Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM

PIGMEN – PIGMEN DALAM KLOROPLAS


A. Tujuan
a. Mahasiswa terampil mengekstrasi pigmen – pigmen yang terdapat dalam kloroplas.
b. Mahasiswa terampil mengidentifikasi pigmen – pigmen yang terdapat dalam kloroplas.
B. Dasar teori
Kromatografi adalah suatu teknik pemisahan molekul berdasarkan perbedaan pola
pergerakan antara fase gerak dan fase diam untuk memisahkan komponen (berupa
molekul) yang berda pada larutan atau prosedur pemisahan zat terlarut oleh suatu proses
migrasi diferensial dinamis dalam system yang terdiri dari dua fase atau lebih, salah satunya
bergerak sacara berkesinambungan dalam arah tertentu dan dan di dalamnya zat-zat itu
menunjukan perbedaan mobilitas disebabkan adanya perbedaan adsorbs, partisi, kelarutan,
tekanan uap, ukuran molekul, atau kerapatan muatan ion, dinamakan kromatografi
sehingga masing-masing zat dapat di identifikasi atau ditetapkan dengan metode analitik.
Dalam teknik kromatografi, sampel yang merupakan campuran dari berbagai macam
komponen ditempatkan dalam situasi dinamis, dalam system yang terdiri dari fase dian dan
fase bergerak. Semua pemisahan pada kromatografi tergantung pada gerkan relative dari
masing-masing komponen di antara dua fase tersebut. Senyawa atau komponen yang
tertahan (terhambat) lebih lemah oleh fase diam akan bergerak lebih cepat daripada
komponen yang tertahan lebih kuat. Perbedaan gerakan (mobilitas) antara komponen yang
satu dengan yang lainnya disebabkan oleh perbedaan dalam adsorbsi, partisi, kelarutan
atau penguapan dia antara kedua fase. Jika perbedaan-perbadaan ini cukup besar, maka
akan terjadi pemisahn secara sempurna. Oleh karena itu dalam kromatografi, pemilihan
terhadap fase bergerak maupun fase diam perlu dilakukan sedemikian rupa sehingga semua
komponen bisa bergerak dengan kecepatan yang berbeda-beda agar dapat terjadi
pemisahan.  
Secara umum dapat dikatakan bahwa kromatografi adalah suatu proses migrasi
diferensial dinamis dalam system dimana komponen –komponen dalam cuplikan ditahan
secara selektif oleh fase diam. Kromatografi dapat di golongkan dapat digolonglkan
berdasrkan fase yang terlibat antar lain;
a. Kromatografi gas-cair, bila fase geraknya berupa gas dan fase diamnya  berupa cairan
yang dilapiskan pada padatan pendukung yang inert
b. Kromatografi gas-padat, bila fase geraknya berupa gas dan fase diamnya berupa
padatan yang dapat menyerap/mengadsorpsi.
c. Kromatografi cai-cair, bila fase gerak dan diamnya berupa cairan, dimana fase diamnya
dilapiskan pada permukaan padatan pendukung yang inert.
d. Kromatografi cair-padat, bila fase geraknya berupa gas sedangkan fase diamnya berupa
padat an yang amorf yang dapat menyerap.
KLT merupakan penerapan dari kromatografi adsorpsi. Fase diamnya adalah
pelarut/pengembang yang teradsorpsi pada permukaan adsorben sedangkan fase geraknya
adalah bagian dari pelarut/pengembang yang berfungsi menggerakan komponen.
KLT digunakan untuk tujuan identifikasi dengan cara membandingkan nilai Rf
komponen. Rf menyatakan perbandingan antara jarak yang ditempuh oleh suatu komponen
dalam suatu sample dan jarak yang ditempuh pelarut.
http://akhwatmiew.blogspot.co.id/2010/12/hasil-analisis-kromatografi-lapis-tipis.html

C. Alat dan Bahan


Alat
Alat Gambar
Gelas arloji

Tabung reaksi

Corong pisah

Gelasukur 10 ml dan 100 ml

Rak tabung reaksi


Beaker glass 100 Ml

Penyangga statif

Serbet

Pipet

Mortal dan pistil

Beaker glass 50ml

Penggaris

Neraca
Bahan
Bahan Gambar
Kertas kromatografi

Kertas saring

Daun tumbuhan

Aseton

Aquades

Petroliumeter

Kapas

Tusuk gigi

D. Metode Pengukuran
a. Pengukuran ds dilakukan dengan mengukur jarak masing – masing warna spot yang
terjadi dari penetesan awal.
b. Pengukuran de dilakukan dengan mengukur panjang jarak yang ditempuh oleh eluat
pada kertas WI atman.

