Anda di halaman 1dari 11

STUDI KASUS HAZOP

PROBLEM
Sebuah sistem reaktor ditunjukkan oleh gambar diatas. Reaksi yang terjadi adalah reaksi
eksotermik, sehingga diperlukan sistem pendingin untuk memindahkan excess dari energi rekasi
yang dihasilkan. Dalam suatu kasus apabila sistem pendingin gagal, temperatur dari reaktor akan
meningkat. Ini akan menyebabkan naiknya laju dari reaksi, sehingga semakin banyak energi
reaksi yang dilepaskan. Hal ini akan berujung pada reaksi yang tidak terkendali, dengan tekanan
pada tangki yang naik secara drastis dan melebihi batas aman yang diperbolehkan. Temperatur
didalam reaktor diukur untuk menghitung dan mengontrol kebutuhan laju air pendingin dengan
menggunakan sebuah valve. Lakukan HAZOP study untuk meningkatkan safety dari proses.
Gunakan cooling coil (dengan paramater proses flow dan temperatur) dan pengaduk (dengan
parameter proses adalah pengadukan) sebagai parameter yang ditinjau.

JAWAB
Dalam masalah ini, akan digunakan dua alat yang ditinjau sebagai parameter yaitu cooling coil
dan pengaduk/agitator. Untuk masalah pertama, akan ditinjau terlebih dahulu mengenai cooling
coil. Masalah yang ditinjau adalah aliran/rate dari air pendingin serta temperatur dari air
pendingin yang dipakai. Untuk rate aliran pendingin, terdapat 10 deviasi yang mungkin terjadi
yaitu tidak ada aliran (guide word : no), rate yang terlalu cepat (guide word : high), rate yang
terlalu lambat (guide word : low), air pendingin terlalu cepat sampai pada reaktor dengan rate
aliran normal (guide word : sooner than), air pendingin terlalu lambat sampai pada reaktor
dengan rate aliran normal (guide word : later than), aliran yang mengalir bukanlah air pendingin
(guide word : other than), aliran yang mengalir mengalami penambahan aktivitas/komponen
sebagai mestinya seperti adanya kontaminan (guide word : as well as), adanya operasi yang tidak
berjalan normal pada aliran sehingga hanya sebagian dari operasi yang diinginkan berjalan
(guide word : part of), maksud dari operasi (aliran) berlawanan dari yang diinginkan (guide
word : reverse), serta yang terakhir aliran air pendingin tidak menuju reaktor (guide word :
where else)
KASUS 1 UNTUK COOLING COILS
a. No Flow (unit yang ditinjau: cooling coils)
Untuk pertama akan ditinjau kasus berupa tidak adanya aliran air pendingin yang mengalir
(guide word : no). Hal ini dapat terjadi karena beberapa penyebab yang ditampilkan dalam tabel
berikut :
Penyebab Konsekuensi Hal yang harus dilakukan
Adanya kegagalan pada Hilangnya media pendingin, Menggunakan valve jenis fail
control valve yang mengatur rate reaksi naik, reaksi tak open, sehingga ketika adanya
aliran air pendingin yang terkendali dalam reaktor kegagalan merupa hilangnya
menyebabkan valve tertutup (akumulasi pressure) pressure atau daya
dan aliran tidak dapat lewat. menyebabkan valve terbuka
Karena adanya kegagalan dan air tetap mengalir
menyebabkan valve tertutup
(misal hilangnya power atau
pressure), maka kemungkinan
besar digunakan valve jenis
fail closed
Terhambatnya aliran oleh suatu Hilangnya media pendingin, 1. Memasang penyaring yang
benda asing rate reaksi naik, reaksi tak dapat menyaring benda-benda
terkendali dalam reaktor asing yang berpontensi
(akumulasi pressure) menyumbat agar tidak terikut
dengan aliran air pendingin.
Selain itu, perawatan secara
berkala pada penyaring juga
perlu untuk membuang
penumpukan benda yang
tersaring.
2. Memasang flow meter yang
mengukur rate air pendingin
serta alarm yang aktif bila
aliran air pendingin
terdekteksi tidak ada
sehingga hilangnya flow
dapat terdeteksi
3. Memasang alarm pada
reaktor dimana alarm aktif
pada suhu tinggi sehingga
apabila sistem pendingin
tidak bekerja dan
menyebabkan suhu reaktor
naik, dapat terdeteksi lebih
cepat.
Kegagalan dari sistem Hilangnya media pendingin, Pengecekan dan monitoring
penyedia air pendingin rate reaksi naik, reaksi tak tiap waktu kondisi aliran air
(misalnya kurangnya suplai terkendali dalam reaktor pendingin dari sumbernya
pada sumber air pendingin (akumulasi pressure) untuk mendeteksi adanya
menyebabkan tidak tersedia masalah dari sumber
cukup air pendingin untuk penyedia air pendingin.
dapat mengalir).
Kegagalan pada controller Hilangnya media pendingin, Menempatkan controller pada
sehingga menyebabkan wrong rate reaksi naik, reaksi tak safety critical element (SCE),
signal menyebabkan valve terkendali dalam reaktor sehingga design,perawatan
tertutup. (akumulasi pressure) serta operasinya menjadi
perhatian utama untuk
mencegah kegagalan.
Adanya kegagalan pada sistem Hilangnya media pendingin, Menggunakan valve jenis fail
air pressure valve, rate reaksi naik, reaksi tak open, sehingga ketika adanya
menyebabkan valve terutup terkendali dalam reaktor kegagalan berupa hilangnya
karena hilangnya pressure ini (akumulasi pressure) pressure menyebabkan valve
(Fail closed/Air to open valve) terbuka dan air tetap mengalir

