Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH

HADIST TENTANG ETOS KERJA


DAN HADIST TENTANG ETIKA DALAM MAJELIS

Disusun Oleh :
Nama : Muhammad Khoirul Rizal
Kelas : XII Agama 2
Guru Pembimbing : Drs. Kasim

MADRASAH ALIYAH NEGERI (MAN) 1 OKU TIMUR


KECAMATAN BELITANG
KABUPATEN OGAN KOMERING ULU TIMUR
TAHUN AJARAN 2020/2021

i
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan


rahmat serta karunia-Nya kepada penulis sehingga penulis berhasil
menyelesaikan makalah yang berjudul “Hadist tentang Etos Kerja dan Hadist
tentang Etika dalam Majelis ini tepat pada waktunya”
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Guru Pembimbing Bapak
Drs. Kasim yang telah memberikan arahan dan bimbingan dalam pembuatan
makalah ini serta kepada semua pihak yang terlibat dalam pembuatan makalah ini.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena
itu, kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami
harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat
bagi kita semua yang membacanya.

Belitang, Maret 2021

Penulis,

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL........................................................................................ i

KATA PENGANTAR...................................................................................... ii

DAFTAR ISI.................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang........................................................................... 1
B. Rumusan Masalah...................................................................... 2
C. Tujuan........................................................................................ 2

BAB II PEMBAHASAN
A. Hadist tentang Etos Kerja........................................................... 3
B. Hadist tentang Etika dalam Majelis........................................... 5

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan .............................................................................. 7
B. Saran ........................................................................................ 7

DAFTAR PUSTAKA....................................................................................... 8

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Agama Islam yang berdasarkan Al-Quran dan Hadist sebagai tuntunan dan
pegangan bagi kaum muslimin mempunyai fungsi tidak hanya mengatur dalam
segi ibadah saja melainkan juga mengatur umat dalam memberikan tuntunan
dalam masalah yang berkenaan dengan kerja. Rasulullah SAW bersabda
“Bekerjalah untuk duniamu seakan-akan kamu hidup selamanya, dan beribadahlah
untuk akhiratmu seakan-akan kamu mati besok.”
Dalam situasi globalisasi saat ini, kita dituntut untuk menunjukkan etos
kerja yang tidak hanya rajin, gigih, setia akan tetapi senantiasa menyeimbangkan
dengan nilai-nilai islami yang tentunya tidak boleh melampaui batasan-batasan
yang telah ditetapkan Al-Quran dan Hadist.
Rasulullah merupakan suri tauladan yang baik, karena mempunyai sifat
yang sangat luhur yang tidak dimiliki manusia lain di dunia ini. Beliau
mengajarkan sedemikian rupa tentang semua aspek kehidupan manusia seperti
adab dan etika. Beliau mengatur manusia dalam segala hal dalam bertindak,
sehingga mempunyai relevansi terhadap kehidupan sosial. Pelajaran yang
diberikan beliau dalam kehidupan ini juga sangat menyeluruh. Tidak hanya
terbatas dalam masalah-masalah besar saja tetapi sampai masalah kecil beliau juga
mengajarkannya seperti masalah etika dalam majelis ilmu juga diatur oleh islam.
Oleh karenanya, Islam telah mengatur etika berkumpul dalam suatu
majelis ilmu. Majelis ilmu yang pada umumnya diadakan di masjid sekarang
mulai merebak tidak hanya dipedesaan tetapi diperkotaanpun semakin marak. Hal
ini menunjukkan tingkat kesadaran beragama sudah semakin maju. Namun perlu
kita ketahui etika Islam di majelis Ilmu atau pada perkumpulan-perkumpulan
lainya seperti rapat, musyawarah, arisan dan lain-lain agar suasana dapat
berlangsung dengan tenang, hikmah dan membawa berkah. Makalah ini akan
membahas tentang hadist etos kerja dan hadist etika dalam majelis.

