Anda di halaman 1dari 62

DISPERSI KOLOID

PRODI FARMASI
UNIVERSITAS PEKALONGAN
2019
KOLOID

Koloid adalah suatu campuran zat heterogen (dua fase) antara


dua zat atau lebih di mana partikel-partikel zat yang berukuran
koloid (fase terdispersi/yang dipecah) tersebar secara merata di
dalam zat lain (medium pendispersi/ pemecah).
Dimana di antara campuran homogen dan heterogen terdapat
sistem pencampuran yaitu koloid
 atau bisa juga disebut bentuk (fase) peralihan homogen
menjadi heterogen.
o

2
o Campuran homogen adalah campuran yang memiliki sifat sama
pada setiap bagian campuran tersebut
 contohnya larutan gula
o Campuran heterogen adalah campuran yeng memiliki sifat
tidak sama pada setiap bagian campuran
 contohnya air dan minyak, kemudian pasir dan semen.
o Ukuran partikel koloid berkisar antara 1-100 nm.
Ukuran yang dimaksud dapat berupa diameter, panjang,
lebar, maupun tebal dari suatu partikel.
3
4
KOLOID

o Dalam kehidupan sehari-hari ini, sering kita temui beberapa


produk yang merupakan campuran dari beberapa zat, tetapi zat
tersebut dapat bercampur secara merata/ homogen.

 Misalnya :
 Susu
 Serbuk/ tepung susu bercampur secara merata dengan air.
 Es krim

5
KOLOID

o Udara mengandung juga sistem koloid


 Polutan padat yang terdispersi (tercampur) dalam udara, yaitu asap
dan debu.
 Juga air yang terdispersi dalam udara yang disebut kabut
merupakan sistem koloid.
o Penggunaan sabun untuk mandi dan mencuci berfungsi
untuk membentuk koloid antara air dengan kotoran yang
melekat (minyak).

6
PERBEDAAN SISTEM DISPERSI
No Dispersi Kasar Dispersi Halus Dispersi Koloid
1 Heterogen Homogen Tampak homogen
2 Dua fase Satu fase Dua fase (dilihat dengan
mikroskop ultra)
3 Keruh ada endapan Jernih Keruh tanpa endapan
4 Dapat disaring Tidak dapat disaring Dapat disaring (dengan
kertas saring ultra)
5 Tidak stabil Stabil Stabil
6 Diameter partikel > Diameter partikel < Diameter partikel
5 7 7 5
10- cm 10- cm 10- -1 O- cm

7
SISTEM KOLOID

 Sistem koloid adalah suatu bentuk campuran yang


ukuran partikelnya terletak antara ukuran partikel
larutan sejati dan ukuran partikel suspensi kasar.
 Sistem koloid dibedakan atas tingkat wujud
fase terdispersi dan medium pendispersinya.

8
JENIS-JENIS KOLOID

 Koloid merupakan suatu sistem campuran


“metastabil” (seolah-olah stabil, tapi akan memisah
setelah waktu tertentu).
 Koloid berbeda dengan larutan; larutan bersifat stabil.
 Di dalam larutan koloid secara umum, ada 2 zat
sebagai berikut :
– Zat terdispersi, yakni zat yang terlarut di dalam larutan
koloid
– Zat pendispersi, yakni zat pelarut di dalam larutan koloid

9
BERDASARKAN FASE TERDISPERSINYA,
SISTEM KOLOID DIBEDAKAN MENJADI 3,
YAITU:

1. Sol (fase terdispersi padat)


2. Emulsi (fase terdispersi cair)
3. Buih (fase terdispersi gas)
10
SOL (FASE TERDISPERSI PADAT)
a. Sol padat adalah sol dalam medium
pendispersi padat
Contoh: paduan logam, gelas warna, intan hitam
b. Sol cair adalah sol dalam medium pendispersi cair
Contoh: cat, tinta, tepung dalam air, tanah liat
c. Sol gas adalah sol dalam medium pendispersi
gas Contoh: debu di udara, asap pembakaran

