Anda di halaman 1dari 22

TUGAS KEPERAWATAN KELUARGA

MAKALAH
TEORI KEPERAWATAN DAN MODEL KONSEPTUAL KEPERAWATAN

Disusun oleh:
KELOMPOK II
Putu Gede Widya Adnyana (20121110005)
I Gusti Agung Dewi Suryaningsih (20121110016)
Ni Luh Made Ayu Sunarilawati (20121110017)
Made Patni Winarni.P (20121110018)
Ni Putu Susy Novyanti (20121110019)
Ni Made Dian Martina (20121110020)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


STIKES ADVAITA MEDIKA TABANAN
2021
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami sampaikan kepada Tuhan Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas segala
berkat dan rahmatnya yang diberikan kepada kami sehingga kelompok kami mampu
menyelesaikan makalah ini. Kami juga tidak lupa mengucap terimakasih kepada dosen
pembimbing di Stikes Advaita Medika Tabanan program studi S1Keperawatan . Yang
mendorong dan membimbing kami untuk menyelesaikan makalah keperawatan keluarga dengan
judul Teori Keperawatan Dan Model Konseptual Keperawatan.
Kami sangat mengharapkan motivasi dari pembaca demi mengembangkan isi makalah ini
baik lewat kritik maupun saran demi kelengkapan makalah ini.

Tabanan, 24 Maret 2021

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Dasar suatu profesi adalah berkembangnya batang tubuh keilmuan yang sering
diwujudkan dalam bentuk teori dan model. Keperawatan sebagai satu displin ilmu
sehingga keperawatan membutuhkan adanya suatu ilmu pengetahuan yang di bangun
berdasarkan teori dan model keperawatan. Keperawatan membutuhkan adanya teori
karna teori member kontribusi pondasi dasar yang baik pada praktik keperawatan dan
membuat hubungan yang baik antara praktisi dengan ahli riset.
Penerapan teori dan model keperawatan pada level pelayanan keperawatan selama
ini dirasakan belum maksimal. Keperawatan keluarga sebagai bagian spesialisasi dalam
keperawatan memerlukan teori dan model keperawatan dalam memberikan pelayanan
keperawatan pada keluarga teori dan model keperawatan keluarga perlu dikembangkan
secara terus menerus berdasarkan kondisi keluarga yang ada di Indonesia sehingga
praktik keperawatan keluarga dapat teraplikasikan dengan baik.
Praktik keperwatan yang berdasarkan teori sangat penting dalam praktik
keperawatan keluarga karena akan menuntun perawat untuk berfikir secara interaktif
berkenaan dengan fenomena dan masalah keluarga permasalahan keperawatan di dalam
keluarga sangatlah kompeks sehingga perawat memerlukan suatu kerangka teoritis
dalam menjelaskan, mengidentifikasi, mengnalisis, dan menyimpulkan permasalahan
keperawatan dalam keluarga tersebut.
Keperawatan sebagai displin ilmu memiliki teori dan model yang dapat
diaplikasikan pada suatu praktik keperawatan keluarga. Teori dan model keperawatan
yang dapat diterapkan pada praktik keperawatan keluarga antara lain: Teori King tentang
pencapaian tujuan, Model Adaptasi Roy, Model Sistem Kesehatan dari neuman, Model
Self Care dari Orem, Teori Roger tentang manusia seutuhnya,
Berdasarkan uraian tersebut di atas maka sangatlah diperlukan dan dikembangkan
suatu teori model asuhan keperawatan keluarga dalam mewujudkan keluarga yang sehat
dan sejahtra untuk menunjang pembentukan masyarakat yang sehat dalam menuju
Indonesia Sehat 2010.

1.2. Tujuan
1. Menjelaskan defenisi teori dan model keperawatan
2. Menyebutkan teori dan model yang dapat di pakai pada praktik keperawatan
keluarga
TEORI KEPERAWATAN DAN MODEL KONSEPTUAL KEPERAWATAN

2.1 TEORI DAN MODEL


Teori keperawatan adalah kumpulan konsep ,defenisi,hubungan dan asumsi atau
preposisi dari model keperawatan atau dari displin lain atau hal lain yang sesuai,dengan
melihat secara sistematis berbagai fenomena dengan desain spesipik yang berhubungan
dengan yang lain, yang bertujuan memberikan gambaran, penjelasan ,dan prediksi
fenomena keperawatan (Nursing Teoris: A champanion to nursing teoris, 2008). Teori
keperawatn adalah struktur konsep yang ada dalam literature yang siap untuk di buat alur
pemikiran atau gambaran dari model keperawatan yang ada. Teori keperawatn memberikan
rasional untuk mengembangkan hipotesis.
Model konseptual adalah struktur konsep dan teori yang secara bersama
memberikan gambaran dalam mengembangkan suatu keilmuan. Model konseptual
merupakan cara berfikr tentang indifidu dan lingkungannya yang dapat bermanfaat
berbagai situasi yang membantu dalam memprioritaskan pelayanan dan memberikan
tantangan kepada perawat untuk mampu merubah kondisi pasien dari sikap yang hanya
bertahan menjadi mandiri (Nursing Theories, 2008).

