Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PENDAHULUAN DAN LAPORAN KASUS

PADA PASIEN An. “B” DENGAN DIAGNOSA ALL (AKUT LIMFOSITIK


LEUKIMIA) DI RUANG 7A RUMAH SAKIT DR. SAIFUL ANWAR
MALANG

OLEH
M.HASANAIN
019.02.0956

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES) MATARAM
2019
LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN
PADA PASIEN DENGAN DIAGNOSA ALL
(Akut Limfositik Leukimia)
Konsep Dasar Penyakit
1. DEFINISI
Istilah leukemia pertama kali dijelaskan oleh Virchow sebagai darah
putih pada tahun 1874 yang merupakan penyakit neoplastik yang ditandai
dengan diferenstasi dan poliferasi sel induk hematopoetik.

Leukemia adalah neoplasma akut atau kronis dari sel-sel pembentuk


darah dalam sumsum tulang dan limfa (Reeves, 2001). Sifat khas leukemia
adalah proliferasi tidak teratur atau akumulasi sel darah putih dalam sumsum
tulang, menggantikan elemen sumsum tulang normal. Proliferasi juga terjadi
di hati, limpa, dan nodus limfatikus. Terjadi invasi organ non hematologis
seperti meninges, traktus gastrointestinal, ginjal, dan kulit.
Leukemia  lymphoblastic akut ( ALL atau juga disebut leukemia
limfositik akut ) adalah kanker darah dan sumsum tulang . Kanker jenis ini
biasanya semakin memburuk dengan cepat jika tidak diobati .ALL adalah
jenis kanker yang paling umum pada anak-anak . Pada anak yang sehat ,
sumsum tulang membuat sel-sel induk darah ( sel yang belum matang ) yang
menjadi sel-sel darah dewasa dari waktu ke waktu . Sebuah sel induk  dapat
menjadi sel induk myeloid atau sel induk limfoid (National Cancer Institute,
2014).
Leukemia adalah keganasan organ pembuat darah, sehingga sumsum
tulang didominasi oleh limfoblas yang abnormal. Leukemia limfoblastik akut
adalah keganasan yang sering ditemukan pada masa anak-anak (25-30% dari
seluruh keganasan pada anak), anak laki lebih sering ditemukan dari pada
anak perempuan, dan terbanyak pada anak usia 3-4 tahun. Faktor risiko terjadi
leukimia adalah faktor kelainan kromosom, bahan kimia, radiasi faktor
hormonal,infeksi virus (Ribera, 2009).
2. ETIOLOGI
Penyebab yang pasti belum diketahui, akan tetapi terdapat faktor
predisposisi yang menyebabkan terjadinya leukemia yaitu :
1. Genetik
a. Keturunan
1) Adanya Penyimpangan Kromosom
Insidensi leukemia meningkat pada penderita kelainan kongenital,
diantaranya pada sindroma Down, sindroma Bloom, Fanconi’s Anemia,
sindroma Wiskott-Aldrich, sindroma Ellis van Creveld, sindroma Kleinfelter,
D-Trisomy sindrome, sindroma von Reckinghausen, dan neurofibromatosis.
Kelainan-kelainan kongenital ini dikaitkan erat dengan adanya perubahan
informasi gen, misal pada kromosom 21 atau C-group Trisomy, atau pola
kromosom yang tidak stabil, seperti pada aneuploidy.
2) Saudara kandung
Dilaporkan adanya resiko leukemia akut yang tinggi pada kembar
identik dimana kasus-kasus leukemia akut terjadi pada tahun pertama
kelahiran. Hal ini berlaku juga pada keluarga dengan insidensi leukemia yang
sangat tinggi
b. Faktor Lingkungan
Beberapa faktor lingkungan di ketahui dapat menyebabkan kerusakan
kromosom dapatan, misal : radiasi, bahan kimia, dan obat-obatan yang
dihubungkan dengan insiden yang meningkat pada leukemia akut, khususnya
ALL ,
2. Virus
Dalam banyak percobaan telah didapatkan fakta bahwa RNA virus
menyebabkan leukemia pada hewan termasuk primata. Penelitian pada
manusia menemukan adanya RNA dependent DNA polimerase pada sel-sel
leukemia tapi tidak ditemukan pada sel-sel normal dan enzim ini berasal dari
virus tipe C yang merupakan virus RNA yang menyebabkan leukemia pada
