Anda di halaman 1dari 11

Presentasi Kasus dr.

Anna 19 Januari 2021

1. Ringkasan Diagnosis Banding Hidung Tersumbat Pada Dua Sisi

Rhinitis Alergi Rhinitis Medikamentosa


Definisi Kelainan pada hidung dengan suatu kelainan hidung yang berupa
gejala bersin-bersin, rinorea, rasa gangguan respon normal vasomotor
gatal dan tersumbat setelah mukosa yang diakibatkan oleh pemakaian
hidung terpapar alergen yang vasokonstriktor topikal (tetes hidung
diperantarai Ig E atau semprot hidung) dalam waktu
lama dan berlebihan, sehingga
menyebabkan sumbatan hidung yang
menetap
Etiologi Bergantung gejala yang muncul, Penyakit rinitis medikamentosa
apakah merupakan episode disebabkan oleh pemakaian obat
musiman, perenial, maupun vasokonstriktor topikal. Obat ini
sporadik. Beberapa pasien sensitif sebaiknya isotonik dengan sekret
terhadap lebih dari satu alergen dan hidung yang normal, dengan pH antara
bisa mempunyai rinitis alergi 6,3 dan 6,5, serta pemakaiannya tidak
perenial dengan eksaserbasi lebih dari satu minggu. Jika tidak, akan
musiman terjadi kerusakan pada mukosa
hidung berupa:
Berdasarkan cara masuknya, 1. Silia rusak
alergen dibagi atas: 2. Sel goblet berubah ukurannya
1) Alergen inhalan, yaitu alergen 3. Membran basal menebal
yang masuk bersama dengan udara 4. Pembuluh darah melebar
pernafasan, misalnya debu rumah, 5. Stroma tampak edema
tungau, serpihan epitel dari bulu 6. Hipersekresi kelenjar mukus
binatang, serta jamur. 7. Lapisan submukosa dan
2) Alergen ingestan, yaitu alergen periostium menebal
yang masuk ke saluran cerna,
berupa makanan misalnya susu,
telur, coklat, ikan, dan udang.
3) Alergen injektan, yaitu alergen
yang masuk melalui suntikan atau
tusukan, misalnya penisilin atau
sengatan lebah
4) Alergen kontaktan, yang masuk
melalui kontak dengan kulit atau
jaringan mukosa, misalnya bahan
kosmetik atau perhiasan

Patofisiologi Mukosa hidung merupakan organ yang


amat peka terhadap rangsangan atau
iritan sehingga harus berhati hati dalam
mengkonsumsi obat vasokonstriksi
topikal dari golongan simptomatik
yang dapat mengakibatkan
terganggunya siklus nasal dan akan
berfungsi kembali dengan
menghentkan pemakaian obat.
Pemakaian vasokonstriktor topikal
yang berulang dalam waktu lama, akan
mengakibatkan terjadinya fase dilatasi
berulang (rebound dilatation) setelah
vasokonstriksi, sehingga menimbulkan
terjadinya obstruksi atau penyumbatan.

Dengan adanya gejala obstruksi hidung


ini menyebabkan pasien lebih sering
dan lebih banyak lagi memakai obat
tersebut sehingga efek vasokonstriksi
berkurang, pH hidung berubah dan
aktivitas silia terganggu, sedangkan
efek balik akan menyebabkan obstruksi
hidung lebih hebat dari keluhan
sebelumnya. Bila pemakaian obat
diteruskan akan menyebabkan dilatasi
dan kongesti jaringan. Kemudian
terjadi pertambahan mukosa jaringan
dan rangsangan sel–sel mukoid,
sehingga sumbatan akan menetap
dengan produksi sekret yang
berlebihan.

Anamnesis  riwayat penyakit secara Anamnesis


umum (lama, frekuensi,  Pasien mengeluh hidungnya
waktu timbulnya dan tersumbat terus menerus dan
beratnya penyakit, persisten berair
atau intermiten)  Obstruksi hidung yang
 pertanyaan yang lebih berterusan ( kronik ) tanpa
spesifik meliputi gejala di pengeluaran sekret atau bersin.
hidung termasuk keterangan  Riwayat pemakaian
mengenai tempat tinggal, vasokontriktor topikal seperti
tempat kerja dan pekerjaan obat tetes hidung atau obat
pasien. semprot hidung dalam waktu
lama dan berlebihan.

