Anda di halaman 1dari 8

A.

     PENGERTIAN RULE OF LAW                    


Rule Of Law merupakan suatu doktrin hukum yang mulai muncul pada abad ke
XIX, bersamaan dengan kelahiran Negara berdasarkan hukum ( konstitusi ) dan
demokrasi. Kehadiran Rule Of Law boleh disebut sebagai reaksi dan koreksi
terhadap Negara absolute ( kekuasaan di tangan penguasa ) yang telah berkembang
sebelumnya.
Rule of law merupakan konsep tentang common law tempat segenap lapisan
masyarakat dan lapisan Negara beserta seluruh kelembagaanya menjunjung tinggi
supremasi hukum yang dibangun atas prinsip keadilan dan egalitarian.
Rule of law adalah  rule by the law dan bukan rule by the man.  Konsep ini lahir
untuk mengambil alih dominasi yang dimiliki kaum gereja, ningrat dan kerajaan,
serta menggeser Negara kerajaan dan memunculkan Negara konstitusi di mana
doktrin rule of law ini lahir. Ada tidaknya rule of law  dalam suatu Negara ditentukan
oleh “kenyataan”
Berdasarkan pengertiannya, Friedman (1959) membedakan rule of law menjadi dua
yaitu :
a.    Pengertian Secara formal (in the formal sense)
     Rule of Law diartikan sebagai kekuasaan hukum yang terorganisasi (organized
     public power). Misalnya : Negara.
b.    Pengertian secara hakiki /materi (ideological sense)
Rule of Law terkait dengan penegakan rule of law karena menyangkut ukuran
hukum yang baik dan buruk (just and unjust law).

Rule of law terkait erat dengan keadilan sehingga rule of law  harus menjamin


keadilan yang dirasakan oleh masyarakat. Rule of Law merupakan suatu legalisme
sehingga mengandung gagasan bahwa keadilan dapat dilayani melalui pembuatan
system peraturan dan prosedur yang bersifat objektif, tidak memihak, tidak personal,
dan otonom.
      
B.      KONSEP DASAR RULE OF LAW
      Idea mengenai negara dalam suatu tatanan hukum yang adil terus menerus
berkembang di Eropa dari abad ke-16 hingga permulaan abad ke-20. Dalam dekade
waktu itu dapat diuraikan perkembangan pemikiran mengenai konsep negara; dari
negara hukum klasik (pengertian negara dalam arti sempit) sampai dengan negara
hukum formal.
            Di dalam catatan sejarah diungkapkan bahwa konsep negara hukum dapat
dibedakan menurut konsep Eropa Continental yang biasa dikenal
dengan Rechtstaat dan dalam konsep Anglo Saxon dikenal dengan Rule Of
Law. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa Rechtstaattersebut direduksi dalam
sistem hukum yang dinamakan Civil Law atau yang biasa kita sebut dengan Modern
Roman Law. Konsep rechtstaat ini ditelaah secara historis merupakan penentangan
secara tajam atas pemikiran kaum Hegelianisme yang
mengembangkanabsolutisme, jadi dapat dikatakan sebagai revolusioner. Berbeda
dengan Rule Of Law yang berkembang dengan metode evolusioner, yang direduksi
dalam sistem hukum Common Law.
            Konsep Rechtstaat banyak mempengaruhi sistem hukum  di beberapa negara
termasuk sistem hukum Indonesia. Secara jelas konstitusi negara Indonesia memuat
apa yang dinamakan dengan Rechtstaat ini dalam rangkaian kata “Indonesia ialah
negara berdasar atas hukum(rechtstaat)... dan selanjutnya, hal ini tertuang  dalam
UUD 1945.
            Kedudukan argumentasi diatas dapatlah dianalisis sebagai wahana
memperdalam kajian telaah terhadap apa yang dinamakan dengan konsep negara
hukum menurut Rule Of Law, pada pembahasan penulis menguraikan senarai-
senarai yang relevan dengan apa yang ingin dikemukakan.

