Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Flu burung atau Avian Influenza (AI) merupakan penyakit hewan menular
yang terjadi pada unggas dan sifatnya sangat mematikan dan zoonosis (dapat
menular pada manusia). Flu burung ini bukan hanya berbahaya bagi hewan (unggas
dan babi) tetapi juga bagi manusia. Manusia yang terinfeksi oleh flu burung dapat
berakhir dengan kematian. Namun, demikian sebenarnya virus flu burung dapat
dicegah penularannya pada manusia jika kita mengetahui karakteristik virus
penyebab dan cara pengendaliannya.
Kasus flu burung pertama kali ditemukan di Scotlandia pada tahun 1959,
sejak saat itu wabah flu burung berjangkit di beberapa Negara Eropa dan Afrika.
Belanda, Jerman, Belgia, dan Irlandia serta Afrika Selatan dan sebagian negara-
negara Eropa dan Afrika yang terkena wabah ini.
Wabah flu burung juga terjadi di belahan benua lainnya seperti di Amerika
Serikat, Kanada, dan Australia. Wabah flu burung telah menjadi pandemik.
Di Asia, kasus flu burung merupakan salah satu kasus penyakit hewan yang
paling menarik perhatian akhr-akhir ini. Ini karena sifat virus penyebabnya yang
sangat ganas dan berbahaya jika sampai menular ke manusia. Di Hongkong, kasus
flu burung merebak pertama kali pada tahun 1997. Pada saat itu dilaporkan sekitar
18 orang terinfeksi virus avian flu burung, 6 orang di antaranya meninggal dunia.
Pada tahun 2001 pemerintah Hongkong telah memusnahkan ribuan ekor unggas
yang diindikasikan terserang flu burung. Flu burung juga menyerang Thailand yang
menyebabkan kerugian besar pada perunggasan Thailand. Pada akhir 2003 Thailand
mendeppopulasi (memusnahkan) sekitar satu juta ekor ternak unggasnya. Bukan
hanya itu flu burung juga telah menular ke manusia. Hingga Januari 2004,
dilaporkan 6 orang warga Thailand positif terinfeksi virus H5N1 penyebab flu
burung. Vietnam, Malaysia, Kamboja, Taiwan, Laos, Korea, Cina, Jepang, Pakistan,
dan Indonesia adalah negara-negara Asia lainnya yang terkena serangan flu burung.

1
B. Masalah dan Perumusan Masalah
Masalah pada penulisan makalah ini adalah mudahnya penularan penyakit
flu burung baik dari hewan ke manusia ataupun dari manusia ke manusia.
Perumusan masalah pada penulisan karya ilmiah ini adalah “ Apakah ada pandemi
flu burung di Indonesia”.

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Tujuan umum dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui apakah
ada pandemi flu burung di Indonesia.

2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus dari penulisan makalah ini adalah:
a) Mengetahui cara-cara penularan flu burung
b) Mengetahui cara-cara pengobatan flu burung
c) Mengetahui cara-cara pencegahan flu burung

D. Manfaat
Manfaat dari penulisan makalah tentang flu burung ini adalah:
a) Menambah wawsan penulis tentang flu burung sebagai pandemi di dunia
umumnya dan sebagai pandemi di Indonesia khususnya.
b) Hasil tulisan ini dapat digunakan oleh pembaca sebagai tambahan referensinya
tentang flu burung sehingga dapat mencegah agar tidak tertular.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Kejadian Flu Burung di Indonesia


