Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

SEJARAH BANI ABBASIYYAH

Dosen Pengampu : ANISA NABELA, M.Ag

Disusun Oleh :
1. RAHMAD MEGA SAPUTRA
2. MIFTAHUDIN AL HARIS

SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH


STIT MISBAHUL ULUM GUMAWANG
BELITANG OKU TIMUR
2021
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat-Nya sehingga


Makalah yang berjudul “Sejarah Bani Abbasiyyah” ini dapat tersusun hingga
selesai.
Ucapan terima kasih kepada Dosen Pengampu Ibu Anisa Nabela, M.Ag
yang telah memberikan arahan dalam penyusunan makalah ini. Tidak lupa kami
juga mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah
berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.
Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk
maupun menambah isi makalah ini agar menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin
masih banyak kekurangan dalam Makalah ini, Oleh karena itu kami sangat
mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi
kesempurnaan Makalah ini.

Belitang, Maret 2021


Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL........................................................................................ i
KATA PENGANTAR...................................................................................... ii
DAFTAR ISI.................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang............................................................................................ 1
B. Rumusan masalah....................................................................................... 2
C. Tujuan......................................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN
A. Kelahiran Abbasiyyah................................................................................ 3
B. Kedudukan Khalifah................................................................................... 3
C. Sistem Politik, Pemerintahan, dan Bentuk Negara Buwaihi dan Saljuki... 3
D. Sistem Sosial............................................................................................... 7
E. Orientasi Politik.......................................................................................... 8
F. Strategi Kebudayaan : Rasionalita.............................................................. 8
G. Perkembangan Intelektual, Keagamaan Pendidikan, Sains dan Teknologi,
Astronomi, Matematika, Filsafat, Kedokteran, Ilmu Bumi, Sejarah,
Sastra dll..................................................................................................... 9
H. Keruntuhan Abbasiyah............................................................................... 11
I. Transmisi Peradaban dan Kebudayaan Muslim ke Dunia Barat................ 13

BAB III PENUTUP


Kesimpulan....................................................................................................... 14

DAFTAR PUSTAKA....................................................................................... 15

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Peradaban Islam mengalami puncak kejayaan pada masa daulah
Abbasiyah. Perkembangan ilmu pengetahuan sangat maju yang diawali dengan
penerjemahan naskah asing terutama yang berbahasa Yunani ke dalam bahasa
Arab, pendirian pusat pengembangan ilmu dan perpustakaan dan terbentuknya
mazhab ilmu pengetahuan dan keagamaan sebagai buah dari kebebasan berfikir.
Dinasti Abbasiyah merupakan dinasti Islam yang paling berhasil dalam
mengembangkan peradaban Islam. Para ahli sejarah tidak meragukan hasil kerja
para pakar pada masa pemerintahan dinasti Abbasiyah dalam memajukan ilmu
pengetahuan dan peradaban Islam. Kekuasaan Dinasti Bani Abbasiyah adalah
melanjutkan kekuasaan Dinasti Bani Umayyah. Dinamakan Daulah Abbasiyah
karena para pendiri dan penguasa Dinasti ini adalah keturunan Abbas, paman
Nabi Muhammad SAW.
Dinasti Abbasiyah didirikan oleh Abdullah al-saffah Ibn Muhammad Ibn
Ali Ibn Abdullah Ibn al-abbass. Dia dilahirkan di Humaimah pada tahun 104 H.
Dia dilantik menjadi Khalifah pada tanggal 3 Rabiul awwal 132 H. Kekuasaan
Dinasti Bani Abbasiyah berlangsung dari tahun (Ratu Suntiah dan Maslani,
1997:44). Pada abad ketujuh terjadi pemberontakan diseluruh negeri.
Pemberontakan yang paling dahsyat dan merupakan puncak dari segala
pemberontakan yakni perang antara pasukan Abbul Abbas melawan pasukan
Marwan Ibn Muhammad (Dinasti Bani Umayyah) yang akhirnya dimenangkan
oleh pasukan Abbul Abbas. Dengan jatuhnya negeri Syiria,berakhirlah riwayat
Dinasti Bani Umayyah dan bersama dengan itu bangkitlah kekuasaan Abbasiyah
(A. Syalabi. 2008: 175).
Pada masa inilah masa kejayaan Islam yang mengalami puncak keemasan
pada masa itu berbagai kemajuan dalam segala bidang mengalami peningkatan
seperti bidang pendidikan, ekonomi, politik dan sistem pemerintahannya.

