-langkah dalam pengujian analisis jalur dilakukan

melalui beberapa tahapan (Utama, 2014:123-126), adalah sebagai

berikut:

1) Merancang Model Berdasarkan Konsep dan Teori

Berdasarkan pada hubungan antarvariabel penelitian, secara

teoritis dapat dibuat model statistik dalam bentuk diagram path,

seperti pada Gambar 5.1 sebagai berikut:

e1

Return on
Asset e
β1 (M) 2
β3 2
2
22
Intellectual β2 Nilai
Capital Perusahaa
n

Gambar 5.1 Analisis Jalur


Model Penelitian

Berdasarkan pada gambar analisis jalur, maka dibuat persamaan

struktural sebagai berikut:

a) Pengaruh intellectual capital pada return on asset dengan

persamaan sebagai berikut:

M= a + β1X + e1 …. (1)

Dimana:

a : konstanta
β1 : koefisien regresi

X : intellectual capital

e1 : standard error

M : return on assets

b) Pengaruh intellectual capital dan return on asset pada nilai

perusahaan dengan persamaan sebagai berikut:

Y= a + β2X + β3M + e2 ….. (2)


Dimana:

a : konstanta

β2, β3 : koefisien regresi

X : intellectual capital

M : return on assets

Y : nilai perusahaan

e2 : standard error.

b. Uji Asumsi Klasik

Pemeriksaan terhadap asumsi yang melandasi pada analisis jalur

menggunakan uji asumsi klasik. Uji asumsi klasik bertujuan untuk

memastikan bahwa model yang diperoleh benar-benar memenuhi

asumsi dasar dalam analisis regresi. Analisis jalur juga bisa

menggunakan uji asumsi klasik, karena analisis ini merupakan

perluasan dari analisis regresi linier berganda. Asumsi-asumsi dasar

yang dimaksud meliputi, asumsi tidak terjadi multikolinieritas dan


asumsi tidak terjadi heteroskedastisitas dengan terlebih dahulu

melakukan uji normalitas terhadap data penelitian tersebut.

1) Uji Normalitas

Uji normalitas adalah pengujian yang dilakukan guna

mengetahui data tersebut berdistribusi normal atau tidak. Jika nilai

residual yang berdistribusi normal atau mendekati normal maka

model regresi dikatakan baik. Uji statistik yang dapat digunakan

untuk menguji normalitas residual adalah uji statistik nonparametik

Kolgomorov-Smirnov (K-S) tingkat signifikansi (α) 0,05. Uji K-S

dilakukan dengan membuat hipotesis: (Ghozali, 2018;166).

H0 : Data residual terdistribusi normal apabila Sig hitung > 0,05.

HA : Data residual tidak terdistribusi normal apabila Sig hitung

<0 ,05.

2) Uji Multikolonieritas

Menurut Ghozali (2018:108) Uji Multikolonieritas digunakan

untuk menguji apakah model regresi yang digunakan adanya

korelasi antar variabel independen. Model regresi yang baik

tentunya tidak terjadi korelasi diantara variabel independen. Cara

mendeteksi ada tidaknya multikolonieritas, yaitu dengan cara

memperhatikan angka Variance Inflation Factor (VIF) dan

tolerance. Nilai cutoff yang umum dipakai untuk menunjukkan


adanya multikolonieritas adalah nilai tolerance kurang dari 0,10

atau sama dengan nilai VIF lebih dari 0,10.

3) Uji Autokorelasi

Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan

sepanjang waktu berkaitan satu sama lainnya. Permasalahan ini

muncul karena residual tidak bebas dari satu observasi ke observasi

lainnya. Jika terdapat korelasi, maka dinamakan terdapat problem

autokorelasi. Cara mendeteksi problem autokorelasi menggunakan

uji Durbin Watson (DW) dengan membandingkan hasil uji dengan

tabel Durbin Watson (DW). Bila d>dL maka terdapat autokorelasi

negatif. Bila dL≤d≤dU atau (4-dU)≤d≤(4-dL) maka hasil ujinya

adalah tanpa keputusan. Kemudian jika dU≤d≤(4-dU), maka tidak

terdapat autokorelasi. Selanjutnya, bila d≥(4-dL) maka

kesimpulannya adalah terdapat autokorelasi positif (Ghozali,

2018:112).

4) Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas dilakukan untuk mengetahui apakah

nilai residu mempunyai varian yang konstan. Jika varian dari

residual satu pengamatan lain tetap, maka disebut

homoskedastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas.

