Anda di halaman 1dari 14

A.

Ketahanan Nasional
Istilah Ketahanan Nasional memang memiliki pengertian dan cakupan yang luas. Sejak
konsep ini diperkenalkan oleh Lembaga Pertahanan Nasional Republik Indonesia
(Lemhanas RI) pada sekitar tahun 1960-an, terjadi perkembangan dan dinamika
konsepsi Ketahanan Nasional sampai sekarang ini.Suradinata (2005 : 47)
mengemukakan pengertian Ketahanan Nasional suatu kondisi dinamis suatu bangsa,
yang berisi keuletan dan ketangguhan yang mengandung kemampuan mengembangkan
kekuatan nasional dalam menghadapi dan mengatasi segala ancaman, gangguan,
hambatan dan tantangan baik yang datang dari luar maupun dari dalam negeri, yang
langsung maupun tidak langsung membahayakan integritas, identitas kelangsungan
hidup bangsa dan negara serta perjuangan dalam mengejar tujuan nasional
Indonesia.Sedangkan Suryohadiprojo (1997) menyatakan Ketahanan Nasional meliputi
kemanan nasional dan kesejahteraan nasional yang berarti Ketahanan Nasional sejalna
dengan kepentingan nasional. Oleh karena itu implementasi Ketahanan Nasional
Indonesia dalam proses pembangunan nasional dilakukan melalui 2 pendekatan yaitu
pendekatan kemanan digunakan untuk mengembangkan kemampuan dalam melindungi
eksistensi serta nilai-nilai luhur yang dimiliki oleh masyarakat, bangsa dan negara
terhadap segala ancaman dari dalam maupun dari luar negeri.Pendekatan kesejahteraan
digunakan untuk mewujudkan Ketahanan Nasional itu dalam bentuk kemampuan
bangsa dalam mengidentifikasi, membina, mengelola serta mengembangkan potensi dan
kekuatan nasional menjadi kemakmuran masyarakat, bangsa dan negara secara adil
merata serta proporsional. Kedua pendekatan ini selalu digunakan secara bersama-sama
dan pendekatan mana yang digunakna tergantung kepada kondisi serta situasi global
(nasional, regional internasional) yang sedang atau akan dihadapi oleh bangsa dan
negara Indonesia.Dalam perspektif makro Ketahanan Nasional merupakan derivasi dari
pembangunan nasional dan keduana mempunyai hubungan yang bersifat simbiosis
mutualistis keberhasilan pembangunan nasional akan dapat meningkatkan Ketahanan
Nasional dan sebaliknya Ketahanan Nasional yang tangguh akan lebih mendorong laju
pembangunan nasional.

B. Dinamika dan Tantangan Ketahanan Nasional dan Bela Negara


Pengalaman sejarah bangsa Indonesia telah membuktikan pada kita, konsep ketahanan
nasional kita terbukti mampu menangkal berbagai bentuk ancaman sehingga tidak
berujung pada kehancuran bangsa atau berakhirnya NKRI. Setidaknya ini terbukti pada
saat bangsa Indonesia menghadapi ancaman komunisme tahun 1965 dan yang lebih
aktual menghadapi krisis ekonomi dan politik pada tahun 1997 – 1998. Sampai saat ini
kita masih kuat bertahan dalam wujud NKRI. Bandingkan dengan pengalaman
Yugoslivia ketika menghadapi ancaman perpecahan tahun 1990-an.Namun demikian,
seperti halnya individu yang terus berkembang, kehidupan berbangsa juga menglami
perubahan, perkembangan dan dinamika yang terus meneru. Ketahanan Nasional
Indonesia Indonesia akan selalu menghadapi aneka tantangan dan ancaman yang terus
berubah.Ketahanan nasional sebagai kondisi – salah satu wajah Tannas – akan selalu
mewujudkan dinamika sejalan dengan keadaan atau obyektif yang ada dimasyarakat
kita. M. Erwin (2012 : 212) mengemukakan : masalah pokok pertama dan ketahanan
nasional Indonesia jika dilihat dari sudut geopolitik dapat dilihat dari bagaimana
menghadapi paham geopolitik negara-negara lain, terutama negara yang mengandalkan
power concept dan bertujuan menciptakan kondisi “penguasaan” dan “dominasi”. Lalu
permasalah pokok lain ketahanan nasional Indonesia adalah bagaimana menciptakan
hubungan bilateral yang “simetris” dengan negara-negara lain. Hubungan simetris ini
dimaksudkan sebagai hubungan yang didasari motivasi kerjasama saling
menguntungkan dan saling menghormati, dalam arti “duduk sama rata dan tegak sama
tinggi”.Dalam kenyataan, tipe hubungan simetris ini sulit dilaksanakan terutama dalam
interaksi dengan negara-negara maju. Sebagai contoh hubungan bilateral Indonesia
dengan negara-negara Eropa dan Amerika Serikat. Hubungan itu pada umumnya
bersifat asymetris. Indonesia dianggap hanya berpotensi sebagai negara menegah atau
kekuatan “regional” dimana ekonominya belum begitu kuat dalam percaturan
internasional. Indonesia dianggap sebagai negara phery-phery dalam sistem politik
internasional yang dikuasai negara ini dalam hal ini Amerika Serikat.

