Anda di halaman 1dari 151

KATA PENGANTAR

i
ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...............................................................................................................i
DAFTAR ISI......................................................................................................................ii
BAB I.................................................................................................................................1
PENDAHULUAN.............................................................................................................1
A. Latar Belakang......................................................................................................1
B. Batasan dan Rumusan Masalah.............................................................................4
1. Batasan Masalah.....................................................................................................4
2. Rumusan Masalah...................................................................................................5
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian...........................................................................6
D. Kerangka Konseptual............................................................................................7
1. MNC dan Host Country (Teori/Konsep MNC dan CSR)........................................8
2. Konsep Corporate Social Responsibility (CSR)....................................................11
E. Metode Penelitian................................................................................................13
1. Tipe Penelitian......................................................................................................13
2. Jenis Data..............................................................................................................13
3. Teknik Pengumpulan Data....................................................................................14
4. Teknik Analisis Data............................................................................................14
5. Metode Penulisan..................................................................................................14
BAB II.............................................................................................................................15
TINJAUAN PUSTAKA...................................................................................................15
A. Penelitian Terdahulu...........................................................................................15
B. Konsep MNC dan Host Country.........................................................................19
C. Konsep Corporate Social Responsibility (CSR)..................................................32
1. Relasi Perusahaan dengan Masyarakat..................................................................34
2. Peran CSR dalam PembangunanWilayah.............................................................41
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Implementasi CSR.........................................52
BAB III GAMBARAN UMUM.......................................................................................63
A. Kopi di Indonesia................................................................................................63
1. Arti Penting Kopi di Indonesia.............................................................................63

ii
iii

2. Nilai Strategis Sumatera Utara sebagai Salah Satu Penghasil Komoditi Terbaik
bagi Indonesia.....................................................................................................71
B. Starbucks Corporation dan Starbucks Farmer Support Centers...........................78
1. Sejarah Perkembangan Starbucks Coffee hingga Masuk di Indonesia..................78
2. Starbucks Farmer Support Centre (FSC)..............................................................80
BAB IV STRATEGI DAN IMPLIKASI PROGRAM STARBUCKS FARMER
SUPPORT CENTERS (FSC) TERHADAP PETANI KOPI DI SUMATERA UTARA..89
A. Strategi Starbucks dalam Implementasi Program Starbucks Farmer Support
Centers (FSC) terhadap Petani Kopi di Sumatera Utara...............................................89
1. Melatih 200.000 Petani global pada tahun 2020...................................................91
2. Starbucks FSC Sebagai salah satu Program Terintegrasi Starbucks......................92
3. Starbucks Farmer Support Centers (FSC) yang Bekerjasama dengan program
Praktik C.A.F.E. dan Organisasi Pihak Ketiga Lainnya......................................96
4. Strategi dan Mekanisme Operasional Pelatihan Starbucks FSC untuk Petani Kopi
di Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Indonesia................................102
B. Implikasi Starbucks Farmer Support Centers (FSC) terhadap Petani Kopi di
Sumatera Utara...........................................................................................................112
BAB V PENUTUP.........................................................................................................131
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................................132

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Cakupan Studi Hubungan Internasional yang semakin luas selalu

relevan dalam membahas kompleksitas fenomena hubungan internasional

di era globalisasi ini, baik relevansinya dalam skala besar hingga pada

ruang lingkup yang paling kecil. Hal tersebut mulai dapat dilihat dari

bertambahnya focus perhatian dalam studi hubungan internasional, yang

sebelumnya para sivitas akademisi hanya membahas actor Negara beserta

isu keamanan dan militer sebagai focus utama, namun pada masa setelah

berakhirnya perang dunia II hingga kini, kesadaran akan pentingnya

eksistensi actor-aktor non-negara yang menambahkan aspek kerjasama

antar Negara, ekonomi, social, dan lingkungan, pun dinilai memberikan

pengaruh besar terhadap kondisi politik internasional.

Salah satu actor non-negara yang mendominasi fenomena

hubungan internasional saat ini adalah perusahaan multinasional

(Multinational Corporation/MNC). Beragam aktivitas dan berbagai

bidang yang dibawa MNC beroperasi masuk ke berbagai negara

khususnya di negara berkembang, dinilai sebagai salah satu bentuk

ekspansi keuntungan dari Negara MNC tersebut berasal/Home Country.

Sebaliknya, Host Country (Negara tempat MNC beroperasi) sebagai

negara yang rasional, tentunya mengharapkan suatu pola pertukaran yang

saling menguntungkan. Maka Salah satu strategi yang dilakukan MNC

1
2

dalam memenuhi hal tersebut selain menjalankan operasional perusahaan

itu sendiri yaitu dengan mengadakan kegiatan/program yang

menyematkan konsep Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai

bentuk pertanggungjawaban social suatu perusahaan dalam turut

memberikan efek positif terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar

dalam suatu negara.

Saat ini, hampir setiap MNC telah memiliki program CSR. Salah

satu di antaranya adalah Starbucks Coffee yang berinduk di Amerika

Serikat. Sebagaimana yang dikenal, Starbucks merupakan perusahaan

multinasional yang berbasis gerai kopi, yang berhasil menyabet predikat

sebagai gerai kopi terbesar di dunia dengan jumlah gerai sebanyak 30.000

di berbagai belahan dunia [ CITATION Unz19 \l 1033 ]. Dalam memperoleh

keberhasilan tersebut, Starbucks banyak bekerjasama dengan berbagai

Negara dalam hal pemasokan biji kopi untuk menunjang produksi

kopinya. Oleh karena itu, selain melakukan kegiatan utama Starbucks

dalam mengoperasikan gerai kopinya, Starbucks juga banyak melakukan

agenda dan program CSR khususnya di negara-negara pemasok atau

potensial yang menjamin tumbuh-kembangnya kopi, hal demikian

diasumsikan sebagai salah satu cara yang dilakukan demi mewujudkan

pola hubungan yang seimbang – saling menguntungkan dengan Host

Country.

Salah satu agenda CSR starbucks yaitu Starbucks Farmer Support

Centre (FSC), adalah proyeksi yang diutus oleh Starbucks sejak tahun

2004 [ CITATION Sta18 \l 1033 ] , guna memberikan pelatihan secara

2
3

berkelanjutan terhadap komunitas petani kopi di negara-negara yang

sebagian besar dari Negara pemasok dan produsen kopi, tentang perihal

bertani kopi yang baik yang didasarkan pada mekanisme-mekanisme yang

meliputi upaya-upaya untuk membantu menurunkan biaya produksi,

pencegahan hama dan penyakit, serta perwujudan hasil kopi yang

premium yang berorientasi pada kualitas kopi berstandar C.A.F.E (Coffee

and Farming Equity Practice – Standardisasi Kopi dari Starbucks)

[ CITATION Ind18 \l 1033 ].

Tujuan lain dibentuknya Starbucks FSC yaitu sebagai salah satu

manifestasi dari upaya konkret Starbucks untuk membantu para penyuplai

dan petani dalam mengimplementasikan Praktik C.A.F.E agar nantinya

kualitas kopi yang dihasilkan dapat dimasukkan ke dalam rantai modal

Starbucks secara berkelanjutan [ CITATION Sec19 \l 1033 ]. Selain itu, pada

praktik C.A.F.E yang menyertainya, terdapat konsep ramah lingkungan

untuk masyarakat dan wilayah operasional sekitar , sehingga aktivitas

pelatihan yang dilakukan tidak hanya pada peningkatan kesejahteraan

petani kopi, namun juga akan berdampak secara luas kepada lingkungan

dan masyarakat sekitar yang tidak terlibat langusng dalam aktivitas

tersebut. Hingga kini, Starbucks FSC telah beroperasi di 9 negara di dunia.

Negara-negara tersebut antara lain Costa Rica, Rwanda, Tanzania,

Ethiopia, Colombia, Guatemala, China, Mexico, dan terakhir Indonesia,

yang berlokasi di Berastagi, Sumatera Utara. [CITATION STA18 \l 1033 ].

Di antara banyaknya negara di dunia, masuknya Indonesia dalam

salah satu kandidat negara pada tahun 2015 [CITATION STA18 \l 1033 ] yang

3
4

dipilih sebagai objek/medium pelatihan Starbucks FSC mengantar pada

asumsi bahwa Indonesia tentunya mempunyai nilai agronomi lebih

dibanding banyak negara lain dalam hal potensi lahan kopi yang dimiliki,

khususnya di bagian wilayah Sumatera Utara. Oleh karena itu, masuknya

sumatera yang mewakili Indonesia dalam hal ini kemudian memiliki nilai

penting tersendiri untuk ditilik kembali lebih lanjut dan secara mendalam

mengenai operasional Starbucks FSC di Sumatera Utara. Maka untuk

menjamin output penelitian yang lebih komprehensif penelitian ini akan

membagi focus bahasan pada dua aspek, yaitu meninjau pada strategi

Starbucks dan dampak Starbucks FSC terhadap komunitas petani kopi di

Sumatera Utara. Sehingga akhirnya penulis menemukan redaksi judul

yang tepat untuk menamai penelitian ini, yakni “Strategi dan Implikasi

Program Starbucks Farmer Support Center (FSC) terhadap

Peningkatan Kesejahteraan Petani Kopi di Sumatera Utara”.

B. Batasan dan Rumusan Masalah

1. Batasan Masalah

Pengambilan data dan informasi untuk menunjang penelitian

ini dititikberatkan di dua lokasi utama, yakni Kota Jakarta dan

Kabupaten Berastagi, Sumatera Utara. Penetapan lokasi penelitian di

Jakarta dimaksudkan untuk mencari jawaban atas pertanyaan

penelitian dari variable pertama dalam judul, yakni Strategi Starbucks

dalam menjalankan program Starbucks FSC di Sumatra Utara.

Sedangkan penetapan lokasi penelitian dilakukan di Sumatera Utara,

karena mengingat Sumatera Utara merupakan wilayah sentra komoditi

4
5

utama yang merepresentasikan Indonesia dalam hal komoditi biji

kopinya. Dan lebih lanjut, karena lokasi yang menjadi medium

operasional Pelathian FSC Starbucks terhadap petani kopi di

Indonesia, satu-satunya berada di Kabupaten Berastagi, maka focus

penelitian pun akan dipersempit pada lingkup daerah tersebut. Maka

upaya pemilihan lokasi penelitian di Kabupaten Berastagi, guna untuk

mendapatkan jawaban atas pertanyaan penelitian variable kedua pada

judul, yakni implikasi/efek konkret yang diberikan Starbucks melalui

program FSC-nya terhadap petani kopi di Sumatera Utara.

Untuk sejumlah data penunjang lainnya, penulis juga

mengambil referensi data dan informasi dari beberapa wilayah lain di

luar Jakarta dan Sumatera Utara, sepanjang lokasi yang ditetapkan

tidak berada di luar ruang lingkup Indonesia dan berkaitan dengan

aktivitas pelatihan Starbucks FSC di Sumatra Utara. Sementara

informasi dan data yang diambil dalam penelitian ini akan merujuk

pada kurun waktu sejak tahun 2015 hingga 2019. Acuan waktu

tersebut diambil berdasarkan tahun pertama Starbucks FSC

menginjakkan kaki di Indonesia.

2. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah pada penelitian ini adalah:

a. Bagaimana strategi Starbucks dalam upaya meningkatkan

kesejahteraan petani kopi di Indonesia melalui program Starbucks

Farmer Support Centre (FSC)?

5
6

b. Bagaimana Implikasi Program Starbucks Farmer Support Centre

(FSC) terhadap Petani Kopi di Indonesia?

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk menganalisis strategi Starbucks dalam meningkatkan


kesejahteraan petani kopi di Indonesia melalui program Starbucks FSC
2. Untuk menganalisis implikasi program Starbucks FSC terhadap petani

kopi di Indonesia

Adapun kegunaan penelitian ini adalah:

1. Bagi penulis, penelitian ini merupakan suatu kesempatan untuk


mengaplikasikan teori-tori yang diperolah selama proses perkuliahan
ke dalam praktek yang sesungguhnya, serta merupakan syarat lulus
mata kuliah skripsi yang menjadi proses akhir peneliti sebagai
mahasiswa Hubungan Internasional dalam menyelesaikan masa
studinya di jenjang strata 1.
2. Bagi Akademisi, Penulis berharap penelitian ini sedikit banyak dapat

memberi sumbangsih kepada para sivitas Akademisi berdisiplin Ilmu

hubungan Internasional, Ilmu Ekonomi, Ilmu Politik serta para

kelompok kepentingan lainnya yang ingin mendalami studi tentang

penerapan konsep dan teori Ekonomi politik internasional berdasarkan

fenomena yang terjadi khususnya dalam berbagai praktek perusahaan

multinasional di Negara dunia ketiga, dalam hal ini starbucks FSC,

sebagai program CSR utusan dari perusahaan Starbucks Coffee, yang

melibatkan komunitas petani kopi di Indonesia, khususnya di bagian

provinsi Sumatera Utara.

6
7

3. Sebagai bahan acuan untuk pemerintah ataupun pemerintah Daerah

dalam mengambil kebijakan setempat yang berkaitan dengan pengaruh

perusahaan asing di daerah.

D. Kerangka Konseptual

Perumusan Kerangka Konseptual ini akan digunakan sebagai

landasan teoritis yang relevan dalam menjawab rumusan masalah yang

diangkat penulis dalam penelitian nantinya. Adapun landasan teori yang

digunakan yaitu konsep MNC dan Host Country, dimana pada konsep

tersebut, terdapat CSR (Corporate Social Responsibility) sebagai suatu

system yang diposisikan sebagai penyeimbang kepentingan MNC maupun

Host Country sehingga kedua belah pihak sama-sama memperoleh

keuntungan yang sepatutnya [ CITATION Sef17 \l 1033 ] . Dalam konteks

relasi yang telah dijalin antara Starbucks Coffee dan entitas petani kopi di

Indonesia dalam lingkar kegiatan pusat Pelatihan yang dilakukan oleh

Starbucks FSC, dapat dinilai merupakan salah satu cara atau strategi

MNC yang berorientasi sebagai penyeimbang kepentingan terhadap

Negara Host Country, dalam hal ini Indonesia. (Lihat Gambar 1)

Gambar 1. Kerangka Fikir


Aktor HI

MNC Starbucks Coffee

CSR Program Starbucks FSC

1. Konsep MNC dan Host Country


2. Konsep CSR

Petani Kopi Sumatera Utara,


Host Country
Indonesia

7
8

1. MNC dan Host Country (Teori/Konsep MNC dan CSR)

Sebelum membahas lebih lanjut tentang konsep hubungan

antara MNC dan Host Country, maka perlu dibahas terlebih dahulu

pengertian dari MNC itu sendiri. Robert Gilpin secara sederhana

mengartikan MNC adalah sebagai

“a firm of a particular nationality with partially or wholly

owned subsidiaries within at least one other national

economy” [ CITATION Sef17 \p 10 \l 1033 ].

MNC dalam menjalankan bisnisnya bertendensi untuk terus

menerus memperluas pasar ke luar negeri [ CITATION Sef17 \p 10 \l 1033

]. Sementara istilah Host Country merupakan salah satu bagian dari

MNC itu sendiri yang memiliki arti sebagai negara tujuan dimana

MNC menempatkan cabang perusahaannya. Untuk melengkapi

peristilahan umum dalam konsep MNC, dikenal juga istilah Home

Country sebagai negara asal perusahaan induk MNC berasal.

Untuk lebih memahami tentang MNC, Michael J. Carbaugh

mengungkapkan bahwa sedikitnya ada empat karakteristik dari MNC

[ CITATION Sef17 \p 10 \l 1033 ] . Pertama, MNC disebutkan sebagai

sauatu perusahaan bisnis yang beroperasi di dua atau lebih negara

tujuan (Host Country) dimana perusahaan induk MNC tadi yang

berada di negara asal MNC (Home Country). Kedua, MNC seringkali

melakukan kegiatan research and development (penelitian dan

pengembangan) di negara tujuan (Host Country). kegiatan ini biasanya

8
9

dilakukan guna menunjang aktivitas MNC terutama dalam sector

manufaktur, pertambangan, eksplorasi minyak bumi, dan aktivitas

bisnis jasa lainnya. Ketiga, kegiatan operasional perusahaan bersifat

lintas batas negara. keempat, terdapat pemindahan modal yang ditandai

dengan arus investasi asing langsung (Foreign Direct Investment/FDI)

dari daerah-daerah yang dianggap mampu memberikan kontribusi

positif atas keberadaan pendirian anak atau cabang perusahaan asing

atau pengambil-alihan subuah perusahaan asing. Dari keempat

karakteristik tersebut dapat dijadikan sebagai salah satu standar acuan

dalam mengidentifikasi MNC, termasuk aktivitas operasional

Starbucks Coffee dalam memberikan pelatihan khusus terhadap

sejumlah kecil negara di Dunia.

MNC memiliki dua alasan mengapa harus mengembangkan

bisnisnya [ CITATION Sef17 \p 11 \l 1033 ] . Pertama, yaitu pada akses

control untuk mendapatkan sumber bahan mentah. Dan kedua adalah

tuntutan mobilitas untuk dapat menyalurkan produk-produknya ke

berbagai belahan dunia. Mobilitas ini memberikan keuntungan

tersendiri bagi MNC dimana mereka dapat menentukan lokasi-lokasi

mana yang paling menguntungkan yang didasarkan pada dua motif

tadi.

Sementara dari sisi Host Country, eksistensi MNC di suatu

negara juga memberikan beberapa dampak positif seperti terbukanya

lapangan pekerjaan baru yang diidentikkan dengan pengurangan

jumlah angka pengangguran, adanya fasilitas produksi baru, proses

9
10

transfer teknologi yang semakin efektif, dan juga pengenalan system

manajemen baru. Hasil dari semua ini kemudian akan memicu

semangat kerja industry local dan meningkatkan skill tenaga kerja,

terutama mereka yang mamasok bahan-bahan mentah ke MNC

[ CITATION Sef17 \p 12 \l 1033 ].

Indonesia sebagai negara berkembang, yang memiliki

kekayaan akan sumber daya alam serta berada pada posisi atas sebagai

negara berpenduduk terbanyak di dunia, pun semakin mengundang

para investor asing untuk menjadikan negara ini sebagai sasaran utama

dalam menanamkan investasinya. Dimana mereka berasumsi bahwa

banyak SDA yang dimiliki Indonesia mengindikasikan pula banyaknya

sumber bahan mentah yang siap diolah [ CITATION Sef17 \p 13 \l 1033 ].

Oleh karena itu, dalam konsep hubungan MNC dan Host

Country, Indonesia memiliki bargaining position dimana MNC

bukanlah satu-satunya pihak yang mendapatkan keuntungan, namun

ada kebijakan pemerintah yang perlu ditaati agar keuntungan yang

diperoleh dapat memberi manfaat bagi kedua belah pihak. Salah

satunya yaitu bentuk tanggung jawab MNC kepada Indonesia seperti

pembayaran pajak dan tanggung jawab social (CSR) yang

memperhatikan ruang lingkup yang mencakup bidang ekonomi,

pendidikan, kesehatan dan lingkungan di negara Host Country

[ CITATION Sef17 \p 14 \l 1033 ].

10
11

Adapun bargaining Position dalam konteks Negara Indonesia

terhadap MNC, yakni adanya ketersediaan sejumlah besar

lahan/potensi lahan kopi Indonesia yang dapat mempengaruhi kondisi

perekonomian negara didasarkan pada aspek geografi politik. Dengan

adanya hal tersebut cenderung akan menimbulkan ketertarikan negara

luar untuk dapat melakukan interaksi intensif terhadap Indonesia, salah

satu yang membuktikan hal tersebut, yaitu Starbucks Coffee yang telah

memberikan pelatihan khusus terhadap petani kopi di Indonesia dalam

program Pusat Pelatihan Petani (Farmer Support Center/FSC) yang

telah diusungnya.

2. Konsep Corporate Social Responsibility (CSR)

Pembangunan suatu negara bukan hanya tanggung jawab

pemerintah saja, setiap warga negara berperan untuk mewujudkan

kesejahteraan social dan peningkatan kualitas hidup masyarakat

[ CITATION Gun09 \l 1033 ] . Ada tiga golongan yang berperan penting

dalam pembangunan sebuah negara [ CITATION Gun09 \l 1033 ], di

antaranya adalah pemerintah (Government), Masyarakat

(Citizen/People/Community) dan Dunia Usaha (Corporate). Dunia

usaha harus berperan mendorong pertumbuhan ekonomi yang sehat

dengan mempertimbangkan pula masyarakat dan lingkungan hidup.

Saat ini dunia usaha tidak lagi hanya memperhatikan catatan

keuangan perusahaan semata (single bottom line), melainkan sudah

meliputi aspek keuangan, aspek social, dan aspek lingkungan yang

biasa disebut triple bottom line. Perusahaan dalam hal ini dibebani

11
12

tanggung jawab social untuk ikut mensejahterakan warga negara yang

ada di sekitarnya [ CITATION Gun09 \l 1033 ].

Corporate Social Responsibility (CSR), secara umum bisa

diartikan sebagai upaya dari perusahaan untuk menaikkan citranya di

mata public dengan membuat program-program amal baik yang

bersifat eksternal maupun internal. Program eksternal yaitu seperti

menjalankan kemitraan (Partnertship) dengan melibatkan seluruh

pemangku kepentingan (stakeholder) untuk menunjukkan kepedulian

perusahaan terhadap masyarakat dan lingkungan sekitarnya.

Sedangkan secara internal mampu berproduksi dengan baik, mencapai

profit yang maksimal dan mensejahterakan karyawannya [ CITATION

Gun09 \l 1033 ].

Definisi lain dari CSR menurut versi The Word Business

Council for Sustainable Development (WBCSD) in fox, et al (2002),

bahwa CSR atau tanggung jawab social perusahaan adalah komitmen

bisnis untuk berkontribusi dalam pembangunan ekonomi

berkelanjutan, bekerja dengan para karyawan perusahaan, keluarga

karyawan, dan Masyarakat setempat (local) dalam rangka

meningkatkan kualitas kehidupan [ CITATION Gun09 \l 1033 ].

Sejalan dengan definisi CSR di atas, adanya program Starbucks

FSC yang bertujuan untuk memberikan pelatihan berkelanjutan yang

mampu meningkatkan kualitas produktivitas bertani pada komunitas

petani kopi serta upaya standarisasi agar hasil kopi yang ditargetkan

12
13

mampu mencapai kualitas premium, dapat dinilai sebagai salah satu

upaya Starbucks yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup

masyarakat yang berada di sekitar lingkungan operasional

perusahaannya, dan di sisi lain juga dapat diasumsikan sebagai salah

satu strategi Starbucks untuk menaikkan citranya demi

mempertahankan kepentingan profitabilitas Perusahaannya.

E. Metode Penelitian

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian yang ada, maka

jenis metode penelitian yang digunakan penulis selama proses penelitian

adalah metode kualitatif, dimana yang menjadi unit analisis dalam

penelitian ini adalah masyarakat/entitas petani kopi di Sumatera Utara dan

Starbucks Farmer Support Centre (FSC) . Adapun untuk memperkuat

analisis dalam penelitian ini, juga diperlukan informasi dan data-data yang

dalam bentuk angka.

1. Tipe Penelitian

Tipe Penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini

adalah jenis penelitian Kualitatif Deskriptif yang bersifat

menggambarkan pola interaksi antara FSC Starbucks dan entitas petani

kopi di Indonesia lalu kemudian menjelaskan efek/implikasi yang

dihasilkan dari interaksi kedua pihak tersebut khususnya dalam

pengaruhnya terhadap peningkatan kesejahteraan petani kopi di

Indonesia

13
14

2. Jenis Data

Data yang penulis gunakan dalam penelitian ini yaitu data

sekunder dan primer. Data sekunder diperoleh melalui studi literature

seperti buku, jurnal, artikel, majalah handbook, situs internet, institute

dan lembaga terkait, yang mana kesemuanya harus memiliki

keterkaitan langsung dengan penelitian penulis. Adapun data primer

akan diperoleh dari lokasi kegiatan pelatihan FSC Starbucks tersebut

berlangsung.

3. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data pada penelitian adalah studi

kepustakaan (Library Research), dan observasi lapangan.

4. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan bersifat kualitatif, dimana

data yang penulis dapat bukan berbentuk numeric atau data-data

berupa angka namun berdasarkan penggabungan dari beberapa fakta-

fakta yang ada, yang menghasilkan sebuah argument yang tepat.

Adapun, data kuantitatif diperlukan untuk memperkuat analisis

argumentasi yang diperoleh dari analisis kualitatif tadi.

5. Metode Penulisan

Metode penulisan yang digunakan oleh penulis ialah metode

deduktif, yakni penggambaran masalah yang diteliti secara umum, lalu

menarik kesimpulan secara khusus dalam menganalisis data.

14
15

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Penelitian Terdahulu

Beberapa penelitian terdahulu juga pernah membahas tentang

tanggung jawab MNC terhadap masyarakat dan lingkungan dari negara

Host Country tempat mereka melancarkan operasional perusahaannya.

Maka dari itu, penulis menjadikan hasil penelitian-penelitian sebelumnya

yang berkaitan dengan topic yang akan diteliti penulis sebagai referensi

atau rujukan utama dalam penulisan skripsi ini. Adapun, hasil penelitian

yang penulis review sebagai literature dalam penulisan skripsi ini yang

pertama merujuk pada Skripsi Dea Angela Seftyana mahasiswi Universitas

Hasanuddin pada tahun 2017 dengan judul Strategi Penanganan Masalah

Lingkungan Hidup di Kabupaten Sumbawa Barat Melalui Environment

Sustainability Program oleh PT. Newmont Nusa Tenggara (NNT).

Penelitian ini fokus membahas program CSR yang dibawa PT. NNT

sebagai langkah antisipatif MNC untuk membendung kekhawatiran dari

Host Country khususnya terkait potensi permasalahan lingkungan yang

terjadi diakibatkan operasional PT. NNT dalam melakukan kegiatan

produksi tambang.

Selanjutnya penelitian ini juga merujuk pada skripsi Herdiani Dewi

Kurniawan, mahasiswi Universitas Katolik Parahyangan pada tahun 2017

dengan judul Implementasi Program CSR PT. Holcim Indonesia, Tbk.

Pada Bidang Pendidikan di Kabupaten Bogor Tahun 2014-2015. Dalam

penelitian tersebut, peneliti berasumsi bahwa kebanyakan pelaksanaan

15
16

program CSR yang dilakukan oleh MNC beberapa hanya dipandang

sebagai pelengkap dalam memenuhi atau membangun citra baik pada

suatu perusahaan dalam hal ini MNC. Oleh karena itu, dalam

penelitiannya, peneliti bermaksud untuk menguji akuntabilitas MNC PT.

Holcim Indonesia, Tbk dalam melaksanakan program CSR-nya pada

bidang pendidikan. Apakah program-program tersebut teridentifikasi

efektif menyelesaikan permasalahan masyarakat yang ada atau hanya

menjadi sebatas bentuk pelaksanaan kewajiban saja.

Rujukan lainnya diperoleh dari Skripsi Luqman Pradityo yang juga

merupakan mahasiswa dari Universitas Katolik Parahyangan dengan judul

skripsi Implementasi CSR PT. Unilever Indonesia melalui Program

Jakarta Green and Clean dalam Mengatasi Permasalahan Sampah di DKI

Jakarta tahun 2006-2010. Skripsi ini mengangkat Studi Kasus di

Kelurahan Malaka Sari, Jakarta Timur dan Kelurahan Cipinang Melayu,

Jakarta Timur. Peneliti dalam penelitian tersebut focus membahas tentang

pengaplikasian program CSR Oleh PT. Unilever Indonesia lewat program

Unilever Green and Clean, yang mana dalam program tersebut,

perusahaan memiliki komitmen untuk mengelola dampak social dan

lingkungan secara bertanggung jawab, bekerja dalam kemitraan dengan

para pengambil keputusan dan memberikan sumbangsih pada

pembangunan masyarakat yang berkelanjutan. .

Rujukan lainnya yaitu dari Jurnal Qurratie Zain mahasiswa

Lulusan Universitas Airlangga pada tahun 2015 yang berjudul

Collaboration Strategy dalam Implementasi Corporate Social

16
17

Responsibility (CSR) yang mengangkat Studi Kasus Aqua Danone Klaten.

Dalam Jurnalnya, penulis berupaya menyajikan keberhasilan MNC dalam

pelaksanaan program CSR-nya yang mampu menangani ketimpangan

yang terjadi di masyarakat sebagai akibat dari proses produksi yang

dilakukan MNC. Lebih lanjut, keberhasilan tersebut diperoleh melalui

pengembangan implementasi Program CSR dengan menggunakan

collaboration strategy yang dipilih sebagai sebuah langkah jitu untuk

menyeleseiakan ketimpangan-ketimpangan yang ada.

Tak habisnya, penelitian ini juga merujuk pada jurnal Wesphalia

Vol. 16 No. 1 (Januari – Juni 2017) yang ditulis oleh Shylvia Windary,

yang berjudul Analisis Starbucks Corporation Melalui Pendekatan Global

Value Chains (GVC). Yang mana dari judul tersebut, penulis jurnal

bermaksud memberikan serta meningkatkan pemahaman tentang adanya

sebuah mata rantai kopi dari sebuah perusahaan terbesar dalam bidang

kopi yang berkualitas premium, yaitu Starbucks Corporation, dengan

menggunakan pendekatan GVC yang focus pada penciptaan nilai,

distribusi dan control dalam jaringan transnasional. Selain itu, pendekatan

GVC ini dinilai sebagai upaya untuk memperpanjang rantai nilai dari

eksploitasi bahan baku biji kopi, pengolahan menjadi bubuk kopi, melalui

berbagai tahap perdagangan, jasa dan proses manufaktur untuk dikonsumsi

di gerai-gerai Starbucks dan pembuangan limbah.

