Anda di halaman 1dari 19

PERKULIAHAN TAFSIR PENDIDIKAN, TEMA "TUJUAN PENDIDIKAN"

PERKULIAHAN TAFSIR PENDIDIKAN

TUJUAN PENDIDIKAN

Oleh:

Siti Hajar (1611128)

Umi Fahira Mustika (1611132)

Jurusan/Prodi: Tarbiyah/PAI

Dosen Pengampu:

Nasrun, MA

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI

SYAIKH ABDURRAHMAN SIDDIK

BANGKA BELITUNG

2017

-------------

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang Maha Pengasih dan Penyayang. Kasih-Nya tiada batas dan
sayang-Nya melimpah kepada hamba-Nya. Atas rahmat dan pertolongan Allah swt, penulis mampu
menyelesaikan penulisan makalah tentang “Tafsir Pendidikan tentang Tujuan Pendidikan ”. Makalah
ini ditulis dengan maksud sebagai bahan presentasi mata kuliah Tafsir Pendidikan dan menjadikan
penambahan wawasan pengetahuan.

Penulis berharap makalah ini berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalama, penulis yakin masih banyak kekurangan
dalam makalah ini. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun
dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Petaling, 11 April 2017

Penulis

---------------

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..................... 1

DAFTAR ISI ..................... 2

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ..................... 3

B. Rumusan Masalah ..................... 3

C. Tujuan Penulisan ..................... 3


BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Tujuan Pendidikan ..................... 4

B. Redaksi Penafsiran Ayat Al-Qur’an ..................... 8

C. Kontekstualisasi Masalah ..................... 17

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan ..................... 19

B. Saran ..................... 19

DAFTAR PUSTAKA ..................... 20

--------------

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Al-Qur’an adalah kalam Allah swt yang bernilai mukjizat, yang diturunkan kepada Rasul, dengan
perantara makalikat Jibril AS yang tertulis pada mashahif. Diriwayatkan kepada kita dengan
mutawatir. Membacanya teritung ibadah. Diawali dengan surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat
An-Nas. Al-Quran adalah sebagai tata kehidupan umat dan petunjuk bagi makhluk. Ia merupakan
tanda kebenaran Rasulullah SAW, merupakan bukti yang jelas atas kenabian dan kerasulannya. Oleh
karena keagungan dan kepentingan Al-Quran bagi umat manusia maka diperlukan pemahaman yang
berdasar dari Rasulullah SAW dan riwayat yang disampaikan oleh para sahabat dan tabi’in r.a.
Dalam pembahasan Al-Quran sebagai kumpulan wahyu Allah SWT, maka kami mencoba membahas
Tafsir Surat Ali Imran ayat 138-139 yang menjelaskan tentang tujuan pendidikan dan sebagai
petunjuk untuk menuju jalan yang benar agar kita menjadi orang-orang yang bertaqwa. Agama Islam
sangat menjunjung tinggi pendidikan, serta tidak membeda-bedakan pendidikan kepada laki-laki
maupun pendidikan kepada wanita.

B. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan tujuan pendidikan Islam ?

2. Bagaimana redaksi penafsiran surat yang bekaitan dengan tujuan pendidikan Islam?

3. Bagaimana kontekstualisasi masalah pada zaman sekarang ?

C. Tujuan Penulisan

1. Mengetahui tujuan pendidikan Islam.?

2. Mengetahui penafsiran ayat al-Qur’an tentang tujuan Pendidikan Islam.?

3. Mengetahui masalah yang bekaitan dengan ayat tentang tujuan pendidikan Islam.

--------------

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Tujuan Pendidikan Islam

Tujuan berarti arah atau sasaran yang ingin dicapai. Dalam Bahasa Arab, tujuan itu disebut dengan
al-hadf dan al-ghard. Al-Hadf, secara harfiah berarti al-ghard al muntadal fiihi bi al-siham ( sasaran
atau objek yang diperlombakan dengan panah. ) atau kullu shay’in ‘aziim murtafi’( segala sesuatu
yang besar dan tinggi). Dan al-ghard berarti maksud atau yang diinginkan. Ibn Manzur
mendefinisikannya kepada al-hadf al-ladhi yunsabu fayurmaa fiihi (sasaran yang ditinggikan
kemudian dilempar). Berdasarkan makna harfiah, tujuan dapat diartikan kepada sesuatu yang sangat
didambakan bagaikan pemanah yang berharap agar anak panahnya dapat mencapai sasaran atau
objek yang dipanah. [1]