C. Esensi dan Urgensi Ketahanan Nasional


Menurut Mahan kekuatan suatu negara tidak hanya tergantung luas wilayah daratan,
akan tetapi tergantung pula pada faktor luasnya akses ke laut dan bentuk pantai dari
wilayah negara. Sebagaimana diketahui Alfred T. Mahan termasuk pengembang teori
geopolitik tentang penguasaan laut sebagai dasar bagi penguasaan dunia. Barang siapa
menguasai lautan akan menguasai kekayaan dunia (Armawi, 2012).Cline dalam
bukunya World Power Assesment, A Calculus of Strategic Drift, melihat suatu negara
dari luar sebagaimana dipersepsikan oleh negara lain. Kekuatan sebuah negara
sebagaimana dipersepsikan oleh negara lain merupakan akumulasi dari faktor-faktor
sebagai berikut : sinergi antara potensi demograsi dengan geografi : kemampuan militer;
kemampuan ekonomi; strategi nasional; dan kemauan nasional atau tekad rakyat untuk
mewujudkan strategi nasional. Potensi demografi dan geografi; kemampuan militer; dan
kemampuan ekonomi merupakan faktor yang tangible, sedangkan strategi nasional dan
kemauan nasional merupakan intangible factors. Menurutnya, suatu negara akan muncul
sebagai kekuatan besar apabila ia memiliki potensi geografi besar atau negara secara
fisik wilayahnya besar, dan memiliki sumber daya manusia yang besar pula (Armawi,
2012 : 10).
1) Tantangan Ketahanan Nasional Bangsa Indonesia
A.    Pengertian Ketahanan Nasional     
Ketahanan Nasional (Tannas) Indonesia adalah kondisi dinamis bangsa Indnonesia yang
meliputi segenap aspek kehidupan nasional yang terintegrasi. Ketahanan nasional berisi
keuletan dan ketangguhan yang mengandung kemampuan untuk mengembangkan
kekuatan nasional dalam menghadapi dan mengatasi segala tantangan, ancaman,
hambatan, dan gangguan baik yang datang dari luar maupun dari dalam dan untuk
menjamin identitas, integritas, kelangsungan hidup bangsa dan Negara, serta perjuangan
mencapai tujuan nasional.

B. Tantangan Ketahanan Nasional Bangsa Indonesia


Berikut tantangan ketahanan nasional yang dihadapi Bangsa Indonesia yang terdiri dari
berbagai bidang, antara lain:
1.     Di Bidang Politik
Dalam bidang politik terdapat ancaman berupa pemerintahan yang tidak aspiratif dan
responsive atau bisa dikatakan diktator. Pemerintahan yang tidak mau mendengarkan
aspirasi rakyat artinya pemerintah ini tidak demokratis (dari rakyat, untuk rakyat dan
oleh rakyat). Padahal kita tahu bahwa sistem pemerintah Indonesia adalah sistem
pemerintah yang demokratis bukantotaliter (diktator). Meskipun telah
diselenggarakannya pemilu, hal ini tidak menjamin semua suara serta partisipasi rakyat
mendapat bagian dalam pemerintahan. Ini dikarenakan masih sering manipulasi suara
rakyat untuk memenangkan kelompok tertentu sampai kepada tidak meratanya
pemberian hak suara kepada rakyat (ada rakyat yang berhak menggunakan hak suaranya
tetapi tidak tercantum namanya dan sebaliknya).