2.2 Model Sistem Keperawatan Kesehatan Betty Neuman


Sistem yang digunakan dalam model sistem keperawatan kesehatan Betty
Neuman adalah sistem terbuka sehingga menghasilkan interaksi yang dinamis, variabel
interaksi mencakup semua aspek yaitu fisiologis, psikologis, sosio kultural, perkembangan
dan spiritual. Sistem pada teori sistem Neuman terbentuk dari individu, keluarga, kelompok
dan masyarakat. Model memandang individu, keluarga, kelompok dan komunitas yang
berinteraksi secara konstan dengan stressor di lingkungan secara dimensional, model fokus
pada klien terhadap stress serta faktor pemulihan (adaptasi).
Asumsi dasar dari teori Neuman yaitu individu merupakan sistem unik dengan
respon berbeda, kurang pengetahuan, perubahan lingkungan dapat merubah stabilitas
individu (fisiologis, psikologis, sosiokultural, perkembangan, spiritual). Individu dalam
memberikan respon harus mempunyai koping yang stabil terhadap stressor, karena
lingkungan internal dan eksternal dapat merupakan penyebab stress, untuk itu individu
akan bereaksi terhadap stressor dari lingkungan dengan mekanisme pertahanan diri.
Pencegahan primer berdasarkan teori sistem Neuman yaitu mengidentifikasi
faktor resiko dan membantu masyarakat dalam meningkatkan kesehatan dan aktifitas
pendidikan kesehatan. Pencegahan sekunder yaitu inisiatif dalam bentuk intervensi jika
terjadi masalah, perawat berperan sebagai Early Case Finding, pengobatan setelah pasien
terdiagnosa mengidap suatu penyakit. Pencegahan tersier yaitu mempertahankan kesehatan,
perawat membantu dengan adaptasi dan reduksi untuk mencegah komplikasi, asuhan
keperawatan ditujukan untuk mencegah dan mengurangi reaksi tubuh akibat stressor
dengan pencegahan primer, sekunder dan tersier.
Pola pengembangan ilmu keperawatan menurut teori sistem Neuman bertujuan
untuk stabilitas system, hal itu dapat dilukiskan sebagai cincin dengan satu pusat yang
mengelilingi inti, cincin paling dalam mewakili garis pertahanan untuk melawan stressor
seperti sistem pertahanan tubuh dan mekanisme pertahanan, cincin terluar merupakan garis
pertahanan yang mewakili keadaan normal pasien, mekanisme pertahanan tersebut adalah
mekanisme bertahan koping.

a. Kelebihan / kekuatan dari Teori Betty Neuman


1. Kekuatan utama dari model ini adalah fleksibilitas untuk digunakan dalam semua bidang
keperawatan – administrasi , pendidikan , dan praktek .
2. Neuman telah disajikan pandangan klien yang sama berlaku untuk individu , keluarga ,
kelompok , komunitas , atau agregat lainnya . Neuman Sistem Model , terutama
disajikan dalam model diagram , secara logis konsisten.
3. Penekanan pada pencegahan primer , termasuk promosi kesehatan khusus untuk model
ini.
4. Sistem Model Neuman relatif sederhana , dan memiliki definisi mudah diterima
komponennya.
b. Kekurangan / kelemahan dari Teori Betty Neuman
Kelemahan utama dari model ini adalah kebutuhan untuk klarifikasi lebih lanjut dari
istilah yang digunakan . Stres interpersonal dan ekstra-personal perlu lebih jelas
dibedakan .

2.3 Dorothe E. Orem (Teori Orem)


Dari beberapa model konsep, salah satu diantaranya adalah modelself care yang
diperkenalkan oleh Dorothea E. Orem. Orem mengembangkan model konsep
keperawatan ini pada awal tahun 1971 dimana dia mempublikasikannya dengan
judul "Nursing Conceps of Practice Self Care". Model ini pada awalnya berfokus pada
individu, kemudian edisi kedua tahun 1980 dikembangkan pada multi person's
unit(keluarga, kelompok dan komunitas).
Self care merupakan suatu pelaksanaan kegiatan yang diprakarsai dan dilakukan
oleh individu sendiri untuk memenuhi kebutuhan guna mempertahankan kehidupan,
kesehatan dan kesejahteraannya sesuai dengan keadaan, baik sehat maupun sakit  (Orem's,
1980)
Pada dasarnya diyakini bahwa semua manusia itu mempunyai kebutuhan-
kebutuhan self care dan mereka mempunyai hak untuk mendapatkan kebutuhan itu sendiri,
kecuali bila tidak mampu.

