Anda di halaman 1dari 6

makalah tafsir surat ali imran ayat 138-139

MAKALAH
TAFSIR SURAT ALI IMRAN AYAT 138-139

Disusun Guna Memenuhi Tugas


                                    Mata Kuliah                : Tafsir Tarbawi II
                                    Dosen Pengampu        : Nur Hidayati, M.Ag

Oleh Kelas D:
1.      Maela Risqiyani                (2021110144)
2.      M.Saiful Amri                   (2021110155)
3.      Ainiyatun Nihlah              (2021110157)
4.      Moya Shofa                      (2021110169)
5.      Fika Luthfianika               (2021110183)

JURUSAN TARBIYAH PAI


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
TAHUN 2011/2012
BAB I

PENDAHULUAN
             Seperti kita ketahui sendiri, Al-Qur’an adalah kalamullah yang diturunkan kepada
Nabi Muhammad SAW, dengan perantara Malaikat Jibril AS secara berangsur-angsur,
berfungsi sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelas atas petunjuk tersebut serta sebagai
pembeda antara yang haq dan bathil agar bisa membebaskan manusia dari kesesatan menuju
jalan yang lurus. Atas dasar tersebut, maka kami mencoba membahas Tafsir Surat Ali Imran
ayat 138-139 yang menjelaskan tentang salah satu fungsi Al-Qur’an dari sekian banyak
fungsi lainnya yaitu sebagai petunjuk dan pembimbing menuju jalan yang benar agar kita
menjadi orang-orang yang bertaqwa.

BAB II
PEMBAHASAN
A.    Surat Ali Imran Ayat 138-139
ْ J‫وْ ن إِ ْن ُك ْنتُ ْم ُم‬JJَ‫وا َوأَ ْنتُ ُم اأْل َ ْعل‬JJُ‫وا َواَل تَحْ زَ ن‬JJُ‫) َواَل تَ ِهن‬138( َ‫ةٌ لِ ْل ُمتَّقِين‬Jَ‫دًى َو َموْ ِعظ‬Jُ‫اس َوه‬
( َ‫ؤ ِمنِين‬J ِ َّ‫ان لِلن‬J
ٌ َ‫هَ َذا بَي‬
)139
B.      Terjemah Surat Ali Imran Ayat 138-139
                 “(Al-Qur’an) ini adalah penjelasan bagi manusia, petunjuk dan pengajaran bagi
orang-orang yang bertakwa (138). Dan Janganlah kamu merasa lemah dan janganlah pula
kamu bersedih hati. Padahal kamu adalah orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu
(benar-benar) beriman (139)[1]
C.     Mufrodat (Kosakata)
(Al-Qur’an) ini adalah penjelasan bagi ِ َّ‫ان لِلن‬
‫اس‬ ٌ َ‫هَ َذا بَي‬
manusia
Petunjuk ‫َوهُدًى‬
dan pengajaran ٌ‫َو َموْ ِعظَة‬
bagi orang-orang yang bertakwa َ‫لِ ْل ُمتَّقِين‬
dan janganlah kamu merasa lemah ‫َواَل تَ ِهنُوا‬
dan janganlah pula kamu bersedih hati ‫َواَل تَحْ زَ نُوا‬
padahal kamu adalah orang yang paling ‫َوأَ ْنتُ ُم اأْل َ ْعلَوْ ن‬
tinggi (derajatnya)
jika kamu (benar-benar) beriman َ‫إِ ْن ُك ْنتُ ْم ُم ْؤ ِمنِين‬

D.    Tafsir Surat Ali Imran Ayat 138-139


            (Al-Qur’an) ini adalah penjelasan bagi manusia, petunjuk dan pengajaran bagi
orang-orang yang bertakwa (138)
            Al-Qur’an ini adalah penerang bagi manusia secara keseluruhan. Ini adalah kutipan
peristiwa kemanusiaan telah jauh berlalu, yang manusia sekarang tidak dapat mengetahuinya
jika  tidak akan penerangan (penjelasan) yang menunjukannya. Akan tetapi, hanya
segolongan manusia tertentu saja yang mendapatkan petunjuk di dalamnya, mendapatkan
pelajarn dari padanya, mendapatkan manfaat dan menggapai petunjuknya. Mereka itu adalah
golongan “muttaqin” yaitu orang-orang yang bertaqwa.[2]
            Hal ini sesuai dangan firman Allah Surat Al-Baqarah ayat 2
َ‫ْب فِي ِه هُدًى لِ ْل ُمتَّقِين‬
َ ‫َذلِكَ ْال ِكتَابُ اَل َري‬
“Kitab (AL-Qur’an) ini tidak ada kerguan padanya, petunjuk bagi orang-orang yang
bertaqwa”
Selain itu Rasulullah bersabda:

