Anda di halaman 1dari 40

PROPOSAL PENELITIAN

IDENTIFIKASI TELUR CACING SOIL TRANSMITTED HELMINTHS


(STH) PADA DAUN KEMANGI YANG DIPERJUAL BELIKAN DI PASAR
PABAENG-BAENG MENGGUNAKAN METODE KONSENTRASI

ANANDA DWIJAYANTI PUTRI

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN MAKASSAR
JURUSAN TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS
PROGRAM STUDI D III
2021

1
PROPOSAL PENELITIAN

IDENTIFIKASI TELUR CACING SOIL TRANSMITTED HELMINTHS


(STH) PADA DAUN KEMANGI YANG DIPERJUAL BELIKAN DI PASAR
PABAENG-BAENG MENGGUNAKAN METODE KONSENTRASI

ANANDA DWIJAYANTI PUTRI


PO.71.3.203.18.1.008

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN MAKASSAR
JURUSAN TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS
PROGRAM STUDI D III
2021

i
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN SAMPUL.......................................................................... i

DAFTAR ISI ...................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ............................................................................ 1

B. Rumusan Masalah....................................................................... 3

C. Tujuan Penelitian ........................................................................ 4

D. Manfaat penelitian ....................................................................... 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Tentang Tanaman Kemangi ............................. 5

1. Definisi Kemangi .................................................................... 5

2. Klasifikasi Kemangi ................................................................ 5

B. Tinjauan Umum Tentang Soil Transmitted Helminths (STH)...... 7

1. Definisi Soil Transmitted Helminths (STH) ............................ 7

2. Jenis Soil Transmitted Helminths (STH) ............................... 7

C. Tinjauan Umum Tentang Faktor-Faktor Yang Mempengruhi

Penularan Soil Transmitted Helminths (STH) ………………….. 20

1. Usia ....................................................................................... 20

2. Jenis Kelamin ......................................................................... 20

3. Status Sosial .......................................................................... 20

4. Ekonomi .................................................................................. 21

ii
5. Lama Kerja .............................................................................. 21

D. Kerangka Konsep ........................................................................ 21

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian............................................................................ 23

B. Waktu dan Lokasi Penelitian ....................................................... 23

C. Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel .................. 23

D. Variabel Penelitian ...................................................................... 24

E. Definisi Operasional .................................................................... 24

F. Prosedur Penelitian ..................................................................... 25

G. Kerangka Operasioanl ................................................................ 28

H. Analisis Data ............................................................................... 28

DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………………. 30

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Infeksi Soil Transmitted Helminths (STH) merupakan infeksi yang

disebabkan oleh nematode usus yang dalam penularannya

memerlukann media tanah. Cacing yang tergolong STH adalah

Ascaris lumbricoides, Trichuris trichura dan cacing tambang

(Ancylostoma duodenale dan Necator americanus). Infeksi STH

banyak ditemukan pada daerah yang beriklim tropis dan subtropics

seperti Asia Tenggara, karena telur dan larvanya lebih dapat

berkembang di tanah yang hangat dan basah (De Silvia N, dkk,

2003).

Infeksi yang diakibatkan oleh cacing usus atau perut di Indonesia

saat ini masih cukup tinggi. Hal ini dikarenakan letak geografis

Indonesia di daerah tropis yang mempunyai iklim panas akan

tetapi lembab. Pada lingkungan yang memungkinkan, cacing usus

dapat berkembang biak dengan baik terutama oleh cacing yang

ditularkan melalu tanah (Soil Transmitted Helminths). Penularan

cacing usus bisa terjadi melalu makanan atau minuman yang

tercemar, melalui udara yang tercemar atau secara langsung

melalui tangan yang tercemar telur cacing yang infektif (Astuti dan

Aminah, 2008)

1
Infeksi kecacingan yang ditularkan melewati tanah masih

merupakan masalah kesehatan yang cukup serius bagi

masyarakat. Penularan infeksi cacing usus ini dapat melalui

berbagai cara salah satunya adalah melalui makanan yang telah

terkontaminasi. Jenis sayuran yang bisa sebagai penularan

diantaranya daun kemangi karena daun kemangi di dalam

masyarakat digunakan sebagai lalapan mentah. Sistem irigasi dan

pemberian pupuk pada tanaman kemangi (Amal, 2012).

Kebiasaan memakan sayuran mentah perlu hati-hati terutama

jika dalam pencucian kurang baik sehingga memungkinkan masih

adanya telur cacing pada sayuran. Parasit pada sayuran yang

biasanya ditemukan adalah Ascaris lumbricoides, Trichuris trichura,

Cacing tambang, larva Strongylides stercoralis, larva Rhabditidae

dan cercaria yang umumnya ditularkan melalui makanan atau

minuman atau melalui kulit (Widarti, 2018)

Menurut World Health Organization (WHO), diperkirakan jumlah

penderita infeksi Ascaris lumbricoides sebanyak 1,2 milyar orang,

penderita infeksi Trichuris trichura sebanyak 795 juta orang dan

penderita infeksi cacing tambang sebanyak 740 juta orang (WHO,

2012). Diperkirakan lebih dari dua milyar orang yang terinfeksi

cacing di seluruh dunia, sekitar 300 juta orang menderita infeksi

helminth (kecacingan) yang berat, dan sekitar 150.000 diantaranya

meninggal akibat STH (Supriatiastuti, 2006).