Sementara dalam bahasa inggris diistilahkan dengan “goal, purpose, objectives atau aim”. Secara
terminology, tujuan berarti “sesuatu yang diharapkan tercapai setelah sebuah usaha atau kegiatan
selesai. Secara umum, tujuan pendidikan islam terbagi menjadi tujuan umum, tujuan sementara,
tujuan akhir dan tujuan operasional. Tujuan umum adalah tujuan yang akan dicapai dengan semua
kegiatan pendidikan baik dengan pengajaran atau dengan cara lain. Tujuan sementara adalah tujuan
yang akan dicapai setelah anak didik diberi sejumlah pengalaman tertentu yang direncanakan dalam
sebuah kurikulum. Tujuan akhir adalah tujuan yang dikehendaki agar peserta didik menjadi manusia-
manusia sempurna setelah menghabiskan sisa umurnya. Sementara tujuan operasional adalah
tujuan praktis yang akan dicapai dengan sejumlah kegiatan pendidikan tertentu. [2]

Berdasarkan penjelasan diatas pengertian pendidikan Islam yaitu sebuah proses yang dilakukan
untuk menciptakan manusia-manusia seutuhnya; beriman dan bertakwa kepada Tuhan serta
mampu mewujudkan eksistensinya sebagai khalifah di muka bumi, yang berdasarkan kepada ajaran
Al-Qur’an dan Sunnah, maka tujuan dalam konteks ini berarti terciptanya insan-insan kamil setelah
proses pendidikan berakhir. [3]

Tujuan Pendidikan menurut para tokoh Pendidikan adalah sebagai berikut :

1. Menurut Abdurrahman Saleh Abdullah

Abdurrahman Saleh Abdullah mengatakan dalam bukunya “Educational Theory a Qur’anic Outbook”,
bahwa pendidikan islam bertujuan untuk membentuk kepribadian sebagai khalifah atau sekurang-
kurangnya mempersiapkan kejalan yang mengacu kepada tujuan akhir. Tujuan utama khalifah Allah
adalah beriman kepada Allah dan tunduk serta patuh secara total kepada-Nya.

Selanjutnya tujuan pendidikan Islam menurutnya dibangun atas tiga komponen sifat dasar manusia
yaitu: 1). Tubuh; 2). Ruh, dan 3). Akal yang masing-masing harus dijaga. Berdasarkan hal tersebut
maka tujuan pendidikan Islam dapat diklasifikasikan kepada:[4]

a. Tujuan pendidikan jasmani

Kekuatan fisik merupakan bagian pokok dari tujuan pendidikan, maka pendidikan harus mempunyai
tujuan ke arah keterampilan-keterampilan fisik yang dianggap perlu bagi tumbuhnya keperkasaan
tubuh yang sehat. Pendidikan Islam dalam hal ini mengacu pada pembicaraan fakta-fakta terhadap
jasmani yang relevan bagi para pelajar.

b. Tujuan pendidikan rohani

Orang yang betul-betul menerima ajaran Islam tentu akan menerima seluruh cita-cita ideal yang
terdapat dalam Al-Qur’an. Peningkatan jiwa dan kesetiaannya yang hanya kepada Allah semata dan
melaksanakan moralitas Islami yang diteladani dari tingkah laku Nabi SAW merupakan bagian pokok
dalam tujuan pendidikan Islam.Tujuan pendidikan Islam harus mampu membawa dan
mengembalikan ruh tersebut kepada kebenaran dan kesucian. Maka pendidikan Islam menurut
Muhammad Qurb ialah meletakkan dasar-dasar yang harus memberi petunjuk agar manusia
memlihara kontaknya yang terus menerus dengan Allah SWT.

