Anda di halaman 1dari 37

PROPOSAL PENELITIAN

GAMBARAN KADAR KOLESTEROL PADA LANSIA DIRUMAH SAKIT

ANUNTALOKO PARIGI TAHUN 2020

AULIA PRATIWI AYUNINGTIAS

PO.71.3.203.18.1.0012

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLTEKKES KEMENKES MAKASSAR

JURUSAN TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS (TLM)

PROGRAM STUDI DIPLOMA III

2021

i
LEMBAR PENGESAHAN

PROPOSAL PENELITIAN INI DISETUJUI

PADA TANGGAL,

Pembimbing I Pembimbing II

Dr.H.Herman, S.Pd., M.Kes Artati, S.Si, M.Si


NIP. 19610526 198303 1 002 NIP. 197901032012122001

Penguji

Yaumil Fachni Tandjungbulu, S.ST., M.Kes


NIP. 199009012019022001

Mengetahui,
Ketua Jurusan Teknologi Laboratorium Medis
Poltekkes Kemenkes Makassar

H. Kalma, S.Pd.,M.Si.
NIP. 19580810 198303 1 008

ii
DAFTAR ISI

SAMPUL DALAM............................................................................... i

LEMBAR PENGESAHAN................................................................... ii

DAFTAR ISI......................................................................................... iii

DAFTAR TABEL ................................................................................. v

DAFTAR GAMBAR ............................................................................ vi

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ........................................................................ 1

B. Rumusan Masalah .................................................................. 4

C. Tujuan Penelitian ..................................................................... 4

D. Manfaat Penelitian ................................................................... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. KOLESTEROL......................................................................... 6

1. Pengertian Kolesterol......................................................... 6

2. Klasifikasi............................................................................ 8

3. Biosintesis Kolesterol.......................................................... 10

4. Faktor yang mempengaruhi kadar kolesterol..................... 11

B. LANSIA.................................................................................... 12

iii
a). Pengertian Lansia .............................................................. 12

b). Klasifikasi Lansia ................................................................ 13

c).Masalah pada proses penuaan ........................................... 14

C. KERANGKA KONSEP............................................................ 20

BAB III METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian ....................................................................... 22

B. Lokasi dan Waktu Penelitian ................................................... 22

C. Populasi, Sampel, Teknik Pengambilan Sampel dan Besar

Sampel..................................................................................... 23

D. Variable Penelitian ................................................................. 24

E. Instrument Penelitian ............................................................... 25

F. Prosedur Penelitian ................................................................. 25

G. Definisi Oprasional .................................................................. 27

H. Analisa Data ............................................................................ 27

I. Kerangka Oprasional Penelitian .............................................. 28

DAFTAR PUSTAKA

iv
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Pengelempokan Kadar Kolestrol ....................................... 7

Tabel 3.1 Kegiatan Penelitian ............................................................ 22

v
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Struktur molekul kolesterol ............................................. 7

Gambar 2.2 Sintesis Kolesterol dalam Tubuh.................................... 8

Gambar 2.3 Kerangka Konsep Penelitian ......................................... 21

Gambar 3.1 Kerangka Oprasional Penelitian .................................... 28

vi
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Lanjut Usia atau lebih dikenal dengan istilah lansia merupakan suatu

kondisi dimana manusia akan kehilangan daya imunitasnya terhadap

infeksi yang berakibat menurunnya fungsi jaringan tubuh yang dimulai

dari penurunan fungsi jaringan otot hingga fungsi organ tubuh seperti

jantung, hati, otak, dan ginjal. Salah satu dampak dari penurunan

fungsi organ jantung adalah terjadinya pengendapan zat zat yang

bersifat aterosklerosis yang dapat menyebabkan perubahan elastisitas

pembuluh darah (Almatsier, 2011).

Rendahnya tingkat pendidikan dan tingkat pendapatan berpengaruh

terhadap pola hidup lansia dalam mendapatkan pelayanan kesehatan.

Pelayanan kesehatan yang kurang sesuai mengakibatkan umur

harapan hidup lansia yang rendah pula, serta dapat mempengaruhi

pola hidup lansia yang kurang sehat, misalnya kurangnya olahraga,

kurang tepatnya konsumsi makanan yang kaya akan kandungan gizi,

dan lain sebagainya (Almatsier, 2011).