1
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana sejarah berdirinya Daulah Abbasiyah?
2. Bagaimana perkembangan peradapan Islam pada masa Daulah Abbasiyah?
3. Siapa saja tokoh yang berperan penting dalam kemajuan peradaban islam
pada masa Daulah Abbasiyah?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui sejarah berdirinya Daulah Abbasiyah
2. Untuk mengetahui perkembangan peradapan Islam pada masa Daulah
Abbasiyah
3. Untuk mengetahui tokoh-tokoh yang berperan penting dalam kemajuan
peradaban Islam pada masa Daulah Abbasiyah

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Kelahiran Abbasiyah
Khilafah Abbasiyah didirikan oleh Abdullah Al-Saffah Ibn Muhammad
Ibn Ali Ibn Abdullah Ibn Al-Abbas yang merupakan paman nabi Muhammad
SAW, khalifah Abbasiyah sendiri mulai lahir sejak keruntuhan kepemerintahan
bani Umayyah yaitu dengan digulingkanya bani umayyah oleh Bani Abbas yang
bersekutu dengan abu Muslim al-Khurasi pada tahun 750 M, sejak itu pula Daulah
Abbasiyyah berkuasa dalam rentang yang sangat panjang yaitu dari tahun 132 H
(750 M) s.d. 656 H (1258 M)

B. Kedudukan Khalifah
Kedudukan khalifah pada masa kepemerintahan Bani Abbasiyyah
sangatlah berbeda dengan  khalifah-khalifah sebelumnya (Khulafa’ al-Rasyidin
dan Bani Ummayah), mereka beranggapan bahwa seorang khalifah merupakan
seseorang yang diberi mandat oleh Allah, bukan dari manusia ataupun sekedar
pelanjut nabi sebagimana pada masa khulafa’ al-Rasyidin. Dan Bani Abbaslah
yang mendapatkan mandat tersebut.Oleh karena itu kedudukan khalifah itu
dipegang sepenuhnya oleh keturunan bani abbas, bahkan pada masa al-Mansur,
dia pernah berkata :”innama ana sulthan Allah fi ardhi” [1]

C. Sistem Politik, Pemerintahan, dan Bentuk Negara Buwaihi dan Saljuki


Selama dinasti Abbasiyyah berkuasa, pola pemerintahan yang di terapkan
berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik sosial, dan budaya. Berdasarkan
perubahan pola pemerintahan dan politik itu, para sejarahwan biasanya membagi
masa pemerintahan bani Abbas menjadi empat periode :
1. Masa Abbasy I; semenjak lahirnya Daulah Abbasiyyah tahun 132 H sampai
meninggalnya khalifah al-Wasiq tahun 232 H.

1[] Dr. Badri Yatim, MA, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, Ed. I, Cet. 13,
(Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2002), hal.52

3
2. Masa Abbasy II, tahun 232-334 H mulai khalifah al-Mutawakkil sampai
berdirinya Daulah Buwaihi di Baghdad.
3. Masa Abbasy III, tahun 334-447 H dari berdirinya Daulah Buwaihi sampai
masuknya Daulah Saljuk.
4. Masa Abbasy IV, tahun 447- 656 H, dari masuknya orang-orang Saljuk di
Baghdad, sampai jatuhnya Baghdad ke tangan bangsa Tartar di bawah
pimpinan Hulagu. [2]

Sistem Politik dan Kepemerintahan


Secara garis besar sistem politik dan kepemerintahan yang di jalankan oleh
Daulah Abbasiyyah dibagi menjadi dua periode, yaitu :
1. Politik yang dijalankan oleh Daulah Abbasiyyah I
a. Kekuasaan sepenuhnya dipegang oleh khalifah yang mempertahankan
keturunan arab murni dibantu wazir, mentri, gubernur dan para panglima
beserta para pegawai yang berasal dari berbagai bangsa.
b. Kota Baghdad sebagai ibukota negara, menjadi pusat kegiatan politik,
sosial dan kebudayaan, dijadikan kota Internasional yaang terbuak untuk
segala bangsa  dan keyakinan.
c. Ilmu pengetahuan dipandang sebagai sesuatu yang sangt penting dan
mulia. Para kahlifah dan para pembesar lainnya membuka kemungkinan
seluas-luasnya untuk kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan.
d. Kebebasan berpikir diakui sepenuhnya.
e. Para mentri turunan Persia diberikan hak penuh dalam memnjalankan
pemerintahan sehingga mereka memegang peranan penting dalam
membina tamadun Islam.

