Anda di halaman 1dari 41

PROPOSAL PENELITIAN

GAMBARAN HASIL PEMERIKSAAN WIDAL


PADA SUSPEK DEMAM TIFOID DI
PUSKESMAS TABARINGAN KOTA
MAKASSAR

AMRIL

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN MAKASSAR
JURUSAN ANALIS KESEHATAN
PRODI TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS
PROGRAM DIPLOMA TIGA
2021
PROPOSAL PENELITIAN

GAMBARAN HASIL PEMERIKSAAN WIDAL


PADA SUSPEK DEMAM TIFOID DI
PUSKESMAS TABARINGAN KOTA
MAKASSAR

AMRIL
PO.71.3.203.18.1.007

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN MAKASSAR
JURUSAN ANALIS KESEHATAN
PRODI TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS
PROGRAM DIPLOMA TIGA
2021

i
LEMBAR PENGESAHAN

KARYA TULIS ILMIAH INI DISETUJUI


PADA TANGGAL,................................2021

Pembimbing I/ Penguji Pembimbing II/ Penguji

Hj.Syahida Djasang, SKM, M.M.Kes Alfin Resya Virgiawan,S.ST, M.Si


NIP.197206271 992032 001 NIP. 199104292 019021 001

Penguji

Rahman.S.Si, M.Si
NIP. 19840322 201012 2 002

Mengetahui, Ketua Jurusan Analis Kesehatan


Politeknik Kesehatan Makassar

H. Kalma, S.Pd.,M.Si.
NIP. 19580810 198303 1 008

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.............................................................................i

LEMBAR PENGESAHAN..................................................................ii

DAFTAR ISI.......................................................................................iii

DAFTAR GAMBAR............................................................................v

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang........................................................................1

B. Rumusan Masalah .................................................................4

C. Tujuan Penelitian....................................................................4

D. Manfaat Penelitian..................................................................4

1. Bagi Peneliti........................................................................4

2. Bagi Institusi.......................................................................4

3. Bagi Masyarakat.................................................................4

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Tentang Demam Tifoid................................5

1. Defenisi Demam Tifoid.......................................................5

2. Epidemiologi Demam Tifoid...............................................7

3. Etiologi................................................................................7

4. Patogenesis Demam Tifoid................................................8

5. Gejala Klinis........................................................................10

6. Patofisiologi........................................................................15

7. Diagnosis Demam Tifoid....................................................17

iii
8. Faktor Yang Mempengaruhi Demam Tifoid.......................18

9. Pemeriksaan Demam Tifoid...............................................19

B. Tinjuan Umum Tentang Tes Widal.........................................20

1. Defenisi Tes Widal..............................................................20

2. Prinsip Dasar Tes Widal.....................................................20

3. Metode Pemeriksaan Tes Widal........................................22

C. Prosedur Pemeriksaan Widal metode Slide...........................25

1. Alat......................................................................................25

2. Bahan.................................................................................25

3. Prosedur kerja....................................................................26

D. Kerangka Konsep..................................................................27

BAB III METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian.......................................................................29

B. Lokasi Dan Waktu Penelitian.................................................29

C. Populasi, Sampel, Besar Sampel danTeknik Pengambilan Sampel

................................................................................................29

D. Variabel Penelitian..................................................................30

E. Defenisi Operasional..............................................................30

F. Prosedur Penelitian................................................................31

G. Kerangka operasional.............................................................33

DAFTAR PUSTAKA..........................................................................34

iv
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Kerangka konsep..........................................................25

Gambar 2.1 Kerangka Operasional..................................................33

v
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Demam Tifoid adalah penyakit sistemik yang bersifat akut,

dapat disebabkan oleh Salmonella typi, Salmonella paratypi A, B dan

C yang ditandai dengan demam berkepanjangan, bakterimia tanpa

perubahan pada sistem endotel, invasi dan multiplikasi bakteri dalam

sel pagosit monokuler pada hati dan limpa. Penyakit ini merupakan

penyakit menular yang dapat terjadi di negara beriklim tropis dan sub

tropis. Manifestasi klinis demam tifoid dimulai dari yang ringan

(demam tinggi, denyut jantung lemah, sakit kepala) komplikasi pada

hati dan limpa (Ghadia Putri Setiana, 2016).

Berdasarkan data WHO (World Health Organitation) terbaru,

penyakit menular ini masih merupakan masalah kesehatan

masyarakat dengan jumlah antara 11 dan 21 juta kasus dan 128.000

hingga 161.000 kematian terkait tipus terjadi setiap tahun di seluruh

dunia. Penyakit serupa tetapi sering kurang parah, demam paratipoid,

disebabkan oleh Salmonella paratyphi A dan B (atau Paratyphi C yang

tidak biasa). Dapat diperkirakan 70% kematian akibat typhoid

abdominalis terjadi di Asia. Jika tidak segera diobati, 10-20%

penderita tersebut dapat berakibat fatal. Sekitar 2% dari penderita

menjadi carrier/pembawa (Jurnal Kesehatan, 2018).

Angka kejadian demam tifoid di Indonesia diperkirakan sekitar

1
2

350-810 per 100.000 penduduk dan morbiditas yang cenderung

meningkat setiap tahun sekitar 500-100.000 penduduk dengan angka

kematian sekitar 0,6-5 %. (Dinkes 2014). Berdasarkan data tersebut,

menunjukkan bahwa angka kejadian demam tifoid masih tinggi,

sehingga dibutuhkan penegakan diagnosis yang tepat dengan cara

melihat manifestasi klinis pasien yang diperkuat oleh pemeriksaan

laboratorium.

Di Sulawesi Selatan melaporkan demam typhoid melebihi

2500/100.000 penduduk. Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan

tahun 2007 melaporkan bahwa proporsi demam tifoid dari 10 penyakit

terbanyak pasien rawat inap di rumah sakit yaitu 7,3 % (1.451 kasus)

dari 19.856 kasus. Menurut laporan surveilans terpadu penyakit

berbasis rumah sakit tahun 2008, jumlah kasus demam tifoid rawat

inap yaitu 1.354 kasus dan pada tahun 2009 jumlah kasus demam

tifoid rawat inap yaitu 1.321 kasus (Dinkes, 2009).