Konsep Rule Of Law merupakan bagian terpenting dalam negara hukum

            Munculnya demokrasi konstitusional sebagai suatu program dan sistem


politik yang konkrit pada akhir abad ke-19, dengan gagasan, dimana pemerintah
yang demokratis adalah pemerintah yang terbatas kekuasaannya dan tidak
dibenarkan bertindak sewenang-wenang terhadap warganegaranya. Konstitusi
tertulis  secara tegas menjamin hak-hak asasi  dari warga negara, adanya pembagian
kekuasaan. Perumusan yuridis dari prinsip-prinsip ini dikenal dengan
istilah Rechtsstaat  dan Rule of Law.

            Walaupun demokrasi baru pada akhir abad ke-19 mencapai wujud yang
konkrit, akan tetapi pemikiran tentang negara hukum atau Rechtsstaat sebenarnya
sudah sangat tua. Konsep negara hukum pertama sekali dikemukakan oleh Plato
dalam bukunya Politea (the Republica), Politicos (the Stateman), dan Nomoi (the
Law) yang kemudian dipertegas oleh Aristoteles dalam karyanya Politica yang
merupakan kelanjutan dari pemikiran Plato dalam bukunyaNamoi.

            Pemikiran Plato tentang cita negara hukum ini lama dilupakan orang, dan
baru pada awal abad ke-17 timbul kembali di Barat yang merupakan reaksi terhadap
pemikiran kekuasaan absolut, terutama sekali pada kekuasaan raja yang sewenang-
wenang. Sedangkan istilah negara hukum itu sendiri baru muncul pada abad ke-19.

            Gagasan mengenai perlunya pembatasan kekuasaan pemerintah serta adanya


jaminan atas hak-hak asas dari warga negara mendapat perumusan yang yuridis.
Ahli-ahli hukum Eropa Barat Kontinental seperti Immanuel Kant dan Friedrich
Julius Stahl memakai istilahRechtsstaat, sedang ahli-ahli hukum Anglo Saxon seperti
A.V. Dicey memakai istilah Rule of Law.

Menurut Friedrich Julius Stahl negara hukum secara formal memiliki:

1. Hak asasi manusia;


2. Pembagian kekuasaan;
3. Wetmatigheid van bestuur, atau pemerintahan berdasarkan peraturanperaturan;
4. Peradilan tata usaha dalam perselisihan.

            Dari keempat unsur utama negara hukum formal yang dikemukakan Stahl ini
dapatlah disimpulkan bahwa negara hukum bertujuan untuk melindungi hak-hak
azasi warga negaranya dengan cara membatasi dan mengawasi gerak langkah dan
kekuasaan negara dengan undang-undang. Sedangkan A V. Dicey mengemukakan
unsur-unsur Rule of Law dalam Introduction to Study of the Law of the
Constitution, mencakup:

1. Supremasi aturan-aturan hukum (Supremacy of Law); tidak adanya kekuasaan


sewenang-wenang (absence of arbitary power), dalam arti bahwa seseorang
hanya boleh dihukum kalau melanggar hukum.
2. Kedudukan yang sama dalam menghadapi hukum (Equality before the
Law). Dalil ini berlaku baik untuk orang biasa, maupun untuk pejabat.
3. Terjaminnya hak-hak manusia oleh undang-undang (di negara lain oleh undang-
undang dasar) serta keputusan-keputusan pengadilan.
            Rumusan tentang unsur-unsur rechtsstaat yang dikemukakan oleh Stahl
maupun rumusan tentang unsur-unsur The Rule of Law yang di kemukakan oleh     A.
V. Dicey tersebut diatas, adalah merupakan pandangan klasik, sebab dalam
perkembangan selanjutnya, khususnya dalam memenuhi tuntutan perkembangan
abad ke-20, perkembangan negaranegara hukum, penyelenggaraan negara oleh
pemerintah yang berubah, kegiatan negara telah menyebar untuk mengatur berbagai
pokok persoalan kehidupan bernegara, negara hukum klasik berubah menjadi negara
ke sejahteraan modern (wefare state).