hewan. (Wiernik, 1985). Salah satu virus yang terbukti dapat menyebabkan
leukemia pada manusia adalah Human T-Cell Leukemia . Jenis leukemia yang
ditimbulkan adalah Acute T- Cell Leukemia.
3. Bahan Kimia dan Obat-obatan
a. Bahan Kimia
Paparan kromis dari bahan kimia (misal : benzen) dihubungkan
dengan peningkatan insidensi leukemia akut, misal pada tukang sepatu
yang sering terpapar benzen. Selain benzen beberapa bahan lain
dihubungkan dengan resiko tinggi dari AML, antara lain : produk –
produk minyak, cat , ethylene oxide, herbisida, pestisida, dan ladang
elektromagnetik
b. Obat-obatan
Obat-obatan anti neoplastik (misal : alkilator dan inhibitor
topoisomere II) dapat mengakibatkan penyimpangan kromosom yang
menyebabkan AML. Kloramfenikol, fenilbutazon, dan
methoxypsoralen dilaporkan menyebabkan kegagalan sumsum tulang
yang lambat laun menjadi AML
4. Radiasi
Hubungan yang erat antara radiasi dan leukemia (ANLL) ditemukan
pada pasien-pasien anxylosing spondilitis yang mendapat terapi radiasi, dan
pada kasus lain seperti peningkatan insidensi leukemia pada penduduk Jepang
yang selamat dari ledakan bom atom. Peningkatan resiko leukemia ditemui
juga pada pasien yang mendapat terapi radiasi misal : pembesaran thymic,
para pekerja yang terekspos radiasi dan para radiologis .
5. Leukemia Sekunder
Leukemia yang terjadi setelah perawatan atas penyakit malignansi lain
disebut Secondary Acute Leukemia ( SAL ) atau treatment related leukemia.
Termasuk diantaranya penyakit Hodgin, limphoma, myeloma, dan kanker
payudara. Hal ini disebabkan karena obat-obatan yang digunakan termasuk
golongan imunosupresif selain menyebabkan dapat menyebabkan kerusakan
DNA
3. PATOFISIOLOGI
Komponen sel darah terdiri atas eritrosit atau sel darah merah dan
leukosit atau sel darah putih serta trombosit dan keeping darah. Seluruh sel
darah normal diperoleh dari sel batang tunggal yang terdapat pada seluruh
sumsum tulang. Sel batang dapat dibagi ke dalam lymphoid dan sel batang
darah, dimana pada kebalikannya menjadi cikal bakal sel yang terbagi
sepanjang jalur tunggal khusus.
ALL meningkat dari sel batang lymphoid tunggal dengan kematangan
lemah dan pengumpulan sel – sel penyebab kerusakan di dalam sumsum
tulang. Biasanya dijumpai tingkat pengembangan lymphoid yang berbeda
dalam sumsum tulang mulai dari yang sangat mentah hingga hampir menjadi
sel normal. Derajad kementahannya merupakan petunjuk untuk menentukan
kelanjutannya. Pada pemeriksaan darah tepi ditemukan sel muda lomfoblas
dan biasanya ada leukositosis,. Jumlah leukosit neutrofil seringkali rendah
demikian pula kadar hemoglobin dan trombosit. Hasil pemeriksaan sumsum
tulang biasanya menunjukan sel – sel blas yang dominan. Pematangan limfosit
B dimulai dari sel stem pluripoten, pre B, Early B, sel B intermedia, sel B
matang, sel plasmasitoid dan sel plasma.
Sel kanker menghasilkan leukosit yang imatur dalam jumlah berlebih.
Leukosit imatur ini menyusup ke berbagai organ termasuk sumsum tulang dan
menggantikan unsure – unsure sel yang normal. Limfosit imatur berproliferasi
dalam sumsum tulang dan jaringan perifer sehingga mengganggu
perkembangan sel normal. Hal ini menyebabkan haemopoesis normal
terhambat akibatnya terjadi penurunan jumlah leucosit, sel darah merah, dan
trombosit. Infiltrasi kanker ke berbagai organ menyebabkan pembesaran hati,
limpa, sakit kepala, muntah, dan nyeri tulang dan persendian.
PATHWAY

Faktor Internal ( Genetik dan Imunologi) Faktor Eksternal


(Karsinogenik agent,
Kelainan-kelainan
obat-obatan, radiasi)
kongenital
kegagalan sumsum
LEUKEMIA
tulang yang lambat