11
EMULSI (FASE TERDISPERSI CAIR)
a. Emulsi padat adalah emulsi dalam
medium pendispersi padat
Contoh: Jelly, keju, mentega, nasi
b. Emulsi cair adalah emulsi dalam medium
pendispersi cair
Contoh: susu, mayones, krim tangan
c. Emulsi gas adalah emulsi dalam medium
pendispersi gas
Contoh: hairspray dan obat nyamuk
12
BUIH (FASE TERDISPERSI GAS)

a. Buih padat adalah buih dalam medium pendispersi padat


Contoh: Batu apung, marshmallow, karet busa, Styrofoam
b. Buih cair adalah buih dalam medium pendispersi
cair Contoh: putih telur yang dikocok, busa sabun
c. Untuk pengelompokan buih, jika fase terdispersi dan
medium pendispersi sama-sama berupa gas,
campurannya tergolong larutan

13
SIFAT-SIFAT KOLOID

1. Gerak Brown
2. Efek Tyndall
3. Adsorpsi koloid
4. Muatan koloid sol

14
1. GERAK BROWN

 Gerak Brown ialah gerakan partikel-partikel koloid yang


senantiasa bergerak lurus tapi tidak menentu (gerak acak/tidak
beraturan).
 Jika kita amati koloid dibawah mikroskop ultra, maka kita
akan melihat bahwa partikel-partikel tersebut akan bergerak
membentuk zigzag.
 Pergerakan zigzag ini dinamakan gerak Brown.
 Partikel-partikel suatu zat senantiasa bergerak.
 Gerakan tersebut dapat bersifat acak seperti pada zat
cair dan( gas
), (dinamakan gerak brown), sedangkan pada zat
padat hanya
15
bergerak di tempat (tidak termasuk gerak brown)
 Untuk koloid dengan medium pendispersi zat cair atau gas,
pergerakan partikel-partikel akan menghasilkan tumbukan
dengan partikel-partikel koloid itu sendiri.
 Tumbukan tersebut berlangsung dari segala arah.
 Oleh karena ukuran partikel cukup kecil, maka
tumbukan yang terjadi cenderung tidak seimbang.
 Sehingga terdapat suatu resultan tumbukan yang
menyebabkan perubahan arah gerak partikel sehingga
16
terjadi gerak zigzag atau gerak Brown.
 Semakin kecil ukuran partikel koloid, semakin cepat gerak Brown yang terjadi.
 Demikian pula, semakin besar ukuran partikel koloid, semakin lambat
gerak Brown yang terjadi.
 Hal ini menjelaskan mengapa gerak Brown sulit diamati dalam larutan
dan tidak ditemukan dalam campuran heterogen zat cair dengan zat padat
(suspensi).
 Gerak Brown juga dipengaruhi oleh suhu.
 Semakin tinggi suhu sistem koloid, maka semakin besar energi kinetik
yang dimiliki partikel-partikel medium pendispersinya.
 Akibatnya, gerak Brown dari partikel-partikel fase terdispersinya semakin
cepat. Demikian pula sebaliknya, semakin rendah suhu sistem koloid, maka
17
gerak Brown semakin lambat
2. EFEK TYNDALL
 Efek Tyndall ialah gejala penghamburan berkas sinar (cahaya) oleh
partikel-partikel koloid.
 Hal ini disebabkan karena ukuran molekul koloid yang cukup besar.
 Efek tyndall ini ditemukan oleh John Tyndall (1820-1893), seorang ahli
fisika Inggris.
 Efek tyndall adalah efek yang terjadi jika suatu larutan terkena sinar.
 Pada saat larutan sejati disinari dengan cahaya, maka larutan tersebut
tidak akan menghamburkan cahaya, sedangkan pada sistem koloid,
cahaya akan dihamburkan.
 Hal itu terjadi karena partikel-partikel koloid mempunyai partikel-
partikel yang relatif besar untuk dapat menghamburkan sinar tersebut.
 Sebaliknya, pada larutan sejati, partikel-partikelnya relatif kecil sehingga
18
hamburan yang terjadi hanya sedikit dan sangat sulit diamati.
3. ADSORPSI KOLOID