E. Prosedur
a. Memotong beberapa lembar daun (±5 g) yang berwarna hijau, digerus dalam mortar
sampai halus.
b. Ditambahkan kurang lebih 30mL aseton pada daun tersebut sambal digerus, selanjutnya
disaring ke dalam corong pisah, ditambah 10 ml petroleum eter dan dikocok.
c. Ditambahkan 10 ml aquades kocok dan didiamkan beberapa saat sampai memisah, air
dikeluarkan dari kran bawah. Mengulangi penambahan air (pencucian) 3-4 kali sampai
pigmen tidak berbau aseton.
d. Mengeeluarkan larutan pigmen dari mulut corong pisah, dituangkan ke dalam gelas
piala dan dibiarkan menguap.
e. Menyiapkan campuran eluat (1 ml aseton dan 9 ml petroleum eter) ke dalam tabung
reaksi, dikocok sampai homogen. Mengambil 1 ml eluat dan dimasukkan dalam tabung
reaksi yang dipakai untuk ruang elusi. Menjenuhkan tabung (ruang elusi) dengan uap
eluat.
f. Menyediakan kertas kromatografi sesuai dengan lebar dan panjang tabung reaksi.
Membuat garis pada jarak 1 cm dari ujung kertas dengan pensil kemudian membuat
garis baru dengan jarak 10 cm dari garis yang pertama.
g. Mengambi larutan pigmen dengan pipa kapiler, membuat spot pigmen pada kertas
kromatografi dengan pipa kapiler tersebut.
h. Setelah pot kering kertas dimasukkan dalam tabung reaksi yang sudah jenuh dengan
uap eluat, spot tidak sampai menyentuh larutan eluat, menutup tabung dengan kapas.
i. Meletakkan tabung pada rak tabung, membiarkan eluat bergerak pada kertas tersebut.
Jika eluat sudah mencapai garis batas yang atas 10 cm elusi dihentikan, mengambil
kertas dari tabung dan dibiarkan kering di udara.
j. Mengamati warna – warna spot yang terjadi pada kertas kromatografi. Menghitung
masing – masing Rf nya.

F. Hasil Pengamatan
No. Bahan Panjang Panjang Rf
Pigmen (ds) Pelarut (de) (ds/de)
1. Daun X
Warna hijau (1a) 4 10 4/10 = 0,4
Warna kuning (1b) 10 10 10/10 = 1
2. Daun Petai Cina
Warna hijau (2a) 3,4 10 3,4/10 = 0,34
Warna kuning (2b) 10 10 10/10 = 1
3. Daun Jambu
Warna hijau (3a) 4,4 10 4,4/10 = 0,4
Warna kuning (3b) 10 10 10/10 = 1

G. Analisis Data
Pada percobaan pigmen-pigmen dalam kloroplas, kelompok 5 menggunakan daun X,
sedangkan sampel pigmen kloroplas yang digunakan kelompok lain berasal dari daun Petai
Cina, serta daun Jambu. Selama pergerakan bersama fase gerak, solut (pigmen) akan
dihambat oleh fase diam. Sebab, selain berada dalam fase gerak tetapi juga sering berada
dalam fase diam. Besarnya hambatan tersebut dinyatakan dengan nilai Rf (Retardation
factor), dengan rumus:

ds
Rf =
de

Rf = retardation factor
ds = jarak yang ditempuh senyawa (solute)
de = jarak yang ditempuh eluat

4
Rf (1 a)= =0,4
10
10
Rf (1 b)= =1
10
3,4
Rf (2 a)= =0,34
10
10
Rf (2 b)= =1
10
4,4
Rf (3 a)= =0,44
10
10
Rf (3 b)= =1
10
Membandingkan dengan harga tabel (Horborne, 1987)
Pigmen Rf Warna di bawah
cahaya
Foefitin a 0.93 Kelabu
Foefitin b 0.80 Coklat Kuning
Klorofil a 0.60 Hijau Biru
Klorofil b 0.35 Hijau Kuning
Foeforbida a 0.18 Kelabu
Foeforbida b 0.07 Coklat kuning
Klorofilida a 0.03 Hijau Biru
Klorofilida b 0.02 Hijau Kuning