Proliferasai linfoblas abnormal dlm sumsum tulang

ALL

Gangguan pembentukan Gangguan Leuko memfagosit


leukosit Eritroit&trombosit Gangguan pembentukan
komponen darah
Trombosit
Nafsu makan menurun
Leukopeni pembesaran pada hati
dan limpa HB menurun

Resiko perdarahan Anemia


yang tidak
terkontrol
Daya tahan Faktor Psikologis
Tubuh turun (efek kemoterapi, mual,anorexia)

Resiko Infeksi Ketidakseimbangan : Nutrisi


kurang dari kebutuhan tubuh

Leukositosis
KurangEnergi,lesu,Peningkatan
Nyeri akut
kebutuhan istirahat.

Keletihan
4. KLASIFIKASI
a. Leukemia Limfositik Akut (LLA)
LLA dianggap sebagai proliferasi ganas limfoblast. Sering terjadi pada
anak-anak, laki-laki lebih banyak dibandingkan perempuan. Puncak
insiden usia 4 tahun, setelah usia 15 tahun. LLA jarang terjadi.
Limfosit immatur berproliferasi dalam sumsum tulang dan jaringan
perifer sehingga mengganggu perkembangan sel normal.

Leukemia akut ditandai dengan suatu perjalanan penyakit yang sangat cepat,
mematikan, dan memburuk.

 Apabila hal ini tidak segera diobati, maka dapat menyebabkan kematian
dalam hitungan minggu hingga hari.
 Leukemia kronis
 Perjalanan penyakit yang tidak cepat sehingga memiliki harapan hidup yang
lebih lama, hingga lebih dari 1 tahun.
Leukemia Akut
 ALL : 75% pada anak (3-4 th)
 AML: insiden 80% pada dewasa
 pada orang tua ( > 40 th)
Gambaran klinik :
 Kegagalan sumsum tulang (anemia, demam,infeksi, perdarahan
(trombositopenia)
 Infiltrasi ke organ (nyeri tulang, limfadenopati, splenomegali,hepatomegali )
 Gejala meningeal ( Sakit kepala, Mual, muntah, kejang)
 Hipertrofi gusi (bengkak) 
Gambaran Lab
 Kadar Hb, Ht, jumlah eritrosit : turun
 Jumlah leukosit: meningkat
 Jumlah tombosit : menurun
 LED : meningkat ; Hapusan darah tepi : blast
5. GEJALA KLINIS

a. Anak kelihatan pucat.


