Anda di halaman 1dari 4

TUGAS 2

MATA KULIAH : HUKUM PERLINDUNGAN KONSUMEN


KODE MK : HKUM 4312
PROGRAM STUDI : ILMU HUKUM
FAKULTAS : HUKUM
SEMESTER : 3 (TIGA)

OLEH :
APRIADI
NIM 041449502

PROGRAM STUDI S1-ILMU HUKUM


UNIVERSITAS TERBUKA
1. Jelaskan kualifikasi pidana yang terdapat dalam hukum perlindungan Konsumen?
Jawaban :
Pengaturan hukum positif dalam lapangan hukum pidana secara umum terdapat dalam
Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Di Indonesia penerapan kitab diatas diunifisikasikan
sejak 1918, yakni sejak pertama kali diberlakukan wetboek van strafreccht voor
nederlandsch-indie.
Hukum pidana sendiri termasuk dalam kategori hukum publik. Dalam kategori ini termasuk
pula hukum administrasi Negara, hukum acara, dan hukum internasional. Di antara semua
aspek hukum publik itu, yang paling banyak menyangkut perlindungan konsumen adalah
hukum pidana dan hukum administrasi Negara.
Dalam kitab Undang-undang Hukum Pidana tidak disebut kata konsumen. Kendati
demikian secara impisit dapat di tarik beberapa pasal yang memberikan perlindungan
hukum bagi konsumen.
1. pasal 204; barang siapa menjual, menawarkan, menyerahkan atau membagi-bagi
barang, yang diketahui bahwa membahayakan nyawa atau kesehatan orang, padahal
sifat berbahaya itu tidak diberitahukan, diancam dengan pidana penjara paling lama lima
belas tahun. Jika perbuatan mengakibatkan matinya orang, yang bersalah dikenakan
pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara selama waktu tertentu paling lama dua
puluh tahun.
2. pasal 205; barang siapa karena kealpaannya menyebabkan bahwa barang-barang yang
berbahaya bagi nyawa atau kesehatan orang dijual, diserahkan atau dibagi-bagikan,
tanpa diketahui sifat berbahayanya oleh yang membeli atau yang memperoleh, diancam
dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau kurungan paling lama enam
bulan atau denda paling banyak tiga ratus rupiah. Jika perbuatan mengakibatkan
matinya orang, yang bersalah dikenakan pidana penjara paling lama satu tahun empat
bulan atau kurung paling lama satu tahun, barang-barang itu dapat disita.

