Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN

LIMFADENOPATI
PRAKTIK KOMPREHENSIF KEPERAWATAN ANAK

Disusun Oleh :
Luthfi Syafiq Andrian
1801070

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


FAKULTAS KESEHATAN
UNIVERSITAS AISYAH PRINGSEWU LAMPUNG
2021
A. Devinisi

Limfadenopati adalah pembengkakan pada satu atau lebih kelenjar getah


bening yang terasa ketika diraba. Kelenjar ini terletak pada kedua sisi leher,
di bawah rahang dan dagu, di dekat ketiak, di atas tulang selangka, dan di
dekat pangkal paha. Kelenjar getah bening sendiri adalah sebuah organ kecil
yang merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh. Sistem imun berfungsi
membantu tubuh untuk mengenali dan memerangi zat, mikroorganisme,
maupun partikel yang dianggap membahayakan tubuh. Misalnya, bakteri,
virus, dan partikel asing lainnya. Sebagai akibatnya, kelenjar getah bening
akan membengkak sebagai respons terhadap infeksi.

Limfadenopati adalah ketidaknormalan kelenjar getah bening dalam ukuran,


konsistensi, ataupun jumlahnya. Pada daerah leher (cervical), pembesaran
kelenjar getah bening didefinisikan bila kelenjar membesar lebih dari
diameter satu centimeter.

Pembesaran kelenjar getah bening dapat dibedakan menjadi limfadenopati


lokalisata dan generalisata. Limfadenopati generalisata yang persisten (PGL)
adalah kelenjar yang bengkak di sedikitnya dua tempat secara simetris.
Sedangkan limfadenopati lokalisata adalah kelenjar yang bengkak hanya satu
region.

B. Etiologi
1. Infeksi virus
Infeksi yang disebabkan oleh virus pada saluran pernapasan
bagian atas seperti Rinovirus, Parainfluenza Virus, influenza
Virus, Respiratory Syncytial Virus (RSV), Coronavirus,
Adenovirus ataupun Retrovirus. Virus lainnya Ebstein Barr Virus
(EBV), Cytomegalo Virus (CMV), Rubela, Rubeola, Varicella-
Zooster Virus, Herpes Simpleks Virus, Coxsackievirus, dan
Human Immunodeficiency Virus (HIV ).
2. Infeksi bakteri
disebabkan Streptokokus beta hemolitikus Grup A atau stafilokokus
aureus.
3. Keganasan
Keganasan seperti leukemia, neuroblastoma, rhabdomyo-sarkoma dan
limfoma juga dapat menyebabkan limfadenopati. Diagnosis defenitif
suatu limfoma membutuhkan tindakan biopsi eksisi, oleh karena itu
diagnosis subtipe limfoma dengan menggunakan biopsi aspirasi jarum
halus masih merupakan kontroversi.
4. Obat-obatan
Obat-obatan dapat menyebabkan limfadenopati generalisata.
Limfadenopati dapat timbul setelah pemakaian obat-obatan seperti
fenitoin dan isoniazid. Obat-obatan lainnya seperti allupurinol, atenolol,
captopril, carbamazepine, cefalosporin, emas, hidralazine, penicilin,
pirimetamine, quinidine, sulfonamida, sulindac).
5. Imunisasi
Imunisasi dilaporkan juga dapat menyebabkan limfadenopati di daerah
leher, seperti setelah imunisasi DPT, polio atau tifoid.
6. Penyakit sistemik lainnya
Penyakit lainnya yang salah satu gejalanya adalah limfadenopati adalah
penyakit Kawasaki, penyakit Kimura, penyakit Kikuchi, penyakit
Kolagen, penyakit Cat scratch, penyakit Castleman, Sarcoidosis,
Rhematoid arthritis dan Sisestemic lupus erithematosus (SLE).

