Anda di halaman 1dari 120

STRATEGI DAN IMPLIKASI PROGRAM

STARBUCKS FARMER SUPPORT CENTRE (FSC)


TERHADAP PETANI KOPI DI SUMATRA UTARA

OLEH
MASYKUR RAHIM
E13115010

DEPARTEMEN ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2019
1

KATA PENGANTAR
2

DAFTAR ISI
3

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Cakupan Studi Hubungan Internasional yang semakin luas selalu

relevan dalam membahas kompleksitas fenomena hubungan internasional

di era globalisasi ini, baik relevansinya dalam skala besar hingga pada

ruang lingkup yang paling kecil. Hal tersebut mulai dapat dilihat dari

bertambahnya focus perhatian dalam studi hubungan internasional, yang

sebelumnya para sivitas akademisi hanya membahas actor Negara beserta

isu keamanan dan militer sebagai focus utama, namun pada masa setelah

berakhirnya perang dunia II hingga kini, kesadaran akan pentingnya

eksistensi actor-aktor non-negara yang menambahkan aspek kerjasama

antar Negara, ekonomi, social, dan lingkungan, pun dinilai memberikan

pengaruh besar terhadap kondisi politik internasional.

Salah satu actor non-negara yang mendominasi fenomena

hubungan internasional saat ini adalah perusahaan multinasional

(Multinational Corporation/MNC). Beragam aktivitas dan berbagai

bidang yang dibawa MNC beroperasi masuk ke berbagai negara

khususnya di negara berkembang, dinilai sebagai salah satu bentuk

ekspansi keuntungan dari Negara MNC tersebut berasal/Home Country.

Sebaliknya, Host Country (Negara tempat MNC beroperasi) sebagai


4

negara yang rasional, tentunya mengharapkan suatu pola pertukaran yang

saling menguntungkan. Maka Salah satu strategi yang dilakukan MNC

dalam memenuhi hal tersebut selain menjalankan operasional perusahaan

itu sendiri yaitu dengan mengadakan kegiatan/program yang

menyematkan konsep Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai

bentuk pertanggungjawaban social suatu perusahaan dalam turut

memberikan efek positif terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar

dalam suatu negara.

Saat ini, hampir setiap MNC telah memiliki program CSR. Salah

satu di antaranya adalah Starbucks Coffee yang berinduk di Amerika

Serikat. Sebagaimana yang dikenal, Starbucks merupakan perusahaan

multinasional yang berbasis gerai kopi, yang berhasil menyabet predikat

sebagai gerai kopi terbesar di dunia dengan jumlah gerai sebanyak 30.000

di berbagai belahan dunia [ CITATION Unz19 \l 1033 ]. Dalam memperoleh

keberhasilan tersebut, Starbucks banyak bekerjasama dengan berbagai

Negara dalam hal pemasokan biji kopi untuk menunjang produksi

kopinya. Oleh karena itu, selain melakukan kegiatan utama Starbucks

dalam mengoperasikan gerai kopinya, Starbucks juga banyak melakukan

agenda dan program CSR khususnya di negara-negara pemasok atau

potensial yang menjamin tumbuh-kembangnya kopi, hal demikian

diasumsikan sebagai salah satu cara yang dilakukan demi mewujudkan

pola hubungan yang seimbang – saling menguntungkan dengan Host

Country.
5

Salah satu agenda CSR starbucks yaitu Starbucks Farmer Support

Centre (FSC), adalah proyeksi yang diutus oleh Starbucks sejak tahun

2004 [ CITATION Sta18 \l 1033 ] , guna memberikan pelatihan secara

berkelanjutan terhadap komunitas petani kopi di negara-negara yang

sebagian besar dari Negara pemasok kopi, tentang perihal bertani kopi

yang baik yang didasarkan pada mekanisme-mekanisme yang meliputi

upaya-upaya untuk membantu menurunkan biaya produksi, pencegahan

hama dan penyakit, serta perwujudan hasil kopi yang premium yang

berorientasi pada kualitas kopi berstandar C.A.F.E (Coffee and Farming

Equity Practice – Standardisasi Kopi dari Starbucks) [ CITATION Ind18 \l

1033 ].

Tujuan lain dibentuknya Starbucks FSC yaitu sebagai salah satu

manifestasi dari upaya konkret Starbucks untuk membantu para penyuplai

dan petani dalam mengimplementasikan Praktik C.A.F.E agar nantinya

kualitas kopi yang dihasilkan dapat dimasukkan ke dalam rantai modal

Starbucks secara berkelanjutan [ CITATION Sec19 \l 1033 ]. Selain itu, pada

praktik C.A.F.E yang menyertainya, terdapat konsep ramah lingkungan

untuk masyarakat dan wilayah operasional sekitar , sehingga aktivitas

pelatihan yang dilakukan tidak hanya pada peningkatan kesejahteraan

petani kopi, namun juga akan berdampak secara luas kepada lingkungan

dan masyarakat sekitar yang tidak terlibat langusng dalam aktivitas

tersebut. Hingga kini, Starbucks FSC telah beroperasi di 9 negara di dunia.

Negara-negara tersebut antara lain Costa Rica, Rwanda, Tanzania,


6

Ethiopia, Colombia, Guatemala, China, Mexico, dan terakhir Indonesia,

yang berlokasi di Berastagi, Sumatera Utara. [CITATION STA18 \l 1033 ].

Di antara banyaknya negara di dunia, masuknya Indonesia dalam

salah satu kandidat negara pada tahun 2015 [CITATION STA18 \l 1033 ] yang

dipilih sebagai objek/medium pelatihan Starbucks FSC mengantar pada

asumsi bahwa Indonesia tentunya mempunyai nilai agronomi lebih

dibanding banyak negara lain dalam hal potensi lahan kopi yang dimiliki,

khususnya di bagian wilayah Sumatera Utara. Oleh karena itu, masuknya

sumatera yang mewakili Indonesia dalam hal ini kemudian memiliki nilai

penting tersendiri untuk ditilik kembali lebih lanjut dan secara mendalam

mengenai operasional Starbucks FSC di Sumatera Utara. Maka untuk

menjamin output penelitian yang lebih komprhensif penelitian ini akan

membagi focus bahasan pada dua aspek, yaitu meninjau pada strategi

Starbucks dan dampak Starbucks FSC terhadap komunitas petani kopi di

Sumatera Utara. Sehingga akhirnya penulis menemukan redaksi judul

yang tepat untuk menamai penelitian ini, yakni “Strategi dan Implikasi

Program Starbucks Farmer Support Center (FSC) terhadap

Peningkatan Kesejahteraan Petani Kopi di Sumatera Utara”.

B. Batasan dan Rumusan Masalah

1. Batasan Masalah

Pengambilan data dan informasi untuk menunjang penelitian

ini dititikberatkan di dua lokasi utama, yakni Kota Jakarta dan

Kabupaten Berastagi, Sumatera Utara. Penetapan lokasi penelitian di

Jakarta dimaksudkan untuk mencari jawaban atas pertanyaan


7

penelitian dari variable pertama dalam judul, yakni Strategi Starbucks

dalam menjalankan program Starbucks FSC di Sumatra Utara.

Sedangkan penetapan lokasi penelitian dilakukan di Sumatera Utara,

karena mengingat Sumatera Utara merupakan wilayah sentra komoditi

utama yang merepresentasikan Indonesia dalam hal komoditi biji

kopinya. Dan lebih lanjut, karena lokasi yang menjadi medium

operasional Pelathian FSC Starbucks terhadap petani kopi di

Indonesia, satu-satunya berada di Kabupaten Berastagi, maka focus

penelitian pun akan dipersempit pada lingkup daerah tersebut. Maka

upaya pemilihan lokasi penelitian di Kabupaten Berastagi, guna untuk

mendapatkan jawaban atas pertanyaan penelitian variable kedua pada

judul, yakni implikasi/efek konkret yang diberikan Starbucks melalui

program FSC-nya terhadap petani kopi di Sumatera Utara.

Untuk sejumlah data penunjang lainnya, penulis juga

mengambil referensi data dan informasi dari beberapa wilayah lain di

luar Jakarta dan Sumatera Utara, sepanjang lokasi yang ditetapkan

tidak berada di luar ruang lingkup Indonesia dan berkaitan dengan

aktivitas pelatihan Starbucks FSC di Sumatra Utara. Sementara

informasi dan data yang diambil dalam penelitian ini akan merujuk

pada kurun waktu sejak tahun 2015 hingga 2019. Acuan waktu

tersebut diambil berdasarkan tahun pertama Starbucks FSC

menginjakkan kaki di Indonesia.

2. Rumusan Masalah
8

Adapun rumusan masalah pada penelitian ini adalah:

a. Bagaimana strategi Starbucks dalam upaya meningkatkan

kesejahteraan petani kopi di Indonesia melalui program Starbucks

Farmer Support Centre (FSC)?

b. Bagaimana Implikasi Program Starbucks Farmer Support Centre

(FSC) terhadap Peningkatan Kesejahteraan Petani Kopi di

Indonesia?

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Sedangkan tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk menganalisis strategi Starbucks dalam meningkatkan

kesejahteraan petani kopi di Indonesia melalui program Starbucks FSC

2. Untuk menganalisis implikasi program Starbucks FSC terhadap petani

kopi di Indonesia

Adapun kegunaan penelitian ini adalah:

1. Bagi penulis, penelitian ini merupakan suatu kesempatan untuk

mengaplikasikan teori-tori yang diperolah selama proses perkuliahan

ke dalam praktek yang sesungguhnya, serta merupakan syarat lulus

mata kuliah skripsi yang menjadi proses akhir peneliti sebagai

mahasiswa Hubungan Internasional dalam menyelesaikan masa

studinya di jenjang strata 1.

2. Bagi Akademisi, Penulis berharap penelitian ini sedikit banyak dapat

memberi sumbangsih kepada para sivitas Akademisi berdisiplin Ilmu

hubungan Internasional, Ilmu Ekonomi, Ilmu Politik serta para


9

kelompok kepentingan lainnya yang ingin mendalami studi tentang

penerapan konsep dan teori Ekonomi politik internasional berdasarkan

fenomena yang terjadi khususnya dalam berbagai praktek perusahaan

multinasional di Negara dunia ketiga, dalam hal ini starbucks FSC,

sebagai program CSR utusan dari perusahaan Starbucks Coffee, yang

melibatkan komunitas petani kopi di Indonesia, khususnya di bagian

provinsi Sumatera Utara.

3. Sebagai bahan acuan untuk pemerintah ataupun pemerintah Daerah

dalam mengambil kebijakan setempat yang berkaitan dengan pengaruh

perusahaan asing di daerah.

D. Kerangka Konseptual

Perumusan Kerangka Konseptual ini akan digunakan sebagai

landasan teoritis yang relevan dalam menjawab rumusan masalah yang

diangkat penulis dalam penelitian nantinya. Adapun landasan teori yang

digunakan yaitu konsep MNC dan Host Country, dimana pada konsep

tersebut, terdapat CSR (Corporate Social Responsibility) sebagai suatu

system yang diposisikan sebagai penyeimbang kepentingan MNC maupun

Host Country sehingga kedua belah pihak sama-sama memperoleh

keuntungan yang sepatutnya [ CITATION Sef17 \l 1033 ] . Dalam konteks

relasi yang telah dijalin antara Starbucks Coffee dan entitas petani kopi di

Indonesia dalam lingkar kegiatan pusat Pelatihan yang dilakukan oleh

Starbucks FSC, dapat dinilai merupakan salah satu cara atau strategi

MNC yang berorientasi sebagai penyeimbang kepentingan terhadap

Negara Host Country, dalam hal ini Indonesia. (Lihat Gambar 1)

Gambar 1. Kerangka Fikir


10

Aktor HI

MNC Starbucks Coffee

CSR Program Starbucks FSC


1. Konsep MNC dan Host Country
1. MNC dan Host Country (Teori/Konsep MNC dan CSR)
2. Konsep CSR

Sebelum membahas lebih lanjut tentang konsep hubungan


Petani Kopi Sumatera Utara,
Host Country
Indonesia
antara MNC dan Host Country, maka perlu dibahas terlebih dahulu

pengertian dari MNC itu sendiri. Robert Gilpin secara sederhana

mengartikan MNC adalah sebagai

“a firm of a particular nationality with partially or wholly

owned subsidiaries within at least one other national

economy” [ CITATION Sef17 \p 10 \l 1033 ].

MNC dalam menjalankan bisnisnya bertendensi untuk terus

menerus memperluas pasar ke luar negeri [ CITATION Sef17 \p 10 \l 1033

]. Sementara istilah Host Country merupakan salah satu bagian dari

MNC itu sendiri yang memiliki arti sebagai negara tujuan dimana

MNC menempatkan cabang perusahaannya. Untuk melengkapi

peristilahan umum dalam konsep MNC, dikenal juga istilah Home

Country sebagai negara asal perusahaan induk MNC berasal.

Untuk lebih memahami tentang MNC, Michael J. Carbaugh

mengungkapkan bahwa sedikitnya ada empat karakteristik dari MNC

[ CITATION Sef17 \p 10 \l 1033 ] . Pertama, MNC disebutkan sebagai

sauatu perusahaan bisnis yang beroperasi di dua atau lebih negara


11

tujuan (Host Country) dimana perusahaan induk MNC tadi yang

berada di negara asal MNC (Home Country). Kedua, MNC seringkali

melakukan kegiatan research and development (penelitian dan

pengembangan) di negara tujuan (Host Country). kegiatan ini biasanya

dilakukan guna menunjang aktivitas MNC terutama dalam sector

manufaktur, pertambangan, eksplorasi minyak bumi, dan aktivitas

bisnis jasa lainnya. Ketiga, kegiatan operasional perusahaan bersifat

lintas batas negara. keempat, terdapat pemindahan modal yang ditandai

dengan arus investasi asing langsung (Foreign Direct Investment/FDI)

dari daerah-daerah yang dianggap mampu memberikan kontribusi

positif atas keberadaan pendirian anak atau cabang perusahaan asing

atau pengambil-alihan subuah perusahaan asing. Dari keempat

karakteristik tersebut dapat dijadikan sebagai salah satu standar acuan

dalam mengidentifikasi MNC, termasuk aktivitas operasional

Starbucks Coffee dalam memberikan pelatihan khusus terhadap

sejumlah kecil negara di Dunia.

MNC memiliki dua alasan mengapa harus mengembangkan

bisnisnya [ CITATION Sef17 \p 11 \l 1033 ] . Pertama, yaitu pada akses

control untuk mendapatkan sumber bahan mentah. Dan kedua adalah

tuntutan mobilitas untuk dapat menyalurkan produk-produknya ke

berbagai belahan dunia. Mobilitas ini memberikan keuntungan

tersendiri bagi MNC dimana mereka dapat menentukan lokasi-lokasi

mana yang paling menguntungkan yang didasarkan pada dua motif

tadi.
12

Sementara dari sisi Host Country, eksistensi MNC di suatu

negara juga memberikan beberapa dampak positif seperti terbukanya

lapangan pekerjaan baru yang diidentikkan dengan pengurangan

jumlah angka pengangguran, adanya fasilitas produksi baru, proses

transfer teknologi yang semakin efektif, dan juga pengenalan system

manajemen baru. Hasil dari semua ini kemudian akan memicu

semangat kerja industry local dan meningkatkan skill tenaga kerja,

terutama mereka yang mamasok bahan-bahan mentah ke MNC

[ CITATION Sef17 \p 12 \l 1033 ].

Indonesia sebagai negara berkembang, yang memiliki

kekayaan akan sumber daya alam serta berada pada posisi atas sebagai

negara berpenduduk terbanyak di dunia, pun semakin mengundang

para investor asing untuk menjadikan negara ini sebagai sasaran utama

dalam menanamkan investasinya. Dimana mereka berasumsi bahwa

banyak SDA yang dimiliki Indonesia mengindikasikan pula banyaknya

sumber bahan mentah yang siap diolah [ CITATION Sef17 \p 13 \l 1033 ].

Oleh karena itu, dalam konsep hubungan MNC dan Host

Country, Indonesia memiliki bargaining position dimana MNC

bukanlah satu-satunya pihak yang mendapatkan keuntungan, namun

ada kebijakan pemerintah yang perlu ditaati agar keuntungan yang

diperoleh dapat memberi manfaat bagi kedua belah pihak. Salah

satunya yaitu bentuk tanggung jawab MNC kepada Indonesia seperti

pembayaran pajak dan tanggung jawab social (CSR) yang

memperhatikan ruang lingkup yang mencakup bidang ekonomi,


13

pendidikan, kesehatan dan lingkungan di negara Host Country

[ CITATION Sef17 \p 14 \l 1033 ].

Adapun bargaining Position dalam konteks Negara Indonesia

terhadap MNC, yakni adanya ketersediaan sejumlah besar

lahan/potensi lahan kopi Indonesia yang dapat mempengaruhi kondisi

perekonomian negara didasarkan pada aspek geografi politik. Dengan

adanya hal tersebut cenderung akan menimbulkan ketertarikan negara

luar untuk dapat melakukan interaksi intensif terhadap Indonesia, salah

satu yang membuktikan hal tersebut, yaitu Starbucks Coffee yang telah

memberikan pelatihan khusus terhadap petani kopi di Indonesia dalam

program Pusat Pelatihan Petani (Farmer Support Center/FSC) yang

telah diusungnya.

2. Konsep Corporate Social Responsibility (CSR)

Pembangunan suatu negara bukan hanya tanggung jawab

pemerintah saja, setiap warga negara berperan untuk mewujudkan

kesejahteraan social dan peningkatan kualitas hidup masyarakat

[ CITATION Gun09 \l 1033 ] . Ada tiga golongan yang berperan penting

dalam pembangunan sebuah negara [ CITATION Gun09 \l 1033 ], di

antaranya adalah pemerintah (Government), Masyarakat

(Citizen/People/Community) dan Dunia Usaha (Corporate). Dunia

usaha harus berperan mendorong pertumbuhan ekonomi yang sehat

dengan mempertimbangkan pula masyarakat dan lingkungan hidup.


14

Saat ini dunia usaha tidak lagi hanya memperhatikan catatan

keuangan perusahaan semata (single bottom line), melainkan sudah

meliputi aspek keuangan, aspek social, dan aspek lingkungan yang

biasa disebut triple bottom line. Perusahaan dalam hal ini dibebani

tanggung jawab social untuk ikut mensejahterakan warga negara yang

ada di sekitarnya [ CITATION Gun09 \l 1033 ].

Corporate Social Responsibility (CSR), secara umum bisa

diartikan sebagai upaya dari perusahaan untuk menaikkan citranya di

mata public dengan membuat program-program amal baik yang

bersifat eksternal maupun internal. Program eksternal yaitu seperti

menjalankan kemitraan (Partnertship) dengan melibatkan seluruh

pemangku kepentingan (stakeholder) untuk menunjukkan kepedulian

perusahaan terhadap masyarakat dan lingkungan sekitarnya.

Sedangkan secara internal mampu berproduksi dengan baik, mencapai

profit yang maksimal dan mensejahterakan karyawannya [ CITATION

Gun09 \l 1033 ].

Definisi lain dari CSR menurut versi The Word Business

Council for Sustainable Development (WBCSD) in fox, et al (2002),

bahwa CSR atau tanggung jawab social perusahaan adalah komitmen

bisnis untuk berkontribusi dalam pembangunan ekonomi

berkelanjutan, bekerja dengan para karyawan perusahaan, keluarga

karyawan, dan Masyarakat setempat (local) dalam rangka

meningkatkan kualitas kehidupan [ CITATION Gun09 \l 1033 ].


15

Sejalan dengan definisi CSR di atas, adanya program Starbucks

FSC yang bertujuan untuk memberikan pelatihan berkelanjutan yang

mampu meningkatkan kualitas produktivitas bertani pada komunitas

petani kopi serta upaya standarisasi agar hasil kopi yang ditargetkan

mampu mencapai kualitas premium, dapat dinilai sebagai salah satu

upaya Starbucks yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup

masyarakat yang berada di sekitar lingkungan operasional

perusahaannya, dan di sisi lain juga dapat diasumsikan sebagai salah

satu strategi Starbucks untuk menaikkan citranya demi

mempertahankan kepentingan profitabilitas Perusahaannya.

E. Metode Penelitian

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian yang ada, maka

jenis metode penelitian yang digunakan penulis selama proses penelitian

adalah metode kualitatif, dimana yang menjadi unit analisis dalam

penelitian ini adalah masyarakat/entitas petani kopi di Sumatera Utara dan

Starbucks Farmer Support Centre (FSC) . Adapun untuk memperkuat

analisis dalam penelitian ini, juga diperlukan informasi dan data-data yang

dalam bentuk angka.

1. Tipe Penelitian

Tipe Penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini

adalah jenis penelitian Kualitatif Deskriptif yang bersifat

menggambarkan pola interaksi antara FSC Starbucks dan entitas petani

kopi di Indonesia lalu kemudian menjelaskan efek/implikasi yang

dihasilkan dari interaksi kedua pihak tersebut khususnya dalam


16

pengaruhnya terhadap peningkatan kesejahteraan petani kopi di

Indonesia

2. Jenis Data

Data yang penulis gunakan dalam penelitian ini yaitu data

sekunder dan primer. Data sekunder diperoleh melalui studi literature

seperti buku, jurnal, artikel, majalah handbook, situs internet, institute

dan lembaga terkait, yang mana kesemuanya harus memiliki

keterkaitan langsung dengan penelitian penulis. Adapun data primer

akan diperoleh dari lokasi kegiatan pelatihan FSC Starbucks tersebut

berlangsung.

3. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data pada penelitian adalah studi

kepustakaan (Library Research), dan observasi lapangan.

4. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan bersifat kualitatif, dimana

data yang penulis dapat bukan berbentuk numeric atau data-data

berupa angka namun berdasarkan penggabungan dari beberapa fakta-

fakta yang ada, yang menghasilkan sebuah argument yang tepat.

Adapun, data kuantitatif diperlukan untuk memperkuat analisis

argumentasi yang diperoleh dari analisis kualitatif tadi.

5. Metode Penulisan
17

Metode penulisan yang digunakan oleh penulis ialah metode

deduktif, yakni penggambaran masalah yang diteliti secara umum, lalu

menarik kesimpulan secara khusus dalam menganalisis data.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Penelitian Terdahulu

Beberapa penelitian terdahulu juga pernah membahas tentang

tanggung jawab MNC terhadap masyarakat dan lingkungan dari negara

Host Country tempat mereka melancarkan operasional perusahaannya.

Maka dari itu, penulis menjadikan hasil penelitian-penelitian sebelumnya

yang berkaitan dengan topic yang akan diteliti penulis sebagai referensi

atau rujukan utama dalam penulisan skripsi ini. Adapun, hasil penelitian

yang penulis review sebagai literature dalam penulisan skripsi ini yang

pertama merujuk pada Skripsi Dea Angela Seftyana mahasiswi Universitas

Hasanuddin pada tahun 2017 dengan judul Strategi Penanganan Masalah

Lingkungan Hidup di Kabupaten Sumbawa Barat Melalui Environment

Sustainability Program oleh PT. Newmont Nusa Tenggara (NNT).