Teori Sistem Keperawatan Orem


Teori ini mengacu kepada bagaimana individu memenuhi kebutuhan dan menolong
keperawatannya sendiri, maka timbullah teori dari Orem tentang Self Care Deficit of
Nursing. Dari teori ini oleh Orem dijabarkan ke dalam tiga teori yaitu :
1. Self Care(Perawatan Diri)
Teori self care berisi upaya tuntutan pelayanan diri yang sesuai dengan
kebutuhan. Perawatan diri sendiri adalah suatu langkah awal yang dilakukan oleh seorang
perawat yang berlangsung secara continue sesuai dengan keadaan dan keberadaannya ,
keadaan kesehatan dan kesempurnaan.
Perawatan diri sendiri merupakan aktifitas yang praktis dari seseorang dalam
memelihara kesehatannya serta mempertahankan kehidupannya. Terjadi hubungan antar
pembeli self care dengan penerima self care dalam hubungan terapi. Orem mengemukakan
tiga kategori / persyaratan self care yaitu : persyaratan universal, persyaratan
pengembangan dan persyaratan kesehatan.
Penekanan teori self care secara umum :
1. Pemeliharaan intake udara;
2. Pemeliharaan intake air;
3. Pemeliharaan intake makanan;
4. Mempertahankankan hubungan perawatan proses eliminasi dan eksresi;
5. Pemeliharaan keseimbangan antara aktivitas dan istirahat;
6. Pemeliharaan keseimbangan antara solitude dan interaksi sosial
7. Pencegahan resiko-resiko untuk hidup, fungsi usia dan kesehatan manusia
8. Peningkatan fungsi tubuh dan pengimbangan manusia dalam kelompok sosial sesuai
dengan potensinya.
2. Self Care Deficit(Defisit Perawatan Diri)
Defisit perawat diri terjadi bila tindakan perawatan diri tidak adekuat dalam
memenuhi kebutuhan perawatan diri yang disadari. Teori defisit perawatan diri Orem
menjelaskan bukan hanya saat keperawatan dibutuhkan saja, melainkan cara membantu
orang lain dengan menerapkan lima metode bantuan, yakni melakukan untuk, memandu,
mengajarkan, mendukung dan menyediakan lingkungan yang dapat meningkatkan
kemampuan individu untuk memenuhi tuntutan akan perawatan diri saat ini atau di masa
yang akan datang.
3. Nursing system(Sistem Keperawatan
Teori yang membahas bagaimana kebutuhan "Self Care" pasien dapat dipenuhi
oleh perawat, pasien atau keduanya. Nursing system ditentukan / direncanakan berdasarkan
kebutuhan "Self Care" dan kemampuan pasien untuk menjalani aktifitas "Self Care".
Orem mengidentifikasikan klasifikasi Nursing System :
a. The Wholly compensatory system
Merupakan bantuan secara keseluruhan, dibutuhkan untuk klien yang tidak mampu
mengontrol dan memantau lingkungannya dan berespon terhadap rangsangan.
b. The Partly compensantory system
Merupakan bantuan sebagian, dibutuhkan bagi klien yang mengalami keterbatasan
gerak karena sakit atau kecelakaan.
c. The supportive - Educative system
Merupakan dukungan pendidikan dibutuhkan oleh klien yang memerlukannya
untuk dipelajari, agar mampu melakukan perawatan mandiri.
d. Metode bantuan
Perawat membantu klien dengan menggunakan system dan melalui lima metode
bantuan yang meliputi :
- Acting atau melakukan sesuatu untuk klien;
- Mengajarkan klien;
- Mengarahkan klien;
- Mensupport klien.
Tiga Kategori Self Care
Model Orem's menyebutkan ada beberapa kebutuhan self care yang disebutkan sebagai
keperluan self care (self care requisite), yaitu :
1. Universal self care requisite ; keperluan self care universal dan ada pada setiap manusia dan
berkaitan dengan fungsi kemanusiaan dan proses kehidupan, biasanya mengacu pada
kebutuhan dasar manusia. Universal requisite yang dimaksudkan adalah :
a. Pemeliharaan kecukupan intake udara;
b. Pemeliharaan kecukupan intake cairan;
c. Pemeliharaan kecukupan makanan;
d. Pemeliharaan keseimabangan antara aktifitas dan istirahat;
e. Mencegah ancaman kehidupan manusia, fungsi kemanusiaan dan kesejahteraan manusia;
f. Persediaan asuhan yang berkaitan dengan proses- proses eliminasi;
g. Meningkatkan fungsi human fungtioning dan perkembangan ke dalam kelompok sosial
sesuai dengan potensi seseorang, keterbatasan seseorang dan keinginan seseorang untuk
menjadi normal.
2. Developmental self care requisite : terjadi berhubungan dengan tingkat perkembangan
individu dan lingkungan dimana tempat mereka tinggal yang berkaitan dengan perubahan
hidup seseorang atau tingkat siklus kehidupan.
3. Health deviation self care requisite : timbul karena kesehatan yang tidak sehat dan
merupakan kebutuhan-kebutuhan yang menjadi nyata karena sakit atau ketidakmampuan
yang menginginkan perubahan dalam perilaku self care.
Tujuan Keperawatan Keluarga Menurut Orem’s
Tujuan keperawatan pada model Orem's yang diterapkan kedalam praktek keperawatan
keluarga adalah :
1. Menolong klien dalam hal ini keluarga untuk keperawatan mandiri secara terapeutik;
2. Menolong klien bergerak kearah tidakan-tidakan asuhan mandiri;
3. Membantu anggota keluarga untuk merawat anggota keluarganya yang mengalami gangguan
secara kompeten.
Dengan demikian maka fokus asuhan keperawatan pada model orem's yang diterapkan pada
praktek keperawatan keluarga/komunitas adalah sebagai berikut:
1. Aspek interpersonal : hubungan didalam kelurga;
2. Aspek sosial : hubungan keluarga dengan masyarakat disekitarnya;
3. Aspek prosedural : melatih ketrampilan dasar keluarga sehingga mampu mengantisipasi
perubahan yang terjadi;
4. Aspek tehnis : mengajarkan kepada keluarga tentang tehnik dasar yang dilakukan di rumah,
misalnya melakukan tindakan kompres secara benar.
a. Kelemahan teori Dorothea Orem
Teori orem berpendapat bahwa kesehatan bersifat statis, namun dalam kenyataanny a
kes ehatan itu bers ifat dinamis dan s elalu berubah. Kesan lain dari model konsep
ini adalah untuk penempatan pasien dalam system mencakup kapasitas individu untuk
gerakan fisik. Selain itu ada konsep keperawatan orem menekankan individu untuk
memenuhi kebutuhan perawatannya sendiri tanpa adanya ketergantungan pada
orang lain, tetapi ketika seorang klien sakit maka kemampuan keperawatan
dirinya sendiri dalam memenuhi kebutuhannya akan berkurang akibatnya suplai
kebutuhan yang akan terpenuhi akan tidak optimal.

b. Kelebihan teori Dorothea Orem


P a d a m o d e l k e p e r a w a t a n D o r e n t h e a O r e m m e m b e r i k a n pelayanan pada
tiap individu yang terganggu kondisinya sakit yang pasien alami. Serta perawat
memberikan motivasi kepada seorang klien untuk memenuhi kebutuhannya
sendiri (self care ) tanpa adanya ketergantungan pada orang lain .sehingga
pasien secara m a n d i r i m e n g e r t i m e l a k u k a n p e r a w a t a n d i r i , u n t u k m e n c a p a i
kesehatan yang optimal.

