Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEBIDANAN PADA PRA NIKAH DENGAN OBESITAS

NAMA : SHINTA ANGGREANI

NIM : P07224420039

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES KALIMANTAN TIMUR
JURUSAN KEBIDANAN PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN PROFESI
2021
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG......................................................................... 1
B. TUJUAN
1. Tujuan Umum................................................................................. 3
2. Tujuan Khusus................................................................................ 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


A. KONSEP TEORI
1. Pengertian....................................................................................... 4
2. Fisiologi.......................................................................................... 6
3. Patofisiologi.................................................................................... 6
4. Komplikasi...................................................................................... 8
5. Pemeriksaan Penunjang.................................................................. 9
6. Pelayanan yang dibutuhkan............................................................ 11
7. Penatalaksanaan.............................................................................. 13
B. KONSEP MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN 7 LANGKAH
VARNEY
1. Langkah I (Pengkajian)................................................................... 15
2. Langkah II (Interpretasi data)......................................................... 22
3. Langkah III (Identifikasi diagnose dan masalah potensial)............ 23
4. Langkah IV (Identifikasi Tindakan segera dan atau kolaborasi).... 23
5. Langkah V (Rencana Menyeluruh asuhan kebidanan)................... 23
6. Langkah VI (Pelaksanaan).............................................................. 24
7. Langkah VII (Evaluasi).................................................................. 24

DAFTAR PUSTAKA...................................................................................... 25

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Calon pengantin merupakan pasangan laki-laki dan perempuan yang
akan segera hidup bersama dalam mahligai rumah tangga dan membentuk
keluarga dalam ikatan pernikahan (Kemenag, 2009). Masalah pra nikah dapat
dikaitkan dengan masa prakonsepsi, karena setelah menikah akan segera
menjalani proses konsepsi. Kualitas seorang generasi penerus akan ditentukan
oleh kondisi sejak sebelum hamil dan selama kehamilan. Kesehatan
prakonsepsi menjadi sangat penting untuk diperhatikan termasuk status
gizinya, terutama dalam upaya mempersiapkan kehamilan karena akan
berkaitan erat dengan outcome kehamilan (Paratmanitya & Hadi, 2012).
Kehamilan merupakan impian bagi pasangan suami istri dengan
memiliki seorang anak, salah satu tujuan dari pernikahan telah terpenuhi.
Bagi beberapa wanita, hamil adalah hal yang sangat mudah didapatkan.
Namun, ada beberapa wanita yang harus melakukan banyak usaha untuk
dapat hamil. Pengetahuan gizi sangat diperlukan bagi pasangan suami istri
dalam mempersiapkan kehamilan terutama bagi pasangan yang akan menikah
(Nuryani, 2012).
Kehamilan yang sehat membutuhkan persiapan fisik dan mental, oleh
karena itu perencanaan kehamilan harus dilakukan sebelum masa kehamilan.
Proses kehamilan yang direncanakan dengan baik akan berdampak positif
pada kondisi janin dan adaptasi fisik, serta psikologis ibu pada kehamilan
menjadi lebih baik. Pengaturan gizi yang baik juga sangat berperan dalam
proses pembentukan sperma dan sel telur yang sehat. Status gizi yang baik
dapat mencegah masalah gizi pada saat kehamilan seperti anemia, KEK,
pencegahan infeksi dan komplikasi kehamilan ( Oktaria dan Juli , 2016).
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Ahsan, et al.(2010) yang
memiliki berat badan berlebih (overwieght) mempengaruhi kejadian

1
keterlambatan konsepsi. Berat badan obesitas di tandai dengan IMT > 25
kg/m2. Hasil analisis bivariat dengan odds ratio (OR) terhadap obesitas
didapatkan OR sebesar 2.695 sehingga obesitas merupakan faktor risiko
terhadap kejadian keterlambatan konsepsi (Infertilitas) pasangan suami istri.
Overweight dan obesitas merupakan risiko terbesar kelima yang dapat
menyebabkan kematian global. Suatu penelitian oleh Anjel di Amerika
Serikat pada wanita usia subur menunjukkan bahwa 24,5% wanita usia 20-44
tahun memiliki status gizi overweight dan 23% di antaranya obesitas
( Dumais dkk,2016).
Berdasarkan Data World Health Organization (WHO) Tahun 2018
menunjukkan lebih dari 1,9 miliar orang dewasa berusia 18 tahun dan lebih
tua mengalami kelebihan berat badan. Dari jumlah ini, lebih dari 650 juta
orang dewasa mengalami obesitas. Pada Tahun 2016 sebanyak 39% orang
dewasa berusia 18 tahun ke atas (39% pria dan 40% wanita) mengalami
kelebihan berat badan. Secara keseluruhan, sekitar 13% populasi dewasa
dunia (11% pria dan 15% wanita) mengalami obesitas pada Tahun 2016.
Prevalensi obesitas di seluruh dunia meningkat hampir tiga kali lipat antara
Tahun 1975 sampai 2016.
Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Tahun 2018 oleh
Kementerian Kesehatan RI, menunjukkan bahwa prevalensi overweight dan
obesitas di Indonesia untuk usia dewasa (>18 tahun) berdasarkan pengukuran
Indeks Masa Tubuh (IMT) ≥25,0 s/d <27,0 termasuk dalam kategori
overweight dan IMT ≥ 27 termasuk dalam kategori obesitas cenderung
mengalami peningkatan, yaitu tahun 2007 kejadian overweight sebesar 8,6 %
dan obesitas sebesar 10,5 % pada tahun 2013 kejadian overweight sebesar
11,5% dan obesitas sebesar 11,5 % dan obesitas sebesar 14,8% serta
meningkat pada tahun 2018 kejadian overweight sebesar 13,6 % dan obesitas
sebesar 21,8%. Perempuan overweight dan obesitas memiliki prevalensi lebih
tinggi sebesar 14,8% dan 24% dibandingkan laki-laki overweight dan
obesitas sebesar 11,9% dan 11,5%.