2
Infeksi STH dapat mengenai semua usia, usia sekolah dasar

merupakan populasi terbesar dalam infeksi STH. Hasil survei

kecacingan oleh dirtjen P2PL pada tahun 2009 menyebutkan

31,8% siswa-siswi SD di Indonesia menderita kecacingan.

Tingginya angka kecacingan pada anak usia sekolah disebabkan

oleh aktivitas mereka yag sering bermain atau kontak dengan tanah

yang merupakan tempat tumbuh dan berkembangnya cacing-

cacing penyebab STH (Kemenkes RI, 2010).

Infeksi STH lebih menyebabkan ketidakmampuan (disability)

dibandingkan kematian. Beban yang ditanggung masyarakat diukur

menggunakan Disabillity-Adjusted Life Years (DAILY) sebagai

bagian dari Global Burden Of Disease (GDB), sehingga lebih

berpengaruh pada kualitas hidup seseorang (Pullan RL. 2010).

Cara yang paling tepat untuk menanggulangi infeksi STH adalah

dengan memutuskan lingkaran hidup cacing dengan memperbaiki

pengetahuan kesehatan perseorangan, memperbaiki sanitasi dan

menggunakan obat antelmintik (Palgunadi BU, 2008)

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yaitu

apakah ada atau tidak telur cacing Soil Transmitted Helminths

(STH) pada daun kemangi yang diperjual belikan di Pasar

Pabaeng-Baeng

3
4
C. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ada atau tidaknya

telur cacing Soil Transmitted Helminths (STH) pada daun kemangi

yang diperjual belikan di Pasar Pabaeng-Baeng

D. MANFAAT PENELITIAN

1. Bagi Peneliti

Dapat memberikan pengetahuan peneliti tentang identifikasi

telur cacing Soil Transmitted Helminths (STH) pada daun kemangi

yang diperjual belikan di Pasar Pabaeng-Baeng menggunakan

metode konsentrasi.

2. Bagi Institusi

Sebagai sumbangsih dan pengembangan keilmuan bagi

almamater Jurusan Teknologi Laboratorium Medis Politeknik

Kesehatan Kementrian Kesehatan Makassar

3. Bagi Masyarakat

Masyarakat bias melakukan pencegahan secara dini akan

dampak yang akan ditimbulkan jika mengkonsumsi daun kemangi

yang terkontaminasi telur cacing Soil Transmitted Helminths (STH)

5
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. TINJAUAN UMUM TENTANG TANAMAN KEMANGI

1. Definisi Kemangi

Kemangi (Ocimum sanctum) yaitu tanaman tahunan yang

tumbuh liar yang dapat ditemukan di tepi jalan dan di tepi

kebun. Tanaman ini tumbuh di tempat tanah terbuka maupun

agak teduh dan tidak tahan terhadap kekeringan. Tumbuh

kurang lebih 300 m di atas permukaan laut (Zainal, dkk. 2006).

Kemangi merupakan tanaman yang sangat mudah

didapatkan, tanaman kemangi adalah sejenis tanaman

hemafrodit yang tumbuh di daerah tropis tanaman ini termasuk

family lamiaceae yang banyak tumbuh di Indonesia. Seiring

dengan meningkatnya ilmu pengetahuan dan teknologi

masyarakat telah memanfaatkan tanaman kemangi sebagai

hasil alam yang menjadi nilai ekonomi tinggi, biasanya

masyarakat menjadikan daun kemangi sebagai pelengkap

masakan atau sebagai lalapan (Safwan, dkk. 2016)

2. Klasifikasi Kemangi

Nama latin kemangi yaitu Ocinum Cannum, Ocimum

citriodorum. Indonesia : kemangi, surawung (Sunda) : lampes,

selasih, kemangi hutan, Inggris : holy basil.

6
Kemangi terdiri dari 2 jenis yaitu Asian basil dan

Mediteranian sweet basil. Jenis kemaangi Asian basil memiliki

batang tanaman yang berambut dengan daun dan bunga

berwarna merah muda sedangkan jenis kemangi Mediteranian

sweet basil memiliki daun berwarna ungu hijau dengan batang

tanaman yang juga berambut. Kedua jenis daun basil ini

memiliki daun yang berbau wangi tajam.

Gambar 2.1

Menurut toksonomi kemangi diklasifikasikan sebagai berikut :

Divisi : Spermatophyta

Sub divisi : Angiospermae

Kelas : DicotyledonaeBangsa

Suku : Labiatae

Marga : Ocinum

Jenis : Ocinum sanctum L.

7
B. TINJAUAN UMUM TENTANG SOIL TRANSMITTED HELMINTHS

(STH)

1. Definisi Soil Transmitted Helminths (STH)

Infeksi Soil Transmitted Helminths (STH) disebabkan oleh

beberapa spesies berbeda daei golongan parasite. Cacing ini

ditransmisikan melalui telur yang terdapat pada feses manusia

yang ditularkan melalui tanah dengan sanitasi yang buruk. Di

seluruh dunia terdapat dua milyar rag yang terinfeksi STH.