Penelitian ini fokus membahas program CSR yang dibawa PT. NNT

sebagai langkah antisipatif MNC untuk membendung kekhawatiran dari

Host Country khususnya terkait potensi permasalahan lingkungan yang

terjadi diakibatkan operasional PT. NNT dalam melakukan kegiatan

produksi tambang.
18

Selanjutnya penelitian ini juga merujuk pada skripsi Herdiani Dewi

Kurniawan, mahasiswi Universitas Katolik Parahyangan pada tahun 2017

dengan judul Implementasi Program CSR PT. Holcim Indonesia, Tbk.

Pada Bidang Pendidikan di Kabupaten Bogor Tahun 2014-2015. Dalam

penelitian tersebut, peneliti berasumsi bahwa kebanyakan pelaksanaan

program CSR yang dilakukan oleh MNC beberapa hanya dipandang

sebagai pelengkap dalam memenuhi atau membangun citra baik pada

suatu perusahaan dalam hal ini MNC. Oleh karena itu, dalam

penelitiannya, peneliti bermaksud untuk menguji akuntabilitas MNC PT.

Holcim Indonesia, Tbk dalam melaksanakan program CSR-nya pada

bidang pendidikan. Apakah program-program tersebut teridentifikasi

efektif menyelesaikan permasalahan masyarakat yang ada atau hanya

menjadi sebatas bentuk pelaksanaan kewajiban saja.

Rujukan lainnya diperoleh dari Skripsi Luqman Pradityo yang juga

merupakan mahasiswa dari Universitas Katolik Parahyangan dengan judul

skripsi Implementasi CSR PT. Unilever Indonesia melalui Program

Jakarta Green and Clean dalam Mengatasi Permasalahan Sampah di DKI

Jakarta tahun 2006-2010. Skripsi ini mengangkat Studi Kasus di

Kelurahan Malaka Sari, Jakarta Timur dan Kelurahan Cipinang Melayu,

Jakarta Timur. Peneliti dalam penelitian tersebut focus membahas tentang

pengaplikasian program CSR Oleh PT. Unilever Indonesia lewat program

Unilever Green and Clean, yang mana dalam program tersebut,

perusahaan memiliki komitmen untuk mengelola dampak social dan

lingkungan secara bertanggung jawab, bekerja dalam kemitraan dengan


19

para pengambil keputusan dan memberikan sumbangsih pada

pembangunan masyarakat yang berkelanjutan. .

Rujukan lainnya yaitu dari Jurnal Qurratie Zain mahasiswa

Lulusan Universitas Airlangga pada tahun 2015 yang berjudul

Collaboration Strategy dalam Implementasi Corporate Social

Responsibility (CSR) yang mengangkat Studi Kasus Aqua Danone Klaten.

Dalam Jurnalnya, penulis berupaya menyajikan keberhasilan MNC dalam

pelaksanaan program CSR-nya yang mampu menangani ketimpangan

yang terjadi di masyarakat sebagai akibat dari proses produksi yang

dilakukan MNC. Lebih lanjut, keberhasilan tersebut diperoleh melalui

pengembangan implementasi Program CSR dengan menggunakan

collaboration strategy yang dipilih sebagai sebuah langkah jitu untuk

menyeleseiakan ketimpangan-ketimpangan yang ada.

Tak habisnya, penelitian ini juga merujuk pada jurnal Wesphalia

Vol. 16 No. 1 (Januari – Juni 2017) yang ditulis oleh Shylvia Windary,

yang berjudul Analisis Starbucks Corporation Melalui Pendekatan Global

Value Chains (GVC). Yang mana dari judul tersebut, penulis jurnal

bermaksud memberikan serta meningkatkan pemahaman tentang adanya

sebuah mata rantai kopi dari sebuah perusahaan terbesar dalam bidang

kopi yang berkualitas premium, yaitu Starbucks Corporation, dengan

menggunakan pendekatan GVC yang focus pada penciptaan nilai,

distribusi dan control dalam jaringan transnasional. Selain itu, pendekatan

GVC ini dinilai sebagai upaya untuk memperpanjang rantai nilai dari

eksploitasi bahan baku biji kopi, pengolahan menjadi bubuk kopi, melalui
20

berbagai tahap perdagangan, jasa dan proses manufaktur untuk dikonsumsi

di gerai-gerai Starbucks dan pembuangan limbah.

Rujukan yang menjadi Referensi terakhir dari penelitian ini yaitu

jurnal yang ditulis oleh Meriza Sastri Nenda, Mahasiswa Universitas Riau

yang berjudul Dampak Investasi Starbucks Coffee terhadap Penjualan

Produksi Kopi Lokal di Indonesia. Dari judul tersebut, penulis berupaya

memberitahukan bahwa keberadaan Starbucks di negara Host Country

dalam hal ini Indonesia, memberikan banyak pengaruh terhadap penjualan

kopi local di Indonesia itu sendiri, yang cenderung lebih banyak

menimbulkan kerugian dari Pihak Indonesia, baik di bidang social,

maupun ekonomi. Kerugian tersebut di antaranya, menyebabkan

masyarakat Indonesia berperilaku konsumtif, dikarenakan masyarakat

cenderung lebih memilih membeli produk Starbucks hanya karena produk

tersebut berasal dari perusahaan asing dan memiliki label internasional

serta konsumsi produk tersebut dilakukan demi memperlihatkan strata

social dalam kehidupan bermasyarakat. Selain itu dampak lainnya yaitu

menurunnya penjualan kopi local itu sendiri, dikarenakan permintaan dari

sejumlah pengusaha local mulai rendah diakibatkan usaha-usaha kopi local

mereka yang kurang diminati oleh masyarakat yang lebih memilih kopi

Starbucks.

Melanjutkan penelitian-penelitian tersebut di atas, penulis akan

meneliti tentang “Strategi dan Implikasi Program Starbucks Farmer

Support Centre (FSC) terhadap Petani Kopi di Sumatra Utara”. Adapun

diferensiasi penelitian penulis dengan hasil penelitian-penelitian di atas


21

adalah Studi kasus yang berbeda yang mana konteks penelitian yang akan

dilakukan penulis lebih spesifik membahas tentang bagaimana Strategi

yang dilakukan MNC Starbucks Coffee melalui program FSC-nya dalam

memberikan pelatihan berkelanjutan kepada komunitas petani kopi di

Indonesia khususnya di Sumatra Utara, yang mana Starbucks dalam

program ini memiliki target output untuk menjadikan lahan pertanian yang

ada di Sumatra sebagai standar lahan percontohan bagi perkebunan kopi

maupun aktivitas bertani kopi yang berkualitasi baik dalam skala nasional

maupun global. Tidak berhenti sampai disitu, dalam penelitian ini, penulis

juga berupaya untuk menganalisis dampak yang dihasilkan program

pelatihan Starbucks FSC terhadap komunitas petani kopi di Sumatra Utara,

baik dalam aspek social, ekonomi maupun lingkungan sekitar operasional

program FSC. Teori yang digunakan penulis ialah konsep relasi MNC dan

Host Country serta konsep Corporate Social Responsibility (CSR) untuk

melihat bagaimana hubungan antara MNC dan Host Country yang dapat

menciptakan suatu kondisi yang ideal antara kedua belah pihak, yakni

saling menguntungkan, yang memang menjadi motif dan tujuan dasar

kedua belah pihak untuk mengadakan pola interaksi tersebut.

B. Konsep MNC dan Host Country

Akibat perkembangan dunia yang semakin kompleks saat ini,

menjadikan kerjasama yang baik di bidang ekonomi, politik, social-

budaya, maupun pendidikan antar sesama negara menjadi perlu dilakukan

demi menciptakan kondisi harmonis dalam hubungan antar negara. karena

adanya hubungan antar negara seyogyanya merupakan representasi dari


22

hubungan antar sesama manusia apabila ditinjau dalam skala lingkup yang

paling nyata[ CITATION Sef17 \p 21 \l 1033 ] . Dimana satu negara dengan

negara lain juga saling membutuhkan satu sama lain khususnya dalam

hubungan kerjasama di bidang ekonomi dan politik. Politik dan ekonomi

merupakan dua aspek yang saling bersinggungan satu sama lain dan sering

menjadi pokok bahasan penting dalam studi hubungan internasional. Salah

satu perkembangan di dunia ekonomi politik internasional paska Perang

Dunia II adalah kemunculan Multinational Corporation (MNC). MNC

adalah sebuah perusahaan internasional atau transnasional yang berkantor

pusat di satu negara tetapi memiliki kantor cabang baik di negara maju

maupun negara berkembang. MNC merupakan actor non negara (non-

state actor) dalam konstelasi internasional yang perkembangannya

menarik para scholars dalam hubungan internasional untuk menelitinya

[ CITATION Lai03 \p 81 \l 1033 ].

Harry Magdoff (1978) dalam bukunya yang berjudul The

Multinational Corporation and Development – A Contradiction?

menjelaskan bahwa korporasi multinasional dapat dipahami sebagai

Iogical state dalam evolusi perusahaan kapitalis. Dalam ekonomi politik

internasional, kapitaisme merupakan salah satu unsure penting bagi suatu

perusahaan yang berfungsi untuk mengembangkan bisnis ke negara lain

(Magdoff, 1978). Harry Magdoff memandang kelahiran MNC sebagai

sebuah evolusi terbaru dari dunia kapitalis. Kelahiran MNC ini dapat

dipahami dari catatan-catatan yang diperoleh dari tulisan Karl Marx

mengeneai perilaku-perilaku kaum kapitalis [ CITATION Sef17 \p 21 \l


23

1033 ]. Menurut Marx, inti sentral dari kelahiran MNC, ditandai oleh

beberapa factor [ CITATION Sef17 \l 1033 ], di antaranya adalah (1) Kondisi

perusahan kapitalis memaksa perusahaan individu perlunya untuk semakin

memerluas jaringan mereka. Perkambangan produksi kapitalis

yangsemakin tumbuh signifikan, membuat mereka “dipaksa” untuk terus

meningkatkan jumlah modal capital mereka. (2) Proses akumulasi modal

dapat dilakukan melalui dua bentuk yang saling berkaitan satu sama lain

yaitu penyebaran produksi dalam skala besar dan kombinasi perusahaan

melalui merger dan akuisisi. Dan (3) pasar menyediakan dasar dan elemen

penting dari produksi kapitalis. Faktanya adalah, bahwa kapitalisme lahir

di masa revolusi industry padaabad ke-16 dan awal abad ke-17 – sebuah

revolusi yang dihasilkan oleh pasar global yang berpusat pada kebutuhan

dan keinginan bangsa-bangsa eropa barat [ CITATION Sef17 \p 22 \l 1033 ] .

Inti utama atribut dari MNC sendiri adalah perluasan investasi, konsentrasi

kekuasaan perusahaan, dan pertumbuhan pasar dunia [ CITATION Har87 \p

166-167 \l 1033 ]

Upaya untuk mengatasi kemunculan Masyarakat Ekonomi Eropa

(MEE) dan kesulitan pembayaran juga ikut mempengaruhi perkembangan

penting ekonomi Amerika Serikat dan dunia ekonomi lainnya di mana

kondisi ini memunculkan actor-aktor transnasional baru yaitu MNC dan

munculnya pasar capital ekonomi internasional yang baru. Fitur utama dari

MNC adalah investasi langsung ke luar negeri yang dirancang untuk

menentukan dan mengatur produksi dan/ atau unit distribusi. Pergerakan

kekuatan ekonomi Amerika Serikat paska Perang Dunia II semakin pesat


24

dimana pada 52% investasi luar negeri berada di tangan perusahaan MNC

Amerika Serikat [ CITATION Har87 \p 170 \l 1033 ]. Kelahiran MNC sendiri

merupakan salah satu alat hegemoni AS di sector perekonomian saat itu

dan memiliki pengaruh yang besar bagi perkembangan ekonomi dunia

[ CITATION Lai03 \p 83 \l 1033 ]

Terdapat beberapa factor utama lainnya yang menyebabkan

kemunculan perusahaan MNC Amerika Serikat dan bentuk baru dari

operasi kapitalis internasional menurut Harry Magdoff, di antaranya

adalah (1) system pembayaran internasional, dimana dulunya system

pembayaran internasional berfokus pada pasar uang London ketika Inggris

masih menjadi hegemon di abad ke-19, namun setelah Perang Dunia II

tertutama ketika munculnya system pembayaran internasional baru yang

terangkum dalam Bretton Woods System memberikan kesempatan lebih

bagi Amerika Serikat dalam mengembangkan investasi luar negeri mereka

dalam pasar internasional [ CITATION Har87 \p 171 \l 1033 ] . (2) adanya

kesejahteraan dan pembangunan ekonomi yang didorong oleh Marshall

Plan, yang telah dilakukan sebagian besar untuk membangun kembali dan

memperkuat kapitalisme Eropa sebagai sekutu politik dan militer Amerika

Serikat yang berhasil dalam meningkatkan jumlah perusahaan-perusahaan

multinasional baik dari Amerika Serikat maupun di Eropa itu sendiri. (3)

pemberian bantuan program militer dan ekonomi juga ikut memberikan

pengaruh besar bagi Amerika Serikat untuk menanamkan modal investasi

di negara yang dituju tersebut. (4) Perang Dunia II dan paska Perang

Dunia II membangkitkan sebuah perubahaan baru dalam dunia bisnis dan


25

teknologi yang juga memberikan dampak yang signifikan bagi

pertumbuhan MNC itu sendiri [ CITATION Har87 \p 172-173 \l 1033 ]

Terlepas dari segala perkembangan MNC terutama pada paska

Perang Dunia II, muncul kontroversi dari kelahiran MNC itu sendiri

dimana adanya perkembangan MNC akan menyebabkan peran negara

sebagai actor utama dalam konstelasi internasional menurun. Terdapat dua

proposisi yang menyatakan bahwa MNC mengikis peran negara di

antaranya adalah definisi kepentingan nasional dan kemampuan negara

dalam mengontrol ekonomi. Pertama definisi kepentingan nasional dimana

konsep kepentingan nasional ini akan berubah seiring dengan masuknya

pengaruh asing ke dalam wilayah suatu negara. salah satu pengaruh asing

yang dapat mempengaruhi perubahan kepentingan nasional adalah

kedatangan MNC itu sendiri [ CITATION Har87 \p 186 \l 1033 ]. Dan yang

kedua adalah kedaulatan negara dimana peran negara mulai menurun

dalam hal mengatur kondisi perekonomian dan moneter dalam negeri

mereka, seperti control suku bunga dan kebijakan fiscal [ CITATION Har87 \p

188 \l 1033 ]. Adapun, permasalahan-permasalahan seperti ini lebih banyak

ditemui di negara-negara dunia ketiga. Datangnya MNC terhadapa suatu

negara memiliki pengaruh dalam menciptakan keseimbangan kekuatan

ekonomi yang cenderung berpengaruh terhadap kekuatan nasional negara

itu sendiri. salah satu bentuk kontribusi MNC di negara-negara ketika

tersebut salah-satunya adalah meningkatkan arus impor dan ekspor

[ CITATION Har87 \p 190 \l 1033 ].


26

Sebelum masuk pada pembahasan konsep hubungan antara MNC

dan Host Country, maka diperlukan terlebih dahulu mengenai pengertian

MNC itu sendiri. MNC sesungguhnya belum memiliki definisi yang baku,

dalam arti belum ada satu kesatuan pandang terkait definisi MNC dari para

penstudinya. MNC memiliki pengertian yaitu suatu perusahaan yang

bergerak atau beroperasi di dua negara.

Robert Gilpin secara sederhana mengartikan bahwa MNC adalah

“a firm of a particular nationality with partially or wholly owned

subsidiaries within at least one other national economy” [ CITATION

Rob01 \p 278 \l 1033 ]. MNC dalam menjalankan bisnisnya bertendensi

untuk terus menerus memperluas pasar ke luar negeri [ CITATION Sef17 \p

37 \l 1033 ] . adapun MNC selanjutnya disebut sebagai home country, dan

negara tempat MNC beroperasi/ menempatkan cabangnya yaitu host

country [ CITATION DPr16 \l 1033 ].

Untuk lebih memahami tentang MNC, Michael J. Carbaugh

mengungkapkan bahwa sedikitnya ada empat karakteristik dari MNC

[ CITATION Sef17 \p 10 \l 1033 ]. Pertama, MNC disebutkan sebagai sauatu

perusahaan bisnis yang beroperasi di dua atau lebih negara tujuan (Host

Country) dimana perusahaan induk MNC tadi yang berada di negara asal

MNC (Home Country). Kedua, MNC seringkali melakukan kegiatan

research and development (penelitian dan pengembangan) di negara

tujuan (Host Country). kegiatan ini biasanya dilakukan guna menunjang

aktivitas MNC terutama dalam sector manufaktur, pertambangan,

eksplorasi minyak bumi, dan aktivitas bisnis jasa lainnya. Ketiga, kegiatan
27

operasional perusahaan bersifat lintas batas negara. keempat, terdapat

pemindahan modal yang ditandai dengan arus investasi asing langsung

(Foreign Direct Investment/FDI) dari daerah-daerah yang dianggap

mampu memberikan kontribusi positif atas keberadaan MNC. Robert

Gilpin mengatakan bahwa yang dimaksudkan dengan FDI adalah

pendirian anak atau cabang perusahaan asing atau pengambil-alihan

subuah perusahaan oleh asing [ CITATION Rob01 \p 279 \l 1033 ].

Dr. Sumantoro dalam tulisannya mengenai MNC/TNC

memandang MNC dari berbagai aspek. Dari segi politik, focus sentral

kepada MNC sebagai subjek dlaam hubungan internasional, terkait dengan

kekuatan politiknya di tingkat nasional dan internasional, serta pola

manajemennya yang terpusat sehingga membawa pengaruh pada

penguasaan informasi sebagai kekuatan politik, pun kekuatan ekonomi

bagi perusaahn tersebut terhadap pihak yang dihadapinya. Dari segi

hokum, focus sentralnya terletak pada MNC sebagai badan hokum yang

dapat merupakan cabang, usaha patungan atau perusahaan yang dimiliki

umum (public company), juga struktur pemilikan usaha, anggaran dasar

perusahaan, bentuk hokum pengelolaannya, serta penyelesaian jika ada

sengketa hukum. Hal yang terakhir ini juga terkait dengan masalah

yurisdiksi hokum negara penerima modal. Segi ekonomi, focus sentralnya

terletak pada aspek-aspek factor produksi modal, keahlian manajemen dan

keahlian teknologi, serta praktek-praktek usaha yang terkait dengan

persaingan, besarnya pasar, monopoli-oligoli, dan lain sebagainya

[ CITATION Sum87 \p 32 \l 1033 ].


28

Pandangan tersebut pada dasarnya mengambil sejumlah definisi

yang dikemukakan oleh beberapa pakar hukum seperti: Clive Schmithoff,

kemudian definisi yang dikemukakan oleh kalangan PBB/ Group of

Eminet Persons, kalangan Organisasi Kerjasama dan Pembangunan

Ekonomi (OECD/Organisation for Economic Co-operation and

Development), dan Dr. Ignaz.S. Hohenveldern. Dari sejumlah definisi

yang beraneka ragam itu kemudian Sumantoro pada prinsipnya

mengajukan isu yang menajdi pusat perhatiannya dari masalah-masalah

MNC yang ada, khususnya di negara-negara penerima modal yang

dipahami sebagai:

1. Perusahaan cabang, yang merupakan cabang yang tidak terpisahkan

dengan MNC induknya;

2. Perusahaan pemilikan subsidiaries, yang merupakan anak perusahaan

yang berbadan hukum sendiri, yang mana saham ini sepenuhnya

dimiliki oleh perusahaan induk.

3. Perusahaan patungan (joint venture) yang merupakan perusahaan

dimana sahamnya dimiliki oleh dua atau lebih perusahaan sebagai

partner.

4. Perusahaan yang berkedudukan local dan sebagian sahamnya dipegang

oleh masyarakat (perusahaan yang go public atau public company).

Bentuk lainnya yaitu pembentukan yang didasarkan pada ketentuan

perundangan yang ada, seperti bidang perbankan, pertambangan

minyak dan gas bumi dan perdagangan atau jasa lainnya.


29

Sementara itu ada beberapa definisi lain yang dikemukakan oleh

penulis-penulis ekonomi politik, di antaranya adalah Stephen Gilland dan

David Law. Sedangkan dari beberapa pandangan lainnya yang menggaet

pengertian, definisi, dan istilah yang digunakan secara umum bagi MNC

ini banyak disebut-sebut sebagai: direct investment, international

business, the international firm, the international corporate group, the

multinational enterprise, la grande enterprise plurinationale, la gan unite

plurinationale dan the US corporate monster, serta sejumlah nama lain

untuk menyebut hal serupa. Sementara itu, apabila mengambil pemahaman

menurut penggolongannya, Prof. John Dunnin, memberikan beberapa

criteria untuk membedakan MNC ke atas empat bentuk, yaitu:

1. Multinational Producting Enterprise (MPE), yakni perusahaan yang

memiliki dan mengontrol berbagai fasilitas produksi lebih dari satu

negara.

2. Multinational Trade Enterprise (MTE), yaitu perusahaan yang

berfokus pada bidang perdagangan dengan menjual barang yang

diproduksi di dalam negeri, langsung kepada badan usaha atau orang

di negeri lain.

3. Multinational Internationally Owned Enterprise (MOE), yaitu

perusahaan yang lebih mengarah pada kepemilikan usaha dari satu

induk perusahaan , yang menyebarluaskan cabang-cabang produksi

atau perdagangan atau kegiatan perusahaannya di negara lain

[ CITATION And18 \l 1033 ].


30

4. Multinational (Financial) Controlled Enterprise (MCE), yaitu

perusahaan yang berfokus pada permodalan atau pembiayaan.

Sebagaimana pada MOE dan MCE, kegiatan perusahaan ini juga

diawasi oleh lebih dari satu negara.

Menurut penggolongan yang dilakukan oleh Dunning ini, sebagian

besar perusahaan raksasa yang ada termasuk dalam jenis kategori MOE,

seperti Unilever, Danonen, Royal Dutch/Shell, dan sebagainya, yang mana

perusahaan-perusahaan ini merupakan perusahaan dengan kegiatan

perdagangan atau produk yang beragam dan menempatkan laur produksi

serta pemasarannya secara global, di hampir seluruh negara di dunia

[ CITATION And18 \l 1033 ]. Sehubungan dengan hal tersebut, apabila

melihat kepada pengertian dari definisi yang diajukan oleh Sanjaya Lall

ataupun Paul Streeten yang secara prinsip menekankan masalah-masalah

MNC tersebut ke dalam perspektif ekonomis, organisasional, dan

motivasional. Adapun pemahaman secara ekonomis yakni member

penekanan kepada segi ukuran, penyebaran geografis dan tingkat

keterlibatannya di luar negeri. Sehingga dari sini kemudian diperoleh suatu

pengertian umum mengenai MNC yang berbeda dengan: Perusahaan besar

domestic yang sedikit melakukan investasi di luar negeri. Perusahaan

domestic mungkin melakukan investasi di luar negeri tetapi dalam unit

ekonomi yang lebih kecil[ CITATION Sef17 \p 28 \l 1033 ].