Rujukan yang menjadi Referensi terakhir dari penelitian ini yaitu

jurnal yang ditulis oleh Meriza Sastri Nenda, Mahasiswa Universitas Riau

yang berjudul Dampak Investasi Starbucks Coffee terhadap Penjualan

17
18

Produksi Kopi Lokal di Indonesia. Dari judul tersebut, penulis berupaya

memberitahukan bahwa keberadaan Starbucks di negara Host Country

dalam hal ini Indonesia, memberikan banyak pengaruh terhadap penjualan

kopi local di Indonesia itu sendiri, yang cenderung lebih banyak

menimbulkan kerugian dari Pihak Indonesia, baik di bidang social,

maupun ekonomi. Kerugian tersebut di antaranya, menyebabkan

masyarakat Indonesia berperilaku konsumtif, dikarenakan masyarakat

cenderung lebih memilih membeli produk Starbucks hanya karena produk

tersebut berasal dari perusahaan asing dan memiliki label internasional

serta konsumsi produk tersebut dilakukan demi memperlihatkan strata

social dalam kehidupan bermasyarakat. Selain itu dampak lainnya yaitu

menurunnya penjualan kopi local itu sendiri, dikarenakan permintaan dari

sejumlah pengusaha local mulai rendah diakibatkan usaha-usaha kopi local

mereka yang kurang diminati oleh masyarakat yang lebih memilih kopi

Starbucks.

Melanjutkan penelitian-penelitian tersebut di atas, penulis akan

meneliti tentang “Strategi dan Implikasi Program Starbucks Farmer

Support Centre (FSC) terhadap Petani Kopi di Sumatra Utara”. Adapun

diferensiasi penelitian penulis dengan hasil penelitian-penelitian di atas

adalah Studi kasus yang berbeda yang mana konteks penelitian yang akan

dilakukan penulis lebih spesifik membahas tentang bagaimana Strategi

yang dilakukan MNC Starbucks Coffee melalui program FSC-nya dalam

memberikan pelatihan berkelanjutan kepada komunitas petani kopi di

Indonesia khususnya di Sumatra Utara, yang mana Starbucks dalam

18
19

program ini memiliki target output untuk menjadikan lahan pertanian yang

ada di Sumatra sebagai standar lahan percontohan bagi perkebunan kopi

maupun aktivitas bertani kopi yang berkualitas baik dalam skala nasional

maupun global. Tidak berhenti sampai disitu, dalam penelitian ini, penulis

juga berupaya untuk menganalisis dampak yang dihasilkan program

pelatihan Starbucks FSC terhadap komunitas petani kopi di Sumatra Utara,

baik dalam aspek social, ekonomi maupun lingkungan sekitar operasional

program FSC. Teori yang digunakan penulis ialah konsep relasi MNC dan

Host Country serta konsep Corporate Social Responsibility (CSR) untuk

melihat bagaimana hubungan antara MNC dan Host Country yang dapat

menciptakan suatu kondisi yang ideal antara kedua belah pihak, yakni

saling menguntungkan, yang pada dasarnya hal ini selalu menjadi motif

dan tujuan dasar kedua belah pihak mengadakan kerjasama.

B. Konsep MNC dan Host Country

Akibat perkembangan dunia yang semakin kompleks saat ini,

menjadikan kerjasama yang baik di bidang ekonomi, politik, social-

budaya, maupun pendidikan antar sesama negara menjadi perlu dilakukan

demi menciptakan kondisi harmonis dalam hubungan antar negara. karena

adanya hubungan antar negara seyogyanya merupakan representasi dari

hubungan antar sesama manusia apabila ditinjau dalam skala lingkup yang

paling nyata[ CITATION Sef17 \p 21 \l 1033 ] . Dimana satu negara dengan

negara lain juga saling membutuhkan satu sama lain khususnya dalam

hubungan kerjasama di bidang ekonomi dan politik. Politik dan ekonomi

merupakan dua aspek yang saling bersinggungan satu sama lain dan sering

19
20

menjadi pokok bahasan penting dalam studi hubungan internasional. Salah

satu perkembangan di dunia ekonomi politik internasional paska Perang

Dunia II adalah kemunculan Multinational Corporation (MNC). MNC

adalah sebuah perusahaan internasional atau transnasional yang berkantor

pusat di satu negara tetapi memiliki kantor cabang baik di negara maju

maupun negara berkembang. MNC merupakan actor non negara (non-

state actor) dalam konstelasi internasional yang perkembangannya

menarik para scholars dalam hubungan internasional untuk menelitinya

[ CITATION Lai03 \p 81 \l 1033 ].

Harry Magdoff (1978) dalam bukunya yang berjudul The

Multinational Corporation and Development – A Contradiction?

menjelaskan bahwa korporasi multinasional dapat dipahami sebagai

Iogical state dalam evolusi perusahaan kapitalis. Dalam ekonomi politik

internasional, kapitaisme merupakan salah satu unsure penting bagi suatu

perusahaan yang berfungsi untuk mengembangkan bisnis ke negara lain

(Magdoff, 1978). Harry Magdoff memandang kelahiran MNC sebagai

sebuah evolusi terbaru dari dunia kapitalis. Kelahiran MNC ini dapat

dipahami dari catatan-catatan yang diperoleh dari tulisan Karl Marx

mengeneai perilaku-perilaku kaum kapitalis [ CITATION Sef17 \p 21 \l

1033 ]. Menurut Marx, inti sentral dari kelahiran MNC, ditandai oleh

beberapa factor [ CITATION Sef17 \l 1033 ], di antaranya adalah (1) Kondisi

perusahan kapitalis memaksa perusahaan individu perlunya untuk semakin

memerluas jaringan mereka. Perkembangan produksi kapitalis yang

semakin tumbuh signifikan, membuat mereka “dipaksa” untuk terus

20
21

meningkatkan jumlah modal capital mereka. (2) Proses akumulasi modal

dapat dilakukan melalui dua bentuk yang saling berkaitan satu sama lain

yaitu penyebaran produksi dalam skala besar dan kombinasi perusahaan

melalui merger dan akuisisi. Dan (3) pasar menyediakan dasar dan elemen

penting dari produksi kapitalis. Faktanya adalah, bahwa kapitalisme lahir

di masa revolusi industry pada abad ke-16 dan awal abad ke-17 – sebuah

revolusi yang dihasilkan oleh pasar global yang berpusat pada kebutuhan

dan keinginan bangsa-bangsa eropa barat [ CITATION Sef17 \p 22 \l 1033 ] .

Inti utama atribut dari MNC sendiri adalah perluasan investasi, konsentrasi

kekuasaan perusahaan, dan pertumbuhan pasar dunia [ CITATION Har87 \p

166-167 \l 1033 ]

Upaya untuk mengatasi kemunculan Masyarakat Ekonomi Eropa

(MEE) dan kesulitan pembayaran juga ikut mempengaruhi perkembangan

penting ekonomi Amerika Serikat dan dunia ekonomi lainnya di mana

kondisi ini memunculkan actor-aktor transnasional baru yaitu MNC dan

munculnya pasar capital ekonomi internasional yang baru. Fitur utama dari

MNC adalah investasi langsung ke luar negeri yang dirancang untuk

menentukan dan mengatur produksi dan/ atau unit distribusi. Pergerakan

kekuatan ekonomi Amerika Serikat paska Perang Dunia II semakin pesat

dimana pada 52% investasi luar negeri berada di tangan perusahaan MNC

Amerika Serikat [ CITATION Har87 \p 170 \l 1033 ]. Kelahiran MNC sendiri

merupakan salah satu alat hegemoni AS di sector perekonomian saat itu

dan memiliki pengaruh yang besar bagi perkembangan ekonomi dunia

[ CITATION Lai03 \p 83 \l 1033 ]

21
22

Terdapat beberapa factor utama lainnya yang menyebabkan

kemunculan perusahaan MNC Amerika Serikat dan bentuk baru dari

operasi kapitalis internasional menurut Harry Magdoff, di antaranya

adalah (1) system pembayaran internasional, dimana dulunya system

pembayaran internasional berfokus pada pasar uang London ketika Inggris

masih menjadi hegemon di abad ke-19, namun setelah Perang Dunia II

tertutama ketika munculnya system pembayaran internasional baru yang

terangkum dalam Bretton Woods System memberikan kesempatan lebih

bagi Amerika Serikat dalam mengembangkan investasi luar negeri mereka

dalam pasar internasional [ CITATION Har87 \p 171 \l 1033 ] . (2) adanya

kesejahteraan dan pembangunan ekonomi yang didorong oleh Marshall

Plan, yang telah dilakukan sebagian besar untuk membangun kembali dan

memperkuat kapitalisme Eropa sebagai sekutu politik dan militer Amerika

Serikat yang berhasil dalam meningkatkan jumlah perusahaan-perusahaan

multinasional baik dari Amerika Serikat maupun di Eropa itu sendiri. (3)

pemberian bantuan program militer dan ekonomi juga ikut memberikan

pengaruh besar bagi Amerika Serikat untuk menanamkan modal investasi

di negara yang dituju tersebut. (4) Perang Dunia II dan paska Perang

Dunia II membangkitkan sebuah perubahaan baru dalam dunia bisnis dan

teknologi yang juga memberikan dampak yang signifikan bagi

pertumbuhan MNC itu sendiri [ CITATION Har87 \p 172-173 \l 1033 ]

Terlepas dari segala perkembangan MNC terutama pada paska

Perang Dunia II, muncul kontroversi dari kelahiran MNC itu sendiri

dimana adanya perkembangan MNC akan menyebabkan peran negara

22
23

sebagai actor utama dalam konstelasi internasional menurun. Terdapat dua

proposisi yang menyatakan bahwa MNC mengikis peran negara di

antaranya adalah definisi kepentingan nasional dan kemampuan negara

dalam mengontrol ekonomi. Pertama definisi kepentingan nasional dimana

konsep kepentingan nasional ini akan berubah seiring dengan masuknya

pengaruh asing ke dalam wilayah suatu negara. salah satu pengaruh asing

yang dapat mempengaruhi perubahan kepentingan nasional adalah

kedatangan MNC itu sendiri [ CITATION Har87 \p 186 \l 1033 ]. Dan yang

kedua adalah kedaulatan negara dimana peran negara mulai menurun

dalam hal mengatur kondisi perekonomian dan moneter dalam negeri

mereka, seperti control suku bunga dan kebijakan fiscal [ CITATION Har87 \p

188 \l 1033 ]. Adapun, permasalahan-permasalahan seperti ini lebih banyak

ditemui di negara-negara dunia ketiga. Datangnya MNC terhadapa suatu

negara memiliki pengaruh dalam menciptakan keseimbangan kekuatan

ekonomi yang cenderung berpengaruh terhadap kekuatan nasional negara

itu sendiri. salah satu bentuk kontribusi MNC di negara-negara ketika

tersebut salah-satunya adalah meningkatkan arus impor dan ekspor

[ CITATION Har87 \p 190 \l 1033 ].

Sebelum masuk pada pembahasan konsep hubungan antara MNC

dan Host Country, maka diperlukan terlebih dahulu mengenai pengertian

MNC itu sendiri. MNC sesungguhnya belum memiliki definisi yang baku,

dalam arti belum ada satu kesatuan pandang terkait definisi MNC dari para

penstudinya. MNC memiliki pengertian yaitu suatu perusahaan yang

bergerak atau beroperasi di dua negara.

23
24

Robert Gilpin secara sederhana mengartikan bahwa MNC adalah

“a firm of a particular nationality with partially or wholly owned

subsidiaries within at least one other national economy” [ CITATION

Rob01 \p 278 \l 1033 ]. MNC dalam menjalankan bisnisnya bertendensi

untuk terus menerus memperluas pasar ke luar negeri [ CITATION Sef17 \p

37 \l 1033 ] . adapun MNC selanjutnya disebut sebagai home country, dan

negara tempat MNC beroperasi/ menempatkan cabangnya yaitu host

country [ CITATION DPr16 \l 1033 ].

Untuk lebih memahami tentang MNC, Michael J. Carbaugh

mengungkapkan bahwa sedikitnya ada empat karakteristik dari MNC

[ CITATION Sef17 \p 10 \l 1033 ]. Pertama, MNC disebutkan sebagai sauatu

perusahaan bisnis yang beroperasi di dua atau lebih negara tujuan (Host

Country) dimana perusahaan induk MNC tadi yang berada di negara asal

MNC (Home Country). Kedua, MNC seringkali melakukan kegiatan

research and development (penelitian dan pengembangan) di negara

tujuan (Host Country). kegiatan ini biasanya dilakukan guna menunjang

aktivitas MNC terutama dalam sector manufaktur, pertambangan,

eksplorasi minyak bumi, dan aktivitas bisnis jasa lainnya. Ketiga, kegiatan

operasional perusahaan bersifat lintas batas negara. keempat, terdapat

pemindahan modal yang ditandai dengan arus investasi asing langsung

(Foreign Direct Investment/FDI) dari daerah-daerah yang dianggap

mampu memberikan kontribusi positif atas keberadaan MNC. Robert

Gilpin mengatakan bahwa yang dimaksudkan dengan FDI adalah

24
25

pendirian anak atau cabang perusahaan asing atau pengambil-alihan

subuah perusahaan oleh asing [ CITATION Rob01 \p 279 \l 1033 ].

Dr. Sumantoro dalam tulisannya mengenai MNC/TNC

memandang MNC dari berbagai aspek. Dari segi politik, focus sentral

kepada MNC sebagai subjek dlaam hubungan internasional, terkait dengan

kekuatan politiknya di tingkat nasional dan internasional, serta pola

manajemennya yang terpusat sehingga membawa pengaruh pada

penguasaan informasi sebagai kekuatan politik, pun kekuatan ekonomi

bagi perusaahn tersebut terhadap pihak yang dihadapinya. Dari segi

hokum, focus sentralnya terletak pada MNC sebagai badan hokum yang

dapat merupakan cabang, usaha patungan atau perusahaan yang dimiliki

umum (public company), juga struktur pemilikan usaha, anggaran dasar

perusahaan, bentuk hokum pengelolaannya, serta penyelesaian jika ada

sengketa hukum. Hal yang terakhir ini juga terkait dengan masalah

yurisdiksi hokum negara penerima modal. Segi ekonomi, focus sentralnya

terletak pada aspek-aspek factor produksi modal, keahlian manajemen dan

keahlian teknologi, serta praktek-praktek usaha yang terkait dengan

persaingan, besarnya pasar, monopoli-oligoli, dan lain sebagainya

[ CITATION Sum87 \p 32 \l 1033 ].

Pandangan tersebut pada dasarnya mengambil sejumlah definisi

yang dikemukakan oleh beberapa pakar hukum seperti: Clive Schmithoff,

kemudian definisi yang dikemukakan oleh kalangan PBB/ Group of

Eminet Persons, kalangan Organisasi Kerjasama dan Pembangunan

Ekonomi (OECD/Organisation for Economic Co-operation and

25
26

Development), dan Dr. Ignaz.S. Hohenveldern. Dari sejumlah definisi

yang beraneka ragam itu kemudian Sumantoro pada prinsipnya

mengajukan isu yang menajdi pusat perhatiannya dari masalah-masalah

MNC yang ada, khususnya di negara-negara penerima modal yang

dipahami sebagai:

1. Perusahaan cabang, yang merupakan cabang yang tidak terpisahkan

dengan MNC induknya;

2. Perusahaan pemilikan subsidiaries, yang merupakan anak perusahaan

yang berbadan hukum sendiri, yang mana saham ini sepenuhnya

dimiliki oleh perusahaan induk.

3. Perusahaan patungan (joint venture) yang merupakan perusahaan

dimana sahamnya dimiliki oleh dua atau lebih perusahaan sebagai

partner.

4. Perusahaan yang berkedudukan local dan sebagian sahamnya dipegang

oleh masyarakat (perusahaan yang go public atau public company).

Bentuk lainnya yaitu pembentukan yang didasarkan pada ketentuan

perundangan yang ada, seperti bidang perbankan, pertambangan

minyak dan gas bumi dan perdagangan atau jasa lainnya.

Sementara itu ada beberapa definisi lain yang dikemukakan oleh

penulis-penulis ekonomi politik, di antaranya adalah Stephen Gilland dan

David Law. Sedangkan dari beberapa pandangan lainnya yang menggaet

pengertian, definisi, dan istilah yang digunakan secara umum bagi MNC

ini banyak disebut-sebut sebagai: direct investment, international

business, the international firm, the international corporate group, the

26
27

multinational enterprise, la grande enterprise plurinationale, la gan unite

plurinationale dan the US corporate monster, serta sejumlah nama lain

untuk menyebut hal serupa. Sementara itu, apabila mengambil pemahaman

menurut penggolongannya, Prof. John Dunnin, memberikan beberapa

criteria untuk membedakan MNC ke atas empat bentuk, yaitu:

1. Multinational Producting Enterprise (MPE), yakni perusahaan yang

memiliki dan mengontrol berbagai fasilitas produksi lebih dari satu

negara.

2. Multinational Trade Enterprise (MTE), yaitu perusahaan yang

berfokus pada bidang perdagangan dengan menjual barang yang

diproduksi di dalam negeri, langsung kepada badan usaha atau orang

di negeri lain.

3. Multinational Internationally Owned Enterprise (MOE), yaitu

perusahaan yang lebih mengarah pada kepemilikan usaha dari satu

induk perusahaan , yang menyebarluaskan cabang-cabang produksi

atau perdagangan atau kegiatan perusahaannya di negara lain

[ CITATION And18 \l 1033 ].

4. Multinational (Financial) Controlled Enterprise (MCE), yaitu

perusahaan yang berfokus pada permodalan atau pembiayaan.

Sebagaimana pada MOE dan MCE, kegiatan perusahaan ini juga

diawasi oleh lebih dari satu negara.

Menurut penggolongan yang dilakukan oleh Dunning ini, sebagian

besar perusahaan raksasa yang ada termasuk dalam jenis kategori MOE,

seperti Unilever, Danonen, Royal Dutch/Shell, dan sebagainya, yang mana

27
28

perusahaan-perusahaan ini merupakan perusahaan dengan kegiatan

perdagangan atau produk yang beragam dan menempatkan laut produksi

serta pemasarannya secara global, di hampir seluruh negara di dunia

[ CITATION And18 \l 1033 ]. Sehubungan dengan hal tersebut, apabila

melihat kepada pengertian dari definisi yang diajukan oleh Sanjaya Lall

ataupun Paul Streeten yang secara prinsip menekankan masalah-masalah

MNC tersebut ke dalam perspektif ekonomis, organisasional, dan

motivasional. Adapun pemahaman secara ekonomis yakni member

penekanan kepada segi ukuran, penyebaran geografis dan tingkat

keterlibatannya di luar negeri. Sehingga dari sini kemudian diperoleh suatu

pengertian umum mengenai MNC yang berbeda dengan: Perusahaan besar

domestic yang sedikit melakukan investasi di luar negeri. Perusahaan

domestic mungkin melakukan investasi di luar negeri tetapi dalam unit

ekonomi yang lebih kecil[ CITATION Sef17 \p 28 \l 1033 ].

Hal selanjutnya yang menjadi bagian dari pembahasan konsep

hubungan antara MNC dan Host Country, erat dikaitkan dengan isu saling

ketergantungan antar kedua belah pihak. Yang mana dalam teori

interdependensi, negara bukan merupakan actor independen secara

keseluruhan, justru negara juga saling bergantung satu sama lainnya. Maka

dari itu, apabila dibawa dalam konteks MNC, tidak ada satu negara pun

yang secara keseluruhan dapat memenuhi sendiri kebutuhannya,

melainkan masing-masing bergantung pada sumberdaya dan produk dari

negara lainnya[ CITATION Per05 \p 77 \l 1033 ] .. Teori interdependensi

merupakan turunan dari perspektif liberalism. Liberalism interdependensi

28
29

antar negara. actor transnasional dalam hal ini MNC menjadi semakin

penting dan kesejahteraan merupakan tujuan yang dominan dari negara.

Yang mana interdependensi kompleks akan menciptakan dunia hubungan

internaonal yang lebih kooperatif[ CITATION Sef17 \p 29 \l 1033 ].

Hubungan antara MNC dan Host Country tidak serta merta

didasarkan pada masalah saling ketergantungan belaka. Perhatian dari

negara tujuan untuk melindungi industry domestiknya juga membuat

negara tujuan mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang mengatur aktivitas

MNC dan juga menerapkan kebijakan proteksionisme terhadap setiap

MNC yang beroperasi di negaranya [ CITATION Sef17 \l 1033 ]. Kebijakan

proteksionaisme harus dilakukan demi mengatasi berbagai hal yang

mungkin muncul dikarenakan adanya aktivitas ekonomi internasional.

Menurut Hamilton, seharusnya pemerintah suatu negara melakukan tiga

hal terkait perlindungan terhadap industry domestic yakni diterapkannya

pelarangan impor atas produk-produk yang bisa dihasilkan oleh industry

local, dan penerapan peraturan hokum yang mengatur akan kualitas

produk sebagai jaminan bagi konsumen [ CITATION Sef17 \p 31 \l 1033 ] .

Salah satu cara yang digunakan oleh banyak Host Country adalah

diwajibkannya MNC membuka kepemilikian sahamnya kepada

masyarakat local dan juga adanya aturan yang menyebutkan bahwa produk

yang dihasilkan haruslah mengandung sekian persen kandungan local.

MNC memiliki dua alasan mengapa harus mengembangkan

bisnisnya [ CITATION Sef17 \p 11 \l 1033 ]. Pertama, yaitu pada akses control

untuk mendapatkan sumber bahan mentah. Dan kedua adalah tuntutan

29
30

mobilitas untuk dapat menyalurkan produk-produknya ke berbagai

belahan dunia. Mobilitas ini memberikan keuntungan tersendiri bagi MNC

dimana mereka dapat menentukan lokasi-lokasi mana yang paling

menguntungkan yang didasarkan pada dua motif tadi.

Sementara dari sisi Host Country, eksistensi MNC di suatu negara

juga memberikan beberapa dampak positif seperti terbukanya lapangan

pekerjaan baru yang diidentikkan dengan pengurangan jumlah angka

pengangguran, adanya fasilitas produksi baru, proses transfer teknologi

yang semakin efektif, dan juga pengenalan system manajemen baru. Hasil

dari semua inikemudian akan memicu semangat kerja industry local dan

meningkatkan skill tenaga kerja, terutama mereka yang mamasok bahan-

bahan mentah ke MNC [ CITATION Sef17 \p 12 \l 1033 ] . Hal demikian

menjadi penyebab banyaknya negara yang mengeluarkan kebijakan

proteksionisme berupa aturan kandungan local atas suatu produk harus

mencapai ukuran tertentu. Maka dengan adanya kebijakans tersebut,

Industri-industri local akan tetap hidup. Masuknya MNC ini juga dianggap

mampu meningkatkan kas negara dengan adanya pajak insentif yang harus

dibayarkan oleh MNC. Salah satu wujud real dari dampak dengan adanya

MNC tersebut ke dalam sector pajak di negara Hos Country tersebut salah

satunya yakni dapat membantu pembangun di host country [ CITATION

Sef17 \p 31 \l 1033 ].

Sayangnya, aktivitas MNC tidak serta merta dipandang baik, hal

ini disebabkan oleh keadaan negara. dunia ketiga pasca colonial yang

masih tertinggal jauh dibandingkan dengan angka rata-rata pertumbuhan di

30
31

negara maju [ CITATION Sef17 \p 31 \l 1033 ]. Banyak negara Dunia Ketiga

Ketiga menemui kesulitan dalam mmulai menjalankan pembangunan

ekonominya sehingga masuknya MNC dianggap hanya akan memberikan

dampak negative dimana masyarakat tradisional negara Dunia Ketiga

masih belum mengerti akan teknologi yang dibawa oleh MNC serta

keadaan politik yang belum stabil membuat negara sulit mengawasi

aktivitas MNC yang rentan terhadap aktivitas perusakan lingkungan dan

eksploitasi alam secara berlebihan [ CITATION Sef17 \p 31 \l 1033 ].

Terkait dengan solusi dimana terdapat banyak dari Negara Dunia

Ketiga yang mana masyarakat tradisional Negara Dunia Ketiga masih

memiliki corak produksi yang tertinggal jauh oleh perkembangan dan

kemajuan teknologi serta corak produksi yang dibawa oleh MNC masuk

ke dalam Host Country tersebut, maka terdapat bentuk

pertanggungjawaban dari pihak MNC untuk melakukan suatu upaya yang

berorientasi pada perimbangan atau penyesuaian kapasitas dan kualitas

corak produksinya terhadap kapasitas dan kualitas corak produksi

masyarakat tradisional dunia ketiga, salah satunya dengan cara

mengadakan program berkelanjutan yang berbasis CSR terhadap

masyarakat tradisional/local Host Country. Oleh karena itu, banyak dari

penelitian terdahulu yang telah membuktikan bahwa fungsi CSR sedikit

banyak memberikan kontribusi positif yang memberikan pengaruh, baik

pengaruh pada skala kecil sampai kepada pengaruh yang sigfnifikan, yaing

tidak lain berorientasi baik dalam hal pengentasan masalah dari

masyarakat local dan lingkungan sekitar terkait aktivitas produksi, maupun

31
32

dalam hal pengembangan masyarakat dan lingkungan sekitar di Host

Country itu sendiri. selain itu, berbagai CSR yang dijalankan MNC juga

diasumsikan sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan citra atau

membangun image positif terhadap MNC atau negara MNC itu sendiri.

Meskipun tidak jarang, fungsi CSR yang dibawa MNC masuk ke dalam

Host Country banyak menemui kendala bahkan kegagalan dalam

pelaksanaannya, yang mana proses dan tujuan tidak sesuai dengan harapan

atau sangat jauh dari tujuan dasar sebagaimana deifnisi yang inheren

dalam konsep CSR itu sendiri.

Adapun penelitian terdahulu yang berupaya mengentaskan

permasalahan lingkungan dari dampak aktivitas produksi di negara Host

Country melalui program CSR MNC yang berbasis lingkungan yakni

adanya Environment Sustainability Program yang dilakukan oleh PT.

Newmont Nusa Tenggara (NNT) yang berfokus membahas serta memberi

solusi dari masalah dan potensi permasalhan lingkungan pada wilayah

Sumbawa Barat. Adapun yang dibahas pada penelitian ini yaitu akan

mengarah pada CSR yang focus membahas tentang perkembangan dan

pembangunan terhadap masyarakat, lingkungan, serta pola aktivitas

produksi di negara Host Country yang secara khusus membahas tentang

pengembangan pola aktivitas masyarakat petani kopi di Indonesia,

khususnya di Sumatera Utara, pun dengan output biji kopi yang

dihasilkan.

32
33

C. Konsep Corporate Social Responsibility (CSR)

Pembangunan suatu negara bukan hanya tanggung jawab

pemerintah saja, setiap warga negara berperan untuk

mewujudkankesejahteraan social dan peningkatan kualitas hikdup

masyarakat. Ada tiga golongan yang berperan penting dalam

pembangunan sebuah negara: Pemerintah (Government), Masyarakat

(Citizen/People/Community), dan Dunia Usaha (Corporate). Dunia usaha

harus berperan mendorong pertumbuhan ekonomi yang sehat dengan

mempertimbangkan pula masyarakat dan lingkungan hidup.

Kini dunia usaha tidak lagi hanya memperhatikan catatan keuangan

perusahaan semata (Single bottom line), melainkan sudah meliputi aspek

keuangan, aspek social, dan aspek lingkungan, yang ketiga hal tersebut

dirangkum ke dalam istilah yang biasa dikenal dengan Triple bottom line.

Sinergi dari tiga elemen ini merupakankunci dari konsep pembangunan

berkelanjutan (sustainable development). Perusahaan dalam hal ini

dibebani tanggung jawab social untuk ikut mensejahterakan warga negara

yang ada di sekitarnya [ CITATION Gun09 \l 1033 ].

Konsep “triple bottom line” muncul disebabkan oleh adanya

paradigm bisnis yang mengalami evolusi sejalan dengan adanya

perkembangan tuntutan perlakuan yang berkeadilan dan kesadaran untuk

menjalankantata kelola berkelanjutan, yang kemudian menumbuhkan

pemahaman baru bahwa tujuan entitas bisnis tidak semerta-merta

membahas dan mengejar soal laba, namun mencakup juga ketiga aspek

yang terdapat dalam triple bottom line sebagai pelengkap manfaat bagi

33
34

lingkungan social dan kontribusi terhadap pelestarian alam [ CITATION

DrM16 \l 1033 ]. Konsep triple bottom line juga merupakan platform baru

yang mulai menjadi kiblat falsafah bisnis yang sejalan dengan ekspektasi

pemangku kepentingan. Pengabaian terhadap trilogy aspek profit, people

and planet, akan direspon negative oleh pelanggan, mitra, investor

maupun pendapat umum [ CITATION DrM16 \l 1033 ].

Selain itu, pengertian Corporate Social Responsibility (CSR), juga

bisa diartikan sebagai upaya dari perusahaan untuk menaikkan citranya di

mata public dengan membuat program-program amal, baik yang bersifat

eksternal maupun internal. Program eksternal yakni dengan menjalankan

kemitraan (partnership) dengan melibatkan seluruh pemangku

kepentingan (stakeholder) untuk menunjukkan kepedulian perusahaan

terhadap masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Sedangkan secara internal

yakni perusahaan mampu berproduksi dengan baik, mencapai profit yang

maksimal dan mensejahterakan karyawannya [ CITATION Gun09 \l 1033 ].

Lebih lanjut, berikut merupakan beberapa substansi penting untuk

dapat memahami konsep CSR secara komprehensif, yang secara lengkap

dan efektif telah dirangkum dalam buku Dr. Mohammad A. Ghani yang

berjudul “Model CSR Berbasis Komunitas – Integrasi Penerapan

Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Korporasi” pada tahun 2016.

Adapun, uraian ini sedikit banyak telah mengacu dan memadukan, serta

mengelaborasi panduan penerapan CSR yang berbasis standar ISO 26000,

pun prosedur pelaporan keberlanjutan (sustainability reporting),

34
35

sebagaimana yang lazim diadopsi tata kelola CSR perusahaan

multinasional pada umumnya [ CITATION DrM16 \l 1033 ]:

1. Relasi Perusahaan dengan Masyarakat

Keberadaan suatu bisnis di suatu wilayah memiliki visi

strategis terhadap pertumbuhan ekonomi kawasan. Terbukanya

kesempatan kerja dan tumbuhnya peluang usaha terkait merupakan

efek pengganda (multiplier effect) yang diperoleh atas adanya aktivitas

usaha di suatu wilayah. Pada sisi lain, dampak social dan lingkungan

seringkali kurang memperoleh perhatian dan antisipasi yang

proporsional.