            Dari rumusan konsep Rule Of Law baik yang klasik maupun yang dinamis
hasil Konres ICJ tahun 1965 di Bangkok,  di katakan bahwa konsep Rule Of
Law dalam kaitannya dengan negara hukum memang sangat identik dan tak dapat
dipisahkan karena maksud dasar dari Rule Of Law itu sendiri adalah penyelenggaraan
negara berdasarkan demokrasi konstitusi,yang dengan tegas adanya keharusan untuk
menjamin hak-hak asasi warga  negaranya, persamaan di depan hukum, dan
pengawasan atas jalannya pemerintahan.

C.     PRINSIP DASAR RULE OF LAW

Prinsip-prinsip secara formal (in the formal sense) Rule Of Law tertera dalam
UUD 1945 dan pasal-pasal UUD negara RI tahun 1945. Inti dari Rule Of Law adalah
jaminan adanya keadilan bagi masyarakatnya, khususnya keadilan sosial.
Prinsip-prinsip Rule of Law Secara Formal (UUD 1945) 
1.      Negara Indonesia adalah negara hukum (pasal 1: 3)
2.      Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan
pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu tanpa kecuali
(pasal 27:1)
3.      Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan dan kepastian hukum
yang adil serta perlakuan sama di hadapan hukum (pasal 28 D:1)
4.      Setiap orang berhak untuk bekerja serta mendapat imbalan dan perlakuan yang
adil dan layak dalam hubungan kerja ( pasal 28 D: 2)

Prinsip-prinsip Rule of Law secara Materiil/ Hakiki :


a.    Berkaitan erat dengan the enforcement of the Rule of Law
b.    Keberhasilan the enforcement of the rule of law tergantung pada kepribadian
nasional masing-masing bangsa (Sunarjati Hartono, 1982)
c.    Rule of law mempunyai akar sosial dan akar budaya Eropa (Satdjipto Rahardjo,
2003)
d.   Rule of law juga merupakan suatu legalisme, aliran pemikiran hukum,
mengandung wawasan sosial, gagasan tentang hubungan antarmanusia,
masyarakat dan negara.
e.    Rule of law merupakan suatu legalisme liberal (Satdjipto Rahardjo, 2003).

D.    STATEGI PELAKSANAAN (PENGEMBANGAN) RULE OF LAW


Agar pelaksanaan rule of law bisa berjalan dengan yang diharapkan, maka:
a.    Keberhasilan “the enforcement of the rules of law” harus didasarkan pada corak
masyarakat hukum yang bersangkutan dan kepribadian masing-masing setiap
bangsa.
b.    Rule of law yang merupakan intitusi sosial harus didasarkan pada budaya yang
tumbuh dan berkembang pada bangsa.
c.    Rule of law sebagai suatu legalisme yang memuat wawasan social, gagasan
tentang hubungan antar manusia, masyarakat dan negara, harus ditegakan secara
adil juga memihak pada keadilan.
Untuk mewujudkannya perlu hukum progresif (Setjipto Raharjo: 2004), yang
memihak hanya pada keadilan itu sendiri, bukan sebagai alat politik atau keperluan
lain. Asumsi dasar hukum progresif bahwa ”hukum adalah untuk manusia”, bukan
sebaliknya. Hukum progresif  memuat kandungan moral yang kuat. Arah dan watak
hukum yang dibangun harus dalam hubungan yang sinergis dengan kekayaan yang
dimiliki bangsa yang bersangkutan atau “back to law and order”, kembali pada
hukum dan ketaatan hukum negara yang bersangkutan itu.