Pemeriksaan  Status lokalis: Pemeriksaan fisik


Fisik Maksilofasial: Pada anak sering  Mukosa hidung kelihatan
ditemukan tanda khas bayangan kemerahan (beefy-red) dengan
gelap di daerah bawah area bercak pendarahan dan
mata(allergic shiner), sering sekret yang minimal atau edema
menggosok-gosok hidung dengan  Mulut kering
punggung tangan (allergic salute),  Rhinoskopi anterior : konka
dan gambaran garis melintang di edema (hipertrofi), sekret
bagian dorsum hidung (allergic hidung yang berlebihan
crease).  Tes adrenalin : negatif (edema
konka tidak berkurang)

Rhinoskopi Anterior : Gambaran


mukosa septum dan konka basah
pucat kebiruan dan edema, disertai
sekret banyak bening dan encer,
biasanya terdapat hipertrofi pada
konka inferior.

 Nasoendoskopi:
Kelainan yang tidak terlihat di
rinoskopi anterior, kemungkinan
komplikasi polip, sinusitis
 Telinga: Komplikasi yang
biasa ditemukan otitis
media.
Otoskopi:
 CAE: edema? sekret?
hiperemis? granulasi?
 M: intak? perforasi? reflek
cahaya? air bubble?
 Komplikasi Lain
-Geograpich tongue
-Penebalan lateral dermatitis band

P. Penunjang Pemeriksaan penunjang untuk a. Skin Prick Test


mendiagnosis rhinitis alergi Pemeriksaan ini adalah pemeriksaan
meliputi, pemeriksaan eosinophil sederhana yang dapat dilakukan dengan
secret hidung, jumlah eosinophil melihat Ig E spesifik terhadap tungau
darah tepi, kadar IgE spesifik, skin debu rumah, sebagai allergen yang
prick test. Diantara pemeriksaan paling sering, sehingga dapat
tersebut yang paling sering ditentukan pasien rhinitis alergi atau
digunakan adalah tes kulit, karena non alergi.
sederhana (mudah pelaksanaannya),
murah cepat aman dan cukup b.Pemeriksaan Histopatologi
sensitif dan spesifik. Dasar test Pemeriksaan ini dapat menentukan
kulit adalah menguji ekstrak penyebab hipertrofi jaringan konka.
allergen yang terikat pada sel mast Pada konka yang disebabkan oleh
di jaringan kulit. Teknik test kulit rhinitis non alergi dijumpai degenerasi
ada dua macam yaitu test epidermal kistik pada kelenjar, penipisan lapisan
dan intradermal. Diantara kedua epitel, lamina propria pada mukosa
test tersebut yang paling sering nasal fibrotik serta dominasi kelenjar
dilakukan adalah test epidermal mucous acinicm dan peningkatan
(skin prick test) pembuluh darah.

Histologi hipertofi konka yang


disebabkan oleh rhinitis non alergi

c.Nasal endoscopy
Pemeriksaan ini dilakukan untuk
menyingkirkan patologi sebuah
pembesaran seperti polip nasal.

d.CT Scan
Pemeriksaan ini dapat dilakukan untuk
mengetahui pembesaran konka nasal
inferior dengan mengukur ukuran
mukosa dan tulang.
Tatalaksana 1. Farmakoterapi Farmakologi
Obat diberikan berdasarkan dari  Pemberian intranasal
klasifikasi diagnosis rinitis alergi kortikosteroid bersamaan
(sesuai algoritma WHO-ARIA dengan oral kortikosteroid
2008). Obat diberikan selama 2-4 jangka pendek seperti
minggu, kemudian dievaluasi ulang prednisone 0.5 mg per kg
ada/tidak adanya respons. Bila selama 5 hari
terdapat perbaikan, obat diteruskan  Pemberian dekongestan
lagi 1 bulan. Obat yang sistemik oral sebagai pengganti
direkomendasikan sbb : intranasal dekongestan
 Antihistamin oral generasi Non-farmakologi
kedua atau terbaru. Pada  Pemberhentian penggunaan
kondisi tertentu dapat nasal dekongestan secepatnya
diberikan antihistamin yang  Irigasi nasal dengan cairan
dikombinasi dekongestan, saline
antikoligernik intranasal
atau kortikosteroid sistemik.
 Kortikosteroid intranasal

2. Penghindaran alergen dan


kontrol lingkungan
Bersamaan dengan pemberian obat,
pasien diedukasi untuk menghindari
atau mengurangi jumlah alergen
pemicu di lingkungan sekitar.
Membuat kondisi lingkungan
senyaman mungkin dengan
menghindari stimulus non spesifik
(asap rokok, udara dingin dan
kering)

3. Imunoterapi
Apabila tidak terdapat perbaikan
setelah farmakoterapi optimal dan
penghindaran alergen yang optimal,
maka dipertimbangkan untuk
pemberian imunoterapi secara
subkutan atau sublingual (dengan
berbagai pertimbangan khusus).
Imunoterapi ini diberikan selama 3-
5 tahun untuk mempertahankan
efektifitas terapi jangka panjang.