2[] Prof. Dr. Hj. Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik, (Jakarta : Kencana.
2003), hal. 50

4
2. Politik yang dijalankan oleh Daulah Abbasiyyah II,III, dan IV
a. Kekuasaan khalifah sudah lemah bahkan kadang-kadang sebagai lambang
saja. Kekuasaan sebenarnya ditangan wazir atau panglima atau sultan yang
berada di Baghdad, oleh karena itu  kekuasaan politik sentral jatuh
wibawanya karena negara-negara bagian tidak menghiraukan lagi
pemerintahan pusat kecuali pengakuan politis saja.
b. Kota Baghdad bukan satu-satunya kota Internasional dan terbesar, sebab
masing-masing kerajaan berlomba-lomba untuk mendirikan kota yang
menyaingi Baghdad. Dibarat tumbuh kota Cordon, Toledo, Sevilla. Di
Afrika kota Koiruan, Tunisia dan Maroko, dll
c. Kalau keadaan politik dan militer merosot, maka ilmu pengetahuan di
majukan sehingga tambah maju dan pesat, hal ini disebabkan masing-
masing kerajaan, Amir, khalifah ataupun sulatan berlomba-lomba untuk
memajukan ilmu pengetahuan, mmendirikan perpustakaan,
mengumpulkan para ilmuwan, para pengarang, penterjemah, hasilnya pada
abad ke-4 H ilmu pengetahuan Islamiyah lebih tinggi martabatnya. [3]

Bentuk Negara Buwaihi


Bani Buwaihi didirikan oleh tiga orang putra Buwaihi, yaitu Ali, Hasan
dan Ahmad, ketiganya pemeimpin negeri Dailam. Mereka mulai muncul dalam
Medan siasat diawal abad ke 4 H, berkhidmad kepada panglima Dailam yang
mempunyai pengaruh besar di tanah Persia.
Ketika di Baghdad timbul kekacauan, Khalifah Abbasiyyah yang ke XXII
al mustakfi meminta bantuan kepada mereka. Permintaan khalifah itu dikabulkan
mereka dan mereka pergi ke Baghdad, kemudian mereka di beri kedudukan untuk
memegang kendali kepemerintahan. Ali diberikan gelar Imad Al Daulah,
Hasan, Rukn Al Daulah dan Ahmad, Mu’iz al daulah, bahkan gelar mereka di
capkan pada mata uang pada waktu itu. Dengan demikian maka kekuasaan

3[] Ibid, hal. 50-54

5
Abbasiyyah berada ditangan mereka, sedangkan bagi khalifah Abbasiyyah hanya
sekedar nama. [4]
Setelah Baghdad dikuasai, Bani Buwaih memindahkan markas kekuasaan
dari Syiraz ke Baghdad, mereka membangun gedung tersendiri di tengah kota
dengan nama Dar al Mamlakah. Meskipun demikian kendali politik yang
sebenarnya masih berasal di Syiraz, dengan kekuatan militer bani Buwaih,
beberapa dinasti kecil yang sebelumnya memerdekakan diri dari Baghdad dapat
dikendalikan lagi dari Baghdad. [5]
Sebagaimana khalifah Abbasiyyah periode pertama, para penguasa bani
Buwaih mencurahkan secara langsung dan sungguh-sungguh terhadap
pengembangan ilmu pengetahuan dan sastra, pada masa ini banyak bermunculan
ilmuwan besar, diantaranya al faraby, ibnu sina, abdul rohman  al shufi dan lain-
lain. Jasa bani Buwaih juga terlihat dalam pembangunan kanal-kanal, mesjid,
rumah sakit, dan sejumlah bangunan umum lainnya. [6]
Kekuatan politik bani Buwaih tidak lama bertahan, setelah generasi
pertama kekuasaan menjadi ajang pertikaian diantara anak-anak bani Buwaih,
sehingga kekuatan bani Buwaih makin melemah yang mengakibatkan banyaknya
gangguan dari luar seperti serangan Bizantium, Bani Seljuk yang akhirnya Bani
Buwaih berhasil direbut oleh dinasti Seljuk.
Bentuk Negara Saljuk
Bani Saljuk adalah keluarga dari Turki yang bernama Saljuk, dia masuk
Islam  setelah menguasai kerajaan Abbasiyyah. Di zaman al Qaim -khalifah
Abbasiyyah ke XXVI – merebut kekuasaan atas seluruh daulah Abbasiyyah dari
sultan Buwaih yang terakhir, sedangkan raja yang pertama dari Bani Saljuk adalah
Thogrolbek yang bergelar Rukn Al Din. [7]