 Adsorpsi ialah peristiwa penyerapan partikel atau ion atau senyawa


lain pada permukaan partikel koloid yang disebabkan oleh luasnya
permukaan partikel.
 Dimana partikel-partikel sol padat ditempatkan dalam zat cair atau gas,
maka pertikel-partikel zat cair atau gas tersebut akan terakumulasi pada
permukaan zat padat tersebut.
Beda halnya dengan absorpsi.
 Absorpsi adalah fenomena menyerap semua partikel ke dalam sol
padat bukan di atas permukaannya, melainkan di dalam sol padat
tersebut.
19
 Partikel koloid sol memiliki kemampuan untuk
mengadsorpsi partikel-partikel pada permukaannya, baik
partikel netral atau bermuatan (kation atau anion) karena
mempunyai permukaan yang sangat luas.
 Contoh :

Koloid Fe(OH)3 bermuatan positif karena
+
permukaannya menyerap ion H

Koloid As2S3 bermuatan negatif karena
2-
permukaannya menyerap ion S
20
4. MUATAN KOLOID SOL

o Sifat koloid terpenting adalah muatan partikel koloid.


o Semua partikel koloid memiliki muatan sejenis (positif
dan negatif).
o Maka terdapat gaya tolak menolak antar partikel koloid.
o Partikel koloid tidak dapat bergabung sehingga
memberikan kestabilan pada sistem koloid.
o Sistem koloid secara keseluruhan bersifat netral.

21
SUMBER MUATAN KOLOID SOL
 Partikel-partikel koloid mendapat mutan listrik melalui dua cara, yaitu :
 Proses adsorpsi
 Partikel koloid dapat mengadsorpsi partikel bermuatan dari fase
pendispersinya.
 Jenis muatan tergantung dari jenis partikel yang bermuatan.
 Partikel sol Fel (OH)3 kemampuan untuk mengadsorpsi kation dari
medium pendisperinya sehingga bermuatan positif, sedangkal partikel sol
As2S3 mengadsorpsi anion dari medium pendispersinya sehingga
bermuatan negatif.
 Sol AgCI dalam medium pendispersi dengan kation Ag+ berlebihan
akan mengadsorpsi Ag+ sehingga bermuatan positif.
22

 Jika anion CI- berlebih, maka sol AgCI akan mengadsorpsi ion CI- sehingga
bermuatan positif.
 Proses ionisasi gugus permukaan partikel
 Beberapa partikel koloid memperoleh muatan dari
proses ionisasi gugus-gugus yang ada pada permukaan
partikel koloid.
 Contohnya adalah koloid protein dan koloid sabun/ deterjen.

23
Koloid protein
 Koloid protein adalah jenis koloid sol yang mempunyai gugus
yang bersifat asam (-COOH) dan biasa (-NH2).
 Kedua gugus ini dapat terionisasi dan memberikan muatan
pada molekul protein.
 Pada pH rendah , gugus basa –NH2 akan menerima proton dan
membentuk gugus –NH3.
 Ph tinggi, gugus –COOH akan mendonorkan proton dan
membentuk gugus – COO-.
 Pada pH intermediet partikel protein bermuatan netral karena
muatan –NH3+ dan COO- saling meniadakan.