Model regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas atau tidak

terjadi heteroskedastisitas. Terdapat beberapa metode yang dapat


digunakan untuk mendeteksi adanya gejala heteroskedastisitas,

tetapi dalam penelitian ini akan digunakan uji glejser. Dimana uji

ini dilakukan dengan cara meregresi nilai absolute residual. Dasar

pengambilan keputusan menggunakan uji glejser sebagai berikut

(Ghozali, 2018:137):

a) Jika nilai signifikan > 0,05 maka data tidak terjadi

heteroskedastisitas

b) Jika nilai signifikan < 0,05 maka data terjadi

heteroskedastisitas

c. Uji Hipotesis

1) Uji F (Uji Kelayakan Model)

Menurut Ghozali (2018:179), Uji F digunakan untuk menguji

pengaruh signifikan antara variabel independen secara bersama-

sama terhadap variabel dependen dengan kelayakan model yang

dihasilkan dengan menggunakan uji kelayakan model pada tingkat

α sebesar 5%. Jika nilai signifikansi uji F < 0,05 maka model yang

digunakan dalam penelitian layak dan dapat dipergunakan untuk

analisis berikutnya, begitupun sebaliknya.

Untuk menguji hipotesis ini digunakan statistik F dengan

kriteria pengambilan keputusan, yaitu: Jika nilai F lebih besar dari

4 maka H0 ditolak pada derajat kepercayaan 5% dengan kata lain

kita menerima hipotesis alternatife, yang menyatakan bahwa semua

variabel independen secara serentak dan signifikan mempengaruhi

variabel dependen.
2) Uji T (Parsial)

Uji beda t-test digunakan untuk menguji seberapa jauh

pengaruh variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini

secara individual dalam menerangkan variabel dependen secara

parsial (Ghozali, 2012:98). Dasar pengambilan keputusan digunakan

dalam uji t adalah sebagai berikut:

a) Jika nilai probabilitas signifikansi > 0,05, maka hipotesis

ditolak. Hipotesis ditolak mempunyai arti bahwa variabel

independen tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel

dependen.

b) Jika nilai probabilitas signifikansi < 0,05, maka hipotesis

diterima. Hipotesis tidak dapat ditolak mempunyai arti bahwa

variabel independen berpengaruh signifikan terhadap variabel

dependen.

d. Pendugaan Parameter atau Koefisien Jalur

Di dalam analisis jalur (path analysis) terdapat pengaruh

langsung, pengaruh tidak langsung dan pengaruh total. Koefisien beta

yang disebut juga dengan koefisien jalur merupakan pengaruh

langsung, sedangkan pengaruh tidak langsung dilakukan dengan

mengalikan koefisien beta dari variabel yang dilalui. Pengaruh total

dihitung dengan menjumlahkan pengaruh langsung dan pengaruh tidak

langsung.

e. Pemeriksaan Suatu Kesalahan Model


Sahih tidaknya suatu hasil analisis tergantung dari terpenuhi atau

tidaknya asumsi yang melandasinya. Terdapat dua indikator validitas

model di dalam analisis jalur yaitu koefisien determinasi.

Koefisien Determinasi Total

Total keragaman data yang dapat dijelaskan oleh model diukur dengan:

R2m = 1 – P2e1P2e2……P2ep …………. (3)

Dalam hal ini, interpretasi terhadap R2m sama dengan interpretasi

koefisien determinasi (R) pada analisis regresi. P2ei yang merupakan

standart error of estimate dari model regresi dihitung dengan rumus:

P2ei = √ 1−R 2…………………………… (4)

f. Pengujian Variabel Intervening

Pengujian hipotesis mediasi dilakukan dengan prosedur yang

dikembangkan oleh Sobel (1982) dan dikenal dengan Uji Sobel (Sobel

Test) (Kline, 2011: 164). Uji Sobel ini dilakukan dengan cara menguji

kekuatan pengaruh tidak langsung variabel bebas (X) terhadap variabel

terikat (Y) melalui variabel mediasi (Z) (Utama, 2014:44). Jalur X ke Z

dengan Z ke Y atau b1b3, yaitu:

Koefisien regresi tidak standar X ke Zdan Z ke Y ditulis dengan b 1

dan b3, sedangkan standart error-nya ditulis dengan Sb1 dan Sb3.

