Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

TAFSIR TARBAWI I

TUJUAN PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF ALQURAN

(QS. AL-HAJJ : 41)

Dosen Pengampu : Mohamad Sholihin, S.Th.I, M.Pd.

Disusun Oleh :

1. Ngatno (19.2895)
2. Ismi Yuniarti (19.2907)

UNIVERSITAS NAHDLATUL ULAMA

SURAKARTA

TAHUN 2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-Nya
sehingga tugas kelompok ini dapat tersusun. Adapun judul yang dibahas dalam
makalah ini yaitu “Tujuan Pendidikan Dalam Perspektif Alquran (Qs. Al-Hajj :
41)”. Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari
pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan pikirannya.

Kami harap semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan


pengalaman bagi para pembaca, untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk
maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.

Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin


masih banyak kekurangan dalam makalah ini, oleh karena itu kami sangat
mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi
kesempurnaan makalah ini, Terima Kasih.

Surakarta, 18 Desember 2020

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..........................................................................................ii


DAFTAR ISI ........................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................... 1
A. Latar Belakang masalah ................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah............................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN ..................................................................................... 3
A. Pengertian Tujuan Pendidikan .......................................................................... 3
B. Perspektif Alquran tentang Tujuan Pendidikan................................................. 3
B.1. Al-Qur’an Surat Al-Hajj Ayat 41................................................................... 4

B.1.a. Tafsir Surat Al-Hajj Ayat 41........................................................................ 6

B.1.b. Kandungan Aspek Tarbawi.......................................................................... 9

BAB III PENUTUP ............................................................................................ 11


A. Kesimpulan ..................................................................................................... 11
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 12

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Islam sangat mementingkan pendidikan. Dengan pendidikan yang benar
dan berkualitas, individu-individu yang beradab akan terbentuk yang akhirnya
memunculkan kehidupan sosial yang bermoral. Sayangnya, sekalipun
institusi-institusi pendidikan saat ini memiliki kualitas dan fasilitas, namun
institusi-institusi tersebut masih belum memproduksi individu-individu yang
beradab. Sebabnya, visi dan misi pendidikan yang mengarah kepada
terbentuknya manusia yang beradab, terabaikan dalam tujuan institusi
pendidikan.
Penekanan kepada pentingnya anak didik supaya hidup dengan nilai-nilai
kebaikan, spiritual dan moralitas seperti terabaikan. Bahkan kondisi
sebaliknya yang terjadi. Saat ini, banyak institusi pendidikan telah berubah
menjadi industri bisnis, yang memiliki visi dan misi yang pragmatis. Gelar
dianggap sebagai tujuan utama, ingin segera dan secepatnya diraih supaya
modal yang selama ini dikeluarkan akan menuai keuntungan. Sistem
pendidikan seperti ini sekalipun akan memproduksi anak didik yang memiliki
status pendidikan yang tinggi, namun status tersebut tidak akan menjadikan
mereka sebagai individu-individu yang beradab.
Dalam budaya Barat sekular, tingginya pendidikan seseorang tidak
berkorespondensi dengan kebaikan dan kebahagiaan individu yang
bersangkutan. Dampak dari hegemoni pendidikan Barat terhadap kaum
Muslimin adalah banyaknya dari kalangan Muslim memiliki pendidikan yang
tinggi, namun dalam kehidupan nyata, mereka belum menjadi Muslim-
Muslim yang baik dan berbahagia.
Dalam makalah ini penulis berusaha menggali dan mendeskripsikan tujuan
pendidikan dalam Islam secara induktif dengan melihat dalil-dalil naqli yang
sudah ada dalam al-Qur’an, juga memadukannya dalam konteks kebutuhan
dari masyarakat secara umum dalam pendidikan, sehingga diharapkan tujuan

1
pendidikan dalam Islam dapat diaplikasikan pada wacana dan realita
kekinian.

B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian tujuan pendidikan?
2. Bagaimana tujuan pendidikan dalam perspektif Al-Quran Surat al-Hajj
Ayat 41?