c. Tujuan pendidikan akal

Tujuan ini mengarah kepada perkembangan intelegasi yang mengarahkan setiap manusia sebagai
individu untuk dapat menemukan kebenaran yang sebenar-benarnya. Pendidikan yang dapat
membantu tercapainya tujuan akal, seharusnya dengan bukti-bukti yang memadai dan relevan
dengan apa yang mereka pelajari. Di samping itu pendidikan Islam mengacu kepada tujuan memberi
daya dorong menuju peningkatan kecerdasan manusia.[5]

d. Tujuan pendidikan sosial

Seorang khalifah mempunyai kepribadian utama dan seimbang, sehingga khalifah tidak akan hidup
dalam keterasingan dan ketersendirian. Oleh karena itu, aspek sosial dari khalifah harus
dipelihara.Fungsi pendidikan dalam mewujudkan tujuan sosial adalah menitikberatkan pada
perkembangan karakter-karakter manusia unik, agar manusia mampu beradaptasi dengan standar-
standar masyarakat bersama-sama dengan cita-cita yang ada padanya. Keharmonisan menjadi
karakter utama yang ingin dicapai dalam tujuan pendidikan Islam.Sedangkan tujuan akhir pendidikan
Islam versi Abdurrahman adalah mewujudkan manusia ideal sebagai abid Allah atau ibad Allah, yang
tunduk secara total kepada Allah.

2. Menurut Imam Al-Ghazali

Al-Ghazali, sebagaimana yang dikutip oleh Fatiyah Hasan Sulaiman menjelaskan bahwa tujuan
pendidikan Islam dapat diklasifikasikan kepada:

a. Membentuk Insan Purna yang pada akhirnya dapat mendekatkan diri kepada Allah SWT.
b. Membentuk Insan Purna untuk memperoleh kebahagiaan hidup baik di dunia maupun di akhirat.

Dari kedua tujuan di atas dapat dipahami bahwa tujuan pendidikan versi Al_Ghazali tidak hanya
bersifat ukhrawi (mendekatkan diri kepada Allah), sebagaimana yang dikenal dengan kesufiannya,
tetapi juga bersifat duniawi. Karena itu Al-Ghazali memberi ruang yang cukup luas dalam system
pendidikannya bagi perkembangan duniawi.[6]

3. Menurut M. Djunaidi Dhany

Tujuan pendidikan menurut M. Djunaidi Dhany, sebagaimana yang dikutip oleh Zainuddin dkk.,
adalah sebagai berikut:

a. Pembinaan kepribadian anak didik yang sempurna.

b. Peningkatan moral, tingkah laku yang baik dan menanamkan rasa kepercayaan anak terhadap
agama dan kepada Tuhan.

c. Mengembangkan intelegensi anak secara efektif agar mereka siap untuk mewujudkan
kebahagiaannya di masa mendatang.

4.Tujuan pendidikan menurut Hasan Langgulung

Dalam bukunya “Asas-asas Pendidikan Islam”, Hasan Langgulung menjelaskan, bahwa tujuan
pendidikan harus dikaitkan dengan tujuan manusia, atau lebih tegasnya, tujuan pendidikan adalah
untuk menjawab persoalan “untuk apa kita hidup?.”Islam telah memberi jawaban yang tegas dalam
hal ini, seperti firman Allah swt:

Artinya:“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-
Ku.” (Q.S Ad-Dzariyat: 56).[7]
B. Redaksi Penafsiran Ayat Al-Qur’an

1. Surat Ali Imron ayat 138 – 139

Artinya: “(Al Qur'an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi
orang-orang yang bertakwa. Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih
hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang
beriman”.

a. Penafsiran

Pada ayat ini membicarakan tentang kelompok pada perang uhud. Pada perang uhud mereka tidak
meraih kemenangan bahkan menderita luka dan pembunuhan. Namun, apa yang mereka alami
dalam perang uhud tidak menjadikan mereka putus asa. Karena itu, janganlah kamu melemah
menghadapi musuhmu dan musu Allah, kuatkan jasmanimu dan janganlah (pula) kamu bersedih
akibat dari apa yang kamu alami dalam perang uhud,atau peristiwa lain yang serupa, kuatkanlah
mentalmu. Mengapa kamu lemah atau besedih padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi
(derajatnya) di sisi Allah di dunia dan di akhirat. Di dunia kamu memperjuangkan agama Allah itulah
sebuah kebenaran, di akhirat kamu mendapatkan surga Allah. Ini jika kamu orang-orang Mukmin,
yakni benar benar keimanan telah mantap dalam hatimu. [8]

Bila kita kaitkan dengan tujuan dari pendidikan itu sendiri dapat diketahui sebagai berikut:
1. Mewujudkan bimbingan pada manusia agar tidak binasa dengan hukum-hukum alam.

