Anda di halaman 1dari 20

Mata Kuliah Keperawatan Medikal Bedah IV

MAKALAH
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN
DENGAN VERTIGO

DOSEN PENGAMPU :
Ns. DIAH MERDEKAWATI, M.Kep

Disusun Oleh :
Nama : Anna Tio Hasian
NIM : 2014201053

JURUSAN ILMU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES)
HARAPAN IBU JAMBI
TAHUN AJARAN 2020/2021

1
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Vertigo adalah suatu istilah yang berasal dari bahasa Latin, vertere, yang berarti
memutar. Secara umum, vertigo dikenal sebagai ilusi bergerak atau halusinasi
gerakan. Vertigo ditemukan dalam bentuk keluhan berupa rasa berputar-putar atau
rasa bergerak dari lingkungan sekitar (vertigo sirkuler) namun kadang-kadang
ditemukan juga keluhan berupa rasa didorong atau ditarik menjauhi bidang vertical
[ CITATION Set16 \l 14345 ].
Berdasarkan hasil pengamatan Sjahrir (2008), nyeri kepala menduduki komposisi
jumlah pasien terbanyak yang berobat jalan ke dokter saraf, ini dapat dibuktikan dari
hasil pengamatan insidensi jenis penyakit dari praktek klinik di Medan selama tahun
2003 didapati 10 besar penyakit dan satu diantaranya adalah vertigo.Vertigo bukanlah
suatu penyakit, melainkan gejala dari penyakit penyebabnya. Vertigo ialah ilusi
bergerak dan ada juga yang menyebutnya halusinasi gerakan yaitu, penderita seperti
merasakan atau melihat lingkungannya bergerak, padahal lingkungannya diam, atau
penderita merasakan dirinya bergerak, padahal tidak (Lumbantobing, 2013). Pada
tahun 2009 dan 2010 di Indonesia angka kejadian vertigo sangat tinggi sekitar 50%
dari usia 40-50 sampai orang tua yang berumur 75 tahun dan menurut prevalensi
angka kejadian di Amerika Serikat vertigo perifer cenderung terjadi pada wanita
(Sumarliyah et al., 2011). Angka kejadian vertigo terkait migrain sebanyak 0,89% dan
benign paroxysmal positional vertigo (BPPV) sebanyak 1,6%. Dalam penelitian yang
dilakukan oleh Breven et al., (2007), di Jerman dalam jangka waktu satu tahun
diperkirakan sebanyak 1,1 juta orang dewasa menderita BPPV [ CITATION Far17 \l
14345 ].
Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV) merupakan salah satu penyakit
kelainan perifer dan menjadi penyebab utama dari vertigo. Vertigo jenis ini paling
sering didapati, dimana vertigo dicetuskan oleh keadaan perubahan posisi kepala.
Vertigo berlangsung beberapa detik saja dan paling lama satu menit kemudian reda
kembali. Penyebabnya biasanya tidak diketahui namun sekitar 50% diduga karena
proses degenerasi yang mengakibatkan adanya deposit batu di kanalis semisirkularis
posterior sehingga bejana menjadi hipersensitif terhadap perubahan gravitasi yang

2
menyertai keadaan posisi kepala. Penderita benign 4 paroxysmal positional vertigo
(BPPV) paling sering dijumpai pada usia 60 sampai 75 tahun dan wanita lebih sering
daripada pria (Sielski et al., 2015). Banyak dari penderita vertigo memilih
mengkonsumsi obat untuk meringankan vertigo namun obat yang dikonsumsi tentu
saja memiliki efek samping. Banyak pula terapi-terapi lain selain terapi farmakologi,
salah satunya terapi rehabilitasi vestibular yaitu epley manuever, semount manuver
dan brandt daroff exercise [ CITATION Far17 \l 14345 ].

B. TUJUAN
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Tujuan Umum
Untuk Memperoleh pengetahuan dalam pelaksanaan asuhan keperawatan pada
klien .
2. Tujuan Khusus
Untuk memperoleh pengetahuan mengenai konsep medis dan konsep
keperawatan pada pasien Vertigo