Infeksi pada anak-anak berimbas pada keadaan fisik, nutrisi dan

kognitif anak. Infeksi STH adalah infeksi yang sering terjadi di

dunia, terutama pada warga miskin dan pada komunitas yang

terbelakang. Spesies yang sering menginfeksi manusia di dunia

meliputi : roundworm (Ascaris lumbricoides), whipworm

(Trichuris trichura) dan cacing tambang (Necator americanus

dan Ancylostoma duodenale) (WHO, 2016)

2. Jenis Soil Transmitted Helminths (STH)

2.1 Ascaris lumbricoides

Klasifikasi Ascaris lumbricoides

Phylum : Nemathelmites

Class : Nematode

Ordo : Oscoridida

Family : Ascoridciidea

8
Genus : Ascaris

Spesies : Ascaris lumbricoides

2.1.1 Morfologi Ascaris lumbricoides

Cacing nematode ini adalah cacing berukuran besar,

berwarna putih kecoklatan atau kuning pucat. Cacing jantan

berukuran antara 101 cm, sedangkan cacing betina panjang

badannya antara 22-35 cm kurtikula yang halus bergaris-

garis tipis, menutupi seluruh permukaan badan cacing.

Ascaris lumbricoides memiliki mulut dengan tiga buah bibir

yang terletak disebelah bagian dorsal dan dua buah bibir

lainnya terletak pada subventral (Ni Nyoman, 2018).

Selain ukurannya lebih kecil daric acing betina, cacing

jantan mempunyai ujung posterior yang runcing dengan

ekor melengkung kearah ventral. Di dalam posterior ini

terdapat dua buah spikulum yang ukuran panjangnya

sekitar 2 mm, sedangkan di ujung posterior cacing terdapat

juga papil-papil yang berukuran kecil. Bentuk tubuh cacing

betina membulat (conical) dengan ukuran badan yang lebih

besar dan lebih panjang dari cacing jantan dan bagian ekor

yang lurus, tidak melengkung (Ni Nyoman, 2018)

Ascaris lumbricoides mempunyai dua jenis telur yaitu

telur yang sudah dibuahi (fertilized eggs) dan telur yang

9
belum dibuahi (infertilized eggs). Fertilized eggs berbentuk

lonjong, berukuran 45-70 mikron x 35-50 mikron,

mempunyai kulit telur yang tak berwarna. Kulit telur bagian

luar tertutupi oleh lapisan albumin yang permukaannya

bergerigi (mamillation) dan berwarna coklat karena

menyerap zat warna empedu. Sedangkan dibagian dalam

kulit telur terdapat selubung vitelin yang tipis, tetapi kuat

sehingga telur ascaris dapat bertahan di dalam tanah (Mi

Nyoman, 2018)

Fertilized eggs mengandung sel telur (ovum) yang

tidak bersegmen sedangkan dikedua kutub telur terdapat

rongga udara yang tampak sebagai daerah yang terang

terbentuk bulan sabit infertilled eggs (telur yang tidak

dibuahi) dapat di temukan jika di dalam usus penderita

terdapat cacing betina saja telur yang tak dibuahi ini

bentukya lebih lonjong dan lebih panjang dari ukuran

fertilized eggs dengan ukuran sekitar 80x55 mikron telur ini

tida mempunyai rongga udara dikedua kutubnya (Ni

Nyoman, 2018)

2.1.2 Siklus hidup Ascaris lumbricoides

Bentuk infektif ini bila tertelan manusia akan menetas

menjadi larva di usus halus, larva tersebut menembus

dinding usus menuju pembuluh darah atau saluran limfa

10
dan dialihkan ke jantung, lalu mengikuti aliran darah keparu-

paru menembus dinding pembuluh darah, lalu melalui

dinding alveolus, masuk rongga alveolus, kemudian naik ke

trakea melalui bronkeolus dan bronkus. Dari trakea larva

menuju ke faring, sehingga menimbulkan rangsangan

batuk, kemudian tertelan masuk ke esophagus, lalu menuju

ke usus halus tumbuh menjadi cacing dewasa. Proses

tersebut memerlukan waktu kurang lebih dua bulan sejak

tertelan sampai menjadi cacing dewasa (Ni Nyoman, 2018)

2.1.3 Gejala klinis Ascaris lumbricoides

Ascaris terutama diderita anak di daerah dengan

banyak pencemaran tanah oleh tinja karena tidak atau

kurangnya penggunaan jamban di daerah tertentu yang

mempunyai kebiasaan menggunakan tinja sebagai pupuk.

Larva cacing pada saat menjalani lung migration dapat

memberikan gejala demam, batuk, sesak nafas, nyeri dada,

dahak kadang-kadang berdarah, pada pemeriksaan dahak

dapat di temukan eosinophil, Kristal charcot leyden, bahkan

larva cacing. Kumpulan gejala ini dinamakan Loffler

syndrome atau pneumonitis ascaris.

