Anda di halaman 1dari 4

ISSN 2665-0482

Komisi Aparatur Sipil Negara


Policy Brief
PENTINGNYA KODE ETIK DAN KODE PERILAKU
UNTUK MEMBANGUN PROFESIONALITAS ASN
VOLUME 1 | NOMOR 2 | DESEMBER 2018
Dewan Redaksi
Pembina:
Ketua Komisi Aparatur Sipil Negara Aparatur Sipil Negara (ASN) adalah profesi bagi pegawai yang bekerja
Penanggung jawab: di instansi pemerintah. Untuk melaksanakan tugasnya dengan profesional,
Wakil Ketua Komisi Aparatur Sipil Negara pegawai ASN tidak hanya memiliki kompetensi namun juga harus bersikap,
Ketua Dewan Redaksi: berperilaku, dan bertindak sesuai pedoman kode etik dan kode perilaku
Prof. Prijono Tjiptoherijanto ASN. Kode Etik dan Kode Perilaku menjadi self-control bagi pegawai ASN
Anggota Redaksi: untuk melaksanakan tugasnya secara profesional guna menjamin mutu
Waluyo, I Made Suwandi, Nuraida Mokhsen, profesi ASN.
Tasdik Kinanto, Abdul Hakim, Irwansyah, Sumardi Saat ini, pelanggaran terhadap kode etik dan kode perilaku di kalangan
Tim Penulis: pegawai ASN masih tinggi. Beberapa faktor penyebabnya adalah belum
Nuraida Mokhsen, Septiana Dwiputrianti, efektifnya penegakan kode etik dan kode perilaku ASN di instansi pemerintah;
Rifki Juniarto belum berperannya pimpinan sebagai role model; belum terbangunnya sistem
Design Grafis: whistle blower; dan belum terbangunnya sistem informasi pelanggaran.
Ria Christine & Fajrin F.

Kode Etik dan Kode Perilaku

K
ode Etik dan Kode Perilaku merupakan dua peraturan menghadapi suatu situasi. Sebagai contoh, kode etik ASN
yang berbeda, namun keduanya dipergunakan untuk mengatur bahwa semua pegawai ASN harus melaksanakan
mendorong terbentuknya perilaku tertentu dalam suatu tugas sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan, yang
organisasi. pelaksanaanya masih memerlukan penafsiran.
Kode etik menurut Business Dictionary adalah pedoman Sementara itu kode perilaku mengatur secara spesifik
tertulis yang dikeluarkan suatu organisasi untuk pegawai perilaku mana yang dapat diterima atau tidak dapat diterima,
dan manajemen dalam rangka menolong mereka berperilaku yang diwajibkan maupun yang dilarang. Aturan yang dimuat
sesuai dengan nilai-nilai dan standar etika organisasi. dalam kode perilaku sudah spesifik dan pelaksanaannya tidak
Prinsip-prinsip yang dimuat dalam kode etik luas dan tidak memerlukan banyak penafsiran. Misalnya, untuk memastikan
spesifik karena disusun dengan maksud untuk menyediakan suatu peraturan perundang-undangan dilaksanakan maka
pijakan bagi seseorang untuk membuat pertimbangan secara dalam kode perilaku sudah diatur apa yang wajib dilakukan
mandiri dan menentukan tindakan apa yang tepat dalam dan apa yang dilarang untuk dilakukan.

Mengapa Penegakan Kode Etik dan Kode Perilaku ASN Penting?


