Anda di halaman 1dari 16

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan penulis kemudahan
alam menyelesaikan makalah tepat waktu. Tanpa rahmat dan
pertolongan-Nya, penulis tidak akan mampu menyelesaikan makalah ini
dengan baik. Tidak lupa shalawat serta salam tercurahkan kepada Nabi
agung Muhammad SAW yang syafa’atnya kita nantikan kelak.
Penulis mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat
sehat-Nya, sehingga makalah “”Kasus Kentucky Fried Chicken di Cina”
dapat diselesaikan. Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata
kuliah manajemen strategic dengan bimbingan dosen Dr. Herning
Indriastuti, MM. Penulis menyadari makalah ini masih perlu banyak
penyempurnaan karena kesalahan dan kekurangan. Penulis terbuka
terhadap kritik dan saran pembaca agar makalah ini dapat lebih baik.
Apabila terdapat banyak kesalahan pada makalah ini, baik terkait
penulisan maupun konten, penulis memohon maaf.
Demikian yang dapat penulis sampaikan. Akhir kata, semoga makalah ini
dapat bermanfaat.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Tenggarong, 25 September 2020

Ipandi Lukman
DAFTAR ISI

Kata Pengantar…………………………………………………………………1

Daftar Isi ………………………………………………………………………...2

BAB I PENDAHULUAN3

A. Latar Belakang3

B. Rumusan Masalah5

C. Tujuan5

BAB II PEMBAHASAN6

BAB III PENUTUP11

A. Kesimpulan11

B. Saran 11
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Persaingan dunia bisnis internasional di era globalisasi semakin
berkembang pesat. Ini dibuktikan dengan adanya persaingan yang
kompetitif diantara para aktornya yaitu perusahaan-perusahaan
multinasional (MNCs). Salah satunya adalah perusahaan yang
bergerak di bidang pembuatan makanan dan minuman yaitu KFC
(Kentucky Fried Chicken). KFC merupakan salah satu perusahaan
multinasional yang bergerak di bidang restoran cepat saji yang
berpusat di Louisville, Kentucky, Amerika Serikat. KFC adalah rantai
restoran cepat saji terbesar di dunia dengan produk khasnya ayam
goreng (Deng, 2011).
KFC merupakan salah satu anak cabang dari perusahaan Yum!
Brands Inc, dalam hal unit-unit sistem memiliki sekitar 38.000 cabang
restoran yang tersebar ke seluruh dunia, lebih dari 110 negara dan
kawasan (Website Yum! Brands, 2012). Dari ke 110 negara tersebut
yang menjadi salah satu tujuan ekspansi KFC adalah negara
Tiongkok (China). Pada tahun 1990-an, industri makanan cepat saji
di pasar Tiongkok mengalami pertumbuhan dengan peningkatan
pendapatan sebesar 20 persen per tahun. Setidaknya selama kurun
waktu 10 tahun kemudian di pasar industri Tiongkok munculnya 800
kelompok atau grup yang melayani makanan cepat saji, diantaranya
400.000 restoran (Wen, 2007). Dan setelah selama satu dekade (10
tahun) tersebut, layanan makanan cepat saji telah membagi
pendapatan pasar sebesar 20 persen terhadap industri jasa
makanan (Li, 2007).
Penyebaran atau ekspansi KFC di Tingkok terjadi pada sekitar
tanggal 12 November 1987 bertempat di Beijing. Negara Tiongkok
yang memiliki jumlah penduduk terbanyak di dunia menyebabkan
ekspansi semakin berkembang. Menurut data Website KFC, pada
lima tahun pertama di Beijing (1987-1992), mereka telah
membangun 11 restoran. Dan pada tanggal 25 Juni 1996, KFC
membuka restoran yang ke-100 di Beijing dan pada hari pertama
dari bulan yang sama restoran mereka yang terletak di Taman
Rakyat Shanghai mendapatkan omset harian sebesar 400.000 RMB
(Renminbi) yang menjadi rekor omset tertinggi satu hari diantara
restoran-restoran KFC di seluruh dunia. Dan saat ini, restoran KFC
sudah melayani sekitar 10 juta konsumen per hari di Tiongkok
(Website KFC, 2012).
Pada akhir tahun 2007, KFC telah memperkerjakan lebih dari
160.000 orang Tiongkok sebagai staf pegawai dan bersikeras untuk
memperkerjakan orang-orang lokal dengan tingkat persentase 100
persen (Website KFC, 2012). KFC juga membangun kemitraan
dengan kelompok masyarakat lokal, setidaknya selama 24 tahun
keberadaannya, mereka telah membeli lebih dari 700.000 ton ayam
dan restoran akan menyediakan bahan sebesar 90 persen berasal
dari ayam pedesaan, sayur mayur untuk paketan dan peralatan-
peralatan yang tetap (Bian, 2009).
KFC merupakan salah satu restoran fastfood yang ingin bahas
oleh penulis dalam sisi manajemen strategik karena KFC telah
melakukan strategi marketing dari sisi penyesuaian kultur di China,
terbukti dengan berbagai menu dan promosi yang dikeluarkan oleh
KFC bagi para konsumennya yang ada di China. Penyesuaian
berbagai menu produk dan promosi KFC ini dibuat berdasarkan
kultur dan gaya hidup orang China yang praktis karena penyediaan
makanan yang cepat saji semakin dibutuhkan sejalan dengan
meningkatnya mobilitas masyarakat China, terutama di kawasan
perkotaan yang dinamis.
B. Rumusan Masalah
Bagaimana analisa managemen strategik yang diterapkan oleh
perusahan KFC dalam melakukan ekspansi bisnis di China

