Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN
a. Latar Belakang
Asma adalah satu diantara beberapa penyakit yang tidak bisa disembuhkan secara total.
Kesembuhan dari satu serangan asma tidak menjamin dalam waktu dekat akan terbebas
dari ancaman serangan berikutnya. Apalagi bila karena pekerjaan dan lingkungannya
serta factor ekonomi, penderita harus selalu berhadapan dengan factor allergen yang
menjadi penyebab serangan. Biaya pengobatan simptomatik pada waktu serangan
mungkin bisa diatasi oleh penderita atau keluarganya, tetapi pengobatan propilaksis yang
mememrlukan waktu lebih lama sering menjadi problem sendiri. Orang yang asma
biasanya kesulitan bernafas yang disebabkan sesak nafas atau nafas yang sering terengah-
engah dan juga sering batuk. Terapi asma dapat dilakukan dengan cara terapi farmakologi
dan nonfarmakologi.

b. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dari penyakit asma ?
2. Apa saja penggolongan penyakit asma ?
3. Terapi apa saja yang digunakan untuk penyakit asma ?
4. Apa saja obat yang dipakai dalam penyakit asma ?
5. Apa saja efek samping obat penyakit asma ?

c. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian penyakit asma
2. Untuk mengetahui penggolongan penyakit asma
3. Untuk mengetahui terapi untuk pengobatan penyakit asma
4. Untuk mengetahui obat penyakit asma
5. Untuk mengetahui efek samping obat penyakit asma

d. Manfaat
o Agar mengetahui pengertian penyakit asma
o Agar mengetahui penggolongan penyakit asma
o Agar mengetahui terapi untuk pengobatan penyakit asma
o Agar mengetahui obat penyakit asma
o Agar mengetahui efek samping obat penyakit asma
BAB II
PEMBAHASAN
a. Pengertian Penyakit Asma
Asma atau bengek adalah penyakit alergi yang bercirikan peradangan steril kronis
yang disertai sesak nafas akut secara berkala, mudah sengal-sengal dan batuk (dengan
bunyi khas). Ciri lain adalah hipersekresi dahak yang biasanya lebih parah pada malam
hari dan meningkatnya ambang rangsang (hiperre aktivitas) bronki terhadap rangsangan
alergi maupun nonalergis.
Statusasmatikus adalah serangan asma hebat yang menyebakan penciutan bronki
menjadi lebih kuat pertahanan abnormal dalam jangka wakktu panjang (sampai lebih dari
24 jam). Ciri-ciri lainnya adalah takikardia dan tidak bisa berbicara lancar (tersedat-sedat)
akibat nafasnya tersengal-sengal.
Asma alergis pada umumnya sudah dimulai sejakk masa kanak-kanak dan
didahului oleh gejala lain, khususnya eksin. Faktor genetik dan resam (konstitusi) tubuh
memegang peranan penting pada terjadinya jenias asma ini. Eksim umumnya membaik
setelah anakk-anak mencapai usia remaja tetapi sering kambuh kembali pada usia 20-40
tahun, karena peradangan dari saluran nafas tetap bertahan walaupun tanpa gejala.

b. Penyebab Penyakit Asma


o Bawaan atau turunan dalam keluarga
o Udara dingin mengakibatkan kambuhnya penyakit asma
o Makanan yang mengandung kadar MSG dan pengawet tinggi
o Faktor lingkungan yang penuh dengan debu, kotoran, dan asap merupakan tempat
awalnya timbul penyakit asma

c. Cara Pencegahan Penyakit Asma


1. Hindarkan allergen atau factor pencetus yang bisa membuat alergi
2. Ganti sprei dan gorden seminggu sekali
3. Hindarkan penggunaan karpet karena bisa menjadi tempat menempelnya debu
4. Bersihkan tempat tidur setiap hari

d. Penggolongan Penyakit Asma


1. Derajat Penyakitnya (Aspek Kronik) :
o Asma Episodik Jarang
Asma episodik jarang cukup diobati dengan reliever berupa bronkodilator
(melebarkan bronkus/batang paru-paru) beta agonis hirupan (inhaler/spray) kerja
pendek (short acting B2-agonist, SABA) atau golongan xantin kerja cepat, bila
terjadi gejala/serangan.
o Asma Episodik Sering
Jika penggunaan beta agonis hirupan sudah lebih 3x perminggu (tanpa
menghitung penggunaan sebelu aktivitas fisik)atau serangan sedang atau berat
terjadi lebih dari sekali dalam sebulan,maka penggunaan anti inflamasi sebagai
pengendali (controller) diperlukan,yakni steroid hirupan dosis rendah.
o Asma Pasisten
Pemberian steroid hirupan apakah dimulai dari dosis tinggi ke rendah selama
gejala masih terkendali, atau sebaliknya dimulai dari dosis rendah ke tinggi
hingga gejala dapat dikendalikan, tergantung pada kasusnya.

2. Derajat Serangan (Aspek Akut)


o Serangan asma ringan
Sesak nafas waktu berjalan pada saat berbicara dengan kalimat penuh, frekuensi
nafas meningkat, mengi lemah sampai sedang dengan nadi <100x/ menit, mengi
lemah sampai sedang.
o Serangan asma sedang
Alan terbatas, lebih suka duduk berbicara dengan kalimat terbatas, kesadaran
biasanya agitasi, frekuensi nafas meningkat, kesadaran biasanya agitasi
o Serangan asma berat
Sesak nafas walau diwaktu istirahat, hanya mampu mengucapkan beberapa kata,
duduk membungkuk, kesadaran biasanya agitasi, frekuensi pernafasan 30x/
menit, pemakaian otot bantu nafas biasanya ada, retraksi sentral

e. Terapi penyakit Asma


1. Terapi Nonfarmakologi Penyakit Asma
o Latihan Pernafasan
Penderita asma dianjurkan untuk mengikuti sesi latihan pernapasan seperti yoga
yang dapat memberikan efek relaksasi.
o Olahraga dan Latihan Fisik Teratur
Aktivitas fisik yang teratur dapat membantu mengoptimalkan kinerja jantung dan
paru-paru. Hal ini akan berpengaruh pada peningktan penyerapan oksigen dan
sejumlah udara yang dihembuskan ketika anda bernapas.
o Menghindari Pemicu Alergi
Penderita asma sebaiknya tidak melakukan kontak dengan benda-benda yang
dapat memicu terjadinya kekambuhan asma.
o Berhenti Merokok
Rokok tembakau, dalam bentuk apapun, dapat memperburuk kondisi medis
seseorang. Penderita asma cenderung lebih sensitif terhadap udara, dan rokok
mengandung zat-zat berbahaya seperti nikotin dan tar yang disebarkan melalui
udara.
o Diet
Kelebihan berat badann juga dapat memperparah kondiisi asma seseorang.
Orang-orang dengan BMI di bawah 30 terbukti dapat mengontrol asma.
o Pengobatan Komplementer
Telah banyak jenis terapi komplementer yang diklaim dapat meringankan asma,
beberapa diantaranya termasuk Homeeopati, produk jamu, obat-obatan cina
(TCM).

2. Terapi Farmakologi Penyakit Asma


o Terapi Serangan Akut
Pada keadaan ini sebaiknya diberikan obat bronkospasmolitik untuk melepaskan
kejang bronki. Obat pilihan lainialah salbutamol atau terbutalin dengan
pemberian inhalasi (efek 3-5 menit), kemudiaan dibantu dengan aminofilin dalam
bentuk supositoria. Obatt pilihan lain lagi ialah efedrin dan isoprenalin yang
terlihat setelah kurang lebih 1 jam. Inhlasi dapat diulang setelah 15 menit jika
tidak memberikan efek. Bila yang kedua ini juga tidak memberikan efek, perlu
diberikan suntikan intravena aminofilin atau salbutamol, hidrokortison atau
prednisone. Sebagai tindakan akhir jika tidak juga mendapatkan efek yang
diinginkan adalah dengan suntikan intravena adrenalin diulangi 2 kali dalam 1
jam.
o Status Asmatikus
Pada keadaan ini efek bronkodilator hanya ringan dan lambat. Ini disebabkan
oleh blockade reseptor beta karena adanya infeksi dalam saluran nafas.
Pengobatan dengan suntikan intravena salbutamol atau aminofilin atau
hidrokortison dosis tinggi (200-400 mg per jam sampai maksimum 4 gram
sehari)
o Terapi Pencegahan
Dilakukan dengan pemberian bronkodilator misalnya salbutamol, ipratopium
atau teofilin dalam bentuk per oral, bila karena alergi perlu ditambahkan
ketotifen.

f. Penggolongan Obat-obat Asma


o Antialergika
Anti alergika adalah zat-zat yang bekerja menstabilkan mastosit, hingga tidak
pecah dan melepaskan histamin obat ini sangat berguna untuk mencegah
serangan asma dan alergi ringitis (hay fever). Termasuk kelompok ini adalah
kromodikat, B2, adrenergika, dan antihistamin seperti ketotifen dan oksatomida
juga memiliki efek ini.
 Ketotifen
Propilas, Astifen, Intifen
 Propilas
Efek samping :
Sedasi, mulut terasa kering, pusing saat awal terapi, dapat
menimbulkan kenaikan berat badan karena pengaruh sedative
Dosis :
Dewasa : sehari 2 kali 1 tablet (setelah makan pagi atau malam selang
12 jam). Jika perlu dosis dapat dinaikan sampai 2 kali 2 mg sehari.
Anak-anak : 0,125 ml syrup (setara dengan 0,025 mg ketotifen) per kg
berat badan, sehari 2 kali
14-18 kg : sehari 2 kali 2 ml (0,4 mg)
19-25 kg : sehari 2 kali 3 ml (0,6 mg)
26-35 kg : sehari 2 kali 4 ml (0,8 mg)
Lebih 35 kg : sehari 2 kali 5 ml (1,0 mg) atau sehari 2 kali 1 tablet 1
mg).
 Astifen
Efek samping :
Sifat lekas marah, gugup, iritasi mata, sakit mata
Dosis :
Dewasa : 2 kali sehari 1 mg, bersama makanan pagi dan sore dalam
selang waktu kurang lebih 10 jam.
Pasien yang peka terhadap efek sadiasi dianjurkan dosis pengobatan
selama minggu pertama dimulai dengan 2 kali sehari 0,5 mg atau
1mg hanya malam hari, kemudian dinaikan sampai dosis terapetik
penuh, jika perlu dosis dapat ditingkatkan sampai 4 mg dalam 2 dosis
bagi.
Anak-anak lebih dari 2 tahun : 2 kali sehari 1mg tablet, anak yang
cenderung menjadi sedasi agar memulai dosis 0,5 sampai 1mg pada
malam hari selama beberapa hari pertama.
 Intifen
Efek samping :
Sakit perut, mulut kering, pusing
Dosis :
Dewasa : 2 kali sehari 1 tablet, jika perlu dosis bisa dinaikan sampai 2
mg (2 tablet) 2 kali sehari.
Anak –anak berusia lebih dari 3 tahun : 2 kali sehari A tablet, jika
diperlukan dosis bisa dinaikkan sampai 1 tablet 2 kali sehari
 Oksatomida
Oxtin
 Oxtin
Efek samping :
Somnolen/ ketagihan tidur ( jarang), peningkatan nafsu makan (pada
dosis tinggi)
Dosis :
Dewasa : 2 kali sehari 30 mg
Anak-anak : 0,5 mg/ kg berat badan sekali minum, berat badan lebih
35 kg diberikan 30 mg, berat badan 15-35 diberikan 15 mg, diberikan
2 kali sehari. Dosis dapat digandakan jika tidak terdapat perbaikan
dalam waktu 1 minggu.

o Bronkodilator
Mekanisme kerja obat ini adalah merangsang sistem adrenergic sehingga
memberiikan efek bronkodilatasi. Termasuk di dalamnya adalah :
a. Adrenergika
Khususnya B2 simpatomimetika (B2 mimetika), zat ini bekerja selektif
terhadap reseptor B2 (bronkospasmolisa) dan tidak bekerja terhadap reseptor
B1 (stimulasi jantung) kelempok B2 mimetika seperti salbutamol, fenoterol,
terbutalin, rimetirol, prokaterol dan tretoquinol. Sedangkan yang bekerja
terhadap reseptor B2 dan B1 adalah efedrin, isoprenalin, dan adrenalin.
b. Antikolinergika
Antikolinergika Dalam otot polos terdapat keseimbangan antara sistem
adrenergic dan antikolinergik. Bila reseptor B2 sistem adrenergic terhambat,
sistem kolinergik menjadi dominan, sehingga terjadi penciutan bronki.
Antikolinergik bekerja memblokir reseptor saraf kolinergik pada otot polos
bronki sehingga aktivitas saraf adrebnergik menjadi dominan. Dengan efek
bronkodilatasi. Kelompok antikolinergika seperti oksifenonium, tiazinamium,
dan ipratropium.
Efek samping dari antikolinergika adalah takikardia, pengentalan dahak,
mulut kkering, obstipasi, sukar kenncing, dan gangguan akomodasi. Efek
samping dapat diperkecil dengan pemberian inhalasi.
c. Derivat Xantin
Mempunyai daya bronkodilatasi berdasarkan penghambatan enzim
fosfodiesterase. Selain itu, teofilin juga mencegah peningkatan hiperaktivitas,
sehiingga dapat bekerja sebagai propilaksis. Kombinasi dengan efedrin praktis
tidak memperbesar bronkodilatasi, sedangkan efek takikardia dapat diperkuat.
Oleh karena itu, kombinasi tersebut dapat dianjurkan termasuk ke dalam
derivate Xantin adalah teofilin, aminofilin, dan kolinteofinilat
o Antihistaminika
Obat ini memblokir reseptor histamine sehingga mencegah bronkokontriksi.
Banyak antihistamin memiliki daya antikolinergika dan sedativ. Contoh
antihistaminika antara lain ketotifen, oksatomida, tiazinamium, dan deptropin.
o Kortikosteroida
Daya bronkodilatasinya dengan mempertinggi kepekaan receptor B2, sehingga
dapat melawan efek mediator seperyi gatal dan radang. Penggunaan terutamaa
pada serangan asma akibat infekssi virus dan bakteri. Penggunaan jangka
panjang hendaknnya dihindari, berhubung efek sampingnya yaitu osteoforosis,
borok lambung, hipertensi, dan diabetes. Efek samping dapat dikurangi dengan
pemberian inhalasi. Contoh kortikosteroida antara lain hidrokortison, prednisone,
dexamethason, betametason.
o Ekspektoransia
Efeknya mencairkan dahak, sehingga mempermudah dahak untuk dikeluarkan
pada serangan akut, obat ini berguna terutama bila lendir sangat kental dan sukar
dikeluarkan.
Mekanisme kerja obat ini adalah merangsang mukosa lambung dan sekresi
saluran nafas sehingga menurunkan viskositas lendir. Mekanisme kerja dari
asetilsistein adalah kerjanya terhadap mukosa protein dengan melepaskan ikatan
disulpida sehingga viskositas lendir berkurang. Contoh obat ekspektoransia
adalah bromeksin dan asetilsistein.
o Kromolin Natrium dan Nedokromil Natrium
Mempunyai efek yang menguntungkan yang diyakini merupakan hasil stabilisasi
membrane mastosid. Obat-obat ini hanya efektif jika dihirup dan tersedia sebagai
inhalasi dosis terukur. Kromolin juga tersedia dalam larutan nebuleser.
o Modifikator Leukotrien
1. Zafirlukast dan montelukast merupakan antagonis reseptor leukotrien yang
mengurangi inflamasi jalur udara
2. Zileuton merupakan inhibitor leukotrien sintesis. Penggunaannya terbatas
karena frekuensi pemakaian yang tinggi dan berpotensi untuk meningkatkan
enzim hepatik.
o Kombinasi Terapi Pengontrol
Kombinasi kortikosteroid hirup dan agonis B2 hirup kerja lama untuk setiap 3
asma persisten ADVAIR merupakan sediaan kombinasi (flutikason + kalmeterol)
yang mengobati inflamasi dan bronkokontriksi asma persisten sedang hingga
parah.
o Omalizumab
Omalizumab merupakan antibody anti lgE yang digunakan untuk pengobatan
asma yang tidak ditangani dengan baik oleh kortikosteroid hirup dosis tinggi.
Obat ini hanya diindikasikan untuk pasien atopic bergantung kortikosteroid yang
memerlukan kortikosteroid oral atau mengonsumsi kortikosteroid dosis tinggi
dengan berlanjutnya gejala dan kadar lgE tinggi.
o Metotreksat
Metotreksat dalam dosis rendah (15 mg per minggu) telah digunakan untuk
mengurangi dosis kortikosteroid sistemik pada pasien dengan asma parah akut
bergantung steroid.

g. Obat-obat Asma Dengan Resep Dokter


1. Derivat Xantin
a. 6
PEMBAHASAN
a.

Anda mungkin juga menyukai