• ASN merupakan suatu profesi yang berperan penting jujur, bertanggung jawab, dan berintegritas tinggi,
dalam penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan cermat, disiplin, bersikap melayani dan melaksanakan
dan penyediaan pelayanan publik. Sebagai suatu tugasnya sesuai ketentuan peraturan perundang-
profesi, pegawai ASN dalam melaksanakan tugasnya undangan dan etika pemerintahan. Penerapan Kode Etik
harus profesional, dalam arti memiliki kompetensi dan Kode Perilaku ASN bertujuan untuk menjaga citra dan
yang dibutuhkan serta berpegang pada nilai dasar, martabat seorang ASN.
Kode Etik dan Kode Perilaku selaku aparatur negara, • Kode Etik dan Kode Perilaku juga berfungsi sebagai
sebagaimana diatur dalam UU No. 5 Tahun 2014 tentang standar untuk menilai apakah perilaku yang dijalankan
ASN. Profesionalitas pegawai ASN tercermin tidak hanya dapat dikatakan baik atau buruk. Kode Etik dan Kode
pada kompetensi yang dimiliki namun juga pada sikap Perilaku berperan dalam menegakkan self-control bagi
dan kepatuhan terhadap kode etik dan kode perilaku. pegawai ASN untuk dapat melaksanakan tugasnya secara
• Profesionalitas erat kaitannya dengan etika ASN dalam profesional guna menjamin mutu profesi ASN. Pegawai
bekerja. Kode Etik dan Kode Perilaku berisi pengaturan ASN yang profesional akan mendukung peningkatan
perilaku agar Pegawai ASN melaksanakan tugasnya dengan kinerja dan citra birokrasi pemerintah.
Gambar 1. Data Narapidana Berstatus PNS Aktif
12% Kasus Lainnya
5% Kasus Penipuan PNS yang terlibat dalam
Berdasarkan data, PNS yang terlibat penggelapan, pembunuhan,
Penipuan menempati posisi keempat KUHP dan lainnya.
dengan jumlah sebanyak 95 orang

8% Kasus Perlindungan anak 58% Kasus Korupsi


Berdasarkan data, PNS yang terlibat Berdasarkan data, PNS
Perlindungan anak menempati posisi yang terlibat Korupsi
ketiga dengan jumlah sebanyak 152 menempati posisi pertama
orang dengan jumlah sebanyak
1082 orang
17% Kasus Narkoba
Berdasarkan data, PNS yang terlibat
Narkoba menempati posisi kedua dengan
jumlah sebanyak 382 orang

Sumber: Diolah oleh Bidang Pengkajian dan Pengembangan Sistem KASN dari data Kemenkumham Tahun 2017,

Lemahnya Penegakan Kode Etik Menghambat Profesionalisme ASN

D
ata ASN yang dikenai sanksi moral karena melanggar Gambar 1 menunjukkan data narapidana berstatus PNS aktif.
kode etik dan kode perilaku sulit diperoleh. Komisi Berdasarkan data tersebut terdapat 1.879 PNS yang tersandung
Aparatur Sipil Negara (KASN) berusaha mengumpulkan kasus hukum, yang terdiri dari 1.082 orang (58%) terkena kasus
data terkait Pegawai Negeri Sipil (PNS) terkena kasus hukum. korupsi; 382 orang (17%) terjerat kasus narkoba; dan sisanya
Data yang dikumpulkan KASN dari Kementerian Hukum dan HAM 211 orang (12%) terkena kasus lain seperti perlindungan anak,
(Kemenkumham) menunjukkan bahwa pelanggaran kode etik dan penipuan, kekerasan dalam rumah tangga, dan kasus lainnya.
kode perilaku di kalangan pegawai ASN tergolong tinggi.

Gambar 2. Data Narapidana Berstatus PNS Aktif Berdasarkan Pengelompokan Usia

9% Usia 20 sampai 30 tahun 39% Usia 51 Tahun ke atas


Meski sangat jarang ditemui akan tetapi Berdasarkan data yang didapat sebagian
besar PNS yang melakukan tindak
beberapa kasus pelanggaran berkaitan kejahatan/berstatus narapidana berusia
dengan narkotika dan kekerasan. di atas 50 tahun. Hal ini mengindikasikan
kejahatan dilakukan ketika mereka sudah
memiliki jabatan atau karena culture PNS
masa lalu masih terbawa hingga mereka
22% Usia 31 sampai 40 tahun berusia senior.
Merupakan masa dimana PNS sudah menjadi
senior dalam bidang pekerjaan. Namun
masih ditemukan beberapa kasus berkaitan
30% Usia 41 sampai 50 Tahun
Usia 40 tahun merupakan usia dimana rata-
dengan narapidana dengan kasus korupsi
rata PNS sudah memiliki jabatan, meski
dan narkotika.
terdapat beberapa kasus berkaitan dengan
penipuan, kekerasan rumah tangga dll.