2.     Di Bidang Ekonomi


Dalam bidang ekonomi kemiskinan menjadi ancaman bagi Ketahanan Nasional. Suatu
kenyataan bahwa kemiskinan masih terdapat dalam jumlah yang besar di Indonesi.
Meskipun jumlah rakyat yan hidup di bawah garis kemiskinan sudah dapat dikurangi
sevara mencolok, yaitu dari sekitar 70% pada tahum 1970 menjadi sekitar 15% pada
tahun 1993, namun itu masih meliputi tidak kurang dari 27 juta orang. Satu jumlah yang
sama dengan jumlah penduduk satu negara ukuran menengah seperti Canada (28 juta)
dan jauh atas penduduk Malaysia (19 juta). Padahal rakyat Indonesia yang hidup sedikit
di luar garis kemiskinan juga masih tergolong miskin sekali. Maka dengan begitu
jumlah penduduk Indonesia yang masih hidup miskin banyak sekali. Kondisi penduduk
demikian tidak mendukung adanya Ketahanan Nasional yang kuat. Seperti telah
diuraikan, Ketahanan Nasional terdiri dari Kesejahteraan dan Keamanan yang dapat
dibedakan tetapi tidak dipisahkan. Kalau masih banyak sekali penduduk Indonesia
miskin, sekalipun ada kecenderungan akan membaik, maka Kesejahteraan pada waktu
ini belum tinggi. Karena itu juga Keamanan belum dalam kondisi yang cukup baik.
Oleh karena itu kemiskinan merupakan tatangan yang harus dapat diatasi secepat
mungkin untuk dapat mewujudkan Ketahanan Nasional yang tangguh. Kemiskinan itu
dapat dilihat secara absolut dan relatif. Dilihat secaea absolut kita mempunyai tingkat
kemiskinan sebagaimana diindikasikan oleh penghasilan per kapita yang sekarang
sebesaaaaaar 730 dollar AS atau sekitar Rp. 1.500.000,00 per tahun. Pada umumnya
penghasilan yang dinilai memadai adalah kalau sudah di atas 2.000 dollar AS atau
sekitae Rp. 4.500.000,00 per tahun. Jadi keadaan kita secara absolut baru sepertiga yang
dinilai normal. Padahal angka Rp. 1.500.000,00 per kapita/tahun itu jauh dari gambaran
keadaan penghasilan penduduk yang sebenarnya. Sebab ada yang segolongan kecil yang
kaya sekali dengan penghasilan per kapita mungkin tidak kalah dari penduduk di negara
maju, jadi lebih dari 20.000 dollar AS atau Rp. 45 juta setahun. Sedangkan mayoritas
penduduk di bawah Rp 1.500.000,00 bahkan mungkin sekali di bawah Rp. 1.000.000
per tahun. Secara relatif kondisi penghasilan bangsa Indonesia masih amat parah juga,
karena harus dibandingkan dengan penghasilan per kapita bangsa-bangsa yang lain,
khususnya yang tinggal sekitar kita. Kita adalah bangsa termiskin di lingkungan
ASEAN menurut laporan World Bank Altas 1995. Singapore adalah terkaya dengan $
19.310, Malaysia $3.160, Thailand $ 2.040, Filipina $ 830, sedangkan Brunei
Darussalam menurut majalah Asia Week 10 Februari 1995 $ 18.500. maka jelas sekali
bahwa kita baik secara absolut maupun relatif masih tergolong bangsa yang miskin,
apalagi kalau melihat penghasilan mayoritas penduduk yang di bawah Rp. 1.000.000,00
atau $ 500. Meskipun sekitar 5% pendudukan Indonesia tidak kalah hidupnya dari rata-
rata pendudukan Singapore.