Hal selanjutnya yang menjadi bagian dari pembahasan konsep

hubungan antara MNC dan Host Country, erat dikaitkan dengan isu saling

ketergantungan antar kedua belah pihak. Yang mana dalam teori


31

interdependensi, negara bukan merupakan actor independen secara

keseluruhan, justru negara juga saling bergantung satu sama lainnya. Maka

dari itu, apabila dibawa dalam konteks MNC, tidak ada satu negara pun

yang secara keseluruhan dapat memenuhi sendiri kebutuhannya,

melainkan masing-masing bergantung pada sumberdaya dan produk dari

negara lainnya[ CITATION Per05 \p 77 \l 1033 ] .. Teori interdependensi

merupakan turunan dari perspektif liberalism. Liberalism interdependensi

antar negara. actor transnasional dalam hal ini MNC menjadi semakin

penting dan kesejahteraan merupakan tujuan yang dominan dari negara.

Yang mana interdependensi kompleks akan menciptakan dunia hubungan

internaonal yang lebih kooperatif[ CITATION Sef17 \p 29 \l 1033 ].

Hubungan antara MNC dan Host Country tidak serta merta

didasarkan pada masalah saling ketergantungan belaka. Perhatian dari

negara tujuan untuk melindungi industry domestiknya juga membuat

negara tujuan mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang mengatur aktivitas

MNC dan juga menerapkan kebijakan proteksionisme terhadap setiap

MNC yang beroperasi di negaranya [ CITATION Sef17 \l 1033 ]. Kebijakan

proteksionaisme harus dilakukan demi mengatasi berbagai hal yang

mungkin muncul dikarenakan adanya aktivitas ekonomi internasional.

Menurut Hamilton, seharusnya pemerintah suatu negara melakukan tiga

hal terkait perlindungan terhadap industry domestic yakni diterapkannya

pelarangan impor atas produk-produk yang bisa dihasilkan oleh industry

local, dan penerapan peraturan hokum yang mengatur akan kualitas

produk sebagai jaminan bagi konsumen [ CITATION Sef17 \p 31 \l 1033 ] .


32

Salah satu cara yang digunakan oleh banyak Host Country adalah

diwajibkannya MNC membuka kepemilikian sahamnya kepada

masyarakat local dan juga adanya aturan yang menyebutkan bahwa produk

yang dihasilkan haruslah mengandung sekian persen kandungan local.

MNC memiliki dua alasan mengapa harus mengembangkan

bisnisnya [ CITATION Sef17 \p 11 \l 1033 ]. Pertama, yaitu pada akses control

untuk mendapatkan sumber bahan mentah. Dan kedua adalah tuntutan

mobilitas untuk dapat menyalurkan produk-produknya ke berbagai

belahan dunia. Mobilitas ini memberikan keuntungan tersendiri bagi MNC

dimana mereka dapat menentukan lokasi-lokasi mana yang paling

menguntungkan yang didasarkan pada dua motif tadi.

Sementara dari sisi Host Country, eksistensi MNC di suatu negara

juga memberikan beberapa dampak positif seperti terbukanya lapangan

pekerjaan baru yang diidentikkan dengan pengurangan jumlah angka

pengangguran, adanya fasilitas produksi baru, proses transfer teknologi

yang semakin efektif, dan juga pengenalan system manajemen baru. Hasil

dari semua inikemudian akan memicu semangat kerja industry local dan

meningkatkan skill tenaga kerja, terutama mereka yang mamasok bahan-

bahan mentah ke MNC [ CITATION Sef17 \p 12 \l 1033 ] . Hal demikian

menjadi penyebab banyaknya negara yang mengeluarkan kebijakan

proteksionisme berupa aturan kandungan local atas suatu produk harus

mencapai ukuran tertentu. Maka dengan adanya kebijakans tersebut,

Industri-industri local akan tetap hidup. Masuknya MNC ini juga dianggap

mampu meningkatkan kas negara dengan adanya pajak insentif yang harus
33

dibayarkan oleh MNC. Salah satu wujud real dari dampak dengan adanya

MNC tersebut ke dalam sector pajak di negara Hos Country tersebut salah

satunya yakni dapat membantu pembangun di host country [ CITATION

Sef17 \p 31 \l 1033 ].

Sayangnya, aktivitas MNC tidak serta merta dipandang baik, hal

ini disebabkan oleh keadaan negara. dunia ketiga pasca colonial yang

masih tertinggal jauh dibandingkan dengan angka rata-rata pertumbuhan di

negara maju [ CITATION Sef17 \p 31 \l 1033 ]. Banyak negara Dunia Ketiga

Ketiga menemui kesulitan dalam mmulai menjalankan pembangunan

ekonominya sehingga masuknya MNC dianggap hanya akan memberikan

dampak negative dimana masyarakat tradisional negara Dunia Ketiga

masih belum mengerti akan teknologi yang dibawa oleh MNC serta

keadaan politik yang belum stabil membuat negara sulit mengawasi

aktivitas MNC yang rentan terhadap aktivitas perusakan lingkungan dan

eksploitasi alam secara berlebihan [ CITATION Sef17 \p 31 \l 1033 ].

Terkait dengan solusi dimana terdapat banyak dari Negara Dunia

Ketiga yang mana masyarakat tradisional Negara Dunia Ketiga masih

memiliki corak produksi yang tertinggal jauh oleh perkembangan dan

kemuajuan teknologi serta corak produksi yang dibawa oleh MNC masuk

ke dalam Host Country tersebut, maka terdapat bentuk

pertanggungjawaban dari pihak MNC untuk melakukan suatu upaya yang

berorientasi pada perimbangan atau penyesuaian kapasitas dan kualitas

corak produksinya terhadap kapasitas dan kualitas corak produksi

masyarakat tradisional dunia ketiga, salah satunya dengan cara


34

mengadakan program berkelanjutan yang berbasis CSR terhadap

masyarakat tradisional/local Host Country. Oleh karena itu, banyak dari

penelitian terdahulu yang telah membuktikan bahwa fungsi CSR sedikit

banyak memberikan kontribusi positif yang memberikan pengaruh, baik

pengaruh pada skala kecil sampai kepada pengaruh yang sigfnifikan, yaing

tidak lain berorientasi baik dalam hal pengentasan masalah dari

masyarakat local dan lingkungan sekitar terkait aktivitas produksi, maupun

dalam hal pengembangan masyarakat dan lingkungan sekitar di Host

Country itu sendiri. selain itu, berbagai CSR yang dijalankan MNC juga

diasumsikan sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan citra atau

membangun image positif terhadap MNC atau negara MNC itu sendiri.

Meskipun tidak jarang, fungsi CSR yang dibawa MNC masuk ke dalam

Host Country banyak menemui kendala bahkan kegagalan dalam

pelaksanaannya, yang mana proses dan tujuan tidak sesuai dengan harapan

atau sangat jauh dari tujuan dasar sebagaimana deifnisi yang inheren

dalam konsep CSR itu sendiri.

Adapun penelitian terdahulu yang berupaya mengentaskan

permasalahan lingkungan dari dampak aktivitas produksi di negara Host

Country melalui program CSR MNC yang berbasis lingkungan yakni

adanya Environment Sustainability Program yang dilakukan oleh PT.

Newmont Nusa Tenggara (NNT) yang berfokus membahas serta memberi

solusi dari masalah dan potensi permasalhan lingkungan pada wilayah

Sumbawa Barat. Adapun yang dibahas pada penelitian ini yaitu akan

mengarah pada CSR yang focus membahas tentang perkembangan dan


35

pembangunan terhadap masyarakat, lingkungan, serta pola aktivitas

produksi di negara Host Country yang secara khusus membahas tentang

pengembangan pola aktivitas masyarakat petani kopi di Indonesia,

khususnya di Sumatera Utara, pun dengan output biji kopi yang

dihasilkan.

C. Konsep Corporate Social Responsibility (CSR)

Pembangunan suatu negara bukan hanya tanggung jawab

pemerintah saja, setiap warga negara berperan untuk

mewujudkankesejahteraan social dan peningkatan kualitas hikdup

masyarakat. Ada tiga golongan yang berperan penting dalam

pembangunan sebuah negara: Pemerintah (Government), Masyarakat

(Citizen/People/Community), dan Dunia Usaha (Corporate). Dunia usaha

harus berperan mendorong pertumbuhan ekonomi yang sehat dengan

mempertimbangkan pula masyarakat dan lingkungan hidup.

Kini dunia usaha tidak lagi hanya memperhatikan catatan keuangan

perusahaan semata (Single bottom line), melainkan sudah meliputi aspek

keuangan, aspek social, dan aspek lingkungan, yang ketiga hal tersebut

dirangkum ke dalam istilah yang biasa dikenal dengan Triple bottom line.

Sinergi dari tiga elemen ini merupakankunci dari konsep pembangunan

berkelanjutan (sustainable development). Perusahaan dalam hal ini

dibebani tanggung jawab social untuk ikut mensejahterakan warga negara

yang ada di sekitarnya [ CITATION Gun09 \l 1033 ].

Konsep “triple bottom line” muncul disebabkan oleh adanya

paradigm bisnis yang mengalami evolusi sejalan dengan adanya


36

perkembangan tuntutan perlakuan yang berkeadilan dan kesadaran untuk

menjalankantata kelola berkelanjutan, yang kemudian menumbuhkan

pemahaman baru bahwa tujuan entitas bisnis tidak semerta-merta

membahas dan mengejar soal laba, namun mencakup juga ketiga aspek

yang terdapat dalam triple bottom line sebagai pelengkap manfaat bagi

lingkungan social dan kontribusi terhadap pelestarian alam [ CITATION

DrM16 \l 1033 ]. Konsep triple bottom line juga merupakan platform baru

yang mulai menjadi kiblat falsafah bisnis yang sejalan dengan ekspektasi

pemangku kepentingan. Pengabaian terhadap trilogy aspek profit, people

and planet, akan direspon negative oleh pelanggan, mitra, investor

maupun pendapat umum [ CITATION DrM16 \l 1033 ].

Selain itu, pengertian Corporate Social Responsibility (CSR), juga

bisa diartikan sebagai upaya dari perusahaan untuk menaikkan citranya di

mata public dengan membuat program-program amal, baik yang bersifat

eksternal maupun internal. Program eksternal yakni dengan menjalankan

kemitraan (partnership) dengan melibatkan seluruh pemangku

kepentingan (stakeholder) untuk menunjukkan kepedulian perusahaan

terhadap masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Sedangkan secara internal

yakni perusahaan mampu berproduksi dengan baik, mencapai profit yang

maksimal dan mensejahterakan karyawannya [ CITATION Gun09 \l 1033 ].

Lebih lanjut, berikut merupakan beberapa substansi penting untuk

dapat memahami konsep CSR secara komprehensif, yang secara lengkap

dan efektif telah dirangkum dalam buku Dr. Mohammad A. Ghani yang

berjudul “Model CSR Berbasis Komunitas – Integrasi Penerapan


37

Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan Korporasi” pada tahun 2016.

Adapun, uraian ini sedikit banyak telah mengacu dan memadukan, serta

mengelaborasi panduan penerapan CSR yang berbasis standar ISO 26000,

pun prosedur pelaporan keberlanjutan (sustainability reporting),

sebagaimana yang lazim diadopsi tata kelola CSR perusahaan

multinasional pada umumnya [ CITATION DrM16 \l 1033 ]:

1. Relasi Perusahaan dengan Masyarakat

Keberadaan suatu bisnis di suatu wilayah memiliki visi

strategis terhadap pertumbuhan ekonomi kawasan. Terbukanya

kesempatan kerja dan tumbuhnya peluang usaha terkait merupakan

efek pengganda (multiplier effect) yang diperoleh atas adanya aktivitas

usaha di suatu wilayah. Pada sisi lain, dampak social dan lingkungan

seringkali kurang memperoleh perhatian dan antisipasi yang

proporsional.

Mendesain format bisnis yang ramah terhadap masyarakat

sekitar dan lingkungan alam merupakan tantangan yang selalu relevan

agar aktivitas usaha bisa memberikan banyak manfaat terhadap

kesejahteraan masyarakat dengan dampak pencemaran yang minimal.

Pelibatan pemangku kepentingan dalam setiap tahapan proses

merupakan kata kunci untuk mempertemukan kepentingan perusahaan

dengan masyarakat serta antara kepentingan masa kini dengan generasi

mendatang.

a. Kontribusi Perusahaan terhadap Ekonomi Kawasan


38

Merujuk pada teori kutub pertumbuhan, dinyatakan bahwa

dalam suatu wilayah, adanya penduduk atau kegiatan ekonomi

yang terkonsentrasi pada suatu tempat akanmenjadi pusat

pertumbuhan (growth pole) bagi daerah sekitarnya. Kluster

industry, pusat perdagangan, kawasan perkebunan atau

pertambangan merupakan simpul ekonomi yang menggerakkan

kawasan di sekitarnya. Sebaliknya, daerah di luar pusat konsentrasi

seperti daerah pedalaman, wilayah belakang, daerah pertanian atau

daerah pedesaan disebut sebagai hinterland. Keuntungan

terkonsentrasinya kegiatan ekonomi di suatu kawasan adalah

terciptanya skala ekonomis karena proses produksi terspesialisasi,

terkonsentrasi serta terintegrasi rantai pasoknya (supply chain)

sehingga tercapai kesetimbangan biaya yang efisien. Keberadaan

industry di suatu wilayah juga membuka peluang terciptanya

hubungan kemitraan yang konstruktif antara perusahaan dengan

masyarakat sekitar.

b. Konflik Kepentingan antara Perusahaan dengan Masyarakat

Frekuensi konflik antara pelaku usaha dengan masyarakat

pada industry yang dibangun di kawasan remote area relative lebih

sering terjadi dibandingkan di perkotaan. Beberapa aspek yang

menjadi pencetus konflik sangat beragam, sebagaimana uraian

berikut:

1) Kepemilikan dan Batas lahan


39

Konflik lahan menjadi permasalahan yang kerap terjadi

pada pembangunan kawasan perkebunan maupun

pertambangan. Seringkali izin prinsip dari pemerintah

kabupaten tidak terperinci sehingga bisa jadi izin yang

diberikan tumpang tindih dengan kawasan hutan dengan

perusahaan lain atau dengan lahan masyarakat. Konflik dengan

masyarakat juga bisa terjadi karena areal perusahaan dituntut

oleh masyarakat sebagai tanah ulayat.

Kebiasaan masyarakat yang selama ini bebas

memanfaatkan hasil hutan untuk kepentingannya menjadi

terhambat dengan adanya klaim dari perusahaan yang akan

membuka areal tersebut untuk kegiatan investasi. Pembatasan

akses masyarakat terhadap kawasan hutan yang selama ini

dianggap milik masyarakat harus dikomunikasikan dengan

saksama oleh pemerintah maupun perusahaan, sehingga tidak

menimbulkan kesalahpahaman yang bisa memicu konflik

terbuka.

2) Distribusi Ekonomi

Keberadaan perusahaan membuka kegiatan di suatu

wilayah akan memicu tumbuhnya kesempatan kerja dan

peluang ekonomi baru di wilayah tersebut. Ironisnya, penduduk

local umumnya kalah bersaing dengan pendatang, yang relative

lebih gigih dan professional. Tanpa memberikan proteksi

kepada masyarakat sekitar, sudah bisa dipastikan mereka akan


40

termarjinalkan dan tak sanggup berkompetisi dengan

pendatang. Akan timbul kesenjangan ekonomi dan kesempatan

kerja yang bisa memicu konflik. Masyarakat bisa

mempersalahkan perusahaan karena dianggap tidak adil

mendistribusikan kesempatan ekonomi kepada penduduk

sekitar.

3) Kepastian Hukum

Penerapan hokum di daerah remote area terkadang

berbeda dengan daerah yang lebih maju. Bukti kepemilikan

lahan seperti Hak Guna Usaha (HGU), Hak Guna Bangunan

(HGB), maupun Izin Usaha Penambangan (IUP), tidak cukup

untuk menjamin keamanan berusaha, tanpa melakukan

pendekatan dengan masyarakat. Peraturan yang dikeluarkan

pemerintah pusat dan daerah terkadang tidak diakui

sepenuhnya oleh masyarakat. Diperlukan pendekatan khusus

agar perusahaan dapat mengolah lahannya tanpa gangguan

masyarakat.

4) Kesenjangan Sosial Budaya

Masuknya investasi ke suatu wilayah akan diikuti

denganpembentukan budaya baru yang berbeda dengan adat

kebiasaan dan paranata social masyarakat pedesaan. Terjadi

kesenjangan tingkat pendidikan, cara andang, dan nilai-nilai

yang dianut antara masyarakat dengan pendatang. Budaya

meritokrasi, yang dibawa oleh perusahaan, tentu berbeda


41

denganbudaya gotong royong. Tradisi saling menenggang dan

kecenderungan menjaga harmoni, telah lama dipraktikkan oleh

masyarakat pedesaan yang masih memegang teguh tradisi.

Penerapan disiplin, pengaturan jam kerja yang ketat, dan

pembebanan target kerja yang dipraktikkan dalam kultur

korporasi, bisa menimbulkan ketidaknyamanan bagi pekerja

yang berasal dari masyarakat sekitar. Perbedaan social-budaya,

antara komunitas pendatang dengan masyarakat sekitar,

merupakan salah satu sebab yang bisa memicu konflik antara

masyarakat asli dengan pendatang. Proses adaptasi untuk

mengubah kultur tradisional menjadi kultur korporasi

merupakan masa kritis yang harus dikelola dengan hati-hati,

agar tidak menimbulkan keresahan atau bahkan memicu

terjadinya konflik terbuka.

5) Resolusi Konflik

Konflik social adalah benturan yang terjadi antara dua

pihak atau lebih yang disebabkan adanya perbedaan nilai,

status, kekuasaan, dan atau adanya kelangkaan sumber daya

melampaui kebutuhan. Menurut Soekanto (2002), konflik

adalah suatu proses social di mana individu atau kelompok

berusaha memenuhi tujuannya dengan jalan menantang pihak

lawan dengan ancaman atau kekerasan. Sementara konflik

laten, terjadi akibat adanya ertentangan antara satu pihak

terhadap pihak lain yang terjadi karena ketidakcocokan atau


42

adanya perseteruan yang sudah berlangsung lama dan sumber

konfliknya bersifat substansial. konflik juga bisa terjadi karena

adanya keterbatasan sumber daya sehingga antar perorangan

atau sekelompok orang berebut untuk memenuhi kebutuhan

dan keinginannya. Perbedaan sudut pandang, pendapat dan

kepentingan terhadap sesuatu hal juga bisa menimbulkan

konflik.

adapun resolusi konflik yang terjadi apntara perusahaan

dan masyarakat pada umumnya terdiri dari dua cara, yakni

upaya preventive (pencegahan) dan mekanisme penyelesaian

konflik (apabila konflik sedang dan masih berlangsung atau

sudah berlangsung). Adapun upaya preventif di antaranya yaitu

dengan cara desain kawasan industri, penyerapan tenaga dari

penduduk setempat, menjadikan masyarakat sebagai mitra

usaha, mengoptimalisasi modal social, penerapan teknologi

ramah lingkungan, dan yang terakhir tanggung jawab social

perusahaan (CSR). Di antara semua bentuk upaya preventif

yang ada tersebut, CSR dinilai memeiliki pendekatan yang

lebih terstruktur dan tersistem dijabarkan dengan melaksanakan

tanggung jawab social dan lingkungan yang dilakukan

perusahaan kepada msayarakat sekitar dan pemangku

kepentingan lainnya.

Adapun mekanisme penyelesaian konflik dilakukan

dengan cara antara lain melalui penyelesaian/perundingan


43

langsung, mediator (Arbitrasei), pengadilan, dan pendekatan

otoritatif.

Berikut simplifikasi kompleksitas relasi antara

perusahaan dengan masyarakat yang secara sederhana dapat

dilihat melalui gambar ilustrasi ini:

Gambar 2: Relasi antara Perusahaan dengan masyarakat

2. Peran CSR dalam PembangunanWilayah

Dalam perencanaan pembangunan wilayah, peran sector public

dan swasta sangat menentukan, sector public diwakili oleh pemerintah,

lebih berperan memfasilitasi dan mempromosikan nilai tambah serta

melindungi kepentingan masyarakat dalam arti luas. Dijalankan

melalui pembuatan kebijakan, regulasi, pelayanan umum, dan

penyiapan infrastruktur. Sementara sector swasta atau pelaku usaha,

lebih berperan melalui aktivitas usaha yang menghasilkan barang dan

jasa. Dengan demikian, kegiatan bisnis korporasi secara langsung ata

tidak langsung, ikut berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi

wilayah. Melalui aktivitasnya, perusahaan menciptakan lapangan kerja,

menggerakkan ekonomi melalui mitra usaha yang terlibat dalam ikatan


44

rantai pasok, serta membayar pajak danretribusi bagi negara dan

pemerintah daerah smentara program CSR merupakan kontribusi

langsung korporasi untuk memberikan manfaat bagi masyarakat

sekiktar.

a. Pembangunan Nasional dan Pengembangan Wilayah

1) Pembangunan Nasional

Dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945

dinyatakan bahwa tujuan didirikannya Negara Kesatuan

Republik Indonesia (NKRI) adalah untuk melindungi segenap

bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan

untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan

kehidupan bangsa, dan ikut serta melaksanakan ketertiban

dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan

keadilan social. Peningkatan kesejahteraan umum, sebagai

salah satu tujuan negara, diterjemahkan dengan melakukan

pembangunan nasional.

Definisi pembangunan pada awalnya hanya

memandang dari sisi pertumbuhan ekonomi, selanjutnya

mengalami perkembangan ke arah pembangunan lebih

manusiawi. Sebagaimana dikemukakan World Development

Report (Todaro 2000), bahwa tantangan utama pembangunan

adalah memperbaiki kualitas kehidupan manusia.

Pembangunan sebagai proses, bertujuan untuk memenuhi atau

mencukupi (sustainance) kebutuhan pokok, meningkatkan


45

harga diri (self-esteem), dan mendapatkan kebebasan (freedom)

memilih. Pembangunan member ruang untuk memperluas

pilihan-pilihan bagi penduduk. Indikator yang mengukur

kemajuan pembangunan suatu wilayah di antaranya adalah

tingkat pendapatan dan distribusinya, penyeerapan tenaga

kerja, pendidikan, dan kemiskinan.

Menurut UU No. 25 Tahun 2004 tentang Perencanaan

Nasional, tujuan pembangunan nasional adalah a) Mendukung

koordinasi antar pelaku pembangunan sehingga tercipta

integrasi, sinkronisasi, dan sinergitas; b) Menjamin keterkaitan

dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran,

pelaksanaan, dan pengawasan; c) Mengoptimalkan partisipasi

masyarakat; serta d) Menjamin tercapainya penggunaan sumber

daya secara efisien, efektif, adil, dan berkelanjutan.

