Abstrak. Sumber belajar yang belum memadai membuat peserta didik cenderung pasif
pada saat proses pembelajaran. Kemampuan peserta didik untuk mengembangkan
keterampilan berpikir masih rendah dan berdampak pada hasil belajar peserta didik
dikarenakan peserta didik hanya menerima informasi dari guru dengan menghafal.
Kurikulum 2013 menuntut guru lebih aktif untuk mengembangkan kualitas
pembelajaran. Dengan demikian pembelajaran 2013 menuntut adanya perubahan
dimana pembelajaran harus berpusat pada peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk
mengembangkan lembar kerja peserta didik berbasis inkuiri pada materi sistem
reproduksi manusia. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang
mengadaptasi model pengembangan 4D. Ada 3 tahap dalam penelitian ini terdiri dari
tahap pendefenisian (define), perancangan (design), pengembangan (develop).
Instrumen penelitian yang digunakan adalah wawancara, angket dan dokumentasi.
LKPD hasil pengembangan divalidasi oleh para ahli materi, media dan bahasa
selanjutnya diujicobakan pada skala kecil dan skala besar yang terdiri dari guru dan
peserta didik kelas XI MIA SMA Negeri 1 Nita. Berdasarkan hasil validasi, respon guru
dan peserta didik di simpulkan bahwa LKPD yang dikembangkan layak digunakan
sebagai sumber belajar khususnya mata pelajaran biologi.
Kata Kunci: 4D, Inkuiri, Lembar Kerja Peserta Didik, Sistem Reproduksi Manusia
1. Pendahuluan
Pendidikan merupakan salah individu dan warga masyarakat.
satu kebutuhan dasar setiap manusia, Kurikulum Sistem Nasional melakukan
karena dapat digunakan untuk pengembangan kurikulum 2013 yang
meningkatkan kesejateraan rakyat. Hal bertujuan agar Indonesia dapat
tersebut, sesuai dengan Suryosubroto menghasilkan insan yang produktif dan
(2010), bahwa pendidikan merupakan kreatif melalui penguatan sikap,
usaha yang sengaja dan terencana keterampilan dan pengetahuan yang
untuk membantu perkembangan terintegrasi. kurikulum 2013 dipandang
potensi dan kemampuan anak agar sebagai perubahan inovatif bagi
bermanfaat bagi kepentingan sebagai pendidikan di Indonesia. Pembelajaran
38
2013 menuntut adanya perubahan dari peserta didik, dan menunjang
Teacher centered learning kearah kemampuan pemecahan masalah.
Student centered learning (Mulyasa, Keterbatasan perangkat pembelajaran
2014). tentunya akan berpengaruh pada
Ketercapain kurikulum 2013 kualitas pembelajaran, khususnya
guru diharapkan lebih aktif untuk pembelajaran biologi. Bahan ajar atau
mengembangkan dan meningkatkan perangkat pembelajaran yang
kualitas pembelajaran. Setiap pendidik digunakan salah satunya adalah lembar
dan tenaga kependidikan selain kegiatan peserta didik (LKPD).
menguasai kemampuan teknis yang Penggunaan LKPD dalam
relevan dengan tugasnya, pendidik juga pembelajaran dapat memberikan
harus memiliki pemahaman konseptual kesempatan untuk mengembangkan
mengenai kurikulum dan pembelajaran proses berpikir siswa (Wati, dkk., 2017).
termasuk kemampuan Proses pembelajaran adalah
mengembangkan kurikulum di sekolah. terjadinya komunikasi antara guru dan
Salah satu bidang ilmu dalam peserta didik yang baik, ketika
kurikulum 2013 yang dapat dipelajari penyampaian materi pembelajaran
dengan konstuktivistik adalah sains, (Suprijono, 2009).Tugas guru adalah
dimana melalui pendekatan mengkondisikan siswa agar aktif
pembelajaran Scientifi capproach sehingga potensi siswa (kognitif, afektif,
(Sartika, 2014), yaitu pendekatan psikomotorik) dapat berkembang. Oleh
pembelajaran yang berdasar pada karena itu, dalam meningkatkan
pengamatan, pertanyaan, prestasi belajar peserta didik, maka
pengumpulan data, penalaran dan guru membuat pembelajaran menjadi
penyajian hasil melalui pemanfaatan lebih inovatif dengan memanfaatkan
berbagai sumber belajar. Biologi bahan ajar sehingga mendorong
merupakan salah satu mata pelajaran peserta didik aktif dalam pembelajaran
sains yang dapat diajarkan melalui dan mengembangkan kemampuan diri
pendekatan scientific karena konsep- secara mandiri maupun kelompok
konsep dalam biologi dapat ditemukan (Putri &Wityamoko, 2013.,
dan dapat diamati dalam kehidupan Prastowo, 2014).