3.      Di Bidang Sosial Budaya


Dalam bidang sosial budaya, ancaman terbesarnya adalah tidak bisanya rakyat
Indonesia  mempertahankan kebhinekaan yang ada. Dimana keberagaman budaya dan
suku bangsa yang seharusnya menjadi pemersatu bangsa malah sering dijadikan alat
untuk memecah belahkan bangsa. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya konflik yang
terjadi akibat dari perbedaan ras dan golongan. Dimana setiap anggota dari suku dan
budaya yang ada beranggapan kalau kebudayaan serta suku merekalah yang paling baik
dan tidak mengindahkan kebudayaan serta suku lainnya yang ada di tengah masyarakat.
Sikap mementingkan kepentingan golongan dibandingkan dengan kepentingan
masyarakat secara keseluruhan ini jugalah yang dapat memecah belahkan persatuan
yang ada, dimana masing-masing pihak berupaya untuk mencapai tujuannya dengan
mengesampingkan tujuan nasional secara keseluruhan. Selain itu juga perbedaan agama
sering memacu timbulnya konflik yang ada di masyarakat. Dimana terdapat paham yang
membeda-bedaka ajaran agama yang satu dengan yang lain, yang kemudian akan
mengakibatkan terbentuknya  gap antara agama yang satu dengan pemeluk agama yang
lain. Perbedaan agama serta aliran kepercayaan yang ada di Indonesia inilah yang paling
berdampak besar terhadap perpecahan serta merupakan ancaman yang serius di bidang
sosial budaya. Masalah perbedaan status serta strata dalam masyatakat juga merupakan
ancaman dibidang sosial budaya, dimana terdapat perbedaan yang mencolok antara
majikan dan bawahan serta antara yang kaya dan yang miskin. Ini juga berpotensi untuk
memicu terjadinya konflik dalam masyarakat jika perbedaan tersebut terlalu mencolok.
Perbedaan ini bukan hanya dalam status yang dimiliki saja tetapi biasanya juga terhadap
perlakuan yang mereka peroleh, seperti halnya orang kaya selalu diutamakan
kepentingannya dibandingkan dengan yang miskin. Solusi untuk permasalahan ini
adalah perlunya sikap toleransi antar sesama, dimana semua anggota masyarakat harus
menghormati serta menghargai hak serta kepentingan sesamanya, mengutamakan serta
memprioritaskan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi atau golongan.

4.      Di Bidang Pertahanan dan Keamanan


Dalam bidang pertahanan dan keamanan adalah ancaman terhadap kedaulatan NKRI
jangan sampai kejadian di Desember 2002 terulang, dimana Pulau Sigitan dan Pulau
Sipadan diambil  oleh negara lain. Apalagi kita tahu RI memiliki batas wilayah dilaut
dengan 10 negara tetangga, yaitu dengan India, Thailand, Malaysia, Singapura,
Vietnam, Philipina, Pulau, PNG, Australia dan Timor Leste berbatasan dengan RI di
darat. Baik perbatasan di laut maupun di darat masalah penegasan dan penetapan batas
internasional tersebut sampai sekarang belum tuntas karena masih ada kantung-kantung
sepanjang garis batas yang belum tertutup (belum ada kesepakatan bersama dalam
penentuan batas negara maupun yang bermasalah). Sebagai contoh, di perbatasan darat
antara RI-Malaysia di Kalimantan terdapat 10 permasalahan batas yang masih perlu
penyelesaian. Mengatasi hal ini adalah memperkuat pengamanan di daerah batasan
dengan menempatkan TNI di daerah perbatasan.
Mengatasi hal ini adalah memperkuat pengamanan di daerah batasan dengan
menempatkan TNI di daerah perbatasan. Selain itu pemerintah harus tegas dan
mengambil tindakan cepat untuk melakukan negosiasi dengan pemerintahan negara lain
tentang batas wilayah. Jikatindakan represif tidak berjalan, kita bisa saja melakukan
konfontrasi dengan negara yang bersangkutan seperti yang dilakukan Indonesia kepada
Malaysia tahun 1960-an.