Mendesain format bisnis yang ramah terhadap masyarakat

sekitar dan lingkungan alam merupakan tantangan yang selalu relevan

agar aktivitas usaha bisa memberikan banyak manfaat terhadap

kesejahteraan masyarakat dengan dampak pencemaran yang minimal.

Pelibatan pemangku kepentingan dalam setiap tahapan proses

merupakan kata kunci untuk mempertemukan kepentingan perusahaan

dengan masyarakat serta antara kepentingan masa kini dengan generasi

mendatang.

a. Kontribusi Perusahaan terhadap Ekonomi Kawasan

Merujuk pada teori kutub pertumbuhan, dinyatakan bahwa

dalam suatu wilayah, adanya penduduk atau kegiatan ekonomi

yang terkonsentrasi pada suatu tempat akanmenjadi pusat

pertumbuhan (growth pole) bagi daerah sekitarnya. Kluster

industry, pusat perdagangan, kawasan perkebunan atau

35
36

pertambangan merupakan simpul ekonomi yang menggerakkan

kawasan di sekitarnya. Sebaliknya, daerah di luar pusat konsentrasi

seperti daerah pedalaman, wilayah belakang, daerah pertanian atau

daerah pedesaan disebut sebagai hinterland. Keuntungan

terkonsentrasinya kegiatan ekonomi di suatu kawasan adalah

terciptanya skala ekonomis karena proses produksi terspesialisasi,

terkonsentrasi serta terintegrasi rantai pasoknya (supply chain)

sehingga tercapai kesetimbangan biaya yang efisien. Keberadaan

industry di suatu wilayah juga membuka peluang terciptanya

hubungan kemitraan yang konstruktif antara perusahaan dengan

masyarakat sekitar.

b. Konflik Kepentingan antara Perusahaan dengan Masyarakat

Frekuensi konflik antara pelaku usaha dengan masyarakat

pada industry yang dibangun di kawasan remote area relative lebih

sering terjadi dibandingkan di perkotaan. Beberapa aspek yang

menjadi pencetus konflik sangat beragam, sebagaimana uraian

berikut:

1) Kepemilikan dan Batas lahan


Konflik lahan menjadi permasalahan yang kerap terjadi
pada pembangunan kawasan perkebunan maupun
pertambangan. Seringkali izin prinsip dari pemerintah
kabupaten tidak terperinci sehingga bisa jadi izin yang
diberikan tumpang tindih dengan kawasan hutan dengan
perusahaan lain atau dengan lahan masyarakat. Konflik dengan
masyarakat juga bisa terjadi karena areal perusahaan dituntut
oleh masyarakat sebagai tanah ulayat.

36
37

Kebiasaan masyarakat yang selama ini bebas

memanfaatkan hasil hutan untuk kepentingannya menjadi

terhambat dengan adanya klaim dari perusahaan yang akan

membuka areal tersebut untuk kegiatan investasi. Pembatasan

akses masyarakat terhadap kawasan hutan yang selama ini

dianggap milik masyarakat harus dikomunikasikan dengan

saksama oleh pemerintah maupun perusahaan, sehingga tidak

menimbulkan kesalahpahaman yang bisa memicu konflik

terbuka.

2) Distribusi Ekonomi
Keberadaan perusahaan membuka kegiatan di suatu

wilayah akan memicu tumbuhnya kesempatan kerja dan

peluang ekonomi baru di wilayah tersebut. Ironisnya, penduduk

local umumnya kalah bersaing dengan pendatang, yang relative

lebih gigih dan professional. Tanpa memberikan proteksi

kepada masyarakat sekitar, sudah bisa dipastikan mereka akan

termarjinalkan dan tak sanggup berkompetisi dengan

pendatang. Akan timbul kesenjangan ekonomi dan kesempatan

kerja yang bisa memicu konflik. Masyarakat bisa

mempersalahkan perusahaan karena dianggap tidak adil

mendistribusikan kesempatan ekonomi kepada penduduk

sekitar.

37
38

3) Kepastian Hukum
Penerapan hokum di daerah remote area terkadang

berbeda dengan daerah yang lebih maju. Bukti kepemilikan

lahan seperti Hak Guna Usaha (HGU), Hak Guna Bangunan

(HGB), maupun Izin Usaha Penambangan (IUP), tidak cukup

untuk menjamin keamanan berusaha, tanpa melakukan

pendekatan dengan masyarakat. Peraturan yang dikeluarkan

pemerintah pusat dan daerah terkadang tidak diakui

sepenuhnya oleh masyarakat. Diperlukan pendekatan khusus

agar perusahaan dapat mengolah lahannya tanpa gangguan

masyarakat.

4) Kesenjangan Sosial Budaya


Masuknya investasi ke suatu wilayah akan diikuti

denganpembentukan budaya baru yang berbeda dengan adat

kebiasaan dan paranata social masyarakat pedesaan. Terjadi

kesenjangan tingkat pendidikan, cara andang, dan nilai-nilai

yang dianut antara masyarakat dengan pendatang. Budaya

meritokrasi, yang dibawa oleh perusahaan, tentu berbeda

denganbudaya gotong royong. Tradisi saling menenggang dan

kecenderungan menjaga harmoni, telah lama dipraktikkan oleh

masyarakat pedesaan yang masih memegang teguh tradisi.

Penerapan disiplin, pengaturan jam kerja yang ketat, dan

pembebanan target kerja yang dipraktikkan dalam kultur

korporasi, bisa menimbulkan ketidaknyamanan bagi pekerja

38
39

yang berasal dari masyarakat sekitar. Perbedaan social-budaya,

antara komunitas pendatang dengan masyarakat sekitar,

merupakan salah satu sebab yang bisa memicu konflik antara

masyarakat asli dengan pendatang. Proses adaptasi untuk

mengubah kultur tradisional menjadi kultur korporasi

merupakan masa kritis yang harus dikelola dengan hati-hati,

agar tidak menimbulkan keresahan atau bahkan memicu

terjadinya konflik terbuka.

5) Resolusi Konflik
Konflik social adalah benturan yang terjadi antara dua

pihak atau lebih yang disebabkan adanya perbedaan nilai,

status, kekuasaan, dan atau adanya kelangkaan sumber daya

melampaui kebutuhan. Menurut Soekanto (2002), konflik

adalah suatu proses social di mana individu atau kelompok

berusaha memenuhi tujuannya dengan jalan menantang pihak

lawan dengan ancaman atau kekerasan. Sementara konflik

laten, terjadi akibat adanya ertentangan antara satu pihak

terhadap pihak lain yang terjadi karena ketidakcocokan atau

adanya perseteruan yang sudah berlangsung lama dan sumber

konfliknya bersifat substansial. konflik juga bisa terjadi karena

adanya keterbatasan sumber daya sehingga antar perorangan

atau sekelompok orang berebut untuk memenuhi kebutuhan

dan keinginannya. Perbedaan sudut pandang, pendapat dan

39
40

kepentingan terhadap sesuatu hal juga bisa menimbulkan

konflik.

adapun resolusi konflik yang terjadi apntara perusahaan

dan masyarakat pada umumnya terdiri dari dua cara, yakni

upaya preventive (pencegahan) dan mekanisme penyelesaian

konflik (apabila konflik sedang dan masih berlangsung atau

sudah berlangsung). Adapun upaya preventif di antaranya yaitu

dengan cara desain kawasan industri, penyerapan tenaga dari

penduduk setempat, menjadikan masyarakat sebagai mitra

usaha, mengoptimalisasi modal social, penerapan teknologi

ramah lingkungan, dan yang terakhir tanggung jawab social

perusahaan (CSR). Di antara semua bentuk upaya preventif

yang ada tersebut, CSR dinilai memeiliki pendekatan yang

lebih terstruktur dan tersistem dijabarkan dengan melaksanakan

tanggung jawab social dan lingkungan yang dilakukan

perusahaan kepada msayarakat sekitar dan pemangku

kepentingan lainnya.

Adapun mekanisme penyelesaian konflik dilakukan

dengan cara antara lain melalui penyelesaian/perundingan

langsung, mediator (Arbitrasei), pengadilan, dan pendekatan

otoritatif.

Berikut simplifikasi kompleksitas relasi antara

perusahaan dengan masyarakat yang secara sederhana dapat

dilihat melalui gambar ilustrasi ini:

40
41

Gambar 2: Relasi antara Perusahaan dengan masyarakat

Sumber: Model CSR Berbasis Komunitas - Integrasi Penerapan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan

Korporasi)

2. Peran CSR dalam PembangunanWilayah

Dalam perencanaan pembangunan wilayah, peran sector public

dan swasta sangat menentukan, sector public diwakili oleh pemerintah,

lebih berperan memfasilitasi dan mempromosikan nilai tambah serta

melindungi kepentingan masyarakat dalam arti luas. Dijalankan

melalui pembuatan kebijakan, regulasi, pelayanan umum, dan

penyiapan infrastruktur. Sementara sector swasta atau pelaku usaha,

lebih berperan melalui aktivitas usaha yang menghasilkan barang dan

jasa. Dengan demikian, kegiatan bisnis korporasi secara langsung ata

tidak langsung, ikut berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi

wilayah. Melalui aktivitasnya, perusahaan menciptakan lapangan kerja,

menggerakkan ekonomi melalui mitra usaha yang terlibat dalam ikatan

rantai pasok, serta membayar pajak danretribusi bagi negara dan

pemerintah daerah smentara program CSR merupakan kontribusi

41
42

langsung korporasi untuk memberikan manfaat bagi masyarakat

sekiktar.

a. Pembangunan Nasional dan Pengembangan Wilayah

1) Pembangunan Nasional

Dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945

dinyatakan bahwa tujuan didirikannya Negara Kesatuan

Republik Indonesia (NKRI) adalah untuk melindungi segenap

bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan

untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan

kehidupan bangsa, dan ikut serta melaksanakan ketertiban

dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan

keadilan social. Peningkatan kesejahteraan umum, sebagai

salah satu tujuan negara, diterjemahkan dengan melakukan

pembangunan nasional.

Definisi pembangunan pada awalnya hanya

memandang dari sisi pertumbuhan ekonomi, selanjutnya

mengalami perkembangan ke arah pembangunan lebih

manusiawi. Sebagaimana dikemukakan World Development

Report (Todaro 2000), bahwa tantangan utama pembangunan

adalah memperbaiki kualitas kehidupan manusia.

Pembangunan sebagai proses, bertujuan untuk memenuhi atau

mencukupi (sustainance) kebutuhan pokok, meningkatkan

harga diri (self-esteem), dan mendapatkan kebebasan (freedom)

memilih. Pembangunan member ruang untuk memperluas

42
43

pilihan-pilihan bagi penduduk. Indikator yang mengukur

kemajuan pembangunan suatu wilayah di antaranya adalah

tingkat pendapatan dan distribusinya, penyeerapan tenaga

kerja, pendidikan, dan kemiskinan.

Menurut UU No. 25 Tahun 2004 tentang Perencanaan

Nasional, tujuan pembangunan nasional adalah a) Mendukung

koordinasi antar pelaku pembangunan sehingga tercipta

integrasi, sinkronisasi, dan sinergitas; b) Menjamin keterkaitan

dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran,

pelaksanaan, dan pengawasan; c) Mengoptimalkan partisipasi

masyarakat; serta d) Menjamin tercapainya penggunaan sumber

daya secara efisien, efektif, adil, dan berkelanjutan.

Perencanaan pembangunan dilaksanakan pada suatu

wilayah, daerah atau region yang pada umumnya diartikan

sebagai suatu ruang yang dianggap merupakan suatu kesatuan

perkembangan kehidupan fisik, social maupun ekonomi. Secara

administrasi, wilayah atau daerah adalah suatu ruang yang

dibatasi oleh batas administrasi tertentu seperti provinsi,

kabupaten, kota dan sebagainya. Secara fungsional menurut

UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, dinyatakan

bahwa wilayah bermakna kawasan, seperti kawasan lindung,

kawasan budi daya, pertanian, perumahan, dan lain-lain.

43
44

Dalam perspektif pembangunan suatu wilayah, Widodo

mendefinisikan pembangunan melalui dua pandangan yang

berbeda. Pandangan lama memahami pembangunan sebagai

berbagai upaya yang dilakukan untuk meningkatkan

pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) di tingkat

nasional atau Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di

tingkat daerah. Instrumen tersebut merupakan indicator yang

mencerminkan tingkat kemakmuran nasional atau daerah.

Pandangan lain mengguanakan indicator produksi dan

penyerapan tenaga kerja (employment). Dalam pandangan

tradisional ini, pembangunan dilakukan focus pad asebuah

sector ekonomi atau di sebuah lokasi yang dinilai strategis.

Diharapkan, hasilnya akan dapat dirasakan sector ekonomi lain

atau daerah lain yang berhubungan dengan titik tersebut, baik

secara langsung maupun tidak langsung. Namun demikian,

proses pembangunan atas pandangan tradisional masih

menyisakan berbagai permasalahan, seperti penngangguran,

kesenjangan pendapatan dan ketidakpastianperbaikan

pendapatan rill sebagian besar penduduknya.

Pembangunan dalam pengertian modern, dilihat sebagai

upaya yang tidak lagi menitikberatkan semata pada pencapaian

pertumbuhan PDB sebagai tujuan akhir, tetapi lebih kepada

upaya pengurangan tingkat kemiskinan, penanggulangan

ketimpangan kserta penyediaan lapangan kerja.

44
45

Definisi mengenai pembangunan dan pengembangan

wilayah menunjukkan bahwa pembangunan telah mengalami

pergeseran pandangan (pergeseran paradigma pembangunan).

Yang mana pada awalnya pembangunan hanya memandang

dari sisi pertumbuhan ekonomi, selanjutnya mengalami

perkembangan kea rah pembangunan yang manusiawi. Khusus

di negara-negara yang paling miskin, kualitas hidup yang lebih

baik mensyaratkan adanya pendapatan yang lebih tinggi,

sebagai salah satu dari sekian banyak syarat yang harus

dipenuhi. Banyak hal lain yang tidak kalah penting yang harus

diperjuangkan dalam pembangunan, mulai dari pendidikan

yang lebih baik, peningkatan standar kesehatan dan nutrisi,

pemberantasan kemiskinan, perbaikan kondisi lingkungan

hikdup, pemerataan kesempatan kerja, pemerataan kebebasan

individu, dan penyegaran kehidupan budaya.

Perencangan pembangunan dimulai dengan menetapkan

tujuan, berdasarkan pemetaan dan analisis kondisi awal, serta

menetapkan tahap-tahap pencapaian tujuan. Tentunya, dengan

memperhatikan factor pembatas yang ada, baik internal

maupun eksternal. Memperhatikan bahwa wilayah bersifat

multidimensial maka pendekatan sektoral diperlukan dalam

menyusun konsep perencanaan pembangunan. Adanya

keterkaitan antar sector jika satu sector mengalami perubahan

maka akan berpengaruh terhadap sector lainnya. Hal itu terjadi

45
46

karena adanya mekanisme multiplier pada setiap perubahan

yang terjadi di masyarakat.

2) Pengembangan Wilayah

Rustiadi et al. (2009) mendefinisikan wilayah sebagai

unit geografis dengan batas-batas tertentu yang saling terkait

dan memiliki hubungan fungsional satu dengan yang lain. Ada

tiga dimensi pengembangan wilayah, yaitu orientasi

kewilayahan, perspektif masa depan dan berpihak kepada

kepentingan public. Perencanaan pembangunan dilaksanakan

pada suatu wilayah, daerah atau region pada umumnya

diartiakan sebagai suatu ruang yang dianggap merupakan suatu

kesatuan perkembangan kehidupan fisik. Social maupun

ekonomi. Ruang merupakan satuan gegrafis beserta segenap

unsure terkait yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan

aspek administrative dan atau aspek fungsional. Secara

administrasi, wilayah atau adaerah adalah suatu ruang dengan

batas tertentu seperti wilayah provinsi, kabupaten, kota, dan

sebagainya. Secara fungsional wilayah bermakna kawasan,

yaitu seperti kawasan lindung, kawasan budi daya, kawasan

pertanian, kawasan industry, kawasan perumahan, dan lain-lain

(UU No. 26/2007)

Pengembangan wilayah adalah proses pembangunan

yang mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya secara

harmonis, serasi dan terpadu. Serta melalui pendekatan yang

46
47

komprehensif dan terintegrasi, mencakup aspek fisik, ekonomi,

social budaya, dan lingkungan hidup untuk mencapapi tujuan

pembangunan berkelanjutan. Untuk memperoleh hasil yang

optimal maka dalam pengembangan wilayah diperlukan

penataan ruang, yang elemennya terdiri dari perencanaan ruang

dan pengendalian pemanfaatan ruang. Pendekatan

pengembangan wilayah berkelanjutan harus memperhatikan

interaksi manusia dengan lingkungan geografis. Pengembangan

wilayah dilaksanakanmelalui aktivitas pembangunan wilayah.

Dengan focus pembangunan di sebuah kawasan.

Diharapkan,hasil proses pembangunan dapat dirasakansektor

ekonomi lain atau daerah lain yang berhubungan dengan

kawasan tersebut. Nachrowi dalam Alkadri et al. (2001)

menyatakan, minimal ada tiga komponen wilaya yang perlu

diperhatikan sebagaipilar pembangunan, yaitu sumber daya

alam, sumber daya manusia, dan teknologi. Salah satu pilar

yang cukup penting adalah sumber daya manusia (SDM)

karena keberadaannya dibutuhkan untuk menggerakkan seluruh

sumber daya wilayah yang ada. SDM mempunyaiperan ganda

sebagai objek maupun subjek pembangunan. Sebagai objek

merupakan sasaran pembangunan untuk kesejahteraan dan

sebagai subjek berperan sebagai pelaku pembangunan.

Keberhasilan pembangunan sangat ditentukan oleh pelakunya.

Konsep pembangunan sesungguhnya adalah pembangunan

47
48

manusia (human development), yaitu pembangunan yang

berorientasi kepada manusia (people centered development).

Pembangunan wilayah lebih memfokuskan pada pilar

pembangunan manusia dibandingkan dengan pembangunan

sumber daya yang lain dari suatu wilayah. Manusia berkualitas

sebagai pelaku pembangunan, akan menggerakkan dan

memanfaatkan sumber daya pembangunan lain scara optimal.

Pada akhirnya, akan terwujud kesejahteraan masyarakat dan

berlangsung proses pembangunan yang berkelanjutan. Untuk

daatmewujudkan hal tersebut di atas, perlu melibatkan

masyarakat dalam keseluruhan proses pembangunan, sejak dari

perencanaan, pelaksanaan, monitoring, pembangunan

berkelanjutan harus memenuhi kebutuhan generasi kini, tanpa

membahayakan kemampuan pemenuhankebutuhan generasi

mendatang.

b. CSR dan Kesejahteraan Masyarakat


Ada dua dimensi CSR, yaitu dari perspektif perusahan dan

dari perspektif masyarakat sekitar. Program CSR yang berhasil

akan menciptakan hubungan harmonis antara perusahaan dengan

masyarakat. Kebijakan melibatkan masyarakat sekitar dalam rantai

pasok, yaitu memposisikan masyarakat sebagai sumber tenaga

kerja dan mitra bisnis dapat meningkatkan ketahanan dan efisiensi

usaha. Adapun perusahaan yang menjalankan tanggung jawab

social terhadap masyarakat, akan diapresiasi positif oleh

48
49

konsumen, pemegang saham dan masyarakat umum. Output-nya

bukan hanya peraihan laba yang naik, namun nilai perusahaan juga

mengalami peningkatan.

Pemikiran tersebut berangkat dari berubahnya motive

didirikannya entitas bisnis, sejalan dengan cara pandang share

holder dan stakeholder. Pandangan lama yang menyatakan bahwa

tujuan suatu badan usaha semata untuk memperoleh laba (profit

oriented), kini mengalami pergeseran. Meningkatnya nilai saham

(share value) perusahaan dapat diterjemahkan sebagai

bertambahnya harta (equity) perusahan. Persepsi positif pelanggan,

mitra, dan stakeholder sangat menentukan nilai ekspektasi suatu

perusahaan. Dengan demikian, citra yang dibangun perusahaan

dapat dinilai sebagai keunggulan “intangible” dan berpotensi

bisamenaikkan harga saham. Reputasi menjalankan proses

produksi yang bertanggung jawab secara social, ekonomi, dan

lingkungan akan memengaruhi citra dan persepsi stakeholder

terhadap perusahaan tersebut.

Kesadaran masyarakat dan konsumen yang meningkat

terhadap masalah lingkungan, telah memengaruhi preferensinya

terhadap suatu produk atau jasa yang dihasilkan. Tuntutan

konsumen kini sudah mencakup hal-hal lebih luas dari sekadar

kualitas produk dan harga jual (beyong qeuality and price).

Sebagai contoh, perlakuan perusahaan terhadap komunitas sekitar,

kini menjadi perhatian konsumen. Perusahaan yang

49
50

memperhatikan komunitas (people, social, environment),

diasosiasikan sebagai perusahaan yang memiliki komitmen tinggi

terhadap lingkungan sekitar. Demikian juga, komitmen perusahaan

terhadap pelestarian alam, (planet, physical environment), kini

menjadi isu yang disorot pemerhati lingkungan internasional.

Perusahaan yang mengabaikan aspek

konservasilingkungan, bisa jadi akan dicitrakan negative oleh

masyarakat umum. Implikasinya, bisa berwujud pemboikotan

terhadap roduk perusahaan tersebut. Hal itu dicontohkan dengan

kasus salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit Indonesia,

yang diboikot oleh pembeli utamanya di luar negeri karena dinilai

kurang bertanggung jawab mengelola pelestarian lingkungan.

Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM/Non-Governmental

Organization/NGO) Eropa dan Amerika seperti Greenpeace, telah

menekan prosesor minyak kelapa sawit untuk tidak

menggunakanminyak sawit (Crode Palm Oil/CPO), dari

perusahaan yang dianggap abai terhadap komitmen lingkungan.

Tekanan consume Eropa demikian kuat sehingga bagi perusahaan

tersebut lebih aman mengikuti anjuran NGO daripada produknya

diboikot konsumen.

Kesadaran baha tujuan didirikannya suatu entitas bisnis

adalah bukan semata-mata untuk mencari keuntunan. Dunia usaha

juga dituntut perannya untuk ikut meningkatkan value creation

yang dijabarkan menjadi konsep Triple Bottom Line, sebagaimana

50
51

yang digagas oleh John Elkington (1997). Yaitu, komitmen untuk

memberikan mafaat social ekonomi bagi masyarakat sekitar, serta

ikut bertanggung jawab dalam aksi konservasi lingkungan,

sebagaimana dikenal dalam konsep “Triple P” yang terdiri atas tiga

elemen yaitu dari profit, people, and planet.

Peran perusahaan dalam program tanggung jawab social

danlingkungan, dilihat dari kepentingan masyarakat yang disasar

adalah sebagai pemberi bantuan, berupa kredit lunak, hibah dan

pembangunan infrastruktur. Manfaat program secara langsung dan

tidak langsung adalah dalam rangka ikut membantu masyarakat

untuk menyelesaikan permasalahan mereka di bidang social,

ekonomi dan budaya.

Pelaksanaan program CSR yang berhasil, dampaknya akan

ikut mengangkat kesejahteraan mereka. Sekaligus berkontribusi

memberdayakan masyarakat membangun kemandirian. Dengan

membantu masyarakat sekitar melalui program CSR maka pada

dasarnya perusahaan telah ikut berkontribusi memperkuat

pengembangan dan pembangunan wilayah atau kawasan.

Demikian juga, melalui kebijakan perusahaan yang membangun

kemitraan usaha dengan masyarakat sekitar juga menjadi

instrument yang membantu atau menciptakan efek pengganda bagi

pertumbuhan wilayah dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat

yang berada di sekitar kawasan usaha.

51
52

Peran CSR dalam pengembangan wilayah dapat dilihat

pada ilustrasi berikut.

Gambar 3: Peran CSR dalam pengembangan wilayah

Sumber: Model CSR Berbasis Komunitas - Integrasi Penerapan Tanggung

Jawab Sosial dan Lingkungan Korporasi)

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Implementasi CSR

a. Kesadaran Etis Pebisnis

Kesadaran etis untuk berbisnis secara adil, merupakan cikal

bakal tumbuhnya rasa tanggung jawab social perusahaan kepada

52
53

masyarakat dalam bentuknyayang paling sederhana, yaitu

memberikan sumbangsih kepada masyarakat sekitar. Sikap

karikatif yang mendonasikan sebagian kelimpahan harta kepada

orang lain, juga didorong oleh nilai-nilai spiritualitas yang

menajarkan perilaku bermanfaat untuk sesame. Konsep pemberian

zakat, amal jariyah, keinginan berderma, dilandasi olehnilai-nilai

etis dandorongan yang bersifat transcendant (ilahiyah).

Pebisnis menyadari bahwaperusahaan dan masyarakat

merupakanbagiandari komuitas. Dalam perspektif ruang

kewilayahan, merupakan satu kesatuan yang akan saling

terpengaruh satu sama lain. Eksistensi entitas bisnis di suatu

kawasan, sudah semestinya bias membangun harmonisasi

hubungan antar subkultur social serta keseimbangan social,

ekonomi, dan lingkungan. Kontribusi perusahaan melalui aktivitas

social, ekonomi, dan pelestarian lingkungan akan membantu

menjaga dinamika hubungan yang telah terbentuk, di antara

anggota masyaraakt dalam satu kawasan.

Motivasi untuk menjaga kelangsungan bisnis, merupakan

salah satu alas an korporasi menjalankan program CSR. Pebisnis

menyadari, bahwa mendapatkan laba pada hariini, tidak boleh

mengabaikan kelangsungan hidup dan kepentingan generasi masa

yang akan dating. Diperlukan tanggung jawab social perusahaan

untuk memeilihara aspek social, ekonomi, dan lingkungan yang

menjamin terciptanya iklim yang mendukung keberlangsungan

53
54

bisnis. Lingkungan yang sejatera secara social ekonomi, akan

menciptakan atmosfer yang kondusif bagi keamanan dan

kelangsungan bisnis dalam perspektif kewilayahan. Sebaliknya,

adanya kesenjangan social ekonomi, akanenciptakan kecemburuan

yang bias meningkat menjadi keresahan, bahkan juga berpotensi

bias menimbulkan gangguan kriminalitas, yang dampaknya dapat

menimbulkan ketidaknyamanan iklim berusaha. Akan terjadi

distabilitas atau kesenjangan yang dapat memengaruhi

kondusivitas social ekonomi dalam satu kawasan.

Membangun hubungan yang kuat dan saling bergantung

(nterdependent), antar subkultur, bias menjadi sumber motivasi

perusahaan melibatkan masyarakat sekitar, sebagai mitra bisnis

dalam system rantai pasok akan menciptakan hubungan saling

menguntungkan. Dampaknya, masyarakat sekitar akan ikut

mendukung terciptanya iklim berusaha yang kondusif, agar

kepentingannya sebagai mata rantai bisnis juga terpelihara.

Hubungan ini menjadi modalitas social untuk menjadi peredam

jika sewaktu-waktu terjadi konflik antara perusahaan dengan

masyarakat sekitar.

Interaksi social yang intens dan harmonis dengan

masyarakat, akanmenjamin terciptanya kenyamanan hubungan

social bagi karyawan perusahaan, terutama yang berasal dan atau

berdomisili bersama masyarakat sekitar. Karyawan perusahaan

akan merasa nyaman berinteraksi dengan masyarakat sekitar yang

54
55

kepentingan social ekonominya terakomodasi. Intensitas hubungan

bias berkembang menjadi ikatan persaudaraan atau ikatan

perkawinan. Hal ini akan semakin memperkuat hubungan

kekerabatan antara akryawan dengan masyarakat. Dampak

positifnya, retensi karyawan akanterjaga apabila setiap orang

merasa nyaman berkarya di suatu lingkungan kerja yang kondusif.

Dari perspektif legitimasi social, perlu dibangun hubungan

yang harmonis dengan masyarakat sekitar. Pengalaman CSR bias

menjadi instrument untuk mempeoleh legitimasi social. Ada

pengakuan dari masyarakat bahwa keberadaan perusahaan,

merupakansebuah keniscayaan serta memberikanmanfaat bagi satu

kesatuan bersama masyarakat. Tidak ada kekhawatiran perusahaan

untuk menjalankan usaha. Masyasrakat memberikan dukungan

social terhadap kelangsungan masa depan perusahaan.

Perusahaan yang mampu menjaga hubungan harmonis, dan

tiadanya konflik dengan masyarakat sekitar akanmeningkatkan

citra perusahaan dan bias mengangkat nilai perusahaan di mata

investor dan calon investor. Momentum menjaga hubungan social

yang kondusif penting, terutama bagi perusahaan yang sudah go

public (mencatatkan sahamnya di bursa saham)yang bias

terkapitalisasi menjadi intangible asset. Apresiasi investor

diwujudkan dalam bentuk penilaian yang tinggi saham perusahaan

di atas nilai pari-nya, serta menimbulkan rasa bangga, ikut

55
56

memiliki saham perusahaan yang reputasinya terhormat,

khususnya dari aspek tanggung jawab social dan lingkungan.

Kapasitas perusahaan yang mampu menjaga hubungan

harmonis dengan masyarakat sekitar juga menjadi instrument

branding dan positioning terhadap competitor. Sebagai bagian dari

diferensiasi nilai-nilai danpenghormatan terhadap etika dan

moralitas. Investor dan customer merasa nyaman dengan praktik

perusahaan yang menjalankan tanggung jawab social.