Sumber: Diolah oleh Bidang Pengkajian dan Pengembangan Sistem, KASN dari data Kemenkumham Tahun 2017.

Gambar 2 menunjukkan data narapidana berstatus PNS aktif dalam pekerjaan.


berdasarkan pengelompokan usia. Pelanggaran tertinggi berada Terakhir kelompok usia 20 sampai dengan 30 Tahun sebanyak
pada kelompok usia 51 tahun ke atas, sebanyak 733 orang (32%). 169 orang (9%). Pada kelompok usia 30 tahun ke bawah sebagian
Pelanggaran pada kelompok usia ini disebabkan PNS memiliki besar didominasi oleh kasus narkoba. Hal ini perlu mendapat
kewenangan dan jabatan strategis untuk mengelola sumber daya perhatian pemerintah dan diperlukan strategi khusus untuk
yang ada dalam birokrasi, misalnya mengelola ASN, keuangan, mengatasinya. Dikhawatirkan kasus narkoba akan berdampak
aset, barang milik negara/daerah. buruk pada generasi ASN di masa mendatang.
Selanjutnya kelompok usia 41 s.d. 50 tahun sebanyak 564 orang Gambar 3 menunjukkan pelanggaran terhadap asas netralitas
(30%). Pada kelompok ini rata-rata PNS sudah bekerja di atas dikalangan pegawai ASN masih tinggi, terutama menjelang
10 tahun dan sudah memiliki jabatan dan kewenangan di dalam penyelenggaraan Pilkada. Data menujukkan, tren pelanggaran
organisasinya. Hal ini mengindikasikan bahwa kasus korupsi ada netralitas yang dilakukan oleh ASN semakin meningkat dari tahun
kaitannya dengan posisi PNS dalam jabatan. 2016 hingga tahun 2018. Padahal, netralitas merupakan salah
Terakhir kelompok usia dibawah 31 s.d. 40 tahun sebanyak 413 satu persyaratan bagi ASN untuk bersikap profesional.
orang (22%), Merupakan kelompok usia PNS sudah menjadi senior

Gambar 3. Jumlah Pengaduan Terkait Pelanggaran Netralitas ASN

Daerah yang melaksanakan Pilkada Jumlah Pelanggaran Netralitas ASN


491
269
171
55 101
29 52
0
2015 2016 2017 2018
Keterangan: tahun 2016 tidak ada Pilkada serentak.
Diolah oleh Bidang Pengkajian dan Pengembangan Sistem dari Bidang Pengaduan dan Penyelidikan KASN, 2018.