2. Mewujudkan kebahagiaan pada hambanya.

3. Menjadikan manusia yang intelek dan memunyai derajat yang tinggi.

Al-Qur’an mengisyaratkan ketiga nilai di atas dalam firman-Nya dalam surat Ali Imran, ayat 104 yang
yang berbunyi:

Artinya :“ Dan hendaklah ada di Antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan,
menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar merekalah orang-orang beruntung.”
(Q.S. Ali Imran [03]:104)

Kaitannya dengan tujuan pendidikan sebagai berikut :

1. Mewujudkan seorang yang selalu menegakkan kebenaran dan mencegah kemunkaran.

2. Mewujudkan manusia yang selalu bertawakal pada Allah.

b. Implementasi terhadap tujuan pendidikan


Dalam ayat ini telah jelas bahwa salah satu tujuan pendidikan adalah menciptakan seorang Khalifah
yang kuat, bertakwa dan memiliki perasaan yang kuat. Seorang pemipin tidak boleh memiliki hati
yang lemah yang selalu bersedih hati padahal terang dalam Al-Qur’an dikatakan bahwa orang-orang
yang bertakwa akan ditinggikan derajatnya jika dia memiliki hati dan perasaan yang kuat.[9]

2. Surah Al Fath [48]: 29

Artinya: “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah
keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku'
dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka
mereka dari bekas sujud [1407]. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka
dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman
itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati
penanam- penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan
kekuatan orang-orang mu'min). Allah menjanjikan kepada orang- orang yang beriman dan
mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. “
a. Tafsir

Isi kandungan ayat ini meiputi keimanan, hukum, dan kisah-kisah. Dalam aspek keimanan
dikemukakan tentang Allah mempunyai tentara dilangit dan di bumi, janji Allah swt kepada orang-
orang yang beriman bahwa mereka akan mendapat ampunan Allah dan pahala yang besar, Allah
SWT mengutus Muhammad Saw sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan,
dan ayat ini mengangkat tentang agama Islam akan mengalahkan agama-agama lain. Adapun dari
segi hukum ayat ini menjelaskan tentang orang yang cacat dan orang orang yang sakit dibebaskan
dari kewajiban berperang. Sementara itu dalam hal kisah, ayat ini mengangkat tentang kejadian-
kejadian seputar Bait Al Ridhwan dan perjanjian Hudaibiyah.

Dalam ayat ini Allah menjelaskan sifat dan sikap Nabi Muhammad saw beserta pengikut-pengikut
beliau. Dalam hal ini Allah berfirman: Nabi Muhammad adalah utusan Allah yang diutusnya
membawa rahmat bagi seluruh alam dan orang-orang yang bersama dengannya yakni sahabat-
sahabat Nabi serta pengikut-pengikut setia beliau adalah orang-orang yang bersikap keras yakni
tegas tidak terbasa-basi yang mengorbankan akidahnya terhadap orang-orang kafir. Walau mereka
memiliki sikap tegas tetapi mereka berkasih syang antar sesame mereka. Mereka juga ruku’ dan
sujud dengan tulus dan ikhlas karena Allah, senantiasa mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya
yang agung. [10]

b. Implementasi terhadap tujuan pendidikan

Setelah Allah SWT menyebutkan bahwa Dia mengutus rasul-Nya dengan petunjuk dan agama Islam,
supaya Dia meluhurkan derajat agama tersebut atas semua agama-agama yang lain, maka
dilanjutkan dengan menerangkan ihwal rasul dan umat yang kepada mereka ia diutus. Allah
menggambarkan mereka dengan sifat-sifat yang seluruhnya terpuji dan merupakan peringatan bagi
generasi sesudah mereka dan dengan sifat-sifat itulah mereka dapat menguasai bangsa-bangsa lain
dan memiliki negeri-negeri mereka, bahkan menggenggam tampak kepemimpinan seluruh dunia,
yaitu:

1. Bahwa mereka bersikap keras terhadap siapapun yang menentang agama-Nya, dan mengajak
bermusuhan, dan bersifat belas kasih sesama mereka.

2. Bahwa mereka menjadikan salat dan keikhlasan kepada Allah sebagai kebiasaan mereka pada
kebanyakan waktu.
3. Bahwa mereka dengan amal mereka mengharapkan pahala dari Tuhan mereka dan kedekatan
disisi-Nya serta keridhaan . Mereka mempunyai tanda yang dengan itu mereka mudah dikenal. Yakni
bahwa mereka bercahaya pada wajah mereka, khusyu’ dan tunduk yang bias dikenali orang yang
cerdas.