Salah satu fungsi pelayanan kesehatan dalam pencegahan serta

pengobatan penyakit dapat dimulai dengan memperbaiki tingkat

konsumsi pangan lansia yang lebih sehat. Komposisi makanan yang

mengandung kalori dan lemak yang tinggi dapat menyebabkan

peningkatan kadar kolesterol darah yang sangat erat kaitannya

1
dengan terjadinya penyakit jantung koroner (PJK), sehingga untuk

mencegah terjadinya penyakit 2 jantung koroner dapat dilakukan

dengan pengaturan pola makan (Soekidjo, 2007).

Pola konsumsi makanan yang kurang tepat dapat menyebabkan

berbagai masalah kesehatan, diantaranya adalah tidak terkontrolnya

keseimbangnan cairan, kekurangan enzim laktase, kenaikan tekanan

darah, serta timbulnya berbagi penyakit degeneratif (Almatsier, 2011).

Salah satu faktor terjadinya penyakit degeneratif adalah terjadinya

peningkatan kadar kolesterol plasma di dalam darah yang dapat

menyebabkan timbulnya plak sehingga menyebabkan adanya

penyempitan pembuluh darah (Soekidjo,2007).

Peningkatan kadar kolesterol darah dapat dipengaruhi oleh tingkat

konsumsi asam lemak total dan tingkat konsumsi zat kolesterol

makanan (Almatsier, 2009).

Kolesterol disentesis dari asetil koA yang melewati berbagai macam

tahapan reaksi tubuh. Asetil koA akan diubah menjadi Isopentinil

Pirofosfat yang selanjutnya akan membentuk kolesterol. Pembentukan

kolesterol ini akan membentuk senyawa, diantaranya Granil Pirofosfat,

Skualen, dan Ianosterol yang dipengaruhi oleh jumlah asupan

kolesterol dalam tubuh, jika jumlah asupan lemak maupun asupan

kolesterol tidak dikontrol maka jumlah asetil KoA di dalam tubuh juga

akan terus meningkat jika hal ini terus menerus dibiarkan maka dapat

2
menimbulkan penumpukan kolesterol didalam darah. (Poedjiadi dan

Supriyanti, 2005).

Tingginya tingkat konsumsi asam lemak juga dapat menyebabkan

peningkatan kadar kolesterol LDL yang berfungsi membawa kolesterol

untuk keperluan jaringan metabolik. Jumlah kolesterol dalam darah

yang 3 berlebih akan diangkut kembali ke hati oleh HDL (Sitorus,

2006).

Hal ini sesuai dengan penelitian Megawati (2010) di Rumah Sakit

Umum Raden Ajeng Kartini Jepara bahwa asupan lemak mempunyai

hubungan yang signifikan dengan peningkatan kadar kolesterol pada

penderita Penyakit Jantung Koroner.

Tahun 2016 di Amerika Serikat lebih dari 12 persen orang dewasa

mengalami peningkatan kolesterol, dan tahun 2017 angka kejadian

hiperkolesterolemia sebanyak 40% (American Heart Association,

2017),

sedangkan pada tahun 2018 meningkat menjadi 48,6% (American

Heart Association, 2018).

Di Indonesia, angka kejadian hiperkolesterolemia menurut penelitian

MONICA I (Multinational Monitoring Of Trends Daterminants in

Cardiovascular Disease) sebesar 13,4% pada wanita dan 11,4% pria.

Pada MONICA 2 II didapatkan meningkat menjadi 16,2% pada wanita

dan 14% pria (Ayuandira, 2012).

3
Diperkirakan sekitar 35% penduduk Indonesia memiliki kadar

kolesterol lebih tinggi dari batas normal. Berdasarkan data Riskesdas

(Riset Kesehatan Dasar) tahun 2013 proporsi penduduk Indonesia

dengan kadar kolesterol total di atas normal lebih tinggi pada

perempuan (39,6%) dibandingkan pada lakilaki (30,0%) dan di daerah

perkotaan lebih tinggi daripada daerah pedesaan (Departemen

Kesehatan, 2013).

