Anda di halaman 1dari 17

Bank dan Lembaga Keuangan Non Bank

(Bank Umum Berdasarkan Prinsip Syariah)

Untuk memehuni salah satu tugas

Adella Ramadhana

16013021

Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Sukma Medan

Jln.Sakti Lubis No.80 Simpang Limun

T.A 2017/2018
Daftar Isi
Daftar Isi................................................................................................................ i

Kata Pengantar....................................................................................................... ii

BAB I Pendahuluan............................................................................................... 1

1.1 Latar Belakang..................................................................................... 1


1.2 Rumusan Masalah............................................................................... 2
1.3 Tujuan.................................................................................................. 2

BAB II Pembahasan.............................................................................................. 3

2.1 Dasar Hukum....................................................................................... 3


2.2 Pengertian Prinsip Syariah................................................................... 3
2.3 Perbedaan Bank Konvensional dan Bank Syariah............................... 5
2.4 Kegiatan Usaha Bank Syariah............................................................. 8

BAB III Penutupan................................................................................................13

3.1 Kesimpulan..........................................................................................13

3.2 Saran....................................................................................................13

Daftar Pustaka.......................................................................................................14

i
Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
rahmat,karunia,serta hidayah nya kami dapat menyelesaikan makalah tentang Bank
Umum Berdasarkan Prinsip Syariah ini dengan baik meskipun masih banyak
kekurangan didalamnya.

Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna untuk menambah wawasan
serta pengetahuan kita mengenai bank umum syariah. Kami juga menyadari bahwa
sepenuhnya bahwa dalam makalah ini terdapat kekurangan yang jauh dari kata
sempurna. Oleh karena itu, kami berharap adanya kritik dan saran demi perbaikan
makalh yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu
yang sempurna tanpa saran yang membangun.

Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang


membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri
maupun orang lain yang membacanya. Sebelumnya mohon maaf apabila terdapat
kesalahan kata-kata yang kurang.

Lubuk Pakam, 30 April 2017

Penyusun

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1        Latar Belakang


Perbankan konvensional ataupun syariah dalam operasionalnya adalah suatu lembaga
yang melaksanakan tiga fungsional utama yaitu menerima simpanan uang,
meminjamkan uang, dan jasa pengiriman uang. Perkembangan perbankan syariah di
Indonesia telah menjadi tolak ukur keberhasilan eksistensi ekonomi syariah. Bank
Muamalat sebagai bank syariah pertama dan menjadi pioneer bagi bank syariah lainnya
telah lebih dahulu menerapkan sistem ini ditengah menjamurnya bank konvensional dan
banyak dilikiudasi karena kegagalan sistem bunganya. Sementara perbankan yang
menerapkan sistem syariah dapat tetap eksis dan mampu bertahan.
Seiring dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi, pembiayaan perbankan syariah
juga mengalami peningkatan tajam. Kualitas pembiayaan syariah juga menunjukkan
kinerja yang membaik dengan ditunjukkan oleh membesarnya porsi pembiayaan bagi
hasil yaitu mudharabah dan musyarakah. Langkah strategis pengembangan perbankan
syariah yang telah di upayakan adalah pemberian izin kepada bank umum konvensional
untuk membuka kantor cabang Unit Usaha Syariah (UUS) atau konversi sebuah bank
konvensional menjadi bank syariah. Satu perkembangan lain perbankan syariah di
Indonesia pascareformasi adalah diperkenankannya konverensi cabang bank umum
konvensional menjadi cabang syariah.

1.2        Rumusan Masalah


1. Apa Dasar Hukum Bank Syariah?
2. Pengertian Prinsip Syariah?
3. Apa Perbedaan Bank Konvensional dan Bank Syariah?
4. Apa saja Kegiatan Usaha Bank Syariah?

1
1.3        Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui Dasar Hukum Bank Syariah
2. Untuk mengetahui Pengertian Prinsip Syariah
3. Untuk mengetahui Perbedaan Bank Konvensional dan Bank Syariah.
4. Untuk mengetahui Kegiatan Usaha Bank Syariah.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Dasar Hukum


Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-
Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan pasal 1 ayat 3 menetapkan bahwa
salah satu bentuk usaha bank adalah menyediakan pembiayaan dan atau melakukan
kegiatan lain berdasarkan prinsip syariah, sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh
Bank Indonesia.
Pokok-pokok ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia memuat antara lain:
1)      Kegiatan usaha dan produk-produk bank berdasarkan prinsip syariah;
2)      Pembentukan dan tugas Dewan Pengawas Syariah;
3)      Persyaratan bagi pembukaan kantor cabang yang melakukan kegiatan usaha secara
konvensional untuk melakukan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah.
Secara umum dengan diundangkannya UU Nomor 10 Tahun 1998 tersebut, posisi bank
bagi hasil ataupun bank atas dasar prinsip syariah secara tegas telah diakui oleh undang-
undang.
Bank umum yang melakukan kegiatan usaha secara konvensional dapat juga
melakukan kegiatan usaha berdasarkan prinsip syariah melalui:
1)      Pendirian kantor cabang atau kantor di bawah kantor cabang baru; atau
2)      Pengubahan kantor cabang atau di bawah kantor cabang yang melakukan kegiatan
usaha secara konvensional menjadi kantor yang melakukan kegiatan berdasarkan
prinsip syariah. Dalam rangka persiapan perubahan kantor bank tersebut, kantor cabang
atau kantor dibawah kantor cabang yang sebelumnya melakukan kegiatan usaha secara
konvensional dapat terlebih dahulu membentuk unit tersendiri yang melaksanakan
kegiatan berdasarkan prinsip syariah didalam kantor bank tersebut.

2.2  Pengertian Prinsip Syariah


Pengertian Prinsip Syariah adalah prinsip hukum Islam dalam kegiatan
perbankan berdasarkan fatwa yang dikeluarkan oleh lembaga yang memiliki
kewenangan dalam penetapan fatwa di bidang syariah.

3
Prinsip Syariah merupakan aturan perjanjian berdasarkan hukum Islam antara bank dan
pihak lain untuk penyimpanan dana dan atau pembiayaan kegiatan usaha, atau kegiatan
lainnya yang dinyatakan sesuai dengan syariah.
Kegiatan yang berdasarkan prinsip syariah antara lain :

 Pembiayaan berdasarkan prinsip bagi hasil (mudharabah).


 Pembiayaan berdasarkan prinsip penyertaan modal (musharakah).
 Prinsip jual beli barang dengan memperoleh keuntungan (murabahah).
 Pembiayaan barang modal berdasarkan prinsip sewa murni tanpa pilihan
(ijarah), atau dengan adanya pilihan pemindahan kepemilikan atas barang yang
disewa dari pihak bank oleh pihak lain (ijarah wa iqtina);

Lembaga Keuangan yang berdasarkan prinsip syariah antara lain :

 Bank Syariah
 Bank Pembiayaan Rakyat Syariah
 Unit Usaha Syariah
 Baitul Mal Wat-Tamwil (BMT) (Lembaga Keuangan Non Bank) 

Ditinjau dari segi imbalan atau jasa atas penggunaan dana, baik simpanan maupun
pinjaman, bank dapat dibedakan menjadi:
a.       Bank konvensional, yaitu bank yang dalam aktivitasnya, baik penghimpunan dana
maupun dalam rangka penyaluran dananya, memberikan dan mengenakan imbalan
berupa bunga atau sejumlah imbalan dalam persentase tertentu dari dana untuk suatu
periode tertentu.
b.      Bank syariah, yaitu bank yang dalam aktivitasnya, baik penghimpunan dana
maupun dalam rangka penyaluran dananya memberikan dan mengenakan imbalan atas
dasar prinsip syariah yaitu jual beli dan bagi hasil.
Prinsip utama operasional bank yang berdasarkan prinsip syariah adalah hukum
islam yang bersumber dari Al Qur’an dan Al Hadist. Kegiatan operasional bank harus
memperhatikan perintah dan larangan dalam Al Qur’an dan Sunah Rasul Muhammad
SAW. Larangan terutama berkaitan dengan kegiatan bank yang dapat diklasifikasikan
sebagai riba.
Penentuan imbalan terhadap dana yang dipinjamkan maupun dana yang disimpan di
bank didasarkan pada prinsip bagi hasil sesuai dengan hukum Islam. Perlu diakui bahwa
ada sebagian masyarakat yang berpendapat bahwa sistem bunga yang diterapkan oleh