Rf 1a (0,4) = pada tabel lebih mendekati 0,35


Rf 1b (1) = pada tabel lebih mendekati 0,93
Rf 2a (0,34) = pada tabel lebih mendekati 0,35
Rf 2b (1) = pada tabel lebih mendekati 0,93
Rf 3a (0,44) = pada tabel lebih mendekati 0,35
Rf 3b (1) = pada tabel lebih mendekati 0,93

 Rf 1a berdasarkan tabel merupakan Klorofil b yang berwarna Hijau Kuning pada


pengamatan berwarna hijau.
 Rf 1b berdasarkan tabel merupakan Foefitin a yang berwarna Kelabu pada pengamatan
berwarna kuning.
 Rf 2a berdasarkan tabel merupakan Klorofil b yang berwarna Hijau Kuning pada
pengamatan berwarna hijau.
 Rf 2b berdasarkan tabel merupakan Foefitin a yang berwarna Kelabu pada pengamatan
berwarna kuning.
 Rf 3a berdasarkan tabel merupakan Klorofil b yang berwarna Hijau Kuning pada
pengamatan berwarna hijau.
 Rf 3b berdasarkan tabel merupakan Foefitin a yang berwarna Kelabu pada pengamatan
berwarna kuning.

H. Pembahasan
Daun yang berbeda kemungkinan juga menunjukkan perbedaan kandungan
pigmennya. Adanya perbedaan tingkat kelarutan pigmen dalam eluat pada saat elusi dapat
menyebabkan terjadinya pemisahan komponen-komponennya. Pigmen yang mempunyai
kelarutan yang tinggi akan mengikuti eluat sampai jarak yang paling jauh. Selama
pergerakannya bersama fase gerak, solute akan dihambat oleh fase diam sebab solute
berada dalam fase gerak tetapi juga bias berada dalam fase diam. Besarnya nilai hambatan
tersebut dinyatakan dengan nilai Rf (Dahlia, 2001)
Pada setiap Rf yang dihasilkan maka akan mempengaruhi jenis pigmen dan warna
klorofilnya. Pada table di bawah ini terlihat warna klorofil dari hasil Rf serta untuk
menentukan jenis pigmen yang dihasilkan dari data pengamatan. Tabel jenis pigmen, Rf,
dan warna klorofil (Harbone, 1984:262).
Pigmen Rf Warna di bawah cahaya
Foefitin a 0.93 Kelabu
Foefitin b 0.80 Coklat Kuning
Klorofil a 0.60 Hijau Biru
Klorofil b 0.35 Hijau Kuning
Foeforbida a 0.18 Kelabu
Foeforbida b 0.07 Coklat kuning
Klorofilida a 0.03 Hijau Biru
Klorofilida b 0.02 Hijau Kuning

Pada spot daun X, daun Petai Cina, dan daun Jambu yang harga Rf nya 0,4; 0,34; 0,44
menandakan adanya klorofil b yang seharusnya memiliki warna hijau kuning namun pada
hasil pengamatan warnanya hijau. Ini disebabkan oleh beberapa faktor kemungkinan antara
lain pada saat larutan diekstraksi bau pada larutan belum benar-benar hilang yang nantinya
akan mengakibatkan penyerapan eluat tidak maksimal. Faktor lain juga bisa terjadi akibat
saat menguapkan eluat belum terlalu kering sudah ditotolkan pada kertas kromatografi.
Kurangnya ketelitian saat menentukan warna juga mempengaruhi ketidak cocokkan antara
teori dengan hasil pengamatan.
Hal ini juga terjadi pada spot daun X, daun Petai Cina, dan daun Jambu yang harga Rf
nya 1 adalah paling tinggi dan merupakan pigmen yang mempunyai nilai kelarutan paling
tinggi juga yang menandakan adanya feotitin a seharusnya memiliki warna kelabu namun
pada hasil pengamatan warnanya kuning. Hal ini disebabkan karena larutan pigmen dapat
mengikuti jalannya larutan eluat hingga jarak terjauh. Dapat dilihat bahwa kelarutan tertinggi
akan mengakibatkan kelajuan yang tinggi pula. Hal ini mungkin bisa terjadi karena kurang
telitinya saat mengamati dan menentukan warna sehingga didapat data yang berbeda
dengan literatur. Faktor lain yang berpengaruh adalah mungkin saat mengekstraksi larutan
bau pada larutan belum dihilangkan secara maksimal, sehingga penyerapan eluat tidak
maksimal.