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut maka rumusan masalah

pada penelitian ini yaitu bagaimana gambran kadar kolesterol pada

lansia di Rumah Sakit Anuntaloko Parigi,

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Untuk mengetahuai gambaran kolesterol pada lansia di Rumah Sakit

Anuntaloko Parigi

2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui kadar Kolesterol pada lansia di RSUD

Anuntaloko Parigi berdasarkan jenis kelamin

b. Untuk mengetahui kadar Kolesterol pada lansia di RSUD

Anuntaloko parigi berdasarkan umur

c. Untuk mengetahui kadar Kolesterol pada lansia di RSUD

Anuntaloko Parigi berdasarkan jenis makanan

4
D. Manfaat Penelitian

Manfaat yang ingin dicapai dari penelitian ini sebagai berikut:

1. Bagi masyarakat

Sebagai bahan informasi kepada masyarakat tentang pentingnya

mengetahuai gambaran kolesterol serta mengendalikan asupan

kolesterol yang disesuaikan dengan kebutuhan, faktor risiko kadar

kolesterol darah tidak normal khususnya lansia.

2. Bagi Peneliti

Sebagai acuan dalam menganalisis suatu permasalahan dengan

mengaplikasikan teori-teori yang ada dan meningkatkan

pengetahuan peneliti tentang hubungan kadar kolesterol darah

pada lansia.

3. Bagi institusi

Memberikan informasi tentang gambaran kolesterol pada lansia

mengenai referensi dalam bentuk karya tulis ilmiah

5
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Gambaran kolesterol pada lansia

1. Pengertian Kolesterol

Kolesterol adalah salah satu komponen dalam membentuk lemak .

Didalam lemak terdapat berbagai macam komponen yaitu seperti

zat trigliserida, fosfolipit, asam lemak bebas, dan juga kolesterol.

Secara umum, kolesterol berfungsi untuk membangun dinding

didalam sel (membrane sel) dalam tubuh. Bukan hanya itu saja,

kolesterol juga berperan penting dalam memprodksi hormone seks

, vitamin D, serta berperan penting dalam menjalankan fungsi saraf

dan otak (Mumpuni &Wulandari)

Menurut Stoppard (2010) kolesterol adalah suatau zat lemak yang

dibuat didalam hati dan lemak jenuh dalam makanan. Jika terlalu

tinggi kadar kolesterol dalam darah maka akan semakin

meningkatkan faktor resiko terjadinya penyakit aneri konorer.

Kolesterol adalah senyawa kimia yang secara alamiah dibuat oleh

tubuh. Kolesterol merupakan kombinasi dari lipid  (lemak)

dan sterol (kombinasi steroid dan alkohhol). Kolesterol adalah

komponen struktural yang esensial dalam membran sel dan

selubung mielin (Zamora A., 2007).

            Sekitar 80 % kolesterol diproduksi di hati, selebihnya diperoleh dari

makanan (diet). Diet kolesterol terutama berasal dari daging,

6
ayam, dan ikan. Organ dalam seperti hati umumnya mengandung

kolesterol dalam jumlah tinggi (Wedro et al., 2010).

Struktur Kimia Kolesterol

Gambar 2.1. Struktur molekul kolesterol

(Sumber: Zamora A., 2007)

Kolesterol berperan dalam banyak proses metabolisme tubuh,

sintesis hormon seperti estrogen, testosteron and adrenalin,

produksi vitamin D, dan asam empedu yang membantu tubuh

mencerna lemak dan mengabsorpsi vitamin larut lemak dalam

saluran pencernaan (Lavelle P., 2006; Zamora A., 2007; Wedro et

al., 2010),

7
Gambar 2.2 Sintesis Kolesterol dalam Tubuh.

(Sumber: A.P. et al.,1997)

2. Klasifikasi

Klasifikasi kolesterol dibagi menjadi 2 yaitu jenis kolesterol dan

kadar kolesterol

a) Jenis Kolesterol

1) Low density Lipoprotein (LDL)

LDL atau sering juga disebut sevagai kolesterol

jahat, LDL lipoprotein deposito kolesterol bersama

didalam dinding arteri, yang menybabkan terjadinya

pembentukan zat yang keras, tebal, atau sering

8
disebut juga sebagai plakat kolesterol, dan dengan

seiring berjalannya waktu dapat menempel didalam

dinding arteri dan terjadinya penyempitan arteri

(Yovina, 2012).