Demam Tifoid disebabkan oleh infeksi bakteri Salmonella

enterica, terutama serotype Salmonella typhi (S. typhi) dan

Salmonella paratyphi (S. paratyphi). Bakteri ini termasuk kuman Gram

negatif yang memiliki flagel, tidak berspora, motil, berbentuk batang,

berkapsul dan bersifat fakultatif anaerob dengan karakteristik antigen

O, H dan Vi. Demam merupakan keluhan dan gejala klinis yang timbul

pada semua penderita demam tifoid ini. Untuk menentukan diagnosis

pasti dari penyakit ini diperlukan pemeriksaan laboratorium.


3

Pemeriksaan laboratorium yang dapat digunakan adalah pemeriksaan

darah tepi, pemeriksaan bakteriologis dengan isolasi dan biakan

kuman (Rachman, 2011).

Penularan demam tifoid dapat terjadi melalui berbagai cara,

yaitu dikenal dengan 5 F yaitu (food, finger, fomitus, fly, feses) Feses

dan muntahan dari penderita demam tifoid dapat menularkan bakteri

Salmonella typhi kepada orang lain. Kuman tersebut ditularkan melalui

makanan atau minuman yang terkontaminasi dan melalui perantara

lalat, di mana lalat tersebut akan hinggap di makanan yang akan

dikonsumsi oleh orang sehat. Apabila orang tersebut kurang

memperhatikan kebersihan dirinya seperti mencuci tangan dan

makanan yang tercemar oleh bakteri Salmonella typhi masuk ketubuh

orang yang sehat melalui mulut selanjutnya orang sehat tersebut akan

menjadi sakit (Zulkoni, 2010).

Uji Widal adalah suatu pemeriksaan laboratorium guna

mendeteksi ada atau tidaknya antibody penderita tersangka terhadap

antigen Samolnella typi yaitu antibody terhadap antigen O (dari tubuh

kuman). Antigen H (flagel kuman), dan antigen Vi (kapsul kuman).

Dari ketiga antibodi, hanya antibody terhadap antigen H dan O yang

mempunyai nilai diagnostik demam tifoid (Vika Rahma Velina, 2016).

B. Rumusan Masalah
4

Berdasarkan latar belakang diatas yang menjadi rumusan

masalah adalah “Bagaimana Gambaran Hasil Pemeriksaan Widal

Pada Suspek Demam Tifoid Di Puskesmas Tabaringan Kota

Makassar?”

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran

hasil pemeriksaan widal pada suspek demam tifoid di Puskesmas

Tabaringan.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi Peneliti

Menambah pengetahuan, sarana pembelajaran dan

menerapkan ilmu pengetahuan khususnya dalam pembahasan

pemeriksaan widal pada suspek demam tifoid.

2. Bagi Institusi

Sebagai bahan referensi untuk pegkajian dan pembelajaran di

Kampus Analis Kesehatan Poltekkes Kemenkes Makassar. Serta

sebagai sarana pengembangan ilmu pengetahuan.

3. Bagi Masyarakat

Karya Tulis ilmiah ini diharapkan dapat menjadi pengetahuan

baru bagi masyarakat mengenai Demam Tifoid agar dapat

memahami serta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.,

serta memberikan informasi kepada masyarakat tentang bahaya

penyakit demam tifoid apabila tidak ditangani dengan segera.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Tentang Tifoid

1. Definisi Demam Tifoid

Demam tifoid adalah penyakit infeksi sistemik bersifat akut

yang disebabkan oleh Salmonella sp. Demam tifoid ditandai

dengan panas berkepanjangan yang diikuti dengan bakterimia dan

invasi bakteri Salmonella sp. Sekaligus multiplikasi kedalam sel

fagosit mononuclear dari hati, limpa, kelenjar limfe usus

(Yudhistira,2017).

Demam tifoid disebut juga dengan Typus abdominalis atau

tifoid fever. Demam tifoid adalah penyakit akut yang biasanya

terdapat pada saluran pencernaan (usus halus) dengan gejala

demam satu minggu atau lebih disertai gangguan pada saluran

pencernaan dan dengan atau tanpa gangguan kesadaran

(Astuti,2013).

Demam tifoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang

disebabkan oleh bakteri Salmonella typhi atau Salmonella

paratyphi A, B dan C. penularan demam tifoid melalui fecal dan oral

yang masuk kedalam tubuh manusia melalui makanan dan

minuman yang terkontaminasi. Demam tifoid merupakan penyakit

endemik di Indonesia. Penyakit ini adalah penyakit menular yang

tercantum dalam Undang-Undang nomor 6 Tahun 1962 tentang

5
6

wabah. Kelompok penyakit menular ini adalah peyakit yang mudah

menular dan dapat menyerang banyak orang sehingga

menimbulkan wabah (Setiati dkk, 2014).

Demam tifoid merupakan penyakit yang hampir semua

ditemukan terjadi pada masyarakat dengan standart hidup dan

kebersihan yang rendah, cenderung meningkat dan terjadi secara

endemis. Biasanya angka kejadiantinggi pada daerah tropik

dibandingkan daerah berhawa dingin. Sumber penularan penyakit

demam tifoid adalah penderita yang aktif, penderita dalam fase

konvalesen, dan kronik karier. Demam Tifoid juga dikenali dengan

nama lain yaitu Typhus Abdominalis, Typhoid fever atau Entric

fever (Syarifah Nurlaila, 2013).

Salmonella typi dan Salmonella paratypi masuk kedalam

tubuh manusia melalui makanan yang terkontaminasi bakteri.

Sebagian bakteri dimusnahkan oleh asam lambung dan sebagian

lagi masuk ke usus halus dan berkembangbiak. Di organ-organ ini

bakteri meninggalkan sel-sel fagosit dan kemudian

berkembangbiak di luar sel atau ruang sinusoid dan menimbulkan

keradangan. Proses ini akan berlangsung selama 7-10 hari.

Selanjutnya masuk kedalam sirkulasi darah lagi yang

mengakibatkan bakterimia yang kedua kalinya (Stadium bakterimia

II) dengan disertai tanda-tanda dan gejala penyakit infeksi sistemi,

seperti demam, malaise, milagia, sakit kepala dan sakit perut


7

(Irianto, 2014).