Keterpanggilan pebisnis untuk mempertemukan ekspektasi

masyarakat, juga merupakan salah satu motivasi CSR. Pebisnis

sadar bahwa kekecewaan dan ketidakpercayaan masyarakat

terhadap perusahaan, berpotensi memengaruhi proses,

performance, dan bahkan kelangsungan hidup suatu entitas bisnis.

b. Tuntutan Masyarakat Sekitar

Meningkatnya pendidikan dan pengetahuan masyarakat,

mendorong kesadaran mereka tentang hak dan kewajiban sebagai

warga Negara, termasuk tuntutan tanggung jawab pelaku bisnis

kepada masyarakat. Tuntutan jaminan keberlanjutan pelestarian

lingkungan hidup juga menyadarkan masyarakat bahwa potensi

pencemaran yang disebabkan oleh aktivitas industry akan

berdampak langsung kepada masyarakat tanpa terkecuali, apakah

sebagai pekerja industry atau masyarakat biasa. Adanya potensi

risiko yang akan mereka hadapi, mendorong munculnya tuntutan

56
57

kepada perusahaan untujk memberikan kompensasi yang seimbang

kepada masyarakat sekitar.

Kehadiran industry dan masuknya penduduk dari luar

wilayah dapat dipastikan akan diikuti perubahaan struktur dan

tatanan social. Akanada pergeseran pola bisnis danmunculnya

pesaing baru dalam kehidupan social ekonomi masyarakat.

Kekkhawatiran tersebut akanmendorong masyarakat menjadi

semakin kritis menyuarakan aspirasinya. Terutama tatkala ada

perilaku perusahaan yang berpotensi bersinggungan atau

merugikan kepentingannya. Masyarakat juga mudah bereaksi

tatkala menemukan kebijakanperusahaan yang menginggung rasa

keadilan mereka. Pendektatan tanggung jawab social menjadi

pilihan perusahaan untuk meredam potensi ketidakpuasan yang

bias meningkat eskalasinya menjadi konflik terbuka. Melalui

aktivitas CSR diharapakan sebagian aspirasi masyarakat

terakomodasi serta mendekatkan interaksi perusahaan dengan

masyarakat.

Dalam persepektif teori stakeholder, masyarakat

merupakan salah satu pemangku kepentingan yang hak-haknya

harus dihormati. Keberadaan masyarakat sekitar, umumnya telah

ada sebelum industry dibangun, sehingga sudah selayaknya mereka

diposisikan sebagai pemangku kepentingan utama yang harus

diperhatikan ekspektasinya. Program CSR dapat didedikasikan

untuk mengangkat sumber daya (resource) local dalam

57
58

menjalankan kegiatan usahanya. Lahan, sumber air dan

infrastruktur logistic, bersinggungan dengan kepentingan

masyarakat. Pada sisi lain, bias jadi perusahaan membuat kebijakan

yang membatasi akses masyarakat terhadap infrastruktur jalan,

jembatan dan sumber air irigasi atau air minum. Pembatasan

tersebut jika tidak disosialisasikan dan dinegosiasikan dengan baik,

berpotensi menjadi sumber konflik denganmasyarakat. Untuk itu,

wajarlah perusahaan memberikan kompensasi kepada masyarakat

melalui pelaksanaan program tanggung jawa social dan

lingkungan.

Tuntutan kepada perusahaan juga didasari oleh

pengetahuan masyarakat bahwa ada produk hokum terkait CSR

yaitu UU BUMN (UU No. 19/2003) da II {erserpam Terbatas (UU

No. 40/2007). Adanya instrument regulasi menjadi pendorong

masyarakat untuk menuntut perusahaan memberikan proram

CSRkepada emreka. Factor pendorong lainnya adalah advokasi

didukung leh kalangan LSM yang membangun kesadaran hak-hak

warga masyarakat. Tuntutan masyrakat juga bias berkembang

bukan hanya mengharapkan bantuan program CSR namun juga

keinginan untuk diperhatikan dalam prioritas rekrutmen pekerja

atau diikutsertakan sebagai mitra dalam proses bisnis. Dalam

menyuarakan aspirasinya, masyarakat bias menyalurkannya secara

langsung, tokoh masyarakat, lembaga swadaya masyarakat atau

melalui pemerintah daerah.

58
59

c. Peran Pemerintah

Pemerinah bersama parlemen adalah regulator kebijakan

public yang mengatur antara lain tentang hak-hak dan kewajiban

warga Negara, termasuk tanggung jawab social perusahaan.

Kebijakan turunan juga menjadi domain pemerintah untuk

mengatur tata laksana CSR mulai dari perencanaan, pelaksanaan

dan evaluasinya. Dengan kewenagnan yang dimiliki, pemerintah

bias memaksa agar ketentuan tentang CSR dijalankan dengan

konsisten.

Pemerintah daerah (Pemda) juga memiliki otoritas untuk

mengkoordinasi pelaksanaan program CSR agar selaras dengan

keijakan pemerintah. Pemda memiliki aparat birokrasi yang bias

mengawasi dan menjalankan pelaksanaan kebijakan public. Peran

koordinasi bisa dijalankan dengan menerapkan ketentuan yang

mewajibkan masyarakat dan perusahaan mengonsultasikan

pelaksanaan program CSR dengan Pemda. Rekomendasi pejaba

pemerintah menjadi mandatory sebelum CSR dilaksanakan. Salah

satu sasaran koordinasi adalah agar antara kebijakan pembangunan

pemerintah dengan praktik CSR tidak overlapping atau bahkan

saling berlawanan.

Pemerintah juga bisa berperan sebagai mediator antara

perusahaan dengan masyarakat dalam penyelesaian tuntutan dan

konflik di antara keduanya. Penndekatan CSR yang diinisiasi

pemerintah merpakan bagian dari solusi penyelesaian masalah.

59
60

Pemerintah bisa berinisiatif meminta bantuan perusahaan untuk

mendukunng kegiatan social budaya, yang pendanaannya tidak

sepenuhnya terpenuhi dari anggaran pemerintah. Perusahaan

memperoleh manfaat, misalnya dengan menempatkan logo

perusahaan sebagai sponsor. adamekanisme advertensi dan

pencitraan dengan mendudkung event yang digagas Pemda. Hal

yang sama aanberlaku apabila inisiatif kegiatan adalah masyarakat

sekitar. Pemerintah bisasebagai inisiator atau pendukung utama

pengembangan gagasan yang melibatkan pihak swasta dalam

penyediaanlayanan social, seperti pengobatan gratis, pelayanan

masyarakat kelompok disabilitas, danbantuan kepada kelompok

marjinal lainnya.

Pemerintah melalui fasilitas balai latihan kerja dan satuan

kerja perangkat daerah (SKPD), dapat menyelenggarakan pelatihan

bagi masyarakat dari perusahaan tentang tata laksana program

CSR. Meliputi metodologi pemilihan isu yang relevan,

perencanaan dan pelaksanaan CSR. Pelatihan tentang manajemen

proyek dapat diberikan kepada masyarakat agar mampu

mengorganisasi pelaksanaan CSR. Pengetahuan tentang

identifikasi permasalahan dan evaluasi pasca program untujk

menganalisis manfaat pelaksaan CSR bagi masyarakt. Tujuannya

adalah membantu masyarakat menyelenggarakan program CSR

secara mandiri.

60
61

d. Tuntutan Konsumen dan Investor

Kecenderungan konsumen memilih suatu produk ata jasa

dipengaruhi oleh banyak hal. Salah satunya adalah tingkat daya

beli masyarakat. Lapisan menengah ke bawah pada umumnya

menjadikan aspek harga sebagai dasar utama pertimbangan.

Sementara kalangan menengah ke atas, mut, dan citra produk

menjadi dasar pilihan. Bagi kalangan tertentu, perspektif dan

ekspektasi suatu produk serta standar etik produsen merupakan

pertimbangan utama. Aspirasi konsumen cukup kuat membangun

opini terhadap produk, proses dan produsennya. Suara konsumen

harus didengar produsen agar mereka tidak berpindah ke produk

lain. Membangun hubungan dengan konsumen melalui

pembentukan citra produk dan proses produksi, akan membuahkan

terbentuknya struktur pasar yang captive market. Konsumen

memiliki kekuatan memengaruhi produsen mematuhi etika bisnis

dalam proses produksi, distribusi, dan proses bisnis.

Dalam operasional perusahaan, Ada kecenderungan, bahwa

sebagai wujud komitmen tanggung jawab social dan lingkungan

maka laporan keuangan (annual report) saat ini tidak hanya

memuat laporan kinerja operasional dan keungan. Perusahaan yang

menerapkan etika bisnis melampaui (beyond) ekspektasi

konsumen, akan meningkat positioning-nya di mata pelanggan.

Laporan pelaksanaan CSR dan program pelestarian lingkungan

menjadi isu penting sebagai bagian dari akuntabilitas kepada

61
62

pemangku kepentingan dan shareholder. Sebagai contoh, The

Body Shop, produsen kosmetik, telah mampu membangun image

dan dikenal sebagai perusahaan yang sangat concern dan memiliki

komitmen tinggi dengan kelestarian lingkungan. Perusahaan

tersebut memiliki konsep produk ramah lingkungan dan tradisi

yang konsisten menggunakan hewan sebagai objek percobaan.

Dampaknya, The Body Shop memperoleh kehormatan tinggi

sebagai perusahaan yang bertanggung jawab terhadap kelestarian

alam. Biaya yang telah dikeluarkan untuk menerapkan proses

produksi ramah lingkungan telah terkompensasi dengan kesediaan

konsumen membeli produk lebih dari pesaing. Fakta tersebut

menunjukkan bahwa citra perusahaan dapat dibangun melalui

pelaksanaan tanggung jawab social dan lingkungan. Perusahaan

lain yang membangun icon lingkungan di antaranya adalah Shell,

British Petrolium, Cevron, dan Starbucks.

Seperti halnya perusahaan Starbucks Coffee pada konteks

penelitian ini, mengagendakan program CSR secara berkelanjutan

untuk membangun icon lingkungan yang menyasar khusus pada

entitas petani kopi untuk meningkatkan kualitas bertani kopi, yang

juga menghasilkan biji kopi berkualitas premium. Upaya Starbucks

Coffee dalam program CSR tersebut tentu menuai penilaian

positive sekaligus positioning tersendiri, baik terhadap konsumen,

maupun terhadap masyarakat secara umum.

62
63

BAB III

GAMBARAN UMUM

A. Kopi di Indonesia

1. Arti Penting Kopi di Indonesia

Indonesia adalah salah satu penghasil kopi terbesar di dunia..

Dalam skala tahunan, merujuk pada data dari FAO (Food and

Agricultural Organization) tahun 2017, Indonesia merupakan Negara

penghasil kopi terbesar keempat dunia setelah Brazil, Vietnam, dan

Kolombia [ CITATION Pan19 \l 1033 ] . Brazil sebagai penghasil kopi

terbesar dunia mampu meproduksi-kopi sebanyak 2,6 juta ton, disusul

Vietnam dengan jumlah produksi sebanyak 1,5 ton, Kolombia dengan

754.376 ton, dan Indonesia berada di peringkat keempat dengan

jumlah produksi sebesar 668.677 ton. Bergeser ke belakang, pada

tahun 2012, produksi kopi Indonesia mencapai 8,8% dari total

produksi dunia atau menempatkan Indonesia sebagai produsen kopi

terbesar ketiga secara global setelah Brazil dan Kolombia. Adapun,

Luas areal tanaman kopi di Indonesia pada tahun 2013 adalah terbesar

ketiga setelah sawit dan karet. Adanya Keputusan Menteri Pertanian

nomor 3399/Kpts/PD.310/10/2009 yang berisi penentuan kopi bersama

14 komoditas lainnya sebagai komoditi strategis yang menjadi

unggulan nasional yang diprioritaskan untuk difasilitasi dan

dikembangkan. Hal ini menjadi indikator kuat yang menjelaskan

bahwa komoditas kopi merupakan salah satu subsector yang memberi

63
64

urgensi serta kontribusi besar untuk efektifitas perekonomian nasional

di Indonesia.

Dengan demikian posisi Indonesia pada urutan 4 teratas

sebagai Negara produsen kopi terbesar, dapat dijadikan sebagai satu

tolak ukur bahwa komoditas perkebunan kopi di Indonesia terbilang

penting untuk pembangunan perekonomian nasional. Adapun

kontribusi komoditas kopi terhadap ekonomi nasional, antara lain:

sebagai sumber devisa Negara, pendapatan petani, pembangunan

wilayah, pendorong agribisnis dan agroindustry, pendukung konservasi

lingkungan [ CITATION Bed13 \l 1033 ] , dan penyedia lapangan kerja

melalui kegiatan pengolahan, pemasaran, dan perdagangan (ekspor

impor) [ CITATION Pol17 \l 1033 ].

Sebagai komoditas ekspor unggulan, kopi menjadi salah satu

hasil perkebunan yang diperdagangkan secara luas di pasar dunia. Data

Ekspor kopi Indonesia sampai dengan tahun 2018 volumenya tercatat

sebanyak 279,96 ribu ton yang senilai dengan US$ 815,93 [ CITATION

Bad19 \l 1033 ]. Dalam hal penciptaan lapangan kerja, komoditas kopi

memberikan lapangan kerja kepada 1.88 Juta KK dengan luas

kepemilikan rata-rata 0.6 hektar[CITATION Bed13 \p 100 \l 1033 ].

Sebagai Negara tropis, Indonesia mempunyai potensi untuk

mengembangkan industry pengolahan kopi dengan produk yang

memiliki citarasa khas. Industry kopi di Indonesia dinilai penting juga

karena termasuk sebagai salah satu industry prioritas sebagaimana

64
65

ditetapkan pada Perpres no. 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri

Nasional dan Roadmap Pengembangan Klaster Industri Pengolahan

Kopi yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri Perindustrian

No.115/M-IND/PER/10/2009. Adanya Perpres No. 28 Tahun 2008 ini

dapat dinilai sebagai titik awal Indonesia yang mengantarkan

Indoenesia mampu berdaya saing dan memperoleh predikat sebagai

salah satu Negara produsen kopi terbesar di dunia saat ini.

a. Sejarah Perkopian Di Indonesia

Data dan infomrasi mengenai Sejarah Kopi di Indonesia

berikut merupakan rujukan dari salah satu Asosiasi Kopi di

Indonesia bernama AEKI (Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi

Indonesia).

Sejarah awal kopi pertama kali masuk ke Indonesia tahun

1696, yaitu dari jenis Kopi Arabika. Kopi ini masuk melalui

Batavia (yang saat ini adalah Jakarta) yang dibawa oleh Komandan

Pasukan Belanda Adrian Van Ommen dari Malabar – India, yang

kemudian ditanam dan dikembangkan di tempat yang sekarang

dikenal dengan Pondok Kopi – Jakarta Timur, dengan

menggunakan tanah partikelir Kedaung. Sayangnya tanaman ini

kemudian mati semua oleh banjir, maka tahun 1699 didatangkan

lagi bibit-bibit baru, yang kemudian berkembang di sekitar Jakarta

dan Jawa Barat antara lain di Priangan, dan akhirnya menyebar ke

berbagai bagian di kepulauan Indonesia seperti Sumatera, Bali,

Sulawesi dan Timor [CITATION AEK \l 1033 ].

65
66

Kopi kemudian menjadi komoditas dagang yang sangat

diandalkan oleh VOC. Tahun 1706 Kopi Jawa diteliti oleh Belanda

di Amsterdam, yang kemudian tahun 1714 hasil penelitian tersebut

oleh Belanda diperkenalkan dan ditanam di Jardin des Plantes oleh

Raja Louis XIV.

Ekspor kopi Indonesia pertama kali dilakukan pada tahun

1711 oleh VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie: sebuah

organisasi persekutuan dagang asal Belanda yang memiliki

monopoli atas aktivitas perdagangan di Asia pada era kolonialisme

Hindia Belanda), dan dalam kurun waktu 10 tahun meningkat

sampai 60 ton/tahun. Hindia Belanda saat itu menjadi perkebunan

kopi pertama di luar Arab dan Ethiopia, yang menjadikan VOC

memonopoli perdagangan kopi ini dari tahun 1725 – 1780. Kopi

Jawa saat itu sangat terkenal di Eropa, sehingga orang-orang Eropa

menyebutnya dengan “secangkir Jawa”. Sampai pertengahan abad

ke 19 kopi Jawa menjadi kopi terbaik di dunia. Produksi kopi di

Jawa mengalami peningkatan yang cukup signifikan, tahun 1830 –

1834 produksi kopi Arabika mencapai 94.400 ton. Selama 1 ¾

(Satu – tiga perempat) abad kopi Arabika merupakan satu-satunya

jenis kopi komersial yang ditanam di Indonesia. Tapi kemudian

perkembangan budidaya kopi Arabika di Indonesia mengalami

kemunduran hebat, dikarenakan serangan penyakit karat daun

(Hemileia vastatrix), yang masuk ke Indonesia sejak tahun 1876.

Akibatnya kopi Arabika yang hanya dapat bertahan hidup pada

66
67

ketinggian 1000 m ke atas dari permukaan laut, dimana serangan

penyakit ini tidak begitu hebat. Sisa-sisa tanaman kopi Arabika ini

masih dijumpai di dataran tinggi ijen (Jawa Timur), Tana Tinggi

Toraja (Sulawesi Selatan), lereng bagian atas Bukit Barisan

(Sumatera) seperti Mandailing, Lintong dan Sidikalang di

Sumatera Utara dan dataran tinggi Gayo di Nangroe Aceh

Darussalam.

Untuk mengatasi serangan hama karat daun kemudian

Pemerintah Belanda mendatangkan Kopi Liberika (Coffee

Liberica) ke Indonesia pada tahun 1875. Namun ternyata jenis ini

juga mudah diserang penyakit karat daun dan kurang bisa diterima

di pasar karena rasanya yang terlalu asam. Sisa tanaman Liberica

saat ini masih dapat dijumpai di daerah Jambi, Jawa Tengah dan

Kalimantan.

Usaha selanjutnya dari Pemerintah Belanda adalah dengan

mendatangkan kopi jenis Robusta (Coffea Canephora) tahun 1900,

yang ternyata tahan terhadap penyakit karat daun dan memerlukan

syarat tumbuh serta pemeliharaan yang ringan, sedangkan

produksinya jauh lebih tinggi. Maka kopi Robusta menjadi cepat

berkembang menggantikan jenis Arabika khususnya di daerah-

daerah dengan ketinggian di bawah 1000 mdpl dan mulai

menyebar ke seluruh daerah baik di Jawa, Sumatera maupun ke

Indonesia bagian timur.

67
68

Semenjak Pemerintah Hindia Belanda meninggalkan

Indonesia, perkebunan rakyat dan swasta terus tumbuh dan

berkembang, serta memperoleh pencapaian yang fluktuatif yang

cenderung lebih banyak mengalami peningkatan progresif.

Berikut Data Luas Areal dan produksi kopi Indonesia pada

rentang tahun 1959 – 1968 :

Tahun Luas (Ha) Produksi (Ton)


Perkebunan Rakyat Jumlah Perkebunan Rakyat Jumlah
1959 47.291 208.877 256.168 18.998 65.281 84.279
1962 45.126 242.475 287.601 12.559 99.121 111.680
1965 40.356 259.694 300.050 19.752 91.457 111.209
1968 38.259 328.378 366.637 13.824 143.341 157.165

b. Perkembangan Luas Areal Produksi dan Konsumsi Kopi di

Indonesia

Berdasarkan data yang didapatkan dari Jurnal SIRINOV

Vol 1 No.3, sejarah penyebaran Kopi di Indonesia dimulai pada

tahun 1700-an. Dibawa oleh sebuah patungan India dan Belanda

yang berada di Srinlanka. Percobaan penanamannya dilakukan oleh

seorang berkebangsaan belanda pada berbagai lokasi di Indonesia

(jawa, Sumatera, Sulawesi dan Timor). Tanaman yang dicoba

ternyata dapat tumbuh dengan baik sehingga Belanda

menjadikannya sebagai salah satu tanaman wajib yang harus

ditanam oleh seluruh petani melalui tanam paksa di berbagai

wilayah di Pulau Jawa. Daerah Bogor. Sukabumi. Banten dan

Priangan Timur merupakan daerah-daerah yang terkena ketentuan

tanam paksa tersebut. Keberhasilan menanam kopi di Pulau Jawa

68
69

menyebabkan tanaman ini makin menyebar ke daerah lainnya di

Indonesia seperti Sumatera, Sulawesi dan Bali [ CITATION Bed13 \l

1033 ].

Selama hampir dua abad lamanya, kopi Arabika menjadi

satu-satunya jenis kopi komersial yang ditanam di Indonesia. Akan

tetapi budidaya kopi arabika ini mengalami kemunduruan besar

akibat serangan penyakit karat daun (Hemileia Vastatrix) yang

masuk ke Indonesia pada tahun 1876. Oleh karena itu, saat itu kopi

arabika hanya dapat bertahan pada daerah-daerah tinggi

(ketinggian 1000 meter di atas permukaan laut). Sampai kemudian

dimasukkannya kembali kopi arabika varietas abessinia yang lebih

resisten dan dapat ditanam sampai pada ketinggian 700 meter di

atas permukaan laut [ CITATION Bed13 \l 1033 ].

Saat ini, tanaman kopi sudah menyebar hamper ke seluruh

wilayah di Indonesia dan mampu memproduksi kopi sebanyak

674.636 ton (lihat gambar 3 dan 4)

69
70

Gambar 4 [ CITATION Fai19 \l 1033 ])

(Sumber: dari situs Baca )

70
71

Gambar 5: Statistik Produksi Kopi di Indonesia periode 2018

(Sumber: Statistik Perkebunan Indonesia 2018)

Tiga daerah penghasil Utama kopi di Indonesia adalah

Sumatera Selatan (22%), Lampung (21%) dan Bengkulu (9%).

Sedangkan kabupaten utama penghasil kopi di masing-masing

provinsi adalah Kabupaten Pagar Alam (Sumatera Selatan);

Lampung Barat. Lampung Utara dan Tanggamus *Lampung);

Kepahiang, Curup, Rejang Lebong (Bengkulu). Daerah penghasil

utama kopi di provinsi lainnya adalah Jember. Banyuwangi,

71
72

Situbondo, Bondowoso dan Malang (Jawa Timur); Tapanuli,

Pematang Siantar, Samosir dan Sidikalang (Sumatera Utara); Aceh

dan Bener Meriah (NAD); Tana Toraja, Polmas dan Enrekang

(Sulawesi Selatan); Agam, Padang Pariaman, Tanah Datar, Solok,

dan Pasaman (Sumatera Barat)[CITATION Bed13 \p 101 \l 1033 ].

Adapun konsumsi kopi masyarakat Indonesia, berdasarkan

data dari International Coffee Organization (ICO), bahwa pada

perode 2000-2016, Indonesia terus mengalami tren kenaikan, yang

mana pada tahun 2000, konsumsi kopi masyarakat Indonesia baru

mencapai 1,68 juga bags/karung (1 karung setara 60kg), namun

pada 2016 telah mencapai 4,6 juta bags atau melonjak lebih dari

174 persen. Kenaikan itu mulai mengalami pertumbuhan sejak

2011 [CITATION Dat \l 1033 ].

2. Nilai Strategis Sumatera Utara sebagai Salah Satu Penghasil

Komoditi Terbaik bagi Indonesia

Nilai strategis Sumatera Utara sebagai salah satu penghasil

komoditi Kopi terbaik bagi Indonesia, dapat ditinjau dalam tiga aspek,

yang pertama pada aspek potensi agronomis yang kemudian

diistilahkan sebagai kawasan agropolitan, lalu aspek indikasi geografis

yang diperoleh Sumatera Utara, dan aspek kegiatan ekspor kopi di

Sumatera Utara yang berkontribusi pada devisa negara.

72
73

a. Potensi Agronomi (Kawasan Agropolitan)

Pengembangan kawasan Agropolitan merupakan Alternatif

solusi terhadap permasalahan yang terjadi dalam suatu wilayah

(perdesaan). Secara harfiah, agropolitan merupakan kata dasar dari

agropolis. Agropolis berarti kota kecil dan menengah di sekitar

pedesaan (micro urban village) yang tumbuh dan berkembang

dalam suatu system yang komprehensif dari aktivitas agribisnis

untuk mendorong kegiatan pertanian di wilayah sekitarnya.

Agropolitan secara umum, diartikan sebagai system terpadu pada

wilayah terpadu dan wilayah produksi pertanian tertentu yang

terdiri dari pusat-pusat produksi yang dilengkapi oleh fasilitas semi

urban (irigasi, jalan-jalan desa, subterminal agribisnis, bank mikro,

air bersih, dll. Pada konsep pengembangan agropolitan yang

terdapat dalam Master Plan pengembangan Kawasan Agropolitan

yang disampaikan oleh Menteri Permukiman dan Prasarana

Wilayah adalah denganmenetapkan pusat agropolitan, menetapkan

unit unit kawasan, menentukan komoditas unggulan, dukungan

infrastruktur dandukungankelembagaan. Penentuan komoditas

unggulan mempunyai beberapa syarat yaitu: komoditas unggulan

merupakan komoditas unggulan yang juga didukung oleh sector

hilirnya, merupakan kegiatan agribisnis yang banyak melibatkan

pelaku dan masyarakat paling besar (kearifan local), dan

mempunyai skala ekonomi yang memungkinkan untuk skala besar

[ CITATION Sim13 \l 1033 ].

73
74

Sumatera Utara merupakan salah satu provinsi yang

termasuk ke dalam daerah kawasan potensi agronomi yang sangat

diperhitungkan bagi Indonesia khususnya dalam bidang

perkebunan dan produksi kopi. Yang mana potensi agronomis ini

dapat dijadikan sebagai salah satu jalan untuk membangun

perekonomian di Indonesia, baik sebagai orientasi penggerak

perekonomian daerah hingga pada kontribusi nasional yakni

mencakup kegiatan mengekspor kopi yang akan bermuara pada

devisa dan pendapatan Negara. potensi Agronomi tersebut telah

diejawantahkan pada beberapa tahun lalu dalam bentuk penetapan

konsep Kawasan Agropolitan untuk Sumatera Utara yang telah

disepakati oleh lima bupati (yang masing-masing mewakili

Kabupaten Karo, Tapanuli Utara, Simalungun dan Kabupaten Toba

Samosir) yang awalnya merupakan hasil kesepakatan bernama

Kesepakatan Berastagi, ditandatangani sejak tanggal 28 September

2002 [ CITATION Sit13 \l 1033 ] . Konsep pembangunan ini diayomi

dengan program bernama Program Pengembangan Kawasan

Agropolitan Dataran Tinggi Bukit Barisan Sumatera Utara

(KADTBB-SU)/ Program KADTBB-SU. Terjadinya pemekaran

wilayah sampai pada tahun 2003, maka KADTBB-SU bertambah

menjadi 8 kabupaten hingga saat ini, meliputi Kabupaten Karo,

Kabupaten Toba Samosir (TOBASA), Kabupaten Tapanuli Utara,

Kabupaten Simalungun, Kabupaten Dairi, Kabupaten Pak Bharat,

Kabupaten Humbang Hasundutan (HUMBAHAS), dan Kabupaten

74
75

Samosir yang mana ke delapan daerah tersebut masing-masing

memiliki komoditas unggulan. [ CITATION Pus05 \l 1033 ].

b. Indikasi Geografis

Sumatera Utara merupakan provinsi yang dikenal memiliki

Keberagaman citarasa kopi. Penanaman kopi di Provinsi ini

menyebar di 15 kabupaten (untuk jenis kopi robusta) dan 12

kabupaten (dari jenis kopi Arabika) dengan total lahan seluar

90.343,65 hektare. Dari luas tersebut, 6 daerah memiliki Sertifikasi

Indikasi Geografis (SIG) [CITATION Sum19 \l 1033 ]. Indikasi

Geografis adalah sertifikasi yang dilindungi oleh undang-undang

atas produk dengan ciri yang khas, dan hanya dihasilkan di wilayah

geografis tertentu. Produk tersebut biasa dihasilkan karena factor

alam, sumber daya manusia (SDM), dan ataupun dari kombinasi

antar keduanya[ CITATION Tri19 \l 1033 ].

Persentasi Jumlah kopi jenis Arabika di Sumatera Utara

relative lebih besar diibanding jenis Robusta dikarenakan karena

beberapa factor. Yang pertama adalah dari segi factor ketinggian

tanah, kopi jenis Arabika hanya dapat tumbuh dengan baik pada

kriteria ketinggian 600 – 2000 meter di atas permukaan laut,

dengan suhu sekitar 14-24 derajat Celcius, sementara di Sumatera

Utara sendiri merupakan daerah dengan banyak pegunungan yang

tinggi, sehingga kopi arabika yang memerlukan kelembapan, tanah

yang subur, dan penyinaran matahari yang cukup, dapat diperoleh

di daerah Sumatera Utara . Factor lain disebabkan karena nilai

75
76

ekspor kopi jenis Arabika yang lebih tinggi dibandingkan robusta

dan jenis kopi lainnya. Hal ini disejalankan dengan strategi Petani

untuk beralih mengupayakan focus penanaman pada kopi berjenis

Arabika. Produksi Arabika yang terus naik dan luas tanaman selalu

meningkat terjadi dari tahun ke tahun[ CITATION Mar19 \l 1033 ].

Adapun jenis Kopi Arabika special khas sumatera Utara di

antaranya Kopi Sidikalang, Kopi Sipirok, kopi Mandaling, kopi

Tarutung, dan kopi lintong. Kopi sidikalang yang terletak di

ketinggian 1.066 mdpl, yang menjadikan sidikalang menjadi

tempat yang subur dan menjadi daerah yang sangat cocok ditanami

kopi. Selanjutnya Kopi Sipirok, kopi yang berasal dari Kabupaten

Tapanuli Tengah yang memiliki kandungan asam yang sangat

rendah sehingga dapat menarik penggemar kopi. Terlebih Kopi

Sipirok telah mendapatkan penghargaan internasional yakni “the

world’s finest unwashed Arabica”. Selanjutnya, Kopi Mandalaing

yang memiliki aroma dan rasa yang khas yang bentuk

penyajiannya terbilang untik yaitu disajikan menggunakan batok

kelapa yang disebut sebagai kopi takar. Selanjutnya Kopi Taratung

yang menjadi salah satu kopi terbaik dunia, dimana keseluruhan

proses pembuatannya terstandarisasi secara internasional. Dan

terakhir kopi Lilntong yang sudah banyak dikenal di Negara luar.