4. Bahwa injil mengumpamakan keadaan mereka dengan mengatakan akan muncul suatu kaum yang
akan tumbuh bagian tumbuhnya tanaman, mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah
dari kemungkaran.

3. Q.S Ad-Dzariyat [51]:56

Artinya: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-
Ku”.

Islam sangat mementingkan Pendidikan. Dengan pendidikan yang benar dan berkualitas, individu-
individu yang beradab akan terbentuk yang akhirnya memunculkan kehidupan sosial yang bermoral.
Penekanan kepada anak didik supaya hidup dengan nilai-nilai kebaikan, spiritual dan moralitas
seperti terabaikan. Pendidikan dipandang secara ekonomis dan dianggap sebagai sebuah investasi.
Gelar dianggap sebagai tujuan utama, ingin secepatnya diraih supaya modal yang selama ini
dikeluarkan akan menuai keuntungan. Sistem pendidikan yang seperti ini sekalipun akan
memproduksi anak didik yang memilih status pendidikan yang tinggi, namun status tersebut tidak
akan menjadikan mereka sebagai individu-individu yang beradab. Pendidikan yang bertujuan
pragmatis dan ekonomis sebenarnya merupakan pengaruh dari paradigma pendidikan Barat yang
sekuler.

Dalam budaya Barat sekuler, tingginya pendidikan seseorang tidak berkorespondensi dengan
kebaikan dan kebahagiaan individu yang bersangkutan. Dampak dari hegemoni pendidikan Barat
terhadap kaum Muslimin adalah banyaknya dari kalangan Muslim yang mempunyai pendidikan yang
tinggi, namun dalam kehidupan nyata, mereka belum menjadi muslim yang baik dan berbahagia.
Masih ada kesenjangan antara tingginya gelar pendidikan yang diraih dengan rendahnya moral serta
akhlak kehidupan sebagai muslim.

Tujuan pendidikan dalam Islam secara induktif dengan melihat dalil dalil naqli yang sudah ada dalam
al-Quran maupun Hadis, juga memadukannya dalam konteks kebutuhan dari masyarakat secara
umum dalam pendidikan, sehingga diharapkan tujuan pendidikan dalam Islam dalam diaplikasikan
pada wacana dan realitas kekinian. Tujuan pendidikan yang utama dalam Islam menurut al-Quran
adalah agar terbentuk insan-insan yang sadar akan tugas utamanya di dunia ini sesuai dengan asal
mula penciptaannya, baik dari sisi pendidik maupun anak didik, harus didasari sebagai pengabdian
kepada Allah SWT semata.

Ibadah dalam pandangan ilmu Fiqh ada dua yaitu ibadah mahdloh dan ibadah ghoiru mahdloh.
Ibadah mahdloh adalah ibadah yang telah ditentukan oleh Allah bentuk, kadar atau waktunya
seperti hanlnya shalat, zakat, puasa dan haji. Sedangkan ibadah Ghoiru mahdloh adalah sebaliknya,
kurang lebih yaitu segala bentuk aktifitas manusia yang diniatkan untuk memperoleh ridho dari
Allah. Segala aktifitas pendidikan, belajar mengajar dan sebagainya adalah termasuk dalam kategori
ibadah. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi SAW:

)‫طلب العلم فر يضة علئ كل مسلم و مسلمة(رواه ابن عبد ا لبر‬

Artinya : “ Menuntut Ilmu adalah fardlu bagi tiap-tiap orang Islam laki-laki dan perempuan “.(H.R Ibn
Abdulbari)

Pendidikan sebagai upaya perbaikan yang meliputi keseluruhan hidup individu termasuk akal, hati
dan rohani, jasmani, akhlak, dan tingkah laku. Melalui pendidikan, setiap potensi yang di
anugerahkan oleh Allah SWT dapat dioptimalkan dan dimanfaatkan untuk menjalankan fungsi
sebagai khalifah dimuka bumi. Sehingga pendidikan merupakan suatu proses yang sangat penting
tidak hanya dalam hal pengembangan kecerdasan, namun juga untuk membawa peserta didik pada
itingkat manusiawi dan peradaban, terutama pada zaman modern dengan berbagai kompleksitas
yang ada.