b. High Flow (unit yang ditinjau: cooling coils)


Selanjutnya adalah apabila rate dari aliran air pendingin terlalu cepat :
Penyebab Konsekuensi Hal yang harus dilakukan
Adanya kegagalan pada Suhu reaktor menjadi Mengupdate prosedur yang
control valve yang mengatur dibawah semestinya, rate ada sehingga rate dapat diatur
aliran air pendingin yang reaksi lebih lambat dari normal kembali serta
menyebabkan valve terbuka semestinya, reaktan menginstruksi operator untuk
penuh sehingga rate menjadi terkosentrasi dalam reaktor segera mengatur bukaan
lebih tinggi dari semestinya valve agar sesuai.
(pada kasus air to close valve)
Kegagalan pada controller Suhu reaktor menjadi Menempatkan controller pada
sehingga menyebabkan wrong dibawah semestinya, rate safety critical element (SCE),
signal menyebabkan valve reaksi lebih lambat dari sehingga design,perawatan
terbuka. semestinya, reaktan serta operasinya menjadi
terkosentrasi dalam reaktor perhatian utama untuk
mencegah kegagalan.

c. Low Flow (unit yang ditinjau: cooling coils)


Selanjutnya adalah apabila rate dari aliran air pendingin terlalu rendah :
Penyebab Konsekuensi Hal yang harus dilakukan
Adanya penyumbatan sebagian Kapasitas air pendingin 1. Memasang penyaring yang
pada cooling coil oleh benda berkurang, heat tranfer dapat menyaring benda-benda
asing menyebabkan aliran yang berkurang, suhu dapat asing yang berpontensi
dapat lewat melambat. menjadi naik akibat heat menyumbat agar tidak terikut
transfer tidak maksimal dengan aliran air pendingin.
menyebabkan rate reaksi Selain itu, perawatan secara
naik dan akumulasi tekanan berkala pada penyaring juga
pada reaktor. perlu untuk membuang
penumpukan benda yang
tersaring.
2. Memasang flow meter yang
mengukur rate air pendingin
serta alarm yang aktif bila
aliran air pendingin
terdekteksi melambat
sehingga melambatnya flow
dapat terdeteksi
3. Memasang alarm pada
reaktor dimana alarm aktif
pada suhu tinggi sehingga
apabila sistem pendingin
tidak bekerja dan
menyebabkan suhu reaktor
naik, dapat terdeteksi lebih
cepat.
Kegagalan dari sistem Kapasitas air pendingin Pengecekan dan monitoring
penyedia air pendingin berkurang, heat tranfer tiap waktu kondisi aliran air
(misalnya kurangnya suplai berkurang, suhu dapat pendingin dari sumbernya
pada sumber air pendingin) menjadi naik akibat heat untuk mendeteksi adanya
sehingga menyebabkan aliran transfer tidak maksimal masalah dari sumber
melambat menyebabkan rate reaksi penyedia air pendingin.
naik dan akumulasi tekanan
pada reaktor
Valve tidak dapat merespond Kapasitas air pendingin Menempatkan valve pada
signal yang masuk berkurang, heat tranfer safety critical element (SCE),
sebagaimana mestinya berkurang, suhu dapat sehingga design,perawatan
sehingga tidak dapat menutup menjadi naik akibat heat serta operasinya menjadi
atau membuka sesuai yang transfer tidak maksimal perhatian utama untuk
diinginkan menyebabkan rate reaksi mencegah kegagalan.
naik dan akumulasi tekanan
pada reaktor

d. Adanya Kontaminan Pada Air Pendingin (As Well As)