2. Epidemiologi Demam Tifoid

Demam tifoid merupakan penyak itinfeksi yang dijumpai di

seluruh dunia, secara luas di daerah tropis dan subtropics terutama

di daerah dengan kualitas sumber air yang tidak memadai dengan

standar higienis dan sanitasi yang rendah yang mana di Indonesia

dijumpai dalam keadaan endemis (Putra A, 2012).

3. Etiologi Demam Tifoid

Etiologi demam tifoid adalah Salmonella typhi.

Mikroorganisme ini merupakan bakteri gram negatif, bersifat aerob

dan tidak membentuk spora. Bakteri ini mempunyai beberapa

komponen antigen, yaitu :

a. Antigen dinding sel (O) yang merupakan lipopolisakarida dan

bersifat spesifik group.

b. Antigen flagella (H) yang merupakan komponen protein dalam

flagella dan bersifat spesifikspesies.

c. Antigen Virulen (Vi) merupakan polisakarida dan berada di

kapsul yang melindungi seluruh permukaan sel.

Antigen Vi berhubungan dengan daya invasive bakteri dan

efektivitas vaksin Salmonella tiphy menghasilkan endotoksin yang

merupakan bagian terluar dari dinidng sel, terdiri dari antigen O

yang sudah dilepaskan, lipopolisakarida dan lipid A. Ketiga antigen

di atas di dalam tubuh akan membentuk antibody aglutinin. Antigen


8

keempat adalah Outer Membrane Protein (OMP). Antigen OMP

merupakan bagian dari dinding sel terluar yang terletak di luar

membrane sitoplasma dan lapisan peptidoglikan yang membatasi

sel dengan lingkungan sekitarnya. Salmonella tiphy hanya dapat

hidup pada tubuh manusia. Sumber penularan berasal dari tinja

dan urine karier, dari penderita pada fase akut dan penderita dalam

fase penyembuhan. (Sucipto, 2015).

Penyebab dari demam tifoid adalah salmonella typhi,

termasuk dalam genus salmonella yang tergolong dalam family

enterobacteria ceae. Salmonela bersifat bergerak, berbentuk

batang, tidak membentuk spora, tidak berkapsul, gram negatif (-).

Tahan terhadap berbagai bahan kimia, tahan beberapa hari/

minggu pada suhu kamar, bahan limbah, bahan makanan kering,

bahan farmasi dan tinja. Salmonela mati pada suhu 54.4º C dalam

1 jam, atau 60º C dalam 15 menit. Salmonela mempunyai antigen

O (stomatik), adalah komponen dinding sel dari lipopolisakarida

yang stabil pada panas, dan anti gen H (flagelum) adalah protein

yang labil terhadap panas. Pada S. typhi, juga pada S. Dublin dan

S. hirschfeldii terdapat antigen Vi yaitu polisakarida kapsul (Isnaeni,

2016).

4. Patogenesis Demam Tifoid

Masuknya bakteri Salmonella kedalam tubuh manusia terjadi

melalui makanan yang terkontaminasi bakteri. Sebagian bakteri


9

difagosit dalam lambung, sebagian lolos masuk kedalam usus dan

selanjutnya berkembang biak diusus. Bila respon imunitas humoral

mukosa (IgA) usus kurang baik maka bakteri akan menembus sel-

sel epitel. Bakteri berkembang biak dan difagosit oleh sel–sel

fagosit terutama oleh makrofag. Bakteri dapat hidup dan

berkembang baik didalam makrofag dan selanjutnya dibawa

kekelenjar getah bening. Selanjutnya bakteri yang terdapat didalam

makrofag ini masuk kedalam sirkulasi darah (mengakibatkan

bakteremia pertama yang asimtomatik) dan menyebar keseluruh

organ tubuh terutama hati dan limpa.

Bakteri ini meninggalkan sel-sel fagosit dan kemudian

berkembang baik diluar sel dan selanjutnya masuk kedalam

sirkulasi darah mengakibatakan bakterimia yang kedua kalinya

dengan disertai tanda dan gejala penyakit infeksi sistemik. Didalam

hati bakteri masuk kedalam lambung empedu, berkembang biak

dan bersama cairan empedu dieksekresikan secara “intermitten“

kedalam lumen usus. Sebagian bakteri dikeluarkan melalui feses

dan sebagian masuk lagi kedalam sirkulasi setelah menembus

usus. Proses yang sama terulang kembali berhubung makrofag

telah teraktivitasi dan hiperaktif maka saat fagositosis bakteri

Salmonella terjadi pelepasan beberapa mediator inflamasi yang

selanjutnya akan menimbulkan gejala reaksi perut dan gangguan

mental. Menimbulkan reaksi hiperplasi jaringan (Salmonella intra


10

makrofag menginduksi reaksi hipersensitivitas tipe lambat,

hyperplasia jaringan dan nekrosis organ). Pendarahan saluran

cerna dapat terjadi akibat erosi pembulu darah. Proses patologis

jaringan limpoid ini dapat berkembang hingga kelapisan otot serosa

usus (Irianto, 2014).

5. Gejala Klinis

Salmonella yang tertelan akan mencapai usus halus, dari

usus halus Salmonella memasuki saluran limfatik dan kemudian

masuk ke aliran darah. Salmonella dibawa ke berbagai organ oleh

darah, salah satunya usus. Organisme tersebut memperbanyak diri

di jaringan limfoid usus dan diekskresikan dalam feces (Jawetz,

2014).

Pada minggu pertama gejala klinis penyakit ini ditemukan

keluhan dan gejala serupa dengan penyakit infeksi akut lain yaitu

demam, nyeri kepala, pusing, nyeri otot, anoreksia, mual, muntah,

obstipasi atau diare, perasaan tidak enak diperut, batuk dan

epistaksis. Pada pemeriksaan fisik hanya didapatkan suhu badan

meningkat. Sifat demam adalah meningkat perlahan–lahan

terutama pada sore hari hingga malam hari.

Masa inkubasi demam tifoid berlangsung antara 10-14 hari.

Gejala-gejala klinis yang timbul sangat bervariasi dari ringan

sampai dengan berat, dari asimtomatik hingga gambaran penyakit

yang khas disertai komplikasi hingga kematian. Selama inkubasi


11

ditemukan gejala prodromal (gejala awal tumbuhnya

penyakit/gejala yang tidak khas ) yaitu:

a. Perasaan tidak enak badan.

b. Nyeri kepala.

c. Pusing.

d. Diare.

e. Anoreksia.

f. Batuk.

g. Nyeri otot.

h. Muncul gejala klinis yang lain (Isnaeni, 2016).