E.     PENENTU WARGA NEGARA INDONESIA


Dalam penentuan kewarganegaraan didasarkan kepada sisi kelahiran dikenal dua
asas yaitu :
a.    Asas Ius Soli
Asas yang menyatakan bahawa kewarganegaraan seseorang ditentukan dari
tempat dimana orang tersebut dilahirkan.
b.    Asas Ius Sanguinis
Asas yang menyatakan bahwa kewarganegaraan sesorang ditentukan beradasarkan
keturunan dari orang tersebut
Selain dari sisi kelahiran, penentuan kewarganegaraan dapat didasarkan pada aspek
perkawinan yang mencakup asas :
a.    Asas persamaan hukum
Didasarkan pandangan bahwa suami istri adalah suatu ikatan yang tidak terpecahkan
sebagai inti dari masyarakat. Dalam menyelenggarakan kehidupan bersama, suami
istri perlu mencerminkan suatu kesatuan yang bulat termasuk dalam masalah
kewarganegaraan. Berdasarkan asas ini diusahakan status kewarganegaraan suami
dan istri adalah sama dan satu
b.    Asas persamaan derajat
Berasumsi bahwa suatu perkawinan tidak menyebabkan perubahan status
kewarganegaaraan suami atau istri. Keduanya memiliki hak yang sama untuk
menentukan sendiri kewarganegaraan. Jadi mereka dapat berbeda kewarganegaraan
seperti halnya ketika belum berkeluarga.
-          Negara Indonesia telah menentukan siapa-siapa yang menjadi warga negara .
ketentuan tersebut tercantum dalam pasal 26 UUD 1945 sebagai berikut :
1.    Yang menjadi warga negara ialah orang-orang Indonesia asli dan orang-orang
bangsa lain yang disahkan undang-undang sebagai warga Negara
2.     Penduduk ialah waraga negara Indonesia dan orang asing yang bertempat tinggal
di Indonesia
3.    Hal-hal mengenai warga negara dan penduduk diatur dengan undang-undang
-  Berdasarkan hal diatas , kita mengetahui bahwa orang yang dapat menjadi warga
negara Indonesia adalah :
a.    Orang-orang bangsa Indonesia asli
b.    Orang-orang bangsa lain yang disahkan dengan undang-undang menjadi warga
Negara

F.     HUBUNGAN RULE OF LAW DENGAN NEGARA


Pelaksanaan Rule of Law di Indonesia seharusnya mempertimbangkan hal-hal
1. Keberhasilan the enforcement of the rue of law tergantung pada sejarah dan corak
masyarakat hukum dan pada kepribadian masing-masing bangsa.
2. Rule of Law adalah suatu institusi sosial, memiliki struktur sosiologis dan akar
budaya sendiri
G.       HUBUNGAN RULE OF LAW DENGAN HAM ( HAK ASASI MANUSIA)
        Peerenboom menyatakan bahwa yang menjadi persoalan bukanlah prinsip-
prinsip rule of law, tetapi adalah kegagalan untuk menaati prinsip-prinsip tersebut.
Akan tetapi yang jelas menurutnya adalah bahwa rule of law bukanlah ‘obat
mujarab’ yang dapat mengobati semua masalah. Bahwa rule of law saja tidak dapat
menyelesaikan masalah. Peerenboom menyatakan bahwa rule of law hanyalah satu
komponen untuk sebuah masyarakat yang adil. Nilai-nilai yang ada dalam rule of law
dibutuhkan untuk jalan pada nilai-nilai penting lainnya. Dengan demikian rule of law
adalah jalan tetapi bukan ‘tujuan’ itu sendiri.
Berkaitan dengan hak asasi manusia sendiri, terutama hak ekonomi, sosial dan
budaya, adalah menarik bahwa Peerenboom menyatakan rule of law sangat dekat
dengan pembangunan ekonomi. Selanjutnya dia menyatakan bahwa
memperhitungkan pentingnya pembangunan ekonomi bagi hak asasi manusia maka
dia menyatakan agar gerakan hak asasi manusia memajukan pembangunan.