sehari-hari. Proses pembelajaran Pembelajaran biologi merupakan
biologi yang masih bersifat teacher salah satu pelajaran dalam bidang IPA
centered dapat disebabkan karena yang menyediakan berbagai proses
kurangnya bahan ajar yang dapat pengalaman belajar sains. Konsep IPA
mendukung interaksi siswa dengan berhubungan dengan kehidupan
objek yang dipelajari (Widyaningrum, sehari-hari dan menekankan pada tema
dkk., 2013). Oleh karena itu, harus ada utama secara jelas sehingga
sumber belajar yang terprogram untuk memberikan informasi keterkaitan
mendukung interaksi siswa dalam konsep. IPA merupakan suatu
proses pembelajaran (Suhardi, 2013). pendekatan yang menekankan pada
Permasalahan yang terdapat proses ilmiah dalam mengkaji alam
dalam dunia pendidikan di Indonesia sebagai pengetahuan ilmiah dan dapat
adalah masih terbatasnya bahan ajar diaplikasikan dalam kehidupan sehari-
atau perangkat pembelajaran yang hari sebagai sebuah pengalaman
memfasilitasi peserta didik dalam belajar. Kegiatan pembelajaran
memperkaya pengalaman, diharapkan berorientasi pada keaktifan
membangun pengetahuan keaktifan peserta didik di kelas dan
39
pembelajarannya dititik beratkan pada memperoleh informasi dengan
prosesnya, bukan pada hasil yang melakukan observasi dan atau
dicapainya. Hal ini berkaitan dengan eksperimen untuk mencari jawaban
proses pembelajaran IPA yang atau memecahkan masalah terhadap
dilakukan kebanyakan masih pertanyaan atau rumusan masalah
berorientasi pada hasil dan penuntasan dengan menggunakan kemampuan
materi pelajaran saja tanpa melatih berpikir kritis dan logis (Sanjaya, 2014).
peserta didik untuk lebih Rizayana (2014) mengatakan bahwa
mengembangkan keterampilan dengan pengembangan LKPD berbasis
berpikirnya (Sukmasari & Rosana, inkuiri, pembelajaran menjadi lebih
2017). berpusat pada siswa (student-centered
Berdasarkan hasil wawancara learnig) dengan metode
peserta didik kelas XI SMA Negeri I pengembangan dan hasil yang
Nita, selama melaksanakan praktek ditemukan layak digunakan sebagai
pengalaman lapangan (PPL), peserta sumber belajar. Pernyataan tersebut
didik menyatakan bahwa pembelajaran didukung oleh Rodliyah (2016) yang
biologi di kelas masih berpusat pada menyatakan bahwaLembar Kerja
guru, sehingga peserta didik cenderung Peserta Didik berbasisinkuiri dengan
pasif pada saat pembelajaran. Pada menggunakan model pengembangan
saat pembelajaran,peserta didik hanya 4Ddapat meningkatkan kemampuan
menggunakan sumber belajar yang berpikir siswa. Model pembelajaran
disiapkan sekolah sehingga peserta yang dapat memberikan kesempatan
didik merasa jenuh dalam pembelajaran kepada peserta didik belajar mandiri,
karena keterbatasan media kreatif dan berpikir kritis salah satunya
pembelajaranserta metode yang adalah menggunakan model
digunakan guru pada saat pembelajaran inkuiri.