Laffler syndrome jarang di temukan di daerah

endemis, pada umumnya di temukan pada penderita

11
Ascaris di daerah iklim sedang dan hanya pada kejadian

transmisi musiman (Ni Nyoman, 2018)

12
2.1.4 Diagnosa Ascaris lumbricoides

Pada fase migrasi larva, diagnosis dapat ditegakkan

melalui penemuan larva di dalam sputum atau cuci

lambung. Selama fase intestinal, didapatkan tellur fertile

maupun nonfertil atau cacing dewasa pada tinja. Telur leih

mudah terlihat dengan menggunakan apusan asah

langsung atau sediaan basah dari konsentrasi sedimen.

Penyakit pada usus dapat didiagnosa melalui studi

radiografis dan traktus pencernaan, dimana cacing dapat

dilihat (Gracia, et al., 2007)

2.1.5 Pencegahan Ascaris lumbricoides

Untuk mencegah penularan penyakit yang di

sebabkan oleh Ascaris lumbricoides dapat dilakukan

dengan membiasakan berdefekasi dijamban, sebelum

melakukan persiapan makan dan hendak makan, tangan

dicuci terlebih dahulu dengan baik dan benar (Ni Nyoman,

2018)

2.1.6 Pengobatan Ascaris lumbricoides

Pengobatan dapat dilakukan secara perorangan atau

secara massal pada masyarakat. Pengobatan yang efektif

adalah albendazol 400 mg, mebendazol 500 mg atau

ivermectin 150-2—g/kg berat badan sekali pemberian. Akan

tetapi, medikasi ini merupakan kontraindikasi pada

13
kehamilan sehingga digunakan. Piranntel pamoat 11 mg/kg

erat badan sekali pemberian untuk ibu hamil (Weller, et al.,

2010)

2.2 Truchirus trichura

Klasifikasi Trichuris trichura

Phylum : Nemathelmithes

Class : Nematoda

Ordo : Enoplida

Family : Trichinelloidea

Genus : Trchuris

Spesies : Truchirus trichura

2.2.1 Morfologi Trichuris trichura

Trichuris trichura adalah cacing berwarna putih

keabuan, kadang sedikit merah muda, yang hidup di sekum

dan kolon asendens. Cacing jantan (panjangnya 30-45 mm)

memiliki bagian anterior yang berbentuk seperti cambuk

mengandung esophagus seluler dan bagian posterior

tubuhnya. Telur cacing ini berukuran 50 x 22 µm, berwarna

ciklat dan berbentuk tong seperti tempayan dengan

semacam penonjolan yag jernih pada kedua kutub. Kulit

telur bagian luar berwarna kekuning-kuningan dan bagia di

dalamnya jernih (Brooker, et al., 2012).

14
2.2.2 Siklus hidup Truchirus trichura

Telur ini mengalami pematangan dan menjadi infektif

di tanah dalam waktu 3-4 minggu lamanya. Jika manusia

tertelan telur cacing yang infektif, maka di dalam usus hlus

dinding telur pecah dan larva keluar menuju sekum dan

berkembang menjadi cacing dewasa. Dalam waktu satu

bulan sejak masuknya telur infektif ke dalam mulut, cacing

telah menjadi dewasa dan cacing betina sudah mulai

mampu bertelut Trichuris trichura dewasa dapat hidup

bbeberapa tahun lamanya di dalam usus manusai (Ni

Nyoman, 2018)

2.2.3 Gejala klinis Truchirus trichura

Bagian anterior cacing dewasa Trichuris trichura akan

menembus mukosa usus besar, akan merusak pembuluh

darah dan akan mengakibatkan pendarahan. Darah yang

keluar akan dihisap sebagai bahan makanan bagi cacing

dan sebagian menyebabkan feses berdarah sehingga

namapak seperti gejala disentri. Pada infeksi berat maka

dapat terjadi anemia, bahkan dapat merusak perysarafan di

submucosa usus besar yang berakibat menjadi kelumpuhan

sehingga pada saat penderita mengejan dapat

15
menyebabkan dinding usus besar terdorong keluar (Ni

Nyoman, 2018)

16
2.2.4 Diagnosis Truchirus trichura

Diagnosis ditentukan dengan menemukan telur pada

pemeriksaan rutin parasite dari apusan basah atau

prosedur konsentrasi. Hasil pemeriksaan berupa telur

sebaiknya dikuantifikasi sebagai jarang, sedikit, sedang,

atau banyak karena mempengaruhi pilihan terapi. Pada

pemeriksaan feses, jarang dijumpai cacing dewasa (Gracia,

et al., 2007)

2.2.5 Pencegahan Truchirus trichura

Untuk mencegah penularan selain dengan mengobati

penderita juga harus dilakukan pengobatan massal untuk

mencegah terjadinya reinfeksi di daerah endemis. Hygiene

sanitasi perorangan dan lingkungan harus dilakukan untuk

mencegah terjadinya pencemaran lingkungan oleh tinja

penderita, misalnya dengan membuat WC atau jamban

yang baik di setiap rumah, makan dan minuman harus

selalu dimasak dengan baik untuk dapat membunuh telur

infektif Trichuris trichura (Ni Nyoman, 2018)