24
Koloid sabun dan deterjen
 Pada konsentrasi relatif pekat, molekul ini dapat bergabung
membentuk partikel berukuran koloid yang disebut misel.
 Zat yang molekulnya bergabung secara spontan dalam suatu
fase pendispersi dan membentuk partikel berukuran koloid
disebut koloid terasosiasi.
 Sabun adalah garam karboksilat dengan rumus R-COO-Na+.
 Anion R-COO- terdiri dari gugus R- yang bersifat non pola.
 Gugus R- atau ekor non-polar tidak larut dalam air sehingga
akan terorientasi ke pusat.
25
B. KESTABILAN KOLOID

 Terdapat beberapa gaya pada sistem koloid yang menentukan


kestabilan koloid, yaitu sebagai berikut :
• Gaya pertama ialah gaya tarik – menarik yang dikenaln dengan
gaya London – Van der Waals.
 Gaya ini menyebabkan partikel – partikel koloid
berkumpul membentuk agregat dan akhirnya mengendap.
• Gaya kedua ialah gaya tolak menolak.
 Gaya ini terjadi karena pertumpangtindihan lapisan ganda listrik
yang bermuatan sama.
 Gaya tolak – menolak tersebut akan membuat dispersi koloid menjadi
stabil.
26
• Gaya ketiga ialah gaya tarik – menarik antara partikel koloid
dengan medium pendispersinya.
• Terkadang, gaya ini dapat menyebabkan terjadinya
agregasi partikel koloid dan gaya ini juga dapat
meningkatkan kestabilan sistem koloid secara keseluruhan.

27
 Salah satu faktor yang mempengaruhi stabilitas koloid
ialah muatan permukaan koloid.
 Besarnya muatan pada permukaan partikel dipengaruhi
oleh konsentrasi elektrolit dalam medium pendispersi.
Penambahan kation pada permukaan partikel koloid
yang bermuatan negatif akan menetralkan muatan
tersebut dan menyebabkan koloid menjadi tidak stabil.

28
 Banyak koloid yang harus dipertahankan dalam bentuk koloid
untuk penggunaannya.
 Contoh: es krim, tinta, cat.
 Untuk itu digunakan koloid lain yang dapat membentuk lapisan
di sekeliling koloid tersebut.
 Koloid lain ini disebut koloid pelindung.
 Contoh: gelatin pada sol Fe(OH)3.
 Untuk koloid yang berupa emulsi dapat digunakan emulgator yaitu
zat yang dapat tertarik pada kedua cairan yang membentuk emulsi.
 Contoh: sabun deterjen sebagai emulgator dari emulsi minyak
dan air.
29
LAPISAN BERMUATAN GANDA

 Pada awalnya, partikel-partikel koloid mempunyai muatan yang


sejenis yang didapatkannya dari ion yang diadsorpsi dari medium
pendispersinya.
 Apabila dalam larutan ditambahkan larutan yang berbeda muatan
dengan system koloid, maka sistem koloid itu akan menarik muatan
yang berbeda tersebut sehingga membentuk lapisan ganda.
 Lapisan pertama ialah lapisan padat dimana muatan partikel koloid
menarik ion-ion dengan muatan berlawanan dari medium pendispersi.

30
 Sedangkan lapisan kedua berupa lapisan difusi dimana
muatan dari medium pendispersi terdifusi ke partikel koloid.
 Model lapisan berganda tersebut tijelaskan pada lapisan
ganda Stern.
 Adanya lapisan ini menyebabkan secara keseluruhan
bersifat netral.

31
ELEKTROFORESIS

 Elektroforesis adalah suatu proses untuk menghitung berpindahnya ion


atau partikel koloid bermuatan dalam medium cair yang dipengaruhi
oleh medan listrik.
 Yaitu, pergerakan partikel – partikel koloid dalam medan
listrik ke masing – masing elektrode.
 Prinsip kerja elektroforesis digunakan untuk membersihkan asap
hasil industri dengan alat Cottrell.

32
KOAGULASI

 Koagulasi adalah penggumpalan partikel koloid dan membentuk endapan.


 Dengan terjadinya koagulasi, berarti zat terdispersi tidak lagi
membentuk koloid.
 Koloid akan mengalami koagulasi dengan cara:
1. Mekanik.
Cara mekanik dilakukan dengan pemanasan, pendinginan atau
pengadukan cepat.