2) High Density lipprotein (HDL)

HDL adalah kolesterol yang bermanfaat bagi tubuh

manusia, fungsi dari HDL yaitu mengangkut LDL

didalam jaringan perifer kehepar akan

membersihkan lemak-lemak yang mebempel

dipembuluh darah yang kemudian akan dikeluarkan

melalui saluran empedu dalam bentuk lemak

empedu (Sutanto, 2010)

9
b) Kadar Kolesterol

Kadar Kolesterol Total Kategori Kolesterol Total


Kurang dari 200 mg/dl Bagus
200-239 mg/dl Ambang Batas Atas
240 mg/dl dan lebih Tinggi

Kadar Kolesterol LDL Kategori


Kurang dari 100 mg/dl Optimal
100-129 mg/dl Hampir optimal / diats optimal
130-159 mg/dl Ambang batas atas
160-189 mg/dl Tinggi
190 mg/dl dan lebih Sangat Tinggi

Kadar Kolesterol HDL Kategori Kolesterol


Kurang dari 40 mg/dl Rendah
60 mg/dl Tinggi
Tabel 2.1 Pengelompokkan kadar Kolesterol

Sumber : NationalInstitutes og health,Delection, Evalution dan Treatment

of high Blood Choleterol in Adults III (Mumpuni & Wulandari, 2011

3. Biosintesis Kolesterol

Biosintesis kolesterol dapat dibagi lima tahap, yaitu : (a) Tahap

pertama adalah pembentukan mevalonat setoasetik KoA

(gabangun 2 molekul asetil KoA) yang mengalami kondensasi

yang dikatalasi oleh HMG-KoA sintase yang nantinya dipakai untuk

membentuk HMg-KoA reduktae. Proses ini merupakan tahap

regulatorik utama dijalur sintesis kolesterol dan merupakan tempat

kerja golongan obat penurunan kadar kolesterol yaitu inhibitor

HMG-KoA reduktase (golongan statin), (b) pembentukan

10
umitisoprenoid dari mevalonat melalui pelepasan CO2 pada reaksi

fosforilasi oleh ATP, (c) enam unit isoprenoid mengadakan

kondensasi untuk membentuk senyawa skualen, (d) skualen

mengadakan siklisasi didalam retikuluk endoplasma

untukmenghasilkan senyawa steroid induk yaitu kolesterol, dan (e)

kolesterol dibentuk di dalam membran reticulum endoplasma dan

lanosterolsetelah melewati beberapa tahap termasuk pelepasan

tiga gugu metil.

4. Faktor Yang Mempengaruhi Kadar Kolesterol

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kadar

kolesterol dalam darah yaitu sebagai berikut:

A. Makanan

Kolesterol pada umumnya berasal dari lemak hewani

seperti daging kambing, meskipun tidak sedikit pula

yang berasal dari lemak nabati seperti santan dan

minyak kelapa. Telur juga termasuk makanan yang

mengandung kolesterol yang tinggi. Makanan yang

banyak mengandung lemak jenuh menyebabkan

peningkatan kadar kolesterol, seperti minyak kelapa,

minyak kelapa sawit dan mentega juga juga memiliki

lemak jenuh yang dapat meningkatkan kadar kolesterol

(Yovina, 2012).

11
B. Kurangnya aktifitas fisik

Faktor pemicu yang dapat meningkatkan kadar

kolesterol dalam darah yaitu kurangnya aktivitas fisik

ataupun olahraga, hal tersebut telah dibuktikan oleh

penelitian yang dilakukan oleh Tunggul, Rimbawan dan

Nuri (2013) bahwa terdapat hubungan yang bermakna

antara tingkat aktivitas fisik terhadap kadar kolesterol

dalam darah dengan nilai p<0.05.