Kopi ini sudah menjadi trade mark pasaran internasional dengan

nama “Sumatra Linthong Arabica Coffee”[ CITATION Cla19 \l 1033 ].

76
77

c. Nilai Ekspor Kopi

Adanya prestasi cemilang dari aneka kopi yang dihasilkan

oleh beberapa wilayah di Sumatera Utara, menjadikan Sumatera

utara memiliki icon tersendiri sebagai produsen kopi di mata dunia.

Hal tersebut telah dibuktikan dari data yang diperoleh oleh Dinas

Perindustrian dan Perdagangan Sumatera Utara yang mencatat total

ekspor kopi pada tahun 2018 mencapai 64.910,053 ton. Dimana,

kopi Arabika berjumlah 60.763,017 ton yang senilai dengan

342.434 US$, dan Robusta sejumlah 2.202,432 ton yang senilai

dengan 5.428,126 US$. Jika ditotalkan jumlahnya mencapai

64.910,053 ton dengan nilai 356.177,408 US$[ CITATION Cla19 \l

1033 ].

Berbagai jenis kopi dari Sumatera Utara yang telah

menembus pasar Internasional yang diperolah dari hasil

perdagangan ekspor kopi, memberikan alokasi pemasukan

tersendiri bagi pendapatan devisa Negara, yang mana menurut data

Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018, Negara Amerika Serikat

adalah Negara tujuan ekspor terbesar kopi Sumatera Utara dengan

berat bersih kopi yang diekspor sebanyak 35.53 ribu ton dengan

nilai ekspor dengan klausul Cost, Insurance, and Freight (CIF)

sebesar US$ 215.6 juta. Disusul oleh Negara Malaysia dengan total

kopi yang diekspor sebesar 7.02 ribu ton dengan harga ekspor

(CIF) sebesar US$ 27.96 juta. Kemudian Negara Jepang dengan

total ekspor sebesar 6.03 ribu ton dengan harga ekspor (CIF)

77
78

sebesar US$ 32.79 juta. Negara Asia, Australia, dan Eropa juga

menjadi Negara tujuan ekspor kopi Sumatera Utara, di antaranya

Taywan, Saudi Arabia, Australia, New Zaeland, Canada, United

Kingdom, Belgium, dan masih banyak lainnya. Sehingga total kopi

yang diekspor ke berbagai Negara pada tahun 2018 sebanyak 76.07

ribu ton dengan nilai CIF sebesar US$417.19 juta. Melihat

sejumlah catatan tersebut, Wakil Gubernur Sumatera Utara, Musa

Rajeksha, pun telah menargetkan Sumatera Utara sebagai produsen

kopi terbesar di Indonesia untuk beberapa tahun

mendatang[ CITATION Mar191 \l 1033 ].

Sejumlah catatan prestasi yang diperoleh Sumatera Utara

terkait indikasi geografis, produksi dan ekspor kopi di atas

bermuara pada sebuah kesimpulan bahwa Provinsi Sumatera Utara

adalah provinsi yang memiliki nilai strategis sebagai salah

penghasil kopi terbaik di Indonesia yang dapat berkontribusi secara

signifikan bagi kesejahteraan perekonomian masyarakat daerah

(khususnya untuk kalangan kelompok petani kopi) dan Negara.

B. Starbucks Corporation dan Starbucks Farmer Support Centers

1. Sejarah Perkembangan Starbucks Coffee hingga Masuk di


Indonesia
Starbucks berdiri pada tahun 1971, berawal dari Jerry Baldwin,

Zev Siegl dan Gordon Bowker yang mendirikan sebuah toko kecil

dengan menjual kopi segar yang dipanggang di Seattle, Amerika

Serikat. Pada waktu yang sama Starbucks menjadi sangrai terbesar di

78
79

Washington dengan enam outlet ritel. Namun, banyak hal secara

bertaham mulai berubah dan pada tahun 1980, Zev Siegl menjual

sahamnya. Tahun 1981 seorang salesmen plastic Howard Schultz

menyadari bahwa pembuat bir tetes termos plastic yang digunakan

Starbucks merupakan hasil dari produsennya yang bernama

Hammarplast. Atas hal tersebut Howard Schultz akhirnya bergabung

dengan perusahaan Starbucks, karena melihat adanya potensi dalam

produk dan kesempatan berkarir. Pada tahun 1982, Schultz

memberikan kehidupan baru dalam perusahaan dengan

memperkenalkan budaya kedai kopi espresso dari Italia, dengan

berencana memulai sebuah budaya yang sama di Amerika Serikat. Hal

ini ditentang oleh mitra asli, karena bagi mereka kopi itu diseduh dan

dinikmati di rumah. Akibatnya mereka berpisah dan Schultz membuka

II Giornale pertama di Amerika Serikat dengan konsep kopi bar. Pada

tahun 1987 para mitra asli menjual Starbucks kepada Schultz. Dengan

bergabung dengan II Giornale untuk menghasilkan Starbucks

Corporation [ CITATION Win17 \l 1033 ].

Selama waktu itu Starbucks memiliki 17 toko di Seattle dengan

rencana melakukan ekspansi dan membuka gerai di luar Seattle. Pada

tahun 1992 Starbucks menjadi perusahaan public yang memiliki 165

outlet. Dan pada tahun 1996 Starbucks berhasil membuka toko di luar

Amerika yaitu di Tokyo dan pada tahun dan pada tahun 1998

kemudian diperluas lagi ke Britani Raya. Selain itu, Starbucks juga

79
80

mengambil alih Seattle’s Best Coffee, Torrefazione Italia dan Diedrich

Coffee.

Hingga di Indonesia sendiri, Starbucks masuk pada 17 Mei

2002 dan mendirikan outlet pertamanya di perusahaan PT. Sari Coffee

Indonesia, yang merupakan anak perusahaan dari PT. Mitra Adi

Perkasa. Kedai tersebut berlokasi di Plaza Indonesia, Jakarta Pusat.

Sejak saat itu, perkembangan pasar Starbucks Coffee di Indonesia

melaju dengan pesat. Starbucks sendiri sejatinya sudah berhubungan

dengan Indonesia sejak 1970-an. Meksi hubungannya sudah lama, ada

banyak pertimbangan untuk membuka gerai di Indonesia. Baru setelah

evaluasi di akhir 1999, Starbucks menyeleksi 200 perusahaan calon

mitra di Indonesia. Dalam setahun, Starbucks menargetkan untuk

menambah 25-30 gerai. Starbucks Coffee pun membuka kedai-

kedainya di kota-kota besar di Indonesia, seperti di Bandung,

Surabaya, Yogyakarta, Semarang, Medan, Bali, Makassar, Jakarta,

Pekanbaru dan di kota-kota besar lainnya yang berjalan hingga saat ini[

CITATION Nen17 \l 1033 ].

2. Starbucks Farmer Support Centre (FSC)

Starbucks Farmer Support Centers (FSC) merupakan satu dari

enam pendekatan terintegrasi (program Corporate Social

Responsibility/CSR) Perusahaan Starbucks dengan tujuan untuk

mengupayakan pembelian kopi dapat terjadi secara berkelanjutan

(sustainable coffee purchasing). Kelima pendekatan lainnya adalah:

pembayaran harga premium, suatu upaya untuk membantu para petani

80
81

mendapatkan keuntungan sekaligus membendung ekonomi keluarga;

pembelian konservasi (tumbuh di bawah naungan) dan kopi yang

bersertifikat, termasuk organic serta Bersertifikat Perdagangan Adil/

Fair Trade Certified; pemberian akses kredit yang terjangkau bagi para

petani, dimana Starbucks menyandang dana swasta terbesar dari

pinjaman berbiaya rendah untuk petani kopi skala kecil; investasi

dalam program/proyek social yang bermanfaat bagi masyarakat

penghasil kopi, seperti di sekolah, klinik kesehatan, dan lain

sebagainya; mendorong petani untuk berpartisipasi dalam Praktek

Kopi dan Petani (C.A.F.E./ Coffee and Farmer Equity), yaitu

seperangkat pedoman pembelian kopi yang bertanggung jawab secara

social. Dan Starbucks FSC sendiri merupakan program sebagai

medium untuk berkolaborasi dengan petani dengan memberikan

dukungan teknis dan pelatihan yang diperlukan dalam rangka

memastikan produktivitas kopi yang berkualitas tinggi tetap berjalan

secara berkelanjutan [ CITATION Rea05 \l 1033 ].

Hal tersebut di atasu menunjukkan Starbucks FSC bukan satu-

satunya program CSR Starbucks akan tetapi merupakan dari kelima

elemen program CSR lainnya. Hal demikian apabila dikaitkan pada

konsep CSR , maka keenam tersebut merupakan satu kesatuan tak

terpisahkan menjadi satu program CSR Starbucks yang terdiri dari

enam elemen yang menghimpun pilar-pilar konsep CSR itu sendiri.

FSC merupakan fasilitas pusat dukungan milik Starbucks untuk

membantu para petani (dalam bentuk pelatihan – open-source) agar

81
82

menghasilkan hasil tani yang lebih baik dengan bimbingan para

agronomis handal yang diutus oleh Starbucks sendiri [ CITATION

Nab18 \l 1033 ]. Starbucks membuka pusat dukungan petani pertamanya

di San Jose, Kosta Rika pada tahun 2004, bersamaan dengan program

terobosan lainnya yaitu Program Praktik C.A.F.E. (Verifikasi Kopi dan

Petani). Starbucks FSC bekerja satu per satu dengan para petani di

lapangan, dan juga mendukung koperasi dan para pemasok. Ahli

agronomi Starbucks membangun metode penanaman tradisional untuk

membantu petani meningkatkan kualitas dan keuntungan tanaman

mereka [CITATION STA18 \l 1033 ].

Salah satu yang mendasari Starbucks membuka operasi pusat

pelatihannya berasal dari kekhawatiran dimana petani pada masa

depan jangka panjang akan terus-menerus menemui tantangan dalam

kualitas serta kuantitas hasil panennya. Oleh karena itu, sebagai

langkah antisipasi konkret, Starbucks hingga saat ini telah dan sedang

mengoperasikan delapan pusat dukungan petani dan satu kantor

agronomi satelit di seluruh dunia, yang memberikan akses gratis

(informasi terbuka / open-source) kepada para petani terhadap temuan-

temuan terbaru para ahli agronomi Starbucks, termasuk jenis varietas

baru pohon yang tahan penyakit dan teknik pengelolaan tanah yang

canggih. Adapun Kantor agronomi Kosta Rika aslinya telah direlokasi

yang dari sebuah gedung perkantoran di pusat kota San Jose ke

pertanian Hacienda Alsacia di lereng Poas Volcano, yang saat ini

82
83

menjadi pusat penelitian dan pengembangan agronomi global

perusahaan [ CITATION STA18 \l 1033 ].

Starbucks berkomitmen untuk membantu satu juta petani dan

pekerja kopi yang merepresentasikan rantai pasokan kolektif

Starbucks, dengan target tujuan melatih 200.000 petani kopi pada di

2020. Berikut adalah lokasi pusat dukungan Starbucks (beserta tanggal

dibukanya) (lihat Gambar 6)[ CITATION STA18 \l 1033 ]:

1. San Jose, Kosta Rika: 2004 (direlokasi di Hacienda Alsacia

pada tahun 2016)

2. Kota Guatemala, Guatemala (yang dijadikan sebagai kantor

satelit agronomi): 2006

3. Kigali, Rwanda: 2009

4. Mbeya, Tanzania: 2011

5. Manizales, Colombia: 2012

6. Yunnan, China: 2012

7. Addis Ababa, Ethiopia: 2014

8. Sumatera Utara, Indonesia: 2015, dan

9. Chiapas, Mexico: 2016

83
84

Gambar 6. Peta Lokasi Starbucks Farmer Support CentersBerikut

Berikut uraian operasi Starbucks FSC di Sumatera Utara,

Indonesia.

a. Pra-masuknya Starbucks FSC

Jauh dari hiruk-pikuk kota Medan, Kabupaten Karo merupakan

daerah yang menyimpan sejumlah harapan untuk masa depan kopi

Sumatera yang telah melegenda. Kabupaten karo berjarak 7,7 km dari

pusat kota, dan dipersiapkan untuk dijadikan sebagai lumbung kopi

bari di nusantara, bergabung dengan kopi masyhur dari daerah

Sumatera Utara lain, yaitu Mandailing, Sidikalang, dan Deli [ CITATION

Sav18 \l 1033 ].

Kabupaten Karo berada 1.400 meter di atas permukaan laut

(mdpl) dengan kontur wilayah berbukit-bukit dan dikepung oleh dua

gunung vulkanik yaitu Gunung Sinabung dan Gunung Sibayak.

Kabupaten Karo memiliki unsur tanah yang menguntungkan dengan

iklim yang berhawa sejuk antara 17-19 derajat Celcius. Sebab wilayah

ini memiliki kandungan top soil atau organik yang tebal. Adanya

erupsi dari Gunung Sinabung di sisi lain berperan dalam menyuburkan

kembali zat hara di dalam tanah, baik berupa magnesium, kalium,

84
85

fosfor, dan natrium yang mana setiap jenis zat tersebut sangat

menunjang kesuburan tanaman yang dikelola di sekitar gunung

[ CITATION Sav18 \l 1033 ].

Di sisi lainnya lagi, adanya abu vulkanik yang berasal dari

gunung tersebut dapat seketika mematikan tanaman karena abunya

yang menutup stomata pada daun tanaman sehingga menjadi hama

bagi daun dan menyebabkan hasil panen berkurang dan kelompok

petani di Kabupaten Karo merugi. Namun, adanya kegagalan panen

tersebut yang sebagian besar merupakan tanaman holtikultural seperti

jeruk dan sayuran, justru memberikan inspirasi baru bagi petani

setempat untuk menjadikan sisa lahan mereka sebagai ladang untuk

menanaman kopi. Sejak saat itu merupakan titik awal Kabupaten Karo

untuk turut serta dalam menambah daerah penghasil kopi di Sumatera

Utara.

Seperti awal mula di atas, Kabupaten Karo sejak awal bukan

merupakan produsen kopi terbesar dan terbaik di Sumatera, pulau yang

menjadi kawasan penghasil kopi terbesar ketiga di dunia setelah Brazil

dan Vietnam. Hanya terdapat beberapa nama yang dikenal sebagai

lumbung kopi di Sumatera, antara lain kopi Gayo di Aceh, Kopi

Mandailing, Kopi Sindikalang, serta Kopi Deli.

Selama puluhan tahun Indonesia telah mengekspor kopi,

Kabupaten Karo tidak pernah mendapat perhatian akan kopi yang

dimilikinya. Hingga kabupaten ini pun kini dicanangkan pemerintah

85
86

sebagai daerah budidayakopi baru di Pulau Sumatera. Dengan

dipenuhi 248 desa, Kabupaten Karo akan mengikuti jejak daerah lain

yang kopinya sudah diseruput oleh para pecinta kawa hitam di seluruh

dunia. Sehubungan dengan hal itu, menurut Sarjana Purba, kepala

Dinas Pertanian Kabupaten Karo Sumatera Utara, bahwa Kementerian

Pertanian telah menjadikan Kabupaten Karo sebagai satu dari empat

area produksi kopi terbaik di Sumatera. Atau satu dari tiga kawasan di

Sumatera, setelah Mandailing dan Simalungun[ CITATION Sav18 \l

1033 ].

Berdasarkan data dari laman Marketeers, luas pertanian di Karo

pada tahun sebesar 212 ribu hectare. Dari angka tersebut, kopi yang

ditanam telah mencatuk lahan seluas 10 ribu hectare. Dan

produktivitas kopi di Karo menghasilkan 1,4 ton green bean (biji kopi)

per hectare. Untuk bias bersaing dengan kawasan lain, diperlukan

intensifikasi dan ekstensifikasi lahan kopi di kabupaten Karo [ CITATION

Sav18 \l 1033 ].

Keharusan dalam mensejahterakan petani pada saat itu dinilai

penting lantaran menjadikan kopi sebagai mata pencaharian utama di

kabupaten ini, bukan lagi sebagai tanaman sampingan. Oleh karena itu

sebagai awal untuk pengejawantahan hal tersebut diperlukan adanya

insentif bibit unggul untuk tanaman kopi, dimana yang menjadi

masalah utama petani di hamper seluruh nusantara adalalah keluhan

terhadap harga bibit yang tinggi – tidak terjangkau[ CITATION Sav18 \l

1033 ].

86
87

b. Masuknya Starbucks FSC di Kecamatan Berastagi, Kabupaten

Sumatera Utara.

Harapan Kabupaten Karo untuk mengintensifikasi bibit unggul

tanaman kopi mulai ditawarkan oleh jaringan kedai kopi Internasional,

Starbucks. Perusahaan kopi yang memiliki 27.000 gerai di seluruh

dunia memilih Kabupaten Karo, yang mana spesifik lokasi yang

disasar berada di Kecamatan Berastagi untuk dijadikan medium yang

mewakili satu dari Sembilan Farmer Support Center (FSC) di dunia

yang diutus oleh perusahaan Starbucks. Dalam skala Asia, Karo adalah

salah satu dari dua FSC setelah Yunnan, China[ CITATION Sav18 \l

1033 ].

Starbucks memilih Sumatera sebagai medium lokasi FSC,

teridentifikasi kepada dua motif utama. Yang pertama karena

Starbucks merupakan salah satu buyer terbesar kopi Sumatera di dunia,

yang dijadikan sebagai salah satu racikan mereka dalam membuat

house-blend yang selama ini menjadi bahan dasar kopi di gerai-gerai

Starbucks. Yang kedua adalah adanya subjektivitas dari pendiri dan

mantan CEO Starbucks Coffee Company yang mengklaim Kopi

Sumatera sebagai kopi favoritnya – yang mana sebelumnya kopi Gayo

yang juga berasal dari Sumatera masuk dalam salah satu kopi single

origin yang disajikan di kedai khusus Reserve, bersanding dengan para

single origin lain seperti Congo Lake Kivu atau Peru

Chontali[ CITATION Sav18 \l 1033 ].

87
88

Kedua hal tersebut di atas memberi arti besarnya jasa

Sumatera terhadap gerak bisnis Starbucks di dunia sehingga dapat

diindikasi menjadi pemicu utama perusahaan Starbucks memberikan

pelatihan lebih terhadap masa depan kopi Sumatera khususnya di

Sumatera Utara. Yang tidak kalah penting selain itu, adalah program

Starbucks FSC pada dasarnya didesain oleh Starbucks untuk dapat

dijadikan lahan kebun kopi percontohan bagi para petani di Sumatera

maupun di daerah lainnya guna mengetahui bagaimana

membuididayakan kopi yang efektif, efisien, dan berstandar global

[ CITATION Sav18 \l 1033 ].

Lantas, dengan beberapa potensi dan produktivitas kopi yang

dimiliki Sumatera Utara yang menyebabkan Perusahaan Starbucks

memberikan pelatihan tersebut kepada para petani Sumatera Utara

khususnya di kecamatan Berastagi, maka terdapat beberapa hal yang

menjadi pertanyaan lanjut, yakni bagaimana langkah konkret

Starbucks dalam menyusun strategi untuk memberikan implikasi

positif terhadap kehidupan para petani kopi di Sumatera melalui

pelatihan yang berorientasi pada peningkatan produktivitas bertani

kopi beserta hasil kopinya? Apakah strategi dari Starbucks terindikasi

mengandungunsur resiprokal dimana Starbucks mengharapkan sesuatu

yang sama menguntungkannya dengan apa yang diberikan Starbucks

terhadap Petani kopi Sumatera dari buah hasil pelatihan tersebut

nantinya, atau justru sebaliknya bahwa adanya Program FSC Starbucks

sepenuhnya merupakan asas sukarela Starbucks kepada petani kopi

88
89

Sumatera sebagaimana hal ini didukung oleh sifat “open-source” dari

pelatihan tersebut. Tidak berhenti disitu, pertanyaan penting lainnya

yakni bagaimana dampak yang diberikan Program Starbucks FSC

terhadap kehidupan Petani kopi di Sumatera Utara, dari aspek yang

paling rinci sampai yang paling global. Apakah Program Starbucks

FSC berimplikasi secara signifikan terhadap kehidupan dan pola

pertanian petani kopi di Sumatera, atau bahkan sampai pada skala

dimana Sumatera (dari hasil pelatihan tersebut) mampu berkontribusi

besar terhadap pendapatan nasional negara. Kemudian pertanyaan

final adalah apakah terlihat garis perbedaan yang signifikan antara pra

dan pasca beroperasinya Starbucks FSC terhadap petani kopi Sumatera

Utara?

Maka pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas sedikit banyak

akan terjawab pada bahasan selanjutnya yang memiliki keterkaitan

yang sangat erat satu sama lain.

89
90

BAB IV

STRATEGI DAN IMPLIKASI PROGRAM STARBUCKS FARMER

SUPPORT CENTERS (FSC) TERHADAP PETANI KOPI DI SUMATERA

UTARA

A. Strategi Starbucks dalam Implementasi Program Starbucks Farmer

Support Centers (FSC) terhadap Petani Kopi di Sumatera Utara

Program tanggung jawab social (CSR) yang melekat pada

perusahaan multinasional merupakan salah satu aspek turunan dari

kebijakan/politik luar negeri suatu Negara, dalam hal ini Host Country.

Suatu Negara dalam menjalankan pemerintahannya harus berhubungan

dengan Negara lain, begitu juga pada pembangunan ekonomi suatu Negara

tentu tidak bisa terlepas dari keterlibatan Negara lain, khususnya dalam

bingkai kerjasama antarnegara. Salah satu bentuk kerjasama Negara

dengan perusahaan multinasional adalah keharusan sebuah perusahaan

multinasional (MNC) ataupun nasional yang berinvestasi di sebuah daerah

untuk melaksanakan program tanggung jawab social perusahaan di Negara

tempat MNC tersebut beroperasi. Trend di dunia dalam wacana etika

bisnis (business ethics) dewasa ini memperlihatkan bahwa salah satu

pemangku kepentingan (stakeholder), yaitu pemerintah, melalui kebijakan

publiknya semakin diakui telah menjadi salah satu penggerak dalam isu

tanggung jawab social perusahaan atau Corporate Social Responsibility

(CSR). Di beberapa Negara di dunia terutama di Negara maju, peran

pemerintah terlihat melalui regulasinya mampu memberikan pengaruh

90
91

kepada entitas bisnis agar memiliki tanggung jawab social, bisnis

berkelanjutan serta sejalan dengan misi pembangunan berkelanjutan

[ CITATION Vel18 \l 1033 ].

Di Indonesia sendiri, CSR mulai berlaku pada tahun 2007 sejak

ditetapkannya undang-undang Perseoran Terbatas (PT) Nomor 40 tahun

2007 ayat 74 tentang tanggung jawab social perusahaan, kebijakan

pemerintah ini kemudian menjadi momentum yang sejalan dengan

sebagian besar jumlah perusahaan multinasional yang merambah masuk

ke Indonesia. Di antara berbagai MNC yang ada, Starbucks merupakan

salah satu yang menerapkan berbagai program agenda CSR di Indonesia.

Konsep CSR, yang selalu diidentikkan dengan “pembangunan

berkelanjutan”, bahwa terdapat argumentasi dimana perusahaan dalam

melaksanakan aktivitas operasionalnya harus mendasarkan keputusan

tidak semata pada factor keuangan, misalnya keuntungan atau dividen

melainkan juga harus berdasar pada konsekuensi sosial dan lingkungan

baik secara temporal maupun untuk jangka panjang. Model pembangunan

berkelanjutan tersebut telah direpresentasikan oleh salah satu program

CSR Starbucks di Indonesia, yakni program Starbucks Farmer Support

Centers. Suatu program yang memberikan pelatihan berkelanjutan yang

menyasar kelompok petani kopi Indonesia, dalam hal ini satu-satunya

berada di Sumatera Utara, yang berorientasi pada pembangunan

berkelanjutan dengan tujuan untuk meningkatkan aktivitas praktek bertani

kopi yang menghasilkan kopi yang bermutu dan berkualitas

tinggi/premium berdasarkan standar Praktik C.A.F.E. dari Starbucks.

91
92

Dalam pelaksanaan program CSR Starbucks Farmers Support

Centers, Starbucks memiliki serangkaian strategi yang dilakukan agar

tujuan Starbucks untuk mengembangkan kualitas pertanian kopi di

Indonesia dalam hal ini di Sumatera Utara bisa terwujud secara optimal

dan berkelanjutan serta memberikan sumbangsih yang signifikan terhadap

kehidupan masyarakat Petani Kopi serta masyarakat luas sesuai tujuan

besar Starbucks yang menginginkan adanya dampak social secara global.

Berikut sejumlah Strategi yang dilakukan Starbucks dalam

mengoperasikan Starbucks Farmer Support Centers, secara umum hingga

spesifik pada mekanisme operasional Starbucks FSC terhadap petani local

di Sumatera Utara.

1. Melatih 200.000 Petani global pada tahun 2020

Starbucks FSC sejatinya merupakan salah satu turuan

manifestasi dari tujuan/visi besar Starbucks yang menghendaki adanya

dampak social positif dan berkelanjutan pada komunitas-terkait secara

global/mendunia. Ia merupakan fasilitas pusat dukungan Starbucks

yang dikhususkan untuk membantu para petani (dalam bentuk

pelatihan berkelanjutan) yang sejauh ini telah beroperasi di 9 negara di

dunia yang termasuk Indonesia di dalamnya, dengan tujuan agar

menghasilkan hasil tani yang lebih baik dengan bimbingan para

agronomis handal yang diutus oleh Starbucks sendiri [ CITATION

Nab18 \l 1033 ]. Melalui program ini, Starbucks berkomitmen untuk

membantu satu juta petani dan pekerja kopi yang merepresentasikan

rantai pasokan kolektif Starbucks, dengan target yaitu melatih 200.000

92
93

petani kopi pada tahun 2020 [ CITATION STA18 \l 1033 ]. Jumlah itu

termasuk mencakup entitas petani yang ada di Indonesia, tepatnya

berlokasi di Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Selain

menjadi salah satu Lokasi Starbucks FSC beroperasi, Berastagi juga

merupakan satu-satunya lokasi yang merepresentasikan Indonesia

sebagai medium pelatihan oleh Starbucks FSC.

2. Starbucks FSC Sebagai salah satu Program Terintegrasi

Starbucks

Merujuk dari situs resmi Starbucks, Starbucks FSC adalah

salah satu program terintegrasi dari 4 program lainnya yang

merupakan serangkaian strategi oleh Starbucks untuk menjalankan

program Dukungan Komunitas Pertanian yang tentunya menyasar

kelompok petani dan aktivitas pertanian secara global. Program ini

berakar dari tujuan besar Starbucks untuk memberikan “Social

Impact” atau dampak social terhadap masyarakat global. Dampak

social yang dimaksud adalah terdiri dari program-program yang

dirancang untuk memperkuat pembangunan ekonomi dan social di

tataran masyarakat local, yang diiringi upaya merawat dan

melestarikan lingkungan (baca: ramah lingkungan). Selain Starbucks

FSC, keempat program lainnya yaitu Investasi Pembangunan Sosial,

Pinjaman Petani, Program Sumber Etis / Praktek C.A.F.E, dan

Hubungan Kolaboratif. Kelima program tersebut memiliki

kesalingterkaitan yang sangat penting dalam menunjang program satu

dengan yang lainnya [ CITATION Sta14 \l 1033 ]. (Lihat Gambar 7)

93
94

Gambar 7 : Program terintegrasi Starbucks dalam Dukungan Komunitas Petani

Sumber: Starbucks.com

Dalam menerapkan serangkaian strategi unik ini, Starbucks

terus berupaya meningkatkan ketahanan rantai pasokan dan menjamin

keberlanjutan pasokan jangka panjang terhadap kualitas kopi dan

barang-barang agrikultur lainnya, termasuk bangunan yang kuat, untuk

menjaga komunitas pertanian. Starbucks telah sedikit banyak

membuktikan hal tersebut dengan total angka investasi Starbucks

yang ditunjukkan hingga saat ini dalam berbagai aktivitas dan program

kolaboratif bersama petani yang telah meraup jumlah sebesar 70 juta

dolar. Program-program tersebut termasuk Program Praktik CAFÉ,

dukungan komunitas petani (Farmer Support Centers/FSC), pinjaman

petani dan proyek karbon hutan.

Seperti suatu system dimana satu dan lainnya tidak terpisahkan

begitu juga dengan serangkaian elemen-elemen program yang

dilakukan Starbucks dalam program besar Dukungan Komunitas

94
95

Pertanian (Farming Community Support) tidak terpisahkan dan saling

membendung satu sama lain. Starbucks FSC sendiri dalam

menjalankan operasionalnya tidak terlepas dengan program terintegrasi

lainnya yang sama-sama bertujuan untuk mendukung peningkatan

taraf hidup petani serta menjamin pasokan jangka panjang kopi yang

berkualitas tinggi dalam perindustrian. Berikut uraian ringkas

program-program terintegrasi sejenis Starbucks FSC lainnya:

- Investasi Pembangunan Sosial

Program pembangunan social Starbucks didesain untuk

memperkuat pembangunan ekonomi dan social pada

masyarakat local. Dalam menjalankan program tersebut,

Starbucks mengadakan kolaborasi dengan organisasi non-

pemerintah yang berpengalaman serta ahli dalam bekerja

bersama komunitas petani kopi. Starbucks dalam program-

program sosialnya terbiasa menentukan target yang menjadi

output/goals terhadap objek yang disasar. Seperti dalam hal ini,

Starbucks memiliki target untuk menyediakan tanaman kopi

berjumlah 100 tanaman kepada para petani di tahun 2025.