C. Tujuan
Untuk mengetahui analisa managemen strategik yang dilakukan
ketika dimulainya bisnis KFC di pasar besar Cina
BAB II
PEMBAHASAN

A. Sejarah Perusahaan

Kentucky Fried Chicken, diperkenalkan oleh Harland Sanders

sekitar tahun 1930-an dengan mengembangkan suatu resep rahasia

untuk memasak ayan dengan pertama tama menerapkan lapisan

yang mengandung campuran 11 macam ramuan dan bumbu masak,

dan kemudian menggoreng ayam dengan jepitan.

Tahun 1956 Sanders memutuskan untuk mem-franchise-kan

konsep barunya. Tahun 1964, ia telah menjual hampir 700 franchise

(waralaba). Keberhasilan Sanders dalam industri pelipor ini terletak

pada obsesinya yang dekat dengan kualitas produk dan komitmen

untuk mempertahankan suatu lini produk secara terfokus.

Tahun 1964 bisnis ayam ini dijual oleh Sanders senilai $US 2

juta dan jaminan gaji seumur hidup kepada John Brown, seorang

pengacara di Kentucky dengan penyandang dana Jack Massey,

dengan tambahan kompensasi Sanders berperan aktif baik dalam

promosi produk maupun pengendalian mutu dari usaha baru

tersebut. Di tangan Brown, pertumbuhan KFC melambung tinggi

dengan total penjualan pada tahun 1970 senilai $US 200 juta. Kunci

suksesnya adalah kemampuan Brown untuk menyeleksi sekelompok

manajer entrepreneurial yang pekerja keras.


Tahun 1971, Brown dan Massey menjula KFC kepada Heublein

Inc, seharga $US 275 juta. Sebuah perusahaan barang kemasan

yang memasarkan produk-produk seperti Smirnoff vodka, Black

Velvet Canadian Whisky, Grey Poupon Mustard, dan A1 steak

sauce. Michael Miles ditunjuk untuk menjadi nahkoda KFC dengan

menerapkan pemilihan menu dan komitmen mutu, pelayanan, dan

kebersihan (quality, service, and cleanleness-QSC). Strategi kembali

ke dasar ini didukung oleh sejumlah program pelatihan karyawan

baru, pemeriksaan acak terhadap tokomilik perusahaan dan milik

pembeli franchise, dan sebuah program iklan “we do chicken right”.

Tujuannya adalah mengarahkan perhatian konsumen kepada KFC

yang sedap, dan lebih berorientasi konsumen yang akan membuat

suatu produk, yakni ayam, lebih enak dibandingkan semua buatan

pesaingnya

Musim panas tahun 1982, R.J Reynold dari Winston-Sales, N.C

membeli Heublein seharga $US 1,4 milyar.


Mayer memutuskan untuk memulai gerakannya pada bulan

April 1986. Ia menelpon Tony Wang dengan beberapa

pemberitahuan : Steve Fellingham sedang dipromosikan untuk

mengepalai semua operasi internasional KFC. Fellingham

mempunyai pengalaman lebih dari 10 tahun di KFC internasional

dan sangat disegani sebagai seseorang yang melakukan gerakan

yang jauh lebih agresif secara internasional dengan mengandalkan

penerima franchise, melainkan lebih menkankan usaha patungan

dengan mitra-mitra local.

Pendapat ini diperkuat oleh Mayer. Mayer juga memberitahu

bahwa KFC sedang membeli penerima franchise-nya di Singapura

yang sekarang ini mengoperasikan 29 toko KFC. Hal ini akan

mengakibatkan timbulnya tanggung jawab administrative yang luar

biasa besar bagi kantor regional KFC di Asia Tenggara.