4[] A.Latif Osman, Ringkasan Sejarah Islam, Cet. XXVII, (Jakarta :


Widjaya, 1983), hal. 132
5[] Dr. Badri Yatim, MA, Op.cit, hal. 70
6[] Ibid, hal. 71
7[] A. latief Osman, Op.cit, 134

6
Pada tahun 432 H dinasti saljuk mendaapaat pengakuan dari khalifah
Abbasiyyah di Baghdad, di saat kepemimpinan Thugrulbek inilah, dinasti saljuk
memasuki Baghdad menggantikan posisi bani Buwaih. [8]
Ada sedikit perubahan yang diterapkan oleh penguasa saljuk terhadap
daulah Abbasiyyah yaitu pengangkatan kembali perdana mentri yang sebelumnya
telah di hapus oleh penguasa bani Buwaih, jabatan ini membawahi beberapa
departemen.

D. Sistem Sosial
Sistem sosial yang diterapkan oleh penguasa bani abbasiyyah antara
penguasa satu dengan penguasa yang lain berbeda sesuai dengan pemimpin Bani
Abbasiyyah  pada waktu itu, tetapi secara garis besar dapat kami gambarkan
bahwa kebanyakan para penguasa Abbasiyyah membentuk masyarakaat
berdasarkan asas persamaan, dengan menggunakan sistem administrasi dari tradisi
setempat, pembagian kelas di masyarakat tidak berdasarkan ras atau kesukuan,
melainkan dengan jabatan, jadi semakin tinggi jabatannya semakin tinggi pula
kelasnya.
 Mungkin sistem sosial yang paling sesuai di antara para penguasa bani
Abbasiyyah menurut kami terjadi pada masa Harun ar-Rasyid  yang berkelanjutan
pada masa pemerintahan putranya al-Ma’mun.
Kekayaan yang banyak dimanfaatkan oleh Harun ar-Rasyid untuk
keperluan sosial. Rumah sakit, lembaga pendidikan dokter, dan farmasi didirikan,
pada masanya sudah terdapat paling tidak sekitar 800 orang dokter, di samping itu
pemandian- pemandian umum juga dibangun.
Di zaman pemerintahan khalifah Harun ar-Rasyid itu juga, Baitul Mal
ditugaskan menanggung narapidana dengan memberikan setiap orang makanan
yang cukup serta pakaian musim panas dan musim dingin[9], ini tentunya berbeda

8[] Dr. Badri Yatim, MA, Op.cit, hal. 73

9[] Prof. Dr. A. Syalabi, Sejarah dan Kebudayaan Islam 3, (Jakarta :


Pustaka Alhusna, 1993), hal. 110

7
dengan sistem khalifah sebelumnya, karena Harun ar-Rasyid menjadikannya tugas
dan tanggung jawab baitul mal, sedangkan  khalifah sebelumnya mangatsnamkan
suatu pemberian.

E. Orientasi Politik
Secara garis besar Orientasi politik yang diterapkaan oleh para penguasa
Bani Abbasiyyah terbagi menjadi dua macam, yaitu : [10]
1. Menekankan pada perluasan daerah kekuasaan, biasanya di terapkan oleh
khalifah yang gagah (berkehidupan mewah) dalam penaklukan negeri-negeri
lain.
2. Menitikberatkan pada perkembangan Ilmu Pengetahuan, banyak diterapkan
oleh penguasa bani Abbasiyyah yang alim