I. Kesimpulan
Pigmen yang diperoleh dalam praktikum ini seharusnya berwarna hijau kuning dan
kelabu. Penentuan pigmen dalam praktikum ini ditentukan dengan membandingkan nilai
perhitungn Rf dari hasil percobaan dengan yang mendekati nilai Rf pada literatur.
J. Diskusi
1. Mengapa ruang elusi harus dijenuhkan dulu dengan eluat?
Ruang elusi harus dijenuhkan dulu dengan eluat. Ketika ruang elusi dijenuhkan, uap dari
eluat akan memenuhi tabung sehingga ketika kertas whatman dimasukkan, maka proses
elusi bisa dilakukan dengan maksimal. Penjenuhan ruang elusi bertujuan untuk
memperkecil penguapan pelarut dan akan menghasilkan bercak lebih bundar dan lebih
baik.

2. Mengapa eluat tidak boleh menyentuh spot pada saat awal elusi?
Eluat tidak boleh menyentuh spot pada saat elusi. Hal ini berkaitan dengan sifat kapilaritas
yang dimiliki oleh kertas kromatografi terhadap larutan. Apabila spot mengenai larutan,
kemungkinan pigmen-pigmen justru bergerak ke arah eluat di bawah tabung sehingga
tidak bisa diamati komponen-komponennya.

3. Uraikan secara rinci jika saudara memperoleh harga Rf yang tidak dapat dibandingkan
dengan literature!
Harga Rf dan warna yang kami peroleh tidak sesuai literatur, Hal ini mungkin bisa terjadi
karena kurang telitinya saat mengamati dan menentukan warna sehingga didapat data
yang berbeda dengan literatur. Faktor lain yang berpengaruh adalah mungkin saat
mengekstraksi larutan bau pada larutan belum dihilangkan secara maksimal, sehingga
penyerapan eluat tidak maksimal.

4. Bandingkan dengan hasil pengukuran teman saudara yang lain. Bagaimana hasilnya?
No Bahan Panjang Panjang Rf
. Pigmen (ds) Pelarut (de) (ds/de)
1. Daun X
Warna hijau (1a) 4 10 0,4
Warna kuning (1b) 10 10 1
2. Daun Petai Cina
Warna hijau (2a) 3,4 10 0,34
Warna kuning (2b) 10 10 1
3. Daun Jambu
Warna hijau (3a) 4,4 10 0,4
Warna kuning (3b) 10 10 1

No Bahan Panjang Panjang Rf


. Pigmen (ds) Pelarut (de) (ds/de)
1. Daun jambu air
Warna hijau (1a) 1,9 10 0,19
Warna kuning (1b) 9 10 0,9
2. Daun Petai Cina
Warna hijau (2a) 1,5 10 0,15
Warna kuning (2b) 8,2 10 0,82
3. Daun X
Warna hijau (3a) 8,9 10 0,89
Warna kuning (3b) 10 10 1
Hasil pengukuran yang diperoleh berbeda dengan perhitungan kelompok lain, hal itu
disebabkan karena perbedaan rambatan eluat pada kertas kromatografi, dan juga bisa
disebabkan karena eluat menyentuh spot pada saat elusi.

5. Masalah-masalah apa yang saudara jumpai dalam kegiatan pengamatan ini?


Masalah yang dijumpai diantaranya Eluat yang berjalan rambat, Warna yang tidak jelas
sehingga sedikit kesulitan untuk menentukan warna yang tampak pada pengamatan, dan
hasil solute terkadang tidak jelas untuk diamati sehingga mengalami kesulitan untuk
menghitung ds.

K. Daftar Pustaka
Dahlia, dkk.2001. Petunjuk Praktikum Fisiologi Tumbuhan. Malang: FMIPA Universitas Negeri
Malang
Harborne, dkk. 1984. Fisiologi Tumbuhan. Bandung: ITB
Pratama, Tomi Anugrah. 2009. Pigmen Fotosintetik. Padang: Universitas Andalas
Underwood. 2002. Analisis Kimia Kuantitatif Edisi Keenam. Jakarta: Erlangga
http://akhwatmiew.blogspot.co.id/2010/12/hasil-analisis-kromatografi-lapis-tipis.html
http://pendidikan-biolog.blogspot.co.id/2014/09/laporan-pigmen-dalam-kloroplas.html

LAMPIRAN