Gejala khas Demam tifoid yakni :

Minggu Pertama (awal terinfeksi), setelah melewati masa

inkubasi 10-14 hari, gejala penyakit itu pada awalnya sama dengan

penyakit infeksi akut yang lain, seperti demam tinggi yang

berpanjangan yaitu setinggi 39ºc hingga 40ºc,sakit kepala, pusing,

pegal-pegal, anoreksia, mual, muntah, batuk, dengan nadi antara

80-100 kali permenit, denyut lemah, pernapasan semakin cepat

dengan gambaran bronchitis kataral, perut kembung dan merasa

tak enak, sedangkan diare dan sembelit silih berganti. Pada akhir

minggu pertama, diare lebih sering terjadi. Khas lidah pada

penderita adalah kotor di tengah, tepi dan ujung merah serta

bergetar atau tremor. Epistaksis dapat dialami oleh penderita

sedangkan tenggorokan terasa kering dan beradang. Jika penderita


12

ke dokter pada periode tersebut, akan menemukan demam dengan

gejala-gejala di atas yang biasa saja terjadi pada penyakit-penyakit

lain juga. Ruam kulit (rash) umumnya terjadi pada hari ketujuh dan

terbatas pada abdomen disalah satu sisi dan tidak merata, bercak-

bercak ros (roseola) berlangsung 3-5 hari, kemudian hilang dengan

sempurna. Roseola terjadi terutama pada penderita golongan kulit

putih yaitu berupa makula merah tua ukuran 2-4 mm, berkelompok,

timbul paling sering pada kulit perut, lengan atas atau dada bagian

bawah, kelihatan memucat bila ditekan. Pada infeksi yang berat,

purpura kulit yang difus dapat dijumpai. Limpa menjadi tera badan

abdomen mengalami distensi (Inawati, 2011).

Minggu Kedua. Jika pada minggu pertama, suhu tubuh ber

angsur-angsur meningkat setiap hari, yang biasanya menurun pada

pagi hari kemudian meningkat pada sore atau malam hari. Karena

itu, pada minggu kedua suhu tubuh penderita terus menerus dalam

keadaan tinggi (demam). Suhu badan yang tinggi, dengan

penurunan sedikit pada pagi hari berlangsung. Terjadi perlambatan

relative nadi penderita. Yang semestinya nadi meningkat bersama

dengan peningkatan suhu, saat ini relative nadi lebih lambat

dibandingkan peningkatan suhu tubuh. Gejala toksemia semakin

berat yang ditandai dengan keadaan penderita yang mengalami

delirium. Gangguan pendengaran umumnya terjadi. Lidah tampak

kering, merah mengkilat. Nadi semakin cepat sedangkan tekanan


13

darah menurun, sedangkan diare menjadi lebih sering yang

kadang-kadang berwarna gelap akibat terjadi perdarahan.

Pembesaran hati dan limpa. Perut kembung dan sering berbunyi.

Gangguan kesadaran. Mengantuk terus menerus, mulai kacau jika

berkomunikasi dan lain-lain (Inawati, 2011).

Minggu Ketiga. Suhu tubuh berangsung-angsur turun dan

normal kembali diakhir minggu. Hal itu jika terjadi tanpa komplikasi

atau berhasil diobati. Bila keadaan membaik, gejala-gejala akan

berkurang dan temperatur mulai turun. Meskipun demikian justru

pada saat ini komplikasi perdarahan dan perforasi cenderung untuk

terjadi, akibat lepasnya kerak dari ulkus. Sebaliknya jika keadaan

makin memburuk, dimana toksemia memberat dengan terjadinya

tanda-tanda khas berupa delirium atau stupor, otot-otot bergerak

terus, inkontinensiaalvi dan inkontinensia urin. Meteorisme dan

timpani masih terjadi, juga tekanan abdomen sangat meningkat

diikuti dengan nyeri perut. Penderita kemudian mengalami kolaps.

Jika denyut nadi sangat meningkat disertai oleh peritonitis lokal

maupun umum, maka hal ini menunjukkan telah terjadinya perforasi

usus sedangkan keringat dingin, gelisah, sukar bernapas dan

kolaps dari nadi yang teraba denyutnya memberi gambaran adanya

perdarahan. Degenerasi miokardial toksik merupakan penyebab

umum dari terjadinya kematian penderita demam tifoid pada

minggu ketiga.
14

Minggu keempat. Merupakan stadium penyembuhan

meskipun pada awal minggu ini dapat dijumpai adanya pneumonia

lobar atau trombo flebitis vena femoralis (Inawati, 2016).

Komplikasi yang dapat terjadi :

1. Komplikasi Intestinal

1) Perdarahan usus

2) Perforasi usus

3) Ileus paralitik.

2. Komplikasi Ekstra Intestinal-Komplikasi Kardiovaskuler :

kegagalan sirkulasi perifer (renjatan septik), miokarditis,

trombosis dan tromboflebitis

1) Komplikasi darah : anemia hemolitik, trombositopenia, dan

/atau Disseminate dIntravascular Coagulation (DIC) dan

Sindrom uremia hemolitik.

2) Komplikasi paru : Pneumonia, empiema, dan pleuritis.

3) Komplikasi hepar dan kandung empedu : hepatitis dan

kolesistitis.

4) Komplikasi ginjal : glomerulo nefritis, pielonefritis, dan

perinefritis.

5) Komplikasi tulang : osteomielitis, periostitis, spondilitis dan

Artritis.
15

6) Komplikasi Neuropsikiatrik : Delirium, meningismus,

meningitis, polineuritisperifer, sindrom guillain-barre, psikosis

dan sindrom katatonia (Inawati, 2011).

6. Patofisiologi

Kuman salmonella typhi yang masuk kesaluran

gastrointestinal akan ditelan oleh sel-sel fagosit ketika masuk

melewati mukosa dan oleh makrofag yang ada di dalam

laminaprophia. Sebagian dari salmonella typhi ada yang dapat

masuk ke usus halus mengadakan invaginasi kejaringan limfoid

usus halus (lakpeyer) dan jaringan limfoid mensterilkan. Kemudian

salmonella typhi masuk melalui folikel limfa kesaluran limphatik dan

sirkulasi darah sistemik sehingga terjadi bakterimia. Bakterimia

pertama-tama menyerang system retikuloendothelial (RES) yaitu :

hati, limpa, dan tulang, kemudian selanjutnya mengenai seluruh

organ di dalam tubuh antara lain system saraf pusat, ginjal, dan

jaringan limpa.