2.2.6 Pengoobatan Truchirus trichura

Terapis trichuriasis lebih sulit daripada nematode STH

lainnya. Pilihan terapi untuk infeksi berat adalah

melbendazol 100 mg dua kali sehari selama tiga hari atau

albendazol 400 mg sekali pemberian. Terapi alternative

17
yang dapat diberikan adalah invermectin 200 µg/kg berat

badan selama tiga hari. Akan tetapi, angka kepatuhan untuk

pengobatan iga hari lebih rendah daripada sekali

pemberian. Oleh karena itu, mebendazol 500 mg atau

albendazol 400 mg sekali pemberian dapat efektif diberikan

untuk infeksi rigan atau sedang dan merupakan terapi

pilihan untuk komunitas. Oksantel pamoat dan terapi

kombinasi mebendazol dengan ivermectin menunjukkan

efikasi yang lebih baik pada infeksi berat, tetapi dosis

optimal belum ditentukan. Obat-obatan ini tidak boleh

diberikan pada ibu hamil trimester pertama (Bundy, et al.,

2013)

2.3 Cacing tambang (Ancylostoma duodenale dan Necator

americanus)

Klasifikasi cacing hookworm (Tambang)

Kingdom : Animalia

Fihum : Nematoda

Kelas : Adeophorea

Ordo : Strongylida

Family : Ancylostomatoidaea

Genus : Ancylostoma dan Necator

18
Species : Ancylostoma duodenale

Necator americanus

2.3.1 Morfologi cacing hookworm (Tambang)

Ancylostoma duodenale merupakan cacing yang lebih

patogenik dan lebih bsar dibandingkan Necator americanus.

Ancylostoma duodenale merupakan cacing berwarna putih,

abu-abu, atau coklat kemerahan berbentuk silindris kecil

dan seperti benang. Cacing ini memiliki kapsul bukal yang

mengandung dua pasang gigi yang berfungsi untuk melekat

ke mukosa usus halus. Cacing jantan (0,8-0,4-0,5 cm)

memiliki bursa kopulatriks pada ujung belaakng dan

mempunyai ekspansi dari kutikula berbentuk seperti paying.

Cacing betina (1-1,3 x 0,6 cm) berukuran sedikit lebih besar

dan mempunyai kavitas yang dilengkapi oleh ovarium dan

tabung uterus dengan telur. Vulva pada cacing betina

terletak sepertiga posterior tubuh. Telur (50-60 µm x 35-40

µm) berbentuk elips dengan lapisan luar transparan dan

ketika dikeluarkan mengandung 2-4 segmen blastomer

(Brooker, et al., 2012)

Necator americanus mirip dengan Ancylostoma

duodenale, tetapi lebih pendek dan ramping (0,9-1,1 x 0,4

cm). cacing ini dapat dibedakan dari Ancylostoma

duodenale melalui posisi vulva pada cacing betina yang

19
berada pada sepertiga anterior tubuh caccing serta kapsul

bukal yang lebih kecil dan mempunyai lempeng kitin. Telur

Necator americanus sedikit lebih besar dibandingkan telur

Ancylostoma duodenale (64-75 x 36-40 µm). telur kedua

spesies cacing ini memiliki dinding yang tipis, transparan,

dan ujung bulat tumpul (Bogitsh, et al., 2013)

2.3.2 Siklus hidup cacing hookworm (Tambang)

Telur keluar bersama tinja. Di alam luar telur ini cepat

matang dan menghasilkan larva rhabditiform, selama 1-2

hari di bawah kondisi yang mengizinkan dengan suhu

optimal 23-33° larva yang baru menetas aktif memakan

sisa-sisa pembusukan organic dan cepat bertambah besar,

kemudian ia berganti kulit untuk kedua kalinya dan

berbentuk langsing menjadi larva filiform yang infeksius.\

Larva filaforms aktif menembus kulit melalui folikel

rambut, pori-pori atau kulit yang rusak. Umumnya daerah

terinfeksi adalah pada dorsum kaki atau di sela jari kaki.

Larva masuk mengembara ke slauran vena menuju jantung

kana kemudian masuk ke paru-paru memberi jaringan paru-

paru sampai ke alveoli, kemudian naik ke bronchi dan

trachea tertelan dan masuk ke usus. Peredaran larva dalam

sikulasi daerah dan migrasi paru-paru berlangsung selama

satu minggu, selama periode ini mereka bertukar kulit untuk

20
yang kedua kalinya. Setelah berganti kulit empat kali dalam

jangka waktu 13 hari mereka menjadi dewasa. Betina

bertelur 5-6 minggu setelah infeksi larva dapat masuk ke

dalam badan melalui air minum atau makanan yang

terkontaminasi (Irianto, Koes. 2013)

2.3.3 Gejala klinis cacing hookworm (Tambang)

Manusia yang terinfeksi Ancylostoma duodenale atau

Necatoor americanus menunjukkan eosinophilia dan

peningkatan IgE serum. Terdapat juga respon antibody IgG

yang kuat dan respon IgA serta IgM. Studi yang dilakukan

populasi endemic menunjukkan infeksi ini berhubungan

dengan peningkatan sitokin-sitokin yang dihasilkan oleh Th2

serta produksi IL-4 dan IL-5 studi terbaru menemukan

bahwa orang yang terinfeksi juga menghasilkan sitkin-

sitokin Th1, interferon (IFN)-ᵧ dan IL-12 (Brooker, et al.,

2012)