2.3 Teori Callista Roy


Model dalam keperawatan yang menguraikan bagaimana individu mampu meningkatkan
kesehatannya dengan cara perilaku adaptif serta mampu merubah perilaku yang maladaptive.
Calista Roy mengemukakan konsep keperawatan dengan model adaptasi yang memiliki beberapa
pandangan dan keyakinan serta nilai yang dimilikinya.
Model Konseptual Adaptasi Roy
Roy berpendapat bahwa ada empat elemen penting dalam model  adaptasi keperawatan,
yakni manusia, lingkungan, kesehatan dan keperawatan. Unsur keperawatan terdiri dari dua
bagian yaitu tujua keperawatan dan aktivitas keperawatan, juga termasuk dalam elemen penting
pada konsep adaptasi.
 Elemen Manusia
Manusia merupakan bagian dari sistem adaptasi, yaitu suatu kumpulan unit yang saling
berhubungan mempunyai masukan, proses kontrol, keluaran dan umpan balik (Roy, 1986).
Proses kontrol adalah mekanisme koping yang dimanifestasikan dengan adaptasi secara spesifik.
Manusia dalam sistem ini berperan sebagai kognator dan regulator (pengaturan) untuk
mempertahankan adaptasi. Terdapat empat cara adaptasi, mencakup adaptasi terhadap fungsi
fisologis, konsep diri, fungsi peran dan terhadap kebutuhan saling ketergantungan.
Pada model adaptasi keperawatan, manusia dilihat dari sistem kehidupan yang terbuka,
adaptif, melakukan pertukaran energi dengan zat/benda dan lingkungan. Sebagai sistem adaptif
manusia dapat digambarkan dalam istilah karakteristik sistem, Jadi manusia dilihat sebagai satu
kesatuan yang saling berhubungan antar unit fungsional secara keseluruhan atau beberapa unit
fungsional untuk beberapa tujuan. Sebagai suatu sistem manusia juga dapat digambarkan dengan
istilah input, proses control dan umpan balik serta output.
Manusia sebagai masukan dalam sistem adaptif, terdiri dari lingkungan eksternal dan
internal. Proses kontrol manusia adalah mekanisme koping yakni sistem regulator dan kognator.
Keluaran dari sistem ini dapat berupa respons adaptif atau respons tidak efektif. Regulator
dihubungkan dengan fungsi fisiologis sedangkan kognator dihubungkan dengan konsep diri,
fungsi peran, dan interdependensi.
 Model Fungsi Fisiologi
Fungsi fisiologi berhubungan dengan struktur tubuh dan fungsinya. Roy mengidentifikasi
sembilan kebutuhan dasar fisiologis yang harus dipenuhi untuk mempertahankan integritas, yang
dibagi menjadi dua bagian, model fungsi fisiologis tingkat dasar yang terdiri dari 5 kebutuhan
dan fungsi fisiologis dengan proses yang kompleks terdiri dari 4 bagian yaitu :
a. Oksigenasi : Kebutuhan tubuh terhadap oksigen dan prosesnya, yaitu ventilasi, pertukaran
gas dan transpor gas (Vairo,1984 dalam Roy 1991).
b. Nutrisi : Mulai dari proses ingesti dan asimilasi makanan untuk mempertahankan fungsi,
meningkatkan pertumbuhan dan mengganti jaringan yang injuri. (Servonsky, 1984 dalam
Roy 1991).
c. Eliminasi : Yaitu ekskresi hasil dari metabolisme dari instestinal dan ginjal. ( Servonsky,
1984 dalam Roy 1991)
d. Aktivitas dan istirahat : Kebutuhan keseimbangan aktivitas fisik dan istirahat yang digunakan
untuk mengoptimalkan fungsi fisiologis dalam memperbaiki dan memulihkan semua
komponen-komponen tubuh. (Cho,1984 dalam Roy, 1991).
e. Proteksi/ perlindungan : Sebagai dasar defens tubuh termasuk proses imunitas dan struktur
integumen ( kulit, rambut dan kuku) dimana hal ini penting sebagai fungsi proteksi dari
infeksi, trauma dan perubahan suhu. (Sato, 1984 dalam Roy 1991).
f. The sense / perasaan : Penglihatan, pendengaran, perkataan, rasa dan bau memungkinkan
seseorang berinteraksi dengan lingkungan . Sensasi nyeri penting dipertimbangkan dalam
pengkajian perasaan.( Driscoll, 1984, dalam Roy, 1991).
g. Cairan dan elektrolit. : Keseimbangan cairan dan elektrolit di dalamnya termasuk air,
elektrolit, asam basa dalam seluler, ekstrasel dan fungsi sistemik. Sebaliknya inefektif fungsi
sistem fisiologis dapat menyebabkan ketidakseimbangan elektrolit. (Parly, 1984, dalam Roy
1991).
h. Fungsi syaraf / neurologis : Hubungan-hubungan neurologis merupakan bagian integral dari
regulator koping mekanisme seseorang. Mereka mempunyai fungsi untuk mengendalikan dan
mengkoordinasi pergerakan tubuh, kesadaran dan proses emosi kognitif yang baik untuk
mengatur aktivitas organ-organ tubuh (Robertson, 1984 dalam Roy, 1991).
i. Fungsi endokrin : Aksi endokrin adalah pengeluaran horman sesuai dengan fungsi
neurologis, untuk menyatukan dan mengkoordinasi fungsi tubuh. Aktivitas endokrin
mempunyai peran yang signifikan dalam respon stress dan merupakan dari regulator koping
mekanisme ( Howard & Valentine dalam Roy,1991).
 Model Konsep Diri
Model konsep diri berhubungan dengan psikososial dengan penekanan spesifik pada aspek
psikososial dan spiritual manusia. Kebutuhan dari konsep diri ini berhubungan dengan integritas
psikis antara lain persepsi, aktivitas mental dan ekspresi perasaan. Konsep diri menurut Roy
terdiri dari dua komponen yaitu the physical self dan the personal self.
a. The physical self, yaitu bagaimana seseorang memandang dirinya berhubungan dengan
sensasi tubuhnya dan gambaran tubuhnya. Kesulitan pada area ini sering terlihat pada saat