ِ َ‫ت‬ ‫ت فِي ُك ْم أَ ْم َري ِْن لَ ْن‬


‫ ْكتُ ْم‬J‫ا تَ َم َّس‬JJ‫ َم‬ ‫ضلُّوا‬ َ َ‫صلَّى هَّللا ُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم ق‬
ُ ‫ال تَ َر ْك‬ َ ‫ع َْن َمالِك أَنَّهُ بَلَ َغهُ أَ َّن َرس‬
َ ِ ‫ُول هَّللا‬
‫َاب هَّللا ِ َو ُسنَّةَ نَبِيِّه‬
َ ‫بِ ِه َما ِكت‬
                 “Dari Imam Malik, beliau menyampaikan sesungguhnya Rasullah SAW Bersabda:
“Aku telah meninggalkan kepada kalian dua perkara, kamu takkan pernah tersesat selama
kalian berpegang teguh pada keduanya yaitu Kitabullah (Al-Qur’an) dan Sunnah Nabi.”  [3]
            Surat Ali Imran ayat 138 juga memerintahkan untuk mempelajari sunnatullah atau
yang biasa disebut oleh seorang ilmuwan yang bernama Alexis Carrel sebagai hukum-kukum
kemasyarakatan/alam/materi. Hukum-hukum Alam yaitu hukum-hukum  yang bersifat umum
dan pasti, tidak ada satu pun, di negeri manapun yang dapat terbebaskan dari sanksi bila
melanggarnya. Manusia yang tidak bisa membedakan antara yang halal dan haram, yang baik
dan buruk, mereka akan terbentur oleh malapetaka, bencana dan kematian. Ini semata-mata
adalah sanksi otomatis, karena kepunahan adalah akhir dari mereka yang melanggar hukum-
hukum alam. Tiadk heran hal ini diungkap Al-Qur’an, karena Al-Qur’an mengatur kehidupan
masyarakat dan berfungsi mengubah masyarakat dan anggota-anggotanya dari kegelapan
menuju cahaya, dari kehidupan negatif menjadi positif.
            Pernyataan Allah: (Al-Qur’an) Ini adalah penjelasan bagi manusia  juga
mengandung makna bahwa Allah tidak akan langsung menjatuhkan sanksi sebelum manusia
mengetahui sanksi itu. Karena terlebih dahulu Allah akan memberikan petunjuk jalan dan
peringatan (Hidayah-Nya)[4]
Dan Janganlah kamu merasa lemah dan janganlah pula kamu bersedih hati. Padahal
kamu adalah orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu (benar-benar) beriman (139)
Uraian yang diantar oleh ayat sebelumnya yang menguraikan tentang
adanya Sunnatullah  atau hukum alam yang berlaku kepada manusia. Kalau pada perang uhud
Kaum Muslimin tidak meraih kemenangan, bahkan menderita luka dan banyak yang mati
syahid, walaupun dalam perang Badar mereka meraih kemenangan dan berhasil menawan
dan membunuh sekian banyak lawan mereka, karena itu adalah bagian dari Sunnatullah.
Namun demikian, mereka tidak perlu berputus asa. Karena itu, Janganlah kamu merasa
lemah, menghadapi musuhmu dan musuh Allah, kuatkan jasmaninya dan janganlah kamu
bersedih hati akibat apa yang kamu alami perang Uhud, atau peristiwa lain yang serupa, tapi
kuatkan mentalmu untuk berusaha yang lebih baik. Padahal kamu adalah orang yang paling
tinggi (derajatnya) di sisi Allah baik di dunia maupun akhirat, di dunia karena kamu
memperjuangakan kebenaran dan di akhirat karena kamu akan mendapatkan surga. Jadi
mengapa kamu bersedih hati sedangkan yang gugur diantara kamu akan menuju surga dan
yang luka akan mendapat luka akan mendapat ampunan dari Allah SWT. Ini jika kamu
(benar-benar) beriman,  yakni jika keimanannya benar-benar mantap dalam hatinya[5]
Maka dari itu, kamu tidaklah perlu bersikap lemah dan bersedih hati atas apa yang
menimpamu dan luput darimu karena kamu adalah orang-orang yang paling tinggi
derajatnya. Aqidahmu lebih tinggi karena kamu hanya menyembah kepada Allah saja.
Sedangkan mereka menyembah kepada selain Allah. Maka jika kamu benar-benar beriman
maka kamu akan ditinggikan derajatnya dan tidak akan mersa sedih karena semua itu adalah
sunnatullah yang bisa ditimpakan pada siapa saja yang Allah kehendaki. Akan tetapi, hanya
kamulah yang akan mendapat akibat (balasan kebaikan) setalah berijtihad dan berusaha keras
dalam menempuh ujian[6]
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda:          