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Tujuan Pendidikan


Tujuan adalah arah atau sasaran yang ingin di capai.dalam bahasa arab,
tujuan itu di sebut dengan al-hadf muntadal fihi bi al-siham (sasaran atau
objek yang di perlombahkan dengan panah) atau kullu shay’in azim murtafi’
(segala sesuatu yang besar dan tinggi). Dan al-ghard berarti “maksud atau
yang di inginkan”.
Berdasarkan makna harfiah ini, maka tujuan dapat diartikan kepada
sesuatu yang sangat didambakan bagaikan pemanah yang berharap anak
panahnya dapat mencapai sasaran atau objek yang di panahnya. Setiap target
yang ingin di capai, dengan demikian, tujuan pendidikan berarti sasaran yang
ingin di capai atau diraih setelah melalui proses pendidikan. Artinya
pendidikan yang merupakan suatu proses mempunyai target atau tujuan yang
ingin di capai, dimana tujuan tersebut harus melekat atau dimiliki oleh peserta
didik setelah melalui proses tersebut. Peserta didik diharapkan memiliki
kompetensi tertentu sesuai dengan peringkat pendidikan yang dilaluinya.
Kompetensi itu meliputi pengetahuan, sikap dan keterampilan.
Penyelenggaraan pendidikan, baik pada tingkat lembaga maupun dalam
proses pembelajaran, mempunyai target atau sasaran yang ingin dicapai.
Tujuan pendidikan memegang peranan penting dalam pendidikan, karena
pendidikan dapat memberikan arahan yang jelas dalam melaksanakan segala
kegiatan pendidikan. Penentuan tujuan pembelajaran menjadi penting tidak
hanya untuk memastikan sasaran yang ingin dicapai, tetapi juga dapat
memberikan arahan kepada guru dalam memilih dam menentukan materi
pembelajaran.

3
B. Perspektif Alquran tentang Tujuan Pendidikan
Konsep tujuan pendidikan menurut Umar Muhammad At-Taumi Ash-
Shaibani adalah perubahan yang diinginkan melelui proses pendidikan, baik
dalam tingkah laku individu pada kehidupan pribadi, kehidupan masyarakat,
dan alam sekitar maupun pada proses pendidikan serta pengajaran itu sendiri.
Berdasarkan konsep ini, pendidikan dipandang tidak berhasil atau tidak
mencapai tujuan apabila tidak ada perubahan pada diri peserta didik setelah
menyelesaikan suatu progam pendidikan.
Agar dapat terukur, sebelum melakukan proses pendidikan perlu dibuat
rumusan-rumusan tujuan yang jelas. Rumusan tersebut dapat digali dari
sumber pendidikan Islam yaitu Alquran.

B.1. Al-Qur’an Surat Al-Hajj Ayat 41

ٰ َّ
‫صلَ ٰوةَ َو َءاتَ ُو ۟ا‬ َّ ‫وا ٱل‬۟ ‫ض أَقَا ُم‬ ِ ‫ر‬ْ َ ‫أْل‬ ‫ٱ‬ ‫ى‬ ِ ‫ف‬ ‫م‬
K َّ
ْ ‫ين إِن َّمك‬
‫ه‬
ُ ‫ن‬ َ ‫ٱلَّ ِذ‬
ِ ‫وف َونَ َه ْو ۟ا َع ِن ٱ ْل ُمن َك ِر ۗ َوهَّلِل‬
ِ ‫وا بِٱ ْل َم ْع ُر‬۟ ‫ٱل َّز َك ٰوةَ َوأَ َم ُر‬
‫ٰ َعقِبَةُ ٱأْل ُ ُمو ِر‬

“(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di


muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat,
menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan
kepada Allah-lah kembali segala urusan.”

Mufrodat (Kosakata)

Mendirikan Shalat                   :                        َّ ‫أَقَا ُموا ال‬


َ‫صاَل ة‬

Menunaikan zakat                   :                        َ‫َوآتَ ُوا ال َّز َكاة‬

4
Menyuruh berbuat ma’ruf       :                        ِ ‫َوأَ َم ُروا بِا ْل َم ْع ُر‬
‫وف‬

Mencegah perbuatan munkar  :                        ‫َعاقِبَةُ اأْل ُ ُمور‬

Kembali segala urusan            :                        ‫َونَ َه ْوا َع ِن ا ْل ُم ْن َكر‬