Starbucks juga mengadakan pendanaan global untuk petani

dengan target menginvestasikan dana sebesar 50 juta dolar

pada Petani global pada tahun 2020. Kemudian Starbucks juga

mengusung yayasan hibah yang dinamakan Starbucks

Foundation dan memiliki target untuk memberdayakan

250.000 wanita dan keluarga pada kalangan komunitas petani

95
96

kopi, teh, dan kakao melalui kemitraan inovatif [ CITATION

Sta141 \l 1033 ].

- Program Pinjaman Petani

Program pinjaman petani Starbucks adalah sebuah akses

alternatif yang dikhususkan untuk koperasi yang memenuhi

syarat namun tidak dapat mengakses saluran pendanaan

tradisional.

- Hubungan Kolaboratif

Starbucks berkomitmen untuk membantu komunitas pertanian

bertahan dan berkembang secara sukarela/non-profit. Dan

dalam upaya memperluas jangkauan dan dampaknya,

Starbucks menjalin kolaborasi dengan organisasi yang

memiliki keahlian dalam hal bekerja bersama komunitas

agricultural.

96
97

3. Starbucks Farmer Support Centers (FSC) yang Bekerjasama

dengan program Praktik C.A.F.E. dan Organisasi Pihak Ketiga

Lainnya

Starbucks FSC merupakan program pusat dukungan petani

yang terdiri atas ahli-ahli kopi dan agronomi yang berlokasi di 9

negara kunci penghasil kopi, untuk memberikan pengetahuan (open-

source) dan riset bersama petani kopi dalam meningkatkan kualitas,

produktivitas, dan keberlanjutan petani kopi dan kopi itu sendiri.

Tujuan Starbucks melalui Starbucks FSC untuk menetapkan target

agar dapat melatih 200.000 petani global di tahun 2020, pada

pelaksanaanya terdapat mekanisme tertentu dalam rangka

merealiasasikan jumlah tersebut. Antara lain adalah Starbucks FSC

pada praktiknya menggunakan program terintegrasi/sejenis lainnya

(yang juga diusung Starbucks), dalam hal ini program praktik C.A.F.E

dan bekerjasama dengan beberapa organisasi pihak ketiga (third-party

Organization; non-governmental Organization) sebagai upaya

meningkatkan sekaligus mengevaluasi program praktik C.A.F.E yang

dijadikan sebagai alat standardisasi/ sumber etis global yang digunakan

dalam pelatihan Starbucks FSC bersama komunitas Petani. Program

Praktik C.A.F.E memiliki peranan inti yang sangat penting dalam

menunjang pelaksanaan program tersebut. Begitu juga dengan

kehadiran organisasi pihak ketiga. Pihak-pihak tersebut memiliki

keterkaitan yang prima satu sama lain.

97
98

Lebih lanjut, merujuk pada catatan “Verifikasi Praktik C.A.F.E.

dan Inspektur Operasi Manual terhadap perusahaan Starbucks Coffee”

oleh SCS Global Services, disitu dicantumkan definisi Starbucks

Farmer Support Centers (FSC) juga dikenal dalam sebutan lain

“Starbucks Coffee Agronomi Center (SCAC)”. Yang mana pada buku

itu dijelaskan bahwa FSC juga berpegang pada Program praktik

C.A.F.E yang termasuk di dalamnya pemrosesan terhadap

permohonan pemasok, laporan verifikasi, dan rencana tindakan

korektif (jika berlaku). Dalam catatan itu, SCAC/FSC juga

memberikan dukungan teknis dan pelatihan (Praktik Agronomi

Terbaik) untuk mempromosikan hasil panen yang lebih tinggi dan

peningkatan kualitas produksi kopi.

Oleh karena itu, terdapat poin baru yang menjadi penting

sekaligus menjadi penerang di mana Program praktik C.A.F.E.

memiliki keterkaitan terhadap keberlangsungan operasional Starbucks

FSC, yakni sebagai patron sumber etis dalam menjalankan pelatihan

terhadap komunitas petani. Tidak hanya itu, program C.A.F.E. juga

merupakan model program sumber etis yang melampaui atau tidak

semata berfokus memperhatikan komunitas penghasil kopi, namun

juga memperhatikan komunitas penghasil produk pertanian lainnya

seperti teh, kakao dan barang-barang manufaktur. kesemua jenis hasil

produk ini berpatron secara sumber etis melalui standar C.A.F.E. yang

diprogram oleh Starbucks secara global.

98
99

Lagi-lagi, Starbucks mendasari program sumber etis ini pada

pada tujuan untuk membantu masyarakat berkembang dalam

memastikan keberlanjutan jangka panjang terhadap jenis produk-

produk yang disedikan Starbucks yakni mencakup Kopi Arabika, teh,

kakao dan barang-barang manufaktur. Atas jenis produk-produk ini,

Starbucks berkomitmen menawarkan produk atau system pengolahan

produk berkelanjutan kepada kelompok/komunitas tani penghasil

produk tersebut utuk diproduksi secara etis dan bertanggung jawab

dengan kualitas terbaik. Upaya tersebut juga merupakan manifestasi

prinsip Starbucks yang percaya bahwa kesuksesan Starbucks

bergantung pada kesuksesan petani dan pemasok yang menanam dan

memproduksi produknya [ CITATION Sta10 \l 1033 ].

Praktik C.A.F.E. berfungsi untuk memastikan kopi diproduksi

secara etis untuk Starbucks. Dan bagaimanapun, program ini ternyata

tidak hanya semerta-merta menjamin masa depan kopi berkualitas

tinggi, tetapi juga turut mempromosikan praktik terbaik yang sekaligus

menguntungkan dua aspek yaitu manusia dan planet, yang termasuk di

dalamnya peningkatan mata pencaharian, perlindungan lingkungan dan

mitigasi perubahan iklim, dan lain sebagainya.

Pada tahun 2004, Starbucks mengembangkan Praktik C.A.F.E

bersama dengan Konservasi Internasional, sebagai salah satu cara

untuk mempertahankan rantai pasokan Starbucks untuk

mempromosikan peningkatan berkelanjutan pada kualitas, kinerja

ekonomi, sosial dan lingkungan. Program ini juga memberikan

99
100

Starbucks jaminan bahwa perkebunan, pabrik dan mereka yang

menyediakan layanan dukungan kepada petani agar dapat mematuhi

persyaratan hukum yang berlaku dan tetap berupaya menuju praktik

terbaik. Tidak hanya itu, Program verifikasi rantai pasokan pihak

ketiga ini ternyata juga menggunakan pihak layanan SCS Global

Services untuk mengawasi pelatihan, persetujuan, dan pengawasan

pihak organisasi independen yang memverifikasi peserta dalam

pelaksanaan program C.A.F.E. ini [ CITATION Con18 \l 1033 ].

a. Konservasi Internasional

Konservasi Internasional hingga saat ini telah bekerjasama

dengan Starbucks selama kurang lebih 15 tahun dalam menerapkan

sumber etis terhadap kopi mereka di sekeliling dunia. Mereka

menemukan cara baru untuk membeli sebuah kopi, yakni berdasar

pada prinsip ketahanan/keberlanjutan, transparansi dan kebaikan

bersama untuk manusia dan planet bumi. Perjalanan Starbucks

sejauh ini telah mencakup empat benua di mana mereka telah

meningkatkan kehidupan 1 juta petani dan pekerja serta telah

merawat jutaan pohon kopi. Hal ini menjadikan Starbucks

memperoleh kebanggaan dari Konservasi Internasional dan diakui

atas penerapan sumber etis kopi globalnya melalui program

C.A.F.E.. Terlebih lagi, program praktik C.A.F.E. secara etis pada

sejauh perjalanannya memiliki eskalasi progress yang konstan naik

dan sangat drastic hingga pada tahun ini karena secara etis telah

memperoleh 99% kopi mereka. Hal ini juga menjadi salah satu

100
101

indikasi sebab Starbucks dikatakan sebagai kopi ritel terbesar

dalam tonggak sejarah dunia hingga saat ini. Tidak berhenti disitu,

Starbucks akan tetap mempertahankan komitmennya untuk dapat

mewujudkan hingga 100% kopi yang bersumber secara etis melalui

program C.A.F.E.-nya. Sisa upaya Starbucks untuk mengejar

secara konstan 1 persen terakhir ini dinilai dapat membantu

menjadikan dunia sebagai tempat yang lebih baik. Pengutusan

Starbucks FSC juga termasuk sebagai salah satu bentuk upaya

untuk menerapkan 1% tersebut dengan terus menciptakan peluang

bagi komunitas local secara global. [ CITATION Sta101 \l 1033 ].

Dari ujung durasi video singkat di situs Starbucks bersama

konservasi internasional menyatakan asumsi positifnya bahwa

kesemua hal tersebut tidak semerta-merta berbicara mengenai kopi

semata, namun pada intinya berbicara mengenai setiap

kemungkinan dan komitmen bahwa baik perusahaan global

maupun manusia secara tunggal keduanya dapat membuat

perbedaan yang dapat membawa dunia ke arah dunia yang lebih

baik [ CITATION Sta101 \l 1033 ].

b. Layanan SCS Global Services

Adapun Layanan SCS Global Services sebagaimana yang

dikemukakan Alejandra Bueno, Koordinator Divisi Sumber

Makanan dan Agrikultur yang Bertanggung Jawab (Coordinator

Responsible Sourcing Strategis Food and Agriculture Division)

merupakan sebuah proses evaluasi, sertifikasi, dan audit pihak

101
102

ketiga yang bertugas memberikan pengawasan, pelatihan,

dukungan, dan persetujuan terhadap organisasi pihak ketiga yang

melakukan verifikasi terhadap C.A.F.E. Selain itu, SCS juga

bekerja dengan perusahaan Starbucks Coffee dalam hal

peningkatan program praktik C.A.F.E. untuk memastikan pasokan

jangka panjang kopi berkualitas tinggi yang bersumber secara etis

pada seluruh rantai pasokan yakni yang mencakup perkebunan,

pabrik, gudang, dan entitas lain yang termasuk dalam rantai

pasokan diperiksa melalui proses verifikasi pihak ketiga

(konservasi internasional), sesuai dengan indicator social dan

lingkungan yang tercantum pada kartu skor (scorecard) dalam

praktik C.A.F.E. [CITATION Ale20 \l 1033 ].

SCS telah bekerjasama dengan Starbucks dan Konservasi

Internasional untuk mengembangkan standar praktik Kopi dan

Keadilan Petani (C.A.F.E.) guna memastikan bahwa Starbucks

tetap menanam sumber tanaman yang mampu tumbuh dan diproses

menjadi kopi secara berkelanjutan. Hal itu sejalan dengan

Starbucks yang mendefisinikan keberlanjutan sebagai sebuah

model ekonomi yang layak untuk memenuhi dan menjawab

kebutuhan sosial dan lingkungan atas semua peserta yang terlibat

dalam rantai pasokan mulai dari petani hingga konsumen. Oleh

karena itu, pada program praktik C.A.F.E. terdapat Kartu Skor

Generik dan Petani kecil (petani pemilik ladang kecil) yang

mencakup serangkaian lebih dari 200 indikator social, ekonomi

102
103

dan lingkungan di dalamnya. Yang mana pendekatan ini juga

memperhitungkan semua orang dari petani hingga konsumen.

4. Strategi dan Mekanisme Operasional Pelatihan Starbucks FSC

untuk Petani Kopi di Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera

Utara, Indonesia.

Pada laman Marketters, dijelaskan bahwa FSC pada dasarnya

diutus oleh Starbucks Coffee Company yang merupakan proyek social

global mereka dan memiliki misi melatih 200.000 petani kopi di

seluruh dunia hingga tahun 2020. Dalam praktiknya, FSC menawarkan

konsep open source di mana informasi agronomi diberikan secara

Cuma-Cuma kepada para petani agar mampu melatih mereka teknik

bertani secara keilmuan, menghitung profitabilitas hasil tani, dan

belajar mengenai praktik bertani secara etika atau C.A.F.E (Coffee and

Farmers Equity) [ CITATION Sav181 \l 1033 ].

Paling tidak, dalam bahasan lebih lanjut ini terdapat dua kata

kunci inti yang dapat diidentifikasi sebagai bahan analisia terhadap

Starbucks dalam mewujudkan Strateginya melalui operasi Starbucks

FSC di 9 negara termasuk di Indonesia hingga saat ini, jika

disinkronisasi dengan tujuan besarnya yang menghendaki adanya

“positive social impact” yang berorientasi pada peningkatan taraf

hidup masyarakat local secara global khususnya pada masyarakat

petani. Yang pertama adalah pelatihannya yang bersifat ‘open-source’

– bisa diakses oleh setiap kalangan yang ingin memiliki pengetahuan

lebih tentang mekanisme pengolahan kopi dari proses awal pengenalan

103
104

kategorisasi bibit kopi yang disesuaikan dengan karakter tanah,

penanaman, hingga pada produksi dan penjualannya. Yang dengan

adanya pelatihan dan bimbingan dari para ahli agronomi dan kopi

tersebut sedikit banyak dapat memberi signifikansi peningkatan

terhadap kesemua tahapan dalam serangkaian proses produksi kopi

tersebut. Peningkatan yang dimaksud adalah antara lain seperti

penekanan biaya produksi, pencegahan hama dan penyakit, serta

kualitas praktik pengolahan yang efektif dan efisien yang

mengantarkan pada hasil produksi/biji kopi berkualitas premium.

Dengan demikian praktik produksi kopi yang mengalami peningkatan

kualitas maupun hasil produksi akan cenderung mempengaruhi harga

penjualan menjadi lebih tinggi dan pada akhirnya mampu membawa

pada peningkatan kesejahteraan kelompok petani local secara global

sebagaimana prinsip Starbucks yang menganggap kesuksesannya

bergantung pada kesuksesan petani dan pemasok yang menanam dan

memproduksi produknya. Kedua, adalah kontribusi dan sumbangsih

sukarela oleh Starbucks yang ‘tidak sedikit’ terhadap sasaran pelatihan

Starbucks Farmer Support Centers, yakni petani kopi di 9 negara

penghasil tersebut, termasuk pelatihan dan program yang diberikan

selama operasinya. Ditambah lagi, Starbucks tidak mensyaratkan

masyarakat yang sudah diberikan pelatihan agar menjual hasil

panennya kepada Starbucks untuk dijadikan sebagai rantai pasokan

Starbucks itu sendiri.

104
105

Di Indonesia, khususnya di Sumatra Utara kedua hal tersebut

sedikit banyak telah ditunjukkan dari pola mekanisme yang digunakan

Starbucks FSC selama beroperasi bersama komunitas petani kopi yang

berada tepatnya di Kecamatan Berastagi, Kabupaten Karo. Berikut

motif, Strategi, dan mekanisme rinci yang dilakukan Starbucks dalam

mengoperasikan Starbucks FSC di daerah Sumatera Utara:

- Starbucks memilih Sumatra, karena Starbucks merupakan salah

satu buyer terbesar kopi Sumatera di dunia. Dikarenakan kopi

arabika dari Sumatera dijual di hampir seluruh gerainya di dunia

dan dijadikan sebagai salah satu racikan Starbucks dalam membuat

houseblend yang selama ini menjadi bahan dasar kopi pada gerai-

gerai Starbucks [ CITATION Sav181 \l 1033 ]

- Melirik pada kopi Gayo yang juga merupakan milik Sumatera

Utara, pun masuk dalam salah satu kopi single origin yang

disajikan di kedai khusus Reserve, disandingkan dengan para

single origine seperti Congo Lake Kive atau Peru

Chontali[ CITATION Sav18 \l 1033 ].

- Dilandasi oleh begitu besarnya jasa Sumatera terhadap gerak bisnis

Starbucks di dunia hingga Starbucks memberikan perhatian lebih

terhadap masa depan kopi Sumatera melalui pengutusan FSC untuk

melatih petani dalam mendapatkan praktik yang lebih layak dan

menguntungkan[ CITATION Sav18 \l 1033 ].

- Menurut penuturan Anthony Cottan, Direktur Starbucks Indonesia,

Starbucks merupakan perusahaan sangat besar dengan lebih dari

105
106

tiga juta kopi yang terjual setiap bulannya. Meski begitu, Starbucks

tidak hanya sekadar menjual kopi melainkan ingin ikut

mengedukasi masyarakat agar bisa menghasilkan kopi yang baik,

yang mana proses edukasi juga sejalan dengan pilihan biji kopi

Sumatera yang merupakan kopi terfavorit di dunia [ CITATION

Sav18 \l 1033 ].

- Pada prakteknya, Starbucks FSC yang telah didirikan sejak tahun

2015 melibatkan 19 kelompok petani dari Kabupaten Karo, dan

Kabupaten lain di sekitarnya, yang setiap kelompok tani rata-rata

beranggotakan 20-25 petani. Kelompok tani tidak ditentukan tidak

terbatas hanya di tanah Karo namun juga melebar ke sejumlah

kabupaten di Sumatera Utara bahkan hingga ke Aceh dan Kerinci.

Pada tahun pertama, Starbucks melakukan program pembibitan

10.000 bibit unggul yang mana bibit itu telah diberikan kepada

para kelompok petani untuk ditanam di perkebunan mereka

masing-masing. Pada tahun kedua, bibit yang diberikan bertambah

menjadi 20.000 bibit. Dan pada tahun ketiga (pada tahun 2018),

bibit yang diberikan Starbucks naik drastic sebesar 300.000 bibit.

Menurut Surip Mawardi, Kepala Agronomis Starbucks Farmer

Support Centers di Indonesia, jumlah itu setara dengan 150.000

hektare lahan kopi baru apabila ditanam dengan pola konvensional[

CITATION Sav18 \l 1033 ]. Hal ini terjadi berkat digelarnya kampanye

“Art in A cup” oleh Starbucks, sebuah program keterlibatan

konsumen dalam aktivitas kontribusi social perusahaan. Kampanye

106
107

ini menghadirkan empat varian menu minuman special. Yang

mana di setiap 10 gelas yang terjual akan dikonversi menjadi 1

bibit pohon kopi yang kemudian nantinya akan diserahkan ke

petani Kopi di Sumatra. Hingga pada tanggal 8 juni 2018, dengan

berkolaborasi bersama Starbucks Farmer Support Centers di

Berastagi, Sumatra Utara, Starbucks menyalurkan 150 ribu bibit

pohon kopi yang senilai dengan Rp 400 juta, yang melalui

penyerahan langsung oleh Direktur Starbucks Indonesia, Anthony

Cottan. Bibit-bibit tersebut dihasilkan dari benih yang

berkecambah, yang didatangkan dari Badan Peneliti dan

Pengembangan Pertanian RI, sehingga telah legal dan memperoleh

uji nasional. Adapun varietas benih kopi yang direkomendasikan

FSC adalah Komasti, Adung-Sari 1, Gayo, dan Sigarar Utang

[ CITATION Sav18 \l 1033 ].

- Teknik penanaman yang dilakukan berbeda-beda, model teknik

penanaman meliputi penanaman model zig-zag, penanaman dengan

jarak antar pohon berbentuk segi tiga, menyilang, dan lainnya.

Cara tersebut tergantung dari luas lahan dan berapa banyak pokok

(pohon kopi) yang ingin ditanam petani. Yang terpenting adalah

perlu adanya tanaman pelindung berupa pohon Lamtoro yang

diletakkan di antara deretan pohon kopi[ CITATION Sav18 \l 1033 ].

- Menurut Surip Mawardi, Teknik penanaman menentukan

kesejahteraan petani. Menurut hematnya lagi, tidak seperti petani

lain seperti di kawasan Brazil yang bisa menanam 8000 pohon kopi

107
108

di lahan satu hectare, petani Sumatera paling banyak menanam

pada jumlah 2.500 pohon kopi di luas lahan yang sama. Hal

tersebut disebabkan kontur wilayah masing-masing beda, ditambah

lagi aktivitas pertanian di daerah Sumatra masih dilakukan secara

tradisional a.k.a tanpa menggunakan mesin berteknologi tinggi.

- Menurut Tovan Marhennata, agronomis FSC Para petani berkebun

dengan luas lahan yang relative kecil. Buah ceri yang menjadi

cikal-bakal green bean (biji kopi) dipetik menggunakan tangan

secara manual. Sehingga, proses produksi biji kopi terbilang lama.

Surip Mawardi mengkalkulasinya dengan pemisalan pada satu

hectare lahan kopi yang berisi 2.000 – 2.500 pohon kopi. Dan

setiap satu pohon dapat menghasilkan 2.100 buah ceri yang jika

dikupas buah tersebut akan diperoleh biji kopi, maka satu pohon

hanya memperoleh 500 gram biji kopi. Yang berarti, Petani

mampu menghasilkan kurang lebih 1 hingga 1,5 ton biji kopi per

sekali panen dalam setahun. Jika dijual dalam bentuk biji kopi

yang dikeringkan, maka harga pasaran biji kopi dapat ditaksirkan

sebesar Rp 35.000 per kilogram. Yang artinya, pendapatan terkecil

petani selama setahun dalam sekali panen akbar sebesar Rp 350

juta atau Rp 2,9 juta per bulan. Pendapatan ini telah berada di atas

angka ambang kemiskinan versi BPS sebesar di bawah Rp 2 juta

per bulan per kepala keluarga[ CITATION Sav18 \l 1033 ].

- Surip Mawardi menyarankan agar petani kopi mampu melakukan

eco-farming yang menuntut mereka memanfaatkan apa yang ada di

108
109

ladang untuk berternak, agar dapat memperoleh pendapatan

tambahan hingga jutaan rupiah dari hasil menjual kambing atau

telur ayam[ CITATION Sav18 \l 1033 ].

- Salah satu petani kopi asal Desa Suka, Kabupaten Karo, Ridwan

Juanda Barus yang menjadi anggoata Kelompok Tani Sirgi Fajar

Harapan di FSC, menerangkan bahwa selam dua tahun ia focus

menggarap kopi dengan alihfungsih lahan yang sebelumnya

merupakan lahan perkebunan jeruk dan markisa yang termakan

lalat hama buah akibat erupsi Gunung Sinabung. Bersama

saudaranya, ia membudidayakan kopi arabika di atas lahan dua

hectare milik keluarga. Ridwan mengatakan bahwa Karo

merupakan wilayah di mana tanaman apapun dapat mudah tumbuh

dengan baik, meski tanpa memerlukan pupuk anorganik,

melainkan semua dapat tumbuh secara organic, karena merupakan

daerah dengan tanah yang subur. Sampai pada proses memanen

kopi, ia mengatakan bahwa Kopi Karo memiliki cita rasa yang

berbeda dari kopi Mandailing atau Sidikalang yang merupakan

kopi khas Sumatera yang sudah terkenal di penjuru dunia sejak

lama khususnya di kalangan para penggiat kopi, meskipun berasal

dari pulau yang sama. Ia menjelaskan bahwa kopi karo memiliki

citarasa yang lebih aromatic dikarenakan sebab alihfungsi lahan

buah-buahan dan sayuran yang menjadikan aroma kopi Karo

mempunyai banyak rasa[ CITATION Sav18 \l 1033 ].

109
110

- Menurut Surip Mawardi, tanaman kopi di Tanah Karo bersifat

tanaman tepi, yang mana yang menjadi tanaman utama warga

setempat adalah sayur-sayuran.

- Hingga saat ini, kabupaten Karo tengah berpacu dengan waktu

untuk membuktikan kepada dunia bahwa generasi kopi baru dari

Sumatra. Salah satu indicator keberhasilannya apabila pada

Starbucks Reserve terpampang sebungkus kopi 250 gram

bertuliskan “Karo” itu berarti kopi Karo cukup banyak diminati

oleh pecinta kopi [ CITATION Sav18 \l 1033 ].

- Data laporan terbaru dari “Global Social Impact Report Starbucks

2018”, menunjukkan bahwa ahli agronomi Starbucks pada dua

tahun terakhir (2017-02018) telah emberikan pelatihan gratis

kepada 52.240 petani kopi melalui Sembilan pusat dukungan

petaninya (FSC) di Negara-negara penghasil kopi (termasuk

Indonesia – Sumatra). adapun data jumlah pelatihan Starbucks FSC

pada tahun 2018 yakni sebanyak 27.938 sudah inklusif pada data

dua tahun terakhir tersebut.

Berdasarkan data dan informasi yang diperoleh dari beberapa

laman dan hasil wawancara yang akhirnya menghasilkan penjabaran

strategi Starbucks melalui program Starbucks FSC di Sumatra di atas,

maka pertama terdapat kesinambungan teori dari yang telah dikemukakan

Harry Magdoff mengenai MNC dalam salah satu kutipannya yakni bahwa

yang menjadi fitur utama sebuah MNC adalah adanya investasi langsung

ke luar negeri yang dirancang untuk menentukan dan mengatur produksi

110
111

dan/ atau unit distribusi. Unit distribusi dalam hal ini mejadi penting untuk

digarisbawahi, yang dalam konteks Program FSC di Sumatera yang

mewakili Indonesia dapat diasumsikan sebagai salah satu upaya MNC

Starbucks untuk melancarkan unit distribusinya yakni dalam hal ini kopi di

Indonesia yang dikenal cukup potensial dalam tumbuh-kembang dan

kualitasnya. Hal ini menjadikan Indonesia khususnya di Sumatera Utara

memiliki nilai tambah yang akan membantu Starbucks sebagai salah satu

langkah efektif dalam unit distribusinya. Maka upaya Starbucks untuk

memanifestasikan hal tersebut yakni salah satunya dengan mengadakan

program CSR yaitu Starbucks FSC dimana program ini mempenetrasi

entitas petani kopi di sumatera utara dengan tujuan awalnya yakni untuk

membangun citra positif yang nantinya akan bertendensi pada terjadinya

penambahan unit distribusi MNC Starbucks dalam hal pasokan biji kopi.

Berbagai mekanisme yang memuat dampak positif social kepada para

petani local juga telah banyak diadakan oleh Starbucks yang melibatkan

beberapa actor baik dalam skala internasional seperti organisasi verifikasi

Konservasi Internasional dan SCSS sampai pada pihak yang bertanggung

dalam lingkup skala kecil pada Negara sasaran seperti adanya kepala

Agronomis Starbucks FSC yang memegang peran kendali utama atas

segala aktivitas yang diselenggarakan dalam lingkup kegiatan program

Starbucks FSC.

Tujuan Starbucks mengadakan program social berkelanjutan berupa

Starbucks FSC yang meskipun terdapat klaim di dalamnya yang

menjelaskan bahwa program ini dibuat berdasarkan pada itikad baik

111
112

semata yakni sebagai langkah inisiatif untuk memperbaiki praktik dan

kualitas masa depan petani kopi dan budidaya kopi secara global dari

lingkup yang paling local namun sebagaimana dalam konsep MNC, hal ini

tetap saja diasumsikan sebagai salah satu bentuk indikasi Starbucks untuk

melancarkan strategi dalam hal akses control agar dapat secara konstan

mendapatkan serta menambah sumber bahan mentahnya dan sekaligus

merupakan akses jalan untuk dapat terus menyalurkan produk-produknya

ke berbagai belahan dunia.

Sementara dalam konsep CSR, asumsi kuat yang senantiasa

mengiringi berjalannya Program Starbucks FSC di Sumatera Utara, adalah

merupakan suatu upaya Starbucks untuk membangun citra positif di mata

publik dengan program yang bersifat ‘charity’ secara eksternal dan

internal. Program Starbucks FSC ini juga merupakan salah satu cara

Starbucks agar dapat memenuhi perannya sebagai perusahaan yang ikut

meningkatkan value creation-nya yang salah satunya akan bermuara pada

salah satu pillar dalam konsep CSR yakni Triple Bottom Line yang

memuat tiga elemen di antaranya Profit, People, Serta Planet. Maka dalam

program ini Starbucks meskipun menyapu rata pemenuhan tiga tersebut,

namun program ini cenderung lebih banyak menjadikan ‘People’ sebagai

titik sentrum yang disasar Starbucks, yakni bagaimana Starbucks berupaya

memberikan menfaat yang mana dalam konteks program ini yaitu adanya

pelatihan kepada para petani di Sumatra berupa Praktek penanaman dan

pembudidayaan Kopi yang baik berdasarkan kualitas standarisasi yang

baik oleh Starbucks dengan dibantu oleh tenaga agronom yang handal.

112
113

Adanya pelatihan tersebut sekaligus dibarengi dengan berbagai pemberian

bantuan berupa hibah yang telah diadakan Starbucks melalui program

Starbucks FSC ini seperti pemberian 150 ribu bibit kopi untuk para petani

kopi yang mana jumlah tersebut setara dengan nilai 400 Juta Rupiah. Hal

ini dinilai sebagai salah satu langkah Strategi Starbucks yang berupaya

menyinkronkan diri sebagai pihak yang ingin dianggap sebagai pemberi

bantuan sebagaimana yang disebutkan dalam konsep CSR.

B. Implikasi Starbucks Farmer Support Centers (FSC) terhadap Petani

Kopi di Sumatera Utara.

Menurut laman resmi dari Starbucks, dalam menjalankan peranan

dan tanggung jawabnya sebagai perusahaan public yang mencari laba

(Red: a for-profit Public Company), Starbucks memiliki antusiasme tinggi

untuk memberikan dampak social positif kepada komunitas masyarakat

terkait – yang dilayani Starbucks secara global. Hal ini sejalan dengan

slogan misi Starbucks yakni “One person, one cup and one neighborhood

at a time”. Lebih lanjut, semakin bertambahnya gerai toko yang tercatat

lebih dari 28.000 toko yang dibangun Starbucks di lebih dari 75 negara,

semakin memperkuat bukti komitmennya dalam memberikan dampak

social positif secara global [ CITATION Sta16 \l 1033 ] . Misi Starbucks untuk

memberikan dampak positif social secara global juga dapat diidentifikasi

lanjut dengan juga memerhatikan visi Starbucks yang ingin membantu

menginspirasi mitra, pelanggan, para pemasok dan tetangga (Negara dan

masyarakat sekitar) dalam memberikan perubahan positif kepada mereka

yang tersebut. Sehingga Starbucks demi mewujudkan visi yang demikian

113
114

tidak berhenti memberikan peranannya sebagai innovator, pemimpin dan

kontributor terhadap masyarakat secara inklusif dan pada lingkungan yang

sehat. Output dari peranan yang dijalankan Starbucks tersebut diharapkan

agar sasaran Starbucks dari elemen-elemen tertentu (dalam lingkup social

dan lingkungan) yang terlibat dalam aktivitas Starbucks secara global akan

dapat bertahan dan memiliki potensi lebih untuk maju dan

berkembang[ CITATION Sta16 \l 1033 ].