b. Demam.
c. Anemia.
d. Perdarahan: ptekia, ekimosis, epistaksis, perdarahan gusi.
e. Kelemahan.
f. Nyeri tulang atau sendi dengan atau tanpa pembengkakan.
g. Pembesaran hepar dan lien.
h. Gejala tidak khas: sakit sendi atau tulang karena infiltrasi sel-sel ganas.
i. Jika terdapat infiltrasi ke dalam susunan saraf pusat, dapat ditemukan
tanda meningitis.
j. Peningkatan cairan cerebrospinal mengandung protein.
k. Penurunan glukosa.
6. PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan pembengkakan kelenjar getah bening, limpa dan hati
7. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
a. Pemeriksaan darah lengkap menunjukkan anemia
b. Hemoglobin : dapat kurang dari 10g/100ml
c. Retikulosit : jumlah biasanya rendah
d. Jumlah trombosit : mungkin sangat rendah ( < 50.000/mm)
e. Asam urat serum / urine : mungkin meningkat
f. Biopsi sumsum tulang
g. Foto dada dan biopsy nodus limfe : dapat mengindikasikan derajat
keterlibatan.
8. Terapi/tindakan penanganan
Program terapi
Pengobatan terutama ditunjukkan untuk 2 hal (Netty Tejawinata, 1996) yaitu:
1. Memperbaiki keadaan umum dengan tindakan:
1) Tranfusi sel darah merah padat (Pocket Red Cell-PRC) untuk
mengatasi anemi. Apabila terjadi perdarahan hebat dan jumlah
trombosit kurang dari 10.000/mm³, maka diperlukan transfusi
trombosit.
2) Pemberian antibiotik profilaksis untuk mencegah infeksi.
adalah sebagai berikut:
a. Induksi untuk mencapai remisi: obat yang diberikan untuk
mengatasi kanker sering disebut sitostatika (kemoterapi). Obat
diberikan secara kombinasi dengan maksud untuk mengurangi
sel-sel blastosit sampai 5% baik secara sistemik maupun
intratekal sehingga dapat mengurangi gejala-gajala yang
tampak.
b. Intensifikasi, yaitu pengobatan secara intensif agar sel-sel yang
tersisa tidak memperbanyak diri lagi.
c. Mencegah penyebaran sel-sel abnormal ke sistem saraf pusat
d. Terapi rumatan (pemeliharaan) dimaksudkan untuk
mempertahankan masa remisi
2. fase Pelaksanaan Kemoterapi:
1) Fase Induksi
Dimulai 4-6 minggu setelah diagnosa ditegakkan. Pada fase ini
diberikan terapi kortikosteroid (prednison), vineristin, dan L-
asparaginase. Fase induksi dinyatakan berhasil jika tanda-tanda
penyakit berkurang atau tidak ada dan di dalam sumsum tulang
ditemukan jumlah sel muda kurang dari 5%.
2) Fase profilaksis sistem saraf pusat
Pada fase ini diberikan terapi methotrexate, cytarabine, dan
hydrocortison melalui intratekal untuk mencegah invasi sel
leukemia ke otak. Terapi irradiasi kranial dilakukan hanya pada
pasien leukemia yang mengalami gangguan sistem saraf pusat.
3) Konsolidasi
Pada fase ini, kombinasi pengobatan dilakukan untuk
mempertahankan remisis dan mengurangi jumlah sel-sel
leukemia yang beredar dalam tubuh. Secara berkala, dilakukan
pemeriksaan darah lengkap untuk menilai respon sumsum
tulang terhadap pengobatan. Jika terjadi supresi sumsum
tulang, maka pengobatan dihentikan
Pengobatan imunologik
Bertujuan untuk menghilangkan sel leukemia yang ada di dalam tubuh
agar pasien dapat sembuh sempurna. Pengobatan seluruhnya dihentikan
setelah 3 tahun remisi terus menerus.
9. KOMPLIKASI
a. Perdarahan akibat defisiensi trombosit
b. Infeksi akibat kekurangan granulosit matur dan normal. Meningkat
sesuai derajat netropenia dan disfungsi imun
c. Pembentukan batu ginjal dan kolik ginjal akibat penghancuran sel
besar- besaran saat kemoterapi meningkatkan kadar asam urat
sehingga perlu asupan cairan yang tinggi
d. Anemia
e. Masalah Gastrointestinal : mual, muntah, anoreksia, diare.
Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian ( Data Subyektif/Obyektif)
A. Data Subjektif
a. Biodata/Identitas
Biodata anak mencakup nama, umur, jenis kelamin.Biodata orang tua
perlu dipertanyakan untuk mengetahui status sosial anak meliputi nama,
umur, agama, suku/bangsa, pendidikan, pekerjaan, penghasilan, alamat.
b. Riwayat Penyakit
c. Riwayat penyakit sekarang yang menyertai
Apakah muntah, Anemia, lemas, nyeri pada tulang dan persendian