Usus yang terserang tifus umumnya ileum distal, tetapi

kadang bagian lain usus halus dan kolon proksimal juga di

hinggapi. Pada mulanya, plakat peyer penuh dengan pagosit,

membesar, menonjol, dan tampak seperti infiltrate atau hyperplasia

dimukosa usus (Hidayat, 2005 dalam Muttaqin & Sari, 2011).

Pada akhir minggu pertama infeksi, terjadi nekrosis dan tukak.

Tukak ini lebih besar di ileum dari pada di kolon sesuai dengan
16

ukuran plakpeyer yang ada disana. Kebanyakan tukaknya dangkal,

tetapi kadang lebih dalam sampai menimbulkan perdarahan.

Perforasi terjadi pada tukak yang menembus serosa. Setelah

penderita sembuh, biasanya ulkus membaik tanpa meninggalkan

jaringan parut dan fibrosis.

Masuknya kuman kedalam intestinal terjadi pada minggu

pertama dengan tanda dan gejala suhu tubuh naik turun khususnya

suhu akan naik pada malam hari dan akan menurun menjelang

pagi hari. Demam yang terjadi pada masa ini di sebut demam

interminten (suhu yang tinggi, naik turun, dan turunnya dapat

mencapai normal). Disamping peningkatan suhu tubuh, juga akan

terjadi obstipasi sebagai akibat penurunan motilitas suhu, namun

hal ini tidak selalu terjadi dan dapat pula terjadi sebaliknya. Setelah

kuman melewati fase awal intestinal, kemudian masuk ke sirkulasi

sistemik dengan tanda peningkatan suhu tubuh yang sangat tinggi

dan tanda-tanda infeksi pada ERS seperti nyeri perut kanan atas,

splenomegali, dan hepatomegali (Hidayat, 2016).

Pada minggu selanjutnya dimana infeksifokal intestinal terjadi

dengan tanda-tanda suhu tubuh masih tetap tinggi, tetapi nilainya

lebih rendah dari fase bakterimia dan berlangsung terus menerus

(deman kontinu), lidah kotor, tepi lidah hiperemesis, penurunan

peristaltik, gangguan digesti dan absorpsi sehingga akan terjadi

distensi, diare dan pasien merasa tidak nyaman. Pada masa ini
17

dapat terjadi perdarahan usus, perforasi, dan peritonitis dengan

tanda distensi abdomen berat, peristaltic menurun bahkan hilang,

melena, syok, dan penurunan kesadaran (Hidayat, 2016).

7. Diagnosis Demam Tifoid

Diagnosa demam tifoid dapat dilakukan dengan melakukan

pemeriksaan widal. Pemeriksaan widal merupakan pemeriksaan

aglutinasi yang menggunakan suspensi bakteri Salmonella typi dan

Salmonella paratypi sebagai antigen untuk mendeteksi adanya

antibody terhadap kedua bakteri Salmonella tersebut dalam serum

penderita. Indikasi pemeriksaan widal yaitu untuk membantu

menegakkan diagnosis penyakit demam tifoid (Handojo, 2004).

Penegakan diagnosis demam tifoid dengan kultur

menggunakan pemeriksaan lab widal. Di daerah endemis, demam

lebih dari 1 minggu yang tidak diketahui penyebabnya harus

dipertimbangkan sebagai tifoid sampai terbukti apa penyebabnya.

Beberapa pemeriksaan penunjang yang sering dijadikan untuk

mendiagnosis demam tifoid terdiri dari pemeriksaan darah,

identifikasi kuman melalui isolasi/biakan, identifikasi kuman uji

serologis sertai dentifiasiuman secara molekuler.

Berdasarkan pemeriksaan laboratorium didasarkan pada 3 prinsip

yaitu :

a. Isolasi bakteri.

b. Deteksi antigen mikroba.


18

c. Retasi antibody terhadap organisme penyebab.

Uji widal adalah salah satu reaksi aglutinasi antara antigen

dan antibodi. Aglutinasi yang spesifik terhadap Salmonlla typhi

terhadap dalam serum penderita demam tifoid. Pada orang yang

pernah tertular Salmonella typi pemeriksaan ini dilakukan di

laboratorium untuk mengetahui hasil dari aglutinasi, dan

mengetahui penyebab dari demam tifoid dari bakteri Salmonella

typi (Word Health Organization, 2003).

Besar titer antibodi yang bermakna untuk diagnosis demam

tifoid di Indonesia belum didapatkan kesepakatan, tetapi beberapa

peneliti menyebutkan bahwa uji widal memiliki kriteria interpretasi

apabila didapatkan titer O 1/320. Titer O 1/320 jika positif maka

sudah menandakan pasien tersebut demam tifoid (Silvia Khairani,

2018).

8. Faktor Yang Mempengaruhi Demam Tifoid

Faktor-faktor yang sangat erat hubungannya dengan

kejadian demam tifoid adalah hygiene perorangan yang rendah

meliputi kebiasaan cuci tangan, hygiene makanan dan minuman

yang rendah seperti mencuci sayuran dengan air yang

terkontaminasi atau penyajian makanan yang kurang sehat,

sanitasi lingkungan merupakan salah satu penyebab terjadi

kejadian demam tifoid terlihat dari keadaan sanitasi lingkungan

(Yuli Wulan Sari, 2013).


19

9. Pemeriksaan Demam Tifoid

1. Pemeriksaan Laboratorium

a. Pemeriksaan Leukosit.

Pada kebanyakan kasus demam tifoid, jumlah leukosit

pada sediaan darah tepi dalam batas normal, malahan kadang

terdapat leukositosis, walaupun tidak ada komplikasi atau

infeksi sekunder.

b. Pemeriksaan SGOT dan SGPT.

Jumlah SGOT dan SGPT akan meningkat, tetapi akan

kembali normal setelah sembuh dari demam tifoid.

c. Tes Widal.