2
B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Untuk menerapkan asuhan kebidanan pada pranikah dengan obesitas
di Rumah Sakit dr. Kanujoso Djatiwibowo Balikpapan.
2. Tujuan Khusus
a. Mampu melakukan pengumpulan data dasar secara subjektif dan
objektif pada kasus pra nikah dengan Obesitas.
b. Menginterpretasi data klien meliputi diagnosa, masalah, dan
kebutuhan kasus pra nikah dengan Obesitas.
c. Merumuskan diagnosa potensial dan antisipasi yang harus dilakukan
bidan dari kasus pra nikah dengan Obesitas.
d. Mengidentifikasi rencana tindakan segera untuk pra nikah dengan
Obesitas.
e. Menyusun rencana tindakan untuk kasus pra nikah dengan Obesitas.
f. Melaksanakan tindakan terhadap kebidanan terkait dengan kasus pra
nikah dengan Obesitas.
g. Melakukan evaluasi keefektifan asuhan yang diberikan dan
memperbaiki tindakan yang dipandang perlu.
h. Mengetahui kesenjangan antara teori dan praktek pada asuhan
kebidanan pada pra nikah dengan Obesitas.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. KONSEP TEORI
1. Pengertian
Kata obesitas berasal dari bahasa latin: obesus, obedere yang
artinya gemuk atau kegemukan. Obesitas adalah penumpukan lemak
yang berlebihan atau abnormal yang dapat menggangu kesehatan
(WHO,2017). Penyebab utama terjadinya obesitas yaitu
ketidakseimbangan antara asupan energi dengan pengeluaran energi
(Betty, 2004). Obesitas adalah kondisi yang ditandai gangguan
keseimbangan energi tubuh yaitu terjadi keseimbangan energi positif
yang akhirnya disimpan dalam bentuk lemak di jaringan tubuh (Nelm, et,
al 2011). Sehingga obesitas adalah terjadinya penumpukan lemak dalam
tubuh yang abnormal dalam kurun waktu yang lama dan dikatakan
obesitas bila nilai Z-scorenya >2SD berdasarkan IMT/U umur 5-18 tahun
(Kemenkes, 2010).
Ditinjau dari segi klinis, obesitas adalah kelebihan lemak dalam
tubuh, yang umumnya ditimbun dalam jaringan subkutan (bawah kulit),
sekitar organ tubuh dan kadang terjadi perluasan kedalam jaringan
organnya. Obesitas merupakan salah satu bentuk salah gizi yang
banyak dijumpai di antara golongan masyarakat dengan sosial ekonomi
tinggi. Menurut World Health Organization (WHO) 2015, obesitas
didefenisikan sebagai kumpulan lemak berlebih yang dapat
mengganggu kesehatan dengan Body Mass Index (BMI) ≥ 30 kg/m .

Pengukuran Obesitas
Banyak metode yang dapat dilakukan untuk menentukan kriteria
overweight dan obesitas pada seseorang diantaranya adalah pengukuran

4
Indeks Massa Tubuh (IMT), tebal lemak bawah kulit, dan dengan
menghitung rasio lingkar pinggang terhadap lingkar panggul. Dalam
hal ini, untuk menentukan overweight dan obesitas dapat diketahui
dengan menghitung indeks massa tubuh yang merupakan indikator
status gizi. Nilai Indeks Massa Tubuh (IMT) dihitung dengan
menggunakan rumus :
Berat Badan (kg)
Indeks Massa Tubuh = ------------------------
2
( IMT ) Tinggi Badan (m)

WHO telah mendefenisikan sejumlah klasifikasi/kategori IMT


yang dapat mencerminkan risiko penyakit tertentu:
Tabel 2.1 Klasifikasi IMT Menurut WHO Tahun 2000
Kategori IMT
(Kg/m2)
Kurus (Underweight) < 18,5
Normal (ideal) 18,5-24,9
Berat Badan Lebih (Overweight) 25-29,9
Obesitas Tingkat I (Sedang) 30-34,9
Obesitas Tingkat II (Berbahaya) 35-39,9
Obesitas Tingkat III (Sangat berbahaya) ≤ 40,0
WHO, 2000

Sedangkan klasifikasi obesitas berdasarkan IMT untuk orang Asia


menurut WHO sebagai berikut:
Tabel 2.2 Klasifikasi Berat Badan berdasarkan IMT untuk orang Asia
Kategori IMT (Kg/m2)
Kurus (Underweight) < 18,5
Normal (ideal) 18,5-22,9
Berat Badan Lebih
Resiko Obesitas (Normal) 23,0-24,9
Obesitas Tingkat I (Baik) 25,0-29,9
Obesitas Tingkat II (Buruk) 30,0
WHO, 2000

5
WHO (2014) mengemukakan batasan terhadap tingkat
kegemukan dengan menggunakan IMT, dimana berat badan dikatakan
normal bila IMT 20,1-25 untuk laki-laki dan 18,7-22,8 untuk
perempuan. Bila IMT di atas 25 maka digolongkan sebagai overweight
dan bila di atas 30 dinyatakan sebagai obese. Seseorang dikatakan kurus
atau underweight bila IMT nya sekitar 18,5-20. Sedangkan bila IMT
nya 17,0-18,5 dinyatakan kurus.
Dalam menentukan status gizi orang dewasa IMT ternyata sangat
sensitif untuk menentukan berat badan kurang, normal, dan lebih, baik
pada laki- laki maupun perempuan.