F. Strategi Kebudayaan : Rasionalita


Ada beberapa strategi yang di terapkan oleh kepemerintahan daulat
abbasiyyah untuk memajukan perkembangan kebudayaan dan pemikiran Islam,
strategi itu antara lain :
1. Terjadinya asimilasi antara bangsa Arab dengan bangsa-bangsa lain yang lebih
dahulu mengalami perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan. Pada masa
pemerintahan Bani Abbas, bangsa-bangsa non arab banyk yang masuk Islam,
asimilasi berlangsung secara efektif dan berniali guna. Bangsa-bangsa itu
memberi saham tertentu dalam perkembangan ilmu pengetahuan dalam Islam,
bangsa Persia misalnya, banyak berjasa dalam perkembangan ilmu, filsafat
dan sastra, pengaruh India terlihat dalam bidang kedokteran, ilmu
mathematika dan astronomi, sedangkan pengaruh Yunani masuk melalui
terjemahan-terjemahan dalam banyak bidang ilmu, terutama ilmu filsafat.
2. Gerakan terjemahan yang berlangsung dalam tiga fase. Fase pertama pada
masa al-mansyur hingga Harun ar-Rasyid, pada fase ini banyak diterjemahkan
adalah karya-karya dalam bidang astronomi dan manthiq. Fase kedua

10[] Coba bandingkan dengan Prof. Dr. A. Syalabi, Ibid, hal. 41

8
berlangsung mulai masa khalifah al-Ma’mun hingga tahun 300 H, buku-buku
yang banyak diterjemahkan adalah dalam bidang filsafat dan kedokteran. Fase
ketiga berlangsung setelah tahun 300 H, terutama setelah adanya pembuatan
kertas. Bidang- bidang ilmu yang diterjemahkan semakin meluas. [11]

G. Perkembangan Intelektual, Keagamaan Pendidikan, Sains dan


Teknologi, Astronomi, Matematika, Filsafat, Kedokteran, Ilmu Bumi,
Sejarah, Sastra dll
Pada masa abbasiyah banyak sekali perkembangan dalam bidang ilmu
pengetahuan yang bermunculan, terutama terjadi pada masa kepemimpinan
khalifah al-ma’mun, beliau dikenal sebagai khalifah yang sangat cinta kepada
ilmu pengetahuan, pada masanya digalakkan penerjemahan-penerjemahan buku-
buku asing terutama buku-buku berbahasa Yunani kedalam bahasa Arab dengan
memberi gaji kepada penerjemahnya, dia juga mendirikan sekolah-sekola, salh
satu karya terbesarnya adalah pendirian Baitul Hikmah, pusat penerjemahan yang
berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan besar. [12] Di antara
sekian banyak ilmu pengetahuan yang ada, antara lain :
1. Astronomi dan Ilmu Perbintangan
Kaum muslimim pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah mempunyai
modal yang besar dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Mereka mengkaji
dan mengalisa berbagai aliran ilmu perbintangan, di antara para ahli imu
perbintangan yang terkenal pada waktu itu antara lain :
a. Abu Mansur al-Falaky, di antara karyanya yang terkenal adalah isbat al-
ulum dan hayat al-falak
b. Jabir al-Batany, termasuk di antara pencipta teropong bintang yang
pertama, karya yang terkenal antara lain Kitab Ma’rifat Mathlail Buruj
Baina Arbai al-Falak

11[] Dr. Badri Yatim, MA,  op.cit, hal. 55-56

12[] Drs. HM. Ridwan dkk, Modul Bahan Ajar Pendidikan Agama


Islam, (Jakarta : Kirana Cakra Buana, 2004), hal. 204

9
c. Rayhan al-Bairuny, Di antar karyanya yang terkenal adalah al-Tafhim Li
Awal al-Shinaat al-Tanjim
2. Matematika
Di antara ahli matematika yang terkenal pada masa abbasiyah adalah al-
Khawarizmi, ia mengarang kitab al-Ghebra (Aljabar), ahli dalam bidang
matemetika yang menemukan angka nol (0)
3. Filsafat
Setelah kitab-kitab filsafat yunani di terjemahkan ke dalam bahsa arab pada
masa pemerintahan Harun ar-Rasyid dan al Makmun, kaum muslimin sibuk
mempelajari ilmu filsafat, bahkan menafsirkan dan mengadakan perubahan
serta perbaikan sesuai dengan ajaran islam, oleh kerena itu lahirlah filsafat
islam yang pada akhirnya menjadi bintangnya dunia filsafat, di antar filosof
terkenal pada waktu itu antara lain :
a. Abu Ishak Al-Kindy, karyanya lebih dari 231 judul
b. Abu Nasr Al-Faraby, ia memeliki karya sebanyak 12 buah
c. Al-Ghazaly, ia diberi gelar Hujjat al-Islam
d. Ibnu ar-Ruyd, dll. [13]
4. Kedokteran
Ilmu kedokteran mulai berkembang dengan pesat pada masa akhir Daulah
Abbasiyyah I, sedangkan puncaknya pada masa pemerintahan abasiyyah II,
III, dan IV, daulah abbasiyyah telah melahirkan banyak dokter kenamaan,
begitu juga rumah sakit besar dan sekolah tinggi kedokteran banyak sekali
didirikan diantaranya adalah, sekolah tinggi kedokteran di Harran, Syria, dan
sekolah tinggi di Baghdad, di antar para dokter yang terkenal antara lain :
a. abu zakaria yuhana ibnu masiwaih, seorang ahli farmasi di rumah sakit
jundhishapur, Iran.
b. Sabur ibnu sahal, direktur rumah sakit jundhishapur.
c. Abu zakaria al-razy, kepala rumah sakit di baghdad