Dari beberapa Mufradat hanya memfokuskan lafazh


۟ ‫َوأَ َم ُر‬
‫وا‬
ِ ‫بِٱ ْل َم ْع ُر‬
‫وف‬ “menyuruh berbuat yang ma’ruf” dan tafsir yang dipakai
dua tafsir, tafsir yang pertama adalah tafsir At-tahbari, dan yang kedua tafsir
Jalalain. menurut tafsir Ath- Thabari, lafaz Waamrubilma’rufi adalah
megajak manusia mengesakan Allah, menaati Allah, menaati-Nya dan hal hal
lainya yang dikenal oleh orang – orang beriman sebagai kebaikan . 1
Sedangkan menurut tafsir Jalalain (niscaya mereka mendirikan sholat ,
menuanikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari
pebuatan yang mungkar) kalimat ayat ini menjadi 2 jawaban Syarath beserta
jawabannya menjadi shilah dari mashul, kemudian diperkirakan adanya lafzh
Hum sebelumnya sebagai Mubtada.
Ibnu abbas mengatakan tentang Asbabun Nuzul ayat ini. “ Tatkala
Rasulullah SAW. Di usir dari mekkah Abu Bakar berkata “ Mereka telah
mengusir Nabi, mereka sesungguhnya kita kepunyaan Allah, sesungguhnya
kita kembali pada-Nya benar-benar hancurlah kaum itu.” Maka Allah SWT
menurunkan ayat ini yang artinya : Di izinkan (berperang) kepada orang-
orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka dizalimi. Dan sungguh
Allah Maha Kuasa Menolong mereka itu. Abu Bakar berkata : Maka tahulah
aku Sesungguhnya aka nada peperangan.’ ( Riwayat Ahmad At-Tarmidzi,
An-Nasai dan Ibnu Majjah).
1
Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath-Thabari. Tafsir Ath-Thabari.( Buku Islam
Rahmatan 2009). h. 563
2
Imam Jalalud-din Al- Mahalliy. Imam Jalalud-did As-Syuthi. Tafsir Jalalain. (C.V. sinar
baru bandung cet pertama 1990). h. 1387.

5
B.1.a. Tafsir Surat Al-Hajj Ayat 41
1. Tafsir Al-azhar
Dalam surat al Hajj ayat 41, yang artinya (yaitu) orang – orang
yang apabila kami kokohkan mereka dibumi” dapat diartikan telah kami
tolong dan berhasil perjuangan mereka melawan kedzaliman itu” mereka
mendirikan sholat dan memberikan zakat” Dengan susunan ayat ini bukanlah
mereka mau mendirikan sholat dan memberikan zakat “ dengan susunan ayat
ini bukanlah berarti bahwa mereka mau mendirikan shoalat dan kokoh
dimuka bumi, atau setelah mereka menghadapi musuh musuhnya bahkan
sejak semula perjuangan keyakinan keimanam pada tuhan itulah peganagan
teguh mereka. Pada umumnya orang shalih dan taat sembhayang lima waktu
mereka kerjakan dengan tekun. Zakat mereka berikan. Tetapi setelah
kedudukan kokoh dimuka bumi prang muali melalaikan agama.
“Dan mereka mencegah dari berbuat yang munkar” Artinya yang
mungkar adalah segala anjuran atau perbuatan yang masarakat bersama tidak
senang melihat atau menerimanya, Karena tidak sesuai dengan garis-garis
kebenaran.
“Dan kepada Allah jualah akibat dari segala urusan “ artinaya Artinya
walau bagaimanapun keadaan yang dihadapi, baik ketika lemah yang
menghendaki kesabaran, atau menghadapi perjuangan yang amat sengit
dengan musuh karena mempertahankan ajaran Alah atau seketika
kemenangan telah tercapai, sekali-kali jangan lupa, bahwa keputusan terakhir
adalah pada Allah SWT jual,
2. Tafsir Al Maragi
Orang-orang yang diusir dari kampung halamannya ialah orang-orang 
yang apabila kami meneguhkan kedudukan mereka didalam negeri, lalu
mereka mengalahkan kaum musrikin. Lalu , mereka taat ke[pada Allah,
mendirikan sholat seperti yang diperintahkan kepada mereka, mengeluarkan
zakat harta yang telah diberikan kepada mereka, menyeru manusia untuk
mentauhidkan Allah dan taat kepada-Nya, menyuruh orang untuk