Dalam penciptaannya, manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan dua fungsi, yaitu fungsi sebagai
khalifah di muka bumi dan fungsi manusia sebagai makhluk Allah yang memiliki kewajiban untuk
menyembah-Nya. Kedua fungsi tersebut juga dijelaskan oleh Allah dalam firman-Nya berikut ini:
Artinya: “..sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi...” (Q.S Al-
Baqarah[2]:30).

Dalam Khazanah tujuan akhir pendidikan Islam pada umumnya para ulama berpendapat bahwa
tujuan akhir pendidikan Islam adalah untuk beribadah kepada Allah. Pendidikan Islam bukan sekedar
diarahkan untuk mengembangkan manusia yang beriman dan bertakwa, tetapi justru berusaha
mengembangkan manusia menjadi imam/pemimpin bagi orang yang beriman dan bertakwa
(waj’alna al-muttaqina imaama).

Kaitannya dengan tujuan pendidikan sebagai berikut;

1. Mewujudkan seorang hamba yang shaleh.

2. Mewujudkan akan keesaan Tuhan.

3. Mewujudkan manusia yang ahli do’a.

4. Menunjukkan akan luasnya ilmu Tuhan.

5. Surat al-Baqarah ayat 247

Artinya: “Nabi mereka mengatakan kepada mereka: "Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut
menjadi rajamu." Mereka menjawab: "Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih
berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup
banyak?" Nabi (mereka) berkata: "Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya
ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa." Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang
dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahu”..

a. Tafsir

Kandungan ayat ini meliputi tiga golongan manusia (mukmin, kafir, munafik) dalam al-Quran(ayat 1-
20), keesaan dan kekuasaan Allah SWT (ayat 21-39), peringatan Allah kepada Bani Israil (ayat 40-
141), Ka’bah adalah kiblat bagi kaum muslimin (ayat 142-214), beberapa hukum syariat ( ayat 215-
252), tentang rasul – rasul dan kekuasaan Allah SWT ( ayat 253-260) dan lain sebagainya.

Ayat ini menerangkan mengenai kisah pengangkatan Thalut sebagai raja Bani Israil. Allah
menceritakan kisah ini dengan sangat indah, dimana orang yang berpendidikan dan mempunyai fisik
kuatlah yang pantas menjadi pemimpin dan melaksanakan titah sebagai khalifah fil ardl. Nabi
Syamuil mengatakan kepada Bani Israil, bahwa Allah SWT telah mengangkat Thalut sebagai raja.
Orang-orang Bani Israil tidak mau menerima Thalut sebagai raja dengan alasan, bahwa menurut
tradisi, yang boleh dijadikan raja hanyalah dari kabilah Yahudi, sedangkan Thalut adalah dari kabilah
Bunyamin. Lagi pula disyaratkan yang boleh menjadi raja harus seorang hartawan, sedang Thalut
sendiri bukan seorang hartawan. Oleh karena itu secara spontan mereka membantah, “ Bagaimana
Tahlut akan memerintah kami, padahal kami lelbih berhak untuk mengendalikan pemerintahan
daripadanya, sedang dia pun tidak diberi kekayaan yang cukup untuk menjadi raja?”

Nabi Syamuil menjawab bahwa Thalut diangkat menjadi raja atas pilihan Allah SWT karena itu Allah
menganugerahkan kepadanya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa sehingga ia mampu untuk
memimpin Bani Israil. Dari ayat ini dapat diambil pengertian bahwa seorang yang akan dijadikan raja
ataupun pemimpin hendaklah memiliki sifat sifat sebagai berikut :

1. Kekuatan fisik sehingga mampu untuk melaksanakannya sebagai kepala negara.

2. Ilmu pengetahuan yang luas, mengetahui di mana letaknya kekuatan umat dan kelemahannya,
sehingga dapat memimpinnya dengan penuh kebijaksanaaan.

3. Kesehatan jasmani dan kecerdasan pikiran.

4. Bertakwa kepada Allah supaya mendapat taufik daripadan-Nya untuk mengatasi segala kesulitan
yang tidak mungkin diatasinya sendiri kecuali dengan taufik dan hidayah-Nya.