2. Jelaskan mengapa korporasi dapat dituntut secara pidana dan apa kaitannya dengan
hukum perlindungan konsumen?
Jawaban :
Dalam hukum pidana, korporasi meliputi baik badan hukum maupun bukan badan hukum.
Badan hukum yang dimaksudkan tersebut bukan saja seperti perseroan terbatas, yayasan,
koperasi atau perkumpulan yang telah disahkan sebagai badan hukum yang digolongkan
sebagai korporasi menurut hukum pidana, tetapi juga firna, perseroan komanditer atau CV,
dan persekutuan atau maatschap, yaitu badan-badan usaha yang menurut hukum perdata
bukan suatu badan hukum. Sekumpulan orang-orang yang terorganisir dan memiliki
pimpinan dan melakukan perbuatan hukum, misalnya melakukan perjanjian dalam rangka
kegiatan usaha atau kegiatan social yang dilakukan oleh pengurusnya untuk dan atas
nama kumpulan orang tersebut, juga termasuk ke dalam apa yang dimaksudkan dengan
korporasi.
Dalam pasal pasal 61 UU No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen dinyatakan
bahwa “penuntutan pidana dapat dilakukan terhadap pelaku usaha dan atau pengurusnya”.
Pasal tersebut mengandung ketentuan tentang sistem pertanggungjawaban pidana
korporasi dalam tindak pidana perlindungan konsumen, artinya dalam hal
pertanggungjawaban korporasi, suatu badab usaha maupun pengurusnya dapat dikenakan
pertanggungjawaban pidana, sebagai landasan dalam penerapan pertanggung jawaban
pidana korporasi ada dua doktrin pokok yang dikenal dalam ajaran pertanggungjawabn
korporasi yaitu sebagai berikut:
1. Doctrine of strict liability (pertanggungjawaban mutlak) menurut doktrin strict liability,
pertanggungjawaban pidana dapat dibebankan kepada pelaku tindak pidana yang
bersangkutan tanpa dengan tidak perlu dibuktikan adanya kesalahan pada pelakunya,
baik kesalahan yang dikarenakan kesengajaan maupun kelalaian. Oleh karena itu
doktrin atau ajaran strict liability disebut juga absolute liability atau pertanggungjawaban
mutlak. Dalam kaitannya dengan korporasi, korporasi dapat dibebani
pertanggungjawaban pidana untuk tindak pidana yang tidak dipersyaratkan aadanya
mens rea bagi pertanggungjawaban tindak pidana itu berdasarkan doktrin strict liability.
2. Doktrin of vicarious liability (pertanggungjawaban vikarius) doktrin vicarious liability
adalah doktrin yang menyatakan tentang pembebanan pertanggungjawaban pidana dari
tindak pidana yang dilakukan oleh seseorang terhadap orang lain misalnya tindak
pidana dilakukan oleh si A namun dibebani pertanggungjawaban pidana adalah B,
artinya menurut doktrin tersebut seseorang dimungkinkan harus bertanggungjawab atas
perbuatan orang lain. Apabila teori ini terapkan pada korporasi berarti korporasi
dimungkinkan harus bertanggungjawab atas perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh
para pegawainya kuasa atau mandatarisnya atau siapapun yang bertanggungjawab
kepada korporasi tersebut.

3. Jelaskan kualifikasi hukum administrasi Negara yang terdapat dalam perlindungan


konsumen?
Jawaban :
Seperti halnya hukum pidana, hukum administrasi negara adalah hukum publik yang
penting dalam perlindungan konsumen sanksi-sanksi hukum secara perdata dan pidana
sering kurang efektif jika tidak disertai sanksi administratif.
Hukum administrasi yang berkaitan dengan perlindungan konsumen antara lain peraturan
yang berhubungan dengan pembinaan dan pengawasan mutu dan keamanan barang,
peraturan yang berhubhngan dengan praktik penjualan, peraturan yang berhubungan
dengan lingkungan hidup.
Sanksi administratif ditujukan kepada pelaku usaha, baik pelaku usaha (principal) maupun
pelaku usaha lain yang mendistribusikan produknya. Semula sanksi administratif hanya
dikonotasikan sebagai pencabutan sepihak ijin yang diberikan oleh pemerintah kepada
pelaku usaha. Pencabutan izin hanya bertujuan menghentikan proses produksi dan pelaku
usaha/penyalur. Produksi disini diartikan secara luas, dapat berupa barang atau jasa.
Dengan demikian, dampaknya secara tidak langsung berarti konsumen pula, yakni
mencegah jatuhnya lebih banyak korban. Adapun pemulihan hak-hak korban (konsumen)
yang dirugikan bukan lagi tugas instrument hukum administrasi Negara. Hak-hak
konsumen yang dirugikan dapat dituntut dengan bantuan hukum perdata dan/atau pidana.