3
BAB II
PEMBAHASAN

A. DEFINISI
Vertigo adalah sensasi gerakan atau rasa gerak dari tubuh seperti rotasi (memutar)
tanpa sensasi peputaran yang sebenarnya, dapat sekelilingnya terasa berputar atau
badan yang berputar. Vertigo bisa mengenai semua golongan umur, dengan jumlah
insidensi 25% pada pasien usia lebih dari 25 tahun, dan 40% pada pasien usia lebih
dari 40 tahun. Dizziness dilaporkan sekitar 30% pada populasi berusia lebih dari 65
tahun.
Vertigo merupakan gejala yang sering dikeluhkan pasien pasca mengalami trauma
pada kepala, leher atau craniovertebral junction. Trauma bisa terjadi karena cedera
akibat jatuh, kecelakaan kendaraan bermotor, cedera kontak saat olah raga dan
trauma akibat ledakan. Telinga bagian dalam dan otak rentan terhadap benturan
sehingga gejala bisa timbul walaupun tanpa cedera yang substansial. Vertigo pasca
trauma diklasifikasikan menjadi perifer dan sentral tergantung pada struktur yang
terkena.(EB, 2016)

B. KLASIFIKASI
Vertigo dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu vertigo vestibular dan non-
vestibular. Vertigo vestibular adalah vertigo yang disebabkan oleh gangguan sistem
vestibular, sedangkan vertigo non vestibular adalah vertigo yang disebabkan oleh
gangguan sistem visual dan somatosensori.
Tabel 1. Perbedaan Vertigo Vestibular dan Non-vestibular
Karakteristik Vertigo Vestibular Vertigo Non-vestibular
Waktu Episodik Konstan
Sifat Vertigo Berputar Melayang
Faktor pencetus Gerakan kepala, perubahan Stress, hiperventilasi
posisi
Gejala Penyerta Mual, muntah, tuli, tinnitus Gangguan mata, gangguan
somatosensorik

Vertigo vestibular selanjutnya dapat dibedakan menjadi vertigo vestibular perifer


dan sentral. Vertigo vestibular perifer adalah vertigo yang terjadi akibat gangguan alat

4
keseimbangan tubuh di labirin (telinga dalam) atau di ganglion vestibular atau di saraf
kranial VIII (Saraf Vestibulokoklear) divisi vestibular. Contoh penyakit-penyakit di
labirin adalah BPPV, penyakit peniere, fistula perilymph, obat-obat ototoksiksik dan
labirintitis. Obat-obat ototoksik mencakup: streptomisin, kinine, berbiturat, alcohol,
aspirin, caffeine, antikonvulsan, antihipertensi, tranquilizer, psikotropik dan obat
hipoglikemik. Contoh penyakit di nervus vestibularis adalah neuritis vestibularis dan
neuroma akustikus.
Vertigo vestibular sentral adalah vertigo yang terjadi akibat gangguan alat
keseimbangan tubuh di sistem saraf pusat, baik di pusat integrasi (serebelum dan
batang otak) ataupun di area persepsi (korteks). Penyebab vertigo sentral antara lain
adalah perdarahan atau iskemik di serebelum, nukleus vestibular, dan koneksinya di
batang otak, tumor di sistem saraf pusat, infeksi, trauma, dan sklerosis multiple.
Vertigo yang disebabkan neuroma akustik juga termasuk dalam vertigo sentral.
Vertigo akibat gangguan di korteks sangat jarang terjadi, biasanya menimbulkan
gejala kejang parsial kompleks.
Perbedaan Vertigo Sentral dan Perifer sebagai berikut:
1. Vertigo periferberonset akut, sedangkan vertigo sentral beronset kronis atau
perlahan (gradual). Dengan kata lain, durasi gejala pada vertigo perifer terjadi
dalam hitungan menit, harian, mingguan, namun berulang(recurrent)
2. Penyebab umum vertigo perifer adalah infeksi (labyrinthitis), Ménière's,
neuronitis, iskemia, trauma, toksin. Penyebab umum vertigo sentral adalah
vaskuler, demyelinatin, neoplasma
3. Intensitas vertigo perifer sedang hingga berat, sedangkan vertigo sentral ringan
hingga sedang
4. Mual (nausea) dan muntah (vomiting)  umumnya terjadi pada vertigo perifer dan
jarang terjadi pada vertigo sentral.
5. Vertigo perifer umumnya berhubungan dengan posisi (positionally
related),sedangkan vertigo sentral jarang berhubungan dengan posisi.
6. Kehilangan pendengaran (hearing loss) hingga ketulian (deafness) umumnya
terjadi pada vertigo perifer dan jarang terjadi pada vertigo sentral.
7. Tinnitus (telinga berdenging) seringkali menyertai vertigo perifer. Pada vertigo
sentral, biasanya tidak disertai tinnitus.

5
8. Pada vertigo perifer tidak ada defisitneurologis. Defisitneurologis (neurologic
deficits) umumnya terjadi pada vertigo sentral.
9. Sifat nistagmus pada vertigo perifer adalah fatigable, berputar (rotary) atau
horisontal, dan dihambat oleh fiksasiokuler, sedangkan sifatnya stagmus pada
vertigo sentral adalah nonfatigable, banyak arah(multidirectional), dan tidak
dihambat oleh fiksasi okuler.