Perencanaan pembangunan dilaksanakan pada suatu

wilayah, daerah atau region yang pada umumnya diartikan

sebagai suatu ruang yang dianggap merupakan suatu kesatuan

perkembangan kehidupan fisik, social maupun ekonomi. Secara

administrasi, wilayah atau daerah adalah suatu ruang yang

dibatasi oleh batas administrasi tertentu seperti provinsi,

kabupaten, kota dan sebagainya. Secara fungsional menurut

UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, dinyatakan

bahwa wilayah bermakna kawasan, seperti kawasan lindung,

kawasan budi daya, pertanian, perumahan, dan lain-lain.


46

Dalam perspektif pembangunan suatu wilayah, Widodo

mendefinisikan pembangunan melalui dua pandangan yang

berbeda. Pandangan lama memahami pembangunan sebagai

berbagai upaya yang dilakukan untuk meningkatkan

pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) di tingkat

nasional atau Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di

tingkat daerah. Instrumen tersebut merupakan indicator yang

mencerminkan tingkat kemakmuran nasional atau daerah.

Pandangan lain mengguanakan indicator produksi dan

penyerapan tenaga kerja (employment). Dalam pandangan

tradisional ini, pembangunan dilakukan focus pad asebuah

sector ekonomi atau di sebuah lokasi yang dinilai strategis.

Diharapkan, hasilnya akan dapat dirasakan sector ekonomi lain

atau daerah lain yang berhubungan dengan titik tersebut, baik

secara langsung maupun tidak langsung. Namun demikian,

proses pembangunan atas pandangan tradisional masih

menyisakan berbagai permasalahan, seperti penngangguran,

kesenjangan pendapatan dan ketidakpastianperbaikan

pendapatan rill sebagian besar penduduknya.

Pembangunan dalam pengertian modern, dilihat sebagai

upaya yang tidak lagi menitikberatkan pada semata pencapaian

pertumbuhan PDB sebagai tujuan akhir, tetapi lebih kepada

upaya pengurangan tingkat kemiskinan, penanggulangan

ketimpangan kserta penyediaan lapangan kerja.


47

Definisi mengenai pembangunan dan pengembangan

wilayah menunjukkan bahwa pembangunan telah mengalami

pergeseran pandangan (pergeseran paradigma pembangunan).

Yang mana pada awalnya pembangunan hanya memandang

dari sisi pertumbuhan ekonomi, selanjutnya mengalami

perkembangan kea rah pembangunan yang manusiawi. Khusus

di negara-negara yang paling miskin, kualitas hidup yang lebih

baik mensyaratkan adanya pendapatan yang lebih tinggi,

sebagai salah satu dari sekian banyak syarat yang harus

dipenuhi. Banyak hal lain yang tidak kalah penting yang harus

diperjuangkan dalam pembangunan, mulai dari pendidikan

yang lebih baik, peningkatan standar kesehatan dan nutrisi,

pemberantasan kemiskinan, perbaikan kondisi lingkungan

hikdup, pemerataan kesempatan kerja, pemerataan kebebasan

individu, dan penyegaran kehidupan budaya.

Perencangan pembangunan dimulai dengan menetapkan

tujuan, berdasarkan pemetaan dan analisis kondisi awal, serta

menetapkan tahap-tahap pencapaian tujuan. Tentunya, dengan

memperhatikan factor pembatas yang ada, baik internal

maupun eksternal. Memperhatikan bahwa wilayah bersifat

multidimensial maka pendekatan sektoral diperlukan dalam

menyusun konsep perencanaan pembangunan. Adanya

keterkaitan antar sector jika satu sector mengalami perubahan

maka akan berpengaruh terhadap sector lainnya. Hal itu terjadi


48

karena adanya mekanisme multiplier pada setiap perubahan

yang terjadi di masyarakat.

2) Pengembangan Wilayah

Rustiadi et al. (2009) mendefinisikan wilayah sebagai

unit geografis dengan batas-batas tertentu yang saling terkait

dan memiliki hubungan fungsional satu dengan yang lain. Ada

tiga dimensi pengembangan wilayah, yaitu orientasi

kewilayahan, perspektif masa depan dan berpihak kepada

kepentingan public. Perencanaan pembangunan dilaksanakan

pada suatu wilayah, daerah atau region pada umumnya

diartiakan sebagai suatu ruang yang dianggap merupakan suatu

kesatuan perkembangan kehidupan fisik. Social maupun

ekonomi. Ruang merupakan satuan gegrafis beserta segenap

unsure terkait yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan

aspek administrative dan atau aspek fungsional. Secara

administrasi, wilayah atau adaerah adalah suatu ruang dengan

batas tertentu seperti wilayah provinsi, kabupaten, kota, dan

sebagainya. Secara fungsional wilayah bermakna kawasan,

yaitu seperti kawasan lindung, kawasan budi daya, kawasan

pertanian, kawasan industry, kawasan perumahan, dan lain-lain

(UU No. 26/2007)

Pengembangan wilayah adalah proses pembangunan

yang mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya secara


49

harmonis, serasi dan terpadu. Serta melalui pendekatan yang

komprehensif dan terintegrasi, mencakup aspek fisik, ekonomi,

social budaya, dan lingkungan hidup untuk mencapapi tujuan

pembangunan berkelanjutan. Untuk memperoleh hasil yang

optimal maka dalam pengembangan wilayah diperlukan

penataan ruang, yang elemennya terdiri dari perencanaan ruang

dan pengendalian pemanfaatan ruang. Pendekatan

pengembangan wilayah berkelanjutan harus memperhatikan

interaksi manusia dengan lingkungan geografis. Pengembangan

wilayah dilaksanakanmelalui aktivitas pembangunan wilayah.

Dengan focus pembangunan di sebuah kawasan.

Diharapkan,hasil proses pembangunan dapat dirasakansektor

ekonomi lain atau daerah lain yang berhubungan dengan

kawasan tersebut. Nachrowi dalam Alkadri et al. (2001)

menyatakan, minimal ada tiga komponen wilaya yang perlu

diperhatikan sebagaipilar pembangunan, yaitu sumber daya

alam, sumber daya manusia, dan teknologi. Salah satu pilar

yang cukup penting adalah sumber daya manusia (SDM)

karena keberadaannya dibutuhkan untuk menggerakkan seluruh

sumber daya wilayah yang ada. SDM mempunyaiperan ganda

sebagai objek maupun subjek pembangunan. Sebagai objek

merupakan sasaran pembangunan untuk kesejahteraan dan

sebagai subjek berperan sebagai pelaku pembangunan.

Keberhasilan pembangunan sangat ditentukan oleh pelakunya.


50

Konsep pembangunan sesungguhnya adalah pembangunan

manusia (human development), yaitu pembangunan yang

berorientasi kepada manusia (people centered development).

Pembangunan wilayah lebih memfokuskan pada pilar

pembangunan manusia dibandingkan dengan pembangunan

sumber daya yang lain dari suatu wilayah. Manusia berkualitas

sebagai pelaku pembangunan, akan menggerakkan dan

memanfaatkan sumber daya pembangunan lain scara optimal.

Pada akhirnya, akan terwujud kesejahteraan masyarakat dan

berlangsung proses pembangunan yang berkelanjutan. Untuk

daatmewujudkan hal tersebut di atas, perlu melibatkan

masyarakat dalam keseluruhan proses pembangunan, sejak dari

perencanaan, pelaksanaan, monitoring, pembangunan

berkelanjutan harus memenuhi kebutuhan generasi kini, tanpa

membahayakan kemampuan pemenuhankebutuhan generasi

mendatang.

b. CSR dan Kesejahteraan Masyarakat

Ada dua dimensi CSR, yaitu dari perspektif perusahan dan

dari perspektif masyarakat sekitar. Program CSR yang berhasil

akan menciptakan hubungan harmonis antara perusahaan dengan

masyarakat. Kebijakan melibatkan masyarakat sekitar dalam rantai

pasok, yaitu memposisikan masyarakat sebagai sumber tenaga

kerja dan mitra bisnis dapat meningkatkan ketahanan dan efisiensi

usaha. Adapun perusahaan yang menjalankan tanggung jawab


51

social terhadap masyarakat, akan diapresiasi positif oleh

konsumen, pemegang saham dan masyarakat umum. Output-nya

bukan hanya peraihan laba yang naik, namun nilai perusahaan juga

mengalami peningkatan.

Pemikiran tersebut berangkat dari berubahnya motive

didirikannya entitas bisnis, sejalan dengan cara pandang share

holder dan stakeholder. Pandangan lama yang menyatakan bahwa

tujuan suatu badan usaha semata untuk memperoleh laba (profit

oriented), kini mengalami pergeseran. Meningkatnya nilai saham

(share value) perusahaan dapat diterjemahkan sebagai

bertambahnya harta (equity) perusahan. Persepsi positif pelanggan,

mitra, dan stakeholder sangat menentukan nilai ekspektasi suatu

perusahaan. Dengan demikian, citra yang dibangun perusahaan

dapat dinilai sebagai keunggulan “intangible” dan berpotensi

bisamenaikkan harga saham. Reputasi menjalankan proses

produksi yang bertanggung jawab secara social, ekonomi, dan

lingkungan akan memengaruhi citra dan persepsi stakeholder

terhadap perusahaan tersebut.

Kesadaran masyarakat dan konsumen yang meningkat

terhadap masalah lingkungan, telah memengaruhi preferensinya

terhadap suatu produk atau jasa yang dihasilkan. Tuntutan

konsumen kini sudah mencakup hal-hal lebih luas dari sekadar

kualitas produk dan harga jual (beyong qeuality and price).

Sebagai contoh, perlakuan perusahaan terhadap komunitas sekitar,


52

kini menjadi perhatian konsumen. Perusahaan yang

memperhatikan komunitas (people, social, environment),

diasosiasikan sebagai perusahaan yang memiliki komitmen tinggi

terhadap lingkungan sekitar. Demikian juga, komitmen perusahaan

terhadap pelestarian alam, (planet, physical environment), kini

menjadi isu yang disorot pemerhati lingkungan internasional.

Perusahaan yang mengabaikan aspek

konservasilingkungan, bisa jadi akan dicitrakan negative oleh

masyarakat umum. Implikasinya, bisa berwujud pemboikotan

terhadap roduk perusahaan tersebut. Hal itu dicontohkan dengan

kasus salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit Indonesia,

yang diboikot oleh pembeli utamanya di luar negeri karena dinilai

kurang bertanggung jawab mengelola pelestarian lingkungan.

Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM/Non-Governmental

Organization/NGO) Eropa dan Amerika seperti Greenpeace, telah

menekan prosesor minyak kelapa sawit untuk tidak

menggunakanminyak sawit (Crode Palm Oil/CPO), dari

perusahaan yang dianggap abai terhadap komitmen lingkungan.

Tekanan consume Eropa demikian kuat sehingga bagi perusahaan

tersebut lebih aman mengikuti anjuran NGO daripada produknya

diboikot konsumen.

Kesadaran baha tujuan didirikannya suatu entitas bisnis

adalah bukan semata-mata untuk mencari keuntunan. Dunia usaha

juga dituntut perannya untuk ikut meningkatkan value creation


53

yang dijabarkan menjadi konsep Triple Bottom Line, sebagaimana

yang digagas oleh John Elkington (1997). Yaitu, komitmen untuk

memberikan mafaat social ekonomi bagi masyarakat sekitar, serta

ikut bertanggung jawab dalam aksi konservasi lingkungan,

sebagaimana dikenal dalam konsep “Triple P” yang terdiri atas tiga

elemen yaitu dari profit, people, and planet.

Peran perusahaan dalam program tanggung jawab social

danlingkungan, dilihat dari kepentingan masyarakat yang disasar

adalah sebagai pemberi bantuan, berupa kredit lunak, hibah dan

pembangunan infrastruktur. Manfaat program secara langsung dan

tidak langsung adalah dalam rangka ikut membantu masyarakat

untuk menyelesaikan permasalahan mereka di bidang social,

ekonomi dan budaya.

Pelaksanaan program CSR yang berhasil, dampaknya akan

ikut mengangkat kesejahteraan mereka. Sekaligus berkontribusi

memberdayakan masyarakat membangun kemandirian. Dengan

membantu masyarakat sekitar melalui program CSR maka pada

dasarnya perusahaan telah ikut berkontribusi memperkuat

pengembangan dan pembangunan wilayah atau kawasan.

Demikian juga, melalui kebijakan perusahaan yang membangun

kemitraan usaha dengan masyarakat sekitar juga menjadi

instrument yang membantu atau menciptakan efek pengganda bagi

pertumbuhan wilayah dan meningkatnya kesejahteraan masyarakat

yang berada di sekitar kawasan usaha.


54

Peran CSR dalam pengembangan wilayah dapat dilihat

pada ilustrasi berikut.

Gambar 3: Peran CSR dalam pengembangan wilayah

Sumber:

3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Implementasi CSR

a. Kesadaran Etis Pebisnis


55

Kesadaran etis untuk berbisnis secara adil, merupakan cikal

bakal tumbuhnya rasa tanggung jawab social perusahaan kepada

masyarakat dalam bentuknyayang paling sederhana, yaitu

memberikan sumbangsih kepada masyarakat sekitar. Sikap

karikatif yang mendonasikan sebagian kelimpahan harta kepada

orang lain, juga didorong oleh nilai-nilai spiritualitas yang

menajarkan perilaku bermanfaat untuk sesame. Konsep pemberian

zakat, amal jariyah, keinginan berderma, dilandasi olehnilai-nilai

etis dandorongan yang bersifat transcendant (ilahiyah).

Pebisnis menyadari bahwaperusahaan dan masyarakat

merupakanbagiandari komuitas. Dalam perspektif ruang

kewilayahan, merupakan satu kesatuan yang akan saling

terpengaruh satu sama lain. Eksistensi entitas bisnis di suatu

kawasan, sudah semestinya bias membangun harmonisasi

hubungan antar subkultur social serta keseimbangan social,

ekonomi, dan lingkungan. Kontribusi perusahaan melalui aktivitas

social, ekonomi, dan pelestarian lingkungan akan membantu

menjaga dinamika hubungan yang telah terbentuk, di antara

anggota masyaraakt dalam satu kawasan.

Motivasi untuk menjaga kelangsungan bisnis, merupakan

salah satu alas an korporasi menjalankan program CSR. Pebisnis

menyadari, bahwa mendapatkan laba pada hariini, tidak boleh

mengabaikan kelangsungan hidup dan kepentingan generasi masa

yang akan dating. Diperlukan tanggung jawab social perusahaan


56

untuk memeilihara aspek social, ekonomi, dan lingkungan yang

menjamin terciptanya iklim yang mendukung keberlangsungan

bisnis. Lingkungan yang sejatera secara social ekonomi, akan

menciptakan atmosfer yang kondusif bagi keamanan dan

kelangsungan bisnis dalam perspektif kewilayahan. Sebaliknya,

adanya kesenjangan social ekonomi, akanenciptakan kecemburuan

yang bias meningkat menjadi keresahan, bahkan juga berpotensi

bias menimbulkan gangguan kriminalitas, yang dampaknya dapat

menimbulkan ketidaknyamanan iklim berusaha. Akan terjadi

distabilitas atau kesenjangan yang dapat memengaruhi

kondusivitas social ekonomi dalam satu kawasan.

Membangun hubungan yang kuat dan saling bergantung

(nterdependent), antar subkultur, bias menjadi sumber motivasi

perusahaan melibatkan masyarakat sekitar, sebagai mitra bisnis

dalam system rantai pasok akan menciptakan hubungan saling

menguntungkan. Dampaknya, masyarakat sekitar akan ikut

mendukung terciptanya iklim berusaha yang kondusif, agar

kepentingannya sebagai mata rantai bisnis juga terpelihara.

Hubungan ini menjadi modalitas social untuk menjadi peredam

jika sewaktu-waktu terjadi konflik antara perusahaan dengan

masyarakat sekitar.

Interaksi social yang intens dan harmonis dengan

masyarakat, akanmenjamin terciptanya kenyamanan hubungan

social bagi karyawan perusahaan, terutama yang berasal dan atau


57

berdomisili bersama masyarakat sekitar. Karyawan perusahaan

akan merasa nyaman berinteraksi dengan masyarakat sekitar yang

kepentingan social ekonominya terakomodasi. Intensitas hubungan

bias berkembang menjadi ikatan persaudaraan atau ikatan

perkawinan. Hal ini akan semakin memperkuat hubungan

kekerabatan antara akryawan dengan masyarakat. Dampak

positifnya, retensi karyawan akanterjaga apabila setiap orang

merasa nyaman berkarya di suatu lingkungan kerja yang kondusif.

Dari perspektif legitimasi social, perlu dibangun hubungan

yang harmonis dengan masyarakat sekitar. Pengalaman CSR bias

menjadi instrument untuk mempeoleh legitimasi social. Ada

pengakuan dari masyarakat bahwa keberadaan perusahaan,

merupakansebuah keniscayaan serta memberikanmanfaat bagi satu

kesatuan bersama masyarakat. Tidak ada kekhawatiran perusahaan

untuk menjalankan usaha. Masyasrakat memberikan dukungan

social terhadap kelangsungan masa depan perusahaan.

Perusahaan yang mampu menjaga hubungan harmonis, dan

tiadanya konflik dengan masyarakat sekitar akanmeningkatkan

citra perusahaan dan bias mengangkat nilai perusahaan di mata

investor dan calon investor. Momentum menjaga hubungan social

yang kondusif penting, terutama bagi perusahaan yang sudah go

public (mencatatkan sahamnya di bursa saham)yang bias

terkapitalisasi menjadi intangible asset. Apresiasi investor

diwujudkan dalam bentuk penilaian yang tinggi saham perusahaan


58

di atas nilai pari-nya, serta menimbulkan rasa bangga, ikut

memiliki saham perusahaan yang reputasinya terhormat,

khususnya dari aspek tanggung jawab social dan lingkungan.

Kapasitas perusahaan yang mampu menjaga hubungan

harmonis dengan masyarakat sekitar juga menjadi instrument

branding dan positioning terhadap competitor. Sebagai bagian dari

diferensiasi nilai-nilai danpenghormatan terhadap etika dan

moralitas. Investor dan customer merasa nyaman dengan praktik

perusahaan yang menjalankan tanggung jawab social.

Keterpanggilan pebisnis untuk mempertemukan ekspektasi

masyarakat, juga merupakan salah satu motivasi CSR. Pebisnis

sadar bahwa kekecewaan dan ketidakpercayaan masyarakat

terhadap perusahaan, berpotensi memengaruhi proses,

performance, dan bahkan kelangsungan hidup suatu entitas bisnis.

b. Tuntutan Masyarakat Sekitar

Meningkatnya pendidikan dan pengetahuan masyarakat,

mendorong kesadaran mereka tentang hak dan kewajiban sebagai

warga Negara, termasuk tuntutan tanggung jawab pelaku bisnis

kepada masyarakat. Tuntutan jaminan keberlanjutan pelestarian

lingkungan hidup juga menyadarkan masyarakat bahwa potensi

pencemaran yang disebabkan oleh aktivitas industry akan

berdampak langsung kepada masyarakat tanpa terkecuali, apakah

sebagai pekerja industry atau masyarakat biasa. Adanya potensi

risiko yang akan mereka hadapi, mendorong munculnya tuntutan


59

kepada perusahaan untujk memberikan kompensasi yang seimbang

kepada masyarakat sekitar.

Kehadiran industry dan masuknya penduduk dari luar

wilayah dapat dipastikan akan diikuti perubahaan struktur dan

tatanan social. Akanada pergeseran pola bisnis danmunculnya

pesaing baru dalam kehidupan social ekonomi masyarakat.

Kekkhawatiran tersebut akanmendorong masyarakat menjadi

semakin kritis menyuarakan aspirasinya. Terutama tatkala ada

perilaku perusahaan yang berpotensi bersinggungan atau

merugikan kepentingannya. Masyarakat juga mudah bereaksi

tatkala menemukan kebijakanperusahaan yang menginggung rasa

keadilan mereka. Pendektatan tanggung jawab social menjadi

pilihan perusahaan untuk meredam potensi ketidakpuasan yang

bias meningkat eskalasinya menjadi konflik terbuka. Melalui

aktivitas CSR diharapakan sebagian aspirasi masyarakat

terakomodasi serta mendekatkan interaksi perusahaan dengan

masyarakat.

Dalam persepektif teori stakeholder, masyarakat

merupakan salah satu pemangku kepentingan yang hak-haknya

harus dihormati. Keberadaan masyarakat sekitar, umumnya telah

ada sebelum industry dibangun, sehingga sudah selayaknya mereka

diposisikan sebagai pemangku kepentingan utama yang harus

diperhatikan ekspektasinya. Program CSR dapat didedikasikan

untuk mengangkat sumber daya (resource) local dalam


60

menjalankan kegiatan usahanya. Lahan, sumber air dan

infrastruktur logistic, bersinggungan dengan kepentingan

masyarakat. Pada sisi lain, bias jadi perusahaan membuat kebijakan

yang membatasi akses masyarakat terhadap infrastruktur jalan,

jembatan dan sumber air irigasi atau air minum. Pembatasan

tersebut jika tidak disosialisasikan dan dinegosiasikan dengan baik,

berpotensi menjadi sumber konflik denganmasyarakat. Untuk itu,

wajarlah perusahaan memberikan kompensasi kepada masyarakat

melalui pelaksanaan program tanggung jawa social dan

lingkungan.

Tuntutan kepada perusahaan juga didasari oleh

pengetahuan masyarakat bahwa ada produk hokum terkait CSR

yaitu UU BUMN (UU No. 19/2003) da II {erserpam Terbatas (UU

No. 40/2007). Adanya instrument regulasi menjadi pendorong

masyarakat untuk menuntut perusahaan memberikan proram

CSRkepada emreka. Factor pendorong lainnya adalah advokasi

didukung leh kalangan LSM yang membangun kesadaran hak-hak

warga masyarakat. Tuntutan masyrakat juga bias berkembang

bukan hanya mengharapkan bantuan program CSR namun juga

keinginan untuk diperhatikan dalam prioritas rekrutmen pekerja

atau diikutsertakan sebagai mitra dalam proses bisnis. Dalam

menyuarakan aspirasinya, masyarakat bias menyalurkannya secara

langsung, tokoh masyarakat, lembaga swadaya masyarakat atau

melalui pemerintah daerah.


61

c. Peran Pemerintah

Pemerinah bersama parlemen adalah regulator kebijakan

public yang mengatur antara lain tentang hak-hak dan kewajiban

warga Negara, termasuk tanggung jawab social perusahaan.

Kebijakan turunan juga menjadi domain pemerintah untuk

mengatur tata laksana CSR mulai dari perencanaan, pelaksanaan

dan evaluasinya. Dengan kewenagnan yang dimiliki, pemerintah

bias memaksa agar ketentuan tentang CSR dijalankan dengan

konsisten.