C. Kurang pengetahuan

Tingkat pengetahuan seseorang merupakan salah satu

faktor yang mempengaruhi kadar kolesterol, hal tersebut

dibuktikan oleh penelitian yang dilakukan oleh Winda,

Rooije & Tinny (2016) bahwa pengetahuan memiliki

hubungan yang signifikan terhadap kadar kolesterol

seseorang dan mempengaruhi tindakan pencegahan

yang dapat dilakukan dalam mengendalikan kadar

kolesterol.

B. Tinjauan umum Lansia

a) . Pengertian Lansia

Lanjut usia adalah seseorang yang memiliki usia lebih dari atau

sama dengan 55 tahun (WHO, 2013). Lansia dapat juga diartikan

sebagai menurunnya kemampuan jaringan untuk memperbaiki

12
diri dan mempertahankan struktur serta fungsi normalnya,

sehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas (Darmojo, 2015)

b) Klasifikasi Lansia

 Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (Wahyudi, Nugroho,

2000) siklus hidup lansia yaitu :

1. Usia pertengahan (middle age), ialah kelompok usia 45

sampai 59 tahun.

2. Lansia (elderly), dengan usia antara 60 sampai 74 tahun.

3. Lansia tua (old), dengan usia 60-75 dan 90 tahun. 11 4. Lansia

sangat tua (very old), dengan usia diatas 90 tahun. (Muhith dan

Siyoto, 2016).

 Menurut Prof. Dr. Koesoemato Setyonegoro dalam Muhith

dan Siyoto (2016). Pengelompokan lansia sebagai berikut:

1. Usia dewasa muda (elderly adulhood): 18/20-25 tahun

2. Usia dewasa penuh (middle years) atau maturitas: 25tahun-

60/65 tahun.

3. Lansia (geriatric age): lebih dari 65/70 tahun. Geriatric age

dibagi menjadi 3, yaitu: young old (70-75 tahun), old (75-80

tahun) dan very old (lebih dari 80 tahun).

 Menurut Depkes RI (2003) dalam Maryam, dkk (2008).

Klasifikasi pada lansia yaitu:

13
a. Pralansia (prasenilis): seseorang dengan usia antara 45-

59 tahun.

b. Lansia: seseorang dengan usia 60 tahun atau lebih.

c. Lansia resiko tinggi: seseorang yang berusia 70

tahun/lebih atau seseorang dengan usia 60 tahun/lebih

dengan masalah kesehatan.

d. Lansia potensial: seorang lanjut usia yang bisa melakukan

pekerjaan dan/atau kegiatan yang mendapatkan hasil

barang/jasa.

e. Lansia tidak pontensial: lanjut usia yang ketergantungan

terhadap bantuan orang lain karena ketidak berdayaannya

dalam mencari nafkah dalam kehidupannya.

c) Masalah pada Proses Penuaan

Perubahan sistem tubuh lansia menurut Nugroho (2000 dalam

Muhith dan Siyoto, 2016) adalah:

1. Sel

a. Pada lansia, jumlah akan lebih sedikit dan ukurannya

akan lebih besar.

b. Cairan tubuh dan cairan intraseluler akan berkurang.

c. Proporsi protein di otak, otot, ginjal, darah, dan hati juga

ikut berkurang.

14
d. Jumlah sel otak akan menurun.

e. Mekanisme perbaikan sel akan terganggu .

2. Sistem persarafan .

a. Rata-rata berkurangnya saraf neucortical sebesar 1 per

detik.

b. Hubungan persarafan cepat menurun.

c. Lambat dalam merespons, baik dari gerakan maupun

jarak waktu, khusus dengan stres.

d. Mengecilnya saraf pancaindra, serta menjadi kurang

sensitif terhadap sentuhan.

3. Sistem pendengaran

a. Gangguan pada pendengaran (presbiakusis).

b. Membran timpani atropi.

c. Terjadi pengumpulan dan pengerasan serumen karena

peningkatan keratin

d. Pendengaran menurun pada lanjut usia yang mengalami

ketegangan jiwa atau stres.

4. Sistem penglihatan

a. Timbul sklerosis pada sfingter pupil dan hilangnya respons

terhadap sinar.

15
b. Kornea lebih berbentuk seperti bola (sferis).

c. Lensa lebih suram (keruh) dapat menyebabkan katarak. d.