C.    Cara Memperkokoh Ketahanan Nasional


Mengatasinya dengan memberdayakan masyarakatuntuk mengawasi pemerintahan
melalui wakilnya yang duduk di lembaga legislative untuk mengawasi pemerintahan
supaya tidak diktator (seperti yang terjadi pada zamanorde baru). Kemudian membuat
aturan UU yang mengatur tentang pemerintahan anti- totaliter. UU perlu dibuat karena
pemerintahan kita berdasarkan atas hukum (rechstaat)artinya apa yang dilakukan
pemerintah harus sesuai dengan UU yang berlaku dalam suatunegara.
Untuk mengatasi kemiskinan, kita harus meningkatkan mutu sumber daya manusia
supaya bisa bersaing dengan penduduk negara lain supaya kita memilikikeunggulan
kompetitif dibandingkan negara lain. Meningkatkan kualitas sumber dayamanusia bisa
dilakukan denga cara memperbaiki mutu pendidikan kita, memberikan beasiswa bagi
penduduk yang tidak mampu namun memiliki kemampuan misalnyadengan program
BOS yang sedang digalakkan pemerintah. Selain itu untuk menurunkantingkat
kemiskinan, pemerintah perlu meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang tidak hanya
melihat kuantitasnya namun kualitasnya. Artinya pertumbuhan ekonomi harusdapat
menciptakan lapangan pekerjaan yang luas supaya tingkat pengangguran menurundan
kemiskinan lambat laun bisa dihilangkan. Pertumbuhan ekonomi saja tidak
cukup,namun pertumbuhan ekonomi harus diikuti dengan spread effect (efek sebaran)
artinyaharus merata ke seluruh lapisan masyarakat, sehingga gap antara kaya dan
miskinmenjadi kecil. Struktur ekonomi yang berkesinambungan juga bisa digunakan
untuk menghadapi ancaman kemiskinan. Struktur ekonomi bisa dilihat dalam APBN
kita,dimana dalam APBN bisa kita lihat apakah belanja pembangunan lebih banyak dari
belanja rutin. Belanja pembangunan digunakan untuk pembangunan daerah
tertinggal,KUR, PNPM yang fungsinya untuk memberantas kemiskinan.Selain
kemiskinan, ancaman di bidang ekonomi adalah praktek monopoli perusahaan besar
yang bisa menghabisi usaha-usaha kecil dan menengah. Jika praktek monopoli
dibiarkan saja, maka perekonomian bukan lagi berdasarkan demokrasi ekonomidimana
harga ditentukan oleh penjual, kemudian supply barang bisa diatur-atur oleh penjual
sehingga kalau barang langka, maka harga pasti meningkat.
Caranya sebenarnya telah dilakukan pemerintah dimana telah dibuat KPPU (Komisi
Pengawasan PersainganUsaha) untuk mengawasi perusahaan untuk tidak melakukan
monopoli, selain itukembalikan lagi prinsip ekonomi yang telah diungkapkan di dalam
pasal 33 UUD 1945dimana ekonomi berdasar usaha bersama (ayat 1).Baik secara global
maupun dalam lingkup kawasan Asia, khususnya AsiaTenggara, Indonesia berada
dalam suatu lingkungan yang ditandai dengan berbagai pertentangan. Di beberapa
kawasan pertentangan ini telah atau sewaktu-waktu dapatmenjelma menjadi konflik
bersenjata. Kekuatiran akan akibat perang umum maupunkemungkinan eskalasi perang
terbatas, menyebabkan makin berkembangnya suatu bentuk perang yang sering disebut
perang revolusioner. Infiltrasi, subversi sampai padakerusuhan dan pemberontakan
bersenjata merupakan tahap-tahap dari bentuk perang ini,yang total sifatnya, baik dalam
obyek, maupun metode, sehingga tidak satupun aspek kehidupan bangsa yang luput dari
ancaman ini. Suatu gejala lain yang perlu mendapat perhatian pula adalah teror
internasional dengan tindakan seperti pembajakan dan penyanderaan, suatu cara baru
untuk mencapai suatu tujuan politik.Beberapa bentuk gangguan dalam negeri yang
setiap saat dapat dihadapi dan perlu mendapat perhatian bidang pertahanan keamanan
negara antara lain: gangguan terhadap persatuan dankesatuan bangsa, gangguan
keamanan wilayah laut Nusantara, gangguan keamanan danketertiban masyarakat,
gangguan infiltrasi dan subversi serta pemberontakan bersenjatayang biasanya berkaitan
dengan usaha pihak asing, gangguan kejahatan narkotika,gangguankejahatan dengan
kekerasan serta berbagai bentuk gangguan yang disebabkan oleh ketegangan sosial
Untuk mengatasi keterbatasan dana adalah memanfaatkan tenaga/ perusahaan dalam
negeri artinya biasanya pesawat atau tank yang dipesan dari luar negeri, maka dibuat
saja di negeri sendiri,misalnya yang telah dilakukan saat ini dimana tank dibuat oleh
perusahaan di Indonesia.

2. Konsep Bela Negara di Indonesia


A. Pengertian Bela Negara di Indonesia       
Bela Negara adalah sikap dan perilaku warga negara yang dijiwai oleh kecintaannya
kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan pancasila dan Undang-
Undang Dasar 1945 dalam menjalin kelangsungan hidup bangsa dan negara. Tiap-tiap
warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pembelaan negara dan Syarat-
syarat tentang pembelaan diatur dengan undang-undang. Kesadaran bela negara itu
hakikatnya kesediaan berbakti pada negara dan kesediaan berkorban membela negara.
Spektrum bela negara itu sangat luas, dari yang paling halus, hingga yang paling keras.
Mulai dari hubungan baik sesama warga negara sampai bersama-sama menangkal
ancaman nyata musuh bersenjata. Tercakup di dalamnya adalah bersikap dan berbuat
yang terbaik bagi bangsa dan negara.
Konsep bela negara dapat diartikan secara fisik dan non fisik. Secara fisik dengan
mengangkat senjata menghadapi serangan atau agresi musuh, secara non fisik dapat
didefinisikan sebagai segala upaya untuk mempertahankan Negara dengan cara
meningkatkan rasa nasionalisme, yakni kesadaran berbangsa dan bernegara,
menanamkan kecintaan terhadap tanah air, serta berperan aktif dalam memajukan
bangsa dan negara.

B. Unsur Dasar Bela Negara


Unsur dasar bela negara yang dianut oleh bangsa Indonesia adalah sebagai berikut :
1.    Cinta Tanah Air.
2.    Kesadaran Berbangsa dan bernegara.
3.    Yakin akan Pancasila sebagai Ideologi Negara.
4.    Rela berkorban untuk bangsa dan negara
5.    Memiliki kemampuan awal Bela Negara.

C. Dasar Hukum Bela Negara Indonesia


Beberapa dasar hukum dan peraturan tentang Wajib Bela Negara di negara Indonesia
adalah sebagai berikut:
1.    Tap MPR No.VI Tahun 1973 tentang konsep wawasan nusantara dan keamanan
nasional.
2.    Undang-Undang No.29 tahun 1954 tentang Pokok-Pokok Perlawanan Rakyat.
3.    Undang-Undang No.20 tahun 1982 tentang Ketentuan Pokok Hankam Negara RI.
Diubah oleh Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1988.
4.    Tap MPR No.VI Tahun 2000 tentang Pemisahan TNI dengan POLRI.
5.    Tap MPR No.VII Tahun 2000 tentang Peranan TNI dan POLRI.
6.    Amandemen UUD ’45 Pasal 30 ayat 1-5 dan pasal 27 ayat 3.
7.      Undang-Undang No.3 tahun 2002 tentang Pertahanan Negara.
Landasan pembentukan bela negara adalah wajib militer. Bela negara adalah pelayanan
oleh seorang individu atau kelompok dalam tentara atau milisi lainnya, baik sebagai
pekerjaan yang dipilih atau sebagai akibat dari rancangan tanpa sadar militer beberapa
negara (misalnya Israel dan Iran) meminta jumlah tertentu dinas militer dari masing-
masing dan setiap salah satu warga negara (kecuali untuk kasus khusus seperti fisik atau
gangguan mental atau keyakinan keagamaan). Sebuah bangsa dengan relawan
sepenuhnya militer, biasanya tidak memerlukan layanan dari wajib militer warganya,
kecuali dihadapkan dengan krisis perekrutan selama masa perang.
Di beberapa negara, seperti Amerika Serikat, Spanyol dan Inggris, bela negara
dilaksanakan pelatihan militer, biasanya satu akhir pekan dalam sebulan. Mereka dapat
melakukannya sebagai individu atau sebagai anggota resimen, misalnya Tentara
Teritorial Britania Raya. Dalam beberapa kasus milisi bisa merupakan bagian dari
pasukan cadangan militer, seperti American National Guard. Di negara lain, seperti
Republik Rakyat Cina, Taiwan, Korea dan Israel, wajib untuk beberapa tahun setelah
seseorang menyelesaikan dinas nasional. Sebuah pasukan cadangan militer berbeda dari
pembentukan cadangan, kadang-kadang disebut sebagai cadangan militer, yang
merupakan kelompok atau unit personil militer tidak berkomitmen untuk pertempuran
oleh komandan mereka sehingga mereka tersedia untuk menangani situasi tak terduga,
memperkuat pertahanan Negara.

D. Alasan Bela Negara Indonesia


a. Menghormati dan menghargai para pahlawan yang telah berjuang merebut
kemerdekaan.
b. Ingin memajukan Negara.
c. Mempetahankan Negara jangan sampai dijajah kembali.
d. Meningkatkan harkat dan martabat bangsa di mata dunia internasional.

Bentuk-bentuk bela negara


a. Secara Fisik
Segala upaya untuk mempertahankan kedaulatan negara dengan cara berpartisipasi
secara langsung dalam upaya pembelaan negara (TNI Mengangkat senjata, Rakyat
Berkarya nyata dalam proses Pembangunan).

b. Secara Non Fisik


Segala upaya untuk mempertahankan NKRI dengan cara meningkatkan kesadaran
berbangsa dan bernegara, menanamkan kecintaan pada tanah air serta berperan aktif
dalam upaya memajukan bangsa sesuai dengan profesi dan kemampuannya.

Wujud bela negara bagi pelajar


1.    Lingkungan Keluarga: memahami hak dan kewajiban dalam keluarga, menjaga
keutuhan dan keharmonisan keluarga, demokratis, menjaga nama baik keluarga dll.
2.    Lingkungan Sekolah: patuh pada aturan sekolah, berkata dan bersikap baik,
bertanggung jawab atas tugas yang diberikan, tidak ikut tawuran, dll
3.    Lingkungan Masyarakat: aktif dalam kegiatan masyarakat, rela berkorban untuk
kepentingan masyarakat.
4.    Lingkungan berbangsa dan bernegara; menghormati jasa pahlawan, berani
mengemukakan pendapat, melestarikan adat dan budaya asli daerah.

3. Urgensi Dan Tantangan Ketahanan Nasional Dan Bela Negara Bagi Indonesia
Dalam Membangun Komitmen Kolektif Kebangsaan
Ketahanan nasional (national resilience) merupakan salah satu konsepsi kenegaraan
Indonesia. Ketahanan sebuah bangsa pada dasarnya dibutuhkan guna menjamin serta
memperkuat kemampuan bangsa yang bersangkutan baik dalam rangka
mempertahankan kesatuannya, menghadapi ancaman yang datang maupun
mengupayakan sumber daya guna memenuhi kebutuhan hidup. Dengan demikian,
ketahanan bangsa merupakan kemampuan suatu bangsa untuk mempertahankan
persatuan dan kesatuannya, memperkuat daya dukung kehidupannya, menghadapi
segala bentuk ancaman yang dihadapinya sehingga mampu melangsungkan
kehidupannya dalam mencapai kesejahteraan bangsa tersebut. Konsepsi ketahanan
bangsa ini dalam konteks Indonesia dirumuskan dengan nama Ketahanan Nasional
disingkat Tannas. Upaya menyelenggarakan ketahanan nasional ini dapat diwujudkan
dengan bela negara.
Secara etimologi, ketahanan berasal dari kata “tahan” yang berarti tabah, kuat, dapat
menguasai diri, gigih, dan tidak mengenal menyerah. Sedangkan kata “nasional” berasal
dari kata nation yang berarti bangsa sebagai pengertian politik. Ketahanan nasional
secara etimologi dapat diartikan sebagai mampu, kuat, dan tangguh dari sebuah bangsa
dalam pengertian politik.
Ketahanan nasional meliputi ketahanan ideologi, ketahanan politik, ketahanan ekonomi,
ketahanan sosial budaya, dan ketahanan pertahanan keamanan. Konsep ketahanan
nasional yang digambarkan dalam 3 wajah. Tannas sebagai kondisi adalah sesuai
dengan rumusan ketahanan nasional pada umumnya. Tannas sebagai doktrin berisi
pengaturan penyelenggaraan keamanan dan kesejahteraan dalam kehidupan nasional.
Tannas sebagai metode adalah pendekatan pemecahan masalah yang bersifat integral
komprehensif menggunakan ajaran Asta Gatra. Selain tiga wajah atau pengertian
ketahanan nasional, ketahanan nasional Indonesia juga memiliki banyak dimensi dan
konsep ketahanan berlapis. Oleh karena aspek-aspek baik alamiah dan sosial (asta gatra)
mempengaruhi kondisi ketahanan nasional, maka dimensi aspek atau bidang dari
ketahanan Indonesia juga berkembang.
Ketahanan nasional memiliki dimensi seperti ketahanan nasional ideologi, politik dan
budaya serta konsep ketahanan berlapis dimulai dari ketahanan nasional diri, keluarga,
wilayah, regional, dan nasional. Inti dari ketahanan nasional Indonesia adalah
kemampuan yang dimiliki bangsa dan negara dalam menghadapi segala bentuk
ancaman yang dewasa ini spektrumnya semakin luas dan kompleks, baik dalam bentuk
ancaman militer maupun nirmiliter. Kegiatan pembelaan negara pada dasarnya
merupakan usaha dari warga negara untuk mewujudkan ketahanan nasional.
Bela negara adalah, sikap dan tindakan warga negara yang teratur, menyeluruh, terpadu
dan berlanjut yang dilandasi oleh kecintaan pada tanah air dan kesadaran hidup
berbangsa dan bernegara. Bela negara mencakup bela negara secara fisik atau militer
dan bela negara secara nonfisik atau nirmiliter dari dalam maupun luar negeri.  Setiap
warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya bela negara. Bela Negara dapat
secara fisik yaitu dengan cara "memanggul senjata", menghadapi serangan atau agresi
musuh. Bela Negara secara fisik dilakukan untuk menghadapi ancaman dari luar. Bela
negara secara nonfisik adalah segala upaya untuk mempertahankan negara kesatuan
Republik Indonesia dengan cara meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara,
menanamkan kecintaan terhadap tanah air (salah satunya diwujudkan dengan sadar dan
taat membayar pajak), serta berperan aktif dalam memajukan bangsa dan negara,
termasuk penanggulangan ancaman  dan lain sebagainya.e. Keadilan sosial bagi seluruh
rakyat Indonesia (padidankapas).