Pemerintah daerah (Pemda) juga memiliki otoritas untuk

mengkoordinasi pelaksanaan program CSR agar selaras dengan

keijakan pemerintah. Pemda memiliki aparat birokrasi yang bias

mengawasi dan menjalankan pelaksanaan kebijakan public. Peran

koordinasi bisa dijalankan dengan menerapkan ketentuan yang

mewajibkan masyarakat dan perusahaan mengonsultasikan

pelaksanaan program CSR dengan Pemda. Rekomendasi pejaba

pemerintah menjadi mandatory sebelum CSR dilaksanakan. Salah

satu sasaran koordinasi adalah agar antara kebijakan pembangunan

pemerintah dengan praktik CSR tidak overlapping atau bahkan

saling berlawanan.

Pemerintah juga bisa berperan sebagai mediator antara

perusahaan dengan masyarakat dalam penyelesaian tuntutan dan

konflik di antara keduanya. Penndekatan CSR yang diinisiasi


62

pemerintah merpakan bagian dari solusi penyelesaian masalah.

Pemerintah bisa berinisiatif meminta bantuan perusahaan untuk

mendukunng kegiatan social budaya, yang pendanaannya tidak

sepenuhnya terpenuhi dari anggaran pemerintah. Perusahaan

memperoleh manfaat, misalnya dengan menempatkan logo

perusahaan sebagai sponsor. adamekanisme advertensi dan

pencitraan dengan mendudkung event yang digagas Pemda. Hal

yang sama aanberlaku apabila inisiatif kegiatan adalah masyarakat

sekitar. Pemerintah bisasebagai inisiator atau pendukung utama

pengembangan gagasan yang melibatkan pihak swasta dalam

penyediaanlayanan social, seperti pengobatan gratis, pelayanan

masyarakat kelompok disabilitas, danbantuan kepada kelompok

marjinal lainnya.

Pemerintah melalui fasilitas balai latihan kerja dan satuan

kerja perangkat daerah (SKPD), dapat menyelenggarakan pelatihan

bagi masyarakat dari perusahaan tentang tata laksana program

CSR. Meliputi metodologi pemilihan isu yang relevan,

perencanaan dan pelaksanaan CSR. Pelatihan tentang manajemen

proyek dapat diberikan kepada masyarakat agar mampu

mengorganisasi pelaksanaan CSR. Pengetahuan tentang

identifikasi permasalahan dan evaluasi pasca program untujk

menganalisis manfaat pelaksaan CSR bagi masyarakt. Tujuannya

adalah membantu masyarakat menyelenggarakan program CSR

secara mandiri.
63

d. Tuntutan Konsumen dan Investor

Kecenderungan konsumen memilih suatu produk ata jasa

dipengaruhi oleh banyak hal. Salah satunya adalah tingkat daya

beli masyarakat. Lapisan menengah ke bawah pada umumnya

menjadikan aspek harga sebagai dasar utama pertimbangan.

Sementara kalangan menengah ke atas, mut, dan citra produk

menjadi dasar pilihan. Bagi kalangan tertentu, perspektif dan

ekspektasi suatu produk serta standar etik produsen merupakan

pertimbangan utama. Aspirasi konsumen cukup kuat membangun

opini terhadap produk, proses dan produsennya. Suara konsumen

harus didengar produsen agar mereka tidak berpindah ke produk

lain. Membangun hubungan dengan konsumen melalui

pembentukan citra produk dan proses produksi, akan membuahkan

terbentuknya struktur pasar yang captive market. Konsumen

memiliki kekuatan memengaruhi produsen mematuhi etika bisnis

dalam proses produksi, distribusi, dan proses bisnis.

Dalam operasional perusahaan, Ada kecenderungan, bahwa

sebagai wujud komitmen tanggung jawab social dan lingkungan

maka laporan keuangan (annual report) saat ini tidak hanya

memuat laporan kinerja operasional dan keungan. Perusahaan yang

menerapkan etika bisnis melampaui (beyond) ekspektasi

konsumen, akan meningkat positioning-nya di mata pelanggan.

Laporan pelaksanaan CSR dan program pelestarian lingkungan

menjadi isu penting sebagai bagian dari akuntabilitas kepada


64

pemangku kepentingan dan shareholder. Sebagai contoh, The

Body Shop, produsen kosmetik, telah mampu membangun image

dan dikenal sebagai perusahaan yang sangat concern dan memiliki

komitmen tinggi dengan kelestarian lingkungan. Perusahaan

tersebut memiliki konsep produk ramah lingkungan dan tradisi

yang konsisten menggunakan hewan sebagai objek percobaan.

Dampaknya, The Body Shop memperoleh kehormatan tinggi

sebagai perusahaan yang bertanggung jawab terhadap kelestarian

alam. Biaya yang telah dikeluarkan untuk menerapkan proses

produksi ramah lingkungan telah terkompensasi dengan kesediaan

konsumen membeli produk lebih dari pesaing. Fakta tersebut

menunjukkan bahwa citra perusahaan dapat dibangun melalui

pelaksanaan tanggung jawab social dan lingkungan. Perusahaan

lain yang membangun icon lingkungan di antaranya adalah Shell,

British Petrolium, Cevron, dan Starbucks.

Seperti halnya perusahaan Starbucks Coffee pada konteks

penelitian ini, mengagendakan program CSR secara berkelanjutan

untuk membangun icon lingkungan yang menyasar khusus pada

entitas petani kopi untuk meningkatkan kualitas bertani kopi, yang

juga menghasilkan biji kopi berkualitas premium. Upaya Starbucks

Coffee dalam program CSR tersebut tentu menuai penilaian

positive sekaligus positioning tersendiri, baik terhadap konsumen,

maupun terhadap masyarakat secara umum.


65

BAB III

GAMBARAN UMUM

A. Kopi di Indonesia

1. Arti Penting Kopi di Indonesia

Indonesia adalah salah satu penghasil kopi terbesar di dunia..

Dalam skala tahunan, merujuk pada data dari FAO (Food and

Agricultural Organization) tahun 2017, Indonesia merupakan Negara

penghasil kopi terbesar keempat dunia setelah Brazil, Vietnam, dan

Kolombia [ CITATION Pan19 \l 1033 ] . Brazil sebagai penghasil kopi

terbesar dunia mampu meproduksi-kopi sebanyak 2,6 juta ton, disusul

Vietnam dengan jumlah produksi sebanyak 1,5 ton, Kolombia dengan

754.376 ton, dan Indonesia berada di peringkat keempat dengan

jumlah produksi sebesar 668.677 ton. Bergeser ke belakang, pada

tahun 2012, produksi kopi Indonesia mencapai 8,8% dari total

produksi dunia atau menempatkan Indonesia sebagai produsen kopi

terbesar ketiga secara global setelah Brazil dan Kolombia. Adapun,

Luas areal tanaman kopi di Indonesia pada tahun 2013 adalah terbesar

ketiga setelah sawit dan karet. Adanya Keputusan Menteri Pertanian

nomor 3399/Kpts/PD.310/10/2009 yang berisi penentuan kopi bersama

14 komoditas lainnya sebagai komoditi strategis yang menjadi

unggulan nasional yang diprioritaskan untuk difasilitasi dan

dikembangkan. Hal ini menjadi indikator kuat yang menjelaskan

bahwa komoditas kopi merupakan salah satu subsector yang memberi


66

urgensi serta kontribusi besar untuk efektifitas perekonomian nasional

di Indonesia.

Dengan demikian posisi Indonesia pada urutan 4 teratas

sebagai Negara produsen kopi terbesar, dapat dijadikan sebagai satu

tolak ukur bahwa komoditas perkebunan kopi di Indonesia terbilang

penting untuk pembangunan perekonomian nasional. Adapun

kontribusi komoditas kopi terhadap ekonomi nasional, antara lain:

sebagai sumber devisa Negara, pendapatan petani, pembangunan

wilayah, pendorong agribisnis dan agroindustry, pendukung konservasi

lingkungan [ CITATION Bed13 \l 1033 ] , dan penyedia lapangan kerja

melalui kegiatan pengolahan, pemasaran, dan perdagangan (ekspor

impor) [ CITATION Pol17 \l 1033 ].

Sebagai komoditas ekspor unggulan, kopi menjadi salah satu

hasil perkebunan yang diperdagangkan secara luas di pasar dunia. Data

Ekspor kopi Indonesia sampai dengan tahun 2018 volumenya tercatat

sebanyak 279,96 ribu ton yang senilai dengan US$ 815,93 [ CITATION

Bad19 \l 1033 ]. Dalam hal penciptaan lapangan kerja, komoditas kopi

memberikan lapangan kerja kepada 1.88 Juta KK dengan luas

kepemilikan rata-rata 0.6 hektar[CITATION Bed13 \p 100 \l 1033 ].

Sebagai Negara tropis, Indonesia mempunyai potensi untuk

mengembangkan industry pengolahan kopi dengan produk yang

memiliki citarasa khas. Industry kopi di Indonesia dinilai penting juga

karena termasuk sebagai salah satu industry prioritas sebagaimana


67

ditetapkan pada Perpres no. 28 Tahun 2008 tentang Kebijakan Industri

Nasional dan Roadmap Pengembangan Klaster Industri Pengolahan

Kopi yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri Perindustrian

No.115/M-IND/PER/10/2009. Adanya Perpres No. 28 Tahun 2008 ini

dapat dinilai sebagai titik awal Indonesia yang mengantarkan

Indoenesia mampu berdaya saing dan memperoleh predikat sebagai

salah satu Negara produsen kopi terbesar di dunia saat ini.

a. Sejarah Perkopian Di Indonesia

Data dan infomrasi mengenai Sejarah Kopi di Indonesia

berikut merupakan rujukan dari salah satu Asosiasi Kopi di

Indonesia bernama AEKI (Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi

Indonesia).

Sejarah awal kopi pertama kali masuk ke Indonesia tahun

1696, yaitu dari jenis Kopi Arabika. Kopi ini masuk melalui

Batavia (yang saat ini adalah Jakarta) yang dibawa oleh Komandan

Pasukan Belanda Adrian Van Ommen dari Malabar – India, yang

kemudian ditanam dan dikembangkan di tempat yang sekarang

dikenal dengan Pondok Kopi – Jakarta Timur, dengan

menggunakan tanah partikelir Kedaung. Sayangnya tanaman ini

kemudian mati semua oleh banjir, maka tahun 1699 didatangkan

lagi bibit-bibit baru, yang kemudian berkembang di sekitar Jakarta

dan Jawa Barat antara lain di Priangan, dan akhirnya menyebar ke

berbagai bagian di kepulauan Indonesia seperti Sumatera, Bali,

Sulawesi dan Timor [CITATION AEK \l 1033 ].


68

Kopi kemudian menjadi komoditas dagang yang sangat

diandalkan oleh VOC. Tahun 1706 Kopi Jawa diteliti oleh Belanda

di Amsterdam, yang kemudian tahun 1714 hasil penelitian tersebut

oleh Belanda diperkenalkan dan ditanam di Jardin des Plantes oleh

Raja Louis XIV.

Ekspor kopi Indonesia pertama kali dilakukan pada tahun

1711 oleh VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie: sebuah

organisasi persekutuan dagang asal Belanda yang memiliki

monopoli atas aktivitas perdagangan di Asia pada era kolonialisme

Hindia Belanda), dan dalam kurun waktu 10 tahun meningkat

sampai 60 ton/tahun. Hindia Belanda saat itu menjadi perkebunan

kopi pertama di luar Arab dan Ethiopia, yang menjadikan VOC

memonopoli perdagangan kopi ini dari tahun 1725 – 1780. Kopi

Jawa saat itu sangat terkenal di Eropa, sehingga orang-orang Eropa

menyebutnya dengan “secangkir Jawa”. Sampai pertengahan abad

ke 19 kopi Jawa menjadi kopi terbaik di dunia. Produksi kopi di

Jawa mengalami peningkatan yang cukup signifikan, tahun 1830 –

1834 produksi kopi Arabika mencapai 94.400 ton. Selama 1 ¾

(Satu – tiga perempat) abad kopi Arabika merupakan satu-satunya

jenis kopi komersial yang ditanam di Indonesia. Tapi kemudian

perkembangan budidaya kopi Arabika di Indonesia mengalami

kemunduran hebat, dikarenakan serangan penyakit karat daun

(Hemileia vastatrix), yang masuk ke Indonesia sejak tahun 1876.

Akibatnya kopi Arabika yang hanya dapat bertahan hidup pada


69

ketinggian 1000 m ke atas dari permukaan laut, dimana serangan

penyakit ini tidak begitu hebat. Sisa-sisa tanaman kopi Arabika ini

masih dijumpai di dataran tinggi ijen (Jawa Timur), Tana Tinggi

Toraja (Sulawesi Selatan), lereng bagian atas Bukit Barisan

(Sumatera) seperti Mandailing, Lintong dan Sidikalang di

Sumatera Utara dan dataran tinggi Gayo di Nangroe Aceh

Darussalam.

Untuk mengatasi serangan hama karat daun kemudian

Pemerintah Belanda mendatangkan Kopi Liberika (Coffee

Liberica) ke Indonesia pada tahun 1875. Namun ternyata jenis ini

juga mudah diserang penyakit karat daun dan kurang bisa diterima

di pasar karena rasanya yang terlalu asam. Sisa tanaman Liberica

saat ini masih dapat dijumpai di daerah Jambi, Jawa Tengah dan

Kalimantan.

Usaha selanjutnya dari Pemerintah Belanda adalah dengan

mendatangkan kopi jenis Robusta (Coffea Canephora) tahun 1900,

yang ternyata tahan terhadap penyakit karat daun dan memerlukan

syarat tumbuh serta pemeliharaan yang ringan, sedangkan

produksinya jauh lebih tinggi. Maka kopi Robusta menjadi cepat

berkembang menggantikan jenis Arabika khususnya di daerah-

daerah dengan ketinggian di bawah 1000 mdpl dan mulai

menyebar ke seluruh daerah baik di Jawa, Sumatera maupun ke

Indonesia bagian timur.


70

Semenjak Pemerintah Hindia Belanda meninggalkan

Indonesia, perkebunan rakyat dan swasta terus tumbuh dan

berkembang, serta memperoleh pencapaian yang fluktuatif yang

cenderung lebih banyak mengalami peningkatan progresif.

Berikut Data Luas Areal dan produksi kopi Indonesia pada

rentang tahun 1959 – 1968 :

Tahun Luas (Ha) Produksi (Ton)


Perkebunan Rakyat Jumlah Perkebunan Rakyat Jumlah
1959 47.291 208.877 256.168 18.998 65.281 84.279
1962 45.126 242.475 287.601 12.559 99.121 111.680
1965 40.356 259.694 300.050 19.752 91.457 111.209
1968 38.259 328.378 366.637 13.824 143.341 157.165

b. Perkembangan Luas Areal Produksi dan Konsumsi Kopi di

Indonesia

Berdasarkan data yang didapatkan dari Jurnal SIRINOV

Vol 1 No.3, sejarah penyebaran Kopi di Indonesia dimulai pada

tahun 1700-an. Dibawa oleh sebuah patungan India dan Belanda

yang berada di Srinlanka. Percobaan penanamannya dilakukan oleh

seorang berkebangsaan belanda pada berbagai lokasi di Indonesia

(jawa, Sumatera, Sulawesi dan Timor). Tanaman yang dicoba

ternyata dapat tumbuh dengan baik sehingga Belanda

menjadikannya sebagai salah satu tanaman wajib yang harus

ditanam oleh seluruh petani melalui tanam paksa di berbagai

wilayah di Pulau Jawa. Daerah Bogor. Sukabumi. Banten dan

Priangan Timur merupakan daerah-daerah yang terkena ketentuan

tanam paksa tersebut. Keberhasilan menanam kopi di Pulau Jawa


71

menyebabkan tanaman ini makin menyebar ke daerah lainnya di

Indonesia seperti Sumatera, Sulawesi dan Bali [ CITATION Bed13 \l

1033 ].

Selama hampir dua abad lamanya, kopi Arabika menjadi

satu-satunya jenis kopi komersial yang ditanam di Indonesia. Akan

tetapi budidaya kopi arabika ini mengalami kemunduruan besar

akibat serangan penyakit karat daun (Hemileia Vastatrix) yang

masuk ke Indonesia pada tahun 1876. Oleh karena itu, saat itu kopi

arabika hanya dapat bertahan pada daerah-daerah tinggi

(ketinggian 1000 meter di atas permukaan laut). Sampai kemudian

dimasukkannya kembali kopi arabika varietas abessinia yang lebih

resisten dan dapat ditanam sampai pada ketinggian 700 meter di

atas permukaan laut [ CITATION Bed13 \l 1033 ].

Saat ini, tanaman kopi sudah menyebar hamper ke seluruh

wilayah di Indonesia dan mampu memproduksi kopi sebanyak

674.636 ton (lihat gambar 3 dan 4)


72

Gambar 4 [ CITATION Fai19 \l 1033 ])

(Sumber: dari situs Baca )


73

Gambar 5: Statistik Produksi Kopi di Indonesia periode 2018

(Sumber: Statistik Perkebunan Indonesia 2018)

Tiga daerah penghasil Utama kopi di Indonesia adalah

Sumatera Selatan (22%), Lampung (21%) dan Bengkulu (9%).

Sedangkan kabupaten utama penghasil kopi di masing-masing

provinsi adalah Kabupaten Pagar Alam (Sumatera Selatan);

Lampung Barat. Lampung Utara dan Tanggamus *Lampung);

Kepahiang, Curup, Rejang Lebong (Bengkulu). Daerah penghasil

utama kopi di provinsi lainnya adalah Jember. Banyuwangi,


74

Situbondo, Bondowoso dan Malang (Jawa Timur); Tapanuli,

Pematang Siantar, Samosir dan Sidikalang (Sumatera Utara); Aceh

dan Bener Meriah (NAD); Tana Toraja, Polmas dan Enrekang

(Sulawesi Selatan); Agam, Padang Pariaman, Tanah Datar, Solok,

dan Pasaman (Sumatera Barat)[CITATION Bed13 \p 101 \l 1033 ].

Adapun konsumsi kopi masyarakat Indonesia, berdasarkan

data dari International Coffee Organization (ICO), bahwa pada

perode 2000-2016, Indonesia terus mengalami tren kenaikan, yang

mana pada tahun 2000, konsumsi kopi masyarakat Indonesia baru

mencapai 1,68 juga bags/karung (1 karung setara 60kg), namun

pada 2016 telah mencapai 4,6 juta bags atau melonjak lebih dari

174 persen. Kenaikan itu mulai mengalami pertumbuhan sejak

2011 [CITATION Dat \l 1033 ].

2. Nilai Strategis Sumatera Utara sebagai Salah Satu Penghasil

Komoditi Terbaik bagi Indonesia

Nilai strategis Sumatera Utara sebagai salah satu penghasil

komoditi Kopi terbaik bagi Indonesia, dapat ditinjau dalam tiga aspek,

yang pertama aspek potensi agronomis yang kemudian diistilahkan

dengan kawasan agropolitan, lalu aspek indikasi geografis yang

diperoleh Sumatera Utara, dan pada aspek kegiatan ekspor kopi di

Sumatera Utara yang berkontribusi pada devisa negara.

a. Potensi Agronomi (Kawasan Agropolitan)


75

Pengembangan kawasan Agropolitan merupakan Alternatif

solusi terhadap permasalahan yang terjadi dalam suatu wilayah

(perdesaan). Secara secara harfiah, agropolitan didasarkan pada

kata agropolis. Agropolis berarti kota kecil danmenengah di sekitar

pedesaan (micro urban village) yang tumbuh dan berkembang

dalam suatu system yang komprehensif dari aktivitas agribisnis

untuk mendorong kegiatan pertanian di wilayah sekitarnya.

Agropolitan secara umum, diartikan sebagai system terpadu pada

wilayah terpadu pada wilayah produksi pertanian tertentu yang

terdiri dari pusat-pusat produksi yang dilengkapi oleh fasilitas semi

urban (irigasi, jalan-jalan desa, subterminal agribisnis, bank mikro,

air bersih, dll. Pada konsep pengembangan agropolitan yang

terdapat dalam Master Plan pengembangan Kawasan Agropolitan

yang disampaikan oleh Menteri Permukiman dan Prasarana

Wilayah adalah denganmenetapkan pusat agropolitan, menetapkan

unit unit kawasan, menentukan komoditas unggulan, dukungan

infrastruktur dandukungankelembagaan. Penentuan komoditas

unggulan mempunyai beberapa syarat yaitu: komoditas unggulan

merupakan komoditas unggulan yang juga didukung oleh sector

hilirnya, merupakan kegiatan agribisnis yang banyak melibatkan

pelaku dan masyarakat paling besar (kearifan local), dan

mempunyai skala ekonomi yang memungkinkan untuk skala besar

[ CITATION Sim13 \l 1033 ].


76

Sumatera Utara merupakan salah satu provinsi yang

termasuk ke dalam daerah kawasan potensi agronomi yang sangat

diperhitungkan bagi Indonesia khususnya dalam bidang

perkebunan dan produksi kopi. Yang mana potensi agronomis ini

dapat dijadikan sebagai salah satu jalan untuk membangun

perekonomian di Indonesia, baik sebagai orientasi penggerak

perekonomian daerah hingga pada kontribusi nasional yakni

mencakup kegiatan mengekspor kopi yang akan bermuara pada

devisa dan pendapatan Negara. potensi Agronomi tersebut telah

diejawantahkan pada beberapa tahun lalu dalam bentuk penetapan

konsep Kawasan Agropolitan untuk Sumatera Utara yang telah

disepakati oleh lima bupati (yang masing-masing mewakili

Kabupaten Karo, Tapanuli Utara, Simalungun dan Kabupaten Toba

Samosir) yang awalnya merupakan hasil kesepakatan bernama

Kesepakatan Berastagi, ditandatangani sejak tanggal 28 September

2002 [ CITATION Sit13 \l 1033 ] . Konsep pembangunan ini diayomi

dengan program bernama Program Pengembangan Kawasan

Agropolitan Dataran Tinggi Bukit Barisan Sumatera Utara

(KADTBB-SU)/ Program KADTBB-SU. Terjadinya pemekaran

wilayah sampai pada tahun 2003, maka KADTBB-SU bertambah

menjadi 8 kabupaten hingga saat ini, meliputi Kabupaten Karo,

Kabupaten Toba Samosir (TOBASA), Kabupaten Tapanuli Utara,

Kabupaten Simalungun, Kabupaten Dairi, Kabupaten Pak Bharat,

Kabupaten Humbang Hasundutan (HUMBAHAS), dan Kabupaten


77

Samosir yang mana ke delapan daerah tersebut masing-masing

memiliki komoditas unggulan. [ CITATION Pus05 \l 1033 ].

b. Indikasi Geografis

Sumatera Utara merupakan provinsi yang dikenal memiliki

Keberagaman citarasa kopi. Penanaman kopi di Provinsi ini

menyebar di 15 kabupaten (untuk jenis kopi robusta) dan 12

kabupaten (dari jenis kopi Arabika) dengan total lahan seluar

90.343,65 hektare. Dari luas tersebut, 6 daerah memiliki Sertifikasi

Indikasi Geografis (SIG) [CITATION Sum19 \l 1033 ]. Indikasi

Geografis adalah sertifikasi yang dilindungi oleh undang-undang

atas produk dengan ciri yang khas, dan hanya dihasilkan di wilayah

geografis tertentu. Produk tersebut biasa dihasilkan karena factor

alam, sumber daya manusia (SDM), dan ataupun dari kombinasi

antar keduanya[ CITATION Tri19 \l 1033 ].