Besarnya standart error tidak langsung X ke Z dan Z ke Y yang ditulis

dengan Sb1b3, dihitung dengan rumus sebagai berikut:


Sb1b3= √(b32Sb12 + b12Sb32)…………… . (5)

Untuk menguji signifikansi pengaruh tidak langsung, maka

menghitung nilai t dari koefisien X ke Z dan Z ke Y yang ditulis dengan

z menggunakan rumus sebagai berikut:

b1b7
z= b1b3/Sb1b3………………………………… (6)
Sb 1 b 7

Kriteria Uji pada Uji Sobel adalah sebagai berikut:

1) Jika z hitung ≤ z tabel (1,645), maka H alternatif (4) ditolak.

2) Jika z hitung > z tabel (1,645), maka H alternatif (4) diterima.

g. Interpretasi Hasil Analisis

Langkah terakhir di dalam analisis jalur adalah melakukan

interpretasi hasil analisis, yaitu menentukan jalur-jalur pengaruh yang

signifikan dan mengidentifikasi jalur yang pengaruhnya lebih kuat yaitu

dengan membandingkan besarnya koefisien jalur yang terstandar.

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Sawarjuwono. dan Kadir. 2003. Intellectual Capital Disclosure


Commitment: Myth or Reality? Journal of Intellectual Capital. 13 (1), h: 39-
56.
Agustiani, Rizki Muti. 2016. Pengaruh Good Corporate governance, return on
asset /, Return on Equity, BOPO, dan Capital Adequacy Ratio Terhadap Nilai
Perusahaan Go Public di Bursa Efek Indonesia. Jurnal Ekonomi Bisnis. 21
(1): h: 131-135.

Ahmed, Aftab, Mohammad Kashif Khurshid and Mohammad Usman Yousaf. 2019.
Impact of Intellectual Capital Firm Value: The Moderating Role of
Managerial Ownership. Journal of Europe PMC. 1 (1).

Ajilaksana, I. D. K. Y. 2011. Pengaruh Corporate Social Responsibility Terhadap


Kinerja Keuangan Perusahaan. Skripsi pada Universitas Diponegoro
Semarang.

Baroroh, Niswah. 2013. Analisis Pencx garuh Modal Intelektual terhadap Kinerja
keuangan Perusahaan Manufaktur di Indonesia. Jurnal Dinamika Akuntansi.
5 (2): h: 173-182.

Belkaoui, A. R. 2003. Intellectual Capital and Firm Performance of US


Multinational Firms: A Study of the Resource-Based and Stakeholder Views.
Journal of Intellectual Capital. 4 (2): h:215: 226.

Bontis, N. 2001. Intellectual Capital and Business Performance Industries. Journal


of Intellectual Capital. 1 (1): h: 85-100 in Malaysian.

Brigham, Eugene.F dan Joel F. Houston. 2001. Manajemen Keuangan. Edisi


Kedelapan Buku 2. Jakarta: Erlangga.

Brinker, Barry. 2000. “Intellectual Capital: Tomorrows Asset, Today’s Challenge”,


http://www.cpavision.org/vision/wpapet05b.cfm

Chariri, A. dan Ghozali, Imam. 2007. Teori Akuntansi. Semarang: Badan Penerbit
Universitas Diponegoro.

Chen, M. C., Cheng, S. J. and Hwang, Y. 2005. An Empirical Investigation of the


Relationship between Intellectual Capital and Firms’ Market Value and
Financial Performance. Journal of Intellectual Capital. 6 (2): h: 159-176

Dewi C.P. 2011, Pengaruh Intellectual Capital Terhadap Kinerja Keuangan pada
Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI Tahun 2007-2009. Skripsi.
Semarang: Program Strata-1 Universitas Diponegoro.

Dwipayana, Made Agus Teja. dan Suaryana, I Gusti Ngurah Agung. 2015. Pengaruh
Debt to Assets Ratio, Devidend Payout Ratio, dan Return On Assets
Terhadap Nilai Perusahaan, E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana, 17
h:2008-2035
Fatmawati, Vivi. dan Rihardjo, Ikhsan Budi. 2017. Pengaruh Likuiditas, Leverage,
Aktivitas Dan Profitabilitas Dalam Memprediksi Financial Distress Pada
Perusahaan Textile Dan Garment Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia
Selama Tahun 2011-2015. Jurnal Ilmu dan Riset Akuntansi. 6 (10)

Fitriasari, Ni Made Ayu Dwi. 2019. Pengaruh Intellectual Capital Pada Nilai
Perusahaan Dengan Kinerja Keuangan Sebagai Variabel Intervening. E-
Jurnal Akuntansi Universitas Udayana, 26 h: 1717-1740.