Tabel 2. Perbedaan Vertigo Vestibular Perifer dan Sentral


Karakteristik V. Vestibular Perifer V. Vestibular Sentral
Onset Tiba-tiba, onset Perlahan, onset gradual
mendadak
Durasi Menit hingga jam Minggu hingga bulan
Frekuensi Biasanya hilang timbul Biasanya konstan
Intensitas Berat Sedang
Mual muntah Tipikal Sering kali tidak ada
Diperparah Ya Kadang tidak berkaitan
perubahan posisi
kepala
Usia pasien Berapapun, biasanya Usia lanjut
muda
Gangguan status Tidak ada atau kadang- Biasanya ada
mental kadang
Defisit nervi Tidak ada Kadang disertai ataxia
cranial atau
cerebellum
Pendengaran Seringkali berkurang Biasanya normal
atau dengan tinnitus
Nistagmus Nistagmus horizontal Nistagmus horizontal atau
dan rotatoar; ada vertikal; tidak ada nistagmus
nistagmus fatique 5-30 fatique
detik
Penyebab Meniere’s disease Massa Cerebellar / stroke
Labyrinthitis Encephalitis/ abscess otak
Positional vertigo Insufisiensi A. Vertebral
Neuroma Akustik
Sklerosis Multiple
[ CITATION Set16 \l 1057 ]

6
C. ETIOLOGI
Penyebab vertigo dapat diklasifikasikan menjadi penyebab sentral (melibatkan
otak) dan penyebab perifer (melibatkan jaringan saraf). Penyebab vertigo yang paling
umum adalah penyebab perifer yang melibatkan telinga dalam. Benign Paroxysmal
Positional Vertigo adalah bentuk paling umum dari vertigo dan ditandai dengan
sensasi bergerak yang dimulai dengan pergerakan tiba-tiba dari kepala atau
menggerakkan kepala ke arah tertentu. Vertigo juga dapat disebabkan oleh labirinitis
(peradangan pada telinga dalam), yang ditandai dengan onset vertigo yang tiba-tiba
dan mungkin berhubungan dengan ketulian.
Vertigo merupakan suatu gejala,sederet penyebabnya antara lain akibat
kecelakaan, stres, gangguan pada telinga bagian dalam, obat-obatan, terlalu sedikit
atau banyak aliran darah ke otak dan lain-lain. (Sielskiet al., 2015).

D. PATOFISIOLOGI
Vertigo disebabkan oleh gangguan alat keseimbangan tubuh yang mengakibatkan
ketidakcocokan antara posisi tubuh ysng sebenarnya dengan apa yang dipersepsi oleh
sususan saraf pusat. Jika ada kelainan pada lintasan informasi dari indera
keseimbangan yang dikirim kesistem saraf pusat, atau kelainan pada pusat
keseimbangan, maka proses adaptasi yang normal tidak akan terjadi tetapi akan
menimbulkan reaksi alarm. Keadaan ini berhubungan dengan serat-serat di formasio
retikularisbatang otak yang berhubung dengan aktivitas sistem kolinergik dan
adrenergik.

7
Teori-teori yang dapat menjelaskan tentang terjadinya vertigo adalah :
1. Teori rangsang berlebihan (overstimulation)
Teori ini berdasarkan asumsi bahwa rangsang yang berlebihan menyebab kan
hiperemi kanalis semisir kularis sehingga fungsinya terganggu, akibatnya
akantimbul vertigo, nistagmus, mual dan muntah.
2. Teori konflik sensorik.
Menurut teori ini terjadi ketidak cocokan masukan sensorik yang berasal dari
berbagai reseptor sensorik perifer yaitu mata/visus, vestibulum dan proprioceptif,
atau ketidakseimbangan/asimetri masukan sensorik yang berasal dari sisi kiri dan
kanan. Ketidak cocokan tersebut menimbulkan kebingungan sensorik di sentral
sehingga timbul respons yang dapat berupa nnistagmus (usaha koreksi bola mata),
ataksia atau sulit berjalan (gangguan vestibuler,serebelum) atau rasa melayang,
berputar (berasal dari sensasikortikal). Berbeda dengan teori rangsang berlebihan,
teori ini lebih menekankan gangguan proses pengolahan sentral sebagai penyebab.
3. Teori neural mismatch
Teori ini merupakan pengembangan teori konflik sensorik, menurut teori
iniotak mempunyai memori/ingatan tentang pola gerakan tertentu, sehingga
jikapada suatu saat dirasakan gerakan yang aneh/tidak sesuai dengan pola gerakan
yang telah tersimpan, timbul reaksi dari susunan saraf otonom. Jika pola gerakan
yang baru tersebut dilakukan berulang-ulang akanterjadi mekanisme adaptasi
sehingga berangsur-angsur tidak lagi timbul gejala.
4. Teori otonomik
Teori ini menekankan perubahan reaksi susunan saraf otonom sebagai
usahaadaptasi gerakan/perubahan posisi, gejala klinis timbul jika sistim
simpatisterlalu dominan, sebaliknya hilang jika sistim parasimpatis mulai berperan.
5. Teori neurohumoral
Di antaranya teori histamin (Takeda), teori dopamin (Kohl) dan teori serotonin
(Lucat) yang masing-masing menekankan peranan neurotransmiter tertentu dalam
pengaruhi sistim saraf otonom yang menyebabkan timbulnya gejala vertigo.
6. Teori Sinap
Merupakan pengembangan teori sebelumnya yang meninjai
perananneurotransmisi dan perubahan-perubahan biomolekuler yang terjadi
padaproses adaptasi, belajar dan daya ingat. Rangsang gerakan menimbulkan stres