Meningkatkan ambang.

d. Pengamatan sinar dan daya adaptasi terhadap kegelapan

menjadi lebih lambat dan sulit untuk melihat dalam

keadaan gelap.

e. Hilangnya daya akomodasi.

f. Menurunnya lapang pandang dan menurunnya daya untuk

membedakan antara warna biru dengan hijau pada skala

pemeriksa.

5. Sistem kardiovaskuler

a. Elastisitas dinding aorta menurun.

b. Katup jantung menebal dan menjadi kaku.

c. Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap

tahun sesudah berumur 20 tahun. Hal ini menyebabkan

menurunnya kontraksi dan volumenya.

d. Kehilangan elastisitas pembuluh darah, kurangnya

efektivitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi,

sering terjadi postural hipotensi.

e. Tekanan darah meningkat diakibatkan oleh meningkatnya

resistensi dari pembuluh darah perifer.

16
6. Sistem pengaturan suhu tubuh

a. Suhu tubuh menurun (hipotermia) secara fisiologis +35°C.

Hal ini diakibatkan oleh metabolisme yang menurun.

b. Keterbatasan reflek menggigil, dan tidak dapat

memproduksi panas yang banyak sehingga terjadi

rendahnya aktivitas otot.

7. Sistem pernapasan a. Otot-otot pernapasan kehilangan

kekuatan dan menjadi kaku.

a. Menurunnya aktivitas dari silia.

b. Paru-paru kehilangan elastisitas sehingga kapasitas residu

meningkat.

c. Menarik napas lebih berat, kapasitas pernapasan

maksimum menurun, dan kedalaman bernapas menurun.

d. Ukuran alveoli melebar dari normal dan jumlahnya

berkurang, oksigen pada arteri menurun menjadi 75

mmHg, kemampuan untuk batul berkurang, dan

penurunan kekuatan otot pernapasan.

8. Sistem gastrointestinal

a. Kehilangan gigi, indera pengecapan mengalami

penurunan.

b. Esofagus melebar.

17
c. Sensitivitas akan rasa lapar menurun.

d. Produksi asam lambung dan waktu pengosongan lambung

menurun.

e. Peristaltik lemah dan biasanya timbul konstipasi.

f. Fungsi absorbsi menurun.

g. Hati (liver) semakin mengecil dan menurunnya tempat

menyimpan.

h. Berkurangnya suplai aliran darah.

9. Sitem genitourinaria

a. Ginjal mengecil dan nefron menjadi atropi, aliran darah ke

ginjal menurun hingga 50%, fungsi tubulus berkurang

(berakibat pada penurunan kemampuan ginjal untuk

mengonsentrasikan urine, berat jenis urine menurun,

protei uria biasanya +1), Bloud Urea Nitrogen (BUN)

meningkat hingga 21 mg%, nilai ambang ginjal terhadap

glukosa meningkat.

b. Otot-otot kandung kemih (vesika urinaria) melemah

kapasitasnya, menurun hingga 200 ml dan menyebabkan

rekurensi buang air kecil meningkat, kandung kemih

dikosongkan sehingga meningkatkan retensi urine.

c. Pria dengan 65 tahun ke atas sebagaian besar mengalami

18
pembesaran prostat hingga +75% dari besar normalnya.

10.Sistem endokrin Menurunnya produksi ACTH, TSH,

FSH, dan LH, aktivitas tiroid, basal metabolik rate (BMR),

daya pertukaran gas, produksi aldosteron, serta sekresi

hormon kelamin seperti progesteron, estrogen, dan

testosteron.

11.Sistem integumen

a. Kulit menjadi keriput akibat kehilangan jaringan lemak.

b. Permukaan kulit kasar dan bersisik.

c. Menurunnya respons terhadap trauma, mekanisme

proteksi kulit menurun.

d. Kulit kepala dan rambut menipis serta berwarna kelabu. e.

Rambut dalam hidung dan telinga menebal.

e. Berkurangnya elastisitas akibat menurunnya cairan dan

vaskularisasi.

f. Pertumbuhan kuku lebih lambat, kuku jari menjadi keras

dan rapuh, kuku kaki tumbuh secara berlebihan dan

seperti tanduk.

g. Kelenjar keringat berkurang jumlah dan fungsinya.

h. Kuku menjadi pudar dan kurang bercahaya.