Setelah Sembilan tahun sejak kasus flu burung merebak di Hongkong,
Indonesia dikategorikan sebagai negara dengan angka kematian (mortality rate) yang
semakin tinggi bahkan tertinggi di dunia dan penanganannya cenderung lambat
padahal trend wabah semakin nyata.
Mewabahnya flu burung di suatu daerah sangat sangat dipengaruhi oleh
epidemiology virus, pola manajemen klinis kesehatan masyarakat setempat, dan
sistem peternakan yang ada di lingkungan tersebut. Buruknya pola kesehatan
masyarakat yang memicu munculnya penyakit baru disertai budaya sistem beternak
di mana manusia bergaul sehari-hari dengan hewan ternak menambah catatan buruk
semakin mudahnya penularan flu burung di lingkungan dengan kultur seperti di
Indonesia.
Upaya lebih terorganisasi harus dilakukan oleh pemerintah dan koordinasi
semua instansi terkait seperti departemen kesehehatan dan depertemen pertanian
dalam memberikan pemahaman budaya beternak yang sehat sekaligus memberikan
edukasi kepada masyarakat dengan merelakan ternaknya dihanguskan jika terindikasi
terkena wabah flu burung. Selain itu, dukungan dana untuk melakukan program
penanggulangan wabah flu burung secara nasional dan mengganti ternak yang
dihanguskan sangat perlu disertai dukungan kebijakan politik. Kemauan politik
pemerintah dalam hal ini akan sangat menentukan sukses tidaknya program
penanggulangan wabah flu burung.
Saat ini, diketahui bahwa penyebab flu burung adalah Highly Pathogenic
Avian Influenza virus, strain H5N1 (H=hemaglutinin; N=neuraminidase). Hal ini
terlihat dari hasil studi yang ada menunjukkan bahwa unggas yang sakit
mengeluarkan virus influenza A (H5N1) dengan jumlah besar dalam kotorannya.
Virus influenza A (H5N1) merupakan penyebab wabah flu burung pada
unggas. Penularan Flu burung (H5N1) pada unggas terjadi secara cepat dengan
kematian tinggi. Penyebaran penyakit ini terjadi di antara populasi unggas satu
peternakan, bahkan dapat menyebar dari satu peternakan ke peternakan daerah lain.
Sementara itu, penularan penyakit ini kepada manusia dapat melalui udara yang
3
tercemar virus tersebut, baik yang berasal dari tinja atau sekreta unggas terserang flu
burung. Adapun orang yang mempunyai resiko terserang flu burung (H5N1) ini
adalah pekerja peternakan unggas, penjual, dan penjamah unggas.
Agustus 2003, ayam ras petelur di berbagai wilayah di Indonesia mengalami
kematian dalam jumlah yang cukup besar dan cepat. Saat itu pemerintah menolak
mengakui bahwa kejadian tersebut merupakan kematian akibat flu burung atau Avian
Influenza (AI). Setelah terjadi penularan yang semakin meluas dan mewabah,
pemerintah pada tanggal 23 januari 2004 mengakuinya disebabkan oleh virus AI.
Beberapa propinsi di Indonesia terutama Bali, Bogor, Tangerang, Bekasi, Jawa
Timur, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, dan Jawa Barat dilaporkan adanya kasus
kematian ayam ternak yang luar biasa. Jumlah unggas yang mati akibat wabah
penyakit flu burung di 10 provinsi di Indonesia sangat besar, yaitu 3.842.275 ekor
(4,77%) dan yang paling tinggi jumlah kematiannya adalah provinsi Jawa Barat
(1.541.427 ekor).
Timbulnya pandemik AI di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan
Bekasi dapat dijelaskan dengan beberapa tahap sebagai berikut (Dirjen PP&PL
Depkes RI, 2006).
a) Pada tanggal 25 Januari 2004, ditemukan adanya virus influenza baru pada
binatang.
b) Pada tanggal 28 juni 2005, terjadi penularan virus influenza pada manusia yang
tertular binatang, tetapi belum dipastikan adanya H2H trans.
c) Terjadi 7 kasus pada manusia, 2 kluster kecil.
d) Sekarang terjadi 1 kasus setiap hari sejak 1 Januari-12 Februari 2006.