4. Jelaskan objek dari hubungan hukum antara konsumen dan pelaku usaha?
Jawaban :
Pada umumnya produk yang sampai ke tangan konsumen telah melalui tahap kegiatan
perdagangan yang panjang mulai dari produsen pembuat (pabrik), distributor, pengecer,
hingga ke konsumen. Masing-masing pihak merupakan unit-unit kegiatan perdagangan
dengan peranan tersendiri. Semua pihak yang terkait dalam pembuatan suatu produk
hingga sampai ke tangan konsumen disebut dengan pelaku usaha (produsen). Seorang
konsumen yang memakai atau mengosumsi produk dapat memperoleh dari pasar dengan
cara membeli. Ada tiga tahapan transaksi yang dapat dilakukan antara pelaku usaha dan
konsumen untuk memperoleh suatu produk, yaitu sebagai berikut:
1. Tahap pratransaksi
2. Tahap transaksi
3. Tahap purnatransaksi
Sehubungan dengan transaksi antara pelaku usaha dan konsumen, beberapa hal yang
potensial melahirkan konflik adalah kualitas dan kegunaan produk (antara informasi dan
faktanya), harga dan hak-hak konsumen setelah perjanjian.
Undang-undang menentukan benda-benda yang tidak dapatdijadikan obyek darisuatu
perjanjian, namun perjanjian haruslah mempunyai objek (bepaald onderwerp) tertentu,
sekurang-kurangnya dapat ditentukan bahwa objek tertentu itu dapat berupa benda yang
sekarang ada dan nanti aka nada:
a. Barang itu adalah barang yang dapat diperdagangkan;
b. Barang-barang yang dipergunakan untuk kepentingan umum antara lain seperti jalan
umum, pelabuhan umum, gedung-gedung umum dan sebagainya tidaklah dapat
dijadikan objek perjanjian;
c. Dapat ditentukan jenisnya;
d. Barang yang akan datang.

5. Pada pasal 19 ayat (4) Undang-undang No 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan


Konsumen, mengatakan bahwa pemberian ganti kerugian tidak menghapuskan
kemungkinan adanya tuntutan pidana.! Jelaskan menurut saudara maksud dari pasal 19
ayat (4) tersebut !
Jawaban :
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, ternyata
memberikan pemahaman secara normatif pelaksanaan tanggung jawab pelaku usaha
untuk memberikan ganti rugi akibat kerusakan, pencemaran, dan/atau kerugian konsumen
harus dilaksanakan sebagaimana diatur dalam Pasal 19 ayat (1) (2) (3) dan (4) dengan
tidak menutup kemungkinan kewajiban ganti rugi oleh pelaku usaha tidak perlu dilakukan
terhadap konsumen, apabila pelaku usaha mampu membuktikan penyebab kerusakan
barang bukanlah karena kesalahan pelaku usaha melainkan konsumen sendiri,
sebagaimana diatur dalam ayat (5).
Secara umum prinsip-prinsip tanggung jawab dalam hukum dapat dibedakan sebagai
berikut:
a. Kesalahan;
b. Praduga selalu bertanggung jawab (presumption based on fault);
c. Praduga selalu tidak bertanggung jawab (presumption of nonliability);
d. Tanggung jawab mutlak (strict liability);
e. Pembatasan tanggung jawab (limitation of liability).
setiap pelanggaran yang dilakukan oleh pelaku usaha yang merugikan konsumen
memberikan hak kepada konsumen yang dirugikan tersebut untuk meminta pertanggung
jawaban dari pelaku usaha yang merugikannya, serta untuk menuntut ganti rugi atas
kerugian yang dididerita oleh konsumen tersebut. Dasar yang dapat dipakai untuk
membuat pelaku usaha diwajibkan memberikan bentuk tanggung jawab ganti rugi atas
kerugian konsumen dikarenakan dalam Undang-undang Perlindungan Konsumen
dijelaskan tentang hak-hak konsumen dalam Pasal 4 UUPK yang berupa : Hak atas
informasi yang benar,jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/jasa; Hak
untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif; Hak untuk
mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian, apabila barang dan/atau jasa
yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya. Hak-hak ini
lah yang harus diperhatikan dan dipenuhi oleh pelaku usaha sehingga tidak boleh
dilanggar. Oleh karena itu apabila pelaku usaha yang melakukan perbuatan melawan
hukum dengan cara penipuan yang berkedok adanya undian dengan promo berhadiah
wajib melakukan suatu tanggung jawab terhadap konsumen karena hal ini jelas diatur
dalam Undang-undang Nomor 08 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen.