Anda di halaman 1dari 29

ASUHAN KEPERAWATAN PADA An.

F
DENGAN Dengue Hemmorhagic Fever (DHF)
DI RUANG DAHLIA RSUD 45 KUNINGAN
Dianjukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Konsep Dasar Keperawatan II

Dosen Pengajar :

Ns. Aditiya Puspanegara, S.Kep., M.Kep

Disusun oleh :

1.Cicih Kuraesih
2.Cindy Adhi Gusti
3.Dewi Nurhayati
4.Endah Fatihatul Aini
5.Lilis Rismayanti
6.Pebbi Irmala Desinawati
Reg. Keperawatan C

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kuningan


TAHUN AJARAN 2018-2019

Jl. Lingkar Kadugede No.2Kuningan Jawa Barat Indonesia (0232) 875 847 fax:(0232) 875 123

Website : Stikku.ac.id email : info@stikeskuningan.ac.id


KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan penulis kemudahan sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa pertolongan-Nya tentunya penulis tidak
akan sanggup untuk menyelesaikan makalah ini dengan baik. Shalawat serta salam semoga
terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yaitu Nabi Muhammad SAW yang kita nanti-
natikan syafa’atnya di akhirat nanti.

Penulis mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat sehat-Nya, baik itu
berupa sehat fisik maupun akal pikiran, sehingga penulis mampu untuk menyelesaikan
pembuatan makalah untuk memenuhi salah satu tugas Konsep Keperawatan Dasar II.

Penulis tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan masih banyak
terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya.Kemudian apabila terdapat banyak kesalahan
pada makalah ini penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Demikian, semoga makalah ini dapat bermanfaat.Terima kasih.

Kuningan 9 Mei 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ....................................................................................................... i

DAFTAR ISI ...................................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang .............................................................................................................. 1
B. Tujuan ........................................................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian ...................................................................................................................... 2
B. Etiologi .......................................................................................................................... 2
C. Patofisiologi ................................................................................................................... 3
D. Manifestasi klinik .......................................................................................................... 4
E. Klasifikasi ...................................................................................................................... 4
F. Pemenuhan penunjang ................................................................................................... 4
G. Pencegahan .................................................................................................................... 4
H. Penatalaksanaan ............................................................................................................ 5-6
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian.................................................................................................................... 7-11
B. Test diagnostik ............................................................................................................. 12
C. Klasifikasi data ............................................................................................................. 12-13
D. Analisa data .................................................................................................................. 14-15
E. Diagnosa keperawatan .................................................................................................. 15-16
F. Intervensi keperawatan ................................................................................................. 16-17
G. Implementasi dan evaluasi ............................................................................................ 17-23
BAB IV PENUTUP
Kesimpulan dan saran ........................................................................................................... 24
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................................... 25

ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dengue Hemmorhagic Fever (DHF) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus
dengue dengan tanda dan gejala demam, nyeri otot, nyeri sendi disertai lekopenia, ruam,
limfadenopati, trombositopenia (Rohim, 2004). Sekitar 2,5 milyar (2/5 penduduk dunia)
mempunyai resiko untuk terkena infeksi virus Dengue. Lebih dari 100 negara tropis dan
subtropis pernah mengalami letusan demam berdarah.Kurang dari 500.000 kasus setiap tahun di
rawat di RS dan ribuan orang meninggal (Mekadiana, 2007).
Sebagian pasien DHF yang tidak tertangani dapat mengalami Dengue Syok Sindrom yang
dapat menyebabkan kematian. Hal ini dikarenakan pasien mengalami deficit volume cairan
akibat meningkatnya permeabilitas kapiler pembuluh darah sehingga darah menuju keluar
pembuluh.Sebagai akibatnya hampir 35% paien DHF yang terlambat ditangani di RS mengalami
syok hipovolemik hingga meninggal.
Saat ini angka kejadian DHF di RS semakin meningkat, tidak hanya pada kasus anak, tetapi
pada remaja dan juga dewasa.Oleh karena itu diharapkan perawat memiliki ketrampilan dan
pengetahuan yang cukup dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan
DHF.Ketrampilan yang sangat dibutuhkan adalah kemampuan untuk mengidentifikasi tanda-
tanda syok dan kecepatan dalam menangani pasien yang mengalamim Dengue Syok Sindrom
(DSS).

B. Tujuan
1. Melakukan pengkajian pada klien dengan DHF

2. Merumuskan dan menegakkan diagnosa keperawatan pada klien dengan DHF

3. Menyusun intervensi keperawatan pada klien dengan DHF

4. Melakukan implementasi keperawatan pada klien dengan DHF

5. Melakukan evaluasi pada klien dengan DHF

1
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Dengue Haemoragic Fever (DHF) adalah infeksi akut yang disebabkan oleh Arbovirus
(arthropodborn virus) dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes
Albopictus (Ngastiyah, 1995 ; 341).
Demam berdarah dengue adalah penyakit demam akut yang disebabkan oleh empat serotipe
virus dengue dan ditandai dengan empat gejala klinis utama yaitu demam yang tinggi,
manifestasi perdarahan, hepatomegali, dan tanda-tanda kegagalan sirkulasi sampai timbulnya
renjatan (sindroma renjatan dengue) sebagai akibat dari kebocoran plasma yang dapat
menyebabkan kematian  (Rohim dkk, 2002 ; 45).
DHF adalah penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue, sejenis virus yang tergolong
arbovirus dan masuk ke tubuh penderita melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti betina.Penyakit
ini lebih dikenal dengan sebutan Demam Berdarah Dengue (DBD). (Aziz Alimul, 2006: 123).

B. Etiologi
1.      Virus Dengue.
Virus dengue yang menjadi penyebab penyakit ini termasuk ke dalam Arbovirus
(Arthropodborn virus) group B, tetapi dari empat tipe yaitu virus dengue tipe 1,2,3 dan 4
keempat tipe virus dengue tersebut terdapat di Indonesia dan dapat dibedakan satu dari yang
lainnya. Secara serologis, virus dengue yang termasuk dalam genus flavovirus ini berdiameter 40
nonometer dapat berkembang biak dengan baik pada berbagai macam kultur jaringan baik yang
berasal dari sel – sel mamalia misalnya sel BHK (Babby Homster Kidney) maupun sel – sel
Arthropoda misalnya sel aedes Albopictus.
2.      Vektor.
Virus dengue serotipe 1, 2, 3, dan 4 yang ditularkan melalui vektor yaitu nyamukaedes
aegypti, nyamuk aedes albopictus, aedes polynesiensis dan beberapa spesies lain merupakan
vektor yang kurang berperan. infeksi dengan salah satu serotipe akan menimbulkan antibodi

2
seumur hidup terhadap serotipe bersangkutan tetapi tidak ada perlindungan terhadap serotipe
jenis yang lainnya (Arief Mansjoer & Suprohaita; 2000;420).

C. Patofisiologi
Virus Dengue masuk ke dalam tubuh manusia melalui gigitan nyamuk terjadi viremia, yang
ditandai dengan demam mendadak tanpa penyebab yang jelas disertai gejala lain seperti sakit
kepala, mual, muntah, nyeri otot, pegal diseluruh tubuh, nafsu makan berkurang dan sakit
perut, bintik-bintik merah pada kulit. Kelainan juga dapat terjadi pada sistem retikulo endotel
atau seperti pembesaran kelenjar-kelenjar getah bening, hati dan limpa. Pelepasan zat
anafilaktoksin, histamin dan serotonin serta aktivitas dari sistem kalikrein menyebabkan
peningkatan permeabilitas dinding kapiler/vaskuler sehingga cairan dari intra vaskuler keluar ke
ekstra vaskuler atau terjadinya perembesaran plasma akibat pembesaran plasma terjadi
pengurangan volume plasma yang menyebabkan hipovolemia, penurunan tekanan darah,
hemokonsentrasi, hipoproteinemia, efusi dan renjatan. Selain itu sistem reikulo endotel bisa
terganggu sehingga menyebabkan reaksi antigen anti bodiyang akhirnya bisa menyebabkan
anaphylaxia (Price dan Wilson, 2000).
Plasma merembes sejak permulaan demam dan mencapai puncaknya saat renjatan. Pada
pasien dengan renjatan berat, volume plasma dapat berkurang sampai 30% atau lebih. Bila
renjatan hipovolemik yang terjadi akibat kehilangan plasma yang tidak dengan segera diatasi
maka akan terjadi anoksia jaringan, asidosis metabolik dan kematian. Terjadinya renjatan ini
biasanya pada hari ke-3 dan ke-7 (Sudoyo, 2000).
Akibat lain dari virus dengue dalam peredaran darah akan menyebabkan depresi sumsum
tulang sehingga akan terjadi trombositopenia,yang berlanjut akan menyebabkan perdarahan
karena gangguan trombosit dan kelainan koagulasi dan akhirnya sampai pada perdarahan.
Reaksi perdarahan pada pasien DHF diakibatkan adanya gangguan pada hemostasis yang
mencakup perubahan vaskuler, trombositopenia (trombosit < 100.000/mm3),menurunnya
fungsi trombosit dan menurunnya faktor koagulasi (protrombin,faktor V, IX, X dan fibrinogen).
Perdarahan yang terjadi seperti peteke,ekimosis, purpura, epistaksis, perdarahan gusi, sampai

3
perdarahan hebat pada traktus gastrointestinal Pembekuan yang meluas pada intravaskuler
(DIC) jugabisa menyebabkan terjadi saat renjatan (Price dan Wilson, 2000).

D. Manifestasi Klinik
Menurut Wahidayat (2005) manifestasi klinis DHF sebagai berikut :
 Demam tinggi (2-7 hari),
 Perdarahan (petekia, purpura, epiktasis, perdarahan gusi),
 Pembesaran hati (hepatomegali), tekanan darah menurun,
 Pembesaran kelenjar limfa, gelisah, timbul sianosis di sekitar mulut, muntah, melena.

E. Klasifikasi
Menurut Suriadi (2010) derajat penyakit DHF diklasifikasikan menjadi 4 golongan, yaitu :
a. Derajat I : demam disertai gejala klinis lain, tanpa perdarahan spontan. Uji tourniquet positif,
trombositopenia dan hemokonsentrasi.
b. Derajat II : sama dengan derajat I, ditambah gejala pendarahan spontan.
c. Derajat III : ditandai oleh gejala kegagalan peredaran darah seperti nadi lemah dan cepat (>
120 x/mnt) tekanan nadi sempit (< 120 mmHg).
d. Derajat IV : nadi tidak teraba, tekanan darah tidak teratur.

F. Pemeriksaan Penunjang
-          Trombositopeni ( £ 100.000/mm3)
-          Hb dan PCV meningkat ( ³ 20% )
-          Leukopeni ( mungkin normal atau lekositosis )
-          Isolasi virus
-          Serologi ( Uji H ): respon antibody sekunder
-          Pada renjatan yang berat, periksa : Hb, PCV berulang kali ( setiap jam atau 4-6 jam apabila
sudah menunjukkan tanda perbaikan ), Faal hemostasis, FDP, EKG, Foto dada, BUN,
creatinin serum.

4
G. Pencegahan
Pencegahan penyakit DBD sangat tergantung pada pengendalian vektornya, yaitu nyamuk Aedes
Aegypti. Pengendalian nyamuk tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode
yang tepat, yaitu :
1.      Lingkungan.
Metode lingkungan untuk mengendalikan nyamuk tersebut antara lain dengan
pemberantasan sarang nyamuk, pengelolaan sampah padat, modifikasi tempat
pengembangbiakan nyamuk hasil samping kegiatan manusia.
2.      Biologis.
Pengendalian biologis dengan menggunakan ikan pemakan jentik (ikan cupang).
3.      Kimiawi.
Pengendalian kimiawi antara lain :
a.       Pengasapan/fogging berguna untyk mengurangi kemungkinan penularan sampai batas
waktu tertentu.
b.      Memberikan bubuk abate pada tempat-tempat penampungan air seperti gentong air, vas
bunga, kolam, dan lain-lain.

H. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan penderita dengan DHF adalah sebagai berikut :
1.      Tirah baring atau istirahat baring.
2.      Diet makan lunak.
3.      Minum banyak (2-2,5 liter/24 jam) dapat berupa : susu, teh manis, sirup dan beri penderita
sedikit oralit, pemberian cairan merupakan hal yang paling penting bagi penderita DHF.
4.      Pemberian cairan intravena (biasanya ringer laktat, NaCl Faali) merupakan cairan yang
paling sering digunakan.
5.      Monitor tanda-tanda vital tiap 3 jam (suhu, nadi, tensi, pernafasan) jika kondisi pasien
memburuk, observasi ketat tiap jam.
6.      Periksa Hb, Ht dan trombosit setiap hari.Pemberian obat antipiretik sebaiknya dari golongan
asetaminopen.
7.      Monitor tanda-tanda perdarahan lebih lanjut.
8.      Pemberian antibiotik bila terdapat kekuatiran infeksi sekunder.

5
9.      Monitor tanda-tanda dan renjatan meliputi keadaan umum, perubahan tanda-tanda vital, hasil
pemeriksaan laboratorium yang memburuk.
10.  Bila timbul kejang dapat diberikan Diazepam. Pada kasus dengan renjatan pasien dirawat di
perawatan intensif dan segera dipasang infus sebagai pengganti cairan yang hilang dan bila
tidak tampak perbaikan diberikan plasma atau plasma ekspander atau dekstran sebanyak 20 
30 ml/kg BB.Pemberian cairan intravena baik plasma maupun elektrolit dipertahankan 12 
48 jam setelah renjatan teratasi. Apabila renjatan telah teratasi nadi sudah teraba jelas,
amplitudo nadi cukup besar, tekanan sistolik 20 mmHg, kecepatan plasma biasanya
dikurangi menjadi 10 ml/kg BB/jam.Transfusi darah diberikan pada pasien dengan
perdarahan gastrointestinal yang hebat. Indikasi pemberian transfusi pada penderita DHF
yaitu jika ada perdarahan yang jelas secara klinis dan abdomen yang makin tegang dengan
penurunan Hb yang mencolok.Pada DBD tanpa renjatan hanya diberi banyak minum yaitu
1½-2 liter dalam 24 jam. Cara pemberian sedikit demi sedikit dengan melibatkan orang tua.
Infus diberikan pada pasien DBD tanpa renjatan apabila :
a.       Pasien terus menerus muntah, tidak dapat diberikan minum sehingga mengancam
terjadinya dehidrasi.
b.      Hematokrit yang cenderung mengikat.

6
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
1. Biodata
a. Identitas Pasien
Nama : An F
Jenis kelamin : Laki laki
Umur : 4,5 Tahun
Agama : Islam
Pekerjaan : Tidak ada
Pendidikan terakhir : Tidak ada
Suku/ bangsa : Jawa/ Indonesia
Golongan darah :
Alamat : RT 09/ RW 03 Kelurahan Cigadung
Diagnose medis : DBD
Tanggal masuk RS : 21 April 2019
Tanggal pengkajian : 21 April 2019
Nomor rekam medis : A16132

b. Identitas Penanggung Jawab


Nama : Tn D
Jenis kelamin : Perempuan
Umur : 36 Tahun
Agama : Islam
Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : RT 09/ RW 03 Kelurahan Cigadung –
Kecamatan Sukamulya
Hubungan dengan klien : Sebagai Ibu

2. Keluhan utama :Ibu mengatakan anaknya dibawa kerumah sakit karena demam.
3. Riwayat penyakit sekarang : Ibu mengatakan anaknya demam terus menerus meningkat
dimalam hari sejak 3 hari yang lalu,batuk batauk saat dirumah anaknya hanya di kompres air

7
hangat kemudian dibawa ke UGD puskesmas Sukamulya sebelum akhirnya dirujuk ke
RS.45 Kuningan.
4. Riwayat Kesehatan Masa Lampau.

 Prenatal : Ibu mengatakan ia hamil selama 9 bulan tidak ada keluhan apa-apa.
 Natal : Ibu mengatakan anak F lahir di puskesmas dengan normal.
 Post Natal : Ibu mengatakan An.F minum ASI hari pertama sampai dengan usia ±2 tahun
dan telah diimunisasi lengkap yaitu BCG,DPT,polio dan Campak.

5. Riwayat keluarga : Ibu mengatakan keluarganya tidak ada yang sedang atau menderita
penyakit keturunan dan menurun

8
6. Riwayat tumbuh kembang : Ny. Mengatakan An.F tumbuh dan berkembang dengan baik. Ia
mulai berguling pada umur 6 bulan,duduk pada umur 9 bulan, merangkak pada umur 9,5
bulan, berdiri pada umur 10 bulan dan berjalan pada umur 1 tahun.
7. Riwayat nutrisi : Ibu mengatakan An.F diberi ASI sejak lahir hingga berusia 6 bulan,cara
pemberiannya dengan Skin to skin.

8. Aktivity Daily Living

 Nutrisi : Ibu mengatakan An. F makan 3 kali sehari sebelum sakit,dan semenjak sakit nafsu
makan menurun,ia hanya makan makanan yang diinginkan seperti rambutan dan snack.
 Cairan : Ibu mengatakan An.F minum ±5-6 gelas perhari namun selama sakit ia kurang
minum dan hanya minum 1 gelas perhari.
 Eliminasi : ibu mengatakan sebelum sakit An. F biasanya BAB 2x sehari,selama di rumah
sakit belum bab dan BAK 4-5x/hari berwarna kuning khas. Kebiasaan BAB dan BAK An. F
dilakukan di kamar mandi sejak umur 2 tahun.
 Istirahat dan Tidur :Ibu mengatakan sebelum sakit An. F biasanya tidur ± 10-12
perhari,sejak sakit An. F susah tidur san sering terbangun dimalam hari.
 Personal hygene :Ibu mengatakan sebelum dirawat An. F mandi 2x sehari dengan
didampingi ibunya, sejak sakit belum mandi hanya diompres hangat
pada bagian dahi.

9. pemeriksaan fisik
1) Keadaan umum klien : pasien nampak lemah, mukosa bibir kering, konjungtiva anemis,
turgor kulit kering, test rumple leed (+), tampak pathekie ≥20
pada lengan.

9
2) tanda tanda vital: tekanan darah : 100/60 mmmHg
nadi : 122x per menit
suhu : 38,20 C
pernafasan : 32x per menit
3) antropometri: tingi badan : 93 cm
berat badan : 11 kg
lingkar lengan atas : 15 cm
lingkar kepala : 45 cm
lingkar dada : 47 cm
lingkar perut : 49 cm
4) system pernafasan
hidung bersih, tidak ada secret, tidak ada pernafasan cupinghidung, tidak ada
pembsarankelenjar limfe, bentuk dada normal(pigeon chest), ukuran anterior-posterior
transversalnormal,gerakan dada kiri dan kanan searah, tidak ada suara napastambahan
(vesikuler), tidak ada clubbing finger.
5) sistem cardiovaskuler
konjungtiva anemis, arteri karotis teraba, tekanan vena jugulariscepat dan kuat, tidak
adapembesaran jantung, iktus kordis tidak. Nampak, suara jantung 1, 2, dan 3 normal
(resonan),CRT ±3detik.
6) System pencernaan
Sclera jernih, mukosa bibir kering, mulut kemerahan, peristaltic10x per menit, tidak ada
nyeri abdomen, anus normal tidak adakelainan kongenital.
7) System indra
Mata normal tidak ada polip, visus 6/6, lapang pandang normal,hidungpenciuman normal,
tidak ada secret,telinga daun telinga normal, tidak ada tanda radang, tidak adanyeri
tekan,fungsi pendengaran baik.
8) System syaraf
Fungsi cerebral status mental baik
Kesadaran GCS 15 (E4, V5, M6)
Fungsi saraf kranial baik
Fungsi motoric baik

10
Fungsi sensorik baik
9) System muskuloskeletal
Kepala normal, vertebrata normal, pelvis normal,lutut normal,kaki normal, bahunormal.
10) System integument
Rambut lurus dan kuat, kulit kepala bersih, kuku kotor, tampakpathekie pada lengan.
11) System endokrin
Tidak ada pembesaran kelenjar thyroid
12) System perkemihan
Tidak ada masalah perkemihan.
13) System reproduksi
Vagina normal, tidak ada kelainan kongenital
14) System imun
tidak ada alergi dan tidak ada penyakit yang berhbungan dengancuaca.

B. TEST DIAGNOSTIK
Pemeriksaan Hasil Nilai norma

Trombosit 37000 (40-150)

Leukosit 4.30 g/dl (14,5-45,0)

Hemoglobin 10,3 g/dl (11,5-15,5)

Hematokrit 32,1% (35-45)

C. KLASIFIKASI DATA

- Data Subjektif

11
 ibu klien mengatakan anaknya demam terus menerus sejak 3 hari yang lalu meningkat
dimalam hari, batuk-batuk.

 Ibu mengatakan anaknya Ibu mengatakan anak F makan 3 kali sehari sebelum sakit, dan
sejak sakit nafsu makan menurun, ia hanya makan makanan yang diinginkan seperti
rambutan, dan snack.

 Ibu mengatakan An F minum ±5-6 gelas per hari, namun selama sakit An. F kurang minum
dan hanya minum ±1 gelas per hari.

 ibu mengatakan sebelum sakit An.F biasanya BAB 2x sehari, selama di rumah sakit belum
bab dan BAK 4-5x/hari berwarna kuning khas

- Data Objektif

 pasien nampak lemah, mukosa bibir kering, konjungtiva anemis, turgor kulit kering, test
rumple leed (+), tampak pathekie ≥20 pada lengan.
 GCS 15 (E4, V5, M6)
 TD: 100/60 mmmHg
 nadi : 122x per menit
 suhu : 38,20 C
 pernafasan : 32x per menit
 berat badan: 11 kg. Trombosit 37 ribu (nilai normal 40-150), Leukosit 4.30 g/dl (nilai
normal 14.5-45.0), Hemoglobin 10.3 g/dl (nilai normal 11.5-15.5), dan Hematokrit 32.1 %
(nilai normal 35-45).Kekurangan volume cairan.

12
D. ANALISA DATA

Data Etiologi Masalah

Ds : Arbovirus melalui kekurangan volume


nyamuk aedes aegepty cairan
 ibu klien mengatakan anaknya demam
terus menerus sejak 3 hari yang
lalumeningkat dimalam hari,
Beredar dalam aliran
batukbatuk.
darah
 Ibu mengatakan anaknya Ibu
mengatakan anak F makan 3 kali
sehari sebelum sakit, dan sejak sakit
nafsu makan menurun, ia hanya Infeksi virus dengue

mmakan makanan yang diinginkan


seperti rambutan, dan snack.

 Ibu mengatakan An F minum ±5-6 Hipertermi


gelas per hari, namun selama sakit
An. F kurang minum dan hanya
minum ±1 gelas per hari.
Permeabilitas membrane
 ibu mengatakan sebelum sakit An. F meningkat
biasanya BAB 2x sehari, selama di

13
rumah sakit belum bab dan BAK 4-
5x/hari berwarna kuning khas.
kebocoran plasma ke
Do : ekstravaskuler

 Pasien nampak lemah, mukosa bibir


kering, konjungtiva anemis, turgor
kulit kering, test rumple leed (+), Kekurangan volume
tampak pathekie ≥20 pada cairan
lengan.Arbovirus melalui
nyamukaedes aegeptyBeredar dalam
aliran darahInfeksi virus
dengueHipertermiPermeabilitas
membrane meningkatkebocoran
plasma ke ekstravaskuler Kekurangan
Kekurangan volume cairan

 GCS 15 (E4, V5, M6)

 TD : 100/60 mmmHg

 nadi : 122x per menit

 suhu : 38,20 C

 pernafasan : 32x per menit

 berat badan: 11 kg

 Trombosit 37.000 (nilai normal 40-


150), Leukosit 4.30 g/dl (nilai normal
14.5-45.0), Hemoglobin 10.3 g/dl

14
(nilai normal 11.5-15.5), dan
Hematokrit 32.1 % (nilai normal 35
45).

E. DIAGNOSA KEPERAWATAN

Kekurangan volume cairan berhubugan dengann pindahnya cairan intravaskuler ke


ekstravaskuer ditandai dengan :

 Ds :

- ibu klien mengatakan anaknya demam terus menerus sejak 3 hari yang lalu meningkat
dimalam hari, batuk-batuk.
- Ibu mengatakan anaknya Ibu mengatakan anak F makan 3 kali sehari sebelum sakit, dan
sejak sakit nafsu makan menurun, ia hanya mmakan makanan yang diinginkan seperti
rambutan, dan snack.
- Ibu mengatakan An F minum ±5-6 gelas per hari, namun selama sakit An. F kurang minum
dan hanya minum ±1 gelas per hari.
- ibu mengatakan sebelum sakit An. F biasanya BAB 2x sehari, selama di rumah sakit belum
bab dan BAK 4-5x/hari berwarna kuning khas.

 Do :

- pasien nampak lemah, mukosa bibir kering, konjungtiva anemis, turgor kulit kering, test
rumple leed (+), tampak pathekie pada daerah lengan.

- GCS 15 (E4, V5, M6)

- TD : 100/60 mmmHg

15
- nadi : 122x per menit

- suhu : 38,20 C

- pernafasan : 32x per menit

- berat badan: 11 kg

- Trombosit 37 ribu (nilai normal 40-150), Leukosit 4.30 g/dl (nilai normal 14.5-45.0),
Hemoglobin 10.3 g/dl (nilai normal 11.5-15.5), dan Hematokrit 32.1 % (nilai normal 35-45).

F. INTERVENSI KEPERAWATAN

Menurut Nursing intervention clasification (NIC) intervensi yang dapat dilakukan pada
masalah kekurangan volume cairan untuk tujuan Nursing Outcome Clasivication (NOC)
keseimbangan cairan adalah :

a. monitor vital signdengan rasional tanda-tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui
keadaan umum pasien dan sebagai dasar untuk menentukan intervensi.

b. monitor status hidrasi (kelembapan membrane mukosa, nadi adekuat, tekanan darah
ortostatik) jika diperlukan

c. monitor status cairan termasuk intake dan outputdengan rasional membantu


mempertahankan catatan intake dan output yang adekuat.

d. dorongpasien untuk meningkatkan masukan oraldengan rasional peningkatan suhu tubuh


mengakibatkan penguapan tubuh meningkat sehingga perlu diimbangi dengan asupan cairan
yang banyak.

e. dorong keluarga untuk membantu pasien makan dengan rasional untuk meningkatkan
asupan intake pasien.

16
f. Kolaborasi dengan dokter pemberian terapi Antipiretik dan Antibiotik dengan rasional
Antibiotik untuk mengurangi atau mencegah terjadinya infeksi dan Antipiretik untuk
menurunkan panas.

g. kolaborati pemberian cairan intravenadengan rasional untuk membantu menjaga


keseimbangan cairan.

G. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI

No Hari dan Implementasi Evaluasi paraf


tanggal

1 Minggu, 21 1. Mengobservasi S: Tn. D


April 2019 tandatanda vital, hasil :
ibu mengatakan An. F
- TD : 100/60 mmHg, masih demam, malas
makan dan minum.
- Nadi : 122x permenit,

O:
- Pernafasan : 32x

- permenit Suhu : 38,20C, - TD : 100/60 mmHg,


- Nadi : 122x/menit,
- berat badan : 11 kg, - Pernafasan :
32x/menit,
- Trombosit 37 ribu,
- Suhu : 380 C,
Leukosit 4.30 g/dl,
- BB : 11 kg,
Hemoglobin 10.3 g/dl,
- Trombosit 37 ribu,
dan Hematokrit 32.1 %
- Leukosit 4.30 g/dl,
Hemoglobin 10.3
2. Monitor status hidrasi
g/dl,
(kelembapan
- Hematokrit 32.1 %,
membranmukosa, nadi

17
adekuat, tekanan darah Mukosa bibir kering,
ortostatik jika Intake (infus RL500 cc,
diperlukan), hasil : masukan oral minum ±1
gelas 200 cc) Jumlah 700
Mukosa bibir kering. cc. Output (urine 4-5
x/hari ±400 cc, feses
3. Memonitor status cairan ±100 cc, pernafasan ±300
termasuk intake dan cc, keringat ±300 cc)
output, hasil : Jumlah 1.100 cc.

Intake :infus RL500 cc, A : masalah belum


masukan oral minum ±1 teratasi
gelas 200 cc. Jumlah : 700
cc. Output : urine 4-5 x/ hari P : intervensi 1, 2, 3, 4,
±400 cc, feses ±100 cc, 5,6, 7, dan 8 di lanjutkan.
pernafasan ±300 cc,
keringat ±300 cc.
Jumlah:1.100 cc.

4. menganjurkan pasien
agar minum yang cukup
kurang lebih 1000 cc per
hari, hasil :

pasien minum ±200 cc.

5. Mendorong keluarga
untuk membantu pasien
makan, hasil :

Pasien makan sesuai terapi

18
diet, dihabiskansetengah
porsi.

6. Mendorong pasien
meningkatkan masukan
oral, hasil :

Pasien makan rambutan


≥0,5 kg.

7. Berkolaborasi dengan
dokter pemberian terapi
Antipiretik dan
Antibiotik, hasil :

Sanmol 100 mgIV jika


demam.Cefotaxime 500
mg/8 jam IV.

8. Berkolaborasi pemberian
cairan intravena, hasil :

Infus RL 20 tetes permenit


makro.

2 Senin, 22 April 1. Mengobservasi tanda S: Tn. D


2019 tanda vital, hasil :
ibu mengatakan demam
- TD : 80/40 mmHg, anaknya berkurang, ia
hanya mau makan
- Nadi : 100 x/menit,
makanan yang

19
- Pernafasan :32x/menit, diinginkan, masih malas
minum.
- Suhu : 39,10 C

O:
- BB : 12 kg.

- TD : 80/40 mmHg,
2. Monitor status hidrasi
(kelembapan membran - Nadi : 100 kali/menit,
mukosa, nadi
adekuat,tekanan darah - Pernafasan :
ortostatikjika 32x/menit,
diperlukan), hasil :
- Suhu : 39,100 c ,

Mukosa bibir lembab


- BB : 12 kg,

3. Memonitor statuscairan - Mukosa bibir lembab,


termasuk intake dan
output, hasil : Intake : infus RL300 cc,
masukan oral minum ±3
Intake : infus RL300 cc, gelas 600 cc. Jumlah :
masukan oral minum ±3 900 cc
gelas 600 cc. Jumlah : 900
cc. Output : urine 4-5 x/ hari
±400 cc, feses ±50 cc,
Output : urine 4-5 x/ hari pernafasan ±300 cc,
±400 cc, feses ±50 cc, keringat ±300 cc. Jumlah
pernafasan ±300 cc, : 1.050 cc. pasien minum
keringat ±300 cc. ±600 cc. Pasien makan
Jumlah:1.050 cc. sesuai terapi diet,
dihabiskan setengah
4. menganjurkan pasien porsi. Pasien makan

20
agar minum yang cukup snack, roti dan buah.
kurang lebih 1000 Sanmol 100 mg IV jika
cc/hari, hasil : demam. Cefotaxime 500
mg/8 jam IV. Infus RL
pasien minum ±600 cc. 20 tetes permenit makro.

5. Mendorong keluarga A : masalah teratasi


untuk membantu pasien sebagian
makan, hasil :
P : intervesi 1, 2, 3, 4, 5,
Pasien makan sesuai terapi 6, 7, dan 8 di lanjutkan
diet, dihabiskan
setengahporsi.

6. Mendorong pasien
meningkatkan masukan
oral, hasil :

Pasien makan snack, roti


dan buah.

7. Berkolaborasi dengan
dokter pemberian terapi
Antipiretik dan
Antibiotik, hasil :

Sanmol 100 mg IV jika


demam.

8. Berkolaborasi pemberian

21
cairan intravena, hasil:

Infus RL 20 tetes permenit

makro.

3 Selasa, 23 1. Mengobservasi S: Tn. D


April 2019 tandatanda vital, hasil :
ibu mengatakan anaknya
- TD : 80/40 mmHg, sudah tidak demam,
sudah mau makan dan
- Nadi : 142x permenit,
minum.

- Pernafasan : 36x/menit,
O:
- Suhu : 37,10 C,
- TD : 80/40 mmHg,
- BB : 11,5 kg.
- Nadi : 142x/menit,

- Pernafasan :
36x/menit,
2. Monitor status
hidrasi(kelembapan
- Suhu : 37,100 c ,
membran mukosa, nadi
adekuat, tekanan darah - BB : 11,5 kg.
ortostatik jika
diperlukan), hasil : - Mukosa bibir lembab,
turgor kulit baik.

Mukosa bibir lembab, turgor


kulit baik. Intake : infus RL 100 cc,
masukan oral minum ±5

3. Memonitor status cairan gelas 1000 cc. Jumlah :


1.100 cc Output : urine

22
termasukintake dan 4-5 x/ hari ±500 cc, feses
output, hasil : ±100 cc, pernafasan ±200
cc, keringat ±100 cc.
Intake : infus RL 100 cc, Jumlah : 900 cc.Pasien
masukan oral minum ±5 makan sesuai terapi diet,
gelas 1000 cc. Jumlah : porsi dihabiskan.Pasien
1.100 cc makansnack, roti dan
buah. Sanmol 100 mg IV
Output : urine 4-5 x/ hari jika demam. Cefotaxime
±500 cc, feses ±100 cc, 500 mg/8 jam IV.Infus
pernafasan ±200 cc, RL 20 tetes/menit makro.
keringat ±100 cc.Jumlah :
900 cc. A :masalah teratasi
sebagian.
4. menganjurkan pasien
agar minum yang cukup P : intervensi 1, 2, 3, 4, 5,
kurang lebih 1000 cc per 6, 7, dan 8 di lanjutkan.
hari, hasil :

pasien minum ±1000 cc.

5. Mendorong
keluargauntuk
membantu pasien
makan, hasil :

Pasien makan sesuai terapi


diet, porsi di habiskan.

23
6. Mendorong pasien
meningkatkan masukan
oral, hasil :

Pasien makan snack, roti


dan buah.

7. Berkolaborasi dengan
dokter pemberian terapi
Antipiretik dan
Antibiotik, hasil :

Sanmol 100 mg IV jika


demam.

8. Berkolaborasi pemberian
cairan intravena, hasil
Infus RL 20 tetes/menit
makro.

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan

Dergue haemoragic fever (DHF) yaitu penyakit yang disebabkan oleh empat virus serotipe,
dengan gejala demam tinggi, pendarahan, pembesaran hati, tekanan darah menurun, gelisah,
muntah , dll.

DHF berasal dari nyamuk aedes aegypti, pengandalian nyamuk tersebut dapat dilakukan
dengan menggunakan beberapa metode pencegahan yaitu lingkungan, biologis, dan kimiawi

24
B. Saran
Setiap individu sebaiknya mengerti dan memahami bahaya dari penyakit DHF tersebut,
sehingga setiap individu tersebut bisa lebih merasa khawatir dan mampu menjaga diri dan
lingkungannya dari kemungkinan terserangnya DHF.

25
DAFTAR PUSTAKA

file:///E:/KTI%20AMRIZAL%20(NIM.%20P00320015005).pdf

http://eprints.ums.ac.id/25519/12/naskah_publikasi.pdf

https://www.academia.edu/8374355/askep_DHF

http://indonesiannursing.com/asuhan-keperawatan-anak-dengan-demam-berdarah-dengue/

http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/20351449-PR-Yudi%20Elyas.pdf

https://www.scribd.com/doc/162104622/ASKEP-DHF

26