pembelajaran yakni metode ceramah, Mislia (2016) menyatakan
tanya jawab dan diskusisehingga bahwa pengembangan petunjuk
kemampuan peserta didik dalam praktikum biologi dengan
menganalisis masalah dalam menggunakan model pengembangan
pembelajaran masih rendah. Peserta 4D memperoleh hasil penilaian dari
didik hanya menerima informasi dari validator dengan memperoleh kriteria
guru dengan cara menghafal, hal valid sehingga petunjuk praktikum
tersebut berakibat pada kemampuan layak diuji cobakan. Hal ini dikarenakan
peserta didik untuk mengembangkan pada pembelajaran inkuiri, siswa lebih
keterampilan berpikirnya rendah dan banyak mendapatkan aktivitas dalam
berdampak pada hasil belajar peserta pembelajaran sehingga siswa
didik. mempunyai kemampuan berpikir kritis
Solusi yang perlu dilakukan dan kreatif dalam berinteraksi dengan
dalam menyelesaikan permasalahan di materi yang sedang diajarkan.
atas adalah perlu dikembangakan Berdasarkan permasalahan
LKPD berbasis inkuiri untuk membantu yang ditemukan, maka dilakukan
peserta didik menjadi aktif,kreatif, penelitian Pengembangan Lembaran
berpikir kristis serta mudah Kerja Peserta Didik (LKPD) Berbasis
mempelajari materi. Pendekatan Inkuiri Pada Materi Sistem Reproduksi
inkuiriadalah suatu proses untuk Manusia Kelas XI SMA.
40
2. Metode
41
struktur organ reproduksi pria dan peserta didik selama penelitian adalah
wanita, proses spermatogenesis dan sistem reproduksi manusia dengan sub
oogenesis serta gangguan pada sistem materi sebagai berikut :
reproduksi manusia. Setelah 1. Stuktur organ reproduksi pria dan
teridentifikasi materi sistem reproduksi wanita
manusia, dihasilkan tujuan 2. Proses spermatogenesis dan
pembelajaran yang diacu dari indikator oogenesis
pencapaian kompetensi yang sesuai 3. Gangguan pada sistem
dengan kurikulum 2013 yang akan reproduksi manusia
dipelajari.
e. Spesifikasi Tujuan Pembelajaran
d. Analisis Tugas Hasil spesifikasi tujuan
Analisis tugas dilakukan untuk pembelajaran adalah perumusan tujuan
merincikan materi pembelajaran yang pembelajaran dimana sebagai acuan
akan ditulis dalam LKPD. Analisis ini dalam merancang LKPD berbasis
mencakup analisis struktur isi yang inkuiri. Indikator/tujuan pembelajaran
mencakup analisis KD dan KI untuk disesuaikan dengan kompetensi dasar
materi sistem reproduksi manusia sesuai dengan kurikulum 2013 yang
sesuai dengan kurikulum 2013. Materi tertera pada Tabel 1.
pokok yang akan diberikan pada
42
96
94 93.7
92
90
88 87.5
86
84 83.3
82
80
78
Ahli Materi Ahli Bahasa Ahli Media
43
yang baik, menarik dilengkapi dengan aktivitas guru dan peserta didik
ilustrasi. bertujuan untuk melihat sejauh mana
guru dan peserta didik menggunakan
b. Hasil Aktivitas Guru dan Peserta produk yang dikembangkan selama
Didik kegiatan pembelajaran berlangsung.
Data hasil analisis aktivitas Hasil analisis pengamatan aktivitas guru
dilakukan untuk mengetahui tingkat dan peserta didik disajikan dalam
keefektifan produk yang telah bentuk persentase (Gambar 2).
dikembangkan. Data hasil pengamatan
92
90
90
88
88
86
86 85 85
84 83
82
80
78
Guru Kelompok Kelompok Kelompok Kelompok Kelompok
1 2 3 4 5
44
keaktifan peserta didik dalam proses mengembangkan pola berpikir yang
pembelajaran sangat tinggi, terutama rasional dan objektif dalam merespon
dalam hal memahami masalah dan substansi atau materi pembelajaran.
melakukan hipotesis. Sedangkan di
lihat dari aktivitas guru menunjukan c. Hasil Kelayakan LKPD Guru dan
kemudahan dalam pemakaian produk. Peserta Didik Kelas Kecil
Hal ini sesuai dengan pendapat
Prastowo (2014) bahwa menggunakan Data hasil validitas diperoleh dari
LKPD, pendidik dapat memancing hasil penilaian 1 guru biologi dan 10
peserta didik untuk aktif dalam proses peserta didik. Penilaian kelayakan
pembelajaran. (Kemendikbud, 2013) LKPD yang dikembangkan dinilai dari 4
menyatakan bahwa kegiatan yang ada aspek yaitu, aspek materi, kebahasan,
pada LKPD dapat mendorong dan penyajian dan kegrafikan. Hasil analisis
menginspirasi siswa untuk dapat data uji coba kelas kecil dapat dilihat
memahami, menerapkan dan pada Gambar 3.
90 80
80
70
57
60
50
40
30
20
10
0
Guru Peserta didik
Data analisis angket kelayakan menurut guru dengan nilai 87% dan
oleh guru terhadap LKPD diketahui peserta didik dengan nilai 91,25%.
bahwa LKPD dikategorikan layak Kriteria sangat layak ini menunjukan
dengan nilai 80%. Hasil uji kelayakan bahwa LKPD yang dikembangkan
oleh peserta didik dikategorikan sangat menggunakan kaidah Bahasa
layak dengan nilai 57%. Ditinjau dari Indonesia yang baik sehingga mudah di
aspek kelayakan materi, LKPD pahami. Ditinjau dari aspek penyajian,
dikategorikan layak menurut guru LKPD memiliki nilai 80% dengan
dengan nilai 80% dan peserta didik kategori layak dan peserta didik dengan
dengan nilai 89% dengan kategori nilai 86% dengan katergori sangat
sangat layak. Hal ini menunjukan bahwa layak. Hal ini menunjukan bahwa LKPD
LKPD yang dikembangkan telah yang dikembangkan memiliki tujuan
menyajikan materi dengan jelas, yang jelas sehingga menuntun peserta
keseluruhan isi LKPD mudah dipahami didik untuk memecahkan masalah dan
untuk menemukan konsep. menemukan konsep yang dipelajari.
Ditinjau dari aspek bahasa, Ditinjau dari aspek kegrafikan, LKPD
LKPD memiliki nilai sangat layak memiliki nilai sangat layak menurut
45
guru dengan nilai 95% dan peserta besar jika hasil analisis kepraktisan
didik dengan nilai 91,25%. Kriteria LKPD oleh guru dan peserta didik
sangat layak ini menunjukan bahwa memiliki rata-rata nilai 87% (Majid,
LKPD inkuiri yang dikembangkan dapat 2014).Hal ini sesuai dengan pendapat
menarik perhatian peserta didik dalam Arsyad (2014) bahwa bahan ajar dapat
kegiatan pembelajaran berlangsung dikatakan layak digunakan apabila
Hal ini sesuai dengan penelitian dilihat dari beberapa aspek adalah
Alberida (2017) melaporkan bahwa kelayakan isi, kebahasaan dan
pengembangan LKPD berbasis kelayakan penggunaan. Berdasarkan
pendekatan saintifik yang nilai yang diperoleh dari hasil uji coba
dikembangkan memilki nilai skala kecil maka dapat dikatakan bahwa
kepraktisan sebesar 85,94% oleh guru LKPD inkuiri yang dikembangkan dapat
dan dan 60% oleh peserta didik hal ini diujicobakan pada skala besar.
menunjukan bahwa LKPD mudah
digunakan, waktu pembelajaraan lebih d. Hasil Kelayakan LKPD Guru dan
efisien, memiliki daya tarik dan Peserta Didik Kelas Besar
bermanfaat. Selain itu penelitian ini
didukung oleh Afianti (2015) yang Data hasil validitas diperoleh dari hasil
menyatakan bahwa produk LKPD penilaian 2 guru biologi dan 24 peserta
berbasis inkuiri terbimbing dapat didik. Penilaian kelayakan LKPD yang
digunakan dalam kegiatan dikembangkan dinilai dari 4 aspek yaitu,
pembelajaran ditinjau dari nilai aspek materi, kebahasan, penyajian
kelayakan guru 80% dan peserta didik dan kegrafikan. Hasil analisis data uji
60,5% dengan kategori baik. coba kelas kecil dapat dilihat pada
Suatu LKPD dikatakan layak Gambar 4.