1
B. Rumusan Masalah
1. Jelaskan dan sebutkan hadist-hadist tentang etos kerja?
2. Jelaskan dan sebutkan hadist-hadist tentang etika dalam majelis?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui hadist-hadist tentang etos kerja.
2. Untuk mengetahui hadist-hadist tentang etika dalam majelis.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Hadist tentang Etos Kerja


1. Hadits Tentang Etos Kerja Oleh HR. Ibnu Majah

"Telah menceritakan kepada kami [Hisyam bin Ammar] berkata,


telah menceritakan kepada kami [Isma'il bin 'Ayyasy] dari [Bahir bin Sa'd]
dari [Khalid bin Ma'dan] dari [Al Miqdam bin Ma'dikarib Az Zubaidi] dari
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Tidak ada yang
lebih baik dari usaha seorang laki-laki kecuali dari hasil tangannya sendiri.
Dan apa-apa yang diinfakkan oleh seorang laki-laki kepada diri, isteri,
anak dan pembantunya adalah sedekah." (HR. Ibnu Majah).
Hadits di atas merupakan motivasi dari Nabi Saw kepada kaum
muslimin untuk me- miliki etos kerja yang tinggi. Kita dilarang oleh Nabi
Saw hanya bertopang dagu dan berpangku tangan mengharap rezeki
datang dari langit. Kita harus giat bekerja untuk memenuhi kebutuhan
hidup diri dan keluarga. Bahkan dikatakan oleh Nabi Saw bahwa tidak ada
yang lebih baik dari usaha seseorang kecuali hasi kerjanya sendiri. Hal ini
tentunya juga bukan sembarang kerja tetapi pekerjaan yang halal dan tidak
bertentangan deng syari’at agama Islam.
Dari Hisyam bin ‘Urwah dari bapaknya dari Kakeknya ia berkata,
Rasulullah Saw bersabda: “Sekiranya salah seorang dari kalian mengambil
tali dan membawanya ke gunung, lalu ia datang dengan membawa satu
ikat kayu di atas punggungnya, kemudian menjualnya hingga dapat

3
memenuhi kebutuhannya adalah lebih baik daripada meminta-minta
manusia, baik mereka memberi ataupun tidak” (HR. Ibnu Majah).

2. Hadits Tentang Etos Kerja Oleh HR. Muslim


Nilai mulia bukan hanya dari sisi memerolehnya saja,
membelanjakannyapun untuk anak, istri, dan pembantu dinilai sedekah
oleh Allah. Betapa luhur ajaran Islam yang mendukung betul bagi para
pemeluknya untuk giat bekerja. Dalam hadis lain Nabi pernah
mengajarkan kepada kita sebuah do’a yang sangat indah sekaligus
memotivasi kita untuk memiliki etos kerja yang tinggi, sebagai berikut :
‫كَ ِم ْن‬MMِ‫و ُذ ب‬MM‫صلَّى هَّللا ُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم يَقُو ُل اللَّهُ َّم إِنِّي أَ ُع‬
َ ِ ‫ك قَا َل َكانَ َرسُو ُل هَّللا‬ ٍ ِ‫َح َّدثَنَا أَنَسُ بْنُ َمال‬
ِ ‫ب ْالقَب ِْر َو ِم ْن فِ ْتنَ ِة ْال َمحْ يَا َو ْال َم َما‬
‫ت‬ ِ ‫ك ِم ْن َع َذا‬ َ ِ‫ْال َعجْ ِز َو ْال َك َس ِل َو ْال ُج ْب ِن َو ْالهَ َر ِم َو ْالب ُْخ ِل َوأَعُو ُذ ب‬
Telah menceritakan kepada kami Anas bin Mālik dia berkata;
“Rasūlullah pernah berdoa: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu
dari kelemahan, kemalasan, rasa takut, kepikunan, dan kekikiran. Dan aku
juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur serta bencana kehidupan dan
kematian” (HR. Muslim).