B. Penyebab Flu Burung


Flu burung atau Avian Influenza (AI) adalah penyakit menular yang
disebabkan oleh virus influenza tipe A yang berdiameter 90-120 nanometer.
Penyebab flu burung adalah virus dari family Orthomyxoviridae.
Ada beberapa subtype (strain) dari virus tipe A ini yang sudah dikenal antara
lain H1N1, H1N2, H3N3, H5N1, H7N7, dan H9N1. Huruf H menunjuk kepada
Hemaglutinin yang berarti zat yang dapat menyebabkan penggumpalan sel darah
merah, dan N menunjuk kepada neuramidase suatu enzim yang berhubungan dengan
saraf. Dua di antara subtype tersebut dikenal sangat ganas, yakni H5 dan H7.
4
Strain virus yang menyebabkan mewabahnya flu burung di Asia termasuk di
Indonesia adalah strain H5N1. Virus ini pertama kali ditemukan di Italia tahun 1878.
Saat ini virus H5N1 ditemukan sudah menyebar dan menyerang peternakan unggas
di Hongkong, Vietnam, Thailand, Jepang dan juga di Indonesia. Cepatnya
penyebaran virus flu burung ini karena ia memiliki daya replikasi (berbiak) tinggi
sehingga dapat berkembang sangat cepat dalam tubuh.
Virus ini menyerang alat pernapasan, alat pencernaan, dan sistem saraf
unggas. Virus H5N1 bersifat ganas dan mematikan, tidak hanya menyerang unggas
tetapi juga ternak lainnya babi. Bahkan kucing pun dapat diserangnya. Virus AI pun
bersifat zoonosis (dapat menular ke manusia) dengan akibat yang fatal.
Virus H5N1 tahan pada suhu rendah tetapi tidak tahan pada suhu tinggi. Virus
ini dapat bertahan hidup di air hingga empat hari pada sushu 220 C dan lebih dari 30
hari pada suhu 00C. di dalam kotoran dan tubuh unggas yang sakit virus dapat
bertahan lebih lama, tapi mati pada pemanasan 600C selama 30 menit. Semakin
tinggi suhu, virus semakin mudah mati. Masa inkubasi virus ini adalah 1-3 hari.

C. Epidemiologi
Sampai bulan Juni 2007 sebanyak 313 orang di seluruh dunia terjangkit virus
AI dengan 191 di antaranya meninggal dunia (CFR=61%). Kasus penyakit ini
meningkat cepat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2003 tercatat terdapat 4 kasus,
kemudian berkembang menjadi 46 kasus (2004), 97 kasus (2005), 116 kasus (2006),
dan pada tahun 2007 per tanggal 15 Juni sudah dilaporkan terjadi 50 kasus dengan
angka kematian 66%. Negara yang terjangkit sebagian besar adalah negara-negara di
Asia (Thailand, Vietnam, Kamboja, China, dan Indonesia), tetapi saat ini sudah
menyebar ke Irak dan Turki.
Kasus AI di Indonesia bermula dari ditemukannya kasus pada unggas di
pekalongan, Jawa Tengah pada bulan agustus 2003. Sampai tahun 2006, penyakit ini
sudah menyerang unggas di 29 provinsi yang mencakup 291 kabupaten/kota. Daerah-
daerah yang memiliki populasi unggas yang padat dan diikuti populasi penduduk
yang padatlah yang akan mengalami banyak kasus pada manusia.
Di Indonesia, sejak juli 2005 sampai pertengahan Juni 2007 tercatat terdapat
100 kasus dengan 80 kematian (CFR=80%). Sebagian besar kasus berasal dari Jawa
dan Sumatera. Propinsi terbanyak yang terjangkit penyakit ini adalah Jawa Barat,
5
DKI Jakarta, dan Banten. Penyakit ini sudah terjangkit di 11 provinsi dan 37
kabupaten/kota.