19
C. Kerangka Konsep

Kolesterol adalah lemak yang berguna bagi tubuh. Namun bila kadarnya

di dalam tubuh terlalu tinggi, kolesterol akan menumpuk di pembuluh

darah dan mengganggu aliran darah.

Lansia (lanjut usia) adalah seseorang yang telah memasuki tahapan

akhir dari fase kehidupan. Menua adalah suatu keadaan yang terjadi di

dalam kehidupan manusia. Proses menua merupakan proses sepanjang

hidup, tidak hanya dimulai dari suatu waktu tertentu, tetapi dimulai sejak

permulaan kehidupan.

Faktor yang mempengaruhi kadar kolesterol pada lansia antara lain jenis

kelamin, obesitas, asupan kolesterol makanan, kebiasaan merokok dan

kebiasaan olahraga

20
Kerangka Konsep

Lansia

Kadar Kolesterol

umur
Jenis kelamin Makan

Keterangan :

: Variabel Bebas

: Variabel Terikat

Gambar 2.3 Kerangka Konsep Penelitian

21
BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif yaitu

mengetahui gambaran hasil pemeriksaan kadar kolesterol pada

lansia di Rumah Sakit Anuntaloko Parigi

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

1. Lokasi penelitian

Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Anuntaloko Parigi

2. Waktu penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret-April

N Kegiatan Bulan
o
J F M A M J J A S O N D
A E A P E U U G E K O E
N B R R I N L U P T V S
U R E I I I S T O E E
R U T L T E B M M
I A U M E B B
R S B R E E
I E R R
R
1 Penyusunan
proposal
2 Bimbingan
proposal
3 Ujian
proposal
4 Pelaksanaa

22
n penelitian
5 Penulisan
karya ilmiah
6 Bimbingan
7 Ujian KTI
8 Yudisium
9 wisuda

Tabel 3.1 kegiatan penelitian

C. Populasi, Sampel,Teknik Pengambilan Sampel dan Besar sampel

1. Populasi

Populasi pada penelitian ini yaitu data sekunder semua pasien

yang datang periksa kolesterolpada tahun 2020 diRumah Sakit

Anuntaloko Parigi yang berusia 60 tahun ke atas

2. Sampel

Sampel pada penelitian ini adalah data sekunder seluruh lansia

yang berkunjung atau berobat dirumah sakit Anuntaloko Parigi

23
3. Teknik pengambilan sampel

Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Accidental

sampling.

4. Besar Sampel

Jumlah pasien lansia tahun 2020 diperkirakan sekitar 170 orang.

Apabila populasi lebih dari 100 digunakan rumus Arikunto

dimana 10-15% atau 20-25% atau lebih. Pada penelitian ini

besar sampel yang digunakan sebanyak 20% dari total populasi.

Rumus Arikunto

n=N x 20 %

20
n=170 x
100

n=34

Keterangan

N = Jumlah sampel

N = Total sampel

D. Variabel Penelitian

a. Variabel Bebas

a. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah Lansia

b. Variabel terikat

a. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah kadar Kolestrol.

24
E. Pengumpulan data Penelitian

1. Alat

 Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah

sebagai berikut : Strip Test Kolesterol, Autoclick dan

lanset (jarum)

2. Bahan

 Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah

sebagai berikut : Darah kapiler,kapas alcohol,kapas

kering

F. Prosedur Penelitian

1. Metode

Metode pemeriksaan dalam penelitian ini adalah POCT

menggunakan Strip test kolesterol

2. Prosedur kerja

a. Pra analitik

1. Persiapan pasien

pada penelitian ini tidak memerlukan pemeriksaan khusus

2. Persiapan alat dan bahan.

Alat yang digunakan adalah alat POCT dan autoklik. Bahan

yang digunakan adalah swab alcohol 70%, tissue/kapas

kering,dal lacet.Alat yang digunakan dipastikan dalam

keadaan berseih dan kering

25
b. Analitik

1. Alat autocheck dinyalakan dengan cara memasukkan strip

asamurat kedalam alat pemeriksaan hingga bunyi “bip” yang

menandakan bahwa alat siap digunakan.