3. Hadits Tentang Etos Kerja yang Disampaikan Nabi Muhammad


SAW
Hadits-hadist di atas jelas menunjukkan bahwa Islam sangat
menekankan pada pentingnya bekerja keras serta sangat tidak mengajarkan
umatnya untuk menjadi pemalas, lemah, apalagi menjadi peminta-minta
sebagaimana hadits Nabi Saw:
‫ َذ‬M‫لَّ َم أَل َ ْن يَأْ ُخ‬M‫صلَّى هَّللا ُ َعلَ ْي ِه َو َس‬
َ ِ ‫ال َرسُو ُل هَّللا‬ َ َ‫ع َْن ِه َش ِام ْب ِن عُرْ َوةَ ع َْن أَبِي ِه ع َْن َج ِّد ِه ق‬
َ َ‫ال ق‬
‫هُ ِم ْن أَ ْن‬Mَ‫ ٌر ل‬M‫ا خَ ْي‬MMَ‫تَ ْغنِ َي بِثَ َمنِه‬M‫ا فَيَ ْس‬MMَ‫ر ِه فَيَبِي َعه‬M ٍ َ‫أَ َح ُد ُك ْم أَحْ بُلَهُ فَيَأْتِ َي ْال َجبَ َل فَيَ ِج َئ بِح ُْز َم ِة َحط‬
ِ M‫ب َعلَى ظَ ْه‬
ُ‫اس أَ ْعطَوْ هُ أَوْ َمنَعُوه‬
َ َّ‫يَسْأ َ َل الن‬

4
B. Hadist tentang Etika dalam Majelis
1.  Hadits  tentang Duduk Bersama Ulama’
M‫ائِلُوْ ا‬M‫ا َء َو َس‬MM‫وْ ا ْال ُعلَ َم‬M‫ َجا لِ ُس‬: ‫صلَّى هللاُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم‬ َ ‫ع َْن اَبِ ْى ج‬
َ ِ‫ُح ْيفَةَ قَا َل قَا َل َرسُوْ ُل هللا‬
)‫ْال ُكبَ َرا َء َو َخا لِطُوْ ا ْال ُح َك َما َء (رواه الطبراني فى كنز العمال‬
“Diriwayatkan dari Abi Juhaifah ia berkata: Telah berkata
Rasulullah SAW, “duduklah kalian semua bersama para ulama’ dan
bertanyalah kalian semua kepada orang besar atau tokoh dan bergaulah
kalian semua bersama orang-orang yang ahli hikmah
2. Hadits tentang Berlapang-lapang dalam Majelis
‫اَل يُقِ ْي َم َّن‬:‫صلَّى هللاِ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم‬
َ ِ‫ال َرسُوْ ُل هللا‬ َ َ‫ ق‬:‫ي هللاُ َع ْنهُ َما قَا َل‬ Mَ ‫ض‬ ِ ‫َع ِن اب ِْن ُع َم َر َر‬
‫ َوتَفَ َّسحُوْ ا َو َكانَ ابْنُ ُع َم َر اِ َذا‬M‫ َولَ ِك ْن ت ََو َّسعُوْ ا‬, ‫أَ َح ُد ُك ْم َر ُجاًل ِم ْن َمجْ لِ ِس ِه ثُ َّم يَجْ لِسُ فِ ْي ِه‬
)‫قَا َم لَهُ َر ُج ٌل ِم ْن َمجْ لِ ِس ِه لَ ْم يَجْ لِسْ فِ ْي ِه (متفق عليه‬
“Diriwayatkan dari Ibnu Umar RA ia berkata: Rasulullah SAW
bersabda,’ janganlah seseorang mengusir temanya dari tempat duduk,
kemudian ia duduk padanya, hendaknya kamu memperluas
( merenggangkan ) untuk memberi tempat. Adalah ibnu umar dalam
mempraktekkan ini, jika seseorang bangun dari majelis tidak suka duduk
pada tempat orang itu (Muttafaqun ‘alaih)”.
3. Hadits tentang Keutamaan Majelis Dzikir
َ ‫ ِه َعلَى النَّبِ ِّي‬Mِ‫هَدَا ِن ب‬M‫ع َْن أَ بِ ْي هُ َر ْي َرةَ َوأَبِ ْي َس ِع ْي ٍد يَ ْش‬
‫ا‬MM‫ َم‬:‫ا َل‬MMَ‫ق‬  ‫لَّ َم‬M‫ ِه َو َس‬M‫لَّى هللاِ َعلَ ْي‬M‫ص‬
‫ت‬ َّ ‫ ةُ َوتَغ‬M‫ ِه اِاَّل َحفَّ ْتهُ ُم ْال َماَل ئِ َك‬M‫ذ ُكرُوْ نَ هللاَ فِ ْي‬Mْ Mَ‫ا ي‬M‫م َمجْ لِ ًس‬Mٌ ْ‫و‬MMَ‫س ق‬
ْ َ‫ َّزل‬Mَ‫ ةُ َوتَن‬M‫م الرَّحْ َم‬Mُ ُ‫ ْته‬M‫َش‬ َ َ‫َجل‬
)‫م هللاُ فِ ْي َم ْن ِع ْن َدهُ (رواه ابن ماجه‬Mُ ُ‫َعلَ ْي ِه ُم ال َّس ِك ْينَةُ َو َذ َك َره‬
“Diriwayatkan dari Abi Hurairah dan Abi Sa’id keduanya
menyaksikan Nabi SAW bersabda ” tidaklah suatu kaum duduk dalam
suatu majlis untuk berdzikir mengingat Allah, melainkan mereka akan
dikelilingi oleh para malaikat, diliputi rahmat dan Allah menyebut-nyebut
mereka dikalangan makhluk yang ada disisiNya. (HR. Ibnu Majah).”