C. Kontekstualisasi Masalah
Ridwan Kamil menjadi sorotan karena menolak diusung menjadi calon Gubernur DKI Jakarta. Dia
lebih memilih focus untuk menyelesaikan masa jabatannya saat ini. Emil mengaku sudah bersahabat
dengan Jokowi bahkan saat masih menjabat wali kota Solo. Karena itu, pandangan Jokowi menjadi
salah satu masukan untuk mengambil keputusan terbaik. Jokowi juga disebutnya berpesan bahwa
pemimpin yang memiliki potensi bukan untuk di adu bertanding kalah atau menang. Justru harus
diapresiasiuntuk saling mendukung kemajuan Negara. Selain itu, Kang Emil menilai perlu
menuntaskan permasalahan kota Bandung yang belum sempurna. Sesuai janji kampanyenya saat
terpilih menjadi walikota Bandung. Saat ini, amanah sudah banyak diabaikan dan para penguasa
memilih bersifat pragmatis dengan mementingkan harta, tahta, dan wanita. Hal ini seperti santapan
empuk media massa. Rasulullah SAW telah mengingatkan dalam hadis Bukhari tentang tiga tanda
orang munafik, yaitu jika berkata dusta, jika diberi amanah khianat, dan jika berjanji ingkar. Hadis ini
memberi pelajaran bagi semua untuk menjaga setiap amanah yang diberikan agar kehidupan
berkah. Secara garis besar, permasalahan kepemimpinan umat Islam dapat dijabarkan sebagai
berikut :

1. Praktik politik dinasti yang diterapkan penguasa yang justru berifat zalim dan menyengsarakan
umat Islam.

2. Praktik korupsi, kolusi dan nepotisme dikalangan terdekat penguasa untuk menjaga kelangsungan
praktik politik dinasti.

3. Kebijakan yang dikeluarkan penguasa yang cenderung menyalahi amanah dan memperkaya diri
sendiri.

4. Ada upaya secara sistematis untuk menempatkan kepemimpinan kafir di negeri Muslim agar
kekayaan alam umat Islam bisa dikeruk dengan mudah.

Kang Emil sudah memberikan contoh bagaimana seorang pemimpin yang amanah, bukan pemimpin
yang oportunis hanya demi egonya dan ego segelintir orang. Seorang pemimpin meninggalkan
amanah para pemilihnya demi jabatan yang lebih tinggi. Jangan seperti pemimpin model kutu
loncat, oportunis dengan memanfaatkan momen tanpa meperdulikan suara yang mendukungnya.
Pindah sanapindah sini demi ambisi pribadi dan orang orang dibelakangnya mengejar yang lebih
besar, namun mengabaikan suara rakyat. Saat ini, pemimpin banyak lupa bahwa mereka telah
disumpah untuk bekerja. Lupa bahwa mereka dipilih rakyat untuk menuntaskan amanah yang telah
dititipkan rakyat yang memilihnya dan amanah tersebut harus diselesaikan hingga akhir masa bakti.
Tidak mudah mencari pemimpin yang amanah karena ketika seseorang dipilih untuk menjadi
pemimpin, akan banyak sekali godaan dan rintangan yang menerpa. Ridwan Kamil adalahs alah satu
teladan pemimpin yang amanah. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan mundurnya beliau sebagai
calon gubernur DKI Jakarta.
Bangsa Indonesia sangat membutuhkan pemimpin yang amanah agar dapat bekerja dengan optimal
dan tidak aji mumung ketika memegang jabatan. Pemimpin yang terampil, tangkas, cakap, bijak, dan
adil senantiasa dirindukan oleh rakyatnya. Ciri pemimpin sejati terlihat jelas pada diri Rasulullah
SAW. Empat sifat utama pemimpin sejati, yaitu jujur, menyampaikan apa adanya, dipercaya dan
cerdas. Sifat yang pertama menggambarkan perkataannya tak berbohong. Perbuatannya juga tepat.
Jadi, tak mungkin pemimpin sejati itu bersifat pembohong dan penipu. Kedua, pemimpin sejati tidak
akan menyembunyikan hal-hal yang penting bagi rakyatnya baik berupa kebaikan maupun
keburukan untuk rakyatnya. Ketiga, adalah kepercayaan. Pemimpin seperti ini tidak mengkhianati
rakyatnya. Dia tidak berpura-pura bekerja dan mengabdi. Keempat, adalah cerdas, pemimpin sejati
harus cerdas dalam mengambil keputusan terkait kemaslahatan rakyatnya. Pemimpin sejati muncul
dari pendidik (guru) yang ikhlas memberikan pengajaran dan pengamalan kebaikan dalam proses
menjalani kehidupan. Keluarga dan lingkungan pendidikan harus menjadi teladan karena anak-anak
kita adalah peniru terbaik. Mereka membutuhkan contoh teladan yang baik dari diri sendri maupun
tokoh yang ada.