8
yang akan memicu sekresi CRF (corticotropin releasing factor),peningkatan kadar
CRF selanjutnya akan mengaktifkan susunan sarafsimpatik yang selanjutnya
mencetuskan mekanisme adaptasi berupameningkatnya aktivitas sistim saraf
parasimpatik.
Teori ini dapat meneangkan gejala penyerta yang sering timbul berupa pucat,
berkeringat di awalserangan vertigo akibat aktivitas simpatis, yang berkembang
menjadi gejalamual, muntah dan hipersalivasi setelah beberapa saat akibat
dominasiaktivitas susunan saraf parasimpatis.
Vertigo akan timbul bila terdapat gangguan pada alat-alat vestibular atau pada
serabut-serabut yang menghubungkan alat/nuklei vestibular dengan pusat-pusat di
cerebellum dan korteks cerebri. Vertigo ini akan timbul bila terdapat
ketidakcocokan dalam informasi yang oleh susunan-susunan aferen disampaikan
kepada kesadaran kita. Sususnan aferen yang terpenting dalam hal ini adalah
susunan vestibular atau keseimbangan yang secara terus-menerus menyampaikan
impuls-impuls ke serebellum. Namun demikian susunan-susunan lain, seperti
misalnya susunan optik dan susunan proprioseptif dalam hal ini pula memegang
peranan yang sangat penting. Penting pula sususnan yang mrnghubungkan nuklei
vestibularis dengan nuklei N.III, IV, dan VI, sususnan vestibulo-retikularis
susunan vestibulo-spinalis dll.[ CITATION Set16 \l 1057 ]

E. MANIFESTASI KLINIS
1. Gejala Umum
Secara garis besar, gejala vertigo dimulai dengan sensasi rasa pusing yang
disertai dengan kondisi kepala yang berputar-putar atau kliyengan. Selain itu,
biasanya penderita juga akan merasakan sensasi lain saat kepala mereka terasa
berputar-putar, seperti:
a. Pusing
b. Kepala terasa sakit disertai dengan berputar-putar atau kliyengan
c. Mual
d. Rasa ingin muntah
e. Berkeringat
f. Pergerakan arah pandangan yang tidak normal
g. Hilangnya pendengaran

9
h. Tinnitus atau telinga berdenging
2. Gejala Tambahan:
a. Anggota tubuh yang mulai terasa lemas
b. Penglihatan yang mulai ada bayang-bayangnya
c. Kesulitan untuk bicara
d. Disertai demam
e. Kesulitan untuk berdiri atau bahkan berjalan
f. Respon yang lambat
g. Penurunan kesadaran
h. Pergerakan mata yang mulai tidak normal
[ CITATION EBB16 \l 1033 ]