2
Mengapa Pelanggaran Kode Etik Masih Sering Terjadi?

B erdasarkan hasil monitoring dan evaluasi KASN, komitmen


pimpinan Instansi terhadap penegakan kode etik kode
perilaku dianggap masih kurang. Hal ini terlihat dari beberapa
Gambar 4. Peraturan Kode Etik Pegawai ASN di Instansi Pemerintah
Lingkup Lingkup
Provinsi
Lingkup Kabupaten/
Kementrian Kota
aspek sebagai berikut: 3,8%
● Masih banyak instansi belum memiliki peraturan kode etik. 16%
Peraturan Pemerintah 42 Tahun 2004 tentang Pembinaan
50% 50%
Jiwa Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil, pasal 13 ayat 2
menjelaskan bahwa peraturan kode etik dibuat berdasarkan
karakteristik masing-masing instansi dan organisasi profesi. 96,2% 84%
Saat ini masih banyak instansi pemerintah yang belum
melaksanakan amanat tersebut. Belum memiliki Peraturan Memiliki Peraturan Memiliki Peraturan
Gambar 3 menunjukan bahwa 3,8% instansi di tingkat Sudah memiliki Peraturan Belum Memiliki Belum Memiliki
Peraturan Peraturan
Kementerian dan Lembaga Pemerintah Nonkementerian Sumber: Bidang Pengkajian dan Pengembangan; Bidang Monitoring dan Evaluasi
(LPNK) belum memiliki peraturan mengenai kode etik dan KASN, 2018
kode perilaku. Di tingkat Pemerintah Provini hanya 50%
Gambar 5. Internalisasi Peraturan Kode Etik dan Kode Perilaku ASN
yang memiliki peraturan kode etik. Di tingkat Pemerintah
Lingkup Lingkup
Kabupaten/Kota lebih sedikit lagi, hanya 16% yang memilki Kementrian Provinsi
Lingkup Kabupaten/
Kota
peraturan kode etik
● Kurangnya sosialisasi dan internalisasi penerapan kode etik. 8% 12%
32%
Masih kurangnya pemahaman pegawai pada kode etik
48% 50%
yang berlaku di instansinya disebabkan kurangnya sosialisasi 44% 38% 44%
dan internalisasi kode etik. Ketidakpahaman pegawai 24%
menyebabkan banyaknya pelanggaran kode etik. Sosialisasi Belum Melakukan
Belum dilakukan Belum Melakukan
dan internalisasi kode etik pegawai ASN pada umumnya hanya Sosialisasi Sosialisasi Sosialisasi
Sudah dilakukan Sudah Melakukan Sudah Melakukan
dilakukan kepada para calon pegawai negeri sipil (CPNS) pada Internalisasi Internalisasi Internalisasi
Sudah dilakukan Sudah Melakukan Sudah Melakukan
saat melakukan pelatihan dasar (latsar) sebelum diangkat Sosialisasi Sosialisasi Sosialisasi
menjadi PNS. Masih kurangnya pemahaman pegawai pada Sumber: Bidang Pengkajian dan Pengembangan; Bidang Monitoring dan
kode etik yang berlaku di instansinya disebabkan kurangnya Evaluasi KASN, 2018
sosialisasi dan internalisasi kode etik.

F aktor penyebab banyaknya pelanggaran etika di instansi


pemerintah adalah:
jelas untuk melindungi ASN yang menjadi whistle blower.
Perlindungan kepada whistle blower akan membuat seorang
ASN berani untuk menyampaikan tindakan pelanggaran etik
1. Belum efektifnya penegakan penerapan kode etik ASN.
Ketidaktegasan PPK dalam menjatuhkan hukuman disiplin yang dilakukan oleh ASN di lingkungan kerja mereka
menunjukkan lemahnya komitmen PPK dalam penerapan 4. Belum terbangunnya sistem informasi pelanggaran kode
kode etik dan kode perilaku ASN. Data dari beberapa etik untuk mempermudah penelusuran rekam jejak.
pejabat di instansi pemerintah menunjukkan PPK tidak Permasalahan yang cukup berat dalam penerapan kode
tegas menjatuhkan sanksi kepada ASN. Ada beberapa alasan etik pegawai ASN ialah belum terbangunnya sistem informasi
mengapa PPK terkesan lambat menjatuhkan sanksi: terkait pegawai ASN yang tersandung kasus hukum.
a. Rasa iba atau tidak tega; Seringkali PPK tidak mengetahui status ASN di instansinya
b. Perasaan senasib sebagai seorang abdi negara; yang sedang dalam proses peradilan. Instansi juga tidak
c. Rasa takut dalam memecat seseorang karena selalu mendokumentasikan kasus-kasus pelanggaran hukum
memikirkan nasib keluarga ASN yang dipecat; oleh ASN. Akibatnya, ada ASN yang sudah selesai menjalani
d. Memiliki hubungan kekerabatan atau pertemanan hukuman dan ingin menghilangkan rekam jejaknya dengan
dengan PPK. mengajukan permohonan mutasi ke instansi atau daerah
2. Pimpinan belum berperan sebagai Role Model dalam lain.
penerapan kode etik ASN. Selain itu, ada kasus ASN yang minta pensiun dipercepat
Pemahaman dan pengamalan terhadap kode etik karena tengah menjalani proses peradilan. Kecenderungan
akan efektif jika PPK dan para pejabat pimpinan tinggi seperti ini sering menimbulkan masalah yang di kemudian
berkomitmen dan sekaligus menjadi role model dengan hari tidak mudah diselesaikan. Instansi perlu didorong untuk
memberi contoh penerapan kode etik kepada bawahannya. membangun sistem informasi terkait pelanggaran yang
dilakukan oleh pegawainya.
3. Belum terbangunnya sistem whistle blower. Selain itu, diperlukan pula sebuah sistem yang terintegrasi
Belum adanya perlindungan bagi pelapor (whistle blower) antar lembaga untuk memudahkan instansi mendapatkan
menjadi satu persoalan dalam penerapan kode etik pegawai informasi tentang pelanggaran hukum yang melibatkan ASN.
ASN. Seorang pegawai yang melaporkan tindak indisipliner Agar rekam jejak pelanggaran etik atau disiplin yang pernah
ASN sering kali diasingkan. Menurut responden, hal tersebut dilakukan ASN mudah diketahui oleh para pimpinan instansi.
membuat mereka takut melapor. Dibutuhkan aturan yang

