Anda di halaman 1dari 50

Makalah Dokumentasi Keperawatan

SISTEM INFORMASI KESEHATAN

Disusun Oleh:

Nama Mahasiswa : 1. Desti Aliah Faradika (PO.7120120007)

2. Maharani (PO.7120120008)

3. Pegi Tri Utama (PO.7120120038)

Prodi/Tingkat : DIII Keperawatan Palembang/1A


Mata Kuliah : Dokumentasi Keperawatan
Dosen Pengampuh : Rehana, S.Pd., S.Kep., M.Kes.

POLITEKNIK KESEHATAN PALEMBANG


DIII KEPERAWATAN PALEMBANG
TAHUN AJARAN 2020/2021
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kemudahan


sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Shalawat
serta salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita
yaitu Nabi Muhammad SAW yang kita nanti-natikan syafa’atnya di akhirat
nanti.
Penulis mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat
sehat-Nya, baik itu berupa sehat fisik maupun akal pikiran, sehingga penulis
mampu untuk menyelesaikan pembuatan makalah dari mata kuliah Dokumentasi
Keperawatan dengan judul “Sistem Informasi Kesehatan”.
Penulis tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna
dan masih banyak terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu,
penulis mengharapkan kritik serta saran dari pembaca untuk makalah ini,
supaya makalah ini nantinya dapat menjadi makalah yang lebih baik lagi.
Kemudian apabila terdapat banyak kesalahan pada makalah ini penulis mohon
maaf yang sebesar-besarnya.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada ibu Rehana, S.Pd.,
S.Kep.,M.Kes. yang telah membantu dalam pengarahan penulisan makalah
ini. Demikian, semoga makalah ini dapat bermanfaat. Terima kasih.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Palembang, 2 Maret 2021

Penulis

ii
DAFTAR ISI
JUDUL ................................................................................................................... i
KATA PENGANTAR ............................................................................................ ii
DAFTAR ISI .........................................................................................................iii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ........................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ...................................................................................... 1
1.3 Tujuan Penulisan ........................................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengantar dan Pengertian Sistem Informasi Kesehatan ............................ 6
2.2 Sejarah sistem Informasi Kesehatan di Indonesia ...................................... 9
2.3 Sistem Kesehatan Informasi Nasional ...................................................... 11
2.4 Urgensi Sistem Informasi Kesehatan ....................................................... 16
2.5 Peraturan SIK di Indonesia ...................................................................... 17
2.6 Sistem Informasi Kesehatan di Puskesmas ............................................. 19
2.7 Sistem Informasi Kesehatan di Rumah Sakit ............................................ 19
2.8 Permasalah SIK di Indonesia ................................................................... 23
2.9 Penerapan Nilai Profesional oleh Mahasiswa ........................................... 24
2.10 Konsep-konsep pengembangan SIK ...................................................... 25
2.11 Tujuan sistem informasi kesehatan ........................................................ 35
2.12 Manfaat Pengembangan sistem informasi kesehatan ............................ 39
2.13 Prinsip sistem informasi kesehatan ........................................................ 40
2.14 Kebijakan sistem informasi kesehatan.................................................... 41
2.15. Kondisi SIK di Indonesia ....................................................................... 43
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan .............................................................................................. 46
3.2 Saran ....................................................................................................... 49
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 50

3
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Pada zaman sekarang, teknologi informasi mempunyai peranan


penting dalam bidang industri maupun kehidupan kita sendiri. Salah satu
bidang industri yang memanfaatkan berkembangnya teknologi informasi
adalah bidang kesehatan.
Teknologi informasi sudah berkontribusi banyak dalam kehidupan
kita, salah satu contohnya dalam bidang kesehatan yaitu rekam medis
elektronik (EMR) yang digunakan oleh dokter untuk mengetahui riwayat
penyakit anda, obat-obatan apa saja yang sudah pernah di konsumsi, apakah
anda mempunyai sebuah alergi, dll.
Tanpa teknologi informasi, pengumpulan dan pengambilan data
tersebut tidaklah mudah untuk rumah sakit yang mempunyai ribuan pasien
jika dilakukan secara manual. Teknologi informasi juga memudahkan
komunikasi jarak jauh dengan adanya internet. Seluruh rumah sakit akan
mengakses database yang berisi dengan data pasien, sehingga
memudahkan pasien dan rumah sakit apabila pasien menggunakan rumah
sakit yang berbeda.
Berkembangnya sistem informasi kesehatan sangat didukung oleh
kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, yang signifikan memberi
kontribusi bagi implementasi sistem informasi secara lebih profesional,
sehingga dapat meningkatkan kualitas dan kecepatan proses kerja terutama
di fasilitas pelayanan kesehatan dan mengoptimalkan aliran data yang dapat
meningkatkan ketersediaan data, kualitas data dan informasi kesehatan dan
yang terkait. Selain itu, pelayanan kesehatan juga tidak dibatasi oleh jarak
dan waktu, karena sejak tahun 1990-an, organisasi-organisasi kesehatan
sudah dihubungkan dengan jaringan sistem teknologi informasi secara global
dengan teknologi telekomunikasi melalui internet.

4
Untuk menertibkan dan menyinkronkan penyelenggaraan sistem
informasi kesehatan yang selama ini belum terintegrasi, maka diperlukan
penguatan sistem informasi kesehatan, lintas program, dan urusan secara
berjenjang di pusat dan daerah dan didukung dengan peraturan perundang-
undangan.
Kegiatan pengelolaan sistem informasi kesehatan yang belum terintegrasi
dan terkoordinasi inilah yang menjadi salah satu masalah, selain tentunya
overlapping kegiatan dalam pengumpulan dan pengolahan data, karena
masing-masing unit mengumpulkan datanya sendiri-sendiri dengan berbagai
instrumennya di setiap unit kerja, baik di pusat dan di daerah, sehingga
penyelenggaraan sistem informasi kesehatan belum bisa dilakukan secara
efisien dan efektif.
Saat ini Sistem Informasi Kesehatan (SIK) masih terhambat serta
belum mampu menyediakan data dan informasi yang akurat, sehingga SIK
masih belum menjadi alat pengelolaan pembangunan kesehatan yang
efektif. Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang pesat
memberikan kemudahan dalam pengguatan dan pengembangan Sistem
Informasi Kesehatan. Saat ini sudah ada kebutuhan-kebutuhan untuk
memanfaatan TIK dalam SIK (eHealth) agar dapat meningkatkan
pengelolaan dan penyelenggaraan pembangunan kesehatan.

Penyelenggaraan Sistem Informasi Kesehatan dilakukan oleh


berbagai program, baik di lingkungan Kementerian Kesehatan maupun diluar
sektor kesehatan. Dalam Rencana Strategis (Renstra) Kementerian
Kesehatan tahun 2010-2014, terdapat target strategis untuk meningkatkan
pengembangan Sistem Informasi Kesehatan. Agar SIK dapat menyediakan
data/informasi yang handal, memperbaiki permasalahan-permasalahan SIK
dan mencapai target Renstra tersebut, maka perlu disusun suatu Rencana
Aksi Penguatan atau Roadmap SIK yang komprehensif dengan
mengintegrasikan upaya-upaya pengembangan dan penguatan SIK, yang
melibatkan semua pemangku kepentingan terkait.

5
I.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan


masalah sebagai berikut:

1) Pengantar dan Pengertian Sistem Informasi Kesehatan ?


2) Bagaimana Sejarah sistem Informasi Kesehatan di Indonesia ?
3) Bagaimana Sistem Kesehatan Informasi Nasional ?
4) Bagaimana Urgensi Sistem Informasi Kesehatan ?
5) Bagaimana Peraturan SIK di Indonesia ?
6) Bagaimana Sistem Informasi Kesehatan di Puskesmas ?
7) Bagaimana Sistem Informasi Kesehatan di Rumah Sakit ?
8) Bagaimana Permasalah SIK di Indonesia ?
9) Bagaimana Penerapan Nilai Profesional oleh Mahasiswa ?
10) Bagaimana Konsep-konsep pengembangan SIK ?
11) Apa Tujuan sistem informasi Kesehatan ?
12) Apa Manfaat Pengembangan sistem informasi Kesehatan ?
13) Apa Prinsip sistem informasi Kesehatan ?
14) Bagaimana Kebijakan sistem informasi kesehatan ?
15) Bagaimana Kondisi SIK di Indonesia ?

6
I.3. Tujuan

1) Untuk mengetahui Pengantar dan Pengertian Sistem Informasi Kesehatan


2) Untuk mengetahui Sejarah sistem Informasi Kesehatan di Indonesia
3) Untuk mengetahui Sistem Kesehatan Informasi Nasional
4) Untuk mengetahui Urgensi Sistem Informasi Kesehatan
5) Untuk mengetahui Peraturan SIK di Indonesia
6) Untuk mengetahui Sistem Informasi Kesehatan di Puskesmas
7) Untuk mengetahui Sistem Informasi Kesehatan di Rumah Sakit
8) Untuk mengetahui Permasalah SIK di Indonesia
9) Untuk mengetahui Penerapan Nilai Profesional oleh Mahasiswa
10) Untuk mengetahui Konsep-konsep pengembangan SIK
11) Untuk mengetahui Tujuan sistem informasi Kesehatan
12) Untuk mengetahui Manfaat Pengembangan sistem informasi Kesehatan
13) Untuk mengetahui Prinsip sistem informasi Kesehatan
14) Untuk mengetahui Kebijakan sistem informasi kesehatan
15) Untuk mengetahui Bbagaimana Kondisi SIK di Indonesia

7
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengantar dan Pengertian Sistem Informasi Kesehatan

Di dalam peraturan pemerintah RI no.46 tahun 2014 tentang sistem


informasi kesehatan, disebutkan bahwa suatu sistem informasi kesehatan
adalah seperangkat tatanan yang meliputi data, informasi, indikator,
prosedur, perangkat, teknologi dan sumber daya manusia yang saling
berkaitan dan dikelola secara terpadu untuk mengarahkan tindakan atau
keputusan yang berguna dalam mendukung pembangunan kesehatan.
Dan untuk mendukung penyelenggaran pembangunan kesehatan tersebut,
diperlukan data, informasi dan indikator kesehatan yang dikelola dalam
sistem informasi kesehatan.

Pada hakekatnya pembangunan kesehatan merupakan upaya


yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa yang bertujuan untuk
meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi
setiap orang, agar peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang
setinggi-tingginya dapat terwujud, sebagai investasi bagi pembangunan
sumber daya manusia yang produktif.