Edukasi Kombinasi modalitas di atas hanya Setiap meresepkan dekongestan


dapat terlaksana dengan baik intranasal, pasien harus terlebih dahulu
apabila dilakukan edukasi yang menerima edukasi tentang efek
baik dan cermat kepada pasien samping penggunaan dekongestan
ataupun keluarga. Menerangkan intranasal yang berlebihan, anjuran
juga kemungkinan adanya ko- penggunaan maksimal selama 5-7 hari
morbid dan tindakan bedah pada dan tidak boleh terlalu sering. Pasien
kasus yang memerlukan (hipertrofi harus diingatkan bahwa penggunaan
konka, septum deviasi atau dekongestan intranasal berulang dalam
rinosinusitis kronis). jangka pendek, bahkan setelah satu
tahun penghentian dapat menyebabkan
kekambuhan.

3. Pilek Dengan Discharge Mukopurulen


Rhinosinusitis Benda Asing Pada Hidung
Definisi Rhinosinusitis adalah kondisi Benda asing (corpus alienum)
inflamasi atau peradangan pada merupakan adanya benda dalam suatu
daerah sinus dan rongga hidung. organ yang berasal baik dari dalam
Sinus merupakan rongga kecil di (benda asing endogen) maupun luar
area tulang pada wajah dan (benda asing eksogen) tubuh yang
tengkorak yang berisi udara. dalam keadaan normal tidak ada.

Etiologi Berdasarkan penyebabnya Etiologi


Rhinosinusitis dibedakan menjadi
Rhinosinusitis virus dan bakteri. Organik
• Rhinosinusitis virus Berdasarkan
jenisnya
Sering disebut juga common cold Non Organik
(selesma). Lama sakit <10 hari.
Gejala, hidung tersumbat, ingus Endogen
Pembagian Berdasarkan
cair atau kental putih, mungkin ada Benda Asing asalnya
batuk dan demam Eksogen

  Benda asing
• Rhinosinusitis bakteri Berdasarkan
hidup
Disebut juga rhinosinusitis pasca sifatnya
Benda asing
viral, terjadi jika setelah 5 hari mati

gejala rhinosinusitis makin lebih


berat, atau gejala menetap setelah
10 hari hingga 4 minggu. Gejala,
secret hidung berwarna
kekuningan, nyeri didaerah wajah,
demam. Dapat terjadi double
sickening, yaitu gejala yang
memberat setelah beberapa hari
gejala sakit ringan.

Klasifikasi EPOS 2020


  Rinosinusitis Akut Rinosinusitis
Kronis
Gejala ≥ 2 gejala, salah 1 nya : hidung
dan tersumbat / nasal discharge (anterior /
Tanda posterior nasal drip) :
 ± nyeri / tekanan wajah
 ± berkurang atau hilangnya
bau

Waktu <12 minggu ≥ 12 minggu

Patofisiologi Epitel hidung merupakan pintu  Batu baterai sebagai benda


masuk utama dari virus respiratorik asing  bentuk yang lebih
dan merupakan target langsung kecil. Dapat menyebabkan
untuk replikasi virus. Epitel ini nekrosis cair oleh karena
berfungsi sebagai barrier mekanik pelepasan aliran listrik.
utama untuk melindungi dari faktor • Larva dan cacing dapat hidup
lingkungan, mikroorganisme, dan pada kavum nasi seseorang
toksin, serta berpartisipasi dalam yang hidup pada iklim tropis 
respon imun alamiah dan adaptif menyebabkan destruksi mukosa
hidung dan selanjutnya nekrosis
kartilago pada nasal dan konka,
dapat menyebar sampai ke
orbita dan sinus paranasal.
• Benda asing organik seperti
kacang-kacangan, memiliki
sifat higroskopik, sehingga
mudah menjadi lunak dan
mengembang oleh air, serta
menyebabkan iritasi pada
mukosa
• Benda asing anorganik dapat
menimbulkan reaksi jaringan
yang lebih ringan dan lebih
mudah didiagnosa (pemeriksaan
radiologis umumnya benda
asing anorganik  radioopak
Anamnesis 1. Sumbatan hidung Anamnesis
 Pada satu atau kedua lubang 1. Hidung tersumbat
hidung atau bergantian? 2. Onset tiba-tiba
 Lamanya? Terjadi terus 3. Umumnya unilateral
menerus atau hilang timbul 4. Hiposmia atau anosmia
dan bagaimana terjadinya? 5. Setelah 2 – 3 hari, keluar sekret
Usia saat awitan? mukoid / mukopurulen dan berbau di
 Adakah riwayat operasi satu sisi hidung
hidung atau operasi THT 6. Dapat timbul rasa nyeri
lainnya? 7. Bila benda asing organik, terasa ada
yang bergerak-gerak di dalam rongga
2. Sekret hidung hidung
 Sekret di hidung pada satu 8. Adanya laporan dari pasien atau
atau kedua rongga hidung? orang tua mengenai adanya benda yang
 Lamanya? Terus menerus masuk atau dimasukkan ke rongga
atau intermitten dan hidung
bagaimana terjadinya? Usia
saat awitan?

