Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

PENGANTAR STUDI AL QUR’AN

“TEORI MAKKI DAN MADANI”

Dosen Pengampu :

Ida Faridatul Hasanah M.Pd

Disusun oleh :

1. Desri Hidayat ( 2011010474)

2. Khoirunnisa Aulia (2011010078)

3. Siti Faralismitha (2011010468)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN INTAN LAMPUNG

TAHUN 2020
KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr.wb.

Syukur alhamdulilah kami ucapakan ke hadirat Allah SWT, yang telah memberi
taufiq, hidayah dan inayah-Nya kepada kita semua. Shalawat serta salam semoga senantiasa
tercurahkan kepada baginda Nabi Muhammad SAW, yang telah menunjukkan kita jalan yang
lurus yang diridhai Allah SWT, sehingga penulisan makalah yang berjudul “Teori makki dan
madani ” ini dapat terselesaikan. Kami juga mengucapkan banyak terima kasih kepada Ibu
Ida Faridatul Hasanah M.Pd yang telah membimbing kami sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah ini dengan baik.

Kami juga menyadari bahwa penyusunan makalah ini meski sudah dilakukan secara
optimal, namun tidak menutup kemungkinan banyak kekurangan. Oleh karena itu saran dan
kritik sangat diharapkan demi perbaikan makalah ini khususnya dan peningkatan kinerja
penulis pada masa yang akan datang.

Kami berharap semoga makalah ini bermanfaat, khususnya bagi rekan-rekan


mahasiswa Universitas Islam Negri Raden Intan Lampung yang sedang menuntut ilmu demi
kesuksesan masa depan.

Wasslamualaikum wr.wb.

Bandar Lampung, oktober 2020

Kelompok 4
DAFTAR ISI

JUDUL……………………………………………………………………………………….i

KATAPENGANTAR……………………………………………………………………….ii

DAFTAR ISI………………………………………………………………………………..iii

BAB I PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Masalah……………...………………………….….………………1


B.Rumusan Masalah…………………………………………………………..……….1
C..Tujuan………………………………………………………………………………1
D.Manfaat……………………………………………………….……………………..1

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Makkiyyah dan Madaniyyah…………………...………………………….2


B. Ciri-ciri Makkiyah dan Madaniyyah……………………………………......…………2
C. Pembagian Makkiyah dan Madaniyyah……………………………………………….3
D. Hal Yang Diperselisihkan oleh Para Ulama Mengenai Kategori Pembagian Makkiyah
dan Madaniyyah………………………………………………………………………4
E. Manfaat Mengetahui Makkiyah dan Madaniyyah…………………………………….5

BAB III PENUTUP

A.Simpulan……………………………………………………………………………...……..7

B.Saran………………………………………………………………………………………...7
DAFTAR PUSTAKA
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Al-Qur’an adalah pedoman utama bagi umat Islam, sudah menjadi keharusan bagi kita untuk
berusaha memahami dan menelaah pedoman tersebut, sehingga dapat menjadi petunjuk bagi
kehidupan. Al-Qur’an merupakan wahyu yang berasal dari Allah SWT yang disampaikan
kepada nabi Muhammad melalui perantara Jibril.

Al-Qur’an tidaklah proaktif memberi petunjuk layaknya manusia. Manusialah yang sejatinya
bertanggung-jawab membuat al-Qur’an aktif berbicara, sehingga ia berfungsi sebagaimana
layaknya petunjuk. Agar al-Qur’an proaktif memberi petunjuk pada manusia 4rosaic jalan
yang benar, Tuhan mengutus nabi Muhammad yang diberi tugas menjadi penyampai dan
penjelas bagi al-Qur’an agar dia mudah dipahami manusia.

Al-Qur’an diturunkan saat Rasulallah berada di kota-kota, pedesaan, gunung-gunung,


lembah-lembag, lereng-lereng, serta pada waktu yang berbeda-beda, seperti malam, siang,
dalam perjalanan, di dalam kota, pada musim panas, musim dingin, dalam keadaan damai
maupun dalam keadaan perang. Namun ulama-ulama klasik sepakat bahwa secara umum
ayat-ayat/surat-surat dalam al-Qur’an dikatagorisasikan ke dalam Makkiyah dan
Madaniyyah.