Dengan penerimaan tanggung jawab untuk semua operasi

KFC di Asia Tenggara, Wang mulai melihat keputusan untuk

melakukan investasi di Cina dengan cara lain. Tujuan satu-satunya


memasuki sekarang harus diimbangi dengan kesempatan investasi

lain di kawasan ini. Kfc mempunyai potensi pertumbuhan yang

sangat besar di Asia Tenggara. Pasar-pasar nasional di daerah ini,

walaupun secara bersama-sama masih lebih kecil disbanding

dengan Pasar Cina, telah terbuka bagi fast food ala amerika ; pola-

pola permintaan akan produk KFC telah dimengerti dengan baik.

Dibandingkan dengan Cina, target pertumbuhan pasar-pasar ini

sudah pasti. Pengendalian terhadap mitra dan karyawan lebih

mudah dilakukan.

Hal ini mengakibatkan pesatnya pertumbuhan dan tingginya

pengembalian. Uang keras juga tersedia. Sebaliknya, Cina akan

memerlukan jumlah sumber daya yang besar dan sukar didapat.

Wangmulai memikirkan ptensi luar biasa yang dimiliki oleh

KFC di Cina. Keinginan Wang adalah membawa KFC ke Cina

melalui keberhasilannya mendapatkan hak franchise secra pribadi

untuk daerah-daerah penting di Negara tersebut. Kecuali ini, ia

ingin mencoba meyakinkan temannya, Richard Mayer, untuk

menjadi mitra kerja sama dengan tiga cara yang melibatkan Wang,

KFC, dan seorang mitra local yang belum ditentukan. Dalam

suratnya kepada Mayer pada pertengahan januari 1985, Wang

mengatakan bahwa kini saatnya KFC memasuki Cina secara

agresif.
Gerakan memasuki Cina juga didorong oleh induk KFC, yakni

R.J Reynolds, yang juga tertarik menerobos pasar Cina yang amat

besar untuk rokoknya. Para eksekutif RJR telah lama menyadari

bahwa, tidak seperti permintaan di Amerika Utara, permintaaan

akan rokok melambung tinggi di Negara ketiga dan Negara-negara

komunis. Rokok amerika khususnya menghadapi permintaan yang

tak terbatas. Cina tampaknya merupakana pasar sempurna bagi

perusahaan tersebut.

Mayer mendekati penawaran Wang untuk membawa KFC ke

Cina dengan minat yang besar. Di pihak lain, Wang mempunyai

sejarah yang panjang dan produktif di KFC, Mayer dapat

mempercayainya. Ia begitu agresif dan mempunyai kemampuan

yang sudah tidak perlu diragukan lagi dalam bernegosiasi dengan

orang Cina. Ia juga orang Cina ia fasih berbicara bahasa mandarin

dn sangat mengenal Beijing dan Louisville. Kalau ada orang yang

dapat membawa KFC ke Cina Tony Wang lah orang yang tepat

membawa itu ke Cina.

Di pihak lain, Mayer sangat bermminat untuk mengubah pasar

penting yang strategis itu menjadi penerima franchise. Pengalaman

yang luas di pasar-pasar internasional telah menunjukkan risiko

bersandar pada penerima franchise. Pemberian hak franchise juga

dapat membahayakan kemampuan KFC untuk melakukan ekspansi


berikut untuk tidak dikembangkan menjadi sebuah operasi

perusahaan,

Tony Wang sendiri muli mempunyai keraguan yang serius

mengenai kemampuannya sendiri untuk membawa FC ke negeri

Cina tersebut dengan hanya bersandar pada sumber dayanya

sendiri. Pengalamannya di Tianjin hanya memperkuat

keyakinannya bahwa perubahan besar dalam sikap-sikap karyawan

Cina hampir pastu diperlukan untuk operasi-operasi dibawah panji-

panjoi KFC. Perubahan ini hanya didapat melalui program pelatihan

yang dapat memakan waktu yang sangat-sangat lama, besarnya

biaya awal juga tidak dapat dipikul oleh Wang.

Dalam mempertimbangkan dimana toko pertama akan

dibangun, Wang mula-mula memikirkan Tianjin. Melalui

pengalaman sebelumnya, ia telah membuat kontrak yang sangat

baik dengan pemerintahan Tianjin. Akan tetapi Wang juga merasa

bahwa kota tersebut memiliki banyak kekurangan. Yang pada

akhirnya Tianjin tidak akan mampu memberikan gambaran (profil)

yang perlu bagi KFC untuk mempermudah penetrasi pasar

nasional.

Alternative selanjutnya ialah Shanghai sebagai kota terbesar

di Cina, Shanghai mempunyai penduduk sebanyak 11 juta, hampir

9000 pabrik, dan pelabuhan tersibuk Negara itu. Shanghai juga


mendapat keuntungan karena mempunyai akses pemasok ayam

yang tampaknya cukup. Walaupun Shanghai tetap merupakan

pusat bisnis terbesar namun kebisingan dan polusinya lebih

menakutkan para wisatawan. Shanghai mempunyai sejarah yang

panjang dalam berhubungan dengan dunia barat. Perjanjian

Nangking, yang memberi kepercayaan kepada orang Cina oleh

orang Inggris pada pertengahan abad ke-19, mengesampingkan

kepada perdagangan luar negeri. Perdagangan barat dan pengaruh

budaya berkembang subur. Kapal-kapal meriam terus melakukan

patrol di sungai hingga memasuki abad ke 20.