C. Patofisiologi
Sistem limfatik berperan pada reaksi peradangan sejajar dengan sistem
vaskular darah. Biasanya ada penembusan lambat cairan interstisial
kedalam saluran limfe jaringan, dan limfe yang terbentuk dibawa
kesentral dalam badan dan akhirnya bergabung kembali kedarah vena.
Bila daerah terkena radang, biasanya terjadi kenaikan yang menyolok
pada aliran limfe dari daerah itu. Telah diketahui bahwa dalam
perjalanan peradangan akut, lapisan pembatas pembuluh limfe yang
terkecil agak meregang, sama seperti yang terjadi pada venula, dengan
demikian memungkinkan lebih banyak bahan interstisial yang masuk
kedalam pembuluh limfe. Bagaimanapun juga, selama peradangan akut
tidak hanya aliran limfe yang bertambah, tetapi kandungan protein dan
sel dari cairan limfe juga bertambah dengan cara yang sama.

Sebaliknya, bertambahnya aliran bahan-bahan melalui pembuluh limfe


menguntungkan karena cenderung mengurangi pembengkakan jaringan
yang meradang dengan mengosongkan sebagian dari eksudat. Sebaliknya,
agen-agen yang dapat menimbulkan cedera dapat dibawa oleh pembuluh
limfe dari tempat peradangan primer ketempat yang jauh dalam tubuh.
Dengan cara ini, misalnya, agen-agen yang menular dapat menyebar.
Penyebaran sering dibatasi oleh penyaringan yang dilakukan oleh kelenjar
limfe regional yang dilalui oleh cairan limfe yang bergerak menuju kedalam
tubuh, tetapi agen atau bahan yang terbawa oleh cairan limfe mungkin
masih dapat melewati kelenjar dan akhirnya mencapai aliran darah. (Price,
1995).

Riwayat penyakit dan pemeriksaan fisis dapat menghasilkan petunjuk


tentang kemungkinan diagnosis ini dan evaluasi lebih lanjut secara
langsung (misalnya hitung darah lengap, biakan darah, foto rontgen,
serologi, uji kulit). Jika adenopati sistemik tetap terjadi tanpa
penyebab yang jelas tanpa diketahui, biopsi kelenjar limfe
dianjurkan. (Harrison, 1999; 372). Biopsi sayatan: Sebagian kecil
jaringan tumor mame diambil melalui operasi dengan anestesi umum
jaringan tumor itu dikeluarkan, lalu secepatnya dikirim kelaborat untuk
diperriksa. Biasanya biopsi ini dilakukan untuk pemastian diagnosis
setelah operasi. (Oswari, 2000; 240). Anestesi umum menyebabkan
mati rasa karena obat ini masuk kejaringan otak dengan tekanan
setempat yang tinngi. (Oswari, 2000; 34). Pada awal pembiusan
ukuran pupil masih biasa, reflek pupil masih kuat, pernafasan tidak
teratur, nadi tidak teratur, sedangkan tekanan darah tidak berubah,
seperti biasa. (Oswari, 2000; 35).
D. Tanda dan Gejala
Gejala limfadenopati umumnya bisa berupa:

1. Benjolan di bawah kulit yang terasa sakit, panas ketika disentuh, dan
tampak memerah. Gejala ini bisa menandakan adanya pembengkakan
kelenjar getah bening di bagian tersebut.

2. Nyeri tenggorok dan batuk


3. Mudah lelah, lebih dari biasanya.
4. Ruam pada kulit.
5. Penurunan berat badan lebih dari 10% dalam kurun waktu 6 bulan.
6. Demam berkepanjangan dengan suhu lebih dari 38oC
7. Berkeringat pada malam hari.

E. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang bila limfadenopati akut tidak diperlukan, namun bila


berlangsung >2 minggu dapat diperiksakan serologi darah untuk epstein barr
virus, citomegalovirus, hiv, toxoplasma; tes mantoux, rontgen dada, biopsi
dimana semuanya disesuaikan dengan tanda dan gejala yang ada dan yang
paling mengarahkan diagnosis.