6
mengerjakan apa yang diperintahkan oleh syari’at. Dan melarang melakukan
kemusrikan, serta kejahatan.
Mereka adalah Orang-orang yang menyempurnakan dirinya dengan
menghadirkan Tuhan dan menghadapkan diri Kepada-Nya didalam shalat
menurut kemampuannya dan mereka dengan menolong  orang-orang fakir
dan yang butuh pertolongan diantara mereka. Disamping itu, mereka
menyempurnakan orang lain dengan memberikan sebagian ilmu dan adabnya,
serta mencegah berbagai kerusakan yang menghambat orang lain untuk
mencapai akhlak dan adab yang luhur.
Kemudian Allah menjanjikan akan meninggikan kalimat-Nya dan
menolong para penolong agama-Nya : “ Dan sesudah yang baik adalah bagi
orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al-A’raf. 7 : 128)
3. Tafsir al-Misbah
Ayat-ayat QS-Al Hajj ayat 41 menerangkan bahwa mereka itu adalah 3
orang-orang yang jika kami anugerahkan kepada kemenangan dan kami
teguhkan kedudukan mewreka dimuka bumi, yakni kami berikan mereka
keleluasaan mengelola suatu wilayah dalam keadaan mereka merdeka dan
berdaulat niscaya mereka yakni masyarakat itu melaksanakan shalat secara
sempurna rukun, syarat dan sunnah-sunnahnya dan mereka uga menunaikan
zakat sesuai kadar waktu, sasaran dan cara penyuluran yang ditetapkan oleh
Allah, serta mereka menyuruh anggota-anggota masyarakat agar berbuat yang
ma’ruf, yani nilai-nilai luhur serta adat istiadat yang diakui baik dalam
masyarakat itu, lagi tidak bertentangan dengan nilai-nilai ilahiah dan mereka
mencegah dari yang munkar, yakni yang nilai buruk lagi diingkari oleh akal
sehat masyarakat, dan kepada Allah-lah kembali segala urusan, Dialah yang
memenagkan siapa yang hendak dimenangka-Nya dan Dia pula yang
menjatuhkan kekalahan bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia pula yang
menentukan masa kemenangan dan kekalahan itu.4

3
Imam Nawawi, Terjemahan Riyadus Shalihin, Jakarta: Pustaka Amani, 1996 h. 212.

4
Hamka, tafsir Al-Azhar Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982, Juz XVII, h. 177

7
Ayat diatas mencerminkan sekelumit dari cirri-ciri masyarakat yang
diidamkan islam, kapan dan dimanapun dan yang telah terbukti dalam sejarah
melalui masyarakat Nabi Muhammad SAW. Dan para sahabat beliau.
Masyarakat itu adalah yang pemimpin-pemimpin dan anggota-
anggotanya dinilai kolektif bertakwa, sehingga hubungan mereka dengan
Allah SWT. Baik dan jauh dari kekejian dan kemunkaran, sebagaimana
dicerminkan oleh sikap mereka yang selalu melaksanakan shalat dan
harmonis pula hubungan anggota masyarakat, termasuk antara kaum yang
punya dan lemah yang dicerminkan oleh ayat diatas iringan menunaikan
zakat. Disamping itu mereka juga menegakkan nilai-nilai yang dianut
masyarakat, yaitu nilai-nilai ma’ruf dan mencegah perbuatan yang munkar.
Pelaksanaan kedua hal tersebut menjadikan masyarakat melaksanakan control
social, sehingga mereka saling mengingatkan dalam hal kebajikan, serta
mencegah terjadinya pelanggaran.
4. Tafsir Ibnu Katsir
Menurut Abu Al Aliyah, orang yang menyebutkan alam ayat ini iaah
para sahabat Muhammad SAW. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Utsman
bin Affan, dia berkata : “ Mengenai kamilah ayat,orang-orang yang jika kami
teguhkan kedudukan mereka dimuka bumi ini susunkan kami diusir dari
kampung halaman kami sendiri tanpa alasan yang benar, kecuali karna kami
mengatakan bahwa Tuhan kami adalah Allah, kemudian kami diteguhkan di
bumi, lalu kami mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat
yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang munkar, kepunyaan Allah
kemudahan segala perkara. Jadi ayat ini diturunkan berkenan dengan aku dan
para sahabatku.5
Ash-Shahab bin Suwadah al Kindi berkata, “Aku mendengar Umar
Bin Abdul Aziz berkhutbah. Dia membaca ayat “Orang-orang yang kami
teguhkan kedudukan mereka dibumi, kemudian berkata.” Ketahuilah, ayat ini
bukan hanya ditujukan kepada pemimpin semata, namun ditujukan kepada
pemimpin dan rakyatnya. Ketahuilah, aku akan memberitahukan kepadamu
kewajiban pemimpin kepada rakyatnya dan kewajiban rakyat kepada
5
Ahmad Mustafa Al-Maragi, Tafsir Al-Maragi, Juz XVII, Semarang: Toha Putra, 1993 h , 209-
210