4
bank konvensional, yaitu imbalan penggunaan dana dalam jumlah persentase tertentu
untuk jangka waktu tertentu, merupakan pelanggaran terhadap prinsip syariah. Dalam
hukum Islam, bunga adalah riba dan diharamkan.
Perkembangan bank berdasarkan prinsip syariah masih sangat kecil dibandingkan
dengan bank konvensional. Contoh-contoh dari bank umum syariah maupun unit usaha
syariah:
Bank Umum Syariah
1.      Bank Muamalat Indonesia (BMI)
2.      Bank Syariah Mandiri (BSM)
3.      Bank Syariah Indonesia
Unit Usaha Syariah
1.      BNI Syariah
2.      BII Syariah
3.      BRI Syariah
4.      Bank Permata Syariah
5.     Bank Niaga Syariah

2.3  Perbedaan Bank Konvensional dengan Bank Syariah


Perbedaan yang mendasar antara bank syariah dengan bank konvensional, antara
lain:
a. Perbedaan Falsafah
Bank syariah tidak melakanakan sistem bunga dalam seluruh aktivitasnya
sedangkan bank konvensional justru kebalikannya. Hal inilah yang menjadi perbedaan
yang sangat mendalam terhadap produk-produk yang dikembangkan oleh bank syariah,
dimana untuk menghindari sistem bunga maka sistem dikembangkan adalah jual beli
serta kemitraan yang dilaksanakan dalam bentuk bagi hasil. Pada dasarnya, semua jenis
transaksi perniagaan melalui bank syariah diperbolehkan asalkan tidak mengandung
unsur bunga (riba). Riba secara sederhana berarti sistem bunga berbunga atau
compound interest yang dalam semua prosesnya bisa mengakibatkan membengkaknya
kewajiban salah satu pihak.
b.Konsep Pengelolaan Dana Nasabah

5
Dalam bank syariah dana nasabah dikelola dalam bentuk titipan maupun
investasi. Cara titipan dan investasi berbeda dengan deposito pada bank konvensional
dimana deposito merupakan upaya membungakan uang. Konsep dana titipan berarti
kapan saja nasabah membutuhkan, bank syariah harus dapat memenuhinya. Akibatnya
dana titipan menjadi sangat likuid. Likuiditas yang tinggi inilah membuat dana titipan
kurang memenuhi syarat suatu investasi yang membutuhkan pengendapan dana. Sesuai
dengan fungsi bank sebagai intermediary yaitu lembaga keuangan penyalur dana
nasabah penyimpan kepada nasabah peminjam, dana nasabah yang terkumpul dengan
cara titipan atau investasi tadi kemudian dimanfaatkan atau disalurkan ke dalam
transaksi perniagaan yang diperbolehkan pada sistem syariah. Keuntungan dari
pemanfaatan dana nasabah yang disalurkan ke dalam berbagai usaha itulah yang akan
dibagikan kepada nasabah. Jika hasil usaha semakin tinggi maka semakin besar pula
keuntungan yang dibagikan kepada nasabahnya. Namun jika keuntungannya kecil
otomatis semakin kecil pula keuntungan yang dibagikan bank kepada nasabahnya.
c.Kewajiban Mengelola Zakat
Bank Syariah diwajibkan menjadi pengelola zakat yaitu dalam arti wajib
membayar zakat, menghimpun, mengadministrasikannya dan mendistribusikannya. Hal
inilah merupakan fungsi dan peran yang melekat pada bank syariah untuk memobilisasi
dana-dana sosial (zakat, infak, sedekah).
d.Struktur Organisasi
Di dalam struktur organisasi suatu bank syariah diharuskan adanya Dewan
Pengawas Syariah (DPS). DPS bertugas mengawasi segala aktivitas bank agar selalu
sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. DPS ini dibawahi oleh Dewan Syariah Nasional
(DSN). Berdasarkan laporan dari DPS pada masing-masing lembaga keuangan syariah,
DSN dapat memberikan teguran jika lembaga yang bersangkutan menyimpang. DSN
juga dapat mengajukan rekomendasi kepada lembaga yang memiliki otoritas seperti
Bank Indonesia dan Departemen Keuangan untuk memberikan sanksi.
Secara ringkas perbedaan antara bank syariah dengan bank konvensional dapat
dilihat pada tabel berikut:
Bank Syariah Bank Konvensional
1. Berinvestasi pada usaha yang halal Bebas nilai
2. Atas dasar bagi hasil, margin Sistem bunga
keuntungan dan fee

6
3. Besaran bagi hasil berubah-ubah Besarannya tetap
tergantung kinerja usaha
4. Profit dan falah oriented Profit oriented
5. Pola hubungan kemitraan Hubungan kreditur-debitur
6. Ada Dewan Pengawas Syariah Tak ada lembaga sejenis