Menurut WHO dalam buku design and implementation of health


information system, sistem informasi kesehatan tidak dapat berdiri sendiri,
melainkan sebagai bagian dari suatu sistem kesehatan. Suatu sistem
informasi kesehatan yang efektif memberikan dukungan informasi bagi
proses pengambilan keputusan di semua jenjang. Sistem informasi harus
dijadikan sebagai alat yang efektif bagi manajemen.

Dalam mencapai derajat kesehatan yang baik maka perlu


dikembangkan nya sistem kesehatan. Salah satunya melalui sistem
informasi kesehatan, derajat kesehatan akan terbagun secara baik dan
selaras. Dimana dengan adanya sistem informasi kesehatan ini masyarakat
juga tenaga kesehatan akan mendapatkan info yang akurat dan tepat dan

8
dapat dipertanggungjawabkan sehingga bisa dijadikan dasar dalam
pengambilan keputusan.

Sistem informasi terdiri dari dua kata, yaitu System dan Information.
Sistem adalah kumpulan elemen yang berintegrasi untuk mencapai tujuan
tertentu, sedangkan informasi adalah data yang telah diolah menjadi bentuk
yang lebih berarti bagi penerimanya dan bermanfaat dalam mengambil
keputusan saat ini atau mendatang (Davis, 1999).

Sistem Informasi Kesehatan (SIK) adalah suatu sistem pengelolaan


data dan informasi kesehatan di semua tingkat pemerintahan secara
sistematis dan terintegrasi untuk mendukung manajemen kesehatan dalam
rangka peningkatan pelayanan kesehatan kepada masyarakat Perturan
perundang undangan. Bagian atau ranah yang menyebutkan sistem
informasi kesehatan adalah Kepmenkes Nomor 004/Menkes/SK/I/2003
tentang kebijakan dan strategi desentralisasi bidang kesehatan dan
Kepmenkes Nomor 932/Menkes/SK/VIII/2002 tentang petunjuk
pelaksanaan pengembangan sistem laporan informasi kesehatan
kabupaten/kota.Kebutuhan akan data dan informasi disediakan melalui
penyelenggaraan Sistem Informasi Kesehatan, yaitu dengan cara
pengumpulan, pengolahan, analisis data serta penyajian informasi.

SIK menurut WHO merupakan salah satu dari 6 “building block” atau
komponen utama dalam sistem kesehatan di suatu negara. Sedangkan di
dalam tatanan Sistem Kesehatan Nasional (SKN), Sistem Informasi
Kesehatan (SIK) termasuk ke dalam sub sistem ke – 6 mengenai
“Manajemen, Informasi dan Regulasi Kesehatan”. WHO juga menjabarkan
manfaat dari investasi sistem informasi kesehatan antara lain : membantu
pengambilan keputusan untuk mendeteksi dan mengendalikan masalah
kesehatan, memantau perkembangan dan meningkatkannya serta
pemberdayaan individu dan komunitas dengan cepat dan mudah dipahami,
serta melakukan berbagai perbaikan kualitas pelayanan Kesehatan

Saat ini Sistem Informasi Kesehatan (SIK) masih terhambat serta


belum mampu menyediakan data dan informasi yang akurat, sehingga SIK
9
masih belum menjadi alat pengelolaan pembangunan kesehatan yang
efektif. Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang
pesat memberikan kemudahan dalam pengguatan dan pengembangan
Sistem Informasi Kesehatan. Saat ini sudah ada kebutuhan-kebutuhan
untuk memanfaatan TIK dalam SIK (eHealth) agar dapat meningkatkan
pengelolaan dan penyelenggaraan pembangunan kesehatan.

Penyelenggaraan Sistem Informasi Kesehatan dilakukan oleh


berbagai program, baik di lingkungan Kementerian Kesehatan maupun
diluar sektor kesehatan. Dalam Rencana Strategis (Renstra) Kementerian
Kesehatan tahun 2010-2014, terdapat target strategis untuk meningkatkan
pengembangan Sistem Informasi Kesehatan. Agar SIK dapat menyediakan
data/informasi yang handal, memperbaiki permasalahan-permasalahan
SIK dan mencapai target Renstra tersebut, maka perlu disusun suatu
Rencana Aksi Penguatan atau Roadmap SIK yang komprehensif dengan
mengintegrasikan upaya-upaya pengembangan dan penguatan SIK, yang
melibatkan semua pemangku kepentingan terkait.

Penggunaan informasi kesehatan dilaksanakan untuk memperoleh


manfaat langsung atau tidak langsung sebagai pengetahuan untuk
m mendukung pengelolaan, pelaksanaan, dan pengembangan
pembangunan kesehatan dan informasi yang didapat harus bersumber dari
informasi yang akurat yang dilaksanakan untuk penyusunan kebijakan,
perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, pengawasan,
pengendalian dan evaluasi pembangunan kesehatan. Selain itu
penggunaannya harus menaati ketentuan tentang :

1. Kerahasiaan informasi, dan

2. Hak atas kekayaan intelektual yang sesuai dengan ketentuan


peraturan perundang-undangan.

Adapun tujuan untuk mewujudkan penyelenggaraan sistem informasi


kesehatan yang berdaya guna dan berhasil guna memiliki arti yang sama
dengan tujuan mendukung proses kerja pemerintah, pemerintah daerah,
10
dan fasilitas pelayanan kesehatan dalam penyelenggaraan
pembangunan kesehatan yang efektif dan efisien. Penyelenggaraan
sistem informasi kesehatan itu juga merupakan bentuk
pertanggungjawaban instansi terhadap penyelenggaraan pembangunan
kesehatan.

2.2 Sejarah SIK Di Indonesia

Mengawali pembahasan mengenai sistem informasi kesehatan akan


tabu rasanya jika kita tidak mengenal perjalanan jatuh bangunnya sistem
informasi kesehatan di Indonesia. Awal mula sistem yang digunakan dalam
pencatatan dan administrasi di rumah sakit dan pelayanan kesehatan
lainnya masih menggunakan sistem yang manual atau pencatatan, dengan
segala resiko sampai terfatal adalah kehilangan data pasien. Namun seiring
berjalan nya zaman dan berkembang pesat nya tekhnologi membuat sistem
informasi kesehatan pun terus berkembang.

Perkembangan sistem informasi Kesehatan di Indonesia diawali


dengan sebuah sistem informasi Rumah sakit yang berbasis komputer
(Computer Based Hospital Information System). Dan yang menginovatori
hal ini adalah Rumah Sakit Husada pada akhir dekade 80’ an. Beriringan
dengan hal itu rupanya Departemen Kesehatan juga mengembangkan
sistem informasi kesehatan berbasis komputer dengan dibantu oleh
proyek luar negri dengan bantuan beberapa tenaga ahli dari universitas
gadjah mada. Namun perjuanagan diawal ini mengalami kemerosotan, hal
ini dilihat darei segi perencanaan yang tidak tersusun dengan baik dimana
identifikasi faktor penentu keberhasilan masih sangat tidak lengkap juga
tidak menyeluruh.

Sistem Informasi Kesehatan di Indonesia telah dan akan mengalami 3


pembagian masa sebagai berikut :

1. Era manual (sebelum 2005)


2. Era Transisi (tahun 2005 – 2011)
3. Era Komputerisasi (mulai 2012)

11
Masing-masing era Sistem Informasi Kesehatan memiliki karakteristik
yang berbeda sebagai bentuk adaptasi dengan perkembangan zaman
(kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi – TIK).

1) Era Manual (sebelum 2005)

Pada era manual ini dimulai sebelum tahun 2005. Pada era manual Aliran
data terfragmentasi. Aliran data dari sumber data (fasilitas kesehatan) ke
pusat melalui berbagai jalan. Data dan informasi dikelola dan disimpan oleh
masing-masing Unit di Departemen Kesehatan. Bentuk data nya agregat.
Kelemahan nya adalah Sering terjadi duplikasi dalam pengumpulan data
dan Sangat beragamnya bentuk laporan. Kemudian Validitas nya masih
diragukan. Data yang ada sulit diakses. Karena banyaknya duplikasi,
permasalahan kelengkapan dan validitas, maka data sulit dioah dan
dianalisis. Dan terpenting dalam Pengiriman data masih banyak
menggunakan kertas sehingga tidak ramah lingkungan.

2) Era Transisi (2005 – 2011)

Dimulai masa transisi pada tahun 2005 sampai 2011 Komunikasi data
sudah mulai terintegrasi (mulai mengenal prinsip 1 pintu, walau beberapa
masih terfragmentasi). Peresebaran data Sebagian besar data agregat dan
sebagian kecil data individual. Sebagian data sudah terkomputerisasi dan
sebagian masih manual. Keamanan dan kerahasiaan data kurang terjamin.
Pada masa transisi ini posisi nya masih setengah setengah karena mulai
menggunakan sistem komputerisasi tapi masih belum meninggalkan sistem
manual.

3) Era Komputerisasi (mulai 2012)

Baru pada 2012 era komputerisasi dimulai , pada era ini Pemanfaatan data
menjadi satu pintu (terintegrasi). Data yang ada adalah individual
(disagregat). Data dari Unit Pelayanan Kesehatan langgsung diunggah
(uploaded) ke bank data di pusat (e-Helath).

12
Penerapan teknologi m-Health dimana data dapat langsung diunggah ke
bank data. Keamanan dan kerahasiaan data terjamin (memakai secure
login). Lebih cepat, tepat waktu dan efisien yang pastinya Lebih ramah
lingkungan.

2.3 Sistem Informasi Kesehatan Nasional (SIKNAS)

Sistem Informasi Kesehatan Nasional (SIKNAS) adalah sistem


informasi yang berhubungan dengan sistem-sistem informasi lain baik
secara nasional maupun internasional dalam rangka kerjasama yang saling
mneguntungkan. SIKNAS bukanlah suatu sistem yang berdiri sendiri,
melainkan merupakan bagian dari sistem kesehatan. Oleh karena itu, SIK
di tingkat pusat merupakan bagian dari sistem kesehatan nasional, di
tingkat provinsi merupakan bagian dari sistem kesehatan provinsi, dan di
tingkat kabupaten atau kota merupakan bagian dari sistem kesehatan
kabupaten atau kota. SIKNAS di bagun dari himpunan atau jaringan sistem-
sistem informasi kesehtan provinsi dan sistem informasi kesehatan provinsi
di bangun dari himpunan atau jaringan sistem-sistem informasi kesehatan
kabupaten atau kota .