33
2. Kimia.
Dengan penambahan elektrolit (asam, basa, atau garam).
susu + sirup masam —> menggumpal
lumpur + tawas —> menggumpal
Dengan mencampurkan 2 macam koloid dengan muatan
yang berlawanan.
Fe(OH)3 yang bermuatan positif akan menggumpal jika
dicampur As2S3 yang bermuatan negatif.

34
KOLOID LIOFIL DAN LIOFOB

 Berdasarkan sifat adsorpsi dari partikel koloid terhadap medium


pendispersinya, kita mengenal dua macam koloid :
 Koloid liofil yaitu koloid yang ”senang cairan” (bahasa Yunani :
liyo = cairan; philia = senang).
Partikel koloid akan mengadsorpsi molekul cairan, sehingga
terbentuk selubung di sekeliling partikel koloid itu.
 Contoh koloid liofil adalah kanji, protein, dan agar-agar.
 Koloid liofob yaitu koloid yang ”benci cairan” (phobia = benci).
 Partikel koloid
. tidak mengadsorpsi molekul cairan. Contoh
koloid
liofob adalah sol sulfida dan sol logam. 35
SOL LIOFIL

• Dapat dibuat langsung dengan mencampurkan fase terdispersi


dengan medium terdispersinya
• Mempunyai muatan yang kecil atau tidak bermuatan
• Partikel-partikel sol liofil mengadsorpsi medium pendispersinya.
• Terdapat proses solvasi/ hidrasi, yaitu terbentuknya lapisan
medium pendispersi yang teradsorpsi di sekeliling partikel
sehingga menyebabkan partikel sol liofil tidak saling bergabung

36
• Viskositas sol liofil > viskositas medium pendispersi
 Tidak mudah menggumpal dengan penambahan elektrolit
• Reversibel, artinya fase terdispersi sol liofil dapat dipisahkan
dengan koagulasi, kemudian dapat diubah kembali menjadi
sol dengan penambahan medium pendispersinya
• Memberikan efek Tyndall yang lemah
• Dapat bermigrasi ke anode, katode, atau tidak bermigrasi sama
sekali

37
SOL LIOFOB

 Tidak dapat dibuat hanya dengan mencampur fase terdispersi dan


medium pendisperinya
 Memiliki muatan positif atau negative
 Partikel-partikel sol liofob tidak mengadsorpsi
medium pendispersinya.
 Muatan partikel diperoleh dari adsorpsi partikel-partikel ion yang
bermuatan listrik
 Viskositas sol hidrofob hampir sama dengan viskositas
medium pendispersi
38
 Mudah menggumpal dengan penambahan elektrolit
karena mempunyai muatan
 Irreversibel artinya sol liofob yang telah menggumpal tidak
dapat diubah menjadi sol
 Memberikan efek Tyndall yang jelas
 Akan bergerak ke anode atau katode, tergantung jenis muatan
partikel

39
KOLOID EMULSI

 Berdasarkan medium pendispersinya, emulsi dapat dibagi menjadi:


a. Emulsi Gas
b. Emulsi Cair

40
EMULSI GAS

 Emulsi gas dapat disebut juga aerosol cair yang adalah


emulsi dalam medium pendispersi gas.
 Pada aerosol cair, seperti; hairspray dan obat nyamuk dalam
kemasan kaleng, untuk dapat membentuk system koloid atau
menghasilkan semprot aerosol yang diperlukan, dibutuhkan
bantuan bahan pendorong/ propelan aerosol, anatar lain; CFC
(klorofuorokarbon atau Freon).

41
 Aerosol cair juga memiliki sifat-sifat seperti sol liofob; efek
Tyndall, gerak Brown, dan kestabilan denganmuatan
partikel.
 Contoh:
dalam hutan yang lebat, cahaya matahari akan disebarkan
oleh partikel-partikel koloid dari sistem koloid kabut
merupakan contoh efek Tyndall pada aerosol cair.