2.3.4 Diagnosis cacing hookworm (Tambang)

Diagnosis yaitu dengan ditemukannya telur dalam

tinja segar. Di dalam tinja lama kemungkinan ditemukan

larva. Unutuk membedakan spesies Necator americanus

dan Ancylstoma duodenale dapat dilakukan dengan cara

Harada-Mori (Utama, 2008)

21
2.3.5 Pencegahan cacing hookworm (Tambang)

Sebagai upaya pencegahan terjadi infeksi cacing

tambang dapat dilakukan dengan menghindari buang air

besar di sembarang tempat dan menghindari penggunaan

tinja sebagai pupuk, dan tetap menjaga kebersihan

lingkungan dan kebersihan pribadi melalui pendidikan/

penyuluhan kesehatan berbasis sekolah yang melibatkan

guru, siswa dan orang tua siswa. Untuk pekerja tambang

dan perkebunan perlu diberikan himbauan agar dapat

memakai alas kaki (sepatu) atau sarung tangan untuk

menghindari terjadinya infeksi cacing tambang. Khusus di

daerah endemis untuk mencegah infeksi dan terinfeksi

selain dilakukan pengobatan pada penderita dapat

dilakukan juga pengobatan secara massal (Ni Nyoman,

2018)

2.3.6 Pengobatan cacing hookworm (Tambang)

Pengobatan dapat dilakukan secara perorangan

maupun secara massal. Pengobatan perorangan dapat

menggunakan bermaaca-macam obat antihelmintic seperti

pperasin, pirantel pamoat 10 mg/kgBB mebendazol 500 mg

atau albendazol 400mg. Umumnya infeksi diterapi dengan

obat selama 3 hari.. pemberian suplemen zat esi juga bisa

22
diberikan jika orang yang terinfeksi mengalami anemia

(Pracaya, 2010)

C. TINJAUAN UMUM TENTANG FAKTOR-FAKTOR YANG

MEMPENGARUHI PENULARAN SOIL TRANSMITTED

HELMINTHS (STH)

Soil Transmitted Helminths dipengaruhi oleh beberapa factor

termasuk kondisi eksternal lingkungan seperti tanah, tidak adanya

fasilitas sanitasi, sistem pembuangan limbah yang tidak aman,

tidak mampu dan kurangnya sumber air bersih dan keadaan dari

toilet yang tidak memenuhi syarat kesehatan. Factor yang

mempengaruhi (Debalke dkk, 2013)

1. Usia

Seseorang dengan umur yang lebih tua akan lebih rentan

terkena infeksi dibandingkan yang lebih muda. Hal ini

disebabkan karena metabolism dan daya tahan tubuh orang

yang sudah lanjut usia mengalami penurunan sehingga derajat

infeksi akan menjadi lebih berat.

2. Jenis Kelamin

Jenis kelamin juga mempengaruhi karena laki-laki rentan

terkena infeksi kecacingan daripada perempuan. Karena laki-

laki lebih sering bersentuhan dengan tanah.

3. Status Sosial

23
Status social yang rendah juga dapat mempengaruhi

terjadinya infeksi kecacingan karena kurangnya pengetahuan

tentagn infeksi kecacingan dan kurangnya pengetahuan tentang

bahaya dari kecacingan.

4. Ekonomi

Dengan keadaan status ekonomi juga dapat mempengaruhi

karena dengan tingkat status ekonomi rendah kebiasaan

makan-makanan yang kurang bergizi juga dapat

mempengarauhi infeksi kecacingan.

5. Lama Kerja

Lama kerja juga dapat mempengaruhi seseorang terinfeksi

kecacingan khusunya pekerjaan yang berhubungan tanah,

karena berpengaruh dari bebrapa lama mereka terpapar

langsung oleh tanah.

D. KERANGKA KONSEP

Soil Transmitted Helminths (STH) adalah sekelompok cacing

parasite (kelas nematode) yang dapat menyebabkan infeksi pada

manusia melalui kontak dengan telur ataupun larva parasite itu

sendiri yang berkembang di tanah yang lembab yang terdapat di

negara yang beriklim tropis maupun subtropis. Penularan cacing

usus bisa terjadi melalu makanan atau minuman yang tercemar,

24
melalui udara yang tercemar atau secara langsung melalui tangan

yang tercemar telur cacing yang infektif (Astuti dan Aminah, 2008)

Penularan infeksi cacing usus yang melalui makanan yang telah

terkontaminasi umumnya terjadi pada sayur-sayuran. Jenis sayuran

yang bisa sebagai penularan diantaranya daun kemangi karena

daun kemangi di dalam masyarakat digunakan sebagai lalapan

mentah (Amal, 2012).

Olehnya itu dilakukan pemeriksaan laboratorium pada daun

kemangi dengan menggunakan metode konsentrasi (sedimenntasi

dan flotasi) untuk mengetahui ada tidaknya telur cacing STH pada

daun kemangi yang diperjual belikan di Pasar Pabaeng-Baeng.

Hasilnya dapat digunakan untuk mengetahui tingkat

penularan dan gangguan kesehatan yang di alami masyarakat

berupa infeksi kecacingan.