8
pemimpinnya. Sesungguhnya yang mejadi hak kamu dan kewajiban
pemimpin ialah memperlakukan amu dengan ketentuan Allah yang telah
diwajibkan atasmu, memperlakukan sebagian kamu karena sebagian yang lain
dengan ketentuan Allah dan menunjukkan kamu kepada jalan yang lurus
sesuai dengan kemampuan pemimpin. Adapun kewajiban kamu adalah
mentaati pemimpin tanpa terpaksa dan tidak bertentangan antara ketaatan
perkataan dan perbuatan dengan ketaatan hati.
Zaid bin Aslam berkata, “ Dan kepada Alah lah kembali segala urusan
berarti pada sisi Allah lah pahala atas apa yang telah mereka lakukan
Abu Bakar berkata : Maka tahulah aku Sesungguhnya aka nada
peperangan.’ ( Riwayat Ahmad At-Tarmidzi, An-Nasai dan Ibnu Majjah

B.1.b. Kandungan Aspek Tarbawi


Pendidikan sangatlah penting bagi manusia, pendidikan adalah salah
satu sarana bagi seseorang untuk menata hidupnya sedemikian rupa, tapi,
dilihat dari kenyataannya, pendidikan di zaman modern ini tidak mampu
membuat kehidupan social yang bermoral, apakah pendidikan sekarang sudah
benar dan berkualitas?.
Telah banyak institusi-institusi yang bergerak di bidang pendidikan
yang memiliki fasilitas dan kualitas yang bagus, ternyata belum bisa
menciptakan manusia-manusia yang beradab. Ini dikarenakan institusi-
institusi pendidikan banyak menerapkan visi dan misi pragmatis yang dibawa
dari Negara bagian barat. Tidak ada lagi penanaman nilai-nilai spiritual,
kebaikan dan bermoral didalam institusi tersebut. Sekarang, institusi-institusi
pendidikan kebanyakannya telah berubah menjadi industry bisnis yang
mengajarkan manusia untuk bekerja supaya memperoleh kesenangan dan
kemakmuran diri sendiri, perusahaan dan Negara, sehingga nilai-nilai moral
sebagai manusia tak pernah diajarkan.6
Kaum muslimin pun telah terkena dampak dari pengaruh hegemoni
dunia barat tersebut. Banyak kaum muslimin yang mempunyai tingkat
pendidikan yang tinggi, tetapi mereka tidak bisa menjadi muslim yang

6
M.Quraisy Shihab, Tafsir Al Misbah, Jakarta: Lentera Hati, 2002 h, 71-75

9
berakhlak mulia. Ini dikarenakan institusi pendidikan tempat mereka belajar
dahulu menerapkan visi dan misi pragmatis. Inilah saatnya kita kembali
kepada rujukan yang tidak ada cacatnya yaitu Al-Qur’an. Al-Quran ternyata
lebih memiliki system yang komprehensif dan integritas dibandingkan system
pendidikan dunia barat. Islam mempunyai tujuan utama yaitu “mendapatkan
ridho Allah S.W.T”, diharapkan dengan diterapkan tujuan ini di dalam
pendidikan, manusia bisa menjadi orang-orang yang bermoral, mempunyai
kualitas, dan bermanfaat, tidak hanya buat diri sendiri tetapi juga buat
keluarga, masyarakat, Negara, bahkan buat ummat manusia sedunia dengan
landasan mendapatkan ridho Allah SWT.7
Abdul Fatah Jalal menyatakan bahwa tujuan pendidikan yang dapat
dilihat dari surat Al hajj ayat 41: “(yaitu) orang-orang yang jika Kami
teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan
sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma'ruf dan mencegah
dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan”.
Ayat ini mengemukakan tentang tujuan pendidikan yang membentuk
masyarakat yang diidam-idamkan, yaitu mempunyai pemimpin dan anggota-
anggota yang bertakwa, melaksanakan shalat, menunaikan zakat,
menegakkan nilai-nilai ma’ruf (perkembangan positif) dalam masyarakat dan
mencegah perbuatan yang munkar.
Untuk itu hendaklah kita benahi pendidikan kita yang telah terpedaya
dengan system yang dibuat oleh dunia barat. Dari sekarang hendaklah kita
pada umumnya dan pendidik pada khususnya merubah tujuan pendidikan
kita, yaitu untuk “mendapatkan ridho Allah S.W.T. dan menjadi hamba Allah
yang patuh terhadap perintah-Nya”. apabila tujuan kita berlandaskan dengan
ini, maka dunia akan terjamin keselamatannya, dan manusia akan mempunyai
moral yang berakhlak mulia. Sehingga dapat kita capai tujuan akhir dari
pendidikan seperti yang dikatakan oleh Muhammad Athiyah al- Abrasyi,
yaitu: Terbinanya akhlak manusia. Manusia benar-benar siap untuk hidup

7
Muhammad Nasib Ar-Rifa’I, Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, Penerjamah Shihabudin,
Jakarta: Gema Insani, 2004, h,. 379.