            Di sini sangat penting untuk diingat bahwa menurut Peerenboom sampai
sekarang kita gagal untuk memperlakukan kemiskinan sebagai pelanggaran atas
martabat manusia dan dengan demikian hak ekonomi, sosial dan budaya tidak
diperlakukan sama dalam penegakan hukumnya seperti hak sipil dan politik. Dalam
pemenuhan hak ekonomi, sosial dan budaya, menurutnya rule of law saja tidak akan
cukup untuk dapat menjamin pemenuhan hak ekonomi, sosial dan budaya tanpa
adanya perubahan tata ekonomi global baru dan adanya distribusi sumber alam
global yang lebih adil dan seimbang. Oleh karena itu menurutnya pemenuhan hak
ekonomil, sosial dan budaya juga memerlukan perubahan yang mendasar pada tata
ekonomi dunia. Terakhir yang harus dicatat adalah peringatan Peerenboom tentang
bahaya demokratisasi yang prematur. Menurutnya kemajuan hak asasi manusia yang
signifikan hanya dapat tercapai dalam demokrasi yang consolidated, sementara
demokrasi yang prematur mengandung bahaya yang justru melemahkan rule of law
dan hak asasi manusia terutama pada negara yang kemudian terjadi kekacauan sosial
(social chaos) atau pun perang sipil (civil war). Hal lain yang penting dikemukakan
oleh Peerenboom adalah bahwa rule of law membutuhkan stabilitas politik, dan
negara yang mempunyai kemampuan untuk membentuk dan menjalankan sistem
hukum yang fungsional. Stabilitas politik saja tidak cukup. Dalam hal ini dibutuhkan
hakim yang kompeten dan peradilan yang bebas dari korupsi.
            Pada intinya Peerenboom menyatakan bahwa walaupun rule of law bukanlah
obat mujarab bagi terpenuhinya hak asasi manusia, namun demikian, adalah benar
pelaksanaan rule of law akan menyebakan kemajuan kulitas hidup dan pada akhirnya
terpenuhinya hak asasi manusia.

BAB III

PENUTUP

A.     KESIMPULAN
            Rule of law sangat diperlukan untuk Negara seperti Indonesia karena akan
mewujudkan keadilan. Tetapi harus mengacu pada orang yang ada di dalamnya yaitu
oranr-orang yang jujur tidak memihak dan hanya memikirkan keadilan tidak
terkotori hal yang buruk. Ada tidaknya rule of law pada suatu negara ditentukan oleh
“kenyataan”, apakah rakyat menikmati keadilan, dalam arti perlakuan adil, baik
sesame warga Negara maupun pemerintah.
            Friedman (1959) membedakan rule of law menjadi dua yaitu: Pertama,
pengertian secara formal (in the formal sence) diartikan sebagai kekuasaan umum
yang terorganisasi (organized public power), misalnya nrgara. Kedua, secara
hakiki/materiil (ideological sense), lebih menekankan pada cara penegakannya
karena menyangkut ukuran hukum yang baik dan buruk (just and u

njust law). Prinsip-prinsip rule of law secara formal tertera dalam pembukaan UUD
1945. Penjabaran prinsip-prinsip rule of law secara formal termuat didalam pasal-
pasal UUD 1945. Agar kita dapat menikmati keadilan maka seluruh aspek Negara
harus bersih, jujur, mentaati undang-undang, juga bertanggung jawab, dan
menjalankan UU 1945 dengan baik.

            Rule of Law juga mempunyai kaitan erat dengan HAM ( Hak Asasi
Manusia), dimana jika pelaksanaan Rule of Law benar akan menyebakan kemajuan
kulitas hidup dan pada akhirnya terpenuhinya hak asasi manusia.