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Uji Romberg, Penderita berdiri dengan kedua kaki dirapatkan mula-mula dengan
kedua mata terbuka kemudian tertutup. Biarkan pada posisi demikian selama 20-30
detik. Harus dipastikan bahwa penderita tidak dapat menentukan posisinya
(misalnya dengan bantuan titik cahaya atau suara tertentu). Pada kelainan
vestibuler hanya pada mata tertutup badan penderita akan bergoyang menjauhi
garis tengah kemudian kembali lagi, pada mata terbuka badan penderita tetap
tegak. Sedangkan pada kelainan serebral badan penderita akan bergoyang baik
pada mata terbuka maupun pada mata tertutup.
2. Tandem Gait, Penderita berjalan dengan tumit kaki kiri/kanan diletakkan pada
ujung jari kaki kanan/kiri ganti berganti. Pada kelainan vestibuler, perjalanannya
akan menyimpang dan pada kelainan serebeler penderita akan cenderung jatuh.
3. Uji Unterberger, Penderita berdiri dengan kedua lengan lurus horizontal ke depan
dan jalan di tempat dengan mengangkat lutut setinggi mungkin selama satu menit.
Pada kelainan vestibuler posisi penderita akan menyimpang atau berputar ke arah
lesi dengan gerakan seperti orang melempar cakram yaitu kepala dan badan
berputar ke arah lesi, kedua lengan bergerak ke arah lesi dengan lengan pada sisi
lesi turun dan yang lainnya naik. Keadaan ini disertai nistagmus dengan fase
lambat ke arah lesi.
4. Uji Tunjuk Barany (past-ponting test), Penderita diinstruksikan mengangkat
lengannya ke atas dengan jari telunjuk ekstensi dan lengan lurus ke depan,

10
kemudian diturunkan sampai menyentuh telunjuk tangan pemeriksa. Hal ini
dilakukan berulang-ulang dengan mata terbuka dan tertutup. Pada kelainan
vestibuler akan terlihat penyimpangan lengan penderita ke arah lesi.
5. Uji Babinsky-Weil, Penderita berjalan lima langkah ke depan dan lima langkah ke
belakang selama setengan menit dengan mata tertutup berulang kali. Jika ada
gangguan vestibuler unilateral, pasien akan berjalan dengan arah berbentuk
bintang. [CITATION Mel16 \l 1057 ]

G. PENATALAKSANAAN
1. Vertigo posisional Benigna (VPB)
a) Latihan : latihan posisional dapat membantu mempercepat remisi pada
sebagian besar penderita VPB. Latihan ini dilakukan pada pagi hari dan
merupakan kagiatan yang pertama pada hari itu. Penderita duduk dipinggir
tempat tidur, kemudian ia merebahkan dirinya pada posisinya untuk
membangkitkan vertigo posisionalnya. Setelah vertigo mereda ia kembali
keposisi duduk \semula. Gerakan ini diulang kembali sampai vertigo melemah
atau mereda. Biasanya sampai 2 atau 3 kali sehari, tiap hari sampai tidak
didapatkan lagi respon vertigo.
b) Obat-obatan : obat anti vertigo seperti miklisin, betahistin atau fenergen dapat
digunakan sebagai terapi simtomatis sewaktu melakukan latihan atau jika
muncul eksaserbasi atau serangan akut. Obat ini menekan rasa enek (nausea)
dan rasa pusing. Namun ada penderita yang merasa efek samping obat lebih
buruk dari vertigonya sendiri. Jika dokter menyakinkan pasien bahwa kelainan
ini tidak berbahaya dan dapat mereda sendiri maka dengan membatasi
perubahan posisi kepala dapat mengurangi gangguan.
2. Neurotis Vestibular
Terapi farmokologi dapat berupa terapi spesifik misalnya pemberian anti 
biotika dan terapi simtomatik. Nistagmus perifer pada neurinitisvestibuler lebih
meningkat bila pandangan diarahkan menjauhi telinga yang terkena dan nigtagmus
akan berkurang jika dilakukan fiksasi visual pada suatu tempat atau benda.
3. Penyakit Meniere
Sampai saat ini belum ditemukan obat khusus untuk penyakit meniere. Tujuan 
dari terapi medik yang diberi adalah:

11
a) Meringankan serangan vertigo: untuk meringankan vertigo dapat dilakukan
upaya : tirah baring, obat untuk sedasi, anti muntah dan anti vertigo. Pemberian
penjelasan bahwa serangan tidak membahayakan jiwa dan akan mereda dapat
lebih membuat penderita tenang atau toleransi terhadap serangan berikutnya.
b) Mengusahakan agar serangan tidak kambuh atau masa kambuh menjadi lebih
jarang. Untuk mencegah kambuh kembali, beberapa ahli ada yang
menganjurkan diet rendah garam dan diberi diuretic. Obat anti histamin dan
vasodilator mungkin pula menberikan efek tambahan yang baik.
c) Terapi bedah: diindikasikan bila serangan sering terjadi, tidak dapat diredakan
oleh obat atau tindaka konservatif dan penderita menjadi infalid tidak dapat
bekerja atau kemungkinan kehilangan pekerjaannya.
4. Presbiastaksis (Disekuilibrium pada usia lanjut)
Rasa tidak setabil serta gangguan keseimbangan dapat dibantu obat
supresan vestibular dengan dosis rendah dengan tujuan meningkatkan mobilisasi.
Misalnya Dramamine, prometazin, diazepam, pada enderita ini latihan vertibuler
dan latihan gerak dapat membantu. Bila perlu beri tongkat agar rasa percaya diri
meningkat dan kemungkinan jatuh dikurangi.[ CITATION Set16 \l 1057 ]