merasa kehilangan, seperti setelah operasi, amputasi atau hilang kemampuan seksualitas.
b. The personal self, yaitu berkaitan dengan konsistensi diri, ideal diri, moral- etik dan spiritual
diri orang tersebut. Perasaan cemas, hilangnya kekuatan atau takut merupakan hal yang berat
dalam area ini.
 Mode fungsi peran
Mode fungsi peran mengenal pola - pola interaksi sosial seseorang dalam hubungannya
dengan orang lain, yang dicerminkan dalam peran primer, sekunder dan tersier. Fokusnya pada
bagaimana seseorang dapat memerankan dirinya dimasyarakat sesuai kedudukannya.
 Model Interdependensi
Mode interdependensi adalah bagian akhir dari mode yang dijabarkan oleh Roy. Fokusnya
adalah interaksi untuk saling memberi dan menerima cinta/ kasih sayang, perhatian dan saling
menghargai.
Interdependensi yaitu keseimbangan antara ketergantungan dan kemandirian dalam
menerima sesuatu untuk dirinya. Ketergantungan ditunjukkan dengan kemampuan untuk afiliasi
dengan orang lain. Kemandirian ditunjukkan oleh kemampuan berinisiatif untuk melakukan
tindakan bagi dirinya. Interdependensi dapat dilihat dari keseimbangan antara dua nilai ekstrim,
yaitu memberi dan menerima.
 Elemen lingkungan
Lingkungan digambarkan sebagai dunia di dalam dan di luar manusia. Lingkungan
merupakan masukan (input) bagi manusia sebagai sistem yang adaptif sama halnya lingkungan
sebagai stimulus eksternal dan internal. Lebih lanjut stimulus itu dikoelompokkan menjadi tiga
jenis stimulus yaitu : fokal, konstektual, dan residual. Lebih luas lagi lingkungan didefinisikan
sebagai segala kondisi, keadaan disekitar dan mempengaruhi keadaan, perkembangan dan
perilaku manusia sebagai individu ata kelompok
 Elemen kesehatan
Menurut Roy, kesehatan didefinisikan sebagai keadaan dan proses menjadi manusia secara
utuh dan terintegrasi secara keseluruhan. Integritas atau keutuhan manusia menyatakan secara
tidak langsung bahwa kkesehatan atau kondisi tidak terganggu mengacu kelengkapan atau
kesatuan dan kemungkinan tertinggi dari pemenuhan potensi manusia. Jadi Integritas adalah
sehat, sebaliknya kondisi yang tidak ada integritas kurang sehat. Definisi kesehatan ini lebih dari
tidak adanya sakit tapi termasuk penekanan pada kondisi sehat sejahtera.
Dalam model adaptasi keperawatan, konsep sehat dihubungkan dengan konsep adaptasi.
Adaptasi yang bebas energi dari koping yang inefektif dan mengizinkan manusia berespon
terhadap stimulus yang lain. Pembebasan energi ini dapat meningkatkan penyembuhan dan
mempertinggi kesehatan. Hal ini adalah pembebasan energi yang menghubungkan konsep
adaptasi dan kesehatan.
Adaptasi adalah komponen pusat dalm model keperawatan. Didalamnya menggambarkan
manusia sebagai sistem adaptif. Adaptasi dipertimbangkan baik proses koping terhadap stressor
dan produk akhir dari koping. Proses adaptasi termasuk fungsi holistic untuk mempengaruhi
kesehatan secara positif dan itu meningkatkan integritas. Proses adaptasi termasuk semua
interaksi manusia dan lingkungan terdiri dari dua proses. Bagian pertama dari proses ini dimulai
dengan pperubahan dalam lingkungan internal dan eksternal yan gmembutuhkan sebuah respon.
Perubahan – perubahan itu adalah stressor atau stimulus fokal dan ditengahi oleh factor-faktor
konstektual dan residual. Bagian-bagian stressor menghasilkan interaksi yang biasanya disebut
stress. Bagian kedua adalah mekanisme koping yang merangsang untuk menghasilkan respon
adaptif dan inefektif.
Produk adaptasi adalah hasil dari proses adaptasi dan digambarkan dalam istilah kondisi yang
meningkatkan tujuan-tujuan manusia yang meliputi : kelangsungan hidup, pertumbuhan,
reproduksi dan penguasaan yang disebut integritas. Kondisi akhir ini adalah kondisi
keseimbangan dinamik equilibrium yang meliputi peningkatan dan penurunan respon-respon.
Setiap kondisi adaptasi baru dipengaruhi oleh adaptasi, sehingga dinamik equilibrium manusia
berada pada tingkat yang lebih tinggi. Jarak yang besar dari stimulus dapat disepakati dengan
suksesnya manusia sebagai sistem adaptif. Jadi peningkatan adaptasi mengarah pada tingkat-
tingkat yang lebih tinggi pada keadaan sejahtera atau sehat. Adaptasi kemudian disebut sebagai
suatu fungsi dari stimuli yang masuk dan tingkatan adaptasi.
 Elemen keperawatan
Keperawatan adalah suatu disiplin ilmu dan ilmu tersebut menjadi landasan dalam
melaksanakan praktik keperawatan (Roy, 1983). Lebih spesifik Roy (1986) berpendapat bahwa
keperawatan sebagai ilmu dan praktik berperan dalam meningkatkan adaptasi individu dan
kelompok terhadap kesehatan sehingga sikap yang muncul semakin positif.
Keperawatan memberi perbaikan pada manusia sebagai sutu kesatuan yang utuh untuk
beradaptasi dengan perubahan yang terjadi pada lingkungan dan berespons terhadap stimulus
internal yang mempengaruhi adaptasi.Jika stressor terjadi dan individu tidak dapat menggunakan
“koping” secara efektif maka individu tersebut memerlukan perawatan.
Tujuan keperawatan adalah meningkatkan interaksi individu dengan lingkungan, sehingga
adaptasi dalam setiap aspek semakin meningkat.Komponen-komponen adaptasi mencakup
fungsi fisiologis, konsep diri, fungsi peran, dan saling ketergantungan.
 