3. Gangguan penghidu
• Adakah riwayat penyakit
hidung atau sinus?
• Apakah berkaitan dengan
trauma, infeksi saluran
napas atas, atau penyakit
sistemik?
4. Rasa nyeri di daerah muka dan
kepala

5. Bersin yang berulang-ulang

Pemeriksaan Rhinoskopi Anterior Pada rinoskopi anterior, nampak:


Fisik Dengan rinoskopi anterior dapat 1. Benda asing di kavum nasi
dilihat kelainan rongga hidung 2. Sekret purulen (bila sudah
seperti udem konka, hiperemi, berlangsung 2 – 3 hari).
secret mukopurulen (nasal drip),
krusta, septum deviasi, tumor atau
polip.

Rinoskopi posterior bila


pemeriksaan ini dapat dilakukan,
maka dapat ditemukan sekret
purulen pada nasofaring

Pemeriksaan transiluminasi
Sinus yang mengalami peradangan Evaluasi kavum nasi dekstra
kemudian akan  terlihat berubah menggunakan spekulum hidung,
menjadi suram atau gelap. tampak konka inferior edema, konka
Pemeriksaan transiluminasi yang media sukar dinilai, terdapat discharge
abnormal atau menunjukkan sinar mukopurulen, krusta kehitaman dan
yang suram menunjukan bahwa jaringan nekrotik sekitar konka inferior
terdapatnya secret yang dan septum
mukopurulen pada sinus

P. Penunjang Penunjang (EPOS 2020) : • Pemeriksaan radiologi dengan foto


Endoskopi (polip nasal &/ polos kepala posisi anteroposterior
discharge mukopurulen dari meatus (AP), lateral
media &/ edema dari meatus
media) ; CT-scan (GOLD
STANDARD) : Perubahan mukosa
di KOM &/ sinus paranasal

1. Radiologi
• Foto Polos (Posisi : Waters,
PA, lateral) • Pemeriksaan nasoendoskopi
• CT Scan
• MRI

2. Sinoskopi
Sinoskopi dilakukan dengan pungsi
menembus dinding medial sinus
maksila melalui meatus inferior

3. Pemeriksaan Mikrobiologi
Pemeriksaan mikrobiologik dan tes
resistensi dilakukan dengan
mengambil sekret dari meatus
medius atau superior, untuk
mendapat antibiotic yang tepat
guna. Lebih baik lagi bila diambil
sekret yang keluar dari pungsi sinus
maksila.

4. Pemeriksaan Laboratorium
Penilaian laboratorium rutin
umumnya tidak diperlukan.
Evaluasi untuk fibrosis kistik,
disfungsi siliaris,
Tatalaksana • Antibiotik broad spectrum, 1. Serumen hook atau pengait tumpul
ex : Amoxicillin-clavulanate Ekstraksi benda asing berbentuk bulat
5-10 hari pada dewasa seperti manik-manik atau kacang
• Intranasal steroid (anti- merupakan hal yang sulit karena sulit
inflamasi) dijepit menggunakan alat dan risiko
• Antihistamin (indikasi benda tergelincir ke posterior lebih
alergi) besar.
• Dekongestan (meredakan
gejala simptomatik) 2. Suction
• Irigasi/cuci hidung Suction (teknik dengan tekanan negatif)
dapat digunakan sebagai alternatif
ekstraksi benda asing berbentuk bulat.
Tekanan yang digunakan dalam proses
ekstraksi yaitu 100-140 mmHg.

3. Kateter Foley atau Forgaty


Teknik ekstraksi menggunakan kateter
balon juga sering digunakan pada kasus
benda asing tidak hidup pada hidung.

4. Forsep Alligator
Benda asing mati yang bersifat non-
organik lainnya seperti spons, potongan
kertas, atau benda berbentuk regular
dapat diekstraksi menggunakan forsep
alligator secara hati-hati. Fiksasi kepala
pasien sangat penting untuk
menghindari terjadi laserasi pada
mukosa hidung yang menyebabkan
perdarahan

Edukasi yang diberikan antara lain


anak harus selalu diawasi saat bermain
agar tidak memasukkan benda asing ke
dalam tubuh, barang-barang berbahaya
harus dijauhkan dari anak, dan menjaga
kebersihan diri dan lingkungan agar
terhindar dari parasit.