D. Penularan
1. Penularan flu burung antar hewan (unggas)
Virus Flu burung dapat ditularkan dari unggas ke unggas lain melalui :
a) Kontak langsung unggas terinfeksi flu burung dengan unggas yang peka.
b) Melalui feses (kotoran) unggas yang terserang flu burung.
Kotoran unggas yang terserang flu burung mengandung virus penyebab flu
burung. Bahan organik yang terdapat dalam kotoran merupakan sumber
nutrisi bagi virus sehingga virus dapat bertahan hidup lebih lama di luar tubuh
unggas. Kotoran dapat menempel pada peralatan ernak seperti tempat pakan,
minum, rak telur dan juga pada dinding kandang. Kotoran kering dapat
bercampur dengan udara dan terhirup oleh unggas lain. Kesemuanya ini
menyebabkan virus mudah menyebar dengan sangat cepat.
c) Melalui lendir yang keluar dari hidung dan mata.
lendir yang keluar dapat menetesi tempat pakan dan minum dan juga pakan
dan air minumnya. Jika tempat pakan dan minum ini digunakan lagi untuk
unggas yang lain, maka penularan ke unggas lain dapat terjadi.
d) Melalui udara.
Penularan melalui udara ini sangat mudah terjadi pada satu kandang tetapi
tidak mudah terjadi antar kandang.
e) Melalui perdagangan unggas.
Ini dapat terjadi ketika konsumen membeli unggas yang terinfeksi virus flu
burung kemudian unggas yang terinfeksi ini disatukan dengan unggas lain
sehingga terjadi penularan dan penyebaran virus.
f) Melalui pakan dan air minum yang terkontaminasi.
g) Melalui manusia.
Pakaian dan sepatu yang terkontaminasi virus dapat menjadi perantara
menyebarkannya virus.

6
2. Penularan flu burung dari hewan ke manusia
Secara genetik, virus influenza tipe A sangat labil dan tidak sulit beradaptasi
untuk menginfeksi spesies sasarannya. Virus ini tidak memiliki sifat proof
reading, yaitu kemampuan untuk mendeteksi kesalahan yang terjadi dan
memperbaiki kesalahan pada saat replikasi. Ketidakstabilan sifat genetik virus
inilah yang mengakibatkan terjadinya strain/jenis/mutan virus yang baru. Akibat
dari proses tersebut virulensi virus AI dapat berubah menjadi ganas dari
sebelumnya (HPAI, Highly Pathogenic Avian Influenza).
Karakteristik lain dari virus ini adalah kemampuannya untuk bertukar,
bercampur, dan bergabung dengan virus influenza strain lain sehingga
menyebabkan munculnya strain baru yang bisa berbahaya bagi manusia.
Mekanisme ini juga menyebabkan kesulitan dalam membuat vaksin untuk
program penanggulangan.
Mekanisme penularan flu burung pada manusia melalui beberapa cara :
a) Virus unggas liar unggas domestik manusia.
b) Virus unggas liar unggas domestik babi
manusia.
c) Virus unggas liar unggas domestik (dan babi)
manusia manusia.

Epidemi pada manusia dibagi dalam enam tahap yaitu :


a) Interpandemi
Tahap 1 : infeksi pada hewan tetapi berisiko rendah pada manusia.
Tahap 2 : infeksi pada hewan tetapi berisiko tinggi pada manusia.

b) Waspada pandemi
Tahap 3 : penularan dari manusia ke manusia belum ada atau belum efektif.
Tahap 4 : terbukti terdapat penularan antarmanusia (klaster-klaster kecil dan
terbatas).
Tahap 5: penularan antarmanusia meningkat secara signifikan (klaster besar).

c) Pandemi
Tahap 6A : pandemi lokal
7
Tahap 6B : pandemi yang luas
Tahap 6C : pandemi menurun (subsided pandemic)
Tahap 6D : gelombang pandemi selanjutnya (next wave pandemic)

E. Gejala Klinis Pada Flu Burung


1. Gejala klinis flu burung pada unggas
Gejala klinis unggas yang terkena flu burung adalah sebagai berikut :
a) Pembengkakan pada kepala dan muka.
b) Jengger, pial, dan kulit yang tidak ditumbuhi bulu berwarna biru keunguan.
c) Ada cairan yang keluar dari hidung dan mata.
d) Batuk, bersin, dan ngorok.
e) Diare.
f) Pendarahan di bawah kulit (sub kutan).
g) Pendarahan titik (ptechie) pada daerah ayam-ayam terkena flu burung.
Kondisinya semakin melemah, akhirnya mati.
h) Dada, kaki, dan telapak kaki.