Adapun langkah akhir dalam membuktikan prestasi Starbucks

dalam memberikan dampak social kepada masyarakat global sejauh ini

khususnya pada konteks keterlibatan petani kopi di lokasi Berastagi,

Sumatera Utara telah dilakukan melalui proses wawancara bersama salah

satu pihak inti-terkait yaitu dalam hal ini Ketua KTNA (Kontak Tani

Nelayan Andalan) di Kecamatan Berastagi, yang membawahi dan

membina 10 kelompok tani (termasuk petani kopi) dan sekaligus mewakili

10 Desa dan kelurahan di dalamnya. KTNA merupakan kelompok petani

yang bermitra dengan pemerintah. Sementara KTNA di Berastagi terletak

di Keluarahan Gundaling 2, Kecamatan Berastagi yang berjarak dekat

dengan kediaman kantor Starbucks FSC Indoneisa di Desa Dolat Raya,

Kecamatan Dolat Raya, yaitu kurang lebih berselang sekitar 5 Km, dan

merupakan desa yang berbatasan dengan kecataman Berastagi [ CITATION

Jay20 \l 1033 ].

Dalam wawancara tersebut, beliau mengungkap bahwa di wilayah

Berastagi, informasi tentang digelar dan diadakannya sebuah program

114
115

praktik pelatihan penanaman kopi secara berkelanjutan oleh Starbucks

yang bernama Starbucks Farmer Support Centers (FSC)/ Pusat Dukungan

Petani Starbucks, jarang bahkan nyaris tidak diketahui oleh sedikitpun

warga penduduk Berastagi bahkan dalam kalangan petani Kopi. Bahwa

informasi tentang terdapatnya sebuah Proyek besar dari perusahaan asing

raksasa Starbucks yang mengedukasi para petani dalam memproduksi biji

kopi yang berkualitas secara berkelanjutan, tidak sampai kepada penduduk

Berastagi itu sendiri [ CITATION Jay20 \l 1033 ].

Lebih lanjut dalam hasil wawancara tersebut, informan

memberikan sedikit banyak gambaran umum terkait kondisi petani kopi di

Berastagi yang tanpa terpaut dengan Program Starbucks FSC dan jauh

sebelum Program Starbucks FSC di Indonesia (menurut tahun masuknya

yaitu tahun 2015) masuk di Indonesia Khususnya di Berastagi itu sendiri.

Kopi di Berastagi secara yang dikenal merupakan kopi yang memiliki

citarasa enak. Dari berbagai hasil kopi yang ada bahkan hingga kopi yang

liar dan terlepas dari binaan Starbucks cukup diunggulkan dari aspek

citarasa kopi tersebut. Kopi yang bukan dari binaan Starbucks ini juga

telah banyak mengaet pembeli dan berhasil menembus pasar Internasional.

Pekerjaan bertani kopi tidak semerta-merta menjadi mata pencaharian

utama oleh penduduk Berastagi, melainkan hanya memenuhi sekitar 5

persen dari kebutuhan pokok penduduk di Berastagi. Sedangkan 95 persen

lainnya diperoleh dari hasil bertani sayur mayur [ CITATION Jay20 \l 1033 ].

115
116

Perjalanan kopi di Berastagi sendiri dalam sekala lebih luas pada

wilayah Kabupaten Karo bermula dari pekerjaan bertanam sayur mayur

dan buah jeruk. Kemudian akibat adanya hama tanaman yang menghambat

dan mematikan tumbuh-kembangnya tanaman sayur mayur yang

berdampak pada kerugian para petani, maka petani terfikir untuk menanam

kopi dan kembali menanam sayur mayur. Hingga saat ini kedua komoditi

tersebut meski pada persentase hasil tani yang berbeda terus

dibudidayakan dan menjadi mata pencaharian utama penduduk Karo,

terutama sayur mayur [ CITATION Jay20 \l 1033 ].

Terkait peranan Starbucks dalam memberikan program

berkelanjutan kepada kelompok tani yang beroperasi di Berastagi, hal

tersebut ditanggap oleh Ketua KTNA sebagai sebuah system kerja yang

tidak melibatkan kelompok tani dan merupakan sebuah praktek yang

illegal karena menganggap tidak memberitahukan serta melaporkan hal

tersebut pada dinas pertanian. Hal tersebut dinilai kuat oleh Ketua KTNA

karena selalunya, segala informasi yang berkaitan dengan aktivitas

kelompok petani di Kabupaten Karo sampai kepada Ketua KTNA dan

biasanya menjadi rekomendasi lanjut oleh Dinas Pertanian pada sub

bidang Perkebunan untuk ditindaklanjuti oleh Ketua KTNA bersama

kelompok-kelompok petani yang dinauginya di sekecamatan Berastagi.

Adanya hal itu kemudian mangantarkan ketua KTNA berasumsi lanjut

bahwa Starbucks FSC memiliki kemungkinan berkantor di Berastagi

namun operasional pelatihan tersebut tidak digelar di sekitar wilayah

Berastagi. Tidak hanya itu, Ketua KTNA juga belum mengetahui bahwa

116
117

program Starbucks FSC nyatanya sudah beroperasi sedemikian lama yakni

sejak tahun 2015 di Indonesia, khususnya di Berastagi. Mengetahui hal

tersebut ketua KTNA semakin berasumsi kuat bahwa jika program dan

kantor Starbucks FSC tersebut telah dirintis sejak tahun 2015 di Berastagi

maka sudah sewajarnya dari hasil pelatihan program tersebut telah

menampakkan produksi kopinya pada tahun ini. karena gaung tersebut

sudah dinilai sangat besar dan semestinya hal tersebut telah tersebar

sedemikian merata di penduduk Berastagi [CITATION Jay201 \l 1033 ]

Mengetahui adanya program Starbucks FSC yang beroperasi dan

berkantor di Daerahnya, Ketua KTNA berinisiasi mengadakan upaya

tindak lanjut untuk mencaritahu kepastian dan kebenaran adanya program

tersebut dengan menanyakan perihal itu kepada beberapa koneksi pihak

terkait yang juga dari kalangan petani kopi. Al hasil, ketua KTNA tidak

lama menemukan informasi tentang salah seorang yang merupakan binaan

program Starbucks melalui kawannya. Namun oknum tersebut dinilai

tidak ingin membuka informasi apapun terkait proses pelatihan yang telah

diberikan oleh Starbucks FSC.

Mengenai mekanisme program pelatihan Starbucks FSC pada

sebuah laman yang melibatkan 19 sampai 20 kelompok tani, Ketua KTNA

lagi-lagi mengasumsikan adanya pelibatan jumlah kelompok tani sebanyak

itu merupakan gaung yang cukup besar yang semestinya persebaran

informasi tersebut telah sampai kepada ketua KTNA dan beberapa

kelompok petani yang dinaunginya di se-Kecamatan Berastagi. Namun

117
118

pada kenyataannya, hingga saat ini informasi perihal tersebut masih belum

diketahui secara pasti [ CITATION Jay201 \l 1033 ].

Ketua KTNA menganggap perihal tersebut sebagai ironi besar

lantaran ketua KTNA memiliki jaringan terdekat yang dianggap paling

potensial untuk mengetahui Informasi penting tersebut, dalam hal ini

Sekertaris KTNA yang merupakan seorang yang aktif dalam mengetahui

sejumlah informasi yang menyangkut aktifitas pertanian dan juga turut

aktif pada dinas pertanian Sumatera Utara serta tergabung pada beberapa

LSM yang focus membahas bidang pertanian (termasuk petani kopi) juga,

namun sekertaris tersebut sama sekali tidak mengetahui hal tersebut begitu

juga dengan pihak-pihak terkaitnya seperti sejumlah LSM dan lain

sebagainya [ CITATION Jay201 \l 1033 ].

Dengan demikian, dari asumsi-asumsi yang dikeluarkan , Ketua

KTNA akhirnya mengeluarkan inferensi yang menyatakan bahwa

Starbucks FSC tidak lain hanya membuat suatu/beberapa kelompok yang

terlepas dalam lingkup pengetahuan dan binaan pemerintah serta tidak

terdaftar secara resmi dalam dinas pertanian. ketua KTNA juga

menegaskan bahwa informasi-informasi di laman-laman internet terkait

program Starbucks FSC yang mengadakan pelatihan di Berastagi itu

merupakan informasi dan berita dari pihak-pihak yang tidak bertanggung

jawab dikarenakan terdapat beberapa kekeliruan dan ketidakpastian

informasi di dalamnya, seperti halnya kejelasan lokasi kediaman Starbucks

118
119

FSC di Berastagi itu belum sampai kepada sebagian besar penduduk

Berastagi khususnya di kalangan petani dan petani kopi itu sendiri.

Untuk lebih menegaskan, Ketua KTNA memberikan informasi

mengenai penduduk Kabupaten Karo yang mendeskripsikan bahwa secara

umum penduduk/ orang-orang di tanah Karo sudah sejak dahulu memiliki

karakter pekerja keras yang telah lama menjadi khas kearifan local

masyarakat Karo bahkan sejak Indonesia merdeka. Dimana masyarakatnya

telah lama membudidayakan secara maksimal tanaman holtikultural

termasuk kopi di Karo yang mengantarkan pada kondisi penduduk Karo

yang sejahtera dalam hal mata pencahariannya. Ketua KTNA

menambahkan deskripsi konkrit tentang kondisi Penduduk Karo yang

melambangkan model pekerja keras, yang memberikan contoh bahwa

dalam setiap harinya, seluruh penduduk masyarakat Karo baik dari

kalangan anak kecil, usia dewasa hingga usia yang sudah lanjut dari pagi

hingga sore melakukan aktivitas bertani sayur mayur dan sebagian

kecilnya juga kopi[ CITATION Jay201 \l 1033 ].

Ketua KTNA menambahkan, sumbangsih sayur mayur dalam

memenuhi kebutuhan pokok harian dan tahunan penduduk Berastagi jauh

lebih besar dan menguntungkan dibanding tanaman kopi, dan sekaligus

sayur mayur tersebut menjadi factor utama bagi kesejahteraan penduduk di

Berastagi. Konkritnya digambarkan bahwa apabila petani memiliki luas

lahan 500 sampai 1000 meter, maka petani tersebut apabila berada pada

posisi kepala rumah tangga maka ia dikategorikan mampu menyekolahkan

119
120

minimal 2 anak untuk sampai ke jenjang perguruan tinggi. Lebih lanjut

apbila lahan tersebut berluas 1000 meter, maka di pinggiran lahan tersebut

biasanya ditanam 20 sampai 30 batang pohon kopi yang mana dari hasil

tersebut mampu berkontribusi pada 10 persen produksi serta pendapatan

upah tahunan petani dikarenakan kopi merupakan jenis tanaman musiman

– berbeda halnya dengan sayur mayur yang dapat dipanen setiap hari.

Digambarkan lagi bahwa tanaman kopi lebih banyak ditanam di tepian,

dan atau jika terdapat tempat-tempat yang sulit dijangkau untuk ditanami

sayur seperti kemiringan-kemiringan lahan (karena daerah tersebut

merupakan daerah dataran tinggi atau perbukitan), maka disitu ditanam

tanaman kopi, atau manakala lahan tersebut bidangnya rata, maka kopi

hanya ditanam di pinggaran saja dan biasanya disengaja diletakkan di

dekat pagar juga sebagai markah pembatas [ CITATION Jay202 \l 1033 ].

Adanya Kontribusi sayur mayur yang lebih besar dibanding kopi

dalam konteks kesejahteraan penduduk Karo – Berastagi, dan bersamaan

dengan larisnya penjualan kopi baik di pasar local hingga menembus pasar

internasional yang mana kopi tersebut kesemuanya merupakan hasil panen

mandiri masyarakat Berastagi – Karo, maka Ketua KTNA lantas

memberikan sebuah penilaian bahwasanya Masyarakat Berastagi yang

pada lingkup lebih luasnya yaitu pada masyarakat Karo merupakan

masyarakat yang sudah sejahtera sejak awal hingga saat ini, dan

kesejahteraan tersebut tidak berkaitan sama sekali dengan adanya dampak

dari program yang dibawa masuk oleh Starbucks ke Berastagi bahkan

120
121

apabila informasi proyek besar tersebut benar adanya [ CITATION Jay203 \l

1033 ].

Oleh karena itu, berpatron daripada apa yang telah dikemukakan

ketua KTNA di atas, yang sekaligus merepresentasikan sejumlah besar

petani di Berastagi – Sumatera Utara, terkait eksistensi dan dampak

Program Pelatihan Starbucks Farmer Support Centers (FSC) di Berastagi

dan Sumatra Utara akhirnya sampai kepada asumsi final penulis

bahwasanya sebagian besar yang dikemukakan pada laman resmi

Starbucks serta pada sejumlah media informasi lainnya yang mana

Starbucks dalam waktu bersamaan bertujuan ingin mengedukasi dan

sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani kopi melalui Program

Starbucks FSC ini untuk melatih para petani agar mendapatkan praktek

dan hasil bertani yang baik oleh para agronom handal yang diutus

Starbucks sejak tahun 2015 khususnya di Berastagi, hampir tidak

menunjukkan relevansinya sama sekali dengan apa yang telah

dikemukakan ketua petani yang membawahi 10 desa/kelurahan di

Berastagi, terkait segala bentuk aktivitas pertanian kopi di Berastagi

dengan kaitannya dengan program Starbucks ini. dengan kata lain,

Starbucks yang terlihat berupaya menunjukkan kepada public dan dunia

program amal baiknya salah satunya Starbucks FSC ini tidak memiliki

pembenaran langsung kepada medium inti dilaksanakannya program ini di

Indonesia yaitu di Berastagi. Ada beberapa asumsi kuat yang dibangun

setelah mengadakan wawancara dan negosiasi wawancara kepada

beberapa pihak inti untuk mendapatkan informasi prima yang akhirnya

121
122

respon dari pihak-pihak tersebut dapat mengantarkan pada benang merah

hasil proyek besar program ini sekaligus menjawab substansi penelitian

ini. Jawaban tersebut lebih condong mengarah pada titik dimana tidak

terbuktinya secara kasat mata proses dan hasil konkrit dari berjalannya

program Starbucks FSC tersebut. Tidak hanya itu, beberapa negosiasi

yang telah dilakukan kepada pihak-pihak kunci lainnya yang berbuah

penolakan secara persuasive semakian memperkuat asumsi tersebut.

Adapun asumsi kuat tersebut didasarkan pada hal-hal berikut:

1. Hampir segala bentuk pernyataan Starbucks melalui beberapa

media pemberitaan di Internet maupun di laman resmi

Starbucks adalah bersifat kontradiktif atau independen (tidak

terlalu relevan) dikarenakan informasi yang berkaitan dengan

aktivitas dan substansi pelatihan Starbucks melalui program

berkelanjutan Starbucks Farmer Support Centers (FSC) di

Berastagi tersebut tidak sampai kepada masyarakat Berastagi

khususnya pada kalangan petani dan lebih khusus kepada

petani kopi di Berastagi.

2. Tahun dilaksanakannya program ini yaitu sejak tahun 2015 dan

penyampaian informasi yang tidak merata kepada kalangan

petani kopi di Berastagi menunjukkan ke-tidakefektif-an

aktivitas pelatihan program Starbucks FSC demikian juga

penyebaran informasinya.

3. Tidak terdampaknya program ini kepada sedikitpun petani kopi

yang ada di Berastagi karena tidak melibatkan satupun

122
123

kelompok petani kopi yang ada di Berastagi dalam masa

pelaksanaan programnya.

4. Berbagai bentuk negosiasi yang dilakukan kepada pihak inti

sebagai langkah menempuh jalan pintu masuk dalam menggali

sebuah informasi terkait aktifitas program Starbucks FSC yang

berbuah penolakan secara halus mengindikasikan adanya

intranspransi program yang menuai kontradiksi berdasarkan

apa yang telah dipaparkan oleh program Starbucks FSC yang

bersifat open-source (akses informasi terbuka bagi siapa saja

yang ingin belajar/mengetahui proses bertani kopi yang baik

secara lebih dalam/lanjut).

5. Melanjutkan poin sebelumnya; tidak terdapatnya titik temu

antara sejumlah besar informasi teknis/mekanisme yang

menjelaskan bentuk dan hasil dari proses pelatihan

berkelanjutan Starbucks FSC sealama berlangsung di Berastagi

(terutama yang dikemukakan oleh Kepala Agronomis FSC

yakni Surip Mawardi) dan informasi kepada para pelaku utama

dalam hal ini kalangan petani kopi di Berastagi tidak begitu

tersaji dengan baik, serta adanya penolakan tegas dari pusat

Starbucks di tingkat internasional terkait ijin wawancara

langsung/tidak langsung kepada beberapa pihak terkait.

6. Terdapat inkonsistensi dari pihak Starbucks berupa kesalahan

data dan informasi yang disampaikan pada salah satu laman

resminya perihal tempat diadakannya kolaborasi antara

123
124

Starbucks Indonesia dengan Starbucks Farmer Support Centers

pada tahun 2016 dalam rangka kegiatan penanaman bibit kopi

yang dituliskan berlokasi di Desa Suka, Tiga Panah –

Berastagi. Namun, setelah diklarifikasi lebih lanjut bersama

Ketua KTNA, ketua KTNA justru menyatakan bahwa

informasi tersebut tidak benar adanya karna ada

ketidaksesuaian penempatan kecamatan yakni Desa Suka itu

merupakan desa yang berada di kecamatan Tiga Panah dan

Berastagi itu sendiri juga merupakan nama kecamatan yang

berada jauh dari Kecamatan Tiga Panah yaitu berjarak sekitar

kurang lebih 20km.

Oleh karena itu, dengan merujuk pada segala bentuk upaya

pencarian data dan informasi (baik secara langsung melalui wawancara

dan ataupun tidak langsung) yang telah dilakukan penulis, maka penulis

telah membangun suatu kerangka analisis tersendiri yang dikaitkan dengan

penggunaan (relevan-tidaknya) teori yang ada sebelumnya, dalam hal ini

yang membahas pada aspek implikasi program Starbucks Farmer Support

Centers di Sumatra Utara. Berikut uraiannya:

1. Terdapat relevansi antara penelitian pada skripsi Herdiani Dewi

Kurniawan dan penelitian penulis terkait dampak program CSR

Starbucks Farmer Support Centers di Sumatra Utara. Dalam

skripsinya, penulis tersebut memiliki hipotesis bahwa pelaksanaan

operasi program CSR biasanya hanya dipandang sebagai pelengkap

124
125

dalam memenuhi atau membangun citra baik pada suatu perusahaan

dalam hal ini MNC. Maka adapun substansi penelitian penulis tidak

jauh berbeda dari apa yang coba diungkapkan Herdiani Dewi

Kurniawan dalam hipotesis skripsinya. hal ini dikarenakan setelah

dampak program Starbucks FSC diidentifikasi lanjut, terdapat ironi

dimana masyarakat local yang berada pada cakupan program ini

berada tidak menerima informasi atau pengetahuan apa-apa terkait

substansi pelaksanaan program ini. selain daripada itu, program atau

dampak dari program ini tidak merangkul sebagian besar petani kopi

local yang ada di Berastagi. Hal demikian mengantarkan pada suatu

konklusi bahwa terdapat manipulasi mekanisme praktek/cara dari

pelaksanaan program CSR ini yang didasarkan semata-mata pada

upaya memberitahukan public (melalui media pemberitaan virtual)

agar supaya tercipta citra baik perusahaan di mata masyarakat umum

secara luas, yang namun pada prakteknya, dampak dari program

tersebut tidak merepresentasikan apa yang selama ini terinformasikan

pada media. Sehingga pelaksanaan program ini tidak terbukti efektif

memberikan dampak baik signifikan atau tidak terhadap entitas petani

local di Berastagi – Sumatera Utara.

2. Dampak Pelaksanaan program Starbucks FSC di Sumatera Utara,

apabila ditinjau dari bangunan Konsep MNC dan Host Country

memiliki beberapa relevansi yang bermuara pada banyak aspek dalam

membahas relasi kedua pihak. (a) Yang pertama penelitian ini sinkron

dengan tulisan Harry Magoff, yang menggambarkan bagaimana Karl

125
126

Marx dalam catatan-catatannya mengidentifikasi perilaku-perilaku

kaum kapitalis dalam hal ini MNC yang eksistensinya ditandai oleh

beberapa factor, antaranya yaitu kondisi perusahaan kapitalis yang

memaksa perusahaannya untuk memperluas jaringannya, dan adanya

proses akumulasi modal yang dilakukan melalui dua bentuk yang

saling berkaitan satu sama lain yaitu penyebaran produksi dalam skala

besar dan kombinasi perusahaan melalui merger dan akuisisi. Adanya

upaya Starbucks melalui program ini menghasilkan identifikasi yang

kuat yang mengarah kepada dua analisa tadi, yang secara tidak

langsung dalam konteks program tersebut, Starbucks menghendaki

hasil dari pelatihan dan pendidikan program Starbucks FSC ini agar

supaya masuk ke dalam rantai modalnya dan ini diindikasikan sebagai

salah satu bentuk penyebaran produksi dalam skala besar sampai ke

lingakup wilayah local (baca: pedesaan) suatu Negara sekaligus

menjadi upaya akumulatif dalam hal penambahan rantai modal

perusahaan. Masih dengan tulisan Magdoff, argumentasi tersebut

merujuk pada inti utama atribut MNC itu sendiri yakni sebagai

perusahaan yang melancarkan perluasan investasi, konsentrasi

kekuasaan perusahaan, dan pertumbuhan pasar dunia. Magdoff

menambahkan bahwa fitur utama dari MNC adalah adanya investasi

langsung ke luar negeri yang dirancang untuk menentukan dan

mengatur produksi dan/ atau unit distribusi. Dalam konteks program

Starbucks FSC di Sumatra Utara yang meniadakan dampak konkrit

terhadap kelompok-kelompok tani local yang berada paling dekat dari

126
127

ruang lingkup program tersebut beroperasi dan berlokasi,

diidentifikasi sebagai bentuk strategi Starbucks dalam upaya

menentukan dan mengatur produksi dan/ atau unit distribusinya dalam

hal ini hasil biji kopi yang telah dimanipulasi lalu dimasukkan ke

dalam rantai modal Starbucks. (b) Menurut dr. Sumantoro dalam

tulisannya terkait MNC, bahwa MNC yang ditinjau dari aspek politik,

memiliki focus sentral kepada MNC sebagai subjek dalam hubungan

internasional, yakni merujuk pada Negara MNC (Home Country) yang

memiliki kekuatan baik di tingkat nasional maupun internasional, dan

dengan pola manajemen yang dimiliki sehingga cenderung MNC dapat

menguasai informasi yang dapat dijadikan sebagai kekuatan politik

dan juga kekuatan ekonomi terhadap pihak-pihak yang dihadapinya

termasuk Negara Host Country itu sendiri . Dalam Konteks adanya

program Starbucks FSC yang telah berjalan di Sumatera khususnya di

Berastagi, dapat dilihat bahwa Upaya Starbucks tersebut melalui

program FSC yang tidak menunjukkan transparasi terkait mekanisme

pelaksanaan programnya, dapat dinilai sebagai salah satu jalan masuk

serta strategi Starbucks untuk memperoleh informasi dan menambah

kekuatan ekonominya. Hal tersebut terindikasi pada Starbucks yang

memiliki monopoli informasi dan terhadap masyarakat petani kopi

yang terlibat dalam program tersebut. (c) hasil pengamatan dari

penelitian ini juga relevan terhadap Konsep MNC yang merujuk pada

kondisi Negara dunia ketiga sejak pasca colonial hingga saat ini yang

tertinggal jauh dibandingan dengan angka rata-rata pertumbuhan di

127
128

Negara maju, yang menyebabkan banyak negara di Dunia Ketiga

mengalami kesulitan dalam menjalankan pembangunan ekonominya,

sehingga kondisi tersebut menjadi pengantar jalan masuk MNC beserta

teknologi canggihnya, yang alih-alih membawa manfaat besar terhadap

negara dunia ketiga, kehadiran MNC justru dinilai memberikan

dampak negative yang mana aktivitasnya lebih banyak terindikasi pada

perusakan lingkungan dan eksploitasi alam secara berlebihan. Hal

tersebut bisa semakin menjadi rentan dan parah dengan adanya

keadaan politik Negara belum stabil sehingga fungsi pengawasan

Negara terhadap aktivitas MNC sulit dilakukan secara komprehensif.

Lagi-lagi, analisis tersebut berdasar pada adanya intransparansi

program Starbucks FSC yang mengacu pada penilain Starbucks yang

memanipulasi informasi terhadap masyarakat luas secara global

melalui pemberitaan-pemberitaan positif media informasi, dan dalam

waktu bersamaan menimbulkan indikasi eksploitasi terhadap

masyarakat local dikarenakan tidak sampainya informasi tersebut

kepada entitas petani kopi di Sumatera. Oleh karena itu, sebagai

institusi besar yang bernama Negara dalam hal ini Indonesia beserta

perhatian terhadap kondisi ekonomi politik yang berjalan secara

bersamaan, semakin membuat kejanggalan-kejanggalan tersebut

menjadi tidak Nampak.

Adapun Dalam konsep CSR, salah satu indicator sebagai factor

hadirnya MNC dalam suatu Negara, khususnya di Negara dunia ketiga

adalah penerapan corak produksi yang masih tertinggal jauh oleh

128
129

perkembangan dan kemajuan teknologi pada masyarakat tradisional

Negara dunia ketiga. Maka dalam situasi seperti itu, MNC hadir untuk

melengkapi, menyempurnakan, serta meningkatkan corak produksi

yang ada dalam masyarakat tradisional dengan kapasitas produksinya

yang mumpuni yakni salah satunya karena disertai basis teknologi

yang tinggi. Hal itu tidak lepas pada acuan terhadap konsep tanggung

jawab social suatu perusahaan sebagai keharusan perusahaan dalam hal

ini MNC untuk membawa dampak positif yang berorientasi pada

penyejahteraan masyarakat di Negara dunia ketiga khususnya dalam

hal pengentasan masalah serta pengembangan masyarakat dalam

segala hal yang terkait aktivitas produksi. Dalam konteks program

CSR Starbucks FSC yang berjalan di Berastagi, program ini

mempunyai misi untuk memberikan pelatihan penanaman kopi

terhadap komunitas petani kopi tentang tata cara bertani kopi yang

baik yang didasarkan pada mekanisme-mekanisme yang meliputi

upaya-upaya untuk membantu menurunkan biaya produksi,

pencegahan hama dan penyakit, serta perwujudan hasil kopi yang yang

premium yang berorientasi pada kualitas kopi berstandar C.A.F.E.

(Coffee and Farming Equity Practice – Standardisasi Kopi dari

Starbucks) [ CITATION Ind18 \l 1033 ] . Standar C.A.F.E. yang digunakan

Starbucks FSC tersebut sebagai sumber acuan nilai (ethically source)

global dalam menjalankan praktek pelatihan bertani kopi, dengan

corak produksi baru dan berbeda di dalamnya cenderung memiliki

penambahan nilai hasil produksi kopi (dari corak produksi kopi yang

129
130

sebelumnya dijalankan oleh para petani local – secara konvensional)

baik dari segi efisiensi maupun efektifitas hinggamampu memperoleh

hasil tani biji kopi yang berkualitas premium.

Dalam beberapa situs yang membahas Starbucks FSC,

harapan untuk output yang diinginkan Starbucks dari pelatihan tersebut

yakni menghendaki adanya keberlanjutan yang berujung pada

kesejahteraan petani kopi local secara global dalam hal ini di

Berastagi, sebagaimana substansi dalam konsep CSR sendiri. Adapun

setelah melalui proses wawancara kepada salah seorang pihak petani

terkait, program Starbucks FSC justru terlihat tidak menunjukkan

dampak dan ciri yang mengindikasikan keberadaannya pada komunitas

petani local yang ada di Berastagi. Yang mana hasil wawancara

tersebut menuai beberapa dikotomi antara substansi tekstual yang

ditunjukkan Starbucks pada beberapa laman web Starbucks dan

dengan kesaksian langsung oleh salah seorang petani local di

Berastagi. Sederhananya, realitas yang mencoba digambarkan melalui

web-web resmi Starbucks yang memuat pemberitaan kegiatan

Starbucks Farmer Support Centers tidak menunjukkan adanya

kesesuaian dengan realita yang diperoleh melalui kesaksian Petani

kopi di Berastagi. Sehingga hal tersebut memperlihatkan kejanggalan

dan dalam konteks konsep CSR, hal ini lebih merujuk kepada unsur

pencitraan yang ada pada CSR tanpa memuat substansi esensial yang

benar-benar konkrit sebagaimana yang terkandung pada definisi dan

tujuan sebenarnya dari (diadakannya) CSR tersebut yakni yang

130
131

berorientasi penuh pada upaya penyejahteraan masyarakat dan

lingkungan setempat dalam hal ini Komunitas petani kopi yang ada di

Berastagi – Sumatra Utara.

131
132

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Setelah melewati tahap analisis dengan berbagai metode penelitian

yang dilakukan dalam balutan judul “Strategi dan Implikasi Starbucks

Farmer Support Centers terhadap Petani Kopi di Sumatra Utara”, penulis

akhirnya telah sampai pada kesimpulan-kesimpulan penelitian sebagai

berikut.