Tes widal adalah suatu reaksi aglutinasi antara antigen

dan anti bodi (aglutinin). Aglutinin yang spesifik terhadap

salmonella terdapat dalam serum pasien demam typhoid, juga

pada orang yang pernah ketularan salmonella dan pada orang

yang pernah divaksinasi terhadap demam tifoid. Antigen yang

digunakan pada tes widal adalah suspense salmonella yang

sudah dimatikan dan diolah di laboratorium. Maksud tes widal

adalah untuk menentukan adanya agglutinin dalam serum

pasien yang disangka menderita demam typhoid. Akibat

infeksi oleh kuman salmonella, pasien membuat antibody

(aglutinin), yaitu:
20

1) Aglutinin O, yang dibuat karena rangsangan antigen O

(berasal dari tubuh kuman).

2) Aglutinin H, karena rangsangan antigen H (berasal dari

flagella kuman).

3) Aglutinin Vi, karena rangsangan antigen Vi (berasal dari

simpai kuman).

Dari ketiga agglutinin tersebut hanya aglutinin O dan H

yang ditentukan titernya untuk diagnosis. Makin tinggi titernya,

makin besar kemungkinan pasien menderita demam typhoid.

Pada infeksi yang aktif, titer uji widal akan meningkat pada

pemeriksaan ulang yang dilakukan selang paling sedikit 5 hari.

d. Biakan Darah.

Biakan darah positif memastikan demam typhoid, tetapi

biakan darah negative tidak menyingkirkan demam typhoid,

karena pada pemeriksaan minggu pertama penyakit

berkurang dan pada minggu-minggu berikutnya pada waktu

kambuh biakan akan positif lagi (Hidayat, 2016).

B. Tinjauan Umum Tentang Tes Widal

1. Definisi Tes Widal

Tes Widal merupakan tes aglutinasi yang digunakan dalam

diagnosis serologi penyakit demam typhoid atau demam enterik.

Tes Widal mengukur level aglutinasi antibody terhadap antigen O


21

(somatik) dan antigen H (flagellar).

Uji Widal adalah suatu pemeriksaan laboratorium guna

mendeteksi ada atau tidaknya antibodi penderita tersangka

terhadap antigen Samolnella typi yaitu antibodi terhadap antigen

O (dari tubuh kuman). Antigen H (flagel kuman), dan antigen Vi

(kapsul kuman). Dari ketiga antibodi, hanya antibody terhadap

antigen H dan O yang mempunyai nilai diagnostik demam tifoid

(Vika Rahma Velina, 2016).

Uji Widal dilakukan untuk deteksi antibodi terhadap

Salmonella typhi. Pada uji Widal terjadi suatu reaksi aglutinasi

antara antigen Salmonella typhi dengan antibodi yang disebut

aglutinin. Antigen yang digunakan adalah suspense Salmonella

yang sudah dimatikandan diolah dilaboratorium. Maksud uji Widal

adalah untuk menentukan adanya aglutinin dalam serum

penderita tersangka demam tifoid yaitu: (1) aglutinin O (dinding /

lapisan luar bakteri); (2) aglutinin H (flagella); dan (3) aglutinin Vi

(kapsul) (Widodo,D, 2006).

Uji Widal adalah uji serologi yang tertua yang digunakan untuk

melacak kenaikan titer antibodi terhadap Salmonella typhi. Tes

tersebut telah dipakai sejak tahun 1896 oleh Felix Widal. Titer

antibodi tersebut diukur dengan menggunakan pengenceran

serum berulang dalam dua cara, yaitu uji Widal tabung yang

membutuhkan waktu inkubasi semalam dan uji Widal slide yang


22

hanya memerlukan waktu lima menit. Saat ini uji Widal Slide lebih

banyak digunakan, karena alat yang dibutuhkan lebih sedikit dan

pemeriksaannya lebih cepat (Handojo,I, 2004).

2. Prinsip Dasar Tes Widal

Pasien yang mengalami penyakit demam typhoid akan

memiliki antibody di dalam serumnya yang mana dapat bereaksi

dan beraglutinasi dengan antigen Salmonella enterica serotype

typhi pada tes aglutinasi. Dengan kata lain dapat dikatakan

suspensi bakteri yang membawa antigen akan beraglutinasi

dengan antibody terhadap organisme Salmonella typhi (Wardana,

dkk, 2011).

3. Metode Pemeriksaan Tes Widal

a. Metode slide atau Slide Aglutination Test

Metode slide atau Slide Aglutination Test telah menjadi

salah satu sarana penunjang diagnosis demam tifoid seperti

halnya metode tabung. Pemeriksaan widal slide lebih mudah

dibaca karena menggunakan partikel lateks yang berwarna.

Namun dua kali lebih mahal harganya. Antigen yang dipakai

untuk pemeriksaan widal lempeng yang impor berasal dari

strain atau phage tipe diluar daerah endemis (tidak prevalen di

Indonesia), maka sensitifitasnya dan terutama spesifisitasnya

kurang baik bila dibandingkan dengan metode slide lokal yang

menggunakan lima phage-types Salmoella typhi yang prevalen


23

di Indonesia sebagai antigen. Disiapkan alat dan bahan, Dipipet

serum masing-masing, 20 μl, 10 μl, dan 5 μl kedalam tiap

lingkaran reaksi pada slide. Tambahkan reagen Tydal

sebanyak 40 μL pada tiap lingkaran yang telah ditetesi serum,

maka pengencerannya adalah 1:80, 1:160, 1:320. Campur

reagen tydal dan serum hingga homogen dengan

menggunakan batang pengaduk yang tersedia di dalam kotak

reagen. Kemudian baca hasil dalam waktu >1 menit. (Handojo,

2004).

Jika tidak terjadi aglunasi maka dinyatakan negatif, Jika

pasien memiliki titer 1/80 yang ditandai adanya aglutinasi

ringan, jika memiliki titer 1/160 yang ditandai adanya aglutinasi

sedang, dan jika memiliki titer 1/320 yang ditandai adanya

aglutinasi berat maka dinyatakan positif terinfeksi penyakit

demam tifoid.

Kelemahan Pemeriksaan Widal metode slide :

1) Antigennya

a) Strain Salmonella typhi yang dipakai amat berpengaruh

pada hasil pemeriksaan widal. Antigen yang dibuat dari

Strain Salmoella typhi yang berasal dari daerah non

endemis yang bersangkutan dapat memberikan hasil

yang negatif maupun positif palsu. Kemungkinan

terjadinya reaksi silang spesies Salmonella.