Hal ini terjadi misalnya bila aliran yang mengalir mengalami penambahan
aktivitas/komponen sebagai mestinya seperti adanya kontaminan yang masuk. Pada analisis, hal
ini tidak dimungkinkan ataupun kemungkinan yang terjadi sangat kecil karena asumsi air yang
diambil pada sumbernya sudah dilakukan quality control untuk menjaga konsentrasi impurities
didalamnya.

e. adanya operasi yang tidak berjalan normal sehingga aliran melambat (Part Of)
Contoh dari kasus ini sudah dibahas pada kasus dimana aliran menjadi lambat pada poin c,
yang bisa diakibatkan oleh poin-poin permasalahan pada poin c. Sehingga, konsekuensi dan
penanggulangannya tetap sama dengan poin c.

f. Maksud operasi berlawanan dengan yang diinginkan (reverse)


Diambil kasus dimana arah aliran berlawanan dengan operasi yang diharapkan (backflow)
sebagaimana berikut :
Penyebab Konsekuensi Hal yang harus dilakukan
Seperti pada poin no flow Hilangnya media pendingin, 1. Memasang penyaring yang
ataupun low flow, adanya rate reaksi naik, reaksi tak dapat menyaring benda-benda
benda asing dapat terkendali dalam reaktor asing yang berpontensi
menyebabkan aliran air (akumulasi pressure) menyumbat agar tidak terikut
pendingin dikembalikan dengan aliran air pendingin.
kembali ke sumbernya Selain itu, perawatan secara
berkala pada penyaring juga
perlu untuk membuang
penumpukan benda yang
tersaring.
2. Memasang flow meter yang
mengukur rate air pendingin
serta alarm yang aktif bila
aliran air pendingin
terdekteksi tidak ada
sehingga hilangnya flow
dapat terdeteksi
3. Memasang alarm pada
reaktor dimana alarm aktif
pada suhu tinggi sehingga
apabila sistem pendingin
tidak bekerja dan
menyebabkan suhu reaktor
naik, dapat terdeteksi lebih
cepat.
Tekanan pada sistem lebih Suhu reaktor menjadi Memasang check valve pada
tinggi daripada pada sumber air dibawah semestinya, rate aliran yang mengizinkan
pendingin dengan suatu reaksi lebih lambat dari aliran hanya terjadi pada satu
penyebab, sehingga semestinya, reaktan arah sehingga mencegah
menciptakan back pressure terkosentrasi dalam reaktor reverse flow
yang menyebabkan arah aliran
air pendingin menuju kembali
ke sumbernya

g. Aliran masuk lebih cepat dengan rate sesuai (sooner than)


Apabila hal ini terjadi, yang terjadi adalah pendinginan yang lebih cepat terjadi, tetapi karena
rate normal suhu dapat dinaikkan kembali ke suhu normalnya sehingga tidak ada konsekunsi
berbahaya dari proses ini.

h. Aliran masuk lebih lambat dengan rate sesuai (later than)


Apabila hal ini terjadi, maka proses pendinginan dimulai lebih lambat dari semestinya.
Apabila suhu reaktor sudah terlanjur naik secara drastis, maka suhu reaksi menjadi tidak tidak
terkontrol akibat ratenya yang naik tajam. Hal ini biasa disebabkan oleh kesalahan operator
(human error). Hal ini dapat diatasi dengan membuat sistem interlock antara aliran air pendingin
dan feed reaktor (misalnya dengan memasang sensor yang dapat mendeteksi aliran air pendingin
masuk sehingga feed hanya akan tersuplai kedalam reaktor sesaat air pendingin sudah masuk).

i. aliran yang mengalir bukanlah air pendingin (other than)


Kasus ini tidak mungkin terjadi sesuai penjelasan pada poin d, dimana telah dilakukan
pemantauan pada sumber dari media pendingin sehingga tidak mungkin media yang mengalir
bukanlah air pendingin.

j. Air pendingin tidak masuk ke reaktor (where else)


Kasus ini tidak mungkin terjadi nkarena arah aliran air pendingin sudah pasti hanya berada
pada satu arah menuju reaktor sehingga air pendingin mengalir pada cooling coil sudah pasti
menuju kedalam reaktor