5
4. Hadits tentang Tata Cara di Majelis Ilmu
‫صلَّى هللاُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم بَ ْينَ َما ه َُو َجا لِسٌ فِ ْي ْال َم ْس ِج ِد‬
َ ِ‫ع َْن أَبِ ْي َواقِ ٍد اَ ْللَ ْي ِش ِي أَ َّن َرسُوْ َل هللا‬
‫َب‬َ ‫صلَّى هللاُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم َو َذه‬
َ ِ‫َان اِلى َرسُوْ ِل هللا‬ ِ ‫َوالنَّاسُ َم َعهُ اِ ْذ أَ ْقبَ َل ثَاَل ثَةُ نَفَ ٍر فَأ َ ْقبَ َل اِ ْثن‬
‫ ةً فِ ْي‬M‫ َرأَى فُرْ َج‬M َ‫ ُدهُ َما ف‬M‫صلَّى هللاُ َعلَ ْي ِه َو َسلَّ َم فَأ َ َّما أَ َح‬َ ِ‫ف َعلَى َرسُوْ ِل هللا‬ Mَ َ‫ال فَ َوق‬
َ َ‫َوا ِح ٌد ق‬
‫ر َذا ِهبًا فَلَ َّما فَ َر َغ َرسُوْ ُل‬Mَ َ‫ث فَأ َ ْدب‬
ُ ِ‫س َخ ْلفَهُ ْم َوأَ َّما الثّاَل‬
َ َ‫س فِ ْيهَا َوأَ َّما ااْل خَ ُر فَ َجل‬َ َ‫ْال َح ْلقَ ِة فَ َجل‬
ِ‫ اِلَى هللا‬M‫أ َ َوى‬MMَ‫ ُدهُ ْم ف‬M‫ ِة أَ َّما أَ َح‬Mَ‫ر الثَّاَل ث‬M ُ
ِ Mَ‫م َع ِن النَّف‬Mْ ‫ ُر ُك‬Mِ‫م قَا َل أَاَل أ ْخب‬Mَ َّ‫صلَّى هللاُ َعلَ ْي ِه َو َسل‬
َ ِ‫هللا‬
َ ‫أ َ ْع َر‬MMَ‫ض ف‬
ُ‫ض هللا‬ َ ‫أ َ ْع َر‬MMَ‫ ُر ف‬M‫هُ َوأَ َّما ااْل َخ‬M‫ هللاُ ِم ْن‬M‫تَحْ يَا‬M‫اس‬ ْ َ‫فَأَواهُ هللاُ َوأَ َّما ااْل َ خَ ُر فَا ْستَحْ يَا َ ف‬
) ‫َع ْنهُ (رواه البخاري و مسلم‬
“Diriwayatkan dari Abu Waqid Al-Laitsi: Sewaktu Nabi sedang
duduk dalam Masjid bersama-sama dengan orang banyak, datang tiga
orang, yang dua orang masuk ke dalam Majlis Rasulullah dan seorang
lagi pergi. Setelah keduanya berdiri, yang seorang melihat tempat lapang
ditengah orang banyak, maka duduklah dia kesitu dan seorang lagi duduk
saja dibelakang orang banyak. Yang ketiga terus pergi, setelah Rasulullah
SAW berbicara ia berkata: baik ku ceritakan kepadamu tentang orang
yang ketiga itu: yang seorang mencari tempat kepada Allah, maka diberi
tampat oleh Allah, yang seorang lagi merasa malu, maka malu pula Allah
kepadanya Sedangkan orang yang ketiga berpaling, maka Allah pun
berpaling darinya. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