1. Strategi Starbucks Farmer Support Centers terhadap Petani Kopi di

Sumatra Utara:

a. Starbucks dalam mengoperasikan program Starbucks FSC di 9

negara (termasuk Indonesia di Sumatera Utara) menargetkan secara

global untuk melatih petani kopi sebanyak 200.000 petani.

b. Starbucks FSC sebagai salah satu (di antara 5) program terintegrasi

Starbucks dalam bingkai program besar ‘Pusat Dukungan

Pertanian’ Starbucks yang dijalankan bersama-sama untuk

memanifestasikan tujuan besar Starbucks dalam memberikan

implikasi social postif terhadap masyarakat global, termasuk di

Sumatra Utara. Dampak Sosial Positif yang dimaksud adalah

upaya memperkuat pembangunan ekonomi dan social di tataran

masyarakat local secara global.

c. Starbucks FSC dalam pelaksanaannya dibantu, didukung serta

direkani oleh program praktik C.A.F.E. (yang juga merupakan

132
133

salah satu program CSR Starbucks) berfungsi sebagai alat

verifikasi/standarisasi mekanisme pelaksanaan program pelatihan

Starbucks FSC, dan juga organisasi-organisasi Pihak Ketiga

(Konservasi Internasional dan Layanan SCS Global Services) ,

yang berfungsi sebagai alat evaluasi dan pengawasan dari program

pelatihan Starbucks FSC yang dijalankan.

d. Strategi starbucks dalam menjalankan Starbucks FSC

diidentifikasi kuat sebagai langkah upaya untuk membangun citra

perusahaan, yang mengacu pada indikasi-indikasi sebagai berikut.

(a) Starbucks memberikan label “open-source” kepada seluruh

pihak khususnya untuk entitas petani kopi yang ingin belajar

perihal praktek bertani kopi yang baik yang dapat menghasilkan

hasil biji kopi premium. Kedua, (b) adanya kontribusi dan

sumbangsih sukarela oleh Starbucks dalam jumlah yang relative

besar melalui pemberitaan positif di situs-situs resminya, maupun

di situs-situs ekonomi politik yang memuat pelaporan dan sejumlah

informasi mengenai aktivitas inti dan hasil dari kegiatan Starbucks

FSC itu sendiri.

e. Starbucks memilih Sumatra Utara sebagai medium operasional

Starbucks FSC adalah didasarkan pada track-record kopi Sumatra

yang menyandang predikat dengan penjualan kopi terbesar di dunia

dengan cita rasa khasnya khususnya dalam jenis kopi arabika

(berhubung sentra perhatian utama Starbucks FSC hanya

133
134

menyoroti kopi jenis Arabika), seperti salah satunya adalah kopi

Gayo yang berada di Aceh

f. Starbucks memilih Sumatra Utara sebagai medium operasional

Starbucks FSC di antara 8 negara lainnya, yaitu karena adanya

factor ‘idiosyncratic’ subjektif dari mantan CEO Starbucks,

Howard Schultz yang mengunggulkan sekaligus mengklaim kopi

Sumatera sebagai kopi favoritnya.

g. Dilandasi oleh begitu besarnya jasa Sumatera terhadap gerak bisnis

Starbucks di dunia hingga Starbucks memberikan perhatian lebih

terhadap masa depan kopi Sumatera melalui pengutusan FSC untuk

melatih petani dalam mendapatkan praktik yang lebih layak dan

menguntungkan[ CITATION Sav18 \l 1033 ].

h. Menggelar kampanye “Art in A cup” oleh Starbucks, sebuah

program keterlibatan konsumen dalam aktivitas kontribusi social

perusahaan yang berkolaborasi bersama Starbucks FSC di

Berastagi, Sumatra Utara. Dalam Kampanye ini, Starbucks

menyalurkan 150 ribu bibit pohon kopi yang senilai dengan Rp 400

juta, yang melalui penyerahan langsung oleh Direktur Starbucks

Indonesia, Anthony Cottan.

Dari poin-poin Strategi yang telah disebutkan, dapat ditarik

benang kesimpulan dengan merujuk pada kerangka konseptual yang

diambil dalam pembahasan ini, yakni konsep MNC dan Host Country

dan Konsep Corporate Social Responsibility.

134
135

Dalam konsep Hubungan MNC dan Host Country, Tujuan

Starbucks mengadakan program social berkelanjutan berupa Starbucks

FSC yang meskipun terdapat klaim di dalamnya yang menjelaskan

bahwa program ini dibuat berdasarkan pada itikad baik semata yakni

sebagai langkah inisiatif untuk memperbaiki praktik dan kualitas masa

depan petani kopi dan budidaya kopi secara global dari lingkup yang

paling local namun sebagaimana dalam konsep MNC, hal ini tetap saja

diasumsikan sebagai salah satu bentuk indikasi Starbucks untuk

melancarkan strategi dalam hal akses control agar dapat secara konstan

mendapatkan serta menambah sumber bahan mentahnya dan sekaligus

merupakan akses jalan untuk dapat terus menyalurkan produk-

produknya ke berbagai belahan dunia.

Sementara dalam konsep CSR, asumsi kuat yang senantiasa

mengiringi berjalannya Program Starbucks FSC di Sumatera Utara,

adalah merupakan suatu upaya Starbucks untuk membangun citra

positif di mata publik dengan program yang bersifat ‘charity’ secara

eksternal dan internal. Program Starbucks FSC ini juga merupakan

salah satu cara Starbucks agar dapat memenuhi perannya sebagai

perusahaan yang ikut meningkatkan value creation-nya yang salah

satunya akan bermuara pada salah satu pillar dalam konsep CSR yakni

Triple Bottom Line yang memuat tiga elemen di antaranya Profit,

People, Serta Planet. Maka dalam program ini Starbucks meskipun

menyapu rata pemenuhan tiga tersebut, namun program ini cenderung

lebih banyak menjadikan ‘People’ sebagai titik sentrum yang disasar

135
136

Starbucks, yakni bagaimana Starbucks berupaya memberikan menfaat

yang mana dalam konteks program ini yaitu adanya pelatihan kepada

para petani di Sumatra berupa Praktek penanaman dan pembudidayaan

Kopi yang baik berdasarkan kualitas standarisasi yang baik oleh

Starbucks dengan dibantu oleh tenaga agronom yang handal. Adanya

pelatihan tersebut sekaligus dibarengi dengan berbagai pemberian

bantuan berupa hibah yang telah diadakan Starbucks melalui program

Starbucks FSC ini seperti pemberian 150 ribu bibit kopi untuk para

petani kopi yang mana jumlah tersebut setara dengan nilai 400 Juta

Rupiah. Hal ini dinilai sebagai salah satu langkah Strategi Starbucks

yang berupaya menyinkronkan diri sebagai pihak yang ingin dianggap

sebagai pemberi bantuan sebagaimana yang disebutkan dalam konsep

CSR.

2. Implikasi Starbucks FSC terhadap Petani Kopi di Sumatra Utara.

Bahasan Implikasi berada pada posisi untuk merespon Strategi

pelaksanaan Program Starbucks FSC di Sumatra Utara yang diperoleh

melalui sumber sekunder, dikarenakan pencermatan atas Implikasi

Starbucks Farmer Support Centers oleh penulis diperoleh melalui

observasi dan wawancara kepada beberapa pihak inti yang terkait erat

dengan Starbucks FSC. Oleh karena itu kesimpulan dalam konteks

implikasi Starbucks FSC terhadap Petani Kopi di Sumatra ini

menggunakan basis-basis keterkaitan/relevansi antara data dan

informasi dari Starbucks dan dari narasumber wawancara berikut.

136
137

a. Hampir segala bentuk pernyataan Starbucks melalui beberapa

media pemberitaan di Internet maupun di laman resmi Starbucks

adalah bersifat kontradiktif atau independen (tidak terlalu relevan)

dikarenakan informasi mengenai aktivitas dan substansi pelatihan

Starbucks melalui program berkelanjutan Starbucks Farmer

Support Centers (FSC) di Berastagi tersebut tidak sampai di

lingkup pengetahuan masyarakat Berastagi khususnya pada

kalangan petani dan lebih khusus kepada petani kopi di Berastagi.

b. Tahun dilaksanakannya program ini yaitu sejak tahun 2015 yang

telah berlangsung relative lama dan penyampaian informasi yang

tidak merata kepada kalangan petani kopi di Berastagi

menunjukkan ke-tidakefektif-an aktivitas pelatihan program

Starbucks FSC demikian juga penyebaran informasinya.

c. Tidak terdampaknya program ini kepada sedikitpun petani kopi

yang ada di Berastagi karena tidak melibatkan satupun kelompok

petani kopi yang ada di Berastagi dalam masa pelaksanaan

programnya.

d. Berbagai bentuk negosiasi yang dilakukan kepada pihak inti

sebagai langkah menempuh jalan pintu masuk dalam menggali

sebuah informasi terkait aktifitas program Starbucks FSC yang

berbuah penolakan secara halus mengindikasikan adanya

intranspransi program yang menuai kontradiksi berdasarkan apa

yang telah dipaparkan oleh program Starbucks FSC yang bersifat

open-source (akses informasi terbuka bagi siapa saja yang ingin

137
138

belajar/mengetahui proses bertani kopi yang baik secara lebih

dalam/lanjut).

e. Lanjutan poin sebelumnya; tidak terdapatnya titik temu antara

sejumlah besar informasi teknis/mekanisme yang menjelaskan

bentuk dan hasil dari proses pelatihan berkelanjutan Starbucks FSC

sealama berlangsung di Berastagi (terutama yang dikemukakan

oleh Kepala Agronomis FSC yakni Surip Mawardi) dan informasi

kepada para pelaku utama dalam hal ini kalangan petani kopi di

Berastagi tidak begitu tersaji dengan baik, serta adanya penolakan

tegas dari pusat Starbucks di tingkat internasional terkait ijin

wawancara langsung/tidak langsung kepada beberapa pihak

informal terkait.

f. Terdapat inkonsistensi dari pihak Starbucks berupa kesalahan

tekstual terhadap data dan informasi yang disampaikan pada laman

resminya perihal tempat diadakannya kolaborasi antara Starbucks

Indonesia dengan Starbucks Farmer Support Centers pada tahun

2016 dalam rangka kegiatan penanaman bibit kopi yang dituliskan

berlokasi di Desa Suka, Tiga Panah – Berastagi. Namun, setelah

diklarifikasi lebih lanjut bersama Ketua KTNA, ketua KTNA

menanggapi bahwa informasi tersebut tidak benar adanya

dikarenakan ada ketidaksesuaian penempatan kecamatan yakni

Desa Suka itu merupakan desa yang berada di kecamatan Tiga

Panah dan Berastagi itu sendiri juga merupakan nama kecamatan

138
139

yang berada jauh dari Kecamatan Tiga Panah yaitu berjarak sekitar

kurang lebih 20 km.

Hasil observasi di atas apabila disimpul lagi dengan

mengaitkannya pada dua bangunan kerangka konseptual yang

digunakan pada penelitian ini yang meliputi Konsep hubungan MNC

dan Host-Country dan Konsep CSR, penulis menarik benang

kesimpulan sebagai berikut.

1. terdapat manipulasi mekanisme praktek/cara dari pelaksanaan

program CSR ini yang didasarkan semata-mata pada upaya

memberitahukan public (melalui media pemberitaan virtual) agar

supaya tercipta citra baik perusahaan di mata masyarakat umum

secara luas, yang namun pada prakteknya, dampak dari program

tersebut tidak merepresentasikan apa yang selama ini

terinformasikan pada media. Sehingga pelaksanaan program ini

tidak terbukti efektif memberikan dampak baik signifikan atau

tidak terhadap entitas petani local di Berastagi – Sumatera Utara.

2. Sedangkan Dampak Pelaksanaan program Starbucks FSC di

Sumatera Utara, apabila ditinjau dari bangunan Konsep MNC dan

Host Country memiliki beberapa relevansi yang bermuara pada

banyak aspek dalam membahas relasi kedua pihak:

3. Dalam konteks program Starbucks FSC di Sumatra Utara yang

meniadakan dampak konkrit terhadap kelompok-kelompok tani

local yang berada paling dekat dari ruang lingkup program tersebut

139
140

beroperasi dan berlokasi, diidentifikasi sebagai bentuk strategi

Starbucks dalam upaya menentukan dan mengatur produksi dan/

atau unit distribusinya dalam hal ini hasil biji kopi yang telah

dimanipulasi lalu dimasukkan ke dalam rantai modal Starbucks.

4. Program Starbucks FSC yang telah berjalan di Sumatera khususnya

di Berastagi, dapat dilihat Upaya Starbucks tersebut melalui

program FSC yang tidak menunjukkan transparasi terkait

mekanisme pelaksanaan programnya, dapat dinilai sebagai salah

satu jalan masuk serta strategi Starbucks untuk memperoleh

informasi dan menambah kekuatan ekonominya. Hal tersebut

terindikasi pada Starbucks yang memiliki monopoli informasi dan

terhadap masyarakat petani kopi yang terlibat dalam program

tersebut.

5. Adanya intransparansi program Starbucks FSC yang mengacu pada

penilain Starbucks yang memanipulasi informasi terhadap

masyarakat luas secara global melalui pemberitaan-pemberitaan

positif media informasi, dan dalam waktu bersamaan menimbulkan

indikasi eksploitatif terhadap masyarakat local dikarenakan tidak

sampainya informasi tersebut kepada entitas petani kopi di

Sumatera.

6. Standar C.A.F.E. yang digunakan Starbucks FSC tersebut sebagai

sumber acuan nilai (ethically source) global dalam menjalankan

praktek pelatihan bertani kopi, dengan corak produksi baru dan

berbeda di dalamnya cenderung memiliki penambahan nilai hasil

140
141

produksi kopi (dari corak produksi kopi yang sebelumnya

dijalankan oleh para petani local – secara konvensional) baik dari

segi efisiensi maupun efektifitas hinggamampu memperoleh hasil

tani biji kopi yang berkualitas premium.

Pada akhirnya, realitas yang mencoba digambarkan melalui

beberapa laman resmi Starbucks dan berbagai laman lainnya yang

memuat pemberitaan kegiatan Starbucks Farmer Support Centers tidak

menunjukkan adanya kesesuaian dengan realita yang diperoleh melalui

kesaksian Petani kopi di Berastagi. Sehingga hal tersebut

memperlihatkan kejanggalan dan dalam konteks konsep CSR, hal ini

lebih merujuk kepada unsur pencitraan yang ada pada CSR tanpa

memuat substansi esensial yang benar-benar konkrit sebagaimana yang

terkandung pada definisi dan tujuan sebenarnya dari (diadakannya)

CSR tersebut yakni yang berorientasi penuh pada upaya

penyejahteraan masyarakat dan lingkungan setempat dalam hal ini

Komunitas petani kopi yang ada di Berastagi – Sumatra Utara.

B. Saran

Sebagai saran, penulis menyarankan

141
142

DAFTAR PUSTAKA
Buku

Conservation International. (2018). Starbucks C.A.F.E. Practices Impact Assessment


2011 - 2015. Conservation International

Gardjito, M., & A.M., D. R. (2011). Kopi. Daerah Istimewa Yogyakarta: PT KANISIUS.

Ghani, D. M. (2016). Model CSR Berbasis Komunitas - Integrasi Penerapan Tanggung


Jawab Sosial dan Lingkungan Korporasi. Bogor: IPB Press.

Gilpin, R. (2001). Global Political Economy Understanding the International Economic


Order. New Jersey: Princeton University Press.

Gunawan, A. (2009). Membuat Program CSR Berbasis Pemberdayaan Partisipatif.


Yogyakarta: CV. Garuda Mas Sejahtera.

Lairson, T. D., & Skidmore, D. (2003). International Political Economy : The Struggle
for Power and Wealth in a Globalizing World.

Magdoff, H. (1978). The Multinational Corporation and Development - A Contradiction?

Perwita, A. A., & Yani, Y. M. (2005). Pengantar Ilmu Hubungan Internasional.


Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Pettiford, J. S. (2009). Hubungan Internasional Perspektif dan Tema. (E. A. Nugraha,


Ed.) Yogyakarta: PUSTAKA PELAJAR.

Second-Party Opinion. (2019). Starbucks Sustainability Bond. Washington:


Sustainalytics.

Seftiyana, D. A. (2017). Strategi Penanganan Masalah Lingkungan Hidup di Kabupaten


Sumbawa Barat Melalui Environment Sustainability Program oleh PT. Newmont
Nusa Tenggara. 8.

Subchan, N. (2016). Week 2 - Teori EPI Kontemporer. Retrieved from StuDocu.

Sumantoro. (1987). Kegiatan Perusahaan Multinasional : Problema Politik, hukum, dan


Ekonomi dalam Pembangunan Nasional. Jakarta: Gramedia.

Jurnal

142
143

Simanjuntak, D., & Sirojuzilam. (2013). Potensi Wilayah dalam Pengembangan Kawasan
Agropolitan di Kabupaten Toba Samosir. Jurnal Ekonomi dan Keuangan, 135.

Sitanggang, J. T., & Sembiring, S. A. (2013). Pengembangan Potensi Kopi sebagai


Komoditas Unggulan Kawasan Agropolitan Kabupaten Dairi. Jurnal Ekonomi
dan Keuangan, 34.

Sudjarmoko, B. (2013). Prospek Pengembangan Industrialisasi Kopi Indonesia.


SIRINOV, 99.

Velatio, N. (2018). Kebijakan Indonesia terhadap Perusahaan Multinasional (Studi Kasus:


Implementasi Program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan di Kabupaten Siak
Tahun 2013-2016). JOM FISIP, 5, 2.

Windary, S. (2017, January-June). Analisis Starbucks Corporation Melalui Pendekatan


Global Value Chains. Jurnal Westphalia, 16, 70Nenda, M. S. (2017, 02).
Dampak Investasi Starbucks Coffee terhadap Penjualan Produksi Kopi Lokal di
Indonesia. JOM FISIP, 4 no.1, 2.

Wawancara

Bueno, A. (2020, 01 10). Coordinator Responsible Sourcing Strategies Food and


Agriculture Division. (M. Rahim, Interviewer)

Website

AEKI (Asosiasi Eksportir Dan Industri Kopi Indonesia). (2007, November 15). Sejarah Kopi
di Indonesia. Retrieved 12 18, 2019, from AEKI - AICE:
https://www.google.com/search?
safe=strict&sxsrf=ACYBGNTTogs7dT6tEPfpa7QfUmFxfR7Jgg
%3A1576680514143&source=hp&ei=Qjz6XbWqBcvbz7sP75mIyAw&q=http%3A
%2F%2Fwww.aeki-aice.org%2Fabout_coffee.html&oq=http%3A%2F
%2Fwww.aeki-aice.org%2Fabout_coffee.html&gs_l=psy-ab.

Bachdar, S. (2018, 06 12). Kopi Rajut Hubungan Spesial Starbucks di Tanah Karo.
Retrieved 12 30, 2019, from Marketeers: https://marketeers.com/kopi-rajut-
hubungan-spesial-starbucks-di-tanah-karo/

Bachdar, S. (2018, 06 12). Kopi Rajut Hubungan Spesial Starbucks di Tanah Karo.
Retrieved 01 14, 2020, from Marketeers: https://marketeers.com/kopi-rajut-
hubungan-spesial-starbucks-di-tanah-karo/

Badan Pusat Statistik. (2019). Statistik Kopi Indonesia Indonesian Coffee Statistic 2018.
Jakarta: Badan Pusat Statistik BPS-Statistics Indonesia.

beritasumut. (2019, April 10). Kafegama Sumut Lakukan Kunjungan ke Starbucks Farmer
Support Centre di Berastagi. Retrieved August 5, 2019, from beritasumut:

143
144

http://beritasumut.com/peristiwa/Kafegama-Sumut-Lakukan-Kunjungan-ke-
Starbucks-Farmer-Support-Centre-di-Berastagi

Bueno, A. (2020, 01 10). Coordinator Responsible Sourcing Strategies Food and


Agriculture Division. (M. Rahim, Interviewer)

Conservation International. (2018). Starbucks C.A.F.E. Practices Impact Assessment 2011


- 2015. Conservation International.

D, P. R. (2016). Upaya Diplomasi WalMart terhadap Pemerintah China dalam Isu


Perburuhan dan Efisiensi Energi untuk Mempertahankan Pasar dan Basis Supply
Chain di China. p. 1.

Databoks. (2017, 07 03). Berapa Konsumsi Kopi Indonesia. Retrieved 12 19, 2019, from
Databoks: https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2017/07/03/berapa-
konsumsi-kopi-indonesia

Gardjito, M., & A.M., D. R. (2011). Kopi. Daerah Istimewa Yogyakarta: PT KANISIUS.

Ghani, D. M. (2016). Model CSR Berbasis Komunitas - Integrasi Penerapan Tanggung


Jawab Sosial dan Lingkungan Korporasi. Bogor: IPB Press.

Gilpin, R. (2001). Global Political Economy Understanding the International Economic


Order. New Jersey: Princeton University Press.

Gumilar, P. (2019, 4 24). Produktivitas Kopi Nasional Mash Bisa Ditingkatkan. Retrieved
12 1, 2019, from Bisnis.com:
https://ekonomi.bisnis.com/read/20190424/99/914997/produktivitas-kopi-
nasional-masih-bisa-ditingkatkan

Gunawan, A. (2009). Membuat Program CSR Berbasis Pemberdayaan Partisipatif.


Yogyakarta: CV. Garuda Mas Sejahtera.

Indonesia Trip News. (2018, 03 10). "Art in a Cup" Kampanye Starbucks Mengapresiasi
Petani Kopi. Retrieved 07 31, 2019, from Indonesia Trip News:
https://indonesiatripnews.com/perjalanan-wisata/kuliner/art-cup-kampanye-
starbucks-mengapresiasi-petani-kopi/

KabarMedan.com. (2019, 02 22). Sumatera Utara Miliki 6 SIG Kopi. Retrieved 12 24,
2019, from KabarMedan.com: https://kabarmedan.com/sumatera-utara-miliki-
6-sig-kopi/

Lairson, T. D., & Skidmore, D. (2003). International Political Economy : The Struggle for
Power and Wealth in a Globalizing World.

Magdoff, H. (1978). The Multinational Corporation and Development - A Contradiction?

144
145

Manalu, J. E. (2019, 03 12). Produktivitas Kebun Kopi Indonesia Masih Rendah. Retrieved
12 1, 2019, from Bisnis.com:
https://ekonomi.bisnis.com/read/20190312/99/898582/produktivitas-kebun-
kopi-indonesia-masih-rendah

Murdani, A. D. (2018, 5 2). Multinational Corporation (MNC) : Pengertian, Peran dan


Imbasnya dalam Ekonomi Politik. Retrieved 11 7, 2019, from Portal-Ilmu.com:
https://portal-ilmu.com/multinational-corporation/

Nenda, M. S. (2017, 02). Dampak Investasi Starbucks Coffee terhadap Penjualan


Produksi Kopi Lokal di Indonesia. JOM FISIP, 4 no.1, 2.

Perwita, A. A., & Yani, Y. M. (2005). Pengantar Ilmu Hubungan Internasional. Bandung:
PT Remaja Rosdakarya.

Pettiford, J. S. (2009). Hubungan Internasional Perspektif dan Tema. (E. A. Nugraha, Ed.)
Yogyakarta: PUSTAKA PELAJAR.

Policy Brief Nomor 13 (2019) Institut Pertanian Bogor. (2017). Peran Komoditas Kopi
bagi Perekonomian Indonesia. Retrieved 12 3, 2019, from Policy Brief:
http://sustainability.ipb.ac.id/wp-content/uploads/2019/01/13.PERAN-
KOMODITAS-KOPI-BAGI-PEREKONOMIAN-INDONESIA.pdf

Pusat Komunikasi Publik. (2005, 12 30). Sumatera Utara Kembangkan Perdesaan melalui
Konsep Agropolit. Retrieved 12 22, 2019, from PU-net Kementerian Pekerjaan
Umum dan Perumahan Rakyat:
https://www.pu.go.id/berita/view/3236/sumatera-utara-kembangkan-
perdesaan-melalui-konsep-agropolit

Rachman, F. (2019, 01 30). Kopi Indonesia Dipromosikan di Slowakia. Retrieved 12 19,


2019, from Baca: http://wap.mi.baca.co.id/17958689?
origin=relative&pageId=7ff205ac-54f3-4638-9728-00a983a301ba&PageIndex=2

Reavis, C., Ward, J., Torrebiarte, P., & Macray, D. (2005, 09 05). Coffee & Conservation:
Making the Connection. Retrieved 12 27, 2019, from Studylib.net:
https://www.google.com/search?q=COFFEE+%26+CONSERVATION:
+MAKING+THE+CONNECTION+COFFEE+%26+CONSERVATION:
+MAKING+THE+CONNECTION&safe=strict&rlz=1C1_____enID878ID878&sxsrf=A
CYBGNREOQZDHCaSR-AeV5y7-
yXtFvpP4g:1577384277365&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=2ahUKEw

Second-Party Opinion. (2019). Starbucks Sustainability Bond. Washington: Sustainalytics.

Seftiyana, D. A. (2017). Strategi Penanganan Masalah Lingkungan Hidup di Kabupaten


Sumbawa Barat Melalui Environment Sustainability Program oleh PT. Newmont
Nusa Tenggara. 8.

145
146

Sembiring, C. (2019, 09 22). Sumatera Utara Penghasil Kopi Terbaik di Dunia. Retrieved
12 26, 2019, from Kompasiana:
https://www.kompasiana.com/clarasembiring/5d8705370d8230681a432543/su
matera-utara-penghasil-kopi-terbaik-di-dunia?page=all

Sembiring, J. (2020, 04 3). Wawancara Program Starbucks FSC di Berastagi. (M. Rahim,
Interviewer)

Sembiring, J. (2020, 04 04). Wawancara Program Starbucks FSC di Berastagi. (M. Rahim,
Interviewer)

Sembiring, J. (2020, 04 2). Wawancara Terbuka mengenai Program Starbucks FSC di


Berastagi. (M. Rahim, Interviewer)

Sembiring, J. (2020, 03 11). Wawancara Terbuka tentang Program Starbucks FSC di


Berastagi. (M. Rahim, Interviewer)

Simanjuntak, D., & Sirojuzilam. (2013). Potensi Wilayah dalam Pengembangan Kawasan
Agropolitan di Kabupaten Toba Samosir. Jurnal Ekonomi dan Keuangan, 135.

Simatupang, M. D. (2019, 10 07). Kopi Sumut Potensi Terselubung di Sumatera Utara.


Retrieved 12 26, 2019, from Sumut Kabardaerah.com:
http://sumut.kabardaerah.com/kopi-sumut-potensi-terselubung-sumatera-
utara/

Simatupang, M. D. (2019, 10 07). Kopi Sumut Potensi Terselubung di Sumatera Utara.


Retrieved 12 26, 2019, from Sumut Kabardaerah.com:
http://sumut.kabardaerah.com/kopi-sumut-potensi-terselubung-sumatera-
utara/

Sitanggang, J. T., & Sembiring, S. A. (2013). Pengembangan Potensi Kopi sebagai


Komoditas Unggulan Kawasan Agropolitan Kabupaten Dairi. Jurnal Ekonomi dan
Keuangan, 34.

Starbucks. (2010, 04 10). Starbucks Ethical Sourcing of Sustainable Products. Retrieved


01 13, 2020, from Starbucks.com:
https://www.starbucks.com/responsibility/sourcing

Starbucks. (2014, 01 08). Farming Communities. Retrieved 01 9, 2020, from


Starbucks.com: https://www.starbucks.com/responsibility/community/farmer-
support

Starbucks. (2014, 01 08). Investing in Coffee Communities. Retrieved 01 10, 2020, from
Starbucks.com: https://www.starbucks.com/responsibility/community/farmer-
support/social-development-investments

146
147

Starbucks Stories & News. (2018, 03 07). Starbucks Farmer Supports Centers. Retrieved
08 01, 2019, from Starbucks Stories & News:
https://stories.starbucks.com/press/2018/starbucks-farmer-support-centers/

Starbucks Stories & News. (2018, 4 7). Starbucks Support Centers. Retrieved 9 29, 2019,
from Starbucks Stories & News:
https://stories.starbucks.com/press/2018/starbucks-farmer-support-centers/

Starbucks.com (Director). (2010). Conservation International + Starbucks [Motion


Picture].

Starbucks.com. (2016, 03 23). Starbucks Social Impact. Retrieved 01 19, 2020, from
Starbucks.com: https://www.starbucks.com/responsibility

Subchan, N. (2016). Week 2 - Teori EPI Kontemporer. Retrieved from StuDocu.

Sudjarmoko, B. (2013). Prospek Pengembangan Industrialisasi Kopi Indonesia. SIRINOV,


99.

Sumantoro. (1987). Kegiatan Perusahaan Multinasional : Problema Politik, hukum, dan


Ekonomi dalam Pembangunan Nasional. Jakarta: Gramedia.

Suprianto, B. (2018, 06 12). SENTRA KOMODITAS SUMUT : Starbucks Dukung Kopi Karo.
Retrieved 07 31, 2019, from
https://sumatra.bisnis.com/read/20180612/436/805457/sentra-komoditas-
sumut-starbucks-dukung-kopi-karo

Tashandra, N. (2018, 06 10). Starbucks Farmer Support Center, Satu-satunya di


Indonesia. Retrieved 12 29, 2019, from Kompas.com:
https://lifestyle.kompas.com/read/2018/06/10/191900920/starbucks-farmer-
support-center-satu-satunya-di-indonesia?page=all

Tribun-Medan.com. (2019, 10 26). Ini 6 Kopi Asal Sumatera Utara yang Punya Sertifikat
Indikasi Geografis. Retrieved 12 24, 2019, from Tribun-Medan.com:
https://medan.tribunnews.com/2019/10/26/ini-6-kopi-asal-sumatera-utara-
yang-punya-sertifikat-indikasi-geografis

Unzilla, A. R. (2019, 1 8). Perjalanan Starbucks dari 1 Toko Kopi hingga Punya 30.000
Kafe di Dunia. Retrieved 9 29, 2019, from Okefinance:
https://economy.okezone.com/read/2019/01/08/320/2001571/perjalanan-
starbucks-dari-1-toko-kopi-hingga-punya-30-000-kafe-di-dunia

Velatio, N. (2018). Kebijakan Indonesia terhadap Perusahaan Multinasional (Studi Kasus:


Implementasi Program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan di Kabupaten Siak
Tahun 2013-2016). JOM FISIP, 5, 2.

147
148

Windary, S. (2017, January-June). Analisis Starbucks Corporation Melalui Pendekatan


Global Value Chains. Jurnal Westphalia, 16, 70.

148