Sistem bagi hasil dalam perbankan syariah sering menjadi bahan pertanyaan dan
selalu dibandingkan dengan sistem bunga dalam perbankan konvensional. Untuk
menjelaskan keduanya, tabel berikut membandingkan sistem bagi hasil dan sistem
bunga.
Sistem Bunga Sistem Bagi Hasil
1. Penentuan suku bunga dibuat pada Penentuan besarnya risiko bagi hasil
waktu akad dengan pedoman harus dibuat pada waktu akad dengan
selalu untung untuk pihak bank berpedoman pada kemungkinan untung
dan rugi
2. Besarnya persentase berdasarkan pada Besarnya rasio (nisbah) bagi hasil
jumlah uang (modal) yang dipinjamkan berdasarkan pada jumlah keuntungan
yang diperoleh
3. Tidak tergantung kepada kinerja usaha. Tergantung kepada kinerja usaha.
Jumlah pembayaran bunga tidak Jumlah pembagian bagi hasil meningkat
mengikat meskipun jumlah keuntungan sesuai dengan peningkatan jumlah
berlipat ganda saat keadaan ekonomi pendapatan
sedang baik
4. Eksistensi bunga diragukan Tidak ada agama yang meragukan
kehalalannya oleh semua agama keabsahan bagi hasil
termasuk agama Islam
5. Pembayaran bunga tetap seperti yang Bagi hasil tergantung kepada keuntungan
dijanjikan tanpa pertimbangan proyek proyek yang dijalankan. Jika proyek itu
yang dijalankan oleh pihak nasabah tidak mendapatkan keuntungan maka
untung atau rugi kerugian akan ditanggung bersama oleh
kedua belah pihak
2.4 Kegiatan Usaha Bank Syariah
Prinsip Kegiatan Usaha

7
Berdasarkan Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia Nomor 32/34/KEP/DIR 12
Mei 1999 tentang Bank Berdasarkan Prinsip Syariah, prinsip kegiatan usaha bank
syariah adalah:
         Hiwalah
Akad pemindahan piutang nasabah (Muhil) kepada bank (Muhal ‘alaih) dari ansabah
lain (Muhal). Muhil meminta muhal ‘alaih untuk memebayarkan terlebih dahulu piutang
yang timbul dari jual beli. Pada saat piutang tersebut jatuh tempo, muhal akan
membayar kepada muhal ’alaih. Muhal ‘alaih memperoleh imbalan sebagai jasa
pemindahan piutang.
         Ijarah
Akad sewa-menyewa barang antara bank (Muaajir) dengan penyewa (Mustajir). Setelah
masa sewa berakhir barang sewaan dikembalikan kepada muaajir.
         Ijarah Wa Iqtina
Akad sewa-menyewa barang antara bank (Muaajir) dengan penyewa (Mustajir) yang
diikuti janji bahwa pada saat yang ditentukan kepemilikan barang sewaan akan
berpindah kepada mustajir.
         Istishna
Akad jual beli barang (Mashnu’) antara pemesan (Mustashni’) dengan penerima
pesanan (Shani). Spesifikasi dan harga barang pesanan disepakati di awal akad dengan
pembayaran dilakukan secara bertahap sesuai kesepakatan. Apabila bank bertindak
sebagai Shani dan penunjukan dilakukan kepada pihak lain untuk membuat barang
(Mashnu’) maka hal ini disebut Istishna Paralel.
         Kafalah
Akad pemberi jaminan (Makful alaih) yang diberikan satu pihak kepada pihak lain di
mana pemberi jaminan (Kafiil) bertanggungjawab atas pembayaran kembali suatu utang
yang menjadi hak penerima jaminan (Makful).
         Mudharabah
Akad antara pihak pemilik dana (Shahibul Maal) dengan pengelola (Mudharib) untuk
memperoleh pendapatan dan keuntungan. Pendapatan dan keuntungan tersebut dibagi
berdasarkan rasio yang telah disepakati di awal akad. Berdasarkan kewenangan yang
diberikan mudharib, mudharabah dibagi menjadi:

8
1.      Mudharabah Muthlaqah, yaitu mudharib diberi kekuasaan penuh untuk mengelola
modal. Mudharib tidak dibatasi baik mengenai tempat, tujuan, maupun jenis usahanya
2.      Mudharabah Muqayyadah, yaitu shahibul maal menetapkan yarat tertantu yang
harus dipatuhi mudharib baik mengenai tempt, tujuan maupun jenis usaha.
         Murabahah
Akad jual beli antara bank dengan nasabah. Bank memberi barang yang diperlukan
nasabah yang bersangkutan sebesar harga pokok ditambah dengan keuntungan yang
disepakati.
         Musyarakah
Akad kerja sama usaha patungan antara dua oihak atau lebih pemilik modal untuk
membiayai suatu jenis usaha yang halal dan produktif. Pendapatan atau keuntungan
dibagi sesuai dengan rasio yang telah disepakati.
         Qardh
Akad pinjaman dari bank (Muqridh) kepada pihak tertentu (Muqtaridh) yang wajib
dikembalikan dengan jumlah yang sama sesuai pinjaman. Muqridh dapat meminta
jaminan atas pinjaman kepada Muqtaridh. Pengembalian pinjaman dapat dilakukan
secara angsuran ataupun sekaligus.
         Al Qard ul Hasan
Akad pinjaman dari bank (Muqridh) kepada pihak tertentu (Muqtaridh) untuk tujuan
sosial yang wajib dikembalikan dengan jumlah yang sama sesuai pinjaman.
         Al Rahn
Akad penyerahan barang harta (Marhun) dan nasabah (Rahin) kepada bank (Murtahin)
sebagai jaminan sebagian atau seluruh utang.
         Salam
Akad jual beli barang pesanan (Muslam fiih) antara pembeli (Muslam) dengan penjual
(Muslamilaih). Spesifikasi dan harga barang pesanan disepakati di awal akad dan
pembayaran dilakukan di muka secara penuh. Apabila bank bertindak sebagai Muslam
dan pemesanan dilakukan kepada pihak lain untuk menyediakan barang (Mulam fiih)
maka hal ini disebut salam paralel.
         Sharf
Akad jual beli suatu valuta dengan valuta lainnya.
         Ujro

9
Imbalan yang diberikan atau yang diminta atas suatu pekerjaan yang dilakukan.
         Wadiah
Akad penitipan barang/uang antara pihak yang mempunyai barang/uang dengan pihak
yang diberi kepercayaan dengan tujuan untuk menjaga keselamatan, keamanan, serta
keutuhan barang/uang. Wadiah dapat digolongkan menjadi dua macam yaitu:
1.      Wadi’ah Yad Amanah, yaitu pihak yang dititipi tidak boleh menggunakan atau
memanfaatkan harta titipan.
2.      Wadi’ah Yad Dhamanah, yaitu pihak yang dititipi bertanggung jawab penuh
terhadap keutuhan harta titipan, sehingga pihak yang dititipi boleh memanfaatkan harta
titipan tersebut.
         Wakalah
Akad pemberian kuasa dari pemberi kuasa (Muakkil) kepada penerima kuasa (Wakil)
untuk melaksanakan suatu tugas (Taukil) atas nama pemberi kuasa.

Kegiatan Usaha
Bank wajib menerapkan prinsip syariah dalam melakukan kegiatan usahanya yang
meliputi:
1.      Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan yang meliputi:
a. Giro berdasarkan prinsip wadi’ah
b. Tabungan berdasarkan prinsip wadi’ah atau mudharabah
c. Deposito berjangka berdasarkan prinsip mudharabah, atau
d. Bentuk lain berdasarkan prinsip wadi’ah atau mudharabah
2.      Melakukan penyaluran dana melalui:
a. Transaksi jual beli berdasarkan prinsip murabahah, istishna, ijarah, salam, dan
jual beli lainnya
b. Pembiayaan bagi hasil berdasarkan prinsip mudharabah, musyarakah, dan bagi
hasil lainnya
c. Pembiayaan lainnya berdasarkan prinsip hiwalah, rahn, qardh, membeli, menjual
dan/atau menjamin atas risiko sendiri surat-surat berharga pihak ketiga yang
diterbitkan atas dasar transaksi nyata (underlying transaction) berdasarkan
prinsip jual beli atau hiwalah