H. PATHWAY

BPPV Labrinitis Cedera kepala


Penyakit dan leher
miniere

I.
Canalith masuk ke telinga
J.
bagian dalam

Vestibular terganggu

Sensasi spt bergerak dan


berputar

VERTIGO

Neuroma akustik Gg di SSP Pembengkakan


Keterbatasan kognitif,
rongga
tidak endolimfatikus
mengenal informasi
Mengenai N. VIII Tekanan intrakranial Disorientasi
Defisit
Ruptur Pengetahuan
membran reissner
12
Pendengaran adanya sumbatan Sakit kepala Kesadaran menurun
cairan pd liang telinga
Gg Persepsi Sensori
Risiko Jatuh
Nyeri Akut
Gg Komunikasi Verbal

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
Diagnosis vertigo meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
penunjang [ CITATION Set16 \l 14345 ]
1. Pada anamnesis ditanyakan bentuk vertigonya (apakah melayang, goyang, berputar
tujuh keliling, rasa seperti naik perahu, dan sebagainya), keadaan yang
memprovokasi timbulnya vertigo (perubahan posisi kepala dan tubuh, keletihan
dan ketegangan), profil waktu (apakah timbulnya akut atau perlahan-lahan, hilang
timbul, paroksismal, kronik, progresif, atau membaik). Pada anamnesis juga
ditanyakan apakah ada gangguan pendengaran yang biasanya menyertai atau
ditemukan pada lesi alat vestibuler atau n. vestibularis, penggunaan obat-obatan
seperti streptomisin, kanamisin, salisilat, antimalaria dan lain-lain yang diketahui
ototoksik atau vestibulotoksik, dan adanya penyakit sistemik seperti anemia,
penyakit jantung, hipertensi, hipotensi, penyakit paru dan kemungkinan trauma
akustik.

Penegakan diagnosis vertigo diawali dengan menentukan bentuk vertigo, letak lesi,
dan kemudian penyebabnya, agar dapat diberikan terapi kausal dan simtomatik
yang sesuai.

2. Pemeriksaan fisik yang dilakukan antara lain pemeriksaan tekanan darah yang
diukur dalam posisi berbaring, duduk, dan berdiri, bising karotis, irama (denyut
jantung), dan pulsasi nadi perifer.

13
3. Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan diantaranya pemeriksaan neurologis,
pemeriksaan oto-neurologi, dan tes fungsi pendengaran.
Pemeriksaan neurologis yang dapat dilakukan antara lain: 5,9 (a) Uji Romberg,
Penderita berdiri dengan kedua kaki dirapatkan mula-mula dengan kedua mata
terbuka kemudian tertutup. Biarkan pada posisi demikian selama 20-30 detik.
Harus dipastikan bahwa penderita tidak dapat menentukan posisinya (misalnya
dengan bantuan titik cahaya atau suara tertentu). Pada kelainan vestibuler hanya
pada mata tertutup badan penderita akan bergoyang menjauhi garis tengah
kemudian kembali lagi, pada mata terbuka badan penderita tetap tegak. Sedangkan
pada kelainan serebral badan penderita akan bergoyang baik pada mata terbuka
maupun pada mata tertutup. (b) Tandem Gait, Penderita berjalan dengan tumit kaki
kiri/kanan diletakkan pada ujung jari kaki kanan/kiri ganti berganti. Pada kelainan
vestibuler, perjalanannya akan menyimpang dan pada kelainan serebeler penderita
akan cenderung jatuh. (c) Uji Unterberger, Penderita berdiri dengan kedua lengan
lurus horizontal ke depan dan jalan di tempat dengan mengangkat lutut setinggi
mungkin selama satu menit. Pada kelainan vestibuler posisi penderita akan
menyimpang atau berputar ke arah lesi dengan gerakan seperti orang melempar
cakram yaitu kepala dan badan berputar ke arah lesi, kedua lengan bergerak ke
arah lesi dengan lengan pada sisi lesi turun dan yang lainnya naik. Keadaan ini
disertai nistagmus dengan fase lambat ke arah lesi. (d) Uji Tunjuk Barany (past-
ponting test), Penderita diinstruksikan mengangkat lengannya ke atas dengan jari
telunjuk ekstensi dan lengan lurus ke depan, kemudian diturunkan sampai
menyentuh telunjuk tangan pemeriksa. Hal ini dilakukan berulang-ulang dengan
mata terbuka dan tertutup. Pada kelainan vestibuler akan terlihat penyimpangan
lengan penderita ke arah lesi. (e). Uji BabinskyWeil, Penderita berjalan lima
langkah ke depan dan lima langkah ke belakang selama setengan menit dengan
mata tertutup berulang kali. Jika ada gangguan vestibuler unilateral, pasien akan
berjalan dengan arah berbentuk bintang.
Pemeriksaan khusus oto-Neurologi dilakukan untuk menentukan apakah letak
lesinya di sentral atau perifer.
Tes Fungsi Pendengaran : (a) Tes Garpu Tala, Tes ini digunakan untuk
membedakan tuli konduktif dan tuli perseptif, dengan tes-tes Rinne, Weber dan
Schwabach. Pada tuli konduktif, tes Rinne negatif, Weber lateralisasi ke yang tuli