25
Cacing STH/Nematoda Usus
(Ascaris lumbricoides, Trichuris trichura
dan Ancylostoma duodenale dan Necator
americanus)

Tanah yang tercemar


Makanan atau minuman
(sayur) yang tercemar Udara yang tercemar
Tangan yang tercemar

Identifikasi telur STH


(Metode Konsentrasi)

Normal Abnormal

Gangguan Kesehatan

Gambar 2.2 Kerangka Konsep

26
BAB III

METODE PENELITIAN

A. JENIS PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan observasi laboratorik untuk

mengetahui ada tidaknya telur cacing Soil Transmitted Helminths

pada daun kemangi yang diperjual belikan di Pasar Pabaeng-

Baeng.

B. WAKTU & LOKASI PENELITIAN

1. Waktu Penelitian

Penelitian ini akan segera dilaksanakan.

2. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Parasitologi

Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Makassar.

C. POPULASI, SAMPEL DAN TEKNIK PENGAMBILAN SAMPEL

1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah daun kemangi yang

diperjual belikan di Pasar Pabaeng-Baeng

2. Sampel

Sampel dalam penelitian ini yaitu 10 daun kemangi yang

diperjual belikan di Pasar Pabaeng-Baeng.

27
28
3. Teknik Pengambilan Sampel

Teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu teknik

purposive sampling.

D. VARIABEL PENELITIAN

1. Variabel Bebas

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah identifikasi telur

cacing Soil Transmitted Helminths.

2. Variabel Terikat

Variabel dalam penelitian ini adalah daun kemangi di Pasar

Pabaeng-Baeng

E. DEFINISI OPERASIONAL

1. Pemeriksaan Telur Cacing Soil Transmitted Helminths (STH)

adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk menentukan ada

tidaknya telur cacing dalam sediaan yang diteliti.

2. Metode sedimentasi adalah metode menggunakan larutan dengan

berat jenis yang lebih rendah dari organisme parasite dan

memanfaatkan gaya sentifugal, sehingga parasite dapat

mengendap di bawah. Metode sedimentasi yang sering digunakan

berdasarkan reagensia adalah metode sedimentasi dengan NaCl

0.9%.

29
3. Metode flotasi adalah metode yang menggunakan larutan NaCl

jenuh yang didasarkan pada berat jenis telur, sehinga telur akan

mengapung dan mudah diamati.

F. PROSEDUR PENELITIAN

1. Metode

Metode yang digunakan pada peneltian ini adalah metode

konsentrasi (sedimentasi dan flotasi)

2. Prinsip

Prinsip metode sedimentasi adalah gaya sentrifugal dapat

memisahkan supernatant dari suspensi sehingga telur cacing dapat

terendapkan.

Prinsip metode flotasi adalah adanya perbedaan antara

berat jenis telur yang lebih kecil dari berat jenis NaCl sehingga telur

dapat mengapung.

3. Alat dan Bahan

Alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pot sampel,

tabung sentrifuge, objek glass, cover glass, batang pengaduk,

label, pipet tetes, rak tabung, mikroskop, sentrifuge, mortal dan

pastel, beaker glass.

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu daun kemangi

dan NaCl 0,9%

30
4. Prosedur Kerja

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer

yang diperoleh menggunakan analisa, pemeriksaan telur cacing

yang dilakukan peneliti.

1. Pra Analitik

Menyiapkan alat dan bahan

2. Analitik

1. Metode sedimentasi :

a. Mengambil sampel daun kemangi

b. Merendam daun kemangi sebanyak 30 gram

dengan larutan NaCl 0,9% sebanyak 300 ml

dengan beaker glass.

c. Menunggu selama 30 menit, setelah itu mengaduk

daun kemangi dengan batang pengaduk hingga

merata.

d. Memasukkan larutan NaCl 0,9% sebagai

perendam kedalam tabung reaksii sebanyak ¾

tabung.

e. Setelah itu memasukkan tabung reaksi pada

sentrifuge dengan kecepatan 1500 rpm selama 5

menit sampai terjadi endapan

31
f. Membuang larutan NaCl 0,9%, kemudian memipet

endapan pada tabung reaksi

g. Menaruh endapan di atas objek glass 1 tetes dan

dengan menutupnya menggunakan cover glass.

h. Melihat objek glass di bawah mikrskop dengan

perbesaran 10x, 40x dalam 10 lapang pandang

dan catat hasil.

2. Metode flotasi :

a. Menghancurkan daun kemangi menggunakan

mortal dan pastel

b. Setelah hancur masukkan ke dalam tabung reaksi

c. Tambahkan NaCl 0,9% ke dalam tabung reaksi

lalu homogenkan

d. Menambahka NaCl 0,9% sampai permukaan

tabung (sampai cembung)

e. Kemudian tutup dengan deck glass dan diamkan

selama 20 menit agar telur cacing menempel pada

deck glass.

f. Ambil deck glass kemudian letakkan di atas object

glass

g. Amati dibawah mikroskop dengan perbesaran 10x.

catat hasil.

32
3. Pasca Analitik

a. Positif : bila ditemukan telur cacing STH pada

sediaan.

b. Negatif : bila tidak ditemukan telur cacing STH

pada sediaan.