digunakan dan diuji cobakan pada skala
90 82.5
80
70
58.25
60
50
40
30
20
10
0
Guru Peserta didik
46
menyajikan materi dengan jelas, kimia layak digunakan sebagai sumber
keseluruhan isi LKPD mudah dipahami belajar karena mendapat nilai
oleh peserta didik untuk menemukan kelayakan dari guru dan peserta didik
konsep. sebesar 86% dan 79%. Hal ini didukung
Ditinjau dari aspek bahasa, LKPD oleh Oktaviani (2019) bahwa
memiliki nilai sangat layak menurut pengembangan LKPD berbasis project
guru dengan nilai 84,3% dan peserta based learninginkuiri dapat digunakan
didik dengan nilai 87,5%. Kriteria oleh peserta didik sebagai sumber
sangat layak ini menunjukan bahwa belajar dikarenakan nilai respon guru
LKPD yang dikembangkan dan peserta didik terhadap LKPD yang
menggunakan kaidah Bahasa dikembangkan adalah 86% dan 58,05%
Indonesia yang baik, sederhana dengan kategori sangat baik.
sehingga mudah di pahami. Ditinjau Oleh karena itu, dapat dikatakan
dari aspek penyajian, LKPD memiliki bahwa LKPD inkuiri yang
nilai 82,5% dengan kategori sangat dikembangkan dapat digunakan
layak oleh guru dan peserta didik sebagai bahan ajar dalam kegiatan
dengan nilai 85,6% dengan katergori pembelajaran dan dapat di
sangat layak. Hal ini menunjukan sebarluaskan pada beberapa sekolah.
bahwa LKPD yang dikembangkan LKPD dikatakan layak digunakan
memiliki tujuan yang jelas sehingga sebagai bahan ajar dengan memiliki
menuntun peserta didik untuk rata-rata nilai89% (Sary, 2015). Hal ini
memecahkan masalah dan sesuai dengan pendapat (Sumiati,
menemukan konsep yang dipelajari. dkk.,2007) bahwa LKPD dapat
Ditinjau dari aspek kegrafikan, LKPD membantu peserta didik untuk
memiliki nilai sangat layak menurut memproses hasil belajar yaitu
guru dengan nilai 100% dan peserta menemukan dan membuktikan konsep
didik dengan nilai 91%. Kriteria sangat yang dipelajari sesuai dengan
layak ini menunjukan bahwa LKPD kemampuannya. Pendapat tersebut
inkuiri yang dikembangkan dapat sejalan dengan (Majid, 2014) bahwa
menarik perhatian peserta didik dalam LKPD dapat memudahkan guru dalam
kegiatan pembelajaran berlangsung. melaksanakan pembelajaran,
Hal ini sesuai dengan penelitian membantu peserta didik belajar
Febryanti (2017) menyatakan bahwa memahami materi dan menjalankan
pengembangan LKPD berbasis inkuiri sesuatu secara tertulis.
terbimbingpada materiKesetimbangan
4. Simpulan
Kesimpulan yang diperoleh dari dan peserta didik dalam proses
penelitian ini bahwa LKPD yang pembelajaran.
dikembangkan dikatakan valid dan
layak digunakan sebagai sumber
belajara dalam proses pembelajaran.
Selain itu juga LKPD berbasis inkuiri
berpengaruh terhadap aktivitas guru
47
Acknowledgements
Ucapan terima kasih peneliti sampaikan pada SMA NEGERI I NITA atas kerja
samanya dalam penelitian ini.
Daftar Pustaka
1. Afianti, R. (2015). Hubungan antara self-regulated learning (SRL) dengan
kemandirian pada siswa program akselerasi sma negeri 1 purworejo. Skripsi.
Fakultas Psikologi Universitas Diponogoro.
2. Alberida, H. (2017). Desain Sistem Pembelajaran dalam Konteks Kurikulum 2013.
Bandung: PT Refika Aditama.
3. Arsyad, A. 2014. Pengembangan Media Visual Pada Hasil Belajar Akuntansi Siswa
Kelas XI SMK Tapanuli.Jurnal Neraca. Vol. 2 : 71
4. Aulia, 2017. Penggunaan Model Problem Based Learning Untuk Meningkatkan
Hasil Belajar Siswa. Skripi. Universitas Pasudan Bandung.
5. Departemen Pendidikan Nasional. (2008). Panduan Pengembangan Bahan Ajar.
Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
6. Febrianti, H. 2017. Efektivitas Penerapan Pendekatan Kontekstual dalam
Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Konsep Mol Kelas X SMA 9
Padang. Prosiding Semirata Bandar Lampung: FMIPA Universitas Lampung.