2. Fisiologi
Zat gizi makro dan mikro menghasilkan energi yang diperlukan
oleh tubuh. Asupan zat gizi makro yaitu karbohidrat, protein dan lemak
bila di konsumsi berlebihan dapat menyebabkan gangguan kesehatan.
Asupan lemak lebih banyak menghasilkan energi dibandingkan dengan
karbohidrat atau protein. Setelah makan, lemak dikirim kejaringan
adiposa untuk disimpan sampai dibutuhkan kembali sebagai energi. Oleh
karena itu asupan lemak berlebih akan lebih mudah menambah berat
badan. Kelebihan asupan protein juga dapat diubah menjadi lemak tubuh.
Asupan protein yang melebihi kebutuhan tubuh, maka asam amino akan
melepas ikatan nitrogennya dan diubah melalui serangkaian reaksi
menjadi trigiserida. Kelebihan karbohidrat akan disimpan dalam bentuk
glikogen dan lemak. Glikogen akan disimpan didalam hati dan otot.
Kemudian lemak akan di simpan disekitar perut dan dibawah kulit
(Kharismawati, 2010).

3. Patofisiologi
Obesitas terjadi karena adanya kelebihan energi yang disimpan
dalam bentuk jaringan lemak. Gangguan keseimbangan energi ini dapat
disebabkan oleh faktor eksogen (obesitas primer) sebagai akibat

6
nutrisional (90%) dan faktor endogen (obesitas sekunder) akibat adanya
kelainan hormonal, sindrom atau defek genetik (meliputi 10%).
Pengaturan keseimbangan energi diperankan oleh hipotalamus melalui 3
proses fisiologis, yaitu: pengendalian rasa lapar dan kenyang,
mempengaruhi laju pengeluaran energi, dan regulasi sekresi hormon.
Proses dalam pengaturan penyimpanan energi ini terjadi melalui
sinyal-sinyal eferen (yang berpusat di hipotalamus) setelah mendapatkan
sinyal aferen dari perifer (jaringan adipose, usus dan jaringan otot).
Sinyal-sinyal tersebut bersifat anabolik (meningkatkan rasa lapar serta
menurunkan pengeluaran energi) dan dapat pula bersifat katabolik
(anoreksia, meningkatkan pengeluaran energi) dan dibagi menjadi 2
kategori, yaitu sinyal pendek dan sinyal panjang. Sinyal pendek
mempengaruhi porsi makan dan waktu makan, serta berhubungan dengan
faktor distensi lambung dan peptida gastrointestinal yang diperankan
oleh kolesistokinin (CCK) sebagai stimulator dalam peningkatan rasa
lapar.
Sinyal panjang diperankan oleh fat-derived hormon leptin dan
insulin yang mengatur penyimpanan dan keseimbangan energi. Apabila
asupan energi melebihi dari yang dibutuhkan, maka jaringan adiposa
meningkat disertai dengan peningkatan kadar leptin dalam peredaran
darah. Leptin kemudian merangsang anorexigenic center di hipotalamus
agar menurunkan produksi Neuro Peptide Y (NPY), sehingga terjadi
penurunan nafsu makan. Demikian pula sebaliknya bila kebutuhan energi
lebih besar dari asupan energi, maka jaringan adiposa berkurang dan
terjadi rangsangan pada orexigenic center di hipotalamus yang
menyebabkan peningkatan nafsu makan. Pada sebagian besar penderita
obesitas terjadi resistensi leptin, sehingga tingginya kadar leptin tidak
menyebabkan penurunan nafsu makan ( Cahyaningrum, 2015).
Pengontrolan nafsu makan dan tingkat kekenyangan seseorang
diatur oleh mekanisme neural dan humoral (neurohumoral) yang
dipengaruhi oleh genetik, nutrisi, lingkungan, dan sinyal psikologis.

7
Mekanisme ini dirangsang oleh respon metabolic yang berpusat pada
hipotalamus (Mauliza,2018).

4. Komplikasi
Dampak yang ditimbulkan oleh obesitas adalah :
a. Tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, kadar lipid dalam darah yang
abnormal dan resistensi insulin.
b. Sesak napas yang membuat olahraga atau aktifitas fisik lebih sulit
dan dapat memperburuk gejala dan menyebabkan terjadinya asma.
c. Gangguan hati dan penyakit kandung empedu.
Komplikasi obesitas adalah :
a. Kapasitas otak, semakin besar tubuh sesorang yang mengalami
obesitas maka akan semakin berkurang pula jaringan otaknya.
b. Saluran napas yakni gangguan fungsi saluran napas Obstructive
Sleep Apnea Sindrome(OSAS). Gejalanya mulai dari mengorok
sampai mengompol. Obstruksi saluran napas intermiten dapat
menyebabkan tidur gelisah.
c. Kulit lecet dan pelipatan.
d. Jantung.

8
Obesitas cenderung mengakibatkan hipertensi (tekanan darah
tinggi) pada masa pubertas.
e. Ginjal. Anak yang mengalami obesitas memiliki resiko terkena
diabetes dengan komplikasi sakit ginjal di kemudian hari.
(Agristika,2015).

5. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang untuk obesitas mencakup pemeriksaan
dasar (profil lipid dan fungsi hepar) dan pemeriksaan klinis yang sesuai
dengan indikasi.
a. Profil Lipid
Hasil pemeriksaan profil lipid yang mencakup kadar kolesterol
puasa, trigliserida, high-density lipoprotein cholesterol (HDL-C)
pada pasien obesitas dapat normal atau termasuk dislipidemia tipikal
terkait sindrom kardiometabolik yang ditandai dengan berkurangnya
HDL-C dan meningkatnya trigliserida puasa. Peningkatan low-
density lipoprotein cholesterol (LDL-C) dan kadar kolesterol total
yang normal atau sedikit meningkat juga tidak jarang ditemui pada
obesitas.
b. Fungsi Hepar
Fungsi hepar dapat ditemukan normal pada sebagian pasien
obesitas. Namun, adanya peningkatan kadar transaminase dapat
mengindikasikan kondisi steatohepatitis non alkoholik atau
infiltrasi fatty liver.
c. Fungsi Tiroid
Pemeriksaan fungsi tiroid digunakan untuk menyingkirkan
kemungkinan hipotiroid primer yang ditandai dengan peningkatan
serum tirotropin (Thyroid-Stimulating Hormone/TSH), kadar
tiroksin, dan/atau triiodothyronine normal atau berkurang.

9
d. Fungsi Ginjal
Pemeriksaan fungsi ginjal berupa ureum, kreatinin dan asam
urat.
e. Pemeriksaan Gula Darah dan Kadar Insulin
Setiap pasien dengan obesitas harus diskrining untuk diabetes.
Pemeriksaan kadar glukosa darah dan HbA1c merupakan skrining
rutin pada pasien obesitas. Peningkatan serum insulin dan C-
peptide  juga dapat ditemukan pada pasien obesitas tetapi jarang
digunakan untuk pemeriksaan skrining.
f. Pemeriksaan Pendukung Lain
Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan untuk evaluasi sistem
organ terkait komorbiditas.
 Sistem respirasi: pencitraan adenoid (pada anak yang
obesitas), sleep study seperti polisomnografi (untuk
mendeteksi apnea hypopnea index).
 Sistem gastrohepatologi: USG untuk menilai
kolelitiasis/kolesistitis, steatohepatitis non alkoholik, biopsi
hati (jarang dilakukan, kecuali ada temuan khusus pada
pencitraan)
 Sistem endokrinologi: USG ovarium untuk menilai sindrom
polikistik ovarium,   pemeriksaan hormon seks steroid
(testosteron, estradiol, dehydroepiandrosterone
sulfate/DHEAS, androstenedion), pemeriksaan terkait
peningkatan adrenocorticotropic hormone/ACTH, kortisol
bebas urin 24 jam, serta kadar kortisol plasma setelah tes
supresi deksametason dosis tinggi, kadar ACTH plasma, CT-
scan/MRI kepala (apabila ada gangguan kadar hormon yang
mengindikasikan kelainan pada pituitary)
 Sistem saraf: funduskopi (untuk skrining pada obesitas remaja
yang mengalami diplopia atau gangguan penglihatan lain)

10
g. Pencitraan pada obesitas dapat melalui modalitas seperti Dual-
energy radiographic absorptiometry (DEXA), magnetic resonance
imaging (MRI) dan computed tomography (CT) untuk penghitungan
lemak viseral.
DEXA dapat diindikasikan untuk mengukur lemak dan massa
tubuh regional maupun  seluruh tubuh pada pasien dengan
overweight/obese dan/atau dengan faktor komorbid lain yang dapat
mempengaruhi bone mass density.
DEXA dapat mengukur jumlah semua elemen lemak jaringan
lunak, namun tidak dapat membedakan jaringan adiposa, sehingga
tidak dapat digunakan untuk membandingkan jumlah lemak viseral
(visceral adipose tissue/VAT) dan lemak subkutan (subcutaneous
adipose tissue/SAT).
CT-scan dapat membedakan jaringan adiposa dan non-adiposa,
akan tetapi memiliki dampak paparan radiasi yang lebih besar. MRI
juga dapat digunakan dalam menilai jaringan adiposa, namun
sensitivitas yang rendah serta cenderung membutuhkan waktu lama
untuk pemeriksaan dan analisisnya membuat penggunaan modalitas
ini menjadi lebih terbatas (IDAI,2014).

6. Pelayanan yang dibutuhkan


a. Anamnesis
Anamnesis lengkap dan menyeluruh sangat dibutuhkan dalam
diagnosis obesitas, yaitu mencakup pola makan, tingkat aktivitas,
faktor risiko terkait, hingga tingkat komorbiditas.
Anamnesis yang perlu ditanyakan pada pasien obesitas dapat
berfokus pada pola hidup sehari-hari. Pola makan seperti binge
eating, purging disorder, kurangnya rasa kenyang, night-eating
syndrome dan kebiasaan makan abnormal lainnya perlu dideteksi.
Pasien dengan obesitas juga biasanya memiliki aktivitas fisik yang
rendah. Tanyakan pada pasien jenis olahraga apa yang pasien

11
lakukan dan apakah dilakukan rutin atau tidak. Pola hidup santai
(sedentary lifestyle) juga dapat menjadi salah satu faktor risiko pada
obesitas.
Bidan juga perlu menyaring penyebab dasar yang dapat
menyebabkan obesitas. Riwayat penyakit seperti berat badan saat
anak-anak, upaya penurunan berat badan sebelumnya beserta
hasilnya, gangguan tidur, konsumsi obat-obatan yang dapat
meningkatkan berat badan, serta riwayat penggunaan tembakau dan
alkohol merupakan beberapa penyebab dari obesitas.
Beberapa penyakit dapat berkaitan dengan obesitas sehingga
perlu dideteksi saat konseling. Penyakit yang dapat berkaitan dengan
obesitas adalah diabetes mellitus, penyakit
kardiovaskular, hipertensi, dislipidemia, dan penyakit batu empedu.
Hal lain seperti psikososial (depresi, diskriminasi, rendahnya
rasa percaya diri, persepsi negatif pada bentuk tubuh, stereotipe
negatif, marginalisasi sosial, stigma negatif, teasing dan bullying),
serta penilaian fungsional (aktivitas sekolah, disabilitas,
diskualifikasi dari kepolisian/kemiliteran, rendahnya kebugaran fisik,
mobilitas terbatas, rendahnya prestasi akademik, rendahnya
produktivitas, dan pekerjaaan) juga perlu ditanyakan kepada pasien
(IDAI,2014).
b. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik lengkap pada obesitas harus dilakukan mulai
dari pemeriksaan indeks massa tubuh, lingkar pinggang, dan kadar
lemak tubuh.
Pemeriksaan fisik yang dapat ditemukan pada pasien obesitas
adalah sebagai berikut :
 Kepala: wajah membulat, pipi tembem, dagu rangkap,
pemeriksaan kelenjar tiroid, hipertrofi tonsil pada pasien yang
mengalami obstructive sleep apnea