14
dan schwabach memendek. (b) Audiometri, Ada beberapa macam pemeriksaan
audiometri seperti Ludness Balance Test, SISI, Bekesy Audiometry, dan Tone
Decay. Pemeriksaan saraf-saraf otak lain meliputi: acies visus, kampus visus,
okulomotor, sensorik wajah, otot wajah, pendengaran dan fungsi menelan. Juga
fungsi motorik (kelumpuhan ekstremitas), fungsi sensorik (hipestesi, parestesi) dan
serebelar (tremor, gangguan cara berjalan).

B. DIAGNOSA
1. Nyeri akut b.d agen pencedera fisiologis
2. Risiko jatuh b.d gangguan keseimbangan dan gangguan pendengaran
3. Defisit pengetahuan tentang vertigo b.d kurang terpapar informasi
4. Gangguan komunikasi verbal b.d gangguan pendengaran
5. Gangguan persepsi sensori b.d gangguan pendengaran [CITATION Placeholder1 \l
1057 ]

C. INTERVENSI
1. Nyeri akut b.d agen pencedera fisiologis
Observasi
a) Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri
b) Identifikasi skala nyeri
c) Identifikasi respons nyeri non verbal
d) Identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri

Teraupeutik
a) Berikan teknik non farmakologis untuk mengurangi rasa nyeri
b) Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri
c) Fasilitasi istirahat dan tidurr
d) Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam pemilihan strategi meredakan
nyeri
Edukasi
a) Jelaskan penyebab, periode, dan pemicu nyeri
b) Jelaskan strategi meredakan nyeri
c) Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri

15
d) Anjurkan menggunakan analgetik secara tepat
e) Ajarkan teknik non farmakologis untuk mengurangi rasa nyeri
Kolaborasi
a) Kolaborasikan pemberian analgetik, jika perlu
2. Risiko jatuh b.d gangguan keseimbangan dan gangguan pendengaran
Observasi :
a) Identifikasi faktor risiko jatuh
b) Identifikasi risiko jatuh setidaknya sekali setiap shift atau sesuai dengan
kebijakan institusi
c) Identifikasi faktor lingkungan yang meningkatkan risiko jatuh
d) Hitung risiko jatuh dengan menggunakan skala
e) Monitor kemampuan berpindah dari tempat tidur kekursi roda dan sebaliknya
Teraupeutik
a) Orientasikan ruangan pada pasien dan keluarga
b) Pastikan roda tempat tidur dan kursi roda selalu dalam kondisi terkunci
c) Pasang handrail tempat tidur
d) Gunakan alat bantu berjalan
Edukasi
a) Anjurkan memanggil perawat jika membutuhkan bantuan untuk berpindah
b) Anjurkan menggunakan alas kaki yang tidak licin
c) Anjurkan berkonsentrasi untuk menjaga keseimbangan tubuh
d) Anjurkan melebarkan jarak kedua kaki untuk meningkatkan keseimbangan saat
berdiri
3. Defisit pengetahuan tentang vertigo b.d kurang terpapar informasi
Observasi
a) Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi
b) Identifikasi faktor-faktor yang dapat meningkatkan dan menurunkan motivasi
perilaku hidup bersih dan sehat
Teraupeutik
a) Sediakan materi dan media pendidikan kesehatan
b) Jadwalkan pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan
c) Berikan kesempatan untuk bertanya
Edukasi