Persentasi Jumlah kopi jenis Arabika di Sumatera Utara

relative lebih besar diibanding jenis Robusta dikarenakan karena

beberapa factor. Yang pertama adalah dari segi factor ketinggian

tanah, kopi jenis Arabika hanya dapat tumbuh dengan baik pada

kriteria ketinggian 600 – 2000 meter di atas permukaan laut,

dengan suhu sekitar 14-24 derajat Celcius, sementara di Sumatera

Utara sendiri merupakan daerah dengan banyak pegunungan yang

tinggi, sehingga kopi arabika yang memerlukan kelembapan, tanah

yang subur, dan penyinaran matahari yang cukup, dapat diperoleh

di daerah Sumatera Utara . Factor lain disebabkan karena nilai


78

ekspor kopi jenis Arabika yang lebih tinggi dibandingkan robusta

dan jenis kopi lainnya. Hal ini disejalankan dengan strategi Petani

untuk beralih mengupayakan focus penanaman pada kopi berjenis

Arabika. Produksi Arabika yang terus naik dan luas tanaman selalu

meningkat terjadi dari tahun ke tahun[ CITATION Mar19 \l 1033 ].

Adapun jenis Kopi Arabika special khas sumatera Utara di

antaranya Kopi Sidikalang, Kopi Sipirok, kopi Mandaling, kopi

Tarutung, dan kopi lintong. Kopi sidikalang yang terletak di

ketinggian 1.066 mdpl, yang menjadikan sidikalang menjadi

tempat yang subur dan menjadi daerah yang sangat cocok ditanami

kopi. Selanjutnya Kopi Sipirok, kopi yang berasal dari Kabupaten

Tapanuli Tengah yang memiliki kandungan asam yang sangat

rendah sehingga dapat menarik penggemar kopi. Terlebih Kopi

Sipirok telah mendapatkan penghargaan internasional yakni “the

world’s finest unwashed Arabica”. Selanjutnya, Kopi Mandalaing

yang memiliki aroma dan rasa yang khas yang bentuk

penyajiannya terbilang untik yaitu disajikan menggunakan batok

kelapa yang disebut sebagai kopi takar. Selanjutnya Kopi Taratung

yang menjadi salah satu kopi terbaik dunia, dimana keseluruhan

proses pembuatannya terstandarisasi secara internasional. Dan

terakhir kopi Lilntong yang sudah banyak dikenal di Negara luar.

Kopi ini sudah menjadi trade mark pasaran internasional dengan

nama “Sumatra Linthong Arabica Coffee”[ CITATION Cla19 \l 1033 ].

c. Nilai Ekspor Kopi


79

Adanya prestasi cemilang dari aneka kopi yang dihasilkan

oleh beberapa wilayah di Sumatera Utara, menjadikan Sumatera

utara memiliki icon tersendiri sebagai produsen kopi di mata dunia.

Hal tersebut telah dibuktikan dari data yang diperoleh oleh Dinas

Perindustrian dan Perdagangan Sumatera Utara yang mencatat total

ekspor kopi pada tahun 2018 mencapai 64.910,053 ton. Dimana,

kopi Arabika berjumlah 60.763,017 ton yang senilai dengan

342.434 US$, dan Robusta sejumlah 2.202,432 ton yang senilai

dengan 5.428,126 US$. Jika ditotalkan jumlahnya mencapai

64.910,053 ton dengan nilai 356.177,408 US$[ CITATION Cla19 \l

1033 ].

Berbagai jenis kopi dari Sumatera Utara yang telah

menembus pasar Internasional yang diperolah dari hasil

perdagangan ekspor kopi, memberikan alokasi pemasukan

tersendiri bagi pendapatan devisa Negara, yang mana menurut data

Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018, Negara Amerika Serikat

adalah Negara tujuan ekspor terbesar kopi Sumatera Utara dengan

berat bersih kopi yang diekspor sebanyak 35.53 ribu ton dengan

nilai ekspor dengan klausul Cost, Insurance, and Freight (CIF)

sebesar US$ 215.6 juta. Disusul oleh Negara Malaysia dengan total

kopi yang diekspor sebesar 7.02 ribu ton dengan harga ekspor

(CIF) sebesar US$ 27.96 juta. Kemudian Negara Jepang dengan

total ekspor sebesar 6.03 ribu ton dengan harga ekspor (CIF)

sebesar US$ 32.79 juta. Negara Asia, Australia, dan Eropa juga
80

menjadi Negara tujuan ekspor kopi Sumatera Utara, di antaranya

Taywan, Saudi Arabia, Australia, New Zaeland, Canada, United

Kingdom, Belgium, dan masih banyak lainnya. Sehingga total kopi

yang diekspor ke berbagai Negara pada tahun 2018 sebanyak 76.07

ribu ton dengan nilai CIF sebesar US$417.19 juta. Melihat

sejumlah catatan tersebut, Wakil Gubernur Sumatera Utara, Musa

Rajeksha, pun telah menargetkan Sumatera Utara sebagai produsen

kopi terbesar di Indonesia untuk beberapa tahun

mendatang[ CITATION Mar191 \l 1033 ].

Sejumlah catatan prestasi yang diperoleh Sumatera Utara

terkait indikasi geografis, produksi dan ekspor kopi di atas

bermuara pada sebuah kesimpulan bahwa Provinsi Sumatera Utara

adalah provinsi yang memiliki nilai strategis sebagai salah

penghasil kopi terbaik di Indonesia yang dapat berkontribusi secara

signifikan bagi kesejahteraan perekonomian masyarakat daerah

(khususnya untuk kalangan kelompok petani kopi) dan Negara.

B. Starbucks Corporation dan Starbucks Farmer Support Centers

1. Sejarah Perkembangan Starbucks Coffee hingga Masuk di Indonesia

Starbucks berdiri pada tahun 1971, berawal dari Jerry Baldwin,

Zev Siegl dan Gordon Bowker yang mendirikan sebuah toko kecil dengan

menjual kopi segar yang dipanggang di Seattle, Amerika Serikat. Pada

waktu yang sama Starbucks menjadi sangrai terbesar di Washington

dengan enam outlet ritel. Namun, banyak hal secara bertaham mulai
81

berubah dan pada tahun 1980, Zev Siegl menjual sahamnya. Tahun 1981

seorang salesmen plastic Howard Schultz menyadari bahwa pembuat bir

tetes termos plastic yang digunakan Starbucks merupakan hasil dari

produsennya yang bernama Hammarplast. Atas hal tersebut Howard

Schultz akhirnya bergabung dengan perusahaan Starbucks, karena melihat

adanya potensi dalam produk dan kesempatan berkarir. Pada tahun 1982,

Schultz memberikan kehidupan baru dalam perusahaan dengan

memperkenalkan budaya kedai kopi espresso dari Italia, dengan berencana

memulai sebuah budaya yang sama di Amerika Serikat. Hal ini ditentang

oleh mitra asli, karena bagi mereka kopi itu diseduh dan dinikmati di

rumah. Akibatnya mereka berpisah dan Schultz membuka II Giornale

pertama di Amerika Serikat dengan konsep kopi bar. Pada tahun 1987 para

mitra asli menjual Starbucks kepada Schultz. Dengan bergabung dengan II

Giornale untuk menghasilkan Starbucks Corporation [ CITATION Win17 \l

1033 ].

Selama waktu itu Starbucks memiliki 17 toko di Seattle dengan

rencana melakukan ekspansi dan membuka gerai di luar Seattle. Pada

tahun 1992 Starbucks menjadi perusahaan public yang memiliki 165

outlet. Dan pada tahun 1996 Starbucks berhasil membuka toko di luar

Amerika yaitu di Tokyo dan pada tahun dan pada tahun 1998 kemudian

diperluas lagi ke Britani Raya. Selain itu, Starbucks juga mengambil alih

Seattle’s Best Coffee, Torrefazione Italia dan Diedrich Coffee.

Hingga di Indonesia sendiri, Starbucks masuk pada 17 Mei 2002

dan mendirikan outlet pertamanya di perusahaan PT. Sari Coffee


82

Indonesia, yang merupakan anak perusahaan dari PT. Mitra Adi Perkasa.

Kedai tersebut berlokasi di Plaza Indonesia, Jakarta Pusat. Sejak saat itu,

perkembangan pasar Starbucks Coffee di Indonesia melaju dengan pesat.

Starbucks sendiri sejatinya sudah berhubungan dengan Indonesia sejak

1970-an. Meksi hubungannya sudah lama, ada banyak pertimbangan untuk

membuka gerai di Indonesia. Baru setelah evaluasi di akhir 1999,

Starbucks menyeleksi 200 perusahaan calon mitra di Indonesia. Dalam

setahun, Starbucks menargetkan untuk menambah 25-30 gerai. Starbucks

Coffee pun membuka kedai-kedainya di kota-kota besar di Indonesia,

seperti di Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Semarang, Medan, Bali,

Makassar, Jakarta, Pekanbaru dan di kota-kota besar lainnya yang berjalan

hingga saat ini[ CITATION Nen17 \l 1033 ].

2. Starbucks Farmer Support Centre (FSC)

Starbucks Farmer Support Centers (FSC) merupakan satu dari

enam pendekatan terintegrasi (program Corporate Social

Responsibility/CSR) Perusahaan Starbucks dengan tujuan untuk

mengupayakan pembelian kopi dapat terjadi secara berkelanjutan

(sustainable coffee purchasing). Kelima pendekatan lainnya adalah:

pembayaran harga premium, suatu upaya untuk membantu para petani

mendapatkan keuntungan sekaligus membendung ekonomi keluarga;

pembelian konservasi (tumbuh di bawah naungan) dan kopi yang

bersertifikat, termasuk organic serta Bersertifikat Perdagangan Adil/ Fair

Trade Certified; pemberian akses kredit yang terjangkau bagi para

petani, dimana Starbucks menyandang dana swasta terbesar dari pinjaman


83

berbiaya rendah untuk petani kopi skala kecil; investasi dalam

program/proyek social yang bermanfaat bagi masyarakat penghasil kopi,

seperti di sekolah, klinik kesehatan, dan lain sebagainya; mendorong

petani untuk berpartisipasi dalam Praktek Kopi dan Petani (C.A.F.E./

Coffee and Farmer Equity), yaitu seperangkat pedoman pembelian kopi

yang bertanggung jawab secara social. Dan Starbucks FSC sendiri

merupakan program sebagai medium untuk berkolaborasi dengan petani

dengan memberikan dukungan teknis dan pelatihan yang diperlukan dalam

rangka memastikan produktivitas kopi yang berkualitas tinggi tetap

berjalan secara berkelanjutan [ CITATION Rea05 \l 1033 ].

Hal tersebut di atasu menunjukkan Starbucks FSC bukan satu-

satunya program CSR Starbucks akan tetapi merupakan dari kelima

elemen program CSR lainnya. Hal demikian apabila dikaitkan pada

konsep CSR , maka keenam tersebut merupakan satu kesatuan tak

terpisahkan menjadi satu program CSR Starbucks yang terdiri dari enam

elemen yang menghimpun pilar-pilar konsep CSR itu sendiri.

FSC merupakan fasilitas pusat dukungan milik Starbucks untuk

membantu para petani (dalam bentuk pelatihan – open-source) agar

menghasilkan hasil tani yang lebih baik dengan bimbingan para agronomis

handal yang diutus oleh Starbucks sendiri[ CITATION Nab18 \l 1033 ].

Starbucks membuka pusat dukungan petani pertamanya di San Jose, Kosta

Rika pada tahun 2004, bersamaan dengan program terobosan lainnya yaitu

Program Praktik C.A.F.E. (Verifikasi Kopi dan Petani). Starbucks FSC

bekerja satu per satu dengan para petani di lapangan, dan juga mendukung
84

koperasi dan para pemasok. Ahli agronomi Starbucks membangun metode

penanaman tradisional untuk membantu petani meningkatkan kualitas dan

keuntungan tanaman mereka [CITATION STA18 \l 1033 ].

Salah satu yang mendasari Starbucks membuka operasi pusat

pelatihannya berasal dari kekhawatiran dimana petani pada masa depan

jangka panjang akan terus-menerus menemui tantangan dalam kualitas

serta kuantitas hasil panennya. Oleh karena itu, sebagai langkah antisipasi

konkret, Starbucks hingga saat ini telah dan sedang mengoperasikan

delapan pusat dukungan petani dan satu kantor agronomi satelit di seluruh

dunia, yang memberikan akses gratis (informasi terbuka / open-source)

kepada para petani terhadap temuan-temuan terbaru para ahli agronomi

Starbucks, termasuk jenis varietas baru pohon yang tahan penyakit dan

teknik pengelolaan tanah yang canggih. Adapun Kantor agronomi Kosta

Rika aslinya telah direlokasi yang dari sebuah gedung perkantoran di pusat

kota San Jose ke pertanian Hacienda Alsacia di lereng Poas Volcano, yang

saat ini menjadi pusat penelitian dan pengembangan agronomi global

perusahaan [ CITATION STA18 \l 1033 ].

Starbucks berkomitmen untuk membantu satu juta petani dan

pekerja kopi yang merepresentasikan rantai pasokan kolektif Starbucks,

dengan target tujuan melatih 200.000 petani kopi pada di 2020. Berikut

adalah lokasi pusat dukungan Starbucks (beserta tanggal dibukanya) (lihat

Gambar 6)[ CITATION STA18 \l 1033 ]:


85

1. San Jose, Kosta Rika: 2004 (direlokasi di Hacienda Alsacia

pada tahun 2016)

2. Kota Guatemala, Guatemala (yang dijadikan sebagai kantor

satelit agronomi): 2006

3. Kigali, Rwanda: 2009

4. Mbeya, Tanzania: 2011

5. Manizales, Colombia: 2012

6. Yunnan, China: 2012

7. Addis Ababa, Ethiopia: 2014

8. Sumatera Utara, Indonesia: 2015, dan

9. Chiapas, Mexico: 2016


86

Gambar 6. Peta Lokasi Starbucks Farmer Support Centers


87

a. Operasi Starbucks FSC di Kabupaten Karo, Sumatera Utara,

Indonesia

1) Pra-masuknya Starbucks FSC

Jauh dari hiruk-pikuk kota Medan, Kabupaten Karo

merupakan daerah yang menyimpan sejumlah harapan untuk

masa depan kopi Sumatera yang telah melegenda. Kabupaten

karo berjarak 7,7 km dari pusat kota, dan dipersiapkan untuk

dijadikan sebagai lumbung kopi bari di nusantara, bergabung

dengan kopi masyhur dari daerah Sumatera Utara lain, yaitu

Mandailing, Sidikalang, dan Deli[ CITATION Sav18 \l 1033 ].

Kabupaten Karo berada 1.400 meter di atas permukaan

laut (mdpl) dengan kontur wilayah berbukit-bukit dan dikepung

oleh dua gunung vulkanik yaitu Gunung Sinabung dan Gunung

Sibayak. Kabupaten Karo memiliki unsur tanah yang

menguntungkan dengan iklim yang berhawa sejuk antara 17-19

derajat Celcius. Sebab wilayah ini memiliki kandungan top soil

atau organik yang tebal. Adanya erupsi dari Gunung Sinabung

di sisi lain berperan dalam menyuburkan kembali zat hara di

dalam tanah, baik berupa magnesium, kalium, fosfor, dan

natrium yang mana setiap jenis zat tersebut sangat menunjang

kesuburan tanaman yang dikelola di sekitar gunung [ CITATION

Sav18 \l 1033 ].
88

Di sisi lainnya lagi, adanya abu vulkanik yang berasal

dari gunung tersebut dapat seketika mematikan tanaman karena

abunya yang menutup stomata pada daun tanaman sehingga

menjadi hama bagi daun dan menyebabkan hasil panen

berkurang dan kelompok petani di Kabupaten Karo merugi.

Namun, adanya kegagalan panen tersebut yang sebagian besar

merupakan tanaman holtikultural seperti jeruk dan sayuran,

justru memberikan inspirasi baru bagi petani setempat untuk

menjadikan sisa lahan mereka sebagai ladang untuk

menanaman kopi. Sejak saat itu merupakan titik awal

Kabupaten Karo untuk turut serta dalam menambah daerah

penghasil kopi di Sumatera Utara.

Seperti awal mula di atas, Kabupaten Karo sejak awal

bukan merupakan produsen kopi terbesar dan terbaik di

Sumatera, pulau yang menjadi kawasan penghasil kopi terbesar

ketiga di dunia setelah Brazil dan Vietnam. Hanya terdapat

beberapa nama yang dikenal sebagai lumbung kopi di

Sumatera, antara lain kopi Gayo di Aceh, Kopi Mandailing,

Kopi Sindikalang, serta Kopi Deli.

Selama puluhan tahun Indonesia telah mengekspor

kopi, Kabupaten Karo tidak pernah mendapat perhatian akan

kopi yang dimilikinya. Hingga kabupaten ini pun kini

dicanangkan pemerintah sebagai daerah budidayakopi baru di

Pulau Sumatera. Dengan dipenuhi 248 desa, Kabupaten Karo


89

akan mengikuti jejak daerah lain yang kopinya sudah diseruput

oleh para pecinta kawa hitam di seluruh dunia. Sehubungan

dengan hal itu, menurut Sarjana Purba, kepala Dinas Pertanian

Kabupaten Karo Sumatera Utara, bahwa Kementerian

Pertanian telah menjadikan Kabupaten Karo sebagai satu dari

empat area produksi kopi terbaik di Sumatera. Atau satu dari

tiga kawasan di Sumatera, setelah Mandailing dan Simalungun [

CITATION Sav18 \l 1033 ].

Berdasarkan data dari laman Marketeers, luas pertanian

di Karo pada tahun sebesar 212 ribu hectare. Dari angka

tersebut, kopi yang ditanam telah mencatuk lahan seluas 10

ribu hectare. Dan produktivitas kopi di Karo menghasilkan 1,4

ton green bean (biji kopi) per hectare. Untuk bias bersaing

dengan kawasan lain, diperlukan intensifikasi dan

ekstensifikasi lahan kopi di kabupaten Karo[ CITATION Sav18 \l

1033 ].

Keharusan dalam mensejahterakan petani pada saat itu

dinilai penting lantaran menjadikan kopi sebagai mata

pencaharian utama di kabupaten ini, bukan lagi sebagai

tanaman sampingan. Oleh karena itu sebagai awal untuk

pengejawantahan hal tersebut diperlukan adanya insentif bibit

unggul untuk tanaman kopi, dimana yang menjadi masalah

utama petani di hamper seluruh nusantara adalalah keluhan


90

terhadap harga bibit yang tinggi – tidak terjangkau[ CITATION

Sav18 \l 1033 ].

2) Masuknya Starbucks FSC di Kecamatan Berastagi, Kabupaten

Sumatera Utara.

Harapan Kabupaten Karo untuk mengintensifikasi bibit

unggul tanaman kopi mulai ditawarkan oleh jaringan kedai

kopi Internasional, Starbucks. Perusahaan kopi yang memiliki

27.000 gerai di seluruh dunia memilih Kabupaten Karo, yang

mana spesifik lokasi yang disasar berada di Kecamatan

Berastagi untuk dijadikan medium yang mewakili satu dari

Sembilan Farmer Support Center (FSC) di dunia yang diutus

oleh perusahaan Starbucks. Dalam skala Asia, Karo adalah

salah satu dari dua FSC setelah Yunnan, China[ CITATION

Sav18 \l 1033 ].

Starbucks memilih Sumatera sebagai medium lokasi

FSC, teridentifikasi kepada dua motif utama. Yang pertama

karena Starbucks merupakan salah satu buyer terbesar kopi

Sumatera di dunia, yang dijadikan sebagai salah satu racikan

mereka dalam membuat house-blend yang selama ini menjadi

bahan dasar kopi di gerai-gerai Starbucks. Yang kedua adalah

adanya subjektivitas dari pendiri dan mantan CEO Starbucks

Coffee Company yang mengklaim Kopi Sumatera sebagai kopi

favoritnya – yang mana sebelumnya kopi Gayo yang juga


91

berasal dari Sumatera masuk dalam salah satu kopi single

origin yang disajikan di kedai khusus Reserve, bersanding

dengan para single origin lain seperti Congo Lake Kivu atau

Peru Chontali[ CITATION Sav18 \l 1033 ].

Kedua hal tersebut di atas memberi arti besarnya jasa

Sumatera terhadap gerak bisnis Starbucks di dunia sehingga

diindikasi menjadi pemicu utama perusahaan Starbucks

memberikan pelatihan lebih terhadap masa depan kopi

Sumatera khususnya di Sumatera Utara. Yang tidak kalah

penting selain itu, adalah program Starbucks FSC pada

dasarnya didesain oleh Starbucks untuk dapat dijadikan lahan

kebun kopi percontohan bagi para petani di Sumatera maupun

di daerah lainnya untuk mengetahui bagaimana

membuididayakan kopi yang efektif, efisien, dan berstandar

global [ CITATION Sav18 \l 1033 ].

Lantas, dengan beberapa potensi dan produktivitas kopi

yang dimiliki Sumatera Utara yang menyebabkan Perusahaan

Starbucks memberikan pelatihan tersebut kepada para petani

Sumatera Utara khususnya di kecamatan Berastagi, maka

terdapat beberapa hal yang menjadi pertanyaan lanjut, yakni

bagaimana konkret Starbucks dalam menyusun strategi untuk

memberikan implikasi positif terhadap kehidupan para petani

kopi di Sumatera melalui pelatihan yang berorientasi pada

peningkatan produktivitas bertani kopi yang diikuti dengan


92

peningkatan mutu kopinya? Apakah strategi dari Starbucks

terindikasi unsur resiprokal dimana Starbucks mengharapkan

sesuatu yang sama menguntungkannya dengan apa yang

diberikan Starbucks terhadap Petani kopi Sumatera dari buah

hasil pelatihan tersebut nantinya, atau justru sebaliknya bahwa

adanya Program FSC Starbucks sepenuhnya merupakan asas

sukarela Starbucks kepada petani kopi sumatera sebagaimana

hal ini didukung oleh sifat “open-source” dari pelatihan

tersebut. Tidak berhenti disitu, masih terdapat satu pertanyaan

penting, yakni bagaimana kemudian dampak yang diberikan

dari Program Starbucks FSC terhadap kehidupan Petani kopi di

Sumatera Utara, dari aspek yang paling rinci sampai yang

paling global. Apakah Program Starbucks FSC berimplikasi

secara signifikan terhadap kehidupan dan pola pertanian petani

kopi di Sumatera, atau bahkan sampai pada skala dimana

Sumatera (dari hasil pelatihan tersebut) mampu berkontribusi

besar terhadap pendapatan nasional negara. Kemudian

pertanyaan final adalah apakah terlihat garis perbedaan yang

signifikan antara pra dan pasca beroperasinya Starbucks FSC

terhadap petani kopi Sumatera Utara?