G. Kerangka Operasional

Daun Kemangi

Pemeriksaan metode konsentrasi

Sedimentasi Flotasi

HasilData
Analisa

Pembahasan

Kesimpulan

Gambar 3.1 Kerangka Operasional

H. Analisa Data

Data yang didapat dari pemeriksaan telur cacing dianalisa

secara deskriptif, untuk mengetahui presentase (%) banyaknya

telur cacing STH pada daun kemangi yang diperjual belikan di

Pasar Pabaeng-Baeng. Hasil penelitian ini akan disajikan dalam

bentuk tabel dan dinyatakan dalam bentuk persen. Dengan rumus

sebagai berikut.

33
f
P= x 100
N

Keterangan :

P : presentase

f : jumlah sampel positif

N : jumlah sampel responded

34
DAFTAR PUSTAKA

Amal A.W. 2012 “Gambaran Kontaminasi Telur cacing Pada Daun


Kemangi Yang Digunakan sebagai lalapan pada warung makan
sari laut di kelurahan bulogading”. UIN Alauddin Makassar.

Astuti, R., & Aminah, S. 2008. Identifikasi Telur Cacing Usus Pada
Lalapan Daun Kubis Yang Dijual Pedagang Kaki Lima Dikawasan
Simpang Lima Kota Semarang. Jurnal UNIMUS : Semarang.

Bogitsh, et al. 2013. Human Parasitology Fourth Edition. United States of


America : Elsevier
Brooker, et al. 2012. Soil-transmitted Helminths (Geohelminths) in
Manson’s Tropical Infectious Disease 23rd Edition. China : Elsevier
Saunders, Chapter 55, pp : 766-794

Bundy, et al. 2013. Nematodes Limited to the Intestinal Tract (Enterobius


vermicularis, Trichuris trichiura, Capillaria philippinensis and
Trichostrongylus spp.) in Hunter's Tropical Medicine and Emerging
Infectious Disease 9th Edition. China: Elsevier Saunders. Chapter
107, pp 798-803

Debalke, S, Worku, A, Jahur, N, Mekonnen, Z. 2013.Faktor Resiko


Kecacingan Antara Anak Sekolah Dasar, Soutwest Ethiopia : Ethiop
J Health Sci, 23(3): 237-244 : Ethiopia.

De Silvia N, Brooker S, Bethony J. Soil transmitted helminth infection : The


nature, causes and bunrden of the condition. Working paper no.3.
Disease Control Prioritiies Project. Bethesda, Maryland: Forganty
International Center, National Institute of Health; 2003

Garcia, et al. 2007. Diagnostic Medical Parasitology Fifth Edition.


Washington DC : ASM Press

Irianto, dan Koes, 2013, Mikrobiologi Medis (Medical Microbiology), pp.


71-3, Penerbit Alfabeta, Bandung

Kemenkes RI, 2010. Profil Kesehatan Indonesia 2009. Jakarta, Indonesia


Debette, S. 2011. Association of vascular Risk Factor with Cervical

35
Artert Dissection and Ishemic Stroke in Young Adults American Heart
Association , (http:// circ.ahajournals.org, diakses 12 Juni 2016)

Ni Nyoman, 2018, Identifikasi telur cacing soil Transmitted Helminth (STH)


pada anak sekolah dasar SDN 9 Baruga kota Kendari Sulawesi
Tenggara, Hlm:5-17

Palgunadi BU. Factor- factor yang memppengaruhi kejadian kecacingan


yang disebabkan oleh soil transmitted helminths di Indonesia.
Surabaya : FK Wijaya Kusuma Surabaya; 2008

Pracaya. Bertanam Sayur Organic. Edisi 2. Jakarta: Penebar swadaya;


2010.

Pullan RL, Smith JL, Jasrasaria R, Brooker SJ. Global Numer of infection
and disease burder of soil transmitted helminth infection in 2010.
Parasite Vector. 2014;7(37).

Safwan, dkk. (2016). Pengaruh Ekstrak Daun Kemangi (Ocimum sanctum


L.) Terhadap Motilitas Dan Konsentrasi Spermatozoa Mencit
Jantan (Mus musculus). Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 1(2), 173-181 .

Supriastuti. Infeksi soil-transmitted helminth: ascaris, trichuris dan cacing


tambang. Universa Medicina. 2006;25(2):8-94

Weller, et al. 2010. Intestinal Nematodes in Harrison’s Infectious Disease


First Edition. The McGraw-Hill Companies, Inc., Chapter 124, pp:
1139-1145

Widarti, W. (2018). Identifikasi Telur Nematoda Usus Pada Kol (Brassica


Oleraceae) Di Pasar Tradisional Kota Makassar. Jurnal Media
Analis Kesehatan, 1(1), 78–82.
https://doi.org/10.32382/mak.v1i1.226

Zainal, B., Aini, F., & Lestari, W. (2006). Aktivitas Antifungi Ekstrak Daun
Kemangi (Ocimum americanum L.) Terhadap Fungi Fusarium
oxysporum schlecht. Jurnal Biota Vol. 2 No. 1 Edisi Januari 2016.

36