a. Kelebihan Model Teori Callista Roy.
Kelebihan dari teori dan model konseptualnya adalah terletak pada teori praktek dan model
adaptasi yang dikemukakan oleh Roy perawat bisa mengkaji respon perilaku pasien terhadap
stimulus yaitu mode fungsi fisiologis, konsep diri, mode fungsi peran dan mode interdependensi.
selain itu perawat juga bisa mengkaji stressor yang dihadapi oleh pasien yaitu stimulus fokal,
konektual dan residual, sehingga diagnosis yang dilakukan oleh perawat bisa lebih lengkap dan
akurat.

b. Kekurangan Model Teori Callista Roy.


Kekurangan / kelemahan dari model adaptasi Roy ini adalah terletak pada sasarannya. Model
adaptasi Roy ini hanya berfokus pada proses adaptasi pasien dan bagaimana pemecahan masalah
pasien dengan menggunakan proses keperawatan dan tidak menjelaskan bagaimana sikap dan
perilaku cara merawat ( caring ) pada pasien. Sehingga seorang perawat yang tidak mempunyai
perilaku caring ini akan menjadi sterssor bagi para pasiennya.
2.4 TEORI IMOGENE M. KING
Tujuan perawat adalah "untuk membantu individu menjaga atau mendapatkan kembali
kesehatan." Ranah keperawatan adalah mempromosikan, memelihara, memulihkan kesehatan
dan merawat orang sakit, terluka atau sekarat.
Fungsi perawat profesional adalah untuk menafsirkan informasi secara mendalam, yang biasa
dikenal sebagai proses keperawatan, untuk merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi
asuhan keperawatan bagi individu, keluarga, kelompok dan masyarakat.
King menyatakan bahwa perhatian keperawatan adalah membantu orang berinteraksi dengan
lingkungan mereka dengan cara yang akan mendukung pemeliharaan kesehatan dan
pertumbuhan menuju pemenuhan diri. King telah memberikan asumsi khusus untuk interaksi
perawat-klien:
o Persepsi perawat dan klien mempengaruhi proses interaksi.
o Tujuan, kebutuhan, dan nilai-nilai perawat dan klien mempengaruhi proses interaksi.
o Individu memiliki hak untuk mengetahui tentang diri mereka sendiri.
o Individu memiliki hak untuk berpartisipasi dalam keputusan yang mempengaruhi
kehidupan mereka, kesehatan mereka, dan layanan masyarakat.
o Individu memiliki hak untuk menerima atau menolak perawatan kesehatan.
o Tujuan dari profesional kesehatan dan tujuan penerima perawatan kesehatan mungkin
kongruen.
1. KEBUTUHAN MANUSIA MENURUT IMOGENE KING
King menyatakan bahwa manusia memiliki tiga kebutuhan kesehatan mendasar:
a. Kebutuhan akan informasi kesehatan yang dapat digunakan pada saat dibutuhkan dan dapat
digunakan.
b. Kebutuhan untuk perawatan yang bertujuan untuk mencegah penyakit.
c. Kebutuhan untuk perawatan ketika manusia tidak mampu membantu diri mereka sendiri.
King menunjukkan bahwa perawat memiliki kesempatan untuk mengetahui
o Informasi tentang riwayat kesehatan klien
o bagaimana pandangan klien terhadap kesehatan sendiri
o apa tindakan klien untuk pemeliharaan kesehatan
2. KESEHATAN
King mendefinisikan kesehatan sebagai "pengalaman hidup yang dinamis dari seorang
manusia, yang berarti penyesuaian terus menerus terhadap stressor dalam lingkungan internal
dan eksternal melalui penggunaan yang optimal dari sumber daya seseorang untuk mencapai
potensi maksimal untuk hidup sehari-hari".
King menegaskan bahwa kesehatan bukan hal yang berkelanjutan, melainkan suatu keadaan
holistik dan mengidentifikasi karakteristik kesehatan sebagai "genetik, subjektif, relatif, dinamis,
lingkungan, fungsional, budaya dan persepsi".  
King mendefinisikan penyakit sebagai penyimpangan dari atau ketidakseimbangan dalam
fungsi seseorang yang normal. Penyimpangan ini mungkin berhubungan dengan struktur
biologis, hubungan psikologis, atau sosial.
3. LINGKUNGAN
Lingkungan dan Masyarakat yang diindikasikan sebagai konsep utama dalam sistem
konseptual King tetapi tidak secara khusus didefinisikan dalam pekerjaannya. Masyarakat dapat
dipandang sebagai bagian sistem sosial dari sistem konseptualnya.
King mendefinisikan bahwa lingkungan yang sehat adalah lingkungan yang baik secara
internal dan eksternal, King juga menyatakan bahwa' lingkungan adalah fungsi dari
keseimbangan antara interaksi internal dan eksternal.
4. KEPERAWATAN
Keperawatan didefinisikan sebagai tindakan perawat dan klien, reaksi dan interaksi dalam
situasi perawatan kesehatan untuk berbagi informasi tentang persepsi mereka satu sama lain dan
dalam situasi tertentu. Komunikasi ini memungkinkan mereka untuk menetapkan tujuan dan
memilih metode untuk mencapai tujuan. Tindakan didefinisikan sebagai urutan perilaku yang
melibatkan aktivitas mental dan fisik.
Proses Interaksi Manusia Menurut Imogene M.King
1. Aksi merupakan proses awal hubungan 2 individu dalam berprilaku,dalam memahami
atau mengenali kondisi yang ada dalam keperawatan dengan digambarkan hubungan
keperawatn dan klien melakukan kontrak atau tujuan yang diharapkan.
2. Reaksi adalah suatu bentuk tindakan yang terjadi akibat dari adanya aksi dan merupakan
respon dari individu.
3. Interaksi adalah suatu bentuk kerjasama yang saling mempengaruhi antara perawat dan
klien yang terwujud dalam komunikasi.
4. Transaksi kondisi dimana antara perawat dan klien terjadi suatu persetujuan dalam
rencana tindakan keperawatan yang akan dilakukan.