Pengusiran sepenuhnya terhadap orang-orang barat terjadi

pada 1949 dengan kemenangan komunis atas angkatan

bersenjata Cina Nasionalis. Akan tetapi, sejak itu kota itu telah

menaruh minat yang besar terhadap bisnis dan perdagangan

internasional. Dewasa ini, kota itu telah memiliki berbagai macam

hotel, fasilitas bisnis, dan pariwisata yang tersebar dimana-mana.

Untuk KFC, besarnya jumlah penduduk kota itu amat penting

walaupun calon-calon konsumen kurang beragam. Walaupun

Shanghai dapat menyediakan media periklanan yang diinginkan

oleh KFC, operasi itu juga harus dapat menjanjikn pengembalian

yang wajar dalam FEC sebelum melakukan suatu investasi.

Selanjutnya ada kota Guangzhou sebagai alternative lain.

Guangzhou diperlakukan sebagai pusat investasi asing yang


disukai. Dengan demikian, Guangzhou diberikan otonomi yang

lebih besar dalam hal menerima proyek-proyek investasi a sing,

menurunkan tarif pajak, dan mendorong perkembangan teknologi.

Selain itu, Guangzhou merupakan ibukota propinsi Guangdong,

yang memilik tiga dari empat “Zona Ekonomi Khusus”(Special

Economic Zone- SEZs) yang didisain secara khusus untuk menarik

investasi asing. SEZs mulanya dibentuk sebagai bagian dari

pembaruan ekonomi menyeleruh yang dilakukan di Cina pada akhir

tahun 1970-an.

Dan alternative yang terakhir ialah Beijing yang sering

dikunjungi oleh kalangan bisnis barat dan para turis yang

mengunjungi kota itu pada suatu darmawisata satu hari dari

Hongkong. Penyelidikan pendahuluan juga menunjukkan bahwa

akan dijumpai kesulitan dalam menempatkan pemasok ayam.

Tempat yang lain perlu diselidiki lebih jauh adalah Beijing. Beijing

tetap merupakan pusat pemerintahan dalam kebudayaan Cina.

Misalnya, walaupun Cina mempunyai luas wilayah 3000 mil,

namun seluruh Negara mengikuti waktu Beijing suatu indikasi

kekuasaan pemerintahan yang terpusat. Sebagai ibu kota Negara,

Beijing juga dilengkapi dengan kereta api bawah tanah dan jalan

bebas hambatan serta bandara internasional lengkap dengan air

conditioning serta daerah untuk para pejalan kaki.


Warga Negara Cina dari seluruh negeri berbondong-bondong

ke Beijing ingin menghadiri rapat atau mewakili pabrik atau distrik

mereka di depan pemerintahan pusat. Kota ini juga merupakan

kota pendidikan di negeri itu dengan kampus-kampus univeristas

yang tersebar di seluruh penjuru kota. Semua factor ini membuat

tingkat kemakmuran dan pencerahan intelektual penduduk relative

tinggi hal yang cukup penting dalam menghasilkan penjualan RMB.

Beijing juga merupakan pusat pariwisata bagi para pengunjung

barat yang ingin menyaksikan kota terlarang (forbidden city), istana

musim panas (summer place), dan tembok raksasa {great wall). Hal

ini merupakan cara untuk untuk mendatangkan uang FEC.

Akhirnya, tak ayal lagi bahwa memulai bisnis di Beijing akan

menarik perhatian penduduk dan akan mengkomunikasikan

persetujuan diam-diam dari para pejabat pusat, dengan demikian

memudahkan ekspansi masa depan di luar Beijing dapat

memberikan keuntungan yang besar bagi suatu perusahaan yang

ingin melakukan ekspansi di seluruh negeri Cina.


BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Kesimpulan nya ialah bahwa perubahan manajemen

membawa pengaruh terhadap pengembangan bisnis KFC

di Cina serta pemilihan lokasi yang sangat strategis juga

merupakan kunci utama dari keberhasilan bisni KFC di

Cina karena nyatanya Cina merupakan Negara yang

memiliki banyak potensi serta risiko yang besar juga.

B. Saran

Meskipun penulis menginginkan kesempurnaan dalam

penyusunan makalah ini akan tetapi pada kenyataannya

masih banyak kekurangan yang perlu penulis perbaiki. Hal


ini dikarenakan masih minimnya pengetahuan penulis.

Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun dari

para pembaca sangat penulis harapkan sebagai bahan

evaluasi untuk kedepannya.