d. Riwayat Penyakit Dahulu
Apakah pernah menderita penyakit lain sebelumnya.
e. Riwayat Kehamilan dan Persalinan
Kedaan ibu sewaktu hamil per trimester, apakah ibu pernah mengalami
infeksi atau sakit panas sewaktu hamil. Riwayat trauma, perdarahan per
vaginam sewaktu hamil, penggunaan obat-obatan maupun jamu selama
hamil. Riwayat persalinan ditanyakan apakah sukar, spontan atau dengan
tindakan ( forcep/vakum ), perdarahan ante partum, asfiksi dan lain-lain.
Keadaan selama neonatal apakah bayi panas, diare, muntah, tidak mau
menetek, dan kejang-kejang.
f. Riwayat Imunisasi
Jenis imunisasi yang sudah didapatkan dan yang belum ditanyakan serta
umur mendapatkan imunisasi dan reaksi dari imunisasi.
g. Riwayat kesehatan keluarga.
Apakah ada keluarga yang memiliki penyakit yang sama.
h. Riwayat sosial
i. Untuk mengetahui perilaku anak dan keadaan emosionalnya perlu dikaji
siapakah yang mengasuh anak ? Bagaimana hubungan dengan anggota
keluarga dan teman sebayanya ?
j. 14 Kebutuhan BIO-PSIKO-SOSIAL-KULTURAL
1. Bernapas : apakah ada gangguan bernapas, adakah suara napas
tambahan
2. Makan dan Minum : Keadaan sebelum sakit ( nafsu makan, makan
berapa kali, jenis makanan pokok) keadaan saat sakit bagaimana ada
perubahan dari sebelum sakit dengan saat sakit.
3. Eleminasi ( BAB dan BAK) : Melakukan sendiri atau dibantu,
frekuensi, warna, bau, konsistensi.
4. Aktifitas : apakah lemas, bermain aktif, teman bermain, permainan
yang disukai
5. Rekreasi : pernah/jarang, jenis rekreasi
6. Istirahat dan tidur : Kualitas tidur, lama tidur, biasa tidur siang atau
tidak.
7. Kebersihan diri : mandi sendiri atau dibantu, gosok gigi,
mengeringkan dengan handuk, menggunakan sabaun atau tidak
8. Pengaturan suhu tubuh
9. Rasa nyaman
10. Rasa aman
11. Belajar : pengetahuan mengenai penyakitnya
12. Prestasi : kemajuan dan perkembangan yang ditunjukkan anak
terhadap proses penyakitnya
13. Hubungan sosial anak: hubungan dengan keluarga dan teman di
sekitarnya
14. Melaksanakan ibadah : kebiasaan, bantuan yang diperlukan terutama
saat anak sakit.
A. Data Objektif
a. Pemeriksaan Umum
Pertama kali perhatikan keadaan umum vital : tingkat kesadaran, tekanan
darah, nadi, respirasi dan suhu.
Pemeriksaan Fisik
1) Kepala
Lihat kelainan yang mungkin terjadi pada ukuran kepala, perataan
penyebaran rambut biasanya tidak merata karena dengan pengobatan
kemo sering terjadi rambut rontok
2) Muka/ Wajah.
Wajah pucat
3) Mata
Saat serangan kejang terjadi dilatasi pupil, untuk itu periksa pupil dan
ketajaman penglihatan. Apakah keadaan sklera, konjungtiva
4) Telinga
Periksa fungsi telinga, kebersihan telinga serta tanda-tanda adanya
infeksi seperti pembengkakan dan nyeri di daerah belakang telinga,
keluar cairan dari telinga, berkurangnya pendengaran.
5) Hidung
Apakah ada pernapasan cuping hidung? Apakah keluar sekret,
bagaimana konsistensinya, jumlahnya ?
6) Mulut
Kebersihan di area mulut, bibir pecah pecah, keadaan lidah.
7) Tenggorokan
Adakah tanda-tanda peradangan tonsil ? Adakah tanda-tanda infeksi
faring.
8) Leher
pembesaran kelenjar tiroid ? Adakah pembesaran vena jugularis ?
9) Thorax
Pada infeksi, amati bentuk dada klien, bagaimana gerak pernapasan,
frekwensinya, irama, kedalaman, adakah retraksi Intercostale ? Pada
auskultasi, adakah suara napas tambahan ?
10) Jantung
Bagaimana keadaan dan frekwensi jantung serta iramanya ? Adakah
bunyi tambahan ? Adakah bradicardi atau tachycardia ?
11) Abdomen
Adakah distensia abdomen serta kekakuan otot pada abdomen ?
Bagaimana turgor kulit dan peristaltik usus ? Adakah hepar ?
12) Kulit
Bagaimana keadaan kulit baik kebersihan maupun warnanya? Apakah
terdapat oedema, hemangioma ? Bagaimana keadaan turgor kulit ?
13) Ekstremitas
Apakah terdapat oedema, Bagaimana suhunya pada daerah akral ?
14) Genetalia
2. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul
Menurut Wong, D.L (2004 :596 – 610) , diagnosa pada anak dengan leukemia
adalah:

1) Resiko infeksi berhubungan dengan Imunosupresi (menurunnya sistem


pertahanan tubuh )
2) Keletihan berhubungan dengan malnutrisi dan kelemahan akibat
anemia
3) Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual dan
muntah
4) Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh yang
berhubungan dengan Faktor psikologis (efek kemoterapi , mual,
anorexia,)
5) Nyeri akut yang berhubungan dengan efek fisiologis dari leukaemia
6) Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pemberian agens
kemoterapi, radioterapi, imobilitas.
7) Gangguan citra tubuh berhubungan dengan alopesia atau perubahan
cepat pada penampilan.
3. Intervensi keperawatan
No Diagnosa Tujuan (NOC) Intervensi
. Keperawatan ( NIC)
1 Resiko infeksi NOC : NIC :
❖ Immune Status ● Pertahankan teknik aseptif
berhubungan ❖ Knowledge : ● Batasi pengunjung bila perlu
dengan Infection control ● Cuci tangan setiap sebelum
❖ Risk control dan sesudah tindakan
Imunosupresi Setelah dilakukan keperawatan
(menurunnya tindakan keperawatan ● Gunakan baju, sarung
selama…… pasien tidak tangan sebagai alat
sistem pertahanan mengalami infeksi pelindung
tubuh ) dengan kriteria hasil: ● Ganti letak IV perifer dan
❖ Klien bebas dari dressing sesuai dengan
tanda dan gejala petunjuk umum
infeksi ● Gunakan kateter intermiten
❖ Menunjukkan untuk menurunkan infeksi
kemampuan untuk kandung kencing
mencegah timbulnya ● Tingkatkan intake nutrisi
infeksi ● Berikan terapi
❖ Jumlah leukosit antibiotik:..............................
dalam batas normal ...
❖ Menunjukkan ● Monitor tanda dan gejala
perilaku hidup sehat infeksi sistemik dan lokal
❖ Status imun, ● Pertahankan teknik isolasi
gastrointestinal, k/p
genitourinaria dalam ● Inspeksi kulit dan membran
batas normal mukosa terhadap
kemerahan, panas, drainase
● Monitor adanya luka
● Dorong masukan cairan
● Dorong istirahat
● Ajarkan pasien dan keluarga
tanda dan gejala infeksi
● Kaji suhu badan pada pasien
neutropenia setiap 4 jam

2 Keletihan NOC: NIC :


❖ Activity Tollerance Energy Management
berhubungan
❖ Energy - Monitor respon
dengan malnutrisi Conservation kardiorespirasi terhadap
❖ Nutritional Status: aktivitas (takikardi,
dan kelemahan
Energy disritmia, dispneu,
akibat anemia Setelah dilakukan diaphoresis, pucat, tekanan
tindakan keperawatan hemodinamik dan jumlah
selama …. kelelahan respirasi)
pasien teratasi dengan - Monitor dan catat pola dan
kriteria hasil: jumlah tidur pasien
❖ Kemampuan - Monitor lokasi
aktivitas adekuat ketidaknyamanan atau nyeri
❖ Mempertahankan selama bergerak dan
nutrisi adekuat aktivitas
❖ Keseimbangan - Monitor intake nutrisi
aktivitas dan istirahat - Monitor pemberian dan
❖ Menggunakan tehnik efek samping obat depresi
energi konservasi - Instruksikan pada pasien
❖ Mempertahankan untuk mencatat tanda-tanda
interaksi sosial dan gejala kelelahan
❖ Mengidentifikasi - Ajarkan tehnik dan
faktor-faktor fisik manajemen aktivitas untuk
dan psikologis yang mencegah kelelahan
menyebabkan - Jelaskan pada pasien
kelelahan hubungan kelelahan dengan
❖ Mempertahankan proses penyakit
kemampuan untuk - Kolaborasi dengan ahli gizi
konsentrasi tentang cara meningkatkan
intake makanan tinggi
energi
- Dorong pasien dan keluarga
mengekspresikan
perasaannya
- Catat aktivitas yang dapat
meningkatkan kelelahan
- Anjurkan pasien melakukan
yang meningkatkan
relaksasi (membaca,
mendengarkan musik)
- Tingkatkan pembatasan
bedrest dan aktivitas
Batasi stimulasi lingkungan
untuk memfasilitasi relaksasi