Kebijakan dan Peran KASN dalam Penegakan Kode Etik

P
enerapan kode etik dan kode perilaku pegawai ASN telah KASN mempunyai kewenangan memonitoring, mengevaluasi
diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang serta mengawasi penerapan kode etik dan kode perilaku ASN.
Aparatur Sipil Negara; Peraturan Pemerintah Nomor 53 Namun pengawasan KASN terhadap penerapan kode etik dan
Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil; Peraturan kode perilaku ASN belum optimal karena KASN hanya berada di
Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004 tentang Jiwa Korps dan Kode Ibu kota sedangkan PNS tersebar di seluruh wilayah Indonesia.
Etik Pegawai Negeri Sipil. Selain itu, sebagai lembaga yang relatif baru KASN mempunyai
keterbatasan sumberdaya manusia dalam melakukan
pengawasan.

3
Strategi Penegakan Kode Etik dan Kode Perilaku ASN

Untuk meningkatkan penerapan kode etik dan kode perilaku ASN, diusulkan strategi sebagai berikut:
Gambar 6. Strategi dalam Penerapan Kode Etik dan Kode Perilaku

4. Reward dan Punishment 1. Peraturan Kode Etik dan


Melihat data pelanggaran dan Kode Perilaku ASN
melakukan evaluasi secara berkala Peraturan Mendorong pembentukan aturan etik
mengenai penyebab pelanggaran kode instasi berdasarkan PP 42 tahun 2004
etik dan kode perilaku ASN Pasal 13 ayat 1 dan 2

2. Internalisasi Peraturan
Reward and KASN
Punishment Internalisasi
Majelis Etik

Sosialisasi

3. Evaluasi Workshop
Melihat data pelanggaran dan Evaluasi
melakukan evaluasi secara berkala
mengenai penyebab pelanggaran Role Model
kode etik dan kode perilaku ASN

Sumber: : Bidang Pengkajian dan Pengembangan Sistem, KASN 2018


• Penyempurnaan dan sinkronisasi peraturan »»
Pembentukan sistem informasi terkait
perundang-undangan terkait kode etik dan kode pelanggaran kode etik dan kode perilaku sebagai
perilaku ASN. bagian dari sistem informasi kepegawaian;
• Peningkatan sistem pengawasan intenal instansi »» Pembangunan sistem whistle blower, termasuk
melalui: jaminan perlindungan terhadap pegawai yang
»» Penyusunan peraturan internal instansi tentang melaporkan pelanggaran.
kode etik dan kode perilaku ASN; • Optimalisasi sistem monitoring dan evaluasi
»» Peningkatan internalisasi pegawai terhadap penerapan sistem merit oleh KASN.
aturan kode etik dan kode perilaku; • Peningkatan kerjasama dengan lembaga terkait,
»» Peranan langsung pimpinan dalam penerapan khususnya dalam melakukan pengawasan terhadap
kode etik dan kode perilaku ASN; ASN di daerah.
»» Peningkatan peran dari Aparat Pengawasan
Internal Pemerintah (APIP);