Pada masa Nabi Muhammad hidup, segala persoalan yang dirujukkan pada al-Qur’an dan
hadits tidak memerlukan metode intrepretasi, lantaran Muhammad mampu memberikan
penjelasan yang mudah ditangkap umat. Problem intrepertasi muncul pasca nabi Muhammad
ketika al-Qur’an dan hadits berubah wujud menjadi ungkapan-ungkapan tulisan dan kedua
sumber itu mulai menyebar ke daerah-daerah luar di luar masyarakat dan situasi ketika
keduanya diturunkan. Berbagai metode interpertasi yang dirumuskan para mujtahid dalam
berijtihad memburu pesan Al-Qur’an khususnya kemudian melahirkan berbagai disiplin
seperti, Ulumul Qur’an.

B.Rumusan Masalah

1.Apa pengertian makkiyah dan madaniyah?

2.Apa saja ciri ciri dari makkiyah dan madaniyah?

3.Bagaimanakah pembagian surah makkiyah dan madaniyah?

4.Apa saja hal yang diperselisihkan para ulama mengenai kategori makkiyah dan
madaniyah?

5.Apa sajakah manfaat mengetahui surat makkiyah dan madaniyah?


C.Tujuan Penulisan

1.Mengetahui pengertian makkiyah dan madaniyah

2.Mengetahui ciri ciri dari makkiyah dan madaniyah ko


3.Mengetahui macam makkiyah dan madaniyah
4.Mengetahui hal-hal yang diperselisihkan para ulama mengenai teori makkiyah dan madaniyyah
5.Mengetahui manfaat surat makkiyah dan madaniyah
Nama : Desri Hidayat

Npm : 2011010078

BAB II

PEMBAHASAN

1.Pengertian Makkiyah dan Madaniyah

Makkiyah adalah ayat-ayat yang turun sebelum Rasulullah SAW hijrah ke


Madinah.Surah-surahMakkiyah turun selama 12 tahun, 5 bulan, 13 hari, dimulai pada 17
Ramadhan (Februari 610 M), saat Nabi berusia 40 tahun.

Madaniyah adalah istilah yang diberikan kepada ayat AL Qur’an yang diturunkan
di Madinah atau diturunkan setelah Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Sebuah surat dapat
terdiri atas ayat-ayat yang diturunkan di Madinah secara keseluruhan namun bisa juga
sebagian diturunkan di Mekkah (Makkiyah).

• Teori Geografis

Menurut teori ini, pengertian Makkiyah adalah ayat yang turun di Makkah, baik waktu
turunnya sebelum Rasulullah SAW hijrah maupun sesudahnya. Sedangkan pengertian
Madaniyah adalah ayat yang turun di Madinah baik waktu turunnya sebelum Rasulullah
SAW hijrah maupun sesudahnya.

Namun, pada kenyataanya ada beberapa ayat Al-Qur'an yang tidak turun di wilayah
Makkah ataupun Madinah, seperti tempat turunnya Q.S At-Taubah: 42 adalah di Tabuk, Q.S
Az-Zukhruf: 45 di Baitul Maqdis (Palestina) pada malam Isra Mi'raj.

Hal ini merujuk pada H.R At-Thabrani dari Abu Umamah: Rasulullah SAW bersabda; Al-
Quran di turunkan di 3 tempat: Makkah, Madinah, dan Sham. Walid berkata: Maksudnya
Baitul Maqdis? Kathir Berkata; Tetapi penafsirannya di Tabuk adalah lebih baik

• Teori Historis

Menurut teori ini, pengertian Makkiyah adalah ayat yang turun sebelum Rasulullah SAW
hijrah meskipun ayat tersebut turun di luar kota Makah, semisal di Mina, Arafah atau
Hudaibiyah dan lainnya. Sedangkan pengertian Madaniyah adalah ayat yang turun sesudah
Rasulullah SAW hijrah, meskipun ayat tersebut diturunkan di Badar, Uhud, Arafah atau
Makah.