10
d. Membeli surat-surat berharga pemerintah dan/atau Bank Indonesia yang
diterbitkan atas dasar prinsip syariah
3.      Memberikan jasa-jasa:
a. Memindahkan uang untuk kepentingan sendiri dan/atau nasabah berdasarkan
prinsip wakalah
b. Menerima pembayaran tagihan atas surat berharga yang diterbitkan dan
melakukan perhitungan dengan atau antarpihak ketiga berdasarkan prinsip
wakalah
c. Menyediakan tempat untuk menyimpan barang dan surat-surat berharga
berdasarkan prinsip wadi’ah yad amanah
d. Melakukan kegiatan penitipan termasuk penatausahaannya untuk kepentingan
pihak lain berdasarkan suatu kontrak dengan prinsip wakalah
e. Melakukan penempatan dana dari nasabah kepada nasbah lain dalam bentuk
surat berharga yang tidak tercatat di bursa efek berdasarkan prinsip ujr
f. Memberikan fasilitas letter of credit (LC) berdasarkan prinsip wakalah,
murabahah, mudharabah, musyarakah, dan wadi’ah, serta memberikan fasilitas
garansi bank berdasarkan prinsip kafalah
g. Melakukan kegiatan usaha kartu debet berdasarkan prinsip ujr
h. Melakukan kegiatan wali amanat berdasarkan prinsip wakalah
4.      Melakukan kegiatan lain seperti:
a. Melakukan kegiatan dalam valuta asing berdasarkan prinsip sharf
b. Melakukan kegiatan penyertaan modal berdasarkan prinsip musyarakah dan/atau
mudharabah pada bank atau perusahaan lain yang melakukan kegiatan usaha
berdasarkan prinsip syariah
c. Melakukan kegiatan penyertaan modal sementara berdasarkan prinsip
musyarakah dan/atau mudharabah untuk mengatasi akibat kegagalan
pembiayaan dengan syarat harus menarik kembali penyertaannya
d. Bertindak sebagai dana pensiun dan pengurus dana pensiun berdasarkan prinsip
syariah sesuai dengan ketentuan dalam perundang-undangan dana pensiun yang
berlaku
e. Bank dapat bertinda sebagai lembaga baitul mal yaitu menerima dana yang
berasal dari zakat, infaq, shadaqah, waqat, hibah, atau dana sosial lainnya dan

11
menyalurkannya kepada yang berhak dalam bentuk santunan dan/atau pinjaman
kebajikan (qardhul hasan)
5. Melakukan kegiatan lain yang lazim dilakukan bank sepanjang dietujui oleh
Dewan
Syariah Nasional.
Dalam hal bank akan melakukan kegiatan usaha yang belum difatwakan oleh
Dewan Syariah Nasional, bank wajib meminta persetujuan Dewan Syariah Nasional
sebelum melaksanakan kegiatan usaha tersebut

BAB III
PENUTUP

12
3.1  Kesimpulan

Bank Syariah adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan prinsip
syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.
Perbankan syariah dalam melakukan kegiatan usahanya berdasarkan prinsip syariah,
demokrasi ekonomi, dan prinsip kehati-hatian. Di dalam bank syariah juga terdapat
suatu badan yang tidak ada di dalam bank konvensional yaitu Dewan Pengawas
Syariah. Dewan ini memiliki tugas untuk meneliti produk-produk baru bank syariah dan
memberikan rekomendasi terhadap produk-produk baru tersebut serta membuat surat
pernyataan bahwa bank yang diawasinya masih tetap menjalankan usaha berdasarkan
prinsip-prinsip syariah.

Pendirian Bank Syariah dan mendapatkan izin usaha berdasarkan prinsip syariah
harus mendapatkan izin dari Direksi Bank Indonesia. Bank syariah pertama di Indonesia
adalah Bank Muamalat. Bank Muamalat hingga sekarang telah berusaha menjalankan
prinsip-prinsip syariah dalam kegiatan usahanya. Selain Bank Umum Syariah juga
terdapat Unit Usaha Syariah (UUS).

3.2  Saran

Bank Syariah yang menerapkan prinsip-prinsip syariah yaitu tanpa bunga.


Diharapkan dapat berkembang di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama
Islam, karena riba dalam Al Qur’an dan Al Hadist sudah jelas-jelas dilarang. Riba
mewakili dalam sistem nilai Islam, suatu sumber utama keuntungan yang tidak
diperbolehkan. Riba secara literal berarti peningkatan dan pertambahan. Secara teknis,
riba berarti penambahan tambahan dari harta pokok atau modal secara bathil.

D A F T A R   P U S T A K A

13
Dendawijaya, L. (2009). Manajemen Perbankan. Bogor: Ghalia Indonesia.

Kasmir. (2008). Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya Edisi Revisi. Jakarta: Raja
Grafindo Persada.

14