16
a) Jelaskan faktor risiko yang dapat mempengaruhi kesehatan
b) Ajarkan perilaku hidup bersih dan sehat
c) Ajarkan strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan perilaku hidup
bersih dan sehat
4. Gangguan komunikasi verbal b.d gangguan pendengaran
Observasi
a) Periksa kemampuan pendengaran
b) Monitor akumulasi serumen berlebihan
c) Identifikasi metode komunikasi yang disukai pasien
Teraupeutik
a) Gunakan bahasa sederhana
b) Gunakan bahasa isyarat, jika perlu
c) Fasilitasi penggunaan alat bantu dengar
d) Berhadapan dengan pasien secara langsung selama berkomunikasi
e) Pertahankan kontak mata selama berkomunikasi
f) Hindari kebisingan saat berkomunikasi
g) Hindari berkomunikasi lebih dari 1 meter dari pasien
h) Pertahankan kebersihan telinga
Edukasi
a) Anjurkan menyampaikan pesan dengan isyarat
b) Anjurkan cara membersihkan serumen dengan tepat
5. Gangguan persepsi sensori b.d gangguan pendengaran
Observasi
a) Periksa status mental, status sensori, dan tingkat kenyamanan
Teraupeutik
a) Diskusikan tingkat toleransi terhadap beban sensori
b) Batasi stimulus lingkungan
c) Jadwalkan aktivitas harian dan waktu istirahat
d) Kombinasikan prosedur/tindakan dalam satu waktu, sesuai kebutuhan
Edukasi
a) Ajarkan cara meminimalisasi stimulus
Kolaborasi
a) Kolaborasi dalam meminimalkan prosedur/tindakan

17
b) Kolaborasi pemberian obat yang mempengaruhi persepsi stimulus
[ CITATION Tim181 \l 1057 ]

18
BAB IV
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Vertigo merupakan kondisi yang diakibatkan karena adanya gangguan pada telinga
atau pada saraf ocousticus yang mengakibatkan nyeri dan kelemahan otot leher serta
keseimbangan tubuh pasien.
Dengan adanya pemeriksaan fisioterapi yang teliti maka seseorang dapat mengetahui
penyebab dari vertigo tersebut, sehingga fisioterapi dapat melakukan intervensi pada
kasus tersebut dengan tepat walaupun dalam pemeriksaan manajemen pelayanan di
Rumah Sakit harus memberikan aplikasi terapi sesuai dengan konsultan dari dokter
Rehabilitasi Medik pada kasus vertigo ini yang disebabkan oleh trauma.
Berbagai masalah yang timbul pada kondisi ini yaitu adanya nyeri, keterbatasan LGS
(Lingkup Gerak Sendi), penurunan kekuatan otot, serta keseimbangan pasien yang
berkurang. Modalitas terapi yang diberikan untuk mengatasi masalah tersebut yaitu
Micro Wave Diathermy (MWD) dan massage terapi. Selain itu pasien juga diberikan
edukasi untuk melakukan latihan di rumah seperti yang telah diajarkan oleh terapis.
Dengan pelaksanaan terapi dengan menggunakan modalitas tersebut hasil yang
diperoleh menunjukkan perkembangan positif yaitu di buktikannya dengan Micro Wave
Diathermy (MWD) dapat menurunkan nyeri, massage terapi dengan teknik stroking dan
efflurage dapat meningkatan LGS, massage terapi dengan teknik stroking dan efflurage
dapat meningkatan kekuatan otot, serta dengan Standing Balance Test dapat meningkatan
keseimbangan sehingga mampu melakukan aktivitas sehari- hari di lingkungan sekolah
dan lingkungan rumahnya dapat meningkatkan kualitas hidup bermasyarakat.

19
DAFTAR PUSTAKA

EB, B. (2016). posttraumatic Vertigo Treatment and Management. Otolaryngology and


Facial Plastic Surgery. medscape.

Edwar, Y., & Rosa, Y. (2014). Tatalaksana Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV) .
Jurnal kesehatan Andalas.

Farida. (2017). PENGARUH BRANDT DAROFF EXERCISE TERHADAP KELUHAN.


Publikasi Ilmiah, 1-8.

Setiawati, M., & Susianti. (2016). Diagnosis dan Tatalaksana Vertigo. Majority, 91-95.
Sielski, G., Sielska, M., Podhorecka, M., Gebka, D., Szymkowiak S Marta.,Ciesielka, N.,
Rolka, L., Porzych, K dan Kornatowska S Kornelia. 2015.Dizziness In Older People.
Diakses : 28 Desember 2016. http://dx.doi.org/10.12775/MBS.2015.02

Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia "Defenisi
dan Indikator Diagnostik". Jakarta Selatan: DPP PPNI.

Tim Pokja SIKI DPP PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia "Defenisi dan
Tindakan Keperawatan". Jakarta Selatan: DPP PPNI.

20

Anda mungkin juga menyukai