6
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Etos kerja yang baik juga berdasar pada dalil-dalil Al-Qur’an dan Al-
Hadits yang membahas secara rinci semua spek bekerja yang baik dan benar tidak
hanya menurut kehidupan bermasyarakat tetapi juga tepat menurut ajaran syariat
islam.
Dari hadits yang diriwayatkan Muttafaqun ‘alaih, dapat disimpulkan jika
kita sedang berada dalam suatu majlis ilmu, kita dilarang untuk menyingkirkan
orang lain dari tempat duduknya kemudian kita duduki. Hendaknya kita mencari
tempat duduk yang lain yang masih kosong. Jika terpaksa tidak ada, maka
mintalah dengan baik-baik.
Dari hadits Ibnu Majjah, dapat dipahami bahwa kita di suruh untuk selalu
mengingat Allah, karena pada saat itu malaikat turun dan akan memintakan
ampun pada Allah. Disamping itu jika kita mau rajin berdzikir maka Allah akan
menjajikan kebahagian untuk kita.

B. Saran
Demikianlah makalah yang dapat kami buat, sebagai manusia biasa kita
menyadari dalam pembuatan makalah ini masih terdapat banyak kesalahan dan
kekurangan. Untuk itu kritik dan saran yang bersifat konstruktif sangat kami
harapkan demi kesempurnaan makalah ini dan berikutnya. Semoga makalah ini
bermanfaat bagi kita semua. Amin.

7
DAFTAR PUSTAKA

Ali, Muhammad Daud. 1998. Pendidikan Agama Islam. Jakarta: PT Raja   


Grafindo Persada

A. Majid Hasyim, Husaini. 1993. Syarah Riyadhusshalihin. Surabaya: PT. Bina


Ilmu.

An Nawawi, Imam, Terjemah al-Adzkar, pnrj. M. Tarsi Hawi. Bandung: PT Al-


Ma’arif.

Bukhari, Imam. 1997. Adabul Mufrad. Surabaya: Mutiara Ilmu.

Hamzah, Ya’qub. 1992. Etos Kerja Islami. Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya

Muhammad Tholhah. 2005.  Islam dan Masalah Sumber Daya Manusia. Jakarta :
Lantabora Press.

Muhammad Fu’ad Abdul Baqi. 2014.  Mutiara Hadits Shahih Bukhari-Muslim.


Solo : Andalus.2014.