42
EMULSI CAIR

 Emulsi cair melibatkan dua zat cair yang tercampur, tetapi tidak
dapat saling melarutkan, dapt juga disebut zat cair polar &zat
cair non-polar.
 Biasanya salah satu zat cair ini adalah air (zat cair polar) dan
zat lainnya; minyak (zat cair non-polar).

43
 Emulsi cair itu sendiri dapat digolongkan menjadi 2 jenis,
yaitu;  emulsi minyak dalam air
Contoh : susu yang terdiri dari lemak yang terdispersi dalam
air,jadi butiran minyak di dalam air
 emulsi air dalam minyak
Contoh : margarine yang terdiri dari air yang terdispersi dalam
minyak, jadi butiran air dalam minyak

44
BEBERAPA SIFAT EMULSI
YANG PENTING:
 Demulsifikasi
Kestabilan emulsi cair dapat rusak apabila terjadi
pemansan, proses sentrifugasi, pendinginan, penambahan
elektrolit, dan perusakan zat pengemulsi.
 Krim atau creaming atau sedimentasi dapat terbentuk
pada proses ini.
 Pembentukan krim dapat kita jumpai pada emulsi minyak
dalam air, apabila kestabilan emulsi ini rusak,maka pertikel-
partikel minyak akan naik ke atas mem
 bentuk krim.
45
Sedangkan sedimentasi yang terjadi pada emulsi air
dalam minyak; apabila kestabilan emulsi ini rusak, maka
partikel-partikel air akan turun ke bawah.
Contoh penggunaan proses ini adalah: penggunaan
proses demulsifikasi dengan penambahan elektrolit untuk
memisahkan karet dalam lateks yang dilakukan dengan
penambahan asam format (CHOOH) atau asam asetat
(CH3COOH).

46
 Pengenceran
Dengan menambahkan sejumlah medium
pendispersinya, emulsi dapat diencerkan.
Sebaliknya, fase terdispersi yang dicampurkan akan
dengan spontan membentuk lapisan terpisah.
Sifat ini dapat dimanfaatkan untuk menentukan
jenis emulsi.

47
EMULSI PADAT ATAU GEL

 Gel adalah emulsi dalam medium pendispersi zat padat,


dapat juga dianggap sebagai hasil bentukkan dari
penggumpalan sebagian sol cair.
 Partikel-partikel sol akan bergabung untuk membentuk suatu
rantai panjang pada proses penggumpalan ini.
 Rantai tersebut akan saling bertaut sehingga membentuk suatu
struktur padatan di mana medium pendispersi cair terperangkap
dalam lubang-lubang struktur tersebut.

48
 Sehingga, terbentuklah suatu massa berpori yang semi-
padat dengan struktur gel.
 Ada dua jenis gel, yaitu:
1. Gel elastis
2. Gel non-elastis

49
GEL ELASTIS

 Karena ikatan partikel pada rantai adalah adalah gaya tarik-


menarik yang relatif tidak kuat, sehingga gel ini bersifat
elastis.
 Maksudnya adalah gel ini dapat berubah bentuk jika diberi gaya
dan dapat kembali ke bentuk awal bila gaya tersebut ditiadakan.
 Gel elastis dapat dibuat dengan mendinginkan sol iofil
yang cukup pekat. Contoh gel elastis adalah gelatin dan
sabun.
50
GEL NON-ELASTIS

 Karena ikatan pada rantai berupa ikatan kovalen yang cukup kuat, maka gel
ini dapat bersifat non-elastis.
 Maksudnya adalah gel ini tidak memiliki sifat elastis, gel ini tidak akan
berubah jika diberi suatu gaya.
 Salah satu contoh gel ini adalah gel silica yang dapat dibuat dengan reaksi
kia; menambahkan HCl pekat ke dalam larutan natrium silikat, sehingga
molekul-molekul asam silikat yang terbentuk akan terpolimerisasi dan
membentuk gel silika.