13
Jaringan SIKNAS adalah sebuah koneksi/jaringan virtual sistem
informasi kesehatan elektronik yang dikelola oleh Kementrian Kesehatan
dan hanya bisa diakses bila telah dihubungkan. Jaringan SIKNAS
merupakan infrastruktur jaringan komunikasi data terintegrasi dengan
menggunakan Wide Area Network (WAN), jaringan telekomunikasi yang
mencakup area yang luas serta digunakan untuk mengirim data jarak jauh
antara Local Area Network (LAN) yang berbeda, dan arsitektur jaringan
lokal komputer lainnya.

Pengembangan jaringan komputer (SIKNAS) online ditetapkan


melalui keputusan Mentri Kesehatan (KEPMENKES) No. 837 Tahun 2007.
Dengan Tujuan pengembangan SIKNAS online adalah untuk
menjembatani permasalahan kekurangan data dari kabupaten/kota ke
depkes pusat dan memungkinkan aliran data kesehatan dari
kabupaten/kota ke pusdatin karena dampak adanya kebijakan
desentralisasi bidang kesehatan di seluruh Indonesia.

ALUR SIKNAS

14
Gambar 1. Model Sistem Informasi Kesehatan Nasional

Pada Model ini terdapat 7 komponen yang saling terhubug dan saling
terkait yaitu:

1) Sumber Data Manual

Merupakan kegiatan pengumpulan data dari sumber data yang masih


dilakukan secara manual atau secara komputerisasi offline. Model SIK
Nasional yang memanfaatkan kemajuan teknologi informasi dan
komunikasi masih tetap dapat menampung SIK Manual untuk fasilitas
kesehatan yang masih mempunyai keterbatasan infrastruktur (antara lain,
pasokan listrik dan peralatan komputer serta jaringan internet). Fasilitas
pelayanan kesehatan yang masih memakai sistem manual akan melakukan
pencatatan, penyimpanan dan pelaporan berbasis kertas.

Laporan dikirimkan dalam bentuk hardcopy (kertas) berupa data


rekapan/agregat ke dinas kesehatan kabupaten/ kota. Fasilitas pelayanan
kesehatan dengan komputerisasi offline, laporan dikirim dalam
bentuk softcopy berupa data individual ke dinas kesehatan kabupaten/kota.
Bagi petugas kesehatan yang termasuk dalam jejaring puskesmas yang
belum komputerisasi, laporan dikirim dalam bentuk data
rekapan/agregat sesuai jadwal yang telah ditentukan. Sedangkan bagi
yang sudah komputerisasi offline, laporan dikirim dalam
bentuk softcopy untuk dilakukan penggabungan data di puskesmas.

2) Sumber Data Komputerisasi

Pada sumber data komputerisasi pengumpulan data dari sumber data yang
sudah dilakukan secara komputerisasi online. Pada fasilitas pelayanan
kesehatan dengan komputerisasi online, data individual langsung dikirim ke
Bank Data Kesehatan Nasional dalam format yang telah ditentukan. Selain
itu juga akan dikembangkan program mobile health (mHealth) yang dapat
langsung terhubung ke sistem informasi puskesmas (aplikasi SIKDA
Generik).

15
3) Sisitem Informasi Dinas Kesehatan

Merupakan sistem informasi kesehatan yang dikelola oleh dinas kesehatan


baik kabupaten/kota dan provinsi. Laporan yang masuk ke dinas kesehatan
kabupaten/kota dari semua fasilitas kesehatan (kecuali milik Pemerintah
Provinsi dan Pemerintah Pusat) dapat berupa laporan softcopy dan
laporan hardcopy. Laporan hardcopy dientri ke dalam aplikasi SIKDA
generik. Laporan softcopy diimpor ke dalam aplikasi SIKDA Generik,
selanjutnya semua bentuk laporan diunggah ke Bank Data Kesehatan
Nasional. Dinas kesehatan provinsi melakukan hal yang sama dengan
dinas kesehatan kabupaten/kota untuk laporan dari fasilitas kesehatan milik
provinsi.

4) Sistem Informsi Pemangku Kepentingan

Sistem informasi yang dikelola oleh pemangku kepentingan terkait


kesehatan. Mekanisme pertukaran data terkait kesehatan dengan
pemangku kepentingan di semua tingkatan dilakukan dengan mekanisme
yang disepakati.

5) Bank Data Kesehatan Nasional

Bank Data Kesehatan Nasional selanjutnya akan mencakup semua data


kesehatan dari sumber data (fasilitas kesehatan), oleh karena itu unit-unit
program tidak perlu lagi melakukan pengumpulan data langsung ke sumber
data.

6) Pengguna Data oleh Kementrian Kesehatan

Data kesehatan yang sudah diterima di Bank Data Kesehatan Nasional


dapat dimanfaatkan oleh semua unit-unit program di Kementerian
Kesehatan dan UPT-nya serta dinas kesehatan dan UPTP/D-nya.

7) Pengguna Data

Semua pemangku kepentingan yang tidak/belum memiliki sistem informasi


sendiri serta masyarakat yang membutuhkan informasi kesehatan dapat
16
mengakses informasi yang diperlukan dari Bank Data Kesehatan Nasional
melalui website Kementerian Kesehatan.

Namun sebesar apapun rencana pasti ada juga kelemahan dan


kemerosotan yang terjadi. Pelaksanaan SIKNAS di era desentralisasi
dipandang bukan menjadi lebih baik tetapi malah berantakan. Hal ini
dikarenakan belum adanya infrastruktur yang memadai di daerah dan juga
pencatatan dan pelaporan yang ada (produk sentralisasi) banya overlaps
sehingga dirasaka sebagai beba oleh daerah.

Kemudian bergulirnya waktu sampai dengan saat ini telah banyak rumah
sakit dan klinik klinik yang menggunakan sistem informasi kesehatan sesuai
yang dibutuhkan di pelayanan kesehatan tersebut walaupun tidak
menyeluruh seperti di Negara Jepang contohnya. Berkembangnya
tekhnologi informasi saat ini seharusnya bisa dimanfaatkan dalam
pembentukan sistem informasi kesehatan yang menyeluruh. Terkendala
dengan penjangkauan kepada masyarakat Indonesia yang berada di
pelosok yang sulit untuk didata dan sulit untuk menerima informasi baru dari
luar yang mereka anggap asing. Masih tabu dan kentalnya budata
beberapa kelompok masyarakat di Indonesia membuat sistem informasi
belum menyeluruh.

RANCANGAN KERANGKA KERJA SIK DI INDONESIA

17
2.4 URGENSI SISTEM INFORMASI KESEHATAN

Telah jelas bahwasannya perkembangan tekhnologi saat ini sudah


sangat pesat, berkembangnya sistem informasi kesehatan suatu Negara
dipengaruhi juga oleh perkembangan tekhnologi nya. Sistem informasi
kesehatan adalah hal yang sangat urgen yang dibutuhkan setiap Negara
dalam upaya peningkatan derajat kesehatannya. Peranan SIK dalam
Sistem Kesehatan Menurut WHO, Sistem Informasi Kesehatan merupakan
salah satu dari 6 “building blocks” atau komponen utama dalam Sistem
Kesehatan di suatu negara. Keenam komponen (buliding blocks) Sistem
Kesehatan tersebut ialah :

1. Servis Delivery (Pelaksanaan Pelayanan Kesehatan)


2. Medical product, vaccines, and technologies (Produk Medis, vaksin,
dan Teknologi Kesehatan)
3. Health Workforce (Tenaga Medis)
4. Health System Financing (Sistem Pembiayaan Kesehatan)
5. Health Information System (Sistem Informasi Kesehatan)
6. Leadership and Governance (Kepemimpinan dan Pemerintahan)

Sistem Informasi Kesehatan di dalam Sistem Kesehatan


Nasional Indonesia Sistem Kesehatan Nasional Indonesia terdiri dari 7
subsistem, yaitu :

1. Upaya Kesehatan
2. Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
3. Pembiayaan Kesehatan
4. Sumber Daya Mansuia (SDM) Kesehatan
5. Sediaan farmasi, alat kesehatan dan makanan
6. Manajemen, Informasi, dan Regulasi Kesehatan
7. Pemberdayaan Masyarakat

Di dalam Sistem Kesehatan Nasional, SIK merupakan bagian dari


sub sistem ke 6 yaitu : Manajemen, Informasi dan Regulasi
Kesehatan. Subsistem Manajemen dan Informasi Kesehatan
merupakan subsistem yang mengelola fungsi-fungi kebijakan
18
kesehatan, adiminstrasi kesehatan, informasi kesehatan dan hukum
kesehatan yang memadai dan mampu menunjang penyelenggaraan
upaya kesehatan nasional agar berdaya guna, berhasil gunam dan
mendukung penyelenggaraan keenam subsitem lain di dalam Sistem
Kesehatan Nasional sebagai satu kesatuan yang terpadu.

Begitu banyak manfaat Sistem Informasi Kesehatan yang dapat


membantu para pengelola program kesehatan, pengambil kebijakan dan
keputusan pelaksanaan di semua jenjang administrasi (kabupaten atau
kota, propvinsi dan pusat) dan sistem dalam hal berikut :

1. Mendukung manajemen kesehatan


2. Mengidentifikasi masalah dan kebutuhan
3. Mengintervensi masalah kesehatan berdasarkan prioritas
4. Pembuatan keputusan dan pengambilan kebijakan kesehatan
berdasarkan bukti (evidence-based decision)
5. Mengalokasikan sumber daya secara optimal
6. Membantu peningkatan efektivitas dan efisiensi
7. Membantu penilaian transparansi

2.5 PERATURAN SIK DI INDONESIA

Di Indonesia sendiri telah ada susunan undang undang yang


menjelaskan tentang informasi yaitu Menurut UUD 1945, Pasal 28; Setiap
orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk
mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk
mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah dan
menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang
tersedia. Peraturan Sistem Informasi Kesehatan di Indonesia diatur
Menurut Keputusan Mentri Kesehatan dalam undang undang nomer 36
tahun 2009 tentang kesehatan disebutkan bahwa untuk menyelenggarakan

upaya kesehatan yang efektif dan efisien diperlukan informasi


kesehatan yang dilakukan melalui sistem informasi dan melalui lintas
sector. Di dalam undang undang ini dinyatakan pula bahwa ketentuan lebih

19
lanjut mengenai Sistem informasi kesehatan diatur dengan peraturan
pemerintah.