Maka pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas sedikit

banyak akan terjawab pada bahasan selanjutnya yang menjadi

benang merah dalam penelitian ini.


93

BAB IV

STRATEGI DAN IMPLIKASI PROGRAM STARBUCKS FARMER

SUPPORT CENTERS (FSC) TERHADAP PETANI KOPI DI SUMATERA

UTARA

A. Strategi Starbucks dalam Implementasi Program Starbucks Farmer

Support Centers (FSC) terhadap Petani Kopi di Sumatera Utara

Program tanggung jawab social (CSR) yang melekat pada

perusahaan multinasional merupakan salah satu aspek turunan dari

kebijakan/politik luar negeri suatu Negara, dalam hal ini Host Country.

Suatu Negara dalam menjalankan pemerintahannya harus berhubungan

dengan Negara lain, begitu juga pada pembangunan ekonomi suatu Negara

tentu tidak bisa terlepas dari keterlibatan Negara lain, khususnya dalam

bingkai kerjasama antarnegara. Salah satu bentuk kerjasama Negara

dengan perusahaan multinasional adalah keharusan sebuah perusahaan

multinasional (MNC) ataupun nasional yang berinvestasi di sebuah daerah

untuk melaksanakan program tanggung jawab social perusahaan di Negara

tempat MNC tersebut beroperasi. Trend di dunia dalam wacana etika

bisnis (business ethics) dewasa ini memperlihatkan bahwa salah satu

pemangku kepentingan (stakeholder), yaitu pemerintah, melalui kebijakan

publiknya semakin diakui telah menjadi salah satu penggerak dalam isu

tanggung jawab social perusahaan atau Corporate Social Responsibility

(CSR). Di beberapa Negara di dunia terutama di Negara maju, peran

pemerintah terlihat melalui regulasinya mampu memberikan pengaruh


94

kepada entitas bisnis agar memiliki tanggung jawab social, bisnis

berkelanjutan serta sejalan dengan misi pembangunan berkelanjutan

[ CITATION Vel18 \l 1033 ].

Di Indonesia sendiri, CSR mulai berlaku pada tahun 2007 sejak

ditetapkannya undang-undang Perseoran Terbatas (PT) Nomor 40 tahun

2007 ayat 74 tentang tanggung jawab social perusahaan, kebijakan

pemerintah ini kemudian menjadi momentum yang sejalan dengan

sebagian besar jumlah perusahaan multinasional yang merambah masuk

ke Indonesia. Di antara berbagai MNC yang ada, Starbucks merupakan

salah satunya yang menerapkan berbagai program agenda CSR di

Indonesia. Sebagaimana konsep CSR, yang selalu diidentikkan dengan

“pembangunan berkelanjutan”, yang mana di dalamnya terdapat

argumentasi bahwa perusahaan dalam melaksanakan aktivitas

operasionalnya harus mendasarkan keputusannya tidak semata pada factor

keuangan, misalnya keuntungan atau dividen melainkan juga harus

berdasarkan konsekuensi sosial dan lingkungan baik secara temporal

maupun untuk jangka panjang, maka model pembangunan berkelanjutan

tersebut juga telah sejalan dengan salah satu program CSR yang dibawa

Starbucks di Indonesia, yakni program Starbucks Farmer Support Centers.

Suatu program yang memberikan pelatihan berkelanjutan yang menyasar

pembangunan ditujukan kepada kelompok petani kopi Indonesia, dalam

hal ini satu-satunya berada di Sumatera Utara, yang bertujuan untuk

meningkatkan aktivitas bertani kopi yang juga akan mengantar pada hasil

kopi yang bermutu dan berkualitas tinggi/premium.


95

Dalam menjalankan program CSR tersebut, yaitu Starbucks

Farmers Support Centers, Starbucks memiliki serangkaian strategi yang

dilakukan agar tujuan Starbucks untuk mengembangkan kualitas pertanian

kopi di Indonesia dalam hal ini di Sumatera Utara bisa terwujud secara

optimal dan berkelanjutan serta memberikan sumbangsih yang signifikan

terhadap kehidupan masyarakat Petani Kopi di dalamnya serta masyarakat

lain secara luas sesauai tujuan besar Starbucks yang menginginkan adanya

dampak social secara global. Maka berikut sejumlah Strategi yang

dilakukan Starbucks dalam mengoperasikan Starbucks Farmer Support

Centers, secara umum hingga spesifik pada mekanisme operasional

Starbucks FSC terhadap petani local di Sumatera Utara.

1. Melatih 200.000 Petani global pada tahun 2020

Starbucks FSC sejatinya merupakan salah satu

elemen/manifestasi dari tujuan/visi besar Starbucks yang menghendaki

adanya dampak social yang positif dan berkelanjutan pada komunitas-

terkait secara global/mendunia. Ia merupakan fasilitas pusat dukungan

Starbucks yang dikhususkan untuk membantu para petani (dalam

bentuk pelatihan berkelanjutan) yang sejauh ini telah beroperasi di 9

negara di dunia yang termasuk Indonesia di dalamnya, dengan tujuan

agar menghasilkan hasil tani yang lebih baik dengan bimbingan para

agronomis handal yang diutus oleh Starbucks sendiri [ CITATION

Nab18 \l 1033 ]. Melalui program ini, Starbucks berkomitmen untuk

membantu satu juta petani dan pekerja kopi yang merepresentasikan

rantai pasokan kolektif Starbucks, dengan target yaitu melatih 200.000


96

petani kopi pada tahun 2020 [ CITATION STA18 \l 1033 ]. Jumlah itu

termasuk mencakup entitas petani yang ada di Indonesia, karena

menjadi salah satu dari 9 tempat beroperasinya Starbucks FSC di

dunia, yang tepatnya berlokasi di Berastagi, Kabupaten Karo,

Sumatera Utara. Selain menjadi salah satu Lokasi Starbucks FSC

beroperasi, Berastagi juga merupakan satu-satunya yang

merepresentasikan Indonesia sebagai tempat yang dijadikan medium

pelatihan oleh Starbucks FSC.

2. Starbucks FSC Sebagai salah satu Program Terintegrasi Starbucks.

Merujuk dari situs resmi Starbucks, Starbucks FSC adalah

salah satu program terintegrasi dari 4 program lainnya yang

merupakan serangkaian strategi oleh Starbucks untuk menjalankan

program Dukungan Komunitas Pertanian yang tentunya menyasar

kelompok petani dan aktivitas pertanian secara global. Program ini

berakar dari tujuan besar Starbucks untuk memberikan “Social

Impact” atau dampak social terhadap masyarakat global. Dampak

social yang dimaksud adalah terdiri dari program-program yang

dirancang untuk memperkuat pembangunan ekonomi dan social di

tataran masyarakat local, yang diiringi upaya merawat dan

melestarikan lingkungan (baca: ramah lingkungan). Selain Starbucks

FSC, keempat program lainnya yaitu Investasi Pembangunan Sosial,

Pinjaman Petani, Program Sumber Etis / Praktek C.A.F.E, dan

Hubungan Kolaboratif. Kelima program tersebut memiliki


97

kesalingterkaitan yang sangat penting dalam menunjang program satu

dengan yang lainnya [ CITATION Sta14 \l 1033 ]. (Lihat Gambar 7)

Gambar 7 : Program terintegrasi Starbucks dalam Dukungan Komunitas Petani

Sumber: Starbucks.com

Dalam menerapkan serangkaian strategi unik ini, Starbucks

terus berupaya meningkatkan ketahanan rantai pasokan dan menjamin

keberlanjutan pasokan jangka panjang terhadap kualitas kopi dan

barang-barang agrikultur lainnya, termasuk bangunan yang kuat, untuk

menjaga komunitas pertanian. Starbucks telah sedikit banyak

membuktikan hal tersebut dengan melihat total angka investasi yang

dikeluarkan Starbucks hingga saat ini untuk berbagai aktivitas dan

program kolaboratif bersama petani telah meraup jumlah sebesar 70

juta dolar. Program-program tersebut termasuk Program Praktik

CAFÉ, dukungan komunitas petani (Farmer Support Centers/FSC),

pinjaman petani dan proyek karbon hutan.


98

Seperti suatu system dimana unsur satu dan lainnya tidak

terpisahkan begitu juga dengan serangkaian program-program yang

dilakukan Starbucks dalam lingkar dukungan komunitas pertanian

(Farming Community Support) tidak terpisahkan dan saling

membendung satu sama lain. Adapun Starbucks FSC sendiri dalam

menjalankan operasionalnya tidak terlepas dengan program terintegrasi

lainnya yang sama-sama bertujuan secara langsung mendukung

peningkatan taraf hidup petani serta menjamin pasokan jangka panjang

kopi yang berkualitas tinggi dalam perindustrian. Oleh sebab itu perlu

berikut program-program terintegrasi sejenis Starbucks FSC lainnya

sebelum masuk pada program FSC untuk memperoleh pemahaman

komprehensif terkait pola Strategi yang dilakukan Starbucks untuk

pengembangan petani dan industry kopi dalam lingkup yang kecil

hingga mengglobal.

- Investasi Pembangunan Sosial

Program pembangunan social Starbucks didesain untuk

memperkuat pembangunan ekonomi dan social pada

masyarakat local. Dalam menjalankan program tersebut,

Starbucks mengadakan kolaborasi dengan organisasi non-

pemerintah yang berpengalaman serta ahli dalam bekerja

bersama komunitas petani kopi. Starbucks dalam program-

program sosialnya terbiasa menentukan target yang menjadi

output/goals terhadap objek yang disasar. Seperti dalam hal ini,

Starbucks memiliki target untuk menyediakan tanaman kopi


99

berjumlah 100 tanaman kepada para petani di tahun 2025.

Starbucks juga mengadakan pendanaan global untuk petani

dengan target menginvestasikan dana sebesar 50 juta dolar

pada Petani global pada tahun 2020. Kemudian Starbucks juga

mengusung yayasan hibah yang dinamakan Starbucks

Foundation dan memiliki target untuk memberdayakan

250.000 wanita dan keluarga pada kalangan komunitas petani

kopi, teh, dan kakao melalui kemitraan inovatif [ CITATION

Sta141 \l 1033 ].

- Program Pinjaman Petani

Program pinjaman petani Starbucks adalah sebuah akses

alternatif yang dikhususkan untuk koperasi yang memenuhi

syarat namun tidak dapat mengakses saluran pendanaan

tradisional.

- Hubungan Kolaboratif

Starbucks berkomitmen untuk membantu komunitas pertanian

bertahan dan berkembang secara sukarela/non-profit. Dan

dalam upaya memperluas jangkauan dan dampaknya,

Starbucks menjalin kolaborasi dengan organisasi yang

memiliki keahlian dalam hal bekerja bersama komunitas

agricultural.
100

3. Starbucks Farmer Support Centers (FSC) dengan program Praktik

C.A.F.E. dan Organisasi Pihak Ketiga.

Starbucks FSC merupakan program pusat dukungan petani

yang terdiri atas ahli-ahli kopi dan agronomi yang berlokasi di 9

negara kunci penghasil kopi, untuk memberikan pengetahuan (open-

source) dan riset bersama petani kopi dalam meningkatkan kualitas,

produktivitas, dan keberlanjutan petani kopi dan kopi itu sendiri.

Tujuan Starbucks melalui Starbucks FSC untuk menetapkan target

agar dapat melatih 200.000 petani global di tahun 2020, pada

pelaksanaanya terdapat mekanisme tertentu dalam rangka

merealiasasikan jumlah tersebut. Antara lain adalah Starbucks FSC

pada praktiknya menggunakan program terintegrasi/sejenis lainnya

(yang juga diusung Starbucks), dalam hal ini program praktik C.A.F.E

dan bekerjasama dengan beberapa organisasi pihak ketiga (third-party

Organization; non-governmental Organization) guna meningkatkan

sekaligus mengevaluasi program praktik C.A.F.E yang dijadikan

sebagai alat standardisasi/ sumber etis global yang digunakan dalam

pelatihan Starbucks FSC bersama komunitas Petani. Program Praktik

C.A.F.E memiliki peranan inti yang sangat penting dalam menunjang

pelaksanaan program tersebut. Begitu juga dengan kehadiran

organisasi pihak ketiga. Pihak-pihak tersebut memiliki keterkaitan

yang prima satu sama lain.

Merujuk pada catatan “Verifikasi Praktik C.A.F.E. dan

Inspektur Operasi Manual terhadap perusahaan Starbucks Coffee” oleh


101

SCS Global Services, disitu dicantumkan definisi Starbucks Farmer

Support Centers (FSC) juga dikenal dalam sebutan lain “Starbucks

Coffee Agronomi Center (SCAC)”. Di buku itu dijelaskan bahwa FSC

juga berpegang pada Program praktik C.A.F.E yang termasuk di

dalamnya pemrosesan terhadap permohonan pemasok, laporan

verifikasi, dan rencana tindakan korektif (jika berlaku). Dalam catatan

itu, SCAC/FSC juga memberikan dukungan teknis dan pelatihan

(Praktik Agronomi Terbaik) untuk mempromosikan hasil panen yang

lebih tinggi dan peningkatan kualitas produksi kopi.

Oleh karena itu, terdapat poin baru yang menjadi penting

sekaligus menjadi penjelas di mana Program praktik C.A.F.E.

memiliki keterkaitan terhadap keberlangsungan operasional Starbucks

FSC, yakni sebagai patron sumber etis dalam menjalankan pelatihan

terhadap komunitas petani kopi oleh para agronom handal dari

Starbucks. Tidak hanya itu, program C.A.F.E. juga merupakan model

program sumber etis yang melampaui atau tidak semata berfokus

memperhatikan komunitas penghasil kopi, namun juga memperhatikan

komunitas penghasil produk pertanian lainnya seperti teh, kakao dan

barang-barang manufaktur. kesemua jenis hasil produk ini berpatron

secara sumber etis melalui standar C.A.F.E. yang diprogram oleh

Starbucks secara global.

Lagi-lagi, Starbucks mendasari program sumber etis ini pada

pada tujuan untuk membantu masyarakat berkembang dalam

memastikan keberlanjutan jangka panjang terhadap jenis produk-


102

produk yang disedikan Starbucks mencakup Kopi Arabika, teh, kakao

dan barang-barang manufaktur. Atas jenis produk-produk ini,

Starbucks berkomitmen menawarkan produk atau system pengolahan

produk berkelanjutan kepada kelompok/komunitas tani penghasil

produk tersebut utuk diproduksi secara etis dan bertanggung jawab

dengan kualitas terbaik. Upaya tersebut juga merupakan manifestasi

prinsip Starbucks yang percaya bahwa kesuksesan Starbucks

bergantung pada kesuksesan petani dan pemasok yang menanam dan

memproduksi produknya [ CITATION Sta10 \l 1033 ].

Praktik C.A.F.E. berfungsi untuk memastikan kopi diproduksi

secara etis untuk Starbucks. Dan bagaimanapun, program ini ternyata

tidak hanya semerta-merta menjamin masa depan kopi berkualitas

tinggi, tetapi juga turut mempromosikan praktik terbaik yang sekaligus

menguntungkan dua aspek yaitu manusia dan planet, yang termasuk di

dalamnya peningkatan mata pencaharian, perlindungan lingkungan dan

mitigasi perubahan iklim, dan lain sebagainya.

Pada tahun 2004, Starbucks mengembangkan Praktik C.A.F.E

bersama dengan Konservasi Internasional, sebagai salah satu cara

untuk mempertahankan serta meningkatkan rantai pasokan Starbucks

untuk mempromosikan peningkatan berkelanjutan pada kualitas,

kinerja ekonomi, sosial dan lingkungan. Program ini juga memberikan

Starbucks jaminan bahwa perkebunan, pabrik dan mereka yang

menyediakan layanan dukungan kepada petani agar dapat mematuhi

persyaratan hukum yang berlaku dan tetap berupaya menuju praktik


103

terbaik. Tidak hanya itu, Program verifikasi rantai pasokan pihak

ketiga ini ternyata juga menggunakan pihak layanan SCS Global

Services untuk mengawasi pelatihan, persetujuan, dan pengawasan

pihak organisasi independen yang memverifikasi peserta dalam

pelaksanaan program C.A.F.E. ini [ CITATION Con18 \l 1033 ].

- Konservasi Internasional

Konservasi Internasional hingga saat ini telah

bekerjasama dengan Starbucks selama kurang lebih 15 tahun

dalam menerapkan sumber etis terhadap kopi mereka di

sekeliling dunia. Mereka menemukan cara baru untuk membeli

sebuah kopi, yakni yang berdasar pada prinsip

ketahanan/keberlanjutan, transparansi dan kebaikan bersama

untuk manusia dan planet bumi. Perjalanan Starbucks sejauh

ini telah mencakup empat benua di mana mereka telah

meningkatkan kehidupan 1 juta petani dan pekerja dan juga

merawat jutaan pohon kopi. Hal ini menjadikan Starbucks

memperoleh kebanggaan oleh Konservasi Internasional dan

diakui atas penerapan sumber etis kopi globalnya melalui

program C.A.F.E.. Terlebih lagi, program praktik C.A.F.E.

secara etis pada sejauh perjalanannya memiliki eskalasi

progress yang konstan naik dan sangat drastic hingga pada

tahun ini karena secara etis memperoleh 99% kopi mereka. Hal

ini menjadi salah satu indikasi sebab Starbucks dikatakan


104

sebagai kopi ritel terbesar dalam tonggak sejarah dunia hingga

saat ini. Tidak berhenti disitu, Starbucks akan tetap

mempertahankan komitmennya untuk mewujudkan 100% kopi

yang bersumber secara etis melalui program C.A.F.E.-nya. Sisa

upaya Starbucks untuk mengejar secara konstan 1 persen

terakhir ini dinilai dapat membantu menjadikan dunia sebagai

tempat yang lebih baik. Pengutusan Starbucks FSC juga

termasuk dinilai sebagai salah satu bentuk upaya untuk

menerapkan 1% tersebut dengan terus menciptakan peluang

bagi komunitas local secara global. [ CITATION Sta101 \l 1033 ].

Dari ujung durasi video pendek di situs Starbucks

bersama konservasi internasional menyatakan asumsi

positifnya bahwa kesemua hal tersebut tidak semerta-merta

berbicara mengenai kopi semata, namun pada intinya berbicara

mengenai setiap kemungkinan dan komitmen bahwa baik

perusahaan global maupun manusia secara tunggal keduanya

dapat membuat perbedaan yang menambah dunia yang telah

berubah ke dalam dunia yang lebih baik [ CITATION Sta101 \l

1033 ].

- Layanan SCS Global Services

Adapun Layanan SCS Global Services yang

dikemukakan Alejandra Bueno, Koordinator Divisi Sumber

Makanan dan Agrikultur yang Bertanggung Jawab

(Coordinator Responsible Sourcing Strategis Food and


105

Agriculture Division) merupakan sebuah proses evaluasi,

sertifikasi, dan audit pihak ketiga yang bertugas memberikan

pengawasan, pelatihan, dukungan, dan persetujuan terhadap

organisasi pihak ketiga yang melakukan verifikasi terhadap

C.A.F.E. Selain itu, SCS juga bekerja dengan perusahaan

Starbucks Coffee dalam hal peningkatan program praktik

C.A.F.E. untuk memastikan pasokan jangka panjang kopi

berkualitas tinggi yang bersumber secara etis pada seluruh

rantai pasokan yakni yang mencakup perkebunan, pabrik,

gudang, dan entitas lain yang termasuk dalam rantai pasokan

diperiksa melalui proses verifikasi pihak ketiga (konservasi

internasional), sesuai dengan indicator social dan lingkungan

yang tercantum pada kartu skor (scorecard) dalam praktik

C.A.F.E. [CITATION Ale20 \l 1033 ].

SCS telah bekerjasama dengan Starbucks dan

Konservasi Internasional untuk mengembangkan standar

praktik Kopi dan Keadilan Petani (C.A.F.E.) guna memastikan

bahwa Starbucks tetap menanam sumber tanaman yang mampu

tumbuh dan diproses menjadi kopi secara berkelanjutan. Hal itu

sejalan dengan Starbucks yang mendefisinikan keberlanjutan

sebagai sebuah model ekonomi yang layak untuk memenuhi

dan menjawab kebutuhan sosial dan lingkungan atas semua

peserta yang terlibat dalam rantai pasokan mulai dari petani

hingga konsumen. Oleh karena itu, pada program praktik


106

C.A.F.E. terdapat Kartu Skor Generik dan Petani kecil (petani

pemilik ladang kecil) yang mencakup serangkaian lebih dari

200 indikator social, ekonomi dan lingkungan di dalamnya.

Yang mana pendekatan ini juga memperhitungkan semua orang

dari petani hingga konsumen.

4. Strategi dan Mekanisme Operasional Pelatihan Starbucks FSC untuk

Petani Kopi di Berastagi, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Indonesia.

Pada laman Marketters, dijelaskan bahwa FSC pada dasarnya

dibuat oleh Starbucks Coffee Company yang merupakan proyek social

global mereka dan memiliki misi melatih 200.000 petani kopi di

seluruh dunia hingga tahun 2020. Dalam praktiknya, FSC menawarkan

konsep open source di mana informasi agronomi diberikan secara

Cuma-Cuma kepada para petani agar mampu melatih mereka teknik

bertani secara keilmuan, menghitung profitabilitas hasil tani, dan

belajar mengenai praktik bertani secara etika atau C.A.F.E (Coffee and

Farmers Equity) [ CITATION Sav181 \l 1033 ].

Paling tidak, dalam bahasan lebih lanjut ini terdapat dua kata

kunci inti yang dapat diidentifikasi sebagai bahan analisia terhadap

Starbucks dalam mewujudkan Strateginya melalui operasi Starbucks

FSC di 9 negara termasuk di Indonesia hingga saat ini, jika

disinkronisasi dengan tujuan besarnya yang menghendaki adanya

“positive social impact” yang berorientasi pada peningkatan taraf

hidup masyarakat local secara global khususnya pada masyarakat


107

petani. Yang pertama adalah pelatihannya yang bersifat ‘open-source’

– bisa diakses oleh setiap kalangan yang ingin memiliki pengetahuan

lebih tentang mekanisme pengolahan kopi dari proses awal pengenalan

kategorisasi bibit kopi yang disesuaikan dengan karakter tanah,

penanaman, hingga pada produksi dan penjualannya. Yang dengan

adanya pelatihan dan bimbingan dari para ahli agronomi dan kopi

tersebut sedikit banyak dapat memberi signifikansi peningkatan

terhadap kesemua tahapan dalam serangkaian proses produksi kopi

tersebut. Peningkatan yang dimaksud adalah antara lain seperti

penekanan biaya produksi, pencegahan hama dan penyakit, serta

kualitas praktik pengolahan yang efektif dan efisien yang

mengantarkan pada hasil produksi/biji kopi berkualitas premium.