12
 Kulit: rash intertriginosa akibat gesekan kulit, akne, hirsutisme,
acanthosis nigricans, dan skin tag
 Dada: membusung dengan payudara membesar, singkirkan
kardiomegali dan insufisiensi respirasi (wheezing dapat
ditemukan terkait asma, sindrom hipoventilasi obesitas)
 Abdomen: perut membuncit disertai dinding perut yang berlipat-
lipat, bedakan striae distensae dengan striae berwarna pink yang
luas akibat kelebihan kortisol, singkirkan kemungkinan
hepatomegali terkait non-alcoholic steatohepatitis, evaluasi
penyebab nyeri abdomen terkait gangguan refluks esofagus,
penyakit kandung empedu, non-alcoholic fatty liver
disease/NAFLD
 Sistem reproduksi: evaluasi ciri seksual sekunder.
 Ekstremitas: evaluasi deformitas sendi, osteoarthritis,
abnormalitas gait (Fan,2017).
c. Indeks Massa Tubuh
Indeks Massa Tubuh (IMT) mudah digunakan dan dapat
mengidentifikasi individu yang memiliki
kemungkinan overweight atau obesitas, namun pemeriksaan ini
masih belum sempurna sebagai penanda adipositas karena tidak
mampu membedakan massa otot dan lemak (Kinlen,2018)
d. Lingkar Pinggang
Lingkar pinggang serta rasio lingkar perut terhadap lingkar
pinggul (waist to hip ratio/WHR), sebagai penanda obesitas sentral,
dinilai memiliki korelasi lebih baik dengan tampilan klinis, serta
dapat digunakan sebagai prediktor mortalitas dan morbiditas
dibandingkan dengan IMT. International Diabetes
Federation menetapkan cut-off lingkar pinggang ≥ 90 cm pada pria
dan ≥ 80 cm pada wanita untuk wilayah Asia Selatan, Cina, dan
Jepang. (Kinlen,2018).

13
7. Penatalaksanaan
Penanganan obesitas secara teoritis bahwa intervensi terapi apapun
harus mencapai kontrol berat badan dan pengurangan IMT dengan aman
dan efektif serta harus mencegah komplikasi jangka Panjang.
Rencana perawatan dengan menekankan diet jangka panjang,
latihan, dukungan keluarga, dan menghindari perubahan dramatis dalam
berat badan. Lakukan pendekatan tim untuk terapi yang melibatkan
upaya perawat pendidik, ahli gizi, ahli fisiologi olahraga, dan konselor.
Konsultasi dengan spesialis paru kedokteran, dan ortopedi. Hilangnya 5-
20% dari berat total tubuh dapat mengurangi banyak resiko kesehatan
yang berhubungan dengan obesitas pada orang dewasa.
Terapkan untuk memiliki pola makan hidup sehat, yakni dengan
mengurangi makanan yang manis yang kurang mengandung gizi. Seperti
makanan cepat saji (fast food). Perilaku dan kebiasaan makan yang baik
merupakan cara teraupetik yang dianjurkan untuk menghindari obesitas.
Secara umum farmakoterapi untuk obesitas dikelompokkan yaitu
penekan nafsu makan seperti sibutramin, penghambat absorbsi zat-zat
gizi misalnya orlistat, dan kelompok lain-lain termasuk leptin, octreoctid,
dan metformin. Lakukan modifikasi gaya hidup, perbanyak latihan dan
aktivitas fisik seperti renang, dan jogging.Meskipun tidak ada program
pengobatan yang meyakinkan untuk direkomendasikan, gabungan
intervensi gaya hidup sehat menghasilkan penurunan berat badan yang
signifikan.
Batasi waktu untuk menonoton tv dan bermain game, biasakan
untuk berjalan kaki selama 20-30 menit per hari. Dengan berjalan kaki,
dapat mengurangi pertambahan berat badan melalui peningkatan
pengeluaran energi dan memiliki efek yang menguntungkan terhadap
status kardiovaskular, mengurangi tingkat lemak tubuh dan
kolesteroltotal, meningkatkan massa tubuh tanpa lemak dan
highdensitylipoprotein (HDL), dan meningkatkan psikologis
kesejahteraan. Percobaan terkontrol telah menunjukkan bahwa program

14
latihan gaya hidup, berkaitan dengan pembatasan diet, memberikan
kontrol berat badan jangka panjang pada anak-anak dan remaja. Hasil
studi tahun 2012 menunjukkan bahwa rendahnya tingkat kebugaran
kardiorespirasi juga telah dikaitkan dengan gejala depresi yang
meningkat pada obesitas remaja (Agristika,2015).