Peraturan menteri kesehatan nomor 1144/ MENKES / PER / VII/


2010 tentang Organisasi dan tata kerja kementrian kesehatan
mengamanatkan pusat data dan informasi (PUSDATIN) sebagai pelaksana
tugas kementrian kesehatan di bidang data dan informasi kesehatan, maka
pusdatin sebagai sekretariat SIK melakukan inisuatif penyusunan regulasi

dan standar SIK berupa rancangan peraturan pemerintah dan NSPK yaitu
panduan ROADMAP rencana aksi penguatan SIK.Dalam menyusunan
standar dan regulasi SIK perlu dibentuk suatu Komite Ahli SIK dan Tim
Perumus SIK. Melalui Keputusan Menteri Kesehatan Nomor
805/Menkes/SK/IV/2011 telah dibentuk Komite Ahli dan Tim Perumus
Penyusunan Peraturan Pemerintah, Pedoman dan Roadmap Sistem
Informasi Kesehatan.

Komite Ahli dan Tim Perumus ini merupakan para ahli yang berasal
dari berbagai institusi/sektor yang mempunyai kaitan dan peran dalam
Sistem Informasi Kesehatan. Setelah tugasnya selesai, komite ini akan
dilebur menjadi Komite Ahli SIK.

Memasuki pembahasan mengenai tugas dan tanggung jawab


pemerintah Daerah dalam pengelolaan dan pengembangan SIK merujuk
pada Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian
Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan
Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota, sebagai berikut :

1. Pemerintah mempunyai hak dan kewajiban untuk mengatur dan


mengurus pengelolaan dan pengembangan SIK skala nasional dan
fasilitasi pengembangan SIK daerah.
2. Pemerintah Daerah Provinsi mempunyai hak dan kewajiban untuk
mengatur dan mengurus pengelolaan SIK skala provinsi.
3. Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota mempunyai hak dan kewajiban
untuk mengatur dan mengurus pengelolaan SIK skala kabupaten/kota.

20
2.6 SISTEM INFORMASI KESEHATAN DI PUSKESMAS

Dalam pelaksanaan nya Puskesmas di Indonesia sudah menganut


sistem informasi kesehatan yang di canangkan pemerintah. Sistem
informasi kesehatan yang dianut puskesmas pada saat ini masih di
dominasi oleh SP2TP . seperti diketahui bahwa puskesmas adalah uung
tombak pemerintah dalam upaya pelayanan kesehatan di masyarakat.
Sesuai dengan KEPMENKES RI No 128 tahun 2004 tentang kebijakan
dasar pusat kesehatan masyarakat nahwa puskesmas di definisikan
sebagai unit pelaksana teknis di kabupaten/kota yang bertanggungjawab
melaksanakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah. Proses
penyelenggaraan, pemantauan serta penilaian yang dilakukan Puskesmas
terhadap rencana kegiatan yang telah ditetapkan baik rencan upaya wajib
maupun pengembangan dalam mengatasi masalah kesehatan yang ada di
wilayahnya. Salah satu bentuk pemantauan adalah dengan Sistem
Informasi Manajemen Puskesmas (SIMPUS).

SIMPUS merupakan pilihan bagi daerah dalam pengembangan


sistem informasi kesehatan yang lebih cepat dan akurat. Pada potensi yang
dimilikinya sebenarnya SIMPUS dapat menggantikan sistem pencatatan
dan pelaporan terpadu puskesmas (SP2TP). Karena SIMPUS merupakan
hasil dari pengolahan berbagai sumber informasi seperti SP2TP, survei
lapangan, laporan lintas sector, dan laporan sarana kesehatan swasta.
Seiring kemajuan tekhnologi,SIMPUS pun dikembangkan melalui sistem
komputerisasi dalam suatu software yang bekerja dalam sebuah sistem
operasi. Tetapi kendalanya SIMPUS masih belum berjalan secara optimal
di daerah.

2.7 SIK DI RUMAH SAKIT

Sistem informasi rumah sakit tidak dapat lepas kaitannya dengan


sistem informasi kesehatan karena sistem ini merupakan aplikasi dari
sistem informasi kesehatan itu sendiri. Untuk itu, perlu kita mengetahui
sedikit tentang sistem informasi rumah sakit yang ada di Indonesia, mulai
dari rancang bangun (desain) sistem informasi rumah sakit hingga
pengembangannya.
21
1) Rancang Bangun (desain) Sistem Informasi Rumah Sakit

Rancang Bangun Rumah Sakit (SIRS), sangat bergantung kepada jenis


dari rumah sakit tersebut. Rumah sakit di Indonesia, berdasarkan
kepemilikannya dibagi menjadi 2, sebagai berikut:

a) Rumah Sakit Pemerintah, yang dikelola oleh:

 Departemen Kesehatan,

 Departemen Dalam Negeri,

 TNI,

 BUMN.

Sifat rumah sakit ini adalah tidak mencari keuntungan (non profit)

b) Rumah Sakit Swasta yang dimiliki dan dikelola oleh sebuah yayasan,
baik yang sifatnya tidak mencari keuntungan (non profit) maupun yang
memang mencari keuntungan (profit) .

Dalam melakukan pengembangan SIRS, pengembang haruslah


bertumpu dalam 2 hal penting yaitu “Kriteria dan kebijakan
pengembangan SIRS” dan “sasaran pengembangan SIRS” tersebut.
Adapun kriteria dan kebijakan yang umumnya dipergunakan dalam
penyusunan spesifikasi SIRS adalah sebagai berikut:

1. SIRS harus dapat berperan sebagai subsistem dari Sistem


Kesehatan Nasional dalam memberikan informasi yang relevan,
akurat dan tepat waktu.
2. SIRS harus mampu mengaitkan dan mengintegrasikan seluruh arus
informasi dalam jajaran Rumah Sakit dalam suatu sistem yang
terpadu.
3. SIRS dapat menunjang proses pengambilan keputusan dalam
proses perencanaan maupun pengambilan keputusan operasional
pada berbagai tingkatan.

22
4. SIRS yang dikembangkan harus dapat meningkatkan daya-guna dan
hasil-guna terhadap usaha-usaha pengembangan sistem informasi
rumah sakit yang telah ada maupun yang sedang dikembangkan.
5. SIRS yang dikembangkan harus mempunyai kemampuan
beradaptasi terhadap perubahan dan perkembangan dimasa datang.
6. Usaha pengembangan sistem informasi yang menyeluruh dan
terpadu dengan biaya investasi yang tidak sedikit harus diimbangi
pula dengan hasil dan manfaat yang berarti (rate of return) dalam
waktu yang relatif singkat.
7. SIRS yang dikembangkan harus mampu mengatasi kerugian sedini
mungkin.
8. Pentahapan pengembangan SIRS harus disesuaikan dengan
keadaan masing-masing subsistem serta sesuai dengan kriteria
dan prioritas.
9. SIRS yang dikembangkan harus mudah dipergunakan oleh petugas,
bahkan bagi petugas yang awam sekalipun terhadap teknologi
komputer (user friendly).
10. SIRS yang dikembangkan sedapat mungkin menekan seminimal
mungkin perubahan, karena keterbatasan kemampuan pengguna
SIRS di Indonesia, untuk melakukan adaptasi dengan sistem yang
baru.
11. Pengembangan diarahkan pada subsistem yang mempunyai
dampak yang kuat terhadap pengembangan SIRS.

Atas dasar dari penetapan kriteria dan kebijakan pengembangan SIRS di


atas, selanjutnya ditetapkan sasaran pengembangan sebagai penjabaran
dari Sasaran Jangka Pendek Pengembangan SIRS, sebagai berikut:

1. Memiliki aspek pengawasan terpadu, baik yang bersifat pemeriksaan


atau pengawasan (auditable) maupun dalam hal pertanggungjawaban
penggunaan dana (accountable) oleh unit-unit yang ada di lingkungan
rumah sakit.
2. Terbentuknya sistem pelaporan yang sederhana dan mudah
dilaksanakan, akan tetapi cukup lengkap dan terpadu.

23
3. Terbentuknya suatu sistem informasi yang dapat memberikan
dukungan akan informasi yang relevan, akurat dan tepat waktu melalui
dukungan data yang bersifat dinamis.
4. Meningkatkan daya-guna dan hasil-guna seluruh unit organisasi
dengan menekan pemborosan.
5. Terjaminnya konsistensi data.
6. Orientasi ke masa depan.
7. Pendayagunaan terhadap usaha-usaha pengembangan sistem
informasi yang telah ada maupun sedang dikembangkan, agar
dapat terus dikembangkan dengan mempertimbangkan
integrasinya sesuai Rancangan Global SIRS.

SIRS merupakan suatu sistem informasi yang, cakupannya luas (terutama


untuk rumah sakit tipe A dan B) dan mempunyai kompleksitas yang cukup
tinggi. Oleh karena itu penerapan sistem yang dirancang harus dilakukan
dengan memilih pentahapan yang sesuai dengan kondisi masing masing
subsistem, atas dasar kriteria dan prioritas yang ditentukan.
Kesinambungan antara tahapan yang satu dengan tahapan berikutnya
harus tetap terjaga. Secara garis besar tahapan pengembangan SIRS
adalah sebagai berikut:

1. Penyusunan Rencana Induk Pengembangan SIRS,


2. Penyusunan Rancangan Global SIRS,
3. Penyusunan Rancangan Detail/Rinci SIRS,
4. Pembuatan Prototipe, terutama untuk aplikasi yang sangat spesifik,
5. Implementasi, dalam arti pembuatan aplikasi, pemilihan dan
pengadaan perangkat keras maupun perangkat lunak pendukung.
6. Operasionalisasi dan Pemantapan.

Sistem Informasi Rumah Sakit yang berbasis komputer (Computer


Based Hospital Information System) memang sangat diperlukan untuk
sebuah rumah sakit dalam era globalisasi, namun untuk membangun
sistem informasi yang terpadu memerlukan tenaga dan biaya yang cukup
besar. Kebutuhan akan tenaga dan biaya yang besar tidak hanya dalam
pengembangannya, namun juga dalam pemeliharaan SIRS maupun dalam
24
melakukan migrasi dari sistem yang lama pada sistem yang baru. Selama
manajemen rumah sakit belum menganggap bahwa informasi adalah
merupakan aset dari rumah sakit tersebut, maka kebutuhan biaya dan
tenaga tersebut diatas dirasakan sebagai beban yang berat, bukan sebagai
konsekuensi dari adanya kebutuhan akan informasi.Kalau informasi telah
menjadi aset rumah sakit, maka beban biaya untuk pengembangan,
pemeliharaan maupun migrasi SIRS sudah selayaknya masuk dalam
kalkulasi biaya layanan kesehatan yang dapat diberikan oleh rumah sakit
itu. Perlu disadari sepenuhnya, bahwa penggunaan teknologi informasi
dapat menyebabkan ketergantungan, dalam arti sekali
mengimplementasikan dan mengoperasionalkan SIRS, maka rumah sakit
tersebut selamanya terpaksa harus menggunakan teknologi informasi.