Dengan demikian praktik produksi kopi yang mengalami peningkatan

kualitas maupun hasil produksi akan cenderung mempengaruhi harga

penjualan menjadi lebih tinggi dan pada akhirnya mampu membawa

pada peningkatan kesejahteraan kelompok petani local secara global

sebagaimana prinsip Starbucks yang menganggap kesuksesannya

bergantung pada kesuksesan petani dan pemasok yang menanam dan

memproduksi produknya. Kedua, adalah kontribusi dan sumbangsih

sukarela oleh Starbucks yang ‘tidak sedikit’ terhadap sasaran pelatihan

Starbucks Farmer Support Centers, yakni petani kopi di 9 negara

penghasil tersebut, termasuk pelatihan dan program yang diberikan

selama operasinya. Ditambah lagi, Starbucks tidak mensyaratkan

masyarakat yang sudah diberikan pelatihan agar menjual hasil


108

panennya kepada Starbucks untuk dijadikan sebagai rantai pasokan

Starbucks itu sendiri.

Di Indonesia, khususnya di Sumatra Utara kedua hal tersebut

sedikit banyak telah ditunjukkan dari pola mekanisme yang digunakan

Starbucks FSC selama beroperasi bersama komunitas petani kopi yang

berada tepatnya di Kecamatan Berastagi, Kabupaten Karo. Berikut

motif, Strategi, dan mekanisme rinci yang dilakukan Starbucks dalam

mengoperasikan Starbucks FSC di daerah Sumatera Utara:

- Starbucks memilih Sumatra, karena Starbucks merupakan salah

satu buyer terbesar kopi Sumatera di dunia. Dikarenakan kopi

arabika dari Sumatera dijual di hampir seluruh gerainya di

dunia dan dijadikan sebagai salah satu racikan Starbucks dalam

membuat houseblend yang selama ini menjadi bahan dasar kopi

pada gerai-gerai Starbucks [ CITATION Sav181 \l 1033 ]

- Melirik pada kopi Gayo yang juga merupakan milik Sumatera

Utara, pun masuk dalam salah satu kopi single origin yang

disajikan di kedai khusus Reserve, disandingkan dengan para

single origine seperti Congo Lake Kive atau Peru

Chontali[ CITATION Sav18 \l 1033 ].

- Dilandasi oleh begitu besarnya jasa Sumatera terhadap gerak

bisnis Starbucks di dunia hingga Starbucks memberikan

perhatian lebih terhadap masa depan kopi Sumatera melalui

pengutusan FSC untuk melatih petani dalam mendapatkan


109

praktik yang lebih layak dan menguntungkan[ CITATION Sav18 \l

1033 ].

- Menurut penuturan Anthony Cottan, Direktur Starbucks

Indonesia, Starbucks merupakan perusahaan sangat besar

dengan lebih dari tiga juta kopi yang terjual setiap bulannya.

Meski begitu, Starbucks tidak hanya sekadar menjual kopi

melainkan ingin ikut mengedukasi masyarakat agar bisa

menghasilkan kopi yang baik, yang mana proses edukasi juga

sejalan dengan pilihan biji kopi Sumatera yang merupakan kopi

terfavorit di dunia[ CITATION Sav18 \l 1033 ].

- Pada prakteknya, Starbucks FSC yang telah didirikan sejak

tahun 2015 melibatkan 19 kelompok petani dari Kabupaten

Karo, dan Kabupaten lain di sekitarnya, yang setiap kelompok

tani rata-rata beranggotakan 20-25 petani. Kelompok tani tidak

ditentukan tidak terbatas hanya di tanah Karo namun juga

melebar ke sejumlah kabupaten di Sumatera Utara bahkan

hingga ke Aceh dan Kerinci. Pada tahun pertama, Starbucks

melakukan program pembibitan 10.000 bibit unggul yang mana

bibit itu telah diberikan kepada para kelompok petani untuk

ditanam di perkebunan mereka masing-masing. Pada tahun

kedua, bibit yang diberikan bertambah menjadi 20.000 bibit.

Dan pada tahun ketiga (pada tahun 2018), bibit yang diberikan

Starbucks naik drastic sebesar 300.000 bibit. Menurut Surip

Mawardi, Kepala Agronomis Starbucks Farmer Support


110

Centers di Indonesia, jumlah itu setara dengan 150.000 hektare

lahan kopi baru apabila ditanam dengan pola

konvensional[ CITATION Sav18 \l 1033 ] . Hal ini terjadi berkat

digelarnya kampanye “Art in A cup” oleh Starbucks, sebuah

program keterlibatan konsumen dalam aktivitas kontribusi

social perusahaan. Kampanye ini menghadirkan empat varian

menu minuman special. Yang mana di setiap 10 gelas yang

terjual akan dikonversi menjadi 1 bibit pohon kopi yang

kemudian nantinya akan diserahkan ke petani Kopi di Sumatra.

Hingga pada tanggal 8 juni 2018, dengan berkolaborasi

bersama Starbucks Farmer Support Centers di Berastagi,

Sumatra Utara, Starbucks menyalurkan 150 ribu bibit pohon

kopi yang senilai dengan Rp 400 juta, yang melalui penyerahan

langsung oleh Direktur Starbucks Indonesia, Anthony Cottan.

Bibit-bibit tersebut dihasilkan dari benih yang berkecambah,

yang didatangkan dari Badan Peneliti dan Pengembangan

Pertanian RI, sehingga telah legal dan memperoleh uji nasional.

Adapun varietas benih kopi yang direkomendasikan FSC

adalah Komasti, Adung-Sari 1, Gayo, dan Sigarar Utang

[ CITATION Sav18 \l 1033 ].

- Teknik penanaman yang dilakukan berbeda-beda, model teknik

penanaman meliputi penanaman model zig-zag, penanaman

dengan jarak antar pohon berbentuk segi tiga, menyilang, dan

lainnya. Cara tersebut tergantung dari luas lahan dan berapa


111

banyak pokok (pohon kopi) yang ingin ditanam petani. Yang

terpenting adalah perlu adanya tanaman pelindung berupa

pohon Lamtoro yang diletakkan di antara deretan pohon

kopi[ CITATION Sav18 \l 1033 ].

- Menurut Surip Mawardi, Teknik penanaman menentukan

kesejahteraan petani. Menurut hematnya lagi, tidak seperti

petani lain seperti di kawasan Brazil yang bisa menanam 8000

pohon kopi di lahan satu hectare, petani Sumatera paling

banyak menanam pada jumlah 2.500 pohon kopi di luas lahan

yang sama. Hal tersebut disebabkan kontur wilayah masing-

masing beda, ditambah lagi aktivitas pertanian di daerah

Sumatra masih dilakukan secara tradisional a.k.a tanpa

menggunakan mesin berteknologi tinggi.

- Menurut Tovan Marhennata, agronomis FSC Para petani

berkebun dengan luas lahan yang relative kecil. Buah ceri yang

menjadi cikal-bakal green bean (biji kopi) dipetik

menggunakan tangan secara manual. Sehingga, proses produksi

biji kopi terbilang lama. Surip Mawardi mengkalkulasinya

dengan pemisalan pada satu hectare lahan kopi yang berisi

2.000 – 2.500 pohon kopi. Dan setiap satu phon dapat

menghasilkan 2.100 buah ceri yang jika dikupas buah tersebut

akan diperoleh biji kopi, maka satu pohon hanya memperoleh

500 gram biji kopi. Yang berarti, Petani mampu menghasilkan

kurang lebih 1 hingga 1,5 ton biji kopi per sekali panen dalam
112

setahun. Jika dijual dalam bentuk biji kopi yang dikeringkan,

maka harga pasaran biji kopi dapat ditaksirkan sebesar Rp

35.000 per kilogram. Yang artinya, pendapatan terkecil petani

selama setahun dalam sekali panen akbar sebesar Rp 350 juta

atau Rp 2,9 juta per bulan. Pendapatan ini telah berada di atas

angka ambang kemiskinan versi BPS sebesar di bawah Rp 2

juta per bulan per kepala keluarga[ CITATION Sav18 \l 1033 ].

- Surip Mawardi menyarankan agar petani kopi mampu

melakukan eco-farming yang menuntut mereka memanfaatkan

apa yang ada di ladang untuk berternak, agar dapat

memperoleh pendapatan tambahan hingga jutaan rupiah dari

hasil menjual kambing atau telur ayam[ CITATION Sav18 \l 1033 ].

- Salah satu petani kopi asal Desa Suka, Kabupaten Karo,

Ridwan Juanda Barus yang menjadi anggoata Kelompok Tani

Sirgi Fajar Harapan di FSC, menerangkan bahwa selam dua

tahun ia focus menggarap kopi dengan alihfungsih lahan yang

sebelumnya merupakan lahan perkebunan jeruk dan markisa

yang termakan lalat hama buah akibat erupsi Gunung

Sinabung. Bersama saudaranya, ia membudidayakan kopi

arabika di atas lahan dua hectare milik keluarga. Ridwan

mengatakan bahwa Karo merupakan wilayah di mana tanaman

apapun dapat mudah tumbuh dengan baik, meski tanpa

memerlukan pupuk anorganik, melainkan semua dapat tumbuh

secara organic, karena merupakan daerah dengan tanah yang


113

subur. Sampai pada proses memanen kopi, ia mengatakan

bahwa Kopi Karo memiliki cita rasa yang berbeda dari kopi

Mandailing atau Sidikalang yang merupakan kopi khas

Sumatera yang sudah terkenal di penjuru dunia sejak lama

khususnya di kalangan para penggiat kopi, meskipun berasal

dari pulau yang sama. Ia menjelaskan bahwa kopi karo

memiliki citarasa yang lebih aromatic dikarenakan sebab

alihfungsi lahan buah-buahan dan sayuran yang menjadikan

aroma kopi Karo mempunyai banyak rasa[ CITATION Sav18 \l

1033 ].

- Menurut Surip Mawardi, tanaman kopi di Tanah Karo bersifat

tanaman tepi, yang mana yang menjadi tanaman utama warga

setempat adalah sayur-sayuran.

- Hingga saat ini, kabupaten Karo tengah berpacu dengan waktu

untuk membuktikan kepada dunia bahwa generasi kopi baru

dari Sumatra. Salah satu indicator keberhasilannya apabila pada

Starbucks Reserve terpampang sebungkus kopi 250 gram

bertuliskan “Karo” itu berarti kopi Karo cukup banyak diminati

oleh pecinta kopi [ CITATION Sav18 \l 1033 ].

- Data laporan terbaru dari “Global Social Impact Report

Starbucks 2018”, menunjukkan bahwa ahli agronomi Starbucks

pada dua tahun terakhir (2017-02018) telah emberikan

pelatihan gratis kepada 52.240 petani kopi melalui Sembilan

pusat dukungan petaninya (FSC) di Negara-negara penghasil


114

kopi (termasuk Indonesia – Sumatra). adapun data jumlah

pelatihan Starbucks FSC pada tahun 2018 yakni sebanyak

27.938 sudah inklusif pada data dua tahun terakhir tersebut.

B. Implikasi Starbucks Farmer Support Centers (FSC) terhadap Petani

Kopi di Sumatera Utara.

Dalam menjalankan peranan dan tanggung jawabnya sebagai

perusahaan public yang mencari laba (Red: a for-profit Public Company),

Starbucks memiliki antusiasme yang tinggi untuk memberikan dampak

social yang positif kepada komunitas masyarakat yang dilayani Starbucks

secara global. Starbucks memahami bahwa


115

DAFTAR PUSTAKA
Buku

Conservation International. (2018). Starbucks C.A.F.E. Practices Impact Assessment


2011 - 2015. Conservation International

Gardjito, M., & A.M., D. R. (2011). Kopi. Daerah Istimewa Yogyakarta: PT KANISIUS.

Ghani, D. M. (2016). Model CSR Berbasis Komunitas - Integrasi Penerapan Tanggung


Jawab Sosial dan Lingkungan Korporasi. Bogor: IPB Press.

Gilpin, R. (2001). Global Political Economy Understanding the International Economic


Order. New Jersey: Princeton University Press.

Gunawan, A. (2009). Membuat Program CSR Berbasis Pemberdayaan Partisipatif.


Yogyakarta: CV. Garuda Mas Sejahtera.

Lairson, T. D., & Skidmore, D. (2003). International Political Economy : The Struggle
for Power and Wealth in a Globalizing World.

Magdoff, H. (1978). The Multinational Corporation and Development - A Contradiction?

Perwita, A. A., & Yani, Y. M. (2005). Pengantar Ilmu Hubungan Internasional.


Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Pettiford, J. S. (2009). Hubungan Internasional Perspektif dan Tema. (E. A. Nugraha,


Ed.) Yogyakarta: PUSTAKA PELAJAR.

Second-Party Opinion. (2019). Starbucks Sustainability Bond. Washington:


Sustainalytics.

Seftiyana, D. A. (2017). Strategi Penanganan Masalah Lingkungan Hidup di Kabupaten


Sumbawa Barat Melalui Environment Sustainability Program oleh PT. Newmont
Nusa Tenggara. 8.

Subchan, N. (2016). Week 2 - Teori EPI Kontemporer. Retrieved from StuDocu.

Sumantoro. (1987). Kegiatan Perusahaan Multinasional : Problema Politik, hukum, dan


Ekonomi dalam Pembangunan Nasional. Jakarta: Gramedia.

Jurnal

Simanjuntak, D., & Sirojuzilam. (2013). Potensi Wilayah dalam Pengembangan Kawasan
Agropolitan di Kabupaten Toba Samosir. Jurnal Ekonomi dan Keuangan, 135.

Sitanggang, J. T., & Sembiring, S. A. (2013). Pengembangan Potensi Kopi sebagai


Komoditas Unggulan Kawasan Agropolitan Kabupaten Dairi. Jurnal Ekonomi
dan Keuangan, 34.
116

Sudjarmoko, B. (2013). Prospek Pengembangan Industrialisasi Kopi Indonesia.


SIRINOV, 99.

Velatio, N. (2018). Kebijakan Indonesia terhadap Perusahaan Multinasional (Studi Kasus:


Implementasi Program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan di Kabupaten Siak
Tahun 2013-2016). JOM FISIP, 5, 2.

Windary, S. (2017, January-June). Analisis Starbucks Corporation Melalui Pendekatan


Global Value Chains. Jurnal Westphalia, 16, 70Nenda, M. S. (2017, 02).
Dampak Investasi Starbucks Coffee terhadap Penjualan Produksi Kopi Lokal di
Indonesia. JOM FISIP, 4 no.1, 2.

Wawancara

Bueno, A. (2020, 01 10). Coordinator Responsible Sourcing Strategies Food and


Agriculture Division. (M. Rahim, Interviewer)

Website

AEKI (Asosiasi Eksportir Dan Industri Kopi Indonesia). (2007, November 15). Sejarah
Kopi di Indonesia. Retrieved 12 18, 2019, from AEKI - AICE:
https://www.google.com/search?
safe=strict&sxsrf=ACYBGNTTogs7dT6tEPfpa7QfUmFxfR7Jgg
%3A1576680514143&source=hp&ei=Qjz6XbWqBcvbz7sP75mIyAw&q=http
%3A%2F%2Fwww.aeki-aice.org%2Fabout_coffee.html&oq=http%3A%2F
%2Fwww.aeki-aice.org%2Fabout_coffee.html&gs_l=psy-ab.

Bachdar, S. (2018, 06 12). Kopi Rajut Hubungan Spesial Starbucks di Tanah Karo.
Retrieved 12 30, 2019, from Marketeers: https://marketeers.com/kopi-rajut-
hubungan-spesial-starbucks-di-tanah-karo/

Bachdar, S. (2018, 06 12). Kopi Rajut Hubungan Spesial Starbucks di Tanah Karo.
Retrieved 01 14, 2020, from Marketeers: https://marketeers.com/kopi-rajut-
hubungan-spesial-starbucks-di-tanah-karo/

Badan Pusat Statistik. (2019). Statistik Kopi Indonesia Indonesian Coffee Statistic 2018.
Jakarta: Badan Pusat Statistik BPS-Statistics Indonesia.

beritasumut. (2019, April 10). Kafegama Sumut Lakukan Kunjungan ke Starbucks


Farmer Support Centre di Berastagi. Retrieved August 5, 2019, from
beritasumut: http://beritasumut.com/peristiwa/Kafegama-Sumut-Lakukan-
Kunjungan-ke-Starbucks-Farmer-Support-Centre-di-Berastagi

Databoks. (2017, 07 03). Berapa Konsumsi Kopi Indonesia. Retrieved 12 19, 2019, from
Databoks: https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2017/07/03/berapa-
konsumsi-kopi-indonesia

Gumilar, P. (2019, 4 24). Produktivitas Kopi Nasional Mash Bisa Ditingkatkan.


Retrieved 12 1, 2019, from Bisnis.com:
117

https://ekonomi.bisnis.com/read/20190424/99/914997/produktivitas-kopi-
nasional-masih-bisa-ditingkatkan

Indonesia Trip News. (2018, 03 10). "Art in a Cup" Kampanye Starbucks Mengapresiasi
Petani Kopi. Retrieved 07 31, 2019, from Indonesia Trip News:
https://indonesiatripnews.com/perjalanan-wisata/kuliner/art-cup-kampanye-
starbucks-mengapresiasi-petani-kopi/

KabarMedan.com. (2019, 02 22). Sumatera Utara Miliki 6 SIG Kopi. Retrieved 12 24,
2019, from KabarMedan.com: https://kabarmedan.com/sumatera-utara-miliki-6-
sig-kopi/

Manalu, J. E. (2019, 03 12). Produktivitas Kebun Kopi Indonesia Masih Rendah.


Retrieved 12 1, 2019, from Bisnis.com:
https://ekonomi.bisnis.com/read/20190312/99/898582/produktivitas-kebun-kopi-
indonesia-masih-rendah

Murdani, A. D. (2018, 5 2). Multinational Corporation (MNC) : Pengertian, Peran dan


Imbasnya dalam Ekonomi Politik. Retrieved 11 7, 2019, from Portal-Ilmu.com:
https://portal-ilmu.com/multinational-corporation/

Policy Brief Nomor 13 (2019) Institut Pertanian Bogor. (2017). Peran Komoditas Kopi
bagi Perekonomian Indonesia. Retrieved 12 3, 2019, from Policy Brief:
http://sustainability.ipb.ac.id/wp-content/uploads/2019/01/13.PERAN-
KOMODITAS-KOPI-BAGI-PEREKONOMIAN-INDONESIA.pdf

Pusat Komunikasi Publik. (2005, 12 30). Sumatera Utara Kembangkan Perdesaan


melalui Konsep Agropolit. Retrieved 12 22, 2019, from PU-net Kementerian
Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat:
https://www.pu.go.id/berita/view/3236/sumatera-utara-kembangkan-perdesaan-
melalui-konsep-agropolit

Rachman, F. (2019, 01 30). Kopi Indonesia Dipromosikan di Slowakia. Retrieved 12 19,


2019, from Baca: http://wap.mi.baca.co.id/17958689?
origin=relative&pageId=7ff205ac-54f3-4638-9728-00a983a301ba&PageIndex=2

Reavis, C., Ward, J., Torrebiarte, P., & Macray, D. (2005, 09 05). Coffee &
Conservation: Making the Connection. Retrieved 12 27, 2019, from Studylib.net:
https://www.google.com/search?q=COFFEE+%26+CONSERVATION:
+MAKING+THE+CONNECTION+COFFEE+%26+CONSERVATION:
+MAKING+THE+CONNECTION&safe=strict&rlz=1C1_____enID878ID878&
sxsrf=ACYBGNREOQZDHCaSR-AeV5y7-
yXtFvpP4g:1577384277365&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=2ahUKEw

Sembiring, C. (2019, 09 22). Sumatera Utara Penghasil Kopi Terbaik di Dunia.


Retrieved 12 26, 2019, from Kompasiana:
https://www.kompasiana.com/clarasembiring/5d8705370d8230681a432543/suma
tera-utara-penghasil-kopi-terbaik-di-dunia?page=all
118

Simatupang, M. D. (2019, 10 07). Kopi Sumut Potensi Terselubung di Sumatera Utara.


Retrieved 12 26, 2019, from Sumut Kabardaerah.com:
http://sumut.kabardaerah.com/kopi-sumut-potensi-terselubung-sumatera-utara/

Simatupang, M. D. (2019, 10 07). Kopi Sumut Potensi Terselubung di Sumatera Utara.


Retrieved 12 26, 2019, from Sumut Kabardaerah.com:
http://sumut.kabardaerah.com/kopi-sumut-potensi-terselubung-sumatera-utara/

Starbucks. (2010, 04 10). Starbucks Ethical Sourcing of Sustainable Products. Retrieved


01 13, 2020, from Starbucks.com:
https://www.starbucks.com/responsibility/sourcing

Starbucks. (2014, 01 08). Farming Communities. Retrieved 01 9, 2020, from


Starbucks.com: https://www.starbucks.com/responsibility/community/farmer-
support

Starbucks. (2014, 01 08). Investing in Coffee Communities. Retrieved 01 10, 2020, from
Starbucks.com: https://www.starbucks.com/responsibility/community/farmer-
support/social-development-investments

Starbucks Stories & News. (2018, 03 07). Starbucks Farmer Supports Centers. Retrieved
08 01, 2019, from Starbucks Stories & News:
https://stories.starbucks.com/press/2018/starbucks-farmer-support-centers/

Starbucks Stories & News. (2018, 4 7). Starbucks Support Centers. Retrieved 9 29, 2019,
from Starbucks Stories & News:
https://stories.starbucks.com/press/2018/starbucks-farmer-support-centers/

Starbucks.com (Director). (2010). Conservation International + Starbucks [Motion


Picture].

Suprianto, B. (2018, 06 12). SENTRA KOMODITAS SUMUT : Starbucks Dukung Kopi


Karo. Retrieved 07 31, 2019, from
https://sumatra.bisnis.com/read/20180612/436/805457/sentra-komoditas-sumut-
starbucks-dukung-kopi-karo

Tashandra, N. (2018, 06 10). Starbucks Farmer Support Center, Satu-satunya di


Indonesia. Retrieved 12 29, 2019, from Kompas.com:
https://lifestyle.kompas.com/read/2018/06/10/191900920/starbucks-farmer-
support-center-satu-satunya-di-indonesia?page=all

Tribun-Medan.com. (2019, 10 26). Ini 6 Kopi Asal Sumatera Utara yang Punya Sertifikat
Indikasi Geografis. Retrieved 12 24, 2019, from Tribun-Medan.com:
https://medan.tribunnews.com/2019/10/26/ini-6-kopi-asal-sumatera-utara-yang-
punya-sertifikat-indikasi-geografis

Unzilla, A. R. (2019, 1 8). Perjalanan Starbucks dari 1 Toko Kopi hingga Punya 30.000
Kafe di Dunia. Retrieved 9 29, 2019, from Okefinance:
119

https://economy.okezone.com/read/2019/01/08/320/2001571/perjalanan-
starbucks-dari-1-toko-kopi-hingga-punya-30-000-kafe-di-dunia