Banyak sekali yang mendukung Teori ini. Mulai dari Ulama Klasik, Modern, hingga
ulama kontemporer saat ini. Adapun yang menjadi kelebihan rumusan teori ini adalah karena
mencakup keseluruhan ayat atau surah Al-Qur'an, sehingga dapat dijadikan ketentuan dan
rujukan yang memadai.
Adapun Teori ini merujuk pada H.R Abu Amr Uthman bin Sa'id ad-Darimi yang
disandarkan pada Yahya bin Salam;

Ayat yang diturunkan di Makkah dan ayat yang diturunkan dalam perjalanan menuju
Madinah sebelum Nabi SAW tiba di Madinah, maka ia termasuk kategori ayat Makkiyah.
Dan ayat yang diturunkan kepada Nabi SAW dalam perjalanannya setelah beliau tiba di
Madinah, maka ia masuk kategori ayat Madaniyah.

Sedangkan kelemahannya hanya terletak pada kejanggalan beberapa ayat atau surah Al-
Qur'an yang nyata-nyata turun di Makkah tetapi karena turun sesudah Hijrah, lalu ia dianggap
Madaniyah. Seperti Q.S Al-Maidah; 3, Q.S An-Nisa; 8. Ayat tersebut turun di kota Makkah
sewaktu Nabi saw berada di dalam Ka'bah.

• Teori Subjektif

Menurut teori ini, pengertian Makkiyah adalah ayat yang berisi pangilan kepada penduduk
Mekkah dengan panggilan "wahai manusia", "wahai orang-orang yang ingkar", "wahai anak
adam". Sedangkan pengertian Madaniyah adalah ayat yang berisi panggilan kepada penduduk
Madinah dengan panggilan "wahai orang-orang yang beriman".

Kelebihan teori ini ialah rumusannya dimengerti, dan lebih cepat dikenali dengan kriteria
panggilan (nida, khitab) yang khas dari keduanya tersebut.

Namun, teori ini banyak kelemahan pula di antaranya: Rumusan pengertiannya tak dapat
dijadikan ketentuan, karena tak dapat mencakup seluruh ayat Al- Qur'an. Dari keseluruhan
ayat Al- Qur'an yang berjumlah 6236 ayat, hanya ada 511 ayat yang dimulai dengan
panggilan (nida), dan dari 511 ayat tersebut, yang dimulai dengan panggilan (nida) yang khas
Makkiyah berjumlah 292 ayat, dan yang khas Madaniyah berjumlah 219 ayat.

Selain itu, ada beberapa ayat yang dimulai dengan panggilan (nida) bukan termasuk ayat
Makkiyah seperti: Q.S Al- Baqarah: 21, Q.S An-Nisa : 1, Q.S An-Nisa: 133

• Teori Content Analysis

Menurut teori ini, pengertian Makkiyah adalah ayat yang memuat cerita umat dan para
Nabi terdahulu. Sedangkan pengertian Madaniyah adalah ayat yang berisi tentang hudud,
faraid, dan sebagainya.

Teori ini didasarkan pada salah satunya Riwayat Hisham dari ayahnya, Al-Hakim

Semua surah yang memuat aturan-aturan, ketentuan-ketentuan, maka ia termasuk Surah


Madaniyah, dan semua surah yang memuat tentang peristiwa masa lampau, maka ia masuk
kategori Makkiyah.

Para sarjana muslim (ahli ulumul quran) mendefiniskan terminologi Makkiyah dan
Madaniyah pada umumnya menjadi tiga pandangan yang didasarkan kepada tempat dan
waktu turunnya serta obyek pembicaraan.
Definsi berdasarkan tempat:

‫أن المكي ما نزل بمكة ولو بع‬.


“ Makkiyah adalah (ayat-ayat al Qur’an) yang diturunkan di Makkah, walaupun turun
sesudah hijarh, sedangkan Madaniyah adalah (ayat-ayat al Qur’an) yang turun di Madinah”.