Hal ini disebabkan karena perubahan dari sistem yang terotomasi


menjadi sistem manual merupakan kejadian yang sangat tidak
menguntungkan bagi rumah sakit tersebut. Perangkat lunak SIRS siap
pakai yang tersedia di pasaran pada saat ini sebagian besar adalah
perangkat lunak SIRS yang hanya mengelola sebagian sistem atau
beberapa subsistem dari SIRS. Untuk dapat memilih perangkat lunak SIRS
siap pakai dan perangkat keras yang akan digunakan, maka rumah sakit
tersebut harus sudah memiliki rancang bangun (desain) SIRS yang sesuai
dengan kondisi dan situasi rumah Sakit.

2.8 Permasalahan Sistem Informasi Kesehatan di Indonesia

Dalam pelaksanaan nya sistem informasi kesehatan di Indonesia


memiliki permasalahan yang cukup kompleks ,Permasalahan mendasar
Sistem Informasi Kesehatan di Indonesia saat ini antara lain :

1) Faktor Pemerintah

o Standar SIK belum ada sampai saat


o Pedoman SIK sudah ada tapi belum seragam
o Belum ada rencana kerja SIK nasional
o Pengembangan SIK di kabupaten atau kota tidak seragam

25
2) Fragmentasi

o Terlalu banyak sistem yang berbeda-beda di semua jenjang administasi


(kabupaten atau kota, provinsi dan pusat), sehingga terjadi duplikasi
data, data tidak lengkap, tidak valid dan tidak conect dengan pusat.
o Kesenjangan aliran data (terfragmentasi, banyak hambatan dan tidak
tepat waktu)
o Hasil penelitian di NTB membuktikan bahwa : Puskesmas harus
mengirim lebih dari 300 laporan dan ada 8 macam software sehingga
beban administrasi dan beban petugas terlalu tinggi. Hal ini dianggap
tidak efektif dan tidak efisien.
o Format pencatatan dan pelaporan masih berbeda-beda dan belum
standar secara nasional.

2.9 Perkembangan Sistem Informasi Kesehatan di Indonesia

Setelah melihat permasalahan yang terjadi dalam sistem Informasi


Kesehatan di Indonesia maka pandangan Sistem Informasi Kesehatan di
masa Depan Dalam upaya mengatasi fragmentasi data, Pemerintah
sedang mengembangkan aplikasi yang disebut Sistem Aplikasi Daerah
(Sikda) Generik. Sistem Informasi Kesehatan berbasis Generik mempunyai
ciri-ciri sebagai berikut :

 Input pencatatan dan pelaporan berbasis elektronik atau


computerized.

 Input data hanya dilakukan di tempat adanya pelayanan kesehatan


(fasilitas kesehatan).

 Tidak ada duplikasi (hanya dilakukan 1 kali).

 Akurat, tepat, hemat sember daya (efisien) dan transfaran. Tejadi


pengurangan beban kerja sehingga petugas memiliki waktu tambahan
untuk melayani pasien atau masyarakat.

 Data yang dikirim (uploaded) ke pusat merupakan data individu yang


digital di kirim ke bank data nasional (data warehouse).
26
 Laporan diambil dari bank data sehingga tidak membebani petugas
kesehatan di Unit pelayanan terdepan.

 Puskesmas dan Dinas Kesehatan akan dilengkapi dengan peralatan


berbasis komputer.

 Petugas akan ditingkatkan kompetensinya melalui pelatihan untuk


menerapkan Sikda Generik.

 Mudah dilakukan berbagai jenis analisis dan assesment pada data.

 Secara bertahap akan diterapkan 3 aplikasi Sikda Generik yaitu


Sistem Informasi Manajemen Kesehatan, Sistem Informasi Dinas
Kesehatan dan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit.

2.10 Konsep-konsep Pengembangan Sistem Informasi Kesehatan

Untuk mengatasi kekurangan dan ketidakkompakan dari badan


kesehatan di Indonesia maka dibentuklah sistem informasi kesehatan.
Dalam melakukan pengembangan sistem informasi secara umum, ada
beberapa konsep dasar yang harus dipahami oleh para pembuat rancang
bangun sistem informasi, yaitu antara lain :

1) Sistem informasi tidak identik dengan sistem komputerisasi.

Pada dasarnya sistem informasi tidak bergantung pada penggunaan


teknologi komputer. Sistem informasi yang dimaksud disini adalah sistem
informasi yang berbasis komputer. Hal-hal yang penting dalam
pemanfaatan teknologi komputer/informasi dalam suatu sistem informasi
suatu organisasi adalah :

1) Pengambilan keputusan yang tidak dilandasi dengan informasi.

2) Informasi yang tersedia tidak relevan.

3) Informasi yang ada tidak dimanfaatkan oleh manajemen.

27
4) Informasi yang ada tidak tepat waktu

5) Terlalu banyak informasi.

6) Informasi yang tersedia tidak akurat.

7) Adanya duplikasi data (redundancy).

8) Adanya data yang cara pemanfaatannya tidak fleksibel.

2) Sistem informasi organisasi adalah suatu sistem yang dinamis.

Dinamika sistem informasi dalam suatu organisasi sangat ditentukan oleh


dinamika perkembangan organisasi tersebut. Oleh karena itu perlu disadari
bahwa pengembangan sistem informasi tidak pernah berhenti.

3) Sistem informasi sebagai suatu sistem harus mengikuti siklus hidup


sistem.

Sistem informasi memiliki umur layak guna, maksudnya panjang


pendeknya umur layak guna sistem informasi ditentukan oleh :

a) Makin cepat organisasi tersebut berkembang, maka kebutuhan


informasi juga akan berkembang sedemikian rupa sehingga sistem
informasi yang sekarang digunakan sudah tidak lagi memenuhi
kebutuhan organisasi tersebut.

b) Perkembangan teknologi informasi yang cepat menyebabkan


perangkat keras maupun perangkat lunak yang digunakan untuk
mendukung beroperasinya sistem informasi tidak bisa berfungsi secara
efisien dan efektif. Hal ini disebabkan karena :

 Perangkat keras yang digunakan sudah tidak diproduksi lagi,


karena teknologinya ketinggalan zaman, sehingga layanan
pemeliharaan perangkat keras tidak dapat lagi dilakukan oleh
perusahaan pemasok perangkat keras.

28
 Perusahaan pembuat perangkat lunak yang sedang
digunakan, sudah mengeluarkan versi baru. Versi terbaru itu
umumnya mempunyai feature yang lebih banyak, melakukan
optimasi proses dari versi sebelumnya dan memanfaatkan
feature baru dari perangkat keras yang juga telah
berkembang. Jadi mengingat perkembangan teknologi
informasi yang berlangsung dengan cepat, maka pengguna
harus sigap dalam memanfaatkan dan menggunakan
teknologi tersebut.

Yang dimaksud dengan perangkat keras (hardware) adalah peralatan yang


digunakan dalam pengumpulan data, pengolahan data, dan penyajian data
serta untuk komunikasi data. Perangkat keras tersebut berupa perangkat
elektronik dan/atau nonelektronik, antara lain berupa kartu, buku register,
formulir laporan, jaringan komputer, dan media koneksi.

Sedangkan yang dimaksud perangkat lunak (software) adalah kumpulan


program komputer yang berisi instruksi atau perintah untuk menjalankan
proses pengelolaan data. Perangkat lunak meliputi perangkat lunak untuk
sistem operasi, perangkat lunak untuk aplikasi, dan perangkat lunak
pabrikan yang dapat terintegrasi dalam penyelenggaraan sistem informasi
kesehatan nasional, provinsi, kabupaten/kota, dan fasilitas pelayanan
kesehatan.

c) Perkembangan tingkat kemampuan pengguna (user) sistem informasi.


Suatu sistem informasi yang baik, akan dikembangkan berdasarkan tingkat
kemampuan dari para pengguna, baik dari sisi :

 Tingkat pemahaman mengenai teknologi informasi.

 Kemampuan belajar dari para pengguna.

 Kemampuan beradaptasi terhadap perubahan sistem.

4) Daya guna sistem informasi sangat ditentukan oleh tingkat integritas


sistem informasi itu sendiri.

29
Sistem informasi yang terpadu (integrated) mempunyai daya guna yang
tinggi, jika dibandingkan dengan sistem informasi yang terfragmentasi.
Usaha untuk melakukan integrasi sistem yang ada di dalam suatu
organisasi menjadi satu sistem yang utuh merupakan usaha yang berat dan
harus dilakukan secara berkesinambungan. Sinkronisasi antar sistem yang
ada dalam sistem informasi itu, merupakan prasyarat yang mutlak untuk
mendapatkan sistem informasi yang terpadu.

5) Keberhasilan pengembangan sistem informasi sangat bergantung


pada strategi yang dipilih untuk pengembangan sistem tersebut.

Strategi yang dipilih untuk melakukan pengembangan sistem sangat


bergantung pada besar kecilnya cakupan dan kompleksitas dari sistem
informasi tersebut.

Dan ketidaktepatan dalam melakukan prediksi keadaan di masa


mendatang, merupakan salah satu penyebab kegagalan implementasi dan
operasionalisasi sistem informasi.

6) Pengembangan sistem informasi organisasi harus menggunakan


pendekatan fungsi dan dilakukan secara menyeluruh.

Pengembangan sistem informasi harus dilakukan dengan menggunakan


pendekatan struktur organisasi dan pada umumnya mereka mengalami
kegagalan, karena struktur organisasi sering kali kurang mencerminkan
semua fungsi yang ada di dalam organisasi. Sebagai pengembang, sistem
informasi hanya bertanggung jawab dalam mengintegrasikan fungsi-fungsi
dan sistem yang ada di dalam organisasi tersebut menjadi satu. Pemetaan
fungsi-fungsi dan sistem ke dalam unit-unit struktural yang ada di dalam
organisasi adalah wewenang dan tanggung jawab dari pimpinan organisasi.
Adapun penyusunan rancang bangun atau design sistem informasi harus
dilakukan secara menyeluruh, sedangkan dalam pembuatan aplikasi bisa
dilakukan secara sektoral atau segmental menurut prioritas dan
ketersediaan dana.