2. Dengan didesinfeksi jari pasien dengankapas alcohol 70%.

Kemudian dilakukan proses pengambilan darah.

3. Dengan cara menusuk jari pasien menggunakan autoclick

yang telah berisi lancetdengan darah pertama dihapus

dengankapas kering.

4. Kemudian darah dan strip tersebut didekatkan sehingga

darah yang dijari pasien mengalir ke reagen strip tes

Kolesterol kemudian menghisap darahnya sendiri yang

ditanda 1 bunyi “bip”

5. Kemudian ditunggu hasil test yang akan muncul dilayar

dalam waktu 5-10 detik.Dan dicatat hasil pemeriksaan,

kemudia dicabt tes strip dari alat.

c. Pasca analitik

Dicatat hasil pemeriksaan yang dilakukan sesuai banyaknya

sampel dengan nilai normal: nilai normal kolesterol pada pria

dan wanita sama yaitu <100 mg/dl

26
G. Definisi oprasional

1. Kadar kolesterol adalah hasil pemeriksaan kadar kolesterol

penderita yang tercatat pada data rekam medik.

2. Kolesterol adalah metabolit yang mengandung lemak sterol

yang ditemukan pada membrane sel dan disirkulasikan

dalam plasma darah

3. Umur adalah bagian sampel penelitian pada pasien yang

berusia diatas 60 tahun yang terdaftar pada rekam medis

Laboratorium

4. Jenis kelamin adalah perbedaan biologis antara pria dan

wanita pada pasien lansia yang terdaftar pada rekam medic

laboratorium RSUD Anuntaloko Parigi

5. Makanan adalah bagian sampel penelitian yang dikonsumsi

oleh lansia

H. Analisis Data

Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu secara

deskriptif yang disajikan dalam bentuk tabel dan kemudian dibahas

secara narasi dengan mendeskripsikan hasil penelitian

27
I. Kerangka operasional

Sampel darah kapiler

Pemeriksaan kolesterol

Hasil

Analisa data

Pembahasan

Kesimpulan

Gambar 3.1 Kerangka Opersional Penelitian

28
DAFTAR PUSTAKA

Adam.J.(2005)“ Meningkatkan Kolesterol-HDL. Paradigma Baru

Penatalaksana Dslipidemi”.Jurnal Medical Nusantara, Vol 26, No. 3

AHA (American Heart Association). Cardiovascular Disease : A Costly

Burden For America Projections Through 2035. The American Heart

Assiciation Office of Federal Advocacy : Washington DC: 2017

Almatsier, Sunita. 2011. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta : PT. Gramedia

Pustaka Utama

Almatsier, S (2009) Prinsip dasar Ilmu Gizi. Jakarta : PT Gramedia

Pustaka Utama

Ayuandira, A. (2012). Hubungan Pola Konsumsi Makan, Status Gizi, Stres

Kerja dan faktor lain dengan Hiperkolesterolemia

Darmojo, Boedhi. 2015. Buku Ajar Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut).

Jakarta: FKUI

Depkes RI, 2003. Indikator Indonesia Sehat 2010 dan Pedoman

Penetapan Indikator Provinsi Sehat dan Kabupaten/Kota Sehat.

Jakarta

Depkes RI 2013. Riset Kesehatan Dasar. Jakarta: Badan Penelitian dan

Pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan RI.

Muhihith, A., & Siyoto, S (2016). Pendidikan Keperawatan Gerontik.

Yogyakarta: ANDI.

Mumpuni Y. Wulandari A. 2011. Cara Jitu Mengatasi Kolesterol.

Yogyakarta AND

29
Notoatmodjo, Soekidjo, 2007. Promosi Kesehatan. Jakarta : Rimeka Cipta

Nugroho, Wahyudi. 2000. Keperawatan Gerontik. Jakarta: EGC.

Oxidation and Maillard Reaction to the Nonenzymatic food Browning. Crit

Rev Food Sci Nutr.

Yovina.S, 2012. Kolesterol. Pinang Merah Publisher, Yogyakarta

Zamora, R dan Hidalgo, F.J. 2005. Coordinate contribution of lipid.

30
31