2. Gejala klinis flu burung pada manusia


Virus flu burung akan menyerang manusia dan menyebabkan sakit jika
kondisi sistem kekebalan tubuh manusianya sedang lemah. Tetapi jika kondisi
tubuh manusianya prisma, maka virus flu burung ini tidak akan berdaya untuk
menimbulkan penyakit.
Gejala pada tersangka AI adalah demam, anoreksia, pusing, gangguan
pernapasan (sesak), nyeri otot, dan mungkin konjungtivitis yang terdapat pada
pasien dengan riwayat kontak dengan unggas (misalnya peternak, pedagang).
Gejala tersebut tidak khas dan mirip gejala flu lainnya, tetapi secara cepat gejala
menjadi berat dan dapat menyebabkan kematian karena terjadi peradangan paru
(pneumonia). Masa inkubasinya adalah 1-3 hari.
Diagnosis AI adalah :
a) Kasus tersangka (possible cases)
1) Demam >380C, batuk, nyeri tenggorokan, dan
2) Salah satu kriteria berikut :
a. Pernah kontak dengan penderita AI
8
b.Kurang dari satu minggu terakhir pasien pernah mengunjung peternakan
di daerah HPAI
c. Bekerja di laboratorium dan kontak dengan sampel dari tersangka AI.

b) Kasus mungkin (probable cases)


1) Possible cases, atau
2) Hasil laboratorium tertentu positif untuk virus AI dengan antibody
monoclonal H5, atau
3) Tidak terbukti adanya penyebab lain.

c) Kasus pasti (confirmed cases)


1) Hasil kultur virus H5N1, atau
2) Pemeriksaan PCR influenza H5 positif, atau
3) Peningkatan titer antibodi spesifik H5 sebesar empat kali.

Pemeriksaan laboratorium :
1) Mengisolasi virus (usap tenggorok, tonsil, faring)
2) Tes serologi
3) Merujuk ke laboratorium litbangkes.

Diagnosis pasti ditegakkan dengan pengujian agar gell precipitation


(AGP). Penentuan subtype virus dilakukan dengan pengujian haemaglutination
inhibition (HI).

F. Pengobatan
a) Suportif : vitamin, misalnya vitamin C dan B kompleks
b) Simtomatik : analgesik, antitusif, mukolitik
c) Profilaksis : antibiotik
d) Pengobatan antivirus dengan Olsetamivir 75 mg (Tamiflu).
Dosis profilaksis adalah 1 X 75 mg 7 hari yang diberikan pada semua kasus
suspek. Dosis terapi adalah 2 X 75 mg selam 5 hari yang diberikan pada semua
kasus suspek yang dirawat. Dosis anak tergantung dari berat badannya.

9
Penggunaan antivirus sangat membantu, terutama pada 48 jam pertama, karena
virus akan menghilang sekitar 7 hari setelah masuk ke dalam tubuh.