Forte, William, Gaetano Matorti and Giuseppe Nicolo. 2019. The Impact of
Intellectual Capital on Firm Financial Performance and Firm Value:
Empirical Evidence from Itallian Listed Firms. Affrican Journal of Business
Management. 13 (5), h:147-159.

Godfrey, J. 2010. Accounting Theory (7th ed.). New York: McGraw Hill.

Ghozali, Imam. 2018. Ekonometrika. Teori, Konsep dan Aplikasi dengan SPSS 17.
Semarang: Penerbit BPUNDIP.

Halimah, dan Komariah. 2017. Pengaruh Roa, Car, Npl, Ldr, Bopo Terhadap Nilai
Perusahaan Bank Umum. Jurnal Akuntansi, Ekonomi dan Manajemen Bisnis.
5 (1)

Hemastuti C.P. 2014. Pengaruh Profitabilitas, Kebijakan Dividen, Kebijakan


Hutang, Keputusan Investasi, dan Kepemilikan Insider Terhadap Nilai
Perusahaan. Jurnal Ilmu dan Riset Akuntansi. 3 (4)

Hermuningsih, Sri. 2013. Pengaruh Profitabilitas, Growth Opportunity, Sruktur


Modal Terhadap Nilai Perusahaan Pada Perusahaan Publik Di Indonesia.
Yogyakarta: Jurnal University of Sarjanawiyata Taman siswa Yogyakarta. 16
(2).

Ikatan Akuntan Indonesia, 2000. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 19


(Revisi 2000), Salemba Empat.Jakarta.

Jayanti, Lutfia Dwi., dan Binastuti, Sugiharti. 2017. Pengaruh Intellectual Capital
Terhadap Nilai Perusahaan dengan Kinerja Keuangan sebagai Variabel
Intervening pada Perusahaan Perbankan yang Terdaftar di Bursa Efek
Indonesia. Jurnal Ekonomi Bisnis. 22 (3): h: 187-198.

Juwita, R., dan Angela. 2016. Pengaruh Intellectual Capital Terhadap Nilai
Perusahaan pada Perusahaan Indeks Kompas 100 Di Bursa Efek Indonesia.
Jurnal Akuntansi. 8 (1).

Kasmir. 2014. Analisis Laporan Keuangan, Edisi Pertama, Cetakan Ketujuh.


Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.
Kline, R. B. 2011. Principles and Practice of Structural Equation Modeling. Third
Edition. New York Guilford Press.

Kurniasari, Indri. 2015. Pengaruh Intellectual Capital dan Profitabilitas terhadap


Nilai Perusahaan pada Perusahaan LQ45 yang Terdaftar di Bursa Efek
Indonesia. Jurnal Audit dan Akuntansi. 4 (1): h: 23-40.

Kuryanto, Benny dan M. Syafruddin. 2008. “Pengaruh Modal Intelektual terhadap


Kinerja Keuangan Perusahaan”. Proceeding SNA XI. Pontianak.

Kuspinta, T. D., dan Husaini, A. 2018. Pengaruh Intellectual Capital Terhadap


Profitabilitas Perusahaan. Jurnal Administrasi Bisnis. 56 (1): h: 164-170.

Lestari, Nanik., dan Sapitri, Rosi Candra. 2016. Pengaruh Intellectual Capital
terhadap Nilai Perusahaan. Jurnal Akuntansi Ekonomi. 4 (1): h: 28-33.

Luthfi, Muhammad., Suzan, Dr. Leny. Asalam, Ardan Gani. 2019. Pengaruh
Profitabilitas, Kebijakan Deviden, dan Intellectual Capital terhadap Nilai
Perusahaan. e-Proceeding of Management 6 (2): h:3525-3534.

Madyan, Muhammad., and Hudan Raushan Fikir. 2019. Intellectual Capital,


Financial Performance, and Value of Company. Journal of Adv Research in
Dynamical & Control Systems. 11 (5), h: 1276-1284

Martha, Kartika. Hartane, Searce. E. 2013. Pengaruh Intellectual Capital pada


Profitabilitas Perusahaan Perbankan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia
Pada Tahun 2007-2011. Journal Business Accounting Review. 1 (2): h: 1-15.