24

b) Menimbulkan fenomena prozone maupun postzone.

Biasanya dipakai derajat kekeruhan sebesar U Mc. Cara

yang terbaik untuk menentukan kekeruhan antigen yaitu

dengan cara spektrofotometris, nefilometris atau

turbidometris. Kekeruhan suspensi antigen yang kurang

tepat.

2) Kadar aglutinasi dalam serum

Kadar aglutinasi yang amat tinggi dapat menimbulkan

prozon sehingga dapat menyebabkan kesalahan dalam

pembacaan hasil.

3) Cara pembacaan hasil

Pembacaan dilakukan dengan kasat mata sehingga

amat subjektif dan dapat memberikan ketidaksesuaian hasil

pembacaan yang cukup benar.

4) Warna Aglutinat

Umumnya tidak berwarna sehingga dapat menyukarkan

pembacaan (Handojo, 2004).

b. Metode tabung atau Tube Agglutination Test

Berbeda dengan metode tabung atau Tube Agglutination

Test membutuhkan waktu inkubasi semalam karena

membutuhkan tehnik yang lebih rumit. Serum penderita

diencerkan dengan larutan salin normal. Dibuat 4 baris

pengenceran 1/80, 1/160, 1/320, masing-masing tabung dalam


25

satu baris diberi antigen dengan volume yang sama yaitu :

1) Baris pertama diberi antigen O

2) Baris kedua diberi antigen H

3) Baris ketiga diberi antigen AH

4) Baris keempat diberi antigen BH.

Setelah itu dikocok tabung dan inkubasi pada suhu 48 –50

0C, untuk tabung O inkubasi dilakukan selama 18 –24 jam,

sedangkan untuk tabung H, AH, BH cukup diinkubasi selama 2

jam (Handojo, 2004).

Uji Widal metode slide dapat dikerjakan lebih cepat

dibandingkan dengan metode tabung, tetapi ketepatan dan

spesifitas metode tabung lebih baik dari metode slide (Rijal,

2014).

C. Prosedur Pemeriksaan Widal Metode Slide

1. Alat

Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah Ikatan

pembendungan (tourniquete), Slide tes, pipet tetes, tabung reaksi,

rotator, tangkai pengaduk, dan sentrifius.

2. Bahan

Bahan yang digunakan adalah Darah vena, antikoagulan EDTA

(Ethylen Diamine Tertra Acetat), spuit, kapas alcohol 70%, serum,

reagen anti Salmonella thypi O, Reagen anti Salmonella thypi H.


26

3. Prosedur Kerja

a. Tahap Pra Analitik

1) Persiapan pasien

Tidak memerlukan persiapan khusus

2) Persiapan alat dan bahan

1. Alat

a) Pembendungan (tourniquete)

b) Slide tes

c) Pipet tetes

d) Tabung reaksi

e) Rotator

f) Tangkai pengaduk

g) Sentrifus.

2. Bahan

a) Darah vena

b) Antikoagulan EDTA (Ethylen Diamine Tertra Acetat)

c) spuit

d) kapas alcohol 70%

e) serum

f) reagen anti Salmonella thypi O

g) Reagen anti Salmonella thypi H.

a. Tahap Analitik

1) Prosedur kerja.
27

a) Siapkan alat dan bahan

b) Diambil dua buah objek gelas pada masing-masing ojek

glass ditetesi serum sebanyak 1 tetes menggunakan pipet

tetes.

c) Masing-masing objek glass ditetesi 1 tetes reagen

Salmonella typhi O dan Salmonella typhi H dengan

menggunakan pipet tetes dicampur agar larutan menjadi

homogen.

d) Larutan di homogenkan selama 1 menit dan diamati.

c. Tahap Pasca Analitik

Interprestasi hasil :

a) Terjadi Aglutinasi, hasil positif (+)

b) Tidak Terjadi aglutinasi, hasil negatif (-)

D. Kerangka Konsep

Uji reaksi Widal menggunakan suspensi bakteri Salmonella typhi

dan Salmonella paratyphoid dengan perlakuan antigen H dan O.

Antigen ini dikerjakan untuk mendeteksi antibodi yang sesuai pada

serum pasien yang diduga menderita demam typhoid.

Prinsip uji widal adalah memeriksa reaksi antara antibodi

aglutinin dalam serum penderita yang telah mengalami pengenceran

berbeda-beda terhadap antigen O (somatic) dan antigen H (flagel)

yang ditambahkan dalam jumlah yang sama sehingga terjadi


28

aglutinasi.

Aglutinasi merupakan reaksi serologi klasik yang dihasilkan

gumpalan suspenseI sel oleh antibody spesifik yang secara tidak

langsung menyerang spesifik antigen.

Serum adalah bagian cair dari darah yang tidak diberi

antikoagulan. Jika darah dalam tabung didiamkan selama 5-10 menit,

maka darah akan membeku.

Variabel Bebas Variabel Terkat


POSITIF
DEMAM TES WIDAL
TIFOID
NEGATIF

Gambar 1.1. Kerangka Konsep


BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah

penelitian deskriptif operasional yang bertujuan untuk mengetahui

hasil pemeriksaan widal pada pasien suspek demam tifoid di

Puskesmas Tabaringan Kota Makassar.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini direncanakan di Puskesmas Tabaringan Kota

Makassar.

2. Waktu Penelitian

Penelitian ini direncanakan pada bulan April 2021.

C. Populasi, Sampel, Besar Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel

1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini yaitu semua data sekunder

pasien suspek demam tifoid pada bulan Januari - April periode

2021.

2. Sampel

Sampel dalam penelitian ini adalah semua data populasi

diambil sebagai sampel.

29
30

3. Besar Sampel

Besar sampel dalam penelitian ini adalah pasien suspek

demam tifoid yang melakukan pemeriksaan widal di Puskesmas

Tabaringan Kota Makassar dengan jumlah 30 sampel. Hal ini sudah

sesuai dengan pendapat Balley dalam Mahmud (2011, hal : 159)

yang menyatakan bahwa untuk penelitian yang menggunakan

analisis data statistik, ukuran sampel paling minimum adalah 30.

4. Teknik Pengambilan Sampel

Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian

ini adalah tenik accidental sampling.