a. Kelebihan Teori Imogene M. King


1. Teori ini dapat menyesuaikan pada setiap perubahan, teori ini dapat dipergunakan dan
menjelaskan atau memprediksi sebagian besar fenomena dalam keperawatan.
2. Teori ini merupakan serangkaian konsep yang saling berhubungan dengan jelas dan dapat
diamati dalam praktek keperawatan.
3. Mengedepankan partisipasi aktif  klien dalam penyusunan tujuan bersama,mengambil
keputusan, dan interaksi untuk mencapai tujuan klien.
4. Teori ini dapat dipakai pada semua tatanan pelayanan keperawatan.
5. Teori ini dapat dikembangkan dan diuji melalui riset.
6. Teori ini sangat penting pada kolaborasi antara tenaga kesehatan.

b. Kekurangan Teori Imogene M. King


1. Beberapa konsep dasar kurang  jelas,contohnya teori ini menyatakan bahwa stress
memiliki konsekuensi positif dan menyarankan perawat harus menghilangkan pembuat
stress dari lingkungan RS.
2. Teori ini berfokus pada system interpersonal sehingga tujuan yang akan dicapai sangat
tergantung pada presepsi perawat  dan klien yang terlibat dalam hubungan interpersonal
dan hanya pada saat itu saja.
3. Teori ini belum menjelaskan metode yang aplikatif dalam penerapan konsep
interaksi,komunikasi,transaksi dan persepsi,misalnya pasien-pasien yang tidak dapat
berinteraksi dengan perawat misalnya klien dengan koma, BBL ,dan pasien psikiatrik.