13[] Ibid, hal. 205

10
d. Ibnu sina, seorang filosuf dan ahli kedokteran, di antar karyanya yang
terkenal dalam bidang kedokteran adalah al-Qonun fi at-thibb. [14]
5. Ilmu bumi
6. Sejarah
7. Sastra, dll

H. Keruntuhan Abbasiyah
Menurut Dr. Badri Yatim M.A setidaknya ada empat faktor yang
menyebabkan kemunduran bani abbasiyyah yang berakibat pada keruntuhan bani
abbas, faktor-faktor itu antar lain :
1. Persaingan Antar Bangsa
Khilafah Abbasiyah didirikan oleh Bani Abbas yang bersekutu dengan
orang-orang Persia, tetapi dalam perkembangnnya antara keduanya terjadi
kemelut yang saling mengedepankan prioritasnya masing-masing yang
kemudian berakibat terhadap lemahnya sistem kepemerintahan, persaingan
antar bangsapun tidak hanya berhenti pada persaingan antara bangsa Arab
dengan bangsa Persia, tetapi persaingan juga terjadi dengan bangsa Turki[15],
sehingga keadaan yang  seperti ini memperlemah kekuatan Bani Abbasiyyah
itu sendiri.

2. Kemerosotan Ekonomi
Pada periode pertama, pemerintahan bani abbas merupakan
pemerintahan yang kaya, dana yang masuk lebih besar dari pada adan yang
keluara sehingga Bait al-Mal menjadi penuh dengan harta, tetapi memasuki
periode kedua, bani abbasiyyah mulai mengalami penurunan pendapatan
sedangkan pengeluaran sangat menigkat, menurunya pendapatan negara ini
disebabkan oleh makin menyempitnya wilayah kekuasaan , banyak terjadi
kerusuhan yang mengganggu perekonomian rakyat, diperingannya pajak dan

14[] Ibid, hal. 205-206

15[] Dr. Badri Yatim, MA op.cit, hal. 40

11
banyaknya dinasti-dinasti kecil yang memerdekakan diri dan tidak mau
membayar upeti, sedangkan pengeluaran membengkak antara lain disebabkan
kehidupan para khalifah dan pejabat semakin mewah, jenis pengeluaran makin
beragam dan para pejabat melakukan korupsi. [16]
Kondisi perekonomian yang tidak stabil dan lemah semakin
memperlemah kekuatan politik Dinasti Abbasiyyah sehingga membuat
kekuasaan Bani Abbasiyah mengalami kemunduran 

3. Konflik Aliran Keagamaan


Fanatisme keagamaan berkaitan erat dengan persoalan kebangsaan,
karena cita-cita orang persia tidak sepenuhnya tercapai, maka sering membuat
kekecewaan terhadap masyarakat sehingga mendorong sebagian mereka
memprogandakan ajaran Manuisme, Zoroasterisme atau yang sering disebut
dengan gerakan Zindiq, tetapi dengan adanya propaganda tersebut membuat
khalifah cemas sehingga khalifah berusaha memberantasnya. Disamping itu
konflik antara Syi’ah dengan Ahlus-sunnah semakin memperkeruh keadaan,
sehingga banyak dinasti-dinasti yang berhaluan Syi’ah memerdekakan diri
dari Bagdad yang Sunni (pusat Bani Abbasiyyah), dan masih banyak lagi
konflik antar aliran agama yang lainya, keadaan inilah yang semakin membuat
kekuatan Bani Abbasiyah menjadi lemah dan akhirnya hancur