Mavridis, D.G. 2004. The intellectual capital performance of indian banking sector.
Journal of intellectual capital. 5 (3): h: 92-115.

Muhanik, Umi. dan Septiarini, Dina Fitrisia. 2017 Pengaruh Intellectual Capital
Terhadap Return On Asset Pada Bank Umum Syariah di Indonesia Periode
Q1.2013-Q4.2014. Jurnal Ekonomi Syariah Teori dan Terapan. 4 (1): h: 1-
13.

Munawir, S. 2010. Analisis laporan Keuangan Edisi keempat. Cetakan Kelima


Belas. Yogyakarta: Liberty

Ozturk, M. Basaran and Kartal Demirgunes. 2007. Determination of Effect of


Intellectual Capital on Form Value Via Value Added Intellectual Coefficient
Methodology: An Empirical Study on ISE-Listed Manufacturing Firms.

Permanasari, Wien Ika. 2010. Pengaruh Kepemilikan Manajemen, Kepemilikan


Institusional, Dan Corporate Social Responsibility Terhadap Nilai
Perusahaan. Skripsi pada Universitas Diponegoro Semarang.
Pratama Angga Bagus, I Gusti., dan Wiksuana Bagus, I Gusti. 2016. Pengaruh
Ukuran Perusahaan dan Leverage terhadap Nilai Perusahaan dengan
Profitabilitas sebagai Variabel Mediasi. E-Jurnal Manajemen Unud. 5 (2): h:
1338-1367.

Pulic, A. 1998. Measuring The Performance of Intellectual Potential in Knowledge


Economy. Paper presented at the 2nd McMaster World Congress on
Measuring and Managing Intellectual Capital by the Austrian Team for
Intellectual Potential.

Rahmantio, Imam., Saifi, Muhamad., Nurlaily, Ferina. 2018. Pengaruh Debt to


Equity Ratio, Return On Equity, Return On Asset dan Ukuran Perusahaan
terhadap Nilai Persuhaan (Studi Pada Perusahaan Pertambangan yang
Terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2012-2016). Jurnal Administrasi
Bisnis. 57 (1): h: 151-159

Sartono, Agus. 2010. Manejemen Keuangan Teori dan Aplikasi. Edisi 4. BPFE
Yogyakarta

Sartono dan Fatmawati. 2017. Pengaruh Kebijakan Hutang dan Dividen Terhadap
Nilai Perusahaan Property dan Real Estate. Jurnal Akademika. 15 (2).

Sayyidah, Ulfah. dan Saifi, Muhammad. 2017. Pengaruh Intellectual Capital


Terhadap Nilai Perusahaan Dengan Profitabilitas Sebagai Variabel Moderasi
(Studi Pada Perusahaan Sub Sektor Property Dan Real Estate Di Bursa Efek
Indonesia Periode 2013-2015). Jurnal Administrasi Bisnis. 46 (1): h: 163-171

Sugiyono. 2016. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: PT


Alfabet.

Sukmawati, Sukamulja. 2004. Good Corporate Governance Disektor Keuangan:


Dampak GCG Terhadap Kinerja Perusahaan (Kasus di Bursa Efek Jakarta).
Jurnal Manajemen dan Bisnis. Benefit. 8 (1).

Sunarsih, N.M dan Mendra, Yuria Ni Putu. 2012. Pengaruh Modal Intelektual
Terhadap Nilai Perusahaan Dengan Kinerja Keuangan Sebagai Variabel
Intervening Pada Perusahaan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia.
Makalah Disampaikan dalam Simposium Nasional Akuntansi XV.
Banjarmasin: 20-23 September.

Suparno. 2017. Pengaruh Intellectual Capital dan Earning Per Share terhadap Nilai
Perusahaan. Jurnal Manajemen dan Keuangan. 6 (1): h: 710-718.

Solikhah, Badingatus., Rohman, Abdul., dan Meiranto, Wahyu. 2010. Implikasi


Intellectual Capital Terhadap Financial Performance, Growth, dan Market
Value (Studi Empiris dengan Pendekatan Simplistic Specification). Jurnal
SNA XIII. Purwokerto.
Solichah, Fatmawati. 2017. Pengaruh Kebijakan Hutang dan Dividen Terhadap
Nilai Perusahaan Property dan Real Estate. Jurnal Akademika. 15 (2): h: 105-
110

Utama, Suyana. 2014. Aplikasi Analisis Kuantitatif (Edisi Keempat). Modul Statika
Bisnis. Program Magister Akuntansi. Program Pascasarjana. Denpasar:
Universitas Udayana.