Penutup
Pelanggaran etika yang masih sering terjadi menggambarkan oleh kurangnya pemahaman pegawai ASN terhadap aturan
citra ASN yang masih harus diperbaiki. Penerapan kode yang ada. Sementara itu penegakan kode etik dan kode
etik dan kode perilaku ASN perlu ditingkatkan dalam upaya perilaku merupakan prasyarat untuk membentuk ASN yang
memperbaiki citra pegawai ASN. Banyak pelanggaran profesional sesuai tujuan UU ASN.
terhadap kode etik dan kode perilaku terutama disebabkan

Rekomendasi
● Mewajibkan instansi menetapkan kode etik dan kepada pegawai yang menjadi whistle blower;
kode perilaku internal instansi, sesuai ketentuan ● Mendorong instansi membangun sistem rekam
dalam PP 42 tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa jejak pelanggaran yang dilakukan ASN. Agar
Korps dan Kode Etik Pegawai Negeri Sipil; ada dasar yang bisa dirujuk dalam pemberian
● Mendorong instansi untuk melaksanakan penghargaan dan promosi jabatan;
sosialisasi secara berkala, menjadikan ● Mendorong terbentuknya kerjasama antar
pimpinan unit kerja menjadi role model, instansi dan lembaga penegak hukum untuk
meningkatkan peran APIP dalam pembinaan dan memudahkan data sharing;
menindaklanjuti pelanggaran secara konsisten ● Mengusulkan kepada Kementerian
sesuai ketentuan; Pendayagunaan Aparatur Negara-Reformasi
● Menyarankan instansi untuk membangun sistem Birokrasi untuk mengevaluasi peraturan yang ada
whistle blowing dan memberi perlindungan yang terkait dengan kode etik dan kode perilaku.

Daftar Pustaka
Englin Siso, Joorie Ruru, Verry Londa, 2016, Pengaruh Etika Lembaran Negara RI Tahun 2010, No 74 . Sekretariat
Jabatan Terhadap Kinerja Aparatur Sipil Negara Di Negara. Jakarta.
Sekretariat Kota Manado, Jurnal Administrasi Publik, 9(2): Pemerintah Indonesia. 2004. Peraturan Pemerintah Nomor 42
1-10. Tahun 2004 tentang Pembinaan Jiwa Korps dan Kode Etik
Lana Sari, Sampurno, Djoko Wahyono. 2017, Pengaruh Pegawai Negeri Sipil. Lembaran Negara RI Tahun 2004, No.
Kepemimpinan dan Budaya Organisasi Terhadap Kepuasan 142 Sekretariat Negara. Jakarta.
Kerja Karyawan di Yogyakarta, Jurmal Manajemen dan Sujamto, 1987. Norma dan Etika Pengawasan. Sinar Grafika.
Pelayanan Farmasi: hal 35 Jakarta
Pemerintah Indonesia. 2014. Undang – Undang Nomor 5 Tahun Wahyudi Kumorotomo. 2015. Etika Administrasi Negara.
2014 tentang Aparatur Sipil Negara. Lembaran Negara RI Rajawali Pers. Jakarta
Tahun 2014, No. 6. Sekretariat Negara. Jakarta. Widjaja, A.W. 2003. Etika Administrasi Negara. Bumi Aksara.
Pemerintah Indonesia. 2010. Peraturan Pemerintah Nomor Jakarta
53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil.

Sekretariat: Bidang Pengkajian dan Pengembangan Sistem Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN)
Alamat: Jl. Letjen M.T. Haryono No.Kav. 52-53, RT.3/RW.4, Cikoko, Pancoran, Kota Jakarta Selatan
Daerah Khusus Ibukota Jakarta 13630 Telpon: 021 - 7972098

Anda mungkin juga menyukai