30
Pengembangan dan penguatan sistem informasi kesehatan dilakukan
dengan memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut :

 Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi.

Pemanfaatan TIK diperlukan untuk mendukung sistem informasi dalam


proses pencatatan data agar dapat meningkatkan akurasi data dan
kecepatan dalam penyediaan data untuk diseminasi informasi dan untuk
meningkatkan efisiensi dalam proses kerja serta memperkuat
transparansi.

 Keamanan dan kerahasiaan data.

Sistem informasi yang dikembangkan dapat menjamin keamanan dan


kerahasiaan data. Agar sistem informasi kesehatan terstandar perlu
menyediakan pedoman nasional untuk pengembangan dan
pemanfaatan TIK.

Sistem informasi kesehatan yang dikembangkan dapat


mengintegrasikan berbagai macam sumber data, termasuk pula dalam
pemanfaatan TIK.

 Kemudahan akses.

Data dan informasi yang tersedia mudah diakses oleh semua


pemangku `kepentingan. Data dan informasi yang dikumpulkan harus
dapat ditelusuri lebih dalam secara individual dan aggregate,

Dalam konsep manajemen modern, informasi telah menjadi salah satu


aset dari suatu organisasi, selain uang, SDM, sarana dan prasarana.
Penggunaan informasi internal dan eksternal organisasi merupakan
salah satu keunggulan kompetitif.

31
Hal tersebut karena keberadaan informasi menentukan kelancaran dan
kualitas proses kerja, dan menjadi ukuran kinerja organisasi atau
perusahaan, serta menjadi acuan yang pada akhirnya menentukan
kedudukan atau peringkat organisasi tersebut dalam persaingan lokal
maupun global.

Dalam konsep manajemen modern, informasi telah menjadi salah satu


aset dari suatu organisasi, selain uang, SDM, sarana dan prasarana.
Penggunaan informasi internal dan eksternal organisasi merupakan
salah satu keunggulan kompetitif, hal tersebut karena keberadaan
informasi menentukan kelancaran dan kualitas proses kerja, dan
menjadi ukuran kinerja organisasi atau perusahaan, serta menjadi
acuan yang pada akhirnya menentukan kedudukan atau peringkat
organisasi tersebut dalam persaingan lokal maupun global.

Adapun yang dimaksud dengan Informasi kesehatan disini adalah informasi


yang terdiri dari :

1. Informasi upaya kesehatan. Untuk informasi ini paling sedikit harus


memuat mengenai informasi penyelenggaraan pencegahan,
peningkatan, pengobatan dan pemulihan kesehatan dan fasilitas
pelayanan kesehatan

2. Informasi penelitian dan pengembangan kesehatan. Informasi harus


memuat hasil penelitian dan pengembangan kesehatan dan hak
kekayaan intelektual bidang kesehatan.

3. Informasi pembiayaan kesehatan. informasi disini paling sedikit harus


memuat informasi mengenai sumber dana, pengalokasian dana dan
pembelanjaan. Informasi sumber daya manusia kesehatan.

Informasi disini harus memuat :

32
 jenis, jumlah, kompetensi, kewenangan dan pemerataan sumber
daya manusia kesehatan.

 sumber daya untuk pengembangan dan pemberdayaan sumber


daya manusia kesehatan.

 penyelenggaraan pengembangan dan pemberdayaan sumber daya


manusia kesehatan.

4. Informasi sediaan farmasi, alat kesehatan dan makanan.

Informasi ini paling sedikit harus memuat :

 Jenis, bentuk, bahan, jumlah dan khasiat sediaan farmasi.

 Jenis, bentuk, jumlah, dan manfaat alat kesehatan.

 Jenis dan kandungan makanan.

 Informasi manajemen dan regulasi kesehatan.

Informasi ini paling sedikit harus memuat :

 Perencanaan kesehatan.

 Pembinaan dan pengawasan kesehatan, penelitian dan


pengembangan kesehatan, pembiayaan kesehatan, sumber daya
manusia kesehatan, sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan,
pemberdayaan masyarakat.

 Kebijakan kesehatan dan

 Produk hukum.

 Informasi pemberdayaan masyarakat.

Meliputi informasi mengenai :

 Jenis organisasi kemasyarakatan yang peduli kesehatan.

33
 Hasil kegiatan pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan,
termasuk penggerakan masyarakat.

Penjabaran sistem sampai ke aplikasi menggunakan struktur hirarkis yang


mudah dipahami. Oleh karena penjabaran sistem informasi cukup luas dan
menimbulkan kesulitan, maka dalam penjabarannya sering digunakan
istilah :

 sistem

 subsistem

 modul

 submodul

 dan aplikasi

Masing-masing subsistem dapat terdiri atas beberapa modul, masing-


masing modul dapat terdiri dari beberapa submodul dan masing-masing
submodul dapat terdiri dari beberapa aplikasi sesuai dengan kebutuhan.
Struktur hirarki seperti ini sangat memudahkan dari segi pemahaman
maupun penamaan.

7) Informasi sediaan farmasi, alat kesehatan dan makanan:


Informasi ini paling sedikit harus memuat :
 Jenis, bentuk, bahan, jumlah dan khasiat sediaan farmasi.
 Jenis, bentuk, jumlah, dan manfaat alat kesehatan.
 Jenis dan kandungan makanan.

9). Penjabaran sistem sampai ke aplikasi menggunakan struktur


hirarkis yang mudah dipahami.
Oleh karena penjabaran sistem informasi cukup luas dan menimbulkan
kesulitan, maka dalam penjabarannya sering digunakan istilah :
 Sistem, subsistem, modul, submodul, dan aplikasi,
 Masing-masing subsistem dapat terdiri atas beberapa modul,
masing- masing modul dapat terdiri dari beberapa submodul dan
masing-masing.

34
2.11 Tujuan sistem informasi kesehatan

Adapun dibentuknya pengaturan sistem informasi kesehatan itu


bertujuan untuk:

1. Menjamin ketersediaan, kualitas dan akses terhadap informasi


kesehatan yang bernilai pengetahuan serta dapat
dipertanggungjawabkan.
2. Memberdayakan peran serta masyarakat, termasuk organisasi
profesi dalam penyelenggaraan sistem informasi kesehatan.
3. Mewujudkan penyelenggaraan sistem informasi kesehatan dalam ruang
lingkup sistem kesehatan nasional yang berdaya guna dan berhasil
guna terutama melalui penguatan kerja sama, koordinasi, integrasi, dan
sinkronisasi dalam mendukung penyelenggaraan pembangunan
kesehatan yang berkesinambungan.

 Sistem informasi kesehatan di Indonesia wajib dikelola oleh :


1. Pemerintah pusat untuk ruang lingkup berskala nasional dalam ruang
lingkup sistem kesehatan nasional.
2. Pemerintah daerah provinsi untuk tingkat provinsi.

3. Pemerintah daerah kabupaten/kota untuk skala kabupaten/kota,


4. Fasilitas pelayanan kesehatan untuk pengelolaan sistem informasi
kesehatan dengan skala fasilitas pelayanan kesehatan.

 Semua pengelola sistem informasi kesehatan juga diwajibkan untuk :


1. Memberikan data dan informasi kesehatan yang diminta oleh pengelola
sistem informasi kesehatan nasional, provinsi, dan/atau kabupaten/kota
2. Menyediakan akses pengiriman data dan informasi kesehatan kepada
pengelola sistem informasi kesehatan nasional, provinsi, dan/atau
kabupaten/kota
3. Menyediakan akses pengambilan data dan informasi kesehatan bagi
pengelola sister informasi kesehatan nasional, provinsi, dan/atau
kabupaten/kota

35
4. Menyediakan akses keterbukaan informasi kesehatan bagi masyarakat
untuk informasi kesehatan yang bersifat terbuka.

Pengelolaan sistem informasi kesehatan menimbulkan konsekuensi


tanggung jawab dalam pelaksanaannya. Jadi pemerintah bersama-
sama dengan pemerintah daerah dan fasilitas pelayanan kesehatan
bertanggung jawab dalam pengembangan dan pengelolaan sistem
informasi kesehatan sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing.
Tanggung jawab yang harus dilaksanakan oleh pemerintah adalah
menetapkan standar dalam pengelolaan sistem informasi kesehatan,
untuk mengatur efisiensi dan efektivitas sistem informasi kesehatan
dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi secara
tepat.
Di samping itu, pemerintah, pemerintah daerah, dan pimpinan
fasilitas pelayanan kesehatan bertanggung jawab atas ketersediaan
akses terhadap informasi kesehatan dalam upaya meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat, serta bertanggung jawab juga atas ketersediaan
sumber daya untuk pengelolaan sistem informasi kesehatan.
Tanggung jawab setiap institusi yang melaksanakan sistem
informasi kesehatan juga berkaitan dengan kewajiban untuk menjamin
keandalan sistem yang digunakan, kerahasiaan isi data yang dimiliki
serta akses bagi pemilik data kesehatan. Serta bertanggung jawab
terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kewajiban untuk
menyampaikan dan melaporkan informasi kesehatan untuk kepentingan
pelayanan serta kebijakan kesehatan termasuk dalam rangka
pemberantasan penyakit.
Sistem informasi kesehatan harus dikelola secara berjenjang,
terkoneksi, dan terintegrasi serta didukung dengan kegiatan
pemantauan, pengendalian dan evaluasi. Dan pengelolaan sistem
informasi kesehatan tersebut meliputi :
• Perencanaan program
• Pengorganisasian
• Kerja sama dan koordinasi dalam unsur kesehatan sendiri dan
melalui lintas sektor, termasuk melalui jejaring global
36
• Penguatan sumber daya
• Pengelolaan data dan informasi kesehatan, meliputi kegiatan
pencatatan, pengumpulan, standarisasi, pengolahan, penyimpanan,
penyebarluasan, dan penggunaan
• Pendayagunaan dan pengembangan sumber daya, meliputi
perangkat keras, perangkat lunak, sumber daya manusia dan
pembiayaan
• Pengoperasian sistem elektronik kesehatan
• Pengembangan sistem informasi kesehatan
• Pemantauan dan evaluasi
• Pembinaan dan pengawasan

Informasi kesehatan diperlukan untuk menyelenggarakan upaya


kesehatan yang efisien dan efektif. Informasi tersebut digunakan untuk
masukan dalam pengambilan keputusan dalam setiap proses
manajemen kesehatan, baik untuk manajemen pelayanan kesehatan,
institusi kesehatan, maupun program pembangunan kesehatan atau
manajemen wilayah.
Selain itu pemerintah juga memberi kemudahan kepada masyarakat
untuk mengakses informasi kesehatan, melalui penyelenggaraan
sistem informasi kesehatan dan lintas sektor. Sistem informasi
kesehatan diselenggarakan berdasarkan asas kepastian hukum, itikad
baik, kemanfaatan, tata kelola yang baik, ketersediaan data, ketepatan
waktu, standarisasi, integrasi, keamanan dan kerahasiaan informasi ,
dan netralitas teknologi.