B. KONSEP MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN 7 LANGKAH


VARNEY
I. PENGKAJIAN
Pada langkah pengkajian, dilakukan dengan mengumpulkan semua
informasi yang lengkap dan akurat dari semua sumber yang berkaitan
dengan keadaan klien.
Tanggal Pengkajian :
Waktu Pengkajian :
Nama Pengkaji :
Tempat :
Data Subyektif
1) Identitas

Nama :
Umur : 15 tahun – 49 tahun
Wanita Usia Subur atau bisa disebut masa reproduksi adalah
wanita yang berumur antara 15-49 tahun yang ditandai dengan
menstruasi untuk pertama kali (Menarche) dan diakhiri dengan
menopause (Wiknjosastro, 2015).
Agama :

Suku/bangsa :

Pendidikan : Pengetahuan tentang makanan sehat sering kurang


dipahami oleh golongan yang tingkat
pendidikannya kurang. Mereka lebih

15
mementingkan rasa dan harga daripada nilai gizi
makanan (Tahir, 2016).

Pekerjaan :

Alamat :

No. Register :

2) Alasan datang periksa/keluhan utama


a. Alasan datang periksa
Klien datang sendiri terkait persiapan menikah.
b. Keluhan utama
Keluhan utama dari obesitas, antara lain seperti wajah
membulat, pipi tembam, dagu rangkap, dada membusung dengan
payudara membesar yang mengandung jaringan lemak, perut
membuncit disertai dinding perut yang berlipat-lipat (Agristika,2015).

3) Riwayat kesehatan klien


Riwayat penyakit klien yang dapat memperberat atau diperberat saat
menstruasi

a. Penyakit Kardiovaskuler: Penyakit jantung. Kelainan jantung yang


dapat ditemui adalah prolaps katup mitral (mitral valve prolapsed,
MVP). Wanita dengan MVP yang tidak mengalami penebalan katup
mitral tidak diberi antibiotic profilaksis (Varney, 2008).
b. Penyakit/kelainan system reproduksi: Sistem reproduksi: evaluasi
ciri seksual sekunder.
c. Penyakit jiwa: Stres pada wanita memicu perubahan biokimia pada
tubuh sehingga memacing nafsu makan berlebih hingga menyebabkan
obesitas. Wanita yang mengalami stress cenderung memilih makanan
berkarbohidrat yang mengandung lemak tinggi (Purwanti,2017).

16
d. Diabetes : Obesitas dapat meningkatkan risiko DM Tipe 2
(Pratiwi,dkk.2018).

4) Riwayat Kesehatan Keluarga


a. Hipertensi: Sebagai gangguan yang berhubungan dengan kehamilan,
pre-eklamsia (Lyoyd, 2013). Beberapa penyakit yang disebabkan oleh
obesitas, antara lain : hipertensi, diabetes mellitus, kanker, dan
penyakit jantung koroner.
b. Diabetes: Menurut penelitian Salim (2014) mengungkapkan adanya
gen obesitas, yang diekspresikan pada sel-sel lemak dan kode-kode
untuk protein leptin. Diabetes pada kehamilan dapat meningkatkan
risiko untuk terjadinya, preeclampsia, seksio caesaria dan
meningkatkan mortalitas janin (Prawirohardjo, 2014).
c. Obesitas : orang tua yang memiliki status gizinya overweight secara
langsung resesif pada keturunannya mengingat proporsi sel lemak ibu
pada saat dalam kehamilannya menurunkan ke anaknya. Overweight
dapat diturunkan dari generasi sebelumnya pada generasi berikutnya
didalam sebuah keluarga (Izhar,2020).

5) Riwayat Menstruasi

a. Menarche
Perdarahan (menstruasi) yang terjadi untuk pertama kali disebut
menarche, pada umur 12-13 tahun (Manuaba, 2012).
Haid pertama kali yang dialami seorang perempuan disebut
menarche, yang pada umumnya terjadi pada usia sekitar 14 tahun
(Prawirohardjo, 2014).
b. Siklus haid
Gangguan mentruasi lebih tinggi dialami oleh kelompok
obesitas dimana BMI >24kg/m dibandingkan dengan kelompok yang
tidak mengalami obesitas. Wanita dengan jaringan adipose yang tinggi

17
(WHR>0.8) juga mengalami siklus haid yang panjang dibandingkan
dengan kelompok lainnya (Islami,2016).
c. Volume darah haid
Volume darah normal adalah tidak melebihi 80 ml dan ganti
pembalut 2-6 kali per hari (Prawirohardjo, 2014).
d. Lama haid
Lama haid 3-7 hari (Prawirohardjo, 2014).

e. Ciri/sifat darah haid


Ciri darah haid normal adalah tanpa bekuan darah.Bila
perdarahan disertai gumpalan darah menunjukkan terjadi perdarahan
banyak merupakan keadaan abnormal pada menstruasi (Manuaba,
2012).

6) Pola Fungsional Kesehatan

Pola Keterangan
Nutrisi Pola makan yang berlebih dapat menjadi faktor terjadinya overweight.
Overweight terjadi jika seseorang mengkonsumsi kalori melebihi jumlah
kalori yang dibakar (Izhar,2019).
Konsumsi rendah protein mengalami peningkatan berat badan 1,1 kg,
sedangkan kelompok yang mengkonsumsi tinggi protein berat badanya
meningkat sebesar 3,7 kg (Ginting,dkk 2018).
Istirahat Tidur 9-10 jam setiap harinya akan lebih berisiko obesitas dibandingkan
yang tidur antara 7-8 jam per hari. Durasi waktu tidur yang sangat
panjang merupakan pola tidur yang disfungsional sehingga dikaitkan
dengan depresi. Depresi seperti rasa sedih dan putus asa juga sering
dikaitkan dengan obesitas (Tahir, 2016).
Aktivitas Faktor risiko kedua tingginya overweight di masyarakat adalah aktivitas
fisik kurang gerak (Hardiansyah dkk 2016).
Personal Hygiene Kebersihan tubuh remaja perlu diperhatikan karena dengan perubahan sistem
metabolisme mengakibatkan peningkatan pengeluaran keringat.
Kebiasaan yang Merokok :. Rokok adalah stimulan yang tidak hanya menyebabkan