G. Pencegahan
1. Pencegahan flu burung pada ternak
Penanggulangan flu burung lebih mengarah pada pencegahan supaya tidak
menular pada hewan lain maupun manusia di sekitarnya. Benerapa langkah di
bawah ini, sebagaimana diungkapkan oleh Retno D. Soejoedono dan Ekowati
Handharyani, merupakan upaya pencegahan penularan dan penyebaran virus flu
burung :
a) Membatasi secara ketat lalu lintas unggas atau ternak, produk unggas, pakan,
kotoran, bulu, dan alas kandang.
b) Membatasi lalu lintas pekerja atau orang dan kendaraan yang keluar masuk
lokasi peternakan. Orang dan kendaraan yang masuk dan keluar kandang
harus disemprot dengan larutan desinfektan.
c) Peternak dan orang yang hendak memasuki peternakan ayam (unggas) harus
menggunakan pakaian pelindung seperti masker, kaca mata plastik (goggle),
kaos tangan, dan sepatu.
d) Mencegah kontak antarunggas dengan burung liar atau burung air, tikus, dan
hewan lain.
e) Melakukan desinfeksi terhadap semua bahan, sarana dan prasarana
peternakan, termasuk bangunan kandang.
f) Menggunakan jenis desinfektan yang sudah direkomendasikan seperti asam
parasetat, hidroksi peroksida, sediaan ammonium kuartner,
formaldehid/formalin 2-5%, iodoform kompleks (iodine), senyawa fenol, dan
natrium/kalium hipoklorit.
g) Melakukan depopulasi, yakni tindakan pemusnahan unggas secara selektif di
peternakan yang tertulari virus flu burung. Caranya dengan menyembelih
semua unggas yang sakit dan unggas sehat dalam satu kandang (peternakan).
Selain itu dapat juga dilakukan dengan cara disposal, yaitu membakar dan
mengubur unggas mati (bangkai), sekam dan pakan yang tercemar, serta
bahan peralatan yang terkontaminasi. Lubang tempat
penguburan/pembakaran harus berlokasi di dalam areal peternakan tertular
10
dan berjarak minimal 20 meter dari kandang tertular dengan kedalaman 1,5
meter. Apabila lubang penguburan/pembakaran terletak di luar areal
peternakan tertular maka harus jauh dari pemukiman penduduk dan mendapat
izin dari Dinas Peternakan setempat. Pemusnahan unggas juga semestinya
dilakukan terhadap semua unggas yang berada dalam radius 1 km dari
peternakan tertular.
Tindakan-tindakan dari nomor 1 hingga nomor 7 di atas merupakan tindakan
penanggulangan ketika flu burung sedang berjangkit dan semuanya mesti
dikoordinasikan dengan Dinas peternakan setempat. Ada langkah-langkah
lain yang perlu diambil sebagai pencegahan terjadinya flu burung pada saat
flu burung belum berjangkit, sebagaimana diuraikan dalam nomor 8 dan 9 di
bawah ini.
h) Melakukan tata laksana peternakansecara benar. Tata laksana peternakan ini
meliputi :
i. Pengaturan kepadatan : kandang hendaknya jangan terlalu padat.
ii. Temperatur kandang : diusahakan agar jangan samapai terjadi perubahan
suhu yang mencolok karena dapat mengakibatkan ayam stres dan fisiknya
mudah lemah dan terserang penyakit.
iii. Pengaturan pakan : pakan harus diberiakan sesuai kebutuhan dan
memiliki kandungan gizi yang cukup untuk unggas dan terbebas dari
kontaminan.
iv. Pengontrolan air minum : air minum harus dalam kondisi bersih.
Penambahan dan penggantian air minum perlu dilakukan setidaknya 2-3
kali sehari.
v. Pencahayaan dan ventilasi yang cukup.
vi. Pengaturan litter : litter di dalam kandang diusahakan tidak terlalu basah
atau kering. Litter yang terlalu kering menimbulkan debu yang
beterbangan dan memungkinkan timbulnya berbagai penyakit. Litter
sebaiknya sering dibersihkan.
i) Melakukan vaksinasi.
Vaksinasi harus dilakukan pada semua jenis unggas yang sehat di daerah
yang telah diketahui ada virus flu burung. Vaksin yang digunakan adalah

11
vaksin in aktif (killed vaccine) yang resmi atau telah teregistrasi dari
pemerintah.