3. Resiko
kekurangan NOC: NIC :
volume cairan ❖ Fluid balance ● Pertahankan catatan intake
❖ Hydration dan output yang akurat
berhubungan
❖ Nutritional Status : ● Monitor status hidrasi
dengan mual dan Food and Fluid ( kelembaban membran
Intake mukosa, nadi adekuat,
muntah
Setelah dilakukan tekanan darah ortostatik ),
tindakan keperawatan jika diperlukan
selama….. defisit ● Monitor hasil lab yang
volume cairan teratasi sesuai dengan retensi
dengan kriteria hasil: cairan (BUN , Hmt ,
❖ Mempertahankan osmolalitas urin, albumin,
urine output sesuai total protein )
dengan usia dan BB, ● Monitor vital sign setiap
BJ urine normal, 15menit – 1 jam
❖ Tekanan darah, nadi, ● Kolaborasi pemberian
suhu tubuh dalam cairan IV
batas normal ● Monitor status nutrisi
❖ Tidak ada tanda ● Berikan cairan oral
tanda dehidrasi, ● Berikan penggantian
Elastisitas turgor nasogatrik sesuai output
kulit baik, membran (50 – 100cc/jam)
mukosa lembab, ● Dorong keluarga untuk
tidak ada rasa haus membantu pasien makan
yang berlebihan ● Kolaborasi dokter jika
❖ Orientasi terhadap tanda cairan berlebih
waktu dan tempat muncul meburuk
baik ● Atur kemungkinan tranfusi
❖ Jumlah dan irama ● Persiapan untuk tranfusi
pernapasan dalam ● Pasang kateter jika perlu
batas normal ● Monitor intake dan urin
❖ Elektrolit, Hb, Hmt output setiap 8 jam
dalam batas normal
❖ pH urin dalam batas
normal
❖ Intake oral dan
intravena adekuat
4. Ketidak
seimbangan NOC:
a. Nutritional status: Nutrition Management
nutrisi kurang dari
Adequacy of nutrient a. Kaji adanya alergi makanan
kebutuhan tubuh b. Nutritional Status :
food and Fluid Intake b. Kolaborasi dengan ahli gizi
yang berhubungan
c. Weight Control untuk menentukan jumlah
dengan Faktor Setelah dilakukan kalori dan nutrisi yang
psikologis (efek tindakan keperawatan dibutuhkan pasien.
selama….nutrisi kurang c. Anjurkan pasien untuk
kemoterapi , mual,
teratasi dengan
anorexia,) indikator: meningkatkan intake Fe
❖ Albumin serum d. Anjurkan pasien untuk
❖ Pre albumin serum meningkatkan protein dan
❖ Hematokrit
❖ Hemoglobin vitamin C
❖ Total iron binding e. Yakinkan diet yang dimakan
capacity
mengandung tinggi serat
Jumlah limfosit
untuk mencegah konstipasi
f. Berikan makanan yang
dipilih ( sudah
dikonsultasikan oleh ahli
gizi)
g. Ajarkan klien bagaimana
membuat catatan makanan
harian
h. Monitor jumlah nutrisi dan
kandungan kalori
i. Berikan informasi tentang
kebutuhan nutrisi
j. Kaji kemampuan pasien
untuk mendapatkan nutrisi
yang dibutuhkan