51
KOLOID BUIH

 Buih adalah koolid dengan fase terdisperasi gas dan


medium pendisperasi zat cair atau zat padat.
 Baerdasarkan medium pendisperasinya, buih
dikelompokkan menjadi dua, yaitu:
1. Buih Cair (Buih)
2. Buih Padat

52
BUIH CAIR (BUIH)

 Buih cair adalah sistem koloid dengan fase terdisperasi gas dan
dengan medium pendisperasi zat cair.
 Fase terdisperasi gas pada umumnya berupa udara atao karbondioksida
yang terbetuk dari fermentasi.
 Kestabilan buih dapat diperoleh dari adanya zat pembuih
(surfaktan). Zat ini teradsorbsi ke daerah antar-fase dan mengikat
gelembung-gelembung gas sehingga diperoleh suatu kestabilan.

53
 Ukuran kolid buih bukanlah ukuran gelembung gas seperti pada
sistem kolid umumnya, tetapi adalah ketebalan film (lapisan
tipis) pada daerah antar-fase dimana zat pembuih teradsorbsi,
ukuran kolid berkisar 0,0000010 cm.
 Buih cair memiliki struktur yang tidak beraturan.
 Strukturnya ditentukan oleh kandungan zat cairnya, bukan
oleh komposisi kimia atau ukuran buih rata-rata.
 Jika fraksi zat cair lebih dari 5%, gelembung gas akan
mempunyai bentuk hamper seperti bola. Jika kurang dari 5%,
maka bentuk gelembung gas adalah polihedral.
54
 Beberapa sifat buih cair yang penting:
 Struktur buih cair dapat berubah dengan waktu, karena:
 pemisahan medium pendispersi (zat cair) atau drainase, karena
kerapatan gas dan zat cair yang jauh berbeda,
 terjadinya difusi gelembung gas yang kecil ke gelembung gas
yang besar akibat tegangan permukaan, sehingga ukuran
gelembung gas menjadi lebih besar,
 rusaknya film antara dua gelembung gas.
55
 Struktur buih cair dapat berubah jika diberi gaya dari luar.
 Bila gaya yang diberikan kecil, maka struktur buih akan
kembali ke bentuk awal setelah gaya tersebut ditiadakan.
 Jika gaya yang diberikan cukup besar, maka akan
terjadi deformasi.

56
 Contoh buih cair:
 Buih hasil kocokan putih telur
 karena udara di sekitar putih telur akan teraduk dan
menggunakan zat pembuih, yaitu protein dan
glikoprotein yang berasal dari putih telur itu sendiri
untuk membentuk buih yang relative stabil. Sehingga
putih telur yang dikocok akan mengembang.

57
 Buih hasil akibat pemadam kebakaran
 Alat pemadam kebakaran mengandung campuran
air, natrium bikarbonat, aluminium sulfat, serta
suatu zat pembuih.
 Karbondioksida yang dilepas akan membentuk buih
dengan bamtuam zat pembuih tersebut.

58
BUIH PADAT

 Buih padat adalah sistem kolid dengan fase terdisperasi gas


dan denganmedium pendisperasi zat padat.
 Kestabilan buih ini dapat diperoleh dari zat pembuih juga (surfaktan).
 Contoh-contoh buih padatyang mungkin kita ketahui:

59
 Roti
Proses peragian yang melepas gas karbondioksida
terlibat dalam proses pembuatan roti.
Zat pembuih protein gluten dari tepung kemudian akan
membentuk lapisan tipis mengelilimgi gelembung-
gelembung karbondioksida untuk membentuk buih padat.
 Batu apung
Dari proses solidifikasi gelas vulkanik, maka terbentuklah
batu apung.
 Styrofoam
60
Styrofoam memiliki fase terdisperasi karbondioksida dan
udara, serta medium pendisperasi polistirena.