Dalam hal vaksin, selama ini Indonesia menggunakan vaksin H5N1 yang low
pathogenic (beresiko rendah menimbulkan penyakit) yang diimpor dari luar
negeri. Namun seiring dengan perkembangan vaksin flu burung di dunia di mana
vaksin H5N1 tidak diproduksi dan tidak boleh digunakan lagi, maka mulai tahun
2006 Departemen Pertanian tidak lagi menggunakan jenis vaksi tersebut dan
menggantinya dengan vaksin H5N2. Vaksin H5N2 dianggap lebih aman dari
pada vaksin H5N1.

2. Pencegahan flu burung pada manusia


Penularan flu burung dari unggas ke manusia dapat dicegah dengan langkah-
langkah berikut ini :
a) Mengonsumsi produk unggas yang benar-benar matang. Daging atau produk
unggas lain yang akan dikonsumsi hendaknya dimasak terlebih dahulu pada
temperatur tinggi (di atas 600C).
b) Makan makanan yang bergizi. Asupan gizi yang baik dapat mengoptimalkan
sistem kekebalan tubuh.
c) Hindari berkunjung ke peternakan, kecuali jika benar-benar diperlukan.
d) Membiasakan hidup bersih. Bersih pribadi, bersih lingkungan dan sering
mencuci tangan.
e) Mebiasakan diri berolah raga secara teratur. Olah raga ringan seperti jogging
yang dilakukan rutin dan teratur serta tidak berlebihan akan sangat membantu
menjaga tubuh agar tetap prima.
f) Istirahat dan tidurlah yang cukup dan berkualitas. Tidur tidak perlu lama,
yang penting berkualitas yang berarti tidurnya nyenyak dan nyaman.

Virus AI dapat dicegah dengan melakukan langkah-langkah sebagai berikut


(WHO/WPRO):
a) Cuci tangan sesering mungkin dengan desinfektan (alcohol 70%);
b) APP (sarung tangan, kacamata, masker, dan lain-lain);

12
c) Vaksinasi virus flu manusia bagi yang terpajan dengan tujuan agar tidak
terjadi dua infeksi gabungan virus flu manusia dan flu burung dalam satu
orang yang memungkinkan timbulnya strain baru virus flu burung yang dapat
ditularkan dari manusia ke manusia;
d) Mereka yang rentan (anak-anak, orang usia lanjut, penderita penyakit jantung,
paru kronis) agar menghindari tempat peternakan unggas.

H. Program Penanggulangan Flu Burung


Kasus flu burung merupakan situasi darurat dan epidemiologis yang
kompekls, yaitu manusia dapat tertular meskipun tidak di semua tempat. Flu burung
saat ini mempunyai strain berbeda yang bersirkulasi dan adanya pemahaman yang
masih konvensional terhadap kasus ini.
Ada dua elemen yang harus dijadikan sasaran dalam pengendalian flu burung,
yaitu pengurangan tingkat keparahan infeksi pada unggas untuk mengurangi risiko
penularan ke manusia (juga melindungi kehidupan manusia dan ekonomi nasional)
dan manajemen kasus klinis manusia dan kesiapsiagaan pandemi flu burung
(pandemic preparedness). Setiap negara/zona/kompartemen harus melaksanakan
suatu penilaian terhadap situasi flu burung yang mencakup faktor-faktor
epidemiologi, faktor biologis, faktor ekonomis, faktor politik, dan sosial.
Beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk mengendalikan kasus flu
burung dalam perspektif kesehatan masyarakat veteriner adalah dengan melakukan
upaya promotif, preventif, kuratif dan rehabilitative, yaitu dengan cara:
1. Destruksi unggas yang terinfeksi dan unggas yang dekat dengan unggas
terinfeksi.
2. Pembersihan dan desinfektan.
3. Peningkatan biosekuriti.
4. Vaksinasi.
5. Pengendalian lalu lintas, termasuk pengendalian impor dan penutupan pasar.
6. Eliminasi sejumlah praktik industri tertentu.