F. Komplikasi

Komplikasi serius yang bisa terjadi akibat limfadenopati misalnya terjadi


obstruksi organ atau jaringan sekitar nodus limfe yang membesar. Pada
limfadenopati mediastinum bisa menyebabkan komplikasi serius bila
menekan vena kava superior, bronkus atau trakea dan esofagus. Pada
limfadenopati area abdomen dapat menyebabkan obstruksi usus.
Selain itu, pada kasus keganasan misalnya leukemia, bisa terjadi sindrom lisis
tumor (Tumor Lysis Syndrome / TLS). Dimana sel-sel kanker mati dalam
waktu singkat dan masuk ke dalam darah menyebabkan hiperkalemia,
hiperkalsemia, hiperfosfatemia, uric acid nephropathy, dan
menyebabkan gagal ginjal akut.

G. Penatalaksanaan Medis

Pengobatan limfadenopati KGB leher didasarkan kepada penyebabnya.


Banyak kasus dari pembesaran KGB leher sembuh dengan sendirinya
dan tidak membutuhkan pengobatan apapun selain observasi.
Kegagalan untuk mengecil setelah 4-6 minggu dapat menjadi indikasi
untuk dilaksanakan biopsi KGB. Biopsi dilakukan terutama bila
terdapat tanda dan gejala yang mengarahkan kepada keganasan. KGB
yang menetap atau bertambah besar walau dengan pengobatan yang
adekuat mengindikasikan diagnosis yang belum tepat.
Antibiotik perlu diberikan apabila terjadi limfadenitis supuratif yang biasa
disebabkan oleh Staphyilococcus. aureus dan Streptococcus pyogenes (group
A). Pemberian antibiotik dalam 10-14 hari dan organisme ini akan
memberikan respon positif dalam 72 jam. Kegagalan terapi menuntut untuk
dipertimbangkan kembali diagnosis dan penanganannya.

Pembedahan mungkin diperlukan bila dijumpai adanya abses dan evaluasi


dengan menggunakan USG diperlukan untuk menangani pasien ini.

H. Penatalaksanaan Keperawatan
1. Pengkajian
Malnutrisi atau pertumbuhan yang terhambat mengarahkan kepada
penyakit kronik (berjalan lama) seperti tuberkulosis, keganasan atau
gangguan sistem kekebalan tubuh KGB dan daerah sekitarnya harus
diperhatikan. Kelenjar getah bening harus diukur untuk perbandingan
berikutnya. Harus dicatat ada tidaknya nyeri tekan, kemerahan, hangat
pada perabaan, dapat bebas digerakkan atau tidak dapat digerakkan,
apakah ada fluktuasi, konsistensi apakah keras atau kenyal.

a. Ukuran : normal bila diameter <1cm (pada epitroclear >0,5cm dan


lipat paha >1,5cm dikatakan abnormal)
b. Nyeri tekan : umumnya diakibatkan peradangan atau proses
perdarahan
c. Konsistensi : keras seperti batu mengarahkan kepada keganasan,
padat seperti karet mengarahkan kepada limfoma; lunak
mengarahkan kepada proses infeksi; fluktuatif mengarahkan telah
terjadinya abses/pernanahan
d. Penempelan/bergerombol : beberapa KGB yang menempel dan
bergerak bersamaan bila digerakkan. Dapat akibat tuberkulosis,
sarkoidosis, keganasan.

Pembesaran KGB leher bagian posterior biasanya terdapat pada


infeksi rubella dan mononukleosis. Supraklavikula atau KGB leher
bagian belakang memiliki risiko keganasan lebih besar daripada
pembesaran KGB bagian anterior. Pembesaran KGB leher yang
disertai daerah lainnya juga sering disebabkan oleh infeksi virus.
Keganasan, obat-obatan, penyakit kolagen umumnya dikaitkan
degnan pembesaran KGB generalisata.