7. Hadson, (2013). Pendekatan Saintifik dan Kontekstual dalam Pembelajaran Abad
21 (Kunci Sukses Implementasi Kurikulum 2013). Bogor : Penerbit Ghalia
Indonesia.
8. Kemendikbud. (2013). Kurikulum 2013, Sekolah Menengah Atas (SMA)/ Madrasah
Aliyah (MA). Jakarta: Direktorat Jendral PendidikanDasar dan Menengah.
9. Lestari, I. (2018). Pengembangan Bahan Ajar Matematika Dengan Memanfaatkan
Geogebra Untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep.Jurnal Pendidikan
Matematika, Vol. 1 (1)
10. Majid, A. (2014). Perencanaan Pembelajaran Mengembangkan
StandarKompetensi Guru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
11. Mislia (2016). Pengembangan Petunjuk Praktikum Biologi Berbasis Inkuiri
Terbimbing pada Materi Sistem Pencernaan. JurnalBioeducation, Vol 7(2): 57-6.
12. Mulyasa, H.E. (2014). Guru Dalam Mengimplementasi Kurikulum 2013. Bandung:
PT Rosdakarya.
13. Oktaviani, Y. (2019). Pengembangan Lembar Kerja Siswa (LKS) Berbasis Project
Based learning Untuk Meningkatkan Kreatif Dan Hasil Belajar Peserta Didik Pada
materi Klasifikasi Makhluk Hidup Kelas VII Di SMP Katolik Virgo Videlis Maumere.
Skripsi. Universitas Nusa Nipa Maumere.
14. Prastowo, A. (2014). Pengembangan Bahan Ajar Tematik, Tinjauan Teoritis dan
Praktis. Jurnal Pendidikan Dasar, Vol. 3 (3)
15. Putri, B.K.,A. &Widyatmoko. (2013), Pengembangan LKS IPA Terpadu Berbasis
Inkuiri Tema Darah di SMP Negeri 2 Tengaran. Jurnal Pendidikan IPA Indonesia.
Vol. 5 (1)
16. Rizayana, F. (2014) Pengembanan LKPD berbasis inkuiri terhadap hasil belajar
matematika siswa di SMA. Skripsi.Fakultas Matematika dan Jurusan Ilmu
Pengetahuan Alam. Universitas Banda Aceh.
48
17. Rodliyah, Zidni (2016). Validitas Lembar Kegiatan Siswa Berorientasi Pendekatan
Scientific pada Materi Sistem Reproduksi Manusia. Bio Edu. Vol.3 (3)
18. Sanjaya, W . (2014). Stategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses
Pendidikan. Kencana . Jakarta.
19. Sartika S.B (2014). Keterampilan Guru SMP dalam Pembelajaran IPA Berorientasi
Kurikulum 2013. Prosiding seminar sains 2014 18 januari 2014. Surabaya:
Universitas Negeri Surabaya.
20. Sary, A. (2015) pengembangan Lembar kerja peserta didik (LKPD) berbasis
Scientific Apporoach siswa SMA kelas X Pada materi fungi. Jurnal Bioedukasi, Vol.
7 (1)
21. Suhardi. (2013).Pengembangan sumber belajar biologi. Yogyakarta: UNY Press
22. Sukmasari, P.V., & Rosana D. (2017). Pengembangan Penilaian Proyek
Pembelajaran IPA Berbasis Discovery Learning untuk Mengukur
KeterampilanPemecahan Masalah. Jurnal Inovasi Pendidikan IPA.Vol. 2 (1)
23. Sumiati, M. Ed., Asra. (2007). Metode Pembelajaran. Bandung: CV. Wacana
Prima.
24. Wati, D., Susilawati., Sri., &Haryati. (2017). Pengembangan Lembar Kegiatan
Peserta Didik (LKPD) Berbasis Discovery Learning pada Pokok Bahasan
Makromolekul. Skripsi. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau.
25. Widyaningrum, R., Sarwanto &Karyanto P., (2013). Pengembangan Modul
Berorientasi POE (Predict, Observe, Explain) Berwawasan Lingkungan Pada
Materi Pencemaran Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa. Jurnal Biodedukasi.
Vol. 6 (1)
49