4.1.          Kesimpulan
Dari pembahasan diatas, penulis dapat menyimpulkan bahwa :
1.      Pada dasarnya ketahanan nasional bertujuan untuk melindungi bangsa dan negara
Indonesia dari segala ancaman dari dalam maupun dari luar negeri.
2.      Peran seluruh warga negara sangat diperlukan dalam hal ini. Sebagai warga negara
Indonesia harus menjaga pertahanan dan keamanan negara demi menjaga kedaulatan
negara untuk mempertahankan martabat dan keutuhan bangsa. Begitupun generasi
muda, sebagai generasi penerus bangsa, sudah seharusnya mampu menjaga keutuhan
negara untuk mempertahankan dan mengisi kemerdekaan Indonesia.
3.      Kewajiban warga negara dalam bela negara dapat dilakukan dengan dua cara yaitu
bela negara secara fisik dan bela negara secara non fisik.
4.2.          Saran
Ketahanan nasional bukan hanya kewajiban bagi pemerintah saja. Akan tetapi
masyarakat Indonesia juga harus turut serta mensukseskannya dengan cara lebih bangga
dan lebih mendalami tentang Negara dan bangsa Indonesia sendiri. Elit politik tidak
hanya harus represif tapi juga harus dengan sadar ikut ambilandil dalam
pelaksanaannya. Sehingga seluruh lapisan masyarakat aktif. Karena kesadaran bela
negara merupakan suatu kewajiban bagi seluruh elemen bangsa Indonesia tanpa
terkecuali. Oleh karena itu, mulai sekarang marilah kita bersama-sama
menumbuhkembangkan semangat nasionalisme sejak dini terutama kepada generasi
muda bangsa Indonesia tercinta ini dengan metode yang sederhana dan mudah
dimengeti dan dipahami kemudian dijabarkan dalam suatu aturan pelaksanaan untuk
dijadikan pedoman bangsa Indonesia.
- Ketahanan nasional dalam realitanya bersifat “kibernetik” dalam pengertian
mempunyai kemampuan adaptasi untuk selalu mengadakan penyesuaian diri dan
sekaligus merupakan fungsi dari lingkungan, ruang, waktu dan gerak. Oleh karena
itu, ketahanan nasional suatu bangsa tidak selamanya bersifat tetap, melainkan selalu
mengalami fluktuasi konjungtur dapat meningkat atau turun, tergantung pada situasi
dan kondisi yang dihadapi oleh bangsa tersebut.