Berkembangnya sistem informasi kesehatan sangat didukung oleh


kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, yang signifikan memberi
kontribusi bagi implementasi sistem informasi secara lebih profesional,
sehingga dapat meningkatkan kualitas dan kecepatan proses kerja
terutama di fasilitas pelayanan kesehatan dan mengoptimalkan aliran
data yang dapat meningkatkan ketersediaan data, kualitas data dan
informasi kesehatan dan yang terkait. Selain itu, pelayanan kesehatan
juga tidak dibatasi oleh jarak dan waktu, karena sejak tahun 1990-an,
37
organisasi-organisasi kesehatan sudah dihubungkan dengan jaringan
sistem teknologi informasi secara global dengan teknologi
telekomunikasi melalui internet.

Untuk menertibkan dan menyinkronkan penyelenggaraan sistem


informasi kesehatan yang selama ini belum terintegrasi, maka
diperlukan penguatan sistem informasi kesehatan, lintas program, dan
urusan secara berjenjang di pusat dan daerah dan didukung dengan
peraturan perundang-undangan.
Kegiatan pengelolaan sistem informasi kesehatan yang belum
terintegrasi dan terkoordinasi inilah yang menjadi salah satu masalah,
selain tentunya overlapping kegiatan dalam pengumpulan dan
pengolahan data, karena masing-masing unit mengumpulkan datanya
sendiri-sendiri dengan berbagai instrumennya di setiap unit kerja, baik
di pusat dan di daerah, sehingga penyelenggaraan sistem informasi
kesehatan belum bisa dilakukan secara efisien dan efektif.

Karena suatu sistem informasi merupakan jiwa dari suatu institusi,


maka sistem informasi kesehatan merupakan jiwa dari institusi
kesehatan. Jadi dengan kondisi sistem informasi kesehatan yang kuat
akan mampu mendukung upaya-upaya dari institusi kesehatan.
Penguatan sistem infomasi kesehatan secara tidak langsung akan turut
pula memperkuat sistem kesehatan nasional. Agar upaya penguatan
dapat terarah, saling terkait dan dengan langkah-langkah serta strategi
yang jelas dan komprehensif, maka disusunlah suatu roadmap rencana
aksi penguatan sistem informasi kesehatan pada tahun 2011-2014,
yang merupakan rencana kerja jangka menengah yang komprehensif
dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan dari sistem informasi
kesehatan dalam penerapannya.

Sampai saat ini sistem informasi kesehatan masih terfragmentasi


dan belum mampu menyediakan data dan informasi yang handal,
sehingga sistem informasi kesehatan masih belum menjadi alat
pengelolaan pembangunan kesehatan yang efektif. Untuk
38
menyelenggarakan pengelolaan pembangunan kesehatan diperlukan
komponen yang dikelompokkan dalam tujuh subsistem, yaitu :
1. Upaya kesehatan.
2. Penelitian dan pengembangan kesehatan.
3. Pembiayaan kesehatan.
4. Sumber daya manusia kesehatan.
5. Sediaan farmasi, alat kesehatan, dan makanan.
6. Manajemen, informasi, dan regulasi kesehatan.
7. Pemberdayaan masyarakat.

Pembangunan kesehatan adalah upaya yang dilakukan oleh semua


komponen bangsa yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran,
kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud
derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya dapat terwujud,
sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang
produktif secara sosial dan ekonomi.

Pembangunan kesehatan juga menuntut adanya dukungan sumber


daya yang cukup serta arah kebijakan dan strategi pembangunan
kesehatan yang tepat. Data dan informasi adalah sumber daya yang
sangat strategis dalam pengelolaan pembangunan kesehatan, yaitu
pada proses manajemen, pengambilan keputusan, kepemerintahan dan
penerapan akuntabilitas. Namun, pembuat kebijakan sering kali
mengalami kesulitan dalam hal mengambil keputusan yang tepat dan
cepat, hal ini dikarenakan keterbatasan atau ketidaktersediaan data dan
informasi yang akurat, cepat dan tepat. Karena itulah, dengan adanya
perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang pesat saat ini,
dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan pengelolaan dan
penyelenggaraan pembangunan kesehatan.

2.12 Manfaat Pengembangan Sistem Informasi Kesehatan


Begitu banyak manfaat Sistem Informasi Kesehatan yang dapat
membantu para pengelola program kesehatan, pengambil kebijakan dan

39
keputusan pelaksanaan di semua jenjang administrasi (kabupaten atau
kota, propvinsi dan pusat) dan sistem dalam hal berikut:

 Memudahkan setiap pasien untuk melakukan pengobatan di


rumah sakit.
 Memudahkan rumah sakit untuk mendaftar setiap pasien yang
berobat di situ.
 Semua kegiatan di rumah sakit terkontrol dengan baik/ bekerja
secara terstruktur.
 Mengalokasikan sumber daya secara optimal
 Membantu peningkatan efektivitas dan efisiensi
 Membantu penilaian transparansi
 Mendukung manajemen Kesehatan
 Mengidentifikasi masalah dan kebutuhan
 Mengintervensi masalah kesehatan berdasarkan prioritas
 Pembuatan keputusan dan pengambilan kebijakan kesehatan
berdasarkan bukti (evidence-based decision)

2.13 Prinsip Sistem Informasi Kesehatan


Pengembangan dan penguatan SIK dilakukan dengan
memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut:
1) Pemanfaatan TIK.
Pemanfaatan TIK diperlukan untuk mendukung sistem informasi
dalam proses pencatatan data agar dapat meningkatkan akurasi
data dan kecepatan dalam penyediaan data untuk diseminasi
informasi dan untuk meningkatkan efisiensi dalam proses kerja serta
memperkuat transparansi.
2) Keamanan dan Kerahasiaan data.
Sistem Informasi yang dikembangkan dapat menjamin keamanan
dan kerahasiaan data.
3) Standarisasi.
Agar SIK terstandar perlu menyediakan pedoman nasional untuk
pengembangan dan pemanfaatan TIK.
4) Integrasi.

40
SIK yang dikembangkan dapat mengintegrasikan berbagai macam
sumber data, termasuk pula dalam pemanfaatan TIK.
5) Kemudahan akses.
Data dan informasi yang tersedia mudah diakses oleh semua
pemangku kepentingan.
6) Keterwakilan.
Data dan informasi yang dikumpulkan harus dapat ditelusuri lebih
dalam secara individual dan aggregate, sehingga dapat
mengambarkan perbedaan gender, status sosial ekonomi, dan
wilayah geografi.

Sistem informasi kesehatan bagian integral dari sistem kesehatan, yaitu:


a. Integrasi dengan sistem non kesehatan

b. Sistem pemerintahan daerah

c. Membangun sistem informasi merupakan proses

d. Perlunya sumber daya manusia untuk mengolah dan


mengembangkan sistem informasi Kesehatan.

2.14 Kebijakan Sistem Informasi Kesehatan

Untuk mencapai visi sistem informasi kesehatan yang terarah,


yang mampu mendukung proses pembangunan kesehatan menuju
masyarakat sehat yang mandiri dan berkeadilan, maka dilakukan
kebijakan-kebijakan diantaranya :

 Pengembangan kebijakan dan standar dilaksanakan dalam rangka


mewujudkan sistem informasi kesehatan yang terintegrasi.

 Pengembangan dan penyelenggaraan sistem informasi


kesehatan dilakukan dengan melibatkan seluruh pemangku
kepentingan termasuk lintas sektor dan masyarakat.

 Penetapan kebijakan dan standar sistem informasi kesehatan


dilakukan dalam kerangka desentralisasi di bidang kesehatan.
41
 Penataan sumber data dan penguatan manajemen sistem
informasi kesehatan pada semua tingkat sistem kesehatan dititik
beratkan pada ketersediaan standar operasional yang jelas,
pengembangan dan penguatan kapasitas SDM dan pemanfaatan TIK,
serta penguatan advokasi bagi pemenuhan anggaran.

 Pengembangan SDM pengelola data dan informasi kesehatan


dilaksanakan dengan menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi
dan lintas sektor terkait serta terpadu dengan pengembangan SDM
kesehatan lainnya.

 Peningkatan penyelenggaraan sistem pengumpulan,


penyimpanan, diseminasi dan pemanfaatan data/informasi dalam
kerangka kebijakan manajemen data satu pintu.

 Pengembangan Bank Data Kesehatan harus memenuhi


berbagai kebutuhan dari pemangku-pemangku kepentingan dan
dapat diakses dengan mudah, serta memperhatikan prinsip-
prinsip kerahasiaan dan etika yang berlaku di bidang kesehatan dan
kedokteran.

 Peningkatan kerjasama lintas program dan lintas sektor untuk


meningkatkan statistik vital melalui upaya penyelenggaraan registrasi
vital di seluruh wilayah Indonesia dan upaya inisiatif lainnya.

 Peningkatan inisiatif penerapan eHealth untuk meningkatkan


kualitas pelayanan kesehatan dan meningkatkan proses kerja yang
efektif dan efisien. Yang dimaksud dengan eHealth adalah
pemanfaatan teknologi informatika dan komunikasi di sector
kesehatan terutama untuk meningkatkan pelayanan kesehatan.

 Peningkatan budaya penggunaan data melalui advokasi


terhadap pimpinan di semua tingkat dan pemanfaatan forum- forum
informatika kesehatan yang ada.

42
 Peningkatan penggunaan solusi-solusi mHealth dan
telemedicine untuk mengatasi masalah infrastruktur, komunikasi dan
sumber daya manusia.