4. Adanya Ancaman dari Luar


Sebenarnya apa yang disebutkan diatas adalah faktor-faktor internal,
disamping itu, ada pula faktor eksternal yang menyebabkan bani abbasiyah
lemah dan akhirnya hancur yaitu adanya serangan dari dua musuh Islam, yang
pertama adanya perang salib yang berlangsung beberapa gelombang dan
menelan banyak korban. Kedua serangan tentara mongol ke wilayah
kekuasaan islam. Kedua kejadian inilah yang membuat kekuasaan bani
abbasiyyah akhirnya semakin terperosot dan jatuh

16[] Ibid, h. 82, lihat juga Ahmad Amin, Dhuha al-Islam, Jilid I, (Kairo :


Lajnah al-Ta’lif wa al-Tarjamah wa al-Nasyr, Tanpa tahun), h. 42

12
I. Transmisi Peradaban dan Kebudayaan Muslim ke Dunia Barat
Setelah terjadinya perang salib yang telah menghancurkan hampir seluruh
daerah kekuasaan islam pada waktu itu, sungguh sangat membawa dampak yang
besar bagi Islam terutama adalah tranmisi peradaban dan kebudayaan muslim
ketangan Eropa (barat)
Sebagaimana yang telah kita ketahui bersama setalah terjadinya perang
salib, banyak sekali kitab- kitab ilmiah karangan orang-orang Islam yang
dirampas oleh bangsa barat, bahkan dibuang ke laut merah.

13
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
            Kepemerintahaan bani abbasiyyah didirikan oleh Abdullah Al-Saffah Ibn
Muhammad Ibn Ali Ibn Abdullah Ibn Al-Abbas, dalam masa kepemerintahnya
Daulah Abbasiyyah berkuasa selama 5 abad lebih (132-656 H), selama dinasti ini
berkuasa pola pemerintahan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial
dan budaya, berdasarkan pola pemerintahan tersebut masa pemerintahan
Abbasiyyah terbagi menjadi empat periode, yaitu : 
1. Masa Abbasy I; semenjak lahirnya Daulah Abbasiyyah tahun 132 H sampai
meninggalnya khalifah al-Wasiq tahun 232 H. 
2. Masa Abbasy II, tahun 232-334 H mulai khalifah al-Mutawakkil sampai
berdirinya Daulah Buwaihi di Baghdad. 
3. Masa Abbasy III, tahun 334-447 H dari berdirinya Daulah Buwaihi sampai
masuknya Daulah Saljuk. 
4. Masa Abbasy IV, tahun 447- 656 H, dari masuknya orang-orang Saljuk di
Baghdad, sampai jatuhnya Baghdad ke tangan bangsa Tartar di bawah
pimpinan Hulagu.
Selama masa kekuasaan bani Abbasiyyah banyak sekali melahirkan
ilmuwan-ilmuwan besar dalam bidang keilmuan dan pengetahuan seperti ibnu
sina, al-falky, al- ghair, al-ghazaly, imam maliki dan lain sebaginya, bukan hanya
itu saja pembangunan sekolah-sekolah keagamaan dan berbagai bangunan umum
lainnyapun dibangun.
Daulah Abbasiyyah semakin mundur karena adanya persaingan antar
bangsa, kemerosotan ekonomi, dan konflik antar aliran agama serta adanya
ancaman dari luar, karena hal itulah daulah Abbasiyyah semakin lemah dan
akhirnya runtuh takluk oleh bangsa mongol. Wallahu A’lam

14
DAFTAR PUSTAKA

Amin, Ahmad, Dhuha al-Islam, Jilid I, (Kairo : Lajnah al-Ta’lif wa al-Tarjamah


wa al-Nasyr, Tanpa tahun)

Ridwan, dkk, Modul Bahan Ajar Pendidikan Agama Islam, ( Jakarta : Kirana


Cakra Buana, 2004)

Syalabi, Ahmad, Sejarah dan Kebudayaan Islam 3, Cet. I, (Jakarta : Pustaka


Alhusna, 1993)

Sunanto, Musyrifah, Sejarah Islam Klasik, (Jakarta : Kencana. 2003)

Watt, W. Montgomery, Kajian Islam : Kajian Kritis dari Tokoh


Orientalis, (Yogyakarta : Tiara Wacana Yogya, 1900)

Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II, Ed. I, Cet. 13,


(Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2002)

Osman, Latif, Ringkasan Sejarah Islam, Cet. XXVII, (Jakarta : Widjaya, 1983)

15