Pada pembesaran KGB oleh infeksi virus, umumnya bilateral lunak


dan dapat digerakkan. Bila ada infeksi oleh bakteri, kelenjar
biasanya nyeri pada penekanan, baik satu sisi atau dua sisi dan
dapat fluktuatif dan dapat digerakkan. Adanya kemerahan dan
suhu lebih panas dari sekitarnya mengarahkan infeksi bakteri dan
adanya fluktuatif menandakan terjadinya abses. Bila limfadenopati
disebabkan keganasan tanda-tanda peradangan tidak ada, KGB
keras dan tidak dapat digerakkan oleh karena terikat dengan
jaringan di bawahnya.

Pada infeksi oleh mikobakterium, pembesaran kelenjar berjalan


berminggu-minggu sampai berbulan-bulan, walaupun dapat
mendadak, KGB menjadi fluktuatif dan kulit diatasnya menjadi
tipis, dan dapat pecah dan terbentuk jembatan-jembatan kulit di
atasnya.
Adanya tenggorokan yang merah, bercak-bercak putih pada tonsil,
bintikbintik merah pada langit-langit mengarahkan infeksi oleh bakteri
streptokokus. Adanya selaput pada dinding tenggorok, tonsil, langit-
langit yang sulit dilepas dan bila dilepas berdarah, pembengkakan pada
jaringan lunak leher (bull neck) mengarahkan kepada infeksi oleh
bakteri difteri. Faringitis, ruam-ruam dan pembesaran limpa
mengarahkan kepada infeksi Epstein Barr Virus (EBV).

Adanya radang pada selaput mata dan bercak koplik mengarahkan


kepada campak. Adanya pucat, bintik-bintik perdarahan (bintik merah
yang tidak hilang dengan penekanan), memar yang tidak jelas
penyebabnya, dan pembesaran hati dan limpa mengarahkan kepada
leukemia. Demam panjang yang tidak berespon dengan obat demam,
kemerahan pada mata, peradangan pada tenggorok, strawberry tongue,
perubahan pada tangan dan kaki (bengkak, kemerahan pada telapak
tangan dan kaki) dan limfadenopati satu sisi (unilateral) mengarahkan
kepada penyakit Kawasaki.

2. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada pasien


limfadenopati adalah: 
a. Resiko tinggi terhadap infeksi b.d prosedur invasif  
b. Nyeri akut b.d gangguan pada kulit, jaringan dan integritas 
c. Pola nafas tidak efetif b.d neouromuscular, ketidak
seimbanganpersptual  
b. Resiko kekurangan volume cairan b.d pengeluaran integritas
pembuluh darah, perubahan dalam kemampuan pembekuan
darah
3. Rencana Keperawatan
DIAGNOSA
NO NOC NIC
KEPERAWATAN
1. Resiko tinggi Kontrol Resiko: Proses Perlindungan Infeksi
terhadap infeksi b.d Infeksi  Monitor adanya tanda
prosedur invasif Kriteria Hasil: dan gejala infeksi
 Mengetahui informasi sistemik dan lokal
terkait kontrol infeksi  Periksa selaput lendir
 Mampu untuk adanya
mengembangkan kemerahan,
strategi efektif kontrol kehangatan ekstrim,
infeksi atau drainase
 Mampu mencuci tangan  Pertahankan asepsis
 Menunjukan  Anjurkan pasien
peningkatan status untuk istirahat
kesehatan  Ajarkan pasien dan
keluarga cara
menghindari infeksi
(cuci tangan)
 Kolaborasikan
dengan dokter untuk
pemberian antibiotik
dan obat-obatan
lainnya
2. Nyeri akut b.d Kontrol Nyeri Manajemen nyeri
gangguan pada Kriteria Hasil:  Kaji nyeri secara
kulit, jaringan dan  Mampu komprehensif yang
integritas menggambarkan faktor meliputi lokasi,
penyebab nyeri karakteristik, durasi,
 Mampu menggunakan frekuensi, kualitas,
tindakan pengurangan intensitas atau
nyeri tanpa analgesik beratnya nyeri dan
 Mengatakan perubahan faktor pencetus
nyeri kepada petugas  Ajarkan penggunaan
kesehatan teknik non
 Menunjukan skala nyeri farmakologi (seperti
berkurang/hilang biofeedback, TENS,
hypnosis, relaksasi,
bimbingan antisipatif,
terapi musik, terapi
bermain, terapi
bermain, terapi
aktivitas, akupressur,
aplikasi panas/dingin
dan pijatan, dll)
 Beri informasi
mengenai nyeri,
seperti penyebab
nyeri, berapa lama
nyeri akan dirasakan,
dan antisipasi dari
ketidaknyamanan.
 Kolaborasi dengan
dokter dalam
pemberian analgesik
3. Pola nafas tidak Status pernafasan: Manajemen Jalan
efetif b.d Ventilasi Nafas
neouromuscular, Kriteria Hasil:  Observasi kebersihan
ketidak  Menunjukan frekuensi jalan nafas
seimbangan pernafasan normal  Posisikan pasien
persptual  Tidak ada suara nafas untuk
tambahan memaksimalkan
 Tidak ada penggunaan ventilasi
otot bantu nafas  Buang sekret dengan
memotivasi pasien
untuk melakukan
batuk efektif atau
menyedot lendir
 Ajarkan pasien dan
keluarga tentang
manajemen ventilasi
 Kolaborasikan
dengan dokter dalam
pemberian obat
4. Resiko kekurangan Keseimbangan Cairan  Ukur dan catat
volume cairan b.d Kriteria Hasil: pemasukan dan
pengeluaran  Menunjukan pengeluaran
integritas pembuluh keseimbangan intake (termasuk
darah, perubahan dan output dalam 24 pengeluaran
dalam kemampuan jam gastrointestinal).
pembekuan darah  Turgor kulit bagus
 Kaji pengeluaran
 Menunjukan
urinarus, terutama
kelembaban membran
untuk tipe prosedur
mukosa
operasi yang
 Wajah pasien tidak
dilakukan.
terlihat anemis
 Berikan bantuan
pengukuran berkemih
sesuai kebutuhan.
Misalnya privasi,
posisi duduk, air yang
mengalir dalam bak,
mengalirkan air
hamgat diatas
perineum.

 Catat munculnya
mual/muntah, riwayat
pasien mabuk
perjalanan.

 Periksa pembalut, alat


drein pada intrval
reguler.

 Kaji luka untuk


terjadinya
pembengkakan.

 Kalaborasi: Berikan
cairan pariental,
pruduksi darah dean /
atau plasma
ekspander sesuai
petunjuk. Tingkatkan
kecepatan IV jika
diperlukan.
DAFTAR PUSTAKA

Herdman, T heather. 2012. Diagnosis Keperawatan NANDA.2012-2014. Jakarta:


EGC Pwyllchrestella

Kanwar VS. Lymphadenopathy. Medscape [Online]. Available at URL:


https://emedicine.medscape.com/article/956340-overview.

Desi Ayu Kristiani .2013. [Online]. Available at URL:


www.scribd.com/doc/138302210/Chapter-II-Limfadenopati-pdf.

Lokananta. Irene. 2013. [Online]. Avaliable at URL:


www.scribd.com/doc/144560115/Limfadenopati-Colli

Repository, USU. [Online]. Available at URL:


repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/16862/4/Chapter%20II.pdf,

http://milissehatyop.org/limfadenopati/#:~:text=Pemeriksaan%20penunjang
%20bila%20limfadenopati%20akut,ada%20dan%20yang%20paling
%20mengarahkan