2.15 Kondisi Sistem Informasi Kesehatan di Indonesia

Saat ini kebutuhan data informasi yang akurat makin meningkat,


namun sistem informasi masih belum menghasilkan data yang akurat,
lengkap, dan tepat waktu.

Masalah yang dihadapi sistem informasi kesehatan saat ini,


terutama belum adanya persepsi yang sama diantara penyelenggara
kesehatan terutama penyelenggara sistem informasi kesehatan terhadap
sistem informasi kesehatan. Penyelenggaraan sistem informasi
kesehatan masih belum efisien, terjadi redundant data dan duplikasi
kegiatan, dan kualitas data yang dikumpulkan masih rendah, bahkan ada
yang tidak sesuai dengan kebutuhan, ketepatan waktu juga masih rendah,
sistem umpan balik tidak optimal, pemanfaatan data informasi di tingkat
daerah untuk advokasi, perencanaan program, monitoring dan
manajemen masih rendah serta tidak efisiennya penggunaan sumber
daya, juga pengelolaan data informasi belum terintegrasi dan
terkoordinasi dengan baik. Masalah inilah yang sedang dihadapi sistem
informasi kesehatan dan perlu dilakukan upaya penguatan dan perbaikan.

Dalam pelaksanaan nya sistem informasi kesehatan di Indonesia


memiliki permasalahan yang cukup kompleks ,Permasalahan mendasar
Sistem Informasi Kesehatan di Indonesia saat ini antara lain :

 Faktor Pemerintah

o Standar SIK belum ada sampai saat


o Pedoman SIK sudah ada tapi belum seragam
o Belum ada rencana kerja SIK nasional
o Pengembangan SIK di kabupaten atau kota tidak seragam

43
 Fragmentasi

o Terlalu banyak sistem yang berbeda-beda di semua jenjang


administasi (kabupaten atau kota, provinsi dan pusat), sehingga
terjadi duplikasi data, data tidak lengkap, tidak valid dan tidak conect
dengan pusat.
o Kesenjangan aliran data (terfragmentasi, banyak hambatan dan
tidak tepat waktu)
o Hasil penelitian di NTB membuktikan bahwa : Puskesmas harus
mengirim lebih dari 300 laporan dan ada 8 macam
software sehingga beban administrasi dan beban petugas terlalu
tinggi. Hal ini dianggap tidak efektif dan tidak efisien.
o Format pencatatan dan pelaporan masih berbeda-beda dan belum
standar secara nasional.

Dalam upaya mengatasi fragmentasi data, Pemerintah sedang


mengembangkan aplikasi yang disebut Sistem Aplikasi Daerah (Sikda)
Generik. Sistem Informasi Kesehatan berbasis Generik mempunyai ciri-
ciri sebagai berikut :
a) Input pencatatan dan pelaporan berbasis elektronik atau
computerized.
b) Input data hanya dilakukan di tempat adanya pelayanan
kesehatan (fasilitas kesehatan).
c) Tidak ada duplikasi (hanya dilakukan 1 kali).
d) Akurat, tepat, hemat sember daya (efisien) dan transfaran. Tejadi
pengurangan beban kerja sehingga petugas memiliki waktu
tambahan untuk melayani pasien atau masyarakat.
e) Data yang dikirim (uploaded) ke pusat merupakan data individu
yang digital di kirim ke bank data nasional (data warehouse).
f) Laporan diambil dari bank data sehingga tidak membebani
petugas kesehatan di Unit pelayanan terdepan.
g) Puskesmas dan Dinas Kesehatan akan dilengkapi dengan
peralatan berbasis komputer.

44
h) Petugas akan ditingkatkan kompetensinya melalui pelatihan
untuk menerapkan Sikda Generik.
i) Mudah dilakukan berbagai jenis analisis dan assesment pada
data.
j) Secara bertahap akan diterapkan 3 aplikasi Sikda Generik yaitu
Sistem Informasi Manajemen Kesehatan, Sistem Informasi Dinas
Kesehatan dan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit.

45
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Sistem informasi kesehatan merupakan sarana untuk menunjang


pelayanan kesehatan yang diberikan kepada masyarakat. Sistem
informasi kesehatan yang efektif memberikan dukungan informasi bagi
proses pengambilan keputusan di semua jenjang, bahkan di puskesmas
atau di rumah sakit kecil sekalipun. Bukan hanya data, bahkan juga
informasi yang lengkap, tepat, akurat, dan cepat yang dapat disajikan
dengan adanya sistem informasi kesehatan yang tertata dan terlaksana
dengan baik.

Sistem Informasi Kesehatan (SIK) adalah gabungan perangkat dan


prosedur yang digunakan untuk mengelola siklus informasi (mulai dari
pengumpulan data sampai pemberian umpan balik informasi) untuk
mendukung pelaksanaan tindakan tepat dalam perencanaan,
pelaksanaan dan pemantauan kinerja sistem kesehatan.

(WHO) menilai bahwa investasi sistem informasi kesehatan


mempunyai beberapa manfaat antara lain membantu pengambil
keputusan untuk mendeteksi dan mengendalikan masalah kesehatan,
memantau perkembangan dan meningkatkannya, dan pemberdayaan
individu dan komunitas dengan cepat dan mudah dipahami, serta
melakukan berbagai perbaikan kualitas pelayanan Kesehatan

Sistem Kesehatan Nasional (SKN) adalah suatu tatanan yang


menghimpun bebagai upaya bangsa Indonesia secara terpadu dan
saling mendukung guna menjamin tercapainya derajat kesehatan
masyarakat yang setinggi-tingginya sebagai perwujudan kesejahteraan
umum seperti dimaksud dalam Pembukaan UUD 1945.

46
Sistem Informasi Kesehatan di dalam Sistem Kesehatan
Nasional Indonesia Sistem Kesehatan Nasional Indonesia terdiri dari
7 subsistem, yaitu :

a) Upaya Kesehatan
b) Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
c) Pembiayaan Kesehatan
d) Sumber Daya Mansuia (SDM) Kesehatan
e) Sediaan farmasi, alat kesehatan dan makanan
f) Manajemen, Informasi, dan Regulasi Kesehatan
g) Pemberdayaan Masyarakat
Peraturan menteri kesehatan nomor 1144/ MENKES / PER / VII/
2010 tentang Organisasi dan tata kerja kementrian kesehatan
mengamanatkan pusat data dan informasi (PUSDATIN) sebagai
pelaksana tugas kementrian kesehatan di bidang data dan informasi
kesehatan, maka pusdatin sebagai sekretariat SIK melakukan inisuatif
penyusunan regulasi dan standar SIK berupa rancangan peraturan
pemerintah dan NSPK yaitu panduan ROADMAP rencana aksi
penguatan SIK.Dalam menyusunan standar dan regulasi SIK perlu
dibentuk suatu Komite Ahli SIK dan Tim Perumus SIK. Melalui
Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 805/Menkes/SK/IV/2011 telah
dibentuk Komite Ahli dan Tim Perumus Penyusunan Peraturan
Pemerintah, Pedoman dan Roadmap Sistem Informasi Kesehatan.
Sampai saat ini sistem informasi kesehatan masih terfragmentasi
dan belum mampu menyediakan data dan informasi yang handal,
sehingga sistem informasi kesehatan masih belum menjadi alat
pengelolaan pembangunan kesehatan yang efektif.

Pembangunan kesehatan adalah upaya yang dilakukan oleh semua


komponen bangsa yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran,
kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud
derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai
investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif
secara sosial dan ekonomi.
47
Pembangunan kesehatan juga menuntut adanya dukungan sumber
daya yang cukup serta arah kebijakan dan strategi pembangunan
kesehatan yang tepat. Data dan informasi adalah sumber daya yang
sangat strategis dalam pengelolaan pembangunan kesehatan, yaitu
pada proses manajemen, pengambilan keputusan, kepemerintahan dan
penerapan akuntabilitas. Namun, pembuat kebijakan sering kali
mengalami kesulitan dalam hal mengambil keputusan yang tepat dan
cepat, hal ini dikarenakan keterbatasan atau ketidaktersediaan data dan
informasi yang akurat, cepat dan tepat. Karena itulah, dengan adanya
perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang pesat saat ini,
dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan pengelolaan dan
penyelenggaraan pembangunan kesehatan.
Untuk mencapai visi sistem informasi kesehatan yang terarah,
yang mampu mendukung proses pembangunan kesehatan menuju
masyarakat sehat yang mandiri dan berkeadilan, maka dilakukan
kebijakan-kebijakan diantaranya :

 Pengembangan kebijakan dan standar dilaksanakan dalam rangka


mewujudkan sistem informasi kesehatan yang terintegrasi.

 Pengembangan dan penyelenggaraan sistem informasi


kesehatan dilakukan dengan melibatkan seluruh pemangku
kepentingan termasuk lintas sektor dan masyarakat.

 Penetapan kebijakan dan standar sistem informasi kesehatan


dilakukan dalam kerangka desentralisasi di bidang kesehatan.

48
3.2 Saran
Kedepannya diharapkan untuk Penggunaan sistem informasi
Kesehatan harus lebih disosialisasikan lagi agar tidak hanya rumah sakit
dan puskemas besar saja yang bisa menggunakan sistem informasi ini
tetapi tempat – tempat kesehatan seperti pustu, posyandu dan tempat-
tempat kesehatan lainnya agar bisa menggunakan sistem informasi ini.
Agar semua jaringan data maupun informasi terkoneksi dengan baik
hingga ke pusat, sehingga data menjadi valid, sehingga tidak akan
menimbulkan kerugian bagi kedua belah pihak, baik itu pasien ataupun
petugas Kesehatan.

49
DAFTAR PUSTAKA

Anonymous, Nov 2012. Sistem Informasi Kesehatan. Yogyakarta :


Fakultas Kesehatan UGM

Heal, Jun 2016. Makalah Sistem Informasi Kesehatan. Depok :


Universitas Gunadarma

Juniansyah, Syafrudin, dkk, DKT 2014. TIK dan Sistem Informasi

Kesehatan. Bandung : Unikom

Salsabyla, Syfa. 2016. Makalah Sistem Informasi Kesehatan. https://syifa


salsabyla.wordpress.com/2016/06/30/makalah-sisteminform asi-
kesehatan/.pdf. (tanggal akses 02 Maret 2021)

Septian. 2012. Sistem Informasi Kesehatan.http://fseptian.mhs.uksw.edu

/2012/11/sistem-informasi-kesehatan.html. (tanggal akses 02

Maret 2021)

50

Anda mungkin juga menyukai