Pendapat tersebut menurut Fahd bin Abdirrahman Ar-Rumi tidak valid dan tidak
akomodatif mengingat bahwa hal tesebut tidak mencakup ayat-ayat yang turun di tempat
selain Mekkah[7] dan Madinah dan sekitarnya. Karena ayat al-Qur’an juga diturnkan di
Tabuk, di Baitu-Muqaddas, di Tha’if, sehingga definisi diatas tidak valid. Misalnya surat At-
Taubah [9]: 42diturunkan di Tabuk, surat Az Zukhruf [43]: 45diturunkan ditengah
perjalanan antara Mekkah dan Madinah. Kedua ayat tersebut, jika melihat definisi
berdasarkan tempat ini, tidak dapat dikatagorikan dalam Makkiyah dan Madaniyyah.

Definisi berdasarkan waktu:

‫ عام‬, ‫ سواء نزل بمكة ام بالمد ينة‬, ‫ي مانزل بعدها‬


ّ ‫ والمدن‬, ‫أن المكي مانزل قبل الهجرة‬
‫ ام بسفر من االسفار‬, ‫الفتح او حجة الوداع‬
“Makkiyah adalah (ayat-ayat al-Qur’an) yang turun sebelum hijrah, adapun Madaniyah
adalah (ayat-ayat al-Qur’an) turun setelah hijrah, sekalipun turun di Makkah (tetap
dikatagorikan Madaniyah) atau turun di Madinah (tetap dikatagorikan Makkiyah), pada
penaklukan Makkah, haji wada, atau dalam perjalanan.

Dengan demikian, surat An-Nisa [4]: 58termasuk katagori Madaniyah kendatipun turun
di Mekkah, yaitu pada peristiwa terbukanya kota Mekkah (fath Makkah). Begitupun surat Al-
Maidah [5]: 3termasuk katagori madaniyah kendatipun tidak diutunkan di Madinah karena
ayat itu diturunkan pada peristiwa haji wada’.

Definisi berdasarkan obyek pembicaraan:

‫ والمدني ماوقع خطابا ألهل المدينة‬, ‫أن المكي ماوقع خطابا ألهل مكة‬
“Makkiyah adalah (ayat-ayat al-Qur’an) yang ditujukan kepada penduduk Makkah, adapun
Madaniyah adalah (ayat-ayat al-Qur’an) yang ditujukan kepada penduduk Madinah.

Jalaluddin al-Suyuti mengutip dari ‘Ubaid dalam kitab Fadha’il dari Mahmun bin Mahran:
apa yang terdapat dalam al-Qur’an berupa “Ya ayyuh an nas ”atau “Ya bain Adam ”maka ia
termasuk Makkiyah dan apa yang terdapat dalam al-Qur’an berupa “Ya Ayyuha al ladzina
amanu ”maka ia termasuk madaniyah.

Namun menurut Al-Hishar sebagaimana dikutip Suyuthi mengatakan: telah kita sepakati
jika surat An-Nisa merupakan surat Madaniyyah, yang awalnya adalah: “Ya ayyuha an-nas ”
(An-Nisa [4]:1), dan surat Al-Hajj adalah Makkiyah, padahal di dalamya terdapat “Ya
Ayyuha al ladzina amanu 9rosa’u was judu ”(Al Hajj [22]: 77).

Nama : Khoirunnisa Aulia

Npm : 2011010078

Al-Qur’an di Mekkah memberantas permusuhan dan menghancurkan keyakinan-


keyakinan mereka yang palsu, dengan hujjah dan dalil, serta menolak hal-hal yang syubhat,
membatalkan segala khurafat, menguak kebatilan dan kesesatan. Sedangkan Al-Qur’an turun
kepada orang-orang Islam di Madinah meluaskan hokum-hukum agama dan menggerakkan
kaidah-kaidah serta membangun masyarakat dan meletakkan dasar-dasar kekuasaan.

2.Ciri Ciri Makkiyah dan Madaniyah

ciri-ciri dari surah Makkiyah, yakni:

• Ayat yang jika dibaca, maka disunnahkan kepada pembaca dan pendengarnya untuk
melakukan sujud (ayat Sajdah)
• Kata kallaa (disebut 33 kali)
• Frasa yaa ayyuha an-naas dan sebaliknya, tidak ada yaa ayyuha alladziina
aamanu (kecuali surah al-Haj)
• Kisah nabi-nabi dan umat-umat terdahulu (kecuali surah al-Baqarah)
• Kisah Nabi Adam AS dan Iblis (kecuali surah al-Baqarah)
• Pembukaan surah berupa huruf-huruf lepas, seperti qaf, shad, alif-lam-mim-ra, alif-
lam-mim (kecuali surah al-Baqarah dan surah Ali Imran)

ciri-ciri yang dominan—masih dari surah atau ayat Makkiyah, yakni jika di dalamnya
terdapat hal berikut.

