Anda di halaman 1dari 8

KLIPING IPS

BIOGRAFI PAHLAWAN CUT NYAK DIEN

Kelas : IX – C
Nama Kelompok :
1. Baihaqi Fahreza Gandhi (04)
2. M. Firgi Silas Sidiq (11)
3. M. Fahmi Ahmada (13)
4. Razu Maulana Sabilah (19)
5. Teguh Achmad Nofrianto (24)

SMP NEGERI 1 TROWULAN


Tahun Ajaran 2020/2021
Salam Pembuka
Puji syukur alhamdulillah kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena hanya

dengan segala rahmat-Nyalah akhirnya kami bisa menyusun kliping dengan tema Biografi

Pahlawan Cut Nyak Dien' ini tepat pada waktunya.


Biografi Cut Nyak Dien

Cut Nyak Dien adalah Pahlawan Nasional wanita Indonesia yang berasal dari Aceh.
Cut Nyak Dien lahir pada tahun 1848 dari keluarga bangsawan yang agamis di Aceh Besar.
Dari garis ayahnya, Cut Nyak Dien merupakan keturunan langsung Sultan Aceh.

Ketika usianya menginjak 12 tahun, Cut Nyak Dien dinikahkan dengan Teuku Cek
Ibrahim Lamnga pada tahun 1862 yang juga berasal dari keluarga bangsawan. Pasangan
muda ini dikaruniai satu orang anak.

Ketika Perang Aceh meluas pada tanggal 26 maret 1873, ayah dan suami Cut Nyak
Dien memimpin perang di garis depan, melawan Belanda yang memiliki persenjataan lebih
lengkap dan modern. Setelah bertahun-tahun melawan, pasukannya terdesak dan
memutuskan untuk mengungsi ke daerah yang lebih terpencil.
Perjuangan Cut Nyak Dien

Semangat Cut Njak Dien untuk melawan pasukan kolonial Belanda mulai bangkit.
Peristiwa gugurnya Teuku Cek Ibrahim Lamnga dalam peperangan melawan Belanda pada
tanggal 29 Juni 1878 di Sela Glee Tarun semakin menyulut kemarahan dan keteguhan wanita
pemberani ini terhadap kaum Kolonial tersebut.

Kendati demikian, Cut Nyak Dien melanjutkan perjuangan dengan semangat


membara. Kebetulan saat upacara penguburan suaminya, ia bertemu dengan Teuku Umar
yang lantas menjadi suami sekaligus rekan perjuangan dalam memperjuangkan tanah
rencong.

Awalnya Cut Nyak Dien menolak pinangan Teuku Umar, namun pada akhirnya ia
setuju untuk menikah dengan pria yang masih mempunyai garis kekeluargaan dengan dirinya
ini setelah Teuku Umar memenuhi keinginannya untuk ikut turun ke medan perang.

Cut Nyak Dien sangat ingin mengusir Belanda dari bumi Aceh karena telah
meresahkan penduduk dan mengusik keyakinan mereka.

Dimulai dari awal lagi, mereka menggalang kembali kekuatan dan mengumpulkan
segenap pejuang Aceh yang lainnya. Cut Nyak Dien pun gencar melakukan serangan dengan
sistem gerilya, sehingga bisa membuat panik pasukan Belanda yang berada di Aceh.

Dalam masa perjuangan tersebut, Cut Nyak Dien sempat mendapatkan umpatan dari
Cut Nyak Meutia karena strategi suaminya Teuku Umar yang berpura-pura menyerahkan diri
pada belanda dan bekerja sama dengan mereka.
Mestinya kalau komunikasi berjalan dengan baik, Cut Nyak Meutia tidak perlu
melakukan hal itu, karena Teuku Umar hanya bersiasat saja. Setelah rencana awal telah
terpenuhi, yakni mendapatkan banyak senjata dari pasukan Belanda, Teuku Umar kembali
pada Cut Nyak Dien dan para pejuang Aceh lainnya.

Belanda yang merasa telah dikhianati oleh Teuku Umar melancarkan serangan
besar-besaran untuk memburu pasangan suami-istri ini. Teuku Umar pun akhirnya gugur
dalam pertempuran di Meulaboh pada tanggal 11 Februari 1899.

Sementara itu, pasukan Belanda mengetahui dengan persis bahwa pasukan Cut Nyak
Dien melemah dan hanya bisa menghindar dalam tekanan. Akibatnya, karena usis yang sudah
mulai renta kondisi fisik dan kesehatan Cut Nyak Dien pun menurun, tetapi pertempuran
tetap ia lakukan.

Melihat kondisi seperti itu, panglima perangnya, Pang Laot Ali, menawarkan
menyerahkan diri ke Belanda. Tapi Cut Nyak Dien tetap teguh pendirian dan menegaskan
untuk terus bertempur.

Akhirnya dalam kurun waktu singkat Cut Nyak Dien berhasil ditangkap dan untuk
menghindari pengaruhnya terhadap masyarakat Aceh, ia diasingkan pada tanggal 11
Desember 1905 di Pulau Jawa, tepatnya ke Sumedang , Jawa Barat.
Makam Cut Nyak Dien

Di tempat pengasingannya, Cut Nyak Dien yang sudah renta dan mengalami
gangguan penglihatan, mengajar agama. Ia tetap merahasiakan jati diri sampai akhir
hayatnya.

Cut Nyak Dien wafat pada 6 November 1908 dan dimakamkan di Gunung Puyuh,
Sumedang. Makamnya baru diketahui secara pasti pada tahun 1960 saat Pemda Aceh sengaja
melakukan penelusuran.
Penghargaan Cut Nyak Dien

Kisah Perjuangan Cut Nyak Dien membuat seorang penulis Belanda, Ny Szekly
Lulof, kagum dan menggelarinya sebagai “Ratu Aceh”.

Atas teladan, perjuangan dan pengorbanannya yang begitu besar kepada negara, Cut
Nyak Dien dinobatkan menjadi pahlawan Kemerdekaan Nasional. Penobatan tersebut
dikuatkan dengan

Demikianlah biografi Cut Nyak Dien yang dapat kita jadikan teladan dalam
kecintaan terhadap bangsa. Semoga informasi ini bermanfaat. Terima Kasih!!
Salam Penutup
Akhir kata, kami sampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah berperan

serta dalam penyusunan kliping ini dari awal sampai akhir. Apabila ada kekeliruan kata atau

kalimat, kami mohon maaf yang sebesar besarnya. Wassalamu'alaiSkum Wr. Wb.