2.5 Definisi Keperawatan Menurut Martha E. Rogers


Keperawatan adalah ilmu humanistis atau humanitarian yang menggambarkan dan
memperjelas bahwa manusia dalam strategi yang utuh dan dalam perkembangan hipotesis secara
umum dengan memperkirakan prinsip-prinsip dasar untuk ilmu pengetahuan praktis. Ilmu
keperawatan adalah ilmu kemanusiaan, mempelajari tentang alam dan hubungannya dengan
perkembangan manusia.
Rogers mengungkapkan bahwa aktivitas yang di dasari prinsip – prinsip kreatifitas, seni dan
imaginasi. Aktifitas keperawatan dinyatakan Rogers merupakan aktifitas yang berakar pada
dasar ilmu pengetahuan abstrak, pemikiran intelektual, dan hati nurani. Rogers menekankan
bahwa keperawatan adalah disiplin ilmu yang dalam aktifitasnya mengedepankan aplikasi
keterampilan, dan teknologi. Aktivitas keperawatan meliputi pengkajian, intervensi, dan
pelayanan rehabilitatif senantiasa berdasar pada konsep pemahaman manusia atau individu
seutuhnya.
Berdasarkan pada kerangka konsep yang dikembangkan oleh Rogers (1970) ada lima dasar
asumsi tentang manusia, yaitu:
a. Manusia adalah satu kesatuan, proses integritas individu dan mewujudkan karakteristik yang
lebih dan perbedaan dari jumlah bagian-bagiannya. Manusia kelihatan seperti bagian terkecil
dan menghilang lenyap dari pandangan. Karena kesatuan ini menghasilkan variabel dan
secara konstan mengubah pola ini. Manusia merupakan makhluk yang memiliki kepribadian
unik, antara satu dan lainnya berbeda di beberapa bagian. Secara signifikan mempunyai sifat-
sifat yang khusus jika semuanya jika dilihat secara bagian perbagian ilmu pengetahuan dari
suatu subsistem tidak efektif bila seseorang memperhatikan sifat-sifat dari sistem kehidupan
manusia. Manusia akan terlihat saat bagiannya tidak dijumpai.
b. Individu dan lingkungan terus mengalami perubahan materi dan energi. Berasumsi bahwa
individu dan lingkungan saling tukar-menukar energi dan material satu sama lain. Beberapa
individu mendefenisikan lingkungan sebagai faktor eksternal pada seorang individu dan
merupakan satu kesatuan yang utuh dari semua hal.
c. Mempercayai bahwa proses hidup manusia tidak dapat diulang dan tidak dapat diprediksi
sepanjang ruang dan waktu. Individu tidak pernah dapat mundur atau jadilah sesuatu ia atau
dia sebelumnya. Bahwa proses kehidupan manusia merupakan hal yang tetap dan saling
bergantung dalam satu kesatuan ruang waktu secara terus menerus. Akibatnya seorang
individu tidak akan pernah kembali atau menjadi seperti yang diharapkan semula.
d. Perilaku pada individu merupakan suatu bentuk kesatuan yang inovatif. Mengidentifikasi
pola manusia dan mencerminkan keutuhan yg inovatif, pola teladan ini mempertimbangkan
pengaturan diri, ritme, dan teori pengaruh energi. Mereka memberi kesatuan
keanekaragaman dan mencerminkan suatu alam semesta yang kreatif dan dinamis.
e. Individu dicirikan oleh kapasitas abstraksi dan citra, bahasa dan berpikir, sensasi dan
emosi. Hanya manusia yang mampu untuk berfikir menjadi siapa dan keluasan dari alam
semesta ini. Dari seluruh bentuk kehidupan di dunia hanya manusia yang mampu berfikir dan
menerima dan mempertimbangkan luasnya dunia.
Berdasarkan pada asumsi-asumsi, terdapat 4 batasan utamayang ditunjukkan oleh Martha E.
Roger :
a. Sumber energi
b. Keterbukaan
c. Pola-pola perilaku
d. Ukuran-ukuran 4 dimensi
Disini terdapat elemen-elemen yang saling berhubungan pada ini adalah manusia dan
lingkungannya. Sebagai sistem hidup dan sumber energi, individu mampu mengambil energi dan
informasi dari lingkungan dan menggunakan energi dan informasi untuk lingkungan. Karena
pertukaran ini individu adalah sistem terbuka yang mendasari dan membatasi asumsi-asumsi
utama Martha E. Roger.
Martha E. Roger mengemukakan empat konsep besar tersebut dan menghadirkan lima
asumsi tentang manusia. Tiap orang dikatakan sebagai suatu yang individu utuh. Manusia dan
lingkungan selalu saling bertukar energi. Proses yang terjadi dalam kehidupan seseorang tidak
dapat diubah dan berhubungan satu sama lain pada dimensi ruang dan waktu. Hal tersebut
merupakan pola kehidupan. Pada akhirnya seseorang mampu berbicara, berfikir, merasakan,
emosi, membayangkan dan memisahkan. Manusia mempunyai empat dimensi, medan energi
negentropik dapat diketahui dari kebiasaan dan ditunjukkan dengan ciri-ciri dan tingkah laku
yang berbeda satu sama lain dan tidak dapat diduga dengan ilmu pengetahuan yaitu lingkungan,
keperawatan dan kesehatan.
Hubungan teori keperawatan Martha E. Rogers dengan Praktik Keperawatan
Martha E Rogers mengungkapkan bahwa teori yang diambilnya dari konsepnya sangat
mungkin untuk di terapkan dalam praktik keperawatan. Malinski (1986) mencatat ada tujuh trend
yang ada dalam praktik keperawatan, yang kesemuanya berdasar pada konsep teori yang di
kemukakan Martha E Rogers :
a. Pemberian kewenangan penuh dalam hubungan perawat klien
b. Menerima perbedaan sebagai sesuatu yang wajar
c. Penyesuaian terhadap pola
d. Menggunakan modalitas gelombang seperti lampu musik, pergerakan dalam proses
penyembuhan.
e. Menunjukkan suatu perubahan yang positif
f. Memperluas fase pengkajian dalam proses keperawatan
g. Menerima hubungan yang menyeluruh dalam hidup.

a.Kelebihan Teori Martha E. Rogers


1. Teori Martha E. Rogers berhubungan antara manusia dan lingkungannya. Disini manusia dan
lingkungannya adalah dimensi yang tidak dapat dipisahkan.
2. Teori Martha E. Rogers sering digunakan dalam praktik keperawatan
b.Kekurangan Teori Martha E. Rogers
1. Dalam Teori Martha E. Rogers dijelaskan bahwa lingkungan mempengaruhi tingkat
kesehatan manusia. Jadi apabila lingkungan kotor maka kondisi kesehatan manusia akan
buruk.
BAB III
PENUTUP

3.1.   KESIMPULAN
Berdasarkan model-model konsep dalam keperawatan, perawat harus mengembangkan
interaksi antara perawat dan klien untuk membantu individual dalam mengatasi masalah yang
berkaitan dengan kemampuan sehingga dapat membantu memenuhi tekanan atau memenuhi
kebutuhan yang dihasilkan dari suatu kondisi, lingkungan, situasi atau waktu yang bertujuan
untuk melakukan konservasi kegiatan yang ditujukan untuk menggunakan sumber daya yang
dimiliki klien secara optimal.

3.2.SARAN
Diharapkan kita sebagai seorang perawat mampu menerapkan model konsep keperawatan
dan marilah kita sebagai perawat berusaha untuk meringankan penderitaan pasien yang kita
rawat. Rawatlah pasien seperti kita merawat orang yang paling kita sayang. Agar pasien merasa
nyaman pada saat di sakit bukan menderita lagi. jangan pantang menyerah dan berputus asa
dalam merawat pasien. Menjadi perawat bukanlah pekerjaan yang mudah, tetapi kalau kita tidak
menacoba kita tidak akan pernah bisa. Di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin kalau kita
mempunyai tekad untuk melakukannya dengan gigih dan rajin.