----------------

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Tujuan dapat diartikan kepada sesuatu yang sangat didambakan bagaikan pemanah yang berharap
agar anak panahnya dapat mencapai sasaran atau objek yang dipanah.Sementara dalam bahasa
inggris diistilahkan dengan “goal, purpose, objectives atau aim”. Secara terminology, tujuan berarti
“sesuatu yang diharapkan tercapai setelah sebuah usaha atau kegiatan selesai. Secara umum, tujuan
pendidikan islam terbagi menjadi tujuan umum, tujuan sementara, tujuan akhir dan tujuan
operasional. Tujuan umum adalah tujuan yang akan dicapai dengan semua kegiatan pendidikan baik
dengan pengajaran atau dengan cara lain. Tujuan sementara adalah tujuan yang akan dicapai setelah
anak didik diberi sejumlah pengalaman tertentu yang direncanakan dalam sebuah kurikulum.

Tujuan akhir adalah tujuan yang dikehendaki agar peserta didik menjadi manusia-manusia sempurna
setelah menghabiskan sisa umurnya. Sementara tujuan operasional adalah tujuan praktis yang akan
dicapai dengan sejumlah kegiatan pendidikan tertentu. Ayat yang berhubungan dengan tujuan
pendidikan, pertama, Q.S. Ali Imron [3]: 138-139, kedua, Q.S Ad-Dzariyat [51]:56, ketiga. Q.S. Al Fath
[48]: 29, Q.S. Al-Baqarah[2]:247.

B. Saran

Kita sebagai manusia yang selalu haus akan ilmu pengetahuan sedianya harus selalu ikut
berpartisipasi alam pembaharuan pendidikan Islam saat ini. Berbagai tantangan harus kita hadapi
serta pembaharuan pendidikan Islami ini harus kita terima dengan tangan terbuka sehingga kita
dapat memperoleh banyak manfaat yaitu berupa perkembangan ilmu pengetahuan maupun
teknologi yang sangat bermanfaat bagi kelangsungaan kehidupan pada masa yang akan datang.

------------------

DAFTAR PUSTAKA

Arief, Armai. 2002. Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam. Jakarta: Ciputat Press.

Arifin, H.M. 1991. Ilmu Pendidikan Islam.Jakarta: PT Bumi Aksara.

Danim, Sudarwan.2010. Pengantar. Bandung: Alfabeta

Langgulung, Hasan. 2003.Asas-asas Pendidikan Islam. Jakarta: PT Pustaka Al-Husna.

M. Yusuf, Kadar.2013. Tafsir Tarbawi.Jakarta:Imprint Bumi Aksara

Shihab, Quraish. 2000. Tafsir Al-Mishbah. Ciputatat: Lentera Hati.

Mustafa, Ahmad.1989. Terjemahan Tafsir Al-Maraghi 26.Semarang: Toha Putra.

---------

Footnote

---------

[1] Kadar M. Yusuf. Tafsir Tarbawi.( Jakarta:Imprint Bumi Aksara,2013), hlm. 78.

[2] Armai Arief. Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam. (Jakarta: Ciputat Press, 2002),
hlm. 18-19.

[3]H.M Arifin. Ilmu Pendidikan Islam. (Jakarta: PT Bumi Aksara, 1991),hlm. 224.
[4]Sudarwan Danim. Pengantar.( Bandung: Alfabeta, 2010), hlm. 41.

[5]Ibid, hlm. 45.

[6] Ibid, hlm.21-22.

[7] Hasan Langgulung. Asas-asas Pendidikan Islam. (Jakarta: PT Pustaka Al-Husna, 2003), hlm.297.

[8]Quraish Shihab. Tafsir Al-Mishbah.(Ciputatat: Lentera Hati,2000), hlm. 210.

[9]Ibid, hlm. 211.

[10]Ahmad Mustafa. Terjemahan Tafsir Al-Maraghi 26.( Semarang: Toha Putra, 1989). hlm.192.