10
didunia dan diakhirat. Ilmu dapat benar-benar dikuasai dengan moral manusia
yang mantap dan manusia benar-benar terampil bekerja di dalam masyarakat.
BAB II
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Dari deskripsi singkat di atas, dapat dipahami tujuan pendidikan
adalah perubahan yang diharapkan pada subjek didik setelah mengalami
proses pendidikan, baik pada tingkah laku individu dan kehidupan
pribadinya maupun kehidupan masyarakat dan alam sekitarnya dimana
individu hidup, selain sebagai arah atau petunjuk dalam pelaksanaan
pendidikan, juga berfungsi sebagai pengontrol maupun mengevaluasi
keberhasilan proses pendidikan.
Al-Qur’an telah memberikan rambu-rambu yang jelas kepada kita
tentang konsep pendidikan yang komperehensif. Yaitu pendidikan yang
tidak hanya berorientasi untuk kepentingan hidup di dunia saja, akan tetapi
juga berorientasi untuk keberhasilan hidup di akhirat kelak. Karena
kehidupan dunia ini adalah jembatan untuk menuju kehidupan sebenarnya,
yaitu kehidupan di akhirat.
Manusia sebagai insan kamil dilengkapi dua piranti penting untuk
memperoleh pengetahuan, yaitu akal dan hati. Yang dengan dua piranti ini
manusia mampu memahami “bacaan” yang ada di sekitarnya. Fenomena
maupun nomena yang mampu untuk ditelaahnya. Karena hanya manusia
makhluk yang diberi kelebihan ini.
Pengetahuan yang telah didapat manusia sudah seyogyanya
diorientasikan untuk kepentingan seluruh umat manusia. Karena sebaik-
baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia seluruhnya.
Namun, tidak boleh dilupakan bahwa manusia juga hidup berdampingan
dengan lingkungan, sehingga tidak bisa serta merta kemajuan pengetahuan
pengetahuan dan teknologi malah menghancurkan dan merusak
keseimbangan alam. Karena sudah menjadi tugas manusia untuk
melestarikan alam ini sebagai pengejawantahan kekhalifahan manusia
sekaligus bentuk ta’abbudnya kepada Allah swt.

11
DAFTAR PUSTAKA

Ath-Thabari Abu Ja’far Muhammad bin Jarir. Tafsir At-thabari, Jakarta


pustaka Azzam ,2009

Ash- ashiddieeqhy Tengku Muhammad Hasbi, Tafsir Al-Quraanul majid


PT. Pustaka Rizik putra. Cetakan ke 2, 200

Shihab, M.Quraish, Tafsir Al-Misbah, Jakarta: Lentera Hati, 2001

Al-Maragi, Ahmad Mustafa. Tafsir Al-Maragi, Juz XVII, (Semarang: Toha


Putra, 1993)

Ar-Rifa’i, Muhammad Najib. Tafsir Ibnu Katsir. Jilid 3

Al-Qur’an Bayan

Hamka, Tafsir Al-Azhar ( Jakarta: Pustaka Panjimas, 1982)

Imam Nawawi. Terjemah Riyadhus Shalihin. Jakarta : Pustaka Amani.


1996.

Shihab, M.Quraisy, Tafsir Al Misbah, (Jakarta: Lentera Hati, 2002)

Hidayatullah, Syarif. Metodologi Pengajaran Agama Islam. Jakarta: Proyek


Pembinaan Perguruan Tinggi Agama. 1981.

Daradjat , Zakiah. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: PT Bumi Aksara. 2011.

Uhbiyati, Nur. Ilmu Pendidikan Islam (IPI) Untuk IAIN, STAIN, DAN
PTAIS. Bandung: Cv. Pustaka Setia. 2005.

Marimba, Ahmad D. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: PT.


Al-Ma’arif. 1990.

Arief, Armai. Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam. Jakarta:


Ciputat Pers. 2002.

12
13