D. Variabel Penelitian

1. Variabel Bebas

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pasien suspek demam

tifoid.

2. Variabel Terikat

Variabel terikat dalam penelitian ini adalah pemeriksaan widal.

E. Definisi Operasional

1. Pemeriksaan Widal adalah prosedur uji serologi untuk mendeteksi

bakteri Salmonella enterica yang mengakibatkan penyakit tifoid.

Uji ini akan memperlihatkan reaksi antibody Salmonella terhadap

antigen O (somatic) dan H (flagellar) di dalam darah. Pemeriksaan


31

widal dilakukan pada pasien suspek demam Tifoid yang

melakukan pemeriksaan di Puskesmas Tabaringan Kota

Makassar. Apabila terjadi terjadi aglutinasi antara antigen dan

antibody maka hasilnya positif (+), sedangkan apabila tidak terjadi

aglutinasi antara antigen dan antibody maka hasilnya negatif (-).

2. Pasien suspek demam Tifoid adalah seseorang yang melakukan

pemeriksaan widal di Puskesmas Tabaringan Kota Makassar.

F. Prosedur Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan mengambil data sekunder di

Puskesmas Tabaringan Kota Makassar yang dilakukan oleh Petugas

Laboratorium Puskesmas Tabaringan Kota Makassar. Adapun

prosedur pengambilan data sekunder sebagai berikut :

1. Observasi

Observasi adalah suatu teknik pengumpulan data dengan

cara melakukan pengamatan langsung terhadap objek yang

diteliti. Untuk observasi yang peneliti lakukan untuk memperoleh

data tersebut dengan cara pengamatan langsung ke laboratorium

Puskemas Tabaringan Kota Makassar.

2. Wawancara

Wawancara adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan

melalui tatap muka dan tanya jawab langsung antara peneliti dan

narasumber. Dalam hal ini peneliti melakukan wawancara dengan


32

petugas laboratorium Puskesmas Tabaringan Kota Makassar.

3. Pengolahan Data

cara pengolahan data dilakukan setelah semua data

sekunder dari bulan Januari sampai dengan April terkumpul dan

diolah sesuai dengan kebutuhan peneliti.

4. Analisa Data

Analisa data dalam penelitian ini yaitu data hasil penelitian

disajikan dalam bentuk tabel lalu dihitung menggunakan rumus

presentasi. Jawaban pada setiap item dihitung frekuensinya dan

diolah dengan cara membandingkan jumlah frekuensi jawaban

responden pada setiap item dengan jumlah responden dilakukan

seratus persen lalu di deskripsikan menggunakan narasi. Rumus

presentasi yang digunakan sebagai berikut (Sumarsini Arikunto,

2002 :60).

P = F/n x 100%

Keterangan :
P (%) : persentse kejadian
F : Frekuensi kejadian
n : Jumlah keseluruhan sampel
33

G. Kerangka Operasional

Surat Pengantar

Puskesmas

Rekam Medik

Demam Tifoid

Pemeriksaan Widal

Pengolahan Data

Analisa Data

Pembahasan

Kesimpulan

Gambar 2.1 Kerangka Operasional Penelitian


DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian, Suatu pendekatan


praktek. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Astuti, 2013. Demam Tifoid Fakultas Kedokteran Universitas


Muhammadiyah Surakarta.

Ghadia Putri,dkk, 2016. Perbadingan Metode Diagnosis Demam Tifoid


Comparison of Methods For Diagnosis of Typhoid Fever,
Unpad.

Handojo, Indro, 2004. Imunoasai Terpadu Pada Beberapa Penyakit


Infeksi. Surabaya.

Hidayat, Isnaeni N. 2016. Asuhan Keperawatan Pada Demam Tifoid.


Jurnal Fakultas Ilmu Kesehatan UMP.

Irianto, Koes. 2014. Bakteriologi Medis, Mikologi Medis, Dan Virologi


Medis. Bandung: Alfabeta

Inawati. 2011. Demam Tifoid. Jurnal Departemen Patologi Anatom Dosen


Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya.

Jawetzet al.,2014. Mikrobiologi Kedokteran edisi 25. Jakarta: EGC.

Putra, A. 2013. Hubungan antara tingkat pengetahuan Ibu tentang


Demam Tifoid terhadap kebiasaan jajan anak sekolah Dasar.

Rachman, A. Fatmawati. 2011. Uji Diagnostik Tes Serologi widal


dibandingkan dengan kultur darah untuk diagnosis suspek
demam tifoid di RSUD Dr.Kariadi Semarang. Jurnal ilmiah
Fakultas Diponegoro Yogyakarta.

Rijal, Syamsu. 2014. Analisis Metode Serologi Widal Lapangan, Widal


Pembanding, Dan Kultur Pada Penderita Suspek Demam Tifoid
Di Sulawesi Selatan. As-Syifaa Vol 06 (01) : Hal. 43-55, Juli
2014 ISSN :2085-4714.

Setiati S, Alwi I, Sudoyo AW, Syam AF. 2014. Buku ajara ilmu penyakit
dalam jilid I.IV. Jakarta.

Sucipta, A.A Made. 2015. Buku Emas Pemeriksaan Laboratorium Deman


Tifoid Pada Anak. Jurnal Skala Husada vol. 12 Nomor April
2015 : 22–26 Assyfa Ulti Iskandar. 2016. Universitas
Muhammadiyah Semarang.

34
35

Sucipto, April 2015. Buku Emas Pemeriksaan Laboratorium Demam Tifoid


Pada Anak. Dosen Jurusan Analis Kesehatan Politeknik
Kesehatan Denpasar

Vika Rahma, dkk, 2016. Uji Widal Berdasarkan Lama Demam Pada
Pasien Suspek Demam Tifoid, Unand.

Wardana, I Made Tomik Nurya, dkk., 2011. Diagnosis Demam Typoid


dengan Pemeriksan Widal. Bagian/SMF Patologi Klinik
Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.

Widodo, J., 2006, Demam Tifoid, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Pusat
Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKIU, Jakarta

Yudhistira, Rahman N. 2017. Karakteristik Penderita Demam Tifoid


Rawat Inap Anak di RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda.
Jurnal Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah
Surakarta.

Yuli Wulan Sari,2013. Faktor dan Santasi Lingkungan Hubungannya


Dengan Kejadian Demam Tifoid, Universitas Muhammadiyah
Surakarta.