Ulfah, Sayyidah., dan Saifi, Fatmawati. 2017. Pengaruh Intellectual Capital terhadap
Nilai Perusahaan dengan Profitabilitas sebagai Variabel Moderasi (Studi pada
Perushaaan Sub Sektor Property dan Real Estate di Bursa Efek Indonesia
periode 2013-2015). Jurnal Administrasi Binsis. 46 (1): h: 163-171.

Ulum, I., I. Ghozali, dan A. Purwanto. 2014. Intellectual Capital Performance of


Indonesian Banking Sector: A Modified VAIC (M-VAIC) Perspective. Asian
Journal of Finance & Accounting. 6 (2), h: 103-123.

Ulum, Ihyaul. 2017. Intellectual Capital. Malang: UMM Press.

Ulum, Ihyaul. 2009. Intellectual Capital: Konsep dan Kajian Empiris. Yogyakarta:
Graha ilmu.

Weston, J. Feed dan Thomas E. Copeland. 2010. Manajemen Keuangan. Jakarta:


Binarupa Aksara.

Yanindha, Putri dan Priantinah, Danies. 2018. Pengaruh Kinerja Keuangan dan
Corporate Social Responsibility Terhadap Nilai Perusahaan pada Bank yang
Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2011-2015. Jurnal Nomina. 2 (1):
h: 111-125
Yilmaz, Ilker and Goksel Acar. 2018. The Effects of Intellectual Capital on Financial
Performance and Market Value: Evidence from Turkey. Eurasian Journal of
Business and Economics. 11 (21): h:117-133.
LAMPIRAN - LAMPIRAN

Lampiran 1. Daftar Nama Perusahaan Food and Beverages yang Terdaftar di Bursa
Efek Indonesia

No Kode Nama Emiten Tanggal IPO


Saham
1 AISA PT Tiga Pilar Sejahtera Food, Tbk 11 Jun 1997
2 ALTO PT Tri Banyan Tirta, Tbk 10 Jul 2012
3 CAMP PT Campina Ice Cream Industry, Tbk 19 Des 2017
4 CEKA PT Wilmar Cahaya Indonesia, Tbk 09 Jul 1996
(d.h Cahaya Kalbar Tbk, PT)
5 CLEO PT Sariguna Primatirta, Tbk 05 Mei 2017
6 COCO PT Wahana Interfood Nusantara, Tbk 20 Maret 2019
7 DLTA PT Delta Djakarta, Tbk 12 Feb 1984
8 DMND PT Diamond Food Indonesia, Tbk 22 Jan 2020
9 FOOD PT Sentra Food Indonesia, Tbk 08 Jan 2019
10 GOOD PT Garudafood Putra Putri Jaya, Tbk 10 Okt 2018
11 HOKI PT Buyung Poetra Sembada, Tbk 22 Jun 2017
12 ICBP PT Indofood CBP Sukses Makmur, 7 Okt 2010
Tbk
13 IKAN PT Era Mandiri Cemerlang, Tbk 12 Feb 2020
14 INDF PT Indofood Sukses Makmur, Tbk 14 Jul 1994
15 KEJU PT Mulia Boga Raya, Tbk 25 Nov 2019
16 MLBI PT Multi Bintang Indonesia, Tbk 17 Jan 1994
17 MYOR PT Mayora Indah, Tbk 4 Jul 1990
18 PANI PT Pratama Abadi Nusa Industri, Tbk 18 Sep 2018
19 PCAR PT Prima Cakrawala Abadi, Tbk 29 Des 2017
20 PSDN PT Prashida Aneka Niaga, Tbk 18 Oct 1994
21 PSGO PT Palma Serasih, Tbk 25 Nov 2019
22 ROTI PT Nippon Indosari Corporindo, Tbk 28 Jun 2010
23 SKBM PT Sekar Bumi, Tbk 05 Jan 1993
Relisting:
28 Sep 2012
24 SKLT PT Sekar Laut, Tbk 08 Sep 1993
25 STTP PT Siantar Top, Tbk 16 Dec 1996
26 ULTJ PT Ultrajaya Milk Industry & Trading 02 Jul 1990
Company, Tbk
Sumber: (sahamok.com)