KASUS 2 UNTUK COOLING COILS


Untuk tipe deviasi kedua yang dipelajari adalah temperatur dari pendingin pada rate air
pendingin yang telah sesuai. Hal ini terbagi menjadi dua deviasi yaitu :
a. Suplai air pendingin pada temperatur yang lebih rendah (guide words : low)
Pada kasus ini, air pendingin mengalir dengan rate yang telah sesuai tetapi temperaturnya
dibawah sebagaimna yang diharapkan. Pada kondisi yang tidak terlalu ekstrim, hal ini hanya
menyebabkan rate reaksi akan melambat pada mulanya tetapi akan naik kembali seiring panas
yang dilepas reaksi. Konsekunsi dapat diatasi dengan penanganan dari controller dengan
mengatur suhu air menggunakan heater.
b. Suplai air pendingin pada temperatur yang lebih tinggi (guide word : high)
Pada kasus ini, air pendingin mengalir dengan rate yang telah sesuai tetapi temperaturnya
lebih tinggi dari yang ditentukan. Kasus ini dapat disebabkan karena kesalahan pada sistem
pemanas sehingga pendinginan pada reaktor tidak maksimal, temperatur dalam reaktor
meningkat menyebabkan rate reaksi meningkat dan terjadinya reaksi tidak terkendali bila tidak
dapat dikontrol. Hal ini dapat diatasi dengan memasang alarm yang akan aktif ketika suhu air
pendingin naik dari yang semestinya sehingga langkah preventif dapat diambil.
KASUS STIRRER
Masalah dilanjutkan dengan studi kasus pada stirrer dimana yang ditanjau adalah sistem
pengadukan. Terdapat dua deviasi yaitu pengadukan tidak berjalan (guide word : no) dan
pengadukan berlangsung terlalu cepat (guide word : more).
a. Pengadukan tidak berjalan (guide word : no)
Pengadukan yang tidak berjalan dapat disebabkan oleh hal-hal berikut :
Penyebab Konsekunsi Hal yang harus dilakukan
Adanya kerusakan pada motor Mixing tidak berlangsung, Membangun sistem interlock
pengaduk rate reaksi melambat, antara stirrer dan aliran feed
akumulasi reaktan yang (misalnya memasang sensor
belum bereaksi yang secara otomatis
menghentikan aliran feed
ketika stirrer berhenti)
Hilangnya power masuk pada Mixing tidak berlangsung, Memasang valve sistem fail
pengaduk rate reaksi melambat, closed ketika power ke sistem
akumulasi reaktan yang hilang untuk mencegah
belum bereaksi karena reaktan terus masuk dan
reaktan terus masuk terakumulasi pada reaktor

b. Pengadukan terlalu cepat (guide word : yes)


Hal ini dapat diakibatkan rusaknya controller motor pengaduk sehingga gagal merespon
signal masuk dan karenanya RPM dari pengaduk naik. Hal ini dapat mengakibatkan rate reaksi
naik tetapi efek dari naiknya derajat pengadukan tidak seekstrim ketika temperatur yang naik.
Karenanya, hal ini dapat diabaikan dan tidak menimbulkan konsekuensi
Kesemua analisis HAZOP yang dilakukan dapat dirangkum dalam form studi HAZOP berikut :

Dari analisis hazop tersebut, dapat ditentukan modifikasi yang dilakuakan dalam proses/unit
operasi melihat dari aksi yang diambil (action required) yaitu sebagai berikut :
 Memasang alarm yang akan aktif ketika temperatur dalam reaktor naik sehingga langkah
preventif untuk mengembalikan fungsi pendinginan dapat diambil sebelum rate reaksi
menjadi tidak terkandali
 Memasang sistem shutdown yang akan meng-shutdown proses ketika temperatur naik
(proses akan berhenti dimana feed line ke reaktor ditutup, pengaduk dihentikan untuk
mendorong reaksi dapat berhenti). Suhu ketika sistem shutdown aktif diatur lebih tinggi
dari high-temperature alarm pada poin sebelumnya untuk memberi waktu bagi operator
dapat mengembalikan sistem pendinginan sebelum reaksi benar-benar otomatis
diberhentikan
 Menginstal check valve sehingga aliran diizinkan hanya terjadi pada satu arah sehingga
mencegah reverse flow bila terjadi back pressure pada sistem
 Pengecekan secara berkala cooling coil sehingga kemampuannya tetap terjaga dan
mencegah adanya kontaminan/benda asing dalam aliran air pendingin
 Mempelajari lebih dalam mengenai sumber air yang dipakai sebagai pendingin untuk
mengetahui kontaminannya dan efeknya terhadap proses heat transfer dalam reaktor
ataupun pada aliran (misalnya kemungkinan terjadinya pengendapan)
 Memasang flow meter pada aliran air pendingin untuk dapat mengetahui rate aliran ataupun
alarm yang aktif ketika rate aliran berkurang sehingga apabila rate air pendingin kurang
yang dapat menyebabkan kapasitas pendinganan dalam reaktor kurang, maka suatu
langkah preventif dapat diambil