• Ayat dan surahnya pendek-pendek


• Ungkapannya keras, cenderung puitis, menyentuh hati
• Banyak terdapat kesamaan bunyi
• Banyak menggunakan huruf qasam (sumpah)
• Banyak kecaman kepada kaum musyrik
• Penekanan pada dasar-dasar keimanan kepada Allah dan Hari Akhir, serta
penggambaran 9rosa dan neraka
• Banyak tuntunan mengenai akhlaq al-karimah (akhlak yang baik)

Adapun karakteristik yang pasti dari surah Madaniyah, yakni jika di dalamnya terdapat hal
berikut.

• Izin untuk perang dan hukum-hukumnya


• Rincian hukum tentang hudud, ibadah, undang-undang sipil, 10rosai, dan hubungan
antar-negara
• Penyebutan tentang kaum munafik (kecuali surah al-Ankabut)
• Penyebutan tentang ahli kitab

Sementara itu, ciri-ciri yang tampak dominan dari surah atau ayat Madaniyah adalah
berikut.

• Ayat dan surahnya panjang-panjang.


• Ungkapannya tenang, cenderung 10rosaic, yang ditujunya adalah akal pikiran
• Banyak mengemukakan bukti dan argumentasi mengenai kebenaran-kebenaran
agama.

3.Macam makkiyah dan madaniyah

• Surah Makkiyah Murni

Yang termasuk kategori Surah Makkiyah murni adalah surah yang berisi ayat-ayat yang
seluruhnya berstatus Makkiyah secara ijma' dan tidak ada perbedaan tentang status tersebut.

• Surah Madaniyah Murni

Yang termasuk kategori surah Madaniyah murni adalah surah yang berisi ayat-ayat yang
seluruhnya berstatus Madaniyah secara ijma' dan tidak ada perbedaan tentang status tersebut.

• Surah Makkiyah yang berisi ayatMadaniyyah

Yang termsuk kategori surah Makkiyah yang berisi ayat Madaniyah adalah surah yang
memuat ayat-ayat yang kebanyakan berstatus Makkiyah, akan tetapi didalamnya juga
memuat ayat-ayat Madaniyah atau ada perbedaan tentang status tersebut.

• Surah Madaniyah yang berisi ayat-ayatMakkiyah

Yang termsuk kategori surah Madaniyah yang berisi ayat Makkiyah adalah surah yang
memuat ayat-ayat yang kebanyakan berstatus Madaniyah, akan tetapi didalamnya juga
memuat ayat-ayat Makiyyah atau ada perbedaan tentang status tersebut.

4. Perselisihan Ulama’ Mengenai kategori Makkkiyah dan Madaniyah

Dalam kitab karangan manna’ al-qaththani yang berjudul pengentar studi ilmu al-
Qur’an menebutkan bawha yang terpenting dalam objek kajian par ulama yang diturunkan di
mekkah atau madinah sesrta yang menjadi perselisihan, yaitu:
1. Ayat-ayat makkiyah dalam surat-surat madaniyah
Contohnya dalam surat al-Hujurat ayat 13. Ayat tersebut diturunkan di mekah pada hari
penaklukan kota mekah tetapi sebenarnya madaniyah karena diturunkan selepas hijrah. Di
samping itu, seruannyapun bersifat umum. Ayat seperti ini oleh oleh para ulama tidak
dinamakan makkiyah dan tidak madaniyah secara pasti. Tetapi mereka mengatakan ayat yag
diturunkan di mekah namun hukumnya mdaniyah.
2. Ayat-ayat madaniyah dalam surat makkiyah
Misalnya surat al-an’am, ibnu abbas berkata surat ini diturunkan sekaligus di mekah,
maka ia adalah makkiyah, kecuali tiga ayat yang diturunkan di madinah yaitu ayat 151-153.
Dan surat al-hajj adalah makkiyah. Tetapi ada tiga ayat yang madaniyyah yaitu ayat 19-21.
3. Yang diturunkan di mekah namun hukumnya madaniyah
4. Ayat yang diturunkan di madinah namun hukumnya makkiyah
Mereka memberi contoh dengan surat al-mumtahanah, surat ini diturunkan di
madinah dilihat dari segi turunnya, tetapi seruannya ditujukan kepada orang musyrik
penduduk mekah. Juga seperti permusuhan aurat at-taubah yang diturnkan di madinah, tetapi
seruannya ditujukan kepada orang-orang musyrik di mekah.