18
dapat ketegangan dalam system saraf. Yang mengakibatkan stress.
mempengaruhi
kesehatan

7) Riwayat Psikososiokultural Spiritual


1. Psikologis
Perasaan cemas terhadap body image
2. Sosial
Perubahan pengetahuan, sikap, perilaku hidup, gaya hidup dan
pola makan serta faktor peningkatan pendapatan mampu
mempengaruhi perubahan dalam pemilihan jenis makanan dan
jumlah yang dikonsumsi. Sebagai contoh, di daerah perkotaan
banyak wanita pekerja. Hal ini mengakibatkan perubahan pola dan
jenis makanan. Frekuensi makan diluar rumah cenderung meningkat,
dan seringkali makanan cepat saji menjadi pilihan utama (Syarif,
2002).
Tingkat pengeluaran sangat berpengaruh terhadap konsumsi
energy. Seseorang yang mempunyai pengeluaran perbulan yang
tinggi akan mempunyai daya beli yang tinggi pula sehingga
memberikan peluang yang lebih besar untuk memilih berbagai jenis
makanan (Tahir, 2016).

3. Kultural
Adakah adat istiadat yang mengatakan bahwa obesitas sebuah
ketidak abnormalan, ancaman, tantangan ataupun lainnya.

4. Spiritual

Adakah ritual keagamaan yang dilakukan yang dapat


memberikan dampak negatif atau merugikan bagi klien.

19
Data Obyektif
a. Pemeriksaan Umum
1) Kesadaran :
Compos Mentis adalah keadaan sadar sepenuhnya dengan
memberikan respon yang cukup terhadap stimulus yang diberikan.
2) Tanda vital :
Tekanan Darah : 100/70-120/70 mmhg
Obesitas memiliki risiko peningkatan tekanan darah.
Nadi : 80-100 kali permenit
Suhu Tubuh : 360C-37,50C
Pernapasan : 16-20 kali permenit
3) Antropometri :
Tinggi Badan :
BB saat ini :
Lingkar perut :
Lingkar tangan :
status gizi mempengaruhi tingkatan obesitas

1. Pemeriksaan Fisik
a. Inspeksi
Kepala : Kulit kepala dalam keadaan bersih, rambut tidak
mengalami kerontokan dan kulit kepala tidak
berketombe.
Wajah : Tidak pucat karena jika mengalami pucat
merupakan gejala anemia
Mata : Bentuk mata simetris, konjungtiva berwarna merah
muda, sklera berwarna putih atau tidak berwarna
kuning (ikterus). Ada tidaknya Papiledema, paralisis
n. VI kranialis

20
Hidung : Bentuk hidung simetris, hidung dalam keadaan
bersih, tidak terdapat sekret dan polip dalam rongga
hidung.
Mulut : Bentuk mulut simetris, keadaan bibir tidak kering,
tidak terdapat stomatitis, tidak terdapat karies pada
gigi dan gigi palsu.Tenggorokkan tampak Hipertrofi
tonsil.
Telinga : Ukuran telinga dalam keadaan simetris, posisi
telinga dalam keadaan simetris dan bentuk telinga
dalam keadaan simetris dan tidak terdapat cairan
yang keluar dari telinga.
Leher : Bentuk leher simetris.
Dada : Dada simetris.
Payudara : Puting susu menonjol, payudara membesar dan
mengalami hiperpigmentasi pada areola.
Abdomen : Tampak pembesaran atau tidak, dan ada tidaknya
hepatomegali.
Genetalia : Vulva dalam keadaan bersih

b. Palpasi
Kepala : Tidak ada benjolan, tidak terdapat lesi dan tidak
terdapa nyeri tekan pada kepala.
Leher : Tidak terdapat pembesaran yang tidak nomal pada
kelenjar tiroid, tidak ada bendungan vena jugularis.
Payudara : Pada palpasi, payudara seharusnya lobular, bahkan
nodular bila jaringan payudara hipertrofi (Willms,
2010).
Abdomen : Tidak teraba massa dan tidak ada nyeri tekan

c. Auskultasi

21
Dada : bronchial, suara terndengar keras, nyaring, dengan
hembusan yang lembut, terdengar diatas trakea atau
daerah lekuk suprasternal. Bronkovesikular, suara
terdengar nyaring dengan intensitas sedang. Inspirasi
sama panjang dengan ekspirasi, terdengar di daerah
dada dimana bronkus tertutup oleh dinding
dada.Vesicular, terdengar lembut dan halus inspirasi
lebih panjang dari ekspirasi (Somantri, 2011).

d. Perkusi
Dada : Umumnya bersuara resonan dan dullness. Karena
suara resonan dihasilkan oleh jaringan paru-paru
yang normalnya bergaung dan bernada rendah dan
suara dullness dihasilkan oleh di bagian atas jantung
dan paru-paru (Soemantri, 2011).

2. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium
- Pemeriksaan darah
• Ureum, kreatinin, asam urat • Konsul Nefrologi
• Pemeriksaan profil lipid darah (kolesterol total,
trigliserida, LDL, dan HDL)
• Nilai normal profil lipi darah menurut National
Cholesterol Education Program (NCEP)
o Kolesterol total < 170 mg/dL
o Trigliserida < 110 mg/dL  0 – 9 tahun : < 75
mg/dL  10 – 19 tahun : < 90 mg/dL
o Kolesterol LDL < 110 mg/dL
o Kolesterol HDL > 45 mg/dL

II. INTERPRETASI DATA DASAR

22
Data dasar yang sudah dikumpulkan diinterpretasikan sehingga
dapat merumuskan diagnosis dan masalah yang spesifik.
a. Diagnosis
Diagonosis kebidanan adalah diagnosis yang ditegakkan oleh profesi
(bidan) dalam lingkup praktik kebidanan dan memenuhi standar
nomenklatur diagnosisi kebidanan.
Diagnosis : Wanita Pra Nikah dengan Obesitas.
b. Masalah
Hal-hal yang berkaitan dengan pengalaman/hal yang sedang dialami
klien yang ditemukan dari hasil pengkajian atau yang menyertai
diagnosis.
c. Kebutuhan
Hal-hal yang dibutuhkan oleh klien dan belum teridentifikasi dalam
diagnosis dan masalah. Rumusan kebutuhan klien akan masuk di
dalam rencana intervensi.

III. IDENTIFIKASI DIAGNOSIS/MASALAH POTENSIAL


Identifikasi masalah atau diagnosis potensial ditegakkan berdasarkan
diagnosis dan masalah yang telah ditentukan.

IV. IDENTIFIKASI KEBUTUHAN TINDAKAN SEGERA


Langkah ini mencakup rumusan tindakan emergensi/darurat yang harus
dilakukan untuk menyelamatkan remaja.rumusan ini mencakup tindakan
segera yang bisa dilakukan secara mandiri, kolaborasi, atau bersifat
rujukan.

V. MENGEMBANGKAN RENCANA INTERVENSI


Langkah ini merupakan kelanjutan manajemen terhadap masalah atau
diagnosis yang telah di identifikasi atau diantisipasi, termasuk di dalamnya
tindakan mandiri, kolaborasi ataupun rujukan.

23
1) Jelaskan hasil pemeriksaan
Rasional : Penjelasan mengenai hasil pemeriksaan merupakan hak
klien dan keluarga (Varney, 2008).
2) Berikan KIE tentang Obesitas untuk persiapan pra nikah.
Rasional : Secara umum, Zat gizi makro dan mikro menghasilkan
energi yang diperlukan oleh tubuh. Asupan zat gizi makro yaitu
karbohidrat, protein dan lemak bila di konsumsi berlebihan dapat
menyebabkan gangguan kesehatan.
3) Berikan support mental/dukungan psikologis pada remaja untuk
menghadapi masa menstruasi yang disertai dismenorroe
Rasional : Pada keadaan psikologis, klien menbutuhkan support serta
dukungan dari calon suami, keluarga serta bidan. sehingga klien dapat
merasa tenang.
4) Jelaskan tentang kebutuhan nutrisi yang tepat
Rasional : Menambah pengetahuan tentang pentingnya nutrisi
memerlukan intruksi khusus yang berkaitan dengan aspek kebutuhan
nutrisi, seperti jumlah kalori, protein, zat besi, asam folat dan vitamin
C (Varney, 2008). Pemeriksaan nutrisi remaja dilakukan melalui
pemantauan berat badan dan tinggi badan yang hubungannya dengan
indeks masa tubuh remaja. Pemeriksaan ini dilakukan untuk
mendeteksi status gizi.
5) Kolaborasi dengan dokter spesialis obstetric dan gynekologi
Rasional : Kewenangan bidan di Rumah Sakit memiliki keterbatasan,
sehingga adanya kolaborasi sangat diperlukan.

VI. IMPELEMENTASI
Pelaksanaan dilakukan dengan efisien dan aman sesuai dengan rencana
asuhan yang telah disusun. Pelaksanaan ini bisa dilakukan seluruhnya oleh
bidan atau sebagian dikerjakan oleh klien atau anggota tim kesehatan
lainnya.

24
VII.EVALUASI

Evaluasi merupakan penilaian tentang keberhasilan dan keefektifan asuhan


kebidanan yang telah dilakukan. Evaluasi didokumentasikan dalam bentuk
soap.

DAFTAR PUSTAKA

Aulia Agristika.2015. Komplikasi Obesitas pada Anak dan Upaya


Penanganannya. Jurnal Majority Volume 4 No.7 Juni 2015.
Cahyaningrum,Aladhiana.2015. Leptin sebagai Indikator Obesitas. Jurnal
kesehatan prima Vol 9 No.1 Februari 2015. Hal 1364-1371.
Dumais,Caroline dkk.2016. Hubungan Obesitas pada Kehamilan dengan
preeklamsia. Jurnal e-Clinic Volume 4, Nomor 1 Januari-Juni 2016.
Fan JG, Kim SU, Wong VWS. New trends on obesity and NAFLD in Asia. J
Hepatol.2017(67)862-873. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/28642059
Kinlen D, Cody d, O’Shea D. Complication of Obesity. QJM. 2018(111):437-443.
https://academic.oup.com/qjmed/article/111/7/437/4016386.
Manuaba,2012. Ilmu Kebidanan, Kandungan dan KB. Jakarta : EGC.
Mauliza.2018. Obesitas dan Pengaruhnya terhadap Kardiovaskular.Jurnal
Averrous Vol.4 N0.2 2018/ Sinta 3.
Purwanti,dkk.2017. HUBUNGAN TINGKAT STRES DENGAN INDEKS MASSA
TUBUH MAHASISWA PSPD FK UNTAN. http://ejournal.poltekkes-
pontianak.ac.id/index.php/JVK.
Prawirohardjo,Sarwono,2014. Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo,Jakarta :
PT. Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
Unit Kerja Koordinasi Nutrisi dan Penyakit Metabolik IDAI.2014. Diagnosis,
Tata Laksana dan Pencegahan Obesitas pada Anak dan Remaja.Jakarta :
IDAI
Wiknjosastro, Hanifa.2015.Ilmu Kebidanan.Jakarta : EGC.

25

Anda mungkin juga menyukai