Nutrition Monitoring
a. BB pasien dalam batas
normal
b. Monitor adanya penurunan
berat badan
5 Nyeri akut yang
Moniter tipe dan jumlah aktivitas
berhubungan
yang biasa dilakukan
dengan efek
NOC : NIC :
fisiologis dari ▪ Lakukan pengkajian nyeri
leukaemia ❖ Pain Level, secara komprehensif termasuk
❖ pain control, lokasi, karakteristik, durasi,
❖ comfort level frekuensi, kualitas dan faktor
Setelah dilakukan presipitasi
tinfakan keperawatan ▪ Observasi reaksi nonverbal
selama …. Pasien tidak dari ketidaknyamanan
mengalami nyeri, ▪ Bantu pasien dan keluarga
dengan kriteria hasil: untuk mencari dan
●Mampu mengontrol menemukan dukungan
nyeri (tahu penyebab ▪ Kontrol lingkungan yang
nyeri, mampu dapat mempengaruhi nyeri
menggunakan tehnik seperti suhu ruangan,
nonfarmakologi untuk pencahayaan dan kebisingan
mengurangi nyeri, ▪ Kurangi faktor presipitasi
mencari bantuan) nyeri
●Melaporkan bahwa ▪ Kaji tipe dan sumber nyeri
nyeri berkurang untuk menentukan intervensi
dengan menggunakan ▪ Ajarkan tentang teknik non
manajemen nyeri farmakologi: napas dala,
●Mampu mengenali relaksasi, distraksi, kompres
nyeri (skala, intensitas, hangat/ dingin
frekuensi dan tanda ▪ Berikan analgetik untuk
nyeri) mengurangi nyeri: ……...
●Menyatakan rasa ▪ Tingkatkan istirahat
nyaman setelah nyeri ▪ Berikan informasi tentang
berkurang nyeri seperti penyebab nyeri,
●Tanda vital dalam berapa lama nyeri akan
rentang normal berkurang dan antisipasi
●Tidak mengalami ketidaknyamanan dari
gangguan tidur prosedur
Monitor vital sign sebelum dan
6 Kerusakan sesudah pemberian analgesik
integritas kulit pertama kali
berhubungan NIC : Pressure Management
▪ Anjurkan pasien untuk
dengan pemberian NOC :
menggunakan pakaian yang
Tissue Integrity : Skin
agens kemoterapi, longgar
and Mucous Membranes
▪ Hindari kerutan pada tempat
radioterapi, Wound Healing : primer
tidur
dan sekunder
imobilitas. ▪ Jaga kebersihan kulit agar
Setelah dilakukan
tetap bersih dan kering
tindakan keperawatan
▪ Mobilisasi pasien (ubah
selama….. kerusakan
posisi pasien) setiap dua jam
integritas kulit pasien sekali
teratasi dengan kriteria ▪ Monitor kulit akan adanya
hasil: kemerahan
❖ Integritas kulit yang ▪ Oleskan lotion atau
baik bisa minyak/baby oil pada derah
dipertahankan yang tertekan
(sensasi, elastisitas, ▪ Monitor aktivitas dan
temperatur, hidrasi, mobilisasi pasien
pigmentasi) ▪ Monitor status nutrisi pasien
❖ Tidak ada luka/lesi ▪ Memandikan pasien dengan
pada kulit sabun dan air hangat
❖ Perfusi jaringan ▪ Kaji lingkungan dan
baik peralatan yang menyebabkan
❖ Menunjukkan tekanan
pemahaman dalam ▪ Observasi luka : lokasi,
proses perbaikan dimensi, kedalaman luka,
kulit dan mencegah karakteristik,warna cairan,
terjadinya sedera granulasi, jaringan nekrotik,
berulang tanda-tanda infeksi lokal,
❖ Mampu melindungi formasi traktus
kulit dan ▪ Ajarkan pada keluarga
mempertahankan tentang luka dan perawatan
kelembaban kulit luka
dan perawatan ▪ Kolaburasi ahli gizi
alami pemberian diae TKTP,
❖ Menunjukkan vitamin
terjadinya proses ▪ Cegah kontaminasi feses dan
penyembuhan luka urin
▪ Lakukan tehnik perawatan
luka dengan steril
7 Gangguan citra ▪ Berikan posisi yang
mengurangi tekanan pada
3. tubuh
luka
berhubungan
dengan alopesia NIC :
Body image enhancement
atau perubahan
NOC: - Kaji secara verbal dan
cepat pada ❖ Body image nonverbal respon klien
❖ Self esteem terhadap tubuhnya
penampilan.
Setelah dilakukan - Monitor frekuensi
tindakan keperawatan mengkritik dirinya
selama …. gangguan - Jelaskan tentang
body image pengobatan, perawatan,
pasien teratasi dengan kemajuan dan prognosis
kriteria hasil: penyakit
❖ Body image positif - Dorong klien
❖ Mampu mengungkapkan
mengidentifikasi perasaannya
kekuatan personal - Identifikasi arti
❖ Mendiskripsikan pengurangan melalui
secara faktual pemakaian alat bantu
perubahan fungsi Fasilitasi kontak dengan
tubuh
individu lain dalam kelompok
❖ Mempertahankan
interaksi sosial kecil

Daftar Pustaka
Aster, Jon. 2007. Sistem Hematopoietik dan Limfoid dalam Buku Ajar Patologi
Edisi 7. Jakarta:Penerbit Buku Kedokteran EGC
Atul, Mehta dan A. Victor Hoffbrand. 2006. At a Glance Hematologi.Edisi 2.
Jakarta: Erlangga
Baldy, Catherine M. 2006. Komposisi Darah dan Sistem Makrofag-Monosit
dalam Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Jakarta:Penerbit
Buku Kedokteran EGC
Carpenito, Lynda Juall. (2000.). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8.
(terjemahan). Penerbit buku Kedokteran EGC. Jakarta.
Landier W, Bhatia S, Eshelman DA, Forte KJ, Sweeney T, Hester AL, et al.Development
of risk-based guidelines for pediatric cancer survivors: the
Children'sOncology Group Long-Term Follow-Up Guidelines from the
Children's OncologyGroup Late Effects Committee and Nursing Discipline.
J Clin Oncol. Dec 152004;22(24):4979-90.
Smeltzer Suzanne C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner &
Suddarth. Alih bahasa Agung Waluyo, dkk. Editor Monica Ester, dkk. Ed. 8.
Jakarta : EGC;.2. Tucke