Nama : Siti Faralismita

Npm : 2011010468

5. Yang serupa dengan yang diturnkan di mekah dalam kelompok madaniyah


Yang dimaksud para ulama disini adalah ayat-ayat yang terdapat pada madaniyah tetapi
mempunyai gaya bahasa danciri seperti makkiyah. Contohnya firman Allah dalam surat al-
anfal ayat 32 yang madaniyah. Hal ini dikarenakan permintaan orang musyrik untuk
disegerakan azab adalahdi mekah.
6. Yang serupa dengan yang diturunkan di madinah dalam kelompok madaniyah
Yang dimaksud ulama disini adalah kebalikan dari sebelumnya dalam surat an-najm ayat
32.
7. Ayat yang dibawa dari mekah ke madinah
Contohnya ialah dalam surat al-a’la. HR. al-bukhori dan al-bara’ah bin azb yang
mengatakan bahwa: “ bahwa yang oertama kali datang kepada kami dikalangan sahabat nabi
adalah mush’ab bin umair dan ibnu ummi maktum. Keduanya membacakan al-qur’an kepada
kami, setelah itu datanglah ammar, bill dan sa’ad, kemudain datang pua umar bin khattab
sebagai orang nomor yang kedua puluh.baru setelah itu datang nabi, aku melihat penduduk
madinah bergembira setelah aku membaca “Sabbihisma robbikal a’la.
8. Ayat yang dibawa dari madinah ke mekah
Contohnya ari awal surat at-taubah yaitu ketika rasululloh memerintahkan kepada abu
bakar untuk pergi haji pada tahuan kesembilan dan hal inipun disampaikan kepada kaum
musyrikin bahwa tahun tidak seorangpun orang musyrik boleh berhaji.
9. Ayat yang turun di waktu malam dan siang
Kebanyakan ayat turun pada siang hari , abu qasim an-naisaburi telah menelitinya.
Contoh di bagian surat al-imran dan yang lainnya.
10. Ayat yang turun di musim panas dan musim dingin
Para ulama memberi contoh ayat yang turun di musim panas tentang ayat kalalah yang
terdapat di akhir surat an-nisa. Contoh lain ialah ayat-ayat yang turun dalam perang tabuk,
yang terjadi pada musim panas seperti yang dinyatakan dalam surat at-taubah ayat 81.
Sedangkan musim dingin mereka mencontohkan dengan ayat-ayat mengenai “tuduhan
bohong” yang terdapat dalam surat an-nur.
11. Yang turun di waktu menetap atau perjalanan
Mayoritas ayat-ayat dan surat-surat al-Qur’an turun pada saat nabi dalam keadaan
menetap. Akan tetapi, karena kehidupan Rasululloh tidak pernah lepas dari jihad dan
peperangan di jalan Allah, maka wahyu pun turun dalam peperangan tersebut. Contohnya
awal-surat al-Anfal yang turun pada waktu perang badar.
5. Manfaat Mengetahui surat makkiyah dan Madaniyah
Manfaat Makkiyah dan Madaniyah. Sebagaimana ilmu-ilmu lainnya, mempelajari ilmu
Makkiyah dan Madaniyah merupakan hal yang penting atau urgen. Mengetahui ilmu
Makkiyah dan Madaniyah merupakan hal penting karena memiliki banyak manfaat-manfaat,
diantaranya adalah sebagai berikut:

Pertama, Manfaat mempelajari Makkiyah dan Madaniyah adalah dapat digunakan sebagai
alat bantu bagi mufassir (pentafsir) untuk menafsirkan al-Quran. Pengetahuan akan tempat
turun ayat dapat membantu mufassir untuk menemukan penafsiran yang benar baik bagi yang
menggunakan metode atau kaidah “umumnya lafaz” (al-Ibroh bi umum al-lafdz la bi khusus
as-sabab) atau kaidah “khususnya sebab” (al-Ibroh bi khusus as-sabab la bi umum al-lafdz).
Dari sana, mufassir juga dapat membedakan mana ayat yang nasikh (menghapus) dan
mansukh (dihapus) maupun ayat yang takhsis (pengkhususan).

Kedua, manfaat yang diperoleh dari Makkiyah dan Madaniyah adalah dapat mendalami gaya
bahasa al-Quran dan mengaplikasikannya sebagai metode berdakwah. Misalnya dapat dilihat
pada Makkiyah bahwa bahasa yang digunakan cenderung pendek-pendek dan berisi
peringatan maupun kabar gembira. Sedangkan Madaniyah berisi kalimat-kalimat panjang
yang membahas tatacara kehidupan sehari-hari baik.

Dari sana, seperti halnya Makkiyah dan Madaniyah yang memiliki bahasa tersendiri dalam
penyampaian dakwahnya, dapat diambil metode atau cara yang tepat dalam berdakwah yang
sesuai dengan yang diajak bicara baik dari individu, keyakinan, maupun lingkungannya.
Selain itu, dapat juga diperoleh bagaimana Islam melalui proses turunnya wahyu,
menetapkan hukum yang bersifat selangkah demi selangkah atau taddarruj.

Ketiga, manfaat yang didapat dari Makkiyah dan Madaniyah adalah dapat mengetahui
sejarah hidup Nabi Muhammad melalui turunnya ayat-ayat al-Quran. Membahas Makkiyah
dan Madaniyah berarti juga membahas proses dan sejarah perjalanan beliau dalam
berdakwah.

Selain itu, dari Makkiyah dan Madaniyah, dapat juga diketahui proses penerimaan wahyu
dari wahyu yang pertama kali diturunkan hingga wahyu yang terakhir diturunkan. Juga dapat
diketahui dimana wahyu itu diturunkan. Dengan kata lain, Al-Quran adalah sumber pokok
kehidupan Nabi Muhammad sehingga para sejarawan yang meriwayatkan sejarah Nabi tentu
harus sesuai dengan al-Quran. Apabila berbeda, tentu sejarah tersebut tertolak.

BAB III

PENUTUP
A. KESIMPULAN

Surat makkiyah diturunkan di mekah sebelum rasululloh hijrah, sedangkan madinah turun di
madinah sesudah nabi hijrah

Ayat dala surat makkiyah umumnya pendek, sedangkan ayayt dalam madaniyah umumnya
panjang.
Surat makkiyah mengandung keterangan dan penjelasan tentang keimanan, perbuatan baik
dan jahat, pahala bagi orang beriman dan beramal shaleh, siksa bagi orang kafir dan durhaka,
kisah para rasul dan nabi, cerita umat terdahulu, dan berbagai perumpamaan untuk dijadikan
teladan dan ibarat. Madaniyyah pada umunya menjelaskan hal yang berhubungan erat dengan
hidup kemasyarakatan atau masalah muamalah.
DAFTAR PUSTAKA

http://piuii17.blogspot.com/2017/09/makalah-studi-al-quran-dan-hadist-makki.html

https://id.wikipedia.org/wiki/Makiyah

https://id.wikipedia.org/wiki/Madaniyah

https://republika.co.id/kanal/khazanah/rumah-zakat

https://republika.co.id/berita/pnp4yc458/ciriciri-makkiyah-dan-madaniyah-dalam-
alquran

https://iainpspblog.blogspot.com/2019/10/makalah-makkiyah-dan-madaniyah.html

https://www.khudzilkitab.com/2018/11/manfaat-makkiyah-dan-madaniyah.html

https://www.kompasiana.com/sayyidah12/5a548a8cbde5757ba03786f2/teori-makkiyah-
dan-madaniyyah?page=all