Sepuluh Strategi Nasional Penanggulangan AI (Bappenas, dalan Dirjen


PP&PL Depkes RI) adalah sebagai berikut:
1. Pengendalian penyakit pada hewan.
13
2. Penatalaksanaan kasus pada manusia.
3. Perlindungan kelompok risiko tinggi.
4. Surveilans epidemiologi pada hewan dan manusia.
5. Restrukrisasi sistem industri perunggasan.
6. KIE
7. Penguatan dokumen peraturan.
8. Peningkatan kapasitas.
9. Penelitian kaji tindak.
10. Monitoring dan evaluasi.

Pada strategi 1 yaitu pengendalian penyakit pada hewan bertujuan untuk


menurunkan kasus kematian hewan dan mencegah penyebaran penyakit flu burung
ke daerah yang luas. Target yang telah ditetapkan adalah mempertahankan daerah
bebas flu burung, membebaskan flu burung di sektor 1 dan 2 industri unggas pada
akhir 2008, menekan flu burung di sektor 3 dan 4 industri unggaspada akhis 2008,
dan mencegah penularan flu burung pada hewan sealain unggas. Adapun kegiatan
pokok dari strategi ini yaitu:
1. Melaksanakan depopulasi selektif pada daerah tertular;
2. Melaksanakan stamping out pada daerah tertular baru;
3. Memperketat biosecurity;
4. Meningkatkan pengawasan karantina terhadap lalu lintas media pembawa
Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI);
5. Penyediaan vaksin dan peningkatan cakupan vaksinasi pada hewan terutama
pada sektor 3 dan 4 industri unggas.

Pada strategi 2, yaitu penatalaksanaan kasus pada manusia bertujuan untuk


mencapai kecepatan dan ketepatan diagnosis penyakit dan melaksanakan tata
laksana kasus sesuai standar. Target yang ditetapkan adalah terdeteksinya penyakit
flu burung paling lambat 3 hari di 8 laboratorium regional dan 1 laboratorium
rujukan nasional, semua kasus ditangani sesuai dengan standar pelayanan dan
menurunnya kematian akibat penyakit flu burung. Kegiatan pokok pada strategi ini
yaitu:
1. Pengadaan obat antiviral;
14
2. Pelaksanaan rujukan kasus;
3. Penyediaan sarana dan prasarana penanganan kasus di runah sakit;
4. Penyusunan Standard Operating Procedure (SOP) penatalaksanaan kasus;
5. Pelatihan tenaga kesehatan.

15
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Flu burung atau Avian Influenza (AI) merupakan penyakit hewan menular
yang terjadi pada unggas dan sifatnya sangat mematikan dan zoonosis (dapat
menular pada manusia). Penyebab flu burung adalah virus dari family
Orthomyxoviridae. Gejala pada tersangka AI adalah demam, anoreksia, pusing,
gangguan pernapasan (sesak), nyeri otot, dan mungkin konjungtivitis yang terdapat
pada pasien dengan riwayat kontak dengan unggas. Diagnosis flu burung dibagi
menjadi 3 yaitu kasus tersangka, kasus mungkin dan kasus pasti. Pencegahan flu
burung dapat dilakukan melalui ternak ataupun pada manusia.

B. Saran
Karena penyakit flu burung sangat mudah menular dan mempunyai masa
inkubasi yang pendek maka diharapkan prioritas penangannya. Disamping itu
pemberian penyuluhan kepada kelompok berisiko tinggi perlu ditingkatkan.

16
DAFTAR PUSTAKA

Adisasmito, Wiku. 2007. Sistem Kesehatan. Jakarta:PT RajaGrafindo Persada.

Atmawinata, Edi. 2006. Mengenal Beberapa Penyakit Menular Dari Hewan Kepada
Manusia. Bandung:Yrama Widya.

Widoyono. 2008. Penyakit Tropis Epidemiologi, Penularan, Pencegahan dan


Pemberantasannya. Jakarta:Erlangga.

17