‫ص َعلَى َم!!ا‬ ْ ‫اح! ِر‬ْ ‫يف َوفِي ُك ٍّل َخ ْي ٌر‬ ِ ‫ض ِع‬ َّ ‫ي َخ ْي ٌر َوأَ َح ُّب إِلَى هَّللا ِ ِمنْ ا ْل ُمؤْ ِم ِن ال‬ُّ ‫ا ْل ُمؤْ ِمنُ ا ْلقَ ِو‬ 
‫!و أَنِّي فَ َع ْلتُ َك!انَ َك! َذا َو َك! َذا‬
ْ َ‫ش! ْي ٌء فَاَل تَقُ! ْل ل‬َ ‫ص!ابَ َك‬ َ َ‫ستَ ِعنْ بِاهَّلل ِ َواَل تَ ْع َج! ْز َوإِنْ أ‬ ْ ‫يَ ْنفَ ُعكَ َوا‬
   ‫ش ْيطَان‬ َّ ‫َولَ ِكنْ قُ ْل قَ َد ُر هَّللا ِ َو َما شَا َء فَ َع َل فَإِنَّ لَ ْو تَ ْفت َُح َع َم َل ال‬
“Orang mu’min yang kuat (hatinya) lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada
orang mu’min yang lemah dan didalam keduanya terdapat kebaikan (karena sama-sama
beriman), dan bersemangatlah atas apa-apa yang akan bermanfaat bagimu dan mintalah
pertolongan kepada Allah dan janganlah kamu berputus asa dan jika kamu sedang
mendapat   cobaan maka janganlah kamu mengatakan : “seandainya aku berbuat seperti ini
dan seperti itu” akan tetapi katakanlah “ini semua adalah kuasa Allah dan merupakan
kehendak-Nya” karena sesungguhnya mengandai-andai akan membuka (pintu) godaan dari
perbuatan syetan” [7]
E.     Kandungan Hukum dan Aspek Tarbawi
(Al-Qur’an) ini adalah penjelasan bagi manusia, petunjuk dan pengajaran bagi
orang-orang yang bertakwa (138)
Mempelajari sejarah umat-umat terdahulu dan melihat berkasnya dengan melawat
mengembara dengan sendirinya akan memperoleh penjelasan, petunjuk dan pengajaran. Ilmu
kita akan bertambah-tambah tentang perjuangan hidup manusia didalam alam ini. Dalam ayat
ini kita berjumpa dengan anjuran mengetahui mengetahui beberapa ilmu penting. Pertama,
sejarah; kedua, ilmu bekas peninggalan sejarah; ketiga ilmu siasat perang; keempat, ilmu
siasat mengendalikan Negara. Di dalam sejarah misalnya banyak kita temui hal-hal penting.
Meskipun tidak seluruhnya ditulis di Al-Qur’an hanya berkenaan dengan perjuangan Rasul-
rasul., misalnya perjuangan Nabi Musa AS menentang kezhaliman raja Fir’aun, atau Nabi
Ibrahim AS menghadapi kamunya dan Raja Namrud, namun yang tidak tertuils dalm Al-
Qur’an dapat kita cari dari bahan lain. Misalnya penyerbuan tentara Iskandar Macedonia dari
Barat ke Timur. Mengapa Iskandar yang tentaranya tidak mencukupi 100.000 orang bisa
mengalahkan tentara Darius, Raja Persia, yang jumlahnya hampir setengah juta? sebab
tentara Iskandar ringan, sigap, lincah. Sedangkan tentara Darius telah berat oleh pakaian dan
perhiasan. Darius hanya menggantungkan kekuatan hanya kepada banyaknya jumlah tentara,
padahal Iskandar mempunyai disiplin yang teguh dan tentara yang cekatan.[8]
Al-Qur’an telah memberikan petunjuk kepada kita tentang masalah-masalah strategi
pertempuran menghadapi musuh, sampai bagaimana kita mempersiapkan diri. Dalam hal ini,
kita dianjurkan mengetahui hakikat persiapan supaya kita melangkah dengan kewaspadaan
dalam membela kebenaran[9]
Dan Janganlah kamu merasa lemah dan bersedih hati. Padahal kamu adalah orang
yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu (benar-benar) beriman (139)
Sesungguhnya Allah melarang merasa susah terhadap apa yang telah lewat, karena hal
tersebut akan mengakibatkan seseorang kehilangan semangatnya. Sebaliknya Allah tidak
melarang hubungan seseorang dengan apa yang dicintainya, yaitu harta, kekayaan, atau
teman yang dapat memulihkan kekuatannya, serta dapat mengisi hatinya dengan
kegembiraan. Untuk itu kalian adalah orang-orang yang lebih utama memiliki keteguhan
tekad lantaran pengetahuan kalian tentang balasan yang baik dan berpegang pada kebenaran.
Sekali waktu kemenangan berada pada pihak yang bathil, begitu pula sebaliknya
karena semua itu adalah Sunatullah. Sesungguhnya hari kemenangan hanyalah bagi orang
yang mengetahui dan mau memelihara sebab-sebab keberhasilan dengan sebaik-baiknya
seperti kesepatan, tidak pernah berselisih, teguh, selalu berfikir, kuat tekadnya, dan
mengambil persiapan serta menyusun segala kekuatan yang ada untuk menghadapinya.  [10] 

BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN

            Kesimpulannya, bahwa didalam Surat Ali Imran ayat 138-139 mengandung perintah
untuk melakukan persiapan, menyediakan segala sesuatunya termasuk dengan tekad dan
semangat yang benar., di samping keteguhan hati dan tawakkal kepada Allah. Supaya kita
bisa meraih keberhasilan dan mendapatkan apa yang kita inginkan, seta dapat
mengembalikan kerugian atau kegagalan-kegagalan yang telah diderita

DAFTAR PUSTAKA
  Rifai, Moh. Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Semarang:Wicaksana,1999)
  Quthb, Sayyid. Dalam Naungan Al-Qur’an ( Fi Zhilalil Qur’an). Juz II (Jakarta:Gema Insani
Press,2001)
  Anas, Malik bin. Al-Muwatha’. Juz V
  Shihab, Quraish. Tafsir Al-Misbah. Juz II (Jakarta:Lentera Hati,2002)
  Muslim, Imam. Shahih Muslim. Juz 13
  Hamka. Tafsir Al-Azhar. Juz IV (Jakarta:Pustaka Panjimas,2004)
  Al-Maraghi, Ahmad Mustafa. Tafsir Al-Maraghi. Juz IV (Semarang:PT. Karya Toha
Putra,1993)

[1]  Moh.Rifai, Al-Qur’an dan Terjemahannya ,(Semarang:Wicaksana,1999)


[2]  Sayyid Quthb, Dalam NaunganAl-Qur’an ( Fi Zhilalil Qur’an). Juz II (Jakarta:Gema Insani
Press,2001)  hal. 167
[3] Malik bin Anas, Al-Muwatha’.  Juz V hal.371
[4] Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah. Juz II  (Jakarta:Lentera Hati,2002) hal.225
[5]  Ibid  hal.226-227
[6]  Sayyid Quthb, Op.Cit.  hal.167-168
[7]  Imam Muslim, Shahih Muslim.  Juz 13 Hal.142
[8]  Hamka. Tafsir Al-Azhar. Juz IV (Jakarta:Pustaka Panjimas,2004) hal. 120
[9]  Ahmad Mustafa Al-Maraghi, Tafsir Al-Maraghi. Juz IV (Semarang:PT. Karya Toha Putra,1993)
hal.133
[10]  Ibid hal.134-135